The Family Party

Sebuah pesta telah dipersiapkan di kediaman kedua orang tuanya. Jadilah Aryo dan Tiara tidak langsung pulang ke rumah mereka selepas dari hotel. Ini hanya acara kecil-kecilan berupa makan siang bersama sebagai bentuk syukur atas kelulusan Tiara. Ayah dan bundanya juga datang bersama kedua adiknya. Pertemuan kedua keluarga tersebut begitu terasa hangat dan membahagiakan. Beberapa keluarga Aryo yang hadir memberikan ucapan selamat pada Tiara sekaligus doa untuk bayi di dalam kandungannya.

“Dedeknya ikut sekolah Mamanya yaa, ikutan pinter nih nanti kalau udah lahir,” ujar Namia, kakak dari mama mertuanya.

“Iyaa, dong. Calon jagoan Oma nih, anak ganteng dan pintar,” ucap Feli. Mertuanya itu lantas mengarahkan tangannya untuk mengusap perut Tiara dan senyum cerah tercetak di wajah anggunnya.

Tiara begitu senang, kehadirannya di tengah-tengah keluarga Aryo dapat menghadirkan senyuman di wajah mereka. Terkadang kebahagiaan hanya butuh tercipta dari hal yang begitu sederhana.

“Tiara ... Tiaraa,” seru seorang gadis kecil yang hadir di tengah-tengah Tiara, Namia dan Feli.

“Christie, panggilnya Kak Tiara dong. Atau panggil Cici juga boleh,” ujar Namia yang menasehati cucunya yang baru berusia 4 tahun itu.

“Cici Tiara ya, Oma?” tanya Christie yang langsung diangguki oleh Namia.

“Cici, Cici, liat nih. Christie di kasih angpao sama koko,” Christie memarkan lima lembar uang kertas merah muda yang ada di tangannya.

“Banyak banget, Sayang. Buat apa koko kasih Christie?” tanya Namia.

“Buat jemput Cici Tiara katanya. Ayo Ci, ikut sama Christie,” celoteh gadis kecil itu. Akhirnya Tiara mengikuti langkah gadis kecil itu. Mereka berjalan dan sampai di sebuah ruangan berisi billiard dan beberapa arena permainan lainnya. Di sana beberapa saudara laki-laki Aryo sedang bermain bersama suaminya itu. Ketika menyadari kehadiran Tiara di sana dan Christie nampak melambaikan tangan padanya, Aryo lekas menaruh stick billiard-nya dan berjalan menuju Tiara.

Aryo pamitan dengan saudara-saudaranya dan membawa Tiara keluar dari ruangan itu. Mereka menuju ruang keluarga dan mengambil tempat di salah satu sofa.

Aryo tengah menyemil kue yang diambilnya di meja dan wajahnya tampak senang begitu memakannya.

“Habisin dulu makanannya, jangan ngomong. Nanti kamu kesedak, Aryo,” nasehat Tiara ketika melihat Aryo ingin bicar padahal mulutnya masih penuh.

Tiara geleng-geleng kepala. Ia hapal betul akan kebiasaan suaminya itu. Kalau sudah bertemu makanan kesukaannya, Aryo akan memakan makanan itu dengan lahap. Mulutnya penuh, depan, belakang, kanan kiri, di pakai untuk mengunyah semua.

“Lucu banget sih kamu kalau lagi makan gini,” celetuk Tiara yang masih fokus memerhatikan cara makan Aryo. Pipi suaminya tampak seperti gelembung yang besar saat ini.

“Uhuk .. uhukk ...” Aryo terbatuk dan terlihat kesulitan bernapas.

“Tuh kan, tuh kan,” ucap Tiara ketika Aryo tersedak camilannya. “Sebentar, aku ambilin minum dulu,” Tiara pun berlalu dari hadapan Aryo untuk mengambilkannya air.

Tidak lama kemudian, Tiara kembali dan mendapati wajah Aryo yang tengah memerah.Tiara pun membantu Aryo untuk meminum air putih dari gelas yang dibawanya.

“Lain kali pelan-pelan kalau makan,” titah Tiara sambil menepuk-nepuk punggung Aryo.

“Iya, Sayang. Makasih ya,” ucap Aryo ketika rasa sesak di dadanya berkurang dan ia dapat kembali bernapas dengan lebih mudah.

Aryo lantas meletakkan gelas yang sudah kosong di meja. Detik berikutnya. Aryo mendapati ekspresi tegang Tiara dan istrinya itu nampak menahan rasa sakit.

“Sayang, you're okay? What happened?” tanya Aryo yang ikut khawatir saat Tiara memegangi perutnya.

Tiara nampak meringis dan satu tangannya meraih lengan Aryo untuk jadi pegangannya, “Aryo, perut aku kram ... ” rintihnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷