The Fitness Room

Tiara baru melakukan seperempat putaran mengitari area kondominium, tapi sekujur tubuhnya sudah dibanjiri oleh keringat dan napasnya terdengar tidak beraturan. Matahari setia menemani kegiatan membakar kalori di tubuhnya pagi ini. Tiara memutuskan untuk menyudahi aktivitas jogging-nya dan kembali ke kondominium. Namun setelah melewati area taman, ia bertemu salah satu pria yang bekerja di sini.

“Gue boleh minta waktunya sebentar?” ucapan Tiara menahan aksi pria itu untuk berlalu setelah menyapanya dengan sopan.

“Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?”

“Panggil gue Tiara aja. Kayaknya kita seumuran deh,” Tiara tersenyum dan mengulurkan tangannya.

“Erza.” Pria itu membalas uluran tangan Tiara.

“Gue butuh bantuan lo. Tapi jangan bilang apapun ke Aryo, please?” Tiara tersenyum dengan menampakkan deretan gigi rapihnya.

“Bantuan apa Nyonya?”

“Sebenernya gue cuma mau bawa temen-temen gue ke tempat ini, untuk sesekali. Sayangnya Aryo nggak ngasih gue izin,” jelas Tiara.

Erza terlihat langsung mengerti dengan arah pembicaraan tersebut. “Saya mau bantu, tapi sayangnya permintaan Nyonya bertentangan dengan amanah yang diberikan Tuan Aryo pada saya.”

Tiara membelalakkan matanya. Mau taruh di mana mukanya setelah mendengar jawaban Erza yang mengejutkannya itu. Tiara mencoba untuk tetap tenang, lalu ia menarik napas dan menghembuskannya lagi sebelum kembali berbicara.

“Oke ... tapi kan gue juga Nyonya lo. Bisa dong, lo coba pertimbangin permintaan gue?”

“Maaf, Nyonya. Tapi yang bisa mempertimbangkan permintaan Nyonya cuma Tuan, yaitu suami Nyonya sendiri.” Erza menjawabnya dengan seulas senyum santun di bibirnya.

Tiara memasang wajah tidak percaya dan menahan rasa kesal yang menjalar di dalam dirinya.

I can’t believe this. Why he's being a dictator,” Tiara menghembuskan napasnya frustasi dengan satu tangan yang ia letakkan di pinggangnya.

Tiara melihat Erza memegang walky talky dan berbicara dengan seseorang melalui benda itu. Erza hanya mengatakan bahwa ia mengerti dan pembicaraan tersebut berakhir.

“Nyonya, Tuan mengkhawatirkan Anda. Apa Tuan nggak tahu kalau Nyonya berkeliling kondominium ini?”

“Lo serius? I mean he is not worry about me*. Dia cuma ingin ngekang gue, Za,” ucap Tiara.

“Saya nggak tahu pasti, Nyonya. Tapi Tuan udah siapin semuanya sebelum Nyonya datang ke sini, untuk menjamin keamanan Nyonya.”

***

Tiara menemui Aryo di fitness room yang berada di basement. Aryo sedang melakukan up and down sit up menggunakan alat bantu grip yang diletakkan di belakang kedua lengannya.

“Gimana jogging-nya?” tanya Aryo sambil menatap kearah Tiara yang berada di hadapannya seolah tidak ada yang terjadi. Padahal kenyataannya, berkat pria itu Tiara merasa hidupnya telah dikekang.

“Gue kesini mau bicarain perjanjian itu sama lo. Sekarang juga,” ujar Tiara tanpa melepas sebuah senyum manis di bibir ranumnya.

“Lo nggak bisa ngekang gue, Aryo,” lanjutnya dengan nada bicara tenang seperti cara yang biasa Aryo gunakan untuk menghadapinya.

“Gue nggak ngelakuinnya tanpa alasan, Tiara.”

“Terus, apa alasannya?”

“Untuk melindungi status pernikahan kita.”

“Ohya? Buktiin kalau alasannya emang cuma itu.”

“Lo mau apa untuk pembuktian?” tanya Aryo.

“Dengan membuat peraturan dalam perjanjian. Kalau pernikahan kita ini cuma status, nggak lebih. Jadi, lo nggak bisa ngatur apa yang mau gue perbuat,” Tiara bergerak mendekat, lalu ia memosisikan tubuhnya berada di atas Aryo. Sehingga Aryo melakukan up and down sambil memangku tubuh Tiara dengan kedua pahanya.

“Kita punya privasi masing-masing dan nggak akan mencampuri urusan pribadi satu sama lain. Setelah satu tahun nikah, kita bisa bercerai untuk mengakhiri pernikahan ini,” Tiara terheran rupanya Aryo cukup kuat melakukan workout dengan menahan berat tubunya. Tiara mengalungkan lengannya di seputaran bahu Aryo untuk menjaga tubuhnya tetap seimbang dan aman.

“Lo udah siap dengerin syarat dari gue? Kalau lo setuju, gue akan menyepakati perjanjian kita,” ucap Aryo dengan hembusan napas yang sedikit lebih berat karena beban tubuh Tiara menambah jumlah energi yang harus ia keluarkan.

“Apa syaratnya?” tanya Tiara.

Kedua mata kecil Aryo memandang wajah Tiara yang hanya berjarak satu jengkal dari parasnya, “Gue ngasih lo kebebasan, selama lo bisa menjaga nama baik keluarga gue. Lo tetap istri gue, dan harus bisa bersikap layaknya seorang istri di hadapan publik, keluarga dan para petinggi perusahaan. Lo nggak bisa nginep di luar seperti sebelum menikah atau rencana apapun yang dapat mencurigakan status pernikahan kita.”

“Oke, gue pikir itu gampang. Jadi istri dihadapan publik aja kan? Kalau kita lagi berdua gini, masing-masing bebas mau bersikap seperti apa. Syarat dari gue, lo nggak boleh membuat gue hamil apapun itu alasannya,” ujar Tiara.

We’re deal. Lo lagi ngelakuin kebebasan itu sekarang? It means, I free to do the same,” ucap Aryo sambil mengulas senyum tipis di bibirnya. Aryo melepas satu tangannya pada pegangan grip, lalu diarahkan untuk menarik lembut pinggang ramping Tiara.

What you’re gonna doing?” Tiara merasakan deru napas Aryo menyapu area pipinya. Mata Tiara tidak lepas sedetikpun dari Aryo, ia bersiaga atas apa yang akan dilakukan pria itu.

Hanya butuh dua detik bagi Aryo untuk menyatukan bibirnya dengan bibir Tiara. Bibir Tiara langsung terasa lembab ketika Aryo menciumnya lembut tanpa melumat, melainkan hanya mengecupnya dengan halus. Lengan pria itu masih mendekap pinggangnya, hingga tidak sampai lima belas detik kemudian, ciuman mereka terlepas dan Tiara langsung bangun dari posisinya.

Tiara mencoba mengatur napasnya yang berkejaran, “Are you crazy?! You think this is a game that you can play anytime?” Tiara menatap Aryo dengan tatapan terkejut bercampur marahnya.

Sementara Aryo sedang mengatur napasnya yang lebih tidak beraturan dibanding dengan Tiara. Ibaratnya Aryo melakukan workout dengan beban yang ditambah tiga kali lipat.

Are you mad at me?” tanya Aryo dengan wajah tanpa dosanya itu.

“Lo selalu seenaknya ngelakuin apapun tanpa berpikir. Why do I marry this guy?” Setelah mengucapkannya, Tiara pun berlalu meninggalkan Aryo di sana.

Aryo tidak mengerti mengapa hanya ciuman bisa membuat istrinya semarah itu padanya?

Gym Room

Alat Gym

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷