The Forgiveness
Tepat dua minggu yang lalu, Penuntut Umum atas nama Aryo Bimo Brodjohujodyo membuat surat dakwaan dan melakukan penuntutan. Hari ini di laksanakan sidang dakwaan yang merupakan tahap pertama persidangan kasus pidana. Beberapa anggota keluarga Brodjohujodyo ikut hadir di sana. Edi dan Felicia beserta Aryo dan Tiara tentunya turut datang ke sidang itu.
Berdasarkan surat dakwaan, terdakwa dinyatakan terkena pasal khusus yakni Pasal 340 KUHP mengenai Pembunuhan Berencana. Sidang yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam tersebut menghasilkan sebuah keputusan oleh Jaksa Penuntut Umum. Jaksa Penuntut Umum mengeluarkan putusan bahwa terdakwa akan dihukum seumur hidup, yakni hukuman berlangsung sampai seumur hidup terdakwa hidup di dunia.
Persidangan telah selesai dan satu persatu hadirin mulai berhamburan keluar dari ruangan. Aryo dan Tiara bertemu dengan Irene ketika mereka hendak keluar. Irene, istri Reynaldi yang menghadiri persidangan itu, melayangkan tatapan tidak sukanya kepada Tiara.
“Kamu pembawa sial dalam keluarga Brodjohujodyo. Apa kamu nggak malu? Sekarang keluarga kami menjadi hancur dan terpecah belah,” ucap Irene.
“Tante Irene, cukup. Tante nggak berhak berbicara seperti itu,” ujar Aryo.
“Apa pun yang kalian lakukan, selamanya nggak akan mengembalikan Erlangga dan Clarissa ke dunia ini,” ujar Irene lagi tanpa rasa bersalahnya.
“Ohiya, satu lagi. Kamu ini istri macam apa, Tiara? Mana ada istri yang tega membuat keluarga dan perusahaan suaminya sendiri hancur. Kamu perempuan yang egois, Tiara.” Setelah mengatakan hal tersebut, Irene berlalu pergi dari hadapan Aryo dan Tiara.
Aryo menghadap Tiara dan mengatakan bahwa istrinya itu tidak perlu memikirkan kata-kata Irene. “Tiara, kamu nggak perlu pikirin kata-kata tante Irene, ya ... ?”
Tiara balas menatap Aryo. “Kita harus gimana kalau yang dibilang tante Irene bener-bener terjadi?”
“Maksud kamu?”
“Sekarang perusahaan ada di bawah kepimpinan kamu. Kasus ini pasti akan berdampak juga ke reputasi perusahaan, kan?”
***
Pada hakikatnya kita tidak bisa mengatur reaksi orang lain terhadap apa yang terjadi. Kita tidak bisa menentukan apa yang akan dilontarkan dari mulut mereka untuk menanggapi sesuatu. Berbagai tanggapan berdatangan dari keluarganya. Sebagian ada yang mendukungnya dan sisanya yang lain, mereka kecewa terhadap semua ini. Mereka menyalahkan apa yang terjadi, tanpa melihat dari sisi yang berbeda, bahwa selamanya yang salah akan tetap salah dan pantas mendapat hukuman.
“Silakan, Pak.” Sebuah suara menginterupsi pemikiran monolog Aryo. Pria itu mendongak dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan di depannya.
Aryo duduk di hadapan sebuah pembatas besi yang memiliki jendela kecil di sana. Dari lubang kecil itu, Aryo melihat sosok Om nya yang kini resmi di tahan, setelah sidang putusan final hari ini. Majelis hakim telah memberikan keputusan final bahwa Reynaldi di kenai pasal 340 KUHP dan mendapat hukuman seumur hidup penjara.
“Aryo kesini ingin mengatakan sesuatu sama Om,” ucap Aryo membuka pembicaraan.
Reynaldi hanya balas menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Aryo mencondongkan dirinya sedikit lebih dekat ke jendela kecil itu. “Nggak ada satu pun anggota keluarga yang ingin melihat anggota keluarganya sendiri hancur. Tapi Om perlu tau, semua perbuatan memiliki tanggung jawabnya.”
“Kamu melakukan ini demi perempuan itu. Perempuan yang baru kamu kenal dan kamu nikahi,” ujar Reynaldi.
“Om benar. Aryo memang melakukannya untuk Tiara. Ketika melihat seseorang yang Om cintai harus menerima rasa sakit yang sama selama bertahun-tahun, apa yang Om lakukan?” Aryo menjeda ucapannya, pria itu menghela napas dan menghembuskannya.
“Aryo pikir Om udah tau jawaban dari pertanyaan Aryo. Aryo tidak membenci Om sama sekali. Tapi perbuatan Om yang menyebabkan Aryo kehilangan rasa hormat itu,” ujar Aryo.
“Aryo sudah menyampaikan semua yang ingin disampaikan. Aryo pamit Om.” Aryo sekali lagi menatap Reynaldi sebelum melangkahkan kakinya pergi dari sana.
***
Aryo sampai di penthouse dan langsung menuju kamar. Aryo membuka pintu putih di depannya, ia melenggang masuk. Setelah meletakkan kunci mobilnya di atas meja dan melonggarkan dasi di kerah kemejanya, ia bergerak menghampiri Tiara di atas kasur.
“Hey ... ” sapa Aryo sembari menyematkan sebuah kecupan di pucuk kepala Tiara.
Beberapa detik kemudian setelah mereka berpelukan ringan, Tiara membalikkan tubuhnya untuk menghadap Aryo.
“Maaf aku nggak bisa nemenin kamu datang ke sidang final hari ini,” ujar Tiara dengan suara pelannya.
“Nggak papa, Sayang. Ohiya, kamu nggak ingin tau hasil putusan Majelis Hakim?”
Tiara hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Aryo itu. Aryo yang melihatnya menjadi sedikit khawatir. “Aryo, ak-aku ....” Tiara berucap terbata dan matanya kini tampak berkaca-kaca.
Air mata Tiara sukses mengalir dari kedua pelupuk matanya dan napasnya terdengar tidak beraturan. Aryo pun berusaha menenangkan Tiara dan membawanya torso wanitanya ke dalam dekapannya.
Selama kurang lebih dua puluh menit, Aryo hanya membiarkan Tiara menangis sesenggukkan di pelukannya. Tiara menumpahkan semua rasa sakit yang ia pendam selama sebelas tahun. Saat tangis Tiara mulai reda, Aryo memberikan kata-kata penenang dan mengusap punggungnya dengan gerakan vertikal, berharap Tiara dapat merasa lebih baik.
“Nggak papa kalau kamu mau nangis,” ujar Aryo pelan di dekat Tiara.
Mata Tiara nampak sembap ketika mereka mengurai pelukannya dan kini keduanya hanya saling menatap.
“Aryo, aku yang menyebabkan retaknya keluarga kamu. Aku masih marah atas kepergian ayah dan bunda. Maafin aku,” ucap Tiara.
Aryo menangkup kedua sisi wajah Tiara, “Kamu nggak boleh ngomong gitu, yaa?” titah Aryo. Ia mengatakan kalau Tiara tidak pantas berpikir bahwa ia penyebab terpecah belahnya keluarga. Semua yang terjadi memiliki sebab dan akibatnya, dan Reynaldi pantas mendapat akibat dari semua perbuatannya di masa lalu.
Selama sebelas tahun Tiara mencoba menyembunyikan semua rasa marah dan dendam itu. Namun pada akhirnya, kini semuanya meluap ke permukaan. Setelah cukup lama dirinya terlihat baik-baik saja di luar, tanpa orang lain tahu, Tiara begitu terluka di dalam.
Tiara mengatakan pada Aryo bahwa setelah kepergian kedua orang tuanya, ia tetap mendapat kasih sayang dan afeksi yang penuh dari Andi dan Alifia. Mereka merawat dan menyayanginya selayaknya anak sendiri. Namun Tiara belum menemukan sosok yang dapat mengisi afeksi yang berbeda. Sebuah afeksi eksternal dari seseorang yang mencintainya sebagai seorang perempuan. Ketika menikah dengan Aryo, Tiara merasa mendapatkan afeksi tersebut dan bersedia membagi rasa sedihnya di hadapan Aryo.
Tiara mengulaskan senyumnya saat ia sudah merasa lebih baik. Mendapati Aryo menatapnya dengan jarak sedekat ini, membuat Tiara malu. Apalagi matanya terasa sulit di buka karena sehabis menangis dan mungkin wajahnya terlihat bengkak.
“Mukaku bengkak ya?” tanya Tiara.
“Engga, Sayang.” Aryo tersenyum sembari menyelipkan helaian rambut Tiara ke belakang telinga.
“Udahan nangisnya? Are you feel better?” tanya Aryo.
Tiara mengangguk. “Udah,” ujar Tiara sambil mengusap kedua matanya. “Aku nggak mau nangis lagi, cape.”
“Okey.”
Selama beberapa detik, keduanya hanya saling memandang. Tiara menenangkan pikirannya dan dengan mendapati Aryo berada di sisinya, mendekapnya, itu sudah lebih dari cukup bagi Tiara untuk merasa lebih baik.
“Ra,” ujar Aryo.
“Hmm?”
“Aku nggak akan pernah bisa menghapus kenangan itu dari memori kamu. Itu akan tetap ada dan mungkin sesekali kamu akan teringat. Mungkin kamu ingin meluapkannya lagi kayak tadi, kamu boleh melakukannya.”
Tiara mengangguk, “Kamu benar, aku nggak bisa melupakan itu. Tapi aku belajar banyak hal dari kejadian ini.”
“Apa itu?”
“Aku harus menerima dan memaafkan itu semua walaupun kadang aku masih mikir, dia nggak pantas dapat pengampunan itu. Rasa sakit itu nggak akan hilang, tapi rasa sakit itu nggak akan mengontrol aku lagi. Aku udah maafin dia,” ungkap Tiara.
Detik berikutnya, Aryo mendapati senyum cantik yang selalu di tunggunya ketika menatap paras Tiara. Sebuah senyum yang Aryo tahu adalah tanda bahwa wanitanya benar-benar sudah lebih baik. “You are so amazing, Ra,” ujar Aryo.
Tiara meletakkan tangannya di sisi wajah Aryo, lalu ibu jarinya memberikan usapan lembut di sana.
“Kamu perempuan hebat dan kuat. Aku bangga banget sama kamu. Makasih Ra, kamu udah bertahan di sisi aku,” tutur Aryo.
“Aku mau tanya sama kamu, boleh?” tanya Tiara.
“Sure.”
“Emang kamu beneran nangis kemarin di depan semua bodyguard kamu?”
Aryo menghela napasnya, “Mama cerita apa lagi ke kamu soal aku?”
“Mama cerita banyak lah pokoknya. Bener sih yang mama bilang. Kamu badannya doang L-men, hatinya mah bebelac.”
“Kamu udah bisa ketawa? Barusan aja nangis sampai sesenggukkan gitu,” ledek Aryo.
Tiara mencebikkan bibirnya, “Kan kalau nangis jadi jelek. Masa kamu mau liat istrinya jelek sih? Aneh.”
“Mana jelek? Masih cantik gini.” Aryo mengarahkan tangannya untuk mengunyel-nguyel pipi gembil Tiara.
“Pipi aku tambah gede ya kayaknya?” tanya Tiara.
“Iya nih. Kamu jadi chubby.”
“Serius? Aku nimbang sih kemarin udah naik 3 kilo. Kata dokter bisa naik sampai sepuluh kilo sampai sembilan bulan nanti.”
“Ya nggak papa.”
“Yakin? Bukannya kamu suka liatin cewek-cewek yang langsing di Instagram,” ujar Tiara.
“Mana ada, Sayang,” balas Aryo dan ia memerhatikan raut wajah Tiara berubah bete. “Aku nggak liat lagi, deh.”
“Berarti kamu liat kan?”
“Itu muncul di explore, Sayang. Kamu mau log in Instagram aku?”
“Buat apa?”
“Kalau kamu nggak suka, kamu boleh block atau unfollow. Beres, kan?”
Tiara menyipitkan matanya dan sedetik kemudian senyum semringahnya muncul. “Aryo, aku nggak pernah nangis kayak tadi. I don't know, I'm just felt so emotional today.”
“It’s oke.” Aryo mengusapi peluh yang tersisa di wajah Tiara menggunakan kedua tangannya.
Tiara mendekatkan dirinya pada Aryo, “Peluk lagi,” ujarnya.
“Iyaa, sini,” balas Aryo sambil menyunggingkan senyumnya.
“Cium,” celetuk Tiara pelan.
“Cium apa?”
“Cium pipi,”
“Cium ini enggak?” tanya Aryo sambil menunjuk bibir Tiara menggunakan jari telunjuknya.
“Enggak,” jawaban Tiara membuat Aryo mengernyit. “Enggak nolak maksudnya,” sambung Tiara.
“Berapa kali?” tanya Aryo.
“Bebas. Terserah pak Bos aja.”
“Oke, akan dilaksanakan, sesuai permintaan Nyonya Besar.”
***
*Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷