The New CEO of Harapan Jaya Group

Aryan 1

Aryan 2

Dua minggu yang lalu, Aryan telah berhasil mendapatkan gelar Magister Manajemen Bisnisnya. Akhirnya bersama Karin dan Svarga, mereka bertiga kembali ke Indonesia. Hari pemilihan calon CEO sekaligus Presiden Direktur yang baru pun semakin dekat. CEO yang sebelumnya menjabat, yakni papanya sendiri, Aryo Bimo Brodjohujodyo, telah melewati batas golden years-nya dan akan digantikan oleh pemimpin yang baru. Sudah 25 tahun Aryo mengemban tugas untuk perusahaan Harapan Jaya Group.

Saat ini tepat di usia Aryan yang ke-25, lelaki itu berhasil menjadi salah satu kandidat untuk meneruskan perusahaan milik keluarga. Aryan dapat sampai ditahap ini tentunya berkat dukungan orang-orang tersayangnya. Istri, anak, orang tua, adik, sahabat, serta keluarga besarnya yang selalu mendukung dan percaya bahwa ia bisa melakukannya.

Hari ini merupakan hari pemilihan CEO dan akan dilakukan melalui voting pemungutan suara. Tanpa sepengetahuan Aryan, rupanya Karin tengah berada di rumah orang tuanya. Karin di sana bersama mama mertuanya, adik iparnya, dan para asisten rumah tangga yang membantu mereka mempersiapkan surprise untuk Aryan. Tiara, mama mertuanya, sudah mendapat kabar bahwa hasil pemilihannya telah keluar.

Penthouse super besar dan mewah itu kini telah selesai didekorasi sedemikian rupa untuk menyambut pulangnya Aryan. Semuanya telah diatur, mereka hanya tinggal menunggu Aryan dan Aryo kembali dari kantor. Sebenarnya tadi pagi Aryan berniat mengajak Karin dan Svarga untuk menghadiri acara pengambilan suara tersebut. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya Karin tetap di rumah dan Aryan sudah berangkat pagi-pagi sekali.

Karin menatap sebuah banner berwarna gold bertuliskan “CONGRATULATIONS to Aryan Sakha Brodjohujodyo. You are now a CEO of Harapan Jaya Group. Sincerely, your beloved family”

Karin pun mengulaskan senyum bahagianya. Hari ini bukan hanya suaminya yang akan mendapat sebuah kejutan. Namun ada kabar gembira yang telah Karin persiapkan untuk diberi tahu kepada seluruh keluarga. Dalam hatinya, Karin berharap agar keluarganya dapat selalu diberkati seperti ini, selalu bisa memiliki momen bersama di sela kesibukan masing-masing. Hal yang rasanya begitu sederhana, tapi terkadang sebagian orang melupakannya begitu saja.

***

“Kamu mampir dulu ke penthouse. Mama katanya mau ketemu sebentar,” ucap Aryo begitu dirinya dan Aryan sampai di parkiran khusus penghuni. Aryan memang berniat mengantar papanya baru setelah itu ia akan pulang.

Aryan pada akhirnya mengiyakan permintaan tersebut. Meskipun ia ingin sekali Karin dan Svarga juga ada di tengah-tengah keluarganya saat ini, tapi Aryan pikir mungkin itu bisa terjadi di lain kesempatan. Papanya sempat bertanya alasan mengapa Aryan urung membawa istri dan anaknya ke acara pemilihan. Aryan pun menjelaskan bahwa Karin sedang kurang fit kondisinya, jadi lebih baik hari ini Aryan tidak mengajak istri dan anaknya.

Aryan dan papanya melangkah bersisian menuju unit penthouse di mana merupakan kediaman keluarganya. Begitu sampai di sana, ketika Aryan akan membuka pintu ganda besar di hadapannya, pintu itu sudah terbuka lebih dulu. Aryan menatap papanya dengan tatapan bertanya, yang kemudian hanya dibalas dengan kedikan bahu.

Demi menjawab rasa penasarannya, Aryan pun segera membuka pintunya lebih lebar. Aryan langsung masuk ke dalam penthouse dan ternyata yang didapatinya adalah seluruh lampu disana telah padam. Aryan akhirnya melangkah ke dalam lebih jauh, ia ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Begitu kaki jenjangnya sampai di bagian ruang tamu, saat itu juga seluruh lampu di tempat itu menyala satu persatu. Saat sepenuhnya lampu-lampu telah hidup, Aryan menangkap kehadiran orang-orang tercintanya di sana. Ada mamanya, adiknya, opa dan omanya, serta yang paling tidak disangkanya adalah eksistensi istri dan anaknya.

Aryan menatap sebuah banner berwarna gold yang digantung di langit-langit yang bertuliskan ucapan selamat dengan namanya di sana, membuat benang-benang di kepala Aryan akhirnya saling terhubung. Setelah beberapa detik terpaku di tempatnya, Aryan segera melangkahkan kakinya ke sana. Pertama kali Aryan menghampiri Karin, ia mendekap tubuh istrinya dan membisikkan ucapan terima kasih. Tidak lupa dengan jagoan kecil mereka, Aryan mengajak anaknya melakukan tos persahabatan antara ayah dan anak dan hanya mereka yang tahu cara melakukannya. Selanjutnya satu persatu Aryan memeluk keluarganya, mamanya, adiknya, serta opa dan omanya.

Terakhir tentu saja papanya. Begitu menjabat tangan besar itu, pandangan Aryan mendadak menjadi berkaca-kaca. Papanya menatap Aryan dengan tatapan bangga. Aryan sering mendapat tatapan itu dari orang tuanya sejak dulu dan beberapa orang terdekatnya, bahkan orang asing yang sama sekali tidak pernah singgah di hidupnya. Namun kali ini tatapan papanya terasa begitu dalam dan penuh makna. Aryan hampir saja menitikkan air matanya begitu papanya bergerak memeluknya.

Aryan merasakan papanya memberi dua kali tepukan di punggungnya sembari mengatakan sesuatu. “Papa bangga sekali sama kamu. Kamu sudah berhasil membuktikan kalau kamu pantas. Kamu anak yang baik, kamu cucu yang membanggakan. Kamu kakak yang hebat buat adik kamu, kamu suami yang penyayang dan papa yang hebat untuk anak kamu.”

“Makasih, Pah. Makasih untuk semuanya,” balas Aryan dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Pelukan antara Aryan dan papanya akhirnya terurai. Aryan kembali menghadap keluarganya yang lain dan mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Tanpa dukungan mereka, rasanya mustahil Aryan bisa berdiri di sini dan mendapatkan jabatan yang akan memiliki tanggung jawab besar kedepannya.

Ketika mereka hendak mengambil foto bersama untuk mengabadikan momen, Aryan yang berada di samping Karin dan tengah merengkuh mesra pinggang istrinya, tanpa aba-aba segera memangkas jarak mereka dan memberikan sebuah kecupan di bibir Karin.

Karin yang terkejut seketika menjauhkan dirinya dari Aryan, membuat pagutan mereka secara spontan terlepas. Wajah Karin nampak memerah. Bagaimana tidak, Aryan melakukannya di depan seluruh keluarganya. Kejadian itu sontak mengundang perhatian semua orang di sana, tidak terkecuali anak mereka yang seolah nampak mengerti apa yang barusan dilakukan orang tuanya.

“Oma, liat deh, Papa kiss Mama!” seru Svarga dengan lancarnya, mengadukan kejadian yang barusan terjadi.

“Svarga mau dapet kiss juga dari Papa dan Mama?” tanya Aryan berusaha mencairkan suasana yang tengah berubah canggung itu. Karin lantas mengulaskan senyum manisnya juga ke arah anaknya, berusaha membuat anak lelakinya lupa akan yang dilakukan Aryan barusan.

Akhirnya Svarga mendapat kecupan di kedua pipi dari kedua orang tuanya. Saat momen itu terjadi, seorang fotografer yang hari ini ditugaskan khusus untuk mengabadikan perayaan hari ini, segera mengambil potret manis keluarga kecil itu.

Usai sesi tersebut, Aryan masih dengan tampang lempeng dan senyum jahilnya, mengatakan pada keluarganya bahwa ia kelepasan. “Aryan tadi kelepasan Mah, Pah. Oma Opa tadi liat juga ya? Maaf ya semuanya,” ucap Aryan.

“Nay, kamu liat juga?” tambah Aryan lagi sambil melempar tatapan ke adiknya.

“Koko emang gitu Oma, Opa. Suka kelepasan,” adu Nayna yang seketika membuat Aryan melebarkan mata ke arah adiknya.

“Nggak papa kalau sesekali, itu wajar. Itu artinya tanda cinta,” celetuk Oma.

“Nah, bener tuh yang dibilang Oma. Oma emang paling the best,” ucap Aryan.

“Ohiya, sebelum kita foto dan makan-makan, Aryan sama Karin mau menyampaikan suatu hal,” ujar Aryan lagi.

Aryan mengalihkan tatapannya pada Karin, lelaki itu lantas menampakkan senyum penuh maknanya. Karin tidak kepikiran soal apa yang ingin Aryan sampaikan. Apakah mungkin itu sama halnya dengan yang ingin Karin sampaikan juga sebelumnya.

Karin mendekat pada Aryan, lalu ia berbisik. “Kak, kamu mau bilang apa emangnya?”

“Itu lho, Sayang. Masa kamu nggak bisa nebak sih,” ujar Aryan ikut berbisik.

Semakin dibuat penasaran oleh aksi dua sejoli itu, akhirnya Tiara selaku yang paling ingin tahu soal dan seperti mempunyai firasat, lekas meminta Aryan dan Karin untuk segera menyampaikannya.

“Iya, Mama. Sabar dong, Aryan sama Karin akan sampaikan. Jadi gini,” Aryan menjeda ucapannya, lelaki itu bergerak melingkarkan lengannya di pinggang Karin. Kemudian satu tangan Aryan yang lain mengarah ke perut Karin dan mendarat di sana. Aryan mengusap perut istrinya yang terlihat rata itu. Sambil menatap satu persatu anggota keluarganya, Aryan pun berujar, “Puji tuhan, Aryan sama Karin dikasih kesempatan lagi buat punya anak. Usianya baru 2 minggu, dan sebenarnya hari ini kondisi Karin lagi kurang fit. Makanya Aryan pikir surprise-nya berhasil banget. Aryan sama sekali nggak tau kalau akan ada acara kayak gini. Makasih ya semuanya,” tutur Aryan. Kejutannya benar-benar berhasil. Aryan tidak menduga kalau istrinya bekerja sama dengan keluarganya untuk mewujudkan hari ini. Di tengah kondisi Karin yang sedang hamil muda, Aryan sama sekali tidak terpikirkan bahwa istrinya ikut merencanakan perayaan spesial untuknya.

Aryan lantas mengalihkan tatapannya pada Karin, lelaki itu mengulaskan senyum hangatnya. Karin langsung membalasnya tidak kalah hangat.

“Mama udah firasat lho tadi. Karin auranya keliatan beda, Mama kan juga pernah hamil dulu, jadi tau,” cetus Tiara kemudian.

“Ohiya? Emangnya beda gimana?” tanya Aryan.

“Beda dong, Aryan. Keliatan perempuan yang lagi mengandung, auranya akan terpancar. Selamat ya Karin, Aryan. Oma doain lancar semuanya, ibu dan bayinya sehat sampai lahiran nanti,” ujar omanya.

“Iya, Oma, Makasih ya,” ucap Karin sambil mengarahkan tatapannya ke arah Felicia.

“Kalau usia kandungannya baru dua minggu, kemungkinan pas di Aussie berarti ya?” cetus Tiara tiba-tiba. Seketika tatapan semua orang di sana mengarah padanya.

Aryan dan Karin pun saling melempar pandangan, lalu Aryan menyeletuk dengan tampang lempengnya. “Iya, kok Mama tau sih.”

“Mamamu kan lahir lebih dulu dari kamu dan udah hidup lebih lama,” ucap Felicia tampak gemas. Sontak semua yang di sana tertawa mendapati kejadian tersebut.

“Sebenarnya gini, Karin yang minta mau hamil lagi. Jadi Aryan iyain, gampang kan.” Seketika itu juga Karin yang ada di samping Aryan merasakan pipinya menghangat mendengar ucapan suaminya.

Di sana akhirnya hanya para lelaki yang tergelak. Aryan, papanya, dan opanya tidak lagi dapat menahan tawa. Papanya bahkan memuji Aryan dan mengatakan bahwa anaknya begitu hebat.

“Kok hebat sih, kamu nih,” ujar Tiara sambil menyenggol lengan suaminya.

“Hebat dong, Sayang,” Aryo menatap balik Tiara, lalu ia mengulaskan senyumnya. “Artinya bibitnya Aryan dan Karin bagus dan subur. Jadi cepat berhasil.”

Tiara akhirnya memelototi Aryo dan segera mencubit lengan suaminya itu. Namun pada akhirnya, hal itu diiyakan juga oleh Aryan dan Karin. Sebelumnya mereka sudah konsultasi dan dokter mengatakan bahwa memang sel milik Aryan maupun Karin kondisinya sangatlah bagus. Mereka juga melakukannya di waktu yang tepat, jadi pembuahan tersebut dapat langsung menghasilkan calon bayi di rahim Karin.

Tiara lantas geleng-geleng kepala. Akhirnya Karin dan Tiara pun setuju bahwa bapak dengan anak memang mirip sifatnya. Dua pria berbeda generasi tersebut, Aryan dan Aryo, bukan hanya terlihat mirip dari segi penampilan mereka hari ini. Namun kelakuan mereka juga sebelas dua belas. Dari segi wajah, Aryan memang banyak mengambil milik Tiara. Namun dari caranya menatap, gayanya ketika berbicara, serta sifatnya, lelaki itu mewarisi delapan puluh persen gen dari papanya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷