The Pure Feeling

Ini sudah satu minggu sejak Aryan merasa bahwa dirinya berada di dalam jurang yang begitu gelap. Rasanya Aryan seperti hilang arah kala itu. Saat ini Aryan merasa kalau kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Seperti yang dikatakan oleh Karin, Aryan perlu melihat lebih dekat tentang apa yang sekarang ia miliki. Aryan harus berusaha untuk mensyukuri hidupnya dan mencoba bangkit dari rasa sakit itu.

Ini merupakan sabtu pagi yang cerah dan Aryan baru saja kembali dari latihan gymnya. Begitu sampai di apartemen, Aryan segera berbersih diri agar bisa sarapan di meja makan bersama Karin.

Tidak butuh waktu lama bagi Aryan untuk berada kamar mandi. Sekitar puluh menit kemudian, lelaki itu sudah duduk di kursi meja makan dengan tampilannya yang nampak fresh. Aryan mengenakan kaus hitam polos dan celana pendek di atas lutut. Surai legamnya masih setengah kering dan Aryan menyisirnya rapih ke belakang hingga menampakkan keningnya.

Aryan memperhatikan Karin yang mengambilkan sarapan ke piringnya. Baru setelah itu Karin mengambil untuk dirinya sendiri dan duduk di hadapan Aryan.

“Kak, tadi pas kamu mandi, ada yang nelfon ke hp kamu,” ujar Karin setelah menelan satu suapan makanannya.

“Oh iya? Siapa yang nelfon?” tanya Aryan.

“Kina.”

Aryan seketika menghentikan aksi sarapannya. Aryan pun bergerak dari kursinya dan segera mengambil ponselnya di meja ruang tamu. Karin memperhatikan Aryan di hadapannya tengah menghubungi seseorang.

“Halo, Kina.”

“Iya, tadi aku nggak denger kamu nelfon. Aku udah bilang, aku nggak bisa keluar malam ini,” ujar Aryan di telfon.

It’s up to you. Intinya aku nggak bisa, Kina,” sambung Aryan.

Aryan mendengarkan balasan Kina di telfon sebelum akhirnya kembali berujar, “Aku minta kamu untuk ngerti. Oke, bye. See you.”

Setelah itu sambungan telfon pun diakhiri. Aryan kembali melanjutkan sarapannya, tapi fokusnya justru teralihkan kepada Karin ketika perempuan itu hanya menatapnya, bukannya memberikan atensinya pada makanan di piringnya.

“Kak, kamu ada acara nanti malam?” tanya Karin.

“Ohh nggak ada,” jawab Aryan.

Setelah itu Karin hanya mengangguk dan kembali fokus ke makanannya.

“Kamu hari ini di rumah, kan? Kerjaan kamu udah beres semua?” tanya Aryan kemudian.

“Udah,” jawab Karin.

Alright. Aku malam ini juga di rumah.” Aryan kembali menyuap sepotong daging bacon di piringnya. Kemudian Aryan meneguk kopi susu yang biasa dibuatkan oleh Karin untuknya.

“Kak, tadi kak Leon chat aku,” ucap Karin.

Mendengar kalimat tersebut, alis Aryan pun bertaut, lelaki itu meletakkan gelas kopinya di meja. “Leon chat kamu? Dia bilang apa?” tanya Aryan.

“Nanyain kamu.”

“Kenapa nggak langsung chat aku?”

Karin nampak mengedikkan kedua bahunya. “Kak Leon minta tolong aku untuk bujuk kamu. Ini kan malam minggu, kak Leon ajakin kamu ke clubbing. Katanya kamu nolak terus waktu diajak.”

Aryan nampak menghembuskan napasnya dan memejamkan matanya sesaat. Dalam hatinya Aryan tengah memaki Leon. Sialan Leon. Apa saja yang sahabatnya itu telah katakan pada Karin soal clubbing.

Setelah selesai dengan acara sarapannya, Aryan melenggang ke ruang tamu dan duduk di sofa. Waktu Karin melewati Aryan dan hendak melangkah ke naik ke kamar, samar-samar Karin mendengar pembicaraan antara Aryan dan Leon di telfon. Keduanya sedang membahas soal rencana pergi ke clubbing nanti malam.

“Malam ini Karin ada di rumah. Gue nggak mau ninggalin dia sendiri. Lo tau juga kan gue lagi berusaha ngurangin alkohol,” ujar Aryan di telfon.

Usai mendengar balasan Leon di ujung sana, Aryan pun kembali berujar, “Thank you lo udah ngerti. Maybe next time, I will join.”

***

Malam ini Aryan dan Karin pergi untuk membeli makan malam di luar. Mereka membeli dua boks pizza berukuran besar dengan topping yang berbeda. Karin nampak lahap memakan pizzanya. Aryan memperhatikan mata Karin yang berbinar ketika Karin menikmati makanan itu. Satu kotak besar pizza rasa papperoni sudah hampir habis. Karin mengatakan bahwa perutnya sudah terisi penuh dan ia merasa sangat kenyang sekarang.

“Kamu di sini aja, aku ambilin minum,” ujar Aryan yang lantas di angguki oleh Karin. Sebelumnya keduanya telah memutuskan untuk menyetel tayangan TV sembari menikmati makan malam mereka di sofa ruang tamu.

Tidak lama kemudian, Aryan kembali ke hadapan Karin membawakan sebuah botol besar berisi air dan dua buah gelas bening. Karin segera mengambil minumannya dan meneguknya.

“Kamu habis berapa potong pizzanya?” tanya Aryan.

“Lupa. Kayaknya empat deh, atau lima ya?” Karin nampak tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Karin pun menampakkan cengirannya di hadapan Aryan.

“Kak, kita belinya kebanyakan deh kayaknya. Padahal cuma kita berdua yang makan, sayang-sayang kalau nggak habis,” ujar Karin sembari menatap dua boks pizza yang kini masih tersisa beberapa potong. Padahal Karin maupun Aryan sama-sama sudah merasa kenyang.

“Nggak papa kalau sesekali. Aku beliin yang kamu mau.”

“Sayang uangnya, Kak. Tadi beli satu boks udah cukup sebenarnya. Besok aku masak aja ya, biar nggak beli di luar,” ujar Karin.

Aryan sebenarnya pernah mengatakan pada Karin bahwa ia sanggup membelikan apa yang Karin inginkan. Karin tidak perlu memasak kalau sedang tidak ingin melakukannya. Karin pun menghargai setiap pemberian yang Aryan berikan. Namun Karin mengatakan ia ingin Aryan menggunakan apa yang lelaki itu miliki dengan bijaksana. Sesekali mereka bisa memasak, selain lebih sehat, biaya yang dikeluarkan juga tidak terlalu banyak dibandingkan membeli makanan di luar.

Perlahan-lahan perilaku Karin dapat membuat Aryan sadar dan bangkit. Aryan seperti menemukan seberkas cahaya di dalam jurang gelapnya. Aryan bisa merasakan bahwa Karin tulus peduli padanya, tanpa memandang latar belakang Aryan sama sekali. Setelah semua yang terjadi, Karin tidak melihat sisi kelamnya Aryan. Karin memperlakukannya selayaknya manusia memperlakukan satu sama lain. Setiap perlakuan Karin padanya, mendorong Aryan untuk menjadi sosok yang lebih baik.

“Kak, besok kamu ada acara keluar rumah?” tanya Karin.

“Belum tau. Kenapa?”

“Aku mau coba resep masakan baru. Resepnya sih keliatannya gampang, semoga aku bisa masaknya.”

“Oke, kamu masak aja. Aku besok di rumah. Maybe I can help you a little bit,” ucap Aryan.

Karin nampak memicingkan matanya dan tersenyum sangsi ke arah Aryan.

Seolah tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Karin, Aryan pun berujar, “Aku pernah bikinin kamu sandwich. Kamu suka sandwich buatan aku, kan? Aku bisa masak, Karin. Sedikit sih. Mama pernah buat semua orang yang ada di rumah untuk bantuin beliau masak.”

“Terus kamu ikutan masak juga?” tanya Karin tampak penasaran dengan cerita yang spontan yang Aryan ucapkan.

“Kalau mama yang udah ngasih perintah, nggak ada yang berani melanggar. Apalagi papa. Padahal papa paling nggak suka masak,” terang Aryan.

“Gimana ceritanya waktu papa ikutan masak?”

“Seperti dugaan semua orang, papa cuma bikin dapur berantakan dan akhirnya mama nggak nyuruh papa masak lagi.”

Karin tertawa hingga deretan gigi depannya nampak dan sebuah eye smile tercetak di wajahnya. “That’s a funny and nice story at the same time.”

Sepersekian detik Aryan hanya memperhatikan itu terjadi dengan netranya. Setelah tawa Karin reda dan kini pandangan keduanya bertemu di satu titik, Aryan memecah suasana karena merasa sedikit canggung.

“Aku akan buktiin ke kamu besok,” ujar Aryan tiba-tiba.

“Kamu mau buktiin apa?”

“Aku akan lebih jago dari pada papa. I will not messed up the kitchen, I swear to you.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷