The Reveal
2 minggu kemudian
Hari ini merupakan hari voting untuk pemilihan presiden direktur Harapan Jaya Group yang berikutnya. Hadirin yang datang ke acara itu adalah dua calon kandidat, petinggi perusahaan, pemegang saham, serta perwakilan dari Dewan Komisaris yang bertugas melakukan pengawasan dan pemberi nasehat atas pelaksanaan kegiatan hari ini.
Aryo berada dibagian sayap kanan dan Elnino berada di sayap kiri. Papanya hari ini hadir sebagai petinggi perusahaan sedangkan mamanya sebagai pemegang saham. Ketika perwakilan Dewan Komisaris memasuki aula luas tersebut, tandanya acara akan segera dimulai. Kegiatan pertama adalah pembukaan acara oleh Dewan Komisaris yang sudah naik ke atas podium, Rico Brodjohujodyo, salah satu putra keluarga Brodjohujodyo.
Rangkaian acara dilakukan dengan singkat dan padat, sehingga tidak memakan waktu yang lama. Satu persatu orang bergantian maju ke depan untuk memberikan hasil suaranya yang dimasukkan ke dalam kotak kaca bening berukuran besar.
“Terima kasih untuk para partisipan pemilihan suara hari ini. Hasil voting akan diumumkan lusa pukul 10.00 ditempat yang sama. Saya akhiri, selamat siang,” ucap pembawa acara untuk menutup acara hari ini.
Para hadirin satu persatu mulai meninggalkan aula tersebut. Aryo yang masih duduk di tempatnya mendapati Elnino menghampirinya.
“Lo tau kan, eyang kakung ada dipihak gue.” El menghampiri Aryo dan menumpu satu tangannya ke meja.
“Lo cuma mau bilang itu?” tanya Aryo.
“Udah jelas siapa yang akan mendapatkan posisi itu, Bro. You better back off than become a loser.”
Aryo menatap El sejenak, lalu ia tertawa rendah. Pria itu memasang tampang santainya dan seolah ucapan sepupunya barusan tidak mengusiknya sama sekali.
“Lo bisa ngomong apa pun yang lo mau,” Aryo berdiri dari kursinya dan hendak melangkah melewati El namun pria itu menahan pundaknya.
“Denger. Harusnya lo bisa berpikir lebih pintar. Kayaknya istri lo itu lebih berharga dari pada apa yang udah lo milikin sekarang. Kita liat, apa lo lebih milih melingunginya atau berjuang untuk mendapatkan posisi pewaris itu,” ujar El.
***
Ini kesekian kalinya dalam waktu dua minggu, Aryo berusaha untuk menemui Tiara. Aryo memakirkan Jeepnya di depan rumah mertuanya. Dua minggu yang lalu, Aryo tidak menemukan Tiara di rumah ketika ia pulang dari kantor. Tiara membawa hampir semua pakaiannya yang ada di lemari di kamar tidur mereka dan menolak untuk bertemu dengannya.
Sebelum mengetuk pintu coklat mahony di hadapannya itu, Aryo menggantungkan tangannya di udara karena ia mendengar percakapan dari dalam rumah.
Isi percakapan tersebut mengatakan bahwa kedua orang tua kandung Tiara telah meninggal sebelas tahun yang lalu. Aryo ingin coba memastikan lagi bahwa apa yang didengarnya barusan tidak lah benar.
“Kamu menikah sama dia tanpa ngasih tau Ayah sama Bunda, kalau keluarganya adalah penyebab orangtua kamu tiada, Tiara,” suara Andi terdengar dari dalam.
Satu kalimat itu berhasil membekukan semua indera di tubuh Aryo. Aryo pun berniat untuk meluruskan apa yang barusan ia dengar. Pria itu mengetuk pintu di hadapannya dan menunggu dibukakan dari dalam.
Ketika pintunya dibuka, Pemandangan yang pertama dilihatnya adalah wajah Tiara. Wajah yang telah ia rindukan selama dua pekan belakangan.
***
Setelah mendapati Aryo berada di teras rumahnya, keduanya hanya saling diam dan menatap. Ayahnya tidak memperbolehkan Aryo menemui Tiara. Namun Aryo tetap bersikeras meminta penjelasan atas apa yang didengarnya.
Andi dan Aryo duduk berdua di ruang tamu. Sorot mata mertuanya tersebut telah berubah dari pertama kali Aryo datang untuk melamar Tiara dan kemudian menikahi perempuan itu. Tatapannya tidak hangat dan bersahabat, padahal sebelumnya Andi memperlakukan Aryo sudah seperti anak lelakinya sendiri.
“Tiara ingin bercerai dari kamu.” Kalimat itu yang pertama kali keluar dari mulut Andi.
Aryo menatap Andi, “Ayah, tolong izinin Aryo untuk dapat penjelasan soal orangtua kandung Tiara,” pintar Aryo.
“Seperti yang kamu dengar, saya dan istri saya bukan orang tua kandungnya. Saya adalah Omnya Tiara. Saya dan istri saya yang membesarkan Tiara sejak usaianya tujuh tahun, saat kedua orang tua kandungnya meninggal.”
Andi menceritakan rentetan kejadian sebelas tahun lalu. Setelah Erlangga Sinaga meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil, Tiara dan mamanya, Clarissa, pergi ke Australia, dengan tujuan untuk melindungi diri dari orang yang berhubungan dengan kecelakaan Erlangga. Di sana adalah tempat tinggal Andi dan Alifia.
2 tahun berselang, Clarissa pergi menyusul Erlangga karena jatuh sakit. Atas amanat kakak iparnya dan rasa sayangnya terhadap Tiara, Andi berjanji di hadapan pusara Erlangga dan Clarissa, bahwa ia akan menjaga Tiara dan memastikannya hidup dengan aman.
Andi dan Alifia memutuskan menggunakan marga Lubis sebagai nama belakang mereka. Mereka juga merubah nama asli Tiara yakni ‘Michelle Taninka Sinaga’ jadi ‘Mutiarani Ivanka Lubis’. Identitas Tiara yang merupakan anak Erlangga sudah diuabh menjadi anak kandung Andi. Hampir semua proses tersebut dibantu oleh Rudi Abimana yang merupakan sahabat baik Erlangga.
Mendengar semua ceria tersebut membuat sebuah cairan bening mendorong keluar dari pelupuk mata Aryo. Hatinya terasa seperti dicabik-cabik mendapati fakta menyakitkan yang selama ini Tiara sembunyikan darinya.
***
Tiara tidak dapat menatap mata Aryo yang kini ada di hadapannya. Tiara takut tembok pertahanan sudah ia bangun hancur begitu saja. Pria yang masih berstatus suaminya itu tidak menyerah menemuinya dan memintanya untuk kembali.
“Tiara,” panggil Aryo dengan nada paraunya. Aryo telah tahu mengenai kejadian 11 tahun lalu. Kejadian yang membuat Tiara kehilangan kedua orang tua kandungnya. Pertahanan Aryo hancur ketika mendapati penyebab luka bertahun-tahun orang ia cintai adalah keluarganya sendiri. Tubuhnya bergetar dan sebuah bendungan air di mata di pelupukny, akhirnya lolos begitu saja.
“Aku harap kita bisa bercerai secepatnya,” ujar Tiara sambil mencoba menatap Aryo.
“Semuanya cuma kebohongan Aryo. Pernikahan kita, semua yang sudah kita laluin bareng, keinginan aku punya anak, semua itu cuma kepalsuan bagi aku,” sambung Tiara.
“Maksud kamu apa Ra?”
“Apa kata-kata aku kurang jelas? Aku nikah sama kamu karena ingin balas dendam. Aku ngerencanain semuanya, Aryo. Semuanya,” ucap Tiara penuh penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.
“Nggak, Ra. Kasih tau ke aku kalau kamu bohong,” ucap Aryo berusaha menampik fakta yang disampaikan Tiara.
“Semuanya benar. Aku nggak pernah cinta sama kamu,” Tiara mengalihkan pandangannya dari Aryo agar lelaki itu tidak dapat menangkap sorot matanya. Pandangan Tiara terasa sedikit buram saat menatap Aryo di hadapannya. Tiara pikir itu disebabkan oleh bendungan air di pelupuk matanya yang mendesak untuk keluar.
Tiba-tiba kepalanya terasa berat dan seperti ada sesuatu yang menghantamnya dengan sangat kuat. Sebelum semuanya menjadi gelap, Tiara hanya mendapati wajah Aryo yang mencemaskannya.
***
Saat Tiara siuman, ia mendapati Aryo mengenggam tangannya dan wajah pria itu nampak khawatir. Kepala Tiara masih terasa pusing dan tubuhnya tidak memiliki tenaga untuk digerakkan.
“Ra, kamu baik-baik aja? Kita ke dokter ya?” ujar Aryo.
“Kayaknya nggak perlu ke dokter. Mungkin aku cuma kecapean,” balas Tiara.
“Oke, kalau itu mau kamu. Karena aku udah lihat kamu baik-baik aja, aku akan pulang. Ayah nggak ngizinin aku di sini lama-lama. Sejujurnya aku masih kangen kamu,” ucap Aryo gamblang.
Pria itu lantas mengambil jas abu-abunya yang ia sampirkan di kursi dan sedikit merapikan kemeja putihnya. Rambut Aryo nampak mulai memanjang di bagian depan dan hampir menyentuh mata dari terakhir kali Tiara melihatnya.
“Kamu istiraha ya Ra. Nggak perlu mikirin apa-apa dulu,” Aryo menatapnya sekilas sebelum melangkah pergi dan menghilang di balik pintu.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷