The Twice Enchanted
Sore ini sekitar pukul 5, Aryan baru saja kembali ke apartemennya. Aryan menghabiskan waktunya bersama dengan Kina dan seolah memang tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aryan menepati janjinya kepada Kina untuk tidak meninggalkan perempuan itu. Dari luar semuanya terlihat baik-baik saja, tapi tidak dengan yang Aryan rasakan terhadap hatinya. Aryan tidak dapat berbohong, hatinya terasa begitu sakit saat dirinya harus bersama seseorang yang telah membuatnya merasakan rasa sakit tersebut.
Saat Aryan baru memasuki masa remajanya dan mulai mengerti mengenai latar belakang keluarganya, lelaki itu berpikir bahwa memiliki hampir segalanya dalam hidup adalah selalu tentang keberuntungan. Lambat laun Aryan pun belajar dari beberapa peristiwa yang terjadi saat dirinya beranjak dewasa. Harta, aset pribadi, tahta, latar belakang keluarga, membuatnya sulit untuk membedakan mana yang benar-benar tulus padanya atau sekedar memandang apa yang ia miliki.
Itu juga yang terjadi ketika Aryan menjalani hubungan percintaan. Aryan memutuskan memberi kepercayaannya kepada Shakina dua tahun yang lalu. Shakina membuatnya percaya bahwa Aryan pantas dicintai bukan karena apa yang ia miliki, tapi karena memang itu dirinya. Namun kenyataan yang Aryan dapati dari pembicaraan Shakina dengan teman-temannya malam itu, membuat semua rasa percaya itu hancur. Seperti sebuah benda pecah belah, Aryan tidak memiliki harapan untuk menyatukan kembali kepingan-kepingan yang telah pecah tersebut.
Ketika terdengar suaara yang menandakan bahwa ada yang datang dari pintu, Aryan bergerak dari posisinya. Sebelumnya Aryan setengah berbaring di sofa, tapi kini tubuhnya menegak kala menemukan sosok Karin di sana. Karin baru kembali dari studio di apartemennya untuk urusan pekerjaan.
Kehidupan Aryan dan Karin berjalan normal persis seperti awal mereka menikah. Karin menjalani harinya seperti biasa, Rey mengantar dan menjemputnya pulang. Begitu pun dengan Aryan. Ia menjalani kehidupannya seperti saat sebelum bertemu dengan Karin. Seolah pernikahannya dengan Karin hanyalah surat yang tertulis di atas hukum dan agama, kenyataannya mereka tidak menikah dalam artian yang sesungguhnya.
Setelah menaruh barang-barang yang dibawanya dan sedikit berbersih diri, Karin lekas menghampiri Aryan memandang lekat wajahnya. “Kak, are you okay?” tanya Karin.
“Why? I’m okay.” Dusta Aryan.
“Are you drunk?” tanya Karin begitu ia mencium aroma alkohol yang menguar dari tubuh Aryan.
“Just little bit, Karina,” ujar Aryan sembari mengulaskan senyum hambarnya di hadapan Karin.
“Aku tau toleransi alkohol kamu tinggi, tapi coba kamu kurangin dulu. Ya?” bujuk Karin. Karin menatap Aryan dengan tatapan tidak tega, ia melihat sendiri dengan mata kepalanya bahwa Aryan sekacau ini.
Karin memperhatikan wajah Aryan yang nampak pucat. Seketika Karin merasakan hawa panas yang menjalar ke permukaan kulit tangannya ketika ia menempelkan punggung tangannya di atas kening Aryan. Aryan pun mengatakan pada Karin bahwa ia begitu merasa sangat mengantuk sekarang.
“Kamu tidur dulu di atas dulu, ya? Biar aku masakin sesuatu. Nanti aku bangunin buat makan dan minum obat. Oke?” tutur Karin.
Karin akhirnya membantu Aryan bangun dan memapah tubuhnya untuk sampai ke kamar. Begitu Aryan merebahkan tubuhnya di kasur, Karin bergerak untuk menyelimutinya. Karin memperhatikan Aryan yang menggigil, bibir lelaki itu sedikit bergetar karena menahan rasa nyeri di sekujur tubuhnya.
“Karin,” ucap Aryan dengan nada lirihnya. Aryan nampak berusaha membuka matanya untuk menatap Karin di hadapannya. “It's oke for me to cry?” tanya Aryan.
Karin melihat ke arah tangan Aryan yang kini menggenggam tangannya. Perlahan-lahan Karin membalas genggaman itu, ia berusaha membuat Aryan merasa tenang dan lebih baik.
Dalam hidupnya Karin tidak pernah membayangkan akan melihat Aryan dan air matanya. Karin pun hanya sanggup termangu melihat semuanya terjadi. Karin dapat melihat bahwa Aryan benar-benar tulus. Rasanya tidak akan mungkin sesakit igu jika Aryan tidak sungguh-sungguh mengenai perasaannya terhadap Shakina.
***
Aryan merasa lebih baik setelah tidur selama kurang lebih satu jam. Meskipun begitu, Karin tetap memintanya untuk lanjut istirahat selesai Aryan makan dan meminum obatnya. Karin masih mencuci peralatan bekas masaknya ketika ia mendapati Aryan belum beranjak dari kursi meja makan.
“Karin,” ujar Aryan.
“Iya?”
“Aku akan coba buat kurangin alkohol.”
Karin yang mendengarnya seketika menoleh ke arah Aryan. Karin mematikan keran air di wastafel dan menatap Aryan seolah lelaki itu adalah hantu di siang bolong.
“Kenapa kamu liatin aku kayak gitu?” tanya Aryan sembari tertawa.
“Kamu udah bisa ketawa. Berarti udah baikan ya,” ucap Karin diiringi seulas senyum kecil di wajahnya. Karin yang telah selesai dengan segala kegiatannya berberes, kini bergerak menghampiri Aryan dan berujar lagi, “Oke, itu ide bagus, kamu perlu kurangin alkohol sama vape.”
“Vape juga?”
Karin dengan cepat menggangukkan kepalanya, “ Iya, vape juga. Itu untuk kesehatan kamu, Kak.”
***
Rupanya Aryan belum tidur ketika Karin naik ke kamar. Aryan menyandarkan punggungnya di sandaran kasur dan langsung menoleh begitu Karin beranjak untuk bergabung bersamanya.
“Kamu nggak papa aku tidur di sini? Aku bisa tidur di sofa. Aku udah baikan, tadi cuma demam biasa dan karena efek alkohol,” ujar Aryan. Keduanya kini dalam posisi berbaring dan berhadapan dengan sebuah guling sebagai pembatas di tengah-tengah.
Karin mengerti bahwa Aryan memikirkan kenyamanannya. Bagaimana pun tentunya terasa agak aneh jika mereka tidur di satu ranjang yang sama. Aryan pun mengusulkan jika Karin ingin tinggal di apartemennya atau rumah kak Syerin untuk sementara, Aryan akan memperbolehkannya untuk pergi. Namun Karin justru memberikan jawaban sebaliknya.
“Aku nggak tega ninggalin kamu di sini sendiri,” ungkap Karin.
Aryan lantas mendapati Karin menatapnya dengan tatapan lembutnya. “Kak, kamu tau, setiap orang berharga dan pantas untuk dicintai. Saat seseorang memberi rasa sakitnya ke kamu, sebenarnya bukan kamu yang rugi. Dia yang rugi karena telah menyia-nyiakan perasaan kamu yang tulus.”
Nampaknya Karin begitu mengerti dengan rasa sakit yang kini Aryan rasakan. Seolah-olah Karin pernah mengalaminya sehingga begitu memahaminya.
Karin memang pernah merasakannya, itu merupakan luka lama Karin telah pendam. Namun Karin mengatakan ia bersedia untuk membagikannya kepada Aryan yang mungkin saja bisa menjadi pembelajaran berharga juga untuk lelaki itu. “Setelah pisah dengan mama Vanessa dan punya satu anak, yaitu kak Syerin, papaku menikah lagi. Dari pernikahan kedua, papa punya aku dan Kavin. Waktu umurku empat belas tahun, papa meninggal karena sakit. Mama kandungku pergi dan sampai sekarang aku maupun Kavin nggak tau soal keberadaan beliau. Akhirnya mama Vanessa dan kak Syerin memutuskan untuk merawat aku dan Kavin. Tapi aku nggak bisa terus bergantung sama mereka. Gimana pun aku harus berdiri di atas kakiku sendiri.”
Karin merasakan bagaimaan sakitnya ditinggalkan oleh sosok ibu yang mana ia begitu percaya. Namun terkadang memang takdir tidak selamanya indah dan berjalan mulus seperti yang manusia inginkan.
Karin memberi penjelasan pada Aryan bahwa lelaki itu perlu melihat lebih dekat. Aryan masih memiliki orang-orang yang begitu menyayanginya. Aryan memiliki keluarga yang lengkap dan sangat hangat, dan itu merupakan hal yang patut untuk disyukuri. Karin bukan ingin mengadu nasib dan membandingkan hidupnya dengan Aryan yang nampak sangat berbeda. Namun ada hal penting yang dapat dipetik dari setiap peristiwa dan rasa sakit. Kita perlu melihat pada hal baik dari pada hanya berlarut memikirkan satu hal buruk yang telah terjadi.
“Kak, nggak papa kalau sekarang kamu merasa sedih. Sometimes people need a time to crying and feeling sad. Tapi kamu harus percaya, suatu saat nanti, akan ada seseorang yang mencintai kamu dengan tulus. You deserved that, Kak. Every people deserved to be loved. Bukan karena dia siapa, bukan karena apa yang dia miliki, tapi karena dia dicintai karena itu dirinya.”
Usai kalimat Karin tersebut, Aryan pun mengangguk menyetujuinya. Aryan sekarang paham alasan Karin bisa menjadi sosok yang kuat dan tangguh. Setiap orang memiliki hidupnya masing-masing. Namun terkadang di luar sana, kita tidak pernah tahu ada ribuan bahkan jutaan orang yang mendambakan untuk memiliki kehidupan seperti kita.
Aryan tidak pernah tahu kehidupan yang Karin jalani selama ini nyatanya begitu sulit. Karin tidak memiliki figur seorang ibu yang menyayanginya, ia tidak berkesempatan merasakan kasih sayang tersebut. Menjalani kehidupan seperti itu tentu bukanlah hal yang mudah. Namun Karin dapat melaluinya dan itu justru menjadikannya sosok yang hebat seperti yang Aryan lihat saat ini.
“Karin,” ujar Aryan.
“Iya?”
Aryan masih menatap Karin, entah untuk alasan apa, sebuah senyum terukir tulus di wajahnya. “Terima kasih kamu udah ngajarin aku sesuatu yang berharga.”
Aryan berpikir bahwa dua tahun lalu ia terpesona ketika melihat sosok Karin. Perasaan suka itu lantas menguap begitu saja dari hatinya. Aryan tidak memikirkan perasaannya lebih jauh. Aryan pun berpikir mungkin perasaannya pada Karin hanya sekedar rasa kagum, bukannya rasa cinta. Namun kini sebuah pernyataan mengejutkan baru saja menghampirinya. Aryan telah terpesona pada Karin untuk yang kedua kalinya.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷