The Win Win Solution

Aryan keluar dari ruangan dokter yang menangangi Karin. Kurang lebih 30 menit yang lalu, dokter Fadly menjelaskan padanya mengenai kondisi Karin dan bayi yang di kandungnya.

Berbagai pilihan kini berkecamuk di dalam pikiran Aryan. Ia dihadapkan pada kondisi dimana dirinya harus memilih. Dokter menjelaskan bahwa kondisi kandungan Karin saat ini sangat lemah. Faktor stress yang dialami oleh Karin dan karena ini merupakan kehamilan pertama, kandungannya pun sangat rentan. Di usia kehamilan yang muda, seorang perempuan harus benar-benar mendapat perhatian dari orang-orang terdekatanya, terutama peran si ayah bayi adalah salah satu yang paling penting.

Aryan merenungkan semuanya selama dalam perjalanannya di tengah jalanan malam Jakarta yang cukup lengang. Sesekali pria itu memanuver mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata untuk melampiaskan pikiran kalut yang tengah melandanya.

Aryan pun teringat tentang perkataan Leon padanya tadi. Tidak akan ada yang tahu apa yang mungkin dapat hilang darinya jika Aryan tidak membuat keputusan. Penyesalan akan selalu datang di akhir dan ketika itu terjadi, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah takdir tersebut.

***

Shakina menorehkan senyum semringahnya mendapati Aryan kembali datang ke apartemennya. Shakina meraih satu tangan Aryan, menggenggamnya lalu mengajaknya masuk ke dalam.

“Kamu tadi kemana? Kok tiba-tiba aku ditinggal sih?” tanya Kina. Sesampainya mereka di sofa yang terletak di depan televisi berlayar tipis di sana, Kina menyandarkan kepalanya di lengan Aryan, nampak begitu nyaman ketika penciumannya menghirup parfum khas Aryan yang menguar dari torso lelaki itu.

“Aku habis dari rumah sakit,” ujar Aryan. Mendengar ucapan itu, Kina pun mendongakkan wajahnya untuk menatap Aryan.

“Siapa yang sakit, Sayang? Mama kamu udah baik-baik aja, right?” tanya Kina nampak khawatir.

“Bukan mama, tapi Karin.”

“Aku nggak salah dengar kan, Sayang? Kamu ... peduli sama dia?”

“Karin pendarahan tadi sore. Ini bukan tentang Karin, Kina. Ini tentang anak aku,” terang Aryan.

Kina menatap Aryan dengan tatapan tidak percayanya. Kina menggelengkan kepalanya, pandangannya kini pada Aryan mengatakan seolah Aryan telah sungguhan mengkhianati hubungan mereka.

“Kina, kamu paham, kan? Sekarang kondisinya aku dan Karin punya anak. Aku nggak bisa menutup mata gitu aja saat ada kejadian menimpa Karin,” jelas Aryan.

Kina menghela napasnya kemudian menghembuskannya, “Alright. Aku akan coba ngerti. Aryan, maaf, tapi aku nggak bermaksud kayak gitu. Aku cuma takut kalau nanti kamu ninggalin aku.”

Aryan mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut pipi Kina, “Hey, kamu ngomong apa sih? Aku nggak akan ninggalin kamu, Sayang.”

You will promise that?”

Aryan menatap Kina lembut, lalu ia menganggkuk, “Yes, I promise.”

Kina lantas mengulaskan senyumnya mendengar penurutan Aryan itu. Dengan satu gerakan, Kina menjatuhkan dirinya ke dekapan Aryan. Tangannya melingkar di pinggang Aryan dan lelaki itu balas mendekap tubuh ramping Kina dengan kedua lengannya.

I love you,” ujar Kina di tengah-tengah pelukan mereka.

Aryan perlahan-lahan mengurai pelukannya, ia menangkup kedua sisi wajah Kina menggunakan tangannya, “Aku juga sayang kamu,” tutur Aryan. Pandangan Aryan lekat menatap Kina, sorot matanya memancarkan afeksi yang sangat dalam untuk perempuan itu.

Detik berikutnya, Kina bergerak memangkas jaraknya dengan Aryan. Aryan dapat merasakan hembusan napas hangat Kina di dekat wajahnya. Mereka pun semakin dekat hingga Kina mengecup bibir Aryan lebih dulu. Kina menciumnya dengan tempo pelan. Aryan mulai membalas kecupan lembut itu, pergerakannya tidak terkensan terburu-buru, tapi berangsur-angsur semakin terasa intens. Namun perlahan-lahan Aryan mengurai ciumannya lebih dulu, membuat kelopak mata Kina seketika melebar.

“Kina, ada yang harus aku sampaikan ke kamu,” ujar Aryan.

Oke, just tell me. What happen?”

“Aku udah memutuskan, aku akan menikahi Karin,” ucap Aryan apa adanya.

“Aryan ... kamu becanda? Kamu jangan bohongin aku.”

I'm not lying, Kina. Aku minta maaf. Aku akan tetap menikahi Karin.”

Sorot mata Kina kini berubah menatap Aryan. Aryan tahu Kina akan tersakiti dengan keputusannya ini, tapi Aryan tidak memiliki pilihan lain.

“Aku sayang sama anak aku. Aku nggak mau suatu hari aku menyesal karena harus kehilangan dia,” papar Aryan.

Then you hurted me, you know ... ?”

“Aku tau akan ada yang tersakiti dengan keputusan ini,” ujar Aryan.

“Aryan, kamu baru aja mengingkari janji kamu. You said that you never leave me. But then you will marry her,” ujar Kina dengan suara paraunya.

Aryan bungkam. Pikirannya kini semakin kusut dan ia menemui jalan buntu yang tidak memiliki cahaya.

Air matanya pun mengalir membasahi kedua pipi Kina. “Aku nggak mau kehilangan kamu, Aryan. Aku nggak bisa. Aku cinta sama kamu,” sambung Kina.

“Kamu menikah sama dia tanpa rasa cinta. Kamu yakin bisa melalui itu?”

“Aku nggak punya pilihan, Kina. Aku cuma mikirin anak aku.”

“Kalau kamu nikah cuma karena anak, berarti kamu punya pilihan, Aryan. Kamu bisa ajukan win win solution.”

“Maksud kamu?”

“Selama kamu nggak akan mencintai Karin, kamu bisa mengajukan itu. Setelah anak kalian lahir, kamu dan Karin bisa berpisah. Kamu tetap bisa ketemu sama anak kamu, sekalipun hak asuhnya nanti jatuh ke Karin. Gimana?”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷