Throwback : Lotion & Ujian Tesis Tiara
Tiara POV
Aku baru saja membuka mataku dan mengerjapkannya beberapa kali. Setelah berusaha mengumpulkan kekuatan, aku melirik jam dinding yang berada di kamar. Oh, sudah hampir pukul 6 pagi. Hari ini merupakan hari spesial sekaligus menegangkan untukku. Aku akan menjalani ujian untuk penelitian tesis s2-ku. Jadi aku harus bangun dan segera bersiap-siap.
Saat menoleh ke samping, Aku hanya mendapati udara kosong. Kemana perginya suamiku? ucapku dalam hati.
“Sayang ...” panggilku dengan mata yang kembali terpejam. Rasanya aku ingin bangun dari kasur, tapi tubuhku terasa lemas dan tidak mau diajak berkompromi.
“Sayang,” panggilku lagi. 8 tahun hidup bersama Aryo, rasanya tiap bangun tidur nyawaku belum sepenuhnya terkumpul jika belum melihat suamiku itu.
Tidak lama kemudian, aku mendengar suara langkah kaki dan pergerakan seseorang yang terasa tidak jauh dariku. Harum mint pun memasuki indera penciumanku, membuatku seketika kembali membuka kelopak mata.
Aku langsung mengucap syukur kala mendapati indahnya ciptaan Tuhan yang kini berada di hadapanku. Aku memandang Aryo, memerhatikan penampilannya dan suamiku itu masih mengenakan bathrobe birunya. Wajah tampan yang sesejuk udara fajar, tubuh wangi, senyuman indah, suamiku benar-benar definisi paket lengkap.
Suamiku duduk di tepi ranjang, matanya tidak lepas memandangku, dan tangannya pun terangkat untuk mengusap surai panjangku. “Kenapa tadi manggil?” tanya Aryo dengan suara lembutnya.
“Aku nggak bisa bangun, kalau belum liat kamu,” ujarku. Aku pun menggunakan waktuku untuk mengamati rupa suamiku, lamat-lamat, hingga sebuah senyum merekah begitu saja di wajahku.
“Hari ini ujian tesis kamu jam 10, kan? Aku libur kerja. Aku anter kamu ke tempat ujiannya ya,” ujar Aryo.
Aku pun mengangguk sembari mengacungkan ibu jari di hadapannya. Kemudian aku mengatakan pada Aryo bahwa aku akan bangun dan mandi sekitar 10 menit lagi.
ku merebahkan kepala di pangkuan Aryo, tanganku merengkuh pinggangnya, dan membenamkan diriku di sana. Rasanya begitu nyaman, kalau bisa aku tidak ingin beranjak cepat-cepat. “Sayang, usapin,” ujarku.
“Istriku manja banget sih,” Aryo berucap sembari mulai mengarahkan tangannya untuk mengusap puncak kepalaku.
“I think ... you will rub another one,” ucapku sambil mendongakkan kepala. Aku pun mendapati kedua ujung bibir Aryo saling tertarik untuk membentuk sebuah senyuman.
“Bisa lebih dari sepuluh menit nanti kalau usap yang lain, Sayang,” ujar Aryo sambil beralih mengusapi punggungku.
“Iya juga yaa.” Aku pun mengangguk setuju diiringi sebuah kekehan. Mataku kembali terpejam, aku menikmati setiap usapan yang Aryo berikan.
“Aryo, aku deg-deg-an nih mau ujian. Kalau nggak lulus gimana ya?” celetukku mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran.
“Aku yakin kamu bisa, Sayang. Banyak hal berat yang udah kamu lalui dan kamu berhasi melewatinya . Aku dan anak-anak tau, kamu adalah perempuan yang hebat,” tutur Aryo.
Aku pun membuka mata dan menatap Aryo, “Makasih ya, Sayang. Kamu selalu percaya kalau aku bisa, bahkan di saat aku ragu kalau aku mampu,” ucapku.
Aryo pun mengangguk, ia mengusap pipiku dan sedikit merapikan helaian rambutku yang menempel di kedua sisi wajahku.
“Kamu mau mandi sekarang atau nanti?” tanya Aryo.
Aku tidak menjawab, aku bangun dari posisiku dan bergerak mengambil sesuatu dari lemari yang terletak di samping meja rias.
“Kamu mau ngapain, Sayang? Mau pakai lotion sebelum mandi?” tanya Aryo dengan ada bingungnya. Suamiku itu memerhatikan setiap pergerakan yang aku lakukan. Aku pun sudah kembali ke hadapannya dengan sebuah botol lotion di tangan.
“Before I do a shower, I will do a service for you,” ucapku.
Aku melihat kerutan di kening Aryo setelah mendengar ucapan yang aku lontarkan.
“Service apa?” tanya Aryo.
Aku lantas membuka tutup botol lotion di tanganku, “You want me to help you to do your after shower routine?” tanyaku.
Aryo terlihat tidak dapat lagi menahan tawanya. Suamiku itu tergelak dan mengatakan bahwa ia akhirnya mengerti tentang apa yang aku maksud.
“Sure, you can do it, Sweety,” ujar suamiku akhirnya setelah tawanya mulai reda.
Aryo memang rutin menggunakan lotion hampir ke seluruh badan setelah mandi, guna mencegah kulitnya menjadi kering. Namun Aryo selalu melakukan aktivitas itu sendiri, karena biasanya saat aku bangun tidur, suamiku itu telah selesai mandi.
“Alright, Sir. I'm still learning by doing to give you my best love,” ujarku sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Aryo menatapku lekat cukup lama. Oke. Aku rasa jantungku sudah tidak normal akibat ditatap oleh Aryo seintens itu.
Aku pun segera menuangkan lotion cair itu di telapak tanganku, lalu mendekatkan diriku pada Aryo. Suamiku menghela lengan jubah mandinya supaya aku bisa mengaplikasikan lotion itu di lengannya.
“You like it?” tanyaku sambil mengarahkan mataku untuk menatap Aryo, tapi tanganku tetap dengan telaten meratakan lotion di lengannya.
Aku mendapati rona merah di kulit wajah Aryo. Itu nampak sangat lucu dan menggemaskan.
“I really like it,” ucap Aryo kemudian.
Aku melihat Aryo memejamkan matanya kala tanganku mulai bergerak ke bagian di atas lutut. Tidak membutuhkan waktu lama tanganku berada di sana untuk memoleskan lotion. Rupanya aku berhasil menyelesaikannya dengan cukup cepat di bagian paha.
“Alright, it's done,” ucapku. Aku segera meletakkan botol lotion kembali ke lemari.
“Cepat juga Sayang,” celetuk Aryo.
“Yaa emangnya kamu mau selama apa? Nanti ada yang bangun lho kalau lama-lama,” ledekku diiringi sebuah senyuman jenaka.
“Alright, fine,” ucap Aryo. Aku melihatnya mengedikkan kedua bahu dan menghela napasnya.
“Aku mandi dulu ya,” ucapku yang langsung diangguki oleh Aryo.
Sebelum melenggang ke kamar mandi, aku mendekatkan diriku lagi pada Aryo.
“Apa, Sayang?” tanya suamiku yang masih mendapatiku belum juga beranjak pergi.
Aku mencondongkan tubuhku, lalu detik berikutnya, kuberikan sebuah kecupan di pipi Aryo. “My battery is fully charged. I'll take a shower then,” ucapku dan segera melangkahkan kakiku berlalu dari sana.
Aku selalu ingin berusaha memberikan yang terbaik untuk Aryo, membuatnya bahagia, dan selalu bisa merasakan bahwa aku benar-benar mencintainya. Apapun yang aku lakukan untuknya, berdasarkan kata hatiku dan aku begitu rela melakukannya. Begitupun sebaliknya tentang pria itu. Eksistensi Aryo rasanya begitu sanggup membuat duniaku jungkir balik. Aku mencintainya dan rasanya aku benar-benar telah jatuh telak pada sosok Aryo Bimo Brodjohujodyo.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Sebenarnya ini part iseng aja, karena ternyata aku tidak bisa move on secepat ini pada couple Aryo Tiara. Meskipun aku juga tidak sabar mengeksekusi ide cerita selanjutnya.
Semoga kamu enjoy sama ceritanya. Sampai di sini pertemuan kita di Emergency Married. Sampai bertemu di ceritaku yang selanjutnya.
Regards, Aya 🌷