Tiara = Aset Pribadi Aryo
Seharian ini, Tiara berusaha memikirkan cara efisien agar ia bisa mendapatkan keinginannya melalui Aryo. Namun sudah menjelang malam, tidak ada satupun ide yang terlintas di benaknya. Kalaupun ada, resikonya akan berbahaya untuk keamanan rencananya.
Tiara tahu, ini tidak akan mudah, justru akan sulit mengingat bagaimana karakter Aryo. Pria itu sepertinya terlatih untuk teliti dalam segala hal, perfeksionis, dan selalu memiliki cara untuk membuat Tiara menjadi gadis yang penurut.
Seperti yang sudah terjadi, keputusan mengenai tempat tinggal yang akan mereka tinggali permanen, merupakan keputusan dari Aryo. Mereka sepakat tinggal di kondominium walaupun Aryo sudah membeli rumah berlantai dua yang lebih kecil di banding kawasan yang lebih mirip komplek perumahan ini. Tiara akhirnya setuju karena ia tidak mau ambil pusing lagi masalah tempat tinggal.
Tiba-tiba terlintas sebuah ide di pikiran Tiara karena ia merasa bosan. Sepertinya mengganggu Aryo saat ini akan sangat seru. Sejak tadi siang sampai sudah lewat senja, Aryo sibuk bekerja di ruang kerjanya dan mereka hanya bertemu saat makan siang. Sebenarnya, Tiara itu istri atau cuma pajangan pria itu saja di rumahnya ini, sih?
Tiara mengetuk pintu kayu berpelitur putih di hadapannya. Belum ada sahutan dari dalam, tapi gadis itu langsung membuka pintu dan masuk begitu saja. Tiara mendapati Aryo berada di balik meja yang diisi oleh tumpukan-tumpukan file dan kertas.
“Aryo ... gue bosen tau. Gue mau beli cemilan di minimarket, boleh nggak?” Tiara menampakkan puppy smile-nya.
“Jam kerja Erza sama Egha udah selesai hari ini,” ucap Aryo yang hanya sekilas melihat Tiara, kemudian pria itu kembali fokus pada pekerjaannya.
“Apa hubungannya sama jam kerja mereka?” Tiara nampak bingung. Memangnya ada hubungan jam kerja para asisten di kondominium ini dengan dirinya yang hanya ingin keluar sebentar ke minimarket?
“Mereka yang akan nganter lo.” Aryo mengambil ipad-nya di nakas samping meja dan fokusnya kini hanya tertuju pada benda elektronik itu, tidak menatap ke arah Tiara sama sekali.
“Gue bisa kok jalan sendiri,” ujar Tiara. Gini lho, ia berusaha menjadi istri yang baik dengan tidak merepotkan Aryo atas hal kecil yang ingin ia lakukan. Namun tidak juga sih, karena Tiara tidak bisa membuka sendiri pintu utama, apalagi kalau bukan akibat keegoisan pria dihadapannya ini yang menggunakan sensor identitasnya sebagai akses keluar dan masuk. Sepertinya Aryo membuat Tiara membutuhkan pria itu dan bergantung padanya. Tunggu, apa-apaan semua ini?!
“Lo udah tau apa jawaban gue. Ada banyak makanan dan cemilan di lemari dan kulkas, lo bisa ambil di sana,” ucap Aryo.
“Erza kayaknya bisa deh nemenin gue. Gue mau telfon dia,” Tiara mengambil ponsel dari saku cardigannya, lalu mendial sebuah nomor di sana.
Aryo masih tidak berkutik sampai seseorang di ujung sana mengangkat panggilan Tiara, dan gotcha! Aryo langsung meletakkan ipad-nya di meja dan memberikan atensi penuhnya pada Tiara.
“Halo ... Za? Boleh minta tolong nggak, temenin gue ke minimarket buat beli cemilan?”
Sambungan pun di akhiri dan Tiara menampakkan senyum semringahnya. “Erza mau tuh nemenin gue,” ucap Tiara dengan nada kemenangan seolah ia memang sudah menang dari Aryo.
“Lo boleh pergi sama Erza, tapi biarin gue periksa hp lo,” ucap Aryo pada akhirnya mengizinkan Tiara. Namun tetap saja pria itu punya syarat yang membuat Tiara tidak terima.
Tiara langsung melemparkan tatapan sebalnya. “Ada apa sih? Lo beneran jadiin istri lo tahanan dan pajangan di rumah ini, ya?”
“Oke, gue akan telfon Erza, biar dia lebih milih perintah bos utamanya,” ucap Aryo dengan wajah menyebalkannya itu menurut Tiara.
“Tapi kan gue juga Nyonya disini,” seru Tiara.
Aryo tidak mendengarkan ucapan Tiara dan sungguhan menelfon Erza, dengan hanya memencet salah satu tombol pada telfon kabel yang ada di atas mejanya.
Niat Tiara adalah mengerjai Aryo, namun yang terjadi justru dirinya yang harus kembali menuruti perintah pria itu. Dengan terpaksa, Tiara meletakkan ponselnya di atas meja. Aryo mengambil ponsel gadis itu dan menyimpannya di dalam laci.
***
Saat Tiara kembali, ia mendapati Aryo menunggunya living room lantai satu. Tiara menampakkan wajah malasnya. Kehidupannya sungguh seperti tahanan kalau seperti ini terus. Kalau saja Tiara tidak dalam misi menjinakkan Aryo, sudah ia muntahkan kalimat-kalimat sumpah serapah untuk pria itu.

“Dimana hp gue?” tanya Tiara begitu dirinya dan Aryo sampai di lantai dua. Tiara menengadahkan tangannya di hadapan Aryo.
“Lo butuh buat apa?” Aryo memasukkan satu tangannya ke saku celananya.
“Buat komunikasi sama temen-temen gue lah,” balas Tiara.
“Sementara belum bisa lo pake. Mungkin besok.” Tiara mengekori Aryo sampai ke ruang kerja pria itu dan Aryo langsung mengusirnya dari sana.
“Balikin dulu hp gue. Lo nggak bisa buka-buka handphone gue, lo nggak inget perjanjian kita?”
“Lo mau tau kenapa gue minta hp lo?”
“Apalagi kalau bukan mau memonitor kehidupan gue.”
Tiara memanyunkan bibirnya dan kedua alisnya menyatu karena Aryo tidak menggubrisnya. Pria itu sepertinya siap untuk kembali pada pekerjaannya yang membuat Tiara rasanya ingin meledak sekarang juga.
“Apa ada hubungannya untuk menjaga image pernikahan? Erza said that you've planned all of this for taking care of me, even sebelum lo bawa gue kesini. Upsie ... how sweet my husband,” ujar Tiara yang pandangannya tidak lepas dari Aryo. Dengan sekejap, Tiara merubah ekspresinya dengan senyuman manis di bibirnya, lalu ia mengarahkan tangannya untuk memegang ujung kaus Aryo.
Tiara memperhatikan Aryo menjalarkan tangannya untuk menyentuh tangannya. Tiara sudah gembira dalam hati, namun detik setelahnya, Aryo malah menghempaskan tangannya dari sana.
“Lo bisa tidur di kamar lo, Tiara.”
Tiara melongo sambil menahan perasaan yang bergejolak di dalam dadanya. Astaga, ia malu sekali karena baru saja melakukan hal yang berorientasi pada memurahkan dirinya sendiri di hadapan pria yang ia benci ini.
“Nggak,” ujar Tiara tidak ingin menyerah dan kalah terlalu cepat.
“Nggak untuk apa?” sahut Aryo.
“Gue nggak akan tidur sebelum hp gue balik.”
“Gue nggak mau buang uang untuk seseorang yang nggak bisa menghargainya,” sindir Aryo.
“Emangnya lo buang uang untuk siapa? Untuk gue?”
“Semenjak kita nikah, jadi kewajiban gue untuk membiayai dan menafkahi lo. Itu termasuk uang kuliah dan kebutuhan lo yang lain. Jadi, cara paksaan bukan suatu kesalahan kalau gue harus melakukannya, ketika lo susah di atur,” papar Aryo panjang lebar.
“Oke. Kalau gitu, gue bisa kok tidur disini. Besok pagi, gue bakal bangun tepat waktu dan berangkat kuliah tanpa telat.” Tiara berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan ini. Ia menepuk-nepuk permukaan sofa tersebut, lalu membaringkan tubuhnya di sana.
Aryo melirik sekilas ke arahnya, lalu menggelengkan kepala sambil berdecak heran pada kelakuan Tiara yang keras kepala dan tidak mau kalah darinya itu. Aryo terlihat tidak peduli dan memilih melanjutkan aktivitasnya yang sempat terganggu akibat ulah Tiara.
Di tempatnya, Tiara tidak sungguhan tidur. Gadis itu hanya pura-pura memejamkan matanya. Tiba-tiba terbesit di pikirannya, untuk apa Erza yang mengantarnya ke minimarket, padahal Aryo bisa melakukan itu untuknya kalau pria itu khawatir. Ohya, Tiara melupakan fakta bahwa Aryo mengkhawatirkannya karena Tiara adalah aset pribadi yang akan berpengaruh pada reputasi pria itu, kalau terjadi sesuatu padanya.
Sesekali Tiara membuka matanya untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan Aryo di mejanya. Hanya hal biasa yang dilakukan pria itu, yakni membaca berkas-berkas, lalu menandatanganinya.
Tiara memberengut kesal dan membalikkan badannya agar tidak menghadap kearah Aryo. Ia memaksa matanya untuk terpejam dari pada harus bangun lalu berjalan secara sukarela ke kamarnya.
Berakting seolah dirinya berjalan saat tertidur, adalah pilihan yang tidak akan Tiara ambil. Bukannya menyelesaikan masalah yang ada, justru akan menambah adegan memalukan dirinya sendiri di hadapan Aryo.
Sekitar setengah jam berlalu, Tiara merasakan tubuhnya melayang di udara. Aroma cinnamon bercampur mint yang segar mengilhami indra penciuman Tiara dalam sekejap. Wangi itu rasanya sampai menelusup masuk ke dalam rongga dadanya, sehingga mengakibatkan jantungnya berdentum lebih kencang dari dentuman normal.
Sesampainya di kamar Tiara, Aryo membaringkan tubuhnya dengan perlahan di kasur. Kemudian terdengar bunyi pintu ditutup dan suara langkah kaki yang bergerak menjauh.
Tiara membuka matanya perlahan untuk memastikan Aryo sudah pergi dari kamarnya. Kemudian perempuan itu menghembuskan napas lega dan mengusapi dadanya yang tidak kunjung kembali bersikap dengan normal.
***
Saat Tiara terbangun di pagi hari, ia mendapati meja makan yang sudah terisi oleh menu sarapan. Tiara yang memiliki kebiasaan ‘harus sarapan’ dan perutnya terasa sangat keroncongan, langsung menarik kursi dan siap untuk mengisi energinya. Rasanya indah juga mendapatkan kehidupan seperti ini. Namun membayangkan para pengantin baru lain memiliki kehidupan pernikahan normal yang berbeda darinya, membuat Tiara tiba-tiba terpikirkan akan kehidupan pernikahannya.
Dirinya harus terjebak di tempat ini untuk menjadi istri seseorang yang akan membuka jalan bagi rencananya. Setelah tujuannya tercapai, ia akan bercerai. Tidak ada manusia yang menginginkan perceraian dalam pernikahannya, tapi Tiara tidak punya jalan lain.
“Egha yang bakal nganter lo kuliah,” ujar sebuah suara yang tidak lain dan tidak bukan adalah milik orang yang dua detik lalu baru saja berada di pikirannya.
Tiara melihat Aryo sudah berpenampilan rapi dengan kemeja formal dan celana panjangnya. Sial, tiba-tiba Tiara jadi teringat wangi parfum pria itu yang semalam sangat dekat dengan indra penciumannya. Aryo berjalan melewatinya dan terlihat keheranan, waktu Tiara tiba-tiba menjauhkan tubuhnya dengan sigap dari pria itu. Tiara tidak tahu pasti, gerakan spontan barusan terjadi karena apa. Kemudian gadis itu berusaha menelan salivanya yang kali ini terasa sulit untuk dilakukan.
“Gue bisa berangkat sendiri kok. Tapi makasih ya, udah kepikiran buat nganterin gue.” Tiara kembali fokus dengan sarapannya.
“Beberapa bulan lagi adalah pemilihan jabatan presiden direktur yang baru. Lo tahu apa yang harus lo lakuin?” tanya Aryo.
“Apa?” Tiara sungguh tidak tahu apa yang harus dilakukannya sebagai istrinya Aryo.
Aryo pun mendaratkan ibu jari dan telunjuknya di kening Tiara.
“Aw!!” Tiara merintih kesakitan dan mengusapi keningnya yang jadi sasaran Aryo barusan.
“Gue beneran nggak tau. Gue harus ikut kampanye untuk support lo gitu, yaa?” Tiara menampakkan wajah bingungnya.
“Lo udah dikasih makan, tapi tetep aja masih lemot.” Aryo mengambil sarapan untuknya dan menarik kursi di hadapan Tiara.
“Okey, I will do nothing.” Tiara mengedikkan bahunya, lalu ia memberikan senyum cerahnya pada Aryo. Kalau begitu, ia tidak akan punya pekerjaan selain kuliah dan tentunya menghabiskan uang Aryo yang menurutnya tidak akan habis sampai 10 keturunan sekalipun.
“Lo adalah istri gue saat ini Tiara—”
“Emangnya siapa yang nanti akan gantiin posisi gue setelah kita cerai?”
“We are not going to discuss about that. Karena lo istri gue dan saat ini banyak yang ingin menjatuhkan gue, untuk dapetin posisi presiden direktur itu. Secara otomatis, situasi ini bisa berdampak untuk lo juga.”
“Ohh ... kalau gue akan jadi trendsetter.”
“Lo pikir itu bagus?”
“Bagus dong. Nanti satu Indonesia bakal kenal gue sebagai istri calon presiden direktur Harapan Jaya. It’s gonna be cool, right?” ucap Tiara yang kemudian melanjutkan acara makannya dengan tenang dan bahagia.
Aryo lantas memijit pangkal hidungnya dan berdecak heran mendengar pemikiran gadis itu. Aryo sudah selesai dengan sarapannya dan ia beranjak dari meja makan.
“Lho? Apa yang salah sih?” Tiara mengekori Aryo sampai kedepan lift dan karena Tiara membuntutinya, Aryo pun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Tiara.
“Nanti lo bisa tanyain sama Erza atau Egha soal ini. Gue harus berangkat sekarang.” Aryo mengecek Rolex di pergelangan tangan kirinya.
“Sebentar, gue butuh hp gue. Ada dimana?”
“Di laci meja kerja gue, lo bisa ambil di sana.”
“Oke. Lo hati-hati di jalan,” ucap Tiara canggung dan lidahnya terasa aneh ketika mengatakan itu.
“Wait.” Aryo mengatakannya sambil menampakkan gestur mengingat sesuatu yang ia lupakan.
“Kenapa?”
“Siapa inisial R yang nelfon ke nomor lo sampe lima kali semalam?” Tiara terlihat sedikit terkejut namun ia berusaha mengontrol ekspresi di wajahnya.
“Bukan siapa-siapa,” jawab Tiara.
“You know that person?”
“Bukan orang asing, gue emang kenal,” Tiara memberikan senyumnya seolah tidak terjadi apapun.
Aryo pun mengangguk dan ia mengatakan pada Tiara kalau ia harus pergi. Tiara mengiyakan dan ia menatap punggung tegap Aryo yang mulai menjauh dari pandangannya. Tiara harus lebih berhati-hati dengan Aryo kalau tidak ingin rencananya dicurigai oleh pria itu.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷