Tiara's Mood Swing
Dari pantauan layar cctv lantai dua, Tiara melihat sebuah mobil memasuki basement. Setahu Tiara, tadi Aryo berangkat ke kantor membawa sport porsche baru yg langsung jadi kesayangannya. Namun yang Tiara dapati adalah sebuah BMW putih yang baru saja terparkir di sana.
Jadi Tiara pikir itu bukan suaminya. Tapi siapa juga yang bisa parkir di basement utama. Tempat parkir itu khusus untuk Aryo dan Tiara menebak, bahwa suaminya itu membawa mobil sesuai dengan moodnya.
Sementara di lantai satu, Aryo menyalami tangan Feli dan Alifia begitu ia melenggang masuk. Tadi siang Aryo dapat kabar dari Feli kalau mamanya dan mertuanya ingin menginap. Katanya sih kangen anak dan calon cucu. Semenjak Tiara mengandung, Feli dan Alifia memang lumayan sering berkunjung ke rumah untuk sekedar menemani istrinya. Terlebih saat Aryo bekerja dan baru pulang jam 9 atau 10 malam. Padahal Tiara mengatakan tidak masalah ia di rumah sendiri, toh Aryo sudah menambah tingkat keamanan di area rumah mereka.
Feli kerap mengingatkan Aryo agar ia tidak terlalu sibuk bekerja. Mamanya itu mengancam akan membawa Tiara menginap dirumahnya. Dengan ancaman begitu, biasanya Aryo akan pulang lebih cepat dari biasanya untuk memastikan mamanya tidak menculik istrinya.
“Tiara udah tidur Mah? Bun?”
“Belum kayaknya. Katanya mau nungguin kamu pulang,” ujar Alifia.
Aryo tersenyum bahagia. Ya, dia senang banget di tungguin pulang. Istrinya itu menggemaskan sekali, batinnya.
Tidak lama kemudian, topik yang jadi perbincangan ketiga orang itu datamg. Tiara muncul dengan piyama ungu pastelnya dan raut wajahnya yang sudah mengantuk itu.
“Mama sama Bunda ngira kamu udah tidur. Maaf yaa, aku pulang malam lagi.” Aryo mengusap puncak kepala istrinya ketika Tiara menyalami tangannya dan mencium punggung tangannya.
“Kamu kalau udah ngantuk tidurduluan aja, nggak usah tungguin aku nggak papa,” ujar Aryo. Padahal di dalam hatinya, Aryo sedang berbunga-bunga karena hal sesederhana Tiara menunggunya pulang.
“Aku nggak bisa tidur, Aryo,” ucap Tiara.
“Kenapa? Bawaan adik bayi yaa?” tanya Aryo.
Tiara menggeleng. “Kayaknya bukan deh. Adik bayinya pengertian.”
“Terus karena apa?”
“Karena bapaknya,” ucap Tiara sembaru mengedikkan kedua bahunya.
“Emang aku buat salah ya Ra?” pertanyaan Aryo itu tidak digubris oleh Tiara.
“Lho, aku lupa kalau buat salah, Sayang. Kasih tau aku, aku salah dimana.” Aryo masih memburu alasan kenapa dirinya yang menjadi andil Tiara tidak bisa tidur.
Demi tuhan dan seluruh koleksi mobil mewahnya, Aryo tidak ingat apapun.
“Kalau kamu mau makan, tinggal angetin lauk di meja pakai microwave. Aku tidur duluan ya,” ucap Tiara sebelum ia berbalik dan melangkah pergi. Tiara meninggalkan Aryo setelah dirinya berpamitan untuk tidurc lebih dulu pada bunda dan mama mertuanya.
“Mah, Bunda. Aryo beneran nggak tau, salah Aryo apa. Tiara ngambek ya sama Aryo?” ujar Aryo dengan tampang bingungnya.
“Coba kamu tanyain baik-baik. Di bujuk, di manja-manja. Dulu pas Mama hamil juga gitu, lumayan sering mood swing. Reaksi kamu sama papamu sama lho. Kalian laki-laki emang kadang kurang peka ya,” ucap Feli panjang lebar.
“Oke. Kalau gitu Aryo susulin Tiara dulu deh, Mah, Bunda. Aryo naik ke lantai dua dulu ya,” ucap Aryo pada mama dan bunda. Melihat kelakuan Aryo dan Tiara tersebut, Feli dan Alifia tidak lagi heran, justru membuat keduanya teringat akan masa muda mereka.
“Maklum yaa Jeng, anak muda. Dulu kita juga pernah gitu,” celetuk Alifia.
“Iya, sama persis. Sehari juga baikan nanti mereka, keliatan nggak bisa saling jauh gitu ya Jeng,” ujar Feli sambil menyunggingkan senyumnya.
***
Mood Tiara menjadi tidak menentu semenjak ia hamil. Itu yang ia rasakan. Biasanya Aryo akan meluluhkan hatinya kalau Tiara sedang mood swing seperti saat ini. Namun kenyataannya, tidak ada yang terjadi. Pagi hari Aryo sudah berangkat ke kantor disaat Tiara masih tidur. Tiara bangun kesiangan karena tidurnya begitu nyenyak. Pola tidurnya juga sedikit tidak menentu. Kadang Tiara susah tidur, atau tiba-tiba jam tidurnya menjadi lebih lama dari jam normal.
Siang ini Tiara harus ke kampus karena ada jadwal bimbungan skripsi. Bimbingannya dimulai dari pukul 11 hingga pukul 3 sore. Tiara sedang menunggu gilirannya untuk bimbingan bersama miss Jessica. Ia belum harus segera membeli makanan di kantin, sebelum giliran bimbingannya. Sekarang bukan hanya dirinya yang butuh makan, tapi bayinya juga. Jadi ayo cari makanan yang enak untuknya dan si jagoan. Rasanya perut Tiara sudah keroncongan sekali.
“Ra lo mau kemana?” tanya Risya ketika melihat Tiara mengambil dompet di tasnya.
“Gue mau ke kantin, beli makanan,” ujar Tiara.
“Eh rame banget lho kantin. Tadinya gue juga mau kesana tapi mager banget.”
Jam makan siang ini tentunya kantin rame sekali. Namun Tiara tetap harus makan dan kalau pesan gofood pasi akan lebih lama.
“Ohiya Ra, lo nggak bisa nund makan ya. Jangan sampe anak lo kelaperan Ra, ayo deh gue temenin.” Akhirnya sahabatnya itu memutuskan menemani Tiara ke kantin.
Waktu keduanya keluar kelas, salah satu teman lelaki mereka, memberi tahu bahwa beberapa saat lalu ada yang mencari Tiara.
“Tadi Akmal nyarrin lo, tapi dia ada kelas. Jadinya nitip ini ke gue, katanya buat lo,” ujar Rafael sambil menyerahkan plastik makanan yang dibungkus styrofoam ke tangan Tiara.
“Makan yang kenyang ya, Tiara.” Rafael tersenyum padanya lalu tangannya iseng mengusap kepala Tiara dan mengacak sekilas rambutnya. Setelah itu, Rafael langsung melenggang pergi bersama teman-temannya dari kelas lain yang kemudian juga melihat ke arah Tiara sambil melemparkan senyum.
***
Tiara sudah selesai bimbingan sekitar pukul 2. Namun ia masih harus menunggu Risya dan Cici yang sebentar lagi selesai bimbingan. Rencananya mereka bertiga mau mampir dulu ke coffe shop yang baru buka di fakultas ekonomi.
Tiara yang sedang menunggu di depan kelas, melihat Rafael di koridor lantai 4. Pria itu tengah berjalan dan terlihat menuju kearahnya.
“Tiara,” sapanya ketika sampai di depan Tiara.
“Kenapa Raf?” tanya Tiara.
“Gue anter balik, yuk. Ohiya, kita ada tugas kelompok untuk compelement tugas akhir, kan? Lo, gue, sama Vania. Sekalian aja gimana?” ujar Rafael.
“Tapi gue mau pergi sama Risya Cici. Kerja kelompoknya besok aja, gimana? Deadline-nya masih dua minggu lagi,” ucap Tiara.
“Tiara, lo tahu kan gue suka sama lo,” ujar Rafael blak-blakan dan ucapan pria itu kemungkinan dapat di dengar orang-orang yang lalu lalang di hadapan mereka.
“Iya, gue tau,” balas Tiara.
Rafael terdiam dan hanya menatapnya.
“Rafael, gue udah nikah dan sebentar lagi gue punya anak,” lanjut Tiara. Kalimat Tiara itu rasanya bagai petir di siang bolong buat Rafael. Ya, Rafael tahu Tiara sudah menikah. Namun penolakan seperti ini langsung dari Tiara membuat matanya dibuka lebar-lebar.
“Rafael, maaf. Waktu itu lo pernah nembak gue, dan gue udah menolak lo baik-baik. Tapi lo sendiri yang bersikeras sampai sekarang,” sambung Tiara.
“Oke, Ra. Gue bakal mundur,” ucap Rafael yang seketika membuat bibir Tiara terbuka sedikit. “Gue nggak akan ngejar-ngejar lo lagi,” sambung Rafael.
“Lo bakal ketemu cewek yang lebih baik dari gue, Raf,” tutur Tiara.
“Tapi gue nggak tau, gue bakal suka sama dia sesuka gue sama lo apa engga.” Rafael tertawa hambar.
Acara dengan Risya dan Cici pun menjadi batal. Tiara memutuskan pergi sama Rafael ke rumahnya dan Vania akan menyusul mereka untuk mengerjakan tugas kelompok.
“Kena mental pasti tuh anak. Lagian kenapa nekat sih, suka sama orang yang jelas-jelas udah ada pawangnya,” ujar Risya setelah Tiara pamit padanya dan Cici untuk pulang lebih dulu bersama Rafael.
“Namanya juga perasaan, Sya, mana bisa diatur. Manusia nggak bisa milih mau jatuh cinta sama siapa, kan?” ucap Cici yang diangguki oleh Risya.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷