Trust You to Come Back
Karin menginap di rumah Syerin dan belum tau kapan akan kembali. Rasanya Karin tidak ingin melihat Aryan. Ia terlalu takut dengan rasa sakit yang akan menghampirinya, entah untuk alasan apa Karin merasakannya. Harusnya Karin merasa baik-baik saja, toh sejatinya yang dilakukan Aryan sesuai dengan apa kata hatinya. Aryan jelas akan lebih memihak pada Kina apapun yang mungkin terjadi.
Karin teralihkan dari pikirannya begitu ponselnya berbunyi. Kali ini bukan Aryan yang coba menghubunginya, melainkan Nayna. Karin menatap layar ponselnya sesaat, ia tidak kunjung menjawab telfonnya sampai akhirnya sambungan tersebut terputus dengan sendirinya.
Rupanya tidak sampai lima detik kemudian, Nayna kembali menghubunginya. Karin akhirnya memutuskan mengangkat telfon itu, hatinya mendorongnya untuk melakukannya dan mungkin ada sesuatu penting yang akan disampaikan Nayna.
“Halo … Kak Karin,” ujar Nayna dengan suaranya yang terdengar panik.
“Halo Nay? Ada apa Nay?” balas Karin.
“Kak, koko baru aja tau soal pelaku dibalik kejadian di Bali.”
“Kak?” panggil Nayna lagi setelah Karin hanya terdiam.
“Iya Nay?”
“Kak, are you okay?
Setelah Nayna menjelaskan lebih detail mengenai kronologi kejadiannya, Karin tidak menyahuti panggilan Nayna di ujung sana. Karin masih terlalu shock dan tidak tahu harus memberikan respon apa.
“Nayna, kamu tau Kak Aryan sekarang di mana?”
“Barusan koko pergi Kak setelah tau semuanya. Papa sama om Rama coba cegah, tapi koko keburu pergi. Koko nggak pulang ke apartemen Kak?”
***
Karin memutuskan untuk kembali ke apartemen dengan membawa koper yang berisi sebagian bajunya. Begitu sampai di sana, Karin langsung mencari sosok Aryan. Namun kekhawatiran Nayna beberapa saat lalu benar terbukti. Aryan tidak pulang ke apartemen. Saat ini Karin merasakan hal yang sama, ia juga khawatir pada Aryan.
Karin mengambil ponselnya di tasnya, ia mencoba menelfon Aryan berkali-kali. Karin menunggu Aryan menjawabnya dengan harap cemas, tapi hasilnya nihil. Aryan tidak menjawab panggilannya dan pesan yang Karin kirimkan juga tidak dibaca.
Karin memang kecewa dengan keadaan yang terjadi. Setelah mengetahui pelaku di balik kejadian malam itu dan apa motifnya, tentu membuat Kairn merasa marah dan kecewa. Namun usai semua itu, Karin justru tetap memikirkan keadaan Aryan.
Sebuah pemikiran tiba-tiba terlintas di benak Karin. Karin pun memutuskan meminta bantuan seseorang untuk membantunya mencari keberadaan Aryan. Karin tidak ingin tidak ingin sesuatu yang tidak diharapkan terjadi kepada Aryan.
***
Karin memutuskan untuk kembali setelah hampir jam ia dan Leon mencari Aryan. Mereka telah mendatangi beberapa tempat yang kemungkinan jadi tujuan Aryan. Tempat terakhir adalah apartemen Kina. Leon yang turun ke sana, sementara Karin tetap di mobil. Sekembalinya Leon ke mobil, tatapan lelaki itu sudah dapat menjelaskan semuanya.
“Gimana Rin? Masih mau cari lagi?” tanya Leon begitu mereka sudah dalam perjalanan.
“Leon, tolong anter gue pulang aja ya,” ucap Karin dengan suara pelannya.
“Rin, lo yakin? Kita masih bisa cari Aryan kalau lo mau.”
“Gue yakin nanti Kak Aryan bakal balik. Gue percaya dia nggak ngelakuin hal yang kita semua khawatirkan.”
***
Karin sampai di apartemen dan memutuskan untuk tidur setelah mengganti pakaiannya. Saat ini waktu menunjukkan pukul 10 malam dan belum ada tanda-tanda Aryan kembali. Karin beberapa kali turun ke lantai bawah untuk mengecek, tapi lagi-lagi hanya udara kosong yang menyambutnya.
Karin merebahkan tubuhnya di kasur dan menatap langit-langit kamar sembari memanjatkan doa di dalam hatinya. Karin ingin Tuhan melindungi Aryan dengan segala yang telah terjadi dan semoga Aryan masih dapat berpikir jernih lalu memutuskan untuk kembali.
Tengah malam ketika Karin terjaga dari tidurnya, ia melangkahkan kakinya turun ke lantai bawah. Saat netranya menangkap sosok dari arah balkon, Karin segera menuju ke sana. Meskipun lampu ruang tamu tidak dinyalakan, Karin tetap bisa melihat dari pintu kaca balkon bahwa Aryan tengah berada di sana. Dengan sebuah vape di satu tangannya, Aryan menghembuskan uap dari benda tersebut.
Karin masih berdiri di depan pintu ketika Aryan menyadari kehadirannya. Keduanya lalu saling bertatapan selama beberapa detik, hingga akhirnya Karin menggeser pintu kaca balkon dan kini berada tepat di depan Aryan.

“Karin, kamu ngapain di sini? Kamu masuk ya, angin di sini kenceng,” ujar Aryan sembari mematikan vapenya lalu memasukkannya ke saku jaketnya.
Karin terlihat menghembuskan napasnya yang terdengar lega. “Kak, semua orang khawatir sama kamu lho,” ujar Karin sambil menatap Aryan lekat-lekat.
“Khawatir soal apa?” tanya Aryan.
“Waktu kamu tau semuanya, Nayna bilang kamu langsung pergi gitu aja. Nayna nelfon aku dan aku langsung pulang, tapi kamu nggak ada. Aku cari kamu sama Leon ke beberapa tempat, sampai ke apartemen Kina, tapi kamu juga nggak ada di sana.”
Aryan dapat melihat guratan kekhawatiran di wajah Karin. Aryan maju selangkah, lalu ia mengarahkan tangannya untuk mengusap bahu Karin sekilas.
“Aku nggak papa, Karin,” ucap Aryan.
Karin akhirnya mengangguk, lalu ia sedikit mendongak untuk menatap Aryan tepat di matanya, “Kamu kenapa nggak jawab telfonku? Jam berapa kamu pulang? Kenapa nggak bangunin aku biar aku tau kamu udah pulang?” tanya Karin bertubi-tubi.
“Waktu aku nyampe tadi, aku langsung ke atas, aku liat kamu udah tidur. Koper kamu juga ada di sana. Kamu udah pulang dan tidur nyenyak banget, aku nggak tega bangunin,” jelas Aryan.
Karin baru teringat. Kemarin ia pergi begitu saja dengan membawa sebagian bajunya, tanpa memberi tahu Aryan sama sekali.
“Maaf, aku ke nggak bilang kamu. Aku ke rumah kak Syerin kemarin dan nggak bilang apa-apa ke kamu.”
“Kenapa kamu tiba-tiba ke rumah kak Syerin?” Pertanyaan Aryan itu tidak memiliki jawaban yang pasti di dalam benak Karin. Karin ingin menceritakan yang sebenarnya pada Aryan soal kejadian Kina yang terjatuh, tapi Karin terlalu takut Aryan tidak akan mempercayainya.
“It’s oke. Kita bahas itu nanti. Kamu tidur lagi ya,” tutur Aryan.
Karin malah menggeleng, “Kak, kita harus bicara.”
“Soal apa?”
“Kamu nggak akan bikin kita semua khawatir lagi kan, Kak?” Di kedua mata Karin nampak sebuah kilatan bening. “Mama, papa, Nayna, om Rama, semuanya khawatir sama kamu.”
Setelah terdiam beberapa detik, Aryan pun mengeluarkan suaranya, “Iya, Karin. Aku nggak akan bikin kalian khawatir lagi. Aku janji,” ucap Aryan.
Karin yang duduk di hadapan Aryan, memperhatikan Aryan tengah menundukkan kepalanya. Fakta yang terungkap pasti sulit bagi Aryan saat ini, Karin bisa melihat bagaimana hancurnya lelaki itu.
Detik berikutnya, Aryan mendongakkan kepalanya dan menatap Karin tepat di iris matanya. “Karin, aku minta maaf sama kamu,” ujar Aryan dengan suara bergetar dan matanya yang nampak memerah dan berkaca-kaca. “Kamu harus mengandung, kamu harus siap menjadi ibu di usia yang muda. You trapped with me and I’ve ruined your life,” sambung Aryan.
Karin pun hanya menatap Aryan selama beberapa detik. Melihat Aryan seperti ini, entah mengapa Karin merasa sama hancurnya.
“Kak, ini bukan salah kamu. Kamu nggak boleh bilang kayak gitu,” ucap Karin dengan nada lembutnya. “Apa yang udah terjadi, kita nggak bisa terus menyesalinya, Kak. Di balik ini semua, pasti ada pelajaran yang bisa diambil. Buat kamu, buat aku, dan mungkin juga buat Kina. You don’t need to say sorry to me,” tambah Karin.
“Kamu ingat soal rencana kita buat mancing Kina?” tanya Karin.
Aryan pun mengangguk. “Iya, aku ingat. Kenapa?”
“Aku pikir itu berhasil. Waktu acara awards kemarin, Kina tiba-tiba nemuin aku di ruang tunggu. Aku mau jelasin ini ke kamu, tapi aku takut kamu nggak percaya sama aku,” ucap Karin.
Aryan lantas terdiam. Mungkin benar yang dikatakan oleh Karin. Bisa jadi saat itu Aryan tidak akan mempercayai penjelasan Karin. Aryan tahu di pikiran dan hatinya hanya ada sosok Kina dan dirinya terlalu buta untuk melihat sosok Kina yang sebenarnya.
“Karin, you can tell me. What is actually happened that night?” tanya Aryan.
Karin menatap Aryan, ia mengangguk dan mengatakan akan menceritakan semuanya. “Kina bilang, seharusnya piala itu jadi miliknya, bukan milikku. Kina yang harus menikah sama kamu, bukan aku. Aku harus menjauh dari kamu meskipun kita terikat pernikahan. Setelah Kina bilang semuanya, aku mau pergi dari sana, tapi Kina nahan aku. Dia bilang semuanya akan selesai kalau antara kita udah nggak ada seorang anak sebagai pengikat.”
Selanjutnya yang terjadi, Aryan hampir bisa menebaknya sendiri tanpa Karin menjelaskannya lebih lanjut. Karin memperhatikan reaksi Aryan setelah mendengar semuanya dari Karin. Lelaki itu terlihat sedang berusaha menahan amarahnya.
“Karin, aku akan memastikan Kina dapat pelajaran dari apa yang udah dia perbuat.”
“Maksudnya? Kamu mau bawa kasus ini ke jalur hukum?”
Aryan mengangguk, “Aku akan coba tanya pendapat ke kuasa hukum papa. Semuanya bisa diurus, aku akan mengusahakannya.”
Karin pun dapat melihat kesungguhan yang terpancar dari mata Aryan. Aryan terlihat sungguh-sungguh dan bertekad kuat atas apa yang dikatakannya sebelumnya.
Aryan kembali menatap Karin lekat, kemudian ia berujar, “Karin, aku melakukannya untuk kamu. Aku nggak akan membiarkan semuanya selesai semudah ini. Kamu dan anak kita, kalian adalah prioritas utamaku. Aku nggak akan biarin siapa pun menyakiti kalian lagi.”
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷