Unconditional Love
Karin baru saja terjaga dari tidurnya. Begitu membuka mata, Karin langsung menoleh ke samping, tapi ia tidak menemukan sosok Aryan di sana. Napas Karin terdengar naik turun, rasanya dadanya sedikit sesak, ia juga kesulitan untuk bernapas. Karin menghela napas panjangnya ketika menyadari bahwa apa yang dilihatnya barusan hanyalah sebuah mimpi.
Karin baru saja mengalami mimpi yang tidak ia inginkan. Karin dibawa ke masa saat dirinya berusia 15 tahun, tepat saat di mana mamanya pergi begitu saja. Setelah papanya meninggal dan memiliki hutang piutang, hal tersebut menyebabkan barang-barang di rumah beberapa disita oleh bank. Beberapa saat setelah itu lah mamanya pergi, meninggalkan ia dan Kavin hanya berdua di rumah. Karin tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu. Lebih tepatnya, Karin tidak ingin mengingatnya. Karin hanya mengingat saat kak Syerin dan mama Vanessa datang ke rumah, mengulurkan tangan padanya dan Kavin dan bersedia untuk merawat keduanya.
Karin memutuskan turun dari ranjang dan segera melangkah menuruni tangga. Ketika Karin melihat Aryan di meja ruang tamu sedang berkutat dengan laptop di hadapannya, ia segera menghampiri lelaki itu. Aryan yang mendapati Karin terjaga dari tidurnya dan wajahnya nampak pucat, langsung bertanya dengan nada khawatir khasnya.
“Sayang, kamu kenapa?”
“Kak, aku habis mimpi buruk,” jelas Karin. Tatapan Karin seolah mengadu pada Aryan. Wajahnya dipenuhi dengan guratan kesedihan. Aryan tidak tega melihatnya dan sepertinya mimpi buruk yang dialami Karin cukup serius.
Aryan lantas mematikan laptopnya dan menutupnya. Setelah itu Aryan berpindah posisi untuk mendekat pada Karin. Aryan bergerak membawa torso mungil Karin ke dalam dekapannya.
“Kamu mau tidur lagi? Maaf yaa, tadi aku tinggal kamu sebentar. Aku harus ngerjain tugas magang,” ucap Aryan.
“Aku nggak mau tidur. Aku takut mimpi lagi,” ucap Karin pelan. Karin membenamkan wajahnya di pelukan hangat Aryan. Perasaannya masih kacau, sampai-sampai membuat rasa kantuknya hilang begitu saja.
Selama beberapa menit berselang, Aryan tetap membiarkan Karin untuk memeluk tubuhnya. Tanpa mengatakan apa pun, Aryan memberi usapan di surai panjang Karin, berharap apa yang ia lakukan dapat mengurangi rasa takut yang sedang Karin rasakan.
Usapan lembut Aryan di surai Karin terhenti begitu Karin bergerak dari posisinya. Karin menengadahkan wajahnya, ia menatap Aryan lekat. Karin bersyukur bahwa ia tidak sendiri lagi, ia memiliki seseorang untuk bersandar di kala bersedih dan karenanya Karin dapat merasa lebih baik.
Mereka masih di sana, tapi kini mencoba mengubah posisi agar lebih nyaman. Aryan berada di samping Karin, meminta perempuan itu menyandarkan kepalanya di bahu tegapnya, lalu Aryan mendekap tubuh Karin dari samping. Karin meringkuk layaknya seorang bayi, dua kakinya berada di atas pangkuan Aryan, tampak begitu nyaman dengan posisinya saat ini.

Selama hidupnya, belum ada yang tahu soal mimpi yang kerap kali Karin alami. Itu adalah mimpi yang sama, mimpi yang membuatnya merasa ketakutan. Maka dari itu, Karin tidak pernah berniat menceritakannya kepada siapa pun. Namun malam ini, dengan sukarela, Karin mengatakan bahwa ia akan membagi cerita itu kepada Aryan.
Aryan memfokuskan atensinya pada Karin, kini mereka saling menatap. Karin berdeham sekali sebelum akhirnya memulai ceritanya. “Sampai sekarang, aku nggak tau alasan kenapa mama ninggalin aku dan Kavin. Aku kangen sama mama, tapi aku nggak tau aku sanggup ketemu sama beliau atau engga,” ucap Karin.
“Karin, aku boleh tanya satu hal sama kamu?” tanya Aryan kemudian.
Karin pun mengangguk, “Boleh. Kamu mau tanya apa?”
“Apa kamu udah maafin beliau?”
Pertanyaan Aryan itu tidak lantas mempunyai jawaban di benak Karin. Karin tidak pernah terpikirkan bahwa rasa kecewa dan marah pada mamanya yang belum termaafkan, adalah penyebab dari rasa sakit yang masih bersarang di hatinya hingga sekarang.
Karin akhirnya menjawab Aryan dengan sebuah gelengan. Aryan tidak menatapnya dengan tatapan menghakimi, melainkan lelaki itu melayangkan tatapan lembutnya pada Karin. Aryan lalu berujar, “Kamu memaafkan seseorang untuk berdamai dengan diri kamu sendiri. Aku tau ini nggak akan mudah buat kamu, kamu nggak harus buru-buru untuk maafin, tapi kamu coba untuk memaafkan beliau, ya?”
Hati Karin yang sebelumnya seperti bongkahan es yang keras dan beku, kini perlahan-lahan mulai bisa mencair akibat ucapan hangat Aryan. Aryan kini sangat paham mengapa Karin menjadi perempuan yang begitu tangguh. Masa lalu yang kelam yang mungkin mayoritas orang akan melihat itu sebagai suatu kelemahan, tanpa mereka ketahui, hal berat itulah yang membuat Karin menjadi sosok perempuan yang hebat.
Aryan lantas mengarahkan tangannya untuk menangkup sisi wajah Karin, “Karin, aku bangga sama kamu. I’m proud for what you did. You are amazing and you have to know that,” ucap Aryan.
Perlahan-lahan Karin mengulaskan senyum bahagianya. Wajahnya yang semula nampak sedih dan begitu sendu, kini sedikit lebih ceria dan semuanya terasa lebih baik. “I’m grateful I knew I have somebody to tell, Kak. Thank you for everything that you did to me,” balas Karin.
Karin mengatakan bahwa dirinya tidak ingin terus bergantung kepada Syerin, kakak sambungnya. Maka dari itu, saat usianya menginjak 18 tahun, Karin akhirnya memutuskan untuk memiliki penghasilan sendiri. Karin memulai karirnya sebagai seorang beauty vlogger dan freelance model. Karin pun akhirnya berhasil sukses berkat kerja keras dan ketekunannya. Karin juga mendapat gelar mahasiswi berprestasi di kampus karena prestasi cemerlang dan keaktifannya mengikuti berbagai kegiatan fakultas.
Banyak yang sudah Karin capai, tapi Karin rela hampir kehilangan semuanya untuk mempertahankan bayinya. Karin hanya ingin anaknya kelak hidup bahagia, ia berharap bahwa anaknya tidak akan pernah merasakan apa yang dulu ia rasakan. Karin pun telah berjanji pada dirinya, ia tidak akan membiarkan hal yang ditakutinya tersebut menjadi kenyataan.
“Kak, aku mau tidur. Tapi kamu jangan tiba-tiba pergi ya, bilang dulu sama aku kalau mau pergi,” ucap Karin.
Aryan segera mengangguki permintaan Karin tersebut. Saat mereka beranjak dari sofa, Aryan menawarkan sesuatu pada Karin “Mau aku gendong?”
Karin nampak memikirkan ucapan Aryan itu. Sambil mengulaskan senyum manisnya, akhirnya Karin pun mengangguk.
“Mau gendong,” ucap Karin. Nada suaranya sedikit manja. Baru pertama kali ini Aryan mendengarnya dan yaa ... itu sungguh membuat Aryan merasa senang.
“Bridal style atau koala?” tanya Aryan.
“Mau bridal.”
“Oke, bridal.”
***
Ketika Karin membuka matanya di pagi hari, ia mendapati Aryan telah terbangun lebih dulu darinya. Karin pun lantas mengernyit, tampak dua buah kerutan di keningnya. Ini hari minggu dan suaminya telah bangun di jam 7 pagi? Karin pun takjub, ini merupakan suatu keajaiban, pikirnya.
“Kok tumben banget kamu udah bangun?” celetuk Karin.
“Hebat nggak aku?” tanya Aryan sembari menaik turunkan alisnya.
Karin mau tidak mau tersenyum. Kalau begini, wajah suaminya itu nampak begitu menggemaskan. Satu hal yang mungkin jarang orang lain dapati, ekspresi Aryan yang seperti ini, hanya ditampilkan di depan Karin. Aryan versi apa adanya, begitulah lelaki itu ketika bersama Karin.
“Hebat. Hebat banget suami aku,” ucap Karin sambil mengacungkan ibu jarinya. Sesaat kemudian, Karin kembali memejamkan matanya dan bergerak masuk ke dalam pelukan Aryan.
“Hari ini kamu ada schedule apa?” tanya Aryan, posisi keduanya masih saling memeluk, tidak berubah sedikit pun.
“Nggak ada, hari ini aku libur. Ada sih sebenernya, cuma nge-vlog kok. Soalnya youtubeku belum upload video dari minggu lalu,” jelas Karin.
“Oke.”
“Kamu hari ini mau keluar rumah nggak Kak?” tanya Karin.
Aryan pun menjawab pertanyaan Karin dengan sebuah gelengan.
“Hmm … kamu mau in frame di vlog aku nggak? Soalnya aku mau record videonya di rumah aja, ini tema videonya A Day in My Life,” ucap Karin lagi. Ia mengungkapkan ide yang terlintas di kepalanya.
“Kalau vlog-nya di rumah nanti judul videonya apa?” tanya Aryan. Karin pun segera bergerak dari posisinya, ia menjauhkan tubuhnya sedikit dari Aryan dan kini mereka saling menatap.
“Judulnya nanti A Day in My Life with My Husband, Weekend Edition. Is it good or not? Atau kamu punya masukan buat judulnya? Nanti aku bisa bilang ke editorku,” ujar Karin.
Karin memperhatikan Aryan yang kini nampak berpikir. Kedua alis tebal lelaki itu nampak menyatu di tengah serta belah bibirnya mengulum ke dalam.
Dua detik berikutnya, Aryan melayangkan tatapan berbinar sekaligus penuh afeksinya kepada Karin. “Aku mau in frame di vlog kamu. Judulnya udah bagus, bagus banget. Jadi, kita bakal ngapain aja di rumah seharian ini?”
***
Ini adalah pengalaman yang sangat baru sekaligus terasa sedikit lucu bagi Aryan. Namun pria itu nampak begitu menikmatinya dan sangat bersedia untuk melakukannya.
Ternyata begini proses di balik layar yang dilakukan oleh seorang content creator. Kenyataan yang terjadi, mereka sudah bangun tidur, tapi harus kembali mengulang adegan bangun tidur. Ini mirip dengan berakting, tapi Aryan cukup bagus melakukannya meski ia adalah seolah pemula.
Setelah adegan bangun tidur, Karin bergerak mengambil kamera yang ia letakkan di dekat TV di kamar. Wajah Karin lantas menghadap ke kamera mirrorless di tangannya dan ia memulai sebuah intro. “Hi, everyone. Welcome back with me, Karina. Hari ini aku akan buat video a day in my life with my husband, weekend edition. Udah lama banget yaa kayaknya aku nggak nge vlog. As you guys ask, vlog keseharian adalah permintaan yang paling banyak dari kalian. So here’s the video, hope you guys enjoy it. Happy watching.”
Aryan akui bahwa Karin begitu lihai dan lugas ketika berbicara di depan kamera. Karin memberikan Aryan arahan untuk melakukannya. Script yang ada hanya di jadikan bahan acuan, selebihnya mereka banyak melakukan improvisasi.
Hal yang pertama Karin dan Aryan lakukan setelah bangun tidur adalah membuat sarapan. Kamera dipegang oleh Karin, ia merekam Aryan yang sedang membuat sarapan untuk mereka.
“Hari ini kita buat sarapan yang sederhana aja. Suami aku yang buatin sarapannya nih, guys,” Karin lalu mengarahkan kameranya kepada Aryan. “Makasih yaa,” ucap Karin dengan suara lembutnya. Tepat setelah itu, Aryan mengalihkan fokusnya dari masakannya kepada Karin. Otomatis di layar kamera terlihat wajah Aryan dengan jarak yang cukup dekat.
Karin nampak tersenyum mendapati hal itu terjadi. Kemudian dengan satu tangannya yang tidak memegang kamera, Karin mengarahkannya ke sisi wajah Aryan dan memberikan usapan halus di sana.
Rupanya seusai adegan itu, kamera berhenti merekam sampai di sana. Karin meletakkan kameranya di meja makan, lalu ia kembali menghampiri Aryan yang masih berkutat dengan masakannya. Dengan gerakan lembut, Karin melingkarkan kedua lengannya di seputaran pinggang Aryan, ia memeluk torso lelakinya dari belakang.
Mendapat perilaku Karin tersebut, Aryan bergegas mematikan kompor. Kemudian satu tangannya mengusap tangan Karin yang berada di pinggangnya.
“Lima menit kayak gini, boleh?” tanya Karin.
Aryan begerak membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Karin. Dengan kedua tangannya, Aryan pun menangkup wajah Karin, ia menatap paras Karin dengan tatapan penuh arti.
“Kamu lagi manja banget ya akhir-akhir ini. Atau cuma perasaan aku aja?” cetus Aryan.
Karin sendiri akhirnya mengaku bahwa ia tidak sadar akan hal yang diungkapkan oleh Aryan barusan. Namun kalau dipikir lagi, semua perilakunya belakangan ini persis seperti yang Aryan katakan. Akhirnya Karin hanya mengulaskan senyum tersipunya, lalu ia segera berbalik dan melangkah ke meja makan. Karin berlalu dari hadapan Aryan, ia meninggalkan lelaki itu dengan perasaan bahagia yang seketika memenuhi rongga dadanya.
***
Usai menghabiskan sarapan, Aryan dan Karin sedikit membereskan rumah. Area lantai bawah disapu dan bantal-bantal sofa di tata dengan rapi. Kamera masih menyala, di letakkan di meja ruang tamu. Dari layar kamera tersebut, tampak Aryan yang sudah selesai dengan tugasnya, lelaki jangkung itu lantas berjalan menghampiri Karin.
Begitu sampai di hadapan Karin, Aryan memeluk mesra pinggang Karin dari belakang.
“Kak,” ujar Karin pelan di dekat Aryan.
“Apa?”
“Videonya nanti pas diupload harus dibatasi umur penontonnya lho, kalau kita kayak gini di depan kamera.”
“Kalau dibatasi emangnya kenapa?”
“Yaa nggak papa sih. Nanti aku bilang editorku kalau gitu,” ucap Karin.
Tiba-tiba saja tawa keduanya membuncah begitu saja. Ini terasa lucu dan menggelitik perut, tapi baik Aryan maupun Karin rupanya begitu menikmati semuanya. Mereka menikmati waktu yang dihabiskan berdua, melakukan hal-hal sederhana, saling bertukar pikiran, dan saling memberikan perasaan nyaman satu sama lain.
Tidak sampai lima menit berlalu, Karin pun sudah selesai dengan urusan berberesnya. Karin membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Aryan.
Karin melingkarkan lengannya di pinggang Aryan. Kemudian Karin memangkas jarak yang ada di antara mereka, keduanya kini berpelukan ringan. Dengan perlahan Aryan menggerakkan pelukan mereka, hampir seperti sedang berdansa, tubuh keduanya mengayun ke kanan dan ke kiri dengan tempo yang lambat.
Begitu tatapan keduanya bertemu di tengah, dari sana mereka tahu apa yang mereka inginkan satu sama lain. Aryan lantas meminta Karin untuk menunggu di tempatnya. Karin tidak terpikirkan tentang apa yang akan Aryan lakukan. Karin hanya memperhatikan, ketika Aryan mengambil bangku meja makan lalu meletakkannya di hadapan Karin. Aryan pun duduk di bangku itu, lalu Aryan menghela Karin untuk duduk di atas pangkuannya.
Aryan meletakkan kedua lengannya di pinggang Karin, menjaga wanitanya agar tetap aman berada bersamanya. Karin melayangkan tatapannya pada Aryan, lalu tiba-tiba saja Karin meneguk salivanya dengan susah payah. Jantung Karin berdebar kencang di dalam sana, selalu seperti ini yang terjadi ketika atensinya hanya tertuju kepada Aryan.
Perlahan Karin mengarahkan lengannya untuk melingkar di bahu Aryan, membuat posisi mereka menjadi semakin intim.
“Kak, aku matiin kameranya dulu ya?” tanya Karin.
Aryan pun hanya mengangguk, lalu ia membiarkan Karin pergi untuk mengambil kamera dan mematikannya. Saat Karin selesai mematikan kamera dan kembali berjalan ke arahnya, tatapan Aryan tidak bisa lepas sedikit pun dari perempuan itu. Karin selalu mempesona, perempuan itu cantik dengan caranya sendiri.
Karin pun sudah kembali ke posisi semula, berada di pangkuan Aryan. Wajah keduanya sejajar, mereka saling menatap dengan tatapan penuh afeksi. Ada kasih sayang yang jelas terpancar melalui tatapan itu. Aryan tersenyum kecil, lalu ia bergerak mempertemukan hidungnya dengan hidung Karin.
Dengan lembut, Aryan menggesekkan hidungnya di sana, lalu beralih memberi kecupan di pipi Karin. Bunyi kecupan itu terdengar lembut sekaligus menggemaskan secara bersamaan.
“Karin, aku boleh tanya sesuatu ke kamu?” tanya Aryan usai kegiatannya menghujani pipi Karin dengan ciuman.
Karin pun mengangguk, “Kamu mau nanya apa?”
Aryan berdeham sejenak, lalu ia bersuara lagi, “Kenapa akhirnya kamu lebih memilih aku dari pada Rey?”
Mendengar pertanyaan Aryan yang tidak terduga itu, seketika membuat Karin mengernyitkan kedua alisnya.
“I mean he’s a perfect boyfriend for you. You look really happy when you with him. I just wondering the reason finally you chose me than him,” jelas Aryan lagi. Seperti dapat membaca apa yang Karin pikirkan, Aryan pun mengungkapkan alasannya mengutarakan pertanyaan itu kepada Karin.
Karin akhirnya mengatakan bahwa ia akan menjawab pertanyaan yang diajukan Aryan. Karin tidak pandai merangkai kata-kata, perempuan itu mengakuinya. Namun Karin akan mengatakan yang sejujurnya dan itu dari hatinya yang paling dalam.
“Aku tau, Rey akan berjuang untuk aku dan hubungan kita pada saat itu, meskipun orang tuanya nggak setuju. Apa yang kamu bilang juga benar, Rey adalah pacar yang sempurna buat aku,” ucap Karin.
Aryan masih mendapati Karin menatapnya begitu lekat, bahkan perempuan itu menghadiahkan sebuah senyuman yang begitu cantik untuknya. “Kak, aku pernah punya hidup yang menurutku mungkin nggak sempurna. Dari sana akhirnya aku belajar banyak, salah satunya adalah tentang cinta yang nggak selalu tentang kesempurnaan pasangan kita. Cinta itu lahir dan tumbuh beriringan sama kelebihan dan kekurangan. Because perfectness is full of condition. Tapi kamu tau, cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang tanpa batas. Perasaan itu nggak terbatas dengan cuma ngeliat kelebihan seseorang, tapi juga kekurangannya.”
Karin mengatakan bahwa Rey mencintainya, sama seperti Aryan. Namun itu lah yang terjadi, Aryan adalah sosok cinta pertama bagi Karin. Aryan adalah sosok yang yang membuat Karin jatuh cinta pertama kali sedalam ini. Karin merasa sedih saat Aryan sedih, dan sebaliknya Karin merasa bahagia saat Aryan bahagia.
Aryan masih berusaha mencerna semua perkataan Karin. Aryan tidak punya alasan yang pasti mengapa memberikan pertanyaan itu pada Karin. Ia hanya ingin tahu dan benar-benar memastikan bahwa Karin bahagia saat bersamanya. Ini bukan soal keraguannya terhadap Karin, tapi soal keraguannya terhadap dirinya sendiri. Terkadang Aryan masih merasa tidak pantas untuk Karin.
Aryan akhirnya mengetahui jawabannya dari Karin hari ini. Aryan bersyukur bahwa pilihan yang diambil oleh Karin adalah yang membuat perempuan itu bahagia. Bukan berarti saat bersama masa lalunya Karin tidak bahagia, akan tetapi seperti yang kita ketahui, hati tidak akan pernah salah untuk memilih.
Karin bahagia bersama Rey, tapi hatinya telah memilih Aryan. Kita tidak tahu siapa yang akan menjadi pelabuhan terakhir hati kita, kapan dan dimana kita akan bertemu dengannya. Terkadang waktu juga tidak dapat menjadi jaminan bahwa yang paling lama akan menjadi sosok satu-satunya, sosok yang akan menjadi tempat untuk pulang dan menghabiskan sisa hidup bersama.
Karin menatap Aryan lekat, ia mengunci tatapan lelaki itu. Aryan terdiam di sana, kelopak matanya sedikit melebar begitu Karin bergerak menciumnya. Seperti yang sudah terjadi sebelumnya, Karin melakukannya dengan begitu lembut. Seperti mengulum sebuah coklat di dalam mulut, rasanya ciuman tersebut begitu manis. Bukan manis secara harfiah, saking nikmatnya, rasanya menjadi begitu manis. Kira-kira seperti itu lah penggambarannya.
Aryan memang sedikit terkejut karena adegan mendadak itu, tapi ia bahagia Karin melakukannya lebih dulu. Napas mereka saling beradu, terasa hangat sekaligus mendebarkan. Agar memudahkan kegiatannya, Aryan pun menangkup wajah Karin menggunakan kedua tangannya, ia membalas ciuman Karin tidak kalah mesra, pergerakan Aryan juga berangsur terasa lumayan intens.
Sekitar lebih dari lima menit kemudian, aktivitas tersebut akhirnya selesai, begitu dirasa keduanya telah sama-sama cukup. Melalui apa yang mereka lakukan, rasa kasih pun dapat tersalurkan. Usapan lembut Aryan di pinggang Karin, memberikan sensasi nyaman dan perasaan gembira bagi Karin sendiri. Setiap waktu yang ia jalani bersama Aryan, Karin begitu menikmati dan menghargainya.
Aryan memberikan satu kecupan lembut di bibir Karin sebelum benar-benar menyudahi semuanya. Begitu Aryan mengulaskan senyum lebarnya, di sana Karin juga tersenyum. Senyum Karin yang terasa begitu tulus itu, mengembangkan gelora-gelora cinta di dalam diri Aryan. Setiap hari perasaannya kepada Karin selalu bertambah, begitu lah adanya.
Tanpa mengatakan apa pun, Karin bergerak menjatuhkan dirinya ke dekapan Aryan. Ia selalu nyaman berada di sana. She feels like she found a home.
“Kak, apa jawabanku tadi udah cukup?” tanya Karin di sela-sela pelukan mereka.
Aryan lantas mengurai pelukannya untuk saling menatap dengan Karin. Aryan pun segera menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Karin barusan.
“Kak, aku mau, di antara kita saling terbuka. Kamu boleh nanyain hal yang membuat kamu ingin tahu. Aku akan ngasih jawabannya, dan aku selalu berharap kamu percaya sama aku. Ada lagi yang mau kamu tanyain?”
Aryan nampak memicingkan matanya ke arah Karin. “Ini bukan pertanyaan, tapi permintaan.”
“Oh iya? Oke, kamu mau minta apa?”
Saat akhirnya Karin mendengar permintaan yang Aryan ajukan, Karin segera melayangkan tatapan tidak percayanya. Aryan baru saja meminta Karin melakukan permaian Describe Your Husband. Satu hal yang kalian harus tahu, itu adalah permainan yang Aryan ciptakan sendiri.
“Deskripsinya bebas tentang apa aja, kan?” tanya Karin memastikan sebelum ia akan memulai. Aryan pun lekas mengangguk mengiyakan.
“Oke, aku mulai ya. Nomor satu sampai tiga, ganteng. Empat sampai tujuh …. hmm ... seksi.”
“Tunggu,” ucap Aryan yang seketika menahan Karin. Karin pun segera melemparkan tatapan tanyanya.
“Kenapa satu sampai tiga sama? Empat sampai tujuh juga sama?” tanya Aryan kemudian.
“Ya … karena kamu gantengnya tiga kali lipat. Terus seksinya empat kali lipat, gitu,” jelas Karin sambil menampakkan cengiran kecilnya.
Mau tidak mau Aryan terbahak mendapati penjelasan Karin tersebut. Karin rupanya ikut tertawa dan sepertinya ia merasa sebentar lagi dirinya akan ketularan ke-random-an Aryan, atau mungkin levelnya bisa lebih parah dari Aryan.
“Oke, next,” ujar Aryan mempersilakan Karin untuk melanjutkannya.
“Delapan, love shape lips. I like it, your lips. Sembilan sampai sebelas … smart. Dua belas, family man, tiga belas si paling act of service, empat belas hmm …. “
Karin menggantung ucapannya, ia menatap Aryan penuh arti. Aryan sendiri menunggu dengan penasaran tentang deksripsi nomor empat belas.
“Nomor empat belasnya apa?” tanya Aryan.
“Kamu beneran mau tau? Tapi ini agak gimana gitu,” ucap Karin sembari mengulum bibirnya ke dalam.
Justru Aryan semakin penasaran dibuatnya. “It’s oke. Just tell me. Kamu malu? Apa ini berhubungan sama hubungan yang dilakuin suami dan istri?”
Seketika pupil mata Karin melebar. Ia akhirnya menganggukkan kepalanya pelan. “Oke, empat belas, a pro kisser,” ucap Karin dengan suaranya yang pelan, bahkan Aryan hampir saja tidak mendengarnya.
“Really?” balas Aryan cepat. Lelaki itu nampak tidak percaya, kali ini tawanya menggelegar lebih kencang dari sebelumnya. Keduanya lantas saling menatap. Oh, mereka tidak dapat mengingat sudah berapa kali mereka melakukannya. Detik berikutnya, Karin segera mengalihkan tatapannya dari Aryan, perempuan itu masih malu jika tiba-tiba saja terbayang, apalagi kini pelakunya ada di hadapan Karin sendiri.
Setelah akhirnya tawa Aryan mulai reda, Karin pun melanjutkannya. “Lima belas, you are a very kind hearted person. Enam belas, you are a loveable person. Tujuh belas dan yang terakhir, kamu punya pendirian yang kuat. Artinya saat kamu punya keinginan, kamu benar-benar berjuang untuk itu.”
Aryan mengarahkan tatapannya pada Karin. Ia jatuh dan tenggelam ke dalam iris legam yang selalu membuatnya nyaman itu. Karin telah menjadi bagian dari hidupnya, hatinya, dan setiap ruang di dalam pikirannya.
“Karin,” ujar Aryan.
“Hmm?” balas Karin.
“Let's make our journey together and forever. Only us and our beloved childrens in future. Karin, I'm not a perfect person, I made mistakes sometimes, but I want you to know. I want to be a person that make you happy and smile,” Aryan berujar panjang lebar. Ia mengungkapkan janjinya kepada Karin. Persis seperti apa yang Aryan katakan di altar waktu pernikahan mereka, Aryan akan memenuhi janji yang telah ia buat untuk Karin di hadapan Tuhan.
Aryan berjanji bahwa Karin adalah satu-satunya perempuan yang ia cintai. Aryan akan berusaha menjadi yang lebih baik lagi untuk Karin ke depannya, bukan menjadi yang sempurna. Aryan tahu bahwa wanitanya tidak mendambakan sebuah kesempurnaan, tapi Aryan sendirilah yang akan memberikan semua yang ia miliki untuk Karin hingga perempuan itu merasa spesial dan begitu cukup ketika bersamanya.
Aryan dan Karin adalah dua insan yang sama-sama tidak sempurna. Mereka dipertemukan dengan kejadian tidak terduga yang tidak diharapkan dalam persepsi kebanyakan orang. Namun Aryan dan Karin percaya bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang dapat mereka ciptakan. Mereka sama-sama pernah hancur, tapi demi masa depan keduanya dan buah hati mereka, mereka akan selalu berusaha dan berjuang untuk menciptakan kebahagiaan tersebut.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷