Until We Grey and Old


12 tahun merupakan yang tidak sebentar untuk diarungi. Ada suka maupun duka, tapi Aryo dan Tiara rela untuk melaluinya.
Semalam terasa begitu indah. Diadakan sebuah perayaan yang cukup besar untuk merayakan 12 tahun pernikahan Aryo dengan Tiara.Set up dinner, lampu, bunga-bunga, dan kehadiran orang-orang tersayang membuatnya semuanya terasa lengkap.
Kini Aryo dan Tiara berada di suatu tempat, tapi yang jelas bukan di rumah, yang ada dua anak mereka. Aryo mengatakan bahwa ia ingin menikmati waktunya berdua saja dengan Tiara. Jadilah Aryan dan Nayna dititipkan di rumah Oma dan Opa. Kedua anaknya juga sudah besar dan bisa diberi pengertian.
Habis bagaimana, Aryo stuck mencintai Tiara. Caranya mencintai sepertinya terlihat agak berlebihan atau orang-orang seringkali menyebutnya bucin, tapi Aryo sama sekali tidak peduli soal itu.
Seseorang yang tersenyum di samping Aryo saat pagi hari adalah masih orang yang sama. Seseorang yang masih memberikan ciuman lembut di tengah malam maupun fajarnya, masihlah orang yang sama. Aryo memilih hidup bersama Tiara selama sisa waktu yang ia miliki.
Aryo memilih wanita yang pemberani dan tangguh, maka ia harus menerima kalau wanita yang dicintainya itu kadang juga keras kepala dan punya pemikiran sendiri. Wanita tidak ada yang sempurna. Namun Tiara telah membuat hidupnya terasa sempurna dan berarti setiap detiknya. Gamblang, Aryo begitu mencintai Tiara.
Aryo menoleh ke sampingnya, ia memerhatikan Tiara yang masih terlelap di dekapannya. Detik berikutnya, ia menyematkan satu ciuman di kening perempuan itu. Mereka satu selimut berdua, di pagi yang sejuk, serta suguhan pemandangan gedung perkotaan dari dinding kaca besar di kamar hotel.
“Ra ... ” panggil Aryo dengan nada manjanya. Ia pun mendapati Tiara yang tengah membuka matanya.
“Apa?” Tiara masih dengan suara lesunya menjawab. Ia selalu heran, mengapa Aryo punya seribu kekuatan untuk langsung mengumpulkan nyawanya di pagi hari. Walaupun sudah menjadi seorang ibu, Tiara tetaplah Tiara si perempuan yang doyan tidur. Ia tetap tidak bisa bangun terlalu pagi. Namun Aryo menerima kebiasaannya. Justru Aryo mengatakan itu dapat menjadi kesempatan untuk bermesraan di kasur sebelum memulai hari yang melelahkan.
“Cuma mau bilang, kamu tau kan aku sayang sama kamu,” ucap Aryo.
“Hmm ... iya. Aku udah tau.” Tiara nampak memanyunkan bibirnya.
“Bosen ah, gombalannya gitu mulu, nggak romantis,” sambung Tiara.
“Yang romantis itu kayak gimana sih Sayan, hmm ... ?” tanya Aryo.
Tiara terlihat menyipitkan matanya. “Kamu ... beneran mau nurutin yang aku minta?”
“Mau. Asal jangan minta yang itu tanpa pakai pengaman yaa. Kita belum ke dokter buat program KB lagi Sayang,” ucap Aryo. Pipi Tiara seketika memerah ketika tahu maksud Aryo adalah soal melakukan kegiatan agar mereka memiliki anak lagi.
“Jangan bahas itu detail dong, Sayang. Aku malu tau.” Tiara lekas membalikkan badannya untuk memunggungi Aryo.
“Istri aku malu nih ceritanya? Sayang sini, dengerin aku ya. Aku emang masih sanggup kerja untuk menghidupi kamu dan kedua anak kita dengan layak. Bahkan sampai sepuluh anak sekali pun,” tutur Aryo.
“Terus?” ucap Tiara yang masih membelakangi Aryo.
“Aku cuma khawatir sama keadaan kamu, Ra,” terang Aryo.
“Kita udah ke dokter dan konsultasi soal punya anak lagi. Dokter Lilian juga dokter yang sangat berpengalaman di bidangnya, beliau bilang hasil pemeriksaannya baik-baik aja, Aryo.”
“Aku cuma khawatir, Ra. Kamu tau itu. Aku nggak bisa lihat kamu berjuang antara hidup dan mati. Waktu Nayna lahir, aku bersyukur banget waktu tahu kamu masih di dunia ini. Satu keluarga khawatir dan kita hampir aja kehilangan kamu,” ujar Aryo panjang lebar.
Beberapa detik setelahnya, Aryo menyematkan kecupan di bahu Tiara, ia memeluk tubuh istrinya erat. Rasa takut itu sedikit kembali muncul membawa Aryo pada kenangan 9 tahun yang lalu.
Tiara tertegun. Dadanya terasa sesak mendengar kalimat Aryo barusan. Tiara pun berbalik, ia menatap Aryo dengan pandangan berkaca-kaca dan tatapan bersalahnya.
“Aryo maaf aku udah egois,” ujar Tiara.
“Hey, no problem. Emang lucu kalau ada anak bayi lagi di rumah kita, Sayang. Tapi kalau hamil lagi membahayakan kamu, aku nggak mau mengambil resiko itu,” ujar Aryo.
Tiara lantas mengangguk pelan. Ia akhirnya menyetujui keputusan Aryo. Suatu kondisi telah membuat kemungkinan untuk hamil lagi sulit dan cukup berat untuk dijalani oleh Tiara. Akibat infeksi yang terjadi di rahimnya setelah melahirkan Aryan, untuk mengandung lagi akan beresiko tinggi bagi ibu maupun calon bayinya kelak.
“Kita tunggu Aryan menikah aja dan punya anak. Nanti akan ada bayi lucu lagi di rumah, kan? Gimana?” cetus Aryo.
“Itu masih lama, Aryo. Aryan kan masih kecil, astaga,” Tiara tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Di usia 20 tahunnya, kalau Aryan mau melanjutkan perusahaan, paling enggak dia harus sudah menikah, Sayang. Tapi balik lagi, keputusan itu ada di tangannya, dia bisa bebas memilih,” terang Aryo.
“Oh iya, Aryan harus menikah dulu. Eh Sayang, tapi aku belum siap jadi grandma kalau Aryan punya anak nanti. Apa usia 20 itu nggak terlalu cepat? Aku masih cantik nggak kalau udah usia diatas 40 tahun? Gimana dong,” Tiara panik memikirkan banyak hal di kepalanya yang tiba-tiba saja terlintas, tapi Aryo malah menanggapinya dengan tertawa enteng.
“Kamu kenapa ketawa?” tanya Tiara yang memerhatikan Aryo masih tertawa.
“Kamu masih cantik, Sayang. Dimana tuanya? Masih kayak perawan gini.” Aryo menangkup wajah istrinya menggunakan kedua tangannya dan memerhatikan lekat-lekat paras cantik itu.
“Kalau masih perawan boleh dong, nyari perjaka?” tanya Tiara.
“Hmm ... berani kamu emangnya nyari perjaka?”
“Nggak jadi deh, habis aku punya pawang, dia galak. Aku takut,” ucap Tiara sambil memasang ekspresi pura-pura takutnya.
“Siapa emang pawangnya kamu?”
“Kamu kan pawangnya aku.”
“Sayang nggak sama pawangnya kamu?”
“Tiap hari minta bilang sayang terus. Dua belas tahun nggak cukup nempel kamu terus, hmm ... ?”
“Nggak cukup. Aku maunya selamanya sama kamu,” Aryo lantas mendekap tubuh Tiara halus. Udara dingin yang sebelumya Tiara rasakan, kini telah berubah menjadi cukup hangat. Tiara pun menyandarkan kepalanya di bahu Aryo dengan tangan yang balas mendekap torso suaminya.
Tiara melihat Aryo memejamkan matanya. “Aryo,” ujar Tiara pelan di dekat suaminya.
“Kenapa Sayang? Aku tidur lagi dulu ya?”
“Kamu masih simpan yang di kantong celana kamu nggak?” tanya Tiara.
“Apa yang di kantong?”
“Yang warna ungu itu lho Sayang, rasa blueberry,” cicit Tiara pelan.
Seketika kedua mata Aryo pun kembali terbuka. Kini ia mendapati Tiara tersenyum jahil tapi sekaligus sangat manis di hadapannya. Tiara mengalungkan lengannya di pundak Aryo, ia menatap Aryo dengan puppy eyes-nya, “Masih ada kan, Sayang? Aku ambil ya?” tanya Tiara.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷