Warung Kaki Lima, Lagu Favorit & Hadiah Mobil
Say 'Hai' lagi sama Pajero hitam yang sudah nangkring di parkiran gedung fakultas komunikasi. Ketika melihat mobil yang fameliar dengan plat nomor 4 R Y O itu, Tiara segera berjalan menghampiri. Dari beberapa koleksi mobil yang dimiliki suaminya, kini Tiara tahu bahwa si Pajero hitam tetap jadi yang nomor satu bagi Aryo.
“Hai,” sapa Tiara begitu ia memasuki mobil.
“Hai,” balas Aryo.
Tiara meletakkan totebag Guccinya di jok belakang, “Kamu nunggu berapa jam tadi?” tanyanya.
Aryo melirik rolex di pergelangan tangan kirinya. “1 jam an lah kira-kira,” ujarnya.
“Ya ampun, lama juga. Kasian banget sih suami aku.” Dengan spontan Tiara mencondongkan tubuhnya mendekat pada Aryo dan menyematkam kecupan di pipi kirinya.
“Kita mau kemana? Katanya kamu nggak mau langsung pulang, kan?” tanya Tiara.
“Kemana aja, yang penting sama kamu,” jawab Aryo sambil menatap Tiara.
“Oke. Kita cari makan malem dulu ya.”
***
Sebuah warung kaki lima di dekat taman kota menjadi tujuan Aryo dan Tiara untuk mengisi amunisi. Warung itu menjual ayam geprek sambal hijau yang sudah terkenal cita rasanya dan Tiara merekomendasikannya. Aryo harus mencobanya, begitu kata Tiara.
Mereka perlu antre sekitar 20 menit untuk mendapat tempat duduk. Untungnya tidak lama setelah itu, pesanan mereka datang.
Sebelum menyantap makanan miliknya, Tiara lebih dulu memerhatikan Aryo. Ia ingin melihat reaksi pria itu mencoba makanan yang ia rekomendasikan.
“Gimana? Enak?” tanya Tiara seusai Aryo mencoba suapan pertamanya.
“Enak banget, Ra,” tiga kata singkat yang keluar dari bibir Aryo dan ekspresi bahagianya, sudah cukup membuat Tiara ikut senang.
“Kamu kasih rating berapa?” tanya Tiara lagi.
“10 per 10.”
“Oke.” Tiara pun tersenyum dan mulai menyantap makanan miliknya.
Aryo telah selesai makan lebih dulu dan Tiara bertanya padanya, “Mau nambah lagi nggak?”
“Mau,” jawab Aryo cepat. Tiara yang memerhatikan wajah Aryo dibanjiri oleh keringat karena kepedasan, mengambil tisu di meja dan memberikannya pada suaminya.
“Mas, nambah satu lagi ya ayam gepreknya,” ujar Tiara kepada penjualnya. Lalu ia beralih lagi pada Aryo, “Level berapa Sayang?” tanyanya.
“Level dua aja.”
“Ohh, level 2 aja Mas,” ujar Tiara dan langsung diiyakan oleh mas penjualnya.
“Aku lupa kamu nggak terlalu suka pedes, yang pertama tadi aku pesenin level 3,” ucap Tiara pada Aryo.
“Nggak papa, masih tetep enak kok,” ujar Aryo.
“Ra, kapan-kapan kita makan di kaki lima lagi, ya?” cetus Aryo setelah ia menyeruput es jeruknya.
“Iya. Kamu mau makanan apa emangnya?”
“Apa aja, yang penting rekomendasi dari kamu.”
Tiara tertawa pelan, “Okey, apapun rekomendasi aku ya.”
***
Tiara yang punya sejuta ide di dalam kepalanya itu, mengajak Aryo melewati jalan tol di malam hari. Mereka sengaja memperjauh perjalanan untuk sampai ke rumah. Jalanan tol yang lebar dan lempeng, lampu kota di malam hari, serta pemandangan gedung-gedung, terasa sempurna untuk menenangkan pikiran sekaligus memanjakan mata.
Mereka menyetel musik dari pemutar audio di mobil dan mengeraskan volume-nya. Setelah playlist milik Tiara selesai di putar, kini giliran playlist milik Aryo.
Lagu milik Khalid yang berjudul Young Dumb and Broke mulai mengalun dan memenuhi mobil.
So you're still thinking of me ... Just like I know you should I can not give you everything, you know I wish I could ... I'm so high at the moment I'm so caught up in this Yeah, we're just young, dumb and broke But we still got love to give ...
Aryo dan Tiara menyanyikan lagu itu bersamaan. Keduanya pun hapal lirik lagunya di luar kepala. Lagu yang menggambarkan masa muda yang penuh rintangan tersebut terasa begitu relate untuk mereka. Oh, mungkin juga bagi anak muda lainnya di luar sana.
Mereka sudah melewati dua jalan tol dan akhirnya memutuskan untuk pulang.
“What's your favorite song from your playlist?” tanya Tiara.
“Lagu habis ini, lagu yang terakhir,” ujar Aryo.
Tiara pun mendengarkan dengan seksama lagu yang mulai terputar dan memasuki bagian intro. Suara yang femeliar lantas memasuki indera pendengaran Tiara. Suara husky penyanyi laki-laki dengan aksen british berpadu aksen khas timur tengah itu begitu sopan memasuki telinganya.
Cause I wanna touch you baby ... And I wanna feel you too I wanna see the sunrise On your sins just me and you ...
“Oh my god Zayn Malik, aku suka banget sama dia. Suaranya itu lho,” cerocos Tiara dengan antusias. Lagu Zayn Malik ft Sia berjudul Dusk Till Dawn menjadi lagu terakhir di playlist Aryo—yang katanya menjadi lagu favoritnya juga di antara lagu yang lain.
“Kenapa kamu suka Zayn Malik?” tanya Aryo.
“Suara dia tuh khas banget, husky-husky enak gitu. Ganteng juga lagi, kurang apa coba Zayn Malik,” cerocos Tiara.
But you'll never be alone I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby, I am right here I'll hold you when things go wrong I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby, I am right here
“Ra, kalau menurut kamu, aku kurangnya apa?” tanya Aryo tiba-tiba.
“Kurangnya kamu? Aku nggak kepikiran sih,” jawab Tiara.
“Kamu bilang Zayn Malik nggak ada kurangnya. Kalau aku kira-kira kurangnya apa?”
Kedua alis Tiara menyatu, perempuan itu nampak berpikir sejenak. “Kayaknya kamu nggak ada kurangnya deh. Ganteng, iya. Hmm ... uang, punya. Puji Tuhan, banyak lagi uang kamu.”
Tanpa alasan yang jelas, gelak tawa mereka menggelegar bersamaan. Padahal Tiara asal nyerocos aja. Suasana di dalam mobil pun menjadi agak sunyi karena lagu Dusk Till Dawn telah selesai diputar.
“Terus kamu perhatian banget sama aku, jemput aku pulang kuliah. Nurutin aku night ride di tol. Padahal kamu juga capek habis pulang kerja,” ujar Tiara.
Aryo pun tertawa pelan sembari mematikan penyetel audio di mobilnya. “Ra, thank you buat malam ini,” ucap Aryo sembari menatap Tiara dengan tatapan lembutnya. Mereka masih berada di dalam mobil, mesin sudah mati dan si Pajero telah terparkir sempurna.
“Doing simple things like this night, made me feel alive,” ungkap Aryo. “Ngelakuin hal yang agak beda, tapi dengan orang yang sama, dan perasaan yang sama,” sambungnya.
Tiara tersenyum. “Aku tau kamu lagi kalut di kantor dan kondisi perusahaan lagi kurang baik,” ujar Tiara. Kini Aryo memiliki beban yang cukup berat dan nasib ribuan orang bergantung di kedua pundaknya.
“Kamu tau? Kenapa baru bilang waktu kita udah pulang?” tanya Aryo.
“Ya, nggak papa. Aku kan mau ngehibur kamu, mau buat kamu seneng.”
Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala Tiara. Kemudian seulas senyum terbit di wajahnya, “Makasih ya. Aku seneng banget malam ini.”
Tiara balas mengulaskan senyumnya. “Aku juga seneng, kalau kamu happy kayak gini.”
“Oh iya Ra, dua bulan lagi ulang tahun kamu, kan?” tanya Aryo.
“Iya.”
“Hmm ... kira-kira kamu mau hadiah apa dari aku?” tanya Aryo sambil mendekatkan wajahnya pada Tiara, ia menatap wanitanya dengan seksama.
“Apa ya? Aku nggak tau. Apa aja deh terserah kamu,” ujar Tiara. Tidak terpikirkan apapun di benaknya soal hadiah ulang tahun yang ia inginkan.
“Kalau mobil gimana? Mau?” tanya Aryo.
“Koleksi mobil kamu di rumah udah banyak. Mama bilang udah nggak muat lagi garasinya.”
“Muat, Ra. Yang buat kamu mobilnya spesial.”
Tiara tertawa. “Spesial gimana maksud kamu?”
Aryo mengulaskan senyumnya, “Rahasia dong. Nanti kamu bakal tau di hari ulang tahun kamu.”
“Dua bulan itu lumayan lama, Aryo. Kamu buat aku penasarannya dari sekarang. Kasih aku satu clue dong. Warna mobilnya aja deh,” pinta Tiara.
“Itu juga rahasia, Sayang. Nanti nggak surprise lagi dong kalau gitu,” ujar Aryo. “Semoga kamu suka sama hadiahnya,” lanjutnya.
“Yaudah deh. Tapi apapun itu, aku bakal suka, karena itu pemberian dari kamu.” Tiara tersenyum simpul, “That will be my first birthday gift from you and it really mean a lot for me.“
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷