Who Never be Forgotten
Selama 3 hari sebelum pertemuan kedua belah pihak, tim Aryo melakukan berbagai persiapan. Dari mulai persenjataan, latihan antar tim satu dengan yang lainnya, serta berbagai persiapan lainnya agar rencana mereka aman dan berjalan sempurna.
Malam ini merupakan persiapan terakhir untuk pertempuran besok. Aryo mengabari Tiara bahwa ia tidak bisa pulang dan akan menginap di tempat latihan bersama anggota tim yang lainnya. Jadi Tiara memutuskan untuk menginap di rumah ayah dan bundanya malam ini.
Terdengar ketukan di pintu kamarnya dan Tiara mendapati bundanya berada di depan kamarnya. Alifia menatap putri sulungnya dengan tatapan lembut keibuannya. Alifia seolah dapat merasakan apa yang kini sedang dialami Tiara. Rasa cemas dan takut, persis seperti sebelas tahun lalu, ketika Michelle kecil di tinggalkan ayahnya.
“Bun, you know me so well,” ujar Tiara. Mereka berhadapan, duduk di tepi kasur di kamar Tiara. Alifia membawa anak perempuannya itu ke pelukan hangatnya, mengusap punggungnya lembut.
“Bunda tahu, Sayang. Rasanya pasti seperti de javu buat kamu.” Alifia mengusap surai Tiara dan setelah itu pelukan keduanya terurai.
“Bun, Tiara nggak tau lagi kalau misalnya sampai harus kehilangan Aryo.” Dari tatapan Tiara, Alifia menangkap begitu banyak luka di sana.
“Tuhan mendengar doa hambanya, Nak. Apa yang sedang kamu dan Aryo perjuangkan saat ini adalah hal yang benar. Tuhan akan membantu, kamu meyakini itu, ya. Sayang?” tutur Alifia. Setelah Tiara merasa lebih tenang, Alifia pamit untuk meninggalkan kamarnya. Tidak lupa bundanya itu mematikan lampu utama dan menyalakan lamput tidur berwarna kuning temaram, kebiasaan yang selalu perempuan itu lakukan untuk membuat Tiara merasa lebih rileks.
Ketika Alifia menutup pintu kamarnya dan menghilang di sana, Tiara mendapat sebuah notifikasi pesan dari ponselnya. Kedua alisnya pun menyatu membaca pesan yang di kirimkan Aryo padanya. Tiara mencoba untuk menelfon Aryo, tapi tidak di angkat. Akhirnya Tiara memutuskan untuk menghubungi Egha karena ia merasa harus menanyakan hal tersebut pada kepala bodyguard yang Aryo tugaskan untuk menjaga keselamatannya, khususnya selama Aryo tidak berada di sisinya.
“Halo, Egha. Gue barusan forward ke lo pesan yang Aryo kirim ke gue. Lo udah baca?” ujar Tiara di telfon.
“Saya udah baca pesan yang Non Tiara kirim,” jawab Egha di seberang sana.
“Oke. Gue mau tanya, menurut lo apa ada yang aneh dari pesan itu?”
***

Di sebuah area dengan lapangan berumput luas dan dua buah gedung bertingkat yang tinggi menjulang, di sana kedua kubu telah sepakat untuk melakukan pertemuan.
Mereka telah dibagi menjadi 3 tim. Tim 1 akan bertugas melumpuhkan pasukan lawan, tim 2 berperan sebagai garda yang siap menangkap musuh di TKP, dan tim 3 bertugas memancing target dengan membawa bukti ke hadapannya.
Aryo berada di tim 3 bersama Erza dan Bagas. Mereka menunggu instruksi dari tim 1 sebelum memulai eksekusi. Bagas mendekatkan walky talky nya ketika sebuah suara masuk di sana.
“Team three get in now,” perintah suara dari walky talky. Bagas pun lebih dulu keluar dari tempat persembunyian mereka. Erza menyusulnya dan yang terakhir Aryo. Bagas sudah lebih dulu masuk melalui lorong yang mengarah ke basement.
“Za, nanti gue nyusul lo sama Bagas.”
“Kenapa Bos?” Erza menoleh pada Aryo dan melihat atasannya itu sedang menerima telfon dari seseorang. Aryo hanya mengatakan satu kalimat sebelum pria itu mengakhiri sambungan telfonnya.
“Tim yang jaga di rumah gue ngabarin kalau Tiara ada di sana.”
“Bukannya Non Tiara di rumah orang tuanya Bos?”
Tatapan mata Aryo berkilat dan berubah menjadi tajam, “Bajingan itu ngirim sebagian pasukannya ke rumah. Barusan Egha yang ngasih tau gue.”
***
Egha memerintah anak buahnya untuk menahan orang suruhan Reynaldi yang di kirim pria itu ke rumah. Egha telah menghubungi Aryo dan menjelaskan situasi yang terjadi. Aryo mengatakan bahwa dalam 10 menit dirinya akan sampai di rumah untuk menghabisi pasukan Reynaldi dengan tangannya sendiri.
Di lantai 3 Egha dan beberapa anggotanya telah mempersiapkan diri untuk melindungi Tiara.
“Non Tiara, saya sudah menghubungi tuan dan beliau bilang akan kesini dalam 10 menit. Ada kemungkinan pihak Reynaldi sudah menyadap nomor hp tuan untuk memanipulasi keadaan,” jelas Egha pada Tiara.
“Egha, ini semua salah gue. Harusnya gue keras kepala dengan minta minta lo anter gue ke rumah,” ucap Tiara dengan nada menyesalnya.
Egha menatap majikannya itu. “Non Tiara, ini bukan sepenuhnya kesalahan Anda,” Egha menjeda ucapannya. “Kita masih punya kesempatan untuk melawan mereka. Non Tiara percayakan pada saya dan tim yang lainnya, oke?” tutur Egha.
Beberapa detik setelahnya, tepat dari arah belakang mereka, terdengar langkah kaki dan sebuah dehaman dari suara bariton. Tiara lantas mengarahkan tatapannya pada sosok yang begitu femeliar di penglihatannya. Kini sosok itu nyata ada di hadapannya.
“Halo, Michelle Taninka,” sapa Reynaldi diiringi senyum sarkas di wajahnya. “Apa kabar? Nggak mungkin kamu lupa sama saya, kan?”
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷