Worth More Than Anything

Senyum Tiara mengembang saat netranya menangkap pemandangan di hadapannya. Tatapannya turun pada tangannya yang digenggam oleh tangan Aryo. Hari ini mereka menggunakan pakaian berwarna senada. Aryo mengenakan kemeja putih yang bagian lengannya di gulung sampai siku dan chino pants berwarna coklat. Tiara mengenakan kemeja putih yang dilapisi jaket kulit coklat yang senada dengan chino pants yang di pakai Aryo.

Gucci black rayban yang digunakan Aryo dan Tiara menciptakan kesan elegan namun tetap terlihat simple. Bagaikan raja dan ratu, mereka dikawal dan disambut oleh para bodyguard di bagian selatan. Tiara memang belum mengetahui setiap bagian dari rumah ini yang memang begitu luas. Ia dibuat terkagum-kagum dengan yang saat ini berada di hadapannya.

Setelah sekitar lima menit menaiki sebuah white club car, mereka sampai di lapangan lepas landas dengan sisi kanan dan kirinya terdapat hamparan rumput hijau yang di pangkas rapih dan pendek. Terdapat taman kecil yang ditumbuhi bunga lily berwarna pink dan ungu di sisi utara helly pad. Setelah diberikan pengarahan tentang kegiatan penerbangan yang akan Aryo dan Tiara lakukan, mereka diantar menuju sebuah helikopter yang sudah siap untuk lepas landas.

“Tempat ini punya apa lagi yang aku nggak tau?” tanya Tiara pada Aryo.

“Di bagian utara ada tempat golf dan di sampingnya ada bar. Ada aula khusus untuk ngadain acara, kolam renang, arena bermain dengan tanah berpasir, jogging track yang luas, dan kebun. Kamu mau ada apa lagi? Aku bisa buatin,” ujar Aryo.

Tiara menatap Aryo, lalu ia mengulaskan senyum bahagianya. “Terima kasih ya. Tempat ini lebih dari cukup dari yang aku inginkan.”

Sekitar 5 menit kemudian, helikopter yang mereka tumpangi memulai lepas landasnya. Kegiatan itu menciptakan suara yang bising serta perasaan yang mendebarkan bagi keduanya. Pemandangan yang dapat dilihat Tiara saat ini adalah keseluruhan area rumah yang begitu luas. Tiara nampak antusias dan sama sekali tidak merasakan pusing atau mual, padahal baru pertama kali ia naik helikopter. Berbeda dengan Aryo yang hanya menatap istrinya yang terlihat bahagia dengan jemari mereka yang saling tertaut.

“Kamu nggak papa?” Tiara terlihat khawatir pada Aryo yang nampak tidak terlalu antusias.

“Aku kurang suka ketinggian.”

“Terus kenapa ajak aku naik ini? Kita terbangnya sebentar aja. Lagian aku udah puas,” ucap Tiara.

Aryo menghela pinggang ramping Tiara agar tubuh mereka menempel. Kemudian ia memeluk tubuh Tiara persis seperti anak kecil yang minta dipeluk oleh ibunya.

“Lebih baik kalau sambil meluk kamu,” ucap Aryo.

“Kapan kita akan turun?” tanya Tiara.

“Setelah 1.000 kaki.” Aryo menengadahan kepalanya untuk menatap paras istrinya. Tiara mengulaskan senyumnya, tangannya bergerak membenarkan posisi kacamata rayban hitam yang sedikit turun dipangkal hidung Aryo.

Beberapa saat kemudian, pilot helikopter memberi tahu bahwa mereka sudah berada di ketinggian 1000 ft. Pemandangan siang hari menuju sore dengan langit biru dan awan putih yang nampak seperti lukisan, telah melengkapi suasana indah bagi dua insan yang sedang memadu kasih itu.

“Habis ini mau berkuda?” tanya Aryo.

“Mau dong,” jawab Tiara antusias. “ayaknya kamu bisa ngelakuin apa aja deh,” ujar Tiara sambil tertawa pelan.

“Emang. Aku bisa ngelakuin apa aja buat kamu.” Aryo memberikan sebuah kecupan lembut di pipi Tiara.

***

Seekor kuda thoroughbred dengan kulit coklat dan tail berwarna kuning keemasan yang terkenal dari Amerika Selatan itu, dipilih oleh Aryo untuk ditungganginya hari ini. Kuda itu nampak gagah dan berotot dengan tinggi mencapai 165 centi. Salah satu petugas membawa kuda tersebut kehadapan Aryo dan Tiara, setelah keduanya memakai perlengkapan keamanan untuk berkuda.

Aryo membantunya naik terlebih dahulu, lalu pria itu menyusul untuk berada di belakangnya. Tiara berusaha membuat tubuhnya rileks karena ini pertama kali ia menaiki kuda pacu.

“Aku akan peluk kamu, Tiara. Kamu nggak perlu takut, oke?” bisik Aryo di samping wajahnya seolah pria itu tahu sekali ketakutan Tiara.

“Oke,” jawab Tiara.

Jantung Tiara berdebar hebat di dalam sana ketika Aryo mulai memacu kudanya. Debaran ini adalah jenis debaran yang mengangumkan. Aryo menunggangi kudanya seperti seorang yang sangat profesional, hanya dengan satu tangan karena satu tangannya lagi memeluk pinggang Tiara.

Helaian rambut Tiara yang terlepas dari ponytail-nya, menyapa kulit wajahnya. Tiara mengulurkan satu tangannya ke udara, dan satunya lagi berada di atas tangan Aryo yang memeluk pinggangnya.

Setelah mendapat dua putaran, Aryo berhenti memacu kudanya. Aryo turun lebih dulu, lalu tangannya terulur untuk membantu Tiara turun.

“Gimana? Kamu suka?” tanya Aryo pada Tiara setelah pria itu selesai melepas peralatannya.

“Suka banget. Makasih ya,” ucap Tiara dengan raut bahagianya. Kemudian dengan sedikit berjinjit, Tiara memberikan kecupan di pipi Aryo.

Pemandangan tersebut disaksikan oleh para petugas dan bodyguard yang ada di sana. Momen itu sungguh terlihat romantis dan yang menyaksikannya ikut merasa bahagia. Para bodyguard berusaha memasang tampang netral ketika kedapatan oleh Tiara bahwa mereka tengah tersenyum.

“Mereka kayak nggak terbiasa ngeliatnya,” ucap Tiara sedikit berbisik pada Aryo.

“Maksud kamu?”

“Apa sebelumnya mereka memang nggak pernah ngeliat langsung?” Aryo dan Tiara berjalan bersisian menuju area parkir white club car yang sebelumnya membawa mereka ke sini.

Aryo mengusap puncak kepala Tiara dengan sayang, “Ada-ada aja kamu, kepikiran kayak gitu,” ucap Aryo diiringi kekehannya.

“Ohhh I see. Kalau gitu aku nggak perlu cemburu sama mantan-mantan kamu.”

“Dulu aku cuma punya beberapa bodyguard. Sekarang aku buth mereka lebih banyak,” jelas Aryo.

“Jadi kamu pernah berkuda sama salah satu mantan kamu?” tanya Tiara.

“Pernah. Kamu cemburu?”

“Enggak sih. Lagian kan cuma naik kuda. Itu biasa. Kalau cuma itu, aku nggak cemburu,” ucap Tiara.

“Kalau dulu kan cuma pacaran, jadi nggak butuh bodyguard. Sekarang butuh. Aku nggak mau kamu sampai kenapa-napa,” ungkap Aryo.

Langkah Tiara berhenti mendadak dan otomatis membuat langkah Aryo berhenti juga.

“Mama ngasih tau aku alasan kamu nggak ingin cepat-cepat nikah. Mama pikir kamu belum siap dan masih mau main-main,” ujar Tiara.

“Itu juga salah satu alasan aku. Tapi aku punya alasan lain untuk nggak nikah cepat,” terang Aryo.

“Kamu takut perempuan yang kamu nikahi akan berada dalam bahaya karena menikah sama kamu?” ucap Tiara mengungkapkan asumsinya. Ia tahu bahwa Aryo memiliki rival dan musuh yang akan selalu ada pihak yang kontra terhadap suaminya.

Aryo kemudian mengangguk dan Tiara agak terkejut sebenarnya bahwa tebakannya benar.

“Awal pernikahan kita, aku nggak tahu cara ngelindungin kamu. Aku buat kamu ngerasa asing dan tertekan dengan peraturan yang aku bikin. Maafin aku Ra, tapi aku nggak punya cara lain,” ujar Aryo.

“Terus kenapa kamu milih nikahin aku setelah skandal itu muncul? Padahal kamu bisa aja nutup skandal itu dengan bantuan pengacara. Ohya, aku pikir Aurorae juga lebih sempurna ketimbang aku,” ungkap Tiara.

“Menikah bukan tentang untuk jadi sempurna, Tiara. Menikah tentang bersama siapa kamu ingin menghabiskan hidup kamu. Kamu bisa membuat orang yang menikah dengan kamu menjadi lebih baik, begitu juga sebaliknya. You made me want to be a better person since we met. Kamu membuat aku ingin coba mulai semuanya.”

Tiara tertegun mendengar penuturan Aryo tersebut. Tidak sampai hitungan 5 detik kemudian, matanya menangkap sebuah drone yang terbang di udara dan nampak mencurigakan. Drone itu berada tepat dibelakang suaminya. Sebuah insting kuat membuat Tiara bergerak untuk menghalangi drone yang mendekati Aryo dengan membalikkan posisi mereka. Detik berikutnya, suara tembakan terdengar sangat keras di udara tepat saat Tiara mendapatkan Aryo di dekapannya.

Aryo tidak merasakan sakit apapun, begitu juga dengan Tiara. Namun dengan sigap Aryo mengerahkan bodyguard-nya untuk mencari penembak tersebut, karena besar kemungkinan pergerakan pelaku masih belum terlalu jauh. Aryo memastikan keadaan Tiara, perempuan itu terlihat syok atas kejadian yang baru saja terjadi.

“Tiara, kamu berdarah,” Aryo mendapati darah di tangannya, setelah ia menyibakkan rambut panjang Tiara yang menutupi bagian tengkuknya.

***

Tiara memejamkan matanya saat lukanya di obati oleh tenaga medis yang segera di datangkan. Beruntungnya peluru tersebut tidak menembus ke dalam tubuhnya, hanya melewati kulitnya kemudian melesat. Namun gesekan peluru itu meninggalkan luka kecil di tengkuknya. Tiara diberi obat supaya ia dapat tenang dari perasaan syok yang dialaminya.

“Aryo,” panggil Tiara dengan matanya yang masih terpejam, ia merasa beigut mengantuk karena pengaruh obat. Tiara belum sepenuhnya tertidur, ia merasakan tangannya digenggam oleh sesuatu yang hangat.

Tiara berusaha untuk membuka matanya. Ketika matanya terbuka, ia langsung menangkap Aryo yang sedang menggenggam tangannya. Tiara mengeratkan genggaman tangannya di tangan Aryo, lalu kembali memejamkan matanya. Sebuah usapan lembut di kepalanya membuat Tiara merasa nyaman dan semakin mudah untuk menuju ke alam mimpinya.

***

Ketika Aryo kembali ke kamar, ia mendapati Tiara sudah terbangun dari tidurnya. Wajah perempuan itu masih sayu dan sedikit memerah. Aryo menaruh punggung tangannya di kening Tiara dan merasakan sedikit hawa hangat di sana.

Everything is oke? How do you feel?” tanya Aryo.

I feel better now,” jawab Tiara.

Tiara memerhatikan Aryo masih mengenakan stelan yang sama, sehingga ia memintanya untuk berganti pakaian lebih dulu.

Don’t leave me,” ucap Tiara ketika Aryo kembali dari walk in closet dengan penampilannya yang sudah lebih santai.

I’m not gonna leave you.” Aryo mengambil tempat di tepi kasur dan Tiara langsung menghambur untuk memeluk torsonya.

Beberapa detik kemudian, Tiara mengurai pelukannya dan menatap Aryo ke dalam matanya. “I want you, right now,” setelah mengucapkannya, Tiara mulai mencium Aryo lebih dulu. Sebuah kecupan yang lembut, tapi terasa sedikit menuntut dan dipenuhi oleh gairah. Aryo merasakan Tiara menyesap bibir bagian bawahnya cukup kencang selama mereka saling mencumbu.

Aryo menghela tengkuk Tiara untuk mempermudah membalas ciuman wanitanya. Pergerakan tersebut semakin intens, hingga sukses menghadirkan perasaan mendebarkan yang luar biasa.

Tangan Tiara dengan lihai meremas rambut di bagian belakang kepala Aryo, memberi perintah tersirat supaya Aryo memperdalam ciumannya. Aryo pun memperdalam ciumannya, bibirnya sepenuhnya melahap bibir mungil Tiara.

Ciuman itu perlahan terlepas dan jarak wajah mereka pun hanya tersisa sekitar dua centi. Tatapan Aryo turun pada gaun tidur berwarna hitam berbahan silk yang digunakan Tiara—yang bagian dadanya cukup rendah.

Aryo menurunkan tali spaghetti gaun tidur tersebut dari bahu Tiara, sehingga gaun itu sempurna lolos hingga setengah bagian tubuh wanitanya.

“Aryo, apa kamu bahagia mutusin baut nikah sama aku?” tanya Tiara.

Aryo menatapnya penuh afeksi, “Aku bahagia, Tiara. Keputusanku menikah sama kamu adalah keputusan terindah dalam hidup aku,” ungkap Aryo.

Tiara menyunggingkan senyumnya dan otomatis menular pada Aryo. Selanjutnya Aryo bergerak untuk membaringkan Tiara ke ranjang. Tiara menunggu yang terjadi dengan gugup. Meskipun ini bukan pertama kali mereka melakukannya, tapi suaminya itu terlihat berbeda dari sebelumnya.

“Sayang, kali ini pelan aja ya?” pinta Tiara dengan menunjukkan puppy eyes-nya. Aryo telah menanggalkan kaus abu-abunya, sehingga Tiara dapat melihat pahatan sempurna otot tubuh dan perut six pack milik suaminya.

“Kenapa?” bisik Aryo di dekatnya dengan suara sensualnya.

Tiara mengerucutkan bibirnya. Aryo justru gemas melihat ekspresi itu. Ia lantas memberikan ciuman bertubi pada pipi Tiara yang gembil.

“Pipi aku sampai basah Aryo, astaga!” Tiara mengusap pipinya yang menjadi lembab karena ulah suaminya itu.

“Kamu tau, Ra. Kamu nggak perlu cemburu sama mantan-mantan aku. Karena kamu yang akan jadi ibu dari anak-anak aku nanti. Kamu yang akan merawat dan menyayangi mereka. Ohiya, jangan lupa tetap sayang sama aku juga ya.” Pria bermata sipit itu memamerkan senyumnya sampai membentuk dua buah eye smile yang begitu menawan.

Tiara merebahkan kepalanya di lengan Aryo, tampak begitu nyaman di sana. Aryo memeluk tubuhnya dari samping, membuat Tiara jadi terlihat mungil dengan posisi mereka saat ini.

“Ini yang ngomong suami aku atau buaya ya,” ucap Tiara.

“Suami kamu lah.” Tiara pun tertawa mendengar jawaban Aryo. Kemudian tatapan keduanya bertemu pada satu titik. Mata bulat milik Tiara yang selalu berbinar ketika menatapnya, membuat Aryo merasa menjadi pria paling beruntung karena telah memiliki Tiara dalam hidupnya.

Aryo kembali mencium bibirnya lebih dulu dengan begitu lembut, memindahkan posisi Tiara untuk berada di bawahnya. Aryo melepas satu persatu pakaian yang tersisa di tubuh Tiara terlepas dan jatuh ke lantai.

Kali ini keduanya sama-sama mencapai puncak lebih cepat setelah sebuah pemanasan yang terjadi dalam singkat, tapi tetap terasa begitu menakjubkan bagi keduanya.

Tiara melantunkan nama Aryo ketika semakin jauh dan dalam mereka bersatu. Tiara dapat merasakan milik Aryo sudah sepenuhnya berada dalam dirinya, kemudian Aryo menggerakkan pinggulnya dengan gerakan maju mundur dan dengan tempo yang lumayan cepat.

“Udah pelan kan, Sayang?” tanya Aryo.

“Apaan, kamu mah,” ringis Tiara sambil mem-pouty kan bibirnya.

“Ini pelan, Sayang.”

Aryo mengecup bibir ranum Tiara, lalu menghentakkan miliknya lagi cukup kuat dan mengeluarkan seluruh cairannya di dalam diri Tiara. Tiara merasa bagian bawahnya kini penuh, lembab, dan terasa begitu ngilu.

“Terima kasih, Ra,” ucap Aryo sambil membelai kepala Tiara yang sudah dibanjiri oleh peluh.

Aryo berbaring di samping Tiara dan menghela pinggang ramping wanitanya agar mendekat padanya.

“Aryo,” gumam Tiara pelan.

“Kenapa Sayang?”

You know, after i fell in love with you, I’m so in loved with my life,” ucap Tiara ketika ia berhasil mengatur kembali napasnya. Sebuah titik bening berada di pelupuk mata Tiara dan seperti ingin segera jatuh. Aryo sadar akan air mata Tiara yang siap meluncur itu, tapi dengan cepat perempuan itu menyekanya lebih dulu.

Tiara bergerak memeluk tubuh kekar prianya lebih dulu, ia mencari kehangatan di sana. Tiara mendongakkan kepalanya, menemukan wajah tampan surgawi milik Aryo yang juga sedang menatapnya dengan tatapan lembut. Aryo mengerucutkan bibirnya yang kemudian sengaja semakin di majukan agar bertemu dengan bibir Tiara. Sebelum bibir Aryo mendarat, Tiara lebih dulu menjemputnya dan mempersatukan belah bibir mereka.

Saat ciuman mereka terlepas, Aryo menatapnya dan mengusap kepala Tiara dengan sayang, “Ra, kalau kita punya anak perempuan, dia pasti akan cantik kayak kamu,” ucap Aryo sambil memerhatikan setiap seluk wajah cantik istrinya. Kedua mata bulat dengan iris coklat gelap, hidung mancung, kulit yang putih, serta bibir penuh yang berwarna pink alami.

“Aku juga bayangin dia akan lucu banget kalau punya mata sipit kayak kamu. Your eye smile is worth more than anything in this world,” ucap Tiara sambil mengulaskan senyum simpulnya.

“You like my eyes?” tanya Aryo.

Totally. These eyes are so beautiful,” ujar Tiara sambil memerhatikan kedua pasang mata milik Aryo.

“Pasti lucu ya Ra kalau anak kita punya mata ini,” Aryo menunjuk matanya. “Gimana bibirnya? Kayaknya kalau dapat bibir kamu, mau dia cowok atau cewek, akan tetap terlihat bagus,” ujar Aryo lantas mendekap tubuh Tiara lebih erat. Namun Tiara belum berniat untuk memejamkan matanya seperti yang sudah Aryo lakukan. Perempuan itu justru menatapi wajah tertidur Aryo yang tetap terlihat tampan meskipun dalam kondisi tertidur.

Tiara memperhatikan setiap detail yang terpahat tanpa celah itu, ia mengulaskan senyumnya dan tanpa ia sangka, air matanya meluncur mulus di pipinya.

Tiara memandang mata Aryo yang terpejam dan detik setelahnya Aryo kembali menciumi wajahnya. Aryo memberikannya ciuman bertubi-tubi. Sebuah bunyi kecupan yang indah pun terdengar di kamar itu, membuat Tiara seketika mengulaskan senyumnya.

Tiara mengusapi sisi wajah Aryo untuk membuat tidurnya semakin nyenyak, “You have to know, that everything will happen in future, I will always love you like this. I’m crazy over you,” bisik Tiara sebelum akhirnya menyematkan kecupan tulus di pipi suaminya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷