You Can't Touch Them

Hasil laboratorium telah keluar dan mendiagnosa bahwa Kaldera mengalami penyakit tipes. Sehingga untuk beberapa hari ke depan, Kaldera perlu menjalani rawat inap di rumah sakit.

Ini sudah hari ketiga sejak Kaldera menjalani perawatan di ruang VVIP itu. Kaldera beberapa kali menghubungi tantenya, tapi tidak ada jawaban dari Laura. Dari peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi di hidupnya, Kaldera bersyukur mendapati kenyataan bahwa ia masih memiliki seseorang di sisinya. Terlebih saat Kaldera hanya dapat terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia tidak sendirian.

Saat tahu dari Raegan bahwa Kaldera sakit, Indri langsung datang. Beliau merawat Kaldera dan memperlakukannya selayak Kaldera adalah anaknya sendiri. Indri sungguh ingin melakukannya. Indri mengatakan pada Kaldera, ia ingin memberikan kasih sayang pada Kaldera karena belum sempat sepenuhnya memberikan itu untuk Zio.

Sore ini setelah menyantap makanannya dan perawat datang untuk mengganti cairan infusnya, Kaldera tengah mencoba untuk tidur. Meskipun hanya dapat menyuap 3 sendok nasi, setidaknya perutnya terisi, itu sudah cukup baik menurut yang dikatakan oleh dokter. Napsu makan Kaldera memang berkurang drastis, hal itu juga dikarenakan oleh obat yang harus dikonsumsinya.

“Tante pulang aja nggak papa. Kaldera bisa sendiri di sini,” ucap Kaldera pada Indri, sebelum kedua matanya hampir terpejam.

“Tante tungguin kamu sampe Raegan dateng ya. Tante nggak tega ninggalin kamu,” balas Indri sembari mengusap punggung tangan Kaldera dan menatapnya dengan tatapan penuh sayang.

Lagi-lagi Kaldera tidak dapat menolak perlakuan baik keluarga Zio terhadapnya. Berikutnya Kaldera menampakkan senyum kecilnya, sebelum akhirnya perlahan netranya mulai terpejam karena rasa kantuk yang menghampiri.

***

Sekitar pukul 5 sore, Raegan sampai di ruang rawat Kaldera dan mendapati Kaldera tengah tertidur. Mamanya masih menunggui Kaldera dan hampir terlelap juga di sofa bed di sisi kanan ruangan itu.

“Mah, Mama pulang aja ya? Biar Raegan yang di sini,” ucap Raegan ketika Indri menyadari kehadirannya di sana.

“Kerjaan kamu di kantor udah selesai semua?” Indri bertanya.

Raegan segera mengangguk untuk menjawab pertanyaan mamanya.

“Oke, kalau gitu Mama bisa tenang,” ucap Indri.

“Kenapa Mama nanyain kerjaan aku udah selesai atau belum?” tanya Raegan.

Indri bergerak mengambil tas tangannya di meja dekat sofa. Kemudian wanita berusia 50 tahunan itu merapikan rambut sebahunya yang sedikit berantakan. “Mama tau pekerjaan adalah yang utama buat kamu, Raegan. Tapi sekarang Mama minta tolong sama kamu. Tolong jaga Kaldera seperti kamu menjaga Zio waktu adikmu kecil,” Indri terlihat mengalihkan tatapannya dari kedua mata Raegan, wanita itu tengah berusaha menahan air matanya yang siap untuk meluncur.

“Iya, Mama tenang aja. Malam ini Raegan yang jaga Kaldera di sini,” ujar Raegan.

***

Ketika Kaldera terbangun dari tidurnya, ia pikir ia akan mendapati Raegan di sana. Namun Kaldera justru menemukan tantenya di ruang rawatnya. Bukannya nampak khawatir dengan Kaldera, Laura justru terlihat tersenyum cerah dan ekspresi wajahnya begitu semringah.

Kaldera tidak mengucapkan apapun, ia hanya mengalihkan tatapannya ke arah lain, yang jelas selain ke arah Laura.

“Kaldera, kalau Tante tau kamu sakit dan dirawat di ruang VVIP kayak gini, Tante bisa ninggalin kerjaan dan ke sini secepatnya. Kamu nggak bilang ke Tante kalau keluarga almarhum pacar kamu seroyal ini sama kamu,” ucap Laura panjang lebar.

“Tante tau dari mana aku dirawat di sini?” tanya Kaldera begitu ia menoleh ke arah Laura. Kaldera melihat tantenya tengah mengemil makanan manis di meja samping tempat tidurnya. Selama Kaldera dirawat di sini dan napsu makannya berkurang, Raegan kerap kali membelikan beberapa makanan untuknya. Kaldera menduga Raegan tadi datang saat ia tidur dan lagi-lagi membawakan makanan untuknya.

“Kenapa kamu nanya soal itu? Kamu nggak suka Tante dateng ke sini? Kayaknya kamu udah nyaman banget ya nikmatin semua fasilitas di tempat ini,” Laura beranjak dari posisi duduknya, ia mengambil sebuah cookies coklat di meja. Kemudian Laura berjalan ke arah lemari di ruang rawat itu, ia membukanya dan memperhatikan beberapa stel baju yang ada di sana. “Makanan, baju, kamar rawat yang mewah, kakaknya pacar kamu itu siapa namanya, ohiya, Raegan. Dia udah kayak ATM berjalan. Mungkin dia bisa beliin apapun yang kamu minta—”

“Tante, cukup,” tukas Kaldera menghentikan ucapan Laura.

Laura lantas menatap Kaldera dengan tatapan tidak suka. Lagi dan lagi, Kaldera harus dihadapkan pada sifat tantenya yang hanya mengutamakan soal uang.

“Tante, kalau aku sekali lagi denger Tante ngomong kayak gitu, aku bisa minta tolong sama satpam untuk bawa Tante keluar dari sini,” Kaldera menjeda ucapannya sesaat karena tiba-tiba dadanya terasa sesak.

“Kamu mau ngelakuin itu?” sarkas Laura, ia kembali berjalan menghampiri Kaldera. “Sayangnya, Raegan udah percaya sama Tante, Kaldera. Raegan percaya kalau Tante adalah yang terbaik yang udah ngerawat kamu selama ini, Sayang. Mungkin kalau kamu nggak bisa sama adiknya, kamu bisa ngambil hati kakaknya. Kamu bisa pakai wajah cantik kamu itu kan, Kaldera?”

“Tante, ini terakhir kalinya Kaldera ingetin ke Tante. Kaldera nggak akan biarin Tante nyentuh keluarganya Zio sedikit pun. Tante inget itu,” tegas Kaldera sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Laura.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂