alyadara

Kaldera sedikit tidak percaya begitu mendapati bahwa Raegan sore ini menjemputnya di sekolah. Raegan tidak mengatakan banyak hal, pria itu hanya meminta Kaldera untuk pergi bersamanya. Belum cukup dengan kemunculan Raegan di hadapannya, Kaldera kembali dikejutkan ketika Arjuna membelokkan setir mobilnya ke sebuah tempat dengan plang besar yang bertuliskan 'Rumah Tahanan Negara'.

Rumah Tahanan Negara merupakan tempat tersangka atau terdakwa ditahan selama proses penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan. Ketika Kaldera dan Raegan memasuki sebuah ruangan untuk mengunjungi tahanan, sudah ada seorang pria yang kemudian Kaldera ketahui adalah pengacara. Pengacara itu adalah kuasa hukum yang ditugaskan Raegan untuk menangani kasus Zio.

“Mas Raegan, untuk apa kita ke sini?” tanya Kaldera yang belum dapat menebak situasi yang tengah terjadi di depan matanya. Tidak lama berselang, akhirnya Kaldera menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan di dalam benaknya.

Aksa, lelaki yang ditahan karena menjadi tersangka kasus pembunuhan Zio, muncul di hadapan mereka setelah petugas memberinya izin untuk menerima kunjungan.

Kaldera masih nampak bingung. Sampai akhirnya Erwin menjelaskan pada Kaldera alasan Raegan membawanya ke sini. Mereka ingin mendengar cerita lengkap kejadian malam itu dari Kaldera, yang mana Kaldera merupakan satu-satunya saksi yang kemungkinan menyaksikan kejadian.

“Kaldera, hanya satu pertanyaan saya untuk kamu. Kamu ada di sana sebelum kejadian atau sesudah kejadian?” tanya Erwin.

Kaldera tanpa ragu pun akhirnya menjawab pertanyaan Erwin. “Sebelum kejadian, aku udah sampai di sana,” ujar Kaldera. Kaldera lantas menceritakan apa yang malam itu ia lihat. Kaldra yakin betul dengan apa yang dilihatnya di depan matanya, ia tidak mungkin salah. Raegan, Aksa, dan Erwin akhirnya mendengarkan dengan seksama rentetan kejadian yang disaksikan oleh Kaldera pada malam itu.

“Bukan Aksa pelakunya, aku ngeliat itu dengan jelas. Orang itu kabur setelah melakukannya.” Kaldera pun mengakhiri ceritanya.

“Tapi saat ini bukti di tempat kejadian mengarah ke Aksa. Cara satu-satunya untuk membuktikan Aksa nggak bersalah adalah menyerahkan bukti yang kuat ke pengadilan. Cara itu juga bisa kita gunakan untuk mengetahui dan menangkap pelaku yang sebenarnya,” jelas Erwin.

Usai mendengar penjelasan Erwin, Kaldera segera mengeluarkan ponselnya dan meletakkan benda pipih tersebut di atas meja. Sontak ketiga lelaki di hadapannya menatap ke arah Kaldera.

“Kamu punya bukti itu di hp kamu?” tanya Raegan.

Kaldera mengangguk dan segera memperlihatkan foto yang sempat ia ambil saat di tempat kejadian perkara. Sebagai seorang pengacara yang handal, Erwin pun mengatakan bahwa bukti foto itu nampak kurang jelas. Ada kemungkinan kejaksaan akan meragukan bukti tersebut.

“Kita bisa cari bukti lain sebagai cadangan kalau bukti foto ini tidak cukup kuat. Pasti ada bukti di tempat kejadian yang bisa dijadikan alternatif,” ujar Raegan. Namun kenyataannya Erwin kurang setuju dengan ide Raegan tersebut.

“Kenapa? Apa cara itu nggak bisa?” tanya Raegan.

“Ada cara yang lebih berpotensi besar dan kemungkinan cara itu dapat lebih kuat dari pada bukti fotonya, Raegan,” terang Erwin.

“Cara yang lebih mudah?” Raegan mempertanyakannya, tanpa bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran pengacaranya itu.

Tatapan Erwin seketika mengarah kepada Kaldera. Begitu juga dengan Raegan dan Aksa, mereka mengarahkan tatapannya pada Kaldera.

“Saya rasa Anda sudah tau apa yang ada di pikiran saya, Pak Raegan. Kita punya saksi mata yang bisa memberikan kesaksiaannya di persidangan nanti. Untuk memperkuat kesaksian, kita juga bisa memberikan bukti foto itu kepada kejaksaan,” jelas Erwin panjang lebar.

***

Saat di perjalanan pulang, Kaldera mengatakan pada Raegan bahwa ia bersedia untuk menjadi saksi di persidangan. Sesuai yang dikatakan oleh Erwin, itu adalah cara yang cukup mutakhir, jika kemungkinan bukti foto di ponsel Kaldera tidak cukup kuat untuk membebaskan Aksa dan menangkap pelakunya.

Raegan meletakkan ipadnya dan kini tengah menatap Kaldera tepat di matanya, “Kaldera, saya tidak mengizinkan kamu untuk melakukan itu.”

“Alasannya?” tanya Kaldera.

Kaldera tidak mengerti mengapa Raegan melarangnya untuk bersaksi. Mereka sudah berada di langkah yang tepat dan tidak bisa membiarkan pelaku itu berkeliaran bebas, setelah apa yang dilakukannya terhadap Zio. Kaldera ingin menghukum orang itu, sama seperti Raegan. Jadi Kaldera pikir kini mereka telah berada di kapal yang sama dan tidak bisa berbalik haluan begitu saja.

Begitu Arjuna memberhentikan mobilnya tepat di depan gang rumah Kaldera, Raegan meminta Kaldera untuk segera turun dari sana. Namun Kaldera bersikukuh dan tidak bergerak dari posisinya sedikit pun.

“Kamu bisa turun sekarang. Kita udah selesai bahas ini,” ucap Raegan. Nada bicaranya tegas seperti biasa dan seolah tidak terbantahkan. Raegan pun mengalihkan tatapannya dari Kaldera, ia enggan melihat ke dalam mata itu.

“Mas, aku akan berusaha untuk terus yakinin kamu, sampai kamu izinin aku buat jadi saksi di pengadilan. Tolong, kita udah semakin dekat untuk menangkap pelakunya. Aku cuma ingin orang itu dapat sesuatu dari apa yang udah dia perbuat ke Zio,” ujar Kaldera.

Raegan masih diam dan tidak merespon ucapan Kaldera sama sekali. Namun rupanya Kaldera tidak ingin menyerah. Sampai akhirnya Raegan menoleh dan menatap Kaldera. Raegan menyaksikan kedua mata Kaldera, terlihat ada guratan kesedihan dan luka dalam yang terpancar dari kedua mata bulat itu.

“Malam itu aku liat sendiri di depan mataku, gimana orang itu nyakitin Zio. Sampai sekarang, aku nggak bisa ngelupain kejadian itu,” ujar Kaldera dengan suaranya yang terdengar agak frustasi.

“Kaldera, kamu nggak ngerti. Ini terlalu berbahaya. Orang itu bukan sembarang orang seperti yang kamu pikirkan,” terang Raegan.

“Siapa orang itu sebenarnya?” tanya Kaldera.

“Kamu nggak perlu tau. Satu hal yang pasti, saya tidak akan melibatkan kamu ke dalam hal ini,” putus Raegan.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

TW // sex*al harrasment

Kaldera mendapati kenyataan bahwa dirinya telah ditukar dengan uang senilai 500 juta oleh tantenya sendiri. Kasarnya tantenya telah menjualnya kepada sebuah komplotan penjahat. Mereka membawa Kaldera dan selama perjalanan matanya ditutup.

Kini Kaldera telah berada di dalam sebuah kamar dengan satu buah kasur king size dan lemari tinggi yang hampir menyentuh langit-langit kamar. Kaldera ketakutan dan tengah menangis tanpa suara. Ia tidak bisa kabur dari sini atau pun melawan sedikit pun.

Di tengah-tengah isakannya itu, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar yang dibuka. Kaldera segera melihat ke arah pintu dan bersikap was-was. Di sana Kaldera akhirnya melihat sosok pria berusia sekitar 30 tahunan. Tubuhnya tinggi, garis wajahnya terlihat tegas, dan mata elang dengan iris coklat gelap itu tengah menatap tajam ke arahnya.

Leonel

Kini hanya tersisa jarak sekitar 3 centi di antara pria itu dan Kaldera. Kaldera membuang wajahnya, tidak sudi ditatap oleh pria itu. Pria itu lantas berdeham dan berujar di dekat wajah Kaldera. “Tadinya aku ingin langsung menghabisimu. Tapi sepertinya bermain-main dulu nggak ada salahnya. Kamu cantik, oh tidak. Kamu sangat cantik rupanya.”

Bisikan pria itu di telinga Kaldera membuatnya jijik.Kaldera tidak sudi melihat lelaki itu barang sedikit pun. Mendapati Kaldera yang ketakutan dan tubuhnya bergetar ketika Leonel menyentuh bahunya, membuat Leonel seketika mengulaskan senyum picik di wajahnya.

“Kamu punya wajah yang cantik, Kaldera. Tidak sia-sia aku menghabiskan uang 500 juta untuk membelimu,” ujar pria itu lagi.

“Ohya, satu lagi. Wajah ini rupanya yang jadi alasan Raegantara begitu melindungimu. Gadis secantik kamu adalah favoritnya.”

Setelah kalimat itu terlontar dari mulut Leonel, Kaldera segera menoleh. Kaldera menatap Leonel dengan tatapan kebenciannya. “Jangan pernah samain diri kamu sama dia. Kalian jauh berbeda,” ucap Kaldera.

“Ohya? Apa kamu sebegitu yakinnya? Dia hanya memanfaatkan kamu untuk membalas dendamnya ke saya. Setelah itu, kamu akan berakhir menjadi pemuas nafsunya. Tapi aku akan mendapatkannya lebih dulu darimu malam ini, Cantik,” ucap Leonel dengan satu kali tarikan napas.

Leonel kemudian meraih pergelangan tangan Kaldera dan menariknya dengan paksa. Kaldera pun meronta, itu justru yang membuat kulit tangannya kini terasa perih.

“Kamu hanya perlu jadi gadis penurut malam ini,” bisik Leonel di dekat Kaldera. Leonel tengah membawa Kaldera ke atas kasur, memposisikan tubuh Kaldera dibawahnya dan pria itu tengah berada di atasnya.

Kaldera merasakan tangan Leonel tengah membelai surainya. Kaldera menahan isak tangisnya untuk tidak lolos, tapi sekuat apa pun dirinya mencoba, air matanya terus mengalir begitu saja.

“Beritahu aku lokasi markas mereka sekarang,” ucap Leonel.

Kaldera yang bungkam dan tidak berniatmembuka mulutnya sama sekali, akhirnya semakin membuat Leonel geram.

“Kamu cukup keras kepala ternyata,” hardik Leonel lagi. Pria itu meraih rahang Kaldera dengan satu tangannya, memaksa Kaldera untuk berbicara.

Leonel tampak kesal karena sikap Kaldera itu. Jiwanya seperti terbakar oleh amarah dengan begitu mudahnya. Ia tidak menyangka gadis ini lebih mementingkan orang lain, jelas-jelas nyawanya sedang dipertaruhkan.

Rasa sakit di pipi Kaldera rasanya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Membayangkan dirinya akan habis malam ini di tangan Leonel, membuat Kaldera kalut. Namun di satu sisi, Kaldera juga tidak ingin membuat Leonel merasa menang dengan memberitahu lokasi markas The Ninety Seven.

“Dengar, Kaldera,” ujar Leonel. Pria itu menatap Kaldera lekat dan kembali meraih dagu Kaldera dengan kasar. “Kalau kamu tidak mau mengatakannya, aku yang akan membuat kamu tidak punya pilihan.”

Leonel lantas melepas tuxedo hitam yang membalut tubuhnya. Pria itu tidak lepas menatap Kaldera seiring menanggalkan dasi dan rolex di pergelangan tangannya.

Kaldera bergerak mundur di atas kasur, sampai kepalanya hampir saja membentur header kasur yang keras. Namun aksi Kaldera itu tidak sama sekali membuat Leonel kesusahan. Dengan gerakan cepat, Leonel dapat meraih tubuh Kaldera untuk mendekat padanya.

Hembusan napas Leonel terasa menyapu permukaan kulit wajah Kaldera. Saat Leonel akan mencumbu paksa bibir Kaldera, dengan cepat Kaldera bergerak menghindar. Napas Kaldera berkejaran dan tangisnya pecah saat itu juga.

“Kalau kamu menghindar seperti ini, jangan salahkan kalau aku menggunakan cara kasar,” ucap Leonel. Pria itu lantas bergerak ke bawah, ia memaksa Kaldera membuka kedua pahanya. Kaldera meronta kuat, ia tidak akan membiarkan Leonel mendapatkannya.

Satu persatu Leonel telah melepaskan pakaian di tubuh Kaldera. Pertama adalah baju tidur dengan kancing-kancing itu. Leonel melepasnya paksa dari sana yang mana membuat Kaldera kesakitan karena ia juga melakuakn perlawanan. Kini tubuh Kaldera tinggal hanya menggunakan sebuah tanktop putih. Leonel tersenyum licik, ia lalu mengarahkan tangannya untuk menurunkan tali tanktop itu. Tidak lupa Leonel memberikan usapan menggelitik di lengan polos Kaldera yang terasa halus ketika bersentuhan dengan kulit tangannya.

Leonel tertawa pelan dan senyum smirk tercetak di wajah tegasnya. “Apa jadinya kalau Raegantara tau aku telah menyentuh kesayangannya ini.”

Kaldera sama sekali tidak ingin menatap Leonel, meski berkali-kali pria itu menyentak dagunya agar Kaldera melihatnya. Area di sekitar dagu Kaldera kini nampak memerah berkat perlakuan kasar Leonel.

Leonel tampak tidak peduli dan seolah kewarasan di dalam dirinya telah hilang. Pria itu bergerak menurunkan celana tidur Kaldera sampai sebatas pahanya. Akhirnya celana itu tanggal, menyisakan sebuah sebuah celana ketat sebatas paha di tubuh bagian bawah Kaldera.

Saat Leonel akan bergerak mencumbu bagian leher Kaldera, saat itu juga sebuah bunyi gebrakan di pintu terdengar. Detik berikutnya yang terjadi adalah Leonel tersungkur ke lantai berkat dorongan sekaligus tendangan kuat dari seseorang. Kaldera melihat ke arah orang itu dan ia mendapati Raegan berada di sana. Ekspresi Raegan diliputi oleh amarah yang begitu kentara, hingga Kaldera seolah melihat orang lain yang seperti bukan Raegan.

Bastard!” Raegan menghampiri Leonel yang tersungkur dan segera meraih kerah kemeja pria itu. Raegan mencengkeram kerah kemeja Leonel, lalu dengan satu tangannya yang bebas, Raegan melayangkan pukulan kuat di wajah pria itu.

Leonel yang mendapat serangan itu justru menyunggingkan sebuah senyum tipis di wajahnya. Leonel lantas bertepuk tangan di depan wajah Raegan. “Raegantara Rahagi, are you mad for it? Heared me out, I touched her with my hand.” seru Leonel seraya menunjukkan tangannya di depan Raegan dan pria itu tertawa rendah.

Usai Leonel mengucapkannya, Raegan rupanya tidak datang sendiri. Kamar itu lantas dikepung oleh anggota geng Raegan yang tidak berjumlah sedikit. Mereka memenuhi tempat itu dan bergerak untuk menghabisi Leonel. Leonel tidak menampakkan keterkejutannya atau bahkan lari karena merasa terpojok. Karena detik setelahnya, anggota gengnya pun juga datang untuk siap bertarung dengan anggota Raegan.

Raegan memerintahkan anggotanya untuk mengurus situasi sementara ia akan menyelamatkan Kaldera. Raegan beralih pada Kaldera yang masih berada di atas kasur. Raegan berlutut di sisi kasur itu dan menatap Kaldera dengan tatapan lembutnya.

“Kal, izinin aku buat bantu kamu ya. It’s not gonna hurt you. Trust me, oke?” ujar Raegan pelan.

Kaldera dengan cepat mengangguk. Raegan akhirnya segera mencari sesuatu untuk menutupi tubuh Kaldera. Setelah menyelimuti tubuh Kaldera dengan sebuah selimut putih, Raegan menyelipkan tangannya lekukan kaki Kaldera dan satu lagi di balik punggungnya. Raegan menggendong Kaldera di dekapannya dengan perlahan, seolah Kaldera adalah hartanya yang paling berharga.

Kaldera melihat semuanya di depan matanya. Ia melihat bagaimana anggota geng Raegan menyerang geng Leonel. Mereka saling memukul dan bahkan ada yang menggunakan senjata. Kaldera memejamkan matanya, guna menghalau semua rasa sakit yang kini menyerang fisik maupun jiwanya.

Begitu Kaldera dan Raegan sampai di mobil, dengan hati-hati Raegan mendudukkan Kaldera di jok depan mobil. Sebelum beralih ke balik kemudi, Raegan merendahkan posisi tubuhnya agar dapat sejajar dengan Kaldera. Kaldera juga menatap Raegan, ia melihat adanya penyesalan dari sorot kedua mata itu.

“Kal, maafin aku. Aku hampir aja nggak bisa menjaga kamu,” ucap Raegan.

Kaldera dengan cepat menggeleng. “Mas, kamu nggak perlu minta maaf. Aku udah nggak papa,” ucap Kaldera berdusta. Mungkin saat ini ia sedang tidak baik-baik saja, tapi Kaldera tidak ingin membuat Raegan merasa bersalah terhadapnya.

Raegan lantas meraih tangan Kaldera, lalu ia memberikan usapan lembut di sana. “Kal, aku janji sama kamu. Aku akan memastikan Leonel dihukum sepantas-pantasnya. Kamu bisa pegang ucapan aku.”

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Kaldera pulang ke rumahnya dan memikirkan banyak hal di dalam kepalanya. Kaldera berpikir tentang Raegan dan perkataan pria itu padanya. Raegan tidak ingin menyerah untuk membuat Kaldera kembali merasakan cinta, tepatnya jatuh cinta kepada pria lain selain Redanzio. Raegan ingin Kaldera mencintainya. Mereka tidak perlu terburu-buru untuk sampai ke tahap itu. Saat ini mungkin hanya Raegan yang merasakan perasaan cinta tersebut. Namun Raegan berjanji suatu hari nanti, mereka akan merasakan cinta itu berdua dan saling melengkapi.

Setelah merasa mengantuk, Kaldera akhirnya memutuskan untuk tidur dengan mulai memejamkan mata. Besok masih hari sekolah, Kaldera harus cepat tidur agar tidak terlambat bangun pagi. Saat Kaldera akan meraih gulingnya dan memeluknya, sesuatu menahan aksinya itu.

‘Tok! Tok! Tok!’

Terdengar tiga kali ketukan di pintu kamarnya. Kaldera menghembuskan napasnya, matanya kembali terbuka padahal sebelumnya sudah terpejam. Ini jam 10 malam, apakah yang dipikirkan tantenya dengan mengetuk pintu kamarnya sekeras itu malam-malam seperti ini?

Kaldera lekas bangun dari kasurnya. Ia berjalan ke arah pintu dan segera membukanya. Namun belum sempat pintu tersebut terbuka sepenuhnya, Kaldera segera menutup pintu itu lagi. Jantung Kaldera berdegup kencang karena apa yang baru saja dilihatnya di balik pintu kamarnya. Orang yang mengetuk pintunya bukan tantenya dan Kaldera tidak tahu siapa orang itu.

Ketukan itu kembali terdengar, kali ini terasa lebih keras. Malam ini tantenya sudah pulang bekerja dan tadi memang sudah pergi tidur. Jadi siapa yang ada di balik pintu kamarnya saat ini?

Tanpa berpikir panjang, Kaldera dengan cepat mengunci pintu kamarnya. Kaldera mundur beberapa langkah, ia mengambil ponselnya di nakas dan menggenggam benda itu di satu tangannya.

“Sialan, pintunya dikunci,” seru suara yang terdengar dari luar.

“Hancurkan pintunya dan bawa perempuan itu pada bos segera!” perintah seseorang lagi.

Dua detik berikutnya, suara gebrakan yang begitu kuat terdengar. Kaldera menjauh dari pintu itu dan berniat kabur dari jendela. Namun semuanya sudah terlambat. 3 orang pria berbadan tinggi dan kekar telah lebih dulu melihatnya dan menatap tajam ke arahnya.

“Kalian siapa? Mau apa kalian di sini?” ujar Kaldera dengan suaranya yang terdengar sedikit gemetar. Sebisa mungkin Kaldera berusaha lepas dari cekalan pria itu. Namun Kaldera tidak berdaya, kekuatannya jelas tidak sebanding dengan mereka.

“Gadis cantik, kamu tau satu hal? Tante kamu yang memberi kita akses untuk ke sini,” ujar salah satu di antara mereka. Pria itu menatap Kaldera dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Di mana tante saya? Kalian jangan macam-macam ya!” ujar Kaldera dengan berani.

Detik berikutnya Kaldera dibuat bungkam begitu melihat bahwa tantenya ada di sana dan terlihat baik-baik saja. Kaldera yang berpikir bahwa rumah mereka dirampok dan tantenya juga berada dalam bahaya, kenyataannya semua itu salah.

“Tante … ini apa maksudnya?” tanya Kaldera sambil menatap Laura. Namun Laura tidak mengatakan apa pun, perempuan itu hanya diam dan mengulaskan sebuah senyum tipis di wajahnya. Setelah itu Laura melangkah berbalik, meninggalkan Kaldera sendirian bersama ketiga pria itu.

“Bawa dia dan pastikan kita bisa menggunakannya untuk memancing ketua mafia itu datang ke markas,” ucap salah satu pria yang bertubuh paling tinggi.

Dua orang pria di sana lantas menarik lengan Kaldera secara paksa, membawa Kaldera yang tengah meronta-ronta, berusaha melepaskan diri.

“Tunggu,” ucapan itu menghentikan aksi dua pria yang menarik Kaldera. Pria yang bertubuh paling tinggi dengan potongan rambut under cut itu berbalik dan menatap Kaldera lamat-lamat. Satu tangan pria itu menghela dagu Kaldera, memaksa Kaldera untuk mendongakkan kepala. Kemudian tatapan pria itu turun mencari sesuatu. Ia pun segera menemukan apa yang dicarinya. Kaldera pun mengikuti arah pandang itu dan sadar kalau pria di hadapannya menatap ke arah ponsel yang berada di genggamannya.

“Berikan benda itu,” hardiknya tepat di depan wajah Kaldera.

Kaldera menggeleng kuat, ia berusaha mengeratkan genggamannya di ponselnya. Pria itu lantas berdecih dengan kasar dan berujar, “Kamu harus jadi gadis penurut malam ini. Berikan benda itu atau aku akan menyakitimu.”

Kaldera masih tetep kukuh tidak mau memberikannya. Saat pria itu semakin mendekat padanya, dengan cepat Kaldera melakukan perlawanan dan hampir bisa melepaskan diri. Namun belum sampai langkahnya di pintu, tubuhnya kembali ditarik paksa oleh dua orang pria itu.

Kaldera tahu sekarang tujuan utama 3 orang ini bukan dirinya. Melainkan seseorang yang Kaldera kenal dan ia dijadikan alat untuk memancing target mereka datang. Kaldera sempat melirik layar ponselnya dan menemukan bahwa Raegan menghubunginya sebanyak 2 kali.

“Kalian mau ini, kan? Silakan ambil,” ucap Kaldera. Tepat sebelum pria di hadapannya mengambil ponselnya, Kaldera melempar ponselnya ke arah jendela rumah. Ponsel itu melayang dengan sangat kencang dan menghantam kaca jendela hingga tembus ke luar rumah. Kaca jendela tersebut sampai hancur dan pecahannya berjatuhan di lantai.

Pria itu nampak kesal karena perbuatan Kaldera. Ia lantas berbalik dan menatap Kaldera dengan tatapan bengisnya sekaligus berujar, “Dengan atau tanpa benda itu, kami bisa mendapatkan Raegantara dengan tangan kami sendiri. Camkan itu.”

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Picnic

Setelah membeli beberapa makanan, Raegan dan Kaldera berjalan menuju sebuah taman yang tidak jauh posisinya dari pantai. Taman ini terletak di selatan kota, tidak terlalu dekat dengan keramaian tapi tidak terlalu terpencil juga. Di taman ini pengunjung diperbolehkan untuk berpiknik, karena areanya yang juga lumayan luas.

Udara sore ini tampak cerah. Langit berwana biru terang, awan putih nampak indah dilihat dari bawah sini. Raegan dan Kaldera telah memilih sebuah spot untuk mereka tempati dan duduk di atas kain yang disewakan oleh pengelola taman ini.

Kaldera mulai membuka tas belanjaan yang berisi makanan yang sudah mereka beli. Kaldera mengambil makanan milik Raegan lebih dulu lalu memberikannya kepada pria itu. Baru setelahnya Kaldera akan menyantap miliknya. Sebenarnya hari ini merupakan acara dadakan. Tadi sepulang sekolah, Raegan menjemput Kaldera dan mengajaknya ke tempat ini. Kaldera tiba-tiba kepikiran apa yang ingin Raegan katakan padanya. Di tengah-tengah pemikirannya itu, pergerakan Raegan dari posisinya mengalihkan pikiran Kaldera. Raegan mengambil sebuah tisu dari dalam tas belanja, mengambilnya satu lembar, lalu mengasurkannya kepada Kaldera.

Dengan bahasa tubuhnya, Raegan menunjuk ujung bibir Kaldera. Kaldera baru setelah itu mengerti, ia pun segera mengambil tisu yang disodorkan Raegan, lalu mengusapkan tisu itu di dekat bibirnya. Pasti ada bekas makanan di sana dan Kaldera cukup malu harus terjebak di tengah situasi seperti ini bersama Raegan.

“Habis ini mau sewa sepeda sebelum ke skywalk?” tanya Raegan. Kini pria itu telah menyelesaikan kegiatan makanannya dan hanya menatap Kaldera yang masih menyantap makanannya.

“Emangnya ada sewa sepeda deket sini Mas?”

“Ada, nggak jauh dari sini kok. Gimana?”

Kaldera mengangguk antusias dengan segera. “Mau,” ucapnya spontan. Nadanya suara Kaldera begitu bersemangat kala mengucapkannya. Sebuah senyum juga seraya terukir di wajah cantik itu.

“Oke,” ucap Raegan kemudian. Menyaksikan senyum Kaldera hari ini membuat Raegan ikut tersenyum. Ujung-ujung bibirnya tidak kuasa untuk saling menarik satu sama lain.

***

Setelah piknik, Kaldera dan Raegan memang berencana untuk pergi ke skywalk. Raegan mengatakan bahwa ia ingin mengambil foto pemandangan malam hari di sana. Namun Raegan teringat bahwa Kaldera suka naik sepeda. Raegan mengetahui itu saat ia pergi ke kamar Zio dan menemukan foto polaroid yang Zio simpan apik di laci mejanya. Ada momen di mana Zio dan Kaldera naik sepeda bersama. Di balik polaroid itu, ada sebuah catatan kecil yang ditulis oleh Zio. Zio menuliskan bahwa Kaldera sangat suka naik sepeda. Jadi Raegan berniat mewujudkan kegiatan itu untuk Kaldera. Raegan ingin membuat Kaldera bisa tersenyum dan kembali bahagia seperti sediakala. Meskipun mungkin tidak akan pernah sama dengan saat sebelum Zio pergi.

Sepedaan

Jadi sebelum ke skywalk, Raegan dan Kaldera menyewa dua buah sepeda. Mereka berkeliling di sekitar area taman, tepatnya di atas jalanan khusus untuk sepeda mau pun skuter listrik yang disewakan di dekat pantai. Kegiatan sederhana selama kurang lebih 30 menit itu rupanya mampu membuat Kaldera merasa bahagia.

Saat hari sudah mulai gelap, Kaldera dan Raegan memutuskan untuk menyudahi kegiatan mereka bersepeda. Sebelum menuju mobil, keduanya membeli minum di pedagang kaki lima untuk meredakan dahaga yang tengah menyerang.

Tidak lama kemudian, keduanya telah berada di dalam perjalanan untuk menuju skywalk. Selama di dalam mobil, Kaldera memikirkan sesuatu. Rasanya Kaldera baru saja menemukan dirinya yang baru, versi dirinya yang sudah mulai bisa menerima kepergian orang yang dicintainya. Dirinya seperti hilang sejak kepergian Redanzio. Tepatnya Kaldera sulit untuk tersenyum dan merasa bahagia.

“Mas,” ucap Kaldera.

Raegan lantas menoleh kepada Kaldera. Mereka baru saja sampai dan Raegan menarik rem tangan saat mobilnya telah terparkir lurus sempurna.

“Kenapa Kal?” tanya Raegan.

Kaldera kemudian menatap Raegan lurus-lurus, pandangannya terasa begitu penuh makna. “Makasih ya untuk hari ini,” ungkap Kaldera, nadanya terdengar begitu tulus. Tanpa perlu menjelaskan maksud rasa terima kasih itu, Raegan dapat mengerti alasan Kaldera mengatakannya.

Raegan lantas mengulaskan senyum segarisnya. Mungkin Kaldera belum mengetahuinya. Raegan ingin membuat Kaldera bahagia bukan semata karena amanat dari Zio, tapi ada alasan lain yang mendasari hal tersebut. Raegan melakukannya karena perlahan ia mulai mencintai Kaldera. Raegan melihat Kaldera sebagai seorang perempuan, dan rasa sayangnya pada Kaldera melebihi kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.

***

Senayan Skywalk

Sebelum berjalan menuju area skywalk, Kaldera menunggu Raegan mengambil sesuatu dari jok belakang mobil. Tidak lama saat Raegan kembali, Kaldera mendapati lelaki itu membawa sebuah blazer jaket berwarna abu-abu di tangannya.

Raegan menyodorkan jaket itu, meminta Kaldera untuk memakainya. Kaldera belum menerima sodoran itu, ia justru melempar tatapan bertanya kepada Raegan.

“Ini udah malem, anginnya lumayan kenceng. Kamu pakai jaket aku ya,” ujar Raegan.

Kaldera akhirnya menerima jaket itu dan memakainya. Setelah itu Kaldera mulai mengikuti langkah Raegan. Langkah Kaldera sedikit melambat di belakang Raegan, membuat Raegan akhirnya ikut melambatkan langkahnya agar bisa sejajar dengan Kaldera. Entah mengapa Kaldera menjadi gugup. Debaran jantungnya tidak seperti biasanya. Padahal tadi masih normal-normal saja. Ini terjadi sejak saat Raegan memberikan jaketnya untuk dipakai oleh Kaldera.

Setelah Raegan dan Kaldera membeli 2 buah cemilan sebagai syarat untuk masuk ke tempat itu, mereka kini tengah berjalan di jembatan layang Senayan yang menyuguhkan pemandangan luar biasa itu.

Kaldera tahu tempat ini, tapi ia mengatakan pada Raegan bahwa dirinya belum pernah ke sini. Jembatan layang yang terletak bagian metropolitan kota ini memang dibuka untuk umum. Saat malam hari, pengunjung sedang ramai-ramainya. Tentu yang menjadi incaran mereka adalah pemandangan kota yang sangat cantik. Bertabur lampu-lampu jalanan dan lampu dari gedung, desti