He Will Do Anything for Her
Kaldera telah pulih dari sakitnya dan menjalani kehidupannya seperti sediakala. Kaldera pergi ke sekolah, kerja kelompok bersama teman-temannya, dan pulang ke rumah. Kaldera meminta cuti kepada atasannya untuk bekerja part time di restoran makanan cepat saji. Kondisinya dipantau secara berkala oleh dokter, dan kemarin Kaldera baru saja datang ke rumah sakit untuk kontrol terakhirnya. Dokter mengatakan, untuk sementara Kaldera tidak diperbolehkan melakukan banyak kegiatan yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatannya.
Kaldera memutuskan memulai lembar hidupnya yang baru, hidupnya tanpa Zio. Meskipun itu bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa secepat itu Kaldera melupakan rasa sedihnya. Kehilangan seseorang dicintai adalah salah satu fase terberat yang harus dijalani oleh manusia. Namun pada hakikatnya, orang datang dan pergi, bukan? Tugas Kaldera di hidup Zio telah selesai, begitu juga dengan tugas Zio di hidupnya, itu sudah berakhir.
Sore ini pukul sekitar pukul 3, Kaldera berjalan keluar dari gang sekolahnya. Kaldera baru menyadari bahwa rintih hujan mulai turun membasahi permukaan bumi. Tubuh Kaldera memang ada di sini, tapi separuh jiwanya seperti dibawa pergi bersama orang yang ia cintai, hingga Kaldea tidak lagi peduli pada hujan yang mengguyur tubuhnya.
Kaldera menunggu angkutan umum di depan gang itu. Tidak ada tempat berteduh di sana, kalau Kaldera kembali lagi ke sekolah, itu akan percuma karena ia akan tetap basah.
Rintik hujan pun turun semakin deras, Kaldera hanya menutupi kepalanya dengan kedua tangan. Tidak lama berselang, sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Kaldera mendongak dan segera mendapati seseorang tengah memayungi tubuhnya.
Kaldera mendapati orang itu adalah Raegan. Ketika netranya bertemu dengan netra Raegan, perasaan Kaldera rasanya campur aduk. Perlahan bahu Kaldera tampak erguncang dan isak tangisnya mulai terdengar memenuhi indera pendengaran Raegan.
“Kaldera,” ucap Raegan. Suara pria itu beradu dengan derasnya hujan, tapi Kaldera masih dapat mendengarnya. Tinggi Kaldera yang hanya sebatas dada Raegan, membuatnya harus mendongak untuk menatap pria jangkung itu.
“Apa yang Redanzio lakukan untuk menghibur kamu saat kamu sedih seperti ini?” tanya Raegan.
Bukan hanya Kaldera yang basah oleh air hujan, tapi perlahan-lahan rintik itu ikut membasahi bahu Raegan. Jika mereka tidak lekas beranjak dari sana, mungkin keduanya akan sama-sama akan terserang flu setelah ini.
“Apapun itu, saya akan melakukannya untuk kamu,” sambung Raegan. Detik berikutnya Raegan menarik Kaldera mendekat begitu Kaldera justru akan bergerak menjauh darinya.
Di tengah rintik hujan yang menghantam tanah yang dipijaknya, Kaldera mendapati seseorang tengah berusaha melindunginya. Saat Kaldera tidak lagi peduli terhadap dirinya, pria itu pertama kali rela basah-basahan dengan stelan jas kantornya hanya karena berbagi payung bersamanya.
***
Kaldera terlihat begitu menikmati es krimnya meskipun di luar sana hujan masih mengguyur dan cuaca juga terasa sangat dingin. Namun sepertinya hanya makanan ini yang mampu Kaldera merasa lebih baik. Jadi Kaldera mengatakan pada Raegan bahwa ia hanya ingin makan es krim.
Di tengah-tengah kegiatannya, Kaldera menoleh sekilas pada Raegan. Rambut hitam Raegan yang jadi setengah basah sama sepertinya, membuat Kaldera mengulaskan senyum sungkan di hadapan Raegan.
“Mas, kita lupain aja wasiat itu ya. Kita bisa jalanin kehidupan masing-masing,” ucap Kaldera, lalu ia menyantap lagi kembali es krim vanillanya.
“Kenapa kamu mau ngelupain wasiat itu?” tanya Raegan. Sepertinya Kaldera memang tidak bisa menghindari pertanyaan itu. Namun Kaldera juga tidak dapat menjelaskan alasannya kepada Raegan.
Kaldera mengetahui watak tantenya, jadi waktu Raegan menanyakan soal wasiat, Kaldera memutuskan untuk menolak.
“Kaldera, saya ingin menjadikan kamu bagian dari keluarga kami. Sesuai yang diinginkan Zio, saya akan mengambil pilihan yang pertama. Saya sudah diskusi sama mama dan beliau setuju. Mama mau menjadikan kamu anak angkatnya,” jelas Raegan.
Kaldera menoleh pada Raegan, berusaha memberi pengertian lewat tatapan matanya. Kaldera menolaknya, tapi tidak memberi tahu Raegan alasannya.
“Paling nggak kasih tau saya alasannya, Kaldera,” ucap Raegan yang masih berusaha membujuk Kaldera.
Kaldera terdiam sesaat, ia mengalihkan tatapannya dari Raegan pada jalanan di depannya. “Aku nggak mau ngerepotin siapa pun. Apa yang udah kamu dan tante Indri lakuin buat aku kemarin, aku bersyukur untuk itu dan berterima kasih. Tapi aku pikir semuanya cukup sampai di sana,” ujar Kaldera.
Pada akhirnya Raegan tidak bisa memaksa Kaldera untuk mengubah keputusannya. Saat es krim Kaldera telah habis dan jalanan tampak terang karena hujan angin yang mulai reda, Raegan memutuskan menjalankan mobilnya untuk mengantar Kaldera pulang.
Ketika mobil Raegan sampai di depan sebuah gang, Kaldera memintanya untuk berhenti sampai di sana saja. Sikap Kaldera yang tidak mau Raegan mengantarnya sampai ke depan rumahnya, membuat Raegan merasakan ada sesuatu yang aneh.
Sebelum turun dari mobil, Kaldera menoleh pada Raegan dan berujar, “Mas, makasih ya untuk hari ini.”
Raegan hanya mengangguk sekilas dan membiarkan Kaldera melangkah keluar dari mobilnya. Sepeninggalan Kaldera, Raegan rupanya memikirkan sesuatu tentang gadis itu.
Sikap Kaldera yang menjaga jarak justru membuat Raegan semakin penasaran terhadapnya. Tidak mungkin Zio memintanya menjaga Kaldera, kalau tahu gadis itu dapat menjaga diri sendiri. Selain itu, pasti ada alasan di balik sikap Kaldera yang terang-terangan menolak permintaannya.
Sampai punggung Kaldera sudah tidak terlihat lagi oleh Raegan, pria itu masih di sana. Raegan belum berniat menjalankan kembali mobilnya. Raegan mencium sesuatu yang aneh dan berniat mencari tahu lebih jauh tentang kekasih almarhum adiknya itu.
***
Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮
Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜
Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂