alyadara

Kaldera telah pulih dari sakitnya dan menjalani kehidupannya seperti sediakala. Kaldera pergi ke sekolah, kerja kelompok bersama teman-temannya, dan pulang ke rumah. Kaldera meminta cuti kepada atasannya untuk bekerja part time di restoran makanan cepat saji. Kondisinya dipantau secara berkala oleh dokter, dan kemarin Kaldera baru saja datang ke rumah sakit untuk kontrol terakhirnya. Dokter mengatakan, untuk sementara Kaldera tidak diperbolehkan melakukan banyak kegiatan yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatannya.

Kaldera memutuskan memulai lembar hidupnya yang baru, hidupnya tanpa Zio. Meskipun itu bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa secepat itu Kaldera melupakan rasa sedihnya. Kehilangan seseorang dicintai adalah salah satu fase terberat yang harus dijalani oleh manusia. Namun pada hakikatnya, orang datang dan pergi, bukan? Tugas Kaldera di hidup Zio telah selesai, begitu juga dengan tugas Zio di hidupnya, itu sudah berakhir.

Sore ini pukul sekitar pukul 3, Kaldera berjalan keluar dari gang sekolahnya. Kaldera baru menyadari bahwa rintih hujan mulai turun membasahi permukaan bumi. Tubuh Kaldera memang ada di sini, tapi separuh jiwanya seperti dibawa pergi bersama orang yang ia cintai, hingga Kaldea tidak lagi peduli pada hujan yang mengguyur tubuhnya.

Kaldera menunggu angkutan umum di depan gang itu. Tidak ada tempat berteduh di sana, kalau Kaldera kembali lagi ke sekolah, itu akan percuma karena ia akan tetap basah.

Rintik hujan pun turun semakin deras, Kaldera hanya menutupi kepalanya dengan kedua tangan. Tidak lama berselang, sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Kaldera mendongak dan segera mendapati seseorang tengah memayungi tubuhnya.

Kaldera mendapati orang itu adalah Raegan. Ketika netranya bertemu dengan netra Raegan, perasaan Kaldera rasanya campur aduk. Perlahan bahu Kaldera tampak erguncang dan isak tangisnya mulai terdengar memenuhi indera pendengaran Raegan.

“Kaldera,” ucap Raegan. Suara pria itu beradu dengan derasnya hujan, tapi Kaldera masih dapat mendengarnya. Tinggi Kaldera yang hanya sebatas dada Raegan, membuatnya harus mendongak untuk menatap pria jangkung itu.

“Apa yang Redanzio lakukan untuk menghibur kamu saat kamu sedih seperti ini?” tanya Raegan.

Bukan hanya Kaldera yang basah oleh air hujan, tapi perlahan-lahan rintik itu ikut membasahi bahu Raegan. Jika mereka tidak lekas beranjak dari sana, mungkin keduanya akan sama-sama akan terserang flu setelah ini.

“Apapun itu, saya akan melakukannya untuk kamu,” sambung Raegan. Detik berikutnya Raegan menarik Kaldera mendekat begitu Kaldera justru akan bergerak menjauh darinya.

Di tengah rintik hujan yang menghantam tanah yang dipijaknya, Kaldera mendapati seseorang tengah berusaha melindunginya. Saat Kaldera tidak lagi peduli terhadap dirinya, pria itu pertama kali rela basah-basahan dengan stelan jas kantornya hanya karena berbagi payung bersamanya.

***

Kaldera terlihat begitu menikmati es krimnya meskipun di luar sana hujan masih mengguyur dan cuaca juga terasa sangat dingin. Namun sepertinya hanya makanan ini yang mampu Kaldera merasa lebih baik. Jadi Kaldera mengatakan pada Raegan bahwa ia hanya ingin makan es krim.

Di tengah-tengah kegiatannya, Kaldera menoleh sekilas pada Raegan. Rambut hitam Raegan yang jadi setengah basah sama sepertinya, membuat Kaldera mengulaskan senyum sungkan di hadapan Raegan.

“Mas, kita lupain aja wasiat itu ya. Kita bisa jalanin kehidupan masing-masing,” ucap Kaldera, lalu ia menyantap lagi kembali es krim vanillanya.

“Kenapa kamu mau ngelupain wasiat itu?” tanya Raegan. Sepertinya Kaldera memang tidak bisa menghindari pertanyaan itu. Namun Kaldera juga tidak dapat menjelaskan alasannya kepada Raegan.

Kaldera mengetahui watak tantenya, jadi waktu Raegan menanyakan soal wasiat, Kaldera memutuskan untuk menolak.

“Kaldera, saya ingin menjadikan kamu bagian dari keluarga kami. Sesuai yang diinginkan Zio, saya akan mengambil pilihan yang pertama. Saya sudah diskusi sama mama dan beliau setuju. Mama mau menjadikan kamu anak angkatnya,” jelas Raegan.

Kaldera menoleh pada Raegan, berusaha memberi pengertian lewat tatapan matanya. Kaldera menolaknya, tapi tidak memberi tahu Raegan alasannya.

“Paling nggak kasih tau saya alasannya, Kaldera,” ucap Raegan yang masih berusaha membujuk Kaldera.

Kaldera terdiam sesaat, ia mengalihkan tatapannya dari Raegan pada jalanan di depannya. “Aku nggak mau ngerepotin siapa pun. Apa yang udah kamu dan tante Indri lakuin buat aku kemarin, aku bersyukur untuk itu dan berterima kasih. Tapi aku pikir semuanya cukup sampai di sana,” ujar Kaldera.

Pada akhirnya Raegan tidak bisa memaksa Kaldera untuk mengubah keputusannya. Saat es krim Kaldera telah habis dan jalanan tampak terang karena hujan angin yang mulai reda, Raegan memutuskan menjalankan mobilnya untuk mengantar Kaldera pulang.

Ketika mobil Raegan sampai di depan sebuah gang, Kaldera memintanya untuk berhenti sampai di sana saja. Sikap Kaldera yang tidak mau Raegan mengantarnya sampai ke depan rumahnya, membuat Raegan merasakan ada sesuatu yang aneh.

Sebelum turun dari mobil, Kaldera menoleh pada Raegan dan berujar, “Mas, makasih ya untuk hari ini.”

Raegan hanya mengangguk sekilas dan membiarkan Kaldera melangkah keluar dari mobilnya. Sepeninggalan Kaldera, Raegan rupanya memikirkan sesuatu tentang gadis itu.

Sikap Kaldera yang menjaga jarak justru membuat Raegan semakin penasaran terhadapnya. Tidak mungkin Zio memintanya menjaga Kaldera, kalau tahu gadis itu dapat menjaga diri sendiri. Selain itu, pasti ada alasan di balik sikap Kaldera yang terang-terangan menolak permintaannya.

Sampai punggung Kaldera sudah tidak terlihat lagi oleh Raegan, pria itu masih di sana. Raegan belum berniat menjalankan kembali mobilnya. Raegan mencium sesuatu yang aneh dan berniat mencari tahu lebih jauh tentang kekasih almarhum adiknya itu.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Kaldera telah pulih dari sakitnya dan menjalani kesehariannya seperti sediakala. Kaldera pergi ke sekolah, kerja kelompok bersama teman-temannya, dan pulang ke rumah. Hanya saja ia meminta cuti kepada atasannya untuk bekerja part time di restoran makanan cepat saji. Kondisinya dipantau secara berkala oleh dokter, dan kemarin Kaldera baru saja datang ke rumah sakit untuk kontrol terakhirnya. Dokter mengatakan, untuk sementara Kaldera tidak diperbolehkan melakukan banyak kegiatan yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatannya.

Kaldera akan memulai lembar hidupnya yang baru, meskipun itu bukanlah hal yang mudah. Kehilangan seseorang dicintai adalah salah satu fase terberat yang harus dijalani oleh manusia. Namun pada hakikatnya, orang datang dan pergi, bukan? Tugas Kaldera di hidup Zio telah selesai, begitu juga dengan tugas Zio di hidupnya, itu sudah berakhir.

Sore ini pukul sekitar pukul 3, Kaldera berjalan keluar dari gang sekolahnya. Kaldera baru menyadari bahwa rintih hujan mulai turun membasahi permukaan bumi. Tubuh Kaldera memang ada di sini, tapi separuh jiwanya seperti dibawa pergi bersama orang yang ia cintai, hingga Kaldea tidak lagi peduli pada hujan yang mengguyur tubuhnya.

Kaldera menunggu angkutan umum di depan gang itu. Tidak ada tempat berteduh di sana, kalau Kaldera kembali lagi ke sekolah, itu akan percuma karena ia akan tetap basah.

Rintik hujan pun turun semakin deras, Kaldera hanya menutupi kepalanya dengan kedua tangan. Tidak lama berselang, sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Kaldera mendongak dan segera mendapati seseorang tengah memayungi tubuhnya.

Kaldera mendapati orang itu adalah Raegan. Ketika netranya bertemu dengan netra Raegan, perasaan Kaldera rasanya campur aduk. Perlahan bahunya mulai terguncang dan isak tangisnya mulai terdengar memenuhi indera pendengaran Raegan.

“Kaldera,” ucap Raegan. Suara pria itu beradu dengan derasnya hujan, tapi Kaldera masih dapat mendengarnya. Tinggi Kaldera yang hanya sebatas dada Raegan, membuatnya harus mendongak untuk menatap pria jangkung itu.

“Apa yang Redanzio lakukan untuk menghibur kamu saat kamu sedih seperti ini?” tanya Raegan.

Bukan hanya Kaldera yang basah oleh air hujan, tapi perlahan-lahan rintik itu ikut membasahi bahu Raegan. Jika mereka tidak lekas beranjak dari sana, mungkin keduanya akan sama-sama akan terserang flu setelah ini.

“Apapun itu, saya akan melakukannya untuk kamu,” sambung Raegan. Detik berikutnya Raegan menarik Kaldera mendekat begitu Kaldera justru akan bergerak menjauh darinya.

Di tengah rintik hujan yang menghantam tanah yang dipijaknya, Kaldera mendapati seseorang tengah berusaha melindunginya. Saat Kaldera tidak lagi peduli terhadap dirinya, pria itu pertama kali rela basah-basahan dengan stelan jas kantornya hanya karena berbagi payung bersamanya.

***

Kaldera terlihat begitu menikmati es krimnya meskipun di luar sana hujan masih mengguyur dan cuaca juga terasa sangat dingin. Namun sepertinya hanya makanan ini yang mampu Kaldera merasa lebih baik. Jadi Kaldera mengatakan pada Raegan bahwa ia hanya ingin makan es krim.

Di tengah-tengah kegiatannya, Kaldera menoleh sekilas pada Raegan. Rambut hitam Raegan yang jadi setengah basah sama sepertinya, membuat Kaldera mengulaskan senyum sungkan di hadapan Raegan.

“Mas, kita lupain aja wasiat itu ya. Kita bisa jalanin kehidupan masing-masing,” ucap Kaldera, lalu ia menyantap lagi kembali es krim vanillanya.

“Kenapa kamu mau ngelupain wasiat itu?” tanya Raegan. Sepertinya Kaldera memang tidak bisa menghindari pertanyaan itu. Namun Kaldera juga tidak dapat menjelaskan alasannya kepada Raegan.

Kaldera mengetahui watak tantenya, jadi waktu Raegan menanyakan soal wasiat, Kaldera memutuskan untuk menolak.

“Kaldera, saya ingin menjadikan kamu bagian dari keluarga kami. Sesuai yang diinginkan Zio, saya akan mengambil pilihan yang pertama. Saya sudah diskusi sama mama dan beliau setuju. Mama mau menjadikan kamu anak angkatnya,” jelas Raegan.

Kaldera menoleh pada Raegan, berusaha memberi pengertian lewat tatapan matanya. Kaldera menolaknya, tapi tidak memberi tahu Raegan alasannya.

“Paling nggak kasih tau saya alasannya, Kaldera,” ucap Raegan yang masih berusaha membujuk Kaldera.

Kaldera terdiam sesaat, ia mengalihkan tatapannya dari Raegan pada jalanan di depannya. “Aku nggak mau ngerepotin siapa pun. Apa yang udah kamu dan tante Indri lakuin buat aku kemarin, aku bersyukur untuk itu dan berterima kasih. Tapi aku pikir semuanya cukup sampai di sana,” ujar Kaldera.

Pada akhirnya Raegan tidak bisa memaksa Kaldera untuk mengubah keputusannya. Saat es krim Kaldera telah habis dan jalanan tampak terang karena hujan angin yang mulai reda, Raegan memutuskan menjalankan mobilnya untuk mengantar Kaldera pulang.

Ketika mobil Raegan sampai di depan sebuah gang, Kaldera memintanya untuk berhenti sampai di sana saja. Sikap Kaldera yang tidak mau Raegan mengantarnya sampai ke depan rumahnya, membuat Raegan merasakan ada sesuatu yang aneh.

Sebelum turun dari mobil, Kaldera menoleh pada Raegan dan berujar, “Mas, makasih ya untuk hari ini.”

Raegan hanya mengangguk sekilas dan membiarkan Kaldera melangkah keluar dari mobilnya. Sepeninggalan Kaldera, Raegan rupanya memikirkan sesuatu tentang gadis itu.

Sikap Kaldera yang menjaga jarak justru membuat Raegan semakin penasaran terhadapnya. Tidak mungkin Zio memintanya menjaga Kaldera, kalau tahu gadis itu dapat menjaga diri sendiri. Selain itu, pasti ada alasan di balik sikap Kaldera yang terang-terangan menolak permintaannya.

Sampai punggung Kaldera sudah tidak terlihat lagi oleh Raegan, pria itu masih di sana. Raegan belum berniat menjalankan kembali mobilnya. Raegan mencium sesuatu yang aneh dan berniat mencari tahu lebih jauh tentang kekasih almarhum adiknya itu.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Hasil laboratorium yang keluar mendiagnosa bahwa Kaldera mengalami penyakit tipes. Sehingga untuk beberapa hari ke depan, Kaldera perlu menjalani rawat inap di rumah sakit.

Ini sudah hari ketiga sejak Kaldera menjalani perawatan di ruang VVIP itu. Kaldera beberapa kali menghubungi tantenya, tapi tidak ada jawaban dari Laura. Dari yang akhir-akhir ini terjadi di hidupnya, Kaldera bersyukur bahwa ia masih memiliki seseorang di sisinya. Terlebih ketika ia hanya dapat terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia tidak sendirian.

Saat tahu dari Raegan bahwa Kaldera sakit, Indri langsung datang ke rumah sakit. Beliau merawat Kaldera dan memperlakukannya selayaknya anaknya sendiri. Indri sungguh ingin melakukannya. Wanita itu mengatakan pada Kaldera, ia ingin memberikan kasih sayang pada Kaldera karena belum dapat sepenuhnya memberikannya untuk Zio.

Sore ini setelah menyantap makanannya dan perawat datang untuk mengganti cairan infusnya, Kaldera tengah mencoba untuk tidur. Meskipun hanya dapat menyuap 3 sendok nasi, setidaknya perutnya terisi, itu sudah cukup baik menurut yang dikatakan oleh dokter.

“Tante pulang aja nggak papa. Kaldera bisa sendiri di sini,” ucap Kaldera pada Indri, sebelum kedua matanya hampir saja terpejam.

“Tante tungguin kamu sampe Raegan dateng ya. Tante nggak tega ninggalin kamu,” balas Indri sembari mengusap punggung tangan Kaldera dan menatapnya dengan tatapan penuh sayang.

Lagi-lagi Kaldera tidak dapat menolak perlakuan baik keluarga Zio kepadanya. Berikutnya Kaldera menampakkan senyum kecilnya, sebelum akhirnya perlahan netranya mulai terpejam karena rasa kantuk yang menghampiri.

***

Sekitar pukul 5 sore, Raegan sampai di ruang rawat Kaldera dan mendapati Kaldera tengah tertidur. Mamanya masih menunggui Kaldera dan hampir terlelap juga di sofa bed di sisi kanan ruangan itu.

“Mah, Mama pulang aja ya? Biar Raegan yang di sini,” ucap Raegan ketika Indri menyadari kehadirannya di sana.

“Kerjaan kamu di kantor udah selesai semua?” Indri bertanya.

Raegan lekas mengangguk untuk menjawab pertanyan mamanya.

“Oke, kalau gitu,” ucap Indri.

“Kenapa Mama nanyain kerjaan aku udah selesai atau belum?” tanya Raegan.

Indri bergerak mengambil tasnya di meja dekat sofa. Kemudian wanita berusia 50 tahunan itu merapikan rambut sebahunya yang sedikit berantakan. “Mama tau pekerjaan adalah yang utama buat kamu, Raegan. Tapi sekarang Mama minta tolong sama kamu. Tolong jaga Kaldera seperti kamu menjaga Zio waktu adikmu kecil,” Indri terlihat mengalihkan tatapannya dari kedua mata Raegan, ia tengah berusaha menahan air matanya yang siap untuk meluncur.

“Iya, Mama tenang aja. Malam ini Raegan yang jaga Kaldera di sini,” ujar Raegan.

***

Ketika Kaldera terbangun dari tidurnya, ia pikir ia akan mendapati Raegan di sana. Namun Kaldera justru menemukan tantenya di ruang rawatnya. Bukannya nampak khawatir dengan Kaldera, Laura justru terlihat tersenyum cerah dan ekspresi wajahnya begitu semringah.

Kaldera tidak mengucapkan apapun, ia hanya mengalihkan tatapannya ke arah lain, yang jelas selain ke arah Laura.

“Kaldera, kalau Tante tau kamu sakit dan dirawat di ruang VVIP kayak gini, Tante bisa ninggalin kerjaan dan ke sini secepatnya. Kamu nggak bilang ke Tante kalau keluarga almarhum pacar kamu seroyal ini sama kamu,” ujar Laura panjang lebar.

“Tante tau dari mana aku dirawat di sini?” tanya Kaldera begitu ia menoleh ke arah Laura. Kaldera melihat tantenya tengah mengemil makanan manis di meja samping tempat tidurnya. Selama Kaldera dirawat di sini dan napsu makannya berkurang drastis, Raegan kerap kali membelikan beberapa makanan untuknya. Kaldera menduga Raegan tadi datang saat ia tidur dan lagi-lagi membawakan makanan untuknya.

“Kenapa kamu nanya soal itu? Kamu nggak suka Tante dateng ke sini? Kayaknya kamu udah nyaman banget ya nikmatin semua fasilitas di tempat ini,” Laura beranjak dari posisi duduknya. Ia mengambil sebuah cookies coklat di meja. Kemudian Laura berjalan ke arah lemari di ruang rawat itu, ia membukanya dan memperhatikan beberapa stel baju yang ada di sana. “Makanan, baju, kakaknya pacar kamu itu siapa namanya, ohiya, Raegan. Dia udah kayak ATM berjalan. Mungkin dia bisa beliin apapun yang kamu minta—”

“Tante, cukup,” tukas Kaldera menghentikan ucapan Laura.

Laura lantas menatap Kaldera dengan tatapan tidak suka. Lagi dan lagi, Kaldera harus dihadapkan pada sifat tantenya yang materialistis.

“Tante, kalau sekali lagi aku denger Tante ngomong kayak gitu, aku bisa minta tolong sama satpam untuk bawa Tante keluar dari sini,” Kaldera menjeda ucapannya sesaat karena tiba-tiba dadanya terasa sesak.

“Kamu mau ngelakuin itu?” sarkas Laura, ia kembali berjalan menghampiri Kaldera. “Sayangnya, Raegan udah percaya sama Tante, keponakan Tante yang tersayang. Raegan percaya kalau Tante adalah yang terbaik yang udah merawat kamu selama ini, Sayang. Mungkin kalau kamu nggak bisa bersama adiknya, kamu bisa mengambil hati kakaknya. Kamu bisa gunakan wajah cantik kamu itu kan, Kaldera?”

“Tante, ini terakhir kalinya Kaldera ingetin ke Tante. Kaldera nggak akan biarin Tante nyentuh keluarga Zio sedikit pun. Tante inget itu,” tegas Kaldera sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Laura.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Satu minggu kemudian

Bel pulang sekolah telah berbunyi beberapa saat yang lalu. Di kelas 12 IPS 3, Kaldera masih merapikan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas putihnya. Icha, teman sebangku Kaldera, menatapnya dengan tatapan khawatir. Pasalnya kondisi Kaldera nampak mengkhawatirkan. Sahabatnya itu terlihat murung dan sering melamun.

“Kal, habis ini lo nggak langsung balik, kan?” tanya Icha yang sudah lebih dulu selesai merapikan barang-barangnya.

“Iya, Cha. Gue harus nemuin bu Tata dulu di ruang guru,” jawab Kaldera.

“Gue temenin lo sampe selesai ya? Gimana? Nanti kita pulang bareng aja,” ujar Icha sambil menampakkan senyum kecilnya.

“Nggak papa Cha, gue bisa balik sendiri kok. Lo pulang aja ya,” ujar Kaldera.

Icha mau tidak mau menerima keputusan Kaldera. Mungkin sahabatnya memang sedang membutuhkan ruang untuk sendiri. Kehilangan seseorang yang disayangi memang tidak mudah. Melupakan pun juga membutuhkan waktu. Namun sepertinya, sosok Zio selamanya tidak akan bisa terlupakan oleh Kaldera.

***

Kaldera sedang menjalani hukuman yang diberikan oleh bu Tata, guru mata pelajaran matematika di sekolahnya. Kaldera ketahuan melamun di kelas dan tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan gurunya. Berakhirlah saat ini Kaldera harus menulis rumus mencari Quartil 2 pada 3 lembar kertas folio, sebagai tanda bahwa ia menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Begitu ia teringat akan sesuatu, tangan Kaldera yang sebelumnya menulis tiba-tiba terhenti. Kaldera memang paling lemah di pelajaran matematika. Kala itu, ada seseorang begitu sabar yang rela mengajarinya sampai ia mengerti.

Redanzio.

Kaldera lagi-lagi teringat lelaki itu. Baru satu minggu sejak kepergian Zio, rasanya Kaldera sudah begitu rindu. Rindunya terasa begitu menyakitkan, karena ia tidak dapat bertemu sosok itu lagi untuk selamanya.

Kaldera menghembuskan napasnya panjang, lalu ia memutuskan untuk kembali melanjutkan menulis. Kaldera ingin cepat pulang ke rumah dan pergi tidur, berharap rasa sakitnya dapat reda atau setidaknya ia bisa bertemu dengan Zio meskipun hanya di dalam mimpi.

Berada di sekolah semakin mengingatkannya kepada Zio. Tempat ini telah menyimpan begitu banyak kenangan untuk Kaldera dan Zio. Tempat yang dulu paling suka Kaldera datangi, kini justru berubah menjadi momok baginya.

“Kaldera, apa tugas dari Ibu sudah selesai?” suara bu Tata membuat Kaldera seketika menoleh.

“Sudah saya selesaikan, Bu,” ucap Kaldera sembari menyerahkan kertas di tangannya kepada bu Tata.

Wanita yang merupakan gurunya itu lantas tampak terkejut begitu melihat cairan merah kental mengalir dari hidung Kaldera.

“Kaldera, kamu mimisan, Nak. Ibu antar kamu ke UKS sekarang ya. Yaampun kamu kenapa nggak bilang kalau sakit,” ucap bu Tata dengan nada paniknya.

Kaldera tidak sadar tentang kondisinya sendiri. Apakah benar ia sakit? Namun mengapa tubuhnya seolah sudah kebal hingga tidak dapat lagi merasakan sakit itu?

***

Perlahan-lahan Kaldera mencoba untuk membuka matanya. Tubuhnya terasa kurang bertenaga dan kepalanya sedikit pusing. Begitu menoleh ke sampingnya, Kaldera tidak menemukan siapa pun di ruang UKS sekolahnya itu. Namun samar-samar dari balik bilik pembatas, Kaldera dapat mendengar suara percakapan petugas kesehatan UKS dengan seseorang.

“Saya sudah coba menghubungi kontak walinya Kaldera. Tapi beliau tidak mengangkat telfonnya. Jadi saya menghubungi nomor terakhir yang ada di riwayat panggilan hpnya Kaldera,” ujar petugas kesehaan itu.

“Apakah Bapak walinya Kaldera? Atau mungkin Bapak bisa jelaskan pada saya hubungan Anda dengan Kaldera?”

Beberapa detik setelah itu, Kaldera dapat mendengar jawaban dari orang yang berbicara dengan petugas perempuan itu.

“Perkenalkan Bu, saya Raegantara. Saya adalah walinya Kaldera,” ujar suara berat lelaki itu.

“Baik, Pak. Kalau gitu, saya ingin menyampaikan sebuah hal soal Kaldera. Beberapa kali Kaldera sempat pingsan di sekolah dan hari ini dia mimisan. Saya harap setelah Bapak tau hal ini, Bapak dapat lebih memperhatikan kondisi kesehatan Kaldera.”

***

Siang tadi Raegan mendapat telfon ketika ia sedang berada di kantornya. Telfon itu berasal dari nomor tidak dikenal yang ternyata adalah telfon dari sekolah Kaldera. Raegan akhirnya datang setelah dapat informasi bahwa Kaldera sakit.

Saat ini Raegan dalam perjalanan bersama Kaldera. Raegan sudah mengatakan bahwa ia akan melakukan yang diminta oleh petugas kesehatan di sekolah Kaldera.

“Ayo, kita turun,” ucap Raegan setelah tangannya menarik rem mobilnya. Kaldera masih diam di tempatnya, ia memandang bangunan rumah sakit yang kini berada di hadapannya.

Kaldera mengangguk pelan, ia tidak bisa menolak saat Raegan membawanya untuk berobat ke rumah sakit. Begitu mereka sampai di ruangan dokter dan Kaldera diperiksa, dokter meminta agar Kaldera melakukan tes laboratorium.

Kaldera dan Raegan menunggu hasil lab, mereka duduk bersebelahan di kursi ruang tunggu. Tidak ada yang memulai percakapan, sampai akhirnya Kaldera mengucapkan permintaan maaf pada Raegan.

“Maaf udah ngerepotin kamu,” ucap Kaldera sambil menoleh ke arah Raegan.

“Kenapa kamu nggak angkat telfon dari saya?” Raegan malah mempertanyakan hal lain. Kaldera terlihat sedikit terkejut mendapati pertanyaan Raegan itu.

“Kamu juga mengabaikan chat dari saya,” tambah Raegan lagi.

Kaldera sedikit bersyukur begitu seorang perawat menghampiri mereka. Hasil laboratoriumnya telah keluar, jadi pembicaraannya dengan Raegan terhenti begitu saja. Kaldera jadi bisa menghindari pertanyaan Raegan, soal mengapa ia mengabaikan pesan Raegan saat lelaki itu membahas wasiat yang Zio berikan.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Satu minggu kemudian

Bel pulang sekolah telah berbunyi beberapa saat yang lalu. Di kelas 12 IPS 3, Kaldera masih merapikan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas putihnya. Icha, teman sebangku Kaldera, menatapnya dengan tatapan khawatir. Pasalnya kondisi Kaldera nampak mengkhawatirkan. Sahabatnya itu terlihat murung dan sering melamun.

“Kal, habis ini lo nggak langsung balik, kan?” tanya Icha yang sudah lebih dulu selesai merapikan barang-barangnya.

“Iya, Cha. Gue harus nemuin bu Tata dulu di ruang guru,” jawab Kaldera.

“Gue temenin lo sampe selesai ya? Gimana? Nanti kita pulang bareng aja,” ujar Icha sambil menampakkan senyum kecilnya.

“Nggak papa Cha, gue bisa balik sendiri kok. Lo pulang aja ya,” ujar Kaldera.

Icha mau tidak mau menerima keputusan Kaldera. Mungkin sahabatnya memang sedang membutuhkan ruang untuk sendiri. Kehilangan seseorang yang disayangi memang tidak mudah. Melupakan pun juga membutuhkan waktu. Namun sepertinya, sosok Zio selamanya tidak akan bisa terlupakan oleh Kaldera.

***

Kaldera sedang menjalani hukuman yang diberikan oleh bu Tata, guru mata pelajaran matematika di sekolahnya. Kaldera ketahuan melamun di kelas dan tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan gurunya. Berakhirlah saat ini Kaldera harus menulis rumus mencari Quartil 2 pada 3 lembar kertas folio, sebagai tanda bahwa ia menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Begitu ia teringat akan sesuatu, tangan Kaldera yang sebelumnya menulis tiba-tiba terhenti. Kaldera memang paling lemah di pelajaran matematika. Kala itu, ada seseorang begitu sabar yang rela mengajarinya sampai ia mengerti.

Redanzio.

Kaldera lagi-lagi teringat lelaki itu. Baru satu minggu sejak kepergian Zio, rasanya Kaldera sudah begitu rindu. Rindunya terasa begitu menyakitkan, karena ia tidak dapat bertemu sosok itu lagi untuk selamanya.

Kaldera menghembuskan napasnya panjang, lalu ia memutuskan untuk kembali melanjutkan menulis. Kaldera ingin cepat pulang ke rumah dan pergi tidur, berharap rasa sakitnya dapat reda atau setidaknya ia bisa bertemu dengan Zio meskipun hanya di dalam mimpi.

Berada di sekolah semakin mengingatkannya kepada Zio. Tempat ini telah menyimpan begitu banyak kenangan untuk Kaldera dan Zio. Tempat yang dulu paling suka Kaldera datangi, kini justru berubah menjadi momok baginya.

“Kaldera, apa tugas dari Ibu sudah selesai?” suara bu Tata membuat Kaldera seketika menoleh.

“Sudah saya selesaikan, Bu,” ucap Kaldera sembari menyerahkan kertas di tangannya kepada bu Tata.

Wanita yang merupakan gurunya itu lantas tampak terkejut begitu melihat cairan merah kental mengalir dari hidung Kaldera.

“Kaldera, kamu mimisan, Nak. Ibu antar kamu ke UKS sekarang ya. Yaampun kamu kenapa nggak bilang kalau sakit,” ucap bu Tata dengan nada paniknya.

Kaldera tidak sadar tentang kondisinya sendiri. Apakah benar ia sakit? Namun mengapa tubuhnya seolah sudah kebal hingga tidak dapat lagi merasakan sakit itu?

***

Perlahan-lahan Kaldera mencoba untuk membuka matanya. Tubuhnya terasa kurang bertenaga dan kepalanya sedikit pusing. Begitu menoleh ke sampingnya, Kaldera tidak menemukan siapa pun di ruang UKS sekolahnya itu. Namun samar-samar dari balik bilik pembatas, Kaldera dapat mendengar suara percakapan petugas kesehatan UKS dengan seseorang.

“Saya sudah coba menghubungi kontak walinya Kaldera. Tapi beliau tidak mengangkat telfonnya. Jadi saya menghubungi nomor terakhir yang ada di riwayat panggilan hpnya Kaldera,” ujar petugas kesehaan itu.

“Apakah Bapak walinya Kaldera? Atau mungkin Bapak bisa jelaskan pada saya hubungan Anda dengan Kaldera?”

Beberapa detik setelah itu, Kaldera dapat mendengar jawaban dari orang yang berbicara dengan petugas perempuan itu.

“Perkenalkan Bu, saya Raegantara. Saya adalah walinya Kaldera,” ujar suara berat lelaki itu.

“Baik, Pak. Kalau gitu, saya ingin menyampaikan sebuah hal soal Kaldera. Beberapa kali Kaldera sempat pingsan di sekolah dan hari ini dia mimisan. Saya harap setelah Bapak tau hal ini, Bapak dapat lebih memperhatikan kondisi kesehatan Kaldera.”

***

Siang tadi Raegan mendapat telfon ketika ia sedang berada di kantornya. Telfon itu berasal dari nomor tidak dikenal yang ternyata adalah telfon dari sekolah Kaldera. Raegan akhirnya datang setelah dapat informasi bahwa Kaldera sakit.

Saat ini Raegan dalam perjalanan bersama Kaldera. Raegan sudah mengatakan bahwa ia akan melakukan yang diminta oleh petugas kesehatan di sekolah Kaldera.

“Ayo, kita turun,” ucap Raegan setelah tangannya menarik rem mobilnya. Kaldera masih diam di tempatnya, ia memandang bangunan rumah sakit yang kini berada di hadapannya.

Kaldera mengangguk pelan, ia tidak bisa menolak saat Raegan membawanya untuk berobat ke rumah sakit. Begitu mereka sampai di ruangan dokter dan Kaldera diperiksa, dokter meminta agar Kaldera melakukan tes laboratorium.

Kaldera dan Raegan menunggu hasil lab, mereka duduk bersebelahan di kursi ruang tunggu. Tidak ada yang memulai percakapan, sampai akhirnya Kaldera mengucapkan permintaan maaf pada Raegan.

“Maaf udah ngerepotin kamu,” ucap Kaldera sambil menoleh ke arah Raegan.

“Kenapa kamu nggak angkat telfon dari saya?” Raegan malah mempertanyakan hal lain. Kaldera terlihat sedikit terkejut mendapati pertanyaan Raegan itu.

“Kamu juga mengabaikan chat dari saya,” tambah Raegan lagi.

Kaldera sedikit bersyukur begitu seorang perawat menghampiri mereka. Hasil laboratoriumnya telah keluar, jadi pembicaraannya dengan Raegan terhenti begitu saja. Kaldera jadi bisa menghindari pertanyaan Raegan, soal mengapa ia mengabaikan pesan Raegan saat lelaki itu membahas wasiat yang Zio berikan.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Kaldera menatap pintu ruang UGD yang beberapa detik lalu baru saja ditutup. Sepanjang perjalanan sampai tiba di rumah sakit, Kaldera tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Pikirannya sungguh kalut, ia hanya dapat memikirkan kondisi Zio.

Kafka yang melihat hancurnya Kaldera ikut merasa terpukul. Saat lelaki itu hendak menghampiri kekasih sahabatnya, Kaldera rupanya sudah lebih dulu mendongak dan menatapnya. Kilatan mata Kaldera memancarkan kekecewaan dan emosi yang begitu mendalam.

Detik berikutnya, Kaldera mengalihkan tatapannya kepada Aksa yang berada tidak jauh darinya. Dengan langkah lebarnya, Kaldera lantas menghampiri Aksa.

Kaldera yang tidak dapat berpikir jernih, menyalahkan Aksa atas apa yang terjadi dengan Zio. Aksa juga merasa bersalah, ia tidak menduga kejadiaannya berakhir seperti ini.

“Kal, maafin gue ... ” ucap Aksa dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Kaldera menatap Aksa dengan matanya yang kini memerah. “Kalau sampai Zio kenapa-napa, kata maaf lo nggak ada artinya Sa,” ucap Kaldera, air matanya luruh lagi membasahi pipinya.

Tidak lama berselang setelah Kaldera kembali ke kursinya, ia mendapati kedatangan dua orang yang penting di hidup Zio. Tante Indri dan mas Raegan, mama dan kakaknya Zio, mereka ada di sana.

Sosok pria jangkung berparas tegas itu berbicara pada salah satu perawat yang tadi membawa Zio ke ruang UGD. Perawat itu menjelaskan pada Raegan soal apa yang terjadi dengan Zio. Kaldera masih berdiri di tempatnya, menyaksikan tante Indri berderai air mata dan beliau terlihat menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.

Begitu perawat itu hadir di tengah-tengah mereka, Indri dan Raegan segera berdiri dari posisi duduknya untuk mengetahui kondisi Zio saat ini.

“Kondisi pasien sempat membaik beberapa saat lalu, tapi kini kondisinya kembali memburuk. Pasien meminta untuk bertemu dua orang,” ujar perawat dengan jubah kesehatan berwarna hijau itu.

Setelah itu semua yang ada di sana saling melempar pandangan. “Untuk saudara Kaldera dan Raegantara, silakan ikut saya ke dalam,” ujar perawat itu sambil menatap memindai satu-persatu orang yang ada di sana.

***

Ini pertama kalinya Kaldera melihat sosok itu. Raegantara Rahagi Gumilar, seorang kakak yang selama ini kerap Zio ceritakan padanya. Kini di ruang UGD itu, Kaldera berada di sisi kanan ranjang Zio, sementara Raegan berada di sisi kirinya.

Zio memejamkan matanya sesaat, sebelum akhirnya membuka lagi. Zio menatap Kaldera, pandangannya nampak sendu, tapi lelaki itu mencoba untuk mengulaskan senyum tipisnya. “Kal,” ucap Zio, ia mengarahkan tangannya untuk mengusap sisa air mata di pipi Kaldera.

Berikutnya Zio mengalihkan tatapannya pada Raegan, dengan nada pelan, Zio berujar, “Mas, gue punya satu permohonan sama lo. Kalau nanti gue nggak bisa bertahan, gue minta tolong sama lo buat jagain Kaldera. Gue cuma percaya sama lo,” ucap Zio dengan susah payah, hembusan napasnya terdengar berat dan melemah.

Raegan tidak merespon ucapan adiknya itu. Baginya kalimat Zio hanyalah sebuah lelucon. Adiknya bisa bertahan, dan Raegan mempercayai itu.

Detik berikutnya yang terjadi adalah Zio meraih tangan Kaldera, ia meminta Raegan menggenggam tangan kekasihnya. “Mas, dia berarti banget buat gue. Gue titip dia sama lo ya,” ujar Zio.

Atas kalimat Zio itu, Kaldera menatapnya tidak percaya. Kaldera menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin mempercayai itu. Zio bisa bertahan, tidak mungkin Zio akan pergi meninggalkannya.

“Zio, kamu ngomong apa. Kamu bisa bertahan,” ucap Kaldera.

Seolah-olah ucapan Kaldera hanya angin lalu, Zio melanjutkan perkataannya. Ia mengatakan bahwa ini adalah wasiat terakhirnya sebelum ia pergi. Zio mempunyai firasat bahwa ia tidak akan bisa bertahan. Rasanya terlalu sakit, ia ingin tetap di sini, tapi seolah takdir tidak mengizinkannya.

“Mas Raegan, gue ngasih lo dua pilihan,” ucap Zio lagi.

“Lo nggak perlu wasiat itu, Zio. Lo bisa bertahan. Gue panggil dokter dulu—” ucapan Raegan itu terhenti berkat Zio yang segera menahan lengannya.

Zio mengatakan ia ingin menjadikan Kaldera bagian dari keluarganya. Zio tidak dapat memikirkan apa pun saat ini, meski keluarganya rumit, tapi ia yakin Raegan bisa menjaga Kaldera dengan baik. Wasiat Zio itu berisi dua pilihan. Pilihan yang pertama adalah Zio ingin keluarganya mengangkat Kaldera menjadi anak, yang mana artinya Kaldera akan menjadi adik bagi Raegan dan anak kedua bagi Indri. Sementara pilihan yang kedua, menjadikan Kaldera menantu keluarga Gumilar. Untuk pilihan kedua itu, Zio meminta Raegan mencoba mencintai Kaldera dan menikahi kekasih adik kandungnya sendiri.

***

Kaldera menyapukan pandangannya ke penjuru rumah megah bernuansa putih ini. Di ruang tamu itu, terdapat satu figura berukuran besar. Di sana Kaldera dapat melihat potret sebuah keluarga kecil yang nampak begitu bahagia. Keluarga yang lengkap, sebuah keinginan yang terasa sederhana, tapi Zio tidak lagi memilikinya.

Di rumah besar ini, pantas saja Zio merasa kesepian. Kaldera tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya. Saat ini pasti Zio lebih merasa kesepian. Sama seperti dirinya tanpa lelaki itu, Kaldera terlihat kosong dan tidak mempedulikan orang-orang yang berlalu lalang. Ketika mereka mengucapkan belasungkawa padanya, Kaldera hanya menoleh dan menatap dengan pandangan tanpa arti.

Saat satu persatu pelayat mulai bergerak meninggalkan rumah duka untuk pergi ke pemakaman. Namun Kaldera masih duduk di salah satu kursi di halaman rumah itu. Sebuah mobil ambulans baru saja membawa kekasih hatinya pergi, hatinya begitu sakit dan terasa seperti diremas dengan kuat.

“Kal,” ucap seseorang yang suaranya terasa fameliar. Atas panggilan itu, Kaldera menoleh. Kaldera mendapati Risa, salah satu mantan pacar Zio yang Kaldera kenal dengan baik.

Seketika tangis Kaldera pecah lagi. Ia tidak dapat membendungnya dan saat itu juga Risa meraih Kaldera ke dalam pelukannya. Risa berusaha memberi kekuatan pada Kaldera, meskipun ia tahu mungkin itu tidak terlalu berarti besar untuk gadis itu.

“Kal, Zio beruntung banget punya lo. Lo tau, lo selamanya akan selalu ada di hati dia,” tutur Risa sembari mengusapkan tangannya di punggung Kaldera.

***

Di sore yang cukup cerah itu, Kaldera berjalan bersisian dengan Indri. Mama dari kekasihnya itu memeluk lengannya, mereka sama-sama coba menguatkan meskipun tidak tahu sampai mana usaha itu akan berhasil.

Setelah melewati lapangan golf yang luas dan hijau, mereka pun sampai di area pemakaman. Sebenarnya pemakaman ini memiliki dua jalan untuk sampai ke sana, tapi Indri mengatakan pada Kaldera bahwa ia ingin melewati lapangan golf. Indri ingin mempersiapkan hatinya dan menenangkan pikirannya, sebelum mengantar Zio pergi untuk selama-lamanya.

Raegan berjalan di belakang Indri dan Kaldera. Dari luar mungkin ia terlihat seperti sosok yang paling kuat menghadapi kepergian adiknya. Namun tidak ada yang tahu bahwa Raegan tengah mati-matian menahan kehancurannya. Kalau ia hancur, maka mamanya akan bersandar pada siapa lagi? Raegan tidak boleh terlihat lemah, ia menanamkan itu di dalam pikirannya.

Pemakaman pun berjalan sebagaimana mestinya. Tanah coklat itu perlahan-lahan mulai mengubur sosok yang menjadi cinta bagi semua yang mengantar kepergiannya sore ini. Semua yang ada hanya akan menjadi kenangan di dalam hati. Begitu tanah telah sempurna tertutup dan sebuah nisan marmer hitam dipasang, Raegan mendapati kehadiran papanya di sana.

Kaldera yang berada di samping Raegan, melihat lelaki itu melangkah menuju seorang pria berusia 50 tahunan. Kaldera menebak bahwa sosok yang dihampiri Raegan itu adalah papanya Zio.

“Kaldera, kita tabur bunganya bareng ya Sayang,” ucap Indri yang seketika mengalihkan perhatian Kaldera.

Kaldera mengangguk pelan. Kemudian ia mengambil bunga di keranjang dan menaburkannya di atas pusara Zio, diikuti oleh Indri yang melakukan hal yang sama dengannya.

Kaldera mengusap sekilas batu nisan itu. Ia berusaha menahan air matanya, tapi air bening itu mengalir lagi untuk yang kesekian kalinya. Beberapa saat kemudian, setelah memanjatkan doa, para pelayat satu persatu mulai berhamburan untuk pulang. Langit di sana tampak menggelap, Kaldera mendongak menatap awan yang sudah berubah menghitam itu.

“Indri, maaf saya datangnya telat,” ucap sebuah suara yang lantas menginterupsi Indri dan Kaldera.

Indri menoleh pada sosok itu, ia bangkit dari posisi berlututnya di samping makam Zio.

“Makasih kamu sudah datang,” Indri hanya mengucapkan itu sembari tersenyum getir.

Kaldera menyaksikan itu dengan mata kepalanya. Saat Satrio, papanya Zio, mengucapkan kata maafnya pada Raegan dan Indri, Raegan terang-terangan bersikap dingin dan seperti enggan menanggapi papanya.

Akhirnya untuk yang pertama kali, Kaldera bertemu dengan seluruh anggota keluarga Zio. Papanya Zio ada di sana, beliau datang bersama beberapa ajudannya. Seperti yang Zio sering ceritakan padanya, papanya adalah pejabat negara yang cukup sibuk dengan pekerjaannya. Zio selalu mencoba mengerti kala papanya tidak dapat hadir di hari pentingnya, saat olimpiade olahraga basketnya, ataupun saat hari kelulusan SMP nya.

Dari sekian banyak tempat di dunia ini, Kaldera mempertanyakan, mengapa harus di sini orang-orang yang Zio cintai akhirnya berkumpul? Mengapa mereka berkumpul atas alasan yang sama sekali tidak pernah diharapkan?

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Kaldera menatap pintu ruang UGD yang beberapa detik lalu baru saja ditutup. Sepanjang perjalanan sampai tiba di rumah sakit, Kaldera tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Pikirannya sungguh kalut, ia hanya dapat memikirkan kondisi Zio.

Kafka yang melihat hancurnya Kaldera ikut merasa terpukul. Saat lelaki itu hendak menghampiri kekasih sahabatnya, Kaldera rupanya sudah lebih dulu mendongak dan menatapnya. Kilatan mata Kaldera memancarkan kekecewaan dan emosi yang begitu mendalam.

Detik berikutnya, Kaldera mengalihkan tatapannya kepada Aksa yang berada tidak jauh darinya. Dengan langkah lebarnya, Kaldera lantas menghampiri Aksa.

Kaldera yang tidak dapat berpikir jernih, menyalahkan Aksa atas apa yang terjadi dengan Zio. Aksa juga merasa bersalah, ia tidak menduga kejadiaannya berakhir seperti ini.

“Kal, maafin gue ... ” ucap Aksa dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Kaldera menatap Aksa dengan matanya yang kini memerah. “Kalau sampai Zio kenapa-napa, kata maaf lo nggak ada artinya Sa,” ucap Kaldera, air matanya luruh lagi membasahi pipinya.

Tidak lama berselang setelah Kaldera kembali ke kursinya, ia mendapati kedatangan dua orang yang penting di hidup Zio. Tante Indri dan mas Raegan, mama dan kakaknya Zio, mereka ada di sana.

Sosok pria jangkung berparas tegas itu berbicara pada salah satu perawat yang tadi membawa Zio ke ruang UGD. Perawat itu menjelaskan pada Raegan soal apa yang terjadi dengan Zio. Kaldera masih berdiri di tempatnya, menyaksikan tante Indri berderai air mata dan beliau terlihat menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.

Begitu perawat itu hadir di tengah-tengah mereka, Indri dan Raegan segera berdiri dari posisi duduknya untuk mengetahui kondisi Zio saat ini.

“Kondisi pasien sempat membaik beberapa saat lalu, tapi kini kondisinya kembali memburuk. Pasien meminta untuk bertemu dua orang,” ujar perawat dengan jubah kesehatan berwarna hijau itu.

Setelah itu semua yang ada di sana saling melempar pandangan. “Untuk saudara Kaldera dan Raegantara, silakan ikut saya ke dalam,” ujar perawat itu sambil menatap memindai satu-persatu orang yang ada di sana.

***

Ini pertama kalinya Kaldera melihat sosok itu. Raegantara Rahagi Gumilar, seorang kakak yang selama ini kerap Zio ceritakan padanya. Kini di ruang UGD itu, Kaldera berada di sisi kanan ranjang Zio, sementara Raegan berada di sisi kirinya.

Zio memejamkan matanya sesaat, sebelum akhirnya membuka lagi. Zio menatap Kaldera, pandangannya nampak sendu, tapi lelaki itu mencoba untuk mengulaskan senyum tipisnya. “Kal,” ucap Zio, ia mengarahkan tangannya untuk mengusap sisa air mata di pipi Kaldera.

Berikutnya Zio mengalihkan tatapannya pada Raegan, dengan nada pelan, Zio berujar, “Mas, gue punya satu permohonan sama lo. Kalau nanti gue nggak bisa bertahan, gue minta tolong sama lo buat jagain Kaldera. Gue cuma percaya sama lo,” ucap Zio dengan susah payah, hembusan napasnya terdengar berat dan melemah.

Raegan tidak merespon ucapan adiknya itu. Baginya kalimat Zio hanyalah sebuah lelucon. Adiknya bisa bertahan, dan Raegan mempercayai itu.

Detik berikutnya yang terjadi adalah Zio meraih tangan Kaldera, ia meminta Raegan menggenggam tangan kekasihnya. “Mas, dia berarti banget buat gue. Gue titip dia sama lo ya,” ujar Zio.

Atas kalimat Zio itu, Kaldera menatapnya tidak percaya. Kaldera menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin mempercayai itu. Zio bisa bertahan, tidak mungkin Zio akan pergi meninggalkannya.

“Zio, kamu ngomong apa. Kamu bisa bertahan,” ucap Kaldera.

Seolah-olah ucapan Kaldera hanya angin lalu, Zio melanjutkan perkataannya. Ia mengatakan bahwa ini adalah wasiat terakhirnya sebelum ia pergi. Zio mempunyai firasat bahwa ia tidak akan bisa bertahan. Rasanya terlalu sakit, ia ingin tetap di sini, tapi seolah takdir tidak mengizinkannya.

“Mas Raegan, gue ngasih lo dua pilihan,” ucap Zio lagi.

“Lo nggak perlu wasiat itu, Zio. Lo bisa bertahan. Gue panggil dokter dulu—” ucapan Raegan itu terhenti berkat Zio yang segera menahan lengannya.

Zio mengatakan ia ingin menjadikan Kaldera bagian dari keluarganya. Zio tidak dapat memikirkan apa pun saat ini, meski keluarganya rumit, tapi ia yakin Raegan bisa menjaga Kaldera dengan baik. Wasiat Zio itu berisi dua pilihan. Pilihan yang pertama adalah Zio ingin keluarganya mengangkat Kaldera menjadi anak, yang mana artinya Kaldera akan menjadi adik bagi Raegan dan anak kedua bagi Indri. Sementara pilihan yang kedua, menjadikan Kaldera menantu keluarga Gumilar. Untuk pilihan kedua itu, Zio meminta Raegan mencoba mencintai Kaldera dan menikahi kekasih adik kandungnya sendiri.

***

Kaldera menyapukan pandangannya ke penjuru rumah megah bernuansa putih ini. Di ruang tamu itu, terdapat satu figura berukuran besar. Di sana Kaldera dapat melihat potret sebuah keluarga kecil yang nampak begitu bahagia. Keluarga yang lengkap, sebuah keinginan yang terasa sederhana, tapi Zio tidak lagi memilikinya.

Di rumah besar ini, pantas saja Zio merasa kesepian. Kaldera tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya. Saat ini pasti Zio lebih merasa kesepian. Sama seperti dirinya tanpa lelaki itu, Kaldera terlihat kosong dan tidak mempedulikan orang-orang yang berlalu lalang. Ketika mereka mengucapkan belasungkawa padanya, Kaldera hanya menoleh dan menatap dengan pandangan tanpa arti.

Saat satu persatu pelayat mulai bergerak meninggalkan rumah duka untuk pergi ke pemakaman. Namun Kaldera masih duduk di salah satu kursi di halaman rumah itu. Sebuah mobil ambulans baru saja membawa kekasih hatinya pergi, hatinya begitu sakit dan terasa seperti diremas dengan kuat.

“Kal,” ucap seseorang yang suaranya terasa fameliar. Atas panggilan itu, Kaldera menoleh. Kaldera mendapati Risa, salah satu mantan pacar Zio yang Kaldera kenal dengan baik.

Seketika tangis Kaldera pecah lagi. Ia tidak dapat membendungnya dan saat itu juga Risa meraih Kaldera ke dalam pelukannya. Risa berusaha memberi kekuatan pada Kaldera, meskipun ia tahu mungkin itu tidak terlalu berarti besar untuk gadis itu.

“Kal, Zio beruntung banget punya lo. Lo tau, lo selamanya akan selalu ada di hati dia,” tutur Risa sembari mengusapkan tangannya di punggung Kaldera.

***

Di sore yang cukup cerah itu, Kaldera berjalan bersisian dengan Indri. Mama dari kekasihnya itu memeluk lengannya, mereka sama-sama coba menguatkan meskipun tidak tahu sampai mana usaha itu akan berhasil.

Setelah melewati lapangan golf yang luas dan hijau, mereka pun sampai di area pemakaman. Sebenarnya pemakaman ini memiliki dua jalan untuk sampai ke sana, tapi Indri mengatakan pada Kaldera bahwa ia ingin melewati lapangan golf. Indri ingin mempersiapkan hatinya dan menenangkan pikirannya, sebelum mengantar Zio pergi untuk selama-lamanya.

Raegan berjalan di belakang Indri dan Kaldera. Dari luar mungkin ia terlihat seperti sosok yang paling kuat menghadapi kepergian adiknya. Namun tidak ada yang tahu bahwa Raegan tengah mati-matian menahan kehancurannya. Kalau ia hancur, maka mamanya akan bersandar pada siapa lagi? Raegan tidak boleh terlihat lemah, ia menanamkan itu di dalam pikirannya.

Pemakaman pun berjalan sebagaimana mestinya. Tanah coklat itu perlahan-lahan mulai mengubur sosok yang menjadi cinta bagi semua yang mengantar kepergiannya sore ini. Semua yang ada hanya akan menjadi kenangan di dalam hati. Begitu tanah telah sempurna tertutup dan sebuah nisan marmer hitam dipasang, Raegan mendapati kehadiran papanya di sana.

Kaldera yang berada di samping Raegan, melihat lelaki itu melangkah menuju seorang pria berusia 50 tahunan. Kaldera menebak bahwa sosok yang dihampiri Raegan itu adalah papanya Zio.

“Kaldera, kita tabur bunganya bareng ya Sayang,” ucap Indri yang seketika mengalihkan perhatian Kaldera.

Kaldera mengangguk pelan. Kemudian ia mengambil bunga di keranjang dan menaburkannya di atas pusara Zio, diikuti oleh Indri yang melakukan hal yang sama dengannya.

Kaldera mengusap sekilas batu nisan itu. Ia berusaha menahan air matanya, tapi air bening itu mengalir lagi untuk yang kesekian kalinya. Beberapa saat kemudian, setelah memanjatkan doa, para pelayat satu persatu mulai berhamburan untuk pulang. Langit di sana tampak menggelap, Kaldera mendongak menatap awan yang sudah berubah menghitam itu.

“Indri, maaf saya datangnya telat,” ucap sebuah suara yang lantas menginterupsi Indri dan Kaldera.

Indri menoleh pada sosok itu, ia bangkit dari posisi berlututnya di samping makam Zio.

“Makasih kamu sudah datang,” Indri hanya mengucapkan itu sembari tersenyum getir.

Kaldera menyaksikan itu dengan mata kepalanya. Saat Satrio, papanya Zio, mengucapkan kata maafnya pada Raegan dan Indri, Raegan terang-terangan bersikap dingin dan seperti enggan menanggapi papanya.

Akhirnya untuk yang pertama kali, Kaldera bertemu dengan seluruh anggota keluarga Zio. Papanya Zio ada di sana, beliau datang bersama beberapa ajudannya. Seperti yang Zio sering ceritakan padanya, papanya adalah pejabat negara yang cukup sibuk dengan pekerjaannya. Zio selalu mencoba mengerti kala papanya tidak dapat hadir di hari pentingnya, saat olimpiade olahraga basketnya, ataupun saat hari kelulusan SMP nya.

Dari sekian banyak tempat di dunia ini, Kaldera mempertanyakan, mengapa harus di sini orang-orang yang Zio cintai akhirnya berkumpul? Mengapa mereka berkumpul atas alasan yang sama sekali tidak pernah diharapkan untuk terjadi?

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Malam ini di sebuah kafe tempat biasa Aksa berkumpul dengan teman-temannya, ketidakhadiran lelaki itu di sana segera mengundang tanya dari para temannya. Termasuk Redanzio, salah satu sahabat Aksa yang cukup dekat dengannya.

“Zio, lo tau kenapa Aksa nggak bisa dateng malem ini?” tanya Aldi kepada Zio.

“Aksa nggak ngasih tau gue kenapa dia nggak bisa dateng malem ini,” jawab Zio apa adanya.

Gilang, salah satu temannya menghampiri Zio dan duduk di sampingnya. “Kemaren gue nggak sengaja denger pembicaraan Aksa di telfon. Katanya malam ini dia mau dateng ke suatu tempat untuk urusan kerjaannya.”

“Tuh anak belakangan ini aneh banget, deh. Dia sama sekali nggak cerita soal kerjaan freelance-nya. Nggak biasanya dia kayak gitu,” celetuk Karel sembari menyalakan pemantik untuk rokoknya. Karel menceritakan apa yang ia ketahui. 2 bulan yang lalu, Aksa memang menerima tawaran pekerjaan freelancer di bidang IT. Aksa dikenalkan pada seseorang yang akan menggunakan jasanya, oleh senior yang merupakan alumni sekolahnya.

Aksa menerima pekerjaan tersebut tanpa memikirkannya lebih jauh. Lelaki itu membutuhkan uang, saat bisnis keluarganya sedang mengalami masa sulit, dan sebagai anak lelaki pertama, Aksa ingin bisa membantu ekonomi keluarganya itu.

Setelah percakapan tentang Aksa itu, ponsel Zio yang berdering membuatnya berpamitan untuk mengangkat panggilan itu. Zio menjauh dari teman-temannya dan rupanya telfon itu dari Kafka, sepupunya Aksa.

Zio mendengarkan perkataan Kafka dengan seksama. Kedua netranya seketika membola mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Aksa. Rupanya sikap aneh Aksa yang tidak ingin terbuka pada teman-temannya memiliki sebuah alasan.

“Aksa nge-share location ke gue. Gue nggak tau maksudnya apa, tapi firasat gue nggak enak. Gue mau ke sana,” ujar Kafka di telfon.

“Kafka,” ucap Zio yang menahan Kafka yang hendak menutup telfonnya.

“Kaf, share lokasinya ke gue juga,” sambung Zio.

“Jangan bilang lo mau ke sana juga? Aksa kayaknya belum cerita ke lo soal pekerjaannya. Zio, tapi ini bahaya. Atasannya Aksa ternyata bukan orang sembarangan. Kalau lo mau ke sana, lo nggak bisa bawa banyak orang.”

***

Malam ini Kaldera tidak bisa tidur setelah mendapat pesan dari Zio. Kekasihnya itu mengatakan kalau ia berniat pergi ke suatu tempat untuk menolong sahabatnya, yakni Aksa.

Zio hanya mengirimkan sebuah kalimat dan meyakinkan Kaldera kalau semuanya akan baik-baik saja. Namun entah mengapa, dera tidak dapat berpikiran jernih saat ini. Kaldera khawatir dan sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Ini jam 10 malam dan Kaldera tidak tahu apa yang akan Zio lakukan di luar sana.

Tanpa berpikir panjang, Kaldera mengambil cardigan-nya, handphone, serta dompetnya. Ponsel Zio tidak aktif sehingga Kaldera tidak bisa menghubunginya untuk mengetahui keberadaan lelaki itu.

Kaldera masih memiliki satu harapan yang dapat membuatnya mengetahui lokasi tujuan Zio. Kafka, sepupu Aksa yang juga sahabat Zio pasti tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Setelah mendapat telfon dari Kaldera, Kafka memberikan alamat itu. Kafka pun berada di dalam situasi yang sulit. Ia adalah orang yang telah membuat Zio berkeinginan datang membantu Aksa. Meskipun Kafka tahu Zio tidak akan suka jika Kaldera terlibat, tapi di satu sisi, Kafka juga tidak tega mendengar permohonan Kaldera kepadanya.

***

Kaldera berusaha memantapkan hatinya ketika melangkah memasuki bangunan itu. Ia kembali mengecek apakah benar ini lokasinya, berharap ia salah tujuan. Namun rupanya tidak. Lokasi ini sesuai dengan yang diberitahu oleh Kafka.

Bangunan yang dulunya merupakan ruko-ruko bertingkat yang menjual berbagai busana di tengah kota ini, telah lama berubah menjadi tempat yang diasingkan dan tidak lagi terawat.

Kaldera melangkahkan kakinya semakin dalam, ia menelusuri bangunan itu di mulai dari lantai satu hingga saat ini kakinya sudah sampai di lantai 3. Cahaya yang minim di tempat itu, membuat Kaldera kesulitan menemukan keberadaan Zio. Kaldera ingin meminta bantuan, tapi ia tidak tahu kepada siapa harus memintanya. Satu-satunya yang mungkin dapat membantunya adalah keluarga Zio. Namun bukannya memperbaiki keadaan, sepertinya itu malah akan menambah masalah dengan membuat keluarga kekasihnya khawatir.

Saat Kaldera sampai di lantai 4 bangunan itu, beberapa meter dari tempatnya, ia dapat melihat sosok yang dikenalnya. Di sana ada Zio dan Aksa. Namun yang membuat Kaldera terkejut adalah kehadiran seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam. Wajahnya tidak begitu jelas dari jangkauan mata Kaldera, tapi yang jelas pria itu membawa sebuah senjata tajam di satu tangannya.

Kaldera berusaha tidak menimbulkan suara, meskipun ia terkejut bukan main. Kaldera ingin sekali berlari ke sana dan menarik Zio dari bahaya yang ada di depan matanya itu, tapi Kaldera tahu ia tidak dapat melakukannya. Di tengah pikiran kalutnya itu, Kaldera memutuskan untuk bersembunyi di antara etalase-etalase dan manekin pakaian yang cukup untuk menutupi keberadaannya di sana.

Dari tempat persembunyiannya, Kaldera dapat melihat kalau Aksa tengah berbicara dengan pria yang membawa senjata itu. Entah apa yang mereka bicarakan, sepertinya itu berhubungan dengan pekerjaan freelance yang dilakukan oleh Aksa.

Begitu Kaldera melihat pria itu melepaskan pelindung kulit dari pisau di tangannya, entah apa yang ada di pikirannya, Kaldera mengaktifkan kamera di ponselnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Kaldera memotret saat pria itu hampir saja mengarahkan senjatanya kepada Aksa. Namun yang membuat Kaldera hampir saja menjatuhkan ponselnya, adalah ketika Zio berusaha mencegah pria itu dan berakhir justru Zio yang tertusuk. Benda tajam itu tertancap tepat di bagian perutnya. Kaldera menyaksikan itu semua dan ingin lari ke sana, tapi Kaldera tahu ia tidak bisa melakukannya saat ini. Maka air matanya meluruh begitu saja membasahi pipinya.

Kaldera merasakan dadanya sesak tidak karuan, ia jelas-jelas menyaksikan di depan matanya seseorang yang dicintainya telah disakiti.

Segera setelah Zio jatuh ke lantai sambil memegangi area bawah perutnya, pria asing itu pergi dari sana. Usai kepergian orang itu, Kaldera tidak menunda lagi untuk keluar dari tempat persembunyiannya.

Begitu melihat Kaldera di sana, Zio dan Aksa terlihat terkejut. Kaldera menahan air matanya untuk meluncur lebih banyak, ia luluh lantak di samping Zio. Kedua lutut Kaldera berusaha menumpu tubuhnya yang rasanya lunglai.

“Zio ... ” hanya itu yang terucap dari bibir Kaldera.

Kaldera mendekat pada Zio, membiarkan Zio memeluk tubuhnya untuk mencari kekuatan di sana. Kaldera tidak dapat mengucapkan apapun, tiba-tiba semua rasa takut menyerangnya secara bertubi-tubi.

“Kal, makasih kamu pernah hadir di hidup aku. Aku sayang kamu Kal,” ucap Zio, lalu ia mengurai pelukannya dari tubuh Kaldera. Kedua iris legam Zio memandang Kaldera dengan tatapan penuh sayangnya.

“Kal, you are everything that I'm dreamed of. Walau nanti tanpa aku, kamu harus janji kamu akan selalu bahagia. Janji sama aku, yaa?”

Kata-kata Zio itu terus terngiang di benak Kaldera. Namun sampai saat Kafa datang bersama ambulans yang tadi sempat Kaldera hubungi, Kaldera belum bisa mengiyakan janji yang Zio pinta kepadanya.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Hari ini Zio mengajak Kaldera untuk bertemu dengan keluarganya. Zio ingin mengenalkan Kaldera sebagai kekasihnya, dan itu merupakan rencana pertemuan yang kedua, setelah rencana pertama waktu itu tidak terlaksana sebagaimana mestinya.

“Kal, aku telfon mama dulu ya. Harusnya sih udah sampe, tapi kayaknya mama kejebak macet,” ucap Zio. Kaldera pun mempersilakan Zio untuk menghubungi mamanya.

Zio menjauh dari Kaldera beberapa langkah. Kaldera tetap di tempatnya, tapi matanya tidak bisa lepas menatap punggung tegap Zio di sana. Ada pancaran kekhawatiran dari tatapan Kaldera. Jika kejadian gagal bertemu itu terulang lagi hari ini, Kaldera tidak mempersalahkannya sama sekali. Ini bukan tentang dirinya, tapi tentang Zio. Kaldera khawatir Zio kecewa lagi dan jadi merasa bersalah terhadapnya.

Sekitar 5 menit kemudian, Zio kembali ke meja mereka. Lelaki itu nampak menorehkan senyum tipisnya. “Kal, barusan mama ngabarin kalau beliau mendadak nggak bisa dateng. Aku juga udah hubungin kakakku, tapi dia nggak angkat telfonnya. Kayaknya mereka nggak bisa dateng hari ini,” jelas Zio.

Dari tatapannya, Zio terlihat kecewa dan merasa bersalah. “Kal, maaf ya. Aku udah buat kamu nunggu, tapi malah nggak jadi ngenalin kamu ke keluargaku,” ucap Zio.

It's oke, Zio. Aku yakin, akan ada waktu yang tepat untuk aku ketemu keluarga kamu. Masih banyak waktu, kan?” ujar Kaldera sembari mengulaskan senyum lembutnya. Kaldera mengatakan pada Zio bahwa ini bukan masalah besar dan Zio tidak perlu merasa bersalah terhadapnya. Toh jika tidak sekarang, Kaldera yakin akan ada saatnya ia dapat mengenal keluarga Zio.

Kaldera lantas meraih satu tangan Zio, ia menggenggamnya ringan. Zio seketika menoleh, ia menatap tangan besarnya yang digenggam oleh tangan kecil Kaldera.

Begitu Kaldera tersenyum padanya seperti saat ini, rasanya seperti ada seberkas cahaya yang menerangi dunia Zio yang gelap. Zio dapat merasa lebih baik dengan keberadaan Kaldera di sisinya dan mengetahui bahwa ia memiliki seseorang untuk dijadikan tempat pulang.

***

Kaldera dan Zio sudah menjalin hubungan selama kurang lebih satu tahun. Mereka adalah dua remaja yang dipertemukan dan kemudian saling jatuh cinta secara bertahap.

Kaldera mengisi hidup Zio yang terasa gelap dan hampa, terlebih sejak kedua orang tua Zio bercerai. Sama seperti yang Kaldera lakukan, Zio juga mewarnai hari-hari Kaldera. Lelaki itu hadir seperti pelangi di hidupnya. Zio pun ingin sekali mengenalkan Kaldera kepada keluarganya. Namun situasinya berbeda, Kaldera tidak ingin Zio mengenal keluarganya. Kaldera mengetahui betul sifat dan karakter tantenya itu. Latar belakang keluarga Zio yang berkecukupan, berbeda dengan Kaldera, membuat tantenya kerap kali penasaran soal kekasihnya dan berpikiran yang macam-macam.

Pikiran monolog Kaldera seketika terhenti begitu ninja sport hitam Zio berhenti tepat di depan gang menuju rumahnya. Kaldera segera turun dari motor Zio, ia melepas helmnya dan memberikannya pada Zio.

“Makasih yaa untuk malam ini. Aku kenyang terus kalau jalan sama kamu,” ujar Kaldera diiringi cengiran kecilnya.

Zio nampak mengulaskan senyumnya sekilas, lalu tangannya terangkat untuk merapikan sedikit rambut Kaldera yang berantakan.

“Lain kali boleh nggak aku anter kamu sampe depan rumah?” tanya Zio. Lelaki itu masih di sana, belum berniat menyalakan mesin motornya dan pergi begitu saja.

“Sampe sini aja nggak papa, Zio. Biar kamunya nggak kejauhan,” ujar Kaldera.

“Emang kenapa nggak boleh aku anter kamu? Aku kan pacar kamu. Aku harus mastiin kamu aman sampe rumah.”

“Iya, boleh. Tapi kapan-kapan aja, oke?”

Zio akhirnya menganggukinya. Lelaki itu menatap Kaldera sesaat, kebiasaan yang ia lakukan sebelum mereka berpisah setelah bertemu.

“Kamu hati-hati di jalan, bawa motornya jangan ngebut,” peringat Kaldera.

“Iya, Kal. Yaudah aku pulang dulu ya,” ucap Zio.

Kaldera mengangguk sekilas. “Kalau kamu udah sampe rumah kabarin aku,” pesan Kaldera.

Zio tersenyum, lalu mengacungkan dua ibu jarinya sekaligus. Saat Zio membuka kaca helm full face-nya dan siap menjalankan motornya, Kaldera melambaikan tangannya diiringi senyum semringahnya.

Kaldera masih di sana saat Zio sudah pergi dan tidak lagi terlihat. Sejujurnya Kaldera hanya tidak ingin Zio sampai bertemu dengan tantenya. Ini hari Sabtu dan tantenya libur bekerja, jadi kemungkinan beliau ada di rumah. Entah sampai kapan Kaldera akan melakukannya. Ia tidak ingin sampai tantenya menyakiti Zio, entah dengan perkataannya atau hal lainnya yang sama sekali tidak pernah Kaldera bayangkan.

***

Sepi dan kosong. Itulah yang beberapa tahun belakangan ini Zio rasakan ketika pulang ke rumahnya.

Zio mencoba untuk baik-baik saja, tapi kenyatannya, ia tidak bisa terus membohongi dirinya sendiri. Zio merasa kesepian. Mengingat rumah ini yang dulunya terasa hangat, berbeda dengan situasi sekarang, itu yang merubah Zio menjadi pribadi yang dingin. Namun kepada beberapa sahabatnya, Zio bersedia membagi kesedihannya, menjadikan mereka tempat berbagi. Berbeda lagi jika bersama Kaldera. Selain dapat mencurahkan perasaannya, Zio dapat menjadi pribadi yang lebih ceria, humoris, penyayang, dan sosok yang sangat peduli.

Ketika sampai di teras rumahnya, Zio melepas sepatu converse-nya dan menaruhnya di rak sepatu.

Orang tuanya berpisah sejak Zio memasuki SMP. Mamanya yang sempat hancur, memilih lebih sering bekerja untuk melampiaskan kesedihannya. Harapan terakhir Zio adalah kakaknya. Zio mempunyai kakak laki-laki. Namun sejak perceraian orang tuanya, kakaknya sibuk bekerja. Kakaknya yang perfeksionis lebih mementingkan karirnya untuk dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Zio mencoba mengerti bahwa saat ini kewajiban besar itu ada di kedua pundak kakaknya, tapi semuanya yang telah berubah perlahan juga menghancurkan pribadi seorang Redanzio.

Klise.

Zio adalah anak broken home. Masa-masa emas remaja yang seharusnya ia miliki, itu hilang begitu saja. Zio seperti tidak punya rumah dalam artian yang sesungguhnya. Tempat tinggal yang berwujud ini hanyalah sebuah bentuk, tapi Zio tidak mengenal apa arti tempat pulang yang sebenarnya.

Kehadiran Zio di ruang tamu lantas disambut oleh mbak Yuni. Beliau adalah wanita yang sudah merawatnya dari kakaknya rejama sampai sekarang. Sekalipun sudah diberikan kesempatan untuk pensiun, mbak Yuni ini tidak mau meninggalkan keluarga yang sudah di anggapnya keluarga sendiri. Terlebih lagi, beliau tidak tega kalau harus meninggalkan Zio sendiri jika rumah sedang kosong seperti ini.

“Mas Zio, Mbak udah siapin makan malam di meja ya. Tadi ibu ngabarin, katanya malam ini nggak bisa pulang, harus dinas ke luar kota. Kalau mas Raegan, beliau ada rapat, belum tau bisa pulang jam berapa,” ujar mbak Yuni.

Setelah mengucapkannya, rasanya mbak Yuni rasanya tidak tega dan ikut merasa bersedih melihat tuan mudanya itu. Zio adalah anak yang baik, hanya saja keadaan yang membentuknya untuk menjadi seperti ini.

“Mas Zio jangan ngerokok terus ya, mending makan nasi Mas. Nanti kalau Mas Zio ngerokok lagi, Mbak aduin ke mbak Kaldera lho Mas,” ucap mbak Yuni lagi.

Beberapa kali Zio kerap menceritakan tentang Kaldera kepada mbak Yuni. Seperti tentang Kaldera yang sering meminta Zio untuk mengurangi rokoknya. Dari perhatian yang Kaldera tunjukkan untuk Zio itu, mbak Yuni pun senang melihat ada sosok yang begitu sayang dan perhatian terhadap tuan mudanya.

“Iya Mbak, Zio udah kurangin kok rokoknya,” ujar Zio.

Zio pun mengatakan bahwa mbak Yuni bisa pulang dan tidak masalah ia di rumah sendiri. Mbak Yuni mengiyakan dan akhirnya berpamitan pulang. Sepeninggalan mbak Yuni, Zio langsung naik ke lantai atas di mana kamarnya berada.

Zio akan mencoba untuk tidur. Mungkin dengan beristirahat, bisa membuatnya merasa lebih baik. Zio berharap, ia dapat melupakan soal keluarganya yang memang sudah berbeda, yang memang sudah tidak dapat kembali utuh dan bersama.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Hari ini adalah hari Senin. Berbeda dengan mayoritas remaja seusianya yang tidak menyukai hari pertama masuk sekolah setelah libur akhir pekan, Kaldera justru menyukainya. Sekolah adalah salah satu alasannya untuk keluar dari rumah.

Saat meninggalkan tempat tinggalnya itu, Kaldera bisa kembali tersenyum dan melupakan sejenak beban yang ada di hidupnya. Terlebih saat mengingat ia akan bertemu seseorang yang juga selalu menunggu pertemuan mereka di sekolah, Kaldera semakin bersemangat menjalani harinya.

Kaldera tengah membuka lokernya dan mengambil beberapa buku mata pelajaran yang dibutuhkan untuk kelas hari ini. Hari ini tidak ada pelajaran matematika, tapi ada ulangan bahasa Jepang dan itu di jam pertama. Kaldera memang tidak bersahabat dengan huruf-huruf hiragana dan katakana Jepang, tapi setidaknya mereka lebih baik ketimbang dengan rumus-rumus matematika.

Setelah Kaldera memasukkan buku ke tasnya dan mengunci lokernya, suara-suara yang terdengar dari arah lapangan membuatnya menghentikan langkah. Kaldera menatap ke arah lapangan utama sekolahnya dan matanya mulai memindai untuk mencari seseorang.

Begitu Kaldera sudah melihat sosok itu, hanya sekitar 5 detik, Kaldera segera memutuskan untuk pergi dari sana. Namun aksinya tersebut tertahan, kala mendapati Redanzio menatap balik ke arahnya dan menyadari kehadirannya di sana.

Kaldera terkejut di tempatnya, ia ingin pergi saat itu juga, tapi dari bawah sana Zio mengisyaratkan padanya untuk tetap di tempatnya. Kaldera tidak dapat menebak apa yang akan lelaki itu lakukan. Zio terlihat mengambil bola basket dan akan melakukan lemparan three point.

Kaldera memperhatikan bagaimana Zio melakukannya. Ketika Zio melempar bolanya, beberapa siswi yang tengah melewati lantai satu menghentikan langkah mereka, untuk sekedar menonton kapten basket sekolah melakukan kebolehannya itu.

Tepat ketika Zio berhasil mencetak lemparan three point, semua yang menyaksikan itu bersorak untuk memberi apreasi atas aksi tersebut. Namun ada yang membuat mereka terheran dan akhirnya mengikuti arah pandang Zio.

Di koridor lantai dua itu, Zio hanya menatap ke arah sosok gadis cantik yang merupakan kekasihnya. Dari sana mereka tahu, Zio melakukan three point itu untuk Kaldera. Sebelum Kaldera menghilang dari sana, Zio mengatakan sesuatu padanya tanpa suara. Meskipun begitu, Kaldera dapat mengetahui apa yang diucapkan Zio.

'I did it for you'

Itu yang Zio katakan padanya.

***

“Kamu kenapa bete gitu mukanya?” tanya Zio sembari memperhatikan raut wajah Kaldera.

Kaldera mengangguk pelan. “Nilai ulangan jepang aku 75. Pas banget KKM,” ucap Kaldera diiringi helaan napas panjangnya.

Selanjutnya Kaldera melihat Zio yang melepas hoodie putihnya. Zio menyerahkan benda itu ke pangkuannya, meminta Kaldera untuk memakainya.

Mereka kini tengah berada di rooftop gedung sekolah. Rooftop merupakan tempat favorit keduanya, Kaldera dan Zio biasa menghabiskan waktu bersama ketika jam istirahat di tempat ini. Selain dapat menyaksikan pemandangan kota yang indah dari atas, rooftop merupakan tempat yang bersejarah untuk keduanya.

Angin di rooftop berhembus cukup kencang, jadi itulah alasan Zio menyerahkan hoodie-nya untuk dipakai oleh Kaldera.

“Kal, boleh aku rangkul kamu?” tanya Zio. Kaldera nampak berpikir sesaat. Berikutnya Kaldera tersenyum kecil dan mengangguk. Kaldera selalu kagum akan sikap Zio yang menghormatinya. Ketika bersama Zio, Kaldera pun merasa aman dan tidak sama sekali ada kekhawatiran di dalam dirinya.

Kaldera menatap lengan Zio yang kini tengah merangkul ringan pundaknya. Kaldera merasakan jantungnya berdegup kencang di dalam rongga dadanya. Debaran itu masih sama, bahkan setelah 1 tahun mereka bersama.

“Kal, nilai 75 bukannya udah bagus, ya?” celetuk Zio yang langsung membuat Kaldera memberikan atensinya pada lelaki di sampingnya.

“Yaa ... lumayan sih. Tapi aku nggak terima, Zio. Orang sekelas pada nyontek, tapi mereka dapet nilai lebih bagus dari aku.”

“Berarti kamu nyontek juga?” tanya Zio.

“Nyontek lah, habis susah banget ulangannya. Aku udah belajar, tapi tetep susah, Zio,” terang Kaldera.

Zio lantas menyunggingkan senyum kecilnya. “Itu teguran namanya, Kal. Kamu kan udah belajar, coba lebih percaya diri sama kemampuan kamu. Aku tau kamu bisa, Kal. Kamu pasti lebih bangga kalau nilai 75 kamu dapetin dari hasil sendiri.”

Kaldera memikirkan kalimat Zio dengan sungguh-sungguh. Kaldera mengikuti arah pandang Zio yang menatap gedung-gedung kota yang nampak kecil dari posisi mereka saat ini.

“Zio, ulangan berikutnya Kaldera bakal berusaha nggak nyontek lagi. Kaldera bakal belajar lebih giat dan percaya diri,” ucap Kaldera kemudian.

“Nah, ini Kaldera yang aku kenal. Kal, kamu itu hebat. Aku akan selalu support kamu. Inget ya, kamu nggak sendirian, kamu punya aku,” tutur Zio. Otomatis senyum Kaldera mengembang. Kaldera tidak pernah menyangka, ia akan begitu mencintai sosok lelaki di hadapannya ini. Dunianya dengan Zio yang jelas berbeda, latar belakang keduanya yang kontras, membuat Kaldera terkadang berpikir apakah ia dan Zio bisa terus bersama nantinya?

“Kal, I love you,” ucap Zio sangat jelas dan Kaldera tentu mendengarnya. Kalimat Zio itu sukses membuat jantung Kaldera serasa ingin terjun bebas dari rooftop ini.

“Kal, kok nggak dijawab?” tanya Zio, nadanya terdengar manja.

Kaldera malah membalas ungkapan Zio dengan ekspresi loading dan sedikit kebingungannya.

Zio tertawa, seolah ia sangat bahagia menyaksikan Kaldera. Ekspresi Kaldera dapat membuat Zio menghilangkan semua perasaan sedih yang ada di hidupnya.

“Kaldera sayang Zio juga, hehe ... ” ujar Kaldera sambil menyunggingkan senyum kelincinya. Senyum itu terlihat cantik sekali, Zio selalu bahagia ketika menyaksikannya.

“Zio,” celetuk Kaldera tiba-tiba.

“Iya, Kal?” Zio memberikan seluruh perhatiannya pada Kaldera.

Can I ... follow you?” tanya Kaldera.

Follow me where?” Zio nampak bingung akan pertanyaan yang barusan diajukan oleh Kaldera.

I will follow you anywhere,” jawab Kaldera.

Why you wanted to follow me?” tanya Zio, lelaki itu menatap Kaldera dengan kedua alisnya yang menyatu dan sebuah senyum gugupnya.

Kaldera menahan senyum lebarnya. Ketika ia sudah dapat mengatur hatinya yang barusan berbunyi dag dig dug, Kaldera kemudian berujar lagi, “Because my mom and dad told me that I should follow my dream.”

***

Flashback 1 year ago

Kaldera selalu suka rooftop. Baginya puncak atap sebuah bangunan selalu bisa membuatnya merasa lebih damai. Seolah-oleh beban yang ia miliki seperti dibawa terbang bersama angin saat ia berada disana. Seperti yang biasa ia lakukan pada jam istirahat, Kaldera membawa kotak bekalnya dan berjalan menuju rooftop sekolahnya, tepatnya di ujung koridor lantai tiga dekat kelas sepuluh IPA 3.

Sesampainya Kaldera di sana, ia langsung duduk di atas sebuah tutup besi yang menutup mesin air. Kaldera pun membuka kotak bekalnya dan mulai menikmati makan siangnya itu.

Beberapa menit berselang, Kaldera merasakan bahwa ia tidak sendiri disini. Ia mendengar suara derap kaki dari arah belakangnya.

“Uhuk! uhukk!” Kaldera menutup mulutnya, napasnya tersengal-sengal dan matanya melotot dengan lucu. Kulit wajah Kaldera nampak memerah. Kaldera punya penyakit asma dan ia tidak bisa menghirup asap rokok. Tunggu ... artinya ada asap rokok di sini?

Kaldera segera menoleh ke belakang. Rupanya benar saja, tidak jauh dari posisinya kini, ada seorang laki-laki yang tengah mencumbu sebatang rokok sambil bersandar pada pembatas besi di sana.

Kaldera segera meletakkan kotak bekalnya dan berjalan menghampiri lelaki itu.

“Kamu nggak tau peraturan sekolah, ya? Kamu nggak ngekokok di area sekolah, ini malah ngerokok. Aku lagi makan, aku asma dan nggak bisa kena asap rokok—” ucapan Kaldera terhenti kala tangan lelaki itu membekap mulutnya.

“Lephasihhn!” Kaldera berujar tidak jelas saat tangan cowok itu masih setia menutup mulutnya.

“Lo siapa ngelarang-larang gue?” ketus lelaki itu. Ia melepaskan tangannya yang semula membekap Kaldera, membuat Kaldera menatap sebal ke arahnya.

“Aku terganggu sama rokok kamu. Aku punya penyakit asma dan aku mau makan di sini. Jadi tolong jangan ngerokok di sini,” ucap Kaldera.

“Lo pikir sekolah ini punya lo?” Lelaki itu berucap dengan nada arogannya.

“Kamu laki-laki bukan sih? Beraninya kok sama cewek. Tampilan doang sok keren, tapi kelakuan kamu kayak bukan didikan guru di sekolah ini,” cerocos Kaldera.

“Lo aja yang pergi dari sini,” cetus lelaki itu sambil membuang pandangannya dari Kaldera.

“Aku duluan di sini kok. Kamu aja yang pergi,” balas Kaldera dengan berani.

Kaldera tetap pada posisinya, ia menatap lelaki itu lekat, menandakan bahwa ia tidak terintimidasi dan tidak akan mengalah begitu saja. Kaldera harus mendongak karena rupanya ia hanya sebatas dada cowok itu. Kalau tingginya sejajar dengan lelaki itu, sudah ia pastikan akan meninju wajah laki-laki tidak sopan dan arogan ini.

Lelaki itu kemudian menarik Kaldera mendekat, hingga membuat Kaldera dapat dengan jelas mencium aroma rokok yang menguar dari seragam putih lelaki itu. Kemeja putih lelaki itu nampak sedikit acak-acakan, matanya sayu dan ada lingkaran hitam di bawahnya. Kaldera mulai ciut dan pias, pasalnya ia tidak bisa kabur dan tenaganya dibandingkan cowok itu tentu tidak ada apa-apanya.

“Nama lo?” tanya lelaki itu di dekat Kaldera.

“Kaldera,” jawab Kaldera pelan. Apakah cowok ini akan menyakitinya karena telah menantangnya. Tiba-tiba Kaldera kepikiran hal-hal buruk yang bisa saja terjadi padanya.

“Oke, Kaldera. Gue akan buang rokok gue, tapi dengan satu syarat.” Lelaki di hadapannya membuat angka satu dengan jari telunjuknya.

“Emangnya lo siapa ngajuin syarat ke gue seenaknya kayak gitu!” Kaldera sudah tidak peduli dengan tata bicaranya.

“Lo harus kasih gue sesuatu untuk bisa dimakan,” suara lelaki itu terdengar sedikit parau. Kaldera sempat merasa simpati selama 2 detik, tapi setelahnya tawa Kaldera menyembur begitu saja.

Kaldera tertawa sambil memegangi perutnya. Namun itu tidak berlangsung lama karena cowok itu menarik tangannya dan mencengkramnya cukup kuat.

“Kalau lo masih ketawa, gue nggak akan segan-segan cium lo,” ancam lelaki itu.

“Apa lo bilang? Berani-beraninya lo mau cium—APA?!” Kaldera pun brutal, ia memukuli lengan lelaki itu yang mencengkram lengannya, pundak, lalu menendang tulang keringnya dengan satu tendangan maut. Lelaki itu tersungkur beberapa centi, tapi tenaganya seolah cepat sekali pulih sehingga ia berhasil menangkapnya jauh sebelum Kaldera melarikan diri

Kaldera merasakan tubuhnya melayang dan buminya seketika terbalik. Kemudian tubuhnya sedikit di banting dan pantatnya terasa lumayan sakit.

Apa laki-laki ini gila? Lelaki yang dihindari Kaldera rupanya sungguhan ada di dunia ini dan kini Kaldera tengah berhadapan dengannya. Lelaki itu menggendong Kaldera layaknya ia adalah karung beras, lalu menghempaskan tubuhnya ke besi yang sebelumnya Kaldera tempati.

“Jangan sentuh makanan gue. Please, itu makanan terakhir yang gue punya,” lirih Kaldera begitu melihat lelaki itu mengambil kotak bekalnya.

“Makanan ini sekarang milik gue,” ujar lelaki itu dengan santai.

Rasanya Kaldera ingin menangis. Lelaki yang tidak dikenalnya itu tengah melahap makanannya seperti belum melihat nasi selama 2 hari. Sekarang Kaldera tidak tahu, apakah ia sanggup menahan rasa laparnya hingga nanti sore.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂