alyadara

Hari ini merupakan hari Senin. Berbeda dengan mayoritas remaja seusianya yang kurang menyukai hari pertama masuk sekolah setelah libur akhir pekan, Kaldera justru menyukainya. Sekolah adalah salah satu alasannya untuk keluar dari rumah.

Saat meninggalkan tempat tinggalnya itu, Kaldera bisa kembali tersenyum dan melupakan sejenak beban yang ada di hidupnya. Terlebih saat mengingat ia akan bertemu seseorang yang juga selalu menunggu pertemuan mereka di sekolah, Kaldera semakin bersemangat untuk menjalani harinya.

Kaldera tengah membuka lokernya dan mengambil beberapa buku mata pelajaran yang dibutuhkan untuk kelas hari ini. Hari ini tidak ada pelajaran matematika, tapi ada ulangan bahasa Jepang dan itu di jam pertama. Kaldera memang tidak bersahabat dengan huruf-huruf hiragana dan katakana Jepang, tapi setidaknya mereka lebih baik ketimbang dengan rumus-rumus matematika.

Setelah Kaldera memasukkan buku ke dalam tasnya dan mengunci lokernya, suara keramaian yang terdengar dari arah lapangan membuatnya menghentikan langkah. Kaldera menatap ke arah lapangan utama sekolahnya dan matanya mulai memindai untuk mencari seseorang di sana.

Begitu Kaldera sudah melihat sosok jangkung dengan jersey biru bernomor punggung 7, hanya sekitar lima detik, Kaldera segera memutuskan untuk pergi dari sana. Namun aksinya tersebut tertahan, kala mendapati Redanzio menatap balik ke arahnya dan menyadari kehadirannya.

Kaldera terkejut di tempatnya, ia ingin pergi saat itu juga, tapi dari bawah sana Zio mengisyaratkan padanya untuk tetap di tempatnya. Kaldera tidak dapat menebak apa yang akan lelaki itu lakukan. Zio terlihat mengambil bola basket dan akan melakukan lemparan three point.

Kaldera memperhatikan bagaimana Zio melakukannya. Saat Zio men-dribble bolanya, beberapa siswi yang tengah melewati lantai satu menghentikan langkah mereka, untuk sekedar menonton kapten basket sekolah melakukan kebolehannya itu.

Tepat ketika Zio berhasil mencetak lemparan three point, semua yang menyaksikan itu bersorak untuk memberi apresiasi atas aksi tersebut. Namun ada yang membuat mereka terheran dan akhirnya mengikuti arah pandang Zio.

Di koridor lantai dua itu, Zio hanya menatap ke arah sosok gadis cantik yang merupakan kekasihnya. Dari sana mereka tahu, Zio melakukan three point itu untuk Kaldera. Sebelum Kaldera menghilang dari sana, Zio mengatakan sesuatu padanya tanpa suara. Meskipun begitu, Kaldera dapat mengetahui apa yang diucapkan oleh Zio.

'I did it for you'

Itu yang Zio katakan padanya.

***

“Kamu kenapa bete gitu mukanya?” tanya Zio sembari memperhatikan raut wajah Kaldera.

“Nilai ulangan bahasa jepang aku 75. Pas banget KKM,” ucap Kaldera diiringi helaan napas panjangnya.

Selanjutnya Kaldera melihat Zio melepas hoodie putih yang sebelumnya lelaku itu kenakan. Zio lantas menyerahkan benda itu ke pangkuannya, meminta Kaldera untuk memakainya.

Mereka kini tengah berada di rooftop gedung sekolah. Rooftop merupakan tempat favorit keduanya, dan Kaldera dan Zio biasa menghabiskan waktu bersama ketika jam istirahat di tempat ini. Selain dapat menyaksikan pemandangan kota yang indah dari atas, rooftop merupakan tempat yang bersejarah untuk keduanya.

Angin di rooftop berhembus cukup kencang, jadi itu lah alasan Zio menyerahkan hoodie-nya untuk dipakai oleh Kaldera.

“Kal, boleh aku rangkul kamu?” tanya Zio. Kaldera nampak berpikir sesaat sembari menatap Zio. Berikutnya Kaldera tersenyum kecil dan mengangguk. Kaldera selalu kagum akan sikap Zio yang menghormatinya. Ketika bersama Zio, Kaldera pun merasa aman dan tidak sama sekali ada kekhawatiran di dalam dirinya.

Kaldera menatap lengan Zio yang kini tengah merangkul ringan pundaknya. Kaldera merasakan jantungnya berdegup kencang di dalam rongga dadanya. Debaran itu masih sama, bahkan setelah 1 tahun mereka menjalin hubungan asmara.

“Kal, nilai 75 bukannya udah bagus, ya?” celetuk Zio yang langsung membuat Kaldera memberi atensinya pada lelaki di sampingnya.

“Yaa ... lumayan sih. Tapi aku nggak terima, Zio. Orang sekelas pada nyontek semua, tapi mereka dapet nilai yang lebih bagus dari aku.”

“Berarti kamu nyontek juga?” tanya Zio.

“Nyontek lah, habis susah banget ulangannya. Aku udah belajar, tapi tetep susah, Zio,” terang Kaldera.

Zio lantas menyunggingkan senyum kecilnya. “Itu teguran namanya, Kal. Kamu kan udah belajar, coba lebih percaya diri sama kemampuan kamu. Aku tau kamu bisa, Kal. Kamu pasti lebih bangga kalau nilai 75 kamu dapetin dari hasil sendiri.”

Kaldera memikirkan kalimat Zio dengan sungguh-sungguh. Kaldera lalu mengikuti arah pandang Zio yang menatap gedung-gedung kota yang nampak kecil dari posisi mereka saat ini.

“Zio, ulangan berikutnya Kaldera bakal berusaha untuk nggak nyontek lagi. Kaldera bakal belajar lebih giat dan percaya diri,” ucap Kaldera kemudian.

“Nah, ini Kaldera yang aku kenal. Kal, kamu itu hebat. Aku akan selalu support kamu. Inget ya, kamu nggak sendirian, kamu punya aku,” tutur Zio. Otomatis senyum Kaldera mengembang. Kaldera tidak pernah menyangka, ia akan begitu mencintai sosok lelaki di hadapannya ini. Dunianya dengan Zio yang jelas berbeda, latar belakang keduanya yang kontras, membuat Kaldera terkadang berpikir apakah ia dan Zio bisa terus bersama nantinya?

“Kal, I love you,” ucap Zio sangat jelas dan Kaldera tentu mendengarnya. Kalimat Zio itu sukses membuat jantung Kaldera serasa ingin terjun bebas dari rooftop ini.

“Kal, kok nggak dijawab?” tanya Zio, nadanya terdengar manja.

Kaldera justru membalas ungkapan Zio dengan ekspresi loading dan sedikit kebingungannya. Zio lantas tertawa pelan, seolah ia sangat bahagia dapat menyaksikan berbagai raut menggemaskan Kaldera. Ekspresi Kaldera dapat membuat Zio menghilangkan semua perasaan sedih yang ada di hidupnya.

“Kaldera sayang Zio juga, hehe ... ” ujar Kaldera sambil menyunggingkan senyum kelincinya. Senyum itu terlihat cantik sekali, Zio selalu bahagia ketika mendapatinya.

“Zio, can I ... follow you?” tanya Kaldera.

Follow me where?” Zio nampak bingung akan pertanyaan yang diajukan oleh Kaldera.

I will follow you anywhere,” jawab Kaldera.

Why you wanted to follow me?” tanya Zio, lelaki itu menatap Kaldera dengan kedua alisnya yang menyatu dan sebuah senyum yang nampak tertahan.

Rupanya Kaldera juga tengah menahan senyum lebarnya. Ketika Kaldera sudah dapat mengatur hatinya yang barusan berbunyi dag dig dug, Kaldera kemudian kembali berujar, “Because my mom and dad told me that I should follow my dream.”

***

Flashback 1 year ago

Kaldera selalu suka rooftop. Baginya puncak atap sebuah bangunan selalu bisa membuatnya merasa lebih tenang. Seolah-oleh beban yang Kaldera miliki seperti dibawa terbang bersama angin saat ia berada di tempat ini. Seperti yang biasa Kaldera lakukan pada jam istirahat, ia membawa kotak bekalnya dan berjalan menuju rooftop sekolahnya, tepatnya di ujung koridor lantai tiga dekat kelas sepuluh IPA 3.

Sesampainya Kaldera di sana, ia langsung duduk di atas sebuah besi yang digunakan menutup mesin air. Kaldera membuka kotak bekalnya dan mulai menikmati makan siangnya itu.

Beberapa menit berselang, Kaldera merasakan bahwa ia tidak sendiri disini. Ia mendengar suara derap langkah kaki dari arah belakangnya.

“Uhuk! uhukk!” Kaldera segera menutup mulutnya saat ia terbatuk, napasnya tersengal-sengal dan matanya melotot dengan lucu. Kulit wajah Kaldera nampak memerah. Kaldera memiliki penyakit asma dan ia tidak bisa menghirup asap rokok. Tunggu ... artinya ada asap rokok di sini?

Kaldera segera menoleh ke belakang. Rupanya benar saja, tidak jauh dari posisinya saat ini, ada seorang laki-laki yang tengah mencumbu sebatang rokok sambil bersandar pada pembatas besi di sana.

Kaldera segera meletakkan kotak bekalnya dan berjalan menghampiri lelaki itu.

“Kamu nggak tau peraturan sekolah, ya? Kamu nggak boleh ngerokok di area sekolah, ini malah ngerokok. Aku lagi makan, aku asma dan nggak bisa kena asap rokok—” ucapan Kaldera terhenti kala tangan lelaki itu bergerak membekap mulutnya.

“Lephasihhn!” Kaldera berujar tidak jelas saat tangan cowok itu masih setia berada di atas mulutnya.

“Lo siapa ngelarang-larang gue?” ketus lelaki itu. Ia melepaskan tangannya yang semula membekap Kaldera.

“Aku terganggu sama rokok kamu. Aku punya penyakit asma dan aku mau makan di sini. Jadi tolong jangan ngerokok di sini,” ucap Kaldera.

“Lo pikir sekolah ini punya lo?” Lelaki itu berucap dengan nada arogannya.

“Kamu laki-laki bukan sih? Beraninya kok sama cewek. Tampilan doang sok keren, tapi kelakuan kamu kayak bukan didikan guru di sekolah ini,” cerocos Kaldera.

“Lo aja yang pergi dari sini,” cetus lelaki itu sambil membuang pandangannya dari Kaldera.

“Aku duluan di sini kok. Kamu aja yang pergi,” balas Kaldera dengan berani.

Kaldera tetap pada posisinya, ia menatap lelaki itu lekat, menandakan bahwa ia tidak terintimidasi dan tidak akan mengalah begitu saja. Kaldera harus mendongak karena rupanya ia hanya sebatas dada cowok itu. Kalau saja tingginya sejajar dengan lelaki itu, sudah ia pastikan ia akan meninju wajah laki-laki tidak sopan dan arogan ini.

Lelaki itu kemudian menarik lengan Kaldera untuk mendekat, aksinya itu membuat Kaldera dapat dengan jelas mencium aroma rokok yang menguar dari seragam putih lelaki itu. Kemeja putih lelaki itu nampak sedikit acak-acakan, matanya sedikit sayu dan ada lingkaran hitam di bawahnya. Kaldera mulai ciut dan pias, pasalnya ia tidak bisa kabur dan tenaganya dibandingkan lelaki itu tentu tidak ada apa-apanya.

“Nama lo?” tanya lelaki itu di dekat Kaldera.

“Kaldera,” jawab Kaldera pelan. Apakah cowok ini akan menyakitinya karena telah menantangnya? Tiba-tiba Kaldera terpikirkan hal-hal buruk yang bisa saja terjadi padanya.

“Oke, Kaldera. Gue akan buang rokok gue, tapi dengan satu syarat.” Lelaki di hadapannya membuat angka satu dengan jari telunjuknya.

“Emangnya lo siapa ngajuin syarat ke gue seenaknya kayak gitu!” Kaldera sudah tidak peduli dengan tata bicaranya.

“Lo harus kasih gue sesuatu untuk bisa dimakan,” suara lelaki itu terdengar sedikit parau. Kaldera sempat merasa simpati selama 2 detik, tapi setelahnya tawa Kaldera justru menyembur begitu saja.

Kaldera tertawa cukup keras sampai memegangi perutnya yang ikut merasa keram. Namun itu tidak berlangsung lama karena cowok itu menarik tangannya dan mencengkramnya dengan cukup kuat.

“Kalau lo masih ketawa, gue nggak akan segan-segan cium lo ya,” ancam lelaki itu.

“Apa lo bilang? Berani-beraninya lo mau cium—APA?!” Kaldera pun brutal, ia memukuli lengan lelaki itu, pundak, hingga yang terakhir menendang tulang keringnya dengan satu tendangan maut. Lelaki itu tersungkur beberapa centi, tapi tenaganya seolah cepat sekali pulih hingga ia berhasil menangkapnya jauh sebelum Kaldera melarikan diri.

Kaldera kini merasakan tubuhnya melayang dan buminya seketika terbalik. Kemudian tubuhnya sedikit dibanting dan pantatnya yang terasa lumayan sakit.

Apa laki-laki ini gila? Tipe lelaki yang dihindari Kaldera rupanya sungguh ada di dunia ini dan kini Kaldera benar-benar berhadapan dengannya. Lelaki itu menggendong Kaldera layaknya ia adalah karung beras, lalu menghempaskan tubuhnya ke besi yang sebelumnya Kaldera tempati.

“Jangan sentuh makanan gue. Please, itu makanan terakhir yang gue punya,” lirih Kaldera begitu melihat lelaki itu mengambil kotak bekalnya.

“Makanan ini sekarang milik gue,” ujar lelaki itu dengan santai.

Rasanya Kaldera ingin menangis. Lelaki yang tidak dikenalnya itu kini tengah melahap makanannya seperti belum melihat nasi selama 2 hari. Sekarang Kaldera tidak tahu, apakah ia sanggup menahan rasa laparnya hingga nanti sore.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

“Kaldera!” panggilan tersebut terdengar memenuhi sebuah kamar tidur kecil berukuran 3x3. Nampak seorang gadis remaja dengan rambut panjang sepunggung, masih memejamkan matanya sembari memeluk guling.

“Kaldera!!” lagi, panggilan itu terdengar menyentaknya. Berkat suara keras tersebut, akhirnya Kaldera membuka mata. Kaldera lantas mendapati sosok perempuan berusia 40 tahunan di hadapannya.

“Tante, ini masih pagi. Kenapa bangunin aku?” tanya Kaldera dengan wajah kantuknya.

“Kamu yakin masih mau tidur? Kalau gitu, paket ini buat Tante aja, gimana?” ujar Laura sembari menunjukkan sebuah bungkusan kecil yang kini ada di tangannya.

Netra Kaldera langsung terarah pada bungkusan berwarna merah muda itu. “Itu paket dari siapa, Tante?” tanya Kaldera.

“Menurut kamu? Dari siapa lagi kalau bukan dari pacar kamu. Kaldera, ternyata Tante nggak sia-sia ya ngerawat kamu sejak orang tua kamu meninggal,” ujar Laura.

Kaldera seketika terdiam. Ia menatap bungkusan itu, tapi saat tangannya hendak meraihnya dari Laura, tantenya malah menjauhkannya dari jangkauan Kaldera.

Kaldera lantas beranjak dari kasurnya. Kini Kaldera dan Laura tengah berhadapan, tantenya menatap Kaldera dengan tatapan memicing.

“Maksud Tante apa ngomong kayak gitu?” tanya Kaldera, ia meminta penjelasan atas kalimat Laura tentang tidak sia-sia merawatnya sejak orang tuanya tiada.

“Kamu pikir, Tante adalah sukarelawan yang akan merawat kamu tanpa imbalan? Semua yang ada di dunia ini nggak gratis, Kaldera. Kamu punya pacar anak orang kaya, lebih baik kamu nikah sama dia setelah lulus SMA.”

Atas kalimat yang dilontarkan Laura itu, kedua belah bibir Kaldera sukses terbuka. Kaldera menghembuskan napasnya yang terdengar panjang, ia membuang pandangannya dari Laura.

Beberapa detik kemudian, Kaldera kembali menatap ke arah Laura. Tidak lupa, Kaldera mengambil paksa bungkusan itu dari tangan Laura. “Tante tenang aja. Kaldera nggak akan ngerepotin Tante. Kaldera akan cari uang sendiri untuk biaya kuliah.”

Laura lantas menatap Kaldera dengan tatapan tidak percaya, seolah-olah kalimat Kaldera tentang kuliah adalah lelucon yang sangat lucu baginya.

“Kamu bisa terus mimpi, Kaldera, silakan. Tapi setidaknya kalau kamu nggak bisa mencapai impian kamu, kamu harus menikah dengan lelaki kaya. Kalau enggak, Tante nggak yakin kamu bisa mengganti semua uang yang Tante habiskan untuk merawat kamu. Kamu mau mengandalkan gaji part time di restoran fast food tempat kamu kerja?” Laura menatap Kaldera dari atas sampai bawah, tatapannya seolah menilai penampilan Kaldera. Kemudian Laura mengulaskan senyum tipisnya sambil berujar, “Padahal kamu cantik, Kaldera. Tapi sayang, kamu terlalu naif.”

Setelah mengatakan rentetan kalimat itu, Laura beranjak pergi dari hadapan Kaldera. Pintu ditutup dengan kencang, sehingga meninggalkan bunyi bantingan yang cukup keras di sana.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

“Kaldera!” panggilan tersebut terdengar memenuhi sebuah kamar tidur seluas 3x3. Nampak seorang gadis remaja dengan rambut panjang sepunggung masih memejamkan matanya sembari memeluk gulingnya.

“Kaldera!!” lagi, panggilan itu terdengar menyentaknya. Berkat suara keras tersebut, akhirnya Kaldera membuka mata. Kaldera lantas mendapati sosok perempuan berusia 40 tahunan di hadapannya.

“Tante, ini masih pagi. Kenapa bangunin aku?” tanya Kaldera dengan wajah kantuknya.

“Kamu yakin masih mau tidur? Kalau gitu, paket ini buat Tante aja, gimana?” ujar Laura sembari menunjukkan sebuah bungkusan kecil yang kini ada di tangannya.

Netra Kaldera langsung terarah pada bungkusan berwarna merah muda itu. “Itu paket dari siapa, Tante?” tanya Kaldera.

“Menurut kamu? Dari siapa lagi kalau bukan dari pacar kamu. Kaldera, ternyata Tante nggak sia-sia ya ngerawat kamu sejak orang tua kamu meninggal,” ujar Laura.

Kaldera seketika terdiam. Ia menatap bungkusan itu, tapi saat tangannya hendak meraihnya dari Laura, tantenya malah menjauhkannya dari jangkauan Kaldera.

Kaldera lantas beranjak dari kasurnya. Kini Kaldera dan Laura tengah berhadapan, tantenya menatap Kaldera dengan tatapan memicing.

“Maksud Tante apa ngomong kayak gitu?” tanya Kaldera, ia meminta penjelasan atas kalimat Laura tentang tidak sia-sia merawatnya sejak orang tuanya tiada.

“Kamu pikir, Tante adalah sukarelawan yang akan merawat kamu tanpa imbalan? Semua yang ada di dunia ini nggak gratis, Kaldera. Kamu punya pacar anak orang kaya, lebih baik kamu nikah sama dia setelah lulus SMA.”

Atas kalimat yang dilontarkan Laura itu, kedua belah bibir Kaldera sukses terbuka. Kaldera menghembuskan napasnya yang terdengar kasar, ia membuang pandangannya dari Laura.

Beberapa detik kemudian, Kaldera kembali menatap Laura. Tidak lupa, Kaldera mengambil paksa bungkusan itu dari tangan Laura. “Tante tenang aja. Kaldera nggak akan ngerepotin Tante. Kaldera akan cari uang sendiri untuk biaya kuliah.”

Laura lantas menatap Kaldera dengan tatapan tajamnya dan seolah-olah kalimat Kaldera tentang kuliah adalah lelucon yang sangat lucu baginya.

“Kamu bisa terus mimpi, Kaldera, silakan. Tapi setidaknya kalau kamu nggak bisa mencapai impian kamu, kamu harus menikah dengan lelaki kaya. Kalau enggak, Tante nggak yakin kamu bisa mengganti semua uang yang Tante habiskan untuk merawat kamu. Kamu mau mengandalkan gaji part time kamu di restoran fast food tempat kamu kerja?” Laura menatap Kaldera dari atas sampai bawah, tatapannya seolah menilai penampilan Kaldera. Kemudian Laura mengulaskan senyum tipisnya sambil berujar, “Padahal kamu cantik, Kaldera. Tapi sayang, kamu terlalu naif.”

Setelah mengatakan rentetan kalimat itu, Laura beranjak pergi dari hadapan Kaldera. Pintu ditutup dengan kencang, sehingga meninggalkan bunyi bantingan yang cukup keras di sana.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Kaldera menatap pintu ruang UGD yang beberapa detik lalu baru saja ditutup. Sepanjang perjalanan sampai tiba di rumah sakit, Kaldera tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Pikirannya sungguh kalut, ia hanya dapat memikirkan kondisi Zio.

Kafka yang melihat hancurnya Kaldera ikut merasa terpukul. Saat lelaki itu hendak menghampiri kekasih sahabatnya, Kaldera rupanya sudah lebih dulu mendongak dan menatapnya. Kilatan mata Kaldera memancarkan kekecewaan dan emosi yang begitu mendalam.

Detik berikutnya, Kaldera mengalihkan tatapannya kepada Aksa yang berada tidak jauh darinya. Dengan langkah lebarnya, Kaldera lantas menghampiri Aksa.

Kaldera yang tidak dapat berpikir jernih, menyalahkan Aksa atas apa yang terjadi dengan Zio. Aksa juga merasa bersalah, ia tidak menduga kejadiaannya berakhir seperti ini.

“Kal, maafin gue ... ” ucap Aksa dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Kaldera menatap Aksa dengan matanya yang kini memerah. “Kalau sampai Zio kenapa-napa, kata maaf lo nggak ada artinya Sa,” ucap Kaldera, air matanya luruh lagi membasahi pipinya.

Tidak lama berselang setelah Kaldera kembali ke kursinya, ia mendapati kedatangan dua orang yang penting di hidup Zio. Tante Indri dan mas Raegan, mama dan kakaknya Zio, mereka ada di sana.

Sosok pria jangkung berparas tegas itu berbicara pada salah satu perawat yang tadi membawa Zio ke ruang UGD. Perawat itu menjelaskan pada Raegan soal apa yang terjadi dengan Zio. Kaldera masih berdiri di tempatnya, menyaksikan tante Indri berderai air mata dan beliau terlihat menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.

Sekitar 20 menit kemudian, pintu ruang UGD terbuka dan menampakkan seorang perawat di sana. Indri dan Raegan segera berdiri dari posisi duduknya untuk mengetahui kondisi Zio saat ini.

“Kondisi pasien sempat membaik beberapa saat lalu, tapi kini kondisinya kembali memburuk. Pasien meminta untuk bertemu dua orang,” ujar perawat dengan jubah kesehatan berwarna hijau itu.

Setelah itu semua yang ada di sana saling melempar pandangan. “Untuk saudara Kaldera dan Raegantara, silakan ikut saya ke dalam.”

***

Ini pertama kalinya Kaldera melihat sosok itu. Raegantara Rahagi Gumilar, seorang kakak yang selama ini kerap Zio ceritakan padanya. Kini di ruang UGD itu, Kaldera berada di sisi kanan ranjang Zio, sementara Raegan berada di sisi kirinya.

Zio memejamkan matanya sesaat, sebelum akhirnya membuka lagi. Zio menatap Kaldera, pandangannya nampak sendu, tapi lelaki itu mencoba untuk mengulaskan senyum tipisnya. “Kal,” ucap Zio, ia mengarahkan tangannya untuk mengusap sisa air mata di pipi Kaldera.

Berikutnya Zio mengalihkan tatapannya pada Raegan, dengan nada pelan, Zio berujar, “Mas, gue punya satu permohonan sama lo. Kalau nanti gue nggak bisa bertahan, gue minta tolong sama lo buat jagain Kaldera. Gue cuma percaya sama lo,” ucap Zio dengan susah payah, hembusan napasnya terdengar berat dan melemah.

Raegan tidak merespon ucapan adiknya itu. Baginya kalimat Zio hanyalah sebuah lelucon. Adiknya bisa bertahan, dan Raegan mempercayai itu.

Detik berikutnya Zio meraih tangan Kaldera, ia meminta Raegan menggenggam tangan kekasihnya itu. “Mas, dia berarti banget buat gue. Tolong, gue titip dia sama lo ya,” ujar Zio.

Atas kalimat Zio itu, Kaldera menatapnya tidak percaya. Kaldera menggelengkan kepalanya dengan kuat, ia tidak ingin mempercayai itu. Zio bisa bertahan, tidak mungkin Zio akan pergi meninggalkannya.

“Zio, kamu ngomong apa. Kamu bisa bertahan,” ucap Kaldera.

Seolah-olah ucapan Kaldera hanyalah angin lalu, Zio melanjutkan kembali perkataannya. Ia mengatakan bahwa ini adalah wasiat terakhirnya sebelum ia pergi. Zio mempunyai firasat bahwa ia tidak akan bisa bertahan. Rasanya terlalu sakit, ia ingin tetap di sini, tapi seolah takdir tidak mengizinkannya.

“Mas Raegan, gue ngasih lo dua pilihan,” ucap Zio lagi.

“Lo nggak perlu wasiat itu, Zio. Lo bisa bertahan. Gue panggil dokter dulu—” ucapan Raegan itu terhenti berkat Zio yang segera menahan lengannya.

Zio mengatakan ia ingin menjadikan Kaldera bagian dari keluarganya. Zio tidak dapat memikirkan apa pun saat ini, meski keluarganya rumit, tapi ia yakin Raegan bisa menjaga Kaldera dengan baik. Wasiat Zio itu berisi dua pilihan. Pilihan yang pertama adalah Zio ingin keluarganya mengangkat Kaldera menjadi anak, yang mana artinya Kaldera akan menjadi adik bagi Raegan dan anak kedua bagi Indri. Sementara pilihan yang kedua, menjadikan Kaldera menantu keluarga Gumilar. Untuk pilihan kedua itu, Zio meminta Raegan mencoba mencintai Kaldera dan menikahi kekasih adik kandungnya sendiri.

***

Kaldera menyapukan pandangannya ke penjuru rumah megah dengan nuansa berwarna putih ini. Di ruang tamu rumah itu, terdapat satu figura yang berukuran cukup besar. Di sana Kaldera dapat melihat potret sebuah keluarga kecil yang nampak begitu bahagia. Keluarga yang lengkap, sebuah keinginan yang terasa sederhana, tapi Zio tidak lagi memilikinya.

Di rumah besar ini, pantas saja Zio merasa kesepian. Kaldera tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya. Saat ini pasti Zio lebih merasa kesepian. Sama seperti dirinya tanpa lelaki itu, Kaldera terlihat kosong dan tidak mempedulikan orang-orang yang tengah berlalu lalang. Ketika mereka mengucapkan belasungkawa kepadanya, Kaldera hanya menoleh dan menatap dengan pandangan tanpa arti.

Satu persatu pelayat mulai bergerak meninggalkan rumah duka untuk pergi ke pemakaman. Namun Kaldera masih duduk di salah satu kursi plastik di halaman rumah itu. Sebuah mobil ambulans baru saja membawa kekasih hatinya pergi, hatinya sangat sakit dan terasa seperti diremas dengan kuat.

“Kal,” panggil seseorang yang suaranya terasa fameliar. Atas panggilan itu, Kaldera akhirnya menoleh. Kaldera mendapati Risa, salah satu mantan pacar Zio yang Kaldera kenal dengan sangat baik.

Seketika tangis Kaldera kembali pecah. Ia tidak dapat membendungnya, dan saat itu juga Risa meraih Kaldera ke dalam pelukannya. Risa berusaha memberi kekuatan pada Kaldera, meskipun ia tahu mungkin itu tidak terlalu berarti besar untuk gadis itu.

“Kal, Zio beruntung banget punya lo. Lo tau, lo selamanya akan selalu ada di hati dia,” tutur Risa sembari mengusapkan tangannya di punggung Kaldera.

***

Di sore yang lumayan cerah itu, Kaldera berjalan bersisian dengan Indri. Mama dari kekasihnya itu memeluk lengannya, mereka sama-sama coba menguatkan meskipun tidak tahu sampai mana usaha itu akan berhasil.

Setelah melewati lapangan golf yang cukup luas, mereka akhirnya ampai di area pemakaman. Sebenarnya pemakaman ini memiliki dua jalan untuk menuju ke sana, tapi Indri mengatakan pada Kaldera bahwa ia ingin melewati lapangan golf. Indri ingin mempersiapkan hatinya dan menenangkan pikirannya sejenak, sebelum ia harus mengantar Zio pergi untuk selamanya.

Raegan berjalan di belakang Indri dan Kaldera. Dari luar mungkin ia terlihat seperti sosok yang paling kuat menghadapi kepergian adiknya. Namun tidak ada yang tahu, bahwa Raegan tengah mati-matian menahan kehancurannya. Kalau ia hancur, maka mamanya akan lebih hancur lagi jika tidak memiliki tempat bersandar. Raegan tidak boleh terlihat lemah, ia menanamkan hal tersebut di dalam pikirannya.

Pemakaman berjalan sebagaimana mestinya. Tanah coklat itu perlahan-lahan mulai mengubur sosok yang menjadi cinta bagi semua yang mengantar kepergiannya sore ini. Semua yang kini tersisa, hanya akan menjadi kenangan di dalam hati. Begitu tanah telah sempurna tertutup dan sebuah nisan marmer hitam dipasang, Raegan mendapati kehadiran papanya di sana.

Kaldera yang berada di samping Raegan, melihat lelaki itu melangkah menuju seorang pria berusia 50 tahunan di sana. Kaldera menebak bahwa sosok yang dihampiri Raegan itu adalah papanya Zio.

“Kaldera, kita tabur bunganya bareng ya Sayang,” ucap Indri yang langsung mengalihkan perhatian Kaldera.

Kaldera mengangguk pelan. Kemudian ia mengambil bunga di keranjang dan menaburkannya di atas pusara Zio, diikuti oleh Indri yang melakukan hal yang sama dengannya.

Kaldera mengusap sekilas batu nisan itu. Ia berusaha menahan air matanya, tapi air bening itu mengalir lagi untuk yang kesekian kalinya. Beberapa saat kemudian, setelah memanjatkan doa, para pelayat satu persatu mulai meninggalkan tempat itu. Langit tampak menggelap, Kaldera mendongak menatap awan yang sudah berubah menghitam.

“Indri, maaf saya datangnya telat,” ucap sebuah suara yang lantas menginterupsi Indri dan Kaldera.

Indri menoleh pada sosok itu, ia bangkit dari posisi berlututnya di samping makam Zio.

“Makasih kamu sudah datang,” Indri hanya mengucapkan itu sembari mengulaskan sebuah senyum getir.

Kaldera menyaksikan itu dengan mata kepalanya. Saat Satrio, papanya Zio, mengucapkan kata maafnya pada Raegan dan Indri, Raegan terang-terangan bersikap dingin dan seperti enggan menanggapi papanya.

Akhirnya untuk yang pertama kali, Kaldera bertemu dengan seluruh anggota keluarga Zio. Papanya Zio ada di sana, beliau datang bersama beberapa ajudannya. Seperti yang Zio sering ceritakan padanya, papanya adalah pejabat negara yang cukup sibuk dengan pekerjaannya. Zio selalu mencoba mengerti kala papanya tidak dapat hadir di hari pentingnya, saat olimpiade olahraga basketnya, ataupun saat hari kelulusan SMP-nya.

Dari sekian banyak tempat di dunia ini, Kaldera mempertanyakan, mengapa harus di sini orang-orang yang Zio cintai akhirnya berkumpul? Mengapa mereka berkumpul atas alasan yang sama sekali tidak pernah mereka harapkan?

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Kaldera menatap pintu ruang UGD yang beberapa detik lalu baru saja ditutup. Sepanjang perjalanan sampai tiba di rumah sakit, Kaldera tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Pikirannya sungguh kalut, ia hanya dapat memikirkan kondisi Zio.

Kafka yang melihat hancurnya Kaldera ikut merasa terpukul. Saat lelaki itu hendak menghampiri kekasih sahabatnya, Kaldera rupanya sudah lebih dulu mendongak dan menatapnya. Kilatan mata Kaldera memancarkan kekecewaan dan emosi yang begitu mendalam.

Detik berikutnya, Kaldera mengalihkan tatapannya kepada Aksa yang berada tidak jauh darinya. Dengan langkah lebarnya, Kaldera lantas menghampiri Aksa.

Kaldera yang tidak dapat berpikir jernih, menyalahkan Aksa atas apa yang terjadi dengan Zio. Aksa juga merasa bersalah, ia tidak menduga kejadiaannya berakhir seperti ini.

“Kal, maafin gue ... ” ucap Aksa dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Kaldera menatap Aksa dengan matanya yang kini memerah. “Kalau sampai Zio kenapa-napa, kata maaf lo nggak ada artinya Sa,” ucap Kaldera, air matanya luruh lagi membasahi pipinya.

Tidak lama berselang setelah Kaldera kembali ke kursinya, ia mendapati kedatangan dua orang yang penting di hidup Zio. Tante Indri dan mas Raegan, mama dan kakaknya Zio, mereka ada di sana.

Sosok pria jangkung berparas tegas itu berbicara pada salah satu perawat yang tadi membawa Zio ke ruang UGD. Perawat itu menjelaskan pada Raegan soal apa yang terjadi dengan Zio. Kaldera masih berdiri di tempatnya, menyaksikan tante Indri berderai air mata dan beliau terlihat menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.

Sekitar 20 menit kemudian, pintu ruang UGD terbuka dan menampakkan seorang perawat di sana. Indri dan Raegan segera berdiri dari posisi duduknya untuk mengetahui kondisi Zio saat ini.

“Kondisi pasien sempat membaik beberapa saat lalu, tapi kini kondisinya kembali memburuk. Pasien meminta untuk bertemu dua orang,” ujar perawat dengan jubah kesehatan berwarna hijau itu.

Setelah itu semua yang ada di sana saling melempar pandangan. “Untuk saudara Kaldera dan Raegantara, silakan ikut saya ke dalam.”

***

Ini pertama kalinya Kaldera melihat sosok itu. Raegantara Rahagi Gumilar, seorang kakak yang selama ini kerap Zio ceritakan padanya. Kini di ruang UGD itu, Kaldera berada di sisi kanan ranjang Zio, sementara Raegan berada di sisi kirinya.

Zio memejamkan matanya sesaat, sebelum akhirnya membuka lagi. Zio menatap Kaldera, pandangannya nampak sendu, tapi lelaki itu mencoba untuk mengulaskan senyum tipisnya. “Kal,” ucap Zio, ia mengarahkan tangannya untuk mengusap sisa air mata di pipi Kaldera.

Berikutnya Zio mengalihkan tatapannya pada Raegan, dengan nada pelan, Zio berujar, “Mas, gue punya satu permohonan sama lo. Kalau nanti gue nggak bisa bertahan, gue minta tolong sama lo buat jagain Kaldera. Gue cuma percaya sama lo,” ucap Zio dengan susah payah, hembusan napasnya terdengar berat dan melemah.

Raegan tidak merespon ucapan adiknya itu. Baginya kalimat Zio hanyalah sebuah lelucon. Adiknya bisa bertahan, dan Raegan mempercayai itu.

Detik berikutnya yang terjadi adalah Zio meraih tangan Kaldera, ia meminta Raegan menggenggam tangan kekasihnya. “Mas, dia berarti banget buat gue. Gue titip dia sama lo ya,” ujar Zio.

Atas kalimat Zio itu, Kaldera menatapnya tidak percaya. Kaldera menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin mempercayai itu. Zio bisa bertahan, tidak mungkin Zio akan pergi meninggalkannya.

“Zio, kamu ngomong apa. Kamu bisa bertahan,” ucap Kaldera.

Seolah-olah ucapan Kaldera hanya angin lalu, Zio melanjutkan perkataannya. Ia mengatakan bahwa ini adalah wasiat terakhirnya sebelum ia pergi. Zio mempunyai firasat bahwa ia tidak akan bisa bertahan. Rasanya terlalu sakit, ia ingin tetap di sini, tapi seolah takdir tidak mengizinkannya.

“Mas Raegan, gue ngasih lo dua pilihan,” ucap Zio lagi.

“Lo nggak perlu wasiat itu, Zio. Lo bisa bertahan. Gue panggil dokter dulu—” ucapan Raegan itu terhenti berkat Zio yang segera menahan lengannya.

Zio mengatakan ia ingin menjadikan Kaldera bagian dari keluarganya. Zio tidak dapat memikirkan apa pun saat ini, meski keluarganya rumit, tapi ia yakin Raegan bisa menjaga Kaldera dengan baik. Wasiat Zio itu berisi dua pilihan. Pilihan yang pertama adalah Zio ingin keluarganya mengangkat Kaldera menjadi anak, yang mana artinya Kaldera akan menjadi adik bagi Raegan dan anak kedua bagi Indri. Sementara pilihan yang kedua, menjadikan Kaldera menantu keluarga Gumilar. Untuk pilihan kedua itu, Zio meminta Raegan mencoba mencintai Kaldera dan menikahi kekasih adik kandungnya sendiri.

***

Kaldera menyapukan pandangannya ke penjuru rumah megah dengan nuansa berwarna putih ini. Di ruang tamu rumah itu, terdapat satu figura yang berukuran cukup besar. Di sana Kaldera dapat melihat potret sebuah keluarga kecil yang nampak begitu bahagia. Keluarga yang lengkap, sebuah keinginan yang terasa sederhana, tapi Zio tidak lagi memilikinya.

Di rumah besar ini, pantas saja Zio merasa kesepian. Kaldera tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya. Saat ini pasti Zio lebih merasa kesepian. Sama seperti dirinya tanpa lelaki itu, Kaldera terlihat kosong dan tidak mempedulikan orang-orang yang tengah berlalu lalang. Ketika mereka mengucapkan belasungkawa kepadanya, Kaldera hanya menoleh dan menatap dengan pandangan tanpa arti.

Satu persatu pelayat mulai bergerak meninggalkan rumah duka untuk pergi ke pemakaman. Namun Kaldera masih duduk di salah satu kursi plastik di halaman rumah itu. Sebuah mobil ambulans baru saja membawa kekasih hatinya pergi, hatinya sangat sakit dan terasa seperti diremas dengan kuat.

“Kal,” panggil seseorang yang suaranya terasa fameliar. Atas panggilan itu, Kaldera akhirnya menoleh. Kaldera mendapati Risa, salah satu mantan pacar Zio yang Kaldera kenal dengan sangat baik.

Seketika tangis Kaldera kembali pecah. Ia tidak dapat membendungnya, dan saat itu juga Risa meraih Kaldera ke dalam pelukannya. Risa berusaha memberi kekuatan pada Kaldera, meskipun ia tahu mungkin itu tidak terlalu berarti besar untuk gadis itu.

“Kal, Zio beruntung banget punya lo. Lo tau, lo selamanya akan selalu ada di hati dia,” tutur Risa sembari mengusapkan tangannya di punggung Kaldera.

***

Di sore yang lumayan cerah itu, Kaldera berjalan bersisian dengan Indri. Mama dari kekasihnya itu memeluk lengannya, mereka sama-sama coba menguatkan meskipun tidak tahu sampai mana usaha itu akan berhasil.

Setelah melewati lapangan golf yang cukup luas, mereka akhirnya ampai di area pemakaman. Sebenarnya pemakaman ini memiliki dua jalan untuk menuju ke sana, tapi Indri mengatakan pada Kaldera bahwa ia ingin melewati lapangan golf. Indri ingin mempersiapkan hatinya dan menenangkan pikirannya sejenak, sebelum ia harus mengantar Zio pergi untuk selamanya.

Raegan berjalan di belakang Indri dan Kaldera. Dari luar mungkin ia terlihat seperti sosok yang paling kuat menghadapi kepergian adiknya. Namun tidak ada yang tahu, bahwa Raegan tengah mati-matian menahan kehancurannya. Kalau ia hancur, maka mamanya akan lebih hancur lagi jika tidak memiliki tempat bersandar. Raegan tidak boleh terlihat lemah, ia menanamkan hal tersebut di dalam pikirannya.

Pemakaman berjalan sebagaimana mestinya. Tanah coklat itu perlahan-lahan mulai mengubur sosok yang menjadi cinta bagi semua yang mengantar kepergiannya sore ini. Semua yang kini tersisa, hanya akan menjadi kenangan di dalam hati. Begitu tanah telah sempurna tertutup dan sebuah nisan marmer hitam dipasang, Raegan mendapati kehadiran papanya di sana.

Kaldera yang berada di samping Raegan, melihat lelaki itu melangkah menuju seorang pria berusia 50 tahunan di sana. Kaldera menebak bahwa sosok yang dihampiri Raegan itu adalah papanya Zio.

“Kaldera, kita tabur bunganya bareng ya Sayang,” ucap Indri yang langsung mengalihkan perhatian Kaldera.

Kaldera mengangguk pelan. Kemudian ia mengambil bunga di keranjang dan menaburkannya di atas pusara Zio, diikuti oleh Indri yang melakukan hal yang sama dengannya.

Kaldera mengusap sekilas batu nisan itu. Ia berusaha menahan air matanya, tapi air bening itu mengalir lagi untuk yang kesekian kalinya. Beberapa saat kemudian, setelah memanjatkan doa, para pelayat satu persatu mulai meninggalkan tempat itu. Langit tampak menggelap, Kaldera mendongak menatap awan yang sudah berubah menghitam.

“Indri, maaf saya datangnya telat,” ucap sebuah suara yang lantas menginterupsi Indri dan Kaldera.

Indri menoleh pada sosok itu, ia bangkit dari posisi berlututnya di samping makam Zio.

“Makasih kamu sudah datang,” Indri hanya mengucapkan itu sembari mengulaskan sebuah senyum getir.

Kaldera menyaksikan itu dengan mata kepalanya. Saat Satrio, papanya Zio, mengucapkan kata maafnya pada Raegan dan Indri, Raegan terang-terangan bersikap dingin dan seperti enggan menanggapi papanya.

Akhirnya untuk yang pertama kali, Kaldera bertemu dengan seluruh anggota keluarga Zio. Papanya Zio ada di sana, beliau datang bersama beberapa ajudannya. Seperti yang Zio sering ceritakan padanya, papanya adalah pejabat negara yang cukup sibuk dengan pekerjaannya. Zio selalu mencoba mengerti kala papanya tidak dapat hadir di hari pentingnya, saat olimpiade olahraga basketnya, ataupun saat hari kelulusan SMP-nya.

Dari sekian banyak tempat di dunia ini, Kaldera mempertanyakan, mengapa harus di sini orang-orang yang Zio cintai akhirnya berkumpul? Mengapa mereka berkumpul atas alasan yang sama sekali tidak pernah mereka harapkan?

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Malam ini di sebuah kafe outdoor, ketidakhadiran seorang lelaki yang meruoakan bagian dari mereka segera mengundang tanya. Termasuk Redanzio, salah satu sahabat Aksa yang cukup dekat dengannya. Zio menjadi sasaran teman-temannya yang menanyakan di mana keberadaan AKsa.

“Zio, lo tau kenapa Aksa nggak bisa dateng malem ini?” tanya Aldi kepada Zio.

“Aksa nggak ngasih tau gue kenapa dia nggak bisa dateng malem ini,” jawab Zio apa adanya.

Kemudian Gilang menghampiri Zio dan duduk di sampingnya. “Kemarin gue nggak sengaja denger pembicaraan Aksa di telfon. Katanya malam ini dia mau dateng ke suatu tempat untuk urusan kerjaannya.”

“Tuh anak belakangan ini aneh banget, deh. Dia sama sekali nggak cerita tentang kerjaannya. Nggak biasanya dia kayak gitu,” celetuk Karel sembari menyalakan pemantik untuk rokoknya. Karel pun menceritakan apa saja yang ia ketahui. 2 bulan yang lalu, Aksa memang menerima tawaran pekerjaan freelancer di bidang IT. Aksa dikenalkan pada seseorang yang akan menggunakan jasanya, oleh senior yang merupakan alumni sekolahnya.

Setelah percakapan tentang Aksa, ponsel Zio yang berdering membuatnya berpamitan untuk mengangkat panggilan itu. Zio menjauh dari teman-temannya dan rupanya telfon itu dari Kafka, sepupunya Aksa.

Zio mendengarkan perkataan Kafka dengan seksama. Kedua netranya seketika membola mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Aksa. Rupanya sikap aneh Aksa yang tidak ingin terbuka pada teman-temannya memiliki sebuah alasan.

“Aksa nge-share location ke gue. Gue nggak tau maksudnya apa, tapi firasat gue nggak enak. Gue mau ke sana,” ujar Kafka di telfon.

“Kafka,” ucap Zio yang menahan Kafka yang hendak menutup telfonnya.

“Kaf, share lokasinya ke gue juga,” sambung Zio.

“Jangan bilang lo mau ke sana juga? Aksa kayaknya belum cerita ke lo soal pekerjaannya. Zio, tapi ini bahaya. Atasannya Aksa ternyata bukan orang sembarangan. Kalau lo mau ke sana, lo nggak bisa bawa banyak orang.”

***

Malam ini Kaldera tidak bisa tidur setelah mendapat pesan dari Zio. Kekasihnya itu mengatakan kalau ia berniat pergi ke suatu tempat untuk menolong sahabatnya, yakni Aksa.

Zio hanya mengirimkan sebuah kalimat dan meyakinkan Kaldera kalau semuanya akan baik-baik saja. Namun entah mengapa, dera tidak dapat berpikiran jernih saat ini. Kaldera khawatir dan sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Ini jam 10 malam dan Kaldera tidak tahu apa yang akan Zio lakukan di luar sana.

Tanpa berpikir panjang, Kaldera mengambil cardigan-nya, handphone, serta dompetnya. Ponsel Zio tidak aktif sehingga Kaldera tidak bisa menghubunginya untuk mengetahui keberadaan lelaki itu.

Kaldera masih memiliki satu harapan yang dapat membuatnya mengetahui lokasi tujuan Zio. Kafka, sepupu Aksa yang juga sahabat Zio pasti tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Setelah mendapat telfon dari Kaldera, Kafka memberikan alamat itu. Kafka pun berada di dalam situasi yang sulit. Ia adalah orang yang telah membuat Zio berkeinginan datang membantu Aksa. Meskipun Kafka tahu Zio tidak akan suka jika Kaldera terlibat, tapi di satu sisi, Kafka juga tidak tega mendengar permohonan Kaldera kepadanya.

***

Kaldera berusaha memantapkan hatinya ketika melangkah memasuki bangunan itu. Ia kembali mengecek apakah benar ini lokasinya, berharap ia salah tujuan. Namun rupanya tidak. Lokasi ini sesuai dengan yang diberitahu oleh Kafka.

Bangunan yang dulunya merupakan ruko-ruko bertingkat yang menjual berbagai busana di tengah kota ini, telah lama berubah menjadi tempat yang diasingkan dan tidak lagi terawat.

Kaldera melangkahkan kakinya semakin dalam, ia menelusuri bangunan itu di mulai dari lantai satu hingga saat ini kakinya sudah sampai di lantai 3. Cahaya yang minim di tempat itu, membuat Kaldera kesulitan menemukan keberadaan Zio. Kaldera ingin meminta bantuan, tapi ia tidak tahu kepada siapa harus memintanya. Satu-satunya yang mungkin dapat membantunya adalah keluarga Zio. Namun bukannya memperbaiki keadaan, sepertinya itu malah akan menambah masalah dengan membuat keluarga kekasihnya khawatir.

Saat Kaldera sampai di lantai 4 bangunan itu, beberapa meter dari tempatnya, ia dapat melihat sosok yang dikenalnya. Di sana ada Zio dan Aksa. Namun yang membuat Kaldera terkejut adalah kehadiran seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam. Wajahnya tidak begitu jelas dari jangkauan mata Kaldera, tapi yang jelas pria itu membawa sebuah senjata tajam di satu tangannya.

Kaldera berusaha tidak menimbulkan suara, meskipun ia terkejut bukan main. Kaldera ingin sekali berlari ke sana dan menarik Zio dari bahaya yang ada di depan matanya itu, tapi Kaldera tahu ia tidak dapat melakukannya. Di tengah pikiran kalutnya itu, Kaldera memutuskan untuk bersembunyi di antara etalase-etalase dan manekin pakaian yang cukup untuk menutupi keberadaannya di sana.

Dari tempat persembunyiannya, Kaldera dapat melihat kalau Aksa tengah berbicara dengan pria yang membawa senjata itu. Entah apa yang mereka bicarakan, sepertinya itu berhubungan dengan pekerjaan freelance yang dilakukan oleh Aksa.

Begitu Kaldera melihat pria itu melepaskan pelindung kulit dari pisau di tangannya, entah apa yang ada di pikirannya, Kaldera mengaktifkan kamera di ponselnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Kaldera memotret saat pria itu hampir saja mengarahkan senjatanya kepada Aksa. Namun yang membuat Kaldera hampir saja menjatuhkan ponselnya, adalah ketika Zio berusaha mencegah pria itu dan berakhir justru Zio yang tertusuk. Benda tajam itu tertancap tepat di bagian perutnya. Kaldera menyaksikan itu semua dan ingin lari ke sana, tapi Kaldera tahu ia tidak bisa melakukannya saat ini. Maka air matanya meluruh begitu saja membasahi pipinya.

Kaldera merasakan dadanya sesak tidak karuan, ia jelas-jelas menyaksikan di depan matanya seseorang yang dicintainya telah disakiti.

Segera setelah Zio jatuh ke lantai sambil memegangi area bawah perutnya, pria asing itu pergi dari sana. Usai kepergian orang itu, Kaldera tidak menunda lagi untuk keluar dari tempat persembunyiannya.

Begitu melihat Kaldera di sana, Zio dan Aksa terlihat terkejut. Kaldera menahan air matanya untuk meluncur lebih banyak, ia luluh lantak di samping Zio. Kedua lutut Kaldera berusaha menumpu tubuhnya yang rasanya lunglai.

“Zio ... ” hanya itu yang terucap dari bibir Kaldera.

Kaldera mendekat pada Zio, membiarkan Zio memeluk tubuhnya untuk mencari kekuatan di sana. Kaldera tidak dapat mengucapkan apapun, tiba-tiba semua rasa takut menyerangnya secara bertubi-tubi.

“Kal, makasih kamu pernah hadir di hidup aku. Aku sayang kamu Kal,” ucap Zio, lalu ia mengurai pelukannya dari tubuh Kaldera. Kedua iris legam Zio memandang Kaldera dengan tatapan penuh sayangnya.

“Kal, you are everything that I'm dreamed of. Walau nanti tanpa aku, kamu harus janji kamu akan selalu bahagia. Janji sama aku, yaa?”

Kata-kata Zio itu terus terngiang di benak Kaldera. Namun sampai saat Kafa datang bersama ambulans yang tadi sempat Kaldera hubungi, Kaldera belum bisa mengiyakan janji yang Zio pinta kepadanya.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Di kediaman berlantai dua yang tampak megah itu, sosok lelaki muda bertubuh lumayan kekar dipersilakan untuk memasuki rumah oleh penjaga di depan. Arjuna, bodyguard pribadi Raegan itu mengetuk pintu berpelitur putih di hadapannya.

Setelah pintu dibukakakn oleh seorang asisten rumah tangga yang bekerja di sana, Arjuna melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruang kerja Raegan.

“Malam, Pak. Sesuai permintaan Anda, saya ingin menyerahkan laporan tentang kegiatan sehari-hari Kaldera,” ucap Arjuna.

Saat Raegan mempersilakannya untuk memberikan laporan itu, Arjuna segera meletakkan sebuah map coklat besar di atas meja atasannya. Berikutnya Raegan membuka map itu dan melihat dengan seksama hasil foto yang didapatkan oleh Arjuna.

“Apa yang dia lakuin sampe harus pulang malam hampir setiap hari?” tanya Raegan, ia masih memegang foto-foto itu di tangannya.

“Gadis itu melakukan pekerjaan part time dari senin sampai jumat. Hampir setiap hari dia pulang malam, sekitar jam 8. Selebihnya kegiatannya hanya seperti remaja pada umumnya.”

“Gimana kondisi di rumahnya?” tanya Raegan.

“Semuanya keliatan normal Pak sejauh ini. Kaldera tinggal dengan tantenya yang setelah saya cari tau, beliau adalah wali sah Kaldera sejak kedua orang tuanya meninggal.”

“Ada satu hal yang aneh dan kamu tidak sadar itu. Menurut kamu, kenapa seorang wali yang bertanggung jawab membiarkan anak remaja yang masih sekolah bekerja paruh waktu sampai malam hari?”

Arjuna seketika tidak dapat menjawab. Ia terlihat tidak menyangka sekaligus kagum akan pemikiran atasannya yang sama sekal itidak terpikirkan olehnya. “Beberapa kali saya temukan di rumah itu hanya ada Kaldera, Pak. Walinya tidak ada di sana,” ungkap Arjuna sambil mencoba ikut memikirkan semuanya.

“Oke, saya minta kamu untuk cari tau lagi. Dapetin informasi soal walinya Kaldera. Apapun itu yang kamu dapatkan, pastikan sampaikan ke tangan saya,” ujar Raegan.

“Baik, Pak,” ucap Arjuna mengiyakan perintah atasannya.

Setelah itu, Raegan memperbolehkan Arjuna untuk meninggalkan ruangannya. Sepeninggalan Arjuna dari ruangannya, Raegan teringat kalimat yang pernah Kaldera katakan padanya. Sebagian hatinya percaya bahwa perkataan Kaldera adalah benar, gadis itu tidak membohonginya. Kaldera pernah mengatakan pada Raegan bahwa Aksa merupakan sahabat dekat Zio. Jadi kemungkinan besar, memang tidak ada motif kejahatan yang dimiliki Aksa hingga membuatnya berakhir membunuh Zio.

Atas keyakinan tersebut, Raegan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Begitu telfonnya terhubung, Raegan langsung disapa oleh suara orang yang begitu fameliar.

“Raegantara Rahagi, apa ada yang bisa saya lakukan untuk membantu kamu?” tanya orang itu.

“Langsung saja saya sampaikan. Saya ingin Anda menangani kasus pembunuhan adik saya. Saya ingin membahas itu secepatnya.”

***

Aksa menemui seseorang yang ingin bertemu dengannya di sel tahanan siang ini. Aksa sedikit tidak percaya ketika ia menemukan Raegan berada di sana. Pria itu adalah sosok yang membuat tuntutan terhadapnya. Jelas saja, Aksa terkejut dan menerka-nerka apa alasan Raegan datang untuk menemuinya.

Aksa menarik kursi di hadapannya. Raegan tidak datang sendiri, pria itu membawa seorang pengacara bersamanya.

“Saya hanya akan memberi kamu satu kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya soal kejadian malam itu,” ucap Raegan pada Aksa.

Awalnya Aksa tidak ingin membuka suaranya sama sekali. Ia takut salah mengambil langkah. Bagaimana pun Raegan adalah lawannya, dan ia tidak tahu apa motif Raegan meminta Aksa mengatakan yang sebenarnya.

“Klien saya akan memberi Anda kesempatan untuk menceritakan detail kejadian yang sebenarnya. Apa yang terjadi malam itu, Anda bisa memberi tahu kami. Apa yang Anda katakan akan menjadi pertimbangan klien saya untuk mencabut tuntutannya terhadap Anda atau tidak. Jika perkataan Anda terbukti benar, Anda bisa bebas dari sini,” jelas Erwin, pengacara yang duduk di samping Raegan.

Setelah beberapa menit memikirkan perkataan Erwin, Aksa akhirnya setuju untuk menceritakan kejadian malam itu. “Leonel Nathan Tarigan, orang itu yang membunuh Zio. Bukan saya pelakunya,” ucap Aksa memulai kalimatnya.

Dari kalimat tersebut, akhirnya mengalir cerita tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Aksa memiliki urusan dengan seseorang yang membayar pekerjaan freelance-nya dan Zio datang ke sana karena menduga bahwa Aksa berada dalam bahaya.

Ketika Aksa menyebutkan nama tersebut, Raegan langsung mengetahui siapa sosok Leonel Nathan Tarigan.

“Jawab dengan jujur pertanyaan saya. Apa kamu tau kamu berurusan dengan siapa?” tanya Raegan pada Aksa.

“Saya hanya bekerja dengannya karena seseorang yang mengenalkan kami. Saya nggak tau siapa sosok Leonel yang sebenarnya,” Aksa mengatakan apa yang ia ketahui, bahwa ia memang tidak tahu siapa sosok atasannya itu.

“Yang jelas, dia adalah orang yang punya kekuatan dan kuasa. Dia nggak akan tinggal diam sampai tujuannya tercapai,” tambah Aksa. Lelaki itu juga mengungkapkan bahwa tujuan Leonel adalah dirinya. Entah hidup atau mati, Leonel ingin mendapatkan Aksa dengan tangannya sendiri.

Dari cerita Aksa tersebut, Raegan dapat menarik sebuah kesimpulan. Malam itu Leonel membunuh Zio karena adiknya telah terlibat dan menghalangi Leonel untuk mencapai tujuannya.

“Kamu harus bisa membuktikan kalau kamu tidak bersalah. Saya akan bantu kamu dan saya harap kamu bersikap kooperatif. Saya nggak bisa mencabut tuntutannya dan membiarkan pelaku sebenarnya lolos gitu aja. Saya akan tetap mencari pelaku pembunuhan adik saya dan memastikan dia mendapat hukumannya,” ujar Raegan.

Aksa yang mendengar itu dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Anda nggak bisa melawan Leonel. Dia orang yang sangat berbahaya,” terang Aksa. Ekspresi wajah Aksa ketika mengatakannya, dipenuhi oleh ketakutan. Aksa sungguhan memperingati Raegan bahwa pria itu tidak bisa melawan Leonel.

Dari situasi yang tengah terungkap itu, Erwin mengatakan bahwa mereka bisa mencari bukti bahwa Leonel bersalah. Di tempat kejadian perkara, pasti ada sesuatu yang dapat dijadikan bukti. Raegan akan mencari bukti itu dengan kemampuan yang ia miliki, itu yang ia katakan pada Aksa.

Sebelum Raegan dan Erwin pergi dari sana, Aksa teringat sesuatu dan mengatakan bahwa ada satu orang saksi yang kemungkinan dapat memberi kesaksiannya di pengadilan nanti.

“Siapa orang itu?” tanya Raegan.

“Kaldera.” Aksa pun menyebutkan sebuah nama. “Kaldera adalah satu-satunya saksi mata di tempat kejadian waktu itu,” tambah Aksa.

Kalau meminta pendapat Erwin, pria itu jelas menyarankan bahwa Kaldera harus bersaksi untuk membebaskan Aksa dan menjadikan Leonel sebagai tersangka.

Sebelum Raegan beranjak dari kursinya, Aksa membisikkan sesuatu kepadanya. “Kita nggak tau apa yang Leonel sekarang rencanakan. Dia bisa aja menargetkan orang-orang yang berhubungan dengan kasus ini. Dia bisa melakukan apa aja yang dia inginkan. Leonel bisa menjadikan Kaldera sebagai target selanjutnya.”

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Kaldera merasa bahwa keputusannya menolak permintaan Raegan adalah pilihan yang paling tepat. Kaldera tidak ingin Indri dan Raegan terlibat dengannya, yang artinya mereka harus berurusan juga dengan tantenya. Ini adalah yang terbaik, begitu pikir Kaldera.

Terkadang Kaldera masih menyalahkan apa yang sudah terjadi. Setelah kedua orang tuanya yang pergi, mengapa Tuhan kembali mengambil orang yang begitu ia cintai? Mengapa ia harus melalui hal seberat ini?

“Kaldera!” seruan yang memanggil namanya itu seketika membuat Kaldera menoleh. Di koridor lantai satu sekolahnya, Kaldera mendapati Icha tengah berlari ke arahnya.

Begitu Icha sampai di hadapannya, perempuan itu berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan.

“Lo kenapa Cha lari-lari gitu? Ngejar apa sih?” tanya Kaldera yang keheranan melihat tingkah sahabatnya itu.

Icha menghembuskan napasnya sebelum akhirnya berujar, “Lo harus tau ini, Kal. Itu si Aksa ditahan sama polisi!” seru Icha dengan wajah paniknya.

“Gue denger-denger dari anak OSIS, Aksa jadi tersangka kasusnya Zio, Kal ...” lanjut Icha, tatapannya turut prihatin.

Kaldera masih belum merespon Icha, hingga akhirnya Icha menggerakkan tangannya di depan wajah Kaldera untuk menyadarkan Kaldera dari lamunannya.

“Kal, lo nggak tau apa-apa soal ini?” tanya Icha.

“Gue baru tau berita ini dari lo,” jawab Kaldera apa adanya. Ia memang tidak tahu menahu tentang berita tersebut.

Di tengah-tengah situasi itu, tiba-tiba seorang lelaki menghampiri Kaldera dan Icha. Lelaki itu adalah Kafka. Kafka adalah sepupu Aksa yang malam itu memberitahu Kaldera lokasi yang dituju Zio untuk membantu Aksa.

“Kal, gue tau, lo akan anggep gue kurang ajar kalau gue bilang ini ke lo. Gue mohon Kal, tolong bantu Aksa untuk bebas dari penjara. Gue yakin. bukan sepupu gue pelakunya.” Ucapan Kafka tersebut seketika membuat Kaldera menoleh dan menatap lelaki itu tepat di iris matanya. Kaldera nampak bingung harus merespon apa. Semua ini terasa bertubi-tubi datang padanya.

“Kal, cuma lo yang bisa bujuk keluarga Zio untuk cabut tuntutannya. Zio sama Aksa sahabatan, Aksa nggak punya motif apapun untuk celakain Zio. Nggak mungkin Aksa ngelakuin itu.”

***

Kaldera telah setuju untuk membantu membebaskan Aksa dari tuntutan itu. Kaldera akan mencobanya, tapi ia tidak bisa berjanji akan berhasil. Di sinilah Kaldera dan Kafka sekarang, di lobi sebuah gedung mewah pencakar langit yang merupakan kantor perusahaan batu bara ternama. Seseorang yang diduga membuat tuntutan tersebut, ada di gedung ini. Jadi mereka akan coba menemuinya untuk membicarakan tuntutan itu.

Begitu sampai di pintu lobi, langkah Kaldera dan Kafka ditahan oleh dua orang satpam berbadan tinggi dan besar.

“Mohon maaf, ada keperluan apa datang ke sini? Apakah sudah membuat janji untuk bertemu?” ujar salah seorang satpam.

Kaldera dan Kafka lantas saling berpandangan. Kaldera akhirnya membuka suara setelah menimang itu di dalam pikirannya. “Saya ingin bertemu dengan bapak Raegantara Rahagi. Saya sudah menelfon beliau, tapi belum mendapat respon,” jelas Kaldera.

“Kalau belum ada persetujuan dari beliau, mohon maaf Anda tidak bisa bertemu,” ujar satpam itu lagi.

“Tapi saya harus bertemu dengan beliau,” ucap Kaldera tetap berusaha mendapatkan izin masuk itu.

“Baik, kalau Anda memaksa. Saya akan sampaikan pada bapak Raegan. Tapi bisa jelaskan lebih dulu hubungan apa yang Anda miliki dengan beliau?”

***

Siang ini Raegan sedang berada di ruangannya ketika bodyguard-nya mengatakan bahwa ada seseorang yang bertekad menemuinya.

“Calon istri?” tanya suara bariton itu. Raegan beranjak dari kursi kebesarannya, ia melempar tatapan tidak percaya pada bodyguard yang telah lama bekerja untuknya. Pasalnya Arjuna mengatakan bahwa orang yang ingin menemuinya itu adalah calon istrinya.

“Betul, Pak. Di luar ruangan Anda, ada seorang gadis delapan belas tahun yang mengaku sebagai calon istri Bapak. Saya tidak percaya karena dia tidak punya bukti apapun. Mohon maaf telah mengganggu waktu Bapak, saya akan mengurus ini segera,” ucap Arjuna dan hendak berbalik pergi dari hadapan Raegan.

“Tunggu,” ucap Raegan menghentikan langkah Arjuna.

“Dia gadis SMA?” tanya Raegan dengan matanya yang nampak memicing.

“Benar, Pak.”

“Izinkan dia masuk. Saya mengenalnya,” putus Raegan.

“Dia betul calon istri Bapak? Bukannya mbak Kaluela—”

“Tugas kamu di sini hanya melakukan apa yang saya perintahkan, bukan untuk mencampuri urusan pribadi saya,” tukas Raegan yang seketika membuat Arjuna bungkam.

***

Raegan menatap dua orang yang kini ada di hadapannya. Kaldera Ruby Rinjani, sosok kekasih almarhum adiknya yang datang bersama seorang lelaki yang memiliki hubungan keluarga dengan tersangka pembunuh adiknya.

Raegan menatap Kaldera dengan tatapan datarnya. Pria itu tampak acuh dengan kehadiran Kaldera dan Kafka. Raegan hanya menselancarkan jemarinya pada layar ipad di tangannya tanpa berniat membuka pembicaraan lebih dulu.

“Kenapa Anda menuntut orang yang tidak bersalah?” akhirnya Kafka membuka suara.

Raegan yang mendengar kalimat itu, langsung menaruh ipad-nya di meja dengan gerakan sedikit kasar. Raegan mengarahkan tatapannya pada Kafka. “Kalau sepupu Anda tidak bersalah, polisi akan menyelidikinya dan menemukan bukti. Saya melakukan tuntutan bukan tanpa bukti yang kuat. Semua bukti jelas mengarah pada sepupu Anda,” tukas Raegan dengan satu tarikan napas.

“Anda bisa melakukan penyelidikan tanpa menghancurkan masa depan Aksa. Saya tau, Anda punya uang sehingga bisa membeli hukum dengan uang itu. Dengan mudahnya Anda memasukkan orang ke penjara,” ujar Kafka lagi.

Kaldera yang duduk di samping Kafka, terlihat mencegah lelaki itu untuk melanjutkan lagi ucapannya. Kaldera merasakan bahwa situasi yang terjadi antara Kafka dan Raegan berangsur memanas. Dikhawatirkan jika semakin jauh terjadi, justru akan muncul permasalahan yang lebih besar.

Tanpa Kafka memprediksinya, kalimat sembrononya itu telah menciptakan amarah yang kentara jelas dari raut wajah Raegan. Raegan beranjak dari posisi duduknya, ia melangkah menuju Kafka dan berujar, “Lantas apa yang telah diperbuat sepupu kamu terhadap adik saya? Lebih dari menghancurkan, bukan?”

Berikutnya tatapan Raegan beralih pada Kaldera. Dari sorot mata itu, Kaldera dapat melihat ada kekecewaan di sana.

“Kaldera, kamu nggak perlu ikut campur ke dalam urusan ini,” ucap Raegan.

“Aku punya alasan untuk ikut campur,” ujar Kaldera.

Raegan lantas menyunggingkan senyum smirk-nya. “Alasan apa yang buat kamu ada di pihak pembunuh pacar kamu, Kaldera?” Raegan masih di sana, menatap Kaldera dengan mata elangnya. Kaldera dapat merasakan tatapan tajam bercampur rasa kecewa yang dalam, saat iris legam Raegan menatapnya.

Kaldera bergeming di tempatnya, ia hanya dapat menatap ke arah lantai marmer hitam di ruangan ini.

“Aku nggak memihak siapa pun,” ucap Kaldera kemudian. Kaldera berusaha menatap Raegan meski rasanya Raegan dapat mengulitinya melalui sorot mata itu.

“Apa kamu nggak sadar kalau dia lagi manfaatin kamu untuk kepentingannya sendiri?” tanya Raegan. Pria itu menjeda ucapannya sesaat. Raegan menghela napasnya, lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar. “Dengar Kaldera, sekalipun kamu yang saya meminta untuk mencabut tuntutan itu, saya tidak akan melakukannya. Kamu memang orang yang dicintai adik saya, tapi itu tidak cukup untuk merubah keputusan saya.”

Semua perkataan Raegan rasanya seperti tamparan tak kasat mata bagi Kaldera. Benarkah bahwa Kaldera telah melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan?

Belum cukup semua perkataan tajam Raegan padanya, Kaldera rupanya masih mencoba melunakkan hati Raegan. “Kita bisa selesaikan ini dengan kepala dingin dan nemuin pelaku sebenarnya. Aku mohon sama kamu, tolong cabut tuntutannya,” ucap Kaldera.

Raegan tidak habis pikir bahwa Kaldera justru berada di haluan yang sama dengan musuhnya. Kaldera mencoba menjelaskan pada Raegan, tapi pria itu keras kepala. Raegan tetaplah pria yang berpegangan kuat terhadap apa yang ia yakini benar.

“Saya bilang ini ke kamu untuk yang terakhir kali,” Raegan menatap Kaldera dengan tatapan tegasnya. “Saya tidak akan pernah sudi berhubungan dengan orang yang telah menyebabkan adik saya tiada. Apa kamu paham itu? Saya bisa menemukan pelakunya dengan tangan saya sendiri,” tukas Raegan.

Seolah perkataan Raegan adalah telak dan tidak dapat diganggu gugat. Raegan memilih berlabuh menggunakan kapalnya sendiri dan tidak ingin bekerja sama dengan Kaldera maupun Kafka.

“Kalian bisa pergi dari ruangan saya,” ucap Raegan kemudian. Pria itu tidak segan-segan mengerahkan para bodyguard-nya untuk mengantar Kaldera dan Kafka meninggalkan ruangannya.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

“Gimana perkembangan kasus Zio? Apa semuanya berjalan lancar?” tanya seorang perempuan berusia 30 tahun yang kini ada di hadapan Raegan.

Raegan mematikan laptopnya, lalu ia melangkah menuju ke sofa di sudut ruang kerjanya dan mengambil tempat di samping perempuan itu. “Semuanya lancar. Polisi udah ngeluarin surat penangkapan dan langsung nahan pelakunya.” Raegan mengulaskan senyum tipisnya pada perempuan itu. Kaluela Gabriel, kekasih hatinya. Kaluela menemuinya tidak berapa lama setelah kejadian Raegan harus menghadapi dua bocah SMA yang tiba-tiba datang ke kantornya siang ini.

“Raegan, aku minta maaf ya. Aku nggak bisa langsung terbang dari Sydney waktu hari pemakaman,” ucap Kalu dengan nada penuh penyesalannya.

“Nggak apa-apa. Kejadiannya cepet banget dan hari itu juga Zio langsung dimakamkan. Habis ini kamu mau berkunjung ke makam?” tanya Raegan.

Sure. Aku belum ngirim doa secara langsung untuk Zio. Oh iya, gimana keadaan mama sekarang?”

“Mama udah lumayan membaik, walaupun kadang beliau masih suka nangis,” jelas Raegan.

“Kamu temenin mama terus ya. Kurangin sedikit kerjaan kamu. Mama pasti butuh seseorang untuk ada terus di sampingnya,” saran Kalu yang segera diiyakan oleh Raegan.

“Oh iya, Arjuna tadi bilang kalau kamu baru aja kedatangan tamu. Siapa yang dateng?” Kaluela membuka tas bekal berisi makan siang yang dimasaknya sendiri untuk Raegan. Kalu baru saja sampai di Jakarta kemarin malam dan menemui Raegan hari ini di kantornya.

“Dia pacarnya Zio, dia dateng sama lelaki yang merupakan sepupu tersangka kasus itu. Aku nggak ngerti kenapa dia milih ada di pihak tersangka, bukannya berada di pihak yang sama denganku.” Raegan sedikit melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Mengingat kejadian tadi, rasanya emosi Raegan bisa naik lagi ke permukaan dengan begitu mudahnya.

“Sayang, mungkin kamu harus lebih ngertiin dia. Anggap dia kayak adik kamu. Aku ngerasa, dia adalah alasan Zio bisa bangkit dari kesedihannya semenjak mama dan papa berpisah. Pasti ada alasan pacarnya Zio dateng ke sini tadi. Aku yakin, dia cinta banget sama Zio,” Kaluela tahu betul apa yang dialami keluarga kekasihnya, tepatnya sejak orang tua mereka berpisah.

Saat itu Zio baru saja menginjak masa menuju remaja, dan perpisahan orang tuanya telah membuat Zio menjadi pribadi yang dingin dan tidak tersentuh. Bahkan hubungan Zio dengan Raegan tidak terlalu baik sejak saat itu. Raegan sibuk bekerja, begitupun dengan Indri. Zio masih begitu kecil untuk dapat memahami bahwa keluarganya tidak lagi utuh. Tanpa Raegan dan Indri sadari, yang Zio butuhkan adalah eksistensi keduanya, bukan sekedar materi yang melimpah.

“Kamu baru aja nyalahin aku?” tanya Raegan, tatapannya nampak nanar dan ada penyesalan dari nada bicaranya. Raegan merasa bersalah dan sepertinya ia tidak perlu memastikan itu lagi dengan bertanya kepada Kaluela.

“Aku nggak nyalahin kamu, Raegan. Aku tau, kamu selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk mama dan juga Zio. Hanya aja, kadang kamu nggak tahu caranya nunjukin kasih sayang kamu,” ucap Kalu terang-terangan.

“Kalu, sekarang aku lagi ngelakuin itu. Aku pastiin pelakunya akan dapet hukuman yang setimpal. Aku mau nebus semua kesalahanku sama Zio. Aku tau, aku belum sempat menjadi kakak yang baik untuk dia,” ucap Raegan.

No, kamu nggak boleh bilang kayak gitu. Aku yakin, Zio sayang banget sama kamu. Kamu udah ngelakuin yang terbaik, Raegan,” Kaluela mengulaskan senyum lembutnya pada Raegan. Hal itu akhirnya dapat sedikit menenangkan perasaan Raegan yang lumayan kalut hari ini.

Kalimat Kaluela tiba-tiba membuat Raegan teringat akan perkataan Zio sesaat sebelum menghembuskan napas terakhinya. Perkataan itu hanya dikatakan kepada Raegan tanpa sepengetahuan Kaldera atau siapapun itu. Setelah memberikan wasiat pada Raegan dan Kaldera, Zio meminta waktu berdua untuk bicara dengan Raegan saja.

Mas, gue cinta banget sama Kaldera. Gue nggak mau siapa pun nyakitin dia. Kalau gue nggak bisa bertahan, cuma lo orang yang gue percaya untuk jagain Kaldera. Gue tau, lo punya kak Kalu yang sempurna dan lo cinta banget sama dia. Tapi coba lo mengenal Kaldera dulu. Kalau akhirnya lo nggak jatuh cinta, lo cuma perlu sayang sama dia kayak lo sayang sama gue. Tolong jaga dia untuk gue ya Mas? Mungkin ini permintaan terakhir gue.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Kaldera merasa bahwa keputusannya menolak permintaan Raegan adalah pilihan yang paling tepat. Kaldera tidak ingin Indri dan Raegan terlibat dengannya, yang artinya mereka harus berurusan juga dengan tantenya. Ini adalah yang terbaik, begitu pikir Kaldera.

Terkadang Kaldera masih menyalahkan apa yang terjadi. Setelah kedua orang tuanya yang pergi, mengapa Tuhan kembali mengambil orang yang begitu ia cintai? Mengapa ia harus melalui hal seberat ini?

“Kaldera!” seruan yang memanggil namanya itu seketika membuat Kaldera menoleh. Di koridor lantai satu sekolahnya, Kaldera mendapati Icha tengah berlari ke arahnya.

Begitu sahabatnya sampai di hadapannya, Icha berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan. “Lo kenapa Cha lari-lari gitu? Ngejar apa sih?” tanya Kaldera yang keheranan melihat tingkah sahabatnya itu.

Icha menghembuskan napasnya sebelum akhirnya berujar, “Lo harus tau ini, Kal. Itu si Aksa ditahan sama polisi!” seru Icha dengan wajah paniknya.

“Gue denger-denger dari anak OSIS, Aksa jadi tersangka kasusnya Zio, Kal ...” lanjut Icha, tatapannya turut prihatin.

Kaldera masih belum merespon Icha, hingga akhirnya Icha menggerakkan tangannya di depan wajah Kaldera untuk menyadarkan Kaldera dari lamunannya.

“Kal, lo nggak tau apa-apa soal ini?” tanya Icha.

“Gue baru tau berita ini dari lo,” jawab Kaldera apa adanya. Ia memang tidak tahu menahu tentang berita tersebut.

Di tengah-tengah situasi itu, tiba-tiba seorang lelaki menghampiri Kaldera dan Icha. Lelaki itu adalah Kafka, sepupu Aksa yang malam itu memberitahu Kaldera lokasi yang dituju Zio untuk membantu Aksa.

“Kal, gue tau, lo akan anggep gue kurang ajar kalau gue bilang ini ke lo. Tapi gue mohon Kal, tolong bantu Aksa bebas dari penjara. Gue yakin bukan sepupu gue pelakunya.” Ucapan Kafka tersebut seketika membuat Kaldera menoleh dan menatap lelaki itu tepat diiris matanya. Kaldera nampak bingung harus merespon apa. Semua ini terasa bertubi-tubi datang padanya.

“Kal, cuma lo yang bisa bujuk keluarga Zio untuk cabut tuntutannya. Zio sama Aksa sahabatan, Aksa nggak punya motif apapun untuk celakain Zio. Nggak mungkin Aksa ngelakuin itu.”

***

Kaldera telah setuju untuk membantu membebaskan Aksa dari tuntutan itu. Kaldera akan mencobanya, tapi ia tidak bisa berjanji akan berhasil. Di sinilah Kaldera dan Kafka saat ini, di lobi sebuah gedung mewah pencakar langit yang merupakan kantor perusahaan batu bara ternama. Seseorang yang diduga membuat tuntutan tersebut, ada di gedung ini. Jadi mereka akan coba menemuinya untuk membicarakan tuntutan itu.

Begitu sampai di pintu lobi, langkah Kaldera dan Kafka ditahan oleh dua orang satpam berbadan tinggi dan besar.

“Mohon maaf, ada keperluan apa datang ke sini? Apakah sudah membuat janji untuk bertemu?” ujar salah seorang satpam.

Kaldera dan Kafka lantas saling berpandangan. Kaldera akhirnya membuka suara setelah menimang itu di dalam pikirannya. “Saya ingin bertemu dengan bapak Raegantara Rahagi. Saya sudah menelfon beliau, tapi belum mendapat respon,” jelas Kaldera.

“Kalau belum ada persetujuan dari beliau, mohon maaf Anda tidak bisa bertemu,” ujar satpam itu lagi.

“Tapi saya harus bertemu dengan beliau,” ucap Kaldera tetap berusaha mendapatkan izin masuk itu.

“Baik, kalau Anda memaksa. Saya akan sampaikan pada bapak Raegan. Tapi bisa jelaskan lebih dulu hubungan apa yang Anda miliki dengan beliau?”

***

Siang ini Raegan sedang berada di ruangannya ketika bodyguard-nya mengatakan bahwa ada seseorang yang bertekad menemuinya.

“Calon istri?” tanya suara bariton itu. Raegan beranjak dari kursi kebesarannya, ia melempar tatapan tidak percaya pada bodyguard yang telah lama bekerja untuknya. Pasalnya Arjuna mengatakan bahwa orang yang ingin menemuinya itu adalah calon istrinya.

“Betul, Pak. Di luar ruangan Anda, ada seorang gadis delapan belas tahun yang mengaku sebagai calon istri Bapak. Saya tidak percaya karena dia tidak punya bukti apapun. Mohon maaf telah mengganggu waktu Bapak, saya akan mengurus ini segera,” ucap Arjuna dan hendak berbalik pergi dari hadapan Raegan.

“Tunggu,” ucap Raegan menghentikan langkah Arjuna.

“Dia gadis SMA?” tanya Raegan dengan matanya yang nampak memicing.

“Benar, Pak.”

“Izinkan dia masuk. Saya mengenalnya,” putus Raegan.

“Dia betul calon istri Bapak? Bukannya mbak Kaluela—”

“Tugas kamu di sini hanya melakukan apa yang saya perintahkan, bukan untuk mencampuri urusan pribadi saya,” tukas Raegan yang seketika membuat Arjuna bungkam.

***

Raegan menatap dua orang yang kini ada di hadapannya. Kaldera Ruby Rinjani, sosok kekasih almarhum adiknya yang datang bersama seorang lelaki yang memiliki hubungan keluarga dengan tersangka pembunuh adiknya.

Raegan menatap Kaldera dengan tatapan datarnya. Pria itu tampak acuh dengan kehadiran Kaldera dan Kafka. Raegan hanya menselancarkan jemarinya pada layar ipad di tangannya tanpa berniat membuka pembicaraan lebih dulu.

“Kenapa Anda menuntut orang yang tidak bersalah?” akhirnya Kafka membuka suara.

Raegan yang mendengar kalimat itu, langsung menaruh ipad-nya di meja dengan gerakan sedikit kasar. Raegan mengarahkan tatapannya pada Kafka. “Kalau sepupu Anda tidak bersalah, polisi akan menyelidikinya dan menemukan bukti. Saya melakukan tuntutan bukan tanpa bukti yang kuat. Semua bukti jelas mengarah pada sepupu Anda,” tukas Raegan dengan satu tarikan napas.

“Anda bisa melakukan penyelidikan tanpa menghancurkan masa depan Aksa. Saya tau, Anda punya uang sehingga bisa membeli hukum dengan uang itu. Dengan mudahnya Anda memasukkan orang ke penjara,” ujar Kafka lagi.

Kaldera yang duduk di samping Kafka, terlihat mencegah lelaki itu untuk melanjutkan lagi ucapannya. Kaldera merasakan bahwa situasi yang terjadi antara Kafka dan Raegan berangsur memanas. Dikhawatirkan jika semakin jauh terjadi, justru akan muncul permasalahan yang lebih besar.

Tanpa Kafka memprediksinya, kalimat sembrononya itu telah menciptakan amarah yang kentara jelas dari raut wajah Raegan. Raegan beranjak dari posisi duduknya, ia melangkah menuju Kafka dan berujar, “Lantas apa yang telah diperbuat sepupu kamu terhadap adik saya? Lebih dari menghancurkan, bukan?”

Berikutnya tatapan Raegan beralih pada Kaldera. Dari sorot mata itu, Kaldera dapat melihat ada kekecewaan di sana.

“Kaldera, kamu nggak perlu ikut campur ke dalam urusan ini,” ucap Raegan.

“Aku punya alasan untuk ikut campur,” ujar Kaldera.

Raegan lantas menyunggingkan senyum smirk-nya. “Alasan apa yang buat kamu ada di pihak pembunuh pacar kamu, Kaldera?” Raegan masih di sana, menatap Kaldera dengan mata elangnya. Kaldera dapat merasakan tatapan tajam bercampur rasa kecewa yang dalam, saat iris legam Raegan menatapnya.

Kaldera bergeming di tempatnya, ia hanya dapat menatap ke arah lantai marmer hitam di ruangan ini.

“Aku nggak memihak siapa pun,” ucap Kaldera kemudian. Kaldera berusaha menatap Raegan meski rasanya Raegan dapat mengulitinya melalui sorot mata itu.

“Apa kamu nggak sadar kalau dia lagi manfaatin kamu untuk kepentingannya sendiri?” tanya Raegan. Pria itu menjeda ucapannya sesaat. Raegan menghela napasnya, lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar. “Dengar Kaldera, sekalipun kamu yang saya meminta untuk mencabut tuntutan itu, saya tidak akan melakukannya. Kamu memang orang yang dicintai adik saya, tapi itu tidak cukup untuk merubah keputusan saya.”

Semua perkataan Raegan rasanya seperti tamparan tak kasat mata bagi Kaldera. Benarkah bahwa Kaldera telah melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan?

Belum cukup semua perkataan tajam Raegan padanya, Kaldera rupanya masih mencoba melunakkan hati Raegan. “Kita bisa selesaikan ini dengan kepala dingin dan nemuin pelaku sebenarnya. Aku mohon sama kamu, tolong cabut tuntutannya,” ucap Kaldera.

Raegan tidak habis pikir bahwa Kaldera justru berada di haluan yang sama dengan musuhnya. Kaldera mencoba menjelaskan pada Raegan, tapi pria itu keras kepala. Raegan tetaplah pria yang berpegangan kuat terhadap apa yang ia yakini benar.

“Saya bilang ini ke kamu untuk yang terakhir kali,” Raegan menatap Kaldera dengan tatapan tegasnya. “Saya tidak akan pernah sudi berhubungan dengan orang yang telah menyebabkan adik saya tiada. Apa kamu paham itu? Saya bisa menemukan pelakunya dengan tangan saya sendiri,” tukas Raegan.

Seolah perkataan Raegan adalah telak dan tidak dapat diganggu gugat. Raegan memilih berlabuh menggunakan kapalnya sendiri dan tidak ingin bekerja sama dengan Kaldera maupun Kafka.

“Kalian bisa pergi dari ruangan saya,” ucap Raegan kemudian. Pria itu tidak segan-segan mengerahkan para bodyguard-nya untuk mengantar Kaldera dan Kafka meninggalkan ruangannya.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂