alyadara

Hari ini adalah hari Senin. Berbeda dengan mayoritas remaja seusianya yang tidak menyukai hari pertama masuk sekolah setelah libur akhir pekan, Kaldera justru menyukainya. Sekolah adalah salah satu alasannya untuk keluar dari rumah.

Saat meninggalkan tempat tinggalnya itu, Kaldera bisa kembali tersenyum dan melupakan sejenak beban yang ada di hidupnya. Terlebih saat mengingat ia akan bertemu seseorang yang juga selalu menunggu pertemuan mereka di sekolah, Kaldera semakin bersemangat menjalani harinya.

Kaldera tengah membuka lokernya dan mengambil beberapa buku mata pelajaran yang dibutuhkan untuk kelas hari ini. Hari ini tidak ada pelajaran matematika, tapi ada ulangan bahasa Jepang dan itu di jam pertama. Kaldera memang tidak bersahabat dengan huruf-huruf hiragana dan katakana Jepang, tapi setidaknya mereka lebih baik ketimbang dengan rumus-rumus matematika.

Setelah Kaldera memasukkan buku ke tasnya dan mengunci lokernya, suara-suara yang terdengar dari arah lapangan membuatnya menghentikan langkah. Kaldera menatap ke arah lapangan utama sekolahnya dan matanya mulai memindai untuk mencari seseorang.

Begitu Kaldera menemukan sosok itu, hanya sekitar 5 detik, Kaldera segera memutuskan untuk pergi dari sana. Namun aksinya tersebut tertahan, kala mendapati Redanzio menatap balik ke arahnya.

Kaldera terkejut di tempatnya, ia ingin pergi saat itu juga, tapi dari bawah sana Zio mengisyaratkan padanya untuk tetap di tempatnya. Kaldera tidak dapat menebak apa yang akan lelaki itu lakukan. Zio terlihat mengambil bola basket dan akan melakukan lemparan three point.

Kaldera memperhatikan bagaimana Zio melakukannya. Ketika Zio melempar bolanya, beberapa siswi yang tengah melewati lantai satu menghentikan langkah mereka untuk menonton seorang kapten basket sekolah melakukan kebolehannya itu.

Tepat ketika Zio berhasil mencetak lemparan three point, semua yang menyaksikan itu bersorak untuk memberi apreasi atas aksi tersebut. Namun ada yang membuat mereka terheran dan akhirnya mengikuti arah pandang Zio.

Di koridor lantai dua itu, Zio hanya menatap ke arah sosok gadis cantik yang merupakan kekasihnya. Dari sana mereka tahu, Zio melakukan three point itu untuk Kaldera. Sebelum Kaldera menghilang dari sana, Zio mengatakan sesuatu padanya tanpa suara. Meskipun begitu, Kaldera dapat mengetahui apa yang diucapkan Zio.

'I did it for you'

Itu yang Zio katakan padanya.

***

“Kamu kenapa bete gitu mukanya?” tanya Zio sembari memperhatikan raut wajah Kaldera.

Kaldera mengangguk pelan. “Nilai ulangan jepang aku 75. Pas banget KKM,” ucap Kaldera diiringi helaan napas panjangnya.

Selanjutnya Kaldera melihat Zio yang melepas hoodie putihnya. Zio menyerahkan benda itu ke pangkuannya, meminta Kaldera untuk memakainya.

Mereka kini tengah berada di rooftop gedung sekolah. Rooftop merupakan tempat favorit keduanya, Kaldera dan Zio biasa menghabiskan waktu bersama ketika jam istirahat di tempat ini. Selain dapat menyaksikan pemandangan kota yang indah dari atas, rooftop merupakan tempat yang bersejarah untuk keduanya.

Angin di rooftop berhembus cukup kencang, jadi itulah alasan Zio menyerahkan hoodie-nya untuk dipakai oleh Kaldera.

“Kal, boleh aku rangkul kamu?” tanya Zio. Kaldera nampak berpikir sesaat. Berikutnya Kaldera tersenyum kecil dan mengangguk. Kaldera selalu kagum akan sikap Zio yang menghormatinya. Ketika bersama Zio, Kaldera pun merasa aman dan tidak sama sekali ada kekhawatiran di dalam dirinya.

Kaldera menatap lengan Zio yang kini tengah merangkul ringan pundaknya. Kaldera merasakan jantungnya berdegup kencang di dalam rongga dadanya. Debaran itu masih sama, bahkan setelah 1 tahun mereka bersama.

“Kal, nilai 75 bukannya udah bagus, ya?” celetuk Zio yang langsung membuat Kaldera memberikan atensinya pada lelaki di sampingnya.

“Yaa ... lumayan sih. Tapi aku nggak terima, Zio. Orang sekelas pada nyontek, tapi mereka dapet nilai lebih bagus dari aku.”

“Berarti kamu nyontek juga?” tanya Zio.

“Nyontek lah, habis susah banget ulangannya. Aku udah belajar, tapi tetep susah, Zio,” terang Kaldera.

Zio lantas menyunggingkan senyum kecilnya. “Itu teguran namanya, Kal. Kamu kan udah belajar, coba lebih percaya diri sama kemampuan kamu. Aku tau kamu bisa, Kal. Kamu pasti lebih bangga kalau nilai 75 kamu dapetin dari hasil sendiri.”

Kaldera memikirkan kalimat Zio dengan sungguh-sungguh. Kaldera mengikuti arah pandang Zio yang menatap gedung-gedung kota yang nampak kecil dari posisi mereka saat ini.

“Zio, ulangan berikutnya Kaldera bakal berusaha nggak nyontek lagi. Kaldera bakal belajar lebih giat dan percaya diri,” ucap Kaldera kemudian.

“Nah, ini Kaldera yang aku kenal. Kal, kamu itu hebat. Aku akan selalu support kamu. Inget ya, kamu nggak sendirian, kamu punya aku,” tutur Zio. Otomatis senyum Kaldera mengembang. Kaldera tidak pernah menyangka, ia akan begitu mencintai sosok lelaki di hadapannya ini. Dunianya dengan Zio yang jelas berbeda, latar belakang keduanya yang kontras, membuat Kaldera terkadang berpikir apakah ia dan Zio bisa terus bersama nantinya?

“Kal, I love you,” ucap Zio sangat jelas dan Kaldera tentu mendengarnya. Kalimat Zio itu sukses membuat jantung Kaldera serasa ingin terjun bebas dari rooftop ini.

“Kal, kok nggak dijawab?” tanya Zio, nadanya terdengar manja.

Kaldera malah membalas ungkapan Zio dengan ekspresi loading dan sedikit kebingungannya.

Zio tertawa, seolah ia sangat bahagia menyaksikan Kaldera. Ekspresi Kaldera dapat membuat Zio menghilangkan semua perasaan sedih yang ada di hidupnya.

“Kaldera sayang Zio juga, hehe ... ” ujar Kaldera sambil menyunggingkan senyum kelincinya. Senyum itu terlihat cantik sekali, Zio selalu bahagia ketika menyaksikannya.

“Zio,” celetuk Kaldera tiba-tiba.

“Iya, Kal?” Zio memberikan seluruh perhatiannya pada Kaldera.

Can I ... follow you?” tanya Kaldera.

Follow me where?” Zio nampak bingung akan pertanyaan yang barusan diajukan oleh Kaldera.

I will follow you anywhere,” jawab Kaldera.

Why you wanted to follow me?” tanya Zio, lelaki itu menatap Kaldera dengan kedua alisnya yang menyatu dan sebuah senyum gugupnya.

Kaldera menahan senyum lebarnya. Ketika ia sudah dapat mengatur hatinya yang barusan berbunyi dag dig dug, Kaldera kemudian berujar lagi, “Because my mom and dad told me that I should follow my dream.”

***

Flashback 1 year ago

Kaldera selalu suka rooftop. Baginya puncak atap sebuah bangunan selalu bisa membuatnya merasa lebih damai. Seolah-oleh beban yang ia miliki seperti dibawa terbang bersama angin saat ia berada disana. Seperti yang biasa ia lakukan pada jam istirahat, Kaldera membawa kotak bekalnya dan berjalan menuju rooftop sekolahnya, tepatnya di ujung koridor lantai tiga dekat kelas sepuluh IPA 3.

Sesampainya Kaldera di sana, ia langsung duduk di atas sebuah tutup besi yang menutup mesin air. Kaldera pun membuka kotak bekalnya dan mulai menikmati makan siangnya itu.

Beberapa menit berselang, Kaldera merasakan bahwa ia tidak sendiri disini. Ia mendengar suara derap kaki dari arah belakangnya.

“Uhuk! uhukk!” Kaldera menutup mulutnya, napasnya tersengal-sengal dan matanya melotot dengan lucu. Kulit wajah Kaldera nampak memerah. Kaldera punya penyakit asma dan ia tidak bisa menghirup asap rokok. Tunggu ... artinya ada asap rokok di sini?

Kaldera segera menoleh ke belakang. Rupanya benar saja, tidak jauh dari posisinya kini, ada seorang laki-laki yang tengah mencumbu sebatang rokok sambil bersandar pada pembatas besi di sana.

Kaldera segera meletakkan kotak bekalnya dan berjalan menghampiri lelaki itu.

“Kamu nggak tau peraturan sekolah, ya? Kamu nggak ngekokok di area sekolah, ini malah ngerokok. Aku lagi makan, aku asma dan nggak bisa kena asap rokok—” ucapan Kaldera terhenti kala tangan lelaki itu membekap mulutnya.

“Lephasihhn!” Kaldera berujar tidak jelas saat tangan cowok itu masih setia menutup mulutnya.

“Lo siapa ngelarang-larang gue?” ketus lelaki itu. Ia melepaskan tangannya yang semula membekap Kaldera, membuat Kaldera menatap sebal ke arahnya.

“Aku terganggu sama rokok kamu. Aku punya penyakit asma dan aku mau makan di sini. Jadi tolong jangan ngerokok di sini,” ucap Kaldera.

“Lo pikir sekolah ini punya lo?” Lelaki itu berucap dengan nada arogannya.

“Kamu laki-laki bukan sih? Beraninya kok sama cewek. Tampilan doang sok keren, tapi kelakuan kamu kayak bukan didikan guru di sekolah ini,” cerocos Kaldera.

“Lo aja yang pergi dari sini,” cetus lelaki itu sambil membuang pandangannya dari Kaldera.

“Aku duluan di sini kok. Kamu aja yang pergi,” balas Kaldera dengan berani.

Kaldera tetap pada posisinya, ia menatap lelaki itu lekat, menandakan bahwa ia tidak terintimidasi dan tidak akan mengalah begitu saja. Kaldera harus mendongak karena rupanya ia hanya sebatas dada cowok itu. Kalau tingginya sejajar dengan lelaki itu, sudah ia pastikan akan meninju wajah laki-laki tidak sopan dan arogan ini.

Lelaki itu kemudian menarik Kaldera mendekat, hingga membuat Kaldera dapat dengan jelas mencium aroma rokok yang menguar dari seragam putih lelaki itu. Kemeja putih lelaki itu nampak sedikit acak-acakan, matanya sayu dan ada lingkaran hitam di bawahnya. Kaldera mulai ciut dan pias, pasalnya ia tidak bisa kabur dan tenaganya dibandingkan cowok itu tentu tidak ada apa-apanya.

“Nama lo?” tanya lelaki itu di dekat Kaldera.

“Kaldera,” jawab Kaldera pelan. Apakah cowok ini akan menyakitinya karena telah menantangnya. Tiba-tiba Kaldera kepikiran hal-hal buruk yang bisa saja terjadi padanya.

“Oke, Kaldera. Gue akan buang rokok gue, tapi dengan satu syarat.” Lelaki di hadapannya membuat angka satu dengan jari telunjuknya.

“Emangnya lo siapa ngajuin syarat ke gue seenaknya kayak gitu!” Kaldera sudah tidak peduli dengan tata bicaranya.

“Lo harus kasih gue sesuatu untuk bisa dimakan,” suara lelaki itu terdengar sedikit parau. Kaldera sempat merasa simpati selama 2 detik, tapi setelahnya tawa Kaldera menyembur begitu saja.

Kaldera tertawa sambil memegangi perutnya. Namun itu tidak berlangsung lama karena cowok itu menarik tangannya dan mencengkramnya cukup kuat.

“Kalau lo masih ketawa, gue nggak akan segan-segan cium lo,” ancam lelaki itu.

“Apa lo bilang? Berani-beraninya lo mau cium—APA?!” Kaldera pun brutal, ia memukuli lengan lelaki itu yang mencengkram lengannya, pundak, lalu menendang tulang keringnya dengan satu tendangan maut. Lelaki itu tersungkur beberapa centi, tapi tenaganya seolah cepat sekali pulih sehingga ia berhasil menangkapnya jauh sebelum Kaldera melarikan diri

Kaldera merasakan tubuhnya melayang dan buminya seketika terbalik. Kemudian tubuhnya sedikit di banting dan pantatnya terasa lumayan sakit.

Apa laki-laki ini gila? Lelaki yang dihindari Kaldera rupanya sungguhan ada di dunia ini dan kini Kaldera tengah berhadapan dengannya. Lelaki itu menggendong Kaldera layaknya ia adalah karung beras, lalu menghempaskan tubuhnya ke besi yang sebelumnya Kaldera tempati.

“Jangan sentuh makanan gue. Please, itu makanan terakhir yang gue punya,” lirih Kaldera begitu melihat lelaki itu mengambil kotak bekalnya.

“Makanan ini sekarang milik gue,” ujar lelaki itu dengan santai.

Rasanya Kaldera ingin menangis. Lelaki yang tidak dikenalnya itu tengah melahap makanannya seperti belum melihat nasi selama 2 hari. Sekarang Kaldera tidak tahu, apakah ia sanggup menahan rasa laparnya hingga nanti sore.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

“Kaldera!” panggilan itu terdengar di sebuah kamar tidur berukuran 3x3 itu. Nampak seorang gadis remaja dengan rambut panjang sepunggung masih memejamkan matanya sembari memeluk gulingnya.

“Kaldera!!” lagi, panggilan itu terdengar menyentaknya. Berkat suara keras itu, akhirnya Kaldera membuka mata. Kaldera lantas mendapati sosok perempuan berusia 40 tahunan di hadapannya. Wajah itu, wajah yang mirip dengannya. Kaldera terkadang ingin menyalahkan takdir, tapi beginilah adanya. Ia tidak memiliki keluarga lain, selain tantenya ini.

“Tante, ini masih pagi. Kenapa bangunin aku?” tanya Kaldera dengan wajah kantuknya.

“Kamu yakin masih mau tidur? Kalau gitu, paket ini buat Tante aja, gimana?” ujar Laura sembari menunjukkan sebuah bungkusan kecil yang kini ada di tangannya.

Netra Kaldera langsung terarah pada bungkusan berwarna merah muda itu. “Itu paket dari siapa, Tante?” tanya Kaldera.

“Menurut kamu? Dari siapa lagi kalau bukan dari pacar kamu. Kaldera, ternyata Tante nggak sia-sia ya merawat kamu sejak orang tua kamu meninggal,” ujar Laura.

Kaldera terdiam sesaat. Ia menatap bungkusan itu, tapi saat tangannya akan meraih itu dari Laura, tantenya itu malah menjauhkannya dari jangkauan Kaldera.

Kaldera beranjak dari kasurnya. Kini Kaldera dan Laura tengah berhadapan, tantenya menatap Kaldera dengan tatapan memicing.

“Maksud Tante apa ngomong kayak gitu?” tanya Kaldera, ia meminta penjelasan atas kalimat Laura barusan tentang tidak sia-sia merawatnya sejak orang tuanya tiada.

“Kamu pikir, Tante adalah sukarelawan yang akan merawat kamu tanpa imbalan? Semua yang ada di dunia ini nggak gratis, Kaldera. Kamu punya pacar anak orang kaya, lebih baik kamu menikah sama dia setelah lulus SMA.”

Atas kalimat yang dilontarkan Laura itu, kedua belah bibir Kaldera sukses terbuka. Kaldera menghembuskan napasnya yang terdengar kasar, ia membuang pandangannya sesaat dari Laura.

Beberapa detik kemudian, Kaldera kembali menatap Laura. Tidak lupa, ia mengambil paksa bungkusan itu dari tangan Laura. “Tante tenang aja. Kaldera nggak ingin merepotkan Tante. Kaldera akan mencari uang sendiri untuk kuliah.”

Laura menatap Kaldera dengan tatapan tajamnya dan seolah-olah kalimat Kaldera tentang kuliah adalah lelucon yang sangat lucu baginya.

“Kamu bisa terus bermimpi, Kaldera, silakan. Tapi setidaknya kalau kamu nggak bisa mencapai impian kamu, kamu harus menikah dengan lelaki kaya. Kalau enggak, Tante nggak yakin kamu bisa mengganti semua uang yang Tante habiskan untuk merawat kamu. Kamu mau mengandalkan gaji part time kamu di restoran fast food tempat kamu kerja?” Laura menatap dari atas sampai bawah, tatapannya seolah menilai penampilan Kaldera. Kemudian Laura mengulaskan senyum smirk-nya sambil berujar, “Padahal kamu cantik, Kaldera. Tapi sayang, ternyata kamu terlalu naif.”

Setelah mengatakan rentetan kalimat itu, Laura beranjak pergi dari hadapan Kaldera. Kaldera masih berdiri di tempatnya sambil memegang bungkusan merah muda di tangannya. Pintu ditutup dengan kencang, hingga meninggalkan bunyi bantingan yang cukup keras di sana.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Pukul 8 malam di kediaman berlantai dua yang megah itu, sosok lelaki muda bertubuh lumayan kekar itu dipersilakan untuk memasuki rumah. Arjuna, bodyguard pribadi Raegan itu mengetuk pintu berpelitur putih di hadapannya ketika ia sampai di tempat tujuannya.

Setelah pintu dibukakakn oleh seorang asisten rumah tangga yang bekerja di sana, Arjuna melangkahkan kakinya untuk masuk.

“Malam, Pak. Sesuai permintaan Anda, saya ingin menyerahkan laporan tentang kegiatan sehari-hari Kaldera,” ucap Arjuna.

Begitu Raegan mempersilakannya untuk memberikan laporan itu, Arjuna lekas meletakkan sebuah map coklat besar di atas meja atasannya. Berikutnya Raegan membuka map itu dan melihat dengan seksama hasil foto yang didapatkan oleh Arjuna.

“Menurut kamu, ada yang aneh dari apa yang kamu amatin?” tanya Raegan, ia masih memegang foto-foto itu di tangannya.

“Ada, Pak. Dari hasil pengamatan saya dan tim bodyguard, gadis itu ngelakuin kerja part time dari senin sampai kamis. Hampir setiap hari dia pulang malam, sekitar jam 8. Selebihnya kegiatannya seperti remaja pada umumnya.”

“Gimana kondisi di rumahnya?” tanya Raegan.

“Maksud Bapak? Semuanya tampak normal Pak sejauh ini. Kaldera tinggal dengan tantenya yang setelah saya selidiki, beliau adalah wali sah Kaldera sejak kedua orang tuanya meninggal.”

“Ada satu hal yang aneh dan kamu tidak sadar itu. Menurut kamu kenapa seorang wali yang bertanggung jawab membiarkan anak remaja yang masih sekolah bekerja paruh waktu sampai malam hari.”

Arjuna seketika terpaku. Ia terlihat tidak menyangka sekaligus kagum akan pemikiran atasannya yang begitu cerdas. “Beberapa kali saya dapatin kalau di rumah itu hanya ada Kaldera. Walinya tidak ada di sana,” ungkap Arjuna sambil mencoba ikut memikirkan semuanya.

“Saya minta kamu cari tau lagi. Dapetin informasi soal walinya Kaldera. Apapun itu yang kamu daparkan, pastiin sampaikan ke saya.”

“Baik, Pak. Secepatnya saya akan laksanakan.”

Setelah itu Raegan memperbolehkan Arjuna untuk meninggalkan ruangannya. Sepeninggalan Arjuna, Raegan teringat perkataan Kaldera padanya. Sebagian hatinya percaya bahwa perkataan Kaldera benar, gadis itu tidak membohonginya. Kaldera pernah mengatakan bahwa bahwa Aksa merupakan sahabat dekat Zio. Jadi kemungkinan besar, memang tidak ada motif kejahatan yang dimiliki Aksa hingga membuatnya berakhir membunuh Zio.

Atas pemikirkan itu, Raegan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang di ujung sana. Begitu telfonnya terhubung, Raegan langsung disapa oleh suara orang yang begitu fameliar baginya.

“Raegantara Rahagi, apa ada yang bisa saya lakukan untuk membantu kamu?” tanya orang itu.

“Langsung saja saya sampaikan. Saya ingin Anda menangani kasus pembunuhan adik saya. Saya ingin membahas itu secepatnya.”

***

Aksa menemui seseorang yang ingin bertemu dengannya di sel tahanan siang ini. Aksa sedikit tidak percaya ketika ia menemukan Raegan berada di sana. Pria itu adalah sosok yang membuat tuntutan terhadapnya. Jelas saja Aksa terkejut dan menerka-nerka apa alasan Raegan datang untuk menemuinya.

Aksa menarik kursi di hadapannya. Raegan tidak datang sendiri, pria itu membawa seorang pengacara bersamanya.

“Saya hanya akan memberi kamu satu kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya soal kejadian malam itu,” ucap Raegan.

Awalnya Aksa tidak ingin membuka suaranya sama sekali. Ia takut salah mengambil langkah. Bagaimana pun Raegan adalah lawannya dan ia tidak tahu apa motif Raegan meminta Aksa mengatakan yang sebenarnya.

“Klien saya akan memberi Anda kesempatan untuk menceritakan detail kejadian yang sebenarnya. Apa yang terjadi malam itu, Anda bisa memberi tahu kami. Apa yang Anda katakan akan jadi pertimbangan klien saya untuk mencabut tuntutannya terhadap Anda atau tidak. Jika perkataan Anda terbukti benar, Anda bisa bebas dari sini,” jelas Erwin, pengacara yang duduk di samping Raegan.

Setelah bebebrapa menit memikirkan perkataan Erwin, Aksa akhirnya setuju untuk menceritakan kejadian malam itu. “Leonel Nathan Tarigan, orang itu yang membunuh Zio. Bukan saya pelakunya,” ucap Aksa memulai kalimatnya.

Dari kalimat tersebut akhirnya mengalir cerita apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Aksa memiliki urusan dengan seseorang yang membayar pekerjaan freelance-nya dan Zio datang ke sana karena menduga bahwa Aksa berada dalam bahaya.

Ketika Aksa menyebutkan nama tersebut, Raegan langsung mengetahui siapa sosok Leonel Nathan Tarigan.

“Jawab dengan jujur pertanyaan saya. Apa kamu tau kamu berurusan dengan siapa?”

“Saya hanya bekerja dengannya karena seseorang yang mengenalkan kami. Saya nggak tau siapa sosok Leonel yang sebenarnya,” Aksa mengatakan apa yang ia ketahui, bahwa ia memang tidak tahu siapa sosok atasannya itu.

“Yang jelas, dia adalah orang yang punya kekuatan dan kuasa. Di tidak akan tinggal diam sampai tujuannya tercapai,” tambah Aksa. Lelaki itu juga mengungkapkan bahwa tujuan Leonel adalah dirinya. Entah hidup atau mati, Leonel ingin mendapatkan Aksa dengan tangannya sendiri.

Dari cerita Aksa tersebut, Raegan dapat menarik kesimpulan. Perlahan semuanya mulai terasa jelas. Malam itu Leonel membunuh Zio karena adiknya telah terlibat dan menghalangi Leonel untuk mencapai tujuannya.

“Kamu harus bisa membuktikan kalau kamu tidak bersalah. Saya akan bantu kamu dan saya harap kamu bersikap kooperatif. Saya nggak bisa mencabut tuntutannya dan membiarkan pelaku sebenarnya lolos gitu aja. Saya akan tetap mencari pelaku pembunuhan adik saya dan memastikan dia mendapat hukumannya,” ujar Raegan.

Aksa yang mendengar itu dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Anda nggak bisa melawan Leonel. Dia orang yang sangat berbahaya,” terang Aksa. Ekspresi wajah Aksa ketika mengatakannya dipenuhi oleh ketakutan. Aksa sungguhan memperingati Raegan bahwa pria itu tidak bisa melawan Leonel.

Dari situasi yang tengah terungkap itu, Erwin mengatakan bahwa mereka masih bisa mencari bukti bahwa Leonel bersalah. Di tempat kejadian perkara, pasti ada sesuatu yang bisa dijadikan bukti.

Sebelum Raegan dan Erwin pergi dari sana, Aksa teringat sesuatu dan mengatakan bahwa ada satu orang saksi yang kemungkinan dapat memberi kesaksiannya di pengadilan nanti.

“Siapa orang itu?” tanya Raegan, tatapannya begitu serius dan terasa dapat menguliti Aksa.

“Kaldera.” Aksa menyebutkan satu nama. “Kaldera adalah satu-satunya saksi mata di tempat kejadian perkara itu,” tambah Aksa.

Kalau meminta pendapat Erwin, pria itu jelas menyarankan bahwa Kaldera harus bersaksi untuk membebaskan Aksa dan menjadikan Leonel sebagai tersangka.

Sebelum Raegan beranjak dari kursinya, Aksa membisikkan sesuatu kepadanya. “Kita nggak tau apa yang Leonel sekarang rencanakan. Dia bisa aja menargetkan orang-orang yang berhubungan dengan kasus ini. Dia bisa melakukan apa aja yang dia inginkan. Leonel bisa aja menjadikan Kaldera sebagai targetnya.”

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

“Gimana perkembangan kasus Zio? Apa semuanya berjalan lancar?” tanya seorang perempuan berusia 26 tahun yang kini berada di hadapan Raegan.

Raegan mematikan laptopnya, lalu melangkah menuju ke sofa di sudut ruang kerjanya dan mengambil tempat di samping perempuan itu. “Semuanya lancar. Polisi udah ngeluarin surat penangkapan dan langsung nahan tersangka.” Raegan mengulaskan senyum tipisnya pada wanita dihadapannya. Kaluela Gabriel, kekasih hatinya. Kaluela menemuinya tidak berapa lama setelah kejadian Raegan harus menghadapi dua bocah SMA yang tiba-tiba datang ke kantornya siang ini.

“Raegan, aku minta maaf nggak bisa langsung terbang dari Sydney waktu hari pemakaman. Maafin aku,” ucap Kalu dengan nada penuh penyesalannya.

“Nggak apa-apa. Kejadiannyacepet banget dan hari itu juga Zio langsung dimakamkan. Habis ini kamu mau berkunjung kesana?” tanya Raegan.

“Boleh. Aku belum mengirimkan doa secara langsung untuk Zio. Ohiya, gimana keadaan mama sekarang?”

“Mama udah lumayan membaik, walaupun kadang beliau masih suka nangis,” jelas Raegan.

“Kamu temenin mama terus ya. Kurangin sedikit kerjaan kamu, mama pasti butuh seseorang untuk ada terus di sampingnya,” saran Kalu yang segera diiyakan oleh Raegan.

“Ohiya, Arjuna tadi bilang kamu baru aja kedatangan tamu. Siapa yang dateng?” Kaluela membuka tas bekal berisi makan siang yang dimasaknya sendiri untuk Raegan. Kalu baru saja sampai ke Jakarta kemarin malam dan mengatakan pada Raegan akan menemuinya hari ini. Hubungan asmara mereka memang sudah terjalin cukup lama, tapi keduanya sama-sama sibuk pada urusan karir dan Kaluela memiliki pekerjaannya di Sydney.

“Dia pacarnya Zio, dia dateng sama lelaki yang merupakan sepupu tersangka kasusnya Zio. Aku nggak ngerti kenapa dia milih ada di pihak tersangka bukannya berada di pihak yang sama denganku.” Raegan sedikit melonggarkan ikatan dasi di lehernya.

“Sayang, mungkin kamu harus lebih mengerti dia. Anggap dia seperti adikmu. Aku ngerasa dia adalah alasan Zio tetap bangkit semenjak mama dan papa berpisah.” Kaluela tahu betul apa yang dialami keluarga kekasihnya sejak orang tua mereka berpisah. Saat itu Zio baru saja menginjak masa menuju remaja, dan perpisahan orangtuanya telah membuat sifatnya menjadi dingin dan tidak tersentuh. Bahkan hubungan Zio dengan Raegan tidak terlalu baik sejak saat itu. Raegan sibuk bekerja begitupun dengan Indri. Zio masih begitu kecil untuk dapat memahami bahwa keluarganya tidak lagi bersama-sama. Tanpa Raegan dan Indri sadari, yang Zio butuhkan adalah eksistensi keduanya, bukan sekedar materi yang melimpah.

“Kamu baru aja nyalahin aku?” tanya Raegan, tatapannya nampak nanar dan ada penyesalan dari nada bicaranya. Raegan merasa bersalah dan sepertinya ia tidak perlu memastikan itu lagi dengan bertanya kepada Kaluela.

“Aku nggak nyalahin kamu, Raegan. Aku tauu, kamu selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk mama dan juga Zio. Hanya aja, kadang kamu nggak ahu caranya nunjukin kasih sayangmu sendiri,” terang Kalu.

“Sekarang aku lagi ngelakuin itu. Aku mau nebus semua kesalahanku pada Redanzio. Aku tau, aku belum sempat menjadi kakak yang baik untuk dia,” ucap Raegan.

No, kamu nggak boleh bilang kayak gitu. Aku yakin, Zio sayang banget sama kamu. Kamu udah ngelakuin yang terbaik, Raegan,” Kaluela mengulaskan senyum lembutnya pada Raegan. Hal itu akhirnya dapat sedikit menenangkan perasaan Raegan yang lumayan kalut hari ini.

Kalimat Kaluela tiba-tiba membuat Raegan  teringat akan perkataan Zio sesaat sebelum menghembuskan napas terakhinya. Perkataan itu hanya dikatakan kepada Raegan tanpa sepengetahuan Kaldera atau siapapun itu. Setelah memberikan wasiat itu pada Raegan dan Kaldera, Zio meminta waktu berdua untuk bicara dengan Raegan saja.

Kak, gue cinta banget sama Kaldera. Gue nggak mau siapa pun nyakitin dia. Kalau gue nggak bisa bertahan, cuma lo orang yang gue percaya untuk jagain Kaldera. Gue tau lo punya kak Kalu yang sempurna dan lo cinta banget sama dia. Tapi coba mengenal Kaldera dulu ya Kak. Kalau lo nggak jatuh cinta, lo cuma perlu sayang sama dia kayak lo sayang sama gue. Tolong jaga dia untuk gue. Mungkin ini adalah permintaan gue yang terakhir.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

“Gimana perkembangan kasus Zio? Apa semuanya berjalan lancar?” tanya seorang perempuan berusia 26 tahun yang kini berada di hadapan Raegan.

Raegan mematikan laptopnya, lalu melangkah menuju ke sofa di sudut ruang kerjanya dan mengambil tempat di samping perempuan itu. “Semuanya lancar. Polisi udah ngeluarin surat penangkapan dan langsung nahan tersangka.” Raegan mengulaskan senyum tipisnya pada wanita dihadapannya. Kaluela Gabriel, kekasih hatinya. Kaluela menemuinya tidak berapa lama setelah kejadian Raegan harus menghadapi dua bocah SMA yang tiba-tiba datang ke kantornya siang ini.

“Raegan, aku minta maaf nggak bisa langsung terbang dari Sydney waktu hari pemakaman. Maafin aku,” ucap Kalu dengan nada penuh penyesalannya.

“Nggak apa-apa. Kejadiannyacepet banget dan hari itu juga Zio langsung dimakamkan. Habis ini kamu mau berkunjung kesana?” tanya Raegan.

“Boleh. Aku belum mengirimkan doa secara langsung untuk Zio. Ohiya, gimana keadaan mama sekarang?”

“Mama udah lumayan membaik, walaupun kadang beliau masih suka nangis,” jelas Raegan.

“Kamu temenin mama terus ya. Kurangin sedikit kerjaan kamu, mama pasti butuh seseorang untuk ada terus di sampingnya,” saran Kalu yang segera diiyakan oleh Raegan.

“Ohiya, Arjuna tadi bilang kamu baru aja kedatangan tamu. Siapa yang dateng?” Kaluela membuka tas bekal berisi makan siang yang dimasaknya sendiri untuk Raegan. Kalu baru saja sampai ke Jakarta kemarin malam dan mengatakan pada Raegan akan menemuinya hari ini. Hubungan asmara mereka memang sudah terjalin cukup lama, tapi keduanya sama-sama sibuk pada urusan karir dan Kaluela memiliki pekerjaannya di Sydney.

“Dia pacarnya Zio, dia dateng sama lelaki yang merupakan sepupu tersangka kasusnya Zio. Aku nggak ngerti kenapa dia milih ada di pihak tersangka bukannya berada di pihak yang sama denganku.” Raegan sedikit melonggarkan ikatan dasi di lehernya.

“Sayang, mungkin kamu harus lebih mengerti dia. Anggap dia seperti adikmu. Aku ngerasa dia adalah alasan Zio tetap bangkit semenjak mama dan papa berpisah.” Kaluela tahu betul apa yang dialami keluarga kekasihnya sejak orang tua mereka berpisah. Saat itu Zio baru saja menginjak masa menuju remaja, dan perpisahan orangtuanya telah membuat sifatnya menjadi dingin dan tidak tersentuh. Bahkan hubungan Zio dengan Raegan tidak terlalu baik sejak saat itu. Raegan sibuk bekerja begitupun dengan Indri. Zio masih begitu kecil untuk dapat memahami bahwa keluarganya tidak lagi bersama-sama. Tanpa Raegan dan Indri sadari, yang Zio butuhkan adalah eksistensi keduanya, bukan sekedar materi yang melimpah.

“Kamu baru aja nyalahin aku?” tanya Raegan, tatapannya nampak nanar dan ada penyesalan dari nada bicaranya. Raegan merasa bersalah dan sepertinya ia tidak perlu memastikan itu lagi dengan bertanya kepada Kaluela.

“Aku nggak nyalahin kamu, Raegan. Aku tauu, kamu selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk mama dan juga Zio. Hanya aja, kadang kamu nggak ahu caranya nunjukin kasih sayangmu sendiri,” terang Kalu.

“Sekarang aku lagi ngelakuin itu. Aku mau nebus semua kesalahanku pada Redanzio. Aku tau, aku belum sempat menjadi kakak yang baik untuk dia,” ucap Raegan.

No, kamu nggak boleh bilang kayak gitu. Aku yakin, Zio sayang banget sama kamu. Kamu udah ngelakuin yang terbaik, Raegan,” Kaluela mengulaskan senyum lembutnya pada Raegan. Hal itu akhirnya dapat sedikit menenangkan perasaan Raegan yang lumayan kalut hari ini.

Kalimat Kaluela tiba-tiba membuat Raegan  teringat akan perkataan Zio sesaat sebelum menghembuskan napas terakhinya. Perkataan itu hanya dikatakan kepada Raegan tanpa sepengetahuan Kaldera atau siapapun itu. Setelah memberikan wasiat itu pada Raegan dan Kaldera, Zio meminta waktu berdua untuk bicara dengan Raegan saja.

Kak, gue cinta banget sama Kaldera. Tolong jaga dia buat gue. Cuma lo orang yang gue percaya untuk jagain dia. Gue tau lo punya kak Kalu yang sempurna dan lo cinta banget sama dia. Tapi coba mengenal Kaldera dulu ya Kak. Kalau lo nggak jatuh cinta, lo cuma perlu sayang sama dia kayak lo sayang sama gue. Tolong jaga dia untuk gue. Mungkin ini adalah permintaan gue yang terakhir.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

“Gimana perkembangan kasus Zio? Apa semuanya berjalan lancar?” tanya seorang perempuan berusia 26 tahun yang kini berada di hadapan Raegan.

Raegan mematikan laptopnya, lalu melangkah menuju ke sofa di sudut ruang kerjanya dan mengambil tempat di samping perempuan itu. “Semuanya lancar. Polisi udah ngeluarin surat penangkapan dan langsung nahan tersangka.” Raegan mengulaskan senyum tipisnya pada wanita dihadapannya. Kaluela Gabriel, kekasih hatinya. Kaluela menemuinya tidak berapa lama setelah kejadian Raegan harus menghadapi dua bocah SMA yang tiba-tiba datang ke kantornya siang ini.

“Raegan, aku minta maaf nggak bisa langsung terbang dari Sydney saat hari pemakaman Zio, maafin aku ya,” ucap Kalu dengan nada penuh penyesalannya.

“Nggak apa-apa. Kejadiannyacepet banget dan hari itu juga Zio langsung dimakamkan. Habis ini kamu mau berkunjung kesana?” tanya Raegan.

“Boleh. Aku belum mengirimkan doa secara langsung untuk Zio. Ohiya, gimana keadaan mama sekarang?”

“Mama udah lumayan membaik, walaupun kadang beliau masih suka nangis,” jelas Raegan.

“Kamu temenin mama terus ya. Kurangin sedikit kerjaan kamu, mama pasti butuh seseorang untuk ada terus di sampingnya,” saran Kalu yang segera diiyakan oleh Raegan.

“Ohiya, Arjuna tadi bilang kamu baru aja kedatangan tamu. Siapa yang dateng?” Kaluela membuka tas bekal berisi makan siang yang dimasaknya sendiri untuk Raegan. Kalu baru saja sampai ke Jakarta kemarin malam dan mengatakan pada Raegan akan menemuinya hari ini. Hubungan asmara mereka memang sudah terjalin cukup lama, tapi keduanya sama-sama sibuk pada urusan karir dan Kaluela memiliki pekerjaannya di Sydney.

“Dia pacarnya Zio, dia dateng sama lelaki yang merupakan sepupu tersangka kasusnya Zio. Aku nggak ngerti kenapa dia milih ada di pihak tersangka bukannya berada di pihak yang sama denganku.” Raegan sedikit melonggarkan ikatan dasi di lehernya.

“Sayang, mungkin kamu harus lebih mengerti dia. Anggap dia seperti adikmu. Aku ngerasa dia adalah alasan Zio tetap bangkit semenjak mama dan papa berpisah.” Kaluela tahu betul apa yang dialami keluarga kekasihnya sejak orang tua mereka berpisah. Saat itu Zio baru saja menginjak masa menuju remaja, dan perpisahan orangtuanya telah membuat sifatnya menjadi dingin dan tidak tersentuh. Bahkan hubungan Zio dengan Raegan tidak terlalu baik sejak saat itu. Raegan sibuk bekerja begitupun dengan Indri. Zio masih begitu kecil untuk dapat memahami bahwa keluarganya tidak lagi bersama-sama. Tanpa Raegan dan Indri sadari, yang Zio butuhkan adalah eksistensi keduanya, bukan sekedar materi yang melimpah.

“Kamu baru aja nyalahin aku?” tanya Raegan, tatapannya nampak nanar dan ada penyesalan dari nada bicaranya. Raegan merasa bersalah dan sepertinya ia tidak perlu memastikan itu lagi dengan bertanya kepada Kaluela.

“Aku nggak nyalahin kamu, Raegan. Aku tauu, kamu selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk mama dan juga Zio. Hanya aja, kadang kamu nggak ahu caranya nunjukin kasih sayangmu sendiri,” terang Kalu.

“Sekarang aku lagi ngelakuin itu. Aku mau nebus semua kesalahanku pada Redanzio. Aku tahu aku belum sempat menjadi kakak yang baik untuk dia,” ucap Raegan.

No, kamu nggak boleh bilang kayak gitu. Aku yakin, Zio sayang banget sama kamu. Kamu udah ngelakuin yang terbaik, Raegan,” Kaluela mengulaskan senyum lembutnya pada Raegan. Hal itu akhirnya dapat sedikit menenangkan perasaan Raegan yang lumayan kalut hari ini.

Kalimat Kaluela tiba-tiba membuat Raegan  teringat akan perkataan Zio sesaat sebelum menghembuskan napas terakhinya. Perkataan itu hanya dikatakan kepada Raegan tanpa sepengetahuan Kaldera atau siapapun itu. Setelah memberikan wasiat itu pada Raegan dan Kaldera, Zio meminta waktu berdua untuk bicara dengan Raegan saja.

Kak, gue cinta banget sama Kaldera. Tolong jaga dia buat gue. Cuma lo orang yang gue percaya untuk jagain dia. Gue tau lo punya kak Kalu yang sempurna dan lo cinta banget sama dia. Tapi coba mengenal Kaldera dulu ya Kak. Kalau lo nggak jatuh cinta, lo cuma perlu sayang sama dia kayak lo sayang sama gue. Tolong jaga dia untuk gue. Mungkin ini adalah permintaan gue yang terakhir.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Kaldera merasa bahwa keputusannya menolak permintaan Raegan adalah pilihan paling tepat. Kaldera tidak ingin Indri dan Raegan sampai terlibat dengannya yang artinya harus berurusan juga dengan tantenya. Ini yang terbaik, pikir Kaldera.

Terkadang Kaldera masih menyalahkan apa yang terjadi. Setelah kedua orang tuanya yang pergi, mengapa Tuhan kembali mengambil orang yang begitu ia cintai?

“Kaldera!” seruan itu seketika membuat Kaldera menoleh. Di koridor lantai satu sekolahnya, Kaldera mendapati Icha tengah berlari ke arahnya.

Begitu sahabatnya itu sampai di hadapannya, Icha berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan. “Lo kenapa Cha? Sampe lari-lari gitu? Ngejar apaan?” tanya Kaldera yang keheranan melihat tingkah sahabatnya itu.

Icha menghembuskan napasnya panjang sebelum akhirnya berujar, “Lo harus tau ini Kal. Itu si Aksa tangkep polisi!” seru Icha dengan wajah paniknya.

Kaldera yang mendengar itu tidak percaya bahwa berita yang didengarnya pagi ini adalah tentang Aksa. “Gue denger-denger dari anak OSIS, Aksa jadi tersangka kasusnya Zio, Kal ...” lanjut Icha, tatapannya turut prihatin.

Kaldera masih belum merespon Icha, hingga akhirnya Icha menggerakkan tangannya di depan wajah Kaldera untuk menyadarkan Kaldera dari lamunannya.

“Kal, lo nggak tau apa-apa soal ini?” tanya Icha.

“Gue baru tau berita ini dari lo,” jawab Kaldera apa adanya. Ia memang tidak tahu menahu tentang berita tersebut.

Di tengah-tengah situasi itu, tiba-tiba seorang lelaki menghampiri Kaldera dan Icha. Lelaki itu adalah Kafka, sepupua Aksa yang malam itu memberitahu Kaldera lokasi yang dituju Zio untuk membantu Aksa.

“Kal, gue tau, lo akan anggep gue kurangajar kalau gue bilang ini. Tapi gue mohon Kal, tolong bantu Aksa untuk bebas dari penjara. Gue yakin bukan sepupu gue pelakunya.”

Ucapan Kafka tersebut seketika membuat Kaldera menoleh dan menatap lelaki itu tepat diiris matanya.

“Kal, cuma lo yang bisa membujuk keluarga Zio buat cabut tuntutannya. Zio sama Aksa sahabatan, Aksa nggak punya motif apapun untuk celakain Zio.”

***

Kaldera telah setuju untuk membantu membebaskan Aksa dari tuntutan itu. Di sinilah saat ini mereka, di lobi sebuah gedung mewah pencakar langit yang merupakan kantor perusahaan batu bara ternama. Seseorang yang diduga membuat tuntutan tersebut, ada di gedung ini.

Begitu sampai di pintu lobi, langkah Kaldera dan Kafka ditahan oleh dua orang satpam berbadan tinggi dan besar.

“Mohon maaf, ada keperluan apa datang ke sini? Apakah sudah membuat janji untuk bertemu?” ujar salah seorang satpam.

Kaldera dan Kafka lantas saling berpandangan. Kaldera akhirnya mengatakannya setelah menimang itu dalam pikirannya. “Saya ingin bertemu dengan bapak Raegantara Rahagi. Saya sudah menelfon beliau, tapi belum mendapat respon,” jelas Kaldera.

“Kalau belum ada persetujuan dari beliau, mohon maaf Anda tidak bisa bertemu.”

“Tapi saya harus bertemu dengan beliau,” ucap Kaldera tetap berusaha mendapatkan izin masuk itu.

“Baik, kalau Anda memaksa. Saya akan sampaikan pada bapak Raegan. Tapi bisa jelaskan hubungan apa yang Anda miliki dengan beliau?”

***

Raegan sedang berada di ruangannya siang ini ketika Arjuna, bodyguard-nya mengatakan bahwa ada seseorang yang bertekad kuat untuk bertemu dengannya.

“Calon istri?” ujar suara bariton itu. Raegan beranjak dari kursi kebesarannya, ia melempar tatapan tidak percaya pada bodyguard yang telah lama bekerja untuknya.

“Betul, Pak. Diluar ruangan Anda, ada seorang gadis delapan belas tahun yang mengaku sebagai calon istri Bapak. Saya tidak percaya karena dia tidak punya bukti apapun. Mohon maaf telah mengganggu waktu Bapak, saya akan mengurus ini segera,” ucap Arjuna dan hendak berbalik pergi dari hadapan Raegan.

“Tunggu,” ucapan Raegan menghentikan langkah Arjuna.

“Dia gadis SMA?” tanya Raegan dengan matanya yang nampak memicing.

“Benar, Pak.”

“Izinkan dia masuk. Saya mengenalnya,” putus Raegan.

“Dia betul calon istri Bapak? Gimana sama mbak Kaluela?”

“Tugas kamu di sini hanya melakukan apa yang saya perintahkan. Bukan untuk mencampuri urusan pribadi saya,” tukas Raegan yang seketika membuat Arjuna bungkam.

***

Raegan menatap dua orang yang siang ini datang ke ruang kerjanya. Kaldera Ruby Rinjani, sosok kekasih almarhum adiknya yang datang bersama seorang lelaki yang punya hubungan keluarga dengan tersangka pembunuh adiknya.

Raegan menatap Kaldera dengan tatapa datarnya. Tampak acuh dengan kehadiran dua orang itu, Raegan hanya menselancarkan jemarinya pada layar ipad di tangannya tanpa berniat membuka pembicaraan lebih dulu.

“Kenapa Anda menuntut orang yang tidak bersalah?” akhirnya Kafka membuka suaranya lebih dulu.

Raegan yang mendapati kalimat itu, menaruh ipadnya di meja dengan gerakan sedikit kasar. “Kalau sepupu Anda tidak bersalah, polisi akan menyeledikinya dan menemukan bukti. Saya melakukan tuntutan bukan tanpa bukti yang kuat. Semua bukti mengarah ke sepupu Anda,” tukas Raegan dengan satu tarikan napas.

“Anda bisa melakukan penyelidikan tanpa menghancurkan masa depan Aksa. Saya tau Anda punya uang sehingga bisa membeli hukum dengan uang itu. Dengan mudahnya Anda memasukkan orang ke penjara,” ujar Kafka lagi.

Kaldera yang duduk di samping Kafka, terlihat mencegah lelaki itu untuk melanjutkan lagi ucapannya. Kaldera merasakan bahwa situasi yang terjadi antara Kafka dan Raegan berangsur memanas, dikhawatirkan jika tambah jauh justru akan ada permasalahan yang lebih besar lagi.

Tanpa Kafka memprediksinya, kalimat sembrononya itu telah menciptakan amarah yang kentara jelas dari raut wajah Raegan. Raegan beranjak dari posisi duduknya, ia melangkah menuju Kafka dan berujar, “Lantas apa yang telah diperbuat sepupu kamu terhadap adik saya? Lebih dari menghancurkan, bukan?”

Tatapan Raegan beralih pada Kaldera. Dari sorot mata itu, Kaldera dapat meliha kekecewaan terpancar di sana.

“Kaldera, kamu nggak perlu ikut campur ke dalam urusan ini,” ucap Raegan.

“Aku punya alasan untuk ikut campur,” balas Kaldera.

Raegan lantas menyunggingkan senyum smirknya. “Alasan apa yang buat kamu ada di pihak pembunuh pacar kamu, Kaldera?” Raegan masih di sana, menatap Kaldera dengan mata elangnya. Kaldera dapat merasakan tatapan tajam bercampur rasa kecewa yang dalam saat iris legam Raegan menatapnya.

Kaldera bergeming di tempatnya, ia hanya dapat menatap lantai marmar hitam di ruangan ini.

“Aku nggak memihak siapapun,” ucap Kaldera kemudian. Kaldera berusaha menatap Raegan meski rasanya Raegan dapat mengulitinya melalui sorot mata tajam dan dalam itu.

“Apa kamu tidak sadar kalau dia sedang memanfaatkan kamu untuk kepentingannya sendiri?” Raegan menjeda ucapannya sesaat. Pria itu menghela napasnya, kemudian menghembuskannya dengan sedikit kasar. “Dengar Kaldera, sekalipun kamu yang meminta untuk mencabut tuntutan itu, saya tidak akan melakukannya. Kamu memang orang yang dicintai adik saya, tapi itu tidak cukup untuk merubah keputusan saya.”

Semua perkataan Raegan rasanya seperti tamparan tak kasat mata bagi Kaldera. Benarkah bahwa Kaldera telah melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan?

Belum cukup semua perkataan tajam Raegan padanya, Kaldera masih mencoba melunakkan hati Raegan. “Kita bisa selesaikan ini dengan kepala dingin dan nemuin pelaku sebenarnya. Aku mohon sama kamu, tolong cabut tuntutannya,” ucap Kaldera.

Raegan tidak habis pikir bahwa Kaldera justru rada di haluan yang sama dengan musuhnya. Kaldera mencoba menjelaskan pada Raegan, tapi pria itu keras kepala. Namun Raegan tetaplah pria yang berpengan kuat terhadap apa yang ia yakini benar.

“Saya bilang ini ke kamu untuk yang terakhir kali,” Raegan menatap Kaldera dengan tatapan tegasnya. “Saya tidak akan pernah sudi berhubungan dengan dengan orang yang telah menyebabkan adik saya tiada. Apa kamu paham itu? Saya bisa menemukan pelakunya dengan tangan saya sendiri,” tukas Raegan.

Seolah perkataan Raegan adalah telak dan tidak dapat diganggu gugat. Raegan memilih berlabuh menggunakan kapalnya sendiri dan tidak ingin bekerja sama dengan Kaldera maupun Kafka.

“Kalian bisa pergi dari ruangan saya,” ucap Raegan kemudian. Pria itu tidak segan-segan mengerahkan bodyguardnya untuk mengantar Kaldera dan Kafka meninggalkan ruangannya.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Kaldera telah pulih dari sakitnya dan menjalani kehidupannya seperti sediakala. Ia pergi ke sekolah, kerja kelompok bersama teman-temannya, dan pulang ke rumah. Hanya saja ia tidak lagi bekerja part time di restoran makanan cepat saji. Kondisinya dipantau secara berkala oleh dokter, kemarin Kaldera baru saja datang ke rumah sakit untuk kontrol terakhirnya. Dokter pun mengatakan kalau Kaldera tidak diperbolehkan untuk terlalu banyak kegiatan yang bisa mempengaruhi kesehatannya.

Kaldera memutuskan akan memulai lembar hidupnya yang baru, meskipun itu bukanlah hal yang mudah. Kehilangan seseorang dicintai adalah salah satu fase terberat dan pahit yang harus dijalani oleh manusia. Namun pada hakikatnya, orang datang dan pergi, bukan? Tugas Kaldera di hidup Zio telah selesai, begitu juga dengan tugas Zio di hidupnya, itu sudah berakhir.

Sore ini pukul 3, Kaldera berjalan keluar dari gang sekolahnya. Kaldea baru menyadari bahwa hujan mulai turun memasahi permukaan bumi. Raganya memang ada di sini, tapi separuh jiwanya seperti dibawa pergi bersama orang yang ia cintai.

Kaldera menunggu angkutan umum di depan gang itu. Tidak ada tempat berteduh di sana, kalau Kaldera kembali lagi ke sekolah, itu akan percuma karena ia akan basah juga.

Rintik hujan pun turun semakin deras, Kaldera hanya menutupi kepalanya dengan kedua tangan. Begitu sebuah mobil hitam berhenti di depannya, Kaldera mendongak dan segera mendapati seseorang memayungi tubuhnya.

Kaldera mendapati orang itu adalah Raegan. Ketika netranya bertemu dengan netra Raegan, perasaan Kaldera rasanya campur aduk. Perlahan bahunya mulai terguncang dan isak tangisnya mulai terdengar memenuhi pendengaran Raegan.

“Kaldera,” suara Raegan beradu dengan derasnya hujan, tapi Kaldera masih dapat mendengarnya. Tinggi Kaldera yang hanya sebatas dada Raegan membuatnya harus mendongak untuk menatap pria itu.

“Apa yang Redanzio lakukan untuk menghibur kamu saat kamu sedih seperti ini?”

Bukan hanya Kaldera yang basah oleh air hujan, tapi perlahan-lahan air hujan itu ikut membasahi bahu Raegan. Jika mereka tidak lekas beranjak dari sana, mungkin keduanya akan sama-sama akan terkena flu setelah ini.

“Apapun itu, saya akan melakukannya untuk kamu,” sambung Raegan. Pria itu lantas menarik Kaldera mendekat begitu Kaldera justru akan bergerak menjauh darinya.

Di tengah rintik hujan yang menghantam tanah yang dipijaknya, Kaldera mendapati seseorang tengah berusaha melindunginya. Saat Kaldera tidak lagi peduli terhadap dirinya, pria itu pertama kali rela basah-basahan dengan stelan jas kantornya hanya karena berbagi payung bersamanya.

***

Kaldera terlihat begitu menikmati es krimnya meskipun di luar hujan masih mengguyur dan cuaca terasa sangat dingin. Namun sepertinya hanya makanan ini yang mampu membuat perasaan Kaldera lebih baik. Jadi Kaldera mengatakan pada Raegan bahwa ia hanya ingin makan es krim.

Di tengah-tengah kegiatannya, Kaldera sejenak menoleh pada Raegan. Rambut hitam Raegan yang jadi setengah basah sama sepertinya, membaut Kaldera tersenyum sungkan karenanya.

“Mas, kita lupain aja wasiat itu. Kita bisa jalanin kehidupan masing-masing,” ucap Kaldera, lalu ia mulai menyantap kembali es krim vanillanya.

“Kenapa kamu mau ngelupain wasiat itu?” tanya Raegan. Sepertinya Kaldera memang tidak bisa menghindari pertanyaan itu. Namun Kaldera juga tidak dapat menjelaskan alasannya pada Raegan.

Kaldera mengetahui watak tantenya, jadi waktu Raegan menanyakan soal wasiat itu, Kaldera memutuskan untuk menolaknya.

“Kaldera, saya ingin menjadikan kamu bagian dari keluarga kami. Sesuai yang diinginkan Zio, saya akan mengambil pilihan yang pertama. Saya sudah diskusi sama mama dan beliau setuju. Mama mau menjadikan kamu anak angkatnya,” jelas Raegan.

Kaldera menoleh pada Raegan, berusaha memberi pengertian lewat tatapan matanya. Kaldera menolaknya, tapi tidak memberi tahu Raegan alasannya.

“Paling tidak beri tahu saya alasannya, Kaldera,” ucap Raegan yang masih berusaha membujuk Kaldera.

Kaldera terdiam sesaat. Ia mengalihakn tatapannya dari Raegan pada jalanan di depannya. “Aku nggak mau ngerepotin siapapun. Apa yang udah kamu dan tante Indri lakuin buat aku kemarin, aku bersyukur untuk itu dan berterima kasih. Tapi aku pikir semuanya cukup sampai di sana,” jelas Kaldera.

Pada akhirnya Raegan tidak bisa memaksa Kaldera untuk mengubah keputusannya. Saat es krim Kaldera telah habis dan jalanan mulai terang karena hujan yang mereda, Raegan memutuskan menjalankan mobilnya dan mengantar Kaldera pulang.

Ketika mobil Raegan sampai di depan sebuah gang, Kaldera memintanya untuk berhenti sampai di sana saja. Sikap Kaldera yang tidak mau Raegan mengantarnya sampai ke depan rumahnya, membuat Raegan merasakan ada sesuatu yang aneh.

Sebelum turun dari mobil, Kaldera menoleh pada Raegan dan berujar, “Mas, makasih ya untuk hari ini.”

Raegan hanya mengangguk sekilas dan membiarkan Kaldera melangkah keluar dari mobilnya. Sepeninggalan Kaldera, Raegan rupanya memikirkan sesuatu tentang gadis itu.

Sikap Kaldera yang menjaga jarak itu justru membuat Raegan semakin penasaran terhadapnya. Tidak mungkin Zio memintanya menjaga Kaldera, kalau tahu gadis itu dapat menjaga diri sendiri. Pasti ada sesuatu di balik sikap Kaldera yang terang-terangan menolak permintaannya.

Sampai punggung Kaldera sudah tidak terlihat lagi olehnya, Raegan masih di sana, belum berniat menjalankan kembali mobilnya. Raegan mencium sesuatu yang aneh dan berniat mencari tahu lebih jauh tentang kekasih almarhum adiknya itu.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Hasil laboratorium yang telah keluar mendiagnosa bahwa Kaldera mengalami penyakit tipes. Sehingga untuk beberapa hari ke depan, Kaldera perlu menjalani rawat inap di rumah sakit.

Ini sudah hari ketiga sejak Kaldera menjalani perawatan di ruang VIP itu. Kaldera beberapa kali menghubungi tantenya, tapi tidak ada jawaban dari beliau. Dari yang akhir-akhir ini terjadi di hidupnya, Kaldera bersyukur bahwa ia masih memiliki seseorang di sisinya.

Saat tahu dari Raegan bahwa Kaldera sakit, Indri langsung datang ke sana. Beliau merawat Kaldera dan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Indri sungguh ingin melakukannya. Wanita itu mengatakan pada Kaldera, ia ingin memberikan kasih sayang pada Kaldera karena belum dapat sepenuhnya memberikannya untuk Zio.

Sore ini setelah menyantap makanannya dan perawat datang untuk mengganti cairan infusnya, Kaldera mencoba untuk tidur. Meskipun hanya dapat menyuap 3 sendok nasi, setidaknya perutnya terisi, itu sudah cukup baik menurut yang dikatakan oleh dokter.

“Tante pulang aja nggak papa. Kaldera bisa sendiri di sini,” ucap Kaldera pada Indri sebelum matanya sedikit lagi terpejam.

“Tante tungguin kamu sampe Raegan dateng ya. Tante nggak tega ninggalin kamu,” balas Indri sembari mengusap punggung tangan Kaldera dan menatapnya penuh sayang.

Lagi-lagi Kaldera tidak dapat menolak perilaku baik keluarga Zio kepadanya. Lantas Kaldera hanya menampakkan senyum kecilnya, sebelum akhirnya perlahan netranya mulai terpejam karena rasa kantuk yang menghampiri.

***

Sekitar pukul 5 sore, Raegan sampai di ruang rawat Kaldera dan mendapati Kaldera tengah tertidur. Mamanya masih menunggui Kaldera dan hampir terlelap juga di sofa bed di sisi kanan ruangan itu.

“Mah, Mama pulang aja ya. Biar Raegan yang di sini,” ucap Raegan ketika Indri menyadari kehadirannya di sana.

“Kerjaan kamu di kantor udah selesai semua?” Indri bertanya.

Raegan lekas mengangguk untuk menjawab pertanyan mamanya.

“Oke, kalau gitu.”

“Kenapa Mama nanyain kerjaan aku udah selesai atau belum?” tanya Raegan.

Indri mengambil tasnya di meja dekat sofa. Wanita berusia 50 tahunan itu merapikan rambut sebahunya yang sedikit acak-acakan. “Mama tau pekerjaan adalah yang utama buat kamu, Raegan. Tapi sekarang Mama minta tolong sama kamu, tolong jaga Kaldera seperti kamu menjaga Zio waktu adik kamu kecil,” Indri mengucapkan kalimatnya dengan terbata-bata. Indri terlihat mengalihkan tatapannya dari kedua mata Raegan, ia tengah berusaha menahan air matanya yang siap untuk meluncur.

“Iya, Mama tenang aja. Malam ini Raegan yang jaga di sini,” ujar Raegan.

***

Ketika Kaldera terbangun dari tidurnya, ia pikir ia akan mendapati Raegan di sana. Kaldera justru menemukan tantenya di ruang rawatnya. Bukannya nampak khwatir dengan Kaldera, Laura justru terlihat tersenyum cerah dan ekspresi wajahnya begitu semringah.

Kaldera tidak mengucapkan apapun, ia hanya mengalihkan tatapannya ke arah lain, yang jelas selain ke arah Laura.

“Kaldera, kalau Tante tau kamu sakit dan dirawat di ruang VVIP kayak gini, Tante bisa ninggalin kerjaan dan ke sini secepatnya. Kamu nggak bilang ke Tante kalau keluarga pacar kamu seroyal ini sama kamu,” ujar Laura panjang lebar.

“Tante tau dari mana aku dirawat di sini?” tanya Kaldera begitu ia menoleh ke arah Laura. Tantenya itu tengah mengemil makanan manis di meja samping tempat tidurnya. Selama Kaldera dirawat di sini dan napsu makannya berkurang drastis, Raegan kerap kali membelikan beberapa makanan untuknya. Kaldera menduga Raegan tadi datang saat ia tidur dan lagi membawakan makanan untuknya.

“Kenapa kamu nanya soal itu? Kamu nggak suka Tante dateng ke sini? Kayaknya kamu udah nyaman banget ya nikamtin semua fasilitas di ruangan ini,” Laura beranjak dari posisi duduknya. Ia mengambil satu lagi cookies coklat di meja. Kemudian Laura berjalan ke arah lemari di ruang rawat itu, ia membukanya dan memperhatikan beberapa stel baju yang ada di sana. “Makanan, baju, kakaknya pacar kamu itu siapa namanya, ohiya, Raegan. Dia udah kayak ATM berjalan. Mungkin dia bisa beliin apapun yang kamu minta—

“Tante, cukup,” tukas Kaldera menghentikan ucapan Laura.

Wanita di hadapannya itu menatapnya dengan tatapan tidak suka. Lagi dan lagi Kaldera dihadapkan pada sifat tantenya yang materialistis.

“Tante, kalau sekali lagi aku denger Tante ngomong kayak gitu. Aku bisa minta tolong sama satpam untuk bawa Tante keluar dari sini,” Kaldera menjeda ucapannya sesaat karena tiba-tiba dadanya terasa sesak.

“Kamu mau ngelakuin itu?” sarkas Laura. Wanita itu kembali berjalan menghampiri Kaldera. “Sayangnya, Raegan udah percaya sama Tante, Kaldera keponakan Tante yang tersayang. Raegan percaya kalau Tante adalah yang terbaik dan udah merawat kamu selama ini, Sayang. Mungkin kalau kamu nggak bisa bersama adiknya, kamu bisa mengambil hati kakaknya. Kamu bisa gunakan wajah cantikmu itu kan, Kaldera?”

“Tante, ini terakhir kalinya ya Kaldera ngomong sama Tante soal ini. Kaldera nggak akan biarin Tante menyentuh keluarga Zio sedikitpun, Tante inget itu,” tegas Kaldera sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Laura.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Satu minggu kemudian

Bel pulang sekolah telah berbunyi beberapa saat yang lalu. Di kelas 12 IPS 3, Kaldera masih merapikan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas putihnya. Icha, teman sebangku Kaldera, menatapnya dengan tatapan khawatir. Pasalnya kondisi Kaldera tampak mengkhawatirkan.

“Kal, lo habis ini nggak langsung balik, kan?” tanya Icha yang sudah lebih dulu selesai merapikan barang-barangnya.

“Iya, Cha. Gue harus nemuin bu Tata dulu di ruang guru,” ucap Kaldera.

“Gue temenin lo sampe selesai ya? Gimana? Nanti kita pulang bareng aja,” ujar Icha sambil menampakkan cengiran kecilnya.

“Nggak papa Cha, gue bisa balik sendiri kok. Lo pulang aja ya,” ujar Kaldera sembari mengulaskan senyum kecilnya.

Icha mau tidak mau menerima keputusan yang dibuat Kaldera. Mungkin sahabatnya memang sedang membutuhkan ruang untuk sendiri. Kehilangan seseorang yang disayangi memang tidak mudah. Melupakan pun juga membutuhkan waktu. Namun sepertinya, sosok Zio selamanya tidak akan bisa terlupakan di hidup Kaldera.

***

Kaldera sedang menjalani hukuman yang diberikan oleh bu Tata, guru mata pelajaran matematika di sekolahnya. Kaldera kedapatan melamun di kelas dan tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan gurunya. Berakhirlah saat ini Kaldera harus menulis rumus mencari Quartil 2 pada 3 lembar kertas folio, sebagai tanda bahwa ia menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Tiba-tiba tangan Kaldera yang sebelumnya menulis terhenti, begitu ia teringat akan sesuatu. Kaldera memang paling lemah di pelajaran matematika. Kala itu ada seseorang begitu sabar yang rela mengajarinya sampai ia mengerti.

Redanzio.

Kaldera teringat lelaki itu lagi. Baru satu minggu sejak kepergian Zio, rasanya Kaldera sudah begitu rindu. Rindunya terasa begitu menyakitkan, karena ia tidak dapat bertemu sosok itu lagi untuk selamanya.

Kaldera menghembuskan napasnya panjang, lalu ia memutuskan untuk kembali melanjutkan menulis. Kaldera ingin cepat pulang ke rumah dan pergi tidur, berharap rasa sakitnya dapat reda atau ia bisa bertemu dengan Zio meskipun hanya di dalam mimpi.

Berada di sekolah semakin mengingatkannya kepada Zio. Tempat ini telah menyimpan begitu banyak kenangan untuk Kaldera dan Zio. Tempat yang dulu paling suka Kaldera datangi, kini justru berubah menjadi momok baginya.

“Kaldera, apa tugas dari Ibu sudah selesai?” suara bu Tata membuat Kaldera menoleh.

“Sudah saya selesaikan, Bu,” ucap Kaldera sembari menyerahkan kertas di tangannya kepada bu Tata.

Wanita yang merupakan gurunya itu lantas tampak terkejut begitu melihat cairan merah kental mengalir dari hidung Kaldera.

“Kaldera, kamu mimisan, Nak. Ibu antar kamu ke UKS sekarang ya, yaampun kamu kenapa nggak bilang kalau sakit,” ucap bu Tata dengan raut paniknya.

Kaldera tidak sadar tentang kondisinya sendiri. Apakah benar ia sakit? Namun mengapa tubuhnya seolah sudah kebal hingga tidak dapat lagi merasakan perasaan sakit tersebut?

***

Perlahan-lahan Kaldera mencoba untuk membuka matanya. Tubuhnya terasa kurang bertenaga dan kepalanya sedikit pusing. Begitu menoleh ke sampingnya, Kaldera tidak menemukan siapa pun di ruang UKS sekolahnya itu. Namun samar-samar dari balik bilik pembatas, Kaldera dapat mendengar suara percakapan petugas kesehatan UKS dengan seseorang.

“Saya sudah coba menghubungi kontak walinya Kaldera. Tapi beliau tidak mengangkat telfonnya. Jadi saya menghubungi nomor terakhir yang ada di riwayat panggilan hp nya Kaldera.”

“Apakah Bapak walinya Kaldera? Atau mungkin Bapak bisa jelaskan pada saya hubungan Anda dengan Kaldera?”

Itu adalah suara wali kelasnya, Bu Nurhayati. Beberapa detik setelah itu, Kaldera dapat mendengar jawaban dari orang yang berbicara dengan wali kelasnya.

“Perkenalkan Bu, saya Raegantara. Saya adalah walinya Kaldera.”

“Baik, Pak. Saya ingin menyampaikan sebuah hal, beberapa kali Kaldera sempat pingsan saat di sekolah. Jadi saya harap, Bapak dapat memperhatikan kondisi kesehatan Kaldera.”

***

Siang tadi Raegan mendapat telfon ketika ia sedang berada di kantornya. Telfon itu berasal dari nomor tidak dikenal yang ternyata adalah wali kelas Kaldera. Raegan akhirnya datang ke sekolah Kaldera setelah dapat informasi bahwa Kaldera sakit.

Saat ini Raegan dalam perjalanan bersama Kaldera. Raegan sudah mengatakan bahwa ia akan melakukan yang diminta oleh wali kelas Kaldera.

“Ayo, kita turun,” ucap Raegan setelah tangannya menarik rem mobilnya. Kaldera masih diam di tempatnya, ia memandang bangunan rumah sakit yang kini berada di hadapannya.

Kaldera lantas mengangguk pelan, ia tidak bisa menolak saat Raegan membawanya untuk berobat ke rumah sakit. Begitu mereka sampai di ruangan dokter dan Kaldera di periksa, dokter tersebut meminta agar Kaldera melakukan test lab karena gejala yang dialami Kaldera merujuk pada penyakit tipes.

Kaldera dan Raegan menunggu hasil lab, mereka duduk bersebelahan di kursi ruang tunggu. Tidak ada yang memulai percakapan, sampai akhirnya Kaldera mengucapkan kalimat permintaan maaf pada Raegan.

“Maaf udah ngerepotin kamu,” ucap Kaldera sambil menoleh ke arah Raegan.

“Kenapa kamu nggak angkat telfon dari saya?” Raegan malah mempertanyakan hal lain. Kaldera terlihat sedikit terkejut mendapati pertanyaan Raegan itu.

“Kamu juga mengabaikan chat dari saya,” tambah Raegan lagi.

Kaldera sedikit bersyukur begitu seorang perawat menghampiri mereka. Hasil laboratoriumnya telah keluar, jadi pembicaraannya dan Raegan terhenti. Kaldera jadi bisa menghindari pertanyaan Raegan, soal mengapa ia mengabaikan pesan Raegan saat lelaki itu membahas wasiat yang Zio berikan.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂