alyadara

Menantu dan Istri Idaman

Siang itu di sebuah restoran bergaya eropa klasik, tengah diadakan acara pertemuan untuk arisan para ibu-ibu. Di dalam grup tersebut, masing-masing mereka memiliki latar belakang yang bermacam-macam. Acara kali ini terlihat cukup unik karena beberapa tidak datang sendiri, ada yang menggandeng cucu mereka ke sana. Acara pertama pun dibuka dengan sesi makan-makan dan dilanjut undian nama untuk yang mendapatkan arisan bulan ini.

Setiap bulan, nama yang keluar akan mendapat uang arisan sejumlah 80 juta. Jumlah yang bisa dibilang sangat fantastis. Hal tersebut tentu didasari oleh para anggota dengan latar belakang uang bulanan yang di atas rata-rata. Ada wanita karir yang sukses, ada istri seorang pejabat negara, pilot, serta abdi negara. Bahkan ada yang hanya tinggal duduk di rumah dan uang bulanan dari suami sudah sangat lebih dari cukup untuk menjalani hidup yang mewah.

Sekitar pukul 3 sore, acara tersebut akhirnya selesai. Satu persatu ibu-ibu di sana mulai berpamitan untuk pulang. Tampak beberapa mobil mewah yang menjemput mereka, supir pribadi atau suami yang berjas rapi, rata-rata yang terlihat adalah seperti itu.

“Jeng Tiara, ini siapa? Cucunya ya? Ganteng banget Jeng,” ujar seorang wanita dengan lipstick merah yang terpoles di bibirnya. Masih ada sesi berpamitan dan foto-foto untuk mengabadikan momen di sana.

“Kenalin Jeng, ini cucu pertamaku. Aku culik dulu hari ini dari mama sama papanya,” ucap Tiara sambil dengan lembut meminta cucunya untuk menyalami teman satu grup arisannya itu.

“Ayo Nak, salam dulu sama teman Oma,” tutur Tiara kemudian. Lantas anak lelaki berusia 4 tahun di sampingnya itu segera mengulurkan tangan dan menyalami perempuan yang berusia tidak jauh dari omanya tersebut.

“Emang papa sama mamanya ke mana Jeng?” tanya perempuan itu lagi setelah sekilas mengusap kepala si anak lelaki yang merupakan cucu temannya.

“Papanya lagi kerja, mamanya juga kebetulan ada kerjaan hari ini,” jelas Tiara yang langsung diangguki oleh temannya.

Weekend begini masih kerja Jeng? Wah keren ya, sukses selalu ya Jeng buat anak dan menantunya.”

“Makasih lho, Jeng. Ini malah untung mama papanya pada kerja, jadi omanya bisa ngajak cucu. Kebetulan sore ini kerjaannya udah selesai, habis ini katanya mau jemput kesini,” jelas Tiara lagi.

Di tengah situasi tersebut, tiba-tiba anak lelaki di samping Tiara itu berujar padanya, “Oma, itu Papa sama Mama udah dateng jemput kita.” Seketika Tiara menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Svarga, cucunya. Benar saja, jarak beberapa ratus meter dari posisi mereka, nampak dua sosok yang begitu fameliar berjalan menghampiri mereka.

Sampai terjadi waktunya, di sana Tiara mengenalkan sosok papa dan mamanya Svarga kepada teman arisannya itu.

“Kenalin Jeng Catherine, ini anak dan menantu saya, papa dan mamanya Svarga,” ucap Tiara memperkenalkan dua orang yang kini tengah bergabung bersama mereka.

Mereka sempat saling menatap, Catherine dan Karin. Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya mereka adalah dua orang yang sudah saling mengenal. Catherine tidak tahu sama sekali bahwa Tiara adalah mertua dari Karin. Serta anak laki-laki yang bersama Tiara itu adalah anaknya Aryan dan Karin.

Sebelum keduanya datang, Tiara sempat menceritakan soal menantunya kepada Catherine. Dari cerita Tiara, terlihat sekali bahwa wanita itu begitu bangga pada mereka. Anaknya telah melanjutkan perusahaan keluarga. Kalau menantunya, ia adalah sosok wanita karir yang hebat, mandiri, dan penyayang. Terkejutlah Catherine ketika mengetahui kalau menantu yang begitu dibangga banggakan Tiara barusan adalah Karin, perempuan yang pernah ia anggap sebelah mata, perempuan yang pernah ia minta pergi dari hidup anak lelakinya.

Karin nampak mengulurkan tangannya lebih dulu kepada Catherine, berusaha membuat semuanya tampak normal. Catherine pun segera membalas uluran itu, ia menjabat tangan Karin. Di sana Karin menyebutkan namanya, begitu juga akhirnya dengan Catherine.

Setelah sesi perkenalan itu selesai, Tiara mengulaskan senyumnya yang tampak bahagia. “Saya udah mau punya cucu dua lho Jeng, menantu saya lagi hamil 2 bulan sekarang,” ucap Tiara tanpa bermaksud apa pun.

Catherine di sana tampak mengulaskan senyum sebisanya. Tiara yang nampak begitu bahagia dan akrab dengan menantunya, sampai rasanya tidak ada batasan antara anak dan menantu, membuat Catherine takjub.

Catherine takjub melihat keluarga kecil yang nampak sangat bahagia itu. Sosok Karin yang sebelumnya ia nilai buruk karena hamil di luar nikah, rupanya adalah sosok yang begitu dikagumi dan disayangi oleh keluarganya.

Sepertinya bukan hanya Karin yang beruntung memiliki mertua seperti Tiara. Namun mereka saling melengkapi. Tiara sangat beruntung memiliki menantu seperti Karin. Tiara merasa bahwa anaknya dan cucunya berada di tangan yang tepat. Karin adalah istri dan ibu yang sempurna. Sempurna bukan semata hanya dari tampilan luarnya, tapi juga dari hati yang begitu baik dan tulus menyayangi.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin baru saja selesai mengantar Svarga ke kamarnya dan memastikan anaknya tertidur dengan pulas di sana. Setelah acara di rumah orang tua Aryan selesai, mereka pulang ke rumah saat hari sudah beranjak sore. Kini waktu menunjukkan pukul 5, langit mulai tampak berwarna jingga dan matahari sudah dalam perjalanan pulang ke peradaban miliknya.

Ketika Karin menutup pintu kamar Svarga dan berbalik, ia menemukan Aryan di sana. Aryan lantas meraih tangan Karin dan mengenggamnya ringan. Aryan juga memberikan usapan di punggung tangan Karin, lalu sambil menatap iris mata Karin, Aryan berujar, “Sayang, makasih ya buat hari ini. Mungkin akan ada banyak terima kasih lainnya yang aku ucapkan ke kamu. Kamu dan Svarga, kalian adalah anugerah terbesar di hidup aku.”

Aryan mengatakan bahwa keluarga kecil mereka, Karin dan Svarga, merupakan wujud dari rasa syukurnya yang paling besar. Wujud paling besar kedua adalah orang tua dan keluarganya yang lain. Jadi akan ada banyak kata terima kasih, entah berapa jumlahnya. Selama Aryan masih hidup di dunia ini, ia akan sukarela mengutarakannya. Terutama kepada Karin, perempuan itu telah begitu banyak membawa berkat ke dalam hidupnya.

Sebenarnya tadi Karin mengira Aryan sudah tidur dan Karin akan menyusul. Namun rupanya bayi besar Karin tersebut belum ingin terpejam. Karin punya dua tugas setelah menjadi istri dan seorang ibu. Ia akan memastikan bahwa kedua lelakinya mendapat kasih sayang yang cukup darinya, mendapat makanan enak, tidur dengan pulas, dan hal-hal lainnya sebagai wujud cintanya terhadap mereka.

Kini keduanya saling berhadapan, berpelukan ringan di bawah selimut tebal di atas kasur berukuran king size di kamar mereka. Mereka akan melakukan pillow talk sebelum tidur, salah satu kebiasaan menyenangkan dalam kehidupan pernikahan.

“Kak, aku bangga banget sama kamu,” Karin menjeda ucapannya sesaat, ia mengamati paras Aryan dengan seksama, tatapannya terasa begitu dipenuhi oleh afeksi. “Kamu orang yang aku kagumin nggak hanya karena kamu suami dan ayah dari anak aku. Tapi aku kagum sama kamu in person. Kamu sosok yang tekun, pintar, dan bijaksana,” ungkap Karin.

Karin juga mengatakan, ada sebuah kalimat dari lagu yang begitu menggambarkan perasaannya kepada Aryan. Don’t want to give my heart away to another stranger. Kalimat dari lagu berjudul I’ll Never Love Again yang dinyanyikan oleh Lady Gaga tersebut, dapat begitu menggambarkan perasaan Karin terhadap Aryan. Aryan, lelaki itu adalah orang asing terakhir yang membuat Karin rela memberikan seluruh hatinya. Orang yang terakhir Karin cintai, nama terakhir yang akan ia ucapkan yang selalu tertanam di dalam pikirannya.

“Kak,” ucap Karin tiba-tiba.

“Iya, Sayang? Kenapa?” Aryan lantas sedikit menjauhkan dirinya agar bisa sepenuhnya menatap paras wanitanya.

“Kamu pernah ke Maldives sama Kina berdua aja?” tanya Karin kemudian.

“Iya, pernah. Tapi nggak cuma berdua waktu itu,” jawab Aryan.

“Ngapain ke Maldives?”

“Kina ada kerjaan di sana, jadi aku temenin dia.”

“Kan ada Freya, managernya Kina.”

“Dulu kan aku pacarnya Kina.”

“Sekalian liburan berdua dong ya,” ucap Karin.

“Engga gitu, Sayang,” Aryan tergelak begitu saja.

“Nggak mungkin. Satu kamar pasti,” cicit Karin.

“Beneran, engga, Sayang,” Aryan tertawa lagi. Saat tawanya berangsur mereda, Aryan berujar lagi, “Aku sama Kina tetap punya boundaries. Kita beda kamar, Kina sekamar sama Freya.”

“Harusnya aku gitu juga ya sama Rey. Waktu Rey ke Bali lima hari, aku ikut aja. Daripada nahan kangen.”

“Rey di Bali kerja?”

“Iya. Waktu itu ada project photoshoot di sana.”

“Kalau waktu itu kamu ikut Rey, emang kamu mau ngapain?”

“Mau cuddle lah malamnya di hotel,” celetuk Karin sambil berusaha menahan senyumnya.

Cuddle doang, aku sama Rey juga punya boundaries, Kak,” Karin tertawa melihat ekspresi Aryan yang seketika berubah masam.

“Aku tau, Sayang. Aku tau kamu perempuan yang terhormat. Kamu nggak akan pernah melakukan itu,” ujar Aryan sambil mengulaskan senyum simpulnya.

“Tapi akhirnya aku melakukan itu sama pacarnya Kina, di Bali.”

“Aku dulu pacarnya Kina. Tapi sekarang kan aku suami kamu.”

Senyum Karin seketika mengembang mendengarnya, “Takdir nggak terduga banget ya, Kak. Kapan dan di mana kita bertemu sama seseorang yang tepat. Kamu punya masa lalu sama Kina, aku punya masa lalu sama Rey. But at the end, we are together.”

Aryan lantas mengangguk. Aryan yang jadi penasaran akhirnya bertanya pada Karin, “Jadi apa alasan tadi kamu tiba-tiba tanya soal aku dan Kina?”

“Aku habis liat instagram Kina. Udah hampir lima tahun, Kina masih nyimpan kenangannya sama kamu. Terus aku pengen iseng aja nanya aja ke kamu.”

“Di instagramku udah aku hapus lho, Sayang.”

“Iya, aku tau. Aku keliatan kayak istri posesif banget yaa Kak? Maaf ya, kamu pasti jadi nggak nyaman,” ujar Karin akhirnya.

“Nggak papa. Aku malah suka kamu jujur sama apa yang kamu rasain. Selama masih batas wajar, it’s totally oke, Sayang.”

“Cowok biasanya nggak suka di posesifin lho.”

“Oh iya? Tapi aku suka kamu cemburu kayak tadi. Asal masih dalam batas yang wajar, Sayang.”

“Siapa yang cemburu? Nggak ada, aku nggak cemburu tuh,” kilah Karin.

“Yaudah, iya. Kamu nggak cemburu.”

Jeda dua detik berikutnya, Aryan mendekat ke Karin dan memeluk wanitanya dengan erat.

“Kak, aku cemburu ... ” aku Karin akhirnya.

Aryan lantas tidak bisa menahan tawanya untuk membuncah lagi. Karin yang mendapati Aryan tertawa, lantas memanyunkan bibirnya 2 centi.

Aryan bilang Karin itu lucu. Apakah perempuan memang seperti ini? Dia yang memulai, tapi akhirnya dia juga yang semakin uring-uringan.

“Sayang, gini ya. Dengerin aku,” Aryan menghela satu sisi wajah Karin agar perempuan itu menatapnya.

“Kamu nggak perlu pikirin itu. Kina cuma masa lalu aku. Aku udah punya masa sekarang dan menanti masa depan yang bahagia sama kamu. Menanti anak-anak kita lahir, kita mau punya anak banyak, kan Sayang?”

They staring to each other, deeply. Mata Karin berkaca-kaca, perempuan itu akhirnya menganggukkan kepala sembari mengulaskan sebuah senyum.

Aryan pun menjelaskan bahwa ia telah meninggalkan seseorang yang pernah ia cintai untuk menemukan sosok yang mencintainya. Karin adalah sosok yang berhasil membuatnya seribu kali lipat akhirnya merasakan jatuh cinta yang begitu dalam.

Aryan telah menemukan pasangan dengan cara menemukan dirinya sendiri. Di saat seorang lelaki sudah merasa lelah karena terus mencari sosok yang diinginkannya, sampailah pada suatu ketika ada seorang perempuan yang terlihat begitu cantik di mata lelaki tersebut. Perempuan itu nampak cantik dengan caranya sendiri. Dia punya daya pikat yg beda, yang akhirnya membuat si lelaki tertarik.

Dari pada mencari orang di luar sana dan berusaha menjadi sosok lelaki yang diinginkan oleh perempuan yang ia sukai, kenapa tidak mencoba mengenal diri sendiri. Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk menaikkan value dan potensi yang ada di dalam dirinya. Sosok Karin yang apa adanya, sosok yang penyayang, sikapnya yang lembut, membuat Aryan ingin melakukan hal yang sama kepada Karin. Aryan ingin memberikan versi terbaik dirinya, ia ingin menjadi dirinya sendiri dan itulah wujud terbaik yang sesungguhnya.

Selesai dengan pikirannya, Aryan kembali menatap Karin. Berikutnya Karin bergerak dari posisinya untuk dapat menjangkau Aryan, lalu ia memberikan kecupan lembut di pipi pria itu.

‘Cuph cuphh cuph’ bunyi menggemaskan itu terdengar kala Karin mengecup pipi Aryan bertubi-tubi .

Vara Karin menunjukkan kasih sayangnya, dapat membuat Aryan merasa begitu dicintai. Aryan berharga karena dirinya memiliki Karin yang mencintainya setulus ini.

“Kak, kamu punyaku,” ucap Karin.

“Iya, emang punya kamu,” balas Aryan sembari mengulaskan senyum tampan nan menggoda khasnya.

Tatapan keduanya lantas bertemu di satu titik yang sama. Aryan dan Karin, adalah dua orang yang telah saling menemukan dan berhasil menciptakan kebahagiaan yang sebelumnya mereka impikan. Aryan dan Karin memiliki akhir yang bahagia. Even what they through is not easy, mereka punya kemauan untuk melalui itu dan berjuang demi sesuatu yang lebih baik di masa depan. Aryan menemukan takdir bahagianya. Masa lalu telah mengajarkannya, ia menjalani masa sekarang dengan baik, dan akan menuai yang lebih baik untuk masa depan.

“Kak, kira-kira kamu mau kita punya anak berapa?” tanya Karin.

Aryan sempat berpikir sejenak, ia belum memiliki jawaban itu di dalam kepalanya. “Kalau menurut aku, sampai kita punya anak 6 atau 7, aku sanggup menghidupi kamu dan anak-anak kita. Tapi keputusannya ada di tangan kamu Sayang, karena kamu yang akan mengandung dan melahirkan mereka. Aku nggak ingin membebani kamu, kebahagiaan kamu tetap yang nomor satu bagi aku.”

Aryan begitu mencintai Karin dan anak mereka. Ada penyesalan kenapa dirinya dulu sempat tidak menginginkan anaknya. Nyatanya, setelah Svarga lahir, hidup Aryan berubah menjadi jauh lebih baik. Orang di sekitar Aryan yang positif tentunya menghasilkan energi positif juga untuk dirinya. Aryan mendapatkan sumber cintanya yang tulus menyayanginya, yakni Karin dan Svarga. Aryan loves them both so much. He takes them to his number one priority.

Karin akhirnya mengangguki itu. Ia pun setuju dan begitu takjub akan pemikiran Aryan. Karin mencintai Aryan dengan semua yang ada pada dirinya.

Bagi Aryan, jika seseorang mencari pasangan yang sempurna, maka orang itu akan terus mencari. Cinta itu hadirnya sederhana, hanya saja seringkali pikiran manusia yang menjadi terlalu rumit. Seseorang ingin terus mencari yang sempurna, padahal tanpa ia sadari, cinta tidak selamanya tentang kesempurnaan. Justru sebaliknya, cintalah yang akhirnya bisa membuat seseorang merasa sempurna.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan 1

Aryan 2

Dua minggu yang lalu, Aryan telah berhasil mendapatkan gelar Magister Manajemen Bisnisnya. Bersama Karin dan Svarga, akhirnya mereka bertiga kembali ke Indonesia. Hari pemilihan calon CEO sekaligus Presiden Direktur yang baru pun semakin dekat. CEO yang sebelumnya menjabat, yakni papanya sendiri, Aryo Bimo Brodjohujodyo telah melewati batas golden yearsnya dan akan digantikan oleh pemimpin yang baru. Sudah 25 tahun Aryo mengemban tugas untuk perusahaan Harapan Jaya.

Saat ini tepat di usia Aryan yang menginjak angka 25, lelaki itu menjadi kandidat untuk meneruskan perusahaan milik keluarga. Aryan dapat sampai ditahap ini tentunya berkat dukungan orang-orang tersayangnya. Istri, anak, orang tua, adik, sahabat, serta keluarga besarnya yang selalu mendukung dan percaya bahwa ia bisa melakukannya.

Hari ini merupakan hari pemilihan CEO dan akan dilakukan melalui voting pemungutan suara. Tanpa sepengetahuan Aryan, rupanya Karin tengah berada di rumah orang tuanya. Karin di sana bersama mama mertuanya, adik iparnya, dan para asisten rumah tangga yang membantu mereka mempersiapkan surprise untuk Aryan. Tiara, mama mertuanya, sudah mendapat kabar bahwa hasil pemilihannya telah keluar.

Penthouse super besar dan mewah itu kini telah selsai didekorasi sedemikian rupa untuk menyambut pulangnya Aryan. Semuanya telah diatur, mereka hanya tinggal menunggu Aryan dan Aryo kembali dari kantor. Sebenarnya tadi pagi Aryan berniat mengajak Karin dan Svarga untuk menghadiri acara pengambilan suara tersebut. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya Karin tetap di rumah dan Aryan sudah berangkat pagi-pagi sekali.

Karin menatap sebuah banner berwarna emas bertuliskan “CONGRATULATIONS to Aryan Sakha Brodjohujodyo. You are now a CEO of Harapan Jaya Group. Sincerely, your beloved family”

Karin pun mengulaskan senyum bahagianya. Hari ini bukan hanya suaminya yang akan diberi sebuah kejutan. Namun ada kabar gembira yang telah Karin persiapkan untuk diberi tahu kepada seluruh keluarga. Dalam hatinya, Karin berharap agar keluarganya dapat selalu diberkati seperti ini, selalu bisa memiliki momen bersama di sela kesibukan masing-masing. Hal yang rasanya sederhana, tapi kadang sebagian orang melupakannya begitu saja.

***

“Kamu mampir dulu ke penthouse. Mama katanya mau ketemu sama kamu,” ucap Aryo begitu dirinya dan Aryan sampai di parkiran khusus penghuni. Aryan memang berniat mengantar papanya baru setelah itu ia akan pulang.

Aryan pada akhirnya mengiyakan permintaan tersebut. Meskipun ia ingin sekali Karin dan Svarga juga ada di tengah-tengah keluarganya saat ini, tapi Aryan pikir mungkin itu akan terjadi di lain kesempatan. Papanya sempat bertanya alasan mengapa Aryan urung membawa istri dan anaknya ke acara pemilihan. Aryan pun hanya menjelaskan bahwa Karin sedang kurang fit kondisinya, jadi lebih baik hari ini Aryan tidak mengajak istri dan anaknya.

Aryan dan papanya melangkah bersisian menuju unit penthouse dimana merupakan kediaman keluarganya. Begitu sampai di sana, ketika Aryan akan membuka pintu ganda besar di hadapannya, pintu itu sudah terbuka lebih dulu. Aryan melempar tatapan tanya pada papanya, yang hanya dibalas dengan kedikan bahu.

Demi menjawab rasa penasarannya, Aryan pun segera membuka pintunya lebih lebar. Ia langsung masuk ke dalam penthouse dan ternyata yang didapatinya adalah seluruh lampu disana telah padam. Aryan akhirnya melangkah ke dalam penthouse lebih jauh, ia ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Begitu kaki jenjangnya sampai di bagian ruang tamu, saat itu juga seluruh lampu di tempat itu menyala satu persatu. Saat sepenuhnya lampu-lampu telah hidup, Aryan menangkap kehadiran orang-orang tercintanya di sana. Ada mamanya, adiknya, opa dan omanya, serta yang paling tidak disangkanya adalah eksistensi istri dan anaknya.

Aryan menatap sebuah banner berwarna gold yang digantung di langit-langit penthouse bertuliskan ucapan selamat dengan namanya di sana, membuat benang-benang di kepala Aryan akhirnya saling terhubung. Setelah beberapa detik terpaku di tempatnya, Aryan pun melangkahkan kakinya ke sana. Pertama kali Aryan menghampiri Karin, ia mendekap tubuh istrinya dan membisikkan ucapan terima kasih. Tidak lupa dengan jagoan kecil mereka, Aryan mengajak anaknya melakukan tos persahabatan antara ayah dan anak dan hanya mereka yang tahu cara melakukannya. Selanjutnya satu persatu Aryan memeluk keluarganya, mamanya, Nayna adiknya, serta opa dan omanya.

Terakhir tentu saja papanya. Begitu menjabat tangan besar itu, pandangan Aryan mendadak menjadi berkaca-kaca. Papanya menatap Aryan dengan tatapan bangga. Aryan sering mendapat tatapan itu dari orang tuanya sejak dulu dan beberapa orang terdekatnya, bahkan orang asing yang bahkan sama sekali tidak pernah singgah di hidupnya. Namun kali ini tatapan papanya terasa begitu dalam dan penuh makna. Aryan hampir saja menitikkan air matanya begitu papanya bergerak memeluknya.

Aryan merasakan papanya memberi dua kali tepukan di punggungnya sembari mengatakan sesuatu. “Papa bangga sekali sama kamu. Kamu sudah berhasil membuktikan kalau kamu pantas. Kamu anak yang baik, kamu cucu yang membanggakan. Kamu kakak yang hebat buat adik kamu, kamu suami yang penyayang dan papa yang hebat untuk anak kamu.”

“Makasih ya Pah. Makasih untuk semuanya,” balas Aryan dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Pelukan antara Aryan dan papanya akhirnya terurai. Aryan kembali menghadap keluarganya yang lain dan mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Tanpa dukungan mereka, rasanya mustahil Aryan bisa berdiri di sini dan mendapatkan jabatan yang akan memiliki tanggung jawab besar kedepannya.

Ketika mereka hendak mengambil foto bersama untuk mengabadikan momen, Aryan yang berada di samping Karin dan tengah merengkuh mesra pinggang istrinya, tanpa aba-aba segera memangkas jarak mereka dan lalu mencium bibir Karin di sana.

Karin yang terkejut pun seketika menjauhkan dirinya dari Aryan, membuat pagutan mereka secara spontan terlepas. Wajah Karin nampak memerah. Bagaimana tidak, Aryan melakukannya di depan seluruh keluarganya. Kejadian itu sontak mengundang perhatian semua orang di sana, tidak terkecuali anak mereka yang seolah nampak mengerti apa yang barusan dilakukan orang tuanya.

“Oma, liat deh, Papa kiss Mama!” seru Svarga dengan lancarnya mengadukan kejadian yang barusan terjadi.

“Svarga mau dapet kiss juga dari Papa dan Mama?” ujar Aryan berusaha mencairkan suasana yang tengah berubah canggung itu. Karin lantas mengulaskan senyum manisnya juga ke arah anaknya, berusaha membuat anak lelakinya lupa akan yang dilakukannya Aryan barusan.

Akhirnya Svarga mendapat kecupan di kedua pipi dari kedua orang tuanya. Saat itu juga, seorang fotografer yang hari ini ditugaskan khusus mengabadikan momen spesial tersebut, segera mengambil potret manis keluarga kecil itu.

Usai sesi tersebut, Aryan masih dengan tampang lempengnya dan senyum jahilnya, mengatakan pada keluarganya bahwa ia kelepasan. “Aryan tadi kelepasan Mah, Pah. Oma Opa tadi liat juga ya? Maaf ya semuanya,” ucap Aryan.

“Nay, kamu liat juga?” tambah Aryan lagi sambil melempar tatapan ke adiknya.

“Koko emang gitu Oma, Opa. Suka kelepasan,” adu Nayna yang seketika membuat Aryan melebarkan mata ke arah adiknya.

“Nggak papa kalau sesekali, itu wajar. Itu artinya tanda cinta,” celetuk Oma.

“Nah, bener tuh Oma. Oma emang paling the best,” balas Aryan.

“Ohiya, sebelum kita foto dan makan-makan, Aryan sama Karin mau menyampaikan suatu hal,” ujar Aryan lagi.

Aryan mengalihkan tatapannya pada Karin, lelaki itu lantas menampakkan senyum penuh maknanya. Karin tidak kepikiran soal apa yang ingin Aryan sampaikan. Mungkinkah itu sama hal nya dengan yang akan Karin sampaikan juga.

“Kak, kamu mau bilang apa emangnya?” bisik Karin di dekat Aryan.

“Itu lho, Sayang. Masa kamu nggak bisa nebak sih.”

Semakin dibuat penasaran oleh aksi dua sejoli itu, akhirnya Tiara selaku yang paling ingin tahu soal dan seperti mempunyai firasat, lekas meminta Aryan dan Karin untuk segera menyampaikannya.

“Iya, Mama. Sabar dong, Aryan sama Karin akan sampaikan. Jadi gini,” Aryan menjeda ucapannya, lelaki itu bergerak melingkarkan lengannya di pinggang Karin. Kemudian satu tangan Aryan yang lain mengarah ke perut Karin dan mendarat di sana. Aryan mengusap perut istrinya yang terlihat rata itu. Sambil menatap satu persatu anggota keluarganya, Aryan pun berujar, “Puji tuhan, Aryan sama Karin dikasih kesempatan buat punya anak lagi. Usianya baru 2 minggu, dan sebenarnya hari ini kondisi Karin lagi kurang fit. Makanya Aryan pikir surprise-nya berhasil banget. Aryan sama sekali nggak tau kalau akan ada acara kayak gini. Makasih ya semuanya,” tutur Aryan. Kejutannya benar-benar berhasil. Aryan tidak menduga kalau istrinya bekerja sama dengan keluarganya untuk mewujudkan kejutan untuknya. Di tengah kondisi Karin yang sedang hamil muda, Aryan sama sekali tidak terpikirkan bahwa istrinya ikut merencanakan perayaan spesial untuknya.

Aryan lantas mengalihkan tatapannya pada Karin, lelaki itu mengulaskan senyum hangatnya. Karin langsung membalasnya tidak kalah hangat.

“Mama udah firasat lho tadi. Karin auranya keliatan beda, Mama kan juga pernah hamil dulu, jadi tau,” cetus Tiara kemudian.

“Ohiya Mah? Emang beda gimana?” tanya Aryan yang beralih menatap Tiara.

“Beda dong, Aryan. Keliatan perempuan yang lagi mengandung, auranya akan terpancar. Selamat ya Karin, Aryan. Oma doain lancar semuanya, ibu dan bayinya sehat sampai lahiran nanti,” ujar omanya.

“Iya, Oma, Makasih ya,” ucap Karin sambil mengarahkan tatapannya pada arah Felicia.

“Kalau usia kandungannya baru dua minggu, kemungkinan pas di Aussie berarti ya?” cetus Tiara tiba-tiba. Seketika tatapan semua orang di sana mengarah padanya.

Aryan dan Karin pun saling melempar pandangan, lalu Aryan menyeletuk dengan tampang lempengnya. “Iya, kok Mama tau sih.”

“Mamamu kan lahir lebih dulu dari kamu dan udah hidup lebih lama,” ucap Felicia tampak gemas. Sontak semua yang di sana tertawa mendapati kejadian itu.

“Sebenarnya gini, Karin yang minta mau hamil lagi. Jadi Aryan iyain, gampang kan.” Seketika itu juga Karin yang ada di samping Aryan merasakan pipinya menghangat mendengar ucapan suaminya.

Di sana akhirnya hanya para lelaki yang tergelak. Aryan, papanya, dan opanya tidak lagi dapat menahan tawa. Papanya bahkan memuji Aryan dan mengatakan bahwa anaknya begitu hebat.

“Kok hebat sih, kamu nih,” ujar Tiara seketika sambil menyenggol lengan suaminya.

“Hebat dong, Sayang,” Aryo menatap balik Tiara, lalu ia mengulaskan senyumnya. “Artinya bibitnya Aryan dan Karin bagus dan subur, cepet jadinya.”

Tiara akhirnya memelototi Aryo dan segera mencubit lengannya. Namun pada akhirnya, hal itu diiyakan juga oleh Aryan dan Karin. Sebelumnya mereka sudah konsultasi dan dokter mengatakan bahwa memang sel milik Aryan maupun Karin kondisinya sangatlah bagus. Mereka juga melakukannya di waktu yang tepat, jadi pembuahan tersebut dapat langsung menghasilkan calon bayi di rahim Karin.

Tiara lantas geleng-geleng kepala. Akhirnya Karin dan Tiara setuju bahwa bapak dengan anak memang mirip sifatnya. Dua pria berbeda generasi tersebut, Aryan dan Aryo, bukan hanya terlihat mirip dari segi penampilan mereka hari ini, tapi kelakuannya juga sebelas dua belas. Dari segi wajah, Aryan memang banyak mengambil milik Tiara. Namun dari caranya menatap, gaya bicara, serta sifatnya, lelaki itu mewarisi delapan puluh persen dari papanya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Sejak Pabrik Kembali Berproduksi

Karin ingat perkataannya pada Aryan saat ia melepas lelaki itu pergi ke Aussie dua tahun lalu. Bahwa sejatinya kasih sayang dan cinta tidak selalu tentang raga yang bersama. Selama dua orang sejoli memiliki kepercayaan tersebut di dalam hati mereka, memiliki komitmen yang kuat, maka cinta tidak akan memudar dan terkikis oleh jarak.

Justru rasa rindu yang begitu menggebu tersebutlah yang sukses menciptakan gelora-gelora cinta di hati Karin, begitu netranya menatap pintu putih di hadapannya. Sebuah rumah sewa dengan pintu rumah bernomor 87 itu akhirnya terbuka, setelah Karin menekan bel yang ada di samping daun pintu.

“Papa!” Seruan gembira itu seketika terdengar kala nampak sosok lelaki jangkung tengah berdiri di hadapannya dan Svarga.

Detik itu juga Aryan tampak terkejut mendapati kehadiran Karin dan bocah lelaki yang nampak berbeda sejak terakhir mereka bertemu. Begitu Aryan melihat Svarga tengah menengadahkan wajahnya untuk menatapnya dan merentangkan tandangan tanda meminta digendong, Aryan segera membawa anak lelakinya ke dalam gendongannya.

“Papa, we missed you so much,” Svarga mengucapkannya dengan begitu lancar. Aryan seketika matanya berkaca-kaca, anaknya sudah sehebat ini dalam berbicara.

“Papa juga kangen banget sama Svarga dan Mama,” ucap Aryan sembari satu tangannya yang bebas meraih Karin untuk bergabung ke pelukannya.

Tinggi tubuh Karin yang hanya sebatas bahu Aryan, membuatnya terlihat mungil begitu lelaki itu mendekapnya. Karin menengadahkan wajahnya untuk menatap Aryan, pandangan mereka bertemu, rasanya itu sudah cukup membayar semua rindunya selama dua tahun belakangan.

“Anak kita hebat banget. Mamanya ngajarin apa aja selama Papa nggak ada?” tanya Aryan.

“Aku ajarin bahasa Inggris, membaca, berhitung. Habis ini gantian kamu yang ajarin ya,” ucap Karin sembari menyunggingkan senyum simpulnya. Aryan lekas menganggukinya.

“Mama, are you crying?” celetuk Svarga cepasaat melihat mata Karin yang kini nampak berkaca-kaca. Seolah dapat merasakan yang tengah Karin rasakan, Svarga berusaha menangkan mamanya itu.

It’s oke, Sayang. Mama ngga papa,” tutur Karin lembut.

“Mama kenapa tadi nangis?” tanya Svarga yang masih penasaran. Karin tahu bahwa anaknya itu pintar dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

“Svarga, Papa tau kenapa Mama barusan nangis,” ujar Aryan yang seketika membuat perhatian Svarga teralih padanya.

Svarga lantas menoleh pada Aryan dan bertanya, “Emangnya kenapa Pah, Mama nangis?”

“Mama was cried because she was happy. Svarga, Papa, dan Mama udah ketemu lagi sekarang, makanya mama *happy. Are you happy too to met me?” tanya Aryan.

Yes! I’m happy Papa. Mama pasti happy udah bsia ketemu Papa, soalnya Mama kangen papa setiap hari.”

“Emang Mama bilang apa, Nak?” tanya Aryan berusaha menggali informasi dari anaknya itu.

“Svarga, Mama kan nggak bilang apa-apa,” ucap Karin sembari mengulaskan senyum penuh arti ke arah anaknya.

Namun anak kecil tetaplah seperti pada hakikatnya yang kelewat berbicara jujur. Sambil menampakkan senyum tampannya, bocah laki-laki berusia empat tahun itu akhirnya berujar, “Pas Mama kangen Papa, setiap malem pasti Mama nangis, sambil bilang, Svarga, Mama kangen Papa. Terus Mama peluk Svarga deh, soalnya Svarga mirip Papa.”

“Mana ada Mama kayak gitu,” elak Karin begitu Svarga selesai bercerita. Dua laki-laki beda generasi itu malah mengulaskan senyum penuh arti ke arah Karin. Berikutnya Aryan mendekatkan dirinya pada Karin, ia menyematkan sebuah kecupan halus di kening wanitanya. “Bener gitu Sayang, yang dibilang Svarga?” bisik Aryan di dekat Karin.

Akhirnya dengan perlahan Karin mengangguk. Ia tidak bisa mengelak lagi, anak kecil adalah makhluk tersuci suci yang tidak akan berbohong. Jadi pastilah Aryan langsung mempercayai omongan anaknya itu.

Masih sambil mendekap dua cinta di hidupnya, Aryan lantas berujar lagi pada Karin, “Sekarang udah nggak kangen lagi, kan? Kamu bisa peluk Svarga versi dewasanya sepuas yang kamu mau. Gimana?”

***

Karin memang mengabari Aryan bahwa dirinya dan Svarga akan sampai besok di Australia. Namun secara tiba-tiba dan tanpa sepengetahuannya, Aryan mendapati istri dan anaknya berada di depan rumahnya. Katakan bagaimana Aryan tidak terkejut? Rasanya melebihi seperti memenangkan lotre, meskipun dalam hidupnya Aryan belum pernah mendapat hadiah tersebut.

Satu jam yang lalu, setelah bermain bersama Aryan, Svarga akhirnya tertidur karena kelelahan. Momen antara anak dan ayah yang baru saja Aryan dapatkan, rasanya begitu membuat hatinya menghangat. Kini di kamar satunya, Aryan dan Karin tersisa, sedang melepas rindu yang sedikit masih terasa.

Kini Karin dapat kembali merasakan hangatnya berada di pelukan tubuh besar dan kekar Aryan. Seperti yang Aryan katakan, Karin bebas memilikinya. Aryan tidak akan kemana-mana, ia berjanji bahwa mereka tidak akan terpisahkan lagi oleh jarak. Aryan rindu bagaimana cara Karin mendekap torsonya, bagaimana perempuan itu memberi usapan di pipinya, hingga aroma parfum vanilla bercampur floral segar yang dapat ia hirup ketika memeluk tubuh Karin.

“Sayang, anak kita sekarang udah pinter banget ya. Pemikirannya, tutur katanya. Dia anak yang hebat, karena dia punya Mama sehebat kamu,” ucap Aryan.

Karin nampak mengulaskan senyum kecilnya, lalu mereka saling memandang. Posisi Karin kini berada di dalam dekapan lengan kekar Aryan. Satu lengan Aryan Karin jadikan sebagai bantalan, sehingga dengan posisi menyamping, Aryan dapat memandangi wajah perempuannya dari posisi atas.

“Anak kita juga punya Papa sehebat kamu. Setiap hari dia selalu nanyain kamu, kadang dia sendiri yang minta sama aku buat telfon atau videocall kamu.”

Aryan lantas mengangguk. Ia lalu mengatakan pada Karin bahwa dirinya ingin sekali menjadi papa yang bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anak mereka nantinya.

“Anak-anak?” tanya Karin sambil masih setia menatap Aryan dengan lekat.

“Iya, Sayang. Anak-anak kita nanti.”

Karin nampak berpikir sejenak. Dua detik setelahnya, Aryan mendapati perempuannya menahan senyuman dengan melengkungkan kedua belah bibirnya ke dalam.

“Tapi kan anaknya belum ada, baru satu,” ucap Karin dengan suara pelannya.

“Yaa … kita bisa bikin lagi dong, Sayang. Aku sih siap kapan aja kamu mau.” Aryan mengucapkan kalimat tersebut seringan kapas yang terbang terbawa angin.

“Kak,” celetuk Karin kemudian.

“Iya, Sayang?” ujar Aryan seraya mengusapkan satu tangannya di sisi wajah Karin, itu terasa hangat ketika permukaan kulit tangan Aryan menyentuh kulit pipinya.

“Kamu mau nggak kalau kita punya anak lagi dalam waktu dekat?” tanya Karin. Tatapannya begitu dalam dan mendamba ketika menatap Aryan. Hingga Aryan dibuat hampir ingin gila, persis saat pertama kali mereka melakukan hubungan itu setelah resmi memutuskan bersama.

“Mau dong, Sayang. Kita bisa program untuk itu. Is it okey, kalau kamu hamil lagi? Pekerjaan dan cita-cita kamu, nanti gimana?”

Aryan selalu menanyakannya pada Karin terlebih dulu, lelaki itu selalu menempatkan istrinya di prioritas yang pertama. Aryan tahu bahwa Karin mempunyai cita-cita untuk karir modelnya. Masih banyak yang Karin ingin capai di dalam hidupnya dan Aryan akan mendukung Karin untuk mewujudkannya. Kalau Aryan sendiri jelas ingin mereka punya anak lagi. Namun ini bukan hanya tentang dirinya, pernikahan berjalan karena adanya dua orang. Jadi aryan ingin benar-benar memastikan bahwa Karin siap, baik secara fisik maupun mental. Karin yang akan mengandung dan melahirkan, maka keputusan finalnya ada di tangan istrinya.

Perlahan tapi pasti, akhirnya Karin mengangguk setuju. Karin mengatakan bahwa ia ingin hamil lagi, ia ingin mengandung anaknya Aryan. Saat Karin mengutarakan kalimat tersebut, Aryan pun dibuat membuncah dan rongga dadanya terasa berdesir hangat.

Aryan lantas menatap Karin dengan tatapan terharu bercampur memuja. Aryan tenggelam ke dalam mata bulat dengan iris legam yang tampak sempurna itu. Dari hanya sebuah tatapan, mereka tahu bahwa mereka sama-sama menginginkannya. Karin pun balas tatapan Aryan, memberikan afeksi yang lebih besar. Saat seorang lelaki tahu cara mencintai dan menghargai perempuannya, maka ia akan mendapatkan balasan cinta yang lebih besar dari yang tidak pernah ia bayangkan sekalipun.

“Karin, can I have you only for me, for this night?” tanya Aryan lembut. Cara Aryan menatapnya dengan tatapan penuh memuja dan mendamba erti ini, membuat Karin tersadar bahwa dirinya tidak akan bisa mencintai lelaki selain Aryan sedalam ini. Kalau bukan Aryan, maka Karin tidak menginginkannya.

“Kak, I’m all yours,” ucap Karin, nadanya yang terdengar begitu tulus.

Aryan mendapati netra Karin memindai menatapnya. Setiap celah paras Aryan, di sanalah iris Karin tertuju. Seraya mengulaskan senyum lembutnya, Karin pun kembali berucap, “If it’s not you, then I don’t want to.”

***

Pada hakikatnya, cinta adalah tentang memberi dan menerima. Jika kamu ingin mendapatkan seseorang yang tulus mencintaimu, maka lakukanlah yang terbaik, agar Tuhan yakin bahwa kamu pantas untuk mendapatkannya. Kamu tidak perlu menjadi sosok yang sempurna, hanya perlu melakukan yang terbaik, berikan versi terbaik yang ada di dalam dirimu.

Empat tahun yang lalu, tahun di mana ketika Aryan bertemu dengan Karin. Mereka hanyalah dua orang asing yang memiliki tembok pembatas yang begitu tinggi. Sampai akhirnya Aryan dan Karin sama-sama berusaha menghancurkan tembok tersebut.

Hingga pernikahan keduanya yang sudah menginjak usia 5 tahun, Karin tetaplah perempuan yang sama. Karin adalah perempuan yang memiliki hati yang begitu tulus dan baik. Karin adalah perempuan yang menghormatinya karena Aryan adalah ayah biologis dari anak yang dikandung Karin. Semenyakitkan apa pun posisi Karin saat itu, tidak sama sekali menggoyahkan hatinya untuk melangkah pergi dari hidup Aryan. Padahal waktu itu Karin bisa memilih pergi dan tidak peduli ketika Aryan hancur. Karin justru datang padanya mengobati luka itu, membalutnya rasa sakit itu dengan cinta yang tulus.

Pemikiran monolog Aryan tiba-tiba terpecah begitu terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Dari celah pintu yang kecil itu, Aryan dapat melihat sosok Karin yang terlihat begitu menawan. Aryan segera bergerak dari posisi dan membuka pintu itu lebih lebar.

Begitu sepenuhnya melihat sosok Karin di hadapannya, selama beberapa detik, Aryan hanya mampu terdiam di tempatnya. Karin begitu mempesona dengan balutan gaun tidur berbahan sutranya. Aryan sekilas mengalihkan tatapannya dari Karin. Shit, Aryan mengumpat dalam hati. Mengapa adik kecilnya sudah menegang di bawah sana, padahal belum ada yang terjadi.

“Kak,” ujar Karin pelan.

Seketika Aryan kembali menatap ke arah Karin. “Ah, iya Sayang?” tanya Aryan seraya tersenyum canggung.

“Kamu kenapa?” Karin nampak heran dengan ekspresi Aryan itu.

Aryan pun segera menjawab Karin dengan sebuah gelengan kecil. Ketika netra mereka akhirnya bertemu di satu titik dan saling mengunci, Aryan segera meraih lengan Karin dan meletakkannya satu sisi pundak miliknya. Kemudian Karin merasakan pinggangnya dihela mendekat ke arah Aryan, hingga tubuh keduanya kini hampir saja menempel satu sama lain.

Do you like to dance with me, Sweety?” tanya Aryan dan ia menunggu Karin menjawabnya.

Karin nampak berpikir selama beberapa detik. Alis Karin nampak menyatu, kemudian ia berujar, “It sounds nice tho. But … I think, mostly women don’t like question.”

Karin nampak menahan senyumannya begitu melihat kerutan muncul di kening Aryan. Karin sengaja melakukannya. Ia ingin mendapati berbagai ekspresi lucu lelakinya dan hanya boleh di perlihatkan di depannya saja, khusus untuknya.

Oke, we will see I want to have a dance with you this night, would you like to?”

It’s still a question.”

Alright, alright,” ucap Aryan. Kemudian lelaki itu berdeham dua kali dan sambil masih menatap Karin dengan tatapan penuh arti, Aryan kembali berujar, “Hai, Sweety. You look really wonderful this night. I adore you so much. I will give you the best of me, not a perfectness. Because when I’m with you, I’m already feel perfected. So please, have a dance with me.”

Detik berikutnya, Karin nampak mengulaskan senyum cantiknya. Kemudian menggunakan satu tangannya, Karin pun mengusap sisi wajah Aryan dengan lembut. “Sure. I want to dance with you this night,” ucap Karin sambil kemudian meraih tangan Aryan, lalu Karin menyelipkan jemarinya di antara jemari besar milik prianya.

couple dancing close up

***

Udara di luar rumah yang saat ini terasa cukup sejuk, membuat beberapa orang memilih menghabiskan waktu akhir pekan mereka untuk berada di dalam rumah. Ini merupakan awal tahun yang mana di negara Australia sedang mengalami musim gugur. Angin berhembus lumayan kencang, rasanya heater di dalam rumah hampir gagal menjalankan tugasnya. Namun itu menjadi cukup bagus dan kini semuanya terasa sempurna untuk Aryan dan Karin. Cuaca menyempurnakan suasana romantis yang Aryan dan Karin telah ciptakan sebelumnya.

Di dalam kamar bernuansa putih itu, setelah usai berdansa ditemani sebuah lagu klasik dengan instrument piano yang sebelumnya telah di setel oleh Aryan, keduanya kini tengah saling mencumbu bibir satu sama lain.

Gif kiss close up

Karin masih mengenakan gaun sutranya, Aryan bilang lebih baik begitu untuk sementara. Lelaki itu tidak ingin Karin nanti kedinginan. Padahal sesuatu dari dalam diri Aryan telah bergejolak, hingga otaknya memberi seruan agar ia segera menggalkan gaun tersebut dari tubuh Karin.

Ketika beberapa saat mereka mengurai cumbuan untuk saling mengambil napas, netra Karin yang sebelumnya menatap netra Aryan, kini perlahan-lahan turun ke arah bibir penuh pria itu. Karin memperhatikan belah bibir itu lekat, lalu ia berujar dengan lembut, “I missed this so bad.” Karin masih di sana, mengagumi bentuk ciptaan yang maha kuasa itu, matanya pun nampak sedikit berkaca-kaca. “Dua tahun rasanya lama banget ya,” ujar Karin pelan.

Karin lalu menengadahkan wajahnya untuk kembali mempertemukan netranya dengan netra Aryan. Mereka sama-sama menunggu momen ini terjadi, melalui penantian demi penantian yang rasanya begitu panjang. Rindu yang terasa menyiksa, hangat tubuh dan aroma khas yang begitu didambakan.

Sebelum kembali melakukannya, Aryan memberikan usapan lembut di pipi gembil Karin menggunakan ibu jarinya. Detik berikutnya, dengan sedikit menundukkan kepala, Aryan akhirnya bergerak mencumbu halus belah bibir Karin. Wanitanya menyambutnya dengan begitu mesra, rasanya ada rindu yang coba Karin salurkan melalui bibirnya yang kini membalas pagutan bibir Aryan.

Aryan pun memperdalam cumbuannya, seperti menikmati mie kuah favoritnya, begitu lah kira-kira gaya yang Aryan gunakan untuk memuaskan wanitanya. Begitu Aryan bergerak mempercepat temponya, ia dapat merasakan hembusan napas Karin dan mendengar lenguhan indah dari bibirnya, dan itu berhasil mengalirkan gelora-gelora asmara di sekujur tubuh Aryan.

Peluh nampak membanjiri pelipis Karin, selama mereka masih bercumbu, Aryan pun berusaha membantu Karin mengusapnya. Dari pelipis hingga turun ke sisi wajah, rahang, dan kini tangan Aryan berhenti di pinggang ramping Karin. Aryan memberikan usapan sensual di sana, lelaki itu melakukannya dengan begitu apik. Karin juga memberikan respon yang baik, ia menahan tangan Aryan yang tengah berada di bagian belakangnya, mengisyaratkan lelaki itu untuk mengusap dua kembar miliknya di sana.

“Kak …” ucap Karin dengan napasnya yang terengah-engah.

“Iya, Sayang?” balas Aryan, lelaki itu menghentikan ciumannya, sedikit menjauhkan wajahnya dari Karin untuk dapat menatapnya.

“Gerah banget, Kak … ” Karin masih berusaha mengatur napasnya yang naik turun. Karin pun mengalungkan kedua lengannya di leher Aryan, perempuan itu sedikit berjinjit agar pandangannya lurus sejajar dengan Aryan.

Just open it, my gown,” ucap Karin lagi.

You sure?” tanya Aryan dengan sebuah senyum tipis yang tersungging di bibirnya.

Karin langsung menganggukkan kepalanya. Berikutnya Aryan pun segera bergerak mendekap tubuh Karin dengan kedua lengannya. Karin merasakan tangan Aryan sudah beranjak ke pundaknya, Aryan perlahan-lahan menurunkan gaun sutra itu dari sana, hingga bahu Karin kini tampak polos. Aryan menghujani kecupan kecil pundak Karin, tapi seperti yang sudah-sudah, tidak akan cukup di satu area, Aryan pun melancarkan kecupannya ke tulang selangka Karin. Saat Aryan semakin dalam mencumbu, Karin memberikan usapan lembut di area belakang kepala lelakinya, jemari lentiknya menyelinap di antara helai halus surai legam milik Aryan.

You’re scent smell so good, Sweety,” ucap Aryan saat pria itu akhirnya selesai dengan kegiatannya. Aryan masih terengah di sana, rasanya seperti habis melakukan workout lebih dari 20 menit. Hampir semua tubuh bagian atas Karin telah Aryan jamah, gaun merah, tentu sudah tanggal dan terpental entah kemana.

Netra Aryan kini dengan jelas disuguhi tubuh bak jam pasir milik Karin. Hanya tersisa sebuah bra renda hitam dan underwear putih yang menutupi istrinya. Surai panjang Karin yang tergerai begitu saja hingga sepanjang punggungnya, menambah pesona menawan perempuan itu. Anggun dan cantik, Aryan hampir gila karena peringai Karina saat ini.

Damn it, you’re look freaking pretty, Swerty,” ujar Aryan dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Karin mengarahkan telunjuknya lalu berhenti tepat di depan bibir Aryan, “Language, Baby,” ucap Karin seraya menampilkan sebuah senyum cantik di wajahnya.

Okey, I’m sorry Sweety. Aku tadi kelepasan.”

Karin tertawa pelan sekilas. “It’s oke. I think uhmm ... I like that, when you’re cursing.”

Really?” tanya Aryan sambil tersenyum, tapi ia masih tidak percaya kalau Karin justru menyukainya.

Yes. You look really hot while you’re doing it.”

You want more?”

Karin mengangguk sekali, “Hu-um, just do it when we’re doing it,” Karin menatap Aryan lekat, lalu ia kembali berujar, “And only for me*.” Karin menyukainya, ketika Aryan melakukannya. Umpatan yang justru terasa manis saat Aryan mengucapkannya, serta gayanya ketika berbicara, membuat Karin ingin mendengarnya lagi dan lagi. Hanya ketika mereka melakukannya, hanya ketika mereka sama-sama dimabuk oleh cinta. Mereka telah begitu jatuh satu sama lain, jatuh yang indah untuk yang kesekian kalinya.

***

Karin mengucapkan terima kasih kepada Aryan atas segalanya. Perlakuan pria itu padanya, selalu dapat membuat Karin merasa begitu dicintai. Aryan bersedia menunggu Karin menemui puncak pelepasannya. Mayoritas pada beberapa wanita, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menemui ujung sensasi kenikmatan saat bercinta, dibandingkan dengan pria.

“Sayang, udah?” tanya Aryan sambil memperhatikan Karin yang berada di bawahnya. Napas Karin berhembus naik turun. Kemudian dengan perlahan wanitanya menjawab dengan sebuah anggukan. Karin telah menemui pelepasannya, setelah mereka melakukannya beberapa kali, dari malam hingga kini waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.

“Kak, you are so amazing. I adore you, truly,” ucap Karin pelan. Karin memejamkan matanya secara otomatis, saat merasakan cairan hangat kini tengah memenuhi miliknya di bawah sana.

Saat Karin kembali membuka matanya, Aryan menatapnya lekat dan pria itu berujar, “You are more amazing, Sweety. Thank you for everything that you gave to me.” Aryan memberikan usapan lembut di kepala Karin.

Karin hanya menatap ke binar indah di mata Aryan saat lelaki itu bergerak sekali lagi di atasnya. Gerakan indah pinggul Aryan saat mereka melakukannya, selalu membuat Karin terpana. Begitu Aryan memperdalam miliknya pada milik Karin, Aryan memberi kecupan di bibir Karin. Karin bercucuran air mata, saat sepenuhnya dirinya telah dipenuhi oleh Aryan. Karin tidak lagi memejamkan matanya, ia ingin melihat mata Aryan. Karin ingin merasakan pancaran cinta yang lelaki itu berikan untuknya.

“Aku lepas ya, Sayang?” Aryan bertanya lagi pada Karin.

“Iya, tapi pelan-pelan ya,” jawab Karin.

Aryan lantas menganggukinya. Setelah menyemburkan cairannya di surganya dengan cara menghentaknya sekali lagi, sebisa mungkin, Aryan pun melepaskannya dengan lembut. Selama proses itu terjadi, suara Karin yang sangat seksi mengelukan namanya terdengar memenuhi indera pendengaran Aryan. Karin mengelukan nama Aryan, bahkan hingga beberapa kali dan diiringi oleh dua buah umpatan.

Babe, language,” ucap Aryan sambil tertawa kecil.

Karin segera mengatupkan bibirnya. Saat Aryan bergeak mengambil selimut untuk mereka berdua, Karin mengatakan kalau dirinya juga kelepasan mengucapkannya begitu saja. Berikutnya Aryan justru mendapat tatapan memicing dari Karin.

“Kamu bilangnya tadi mau langsug dilepas. Malah tambah cepet,” omel Karin.

Aryan mau tidak mau akhirnya tergelak. Wajah istrinya terlihat begitumenggemaskan saat ini. “Kamu gemes banget sih kalau lagi ngomel gini,” ujar Aryan.

“Apaan tuh maksudnya tadi. Kenapa nggak langsung dilepas?” Karin masih menggerutu.

Bukannya dapat jawaban, Karin justru merasakan tubuhnya langsung didekap oleh Aryan. Perlahan tapi pasti, Karin balas melingkarkan kedua lengannya di tubuh besar Aryan.

“Tadi masih sisa sedikit, Sayang. Siapa tau di antara yang terakhir itu ada calon anak kita, kan sayang kalau dibuang gitu aja,” ujar Aryan.

Detik berikutnya, Karin akhirnya bergerak mengurai pelukan mereka. Mata bulat Karin kini semakin terlihat besar kala menatap Aryan.

“Kamu nih ya, iseng banget sih. Kebiasaan,” ujar Karin.

“Tapi kamu suka kan?” tanya Aryan dengan nada jenakanya.

“Suka, tapi sakit. Besok kalau aku nggak bisa jalan gimana.”

“Kalau besok kamu nggak bisa jalan, kamu istirahat aja di kasur. I will service you, my queen. Kamu mau apa? Aku turutin semuanya buat kamu.”

Karin mana bisa lama-lama mempertahankan rasa marahnya pada Aryan kalau begini caranya. Tingkah suaminya itu terlalu manis untuk dilewatkan. Karin tidak sanggup kalau Aryan sudah mengeluarkan jurus-jurus cintanya seperti tadi.

“Dimaafin nggak akunya?” tanya Aryan, suaranya terdengar lembut.

“Iya, aku maafin,” ucap Karin akhirnya.

“Maafin aku ya Sayang, janji deh nggak kayak tadi lagi. Okey?”

Karin mengangguk. Kemudian tanpa Aryan sangka, Karin lebih dulu bergerak memangkas jarak mereka untuk mendekap tubuh Aryan. Karin memberikan usapan sayang di punggung polos Aryan. Saat keduanya hampir saja terlelap, rupanya Karin kembali membuka matanya.

“Kak, aku mau dipangku sama kamu,” celetuk Karin.

Aryan sedikit terkejut akan permintaan Karin itu. Namun ia telah berjanji untuk menuruti semua keinginan Karin. Maka akhirnya mereka bergerak merubah posisi. Masih dengan tubuh yang polos, Aryan duduk dan menyandarkan punggungnya ke header kasur. Kemudian Karin mengambil posisi ke atas pangkuan Aryan, Karin melingkarkan lengannya di pundak Aryan dan menyandarkan kepalanya di bahu lebar lelaki itu.

Katanya Karin mau tidur dengan posisi mereka seperti ini. Karin sudah mulai mengantuk ketika sepuluh menit berlalu, tapi belum sempat memejamkan matanya, Karin mendongak lagi kala mendengar perkataan Aryan.

For the first time I heared you cursing, and it is so cute, Sweety,” ujar Aryan.

It’s because of you,” balas Karin. Matanya terpejam, tapi jiwa Karin masih di sana.

Can I hear it again?” pinta Aryan.

“Yang mana?”

“Dua-duanya boleh,” ucap Aryan.

Karin bertanya dengan satu alisnya yang terangkat, “Hadiahnya apa kalau aku lakuin?”

“Hmm … hadiahnya satu paket ciuman dari Aryan Sakha. GImana?”

Oke, deal. Tapi kasih hadianya dulu, nanti baru aku lakuin.”

Aryan lantas mengangguk setuju. Kemudian dengan sedikit memiringkan kepala, Aryan pun mulai bergerak mengulum bibir Karin. Selama itu terjadi dan semakin jauh mereka bercumbu, Karin yang semula membaringkan tubuhnya pada dada bidang Aryan, kini telah menegakkan punggungnya. Masih duduk di atas pangkuannya Aryan, Karin pun membalas lumatan demi lumatan yang Aryan berikan padanya.

couple kissing sit down

“Akhh …” lenguh Karin sesaat setelah Aryan melancarkan lidahnya ke dalam rongga mulut Karin. Karin merasakann ini begitu nikmat, hingga tubuhnya memberi respon cepat, menggeliat mengikuti irama penyatuan tersebut.

Aryan mendekatp tubuh Karin untuk masuk kedalam pelukan hangatnya. Peluh mereka yang saling bertukar, merdunya lenguhan Karin, semuanya terasa begitu sempurna. Tidak hanya itu, Aryan tidak pernah lupa memberikan service luar biasa pada Karin. Jemari Aryan menari di punggung polos Karin, memberikan sensasi menakjubkan untuk wanitanya.

Shit.” Umpatan Karin akhirnya keluar begitu saja dari mulutnya. Mereka akhirnya menjauh sesaat, Karin menatap Aryan dengan pandangan penuh cintanya, lalu tidak lama dari itu, Karin menangkup kedua sisi wajah Aryan menggunakan edua tangannya. Sebelum kembali mencumbu milik prianya, Karin pun berujar, “I want you more, again, and always.”

Karin menjelajahi wajah Aryan, lalu Karin memberi ciuman di bibir lelakinya. Diantara kegiatan itu Karin tanpa sadar mengumpat lagi. “Fuck,” ujar Karin dengan napasnya yang tidak beraturan. Ketika Aryan menatapnya sambil menampilkan senyum manisnya, Karin sungguh dibuat gila karenanya.

Let’s do it again before we get sleep,” ujar Karin kemudian.

Aryan mengangguk, lalu menjejalajahi paras Karin. Sebelum hendak kembali mencumbu bibir manis Karin, Aryan mengatakan sesuatu. “Sayang, kemungkinan kamu bisa langsung hamil lho kalau gini.”

It’s good then,” balas Karin sambil menampakkan senyum kecilnya. Karin masih menatap Aryan lekat, ia mengatakan bahwa ada informasi yang perlu lelakinya itu ketahui. “Kalau perhitungan aku nggak salah, ini hari ke sepuluh setelah hari pertama aku datang bulan.”

Aryan nampak mencerna ucapan Karin itu. Sebagai seorang suami, Aryan lumayan banyak cukup tahu tentang pengetahuan menghitung siklus masa subur seorang perempuan. Perempuan biasanya menghitung masa subur mereka dari hari pertama menstruasi terakhirnya. 10-17 hari dari hari tersebut itulah yang merupakan masa subur bagi seorang wanita.

Kedua kelopak mata Aryan lantas melebar. Detik berikutnya, mereka bersamaan mengulaskan sebuah senyuman.

“Sayang, kamu mau berapa ronde lagi? We can do it until dawn if you want it too.” tanya Aryan.

“Kamunya kuat emang? Nggak capek?” ledek Karin sambil memicingkan matanya.

Aryan pun tidak kalah lihai menjawabnya. Sambil menyunggingkan senyum menggoda, lelaki berparas orientel itu lantas berujar, “Kamu bisa buktiin sendiri, seberapa kuatnya suami kamu, Sayang. Gimana?”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Sejak Pabrik Kembali Berproduksi

Karin ingat perkataannya pada Aryan saat ia melepas lelaki itu pergi ke Aussie dua tahun lalu. Bahwa sejatinya kasih sayang dan cinta tidak selalu tentang raga yang bersama. Selama dua orang sejoli memiliki kepercayaan tersebut di dalam hati mereka, memiliki komitmen yang kuat, maka cinta tidak akan memudar dan terkikis oleh jarak.

Justru rasa rindu yang begitu menggebu tersebutlah yang sukses menciptakan gelora-gelora cinta di hati Karin, begitu netranya menatap pintu putih di hadapannya. Sebuah rumah sewa dengan pintu rumah bernomor 87 itu akhirnya terbuka, setelah Karin menekan bel yang ada di samping daun pintu.

“Papa!” Seruan gembira itu seketika terdengar kala nampak sosok lelaki jangkung tengah berdiri di hadapannya dan Svarga.

Detik itu juga Aryan tampak terkejut mendapati kehadiran Karin dan bocah lelaki yang nampak berbeda sejak terakhir mereka bertemu. Begitu Aryan melihat Svarga tengah menengadahkan wajahnya untuk menatapnya dan merentangkan tandangan tanda meminta digendong, Aryan segera membawa anak lelakinya ke dalam gendongannya.

“Papa, we missed you so much,” Svarga mengucapkannya dengan begitu lancar. Aryan seketika matanya berkaca-kaca, anaknya sudah sehebat ini dalam berbicara.

“Papa juga kangen banget sama Svarga dan Mama,” ucap Aryan sembari satu tangannya yang bebas meraih Karin untuk bergabung ke pelukannya.

Tinggi tubuh Karin yang hanya sebatas bahu Aryan, membuatnya terlihat mungil begitu lelaki itu mendekapnya. Karin menengadahkan wajahnya untuk menatap Aryan, pandangan mereka bertemu, rasanya itu sudah cukup membayar semua rindunya selama dua tahun belakangan.

“Anak kita hebat banget. Mamanya ngajarin apa aja selama Papa nggak ada?” tanya Aryan.

“Aku ajarin bahasa Inggris, membaca, berhitung. Habis ini gantian kamu yang ajarin ya,” ucap Karin sembari menyunggingkan senyum simpulnya. Aryan lekas menganggukinya.

“Mama, are you crying?” celetuk Svarga cepasaat melihat mata Karin yang kini nampak berkaca-kaca. Seolah dapat merasakan yang tengah Karin rasakan, Svarga berusaha menangkan mamanya itu.

It’s oke, Sayang. Mama ngga papa,” tutur Karin lembut.

“Mama kenapa tadi nangis?” tanya Svarga yang masih penasaran. Karin tahu bahwa anaknya itu pintar dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

“Svarga, Papa tau kenapa Mama barusan nangis,” ujar Aryan yang seketika membuat perhatian Svarga teralih padanya.

Svarga lantas menoleh pada Aryan dan bertanya, “Emangnya kenapa Pah, Mama nangis?”

“Mama was cried because she was happy. Svarga, Papa, dan Mama udah ketemu lagi sekarang, makanya mama *happy. Are you happy too to met me?” tanya Aryan.

Yes! I’m happy Papa. Mama pasti happy udah bsia ketemu Papa, soalnya Mama kangen papa setiap hari.”

“Emang Mama bilang apa, Nak?” tanya Aryan berusaha menggali informasi dari anaknya itu.

“Svarga, Mama kan nggak bilang apa-apa,” ucap Karin sembari mengulaskan senyum penuh arti ke arah anaknya.

Namun anak kecil tetaplah seperti pada hakikatnya yang kelewat berbicara jujur. Sambil menampakkan senyum tampannya, bocah laki-laki berusia empat tahun itu akhirnya berujar, “Pas Mama kangen Papa, setiap malem pasti Mama nangis, sambil bilang, Svarga, Mama kangen Papa. Terus Mama peluk Svarga deh, soalnya Svarga mirip Papa.”

“Mana ada Mama kayak gitu,” elak Karin begitu Svarga selesai bercerita. Dua laki-laki beda generasi itu malah mengulaskan senyum penuh arti ke arah Karin. Berikutnya Aryan mendekatkan dirinya pada Karin, ia menyematkan sebuah kecupan halus di kening wanitanya. “Bener gitu Sayang, yang dibilang Svarga?” bisik Aryan di dekat Karin.

Akhirnya dengan perlahan Karin mengangguk. Ia tidak bisa mengelak lagi, anak kecil adalah makhluk tersuci suci yang tidak akan berbohong. Jadi pastilah Aryan langsung mempercayai omongan anaknya itu.

Masih sambil mendekap dua cinta di hidupnya, Aryan lantas berujar lagi pada Karin, “Sekarang udah nggak kangen lagi, kan? Kamu bisa peluk Svarga versi dewasanya sepuas yang kamu mau. Gimana?”

***

Karin memang mengabari Aryan bahwa dirinya dan Svarga akan sampai besok di Australia. Namun secara tiba-tiba dan tanpa sepengetahuannya, Aryan mendapati istri dan anaknya berada di depan rumahnya. Katakan bagaimana Aryan tidak terkejut? Rasanya melebihi seperti memenangkan lotre, meskipun dalam hidupnya Aryan belum pernah mendapat hadiah tersebut.

Satu jam yang lalu, setelah bermain bersama Aryan, Svarga akhirnya tertidur karena kelelahan. Momen antara anak dan ayah yang baru saja Aryan dapatkan, rasanya begitu membuat hatinya menghangat. Kini di kamar satunya, Aryan dan Karin tersisa, sedang melepas rindu yang sedikit masih terasa.

Kini Karin dapat kembali merasakan hangatnya berada di pelukan tubuh besar dan kekar Aryan. Seperti yang Aryan katakan, Karin bebas memilikinya. Aryan tidak akan kemana-mana, ia berjanji bahwa mereka tidak akan terpisahkan lagi oleh jarak. Aryan rindu bagaimana cara Karin mendekap torsonya, bagaimana perempuan itu memberi usapan di pipinya, hingga aroma parfum vanilla bercampur floral segar yang dapat ia hirup ketika memeluk tubuh Karin.

“Sayang, anak kita sekarang udah pinter banget ya. Pemikirannya, tutur katanya. Dia anak yang hebat, karena dia punya Mama sehebat kamu,” ucap Aryan.

Karin nampak mengulaskan senyum kecilnya, lalu mereka saling memandang. Posisi Karin kini berada di dalam dekapan lengan kekar Aryan. Satu lengan Aryan Karin jadikan sebagai bantalan, sehingga dengan posisi menyamping, Aryan dapat memandangi wajah perempuannya dari posisi atas.

“Anak kita juga punya Papa sehebat kamu. Setiap hari dia selalu nanyain kamu, kadang dia sendiri yang minta sama aku buat telfon atau videocall kamu.”

Aryan lantas mengangguk. Ia lalu mengatakan pada Karin bahwa dirinya ingin sekali menjadi papa yang bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anak mereka nantinya.

“Anak-anak?” tanya Karin sambil masih setia menatap Aryan dengan lekat.

“Iya, Sayang. Anak-anak kita nanti.”

Karin nampak berpikir sejenak. Dua detik setelahnya, Aryan mendapati perempuannya menahan senyuman dengan melengkungkan kedua belah bibirnya ke dalam.

“Tapi kan anaknya belum ada, baru satu,” ucap Karin dengan suara pelannya.

“Yaa … kita bisa bikin lagi dong, Sayang. Aku sih siap kapan aja kamu mau.” Aryan mengucapkan kalimat tersebut seringan kapas yang terbang terbawa angin.

“Kak,” celetuk Karin kemudian.

“Iya, Sayang?” ujar Aryan seraya mengusapkan satu tangannya di sisi wajah Karin, itu terasa hangat ketika permukaan kulit tangan Aryan menyentuh kulit pipinya.

“Kamu mau nggak kalau kita punya anak lagi dalam waktu dekat?” tanya Karin. Tatapannya begitu dalam dan mendamba ketika menatap Aryan. Hingga Aryan dibuat hampir ingin gila, persis saat pertama kali mereka melakukan hubungan itu setelah resmi memutuskan bersama.

“Mau dong, Sayang. Kita bisa program untuk itu. Is it okey, kalau kamu hamil lagi? Pekerjaan dan cita-cita kamu, nanti gimana?”

Aryan selalu menanyakannya pada Karin terlebih dulu, lelaki itu selalu menempatkan istrinya di prioritas yang pertama. Aryan tahu bahwa Karin mempunyai cita-cita untuk karir modelnya. Masih banyak yang Karin ingin capai di dalam hidupnya dan Aryan akan mendukung Karin untuk mewujudkannya. Kalau Aryan sendiri jelas ingin mereka punya anak lagi. Namun ini bukan hanya tentang dirinya, pernikahan berjalan karena adanya dua orang. Jadi aryan ingin benar-benar memastikan bahwa Karin siap, baik secara fisik maupun mental. Karin yang akan mengandung dan melahirkan, maka keputusan finalnya ada di tangan istrinya.

Perlahan tapi pasti, akhirnya Karin mengangguk setuju. Karin mengatakan bahwa ia ingin hamil lagi, ia ingin mengandung anaknya Aryan. Saat Karin mengutarakan kalimat tersebut, Aryan pun dibuat membuncah dan rongga dadanya terasa berdesir hangat.

Aryan lantas menatap Karin dengan tatapan terharu bercampur memuja. Aryan tenggelam ke dalam mata bulat dengan iris legam yang tampak sempurna itu. Dari hanya sebuah tatapan, mereka tahu bahwa mereka sama-sama menginginkannya. Karin pun balas tatapan Aryan, memberikan afeksi yang lebih besar. Saat seorang lelaki tahu cara mencintai dan menghargai perempuannya, maka ia akan mendapatkan balasan cinta yang lebih besar dari yang tidak pernah ia bayangkan sekalipun.

“Karin, can I have you only for me, for this night?” tanya Aryan lembut. Cara Aryan menatapnya dengan tatapan penuh memuja dan mendamba erti ini, membuat Karin tersadar bahwa dirinya tidak akan bisa mencintai lelaki selain Aryan sedalam ini. Kalau bukan Aryan, maka Karin tidak menginginkannya.

“Kak, I’m all yours,” ucap Karin, nadanya yang terdengar begitu tulus.

Aryan mendapati netra Karin memindai menatapnya. Setiap celah paras Aryan, di sanalah iris Karin tertuju. Seraya mengulaskan senyum lembutnya, Karin pun kembali berucap, “If it’s not you, then I don’t want to.”

***

Pada hakikatnya, cinta adalah tentang memberi dan menerima. Jika kamu ingin mendapatkan seseorang yang tulus mencintaimu, maka lakukanlah yang terbaik, agar Tuhan yakin bahwa kamu pantas untuk mendapatkannya. Kamu tidak perlu menjadi sosok yang sempurna, hanya perlu melakukan yang terbaik, berikan versi terbaik yang ada di dalam dirimu.

Empat tahun yang lalu, tahun di mana ketika Aryan bertemu dengan Karin. Mereka hanyalah dua orang asing yang memiliki tembok pembatas yang begitu tinggi. Sampai akhirnya Aryan dan Karin sama-sama berusaha menghancurkan tembok terebut. Hingga usia pernikahan keduanya yang sudah menginjak 5 tahun, Karin masih lah perempuan yang sama. Karin adalah perempuan yang memiliki hati yang begitu tulus dan baik. Karin adalah perempuan yang menghormatinya karena Aryan adalah ayah biologis dari anak yang dikandung Karin. Semenyakitkan apa pun posisi Karin saat itu, tidak sama sekali menggoyahkan hatinya untuk melangkah pergi dari hidup Aryan. Padahal waktu itu Karin bisa memilih pergi dan tidak peduli ketika Aryan hancur. Karin justru datang padanya mengobati luka itu, membalutnya rasa sakit itu dengan cinta yang tulus.

Pemikiran monolog Aryan tiba-tiba terpecah begitu terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Dari celah pintu yang kecil itu, Aryan dapat melihat sosok Karin yang terlihat begitu menawan. Aryan segera bergerak dari posisi dan membuka pintu itu lebih lebar.

Begitu sepenuhnya melihat sosok Karin di hadapannya, selama beberapa detik, Aryan hanya mampu terdiam di tempatnya. Karin begitu mempesona dengan balutan gaun tidur berbahan sutranya. Aryan sekilas mengalihkan tatapannya dari Karin. Shit, Aryan mengumpat dalam hati. Mengapa adik kecilnya sudah menegang di bawah sana, padahal belum ada yang terjadi.

“Kak,” ujar Karin pelan.

Seketika Aryan kembali menatap ke arah Karin. “Ah, iya Sayang?” tanya Aryan seraya tersenyum canggung.

“Kamu kenapa?” Karin nampak heran dengan ekspresi Aryan itu.

Aryan pun segera menjawab Karin dengan sebuah gelengan kecil. Ketika netra mereka akhirnya bertemu di satu titik dan saling mengunci, Aryan segera meraih lengan Karin dan meletakkannya satu sisi pundak miliknya. Kemudian Karin merasakan pinggangnya dihela mendekat ke arah Aryan, hingga tubuh keduanya kini hampir saja menempel satu sama lain.

Do you like to dance with me, Sweety?” tanya Aryan dan ia menunggu Karin menjawabnya.

Karin nampak berpikir selama beberapa detik. Alis Karin nampak menyatu, kemudian ia berujar, “It sounds nice tho. But … I think, mostly women don’t like question.”

Karin nampak menahan senyumannya begitu melihat kerutan muncul di kening Aryan. Karin sengaja melakukannya. Ia ingin mendapati berbagai ekspresi lucu lelakinya dan hanya boleh di perlihatkan di depannya saja, khusus untuknya.

Oke, we will see I want to have a dance with you this night, would you like to?”

It’s still a question.”

Alright, alright,” ucap Aryan. Kemudian lelaki itu berdeham dua kali dan sambil masih menatap Karin dengan tatapan penuh arti, Aryan kembali berujar, “Hai, Sweety. You look really wonderful this night. I adore you so much. So please, have a dance with me. I will give you the best of me, not a perfectness. Because when I’m with you, I’m already feel perfected.”

Detik berikutnya, Karin nampak mengulaskan senyum cantiknya. Kemudian menggunakan satu tangannya, Karin pun mengusap sisi wajah Aryan dengan lembut. “Sure. I want to dance with you this night,” ucap Karin sambil kemudian meraih tangan Aryan, lalu Karin menyelipkan jemarinya di antara jemari besar milik prianya.

couple dancing close up

***

Udara di luar rumah yang saat ini terasa cukup sejuk, membuat beberapa orang memilih menghabiskan waktu akhir pekan mereka untuk berada di dalam rumah. Ini merupakan awal tahun yang mana di negara Australia sedang mengalami musim gugur. Angin berhembus lumayan kencang, rasanya heater di dalam rumah hampir gagal menjalankan tugasnya. Namun itu menjadi cukup bagus dan kini semuanya terasa sempurna untuk Aryan dan Karin. Cuaca menyempurnakan suasana romantis yang Aryan dan Karin telah ciptakan sebelumnya.

Di dalam kamar bernuansa putih itu, setelah usai berdansa ditemani sebuah lagu klasik dengan instrument piano yang sebelumnya telah di setel oleh Aryan, keduanya kini tengah saling mencumbu bibir satu sama lain.

Gif kiss close up

Karin masih mengenakan gaun sutranya, Aryan bilang lebih baik begitu untuk sementara. Lelaki itu tidak ingin Karin nanti kedinginan. Padahal sesuatu dari dalam diri Aryan telah bergejolak, hingga otaknya memberi seruan agar ia segera menggalkan gaun tersebut dari tubuh Karin.

Ketika beberapa saat mereka mengurai cumbuan untuk saling mengambil napas, netra Karin yang sebelumnya menatap netra Aryan, kini perlahan-lahan turun ke arah bibir penuh pria itu. Karin memperhatikan belah bibir itu lekat, lalu ia berujar dengan lembut, “I missed this so bad.” Karin masih di sana, mengagumi bentuk ciptaan yang maha kuasa itu, matanya pun nampak sedikit berkaca-kaca. “Dua tahun rasanya lama banget ya,” ujar Karin pelan.

Karin lalu menengadahkan wajahnya untuk kembali mempertemukan netranya dengan netra Aryan. Mereka sama-sama menunggu momen ini terjadi, melalui penantian demi penantian yang rasanya begitu panjang. Rindu yang terasa menyiksa, hangat tubuh dan aroma khas yang begitu didambakan.

Sebelum kembali melakukannya, Aryan memberikan usapan lembut di pipi gembil Karin menggunakan ibu jarinya. Detik berikutnya, dengan sedikit menundukkan kepala, Aryan akhirnya bergerak mencumbu halus belah bibir Karin. Wanitanya menyambutnya dengan begitu mesra, rasanya ada rindu yang coba Karin salurkan melalui bibirnya yang kini membalas pagutan bibir Aryan.

Aryan pun memperdalam cumbuannya, seperti menikmati mie kuah favoritnya, begitu lah kira-kira gaya yang Aryan gunakan untuk memuaskan wanitanya. Begitu Aryan bergerak mempercepat temponya, ia dapat merasakan hembusan napas Karin dan mendengar lenguhan indah dari bibirnya, dan itu berhasil mengalirkan gelora-gelora asmara di sekujur tubuh Aryan.

Peluh nampak membanjiri pelipis Karin, selama mereka masih bercumbu, Aryan pun berusaha membantu Karin mengusapnya. Dari pelipis hingga turun ke sisi wajah, rahang, dan kini tangan Aryan berhenti di pinggang ramping Karin. Aryan memberikan usapan sensual di sana, lelaki itu melakukannya dengan begitu apik. Karin juga memberikan respon yang baik, ia menahan tangan Aryan yang tengah berada di bagian belakangnya, mengisyaratkan lelaki itu untuk mengusap dua kembar miliknya di sana.

“Kak …” ucap Karin dengan napasnya yang terengah-engah.

“Iya, Sayang?” balas Aryan, lelaki itu menghentikan ciumannya, sedikit menjauhkan wajahnya dari Karin untuk dapat menatapnya.

“Gerah banget, Kak … ” Karin masih berusaha mengatur napasnya yang naik turun. Karin pun mengalungkan kedua lengannya di leher Aryan, perempuan itu sedikit berjinjit agar pandangannya lurus sejajar dengan Aryan.

Just open it, my gown,” ucap Karin lagi.

You sure?” tanya Aryan dengan sebuah senyum tipis yang tersungging di bibirnya.

Karin langsung menganggukkan kepalanya. Berikutnya Aryan pun segera bergerak mendekap tubuh Karin dengan kedua lengannya. Karin merasakan tangan Aryan sudah beranjak ke pundaknya, Aryan perlahan-lahan menurunkan gaun sutra itu dari sana, hingga bahu Karin kini tampak polos. Aryan menghujani kecupan kecil pundak Karin, tapi seperti yang sudah-sudah, tidak akan cukup di satu area, Aryan pun melancarkan kecupannya ke tulang selangka Karin. Saat Aryan semakin dalam mencumbu, Karin memberikan usapan lembut di area belakang kepala lelakinya, jemari lentiknya menyelinap di antara helai halus surai legam milik Aryan.

You’re scent smell so good, Sweety,” ucap Aryan saat pria itu akhirnya selesai dengan kegiatannya. Aryan masih terengah di sana, rasanya seperti habis melakukan workout lebih dari 20 menit. Hampir semua tubuh bagian atas Karin telah Aryan jamah, gaun merah, tentu sudah tanggal dan terpental entah kemana.

Netra Aryan kini dengan jelas disuguhi tubuh bak jam pasir milik Karin. Hanya tersisa sebuah bra renda hitam dan underwear putih yang menutupi istrinya. Surai panjang Karin yang tergerai begitu saja hingga sepanjang punggungnya, menambah pesona menawan perempuan itu. Anggun dan cantik, Aryan hampir gila karena peringai Karina saat ini.

Damn it, you’re look freaking pretty, Swerty,” ujar Aryan dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Karin mengarahkan telunjuknya lalu berhenti tepat di depan bibir Aryan, “Language, Baby,” ucap Karin seraya menampilkan sebuah senyum cantik di wajahnya.

Okey, I’m sorry Sweety. Aku tadi kelepasan.”

Karin tertawa pelan sekilas. “It’s oke. I think uhmm ... I like that, when you’re cursing.”

Really?” tanya Aryan sambil tersenyum, tapi ia masih tidak percaya kalau Karin justru menyukainya.

Yes. You look really hot while you’re doing it.”

You want more?”

Karin mengangguk sekali, “Hu-um, just do it when we’re doing it,” Karin menatap Aryan lekat, lalu ia kembali berujar, “And only for me*.” Karin menyukainya, ketika Aryan melakukannya. Umpatan yang justru terasa manis saat Aryan mengucapkannya, serta gayanya ketika berbicara, membuat Karin ingin mendengarnya lagi dan lagi. Hanya ketika mereka melakukannya, hanya ketika mereka sama-sama dimabuk oleh cinta. Mereka telah begitu jatuh satu sama lain, jatuh yang indah untuk yang kesekian kalinya.

***

Karin mengucapkan terima kasih kepada Aryan atas segalanya. Perlakuan pria itu padanya, selalu dapat membuat Karin merasa begitu dicintai. Aryan bersedia menunggu Karin menemui puncak pelepasannya. Mayoritas pada beberapa wanita, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menemui ujung sensasi kenikmatan saat bercinta, dibandingkan dengan pria.

“Sayang, udah?” tanya Aryan sambil memperhatikan Karin yang berada di bawahnya. Napas Karin berhembus naik turun. Kemudian dengan perlahan wanitanya menjawab dengan sebuah anggukan. Karin telah menemui pelepasannya, setelah mereka melakukannya beberapa kali, dari malam hingga kini waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.

“Kak, you are so amazing. I adore you, truly,” ucap Karin pelan. Karin memejamkan matanya secara otomatis, saat merasakan cairan hangat kini tengah memenuhi miliknya di bawah sana.

Saat Karin kembali membuka matanya, Aryan menatapnya lekat dan pria itu berujar, “You are more amazing, Sweety. Thank you for everything that you gave to me.” Aryan memberikan usapan lembut di kepala Karin.

Karin hanya menatap ke binar indah di mata Aryan saat lelaki itu bergerak sekali lagi di atasnya. Gerakan indah pinggul Aryan saat mereka melakukannya, selalu membuat Karin terpana. Begitu Aryan memperdalam miliknya pada milik Karin, Aryan memberi kecupan di bibir Karin. Karin bercucuran air mata, saat sepenuhnya dirinya telah dipenuhi oleh Aryan. Karin tidak lagi memejamkan matanya, ia ingin melihat mata Aryan. Karin ingin merasakan pancaran cinta yang lelaki itu berikan untuknya.

“Aku lepas ya, Sayang?” Aryan bertanya lagi pada Karin.

“Iya, tapi pelan-pelan ya,” jawab Karin.

Aryan lantas menganggukinya. Setelah menyemburkan cairannya di surganya dengan cara menghentaknya sekali lagi, sebisa mungkin, Aryan pun melepaskannya dengan lembut. Selama proses itu terjadi, suara Karin yang sangat seksi mengelukan namanya terdengar memenuhi indera pendengaran Aryan. Karin mengelukan nama Aryan, bahkan hingga beberapa kali dan diiringi oleh dua buah umpatan.

Babe, language,” ucap Aryan sambil tertawa kecil.

Karin segera mengatupkan bibirnya. Saat Aryan bergeak mengambil selimut untuk mereka berdua, Karin mengatakan kalau dirinya juga kelepasan mengucapkannya begitu saja. Berikutnya Aryan justru mendapat tatapan memicing dari Karin.

“Kamu bilangnya tadi mau langsug dilepas. Malah tambah cepet,” omel Karin.

Aryan mau tidak mau akhirnya tergelak. Wajah istrinya terlihat begitumenggemaskan saat ini. “Kamu gemes banget sih kalau lagi ngomel gini,” ujar Aryan.

“Apaan tuh maksudnya tadi. Kenapa nggak langsung dilepas?” Karin masih menggerutu.

Bukannya dapat jawaban, Karin justru merasakan tubuhnya langsung didekap oleh Aryan. Perlahan tapi pasti, Karin balas melingkarkan kedua lengannya di tubuh besar Aryan.

“Tadi masih sisa sedikit, Sayang. Siapa tau di antara yang terakhir itu ada calon anak kita, kan sayang kalau dibuang gitu aja,” ujar Aryan.

Detik berikutnya, Karin akhirnya bergerak mengurai pelukan mereka. Mata bulat Karin kini semakin terlihat besar kala menatap Aryan.

“Kamu nih ya, iseng banget sih. Kebiasaan,” ujar Karin.

“Tapi kamu suka kan?” tanya Aryan dengan nada jenakanya.

“Suka, tapi sakit. Besok kalau aku nggak bisa jalan gimana.”

“Kalau besok kamu nggak bisa jalan, kamu istirahat aja di kasur. I will service you, my queen. Kamu mau apa? Aku turutin semuanya buat kamu.”

Karin mana bisa lama-lama mempertahankan rasa marahnya pada Aryan kalau begini caranya. Tingkah suaminya itu terlalu manis untuk dilewatkan. Karin tidak sanggup kalau Aryan sudah mengeluarkan jurus-jurus cintanya seperti tadi.

“Dimaafin nggak akunya?” tanya Aryan, suaranya terdengar lembut.

“Iya, aku maafin,” ucap Karin akhirnya.

“Maafin aku ya Sayang, janji deh nggak kayak tadi lagi. Okey?”

Karin mengangguk. Kemudian tanpa Aryan sangka, Karin lebih dulu bergerak memangkas jarak mereka untuk mendekap tubuh Aryan. Karin memberikan usapan sayang di punggung polos Aryan. Saat keduanya hampir saja terlelap, rupanya Karin kembali membuka matanya.

“Kak, aku mau dipangku sama kamu,” celetuk Karin.

Aryan sedikit terkejut akan permintaan Karin itu. Namun ia telah berjanji untuk menuruti semua keinginan Karin. Maka akhirnya mereka bergerak merubah posisi. Masih dengan tubuh yang polos, Aryan duduk dan menyandarkan punggungnya ke header kasur. Kemudian Karin mengambil posisi ke atas pangkuan Aryan, Karin melingkarkan lengannya di pundak Aryan dan menyandarkan kepalanya di bahu lebar lelaki itu.

Katanya Karin mau tidur dengan posisi mereka seperti ini. Karin sudah mulai mengantuk ketika sepuluh menit berlalu, tapi belum sempat memejamkan matanya, Karin mendongak lagi kala mendengar perkataan Aryan.

For the first time I heared you cursing, and it is so cute, Sweety,” ujar Aryan.

It’s because of you,” balas Karin. Matanya terpejam, tapi jiwa Karin masih di sana.

Can I hear it again?” pinta Aryan.

“Yang mana?”

“Dua-duanya boleh,” ucap Aryan.

Karin bertanya dengan satu alisnya yang terangkat, “Hadiahnya apa kalau aku lakuin?”

“Hmm … hadiahnya satu paket ciuman dari Aryan Sakha. GImana?”

Oke, deal. Tapi kasih hadianya dulu, nanti baru aku lakuin.”

Aryan lantas mengangguk setuju. Kemudian dengan sedikit memiringkan kepala, Aryan pun mulai bergerak mengulum bibir Karin. Selama itu terjadi dan semakin jauh mereka bercumbu, Karin yang semula membaringkan tubuhnya pada dada bidang Aryan, kini telah menegakkan punggungnya. Masih duduk di atas pangkuannya Aryan, Karin pun membalas lumatan demi lumatan yang Aryan berikan padanya.

couple kissing sit down

“Akhh …” lenguh Karin sesaat setelah Aryan melancarkan lidahnya ke dalam rongga mulut Karin. Karin merasakann ini begitu nikmat, hingga tubuhnya memberi respon cepat dengan menggeliat, bergerak mengikuti irama penyatuan tersebut.

Aryan mendekatp tubuh Karin untuk masuk kedalam pelukan hangatnya. Peluh mereka yang saling bertukar, merdunya lenguhan Karin, semuanya terasa begitu sempurna. Tidak hanya itu, Aryan tidak pernah lupa memberikan service luar biasa pada Karin. Jemari Aryan menari di punggung polos Karin, memberikan sensasi menakjubkan untuk wanitanya.

Shit.” Umpatan Karin akhirnya keluar begitu saja dari mulutnya. Mereka akhirnya menjauh sesaat, Karin menatap Aryan dengan pandangan penuh cintanya, lalu tidak lama dari itu, Karin menangkup kedua sisi wajah Aryan menggunakan edua tangannya. Sebelum kembali mencumbu milik prianya, Karin pun berujar, “I want you more, again, and always.”

Karin menjelajahi wajah Aryan, lalu Karin memberi ciuman di bibir lelakinya. Diantara kegiatan itu Karin tanpa sadar mengumpat lagi. “Fuck,” ujar Karin dengan napasnya yang tidak beraturan. Ketika Aryan menatapnya sambil menampilkan senyum manisnya, Karin sungguh dibuat gila karenanya.

Let’s do it again before we get sleep,” ujar Karin kemudian.

Aryan mengangguk, lalu menjejalajahi paras Karin. Sebelum hendak kembali mencumbu bibir manis Karin, Aryan mengatakan sesuatu. “Sayang, kemungkinan kamu bisa langsung hamil lho kalau gini.”

It’s good then,” balas Karin sambil menampakkan senyum kecilnya. Karin masih menatap Aryan lekat, ia mengatakan bahwa ada informasi yang perlu lelakinya itu ketahui. “Kalau perhitungan aku nggak salah, ini hari ke sepuluh setelah hari pertama aku datang bulan.”

Aryan nampak mencerna ucapan Karin itu. Sebagai seorang suami, Aryan lumayan banyak cukup tahu tentang pengetahuan menghitung siklus masa subur seorang perempuan. Perempuan biasanya menghitung masa subur mereka dari hari pertama menstruasi terakhirnya. 10-17 hari dari hari tersebut itulah yang merupakan masa subur bagi seorang wanita.

Kedua kelopak mata Aryan lantas melebar. Detik berikutnya, mereka bersamaan mengulaskan sebuah senyuman.

“Sayang, kamu mau berapa ronde lagi? We can do it until dawn if you want it too.” tanya Aryan.

“Kamunya kuat emang? Nggak capek?” ledek Karin sambil memicingkan matanya.

Aryan pun tidak kalah lihai menjawabnya. Sambil menyunggingkan senyum menggoda, lelaki berparas orientel itu lantas berujar, “Kamu bisa buktiin sendiri, seberapa kuatnya suami kamu, Sayang. Gimana?”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karina Titania Roland S.Mb. Dalam hati Karin membaca namanya yang kini tengah diikuti oleh sebuah gelar. Pada selembar sertifikat kelulusan yang kini dipegangnya, nama itu jelas tertulis di sana. Karin berhasil mendapatkan gelar Sarjana Manajemen Bisnisnya berkat perjuangan dan kerja kerasnya selama ini.

Dalam menjalani kehidupan ini, tentunya seseorang akan selalu membutuhkan semangat dari orang-orang sekitarnya. Saat kita punya tujuan hidup yang jelas dan memiliki orang-orang yang selalu mensupport kita, kita punya alasan untuk bertahan. Mereka merupakan alasan dari surutnya air mata. Mereka menjadi alasan sebuah senyum terlukis di wajah. Sederhana, tapi rasanya begitu berharga.

Hari ini acara wisuda kelulusan Karin telah selesai. Kini di lapangan berumput luas di depan sebuah gedung rektorat universitas, para wisudawan tengah melakukan sesi foto. Sudah menjadi ciri khas tersendiri bagi mereka setiap tahun untuk mengambil foto di depan gedung ini. Ada yang melakukannya dengan keluarga, sahabat, pacar, bahkan suami ataupun istri. Hal yang terakhir tentunya dilakukan bagi yang sudah memiliki keluarga sendiri.

Karin termasuk ke dalam kelompok orang yang terkahir, yakni yang memiliki keluarga kecilnya sendiri. Hari ini mereka bahkan menyewa seorang fotografer khusus untuk mengambil potret kelulusan Karin.

Karin terlihat cantik dengan kebaya biru dongkernya, senada dengan kemeja yang dikenakan oleh Aryan dan Svarga. Sebelum sang fotogafer mengambil foto mereka bertiga, Karin meminta waktu sebentar untuk membenarkan rambut anak lelakinya yang sedikit berantakan. Bocah berusia dua tahun itu mengacak rambutnya yang telah ditata rapi menggunakan kedua tangan kecilnya. Setelah selesai merapikan rambut Svarga, rupanya Karin kembali meminta waktu lagi pada fotografernya.

“Mas, sebentar ya,” ujar Karin sambil menampakkan cengiran kecilnya.

“Kenapa lagi Sayang?’ tanya Aryan yang berada di sampingnya.

Karin lalu sedikit berjinjit, dan dengan satu tangannya yang tidak menggandeng Svarga, Karin gantian merapikan kerah kemeja Aryan.

“Ini kerah kemeja kamu agak berantakan,” ujar Karin yang masih dengan kegiatannya merapikan pakaian Aryan. Selang beberapa detik, akhirnya Karin berujar lagi. “Oke, udah nih. Yuk, kita foto.”

Setelah memberi aba-aba pada sang fotografer, akhirnya mereka bertiga mengambil potret tersebut. Terdapat beberapa foto yang berhasil tertangkap kamera, dari mulai yang bergaya formal hingga beberapa pose jenaka yang begitu terlihat sangat natural karena mereka membawa seorang balita untuk ikut berfoto. Namun pose tersebut malah jadi yang paling lucu dan berkesan diantara yang lainnya. Hasil foto tersebut pun langsung bisa di cetak dan mereka juga akan dapat soft copy-nya yang nanti akan dikirim menyusul.

Saat sampai di mobil dan meletakkan Svarga di car seat khusus balita, dan balita itu sudah terlelap nyaman di sana, Karin dan Aryan melihat-lihat lagi hasil dari cetakan foto yang tadi mereka lakukan.

“Sayang, selamat ya. Kamu berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan,” ucap Aryan.

Karin merapikan hasil fotonya dan memasukkannya ke dalam sebuah map, lalu ia memfokuskan perhatiannya kepada Aryan.

“Aku bisa berhasil karena support dari orang-orang terdekatku. Kamu, Svarga, orang tua kita, sahabat-sahabatku. Terutama kamu, makasih ya Kak.” Karin menjeda ucapannya selama beberapa saat. Kemudian ia teringat mengenai sesuatu. Ia ingat tentang kenaikan jabatan yang didapatkan oleh Aryan. Berkat ketekunan lelaki itu, Aryan kini telah diangkat menjadi manager divisi pemasaran di Harapan Jaya Group.

“Kak, aku punya hadiah buat kamu,” Karin mengambil sesuatu dari dalam tasnya. “Selamat ya Kak, kamu berhasil mendapatkan jabatan itu. You really deserved it. I'm sorry I'm late, but late is better than never,right?,” ucap Karin sembari menyerahkan kotak di tangannya kepada Aryan.

Aryan menatap sebuah kotak berwarna biru berukuran sedang yang diberikan Karin. Setelah Karin memintanya membuka kotak itu, Aryan pun segera melakukannya.

Di dalam kotak itu, terdapat sebuah jam tangan rolex yang modelnya nampak sangat sesuai dengan seleranya. Aryan langsung mengambilnya dan memakai jam tangan itu di tangan kirinya, dan senyum cerahnya tidak dapat luntur dari wajahnya.

“Kamu suka sama jam tangannya?” tanya Karin sambil memperhatikan jam tangan pemberiannya di pergelangan tangan Aryan.

“Suka banget, Sayang. Makasih ya.” Detik berikutnya, Aryan menatap Karin dan menyematkan sebuah kecupan manis di pelipis wanitanya.

“Kak, aku mau nanya. Soal S2 kamu, gimana jadinya? Kamu jadi mau lanjutin kuliah, kan?” tanya Karin. Mereka masih di sana, Aryan baru akan menjalankan mobilnya, tapi kegiatannya itu terhenti begitu Karin bertanya.

Aryan segera menoleh ke arah Karin, ia menatap perempuannya berkat ucapannya barusan. Tiba-tiba air muka Aryan berubah. Perasaan sedikit tidak nyaman tersebut juga yang sebenarnya dirasakan oleh Karin. Artinya jika Ayan melanjutkan S2nya, ada kemungkinan bahwa suaminya harus ke luar negeri untuk menempuh pendidikan tersebut.

Pendidikan S2 di dalam negeri sebenarnya tidak kalah bagus, tapi dari pihak kantor menyarankan agar Aryan menempuhnya di Australia. Aryan telah bersedia untuk menjadi kandidat CEO yang selanjutnya. Maka dari itu, paling tidak Aryan harus memegang pendidikan magisternya.

“Karin, aku nggak bisa jauh dari kamu dan Svarga,” ucap Aryan beberapa saat setelah mereka hanya saling bungkam.

Karin tau ini tidak akan mudah untuk keduanya. Namun Karin berusaha memantapkan hatinya dan bersikap bijak. Suaminya bukan hanya miliknya, Karin tidak ingin lebih mementingkan dirinya dan membuat egonya menang.

“Aussie indo kan deket, Kak. Nanti kalau kerjaan aku di sini udah selesai, aku sama Svarga bisa nyusul kamu,” tutur Karin dengan sebuah senyum kecil di wajahnya. Karin berusaha menahan air matanya agar tidur lolos begitu saja. Jika melihat air matanya berderai, Karin yakin hal itu akan semakin membebani suaminya untuk pergi.

“Kamu beneran nggak papa kalau aku pergi?” tanya Aryan kemudian.

“Beneran, Kak. Aku kan nggak berdua aja sama Svarga. Ada papa dan mama, Kavin, Nayna, kak Syerin, mama Vanessa. Kamu nggak perlu khawatir ya, aku sama Svarga bakal baik-baik aja. Kita selalu support hal baik yang akan kamu lakukan. Oke?”

Beberapa detik kemudian, Aryan akhirnya setuju. Berikutnya tanpa aba-aba apa pun, Karin bergerak untuk memeluk torso Aryan begitu saja. Posisi mereka kini terlihat agak sulit, Aryan maupun Karin harus mencondongkan tubuh mereka dengan cukup ekstra agar mereka bisa saling mendekap.

“Nanti kalau kamu kangen sama aku dan Svarga, kita bisa telfonan atau video call,” ucap Karin pelan dengan posisi keduanya yang masih saling memeluk. Tanpa Aryan dapat melihatnya, satu tetes air mata Karin kini telah meluncur mulus membasahi pipinya.

Aryan pun mengeratkan pelukannya di tubuh Karin. Dengan gerakan vertikal, tangan Aryan bergerak mengusap lembut punggung Karin. “Aku bakal sering-sering telfon kamu,” ujar Aryan.

Meskipun tahu nantinya akan ada waktu untuk bertemu, perpisahan tetap akan terasa menyakitkan. Mengetahui seseorang yang kita cintai berada jauh dari kita, kita dapat dapat memungkiri bahwa rasanya akan begitu hampa dan kehilangan. Namun Aryan dan Karin telah memutuskan untuk rela melakukannya. Mereka mempunyai kepercayaan terhadap satu sama lain yang begitu kuat. Mereka percaya bahwa rasa cinta yang tulus tidak akan bisa dipisahkan oleh jarak sejauh apapun. Raga memang tidak bersama, tapi hati mereka selamanya akan selalu terhubung. Aryan dan Karin akan setia menunggu sampai hari dimana mereka akan kembali bersama.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karina Titania Roland S.Mb. Dalam hati Karin membaca namanya yang kini tengah diikuti oleh sebuah gelar. Pada selembar sertifikat kelulusan yang kini dipegangnya, nama itu jelas tertulis di sana. Karin berhasil mendapatkan gelar Sarjana Manajemen Bisnisnya berkat perjuangan dan kerja kerasnya selama ini.

Dalam menjalani kehidupan ini, tentunya seseorang akan selalu membutuhkan semangat dari orang-orang sekitarnya. Saat kita punya tujuan hidup yang jelas dan memiliki orang-orang yang selalu mensupport kita, kita punya alasan untuk bertahan. Mereka merupakan alasan dari surutnya air mata. Mereka menjadi alasan sebuah senyum terlukis di wajah. Sederhana, tapi rasanya begitu berharga.

Hari ini acara wisuda kelulusan Karin telah selesai. Kini di lapangan berumput luas di depan sebuah gedung rektorat universitas, para wisudawan tengah melakukan sesi foto. Sudah menjadi ciri khas tersendiri bagi mereka setiap tahun untuk mengambil foto di depan gedung ini. Ada yang melakukannya dengan keluarga, sahabat, pacar, bahkan suami ataupun istri. Hal yang terakhir tentunya dilakukan bagi yang sudah memiliki keluarga sendiri.

Karin termasuk ke dalam golongan yang terkahir, ia memiliki keluarga kecilnya. Hari ini mereka bahkan menyewa seorang fotografer khusus untuk mengambil potret kelulusan Karin.

Karin terlihat cantik dengan kebaya biru dongkernya, senada dengan kemeja yang dikenakan oleh Aryan dan Svarga. Sebelum sang fotogafer mengambil foto mereka bertiga, Karin meminta waktu sebentar untuk membenarkan rambut anak lelakinya yang sedikit berantakan. Bocah berusia dua tahun itu mengacak rambutnya yang telah ditata rapi menggunakan kedua tangan kecilnya. Setelah selesai merapikan rambut Svarga, rupanya Karin kembali meminta waktu lagi pada fotografernya.

“Mas, sebentar ya,” ujar Karin sambil menampakkan cengiran kecilnya.

“Kenapa lagi Sayang?’ tanya Aryan yang berada di sampingnya.

Karin lalu sedikit berjinjit, dan dengan satu tangannya yang tidak menggandeng Svarga, Karin gantian merapikan kerah kemeja Aryan.

“Ini kerah kemeja kamu agak berantakan,” ujar Karin yang masih dengan kegiatannya merapikan pakaian Aryan. Selang beberapa detik, akhirnya Karin berujar lagi. “Oke, udah nih. Yuk, kita foto.”

Setelah memberi aba-aba pada sang fotografer, akhirnya mereka bertiga mengambil potret tersebut. Terdapat beberapa foto yang berhasil di tangkap, dari mulai yang bergaya formal hingga beberapa pose jenakan yang begitu terlihat sangat natural karena mereka membawa seorang balita untuk ikut berfoto. Namun pose tersebut malah jadi yang paling lucu dan berkesan diantara yang lainnya. Hasil foto tersebut pun langsung bisa di cetak dan mereka juga akan dapat soft copy-nya yang nanti akan dikirim menyusul.

Saat sampai di mobil dan meletakkan Svarga di car seat khusus balita, dan balita itu sudah terlelap nyaman di sana, Karin dan Aryan melihat-lihat lagi hasil dari cetakan foto yang tadi mereka lakukan.

“Sayang, selamat ya. Kamu berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan,” ucap Aryan.

Karin merapikan hasil fotonya dan memasukkannya ke dalam sebuah map, lalu ia memfokuskan perhatiannya kepada Aryan.

“Aku bisa berhasil karena support dari orang-orang terdekatku. Kamu, Svarga, orang tua kita, sahabat-sahabatku. Terutama kamu, makasih ya Kak.” Karin menjeda ucapannya selama beberapa saat. Kemudian ia teringat mengenai sesuatu. Ia ingat tentang kenaikan jabatan yang didapatkan oleh Aryan. Berkat ketekunan lelaki itu, Aryan kini telah diangkat menjadi manager divisi pemasaran di Harapan Jaya Group.

“Kak, aku punya hadiah buat kamu,” Karin mengambil sesuatu dari dalam tasnya. “Selamat ya Kak, kamu berhasil mendapatkan jabatan itu. You really deserved it. I'm sorry I'm late, but late is better than never,right?,” ucap Karin sembari menyerahkan kotak di tangannya kepada Aryan.

Aryan menatap sebuah kotak berwarna biru berukuran dedang yang diberikan Karin. Setelah Karin memintanya membuka kotak itu, Aryan pun segera melakukannya.

Di dalam kotak itu, terdapat sebuah jam tangan rolex yang modelnya nampak sangat sesuai dengan seleranya. Aryan langsung mengambilnya dan memakai jam tangan itu di tangan kirinya, dan senyum cerahnya tidak dapat luntur dari wajahnya.

“Kamu suka sama jam tangannya?” tanya Karin sambil memperhatikan jam tangan pemberiannya di pergelangan tangan Aryan.

“Suka banget, Sayang. Makasih ya.” Detik berikutnya, Aryan menatap Karin dan menyematkan sebuah kecupan manis di pelipis wanitanya.

“Kak, aku mau nanya. Soal S2 kamu, gimana jadinya? Kamu jadi mau lanjutin kuliah, kan?” tanya Karin. Mereka masih di sana, Aryan baru akan menjalankan mobilnya, tapi kegiatannya itu terhenti begitu Karin bertanya.

Aryan segera menoleh ke arah Karin, ia menatap perempuannya berkat ucapannya barusan. Tiba-tiba air muka Aryan berubah. Perasaan sedikit tidak nyaman tersebut juga yang sebenarnya dirasakan oleh Karin. Artinya jika Ayan melanjutkan S2nya, ada kemungkinan bahwa suaminya harus ke luar negeri untuk menempuh pendidikan tersebut.

Pendidikan S2 di dalam negeri sebenarnya tidak kalah bagus, tapi dari pihak kantor menyarankan agar Aryan menempuhnya di Australia. Aryan telah bersedia untuk menjadi kandidat CEO yang selanjutnya. Maka dari itu, paling tidak Aryan harus memegang pendidikan magisternya.

“Karin, aku nggak bisa jauh dari kamu dan Svarga,” ucap Aryan beberapa saat setelah mereka hanya saling bungkam.

Karin tau ini tidak akan mudah untuk keduanya. Namun Karin berusaha memantapkan hatinya dan bersikap bijak. Suaminya bukan hanya miliknya, Karin tidak ingin lebih mementingkan dirinya dan membuat egonya menang.

“Aussie indo kan deket, Kak. Nanti kalau kerjaan aku di sini udah selesai, aku sama Svarga bisa nyusul kamu,” tutur Karin dengan sebuah senyum kecil di wajahnya. Karin berusaha menahan air matanya agar tidur lolos begitu saja. Jika melihat air matanya berderai, Karin yakin hal itu akan semakin membebani suaminya untuk pergi.

“Kamu beneran nggak papa kalau aku pergi?” tanya Aryan kemudian.

“Beneran, Kak. Aku kan nggak berdua aja sama Svarga. Ada papa dan mama, Kavin, Nayna, kak Syerin, mama Vanessa. Kamu nggak perlu khawatir ya, aku sama Svarga bakal baik-baik aja. Kita selalu support hal baik yang akan kamu lakukan. Oke?”

Beberapa detik kemudian, Aryan akhirnya setuju. Berikutnya tanpa aba-aba apa pun, Karin bergerak untuk memeluk torso Aryan begitu saja. Posisi mereka kini terlihat agak sulit, Aryan maupun Karin harus mencondongkan tubuh mereka dengan cukup ekstra agar mereka bisa saling mendekap.

“Nanti kalau kamu kangen sama aku dan Svarga, kita bisa telfonan atau video call,” ucap Karin pelan dengan posisi keduanya yang masih saling memeluk. Tanpa Aryan dapat melihatnya, satu tetes air mata Karin kini telah meluncur mulus membasahi pipinya.

Aryan pun mengeratkan pelukannya di tubuh Karin. Dengan gerakan vertikal, tangan Aryan bergerak mengusap lembut punggung Karin. “Aku bakal sering-sering telfon kamu,” ujar Aryan.

Meskipun tahu nantinya akan ada waktu untuk bertemu, perpisahan tetap akan terasa menyakitkan. Mengetahui seseorang yang kita cintai berada jauh dari kita, kita dapat dapat memungkiri bahwa rasanya akan begitu hampa dan kehilangan. Namun Aryan dan Karin telah memutuskan untuk rela melakukannya. Mereka mempunyai kepercayaan terhadap satu sama lain yang begitu kuat. Mereka percaya bahwa rasa cinta yang tulus tidak akan bisa dipisahkan oleh jarak sejauh apapun. Raga memang tidak bersama, tapi hati mereka selamanya akan selalu terhubung sampai akhirnya bertemu kembali di lain hari.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Satu tahun telah berlalu sejak kelahiran Svarga. Itu berarti Karin juga telah selesai dari cuti pekerjaannya. Sejak minggu lalu, Karin sudah kembali bekerja, dan hari ini ia ada pemotretan untuk salah clothing line milik brand lokal.

Kalau satu tahun yang lalu, Karin hanya perlu mempersiapkan dirinya sendiri sebelum ia berangkat bekerja. Namun sekarang ia memiliki tanggung jawab yang harus dikerjakannya. Dua manusia, satu manusia kecil dan satunya manusia besar yang harus mendapat perhatiannya.

Biasanya Karin akan memilih menyuapi Svarga dan memandikannya setelah itu. Sembari membuat makanan untuk anaknya, Karin akan sekalian memasak makanan untuk suaminya. Karin telah belajar beberapa menu kesukaan Aryan dan saat ini sudah semakin ahli membuatnya. Setelah anaknya sudah siap dan bisa diletakkan di arena bermain miliknya di ruang tamu, Karin bergegas menyiapkan pakaian kantor untuk Aryan. Karin biasanya meminta bantuan mbak Fitri untuk menjaga Svarga selama ia tengah mengurus Aryan. Terkadang suaminya itu masih harus di bangunkan olehnya, tapi beberapa kali lelaki itu bisa bangun sendiri. Karin bangga akan itu. Meski harus gagal beberapa kali, Aryan tetap berusaha mencobanya.

“Sayang, Svarga mana?” tanya Aryan begitu lelaki itu mendapati Karin memasuki kamar seorang diri. Biasanya Karin sedang menggendong Svarga atau anak lelaki mereka ada di kamar ketika Aryan terbangun.

“Udah makan, udah mandi, udah ganteng anak kamu. Tinggal papanya nih, masih bau iler,” cetus Karin.

“Mana iler?” tanya Aryan sembari mengarahkan tangannya untuk meraba area sekitar dagu dan dekat bibirnya. Setelah Aryan mendapati Karin tersenyum jahil, Aryan segera meraih lengan Karin agar perempuan itu semakin dekat padanya.

“Aku cium sini kamu,” celetuk Aryan.

“Nggak mau, kamu belum mandi Kak,” balas Karin sambil menghindar dari Aryan yang sudah akan mencondongkan diri ke arahnya.

“Emangnya aku bau?” tanya Aryan kemudan.

“Enggak sih.”

“Jelas, mana ada aku bau. Orang kamu ciumin aku terus kalau tidur.”

Karin menampakkan sebuah cengiran manis di wajah cantiknya begitu mendengar kalimat Aryan itu.

“Padahal kan kamu tidur, kok tau sih kalau aku ciumin?” tanya Karin nampak heran.

“Tau dong. Orang kamu nyiumnya brutal.”

Pada akhirnya Karin tergelak. Setiap Karin tertawa bahagia seperti ini, Aryan selalu merasa bahwa Tuhan sedang memberkatinya. Aryan dapat menyaksikan senyum dan tawa orang yang dicintainya, itu adalah kebahagian yang bernilai besar untuknya.

Saat perlahan-lahan tawa Karin akhirnya reda dan tatapan mereka bertemu di satu titik, mereka hampir sama-sama ingin mengucapkan sesuatu. Namun akhirnya Karin mempersilakan Aryan untuk mengatakannya lebih dulu.

Happy second wedding anniversary, Sayang. You have to know that two year that we’ve been through, my love for you is still the same. I love you endlessly, not only two year, but it last until forever.”

Karin tersenyum lebar mendengarnya. “Aku sebenarnya mau ngucapin juga. Selamat anniversary pernikahan yang kedua ya, Sayang. Semoga kita bisa saling terus mencintai dan kalau ada masalah, kita bisa menyelesaikannya sama-sama.”

Aryan lantas mengangguk. Satu tangan Aryan kemudian terangkat untuk mengusap lembut puncak kepala Karin hingga turun ke pipinya. “Hari ini hari pertama kamu kerja lagi, kan? Aku jemput ya nanti. Kamu selesai jam berapa?”

“Uhmm … jam 3 sore kayaknya udah selesai deh. Nanti aku kabarin kamu lagi ya. Kamu bukannya kerja hari ini? Kok bisa jemput aku?” Karin baru tersadar. Ini kan hari kerja dan biasanya jam pulang kantor suaminya itu pukul 6 sore. Karin segera memicingkan matanya dan menatap Aryan dengan tatapan meminta penjelasan.

“Aku udah siapin hadiah buat anniversary kita. Khusus hari ini, aku bisa pulang cepet dari kantor.”

“Jadwal kamu bukannya lagi padet banget Kak di kantor? Nggak papa kalau misalkan nggak bisa hari ini, pas weekend aja. Jadi kita undur rayainnya. Gimana?”

Aryan pun nampak berpikir sejenak. Tidak lama kemudian, lelaki itu meraih satu tangan Karin. Aryan memberikan sebuah kecupan di punggung tangannya setelah mengusapnya lembut di sana.

“Aku udah izin sama papa buat pulang cepet hari ini. Kamu lupa kalau perusahaan tempat aku kerja itu punya papa?”

“Ohh, gitu. Ya aku nggak lupa sih. Tapi bener juga, kamu anaknya yang punya kantor. Yaudah, nanti sore kita rayain anniversary kita ya,” ujar Karin sembari mengulaskan senyum hangat.

“Oke. Aku mandi dulu ya. Pagi ini ada rapat di divisiku. Kamu berangkat ke studio jam berapa?” tanya Aryan.

“Jam 10 an. Nanti aku berangkat sama supir,” terang Karin.

“Nggak bareng aku dong?” tanya Aryan.

Dua tahun berlalu, Aryan masih lah suaminya yang sama, yang selalu clingey dan sebisa mungkin selalu berusaha agar berada di dekatnya.

“Kita cuma nggak berangkat bareng, Kak. Nanti sore kan kita ketemu. Udah, kamu mandi dulu sana, nanti telat ke kantor lho,” ujar Karin. Pada akhirnya Aryan mengangguk dan menuruti perkataan Karin. Aryan pun segera beranjak dari kasur untuk pergi mandi. Namun tepat sebelum itu terjadi, pergerakannya ditahan oleh Karin. Tatapan mereka lantas bertemu dan keduanya saling mengunci pandangan satu sama lain.

Karin lebih dulu memangkas jarak yang ada di antara mereka, hingga udara saja enggan bergabung untuk mengusik suasana romantis tersebut. Dengan otomatis, kedua mata Aryan terpejam begitu merasakan sesuatu yang kenyal dan lembut tengah menyapa belah bibirnya.

Karin mencium bibir Aryan lembut, pergerakannya terlihat lihai, tapi tetap pasti. Aryan pun lekas membalas ciuman Karin dengan tidak kalah mesra. Aryan bahkan memberikan gigitan kecil di bibir bawah Karin.

Sensasi berciuman di pagi hari memang selalu terasa dahsyat. Maka sejak mereka memutuskan untuk bersama dua tahun yang lalu, setiap malam keduanya selalu menggunakan obat kumur sebelum pergi tidur. Aroma citrus bercampur mint yang segar, itulah aroma yang mereka rasakan ketika keduanya saling mencumbu. Aryan dan Karin selalu ingin memberikan yang terbaik untuk masing-masing, begitu lah Aryan dan Karin menjalani kehidupan pernikahan mereka selama dua tahun ini.

***

Satu tahun vakum dari dunia permodelan dan kini telah kembali, rasanya Karin begitu merindukan semua yang berhubungan dengan pekerjaannya. Studio pemotretan, catwalk, waktu-waktu ketika backstage yang ia habiskan bersama teman-teman model sejawatnya.

Datangnya Karin disambut begitu hangat oleh teman-teman sesama model, makeup artist, dan juga para stylist. Satu persatu yang ada di backstag tersebut memeluk Karin secara bergantian. Begitu Karin bertemu Jihan yang giliran mendekapnya terakhir, sahabatnya itu lantas membisikkan sesuatu di dekat telinga Karin.

“Rin, lo harus tau. There’s so many designer wants you to wear their design. They’re really waiting for you're comeback.”

Begitu pelukan mereka terurai, Jihan kembali mengatakan sesuatu kepada Karin. “Ini baru project kecil yang akhrinya lo terima setelah cuti panjang. Masih banyak project besar yang menanti lo. Ohiya, lo pasti udah liat berita di sosial media, kan?”

Berkat pertanyaan Jihan di akhir kalimatnya itu, Karin menjawabnya dengan sebuah anggukan. Nama Karin kembali baik usai isu perselingkuhan yang sebelumnya telah mencoreng namanya dan juga sempat mengancam karirnya.

Karin dapat mendapatkannya kembali berkat kerja keras dan dukungan orang-orang tercintanya. Selain itu, ada pembuktian bahwa Karin dijebak, jadi semua yang terjadi adalah sebuah kecelakaan. Ternyata dalam waktu yang cukup lama dari cutinya Karin, alam tidak diam begitu saja. Sesuai hakikatnya, hukum karma pun bergerak selaras dengan rencana yang telah Tuhan tetapkan.

“Jih, tapi gimana bukti-bukti itu akhirnya bisa kesebar?” tanya Karin pada Jihan. Dari awal Karin memang telah memutuskan untuk tidak mengungkap Kina. Bukti yang tersebar adalah benar, tapi bukan dari pihak Karin yang akhirnya mengungkap siapa dalang di balik kecelakaan tersebut.

Jihan segera menjawab dengan sebuah gelengan di kepalanya. “Gue juga nggak tau pasti Rin. Tapi yang jelas, beritanya heboh banget di berbagai platform. Semuanya terungkap gitu aja.”

Seorang stylist bernama Cynthia yang tiba-tiba datang menginterupsi percakapan keduanya. Cynthia mengatakan bahwa Jihan harus segera di makeup karena sebentar lagi gilirannya untuk pemotretan.

Sebelum pergi dari hadapan Karin, Jihan menatap sahabatnya itu dan mengatakan sesuatu. “As your friend, I’m really proud of you, Rin. Mungkin kalau gue yang ada di posisi lo, gue nggak bisa diam aja, gue akan mengungkap perbuatannya dengan tangan gue sendiri. Tapi ternyata Tuhan bener-bener adil ya. Tuhan dengerin banget doa-doa lo selama ini. Saat seseorang ngehancurin hidup orang lain, sebenarnya dia lagi daftarin hidupnya sendiri untuk dihancurin balik. Karma is really existed.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Satu tahun telah berlalu sejak kelahiran Svarga. Itu berarti Karin juga telah selesai dari cuti pekerjaannya. Sejak minggu lalu, Karin sudah kembali bekerja, dan hari ini ia ada pemotretan untuk salah clothing line milik brand lokal.

Kalau satu tahun yang lalu, Karin hanya perlu mempersiapkan dirinya sendiri sebelum ia berangkat bekerja. Namun sekarang ia memiliki tanggung jawab yang harus dikerjakannya. Dua manusia, satu manusia kecil dan satunya manusia besar yang harus mendapat perhatiannya.

Biasanya Karin akan memilih menyuapi Svarga dan memandikannya setelah itu. Sembari membuat makanan untuk anaknya, Karin akan sekalian memasak makanan untuk suaminya. Karin telah belajar beberapa menu kesukaan Aryan dan saat ini sudah semakin ahli membuatnya. Setelah anaknya sudah siap dan bisa diletakkan di arena bermain miliknya di ruang tamu, Karin bergegas menyiapkan pakaian kantor untuk Aryan. Karin biasanya meminta bantuan mbak Fitri untuk menjaga Svarga selama ia tengah mengurus Aryan. Terkadang suaminya itu masih harus di bangunkan olehnya, tapi beberapa kali lelaki itu bisa bangun sendiri. Karin bangga akan itu. Meski harus gagal beberapa kali, Aryan tetap berusaha mencobanya.

“Sayang, Svarga mana?” tanya Aryan begitu lelaki itu mendapati Karin memasuki kamar seorang diri. Biasanya Karin sedang menggendong Svarga atau anak lelaki mereka ada di kamar ketika Aryan terbangun.

“Udah makan, udah mandi, udah ganteng anak kamu. Tinggal papanya nih, masih bau iler,” cetus Karin.

“Mana iler?” tanya Aryan sembari mengarahkan tangannya untuk meraba area sekitar dagu dan dekat bibirnya. Setelah Aryan mendapati Karin tersenyum jahil, Aryan segera meraih lengan Karin agar perempuan itu semakin dekat padanya.

“Aku cium sini kamu,” celetuk Aryan.

“Nggak mau, kamu belum mandi Kak,” balas Karin sambil menghindar dari Aryan yang sudah akan mencondongkan diri ke arahnya.

“Emangnya aku bau?” tanya Aryan kemudan.

“Enggak sih.”

“Jelas, mana ada aku bau. Orang kamu ciumin aku terus kalau tidur.”

Karin menampakkan sebuah cengiran manis di wajah cantiknya begitu mendengar kalimat Aryan itu.

“Padahal kan kamu tidur, kok tau sih kalau aku ciumin?” tanya Karin nampak heran.

“Tau dong. Orang kamu nyiumnya brutal.”

Pada akhirnya Karin tergelak. Setiap Karin tertawa bahagia seperti ini, Aryan selalu merasa bahwa Tuhan sedang memberkatinya. Aryan dapat menyaksikan senyum dan tawa orang yang dicintainya, itu adalah kebahagian yang bernilai besar untuknya.

Saat perlahan-lahan tawa Karin akhirnya reda dan tatapan mereka bertemu di satu titik, mereka hampir sama-sama ingin mengucapkan sesuatu. Namun akhirnya Karin mempersilakan Aryan untuk mengatakannya lebih dulu.

Happy second wedding anniversary, Sayang. You have to know that two year that we’ve been through, my love for you is still the same. I love you endlessly, not only two year, but it last until forever.”

Karin tersenyum lebar mendengarnya. “Aku sebenarnya mau ngucapin juga. Selamat anniversary pernikahan yang kedua ya, Sayang. Semoga kita bisa saling terus mencintai dan kalau ada masalah, kita bisa menyelesaikannya sama-sama.”

Aryan lantas mengangguk. Satu tangan Aryan kemudian terangkat untuk mengusap lembut puncak kepala Karin hingga turun ke pipinya. “Hari ini hari pertama kamu kerja lagi, kan? Aku jemput ya nanti. Kamu selesai jam berapa?”

“Uhmm … jam 3 sore kayaknya udah selesai deh. Nanti aku kabarin kamu lagi ya. Kamu bukannya kerja hari ini? Kok bisa jemput aku?” Karin baru tersadar. Ini kan hari kerja dan biasanya jam pulang kantor suaminya itu pukul 6 sore. Karin segera memicingkan matanya dan menatap Aryan dengan tatapan meminta penjelasan.

“Aku udah siapin hadiah buat anniversary kita. Khusus hari ini, aku bisa pulang cepet dari kantor.”

“Jadwal kamu bukannya lagi padet banget Kak di kantor? Nggak papa kalau misalkan nggak bisa hari ini, pas weekend aja. Jadi kita undur rayainnya. Gimana?”

Aryan pun nampak berpikir sejenak. Tidak lama kemudian, lelaki itu meraih satu tangan Karin. Aryan memberikan sebuah kecupan di punggung tangannya setelah mengusapnya lembut di sana.

“Aku udah izin sama papa buat pulang cepet hari ini. Kamu lupa kalau perusahaan tempat aku kerja itu punya papa?”

“Ohh, gitu. Ya aku nggak lupa sih. Tapi bener juga, kamu anaknya yang punya kantor. Yaudah, nanti sore kita rayain anniversary kita ya,” ujar Karin sembari mengulaskan senyum hangat.

“Oke. Aku mandi dulu ya. Pagi ini ada rapat di divisiku. Kamu berangkat ke studio jam berapa?” tanya Aryan.

“Jam 10 an. Nanti aku berangkat sama supir,” terang Karin.

“Nggak bareng aku dong?” tanya Aryan.

Dua tahun berlalu, Aryan masih lah suaminya yang sama, yang selalu clingey dan sebisa mungkin selalu berusaha agar berada di dekatnya.

“Kita cuma nggak berangkat bareng, Kak. Nanti sore kan kita ketemu. Udah, kamu mandi dulu sana, nanti telat ke kantor lho,” ujar Karin. Pada akhirnya Aryan mengangguk dan menuruti perkataan Karin. Aryan pun segera beranjak dari kasur untuk pergi mandi. Namun tepat sebelum itu terjadi, pergerakannya ditahan oleh Karin. Tatapan mereka lantas bertemu dan keduanya saling mengunci pandangan satu sama lain.

Karin lebih dulu memangkas jarak yang ada di antara mereka, hingga udara saja enggan bergabung untuk mengusik suasana romantis tersebut. Dengan otomatis, kedua mata Aryan terpejam begitu merasakan sesuatu yang kenyal dan lembut tengah menyapa belah bibirnya.

Karin mencium bibir Aryan lembut, pergerakannya terlihat lihai, tapi tetap pasti. Aryan pun lekas membalas ciuman Karin dengan tidak kalah mesra. Aryan bahkan memberikan gigitan kecil di bibir bawah Karin.

Sensasi berciuman di pagi hari memang selalu terasa dahsyat. Maka sejak mereka memutuskan untuk bersama dua tahun yang lalu, setiap malam keduanya selalu menggunakan obat kumur sebelum pergi tidur. Aroma citrus bercampur mint yang segar, itulah aroma yang mereka rasakan ketika keduanya saling mencumbu. Aryan dan Karin selalu ingin memberikan yang terbaik untuk masing-masing, begitu lah Aryan dan Karin menjalani kehidupan pernikahan mereka selama dua tahun ini.

***

Satu tahun vakum dari dunia permodelan dan kini telah kembali, rasanya Karin begitu merindukan semua yang berhubungan dengan pekerjaannya. Studio pemotretan, catwalk, waktu-waktu ketika backstage yang ia habiskan bersama teman-teman model sejawatnya.

Datangnya Karin disambut begitu hangat oleh teman-teman sesama model, makeup artist, dan juga para stylist. Satu persatu yang ada di backstag tersebut memeluk Karin secara bergantian. Begitu Karin bertemu Jihan yang giliran mendekapnya terakhir, sahabatnya itu lantas membisikkan sesuatu di dekat telinga Karin.

“Rin, lo harus tau. There’s so many designer wants you to wear their design. They’re really waiting for you're comeback.”

Begitu pelukan mereka terurai, Jihan kembali mengatakan sesuatu kepada Karin. “Ini baru project kecil yang akhrinya lo terima setelah cuti panjang. Masih banyak project besar yang menanti lo. Ohiya, lo pasti udah liat berita di sosial media, kan?”

Berkat pertanyaan Jihan di akhir kalimatnya itu, Karin menjawabnya dengan sebuah anggukan. Nama Karin kembali baik usai isu perselingkuhan yang sebelumnya telah mencoreng namanya dan juga sempat mengancam karirnya.

Karin dapat mendapatkannya kembali berkat kerja keras dan dukungan orang-orang tercintanya. Selain itu, ada pembuktian bahwa Karin dijebak, jadi semua yang terjadi adalah sebuah kecelakaan. Ternyata dalam waktu yang cukup lama dari cutinya Karin, alam tidak diam begitu saja. Sesuai hakikatnya, hukum karma pun bergerak selaras dengan rencana yang telah Tuhan tetapkan.

“Jih, tapi gimana bukti-bukti itu akhirnya bisa kesebar?” tanya Karin pada Jihan. Dari awal Karin memang telah memutuskan untuk tidak mengungkap Kina. Bukti yang tersebar adalah benar, tapi bukan dari pihak Karin yang akhirnya mengungkap siapa dalang di balik kecelakaan tersebut.

Jihan segera menjawab dengan sebuah gelengan di kepalanya. “Gue juga nggak tau pasti Rin. Tapi yang jelas, beritanya heboh banget di berbagai platform. Semuanya terungkap gitu aja.”

Seorang stylist bernama Cynthia tiba-tiba atang menginterupsi percakapan antara Jihan dan Karin itu. Cynthia mengatakan bahwa Jihan harus segera di makeup karena sebentar lagi gilirannya untuk pemotretan.

Sebelum pergi dari hadapan Karin, Jihan menatap sahabatnya itu dan mengatakan sesuatu. “As your friend, I’m really proud of you, Rin. Mungkin kalau gue yang ada di posisi lo, gue nggak bisa diam aja, gue akan mengungkap perbuatannya dengan tangan gue sendiri. Tapi ternyata Tuhan bener-bener adil ya. Tuhan dengerin banget doa-doa lo selama ini. Saat seseorang ngehancurin hidup orang lain, sebenarnya dia lagi daftarin hidupnya sendiri untuk dihancurin balik. Karma is really existed.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Saat ini kandungan Karin telah memasuki usia 39 minggu. Sebelumnya Aryan dan Karin telah berencana untuk menggunakan metode water birth untuk kelahiran anak pertama mereka. Setelah berbagai konsultasi dilakukan kepada dokter dan mendapat berbagai pertimbangan, akhirnya Karin dan Aryan sepakat agar menggunakan metode tersebut untuk proses persalinan.

Karin sudah merasakan kontraksi di perutnya sejak tadi malam. Hingga saat akhirnya pagi hari tiba, pembukaan jalan lahir sudah sampai ke pembukaan 4 saat tenaga medis membantu mengeceknya. Berbagai persiapan pun segera dilakukan. Sekitar pukul delapan pagi, 2 orang tenaga medis serta 1 dokter sudah siap membantu Karin untuk melakukan persalinannya.

Di lantai satu rumah mereka, sudah dipersiapkan sebuah bak air yang telah diisi dengan air hangat yang dipastikan steril . Tempat persalinan harus dibuat senyaman mungkin, yang bertujuan membuat sang ibu dapat lebih rileks saat menghadapi rasa sakit dari proses melahirkan.

Karin masih berada di kamarnya,ia baru saja selesai mengganti dress tidurnya dengan sebuah sport bra hitam dan sebuah handuk yang melilit pinggangnya. Aryan berada di sana bersama Karin, selalu berada di sisinya dan berusaha menenangkannya.

“Kak,” ujar Karin pelan. Dengan posisi Karin yang saat ini duduk di tepi ranjang dan Aryan berdiri di hadapannya, Karin pun mendongakkan kepalanya untuk dapat menatap Aryan.

“Kenapa, Sayang?” balas Aryan kemudian, tatapannya begitu teduh dan lembut menatap Karin.

“Aku takut, Kak. Semuanya bakal baik-baik aja, kan?” tanya Karin.

Meskipun Aryan memiliki kekhawatiran yang sama dengan Karin, ia berusaha untuk tidak memperlihatkan itu di hadapan istrinya.

“Kalau kamu takut, itu wajar. Ini momen pertama buat kamu. Tapi kamu tau, hari ini akan jadi hari yang spesial buat kamu dan juga buat aku. Anak kita bakal lahir, kamu senang kan mau ketemu sama dia?” tutur Aryan lembut.

Karin perlahan-lahan mengangguk. Perkataan Aryan terasa sanagt benar di hatinya. Tidak masalah merasa takut, Karin memiliki sosok yang menguatkannya, Aryan dan anak mereka. Selain itu, rasa cinta Karin pada anaknya melebihi rasa cinta terhadap dirinya sendiri. Begitulah sejatinya seorang ibu, sesakit apapun akan dilalui demi sang buah hati.

Detik berikutnya, Karin segera bergerak dari posisinya. Karin berdiri lalu sedikit berjinjit untuk meraih Aryan ke dalam pelukannya. Dalam dekapan tersebut, Karin selalu dapat merasa nyaman dan tenang. Aryan adalah rumah baginya.

Saat pelukan mereka terurai, Aryan menatap Karin sembari berujar, “Satu hal yang kamu harus tau, Sayang.” Aryan lalu mengarahkan tangannya untuk menangkup kedua sisi wajah Karin, ia menatap wanitanya dengan tatapan penuh afeksi. “Aku ada sini terus sama kamu. Kamu pegang tangan aku ya,” sambung Aryan.

***

Bak air yang berukuran cukup besar itu menjadikannya sangat cukup untuk ditempati oleh Karin dan Aryan. Sudah sekitar 2 jam Karin menghadapi rasa sakit dan berjuang melahirkan anak mereka. Aryan berada di belakang Karin, memaluk tubuhnya, dan selalu memberikannya semangat.

Dua orang tenaga medis pun turut membantu Karin, beberapa kali mengecek ke bagian bawahnya untuk memastikan kondisi si bayi. Saat sudah mencapai pembukaan pembukaan sepuluh, seorang dokter memberi Karin instruksi untuk mengejan. Karin diarahkan untuk mengambil napas, dan menghembuskannya, dan melakukan dorongan semampunya dengan perlahan-lahan.

Beberapa kali juga, Karin merubah posisinya untuk mendapat spot ternyaman. Kali ini Karin ingin menghadap Aryan. Karin membutuhkan lelaki itu untuk menguatkannya. Dengan posisi berhadapan dan berpelukan ringan, saat ini Karin tengah menyandarkan kepalanya di dada bidang Aryan.

Aryan sesekali memberikan kecupan di kening Karin dan mengusap peluh yang membanjiri pelipisnya. Aryan kemudian berujar pelan di dekat Karin, “Sayang, kamu bisa laluin rasa sakit ini. Kamu perempuan hebat dan kuat. I love you.”

Mata Karin yang sebelumnya sudah berkaca-kaca, mendengar kalimat yang diutarakan oleh Aryan, membuat tangisnya tidak dapat lagi terbendung. Rasa sakit karena proses melahirkan bercampur cinta yang Aryan berikan padanya, tidak kuasa membuat Karin menahan tangisnya.

Tiga puluh menit berlalu setelah itu, dengan rasa sakit yang begitu luar biasa, akhirnya suara tangis bayi terdengar begitu kuat terdengar memenuhi ruangan tersebut. Karin telah berhasil melahirkan anaknya. Dengan kedua lengannya, Karin pun memeluk putranya untuk yang pertama kali. Karin masih berada di dalam di dekapan Aryan, membuat lelaki itu kini dapat merengkuh dua dunianya yang begitu berharga. Mereka memandangi wajah anak mereka bersama, bahkan tangis Aryan pecah juga saat menyaksikan anaknya menatap ke arahnya.

Karin mengusapkan ibu jarinya perlahan di pipi lembut anaknya, lalu ia berujar, “Hai, anak Mama dan Papa.” Karin mendongak untuk mempertemukan netranya dengan Aryan. “Sayang, liat. Hidungnya mirip kamu banget.”

Aryan lantas mengulaskan senyum lebarnya, lalu dengan gerakan lembut, Aryan menyematkan kecupan di pipi anaknya sekilas. Bayi lelaki yang berada di dalam pelukan kedua orang tuanya itu. memiliki kedua mata yang begitu mirip dengan mamanya, tapi sisanya hampir semua mengambil gen dari papanya. Bentuk hidung mancungnya persis seperti hidung Aryan, bibirnya juga persis dengan milik lelaki itu.

Sebuah perjuangan yang begitu besar untuk melahirkan anak pertamanya, pengalaman ini tentunya tidak akan Karin dan Aryan lupakan. Karin merasa begitu utuh dan sempurna menjadi seorang perempuan yang bisa melahirkan seorang nyawa baru ke dunia.

Setelah proses pengeluaran plasenta yang nyatanya lebih sakit dari proses melahirkan itu sendiri, Karin pun di perbolehkan untuk beranjak dari bak air. Namun tepat sebelum itu, posisi Karin yang berhadap dengan Aryan, memudahkannya untuk memberikan kecupan di bibir lelakinya. Netra Aryan yang melebar selama beberapadetik karena terkejut mendapati serangan mendadak dari Karin, segera beralih untuk membalas ciuman itu. Adegan tersebut mau tidak mau disaksikan oleh tenaga medis dan dokter yang masih berada di sana. Mereka mengulaskan senyum terharu yang begitu bahagia menyaksikan dua orang yang saling mencintai tengah memadu kasih.

Setelah ciuman itu akhirnya terurai, Aryan mendekatkan Karin padanya, memangkas jarak yang ada di antara mereka, tapi tidak sampai habis seperti biasanya. Kini ada kebahagiaan baru yang tengah hadir di antara keduanya. Bayi lelaki tampan yang mereka beri nama Svarga Tarendra Brodjohujodyo. Svarga memiliki arti surga dalam bahasa sanskerta. Tarendra memiliki arti pangeran bintang dan Brodjohujodyo adalah nama keluarga yang memang diwariskan untuk keturunan-keturunan selanjutnya.

Aryan dan Karin sengaja memilih nama Svarga, karena bagi mereka, Sarga merupakan anugerah selayaknya surga yang telah mempersatukan cinta mereka.

Svarga (dibaca) : Varga

***

Setelah sekitar satu jam lebih memejamkan matanya, akhirnya kini Karin telah terbangun. Tubuhnya erasa jauh lebih baik saat ini. Energi Karin seperti di isi ulang kembali, setelah melewati lelah letihnya sebuah proses melahirkan.

Ketika Karin menyandarkan punggungnya ke header kasur di kamar, ia mendapati Aryan membuka pintu kamar dengan menggendong anak mereka di dekapan lelaki itu.

Aryan segera mendekat pada Karin, masih dengan menimang pelan Svarga di gendongan, keduanya pun menatap wajah Svarga bersamaan.

“Anteng banget kamu, Nak. Di gendong siapa sih kamu emangnya?” ujar Karin sembari menjawil pelan pipi halus Svarga.

Detik berikutnya Karin mendongakkan kepalanya untuk mempertemukan netranya dengan netra Aryan.

“Karin,” ujar Aryan.

“Iya Kak?”

Wajah Aryan yang semula nampak biasa, kini air mukanya nampak sedikit memerah dan terlihat kilatan bening di kedua bola matanya. Aryan lantas bergerak mengambil posisi di tepi ranjang, ia duduk di sana.

“Terima kasih ya, kamu udah melahirkan Svarga,” ucap Aryan sembari tidak melepaskan pandangannya dari Karin. Aryan lantas mengulaskan senyum bahagianya, ia menatap Karin dengan pancaran cinta yang begitu dapat dirasakan oleh Karin sendiri.

Karin masih terdiam di tempatnya mendapati kalimat Aryan. Beberapa detik berlalu, Karin menurunkan pandangannya dari Aryan. Karin lantas meletakkan tangannya di atas tangan Aryan yang mendekap Svarga.

“Kak, aku juga terima kasih sama kamu. Tanpa kamu, mungkin aku nggak akan sekuat itu. Perjuangan aku yang berhasil melahirkan Svarga, di dalamnya ada peran kamu yang besar banget. Makasih ya,” tutur Karin.

Detik berikutnya, mereka bersamaan mengulaskan senyum simpul. Aryan dan Karin telah berhasil mewujudkan kebahagiaan untuk mereka dan surga yang sejak awal telah mempersatukan keduanya. Aryan dan Karin belajar untuk saling mencintai setelah di awal mereka pernah sama-sama dihancurkan oleh keadaan. Namun berkat usaha dan tekad besar keduanya, kini Aryan dan Karin berhasil mewujudkan kebahagiaan yang telah mereka nantikan sebelumnya.

Svarga

Mom and Baby Hand

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷