alyadara

Sejak Pabrik Kembali Berproduksi

Karin ingat perkataannya pada Aryan saat ia melepas lelaki itu pergi ke Aussie dua tahun yang lalu. Karin mengatakan bahwa sejatinya kasih sayang dan cinta tidak selalu tentang raga yang bersama. Selama dua orang sejoli memiliki kepercayaan tersebut di dalam hati mereka, memiliki sebuah komitmen yang kuat, maka cinta tidak akan memudar karena terkikis oleh sebuah jarak.

Justru rasa rindu yang begitu menggebu tersebutlah yang kini sukses menciptakan gelora-gelora cinta di hati Karin. Karin menatap sebuah pintu putih di hadapannya. Sebuah rumah sewa dengan pintu rumah bernomor 87 itu akhirnya terbuka, setelah Karin menekan bel yang ada di samping daun pintu.

“Papa!” Seruan gembira itu seketika terdengar. Nampak sosok lelaki jangkung tengah berdiri di hadapan Karin dan Svarga.

Detik itu juga, Aryan terlihat terkejut mendapati kehadiran Karin dan bocah lelaki yang nampak berbeda sejak terakhir mereka bertemu. Begitu Aryan melihat Svarga tengah menengadahkan wajahnya untuk menatapnya dan merentangkan tangan tanda meminta digendong, Aryan segera membawa anak lelakinya ke dalam gendongannya.

“Papa, we missed you so much,” Svarga mengucapkannya dengan begitu lancar. Seketika mata Aryan berkaca-kaca, anaknya sudah sehebat ini dalam berbicara.

Satu tangan Aryan yang bebas lantas meraih Karin untuk bergabung ke pelukannya. “Papa juga kangen banget sama Svarga dan Mama,” ujar aryan.

Tinggi tubuh Karin yang hanya sebatas bahu Aryan, membuat perempuan itu terlihat mungil saat berada di dekapan lelakinya. Karin lantas menengadahkan wajahnya untuk menatap Aryan, pandangan mereka bertemu, dan itu rasanya sudah cukup membayar semua rindunya selama dua tahun belakangan.

“Anak kita hebat banget. Mama ngajarin apa sih selama Papa nggak ada?” tanya Aryan.

“Aku ajarin bahasa Inggris, membaca, berhitung. Habis ini gantian kamu yang ajarin ya,” ucap Karin sembari menyunggingkan senyum simpulnya. Aryan lekas menganggukinya dan mengajak Svarga bertosan ala lelaki.

“Mama, are you crying?” celetuk Svarga saat melihat mata Karin nampak berkaca-kaca. Seolah dapat merasakan yang tengah Karin rasakan, Svarga berusaha menangkan mamanya itu.

It’s oke, Sayang. Mama ngga papa,” tutur Karin lembut.

“Mama kenapa tadi nangis?” tanya Svarga yang masih penasaran. Karin tahu bahwa anaknya itu pintar dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

“Papa tau kenapa Mama barusan nangis,” ujar Aryan yang seketika membuat perhatian Svarga teralih padanya.

Svarga lantas menoleh pada Aryan dan bertanya, “Emangnya kenapa Pah, Mama kok nangis?”

“Mama was cried because she was happy. Svarga, Papa, dan Mama udah ketemu lagi sekarang, makanya mama *happy. Are you happy too to met me?” tanya Aryan.

Yes! I’m happy Papa. Mama pasti happy banget udah bisa ketemu Papa, soalnya Mama kangen Papa setiap hari,” celotek Svarga.

“Emang Mama bilang apa, Nak?” tanya Aryan berusaha menggali informasi dari anaknya itu.

“Svarga, Mama kan nggak bilang apa-apa,” ucap Karin sembari mengulaskan senyum penuh arti ke arah anaknya.

Namun anak kecil tetaplah pada hakikatnya yang kelewat berbicara jujur. Sambil menampakkan senyum tampannya, bocah laki-laki berusia empat tahun itu akhirnya berujar, “Waktu Mama kangen Papa, pasti Mama nangis. Terus Mama bilang, Svarga, Mama kangen sama Papa. Terus Mama peluk Svarga deh, soalnya kata Mama Svarga mirip Papa.”

“Mana ada Mama kayak gitu,” elak Karin begitu Svarga selesai bercerita. Dua laki-laki beda generasi itu malah mengulaskan senyum penuh arti ke arah Karin. Berikutnya Aryan kembali menarik Karin mendekat saat perempuan itu berusaha menjauh. Aryan lalu menyematkan sebuah kecupan halus di kening Karin. “Bener gitu Sayang, yang dibilang Svarga?” tanya Aryan pada Karin.

Akhirnya dengan perlahan Karin pun mengangguk. Ia tidak bisa mengelak lagi, anak kecil adalah makhluk tersuci suci yang tidak akan bisa berbohong. Jadi pastilah Aryan langsung mempercayai omongan anaknya itu.

Masih sambil mendekap dua cinta di hidupnya, Aryan lantas berujar lagi pada Karin, “Sekarang udah nggak kangen lagi, kan? Kamu bisa peluk Svarga versi dewasanya sepuas yang kamu mau. Gimana?”

***

Karin sebelumnya memang telah mengabari Aryan bahwa dirinya dan Svarga akan sampai besok di Australia. Namun secara tiba-tiba dan tanpa sepengetahuannya, Aryan mendapati istri dan anaknya berada di depan rumahnya. Katakan bagaimana Aryan tidak terkejut? Rasanya melebihi seperti memenangkan sebuah lotre, meskipun dalam hidupnya Aryan belum pernah mendapat hadiah yang biasa bernilai besar tersebut.

Satu jam yang lalu, setelah bermain bersama Aryan, Svarga akhirnya tertidur karena kelelahan. Momen antara anak dan ayah yang baru saja Aryan dapatkan tersebut, rasanya dapat begitu membuat hatinya menghangat. Kini di kamar satunya, Aryan dan Karin tersisa, mereka sedang melepas rindu yang sedikit masih terasa.

Kini Karin dapat kembali merasakan hangatnya berada di pelukan tubuh besar dan kekar Aryan. Seperti yang Aryan katakan, Karin bebas memilikinya. Aryan tidak akan kemana-mana, ia berjanji bahwa mereka tidak akan terpisahkan lagi. Aryan merindukan bagaimana cara Karin mendekap torsonya, bagaimana perempuan itu memberi usapan di pipinya, hingga aroma parfum vanilla bercampur floral segar yang dapat Aryan hirup ketika ia memeluk tubuh Karin.

“Sayang, anak kita sekarang udah pinter banget ya. Pemikirannya, tutur katanya. Dia anak yang hebat, karena dia punya Mama sehebat kamu,” ujar Aryan.

Karin nampak mengulaskan senyum kecilnya, lalu mereka saling bertukar pandang. Posisi Karin kini berada di dalam dekapan lengan kekar Aryan. Satu lengan Aryan dijadikan oleh Karinsebagai bantalan, sehingga dengan posisi menyamping, Aryan dapat memandangi wajah perempuannya begitu lekat.

“Anak kita juga punya Papa sehebat kamu. Setiap hari dia selalu nanyain kamu, kadang dia sendiri yang minta sama aku buat telfon atau videocall Papanya.”

Aryan lantas mengangguk seraya mengulaskan sebuah senyum. Aryan lalu mengatakan pada Karin bahwa dirinya ingin sekali menjadi papa yang bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anak mereka kelak.

“Anak-anak kita nanti?” tanya Karin sambil masih setia menatap Aryan dengan lekat.

“Iya, Sayang. Anak-anak kita nanti.”

Karin nampak berpikir sejenak. Dua detik setelahnya, Aryan mendapati Karin menahan senyuman dengan melengkungkan kedua belah bibirnya ke dalam.

“Tapi kan anaknya belum ada, baru satu,” ucap Karin dengan suara pelannya.

“Yaa … kita bisa bikin lagi dong, Sayang. Aku sih siap kapan aja kamu mau.” Aryan mengucapkan kalimatnya seringan kapas yang terbang terbawa angin.

“Kak,” celetuk Karin kemudian.

“Iya, Sayang?” tanya Aryan seraya mengusapkan satu tangannya di sisi wajah Karin, itu terasa hangat ketika permukaan kulit tangan Aryan menyentuh kulit pipinya.

“Kamu mau nggak kalau kita punya anak lagi dalam waktu dekat?” tanya Karin. Tatapannya begitu dalam dan mendamba ketika menatap Aryan. Hingga rasanya Aryan dibuat hampir ingin gila, persis saat pertama kali mereka melakukan hubungan itu setelah resmi memutuskan bersama.

“Mau dong, Sayang. Kita bisa program untuk itu. Is it okey, kalau kamu hamil lagi? Pekerjaan dan cita-cita kamu, nanti gimana?”

Aryan selalu menanyakannya pada Karin terlebih dulu, lelaki itu selalu menempatkan Karin di prioritas yang pertama. Aryan tahu bahwa Karin mempunyai cita-cita untuk karir modelnya. Masih banyak yang Karin ingin capai di dalam hidupnya dan Aryan akan mendukung perempuan itu untuk mewujudkannya. Kalau Aryan sendiri, ia ingin mereka punya anak lagi, bahkan dalam waktu dekat. Namun ini bukan hanya tentang dirinya, pernikahan berjalan karena adanya dua orang. Jadi, aryan ingin benar-benar memastikan bahwa Karin siap, baik secara fisik maupun mental. Karin yang akan mengandung dan melahirkan, maka keputusan finalnya ada di tangan Karin.

Perlahan tapi pasti, akhirnya Karin mengangguk setuju. Karin mengatakan bahwa ia ingin hamil lagi, ia ingin mengandung anaknya Aryan. Saat Karin mengutarakan jawabannya tersebut, Aryan pun dibuat membuncah dan rongga dadanya terasa berdesir hangat.

Aryan lantas menatap Karin dengan tatapan haru bercampur memuja. Aryan tenggelam ke dalam mata bulat dengan iris legam yang tampak sempurna itu. Dari hanya sebuah tatapan, mereka tahu bahwa mereka sama-sama menginginkannya. Karin lantas balas tatapan Aryan, ia memberikan afeksinya yang besar. Saat seorang lelaki tahu cara mencintai dan menghargai perempuannya, maka ia akan mendapatkan balasan cinta yang lebih besar dari yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Karin, can I have you only for me, for this night?” tanya Aryan lembut. Cara Aryan menatap Karin dengan tatapan penuh memuja dan mendamba seperti ini, membuat Karin tersadar bahwa dirinya tidak akan bisa mencintai lelaki selain Aryan sedalam ini. Kalau bukan Aryan, maka Karin tidak menginginkannya.

“Kak, I’m all yours,” ucap Karin, nadanya yang terdengar begitu tulus.

Aryan mendapati netra Karin memindai menatapnya. Setiap celah paras Aryan, di sanalah iris Karin tertuju. Kemudian seraya mengulaskan senyum lembutnya, Karin kembali berucap, “If it’s not you, then I don’t want to.”

***

Pada hakikatnya, cinta adalah tentang memberi dan menerima. Jika kamu ingin mendapatkan seseorang yang tulus mencintaimu, maka lakukanlah yang terbaik, agar Tuhan yakin bahwa kamu pantas untuk mendapatkannya. Kamu tidak perlu menjadi sosok yang sempurna,kamu hanya perlu melakukan yang terbaik, memberikan versi terbaik yang ada di dalam dirimu.

Aryan teringat saat empat tahun yang lalu, saat di mana dirinya bertemu dengan Karin. Aryan dan Karin hanyalah dua orang asing yang memiliki tembok pembatas yang begitu tinggi. Sampai akhirnya mereka sama-sama berusaha menghancurkan tembok tersebut.

Hingga pernikahan keduanya yang sudah menginjak usia 5 tahun, Karin tetaplah perempuan yang sama. Karin adalah perempuan yang memiliki hati yang begitu tulus dan baik. Karin adalah perempuan yang menghormatinya karena Aryan adalah ayah biologis dari anak yang dikandung Karin. Semenyakitkan apa pun posisi Karin saat itu, tidak sama sekali menggoyahkan hatinya untuk melangkah pergi dari hidup Aryan. Padahal waktu itu Karin bisa memilih pergi dan tidak peduli ketika Aryan hancur. Namun Karin justru datang padanya mengobati luka itu, membalutnya rasa sakit tersebut dengan cinta yang begitu tulus.

Pemikiran monolog Aryan tiba-tiba terpecah begitu terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Dari celah pintu yang kecil itu, Aryan dapat melihat sosok Karin yang terlihat begitu menawan. Aryan segera bergerak dari posisinya dan membuka pintu itu lebih lebar.

Begitu sepenuhnya melihat sosok Karin di hadapannya, selama beberapa detik Aryan hanya mampu terdiam di tempatnya. Karin begitu mempesona dengan balutan gaun tidur berbahan sutranya. Aryan sekilas mengalihkan tatapannya dari Karin. Shit, Aryan mengumpat dalam hati. Mengapa sesuatu sudah menegang di bawah sana, padahal belum ada yang terjadi.

“Kak,” ujar Karin pelan, menyadarkan keterdiaman Aryan.

Seketika Aryan kembali menatap ke arah Karin. “Iya Sayang?” tanya Aryan seraya menampakkan senyum canggungnya.

“Kamu kenapa?” Karin nampak heran dengan ekspresi Aryan itu.

Aryan segera menjawab Karin dengan sebuah gelengan kecil. Ketika netra mereka akhirnya bertemu di satu titik dan saling mengunci, Aryan segera meraih lengan Karin dan meletakkannya di satu sisi pundak miliknya. Kemudian Karin merasakan pinggangnya dihela mendekat ke arah Aryan, hingga tubuh keduanya kini hampir saja menempel satu sama lain.

Do you like to dance with me, Sweety?” tanya Aryan dan ia menunggu Karin menjawabnya.

Karin nampak berpikir selama beberapa detik. Alis Karin menyatu, detik berikutnya ia berujar, “It sounds nice tho. But … I think, mostly women don’t like question.”

Karin menahan senyumannya begitu melihat kerutan muncul di kening Aryan. Karin sengaja melakukannya. Ia ingin mendapati berbagai ekspresi lucu lelakinya dan hanya boleh diperlihatkan di depannya saja, khusus untuknya.

Oke, we will see. Uhm ... I want to have a dance with you this night, would you like to?”

It’s still a question,” ucap Karin.

Alright, alright.” Kemudian Aryan berdeham dua kali dan sambil masih menatap Karin dengan tatapan penuh arti, ia kembali berujar, “Hai, Sweety. You look really wonderful this night. I adore you so much. I will give you the best of me, not a perfectness. Because when I’m with you, I’m already feel perfected. So please, have a dance with me.”

Detik berikutnya, Karin nampak mengulaskan senyum manisnya. Kemudian menggunakan satu tangannya, Karin mengusap sisi wajah Aryan dengan lembut. “Sure. I want to dance with you this night,” ucap Karin sambil kemudian meraih tangan Aryan, lalu Karin menyelipkan jemarinya di antara jemari besar milik prianya.

couple dancing close up

***

Udara di luar rumah yang saat ini terasa cukup sejuk, membuat beberapa orang memilih menghabiskan waktu akhir pekan mereka untuk berada di dalam rumah. Ini hampir mencapai akhir tahun, di mana di negara Australia sedang mengalami musim dingin. Salju turun cukup deras hingga memenuhi jalanana, dan rasanya heater di dalam rumah hampir gagal menjalankan tugasnya. Namun itu menjadi cukup bagus dan kini semuanya terasa sempurna untuk Aryan dan Karin. Cuaca telah menyempurnakan suasana romantis yang Aryan dan Karin telah ciptakan sebelumnya.

Di dalam kamar bernuansa putih itu, setelah usai berdansa ditemani sebuah lagu klasik yang sebelumnya telah di setel oleh Aryan, keduanya kini tengah saling mencumbu bibir satu sama lain.

Gif kiss close up

Karin masih mengenakan gaun sutranya, Aryan bilang lebih baik begitu untuk sementara. Lelaki itu tidak ingin Karin nanti kedinginan. Padahal sesuatu dari dalam diri Aryan telah bergejolak, otaknya memberi seruan agar ia segera menggalkan gaun tersebut dari tubuh Karin.

Ketika beberapa saat mereka mengurai cumbuan untuk saling mengambil napas, netra Karin yang sebelumnya menatap netra Aryan, kini perlahan-lahan turun ke arah bibir penuh pria itu. Karin memperhatikan belah bibir itu lekat, lalu ia berujar dengan lembut, “I missed this so bad.” Karin masih di sana, mengagumi bentuk ciptaan yang maha kuasa, matanya lantas nampak sedikit berkaca-kaca. “Dua tahun rasanya lama banget ya,” ujar Karin pelan.

Karin lalu menengadahkan wajahnya untuk kembali mempertemukan netranya dengan netra Aryan. Mereka sama-sama menunggu momen ini terjadi, melalui penantian demi penantian yang rasanya begitu panjang. Ada rindu yang terasa menyiksa, ada hangat tubuh dan aroma khas yang begitu didambakan.

Sebelum kembali melakukannya, Aryan memberikan usapan lembut di pipi Karin menggunakan ibu jarinya. Detik berikutnya, dengan sedikit menundukkan kepala, Aryan akhirnya bergerak mencumbu halus belah bibir Karin. Wanitanya menyambutnya dengan begitu mesra, rasanya ada rindu yang coba Karin salurkan melalui bibirnya yang kini membalas pagutan bibir Aryan.

Aryan pun memperdalam cumbuannya, seperti menikmati mie kuah favoritnya, begitu lah kira-kira gaya yang Aryan gunakan untuk memuaskan wanitanya. Ketika Aryan bergerak mempercepat temponya, ia dapat merasakan hembusan napas Karin dan mendengar lenguhan indah dari bibirnya, dan itu berhasil mengalirkan gelora-gelora asmara di sekujur tubuh Aryan.

Peluh nampak membanjiri pelipis Karin, selama mereka masih bercumbu, Aryan pun berusaha membantu Karin untuk mengusapnya. Dari pelipis hingga turun ke sisi wajah, rahang, dan kini tangan Aryan berhenti di pinggang ramping Karin. Aryan memberikan usapan sensual di sana, lelaki itu melakukannya dengan begitu apik. Karin juga memberikan respon yang baik, ia menahan tangan Aryan yang tengah berada di bagian belakangnya, mengisyaratkan lelaki itu untuk mengusap dua kembar miliknya di sana.

“Kak …” ucap Karin dengan napasnya yang terengah-engah.

“Iya, Sayang?” balas Aryan, ia menghentikan ciumannya, lalu sedikit menjauhkan wajahnya dari Karin untuk dapat menatapnya.

“Gerah banget, Kak,” Karin masih berusaha mengatur napasnya yang naik turun. Karin lantas mengalungkan kedua lengannya di leher Aryan, perempuan itu sedikit berjinjit agar pandangannya dapat lurus sejajar dengan Aryan.

Just open it, my gown,” ucap Karin lagi.

You sure?” tanya Aryan ingin memastikan.

Karin segera menganggukkan kepalanya. Berikutnya Aryan langsung bergerak mendekap tubuh Karin dengan kedua lengannya. Karin merasakan tangan Aryan sudah beranjak ke pundaknya, Aryan perlahan-lahan menurunkan gaun sutra itu dari sana, hingga bahu Karin kini tampak polos. Aryan menghujani kecupan-kecupan kecil di pundak Karin, tapi seperti yang sudah-sudah, itu tidak akan cukup di satu area. Aryan pun melancarkan kecupannya ke tulang selangka Karin dan menjelajahi hampir semua bagian leher wanitanya. Saat Aryan semakin dalam mencumbu, Karin memberikan usapan lembut di area belakang kepalanya, jemari lentik Karin menyelinap di antara helai halus surai legam milik Aryan.

You’re scent smell so good, Sweety,” ucap Aryan saat pria itu akhirnya selesai dengan kegiatannya. Aryan masih terengah di sana, rasanya seperti habis melakukan workout lebih dari 20 menit. Hampir semua tubuh bagian atas Karin telah Aryan jamah, gaun merah, tentu sudah tanggal dan terpental entah kemana.

Netra Aryan kini dengan jelas disuguhi tubuh bak jam pasir milik Karin. Hanya tersisa sebuah bra renda hitam dan underwear putih yang menutupi istrinya. Surai panjang Karin yang tergerai sepanjang punggungnya, menambah pesona menawan perempuan itu. Anggun dan cantik, Aryan hampir gila karena peringai Karina saat ini.

Damn it, you’re look freaking pretty, Sweety,” ujar Aryan dengan suaranya yang terdengar sedikit serak.

Karin lantas mengarahkan telunjuknya dan berhenti tepat di depan bibir Aryan, “Language, Baby,” ucap Karin seraya menampilkan sebuah senyum cantik di wajahnya.

Okey, I’m sorry Sweety. Aku tadi kelepasan.”

Karin tertawa pelan sekilas. “Oke then, it's oke. I think uhmm ... I like that, when you’re cursing.”

Really?” tanya Aryan sambil tersenyum, tapi ia masih tidak percaya kalau Karin justru menyukainya.

Yes. You look really hot while you’re doing it.”

You want more?” tanya Aryan.

Karin mengangguk sekali, “Hu-um, just do it when we’re doing it,” Karin menatap Aryan lekat, lalu ia kembali berujar, “And only for me*.” Karin menyukainya, ketika Aryan melakukannya. Umpatan yang justru terdengar manis saat Aryan mengucapkannya, serta gayanya ketika berbicara, membuat Karin ingin mendengarnya lagi dan lagi. Hanya ketika mereka melakukannya, hanya ketika mereka sama-sama dimabuk asmara. Mereka telah begitu jatuh satu sama lain, jatuh yang indah untuk yang kesekian kalinya.

***

Karin mengucapkan terima kasih kepada Aryan atas segalanya. Perlakuan pria itu padanya, selalu dapat membuat Karin merasa begitu dicintai. Aryan bersedia menunggu Karin menemui puncak pelepasannya. Mayoritas pada beberapa wanita, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menemui ujung sensasi kenikmatan saat bercinta, dibandingkan dengan pria yang biasanya bisa lebih cepat.

“Sayang, udah?” tanya Aryan sambil memperhatikan Karin yang berada di bawahnya. Napas Karin berhembus naik turun. Kemudian dengan perlahan, Karin menjawab dengan sebuah anggukan. Karin telah menemui pelepasannya, setelah mereka melakukannya beberapa kali, dari malam hingga kini waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.

“Kak, you are so amazing. I adore you, truly,” ucap Karin dengan suara pelan. Karin memejamkan matanya secara otomatis, ketika merasakan cairan hangat kini tengah memenuhi miliknya di bawah sana.

Saat Karin kembali membuka matanya, Aryan menatapnya lekat dan pria itu berujar, “You are more amazing, Sweety. Thank you for everything that you gave to me.” Aryan memberikan dua kali usapan lembut di kepala Karin.

Karin hanya menatap ke binar indah di mata Aryan ketika lelaki itu bergerak sekali lagi di atasnya. Gerakan indah pinggul Aryan saat mereka melakukannya, selalu membuat Karin terpana.

Begitu Aryan memperdalam miliknya pada milik Karin, Aryan memberi kecupan penuh cinta di bibir Karin. Karin bercucuran air mata, ketika sepenuhnya dirinya telah dipenuhi oleh Aryan. Karin tidak lagi memejamkan matanya, ia ingin melihat mata Aryan. Karin ingin merasakan pancaran cinta yang lelaki itu berikan untuknya.

“Aku lepas ya, Sayang?” Aryan bertanya lagi pada Karin.

“Iya, tapi pelan-pelan ya,” jawab Karin.

Aryan lantas menganggukinya. Setelah menyemburkan cairannya di surganya dengan cara menghentaknya sekali lagi, sebisa mungkin, Aryan pun melepaskannya dengan lembut. Selama proses itu terjadi, suara Karin yang sangat seksi mengelukan namanya terdengar memenuhi indera pendengaran Aryan. Karin mengelukan nama Aryan, bahkan hingga beberapa kali dan diiringi oleh dua buah umpatan.

Babe, language,” ucap Aryan sambil tertawa kecil.

Karin segera mengatupkan bibirnya. Saat Aryan bergerak mengambil selimut untuk mereka berdua, Karin mengatakan bahwa dirinya juga kelepasan mengucapkannya begitu saja. Berikutnya Aryan justru mendapat tatapan memicing dari Karin.

“Kamu bilangnya tadi mau langsug dilepas. Malah tambah cepet,” omel Karin.

Aryan mau tidak mau akhirnya tergelak. Wajah istrinya terlihat menggemaskan saat ini. “Kamu gemes banget sih kalau lagi ngomel gini,” ujar Aryan.

“Apaan tuh maksudnya tadi. Kenapa nggak langsung dilepas?” Karin masih menggerutu.

Bukannya dapat jawaban, Karin justru merasakan tubuhnya langsung didekap oleh Aryan. Perlahan tapi pasti, Karin balas melingkarkan kedua lengannya di tubuh besar Aryan.

“Tadi masih sisa sedikit, Sayang. Siapa tau di antara yang terakhir itu ada calon anak kita, kan sayang kalau dibuang gitu aja,” ujar Aryan.

Detik berikutnya, Karin bergerak mengurai pelukan mereka. Mata bulat Karin kini semakin terlihat besar kala menatap Aryan.

“Kamu nih ya, iseng banget sih. Kebiasaan,” ujar Karin.

“Tapi kamu suka, kan?” tanya Aryan dengan nada jenakanya.

“Suka, tapi sakit. Besok kalau aku nggak bisa jalan gimana.”

“Kalau besok kamu nggak bisa jalan, kamu istirahat aja di kasur. I will service you, my queen. Kamu mau apa? Aku turutin semuanya buat kamu.”

Karin mana bisa lama-lama mempertahankan rasa marahnya pada Aryan kalau begini caranya. Tingkah suaminya itu terlalu manis untuk dilewatkan. Karin tidak sanggup kalau Aryan sudah mengeluarkan jurus-jurus cintanya seperti tadi.

“Dimaafin nggak akunya?” tanya Aryan, suaranya terdengar lembut.

“Iya, aku maafin,” ucap Karin akhirnya.

“Maafin aku ya Sayang, janji deh nggak kayak gitu lagi. Okey?”

Karin mengangguk sekali. Kemudian tanpa Aryan sangka, Karin lebih dulu bergerak memangkas jarak mereka untuk mendekap tubuh Aryan. Karin memberikan usapan sayang di punggung polos Aryan. Saat keduanya hampir saja terlelap, rupanya Karin kembali membuka matanya.

“Kak, aku mau dipangku sama kamu,” celetuk Karin.

Aryan sedikit terkejut akan permintaan Karin itu. Namun ia telah berjanji untuk menuruti semua keinginan Karin. Maka akhirnya mereka bergerak untuk merubah posisi. Masih dengan tubuh yang polos, Aryan duduk dan menyandarkan punggungnya ke header kasur. Kemudian Karin mengambil posisi di atas pangkuan Aryan, Karin melingkarkan lengannya di pundak Aryan dan menyandarkan kepalanya di bahu lebar lelaki itu.

Katanya Karin ingin tidur dengan posisi mereka seperti ini. Karin sudah mulai mengantuk ketika sepuluh menit berlalu, tapi sebelum sempat memejamkan matanya, Karin mendongak lagi kala mendengar perkataan Aryan.

For the first time I heared you cursing, it is so cute, Sweety,” ujar Aryan.

It’s because of you,” balas Karin. Matanya terpejam, tapi jiwa Karin masih di sana.

Can I hear it again?” tanya Aryan.

Karin lantas bertanya dengan satu alisnya yang terangkat, “Hadiahnya apa kalau aku lakuin?”

“Hmm … hadiahnya satu paket ciuman dari Aryan Sakha. Gimana?”

Oke, deal. Tapi kasih hadiahnya dulu, nanti baru aku lakuin,” ucap Karin.

Aryan lantas mengangguk setuju. Kemudian dengan sedikit memiringkan kepala, Aryan mulai bergerak mengulum bibir Karin. Selama itu terjadi dan semakin jauh mereka bercumbu, Karin yang semula membaringkan tubuhnya pada dada bidang Aryan, kini telah menegakkan punggungnya. Masih duduk di atas pangkuannya Aryan, Karin pun membalas lumatan demi lumatan yang Aryan berikan padanya.

couple kissing sit down

“Akhh …” lenguh Karin sesaat setelah Aryan melancarkan lidahnya ke dalam rongga mulut Karin. Karin merasakann ini begitu nikmat, hingga tubuhnya memberi respon cepat, menggeliat mengikuti irama penyatuan tersebut.

Aryan mendekatp tubuh Karin untuk masuk kedalam pelukan hangatnya. Peluh mereka yang saling bertukar, merdunya lenguhan Karin, semuanya terasa begitu sempurna. Tidak hanya itu, Aryan tidak pernah lupa memberikan service luar biasa pada Karin. Jemari Aryan menari di punggung polos Karin, memberikan sensasi menakjubkan untuk wanitanya.

Shit.” Umpatan Karin akhirnya lolos begitu saja dari mulutnya. Mereka pun menjauh sesaat, Karin menatap Aryan dengan pandangan penuh cintanya, lalu tidak lama dari itu, Karin menangkup kedua sisi wajah Aryan menggunakan kedua tangannya. Sebelum kembali mencumbu milik prianya, Karin pun berujar, “I want you more, again, and always.”

Karin menjelajahi wajah Aryan, lalu Karin memberi ciuman di bibir lelakinya. Di sela-sela kegiatan tersebut, Karin tanpa sadar mengumpat lagi. “Fuck,” ujar Karin dengan napasnya yang tidak beraturan. Saat Aryan menatapnya sambil menampilkan senyum manisnya, Karin sadar bahwa ia sungguh dibuat gila karenanya.

Let’s do it again before we get sleep,” ujar Karin kemudian.

Aryan segera mengangguk, lalu netanya menjejalajahi paras cantik Karin. Sebelum hendak kembali mencumbu bibir manis Karin, Aryan mengatakan sesuatu. “Sayang, kemungkinan kamu bisa langsung hamil lho kalau gini.”

It’s good then,” balas Karin sambil menampakkan senyum kecilnya. Karin masih menatap Aryan lekat, ia mengatakan bahwa ada informasi yang perlu Aryan ketahui. “Kalau perhitungan aku nggak salah, ini hari ke sepuluh setelah hari pertama aku datang bulan.”

Aryan nampak mencerna ucapan Karin itu. Sebagai seorang suami, Aryan lumayan banyak cukup tahu tentang cara menghitung siklus masa subur seorang perempuan. Perempuan biasanya menghitung masa subur mereka dari hari pertama menstruasi terakhirnya. 10-17 hari sejak hari tersebut, maka itulah yang dikatakan masa subur bagi seorang wanita.

Kedua kelopak mata Aryan lantas melebar. Detik berikutnya, mereka bersamaan mengulaskan sebuah senyuman.

“Sayang, kamu mau berapa babak lagi? We can do it until dawn if you want it too,” ujar Aryan.

“Kamunya kuat emang? Nggak capek?” tanya Karin sambil memicingkan matanya.

Aryan selalu punya jawaban di kepalanya. Lantas sambil menyunggingkan senyum menggoda, lelaki berparas orientel itu berujar, “Kamu bisa buktiin sendiri, seberapa kuat suami kamu, Sayang. Gimana?”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karina Titania Roland S.Mb. Dalam hatinya, Karin membaca nama yang kini telah diikuti oleh sebuah gelar di belakangnya. Pada selembar sertifikat kelulusan yang kini dipegangnya, nama itu jelas tertulis di sana. Karin berhasil mendapatkan gelar Sarjana Manajemen Bisnisnya berkat perjuangan dan kerja kerasnya selama ini.

Dalam menjalani kehidupan, tentunya seseorang akan selalu membutuhkan semangat dari orang-orang sekitarnya. Saat kita punya tujuan hidup yang jelas dan memiliki orang-orang yang selalu mendukung kita, maka punya alasan untuk bertahan. Mereka merupakan alasan dari surutnya air mata. Mereka adalah alasan sebuah senyum tulus yang terlukis di wajah. Sederhana, tapi rasanya begitu berharga.

Acara wisuda kelulusan Karin hari ini telah selesai. Kini di lapangan berumput luas di depan sebuah gedung rektorat universitas, para wisudawan tengah melakukan sesi foto. Sudah menjadi ciri khas tersendiri setiap tahunnya untuk mengambil foto di depan gedung ini pasca acara kelulusan. Ada yang melakukannya dengan keluarga, sahabat, pacar, bahkan suami ataupun istri. Jenis yang terakhir tentunya hanya dilakukan bagi yang sudah memiliki keluarga sendiri.

Karin termasuk ke dalam jenis orang yang terakhir, yakni yang memiliki keluarga kecilnya sendiri. Hari ini mereka telah menyewa seorang fotografer khusus untuk mengambil potret kelulusan Karin.

Karin terlihat cantik dengan kebaya biru dongkernya, senada dengan kemeja yang dikenakan oleh Aryan dan Svarga. Sebelum sang fotogafer mengambil foto mereka bertiga, Karin meminta waktu sebentar untuk membenarkan rambut anak lelakinya yang sedikit berantakan. Bocah berusia dua tahun itu mengacak rambutnya yang telah ditata rapi menggunakan kedua tangan kecilnya. Setelah selesai merapikan rambut Svarga, rupanya Karin kembali meminta waktu lagi pada fotografernya.

“Mas, sebentar ya,” ujar Karin lagi sambil menampakkan cengiran kecilnya.

“Kenapa lagi Sayang?’ tanya Aryan yang berada di sampingnya.

Karin lalu sedikit berjinjit, dan dengan satu tangannya yang tidak menggandeng Svarga, Karin gantian merapikan kerah kemeja Aryan.

“Ini kerah kemeja kamu agak berantakan,” ujar Karin yang masih dengan kegiatannya merapikan pakaian Aryan. Selang beberapa detik kemudian, akhirnya Karin berujar lagi. “Oke, udah nih. Yuk, kita foto.”

Setelah memberi aba-aba pada sang fotografer, akhirnya mereka bertiga mengambil potret tersebut. Terdapat beberapa foto yang berhasil tertangkap oleh kamera. Dari mulai yang bergaya formal hingga beberapa pose jenaka yang begitu terlihat sangat natural karena mereka membawa seorang balita untuk ikut berfoto. Namun pose tersebut justru menjadi yang paling lucu dan berkesan diantara yang lainnya. Hasil foto tersebut langsung dapat di cetak dan mereka juga akan dapat soft copy-nya yang nanti akan dikirim menyusul.

Saat Aryan dan Karin sampai di mobil, mereka meletakkan Svarga di car seat khusus balita. Setelah memastikan anak mereka terlelap nyaman di sana, Aryan dan Karin melihat-lihat lagi hasil dari cetakan foto yang telah dicetak.

Setelah puas melihat-lihat, Karin merapikan kembali hasil fotonya dan memasukkannya ke dalam sebuah map, lalu ia menoleh ke samping dan menatap Aryan.

“Sayang, selamat ya. Kamu berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan,” ucap Aryan.

Karin kantas mengulaskan senyumnya. “Aku bisa berhasil karena support dari orang-orang terdekatku. Kamu, Svarga, orang tua kita, dan juga sahabat-sahabatku. Terutama kamu, makasih ya Kak.” Karin menjeda ucapannya selama beberapa saat. Kemudian ia teringat mengenai sesuatu. Ia ingat tentang kenaikan jabatan yang didapatkan oleh Aryan. Berkat ketekunan lelaki itu, Aryan kini telah diangkat menjadi manager divisi pemasaran di Harapan Jaya Group.

“Kak, aku punya hadiah buat kamu,” Karin mengambil sesuatu dari dalam tasnya. “Selamat ya Kak, kamu berhasil mendapatkan jabatan itu. You really deserved it. I'm sorry because I'm late, but late is better than never, right?,” ucap Karin sembari menyerahkan kotak di tangannya kepada Aryan.

Aryan lantas menatap sebuah kotak berwarna biru berukuran sedang yang diberikan oleh Karin. Setelah Karin memintanya membuka kotak tersebut, Aryan segera melakukannya.

Di dalam kotak itu, terdapat sebuah jam tangan rolex yang modelnya nampak sangat sesuai dengan seleranya. Aryan langsung mengambilnya dan memakai jam tangan tersebut di tangan kirinya. Kemudian senyum cerah mengembang di wajahnya.

“Kamu suka sama jam tangannya?” tanya Karin sambil memperhatikan jam tangan pemberiannya di pergelangan tangan Aryan.

“Suka banget, Sayang. Makasih ya,” ucap Aryan. Detik berikutnya, Aryan menatap Karin dan menyematkan sebuah kecupan manis di pelipis wanitanya.

“Kak, aku mau nanya sesuatu. Soal S2 kamu, gimana jadinya? Kamu jadi mau lanjutin kuliah, kan?” tanya Karin. Mereka masih di sana, Aryan baru akan menjalankan mobilnya, tapi aksinya itu terhenti kala Karin melemparkan pertanyaan padanya.

Aryan segera menoleh ke arah Karin, ia menatap perempuannya berkat ucapannya barusan. Tiba-tiba air muka Aryan nampak berbeda, ada guratan kesedihan di sana. Perasaan sedikit tidak nyaman tersebut juga yang sebenarnya dirasakan oleh Karin. Jika Aryan melanjutkan S2nya, ada kemungkinan bahwa suaminya harus ke luar negeri untuk menempuh pendidikan tersebut.

Pendidikan S2 di dalam negeri sebenarnya tidak kalah bagus, tapi dari pihak kantor menyarankan agar Aryan menempuh pendidikan tersebut di Australia. Aryan telah bersedia untuk menjadi kandidat CEO yang selanjutnya. Maka dari itu, paling tidak ia harus mendapat pendidikan magisternya.

“Karin, aku nggak bisa jauh dari kamu dan Svarga,” ucap Aryan beberapa saat setelah mereka hanya saling diam.

Karin tahu bahwa ini tidak akan mudah untuk keduanya. Namun Karin berusaha memantapkan hatinya dan bersikap bijak. Suaminya bukan hanya miliknya seorang diri, Karin tidak ingin lebih mementingkan dirinya dan membuat egonya menang.

“Aussie indo kan deket, Kak. Nanti kalau kerjaan aku di sini udah selesai, aku sama Svarga bisa nyusul kamu,” tutur Karin dengan sebuah senyum kecil di wajahnya. Karin berusaha menahan air matanya agar tidur lolos begitu saja. Jika ia menangis, Karin yakin hal itu akan semakin membebani suaminya untuk pergi.

“Kamu beneran nggak papa kalau aku pergi?” tanya Aryan kemudian.

Karin mengulaskan senyum kecilnya, lalu ia mengangguk yakin. “Beneran, Kak. Aku kan nggak berdua aja sama Svarga. Ada papa dan mama, Kavin, Nayna, kak Syerin, mama Vanessa. Kamu nggak perlu khawatir ya, aku sama Svarga bakal baik-baik aja. Kita selalu dukung hal baik yang akan kamu lakukan. Oke?”

Beberapa detik kemudian, Aryan akhirnya setuju dan mereka telah sepakat. Berikutnya tanpa aba-aba apa pun, Karin bergerak untuk memeluk torso Aryan, pelukan tersebut terasa cukup erat. Posisi mereka kini terlihat agak sulit, Aryan maupun Karin harus mencondongkan tubuh mereka dengan cukup ekstra agar keduanya bisa saling mendekap.

“Nanti kalau kamu kangen sama aku dan Svarga, kita bisa telfonan atau video call,” ucap Karin pelan dengan posisi keduanya yang masih saling memeluk. Tanpa Aryan dapat melihatnya, satu tetes air mata Karin kini telah meluncur mulus membasahi pipinya.

Aryan pun mengeratkan pelukannya di tubuh Karin, ia meletakkan dagunya di bahu wanitanya. Dengan gerakan vertikal, tangan Aryan kemudian bergerak mengusap lembut punggung Karin. “Aku bakal sering-sering telfon kamu,” ujarnya.

Meskipun tahu nantinya akan ada waktu untuk bertemu, perpisahan tetap akan terasa menyakitkan. Ketika mengetahui seseorang yang kita cintai berada jauh dari kita, kita tidak dapat memungkiri bahwa rasanya akan begitu hampa dan kehilangan.

Namun Aryan dan Karin telah memutuskan untuk rela melakukannya. Mereka mempunyai kepercayaan yang kuat terhadap satu sama lain. Mereka percaya bahwa rasa cinta yang tulus tidak akan bisa dipisahkan oleh jarak sejauh apapun. Raga memang tidak bersama, tapi hati mereka selamanya akan selalu terhubung. Aryan dan Karin akan setia menunggu sampai hari dimana mereka akan kembali bertemu.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Satu tahun sudah berlalu sejak kelahiran Svarga. Itu artinya Karin juga telah selesai dari cuti pekerjaannya. Sejak minggu lalu, Karin sudah kembali bekerja. Hari ini Karin ada pemotretan untuk salah clothing line milik brand lokal.

Kalau satu tahun yang lalu, Karin hanya perlu mempersiapkan dirinya sebelum berangkat bekerja, kini Karin memiliki tanggung jawab yang harus dikerjakannya sebelum dapat meninggalkan rumah. Ada dua manusia yang harus diurusnya, yakni satu manusia kecil dan satunya manusia besar. Karin harus memastikan mereka aman sentosa saat nanti ia tinggalkan.

Biasanya Karin akan memilih menyuapi Svarga dan memandikannya lebih dulu. Sembari membuat makanan untuk anaknya, Karin akan sekalian memasak makanan untuk suaminya. Karin telah belajar beberapa menu kesukaan Aryan dan saat ini sudah semakin ahli ketika membuatnya.

Pagi ini setelah anaknya selesai makan dan mandi, Karin meletakkannya di arena bermain bayi yang terdapat di ruang tamu. Setelah itu Karin segera bergegas menyiapkan pakaian kantor untuk Aryan. Karin biasanya meminta bantuan mbak Fitri untuk menjaga Svarga selama ia tengah mengurus keperluan Aryan. Terkadang juga suaminya itu masih harus di bangunkan olehnya, tapi beberapa kali lelaki itu bisa bangun sendiri. Karin bangga akan hal itu. Meski harus gagal beberapa kali, Aryan tetap berusaha mencobanya.

“Sayang, Svarga mana?” tanya Aryan begitu mendapati Karin memasuki kamar seorang diri. Biasanya Karin sedang menggendong Svarga atau anaknya itu ada di kamar ketika Aryan terbangun.

“Udah makan sama mandi, udah ganteng anak kamu. Tinggal Papanya nih, masih bau iler,” cetus Karin.

“Mana iler?” tanya Aryan sembari mengarahkan tangannya untuk meraba area di sekitar dagu dan dekat bibir. Setelah Aryan mendapati Karin tersenyum jahil, Aryan segera meraih lengan Karin agar perempuan itu semakin dekat padanya.

“Sini aku cium kamu,” celetuk Aryan.

“Nggak mau, kamu belum mandi Kak,” balas Karin sambil menghindar dari Aryan yang sudah akan mencondongkan diri ke arahnya.

“Emangnya aku bau?” tanya Aryan kemudan.

“Enggak sih.”

“Jelas, mana ada aku bau. Orang kamu ciumin aku terus kalau tidur.”

Karin seketika menampakkan sebuah cengiran manis di wajah cantiknya kala mendengar kalimat Aryan itu.

“Padahal kan kamu tidur, kok tau sih kalau aku ciumin?” Karin nampak keheranan.

“Tau dong. Orang kamu nyiumnya brutal,” terang Aryan.

Pada akhirnya Karin pun tergelak. Setiap Karin tertawa bahagia seperti ini, Aryan selalu merasa bahwa Tuhan sedang memberkatinya. Aryan dapat menyaksikan senyum dan tawa orang yang ia cintai, itu adalah kebahagian yang bernilai besar untuknya.

Saat perlahan-lahan tawa Karin akhirnya reda dan tatapan mereka bertemu, mereka hampir sama-sama ingin mengucapkan sesuatu. Namun akhirnya Karin mempersilakan Aryan untuk mengatakannya lebih dulu.

Happy second wedding anniversary, Sayang. You have to know that two year that we’ve been through, my love for you is still the same. I love you endlessly, not only two year, but it last until forever,” tutur Aryan.

Karin tersenyum lebar mendengarnya. “Aku sebenarnya mau ngucapin juga. Selamat anniversary pernikahan yang kedua ya, Sayang. Semoga kita bisa saling terus mencintai dan kalau ada masalah, kita bisa menyelesaikannya sama-sama,” ujar Karin.

Aryan lantas mengangguk. Satu tangan Aryan lalu terangkat untuk mengusap lembut puncak kepala Karin hingga turun ke pipinya. “Hari ini hari pertama kamu kerja lagi, kan? Nanti aku jemput ya. Kamu selesai jam berapa?”

“Uhmm … kayaknya jam 3 sore udah selesai deh. Nanti aku kabarin kamu lagi. Tapi kamu bukannya kerja hari ini? Kok bisa jemput aku?” Karin baru tersadar. Ini kan hari kerja dan biasanya jam pulang kantor suaminya itu pukul 6 sore. Karin segera memicingkan matanya dan menatap Aryan dengan tatapan meminta penjelasan.

“Aku udah siapin hadiah buat anniversary kita. Khusus hari ini, aku bisa pulang cepet dari kantor,” terang Aryan.

“Jadwal kamu bukannya lagi padet banget Kak di kantor? Nggak papa kalau misalkan nggak bisa hari ini, pas weekend aja. Jadi kita undur rayainnya. Gimana?” Karin memberikan sebuah usul agar pekerjaan suaminya tidak terganggu.

Aryan pun nampak berpikir sejenak. Tidak lama kemudian, lelaki itu meraih satu tangan Karin. Setelah mengusapnya lembut, Aryan memberikan sebuah kecupan di punggung tangan Karin.

“Aku udah izin sama papa buat pulang cepet hari ini. Kamu lupa kalau perusahaan tempat aku kerja itu punya papa?” ujar Aryan.

“Ohh ... gitu. Ya aku nggak lupa sih. Tapi bener juga, kamu anaknya yang punya kantor. Yaudah, nanti sore kita rayain anniversary kita ya,” ujar Karin sembari mengulaskan senyum hangatnya.

“Oke. Aku mandi dulu kalau gitu. Pagi ini ada rapat di divisiku. Kamu berangkat ke tempat pemotretannya jam berapa?” tanya Aryan.

“Jam 10. Nanti aku berangkat sama supir aja,” terang Karin.

“Nggak bareng aku dong?” tanya Aryan.

Dua tahun usia pernikahan mereka, Aryan masih lah suaminya yang sama, yang bisa berubah clingey di hadapannya dan sebisa mungkin selalu berusaha agar berada di dekatnya.

“Kita cuma nggak berangkat bareng, Kak. Nanti sore kan kita ketemu. Udah, kamu mandi dulu sana, nanti telat ke kantor lho,” ujar Karin. Pada akhirnya Aryan mengangguk dan menuruti perkataan Karin. Aryan pun segera beranjak dari kasur untuk pergi mandi. Namun tepat sebelum itu terjadi, pergerakannya ditahan oleh Karin. Tatapan mereka lantas bertemu dan keduanya saling mengunci pandangan satu sama lain.

Karin akhirnya lebih dulu memangkas jarak yang ada di antara mereka, hingga udara saja enggan bergabung untuk mengusik suasana romantis tersebut. Kedua mata Aryan otomatis terpejam begitu merasakan sesuatu yang kenyal dan lembut tengah menyapa belah bibirnya.

Karin mencium Aryan lembut, pergerakannya terlihat lihai, tapi tetap terasa pasti. Aryan pun lekas membalas ciuman Karin dengan tidak kalah mesra, bahkan ia memberikan gigitan kecil di bibir bawah Karin.

Sensasi berciuman di pagi hari memang selalu terasa dahsyat dan menyenangkan. Maka sejak Aryan dan Karin memutuskan untuk bersama dua tahun yang lalu, setiap malam keduanya selalu menggunakan obat kumur sebelum pergi tidur. Aroma buah lemon bercampur mint yang segar, itulah aroma yang mereka rasakan ketika keduanya saling mencumbu. Aryan dan Karin selalu ingin memberikan yang terbaik untuk masing-masing, begitu lah mereka menjalani kehidupan pernikahan selama dua tahun ini.

***

Satu tahun vakum dari dunia permodelan dan kini telah kembali, rasanya Karin begitu merindukan semua yang berhubungan dengan pekerjaannya. Studio pemotretan, catwalk, serta waktu-waktu yang ia habiskan bersama teman-teman model sejawatnya saat backstage.

Kedatangan Karin disambut begitu hangat oleh teman-teman sesama model, makeup artist, dan juga para stylist. Satu persatu yang ada di sana memeluk Karin secara bergantian. Begitu Karin bertemu Jihan yang giliran mendekapnya terakhir, sahabatnya itu membisikkan sesuatu di dekat telinga Karin.

“Rin, lo harus tau. There’s so many designer wants you to wear their design. They’re really waiting for you're comeback,” ujar Jihan.

Begitu pelukan mereka terurai, Jihan kembali mengatakan sesuatu kepada Karin. “Ini baru project kecil yang akhrinya lo terima setelah cuti panjang. Masih banyak project besar yang menanti lo. Oh iya, lo pasti udah liat berita di sosial media, kan?”

Berkat pertanyaan Jihan di akhir kalimatnya itu, Karin pun menjawab dengan sebuah anggukan. Nama Karin kembali baik usai isu perselingkuhan yang telah mencoreng namanya dan juga sempat mengancam karirnya.

Karin mendapatkannya kembali berkat kerja keras dan dukungan orang-orang tercintanya. Selain itu, ada pembuktian bahwa Karin dijebak, jadi semua yang terjadi adalah sebuah kecelakaan. Ternyata dalam waktu yang cukup lama dari masa cutinya, alam tidak diam begitu saja. Sesuai hakikatnya, hukum karma pun bergerak selaras dengan rencana yang telah Tuhan tetapkan.

“Jih, tapi gimana bukti-bukti itu akhirnya bisa kesebar?” tanya Karin pada Jihan. Dari awal Karin memang telah memutuskan untuk tidak mengungkap pelakunya. Bukti yang tersebar adalah benar, tapi bukan dari pihak Karin yang akhirnya mengungkap siapa dalang di balik kecelakaan tersebut.

Jihan segera menjawab dengan sebuah gelengan kepala. “Gue juga nggak tau pasti Rin. Tapi yang jelas, beritanya heboh banget di berbagai platform. Semuanya terungkap gitu aja.”

Seorang stylist bernama Cynthia tiba-tiba datang dan menginterupsi percakapan keduanya. Cynthia mengatakan bahwa Jihan harus segera di makeup karena sebentar lagi gilirannya untuk pemotretan.

Sebelum pergi dari hadapan Karin, Jihan menatap sahabatnya itu dan mengatakan sesuatu. “As your friend, I’m really proud of you, Rin. Mungkin kalau gue yang ada di posisi lo, gue nggak bisa diam aja. Gue akan mengungkap perbuatan dia dengan tangan gue sendiri. Tapi ternyata Tuhan bener-bener adil ya. Tuhan dengerin banget doa-doa lo selama ini. Saat seseorang ngehancurin hidup orang lain, sebenarnya dia lagi daftarin hidupnya sendiri untuk dihancurin balik. Karma is really existed.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Usia kandungan Karin saat ini telah memasuki 39 minggu. Sebelumnya Aryan dan Karin memang telah berencana untuk menggunakan metode water birth untuk kelahiran anak pertama mereka. Setelah melakukan konsultasi dengan dokter dan mendapat berbagai pertimbangan, akhirnya Karin dan Aryan sepakat agar menggunakan metode tersebut untuk proses persalinan.

Karin sudah merasakan kontraksi di perutnya sejak tadi malam. Hingga saat pagi hari tiba, begitu tenaga medis membantu mengecek, ternyata pembukaan jalan lahir sudah sampai ke pembukaan 4. Berbagai persiapan pun segera dilakukan. Sekitar pukul delapan pagi, 2 orang tenaga medis serta 1 dokter sudah siap membantu Karin untuk melakukan persalinannya.

Di lantai satu rumah mereka, sudah disediakan sebuah bak air yang telah diisi dengan air hangat yang dipastikan steril. Tempat persalinan pun harus dibuat senyaman mungkin, dengan tujuan membuat sang ibu dapat lebih rileks saat menghadapi rasa sakit dari proses melahirkan.

Karin masih berada di kamarnya, ia baru saja selesai mengganti dress tidurnya dengan sebuah sport bra hitam dan sebuah handuk yang melilit pinggangnya. Aryan berada di sana bersama Karin, selalu berada di sisinya dan berusaha menenangkannya.

“Kak,” ujar Karin pelan. Karin duduk di tepi ranjang dan Aryan berdiri di hadapannya. Karin lantas mendongakkan kepalanya untuk dapat menatap Aryan.

“Kenapa, Sayang?” balas Aryan kemudian, tatapannya begitu teduh dan lembut menatap Karin.

“Aku takut, Kak. Semuanya bakal baik-baik aja, kan?” tanya Karin.

Meskipun Aryan memiliki kekhawatiran yang sama dengan Karin, ia akan berusaha untuk tidak memperlihatkan itu di hadapan istrinya.

“Kalau kamu takut, itu wajar, Sayang. Ini momen pertama buat kamu. Tapi kamu tau, hari ini akan jadi hari yang spesial buat kamu dan juga buat aku. Anak kita akan lahir, kamu senang kan mau ketemu sama dia?” tutur Aryan lembut.

Karin perlahan-lahan akhrinya mengangguk. Perkataan Aryan terasa benar di hatinya. Tidak masalah saat merasa takut, itu hal yang wajar. Karin memiliki sosok yang menguatkannya, Aryan dan anak mereka. Selain itu, rasa cinta Karin pada anaknya melebihi rasa cintanya terhadap dirinya sendiri. Begitulah sejatinya seorang ibu, sesakit apapun akan tetap dilalui demi sang buah hati.

Detik berikutnya, Karin segera bergerak dari posisinya. Karin berdiri dan sedikit berjinjit untuk meraih Aryan ke dalam pelukannya. Dalam dekapan tersebut, Karin selalu dapat merasa nyaman dan tenang. Aryan adalah rumah baginya.

Beberapa detik kemudian akhirnya pelukan mereka terurai, Aryan menatap Karin sembari berujar, “Satu hal yang kamu harus tau, Sayang.” Aryan mengarahkan tangannya untuk menangkup kedua sisi wajah Karin, ia menatap wanitanya dengan tatapan penuh afeksi. “Aku ada sini terus sama kamu. Kamu pegang tangan aku ya,” sambung Aryan.

***

Bak air yang berukuran cukup besar itu menjadikannya sangat cukup untuk ditempati oleh Karin dan Aryan. Sudah sekitar 2 jam lebih Karin menghadapi rasa sakit dan berjuang melahirkan anak mereka. Aryan berada di belakang Karin, mendekap tubuh wanitanya, dan selalu memberikannya semangat.

Dua orang tenaga medis pun turut membantu Karin, beberapa kali mengecek ke bagian bawahnya untuk memastikan kondisi si bayi. Saat sudah mencapai pembukaan sepuluh, seorang dokter lantas memberi Karin instruksi untuk mengejan. Karin diarahkan untuk mengambil napas, lalu menghembuskannya, dan melakukan dorongan semampunya dengan perlahan-lahan.

Beberapa kali juga, Karin merubah posisinya untuk mendapat spot ternyaman. Kali ini Karin ingin menghadap Aryan. Karin membutuhkan lelaki itu untuk menguatkannya. Dengan posisi berhadapan dan saling berpelukan ringan, kini Karin tengah menyandarkan kepalanya di dada bidang Aryan, mencari kenyamanan dan kekuatan di sana.

Aryan sesekali memberikan kecupan di kening Karin dan mengusap peluh yang membanjiri pelipisnya. Aryan kemudian berujar pelan di dekat Karin, “Sayang, kamu pasti bisa laluin rasa sakit ini. Kamu perempuan hebat dan kuat. I love you.”

Mata Karin yang memang sebelumnya sudah berkaca-kaca, saat mendengar kalimat yang diutarakan oleh Aryan, seketika membuat tangisnya pecah. Rasa sakit akibat proses melahirkan bercampur rasa cinta yang Aryan berikan padanya, akhirnya tidak kuasa membuat Karin menahan lagi tangisnya.

Tiga puluh menit berlalu setelah itu, dengan perjuangan yang begitu luar biasa, akhirnya suara tangis bayi terdengar begitu kuat terdengar memenuhi ruangan tersebut. Karin telah berhasil melahirkan anaknya. Dengan kedua lengannya, Karin lantas memeluk putranya untuk yang pertama kali. Karin masih berada di dalam di dekapan Aryan, membuat lelaki itu kini dapat merengkuh dua dunianya yang begitu berharga. Mereka memandangi wajah anak mereka bersama, bahkan tangis Aryan pecah juga saat menyaksikan anaknya menatap ke arahnya.

Karin mengusapkan ibu jarinya perlahan di pipi lembut anaknya, lalu ia berujar, “Hai, anak Mama dan Papa.” Karin lalu mendongak, mempertemukan netranya dengan Aryan, “Sayang, liat. Hidungnya mirip kamu banget,” ujarnya.

Aryan lantas mengulaskan senyum lebarnya, lalu dengan gerakan lembut, Aryan menyematkan sebuah kecupan di pipi anaknya. Bayi lelaki yang berada di dalam pelukan kedua orang tuanya itu memiliki kedua mata yang begitu mirip dengan mamanya, tapi sisanya hampir semua mengambil gen dari papanya. Bentuk hidung mancungnya persis seperti milik Aryan, bibirnya juga persis dengan milik lelaki itu.

Karin telah melewati perjuangan yang begitu besar untuk melahirkan anak pertamanya, dan pengalaman ini tentunya tidak akan Karin dan Aryan lupakan. Karin merasa begitu utuh dan sempurna menjadi seorang perempuan yang bisa melahirkan seorang nyawa baru ke dunia.

Setelah proses pengeluaran plasenta yang nyatanya lebih sakit dari proses melahirkan itu sendiri, Karin pun diperbolehkan untuk beranjak dari bak air. Namun tepat sebelum itu, posisi Karin yang berhadapan dengan Aryan, memudahkannya untuk memberikan kecupan di bibir lelakinya. Netra Aryan melebar selama beberapa detik karena terkejut mendapati serangan mendadak dari Karin, tapi ia segera beralih untuk membalas ciuman itu. Adegan tersebut mau tidak mau disaksikan oleh tenaga medis dan dokter yang masih berada di sana. Mereka otomatis mengulaskan senyum terharu sekaligus bahagia, menyaksikan dua sejoli bersatu dalam ikatan cinta yang begitu kentara.

Setelah ciuman itu akhirnya terurai, Aryan mendekatkan Karin padanya, memangkas jarak yang ada di antara mereka, tapi tidak sampai habis seperti biasanya. Kini ada kebahagiaan baru yang tengah hadir di antara keduanya, yakni bayi lelaki tampan yang mereka beri nama Svarga Tarendra Brodjohujodyo. Svarga memiliki arti surga dalam bahasa sanskerta. Tarendra memiliki arti pangeran bintang, dan Brodjohujodyo adalah nama keluarga yang memang diwariskan untuk keturunan-keturunan selanjutnya.

Aryan dan Karin sengaja memilih nama Svarga, karena bagi mereka, Svarga merupakan anugerah selayaknya surga yang sebelumnya telah mempersatukan cinta mereka.

Svarga (dibaca) : Varga

***

Setelah hampir satu jam lebih memejamkan matanya, Karin akhirnya terbangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa jauh lebih baik saat ini. Energi Karin seperti diisi ulang kembali, setelah melewati lelah letihnya sebuah proses melahirkan.

Ketika Karin menyandarkan punggungnya ke header kasur di kamar, ia mendapati Aryan membuka pintu kamar dengan menggendong anak mereka di dalam dekapan lelaki itu.

Aryan segera mendekat pada Karin, masih dengan menimang pelan Svarga di gendongan, keduanya pun menatap wajah Svarga bersamaan.

“Anteng banget kamu, Nak. Di gendong siapa sih emangnya?” ujar Karin sembari menjawil pelan pipi halus Svarga.

Detik berikutnya, Karin mendongakkan kepalanya untuk mempertemukan netranya dengan netra Aryan.

“Karin,” ujar Aryan kemudian.

“Iya Kak?”

Wajah Aryan yang semula nampak biasa saja, kini air mukanya berubah sedikit memerah dan terlihat kilatan bening di kedua bola mata tersebut. Aryan lantas bergerak mengambil posisi di tepi ranjang, ia duduk di sana.

“Terima kasih ya, kamu udah melahirkan Svarga,” ucap Aryan sembari tidak melepaskan pandangannya dari Karin. Aryan lantas mengulaskan senyum bahagianya, ia menatap Karin dengan pancaran cinta yang begitu dapat dirasakan oleh Karin sendiri.

Karin masih terdiam di tempatnya mendapati kalimat Aryan. Beberapa detik berlalu, Karin pun mengalihkan pandangannya dari Aryan. Karin lantas meletakkan tangannya di atas tangan Aryan yang tengah mendekap Svarga.

“Kak, aku juga terima kasih sama kamu. Tanpa kamu, mungkin aku nggak akan bisa sekuat ini untuk melahirkan Svarga. Perjuangan aku yang berhasil melahirkan Svarga, di dalamnya ada peran kamu yang besar banget. Makasih ya,” tutur Karin.

Detik berikutnya, mereka bersamaan mengulaskan senyum simpul. Aryan dan Karin telah berhasil mewujudkan kebahagiaan untuk mereka, dan juga surga yang sejak awal telah mempersatukan keduanya. Aryan dan Karin belajar untuk saling mencintai setelah di awal mereka pernah sama-sama dihancurkan oleh keadaan. Namun berkat usaha dan tekad kuat keduanya, Aryan dan Karin telah berhasil mewujudkan kebahagiaan yang mereka impikan sebelumnya.

Svarga

Mom and Baby Hand

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

5 Tahun Kemudian …

Siang ini sebuah supermarket di salah satu pusat perbelanjaan di pusat kota, nampak cukup ramai oleh pengunjung. Mayoritas pengunjung di sana adalah para wanita muda sampai dengan yang berusia lebih tua. Ada yang berbelanja seorang diri, ada yang ditemani suami serta anak mereka, dan berbagai jenis pengunjung lainnya.

Di deretan produk dairy, nampak seorang perempuan berusia 36 tahun tengah melihat-lihat. Matanya memindai mencari sebuah merek dari kulkas yang menyajikan susu dengan berbagai rasa dalam kotak kemasan berukuran 1 liter tersebut. Begitu matanya menangkap sebuah kotak coklat yang fameliar, tangannya segera bergerak untuk mengambil barang tersebut.

Namun aksinya terhenti begitu saja kala tangannya bersinggungan dengan tangan seorang wanita. Begitu ia menoleh untuk melihat wanita itu, pandangannya sama sekali tidak dapat lepas dari sosok yang kini ada di hadapannya. Wanita paruh baya itu juga tengah menatapnya, matanya menyorotkan sebuah penyesalan yang terasa begitu menyakitkan.

“Mama,” ucap Karin akhirnya setelah keduanya terdiam cukup lama.

Karin tidak dapat menahan rasa sesak yang tiba-tiba saja menyerang dadanya. Rasanya seperti mimpi, entah harus bagaimana, rasa senang atau sedih yang harusnya dirasakan oleh Karin. Perempuan itu juga tidak tahu bagaimana harus mendeskirpsikannya.

***

Kini di sebuah kafé bergaya minimalis dengan nuansa warna earthtone, Karin dan wanita yang ia panggil mama beberapa saat lalu, tengah duduk berhadapan di salah satu meja. Dua buah minuman tampak tersaji di meja mereka, tapi belum ada yang berniat untuk menyentuh gelas itu.

Mereka dipertemukan kembali setelah 21 tahun berlalu. Waktu yang cukup lama itu, rupanya begitu menorehkan luka di hati Karin dan Diana mengetahui itu. Dari tatapan mata putrinya, Diana dapat merasakan kekecewaan yang begitu mendalam.

“Karin, maafkan Mama,” ucap Diana memulai pembicaraan.

Mereka ke sini memang untuk menyelesaikan semua yang terjadi. Beberapa menit yang lalu, Diana mengatakan bahwa ia meminta kesediaan Karin untuk berbicara dengannya. Hanya sebentar dan Diana sungguh meminta Karin bersedia melakukannya.

“Maaf, Mama gagal menjadi ibu yang baik untuk kamu dan Kavin. Mama tau ini udah terlambat dan mungkin kamu nggak bisa memaafkan Mama. Kesalahan Mama begitu besar, Nak,” ujar Diana.

Karin hanya di sana mendengarkan Diana sampai selesai. Mamanya terus mengucapkan kata maaf padanya. Bertahun-tahun yang lalu, Karin berpikir bahwa kata maaf dari seseorang yang menyakitinya mungkin dapat mengobati lukanya di hatinya. Namun kenyataannya pemikirannya itu sangat salah. Kini Karin justeu merasa begitu terluka melihat Diana yang menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan. Bagaimana pun mamanya, beliau tetaplah orang yang telah melahirkan Karin dan adiknya ke dunia ini. Karin sepantasnya menghormati dan berbakti pada mamanya.

“Boleh Karin tanya sesuatu?” tanya Karin setelah keterdiamannya itu. Diana pun mengangguk.

Karin nampak berdeham sekali, lalu ia meneguk minumannya baru setelah itu bertanya, “Waktu itu, apa ada alasan kenapa Mama pergi dari rumah?”

Mendapat pertanyaan itu dari Karin, Diana pun nampak sedikit terkejut. Anaknya rupanya benar-benar ingin tahu alasannya pergi begitu saja hari itu.

“Karin, Mama tau kalau keputusan Mama pegi dari rumah, meninggalkan kamu dan Kavin, bukan keputusan yang bijak. Tapi saat itu Mama nggak punya pilihan lain, Nak.”

Akhirnya terkuak lah alasan mamanya meninggalkannya dan Kavin. Setelah kepergian papanya, mamanya didiagnosis mengidap penyakit yang cukup serius. Diana menceritakan semuanya, tanpa terkecuali. Ia memutuskan meninggalkan Karin dan Kavin pada saat itu, ia tidak ingin membebani anak-anaknya dan pada akhirnya akan membuat keduanya hidup susah. Diana ingin kedua anaknya hidup cukup dan tidak terbebani. Maka dari itu, ia memutuskan pergi setelah sempat menghubungi Vanessa. Diana meminta tolong pada mantan istri almarhum suaminya untuk membantunya. Saat itu Diana tidak punya alternatif lain untuk meminta bantuan. Diana juga tidak memberi tahu Vanessa soal penyakitnya. Diana akhirnya berusaha mengumpulkan uang dengan bekerja giat guna membiayai operasi pengangkatan tumor di rahimnya.

Diana mengakui bahwa dirinya egois, maka dari itu ia lebih memilih pergi selamanya dan tidak menemui Karin dan Kavin. Ia tidak ingin kembali, rasanya dirinya tidak pantas disebut sebagai seorang ibu. Meskipun Diana sangat ingin menemui dua anaknya setelah bertahun-tahun, tapi menurutya itu adalah keputusan yang terbaik. Vanessa kerap kali mengabarinya soal kehidupan Karin dan Kavin, dan itu sudah cukup bagi Diana saat tahu anak-anaknya sudah hidup bahagia sekarang.

Karin kini telah mengatahui semua itu. Ia terdiam dan berusaha memahami, serta berusaha menerima penjelasan itu. Rasanya Karin masih sulit menerima akan keputusan Diana itu. Namun di benaknya juga terpikir bahwa yang dilakukan mamanya semata karena memikirkan ia dan Kavin, memikirkan kebahagian anak-anaknya.

Karin terlihat buru-buru menyeka air mata yang tiba-tiba turun membasahi pipinya. Karin menghela napasnya dan menghembuskannya panjang, sebelum akhirnya mengangkat panggilan telfon di ponselnya.

“Halo. Iya, ini aku lagi di kafe Beverly. Kamu sama anak-anak mau nyusul? Oh yaudah, oke aku tunggu di sini ya.”

Karin mengakhiri sambungan telfonnya. Ia kini menatap Diana, lalu meraih tangan mamanya di atas meja.

“Mah, Mama mau ya tinggal sama Karin? Mama jangan tinggal sendiri lagi,” ucap Karin dengan suaranya yang terdengar sedikit bergetar.

“Sebagai anak Mama, izinin Karin buat berbakti sama Mama, ya Mah? Karin mau merawat Mama. Bulan depan, Kavin akan menikah Mah. Dia pasti pengen banget Mama hadir di hari pentingnya,” sambung Karin.

Diana belum memberi jawabannya, air matanya hanya mengucur begitu saja dari kedua pelupuk matanya. Detik berikutnya, situasi tersebut terinterupsi oleh kedatangan 4 anak-anak dan 1 orang pria dewasa. Satu anak perempuan di sana memanggil Karin dengan sebutan Mama. Diana nampak terkejut tapi ia tidak dapat menyembunyikan raut bahagia di wajahnya.

Kemudian Karin berujar pada anak perempuan itu, memintanya dengan nada lembut, “Nak, salim dulu sama Oma.”

Akhirnya satu persatu anak-anak itu bergantian menyalami tangannya. Diana hanya bisa menatap itu terjadi tanpa dapat mengeluarkan kata-kata dari bibirnya.

Mereka masih nampak bingung, tapi lelaki dewasa yang Diana duga adalah ayah dari anak-anak Karin, terlihat sudah mengerti apa yang terjadi.

“Mah, kenalin ini anak-anak Karin. Svarga, River, dan Taura. Yang perempuan paling kecil, ini Anjani.”

Setelah mengenalkan anak-anaknya, Karin gantian mengenalkan Aryan sebagai suaminya, sebagai papahnya anak-anak. Aryan menundukkan badannya dan meraih tangan Diana untuk memberikan salam santunnya.

Di tengah-tengah situasi itu, Anjani tiba-tiba berceletuk, “Mommy, aku punya tiga oma? Kenapa bisa gitu? Aku kan udah punya Oma Vanessa sama Oma Tiara.”

Sontak mereka yang di sana nampak bingung memberikan penjelasan yang mudah dimengerti oleh anak berusia 4 tahun.

“Sayang, Oma Diana juga Omanya Anjani. Oma Diana adalah mamanya mama, jadi Anjani bisa panggil Oma juga, yaa?” ujar Karin akhirnya berusaha memberi penjelasan untuk anaknya.

“Mama punya dua mama? Anjani sama Mas-Mas cuma punya satu Mama. Kenapa?” tanya Anjani lagi.

Akibat pertanyaan polos Anjani itu, akhirnya Aryan berinisiatif untuk mengajak anak-anaknya guna mengalihkan perhatian mereka. Di luar kafé itu, Aryan pun meminta Svarga untuk menjaga adik-adiknya sementara. Svarga yang sudah beranjak remaja dan berusia 15 tahun itu dapat dipercaya untuk menjaga para adiknya. Aryan mengatakan pada anak-anaknya bahawa ia akan cepat kembali. Katanya ada urusan orang tua dan tugas anak-anak adalah menunggu papa dan mamanya selesai dengan urusan itu.

Aryan pun kembali ke dalam kafe, ia menemui Karin dan mama mertuanya, Diana. Karin akhirnya menjelaskan situasi yang tengah terjadi. Mengalirlah cerita tersebut dan istrinya juga menyampaikan padanya tentang niatnya mengajak Diana tinggal di rumah mereka.

Aryan dengan cepatmenyetujui itu. Justru itu sangat baik, pikirnya. Diana terharu akan perlakuan Karin dan Aryan yang begitu menerimanya. Luka yang pernah ia berikan pada Karin, tidak membuat rasa sayang seorang anak pada ibunya menghilang. Diana begitu bahagia dan merasa cukup, melihat akhirnya anaknya kini memiliki keluarga yang utuh dan begitu hangat. Karin memiliki anak-anak yang begitu lucu dan pintar. Selain itu, ada seorang pria yang terlihat begitu mencintai putrinya dan tahu cara memperlakukannya.

“Mah, besok Aryan sama Karin akan bantu urusan pindahannya. Mulai besok, Mama udah bisa tinggal sama kita,” ujar Aryan sembari mengulaskan senyumnya.

Diana lantas menjawabnya dengan sebuah anggukan. “Aryan, Karin, terima kasih ya, Nak.”

Diana mengatakan bahwa ia sangat berterima kasih pada Aryan. Lelaki itu adalah sosok yang menjadi idaman bagi putrinya, menjadi suami yang penuh kasih sayang, dan tentunya papa yang sangat hebat.

Lebih dari semua itu, Diana dapat melihat bahwa Aryan bukan hanya sekedar mencintai putrinya. Lelaki itu mencintai semua yang menyangkut putrinya, mengutamakan apa yang penting bagi Karin. Lelaki itu menempatkan Karin sebagai prioritas utamanya, salah satunya adalah caranya memperlakukan Diana. Perlakuan Aryan pada Diana, sudah selayaknya perlakuannya terhadap orang tua kandungnya sendiri.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Saat dalam perjalanan pulang dan di depan mereka terpampang papan petunjuk rest area, Karin segera meminta Aryan agar mereka mampir ke tempat tersebut.

Aryan pun menuruti permintaan Karin. Begitu mobil mereka terparkir sempurna di antara mobil lainnya di rest area jalan tol tersebut, Karin segera melangkah turun dari mobil.

Karin bilang ia harus ke kamar mandi. Aryan yang khawatir tadinya ingin mengantar Karin. Namun mengingat tidak ada yang menjaga anak mereka yang tengah terlelap di jok belakang, akhirnya Karin mengatakan tidak masalah ia pergi sendiri.

Meskipun sebenarnya Aryan masih cemas karena Karin nampak pucat dan istrinya itu bilang bahwa kepalanya sedikit pusing, tapi Aryan akhirnya mengiyakan.

Pandangan Aryan tidak lepas melihat ke arah toilet wanita berada yang tidak jauh dari posisi mobilnya terparkir. Sudah hampir 10 menit, tapi Karin belum kunjung kembali.

Saat Aryan hampir saja menyusul Karin, pertanyaan Svarga yang tiba-tiba terjaga dari tidurnya menghentikan aksinya. Svarga bertanya mengapa mereka berhenti di rest area dan ke mana perginya sang mama.

“Mama lagi ke toilet, Sayang. Kita tunggu dulu ya sebentar,” ujar Aryan memberi Svarga penjelasan. Anak sulungnya ikut khawatir pada Karin, bahkan sempat meminta Aryan menyusul Karin dan tidak perlu mengkhawatirkan dirinya dan adik-adik.

Saat Karin akhirnya kembali dan mendapati Svarga yang khawatir, ia segera memberi penjelasan bahwa dirinya sudah lebih baik. “Mama nggak kenapa-napa, Sayang. Sweet banget sih Kakak,” ucap Karin sambil mengusap puncak kepala Svarga sekilas.

“Sayang, kamu beneran nggak papa?” tanya Aryan begitu mereka sudah kembali melanjutlsn perjalanan. Hanya sisa mereka berdua, Svarga telah pulas lagi setelah tahu mamanya sudah baik-baik saja.

Karin menoleh ke arah Aryan, lalu tangannya terarah untuk mengusap lengan suaminya itu. “Aku nggak papa, Sayang. Papa sama anaknya nggak beda jauh ya, sama-sama sweet.”

Aryan yang mendengar itu segera mengulaskan senyum lebarnya.

“Makasih ya, hebat banget suamiku,” ujar Karin lagi.

Begitu mereka keluar dari tol dan kini tengah bergabung dengan kendaraan lainnya di jalan besar, Aryan menoleh sekilas ke arah Karin. Ia menatap wanitanya yang kini nampak berseri-seri.

Aryan lantas mengernyit heran, padahal beberapa menit lalu Karin nampak tidak bersemangat akibat kondisi badannya yang kurang fit. Aryan berpikir mungkin Karin begitu karena faktor kelelahan, mereka baru saja menghadiri acara pernikahan Nayna dan William dari pagi jam 10 sampai jam 8 malam.

“Sayang,” ujar Aryan kemudian.

Karin langsung menoleh ke arah Aryan. “Iya?”

“Kamu mau pakai aroma terapi atau kamu butuh sesuatu? Udah baikan belum?”

“Udah, Sayang. Tadi aku bawa minyak kayu putih di tasku, udah aku pake.”

Aryan pun segera mengangguk. Oke, terhempas sudah semua kekhawatirannya. Aryan selalu ingin memastikan bahwawanitanya baik-baik saja, dan pria itu telah melakukannya selama hampir 11 tahun pernikahan mereka. Hal itu rupanya juga turun ke anak-anak mereka juga. Ketiga putra mereka perlahan-lahan tahu caranya menyayangi dan menghargai seorang perempuan.

***

Karin baru saja selesai mengantar Svarga ke kamarnya dan memastikan anaknya telah tertidur nyaman di sana. Dalam hal mengurus anak, Karin dan Aryan telah sepakat bahwa mereka akan selalu membagi tugas.

Aryan tadi kebagian menemani River dan Taura sampai mereka tidur di kamar. Dua anaknya yang masih kecil itu masih harus dibimbing agar cepat tidur, kalau tidak mereka bisa bermain sampai larut malam. Akhirnya Karin memutuskan menemani Svarga karena anak sulungnya itu sedang bersikap manja terhadapnya belakangan ini.

Kini Karin tengah menghampiri Aryan di kamar milik Taura yang memiliki connecting door dengan kamar River. Di sana tampak senyap, jadi dapat dipastikan anak-anaknya sudah tertidur. Oh, suaminya telah melakukan perkerjaan luar biasa, begitu pikir Karin. River dan Taura, perpaduan si aktif dan si penuh akal, adalah kombinasi komplit yang seringkala membuat Aryan maupun Karin kualahan.

“Hei,” ucap Karin begitu ia sampai di sana.

Halus dan hangat tangan Karin yang menyentuh pundak Aryan, langsung membuat pria jangkung itu menoleh.

You did a great job. River sama Taura berhasil kamu taklukin. Kamu lebih hebat dari aku lama-lama,” ucap Karin.”

“Aku dapet hadiah apa udah bisa nidurin mereka? Padahal tadi River sama Taura udah sempet aktif mau main lagi.”

“Hadiah? Orang nidurin anak sendiri, masa harus dapet hadiah sih. Kelakuannya juga ya nurunin kamu,” ucap Karin diselingi tawa pelannya.

Detik berikutnya, masih dalam posisi Aryan yang duduk di tepi kasur, lelaki itu menghela lembut pinggang ramping Karin untuk mendekat padanya.

I want to live forever with you,” ucap Aryan, nadanya terdengar begitu tulus.

Selama beberapa detik, Karin hanay mengamati paras Aryan. Kemudian Karin meletakkan tangannya di satu sisi wajah Aryan, “Aku juga mau hidup selamanya sama kamu,” balas Karin diiringi senyum simpulnya.

Karin menatap tepat di iris indah Aryan, dengan sukarela ia membiarkan dirinya tenggelam di sana. Setiap pancaran mata Aryan ketika menatapnya, membuat Karin selalu bisa merasakan cinta dan kasih yang dipancarkan untuknya.

“Udah sebelas tahun kita nikah. Nggak kerasa ya, Sayang. Kamu masih deg deg-an kalau ngeliat aku?” tanya Aryan.

Karin pun terdiam sesaat. Ia mengerti maksud pertanyaan Aryan itu. Menjalani pernikahan untuk waktu yang lama bukan tidak mungkin setiap pasangan akan merasa bosan. Sparks pernikahan diprediksi hanya sampai 5 tahun, sisanya yang dapat bertahan adalah karena komitmen. Namun Aryan tetaplah Aryan yang blak-blakan terhadap apa yang pria itu rasakan, jadi ia menanyakannya pada Karin.

“Uhmm ... gimana yaa ...” gumam Karin. Aryan menatapnya dengan tatapan penuh selidik, lalu Karin tertawa mendapati wajah kebingungan Aryan itu.

“Ya masihlah Kak. Kalau nggak, ngapain aku masih di sini, masih di depan kamu.”

Aryan lantas menggangukinya. Benar juga sih kalau dipikir-pikir. Mereka masihlah dua orang yang sama, yang saling mencintai. Mungkin cara mencintai saja yang berbeda, Karin cenderung jarang mengucapkannya, tapi lebih melakukan aksi yang menunjukkan kasih sayangnya pada Aryan.

“Anak-anak udah tidur Sayang. Kita pacaran yuk,” celetuk Aryan.

“Mau ngapain emang?” tanya Karin, kedua alisnya menyatu.

“Mau cuddle sama kamu.”

“Bener ... cuddle doang?” tanya Karin sangsi.

“Bener, Sayang. Kamu kan hari ini lagi nggak enak badan, mana mungkin aku ngajakin kamu berhubungan. Meskipun aku mau sih.”

“Atau kamu udah sehat?” tanya Aryan saat Karin belum menjawabnya.

“Udah sih. Tadi masuk angin doang.” Jawaban Karin tersebut langsung mengundang binar bahagia di mata Aryan.

Detik berikutnya, Karin merasakan tubuhnya melayang di udara. Aryan tengah menggendongnya ala bridal style. Dengan posisi dan jarak seintim ini, Karin dapat menghirup aroma parfum dari tubuh Aryan. Harum itu selalu membuat Karin candu.

Sampai akhirnya mereka sampai di kamar, sebelum Aryan merebahkan Karin di kasur king size milik mereka, Karin berujar di dekat Aryan, “Suami aku ganteng banget sih, makin-makin deh udah kepala tiga.”

Aryan masih menggendong Karin, dan tanpa dapat Aryan cegah, pipinya memanas dan tampak semburat kemerahan di sana berkat ucapan Karin barusan. Di usianya yang ke 32 tahun, Aryan tampak semakin tampan. Tubuh tinggi nan atletisnya, pinggang kecilnya, wajah tegas, semuanya terasa sempurna. Karin pikir suaminya itu pantas mendapat julukan hot papa anak 3. Makin tua makin jadi, begitulah kira-kira sebutannya.

I'm fell in love with you and still falling,” bisik Karin lagi, kali ini perempuan itu memangkas habis jarak di antara mereka, Karin merebahkan kepalanya di dada bidang Aryan.

“Kebanyakan orang bilang, 5 tahun setelah pernikahan, yang tersisa itu adalah komitmen. Kalau pun sparks cinta itu masih ada, itu jarang banget terjadi di mayoritas pasangan. Tapi bagi aku nggak kayak gitu.” Karin menjeda ucapannya sesaat.

“Komitmen sama cinta berjalan bersamaan, Kak. Dari awal, aku berkomitmen untuk mencintai kamu, untuk dampingin kamu, untuk hidup sama kamu sampai kita sama-sama tua. Sparks cinta itu masih ada karena aku akan selalu berusaha menumbuhkannya untuk kamu. You always tried to be a great husband and father for our kids, and I'm very grateful for that. I love you, always and forever, Kak.”

Dengan jarak mereka yang sedekat ini, Karin pun jadi bisa mendengar dentuman jantung Aryan yang menggebu di dalam rongga dadanya. Saat Aryan melayangkan tatapan meminta izinnya pada Karin, perempuan itu lekas menjawab dengan sebuah anggukan kecil.

Mereka pun segera mencumbu bibir satu sama lain. Dari ciuman kali ini, rasanya ada hasrat yang cukup besar yang begitu ingin disalurkan. Aryan selalu menginginkan Karin seindah ini. Caranya memperlakukan Karin, mengingat setiap detail kecil yang disukai perempuan itu ketika mereka memadu kasih, membuat Karin ingin memberikan cintanya yang besar untuk Aryan. Karin ingin memberikan afeksi yang utuh untuk Aryan, dan hanya Aryan, lelaki yang Karin inginkan selamanya.

Setelah 5 menit berlalu, akhirnya Aryan membaringkan Karin di ranjang, usai ciuman mereka yang cukup panas. Aryan tidak berniat berlama-lama untuk menyusul wanitanya ke sana.

Aryan kembali bergerak mencium Karin dengan lembut, terasa tidak ingin menyakiti. Aryan menahan tubuh besarnya agar tidak sampai jatuh menimpa Karin. Dari posisi Aryan saat ini, Karin dapat menyaksikan sosok indah ciptaan Tuhan tepat di depan matanya dan nampak begitu dekat. Gerakan demi gerakan Aryan ketika mencumbunya, tangan lelaki itu yang membelai lembut rambutnya lembut, membuat Karin terhanyut.

Kini hembusan napas keduanya terdengar tidak beraturan. Seperti yang sudah terjadi, mereka akan menjauh untuk mengambil napas karena yang tadi lumayan cukup intens.

“Karin, I'm sorry. I really want you this night. I just broke my promises,” ucap Aryan dengan wajah penuh penyesalannya. Kemudian pandangan Aryan tertuju pada gaun Karin yang terlepas sudah sampai sebatas bahunya. Aryan yang barusan melakukannya, tanpa ia sadari, ia hampir saja memintanya dari Karin. Padahal ia telah berjanji dan dirinya juga khawatir terhadap kondisi Karin yang sedang kurang fit.

Aryan menjauh dari Karin dan nampak menarik rambutnya kebelakang dengan satu tangannya, terlihat sedikit frustasi.

“Sayang, maaf,” ucap Aryan kemudian, ia juga akhirnya membantu Karin memasang kembali resleting gaun di tubuh wanitanya. Kemudian dengan gerakan cepat, Aryan menarik bed cover tebal, ia menyelimuti Karin dan memastikan istrinya berada dalam posisi yang nyaman.

“Hei, it's oke,” ucap Karin, ia merubah posisinya menyamping agar bisa sepenuhnya menatap Aryan. Karin mengulaskan senyum hangatnya, mengisyaratkan bahwa Aryan tidak perlu khawatir soal apapun yang tengah menyerang pikirannnya.

“Kak, sebenernya aku kepengen juga,” ucap Karin.

Setelah mendengarnya, Aryan nampak tidak percaya. Sebelumnya Aryan berpikir bahwa istrinya sedang tidak ingin melakukannya.

“Tapi ada alasan kenapa sebaiknya kita nggak mgelakuin itu dulu,” cicit Karin pelan.

“Alasan? Kamu baru aja datang bulan, Sayang?” tanya Aryan.

Karin menggeleng. Wah, Aryan semakin dibuat bingung ketika Karin memintanya untuk menunggu. Karin lantas beranjak dari kasur dan mengambil sesuatu dari dalam tas tangan hitamnya.

“Aku mau ngasih tau kamu sesuatu,” ucap Karin. Detik berikutnya, Karin menunjukkan dua buah benda panjang berukuran sedang di tangannya. Aryan mendapati bahwa itu adalah testpack, alat yang digunakan untuk melakukan tes kehamilan. Aryan segera melihat garis di alat itu dengan seksama. Ada dua garis berwarna merah di sana dan testpack satunya lagi menampilkan sebuah kata. 'Pregnant', itulah yang tertulis di layar kecilna.

Aryan pun nampak terkejut, dua belah bibirnya sukses terbuka. “Sayang, ini beneran? Kamu hamil lagi?” tanya Aryan.

Sambil tersenyum bahagia, Karin pun menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Aryan barusan.

“Hasil testpack-nya sih positif. Dari sebelum pernikahan Nayna, aku sempet nggak enak badan, aku pikir masuk angin biasa. Pas tadi di jalan, aku mual banget, akhirnya aku mutusin buat tes di toilet rest area. Makanya aku agak lama kan, itu aku tes dulu.”

Karin juga menjelaskan bahwa ia sudah telat datang bulan hampir satu minggu. Biasanya Karin selalu tepat waktu mendapat menstruasinya. Setelah mendengar semua penjelasan Karin tersebut, lalu tanpa aba-aba, Aryan segera merengkuh tubuh Karin ke dalam pelukannya. Kemudian Aryan juga menghujani Karin kecupan lembut di beberapa area di wajahnya. Terakhir, Aryan menyematkan sebuah kecupan di kening yang terasa begitu bermakna bagi seorang perempuan untuk mendapatkan perlakuan tersebut.

Aryan lalu mengurai pelukan mereka, tangannya menangkup halus dua sisi wajah Karin. “Sayang, aku bahagia banget. Makasih ya,” ucap Aryan.

Karin lantas mengulaskan senyum hangatnya, ia mengusap tangan Aryan yang masih setia berada di sisi wajahnya. “Selamat ya Sayang, kamu akan jadi Papa dari 4 anak, beberapa bulan kedepan lagi.”

Aryan mengangguk sekali. “Besok kita kasih tau anak-anak kalau mereka akan punya adik lagi.”

“Oke.”

“Sekalian kita ke dokter kandungan juga, gimana Sayang? Kita harus pastiin keadaan dia di rahim kamu kan?”

“Iya, boleh. Besok kita ke obgyn. Ohiya, beberapa bulan kamu harus puasa dulu lho, Kak. Kita nggak bisa berhubungan sementara,” ucap Karin begitu teringat akan hal tersebut.

Alright. It's totally oke, Sweety. I will take care of you, aku bisa cuti kerja kalau kamu butuh aku di samping kamu. I'm ready for you, Sayang.”

***

Keesokan harinya …

Kebiasaan yang dilakukan para anak-anak ketika melihat orang tua mereka pulang ke rumah setelah pergi hanya berdua, dilakukan juga oleh ketiga anak mereka. Apalagi hari ini Aryan libur bekerja, hal itu semakin mengundang pertanyaan dari anak-anak mereka mengapa papa dan mama pergi berdua, tapi tidak mengajak ketiganya. Biasanya Aryan dan Karin dapat langsung menjawab, tapi kali ini tidak.

Boys, dengerin ya. Papa sama Mama punya kabar bahagia yang akan kita sampaikan ke kalian,” ucap Aryan memulai. Karin yang duduk di sampingnya hanya mengulaskan senyum misterius yang justru membuat ketiga anaknya semakin merasa penasaran.

“Oke, jadi gini. Kalian akan punya adik lagi,” Aryan menjeda ucapannya, ia menatap Karin lalu mengarahkan tangannya untuk mengusap perut istrinya yang masih rata itu.

“Di perut Mama, sekarang ada adik. Papa sama Mama tadi baru ke dokter, dokter bilang adik kalian di sini sehat,” sambung Aryan.

Mereka berlima kini saling melempar pandangan. Dari ketiga anak mereka, belum ada yang membuka suara untuk memberi tanggapan. Sampai akhirnya Taura yang lebih dulu meerespon kabar tersebut.

“Mama, Papa, aku nggak mau punya adik,” ujar Taura, bibirnya mencebik lucu.

“Lho Sayang, kenapa Nak? Kenapa Taura nggak ingin punya adik?” tanya Karin sambil mengusap sayang puncak kepala anak bungsunya itu.

Taura langsung bergerak untuk memeluk tubuh Karin. Ia seperti bayi kecil yang manja, tidak mau jauh dari mamanya. “I don’t like baby, Mama. Anak bayi butuh perhatian yang banyak, Mama harus lebih sayangin adik nanti kalau dia udah lahir. Taura nggak mau,” jelas Taura.

Karin dan Aryan akhirnya hanya tersenyum mendengar kalimat Taura itu. Kemudian Aryan membiarkan Karin yang memberi penjelasan pada Taura.

“Waktu Mas Svarga, Mas River, dan Taura masih kecil, kalian sama-sama pernah jadi bayi. Taura inget nggak, waktu itu Mama perhatian dan sayangin Taura.”

Taura nampak berpikir sejenak, kemudian tidak lama anak lelaki itu mengangguk.

“Sayangnya Mama dibagi sama ke semua anak. Taura anak hebat dan pinter, Taura paham kalau adik butuh kasih sayang dan perhatian lebih dari Mama. Tapi walaupun seperti itu, rasa sayang Mama ke Mas Svarga, Mas River, dan ke Taura, nggak akan berubah atau berkurang. Kita semua saling sayang. Taura sayang kan sama adik?”

“Aku sayang adik, Mama,” celetuk Svarga yang langsung membuat Taura langsung menoleh ke arah kakaknya itu.

“Aku juga sayang adik. Adiknya perempuan atau laki-laki Mah?” tanya River nampak begitu antusias.

“Belum tau perempuan atau laki-laki, Nak. Nanti kita cek lagi ya kalau adiknya sudah agak besar. Oke?” ujar Aryan.

“Oke, Pah. Aku nggak sabar adik lahir, mau aku ajak main,” sahut River lagi.

Perlahan-lahan akhirnya Taura mengurai pelukannya di tubuh Karin. Ia menjauhkan wajahnya sedikit agar bisa menatap mata mamanya itu. “Mama, aku sayang adik juga,” ucap bocah itu akhirnya. Ucapan lembut Taura dan tatapan tulusnya, seketika mampu membuat Karin terenyuh.

Taura yang begitu penyayang membuat Karin yakin bahwa anaknya itu mana bisa menolak calon adiknya. Sebenarnya hati Taura tulus menyayangi adiknya, tapi terkadang pikiran kritis dan jeniusnya seringkali mendominasi dan membuat bocah itu mempertanyakan apa yang mengganjal di pikirannya.

“Iya, makasih ya, Mas. Mas Taura sayang sama adik ya.” Lantas mereka semua di sana menyaksikan tingkah Taura dengan sebuah senyuman bahagia dan hati yang terasa menghangat.

“Mama, Papa, aku mau adiknya perempuan,” ucap Taura.

“Kenapa Sayang? Kok maunya perempuan?” tanya Aryan.

“Kakak laki-laki pasti lebih kuat buat jagain adik perempuan. Taura mau jagain adik,” jawab Taura.

Karin yang mendengarnya seketika tersenyum penuh haru. Kemudian ia memberi kecupan di kedua pipi Taura. Setelah itu tatapannya bertemu dengan Aryan, suaminya juga tengah tersenyum terharu sama sepertinya. Apa yang Aryan dan Karin usahakan selama ini, rupanya telah berhasil. Mereka mendidik anak-anak mereka dengan kasih sayang dan memberi mereka ruang untuk menjadi diri sendiri, untuk mengungkapkan perasaan mereka.

Kepribadian seorang anak, caranya berbicara, merupakan hasil didik dari orang tua yang berperan sangat besar dalam hal itu. Aryan dan Karin bahagia, mereka berhasil mewujudkan cita-cita yang mereka bangun bersama sebelumnya. Cerita inilah yang keduanya ingin tulis di halaman terakhir kisah mereka, dan mereka telah berhasil sampai di lembar bahagia itu.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Tujuh tahun yang lalu, Nayna Harla Brodjohujodyo hanyalah perempuan yang memiliki cita-cita untuk menjadi seorang desainer terkenal. Terkenal yang dimaksud di sini yakni Nayna ingin rancangan-rancangan bajunya bisa go international, di pakai oleh model-model hebat dan dapat membanggakan negaranya di kancah fashion dunia.

Tepat saat Nayna ingin pergi untuk mencoba peruntungannya di Paris kala itu, seorang laki-laki datang padanya. Lelaki itu mengatakan padanya bahwa ia akan menunggu Nayna meraih mimpinya, 2 tahun, 5 tahun, atau bahkan mungkin 10 tahun lagi, lelaki itu bersedia untuk menanti.

Meskipun harus terhalang oleh jarak yang begitu jauh dan keduanya belum ada komitmen apa pun saat itu, itikad baik lelaki itu yang yang meminta restu kepada kedua orang tuanya secara langsung, membuat hati Nayna akhirnya tergerak. Mereka menjalani Long Distance Relationship dan itu bukanlah hal yang mudah. Namun jusru itu juga yang membuat Nayna akhirnya menyadari bahwa ia sungguh mencintai lelaki itu.

Tujuh tahun akhirnya berlalu dan Nayna berhasil sukses membawa nama Indonesia di Paris Fashion Week. Impiannya telah terwujud, deretan model internasional yang selama ini hanya ia kagumi lewat majalah dan program siaran televisi, kini Nayna daat mereka mengenakan desain miliknya.

Malam itu ketika Nayna kembali selepas acara perayaan kesuksesannya bersama para desainer lain dan juga tentunya para model, Nayna dibuat terpaku di depan pintu apartemennya. Ia mendapati sosok fameliar bertubuh jangkung itu tepat di hadapannya. Hatinya membuncah bahagia dan saat Nayna akan berjalan menghambur memeluk sosok itu, lelaki itu lebih dulu membawa torso Nayna untuk didekap hangat. Rasa rindu selama 7 tahun terbayar sudah. Mereka berpelukan hangat dan Nayna ingat ia tidak ingin melepaskan pelukannya sampai lebih dari 5 menit atau bahkan lebih dari itu. Entahlah. Yang jelas, Nayna begitu bahagia malam itu.

I have something special for you,” ucap lelaki itu sembari mengeluarkan sesuatu dari kantung leather jacket-nya.

Nayna menatap sebuah kotak beludru merah dan ketika lelaki itu membukanya, nampak sebuah cincin bermata berlian yang begitu cantik dan menawan di dalam sana. Nayna tidak sanggup berkata-kata, air matanya pun meluruh begitu saja begitu lelaki yang dicintainya tersebut berlutut di hadapannya, mengatakan padanya, “Nayna Harla Brodjohujodyo, I want to take you as my wife, my life partner, and a mother for our kids in future. With all my excess and lack, please marry with me.”

Is not a question?” tanya Nayna.

Lelaki itu segera mengangguk, “Yes, Baby. You don’t have an options to chose.”

Lelaki itu memang selalu memiliki cara yang berbeda. Nayna lantas mengulaskan senyum lebarnya dan mengatakannya dengan segenap hati. Bahwa ia bersedia, memberikan dirinya untuk lelaki itu. Nayna bersedia menghabiskan sisa waktunya bersama lelaki itu, karena ia tidak memiliki pilihan, sejak awal lelaki itu tidak membiarkannya memilih. Tugasnya adalah membuat Nayna tidak bisa memilih, hingga akhirnya dengan hati yang tulus, lelaki itu menjadi pacar pertama dan terakhir untuk Nayna.

Now you are officially my ex, Babe,” ujar lelaki itu sembari menyunggingkan senyum tipisnya.

What? So Iam your ex girlfriend?”

Yes. Because as soon as possible, you will be my wife, and you will take my last name. Do you?”

Yes, I do.”

***

Menikahkan anak perempuan satu-satunya menghadirkan perasaan yang berbeda dengan menikahkan seorang anak laki-laki. Ketika menikahkan anak perempuan, rasanya seperti melepas seseorang yang sebelumnya adalah milikmu, melepasnya untuk pria lain.

Sebentar lagi acara pemberkatan akan dimulai. Dengan perasaan sedikit gugup, Aryo menatap pintu berpelitur jati coklat di hadapannya. Ia menghela napasnya, lalu menghembuskannya perlahan. Akhirnya setelah terdiam beberapa detik di sana, tangannya terangkat untuk mengetuk pintu itu dua kali.

Saat pintu akhirnya terbuka, dari jarak yang tidak jauh dari tempatnya, Aryo dapat menangkap sosok putrinya yang hari ini nampak begitu cantik dengan balutan gaun putih di tubuhnya. Nayna Harla, bayi perempuan yang 29 tahun lalu lahir ke dunia dan pertama kali menggenggam tangannya, kini telah berubah menjadi wanita dewasa yang begitu anggun dan sesaat lagi akan menggenggam tangan lelaki lain.

“Hai, princess-nya Papa,” ucap Aryo ketika langkahnya sudah sampai di hadapan Nayna.

Nayna menatap papanya dengan pandangan terharu. Matanya nampak berkaca-kaca, membuat Aryo jadi sedikit panik mendapati putrinya akan menangis.

Don’t ruined your makeup, Princess. Today you’re look so beautiful and stunning,” Aryo menjeda ucapannya sesaat. Masih menatap Nayna dengan tatapan sayangnya, pria berusia 60 tahunan itu berujar lagi, “Papa akan gandeng tangan kamu untuk jalan di altar dan menyerahkan kamu kepada lelaki pilihanmu. Papa selalu berharap agar kamu bahagia, Nak.”

Nayna mengangguk pelan, lalu ia mengulaskan senyum kecilnya untuk Aryo. “Pah, you are still be my best man. Terima kasih telah menjadi papa yang hebat buat Nayna. I’m still gonna be your little daughter, Pah,” ucap Nayna dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Alright. You’re too, Princess. You are an amazing and wonderful daughter. Terima kasih telah menjadi putri Papa.”

***

Para hadirin yang datang sudah siap menyaksikan dengan begitu seksama acara yang sebentar lagi akan berlangsung itu. Begitu sebuah pintu ganda terbuka dan para bridesmaid memasuki gedung, berbaris rapih di kanan dan kiri red carpet, itu menandakan bahwa sebentar lagi sang mempelai wanita akan memasuki altar.

Di salah satu deretan kursi pengunjung, tampak dua sejoli yang begitu fameliar di sana. Aryan dan Karin, beserta ketiga anak mereka. Di samping mereka ada mamanya dan para tantenya yang hari ini tentunya juga menghadiri hari penting Nayna.

Karin yang duduk di samping kiri Aryan, mengikuti fokus penglihatan suaminya itu. Rupanya Aryan melihat ke arah lelaki yang akan menjadi suami Nayna sebentar lagi. Lelaki itu menatap lurus ke arah Nayna yang kini tengah berjalan menuju altar. Karin dan Aryan menyaksikan itu bersamaan, calon suami Nayna nampak berkaca-kaca, kemudian derai airmatanya tidak lagi dapat di cegah untuk lolos begitu saja.

“Sayang,” bisik Aryan pelan sembari mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Karin.

“Kenapa?” tanya Karin.

“Aku iri, aku nggak nangis waktu liat kamu jalan ke altar,” cetus Aryan masih berbisik.

Selama dua detik setelah Aryan mengucapkannya, Karin hanya diam saja. Ia tidak heran lagi sih akan sikap agak kekanak-kanakan suaminya itu kalau di depannya. Namun di tengah situasi mengharukan ini, bisa-bisanya suaminya itu memikirkan hal yang bahkan Karin tidak dapat memikirkannya sama sekali.

Karin pun menoleh ke arah Aryan, “Ada-ada aja sih kamu, anak udah 3 padahal,” ujarnya diiringi tawa pelan.

Kasihan Aryan juga sih sebenarnya kalau dipikir-pikir. Ada momen-momen yang Aryan dan Karin harusnya lewatkan sebagai sepasang kekasih. Melihat pernikahan Nayna hari ini, rasanya seperti dejavu 11 tahun lalu saat pernikahan mereka. Kalau dipikir-pikir lagi, walaupun Aryan tidak menangis waktu Karin berjalan di altar, yang lebih penting adalah mereka yang saat ini. Mereka yang hidup bahagia dengan anak-anak mereka. Masa lalu biarlah ada untuk disimpan. Boleh sesekali diingat, tapi hanya untuk dijadikan cerita yang kadang bisa menggelitik perut kalau diingat-ingat kembali.

Saat akhirnya serangkaian acara pemberkatan telah selesai, Aryan mendapati papanya kembali ke deretan kursi khusus keluarga, mengambil tempat di samping mamanya. Papanya juga terlihat habis menangis, matanya memerah.

Tiba saatnya sesi untuk pengantin berciuman, Aryan dan Karin meminta anak-anak mereka untuk menutup mata. Adegan ini cukup dewasa dan belajar dari pengalaman, Aryan tidak ingin anaknya dewasa lebih dulu karena pengaruh lingkungan sekitar. Selama ini Aryan berusaha tidak kelepasan saat mencium Karin, mereka bahkan mengunci kamar agar anak-anak dipastikan tidak menonton orang tuanya.

Boys, ayo tutup mata kalian. Ada adegan orang dewasa di depan altar,” ujar Aryan pada ketiga anak lelakinya. Mereka pun menurut. Meskipun Svarga si paling besar sudah sedikit mengerti, anak lelaki itu tetap menuruti perkataan orang tuanya. Begitu juga dengan River, anak keduanya itu telah begitu pintar karena diajari oleh Svarga.

Karin yang dekat dengan Taura, anaknya yang paling kecil, mengarahkan tangannya di depan mata Taura dan membantu menutupinya. Bocah itu bertanya dua kali pada Karin mengapa ia harus menutup mata.

“Taura, ada aturan khusus untuk anak kecil. Setiaphal punya aturannya, Nak. Nanti kalau Taura sudah makin besar, Papa akan jelaskan lebih jauh biar Taura paham ya,” tutur Aryan.

Anaknya yang paling kecil ini memang cukup kritis untuk anak seusianya. Kadang Aryan maupun Karin seringkali kualahan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Taura. Tentunya anak kecil dan orang dewasa memiliki kemampuan pemahaman yang berbeda. Menjadi orang tua, membuat Aryan dan Karin belajar banyak hal. Mereka harus belajar lebih dulu dan benar-benar paham, untuk kemudian memberi pengertian pada anak-anak mereka.

***

Setelah acara pemberkatan, di sisi barat venue tersebut, para tamu dipersilakan untuk memberi ucapan selamat kepada pengantin di pelaminan. Aryan dan Karin serta ketiga anak mereka turut serta di sana. Mereka sempat berfoto khusus untuk sesi keluarga inti. Selepas itu, baru lah sesi pemberian selamat.

“Nay, selamat ya,” ucap Karin pada Nayna. Adik iparnya itu segera memeluk Karin dan mengucapkan terima kasih.

“Kak, bagi tips malam pertama dong,” bisik Nayna begitu pelan.

“Nanti chat aja atau telfon, aku online buat kamu tanya-tanyain. Oke?” balas Karin memberi arahan pada Nayna.

“Siap Kak, makasih banyak lho.”

Kemudian kedua perempuan itu sama-sama terkikik sekilas. Sementara di waktu yang sama, Aryan tengah menghampiri lelaki yang kini telah resmi menjadi adik iparnya itu. Aryan memeluk lelaki itu dan mengatakan sesuatu, “Congrats, Bro. Lo bener-bener udah memenagkan hati Nayna dan juga keluarga gue. Pastiin lo bahagiain dia ya, kalau nggak, artinya lo akan berurusan sama bokap gue, habis itu lo berurusan sama gue juga.”

Setelah mengucapkan itu, pelukan khas ala pria yang dilakukan keduanya pun terurai. Aryan mengulaskan senyumnya yang dibalas senyuman simpul di wajah oriental suami adiknya itu.

“Sesuai janji gue sama lo di awal, gue akan bahagiain Nayna. Gue udah berjanji di hadapan Tuhan, gue nggak ingin mengingkari janji itu dan jadi umat yang nggak taat.”

Aryan menepuk pundak lelaki itu sekali. Siapa pun bisa berubah lebih baik karena hadirnya cinta. Kini itu sungguh nyata dan Aryan sangat mempercayainya.

***

Tiba saatnya di puncak acara, yakni adalah acara dansa. Konsep yang sangat santai dan modern itu adalah keinginan dari Nayna. Ia ingin berdansa bersama tamu-tamunya, jadi tidak ada gap antara pengantin dan semua hadirin. This party belongs to all people that attend this night, begitulah slogan acaranya.

Namun tanpa sepengatahuan dari Nayna, di sebuah layar besar tepat di samping orkestra musik, suaminya telah menyiapkan sebuah surprise untuknya. Begitu Nayna melihat ke layar itu, di sana tampak sebuah video yang menampilkan slide foto-foto kebersamaan keduanya dan ada potret-potret candid Nayna yang diam-diam lelaki itu ambil. Nayna sungguh merasa terharu. Nayna benar-benar dapat merasakan bahwa William sungguh mencintainya sedalam ini.

William Danendra, pria yang hari ini telah Nayna resmi nikahi, menatapnya dengan tatapan penuh cinta di hadapan ratusan tamu yang hadir. Para tamu juga menatap ke arah mereka, menyaksikan dua sejoli yang mulai berdansa dengan iringan alunan musik yang begitu indah. Tidak ingin kalah dengan pasangan itu, beberapa tamu mulai ikut melakukan dansa. Baik muda dan mudi, para tetua yang berpasangan pun juga ikut berdansa dengan begitu mesra.

Begitu beberapa menit acara dansa itu berlangsung, terdengar intro lagu Line Without A Hook, itu merupakan lagu kesukaan Nayna. Nayna ingat ia pernah mengatakan pada William bahwa lagu tersebut sangat menggambarkan perjuangan cinta keduanya. Bukan hanya William yang berjuang meyakinkan Nayna bahwa ia sungguh-sungguh mencintai gadis itu, tapi seperti dalam lagu yang mengatakan bahwa seseorang akan hancur tanpa kekasih hatinya, begitulah Nayna saat dirinya tanpa William. Bagi William sendiri, ia adalah lelaki biasa yang memiliki banyak kekurangan, tapi Nayna memberinya kesempatan untuk berubah jadi pria yang pantas untuknya. Sampai hari itu tiba, Nayna yang sudah yakin padanya, rela memberikan dirinya untuk lelaki itu.

Di antara tamu-tamu yang berdansa, Aryan dan Karin juga ada di sana, mereka tidak ingin melewatkannya. Sebagai pasangan, mereka juga ingin menikmati waktu ini. Saat masih berdansa diiringi lagu Lin Without a Hook yang terdengar begitu merdu, Aryan mengatakan sesuatu pada Karin. “Karina Titania Roland, saya Aryan Sakha Brodjohujodyo, mengambil kamu untuk menjadi istri saya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Di saat sehat maupun sakit, di saat senang mau pun susah. Saya mencintaimu dan berjanji di hadapan Tuhan bahwa hanya kamu satu-satunya wanita yang ada di hidup saya, yang akan saya berikan seluruh cinta yang saya miliki.”

Random sekali memang kelakuan Aryan ini. Namun mau tidak mau Karin tersenyum mendapatinya. Aryan mengatakan bahwa ia ingin mengucapkannya karena dulu ia tidak mengatakannya dengan sepenuh hati. Aryan ingin mereka ulang adegan tersebut dan membuat memori yang indah untuk mereka.

Sesaat kemudian, Karin bergerak meletakkan kedua lengannya untuk melingkar ringan di bahu Aryan. Sambil menatap lelakinya penuh cinta, Karin pun berujar, “Saya Karina Titania Roland, bersedia menerima kamu Aryan Sakha Brodjohujodyo, untuk menjadi suami saya. Saya mencintai kamu di saat senang maupun susah, di saat sakit maupun sehat. Saya berjanji di hadapan Tuhan, kamu adalah satu-satunya cinta di hidup saya.”

Usai Karin mengucapkan kalimatnya, tanpa aba-aba apapun, Aryan segera bergerak mencium bibirnya. Karin merasakan sesuatu lembut dan kenyal itu tengah mengulum bibirnya dengan lumayan dalam. Otomatis rangkulan Karin di bahu Aryan mengerat, bahkan ia sedikit berjinjit untuk dapat menyamai tinggi suaminya.

Di antara pasangan lain yang berdansa, rupanya hanya mereka yang melakukan ciuman, bahkan dengan begitu kissing mesra. Dunia seolah berhenti berputar sesaat, Aryan dan Karin jadi pemiliknya untuk beberapa detik.

Saat akhirnya ciuman mereka terurai, Karin lekas bertanya kepada Aryan, “Kalau kita punya anak lagi gimana, Kak? Kamu mau?”

“Bagus dong, Sayang. Anak itu kan anugerah,” ujar Aryan cepat. Aryan mengatakan bahwa ia akan bekerja lebih keras lagi untuk bisa menghidupi Karin dan anak-anak mereka kelak. Aryan akan lebih semangat bekerja jika mereka punya anak lagi, ada motivasi untuknya membahagiakan istri dan anak-anaknya.

“Sayang, listen to me. Aku sih seneng banget kalau kita punya anak lagi. Tapi yang hamil dan melahirkan kan kamu, jadi aku akan menyerahkan keputusannya di kamu. Masih ada KB sama pengaman, kalau emang kamu merasa kita cukup dengan tiga anak.”

Karin pun mengangguk setuju pada akhirnya. Mereka spontan mengulaskan senyum, seperti anak ABG yang baru pacaran, padahal sudah 11 tahun usia pernikahan mereka. Saat mereka akan berpelukan bahkan Aryan ingin mencium Karin lagi, suasana mesra itu terpecahkan oleh kedatangan ketiga anak mereka.

Aryan dan Karin lantas sedikit menjauh dan melemparkan tatapan canggung di hadapan anak-anak.

“Papa sama Mama mau ngapain barusan?” celetuk Taura yang ceplas ceplos. Anaknya yang satu itu memang beda, sepertinya Karin kelebihan nutrisi waktu mengandung Taura.

“Barusan itu adalah tanda sayangnya Papa ke Mama. Tapi cuma boleh dilakukan jika sudah menikah. Contoh lainnya kayak aunty Nay dan Om Willy di altar tadi,” jelas Aryan.

“Papa kiss Mama doang?” tanya Taura lagi.

“Iya dong, kan Mama istrinya Papa. Kalau Papa kiss perempuan lain, Mama bisa marah. Papa akan berdosa juga, Sayang.”

“Papa, I want to marry Mama. Because I love her so much,” sela River tiba-tiba. Anak keduanya itu lantas mendekat pada Karin dan menggenggam tangannya dengan posesif.

Aryan tersenyum sekilas, lalu ia memberi pengertian pada River. “You couldn’t marry Mama, River. Mama adalah istri Papa. Suatu hari, kamu akan bertemu perempuan yang baik dan kamu cintai, kamu akan menikahinya. Oke?”

Melihat kelakukan Aryan dan anak-anak mereka, Karin hanya dapat tersenyum maklum. Setiap hari ia sudah kenyang mengkonsumsi obrolan dari yang paling receh sampai yang paling jenius antara bapak dan anak itu.

Kemudian Aryan memiliki ide jahil, ia lantas meminta anak-anak untuk nutup mata. Aryan mengatakan bahwa dirinya akan mencium Karin lagi. Anak-anaknya menurut. Namun ketika Aryan hendak mencium Karin, Svarga si sulung yang paling cerdik itu langsung menarik tangan mamanya untuk menjauh dari Aryan. Aryan yang mendapati itu, segera memberi komandan pada River dan Taura untuk menyusul Svarga dan Karin.

“Mama kita diculik sama Svarga. Kita harus selamatin Mama, let’s go boys, we should get Mama back,” seru Aryan yang langsung diangguki oleh si polos River dan si kritis Taura.

Potret keluarga itu nampak begitu indah untuk dilihat. Aryan yang dapat menjadi layaknya seorang teman untuk anak-anaknya. Mereka sering bercanda dan bermain bersama. Ada waktunya serius, dan ada waktunya bersenang-senang. Sementara Karin menjadi idola untuk ketiga anaknya, mereka begitu menyayangi dan menghormati sosok mamanya. Hal tersebut tentunya tidak terbentuk begitu saja, tapi banyak juga yang Karin dan Aryan lakukan untuk mendidik anak-anak mereka. Selain itu Aryan memberi andil yang cukup besar, perilakunya yang menyayangi Karin di depan anak-anak mereka, membuat anak-anak menirunya. Karin begitu disayang oleh empat lelaki yang juga sangat ia sayangi di dalam hidupnya. Karin dan Aryan telah sepakat untuk mendidik anak-anak mereka untuk menjadi diri mereka sendiri. Bukan menjadi sosok manusia baru yang mereka inginkan.

Svarga si paling penyayang namun sedikit jahil, River si manja dan sangat jujur terhadap perasaannya, serta Taura si paling kritis dan jenius. Anak-anak mereka unik, berharga, dan punya kelebihannya masing-masing. Aryan dan Karin mencintai anak-anak mereka dengan semua yang ada di diri mereka. Hadirnya Svarga, River, dan Taura telah membuat Aryan dan Karin merasa begitu bahagia dan lengkap.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Tujuh tahun yang lalu, Nayna Harla Brodjohujodyo hanyalah perempuan yang memiliki cita-cita untuk menjadi seorang desainer terkenal. Terkenal yang dimaksud di sini yakni Nayna ingin rancangan-rancangan bajunya bisa go international, di pakai oleh model-model hebat dan dapat membanggakan negaranya di kancah fashion dunia.

Tepat saat Nayna ingin pergi untuk mencoba peruntungannya di Paris kala itu, seorang laki-laki datang padanya. Lelaki itu mengatakan padanya bahwa ia akan menunggu Nayna meraih mimpinya, 2 tahun, 3 tahun, bahkan mungkin 10 tahun lagi, lelaki itu bersedia untuk menanti.

Meskipun harus terhalang oleh jarak yang begitu jauh dan keduanya belum ada komitmen apa pun saat itu, itikad baik lelaki itu yang yang meminta restu kepada kedua orang tuanya secara langsung, membuat hati Nayna akhirnya tergerak. Mereka menjalani Long Distance Relationship dan itu bukanlah hal yang mudah. Namun jusru itu juga yang membuat Nayna akhirnya menyadari bahwa ia sungguh mencintai lelaki itu.

Tujuh tahun akhirnya berlalu dan Nayna berhasil sukses membawa nama Indonesia di Paris Fashion Week. Impiannya telah terwujud, deretan model internasional yang selama ini hanya ia kagumi lewat majalah dan program siaran televisi, kini Nayna daat mereka mengenakan desain miliknya.

Malam itu ketika Nayna kembali selepas acara perayaan kesuksesannya bersama para desainer lain dan juga tentunya para model, Nayna dibuat terpaku di depan pintu apartemennya. Ia mendapati sosok fameliar bertubuh jangkung itu tepat di hadapannya. Hatinya membuncah bahagia dan saat Nayna akan berjalan menghambur memeluk sosok itu, lelaki itu lebih dulu membawa torso Nayna untuk didekap hangat. Rasa rindu selama 7 tahun terbayar sudah. Mereka berpelukan hangat dan Nayna ingat ia tidak ingin melepaskan pelukannya sampai lebih dari 5 menit atau bahkan lebih dari itu. Entahlah. Yang jelas, Nayna begitu bahagia malam itu.

I have something special for you,” ucap lelaki itu sembari mengeluarkan sesuatu dari kantung leather jacket-nya.

Nayna menatap sebuah kotak beludru merah dan ketika lelaki itu membukanya, nampak sebuah cincin bermata berlian yang begitu cantik dan menawan di dalam sana. Nayna tidak sanggup berkata-kata, air matanya pun meluruh begitu saja begitu lelaki yang dicintainya tersebut berlutut di hadapannya, mengatakan padanya, “Nayna Harla Brodjohujodyo, I want to take you as my wife, my life partner, and a mother for our kids in future. With all my excess and lack, please marry with me.”

Is not a question?” tanya Nayna.

Lelaki itu segera mengangguk, “Yes, Baby. You don’t have an options to chose.”

Lelaki itu memang selalu memiliki cara yang berbeda. Nayna lantas mengulaskan senyum lebarnya dan mengatakannya dengan segenap hati. Bahwa ia bersedia, memberikan dirinya untuk lelaki itu. Nayna bersedia menghabiskan sisa waktunya bersama lelaki itu, karena ia tidak memiliki pilihan, sejak awal lelaki itu tidak membiarkannya memilih. Tugasnya adalah membuat Nayna tidak bisa memilih, hingga akhirnya dengan hati yang tulus, lelaki itu menjadi pacar pertama dan terakhir untuk Nayna.

Now you are officially my ex, Babe,” ujar lelaki itu sembari menyunggingkan senyum tipisnya.

What? So Iam your ex girlfriend?”

Yes. Because as soon as possible, you will be my wife, and you will take my last name. Do you?”

Yes, I do.”

***

Menikahkan anak perempuan satu-satunya menghadirkan perasaan yang berbeda dengan menikahkan seorang anak laki-laki. Ketika menikahkan anak perempuan, rasanya seperti melepas seseorang yang sebelumnya adalah milikmu, melepasnya untuk pria lain.

Sebentar lagi acara pemberkatan akan dimulai. Dengan perasaan sedikit gugup, Aryo menatap pintu berpelitur jati coklat di hadapannya. Ia menghela napasnya, lalu menghembuskannya perlahan. Akhirnya setelah terdiam beberapa detik di sana, tangannya terangkat untuk mengetuk pintu itu dua kali.

Saat pintu akhirnya terbuka, dari jarak yang tidak jauh dari tempatnya, Aryo dapat menangkap sosok putrinya yang hari ini nampak begitu cantik dengan balutan gaun putih di tubuhnya. Nayna Harla, bayi perempuan yang 27 tahun lalu lahir ke dunia dan pertama kali menggenggam tangannya, kini telah berubah menjadi wanita dewasa yang begitu anggun dan sesaat lagi akan menggenggam tangan lelaki lain.

“Hai, princess-nya Papa,” ucap Aryo ketika langkahnya sudah sampai di hadapan Nayna.

Nayna menatap papanya dengan pandangan terharu. Matanya nampak berkaca-kaca, membuat Aryo jadi sedikit panik mendapati putrinya akan menangis.

Don’t ruined your makeup, Princess. Today you’re look so beautiful and stunning,” Aryo menjeda ucapannya sesaat. Masih menatap Nayna dengan tatapan sayangnya, pria berusia 60 tahunan itu berujar lagi, “Papa akan gandeng tangan kamu untuk jalan di altar dan menyerahkan kamu kepada lelaki pilihanmu.”

Nayna mengangguk pelan, lalu ia mengulaskan senyum kecilnya untuk Aryo. “Pah, you are still be my best man. Terima kasih telah menjadi papa yang hebat buat Nayna. I’m still gonna be your little daughter, Pah,” ucap Nayna dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Alright. You’re too, Princess. You are an amazing and wonderful daughter. Terima kasih telah menjadi putri Papa.”

***

Para hadirin yang datang sudah siap menyaksikan dengan begitu seksama acara yang sebentar lagi akan berlangsung itu. Begitu sebuah pintu ganda terbuka dan para bridesmaid memasuki gedung, berbaris rapih di kanan dan kiri red carpet, itu menandakan bahwa sebentar lagi sang mempelai wanita akan memasuki altar.

Di salah satu deretan kursi pengunjung, tampak dua sejoli yang begitu fameliar di sana. Aryan dan Karin, beserta ketiga anak mereka. Di samping mereka ada mamanya dan para tantenya yang hari ini tentunya juga menghadiri hari penting Nayna.

Karin yang duduk di samping kiri Aryan, mengikuti fokus penglihatan suaminya itu. Rupanya Aryan melihat ke arah lelaki yang akan menjadi suami Nayna sebentar lagi. Lelaki itu menatap lurus ke arah Nayna yang kini tengah berjalan menuju altar. Karin dan Aryan menyaksikan itu bersamaan, calon suami Nayna nampak berkaca-kaca, kemudian derai airmatanya tidak lagi dapat di cegah untuk lolos begitu saja.

“Sayang,” bisik Aryan pelan sembari mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Karin.

“Kenapa?” tanya Karin.

“Aku iri, aku nggak nangis waktu liat kamu jalan ke altar,” cetus Aryan masih berbisik.

Selama dua detik setelah Aryan mengucapkannya, Karin hanya diam saja. Ia tidak heran lagi sih akan sikap agak kekanak-kanakan suaminya itu kalau di depannya. Namun di tengah situasi mengharukan ini, bisa-bisanya suaminya itu memikirkan hal yang bahkan Karin tidak dapat memikirkannya sama sekali.

Karin pun menoleh ke arah Aryan, “Ada-ada aja sih kamu, anak udah 3 padahal,” ujarnya diiringi tawa pelan.

Kasihan Aryan juga sih sebenarnya kalau dipikir-pikir. Ada momen-momen yang Aryan dan Karin harusnya lewatkan sebagai sepasang kekasih. Melihat pernikahan Nayna hari ini, rasanya seperti dejavu 11 tahun lalu saat pernikahan mereka. Kalau dipikir-pikir lagi, walaupun Aryan tidak menangis waktu Karin berjalan di altar, yang lebih penting adalah mereka yang saat ini. Mereka yang hidup bahagia dengan anak-anak mereka. Masa lalu biarlah ada untuk disimpan. Boleh sesekali diingat, tapi hanya untuk dijadikan cerita yang kadang bisa menggelitik perut kalau diingat-ingat kembali.

Saat akhirnya serangkaian acara pemberkatan telah selesai, Aryan mendapati papanya kembali ke deretan kursi khusus keluarga, mengambil tempat di samping mamanya. Papanya juga terlihat habis menangis, matanya memerah.

Tiba saatnya sesi untuk pengantin berciuman, Aryan dan Karin meminta anak-anak mereka untuk menutup mata. Adegan ini cukup dewasa dan belajar dari pengalaman, Aryan tidak ingin anaknya dewasa lebih dulu karena pengaruh lingkungan sekitar. Selama ini Aryan berusaha tidak kelepasan saat mencium Karin, mereka bahkan mengunci kamar agar anak-anak dipastikan tidak menonton orang tuanya.

Boys, ayo tutup mata kalian. Ada adegan orang dewasa di depan altar,” ujar Aryan pada ketiga anak lelakinya. Mereka pun menurut. Meskipun Svarga si paling besar sudah sedikit mengerti, anak lelaki itu tetap menuruti perkataan orang tuanya. Begitu juga dengan River, anak keduanya itu telah begitu pintar karena diajari oleh Svarga.

Karin yang dekat dengan Taura, anaknya yang paling kecil, mengarahkan tangannya di depan mata Taura dan membantu menutupinya. Bocah itu bertanya dua kali pada Karin mengapa ia harus menutup mata.

“Taura, ada aturan khusus untuk anak kecil. Setiaphal punya aturannya, Nak. Nanti kalau Taura sudah makin besar, Papa akan jelaskan lebih jauh biar Taura paham ya,” tutur Aryan.

Anaknya yang paling kecil ini memang cukup kritis untuk anak seusianya. Kadang Aryan maupun Karin seringkali kualahan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Taura. Tentunya anak kecil dan orang dewasa memiliki kemampuan pemahaman yang berbeda. Menjadi orang tua, membuat Aryan dan Karin belajar banyak hal. Mereka harus belajar lebih dulu dan benar-benar paham, untuk kemudian memberi pengertian pada anak-anak mereka.

***

Setelah acara pemberkatan, di sisi barat venue tersebut, para tamu dipersilakan untuk memberi ucapan selamat kepada pengantin di pelaminan. Aryan dan Karin serta ketiga anak mereka turut serta di sana. Mereka sempat berfoto khusus untuk sesi keluarga inti. Selepas itu, baru lah sesi pemberian selamat.

“Nay, selamat ya,” ucap Karin pada Nayna. Adik iparnya itu segera memeluk Karin dan mengucapkan terima kasih.

“Kak, bagi tips malam pertama dong,” bisik Nayna begitu pelan.

“Nanti chat aja atau telfon, aku online buat kamu tanya-tanyain. Oke?” balas Karin memberi arahan pada Nayna.

“Siap Kak, makasih banyak lho.”

Kemudian kedua perempuan itu sama-sama terkikik sekilas. Sementara di waktu yang sama, Aryan tengah menghampiri lelaki yang kini telah resmi menjadi adik iparnya itu. Aryan memeluk lelaki itu dan mengatakan sesuatu, “Congrats, Bro. Lo bener-bener udah memenagkan hati Nayna dan juga keluarga gue. Pastiin lo bahagiain dia ya, kalau nggak, artinya lo akan berurusan sama bokap gue, habis itu lo berurusan sama gue juga.”

Setelah mengucapkan itu, pelukan khas ala pria yang dilakukan keduanya pun terurai. Aryan mengulaskan senyumnya yang dibalas senyuman simpul di wajah oriental suami adiknya itu.

“Sesuai janji gue sama lo di awal, gue akan bahagiain Nayna. Gue udah berjanji di hadapan Tuhan, gue nggak ingin mengingkari janji itu dan jadi umat yang nggak taat.”

Aryan menepuk pundak lelaki itu sekali. Siapa pun bisa berubah lebih baik karena hadirnya cinta. Kini itu sungguh nyata dan Aryan sangat mempercayainya.

***

Tiba saatnya di puncak acara, yakni adalah acara dansa. Konsep yang sangat santai dan modern itu adalah keinginan dari Nayna. Ia ingin berdansa bersama tamu-tamunya, jadi tidak ada gap antara pengantin dan semua hadirin. This party belongs to all people that attend this night, begitulah slogan acaranya.

Namun tanpa sepengatahuan dari Nayna, di sebuah layar besar tepat di samping orkestra musik, suaminya telah menyiapkan sebuah surprise untuknya. Begitu Nayna melihat ke layar itu, di sana tampak sebuah video yang menampilkan slide foto-foto kebersamaan keduanya dan ada potret-potret candid Nayna yang diam-diam lelaki itu ambil. Nayna sungguh merasa terharu. Nayna benar-benar dapat merasakan bahwa William sungguh mencintainya sedalam ini.

William Danendra, pria yang hari ini telah Nayna resmi nikahi, menatapnya dengan tatapan penuh cinta di hadapan ratusan tamu yang hadir. Para tamu juga menatap ke arah mereka, menyaksikan dua sejoli yang mulai berdansa dengan iringan alunan musik yang begitu indah. Tidak ingin kalah dengan pasangan itu, beberapa tamu mulai ikut melakukan dansa. Baik muda dan mudi, para tetua yang berpasangan pun juga ikut berdansa dengan begitu mesra.

Begitu beberapa menit acara dansa itu berlangsung, terdengar intro lagu Line Without A Hook, itu merupakan lagu kesukaan Nayna. Nayna ingat ia pernah mengatakan pada William bahwa lagu tersebut sangat menggambarkan perjuangan cinta keduanya. Bukan hanya William yang berjuang meyakinkan Nayna bahwa ia sungguh-sungguh mencintai gadis itu, tapi seperti dalam lagu yang mengatakan bahwa seseorang akan hancur tanpa kekasih hatinya, begitulah Nayna saat dirinya tanpa William. Bagi William sendiri, ia adalah lelaki biasa yang memiliki banyak kekurangan, tapi Nayna memberinya kesempatan untuk berubah jadi pria yang pantas untuknya. Sampai hari itu tiba, Nayna yang sudah yakin padanya, rela memberikan dirinya untuk lelaki itu.

Di antara tamu-tamu yang berdansa, Aryan dan Karin juga ada di sana, mereka tidak ingin melewatkannya. Sebagai pasangan, mereka juga ingin menikmati waktu ini. Saat masih berdansa diiringi lagu Lin Without a Hook yang terdengar begitu merdu, Aryan mengatakan sesuatu pada Karin. “Karina Titania Roland, saya Aryan Sakha Brodjohujodyo, mengambil kamu untuk menjadi istri saya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Di saat sehat maupun sakit, di saat senang mau pun susah. Saya mencintaimu dan berjanji di hadapan Tuhan bahwa hanya kamu satu-satunya wanita yang ada di hidup saya, yang akan saya berikan seluruh cinta yang saya miliki.”

Random sekali memang kelakuan Aryan ini. Namun mau tidak mau Karin tersenyum mendapatinya. Aryan mengatakan bahwa ia ingin mengucapkannya karena dulu ia tidak mengatakannya dengan sepenuh hati. Aryan ingin mereka ulang adegan tersebut dan membuat memori yang indah untuk mereka.

Sesaat kemudian, Karin bergerak meletakkan kedua lengannya untuk melingkar ringan di bahu Aryan. Sambil menatap lelakinya penuh cinta, Karin pun berujar, “Saya Karina Titania Roland, bersedia menerima kamu Aryan Sakha Brodjohujodyo, untuk menjadi suami saya. Saya mencintai kamu di saat senang maupun susah, di saat sakit maupun sehat. Saya berjanji di hadapan Tuhan, kamu adalah satu-satunya cinta di hidup saya.”

Usai Karin mengucapkan kalimatnya, tanpa aba-aba apapun, Aryan segera bergerak mencium bibirnya. Karin merasakan sesuatu lembut dan kenyal itu tengah mengulum bibirnya dengan lumayan dalam. Otomatis rangkulan Karin di bahu Aryan mengerat, bahkan ia sedikit berjinjit untuk dapat menyamai tinggi suaminya.

Di antara pasangan lain yang berdansa, rupanya hanya mereka yang melakukan ciuman, bahkan dengan begitu kissing mesra. Dunia seolah berhenti berputar sesaat, Aryan dan Karin jadi pemiliknya untuk beberapa detik.

Saat akhirnya ciuman mereka terurai, Karin lekas bertanya kepada Aryan, “Kalau kita punya anak lagi gimana, Kak? Kamu mau?”

“Bagus dong, Sayang. Anak itu kan anugerah,” ujar Aryan cepat. Aryan mengatakan bahwa ia akan bekerja lebih keras lagi untuk bisa menghidupi Karin dan anak-anak mereka kelak. Aryan akan lebih semangat bekerja jika mereka punya anak lagi, ada motivasi untuknya membahagiakan istri dan anak-anaknya.

“Sayang, listen to me. Aku sih seneng banget kalau kita punya anak lagi. Tapi yang hamil dan melahirkan kan kamu, jadi aku akan menyerahkan keputusannya di kamu. Masih ada KB sama pengaman, kalau emang kamu merasa kita cukup dengan tiga anak.”

Karin pun mengangguk setuju pada akhirnya. Mereka spontan mengulaskan senyum, seperti anak ABG yang baru pacaran, padahal sudah 11 tahun usia pernikahan mereka. Saat mereka akan berpelukan bahkan Aryan ingin mencium Karin lagi, suasana mesra itu terpecahkan oleh kedatangan ketiga anak mereka.

Aryan dan Karin lantas sedikit menjauh dan melemparkan tatapan canggung di hadapan anak-anak.

“Papa sama Mama mau ngapain barusan?” celetuk Taura yang ceplas ceplos. Anaknya yang satu itu memang beda, sepertinya Karin kelebihan nutrisi waktu mengandung Taura.

“Barusan itu adalah tanda sayangnya Papa ke Mama. Tapi cuma boleh dilakukan jika sudah menikah. Contoh lainnya kayak aunty Nay dan Om Willy di altar tadi,” jelas Aryan.

“Papa kiss Mama doang?” tanya Taura lagi.

“Iya dong, kan Mama istrinya Papa. Kalau Papa kiss perempuan lain, Mama bisa marah. Papa akan berdosa juga, Sayang.”

“Papa, I want to marry Mama. Because I love her so much,” sela River tiba-tiba. Anak keduanya itu lantas mendekat pada Karin dan menggenggam tangannya dengan posesif.

Aryan tersenyum sekilas, lalu ia memberi pengertian pada River. “You couldn’t marry Mama, River. Mama adalah istri Papa. Suatu hari, kamu akan bertemu perempuan yang baik dan kamu cintai, kamu akan menikahinya. Oke?”

Melihat kelakukan Aryan dan anak-anak mereka, Karin hanya dapat tersenyum maklum. Setiap hari ia sudah kenyang mengkonsumsi obrolan dari yang paling receh sampai yang paling jenius antara bapak dan anak itu.

Kemudian Aryan memiliki ide jahil, ia lantas meminta anak-anak untuk nutup mata. Aryan mengatakan bahwa dirinya akan mencium Karin lagi. Anak-anaknya menurut. Namun ketika Aryan hendak mencium Karin, Svarga si sulung yang paling cerdik itu langsung menarik tangan mamanya untuk menjauh dari Aryan. Aryan yang mendapati itu, segera memberi komandan pada River dan Taura untuk menyusul Svarga dan Karin.

“Mama kita diculik sama Svarga. Kita harus selamatin Mama, let’s go boys, we should get Mama back,” seru Aryan yang langsung diangguki oleh si polos River dan si kritis Taura.

Potret keluarga itu nampak begitu indah untuk dilihat. Aryan yang dapat menjadi layaknya seorang teman untuk anak-anaknya. Mereka sering bercanda dan bermain bersama. Ada waktunya serius, dan ada waktunya bersenang-senang. Sementara Karin menjadi idola untuk ketiga anaknya, mereka begitu menyayangi dan menghormati sosok mamanya. Hal tersebut tentunya tidak terbentuk begitu saja, tapi banyak juga yang Karin dan Aryan lakukan untuk mendidik anak-anak mereka. Selain itu Aryan memberi andil yang cukup besar, perilakunya yang menyayangi Karin di depan anak-anak mereka, membuat anak-anak menirunya. Karin begitu disayang oleh empat lelaki yang juga sangat ia sayangi di dalam hidupnya. Karin dan Aryan telah sepakat untuk mendidik anak-anak mereka untuk menjadi diri mereka sendiri. Bukan menjadi sosok manusia baru yang mereka inginkan.

Svarga si paling penyayang namun sedikit jahil, River si manja dan sangat jujur terhadap perasaannya, serta Taura si paling kritis dan jenius. Anak-anak mereka unik,berharga, dan punya kelebihannya masing-masing. Aryan dan Karin mencintai anak-anak mereka dengan semua yang ada di diri mereka. Hadirnya Svarga, River, dan Taura telah membuat Aryan dan Karin merasa begitu cukup dan lengkap.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Langit sore hari ini nampak begitu cerah. Namun itu berbanding terbalik dengan suasana hati Catherine. Hatinya terasa campur aduk. Perlakuannya Karin di masa lalu terasa tidak benar di hati Catherine. Di satu sisi, Catherine merasa bersalah dan begitu berdosa, tapi ego rupanya masih begitu mendominasi dirinya.

Selesai acara arisan yang didatangi oleh Catherine, kini wanita berusia 60 tahunan itu tengah berada di mobil bersama anak lelakinya. Rey, anak keduanya yang menjemputnya untuk pulang. Tiba-tiba saja Catherine menoleh pada Rey dan menanyakan satu hal yang membuat Rey seketika terdiam. Rey belum bisa memberikan jawaban atas pertanyaan mamanya itu.

“Kakak kamu udah nikah dan punya dua anak. Mama udah tua Sayang, mama ingin lihat kamu bahagia dengan keluarga kecil kamu,” tutur Catherine.

Tidak kunjung mendapat jawaban dari anaknya, Catherine akhirnya kelepasan mengungkit masa lalu antara Rey dan Karin. “Apa karena kamu belum bisa melupakan perempuan itu, kamu tidak mau membuka hati untuk perempuan lain? Kamu terlalu menutup diri semenjak perpisahan kamu dan Karin,” ujar Catherine. Satu hal yang rupanya Catherine tidak ketahui, perkataannya itu telah begitu menghancurkan anaknya sendiri.

Rey yang sebelumnya masih berusaha menahan semuanya, pada akhirnya tidak sanggup lagi. Selama bertahun-tahun lelaki itu telah memendamnya dan mungkin ini lah saatnya ia akan mengungkapkan semua unek-unek yang mengganjal di hatinya.

“Mah, tolong berhenti lakuin semua ini,” ucap Rey, ia menghembuskan napasnya yang terdengar berat.

“Tanpa mama sadar, bertahun-tahun perilaku Mama yang selalu nuntut Rey untuk ini dan itu, untuk bisa sama seperti kakak dari segi pretasi maupun karir, semua itu bikin Rey nggak nyaman Mah,” ungkap Rey sambil menatap Catherine dengan tatapan penuh lukanya.

Rey menjeda ucapannya sambil berusaha mengatur napasnya yang terasa naik turun. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu berbobot berat yang menghantamnya di sana. Rey tidak ingin menyalahkan keadaan, tapi terkadang sebagian besar yang dialami seseorang adalah hasil yang didapatkannya dari lingkungan sekitarnya. Sebagai anak kedua, Rey memang selalu lebih diprioritaskan oleh orang tuanya. Namun itu setara dengan apa yang ia tuai. Rey selalu dibandingkan dengan kakaknya, dituntut untuk bisa dalam segala hal. Mungkin itu yang membuat Rey sering merasa kurang percaya diri, padahal sebenarnya ia sudah melakukan yang terbaik yang bisa ia lakukan.

Mendapati perkataan Rey yang tiba-tiba itu, Catherine pun nampak begitu shock. Ia tidak percaya bahwa anak yang selama ini begitu patuh padanya, kini melontarkan kata-kata yang menyakiti hatinya. Catherine terdiam tanpa bisa mengucapkan apapun, sampai akhirnya Rey kembali mengutarakan kalimatnya.

“Kalau aja Mama nggak minta Karin pergi dari hidup Rey, mungkin cita-cita Mama buat ngeliat Rey punya keluarga sendiri udah terwujud.”

Catherine menghela napasnya panjang, kemudian wanita itu berujar, “Sekalipun mama nggak minta dia pergi dari hidup kamu, dia akan tetap memilih lelaki itu, Rey. Nggak semua bisa kamu paksakan, kamu harus menerima takdir ini.”

Rey terdiam selama beberapa saat, ia akhirnya sadar bahwa apa yang dikatakan mamanya itu ada benarnya. Sudah lima tahun berlalu, tapi Rey masih belum bisa move on dan melupakan sosok Karin. Rasanya begitu sulit membuka hati untuk orang baru di dalam hidupnya. Karin adalah cinta terindah yang pernah singgah di hatinya dan begitu membekas. Namun lagi dan lagi, kenyataan yang terjadi terasa sangat pahit, saat takdir tidak memihak pada apa yang kita kehendaki.

“Rey, dia udah bahagia sama pilihannya. Mama barusan ketemu sama Karin dan keluarga lelaki itu. Mertuanya Karin adalah salah satu teman arisan Mama. Mungkin mertuanya Karin memang bangga sama Karin, tapi bisa aja itu terjadi karena dari awal anaknya udah ada hubungan sama Karin. Kadang apa yang kita lihat, kita nggak pernah tau apa yang sebenarnya ada di balik semua itu kan.”

“Iya, Mama memang nggak pernah tau, Mah.” Ucapan Rey itu sukses membuat Catherine melempar tatapan tanya.

“Maksud kamu apa Rey?” tanya Catherine nampak tidak mengerti.

“Mama nggak pernah tau, tapi Mama selalu membuat asumsi sendiri. Karin perempuan yang terhormat dan dia nggak pernah selingkuh dari Rey, Mah. Karin di jebak malam itu,” Rey menjeda ucapannya, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menunjukkan sebuah judul berita pada Catherine di layar ponsel itu.

Catherine membaca berita yang rupanya telah ramai menjadi perbincangan dan menuai ribuan komentar dari para pengguna internet. Selain itu Rey juga menunjukkan karir Karin yang kini tengah sukses di dunia modelnya.

Meski sedang mengandung anak kedua, model cantik Karina Roland tetap menerima banyak tawaran job fashion show. Project yang paling bernilai tinggi miliknya adalah Paris Fashion Week yang akan diadakan Desember tahun ini.

Project PFW tersebut belum mendapat confirmed dari pihak Karina. Namun para penggemar Karina yang antusias, sangat berharap idola mereka dapat menghadiri pagelaran fashion ternama tersebut.

Usai membaca berita tersebut, Catherine kembali menyerahkan ponsel di tangannya kepada Rey. Sebelum Rey hendak menjalankan mobilnya, lelaki itu kembali mengatakan satu hal pada mamanya. “Mama hanya menilai seseorang dari apa yang terjadi dan bahkan belum bisadipastikan kebenarannya. Rasanya itu nggak adil dan dalam pemikiran Rey, itu semua kurang benar, Mah. Karina perempuan yang baik dan hebat, Mama sekarang udah tau kan. Jadi Rey pikir, pantas aja kalau mertuanya Karin sayang dan bangga banget sama dia.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Langit sore hari ini nampak begitu cerah. Namun itu berbanding terbalik dengan suasana hati Catherine. Hatinya terasa campur aduk. Perlakuannya Karin di masa lalu terasa tidak benar di hati Catherine. Di satu sisi, Catherine merasa bersalah dan begitu berdosa, tapi ego rupanya masih begitu mendominasi dirinya.

Selesai acara arisan yang didatangi oleh Catherine, kini wanita berusia 60 tahunan itu tengah berada di mobil bersama anak lelakinya. Rey, anak keduanya yang menjemputnya untuk pulang. Tiba-tiba saja Catherine menoleh pada Rey dan menanyakan satu hal yang membuat Rey seketika terdiam. Rey belum bisa memberikan jawaban atas pertanyaan mamanya itu.

“Kakak kamu udah nikah dan punya dua anak. Mama udah tua Sayang, mama ingin lihat kamu bahagia dengan keluarga kecil kamu,” tutur Catherine.

Tidak kunjung mendapat jawaban dari anaknya, Catherine akhirnya kelepasan mengungkit masa lalu antara Rey dan Karin. “Apa karena kamu belum bisa melupakan perempuan itu, kamu tidak mau membuka hati untuk perempuan lain? Kamu terlalu menutup diri semenjak perpisahan kamu dan Karin,” ujar Catherine. Satu hal yang rupanya Catherine tidak ketahui, perkataannya itu telah begitu menghancurkan anaknya sendiri.

Rey yang sebelumnya masih berusaha menahan semuanya, pada akhirnya tidak sanggup lagi. Selama bertahun-tahun lelaki itu telah memendamnya dan mungkin ini lah saatnya ia akan mengungkapkan semua unek-unek yang mengganjal di hatinya.

“Mah, tolong berhenti lakuin semua ini,” ucap Rey, ia menghembuskan napasnya yang terdengar berat.

“Tanpa mama sadar, bertahun-tahun perilaku Mama yang selalu nuntut Rey untuk ini dan itu, untuk bisa sama seperti kakak dari segi pretasi maupun karir, semua itu bikin Rey nggak nyaman Mah,” ungkap Rey sambil menatap Catherine dengan tatapan penuh lukanya.

Rey menjeda ucapannya sambil berusaha mengatur napasnya yang terasa naik turun. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu berbobot berat yang menghantamnya di sana. Rey tidak ingin menyalahkan keadaan, tapi terkadang sebagian besar yang dialami seseorang adalah hasil yang didapatkannya dari lingkungan sekitarnya. Sebagai anak kedua, Rey memang selalu lebih diprioritaskan oleh orang tuanya. Namun itu setara dengan apa yang ia tuai. Rey selalu dibandingkan dengan kakaknya, dituntut untuk bisa dalam segala hal. Mungkin itu yang membuat Rey sering merasa kurang percaya diri, padahal sebenarnya ia sudah melakukan yang terbaik yang bisa ia lakukan.

Mendapati perkataan Rey yang tiba-tiba itu, Catherine pun nampak begitu shock. Ia tidak percaya bahwa suatu hari anak yang selama ini begitu patuh dan nurut padanya, akan melontarkan kata-kata yang menyakitinya. Catherine terdiam tanpa bisa mengucapkan apapun, sampai akhirnya Rey kembali mengutarakan kalimatnya.

“Kalau aja Mama nggak minta Karin pergi dari hidup Rey, mungkin cita-cita Mama buat ngeliat Rey punya keluarga sendiri udah terwujud.”

Catherine menghela napasnya panjang, kemudian wanita itu berujar, “Sekalipun mama nggak minta dia pergi dari hidup kamu, dia akan tetap memilih lelaki itu, Rey. Nggak semua bisa kamu paksakan, kamu harus menerima takdir ini.”

Rey terdiam selama beberapa saat, ia akhirnya sadar bahwa apa yang dikatakan mamanya itu ada benarnya. Sudah lima tahun berlalu, tapi Rey masih belum bisa move on dan melupakan sosok Karin. Rasanya begitu sulit membuka hati untuk orang baru di dalam hidupnya. Karin adalah cinta terindah yang pernah singgah di hatinya dan begitu membekas. Namun lagi dan lagi, kenyataan yang terjadi terasa sangat pahit, saat takdir tidak memihak pada apa yang kita kehendaki.

“Rey, dia udah bahagia sama pilihannya. Mama barusan ketemu sama Karin dan keluarga lelaki itu. Mertuanya Karin adalah salah satu teman arisan Mama. Mungkin mertuanya Karin memang bangga sama Karin, tapi bisa aja itu terjadi karena dari awal anaknya udah ada hubungan sama Karin. Kadang apa yang kita lihat, kita nggak pernah tau apa yang sebenarnya ada di balik semua itu kan.”

“Iya, Mama memang nggak pernah tau, Mah.” Ucapan Rey itu sukses membuat Catherine melempar tatapan tanya.

“Maksud kamu apa Rey?” tanya Catherine nampak tidak mengerti.

“Mama nggak pernah tau, tapi Mama selalu membuat asumsi sendiri. Karin perempuan yang terhormat dan dia nggak pernah selingkuh dari Rey, Mah. Karin di jebak malam itu,” Rey menjeda ucapannya, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menunjukkan sebuah judul berita pada Catherine di layar ponsel itu.

Catherine membaca berita yang rupanya telah ramai menjadi perbincangan dan menuai ribuan komentar dari para pengguna internet. Selain itu Rey juga menunjukkan karir Karin yang kini tengah sukses di dunia modelnya.

Meski sedang mengandung anak kedua, model cantik Karina Roland tetap menerima banyak tawaran job fashion show. Project yang paling bernilai tinggi miliknya adalah Paris Fashion Week yang akan diadakan Desember tahun ini.

Project PFW tersebut belum mendapat confirmed dari pihak Karina. Namun para penggemar Karina yang antusias, sangat berharap idola mereka dapat menghadiri pagelaran fashion ternama tersebut.

Usai membaca berita tersebut, Catherine kembali menyerahkan ponsel di tangannya kepada Rey. Sebelum Rey hendak menjalankan mobilnya, lelaki itu kembali mengatakan satu hal pada mamanya. “Mama hanya menilai seseorang dari apa yang terjadi dan bahkan belum bisadipastikan kebenarannya. Rasanya itu nggak adil dan dalam pemikiran Rey, itu semua kurang benar, Mah. Karina perempuan yang baik dan hebat, Mama sekarang udah tau kan. Jadi Rey pikir, pantas aja kalau mertuanya Karin sayang dan bangga banget sama dia.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷