alyadara

Saat ini kandungan Karin telah memasuki usia 39 minggu. Sebelumnya Aryan dan Karin telah berencana untuk menggunakan metode water birth untuk kelahiran anak pertama mereka. Setelah berbagai konsultasi dilakukan kepada dokter dan mendapat berbagai pertimbangan, akhirnya Karin dan Aryan sepakat agar menggunakan metode tersebut untuk proses persalinan.

Karin sudah merasakan kontraksi di perutnya sejak tadi malam. Hingga saat akhirnya pagi hari tiba, pembukaan jalan lahir sudah sampai ke pembukaan 4 saat tenaga medis membantu mengeceknya. Berbagai persiapan pun segera dilakukan. Sekitar pukul delapan pagi, 2 orang tenaga medis serta 1 dokter sudah siap membantu Karin untuk melakukan persalinannya.

Di lantai satu rumah mereka, sudah dipersiapkan sebuah bak air yang telah diisi dengan air hangat yang dipastikan steril . Tempat persalinan harus dibuat senyaman mungkin, yang bertujuan membuat sang ibu dapat lebih rileks saat menghadapi rasa sakit dari proses melahirkan.

Karin masih berada di kamarnya,ia baru saja selesai mengganti dress tidurnya dengan sebuah sport bra hitam dan sebuah handuk yang melilit pinggangnya. Aryan berada di sana bersama Karin, selalu berada di sisinya dan berusaha menenangkannya.

“Kak,” ujar Karin pelan. Dengan posisi Karin yang saat ini duduk di tepi ranjang dan Aryan berdiri di hadapannya, Karin pun mendongakkan kepalanya untuk dapat menatap Aryan.

“Kenapa, Sayang?” balas Aryan kemudian, tatapannya begitu teduh dan lembut menatap Karin.

“Aku takut, Kak. Semuanya bakal baik-baik aja, kan?” tanya Karin.

Meskipun Aryan memiliki kekhawatiran yang sama dengan Karin, ia berusaha untuk tidak memperlihatkan itu di hadapan istrinya.

“Kalau kamu takut, itu wajar. Ini momen pertama buat kamu. Tapi kamu tau, hari ini akan jadi hari yang spesial buat kamu dan juga buat aku. Anak kita bakal lahir, kamu senang kan mau ketemu sama dia?” tutur Aryan lembut.

Karin perlahan-lahan mengangguk. Perkataan Aryan terasa sanagt benar di hatinya. Tidak masalah merasa takut, Karin memiliki sosok yang menguatkannya, Aryan dan anak mereka. Selain itu, rasa cinta Karin pada anaknya melebihi rasa cinta terhadap dirinya sendiri. Begitulah sejatinya seorang ibu, sesakit apapun akan dilalui demi sang buah hati.

Detik berikutnya, Karin segera bergerak dari posisinya. Karin berdiri lalu sedikit berjinjit untuk meraih Aryan ke dalam pelukannya. Dalam dekapan tersebut, Karin selalu dapat merasa nyaman dan tenang. Aryan adalah rumah baginya.

Saat pelukan mereka terurai, Aryan menatap Karin sembari berujar, “Satu hal yang kamu harus tau, Sayang.” Aryan lalu mengarahkan tangannya untuk menangkup kedua sisi wajah Karin, ia menatap wanitanya dengan tatapan penuh afeksi. “Aku ada sini terus sama kamu. Kamu pegang tangan aku ya,” sambung Aryan.

***

Bak air yang berukuran cukup besar itu menjadikannya sangat cukup untuk ditempati oleh Karin dan Aryan. Sudah sekitar 2 jam Karin menghadapi rasa sakit dan berjuang melahirkan anak mereka. Aryan berada di belakang Karin, memaluk tubuhnya, dan selalu memberikannya semangat.

Dua orang tenaga medis pun turut membantu Karin, beberapa kali mengecek ke bagian bawahnya untuk memastikan kondisi si bayi. Saat sudah mencapai pembukaan pembukaan sepuluh, seorang dokter memberi Karin instruksi untuk mengejan. Karin diarahkan untuk mengambil napas, dan menghembuskannya, dan melakukan dorongan semampunya dengan perlahan-lahan.

Beberapa kali juga, Karin merubah posisinya untuk mendapat spot ternyaman. Kali ini Karin ingin menghadap Aryan. Karin membutuhkan lelaki itu untuk menguatkannya. Dengan posisi berhadapan dan berpelukan ringan, saat ini Karin tengah menyandarkan kepalanya di dada bidang Aryan.

Aryan sesekali memberikan kecupan di kening Karin dan mengusap peluh yang membanjiri pelipisnya. Aryan kemudian berujar pelan di dekat Karin, “Sayang, kamu bisa laluin rasa sakit ini. Kamu perempuan hebat dan kuat. I love you.”

Mata Karin yang sebelumnya sudah berkaca-kaca, mendengar kalimat yang diutarakan oleh Aryan, membuat tangisnya tidak dapat lagi terbendung. Rasa sakit karena proses melahirkan bercampur cinta yang Aryan berikan padanya, tidak kuasa membuat Karin menahan tangisnya.

Tiga puluh menit berlalu setelah itu, dengan rasa sakit yang begitu luar biasa, akhirnya suara tangis bayi terdengar begitu kuat terdengar memenuhi ruangan tersebut. Karin telah berhasil melahirkan anaknya. Dengan kedua lengannya, Karin pun memeluk putranya untuk yang pertama kali. Karin masih berada di dalam di dekapan Aryan, membuat lelaki itu kini dapat merengkuh dua dunianya yang begitu berharga. Mereka memandangi wajah anak mereka bersama, bahkan tangis Aryan pecah juga saat menyaksikan anaknya menatap ke arahnya.

Karin mengusapkan ibu jarinya perlahan di pipi lembut anaknya, lalu ia berujar, “Hai, anak Mama dan Papa.” Karin mendongak untuk mempertemukan netranya dengan Aryan. “Sayang, liat. Hidungnya mirip kamu banget.”

Aryan lantas mengulaskan senyum lebarnya, lalu dengan gerakan lembut, Aryan menyematkan kecupan di pipi anaknya sekilas. Bayi lelaki yang berada di dalam pelukan kedua orang tuanya itu. memiliki kedua mata yang begitu mirip dengan mamanya, tapi sisanya hampir semua mengambil gen dari papanya. Bentuk hidung mancungnya persis seperti hidung Aryan, bibirnya juga persis dengan milik lelaki itu.

Sebuah perjuangan yang begitu besar untuk melahirkan anak pertamanya, pengalaman ini tentunya tidak akan Karin dan Aryan lupakan. Karin merasa begitu utuh dan sempurna menjadi seorang perempuan yang bisa melahirkan seorang nyawa baru ke dunia.

Setelah proses pengeluaran plasenta yang nyatanya lebih sakit dari proses melahirkan itu sendiri, Karin pun di perbolehkan untuk beranjak dari bak air. Namun tepat sebelum itu, posisi Karin yang berhadap dengan Aryan, memudahkannya untuk memberikan kecupan di bibir lelakinya. Netra Aryan yang melebar selama beberapadetik karena terkejut mendapati serangan mendadak dari Karin, segera beralih untuk membalas ciuman itu. Adegan tersebut mau tidak mau disaksikan oleh tenaga medis dan dokter yang masih berada di sana. Mereka mengulaskan senyum terharu yang begitu bahagia menyaksikan dua orang yang saling mencintai tengah memadu kasih.

Setelah ciuman itu akhirnya terurai, Aryan mendekatkan Karin padanya, memangkas jarak yang ada di antara mereka, tapi tidak sampai habis seperti biasanya. Kini ada kebahagiaan baru yang tengah hadir di antara keduanya. Bayi lelaki tampan yang mereka beri nama Svarga Tarendra Brodjohujodyo. Svarga memiliki arti surga dalam bahasa sanskerta. Tarendra memiliki arti pangeran bintang dan Brodjohujodyo adalah nama keluarga yang memang diwariskan untuk keturunan-keturunan selanjutnya.

Aryan dan Karin sengaja memilih nama Svarga, karena bagi mereka, Sarga merupakan anugerah selayaknya surga yang telah mempersatukan cinta mereka.

Svarga (dibaca) : Varga

***

Setelah sekitar satu jam lebih memejamkan matanya, akhirnya kini Karin telah terbangun. Tubuhnya erasa jauh lebih baik saat ini. Energi Karin seperti di isi ulang kembali, setelah melewati lelah letihnya sebuah proses melahirkan.

Ketika Karin menyandarkan punggungnya ke header kasur di kamar, ia mendapati Aryan membuka pintu kamar dengan menggendong anak mereka di dekapan lelaki itu.

Aryan segera mendekat pada Karin, masih dengan menimang pelan Svarga di gendongan, keduanya pun menatap wajah Svarga bersamaan.

“Anteng banget kamu, Nak. Di gendong siapa sih kamu emangnya?” ujar Karin sembari menjawil pelan pipi halus Svarga.

Detik berikutnya Karin mendongakkan kepalanya untuk mempertemukan netranya dengan netra Aryan.

“Karin,” ujar Aryan.

“Iya Kak?”

Wajah Aryan yang semula nampak biasa, kini air mukanya nampak sedikit memerah dan terlihat kilatan bening di kedua bola matanya. Aryan lantas bergerak mengambil posisi di tepi ranjang, ia duduk di sana.

“Terima kasih ya, kamu udah melahirkan Svarga,” ucap Aryan sembari tidak melepaskan pandangannya dari Karin. Aryan lantas mengulaskan senyum bahagianya, ia menatap Karin dengan pancaran cinta yang begitu dapat dirasakan oleh Karin sendiri.

Karin masih terdiam di tempatnya mendapati kalimat Aryan. Beberapa detik berlalu, Karin menurunkan pandangannya dari Aryan. Karin lantas meletakkan tangannya di atas tangan Aryan yang mendekap Svarga.

“Kak, aku juga terima kasih sama kamu. Tanpa kamu, mungkin aku nggak akan sekuat itu. Perjuangan aku yang berhasil melahirkan Svarga, di dalamnya ada peran kamu yang besar banget. Makasih ya,” tutur Karin.

Detik berikutnya, mereka bersamaan mengulaskan senyum simpul. Aryan dan Karin telah berhasil mewujudkan kebahagiaan untuk mereka dan surga yang sejak awal telah mempersatukan keduanya. Aryan dan Karin belajar untuk saling mencintai setelah di awal mereka pernah sama-sama dihancurkan oleh keadaan. Namun berkat usaha dan tekad besar keduanya, kini Aryan dan Karin berhasil mewujudkan kebahagiaan yang telah mereka nantikan sebelumnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan mengerti mengapa Karin tidak membiarkannya untuk turun dari mobil. Selama Karin bertemu dan berbincang dengan Rey di kafe, Aryan menunggunyadi mobil. Karin mengatakan bahwa ia memikirkan perasaan Rey. Rey adalah masa lalu bagi Karin yang hanya akan menjadi kenangan. Aryan pun menghargai masa lalu milik Karin tersebut. Aryan berpikir bahwa buku yang dimiliki Karin dan Rey telah menemui akhir kisahnya. Kini Karin akan memulai lembar di buku yang baru bersama Aryan.

“Kak,” ujar Karin yang seketika memecah pikiran Aryan.

Tanpa menoleh ke samping karena harus fokus menyetir, Aryan lantas menanggapi panggilan Karin, “Iya?”

Karin memperhatikan Aryan yang tengah menyetir menggunakan satu tangannya. Kemudian Karin mendekatkan dirinya, ia bergerak memeluk satu lengan Aryan yang bebas. Aksi Karin tersebut membuat Aryan menjadi kurang fokus terhadap jalanan di depannya. Aryan, lo harus fokus nyetir, ucap Aryan di dalam hatinya.

“Nggak papa aku gini?” Karin bertanya dengan nadanya yang terdengar sedikit sungkan.

“Nggak papa,” jawab Aryan cepat. Dalam hatinya, Aryan merasa begitu senang mendapati perilaku Karin terhadapnya.

Karin dan Aryan kini telah sepakat untuk memulai lembar kehidupan mereka yang baru. Setelah masing-masing mengakhiri hubungan dengan pasangan mereka, Aryan dan Karin memutuskan untuk belajar saling mencintai. Mereka akan membuka hati dan menjalani kehidupan berumah tangga bersama. Karin akan belajar untuk mencintai Aryan, setelah lebih dulu Aryan mengungkapkan perasaan lelaki itu terhadapnya.

Aryan dan Karin melakukannya untuk masa depan keduanya dan juga anak mereka kelak. Bayi di dalam kandungan Karin akan membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya. Jika Aryan dan Karin sebagai orang tua saja tidak tahu rasanya saling mencintai, bagaimana bisa bersamaan memberikan cinta tersebut untuk sang bayi? Itu terdengar agak mustahil untuk terjadi. Aryan dan Karin telah memutuskan untuk memberikan kasih sayang terbaik untuk satu sama lain dan juga untuk anak mereka nantinya.

Aryan menoleh sekilas ke arah Karin dan melihat Karin nampak memejamkan matanya. Kepala Karin mendusel di lengan Aryan, nampak nyaman, mirip seperti bayi koala.

“Karin, kamu ngantuk?” tanya Aryan dengan suara pelan.

Mendengar pertanyaan Aryan, Karin segera mendongakkan kepalanya. Mata mereka bertemu dan Karin mengurai pelukannya di lengan Aryan. Saat ini mobil mereka sedang berhenti karena lampu merah di depan, jadi Aryan bisa memberikan fokus penuhnya kepada Karin.

“Mau peluk aja. Aku nggak ngantuk sih sebenarnya,” jawab Karin diiringi senyum kecilnya.

Alright, peluk aja,” balas Aryan sembari mengusap sekilas pipi Karin. Jeda dua detik berikutnya, Aryan pun nampak mengulaskan senyumnya. Senyum tersebut tampak begitu alami, hingga Karin sedikit terkejut dibuatnya. Melihat senyum itu, hati Karin rasanya berantakan, persis seperi lemari pakaiannya ketika ia belum sempat merapikannya.

Karin akhirnya memutuskan untuk kembali memeluk lengan Aryan ketika lelaki itu mulai memanuver mobilnya, rupanya lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau.

Apa yang Karin lakukan tersebut berdasarkan apa kata hatinya. Tiba-tiba Karin ingin merasakan bagaimana hangatnya berada di pelukan Aryan. Lebih dari yang Karin bayangkan, ternyata rasanya begitu nyaman sekaligus membahagiakan.

Di tempat duduknya, Aryan sedang berusaha mengatakan pada dirinya sendiri untuk tetap fokus menyetir. Rupanya aksi kecil Karin tersebut mampu menciptakan dampak yang cukup besar bagi Aryan. Halus kulit Karin yang bersentuhan dengan kulit lengannya, tutur lembut ketika perempuan itu berucap, sukses membuat jantung Aryan membuncah bahagia di dalam sana.

***

Karin baru saja kembali ke kamar setelah mengganti pakaiannya. Sedikit belum terbiasa, jadi Karin masih melakukannya di dalam kamar mandi. Kamar yang beberapa bulan lalu hanya ditempati olehnya seorang diri, kini keadaannya nampak berbeda. Karin tidak sendirian lagi, ia tahu, ketika akan tidur akan ada seorang yang memandang wajahnya. Ketika ia membuka mata, akan ada sosok yang menatapnya sembari mengulaskan senyum surgawinya yang nampak begitu teduh dan indah.

Ketika Karin sudah menjamah kasur lebih dulu, tidak lama setelah itu Aryan pun bergerak menyusulnya.

“Kak, kamu pakai parfum yang mana?” tanya Karin sembari menautkan alisnya.

“Parfum aku yang biasa. Kenapa? Kamu kurang suka ya sama aromanya?” tanya Aryan.

Karin seketika menggeleng. “Suka kok,” ujar Karin.

“Parfumnya masih nempel banget, padahal kamu udah ganti baju,” tambah Karin lagi.

“Bagus dong, kalau gitu. Selama kamu suka sama aromanya,” celetuk Aryan dengan lugas.

Ucapan spontan Aryan itu seketika membuat keduanya terdiam. Dengan cepat dan tanpa bisa dicegah, kedua belah pipi Karin terasa memanas dan muncul rona kemerahan di sana.

Aryan pun juga baru sadar akan ucapannya barusan. Keduanya seketika teringat momen kemarin malam, di mana saat mereka tidur bersama dan entah siapa yang memulainya lebih dulu. Ketika pagi hari tiba, Aryan dan Karin sama-sama bersemu mendapati keadaan mereka yang tengah berpelukan. Entah gaya tidur macam apa yang telah mereka coba, sampai-sampai seharian Karin dapat merasakan wangi parfum Aryan menempel hampir di seluruh bagian tubuhnya.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Aryan dan Karin akhirnya telah sama-sama berbaring di kasur dengan posisi saling membelakangi. Sepertinya mereka memiliki pikiran yang sama. Entahlah, tapi kalau ingat malam itu, memang masih membuat keduanya malu.

Beberapa saat berlalu, Karin pun membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Aryan. Rupanya Karin belum tidur. Begitu pun dengan Aryan. Biasanya Aryan lebih cepat terlelap dibandingkan Karin, tapi kini Aryan justru hanya menatapnya lekat dengan matanya yang masih nampak segar.

“Karin, can I hug you?” tanya Aryan.

Pupil mata Karin nampak melebar kala mendengar pertanyaan tersebut. Waktu itu mereka melakukannya tanpa kesadaran dari masing-masing pihak. Namun kini dalam keadaan seratus persen sadar, Aryan meminta pada Karin untuk melakukannya.

Tidak sampai lima detik berselang, akhirnya Karin mendekatkan dirinya terlebih dulu. Dengan perlahan tapi pasti, Karin akhirnya bergerak melesak ke dalam pelukan Aryan. Lengan Karin melingkari torso Aryan, kemudian Karin menyandarkan kepalanya di dada bidang Aryan.

Ruang yang sebelumnya hadir di antara mereka, kini telah menghilang begitu saja. Mereka saling mengisi satu sama lain, saling mendekap untuk menyalurkan kasih dan kehangatan. Ketika Karin sedikit mendongakkan kepalanya untuk kemudian meletakkan dagunya di bahu Aryan yang lebih tinggi, Aryan membalasnya dengan mengeratkan pelukannya di tubuh Karin.

Karin dapat merasakan Aryan memberikan usapan lembut yang terasa sangat menenangkan di punggungnya. Satu tangan Aryan yang lain berada di pinggang Karin, memeluknya mesra di sana.

Tanpa frasa apa pun, sebuah gestur cukup untuk menunjukkan sebuah perasaan. Orang yang mendekap Karin saat ini, adalah orang yang Karin yakini di dalam hatinya. Kurang lebih selama empat bulan, rasanya itu merupakan waktu yang singkat, tapi Karin yakin hatinya tidak pernah salah memilih. Aryan bukanlah lelaki yang sempurna, tapi ketulusannya telah membuat Karin mencintai sosoknya. Aryan menunjukkan sosok yang apa adanya di hadapan Karin.

Karin melihat perjuangan Aryan dan pria itu mau belajar dari kesalahan di masa lalu. Perjuangan yang Aryan lakukan tidak sia-sia, itu membuahkan hasil. Perlakuan sederhana Aryan pada Karin, caranya memberi perhatian, telah menyentuh sisi terdasar ruang di hati Karin.

Saat Karin merasakan pelukan Aryan sedikit mengendur, Karin pun sedikit menjauhkan wajahnya agar dapat menatap wajah Aryan. Rupanya Aryan telah tertidur, helaan napas pria itu terdengar beraturan dan begitu damai.

I never expected that I will fall in love with you like this. Kak, I love you, truly, madly, and deeply,” ucap Karin dengan suara pelan. Karin ingat, ia pernah meminta takdir agar tidak berpihak untuknya dan Aryan. Karin ingin ia tidak jatuh cinta kepada Aryan. Namun Karin lupa meminta untuk tidak membuat Aryan memiliki perasaan terhadapnya.

Karin menyadarinya, sekeras apa pun dirinya berusaha, hatinya tetap akan memilih orang yang tepat. Seseorang yang telah ditakdirkan untuknya akan datang padanya, sekuat apa pun tembok yang sebelumnya memisahkan mereka.

Setelah puas dengan pikiran monolognya, Karin memutuskan untuk memejamkan matanya. Namun belum sempat itu terjadi, pergerakan Aryan kembali membuat Karin terjaga.

Rasanya perasaan ini masih lucu, tapi itu lah adanya. Karin akan menghabiskan hidupnya dengan mendapati paras ini setiap matanya terbuka, di setiap ruang di hidupnya, Karin telah merelakan tempat tersebut diisi oleh Aryan.

“Karina, I love you,” ucap Aryan dengan matanya yang nampak sayu.

Suddenly?”

I just want you to know,” jelas Aryan.

I knew it,” ujar Karin pelan.

Oke, that’s good.”

Karin tertawa kecil berkat tingkah random yang beberapa kali Aryan tunjukkan di depannya. Setelah tawanya mereda, Karin pun mendapati Aryan menatapnya dalam-dalam. “Karin, can we try something?”

Something what?” tanya Karin.

A kiss,” jawab Aryan kemudian.

Aryan memperhatikan reaksi Karin usai ucapannya tersebut. Kedua pipi Karin nampak berubah warna menjadi merah muda, terlihat sangat kontras dengan kulit cerahnya.

Kemudian tatapan intens Aryan pada Karin, perlahan-lahan mampu mendobrak pintu pertahanan Karin. Karin awalnya mengatakan malu untuk melakukannya, tapi ia ingin mencoba. Karin ingin menunjukkan perasaannya kepada Aryan. Setelah keraguan yang menguap itu, Karin pun akhirnya setuju untuk melakukannya.

Keduanya lantas sama-sama melemparkan sebuah senyuman. Rasanya membahagiakan dan seperti ada yang menggelitik di dalam perut. Aryan menatap Karin dengan lekat, Karin pun membalas tatapan itu. Berikutnya Aryan pun memangkas jarak di antara mereka. Pandangan Aryan perlahan turun menuju ke arah bibir Karin, itu sukses membuat jantung Karin berdegup dengan kencang.

Begitu Aryan memajukan wajahnya mendekat, Karin dapat merasakan helaan napas hangat Aryan yang menyapa permukaan kulitnya.

Aryan mengarahkan tangannya untuk menangkup satu sisi wajah Karin, perlakuan Aryan itu dapat menghidupkan gelora asmara yang selama ini ada di dalam diri Karin. Seperti ketika berada di dalam pesawat yang akan lepas landas, dentuman jantung Karin begitu terasa keras dan perutnya terasa geli.

Berkat suasana yang hening tersebut, Aryan tersenyum kecil karena mendengar degup jantung Karin yang tidak seperti biasanya. Lantas Aryan kembali mendapati Karin bersemu malu.

You are so cute,” ucap Aryan pelan.

It’s gonna be our first time, Kak. I'm a little bit nervous,” cicit Karin.

“Nggak papa, Karin. Kamu percaya sama aku?”

Karin menatap Aryan sejenak, tidak lama kemudian, Karin pun menganggukkan kepala. “Aku percaya sama kamu,” ucap Karin seraya menyunggingkan senyum manisnya.

Karin merelakan sepenuhnya dirinya, ia telah memberikan kepercayaannya kepada Aryan. Tidak sampai lima detik kemudian, dengan perlahan dan pasti, Aryan pun sukses memangkas habis jaraknya dengan Karin. Gerakan Aryan begitu lembut saat lelaki itu mempertemukan bibirnya dengan bibir ranum Karin.

Sesuatu yang lembap dan kenyal itu mengulum bibir Karin, sensasinya membuat Karin serasa ingin terbang ke langit. Pertemuan tersebut terasa begitu indah, dan selama beberapa detik, Karin akhirnya mulai bisa merasa rileks dan menikmatinya. Awalnya memang terasa canggung dan sedikit malu, tapi keinginan kuat lebih mendominasi Karin. Rasa cintanya pada Aryan, mendorong Karin untuk melakukannya. Karin pun bahagia bisa melakukannya bersama Aryan.

Setelah hampir lima menit berlalu, bibir Aryan saat ini masih setia mengulum bibir Karin. Aryan melakukannya dengan lihai, tapi tetap terasa lembut, hingga membuat Karin terbuai. Di sela-sela kegiatan itu, Aryan mengurainya sejenak untuk berujar pada Karin.

“Kalau kekencengan, kamu bilang ya, atau kasih kode,” ucap Aryan yang lekas di angguki oleh Karin.

Mereka kembali mencobanya. Masih sama lembutnya, Aryan mulai mencium kembali bibir Karin. Dari kegiatan keduanya tersebut, Karin dapat merasakan afeksi yang ingin Aryan berikan padanya. Karin merasa Aryan menginginkan lebih, tapi lelaki itu masih berada di fase yang sama, masih mengecup dengan lembut dengan tempo yang cukup pelan.

Sepertinya Karin berhasil membuat Aryan si professional menjadi seorang pemula. Mereka layaknya anak kecil yang baru saja mempelajari hal yang baru. Learning by doing, itu lah yang sedang mereka lakukan.

Kegiatan tersebut bukan hanya sekedar menyalurkan kasih, melainkan sebuah bentuk komunikasi antara kedua pasangan. Masing-masing perlu mempelajari apa yang pasangan sukai, apa yang tidak disukai, guna menumbuhkan rasa empati dan perasaan yang nyaman untuk kedua belah pihak.

Saat Aryan akan melepaskan pagutannya, gerakan dari Karin yang membalas ciuman itu dengan cukup lihai, membuat Aryan mengurungkan niatnya untuk menjauh.

Kini belah bibir Karin mengecup bibir Aryan terlebih dulu. Karin menggerakkan bibirnya di atas bibir Aryan dengan irama yang terasa indah. Karin memiringkan kepalanya sedikit, guna memudahkan segala kegiatan mereka. Penyatuan itu tidak terjadi terlalu lama, tapi mampu membuat Aryan merasa bahagia, mendapati Karin yang sukarela dan berani mencoba untuk memulai pergerakan terlebih dulu.

Begitu keduanya menjauh, Aryan mengusapkan tangannya yang masih berada di sisi wajah Karin. Cara Aryan menatapnya, Karin selalu menyukai itu. Karin dibuat jatuh cinta berkali-kali setiap detik Aryan menatapnya seperti ini.

You are so amazing. Karin, terima kasih,” ucap Aryan.

You are amazing too. You’re did it very well,” balas Karin.

Aryan lantas menyunggingkan senyum bahagianya. Hatinya dan hidupnya kini terasa sangat lengkap. Merasa begitu dicintai oleh seseorang yang dicintai, adalah hal yang tidak ternilai bagi Aryan.

“Kamu ngantuk? Kita tidur ya sekarang,” ucap Karin, ia memperhatikan wajah Aryan yang terlihat sedikit sayu.

“Nggak ada ronde dua?” tanya Aryan.

“Aku kira tadi udah 3 ronde,” jawab Karin.

Aryan lekas menggeleng. Bibirnya sedikit mencebik dan ekspresinya dibuat seolah lelaki itu kini sedang bersedih.

“Kamu mau lagi emangnya?” tanya Karin.

Aryan lekas mengangguk. Namun rupanya yang dimaksud Karin adalah ciuman di pipi. Karin pikir Aryan akan menolaknya dan kecewa, tapi lelaki itu segera mendekatkan wajahnya ke arah Karin. Aryan memberi isyarat supaya Karin mencium pipinya.

Karin akhirnya mendekatkan diri untuk memudahkan yang akan dilakukannya. Karin juga mengalungkan lengannya di bahu Aryan, dan dua detik berikutnya, Aryan pun merasakan sesuatu yang lembut mendarat di permukaan kulit pipinya. Dua kali, tiga kali, sampai lima kali, Karin memberikan ciuman itu untuknya. Aryan pun tidak bisa menahan senyuman lebar untuk terbit di wajahnya.

“Udah, kan? Atau masih mau lagi?” tanya Karin.

“Engga,” jawab Aryan.

“Oke.”

Karin lantas menjauhkan dirinya sedikit dari Aryan. Mereka tetap dalam jarak yang minim, Aryan masih bisa melihat mata indah Karin yang selalu berbinar itu. Ketika Karin mengulaskan senyumnya, nampak dua buah eye smile yang begitu cantik di parasnya.

“Maksudnya engga sekarang, tapi besok. Boleh ya?” ujar Aryan.

Karin lantas mengarahkan tangannya untuk mengusap pelan pipi Aryan yang sebelumnya menjadi sasaran bibirnya. Kemudian Karin tersenyum dan mengangguki permintaan Aryan itu. “Iya, boleh,” ucap Karin yang langsung membuat Aryan tersenyum cerah.

Sebelum mereka akan pergi tidur, Aryan mengatakan ingin berbicara pada anaknya. Aryan merubah posisinya, satu tangannya di gunakan untuk menopang kepala, dan satunya lagi mengarah ke perut Karin. Begitu tangan Aryan mendarat di sana, hatinya pun membuncah bahagia. Aryan lantas mengusap perut Karin pelan, kemudian ia berujar di dekatnya, “Kamu seneng kan, Sayang?” tanya Aryan, lalu tatapannya tertuju ke arah Karin.

Aryan nampak menaik turunkan alisnya. Karin yang tidak mengerti maksud lelaki itu, lekas melemparkan tatapan tanya.

“Anak kita seneng, Karin. Papa sama Mamanya sekarang udah pacaran,” jelas Aryan.

“Ada-ada aja sih kamu. Kita kan udah nikah,” ujar Karin.

“Iya, kita udah nikah. Tapi kan baru pacaran sekarang. Atau … kamu udah naksir aku duluan ya dari awal kita nikah?” serbu Aryan, nadanya terdengar jenaka menggoda Karin.

“Enggak tuh,” Karin berusaha menghindari tatapan Aryan. Kalau tidak, mungkin ekspresinya bisa begitu jelas menggambarkan jawabannya.

It’s oke. Kapan pun kamu mulai punya perasaan ke aku, itu nggak terlalu penting, Karin,” terang Aryan.

“Terus yang penting apa?” tanya Karin.

“Yang paling penting adalah waktu saat ini yang kita jalani. Kita punya masa lalu untuk disimpan, masa sekarang untuk dijalanin, dan masa depan untuk ditunggu. Kita nggak tau apa yang bisa terjadi nanti, tapi aku akan selalu berusaha mewujudkan masa depan yang baik untuk kita dan anak-anak kita nanti,” Aryan menjeda ucapannya sejenak. Ia mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala Karin, lalu Aryan kembali berujar, “Keluarga yang lengkap yang kamu inginkan, aku ingin aku yang bisa mewujudkan itu.”

Selama dua puluh tahun dalam hidupnya, setiap hari Karin selalu berharap dan berdoa. Karin ingin memiliki keluarga yang hangat dan lengkap. Karin pun berusaha menjadi pantas untuk seseorang yang akan bersamanya nanti, itu sudah menjadi tekadnya. Karin akan melakukannya untuk seseorang yang akan menjadi sandaran baginya dan bisa bersandar juga padanya.

Karin segera melayangkan tatapannya kepada Aryan, ia mengamati setiap detail paras tampan itu. Alis tebal yang melengkung rapi, kedua mata kecil yang berbentuk sabit, hidung mancung, serta bibir penuh yang tampak begitu sempurna.

“Kamu beneran suami aku nggak sih?” celetuk Karin dengan nada jenakanya.

“Maksud kamu? Aku kan emang suami kamu,” ujar Aryan nampak heran.

“Ohh iya, kamu bener suamiku. Ganteng banget ya suamiku,” puji Karin sembari mengamati setiap celah dan proporsi wajah Aryan. Sempurna, hanya itu yang terlintas di dalam benak Karin.

“Kalau nggak ganteng, kamu masih mau nggak sama aku?” cetus Aryan tidak kalah jenaka.

Namun Karin lebih pintar untuk merangkai jawaban di kepalanya. “Nggak mau, lah. Nanti anakku nggak ganteng dong kalau papanya nggak ganteng.”

“Aku beruntung dong karena ganteng?” tanya Aryan.

Karin mengangguk dengan cepat, tapi sebenarnya Karin sedang berusaha untuk menahan senyumnya. “Aku juga beruntung, Kak.”

“Karena?”

“Aku beruntung karena Tuhan ngasih kamu buat aku. Kamu dan anak kita, kalian adalah jawaban dari semua doa-doa aku selama ini. Tuhan ngasih aku lebih dari apa yang aku minta,” terang Karin.

Masa lalu yang cukup berat dan menyakitkan yang Karin alami di usia remajanya, kini telah digantikan oleh sesuatu yang lebih indah. Karin ingat ketika ia menghadapi masa sulitnya, terlebih saat harus sendiri melewati masa mudanya. Karin harus terlihat kuat di hadapan Kavin, ia adalah pengganti orang tua untuk adiknya. Berpura-pura kuat hanya akan membuat seseorang semakin hancur di dalam. Namun rupanya Karin berhasil bertahan dengan kehancuran itu dan perlahan-lahan bisa bangkit.

Karin ingat satu hal bahwa ia tidak menyukai hujan. Menurutnya hujan hanya akan mengacaukan segalanya, membuat orang-orang repot, membuat seragam dan sepatu sekolah Karin basah ketika hujan turun begitu saja. Saat teman-temannya diantar ke sekolah oleh orang tua mereka, Karin hanya bisa menatap kejadian tersebut dengan tatapan nanar. Tanpa seorang pun yang mengulurkan payung atau menyelipkan jas hujan di tas sekolahnya, Karin pada saat itu adalah seorang gadis yang pernah menyalahkan keadaan.

Karin merasa bahwa kehadirannya di dunia tidak diharapkan oleh siapa pun. Sama halnya dengan hujan yang datangnya kurang diharapkan, bisa dihitung hanya beberapa orang yang menyukai kehadirannya. Namun tanpa hujan, Karin tahu bahwa sebuah pelangi tidak akan pernah muncul. Pelangi tersebut dapat diibaratkan layaknya sebuah kebahagiaan. Meski pun harus melalui rasa sakit, kehadirannya adalah sesuatu yang patut untuk ditunggu.

Sebelum memejamkan matanya, Karin menatap Aryan dalam-dalam, lalu ia berucap, “Kak.”

“Iya, kenapa?” balas Aryan.

I love you,” ungkap Karin. “I’m forever yours,” pungkas Karin sembari menyematkan sebuah kecupan penuh afeksi di sisi wajah Aryan.

Aryan nampak terkejut mendapati ungkapan Karin yang tiba-tiba itu. Namun tidak lama setelahnya, Aryan segera membalasnya, “Aku juga sayang kamu. I love you more, Karin,” ucap Aryan seraya memberi sebuah kecupan di kening Karin. Kecupan di kening tersebut terasa sangat bermakna untuk Karin. Rasanya ia begitu disayangi, dilindungi, sekaligus dicintai.

Aryan dan anak mereka, merupakan anugerah tidak terduga sekaligus tidak ternilai dalam hidupnya. Tuhan telah menjawab doa-doa Karin selama ini, bahkan memberinya lebih dari apa yang Karin pinta. Sesungguhnya orang yang benar-benar mencintaimu adalah orang yang selalu berusaha mewujudkan keinginanmu, dan hanya dengan bersama, kamu percaya bahwa mimpi-mimpi tersebut dapat diwujudkan.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Tiga bulan kemudian

Sebenarnya apa definisi sebuah impian bagi seseorang? Apakah semata hanya tentang benda atau sesuatu yang sangat diinginkan? Setiap orang tentunya memiliki impian yang berbeda, dan juga mereka punya pemahaman masing-masing mengenai definisi sebuah impian. Latar belakang juga dapat mempengaruhi impian seseorang. Menurut Karin sendiri, impian baginya tidak hanya berarti soal barang yang berwujud.

Karin punya impian untuk memiliki keluarga yang utuh. Dulu keluarga adalah hal yang terdengar asing baginya. Namun Karin tahu bahwa impiannya hanya akan menjadi bunga tidur, kalau ia tidak berupaya untuk mewujudkannya. Karin percaya bahwa melakukan yang terbaik yang mampu kita lakukan adalah hal terpenting untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Kebaikan sekecil apapun yang kita lakukan, Tuhan pasti akan menghargainya dan membayarnya dengan sesuatu yang lebih besar.

Satu persatu impian Karin telah terwujud. Karin memiliki keluarga kecilnya sendiri, keluarga yang hangat yang sebelumnya hanya menjadi angan baginya. Suami yang mencintainya, anaknya yang sebentar lagi akan lahir ke dunia, tempat tinggal baru, serta masih banyak mimpi-mimpi lain akan Karin wujudkan bersama Aryan. Itu sudah menjadi tekad kuat yang Karin dan Aryan telah sepakati.

Karin melangkah ke dalam rumah lebih dulu begitu mereka sampai. Aryan mengatakan bahwa ia akan menyusul Karin setelah mengambil belanjaan di bagasi mobil.

Dari garasi mobil menuju pekarangan rumah, Karin melewati jalanan setapak yang di kanan dan kirinya terdapat halaman dengan rumput hijau pendek yang telah di pangkas begitu rapi.

Begitu langkah Karin akhirnya sampai di teras rumah, ia melepas sandalnya dan melangkah masuk ke dalam. Karin langsung bertemu dengan mbak Fitri yang sedang berada di dapur kecil yang bersebelahan dengan ruang tamu.

“Non, tadi jadi belanja bulanan sama mas Aryan?” tanya mbak Fitri pada Karin.

“Jadi, Mbak,” jawab Karin.

Mbak Fitri yang mengetahui hal tersebut pun segera bergegas menghampiri Aryan untuk membantu membawakan belanjaan.

Setelah seminggu yang lalu resmi pindah ke rumah ini, kak Syerin telah sepenuhnya menyerahkan mbak Fitri untuk ikut bersama Karin. Asisten rumah tangga kakaknya itu ditugaskan untuk membantu mengurus urusan rumah tangga di rumah ini. Selain itu, anjing puddle berbulu putih kesayangan Karin, Molly, telah ikut tinggal bersama Karin lagi. Karin merasa begitu senang, aspek-aspek penting dalam hidupnya perlahan tertata lengkap dan semuanya terasa lebih indah dari apa yang ia impikan.

Sementara saat Karin sedang mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin dari kulkas, tidak lama berselang, nampak Aryan memasuki rumah. Karin pun terdiam di tempatnya begitu merasakan sesuatu mendekap tubuhnya dari belakang.

Karin meletakkan gelas minumnya, kemudian satu tangannya mengusap lengan Aryan yang melingkar di pinggangnya. Pandangan Karin pun lantas mengarah pada tangan keras dengan jalar urat yang begitu menonjol yang mendekapnya itu.

“Belanjaannya ditaruh di mana Kak?” tanya Karin.

“Aku minta tolong mbak Fitri buat bantu bawain ke dapur besar, terus aku nyusul kamu ke sini deh,” jelas Aryan.

Karin pun bergerak membalikkan posisi tubuhnya untuk menghadap Aryan. “Kak, itu kan sebagian belanjaannya ada yang mau aku taruh di dapur kecil. Ada buah-buahan sama susu hamil aku lho di situ,” ujarnya kemudian.

“Oh gitu ya? Maaf ya Sayang, aku tadi lupa. Aku minta mbak Fitri bawain lagi deh kesini, ya?” Saat Aryan akan bergerak menjauh dari Karin, perempuan itu justru menahan pergerakannya. Karin menghela Aryan agar kembali memeluk tubuhnya, tidak membiarkan lelaki itu untuk pergi.

“Nggak papa, nanti aku aja yang bilang ke mbak Fitri,” ucap Karin.

Aryan pun segera menyunggingkan senyum semringahnya mendapati kelakuan Karin barusan. Karin yang seperti ini, yang menunjukkan sisi manjanya dan terlihat begitu menikmati waktu saat bersamanya, membuat Aryan merasa begitu berharga dan dicintai.

Di tengah-tengah suasana itu, kehadiran mbak Fitri di sana menginterupsi Aryan dan Karin. “Maaf Non, ini ada belanjaan buah-buahan sama susu hamil, apa mau di taruh di dapur kecil aja?” tanya mbak Fitri.

Mbak Fitri mau tidak mau menyaksikan pemandangan dua majikannya yang sedang bermesraan itu. Perempuan berusia 40 tahunan itu lantas tidak dapat menahan senyumnya.

“Maaf yaa Non, Mas, saya jadi ganggu waktunya. Ini saya taruh di dapur besar dulu aja ya. Buah-buahannya biar saya cuci dulu, nanti saya bawa lagi ke sini.”

“Oh iya Mbak, buah-buahannya di cuci aja dulu. Makasih ya Mbak,” ucap Karin yang segera diangguki oleh mbak Fitri. Beliau pun lantas berlalu dari hadapan Aryan dan Karin, membawa kembali belanjaan di tangannya.

Sepeninggalan mbak Fitri, kini di ruang tamu rumah itu hanya tersisa Aryan dan Karin. Karin yang merasa di perhatikan oleh Aryan menjadi sedikit gugup. Pasalnya seperti yang sudah-sudah, Aryan itu suka lepas kendali dan tidak tahu tempat. Mbak Fitri adalah korban kedua setelah pak Hamdi, supir keluarga yang pernah memergoki keduanya sedang bermesraan.

“Gimana tinggal di rumah ini? Kamu suka?” tanya Aryan sambil menatap Karin lekat.

“Suka. Sebenarnya aku suka tinggal di mana aja, asal masih ada atap sama lantainya sih,” jawab Karin.

“Maksud kamu?”

“Iyaa, aku suka tinggal di mana aja, asal tinggalnya sama kamu.”

Senyuman di wajah Aryan spontan mengembang begitu mendengar kalimat Karin. Kemudian dengan gemasm Aryan mengarahkan jarinya untuk menjepit pelan ujung hidung Karin.

“Papa bilang, rumah ini hadiah buat kita. Waktu papa tanya soal desain sebelum pembangunan, aku nggak masalah desainnya mau kayak gimana. Jadi aku bilang aja ke papa kalau rumah ini khusus dibikin untuk kamu, so semua desainnya biar kamu yang nentuin.”

Pandangan Karin seketika berubah terharu mendengar perkataan Aryan. Tampak kilatan di kedua bola mata Karin. Sekitar tiga bulan yang lalu, papa mertuanya menyampaikan niat untuk memberikan hadiah kepada Aryan dan Karin. Rencananya papa memang ingin memberikan sebuah rumah hunian dan beliau mengatakan bahwa rumahnya akan dibangun cukup besar. Papa mengatakan kalau rumah tersebut haruslah cukup untuk tinggal anak, menantu, dan cucu-cucunya kelak.

“Papa bilang beliau pengen punya cucu yang banyak lho, Sayang. Rumah ini besar banget, kira-kira kamu mau kita punya anak berapa?” tanya Aryan.

Rumah ini dibangun dengan desain yang diinginkan Karin, yakni dengan gaya amerika modern. Terdapat halaman di depan dan di belakang, serta pohon-pohon yang ditanam membuat area sekitar rumah nampak sangat asri dan sejuk. Papanya memberi hadiah rumah ini berkat melihat itikad baik yang Aryan dan Karin telah lakukan untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Wujud cinta yang Aryan dan Karin telah tunjukkan, telah begitu menggerakkan hati papanya. Papa begitu bangga dengan mereka. Selain itu, alasan lainnya adalah Aryan berhasil diangkat menjadi karyawan tetap di Harapan Jaya Group. Aryan mencapainya berkat usaha dan kegigihannya dalam menunjukkan skill dan kinerja yang baik selama menjadi karyawan magang di perusahan itu.

“Kak, aku udah memutuskan sesuatu,” ujar Karin sembari menatap Aryan dan menyisir pelan rambut Aryan menggunakan jemarinya.

“Soal apa?” tanya Aryan.

“Mulai besok aku udah ngambil cuti untuk semua kerjaan aku.”

Sebelumnya Karin memang telah mendiskusikannya kepada Aryan. Kini Karin akhirnya telah memutuskan untuk mengambil waktu istirahat untuk pekerjaannya. Karin ingin fokus terhadap kandungannya karena beberapa bulan lagi anaknya akan segera lahir.

“Kamu ambil cuti kuliah juga?” tanya Aryan.

“Aku belum tau sih Kak. Menurut kamu gimana?”

Aryan pun memberikan saran bahwa Karin bisa tetap kuliah dan dapat menggunakan liburan panjang akhir semester yang berdekatan dengan hari perkiraan lahir anak mereka, untuk persalinannya nanti. Mengenai urusan merawat anak, Aryan mengatakan bahwa Karin tidak perlu khawatir. Aryan akan membantunya dan mengambil peran yang saling melengkapi untuk merawat anak mereka. Selain itu, mereka juga bisa meminta bantuan suster untuk itu. Sebagai seorang ibu baru, Karin juga masih harus banyak belajar. Maka pilihan meminta bantuan kepada ahlinya dirasa merupakan option yang cukup baik.

“Kak,” ujar Karin lagi.

“Iya, Sayang?”

“Aku kayaknya ngidam sesuatu deh.”

“Oh, iya? Kamu ngidam apa? Bilang aja, aku bakal usahain buat turutin.”

“Kamu serius?” tanya Karin memastikan.

Aryan dengan cepat menganggukkan kepalanya. “Iya, Sayang. Aku serius. Kalau aku nggak sanggup nurutin, aku bisa minta bantuan papa. Aku yakin papa bisa ngelakuin apa pun.”

“Ada-ada aja sih kamu.” Karin pun tergelak.

Aryan pun ikut tertawa, selang detik berikutnya lelaki itu berujar, “Lho, emangnya kamu nggak percaya? Nanti kalau aku udah sehebat papa, aku nggak akan minta bantuan papa lagi. Aku akan berusaha sendiri untuk nurutin semua keinginan kamu.”

Bagi Aryan ia akan melakukan apa pun dan memberikan segalanya yang ia mampu berikan untuk Karin. Namun sebenarnya bagi Karin, kehadiran Aryan di hidupnya sudah lebih dari cukup. Materi dapat dibeli, tapi waktu dan kasih sayang tulus seseorang adalah hal yang tidak ternilai dan dapat digantikan oleh uang.

***

Aryan tidak terpikirkan bahwa permintaan Karin adalah hal yang begitu sederhana. Persiapan yang mereka perlulakukan pun sangat lah mudah. Sebuah bathtub yang cukup luas yang cukup untuk mereka berdua, sebuah * diffuser*aroma terapi, serta busa-busa yang banyak berkat bathbomb beraroma jasmine. Karin dan Aryan pun akan berendam bersama di siang hari menuju sore ini.

Karin menyandarkan tubuhnya di dada bidang Aryan, dengan kedua lengan lelakinya memeluk tubuh polosnya dari belakang. Karin memejamkan matanya, nampak begitu nyaman dengan posisi mereka saat ini.

Bathtub talk, itu lah yang ingin Karin lakukan untuk memenuhi ngidamnya. Keduanya telah membicarakan beberapa hal sambil berendam. Sesuai kesepakatan keduanya, mereka ingin selalu memiliki waktu seperti ini, saling bertukar pikiran, dan terbuka satu sama lain.

Karin membuka matanya perlahan, lalu ia merubah posisinya hingga kini berhadapan dengan Aryan. Kemudian dengan satu tangannya, Karin mengambil gumpalan busa dan mengusapkannya ke satu sisi wajah Aryan. Karin tertawa kecil, ia nampak begitu senang dengan kegiatan mereka tersebut.

Aryan lantas ikut tertawa, ia hanya menikmati apa yang terjadi, apa yang dirinya lakukan bersama Karin.

“Kak, aku mau tanya satu hal sama kamu. Boleh?”

“Boleh. Kamu mau tanya apa?”

Karin pun bertanya mengenai perasaan Aryan padanya saat di awal. Mereka saling menatap, netra Karin yang berbinar ketika memandangnya, berkali lipat membuat Aryan jatuh cinta.

“Aku bakal jawab jujur,” ujar Aryan.

Karin mengangguk kemudian. Karin memajukan tubuhnya sedikit agar lebih dekat dengan Aryan.

“Awalnya aku belum tau pasti soal perasaanku. Aku belum sadar itu, sampai Leon yang akhirnya nyadarin aku,” ucap Aryan.

Leon yang notabenenya merupakan sahabat Aryan sejak lama dan telah begitu mengenalnya, tentunya dapat dengan mudah menganalisis perasaan Aryan kepada Karin. Aryan mungkin sadar soal perasaannya, tapi logikanya sering kali lebih dominan dan akhirnya ia menampik semua itu.

“Aku butuh waktu untuk memastikan semuanya. Bukan soal aku aja, tapi ini tentang kamu juga. Aku nggak mau sampai sesuatu nyakitin kamu lagi. Kayaknya udah cukup semua rasa sakit yang pernah aku kasih ke kamu,” ungkap Aryan.

Perlakuan Karin kepada Aryan, rasa percaya, menghormati, dan peduli, telah membuat Aryan jatuh hati. Aryan akui pada akhirnya, bahwa hatinya sepenuhnya adalah milik Karin. Rasa cinta tersebut tumbuh dan berkembang semakin besar. Kepribadian Karin lah yang telah membuat Aryan jatuh cinta padanya. Semata-mata bukan karena Karin cantik. Kecantikan Karin adalah bonus bagi Aryan.

“Akhirnya aku tau dan benar-benar bisa memastikan semuanya. Kalau pun kamu nggak milih aku, aku akan nerima itu. Apa pun pilihan kamu, yang paling penting itu adalah yang buat kamu bahagia,” ucap Aryan lagi.

Aryan tahu bahwa Karin menyayanginya sejak perempuan itu selalu ada untuknya di kala Aryan hilang arah, di saat Aryan merasa tidak dicintai dan tidak berharga. Karin menerangi kembali dunia Aryan yang tiba-tiba saja menjadi gelap. Aryan tahu dan percaya bahwa Karin sungguh-sungguh mencintainya.

Aryan telah mengakhiri jawaban atas pertanyaan Karin padanya. Lelaki itu lantas memperhatikan ekspresi terharu di wajah Karin. Aryan tahu bahwa Karin bukan meragukannya, sesekali wanita memang memerlukan validasi. Aryan akan dengan sukarela memberi tahu Karin. Sekali pun Karin meminta Aryan mengutarakan perasaannya setiap satu bulan sekali atau satu minggu sekali, Aryan akan dengan sukarela melakukannya.

***

Sekitar setengah jam yang lalu, Aryan dan Karin memutuskan untuk membilas badan, kemudian mereka segera beranjak dari bathtub. Setelah mengenakan pakaian dan mengeringkan rambut, keduanya menuju kamar dan pergi tidur. Namun kini begitu Aryan terjaga dari tidurnya, ia mendapati Karin tengah terjaga juga. Kedua netra bulat Karin nampak segar, padahal tadi Karin mengatakan bahwa ia mengantuk dan jadilah mereka mengakhiri kegiatan berendamnya.

“Aku nggak bisa tidur,” ucap Karin pelan.

Walaupun dengan tatapan mengantuknya, Aryan masih berusaha meladeni Karin. “Kenapa nggak bisa tidur? Anak kita gerak-gerak lagi ya?”

“Iya, tadi dia nendang. Aku agak kaget, jadi kebangun. Sekarang aku nggak bisa tidur lagi,” jelas Karin.

“Sakit nggak perut kamu? Mau aku usapin?” tawar Aryan.

“Mau,” balas Karin sembari menganggukkan kepalanya, bibirnya sedikit mencebik lucu. Detik berikutnya, Karin bergerak mendekat pada Aryan, memudahkan pria itu untuk mengusap perutnya.

Karin memejamkan matanya begitu tangan Aryan mulai mengusap perutnya dengan gerakan searah. Karin merasa nyaman berkat apa yang Aryan lakukan. Satu tangan Aryan yang bebas tidak tinggal diam, telapak tangan yang hangat dan besar itu bergerak mengusap sisi wajah Karin.

Karin selalu suka ketika Aryan melakukannya, itu membuatnya lebih cepat tidur. Semenjak usia kehamilannya semakin tua, Karin jadi lebih sulit tidur. Padahal Karin mudah merasa lelah, ia membutuhkan banyak istirahat. Namun perutnya yang sudah membesar, membuat Karin sering merasa sesak dan napasnya terasa agak berat.

Aryan masih di sana, ketika akhirnya Karin membuka kelopak matanya. Netra Karin lantas menatap Aryan dengan lekat, tatapan tersebut terasa memiliki makna yang dalam.

“Kak,” ucap Karin sembari meraih tangan Aryan yang masih berada di wajahnya. Gerakan Aryan memberi usapan di sana pun terhenti. Karin lantas menyelipkan jemari mungilnya di antara jemari Aryan, lalu menggenggam erat jari-jari besar itu di sana.

Dari tatapan Karin, Aryan akhirnya mengerti apa yang istrinya inginkan. Aryan menatap Karin dalam-dalam, kemudian ia bertanya untuk memastikan. “Beneran mau?”

Karin nampak berpikir sesaat. Setelah tersenyum kecil, Karin akhirnya memberi jawaban, “Iya, mau.”

“Oke,” balas Aryan, senyum bahagia pun tidak dapat luntur dari wajah tampannya. “Aku siap-siap dulu ya. Kamu tunggu sebentar.”

“Iya, aku mau siap-siap juga,” ucap Karin.

Aryan mengarahkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Karin, lalu lelaki itu mengulaskan senyumnya sekilas.

Sebelum beranjak dari kasur, Aryan menyematkan sebuah kecupan di bibir Karin. Aryan dapat merasakan lipbalm manis di bibir Karin yang tertransfer ke bibirnya. Keduanya lantas saling melempar sebuah senyuman sebelum akhirnya Aryan melenggang dari kamar.

Ketika Aryan ingin memberikan yang terbaik untuk Karin, maka Karin juga ingin memberikan yang lebih baik untuknya. Tanpa Karin mengatakannya, Aryan tahu bahwa dirinya telah memiliki Karin seutuhnya. Raga dan jiwa Karin, perempuan itu telah menyerahkan sepenuhnya hanya untuk Aryan.

***

Karin menatap pantulan dirinya di cermin meja rias putih di kamar. Karin menghela napasnya, lalu menghembuskannya pelan. Karin merasa sedikit gugup. Meski ini bukan pertama kali ia dan Aryan akan melakukannya, gelora cinta di dalam diri Karin selalu sukses membuatnya berdebar seperti ini.

Ketika Karin selesai menggunakan beberapa wewangian di tubuhnya, tepat saat itu ia mendapati Aryan melenggang memasuki kamar.

Sesampainya Aryan di hadapan Karin, lelaki itu bergerak menangkup kedua sisi wajah Karin. Detik berikutnya, Karin pun beranjak dari posisi duduknya. Kemudian dengan gerakan lembut, Aryan pun menarik pinggang Karin untuk mendekat padanya.

Aryan lantas sedikit menunduk, lalu perlahan-lahan mulai mengecup mesra bibir ranum Karin. Tubuh Aryan yang sedikit lebih tinggi dari Karin, membuat Karin harus berjinjit untuk dapat mengimbangi tempo ciuman yang Aryan lakukan.

Desahan yang terdengar begitu seksi lolos dari bibir Karin saat Aryan mulai memperdalam ciumannya. Satu tangan Aryan kemudian menghela tengkuk Karin, guna mempermudah kegiatan yang sedang mereka lakukan. Tangan Aryan yang bebas, bergerak mengusap aset milik Karin yang terasa begitu sintal di bagian belakang itu. Kegiatan Aryan itu membuat Karin seketika menjengitkan tubuhnya, dengan seruan dari dalam dirinya, Karin akhirnya menghela Aryan untuk beralih mencumbu area lehernya.

Setelah ciuman yang mereka lakukan selama hampir sepuluh menit itu, Aryan kini telah membawa tubuh Karin menuju ranjang. Sambil menjelajahi wajah Karin, Aryan lantas berujar, “Karin ... kamu cantik banget.”

Suara berat Aryan yang memujanya, pandangan Aryan yang begitu terlihat mendamba kala melihatnya, membuat iris mata Karin langsung berkaca-kaca.

“Kamu hamil gini, jadi makin seksi,” ujar Aryan lagi, tatapannya tampak gemas, nada bicaranya sedikit jenaka.

“Masa sih? Bukannya aku jadi gendut?” tanya Karin.

“Kamu nggak gendut, Sayang, tapi seksi. Aku suka kamu kayak gini, istri aku selalu cantik,” puji Aryan lagi.

Perlakuan Aryan yang menghargai Karin seperti ini, selalu mampu membuat Karin merasa nyaman dan spesial. Aryan tidak pernah lupa memperlakukan Karin dengan spesial, memujinya, menuruti keinginannya, semua itu bentuk cinta yang Karin terima hampir setiap hari dari suaminya.

Bibir Aryan yang penuh dan terasa lembap itu, kini bergerak turun perlahan-lahan ke dari rahang Karin hingga ke lehernya. Aryan mengecup leher Karin dalam-dalam di sana, rasanya begitu nikmat, hingga menghadirkan reaksi alami dari tubuh Karin. Karin dengan pintar merespon setiap pergerakan yang Aryan lakukan, mereka saling mengapresiasi satu sama lain. Dari sana lah terjadi komunikasi antar pasangan yang begitu intim. Hubungan tersebut tidak hanya sepihak, mereka saling memberi respon yang baik, itu lah yang membuat keduanya menghabiskan waktu hingga lebih dari dua puluh menit untuk kegiatan foreplay.

“Kak, gimana kalau kita coba posisi baru?” ujar Karin sembari menyibak helaian rambut Aryan yang turun menutupi keningnya.

“Kamu mau posisi apa emangnya?” tanya Aryan.

Woman on top. Gimana?”

Tidak lama kemudian, Aryan pun mengangguk menyetujuinya. Lelaki itu mengatakan pada Karin bahwa ia percaya untuk mereka melakukannya. Dari jurnal-jurnal yang mereka baca dan hasil konsultasi dengan dokter, posisi woman on top dapat memberikan kepuasan yang lebih kepada wanita. Seorang wanita akan memegang kendali hampir sepenuhnya, sehingga lebih tau di mana titik kepuasannya. Posisi ini akan membuat gerakan pria tidak terlalu intens dan ejakulasi menjadi tertunda. Jadi dalam posisi ini, pria tidak hanya memberi, tapi juga menerima.

Sebelum Karin bergerak ke atasnya, Karin membiarkan Aryan untuk melucuti pakaiannya. Itu sangatlah mudah bagi Aryan. Gaun sutra pendek berwarna merah gelap yang dikenakan Karin, hanya membutuhkan lima detik untuk berhasil jatuh ke lantai. Sama yang dilakukan oleh Aryan, Karin pun melepaskan satu persatu pakaian Aryan.

Setelah adegan melepaskan pakaian itu, Karin kembali mengecup bibir Aryan, sembari tangannya menjamah setiap bagian tubuh keras dan berotot pria itu. Ini babak kedua dari foreplay, lagi dan lagi, keduanya sama-sama merasa terbang ke atas langit. Setiap gerakan yang mereka lakukan begitu terasa indah dan memabukkan.

Babak kedua foreplay tersebut terjadi lebih lama dari babak pertama. Aryan selalu melakukannya seperti itu, memberi Karin service spesial sampai perempuan itu merasa puas lebih dulu.

Setelah pemanasan tersebut berakhir, kini Karin telah berpindah posisi menjadi di atas Aryan. Surai panjang Karin yang sudah menjadi lembap berkat cucuran keringatnya, membuat Karin terlihat semakin seksi. Begitu Karin mencium bibir Aryan lagi, helai rambut Karin yang jatuh mengenai wajah Aryan, memberikan sensasi nikmat tersendiri untuk pria itu.

Dengan satu tangannya dan sisa kekuatannya, Karin menyilakan rambut panjangnya. Rambutnya sedikit menghalangi Karin dengan kegiatannya. Pergerakan Karin menyilakan rambutnya itu sukses membuat Aryan tidak berkedip. Karin begitu cantik. Sendi-sendi lutut Aryan seketika melemah, rasanya kedua kaki miliknya kini telah berubah menjadi jeli.

“Karin ... “ lenguhan itu lolos begitu saja dari bibir Aryan saat Karin mempercepat tempo ciumannya.

Kode tersirat dari Aryan itu lantas ditangkap dengan baik oleh Karin. Karin pun segera melakukannya lebih jauh, kini ia sudah menggenggam milik Aryan dengan satu tangannya. Napas mereka saling beradu, itu semakin intens, ketika Karin menggerakkan milik Aryan dengan gerakan naik turun.

Bibir keduanya masih saling memagut ketika Karin mulai memasukkan milik Aryan ke dalam miliknya. Tetesan peluh Karin di pelipisnya yang turun hingga ke dadanya, membuat tangan Aryan basah kala ia memainkan dua benda milik Karin di sana. Tubuh mereka sudah sama-sama dibanjiri oleh keringat dan ingin segera sampai ke pelepasan yang sesungguhnya.

“Kak, I love you,” ucap Karin dengan sedikit napas yang terengah, saat akhirnya milik Aryan berhasil menyentuh titik sensitifnya. Keduanya sama-sama bergerak di sana, guna membuat penyatuan tersebut semakin indah.

I love you,” balas Aryan kemudian. Selama itu terjadi, netra mereka saling menatap, mereka menyalurkan cinta dan kasih dari tatapan itu. “I love you more, Karin,” sambung Aryan sembari mengusap puncak dada Karin dengan gerakan halus.

Karin menangis di tengah-tengah kegiatan itu. Melihat air mata Karin membasahi belah pipinya, Aryan segera mengarahkan jemarinya untuk menyekanya dengan lembut. Gerakan Karin di atas Aryan terasa begitu sempurna, Aryan sangat menikmatinya. Semua yang Karin lakukan saat ini adalah hal terindah untuk Aryan. Aryan tahu bahwa Karin mencintainya dan itu lebih dari cukup baginya.

Setelah sekitar sepuluh menit lebih penyatuan tersebut terjadi, keduanya pun memutuskan untuk beristirahat. Karin merebahkan tubuhnya di samping Aryan, mereka saling berhadapan dan melempar pandangan.

“Sayang, kamu hebat banget. You're really great, thank you for everything,” ucap Aryan.

Karin lantas mengulaskan senyumnya, ia mengambil tangan Aryan dan memberikan kecupan di punggung tangan lelakinya.

“Kita mau udahan atau nanti lanjut lagi?” tanya Aryan.

“Hmm … mau lanjut lagi,” jawab Karin.

“Kamu nggak capek emangnya?”

“Capek sih. Sedikit sakit juga. Kamu mau lagi, atau udah?”

“Kalau kamu capek, kita masih bisa lanjutin nanti malem atau besok. Nggak papa Sayang, kasian kamu lagi hamil juga.”

Karin akhirnya mengangguk setuju. Mereka memutuskan menyudahinya, tapi tidak langsung beranjak tidur. Meskipun matanya terasa berat, Aryan berusaha untuk tidak terpejam. Aryan tahu Karin suka mengobrol setelah mereka berhubungan.

Tangan Karin yang tengah memegang lengan Aryan, secara tiba-tiba mencengkramnya dengan cukup erat, membuat Aryan sedikit terkejut. Karin nampak meringis dan berujar kesakitan.

“Kak, barusan anak kita nendang lumayan kenceng,” ucap Karin.

“Ohiya?”

Aryan yang bersemangat setiap merasakan anaknya bergerak, segera mendekatkan dirinya agar sejajar dengan perut Karin.

“Hei, anak Papa dan Mama. Kamu aktif banget ya dari kemarin. Kamu lagi ngapain sih di dalem perut Mama?” ujar Aryan.

“Kamu sabar ya, sebentar lagi kita ketemu. Kalau kamu udah lahir, nanti Papa ajak kamu main bola sama mobil-mobilan. Papa sama Mama nggak sabar banget ketemu sama kamu,” oceh Aryan lagi.

Usai berbicara pada anaknya, Aryan kembali mensejajarkan posisinya dengan Karin. Mata sabit indah milik Aryan, kini menatap teduh ke arah Karin.

“Sayang, dokter bilang kalau kita sering kita berhubungan, itu bagus buat kehamilan kamu, kan?” tanya Aryan.

“Iya. Kata dokter bisa buat mancing kontraksi dan pembukaan jalan lahir,” jawab Karin.

Jawaban Karin itu segera menghadirkan sebuah senyuman cerah di wajah Aryan. Karin yang memperhatikan itu lantas ikut mengulaskan senyum cantiknya. Karin senang bahwa yang mereka lakukan dapat membuat Aryan bahagia. Karin telah memberikan seluruh dirinya untuk Aryan, yang lantas dibalas pria itu dengan cinta yang lebih besar.

Sebenarnya tidak ada yang tahu seberapa besar patokan cinta tersebut. Cinta tidaklah berwujud. Lucu memang, tapi begitulah adanya. Namun cinta itu sendiri yang pada hakikatnya menghasilkan bentuk-bentuk yang lebih besar dari apa yang bahkan tidak manusia duga. Cinta menghasilkan suatu wujud yang membuat manusia bertahan, melestarikan keturunan, dan memungkinkan dua orang yang sebelumnya jauh sekalipun, menjadi dekat, guna melengkapi dan mengasihi satu sama lain.

“Sayang, mau cium,” ucap Aryan.

Karin memperhatikan bibir Aryan yang berucap, padahal mata pria itu kini telah terpejam.

“Masih kurang? Mau cium di mana lagi emangnya?” balas Karin kemudian. Karin bergerak mengalungkan lengannya di pundak Aryan, menghapus ruang yang sebelumnya ada di antara mereka. Merasakan sentuhan kulit Karin di kulitya, membuat Aryan segera membuka matanya.

Aryan lalu mengarahkan telunjuknya untuk menunjuk bibirnya, “Di sini.” Kemudian jarinya segera beralih ke pipi, kening, dan terakhir di dekat rahang. “Di sini juga yaa Sayang. Sebenarnya bebas kamu mau cium di mana. You are a pro and you always amazing when we’re did it.”

Karin tertawa sekilas. “Berkat ajaran kamu juga kan selama ini.”

Aryan kemudian tersenyum bangga. “Are you willing for it? I can teach you more.”

Karin nampak berpikir sejenak, lau dengan jenaka, perempuan itu menjauhkan wajahnya dari Aryan saat Aryan bergerak ingin menciumnya lebih dulu.

I’m forever yours, Kak. Let’s do it tonight, tomorrow, even until we're getting old together. Are you willing for it?” ujar Karin.

Aryan lantas mengangguk. “Yes, Baby. Let's do it for sure,” ucap Aryan.

Sebagai pengantar tidur keduanya, mereka kembali saling mencumbu satu sama lain. Netra Aryan mulai terpejam dan tampak begitu lelap, tapi bibirnya masih setia bergerak mengulum bibir Karin di sana.

Bibir Aryan yang penuh dan agak besar itu, adalah hal yang begitu Karin sukai. Suatu hari, jika anaknya lahir dan akan mewariskan bibir indah milik Aryan, Karin yakin anaknya akan menjadi lelaki yang tampan, persis seperti papanya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Tiga bulan kemudian

Sebenarnya apa definisi sebuah impian bagi seseorang? Apakah semata hanya tentang benda atau sesuatu yang sangat diinginkan? Setiap orang tentunya memiliki impian yang berbeda, dan juga mereka punya pemahaman masing-masing mengenai definisi sebuah impian. Latar belakang juga dapat mempengaruhi impian seseorang. Menurut Karin sendiri, impian baginya tidak hanya berarti soal barang yang berwujud.

Karin punya impian untuk memiliki keluarga yang utuh. Dulu keluarga adalah hal yang terdengar asing baginya. Namun Karin tahu bahwa impiannya hanya akan menjadi bunga tidur, kalau ia tidak berupaya untuk mewujudkannya. Karin percaya bahwa melakukan yang terbaik yang mampu kita lakukan adalah hal terpenting untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Kebaikan sekecil apapun yang kita lakukan, Tuhan pasti akan menghargainya dan membayarnya dengan sesuatu yang lebih besar.

Satu persatu impian Karin telah terwujud. Karin memiliki keluarga kecilnya sendiri, keluarga yang hangat yang sebelumnya hanya menjadi angan baginya. Suami yang mencintainya, anaknya yang sebentar lagi akan lahir ke dunia, tempat tinggal baru, serta masih banyak mimpi-mimpi lain akan Karin wujudkan bersama Aryan. Itu sudah menjadi tekad kuat yang Karin dan Aryan telah sepakati.

Karin melangkah ke dalam rumah lebih dulu begitu mereka sampai. Aryan mengatakan bahwa ia akan menyusul Karin setelah mengambil belanjaan di bagasi mobil.

Dari garasi mobil menuju pekarangan rumah, Karin melewati jalanan setapak yang di kanan dan kirinya terdapat halaman dengan rumput hijau pendek yang telah di pangkas begitu rapi.

Begitu langkah Karin akhirnya sampai di teras rumah, ia melepas sandalnya dan melangkah masuk ke dalam. Karin langsung bertemu dengan mbak Fitri yang sedang berada di dapur kecil yang bersebelahan dengan ruang tamu.

“Non, tadi jadi belanja bulanan sama mas Aryan?” tanya mbak Fitri pada Karin.

“Jadi, Mbak,” jawab Karin.

Mbak Fitri yang mengetahui hal tersebut pun segera bergegas menghampiri Aryan untuk membantu membawakan belanjaan.

Setelah seminggu yang lalu resmi pindah ke rumah ini, kak Syerin telah sepenuhnya menyerahkan mbak Fitri untuk ikut bersama Karin. Asisten rumah tangga kakaknya itu ditugaskan untuk membantu mengurus urusan rumah tangga di rumah ini. Selain itu, anjing puddle berbulu putih kesayangan Karin, Molly, telah ikut tinggal bersama Karin lagi. Karin merasa begitu senang, aspek-aspek penting dalam hidupnya perlahan tertata lengkap dan semuanya terasa lebih indah dari apa yang ia impikan.

Sementara saat Karin sedang mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin dari kulkas, tidak lama berselang, nampak Aryan memasuki rumah. Karin pun terdiam di tempatnya begitu merasakan sesuatu mendekap tubuhnya dari belakang.

Karin meletakkan gelas minumnya, kemudian satu tangannya mengusap lengan Aryan yang melingkar di pinggangnya. Pandangan Karin pun lantas mengarah pada tangan keras dengan jalar urat yang begitu menonjol yang mendekapnya itu.

“Belanjaannya ditaruh di mana Kak?” tanya Karin.

“Aku minta tolong mbak Fitri buat bantu bawain ke dapur besar, terus aku nyusul kamu ke sini deh,” jelas Aryan.

Karin pun bergerak membalikkan posisi tubuhnya untuk menghadap Aryan. “Kak, itu kan sebagian belanjaannya ada yang mau aku taruh di dapur kecil. Ada buah-buahan sama susu hamil aku lho di situ,” ujarnya kemudian.

“Oh gitu ya? Maaf ya Sayang, aku tadi lupa. Aku minta mbak Fitri bawain lagi deh kesini, ya?” Saat Aryan akan bergerak menjauh dari Karin, perempuan itu justru menahan pergerakannya. Karin menghela Aryan agar kembali memeluk tubuhnya, tidak membiarkan lelaki itu untuk pergi.

“Nggak papa, nanti aku aja yang bilang ke mbak Fitri,” ucap Karin.

Aryan pun segera menyunggingkan senyum semringahnya mendapati kelakuan Karin barusan. Karin yang seperti ini, yang menunjukkan sisi manjanya dan terlihat begitu menikmati waktu saat bersamanya, membuat Aryan merasa begitu berharga dan dicintai.

Di tengah-tengah suasana itu, kehadiran mbak Fitri di sana menginterupsi Aryan dan Karin. “Maaf Non, ini ada belanjaan buah-buahan sama susu hamil, apa mau di taruh di dapur kecil aja?” tanya mbak Fitri.

Mbak Fitri mau tidak mau menyaksikan pemandangan dua majikannya yang sedang bermesraan itu. Perempuan berusia 40 tahunan itu lantas tidak dapat menahan senyumnya.

“Maaf yaa Non, Mas, saya jadi ganggu waktunya. Ini saya taruh di dapur besar dulu aja ya. Buah-buahannya biar saya cuci dulu, nanti saya bawa lagi ke sini.”

“Oh iya Mbak, buah-buahannya di cuci aja dulu. Makasih ya Mbak,” ucap Karin yang segera diangguki oleh mbak Fitri. Beliau pun lantas berlalu dari hadapan Aryan dan Karin, membawa kembali belanjaan di tangannya.

Sepeninggalan mbak Fitri, kini di ruang tamu rumah itu hanya tersisa Aryan dan Karin. Karin yang merasa di perhatikan oleh Aryan menjadi sedikit gugup. Pasalnya seperti yang sudah-sudah, Aryan itu suka lepas kendali dan tidak tahu tempat. Mbak Fitri adalah korban kedua setelah pak Hamdi, supir keluarga yang pernah memergoki keduanya sedang bermesraan.

“Gimana tinggal di rumah ini? Kamu suka?” tanya Aryan sambil menatap Karin lekat.

“Suka. Sebenarnya aku suka tinggal di mana aja, asal masih ada atap sama lantainya sih,” jawab Karin.

“Maksud kamu?”

“Iyaa, aku suka tinggal di mana aja, asal tinggalnya sama kamu.”

Senyuman di wajah Aryan spontan mengembang begitu mendengar kalimat Karin. Kemudian dengan gemasm Aryan mengarahkan jarinya untuk menjepit pelan ujung hidung Karin.

“Papa bilang, rumah ini hadiah buat kita. Waktu papa tanya soal desain sebelum pembangunan, aku nggak masalah desainnya mau kayak gimana. Jadi aku bilang aja ke papa kalau rumah ini khusus dibikin untuk kamu, so semua desainnya biar kamu yang nentuin.”

Pandangan Karin seketika berubah terharu mendengar perkataan Aryan. Tampak kilatan di kedua bola mata Karin. Sekitar tiga bulan yang lalu, papa mertuanya menyampaikan niat untuk memberikan hadiah kepada Aryan dan Karin. Rencananya papa memang ingin memberikan sebuah rumah hunian dan beliau mengatakan bahwa rumahnya akan dibangun cukup besar. Papa mengatakan kalau rumah tersebut haruslah cukup untuk tinggal anak, menantu, dan cucu-cucunya kelak.

“Papa bilang beliau pengen punya cucu yang banyak lho, Sayang. Rumah ini besar banget, kira-kira kamu mau kita punya anak berapa?” tanya Aryan.

Rumah ini dibangun dengan desain yang diinginkan Karin, yakni dengan gaya amerika modern. Terdapat halaman di depan dan di belakang, serta pohon-pohon yang ditanam membuat area sekitar rumah nampak sangat asri dan sejuk. Papanya memberi hadiah rumah ini berkat melihat itikad baik yang Aryan dan Karin telah lakukan untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Wujud cinta yang Aryan dan Karin telah tunjukkan, telah begitu menggerakkan hati papanya. Papa begitu bangga dengan mereka. Selain itu, alasan lainnya adalah Aryan berhasil diangkat menjadi karyawan tetap di Harapan Jaya Group. Aryan mencapainya berkat usaha dan kegigihannya dalam menunjukkan skill dan kinerja yang baik selama menjadi karyawan magang di perusahan itu.

“Kak, aku udah mutusin sesuatu,” ujar Karin sembari menatap Aryan dan menyisir pelan rambut Aryan menggunakan jemarinya.

“Soal apa?” tanya Aryan.

“Mulai besok aku udah ngambil cuti untuk semua kerjaan aku.”

Sebelumnya Karin memang telah mendiskusikannya kepada Aryan. Kini Karin akhirnya telah memutuskan untuk mengambil waktu istirahat untuk pekerjaannya. Karin ingin fokus terhadap kandungannya karena beberapa bulan lagi anaknya akan segera lahir.

“Kamu ambil cuti kuliah juga?” tanya Aryan.

“Aku belum tau sih Kak. Menurut kamu gimana?”

Aryan pun memberikan saran bahwa Karin bisa tetap kuliah dan dapat menggunakan liburan panjang akhir semester yang berdekatan dengan hari perkiraan lahir anak mereka, untuk persalinannya nanti. Mengenai urusan merawat anak, Aryan mengatakan bahwa Karin tidak perlu khawatir. Aryan akan membantunya dan mengambil peran yang saling melengkapi untuk merawat anak mereka. Selain itu, mereka juga bisa meminta bantuan suster untuk itu. Sebagai seorang ibu baru, Karin juga masih harus banyak belajar. Maka pilihan meminta bantuan kepada ahlinya dirasa merupakan option yang cukup baik.

“Kak,” ujar Karin lagi.

“Iya, Sayang?”

“Aku kayaknya ngidam sesuatu deh.”

“Oh, iya? Kamu ngidam apa? Bilang aja, aku bakal usahain buat turutin.”

“Kamu serius?” tanya Karin memastikan.

Aryan dengan cepat menganggukkan kepalanya. “Iya, Sayang. Aku serius. Kalau aku nggak sanggup nurutin, aku bisa minta bantuan papa. Aku yakin papa bisa ngelakuin apa pun.”

“Ada-ada aja sih kamu.” Karin pun tergelak.

Aryan pun ikut tertawa, selang detik berikutnya lelaki itu berujar, “Lho, emangnya kamu nggak percaya? Nanti kalau aku udah sehebat papa, aku nggak akan minta bantuan papa lagi. Aku akan berusaha sendiri untuk nurutin semua keinginan kamu.”

Bagi Aryan ia akan melakukan apa pun dan memberikan segalanya yang ia mampu berikan untuk Karin. Namun sebenarnya bagi Karin, kehadiran Aryan di hidupnya sudah lebih dari cukup. Materi dapat dibeli, tapi waktu dan kasih sayang tulus seseorang adalah hal yang tidak ternilai dan dapat digantikan oleh uang.

***

Aryan tidak terpikirkan bahwa permintaan Karin adalah hal yang begitu sederhana. Persiapan yang mereka perlulakukan pun sangat lah mudah. Sebuah bathtub yang cukup luas yang cukup untuk mereka berdua, sebuah * diffuser*aroma terapi, serta busa-busa yang banyak berkat bathbomb beraroma jasmine. Karin dan Aryan pun akan berendam bersama di siang hari menuju sore ini.

Karin menyandarkan tubuhnya di dada bidang Aryan, dengan kedua lengan lelakinya memeluk tubuh polosnya dari belakang. Karin memejamkan matanya, nampak begitu nyaman dengan posisi mereka saat ini.

Bathtub talk, itu lah yang ingin Karin lakukan untuk memenuhi ngidamnya. Keduanya telah membicarakan beberapa hal sambil berendam. Sesuai kesepakatan keduanya, mereka ingin selalu memiliki waktu seperti ini, saling bertukar pikiran, dan terbuka satu sama lain.

Karin membuka matanya perlahan, lalu ia merubah posisinya hingga kini berhadapan dengan Aryan. Kemudian dengan satu tangannya, Karin mengambil gumpalan busa dan mengusapkannya ke satu sisi wajah Aryan. Karin tertawa kecil, ia nampak begitu senang dengan kegiatan mereka tersebut.

Aryan lantas ikut tertawa, ia hanya menikmati apa yang terjadi, apa yang dirinya lakukan bersama Karin.

“Kak, aku mau tanya satu hal sama kamu. Boleh?”

“Boleh. Kamu mau tanya apa?”

Karin pun bertanya mengenai perasaan Aryan padanya saat di awal. Mereka saling menatap, netra Karin yang berbinar ketika memandangnya, berkali lipat membuat Aryan jatuh cinta.

“Aku bakal jawab jujur,” ujar Aryan.

Karin mengangguk kemudian. Karin memajukan tubuhnya sedikit agar lebih dekat dengan Aryan.

“Awalnya aku belum tau pasti soal perasaanku. Aku belum sadar itu, sampai Leon yang akhirnya nyadarin aku,” ucap Aryan.

Leon yang notabenenya adalah sahabat Aryan sejak lama dan telah begitu mengenalnya, tentunya dapat dengan mudah menyadari perasaan Aryan kepada Karin. Aryan mungkin sadar soal perasaannya, tapi logikanya sering kali lebih dominan dan akhirnya ia menampik semua itu.

“Aku butuh waktu untuk mastiin semuanya. Bukan soal aku aja, tapi ini tentang kamu juga. Aku nggak mau sampai sesuatu nyakitin kamu lagi. Kayaknya udah cukup semua rasa sakit yang pernah aku kasih ke kamu,” ungkap Aryan.

Perlakuan Karin kepada Aryan, rasa percaya, menghormati, dan peduli, telah membuat Aryan jatuh hati. Aryan akui pada akhirnya, bahwa hatinya sepenuhnya adalah milik Karin. Rasa cinta tersebut tumbuh dan berkembang semakin besar. Kepribadian Karin lah yang telah membuat Aryan jatuh cinta padanya. Semata-mata bukan karena Karin cantik. Kecantikan Karin adalah bonus bagi Aryan.

“Akhirnya aku tau dan benar-benar bisa memastikan semuanya. Kalau pun kamu nggak milih aku, aku akan nerima itu. Apa pun pilihan kamu, yang paling penting itu adalah yang buat kamu bahagia,” ucap Aryan lagi.

Aryan tahu bahwa Karin menyayanginya sejak perempuan itu selalu ada untuknya di kala Aryan hilang arah, di saat Aryan merasa tidak dicintai dan tidak berharga. Karin menerangi kembali dunia Aryan yang tiba-tiba saja menjadi gelap. Aryan tahu dan mempercayai bahwa Karin sungguh-sungguh mencintainya.

Aryan telah mengakhiri jawaban atas pertanyaan Karin padanya. Lelaki itu lantas memperhatikan ekspresi terharu di wajah Karin. Aryan tahu bahwa Karin bukan meragukannya, sesekali wanita memang memerlukan validasi. Aryan akan dengan sukarela memberi tahu Karin. Sekali pun Karin meminta Aryan mengutarakan perasaannya setiap satu bulan sekali atau satu minggu sekali, Aryan akan dengan sukarela melakukannya.

***

Sekitar setengah jam yang lalu, Aryan dan Karin memutuskan untuk membilas badan, kemudian mereka segera beranjak dari bathtub. Setelah mengenakan pakaian dan mengeringkan rambut, keduanya menuju kamar dan pergi tidur. Namun kini begitu Aryan terjaga dari tidurnya, ia mendapati Karin tengah terjaga juga. Kedua netra bulat Karin nampak segar, padahal tadi Karin mengatakan bahwa ia mengantuk dan jadilah mereka mengakhiri kegiatan berendamnya.

“Aku nggak bisa tidur,” ucap Karin pelan.

Walaupun dengan tatapan mengantuknya, Aryan masih berusaha meladeni Karin. “Kenapa nggak bisa tidur? Anak kita gerak-gerak lagi ya?”

“Iya, tadi dia nendang. Aku agak kaget, jadi kebangun. Sekarang aku nggak bisa tidur lagi,” jelas Karin.

“Sakit nggak perut kamu? Mau aku usapin?” tawar Aryan.

“Mau,” balas Karin sembari menganggukkan kepalanya, bibirnya sedikit mencebik lucu. Detik berikutnya, Karin bergerak mendekat pada Aryan, memudahkan pria itu untuk mengusap perutnya.

Karin memejamkan matanya begitu tangan Aryan mulai mengusap perutnya dengan gerakan searah. Karin merasa nyaman berkat apa yang Aryan lakukan. Satu tangan Aryan yang bebas tidak tinggal diam, telapak tangan yang hangat dan besar itu bergerak mengusap sisi wajah Karin.

Karin selalu suka ketika Aryan melakukannya, itu membuatnya lebih cepat tidur. Semenjak usia kehamilannya semakin tua, Karin jadi lebih sulit tidur. Padahal Karin mudah merasa lelah, ia membutuhkan banyak istirahat. Namun perutnya yang sudah membesar, membuat Karin sering merasa sesak dan napasnya terasa agak berat.

Aryan masih di sana, ketika akhirnya Karin membuka kelopak matanya. Netra Karin menatap Aryan lekat, penuh arti.

“Masih nggak bisa tidur ya?” tanya Aryan, tatapannya terlihat khawatir.

“Kak,” ucap Karin sembari meraih tangan Aryan yang masih berada di wajahnya. Gerakan Aryan memberi usapan di sana pun terhenti. Karin menyelipkan jemari mungilnya di antara jemari Aryan, lalu menggenggam erat jari-jari besar itu di sana.

Dari tatapan Karin, Aryan akhirnya mengerti apa yang istrinya inginkan. Aryan menatap Karin dalam-dalam, kemudian ia bertanya untuk memastikan. “Beneran mau?”

Karin nampak berpikir sesaat. Setelah tersenyum kecil, Karin akhirnya memberi jawaban, “Iya, mau.”

“Oke,” balas Aryan, senyum bahagia pun tidak dapat luntur dari wajah tampannya. “Aku siap-siap dulu ya. Kamu tunggu sebentar.”

“Iya, aku mau siap-siap juga,” ucap Karin.

Aryan mengarahkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Karin, lalu lelaki itu mengulaskan senyumnya sekilas.

Sebelum beranjak dari kasur, Aryan menyematkan sebuah kecupan di bibir Karin. Aryan dapat merasakan lipbalm manis di bibir Karin yang tertransfer ke bibirnya. Keduanya lantas saling melempar sebuah senyuman sebelum akhirnya Aryan melenggang dari kamar.

Ketika Aryan ingin memberikan yang terbaik untuk Karin, maka Karin juga ingin memberikan yang lebih baik untuknya. Tanpa Karin mengatakannya, Aryan tahu bahwa dirinya telah memiliki Karin seutuhnya. Raga dan jiwa Karin, perempuan itu telah menyerahkan sepenuhnya hanya untuk Aryan.

***

Karin menatap pantulan dirinya di cermin meja rias putih di kamar. Karin menghela napasnya, lalu menghembuskannya pelan. Karin merasa sedikit gugup. Meski ini bukan pertama kali ia dan Aryan akan melakukannya, gelora cinta di dalam diri Karin selalu sukses membuatnya berdebar seperti ini.

Ketika Karin selesai menggunakan beberapa wewangian di tubuhnya, tepat saat itu ia mendapati Aryan melenggang memasuki kamar.

Sesampainya Aryan di hadapan Karin, lelaki itu bergerak menangkup kedua sisi wajah Karin. Detik berikutnya, Karin pun beranjak dari posisi duduknya. Kemudian dengan gerakan lembut, Aryan pun menarik pinggang Karin untuk mendekat padanya.

Aryan lantas sedikit menunduk, lalu perlahan-lahan mulai mengecup mesra bibir ranum Karin. Tubuh Aryan yang sedikit lebih tinggi dari Karin, membuat Karin harus berjinjit untuk dapat mengimbangi tempo ciuman yang Aryan lakukan.

Desahan yang terdengar begitu seksi lolos dari bibir Karin saat Aryan mulai memperdalam ciumannya. Satu tangan Aryan kemudian menghela tengkuk Karin, guna mempermudah kegiatan yang sedang mereka lakukan. Tangan Aryan yang bebas, bergerak mengusap aset milik Karin yang terasa begitu sintal di bagian belakang itu. Kegiatan Aryan itu membuat Karin seketika menjengitkan tubuhnya, dengan seruan dari dalam dirinya, Karin akhirnya menghela Aryan untuk beralih mencumbu area lehernya.

Setelah ciuman yang mereka lakukan selama hampir sepuluh menit itu, Aryan kini telah membawa tubuh Karin menuju ranjang. Sambil menjelajahi wajah Karin, Aryan lantas berujar, “Karin ... kamu cantik banget.”

Suara berat Aryan yang memujanya, pandangan Aryan yang begitu terlihat mendamba kala melihatnya, membuat iris mata Karin langsung berkaca-kaca.

“Kamu hamil gini, jadi makin seksi,” ujar Aryan lagi, tatapannya tampak gemas, nada bicaranya sedikit jenaka.

“Masa sih? Bukannya aku jadi gendut?” tanya Karin.

“Kamu nggak gendut, Sayang, tapi seksi. Aku suka kamu kayak gini, istri aku selalu cantik,” puji Aryan lagi.

Perlakuan Aryan yang menghargai Karin seperti ini, selalu mampu membuat Karin merasa nyaman dan spesial. Aryan tidak pernah lupa memperlakukan Karin dengan spesial, memujinya, menuruti keinginannya, semua itu bentuk cinta yang Karin terima hampir setiap hari dari suaminya.

Bibir Aryan yang penuh dan terasa lembap itu, kini bergerak turun perlahan-lahan ke dari rahang Karin hingga ke lehernya. Aryan mengecup leher Karin dalam-dalam di sana, rasanya begitu nikmat, hingga menghadirkan reaksi alami dari tubuh Karin. Karin dengan pintar merespon setiap pergerakan yang Aryan lakukan, mereka saling mengapresiasi satu sama lain. Dari sana lah terjadi komunikasi antar pasangan yang begitu intim. Hubungan tersebut tidak hanya sepihak, mereka saling memberi respon yang baik, itu lah yang membuat keduanya menghabiskan waktu hingga lebih dari dua puluh menit untuk kegiatan foreplay.

“Kak, gimana kalau kita coba posisi baru?” ujar Karin sembari menyibak helaian rambut Aryan yang turun menutupi keningnya.

“Kamu mau posisi apa emangnya?” tanya Aryan.

Woman on top. Gimana?”

Tidak lama kemudian, Aryan pun mengangguk menyetujuinya. Lelaki itu mengatakan pada Karin bahwa ia percaya untuk mereka melakukannya. Dari jurnal-jurnal yang mereka baca dan hasil konsultasi dengan dokter, posisi woman on top dapat memberikan kepuasan yang lebih kepada wanita. Seorang wanita akan memegang kendali hampir sepenuhnya, sehingga lebih tau di mana titik kepuasannya. Posisi ini akan membuat gerakan pria tidak terlalu intens dan ejakulasi menjadi tertunda. Jadi dalam posisi ini, pria tidak hanya memberi, tapi juga menerima.

Sebelum Karin bergerak ke atasnya, Karin membiarkan Aryan untuk melucuti pakaiannya. Itu sangatlah mudah bagi Aryan. Gaun sutra pendek berwarna merah gelap yang dikenakan Karin, hanya membutuhkan lima detik untuk berhasil jatuh ke lantai. Sama yang dilakukan oleh Aryan, Karin pun melepaskan satu persatu pakaian Aryan.

Setelah adegan melepaskan pakaian itu, Karin kembali mengecup bibir Aryan, sembari tangannya menjamah setiap bagian tubuh keras dan berotot pria itu. Ini babak kedua dari foreplay, lagi dan lagi, keduanya sama-sama merasa terbang ke atas langit. Setiap gerakan yang mereka lakukan begitu terasa indah dan memabukkan.

Babak kedua foreplay tersebut terjadi lebih lama dari babak pertama. Aryan selalu melakukannya seperti itu, memberi Karin service spesial sampai perempuan itu merasa puas lebih dulu.

Setelah pemanasan tersebut berakhir, kini Karin telah berpindah posisi menjadi di atas Aryan. Surai panjang Karin yang sudah menjadi lembap berkat cucuran keringatnya, membuat Karin terlihat semakin seksi. Begitu Karin mencium bibir Aryan lagi, helai rambut Karin yang jatuh mengenai wajah Aryan, memberikan sensasi nikmat tersendiri untuk pria itu.

Dengan satu tangannya dan sisa kekuatannya, Karin menyilakan rambut panjangnya. Rambutnya sedikit menghalangi Karin dengan kegiatannya. Pergerakan Karin menyilakan rambutnya itu sukses membuat Aryan tidak berkedip. Karin begitu cantik. Sendi-sendi lutut Aryan seketika melemah, rasanya kedua kaki miliknya kini telah berubah menjadi jeli.

“Karin ... “ lenguhan itu lolos begitu saja dari bibir Aryan saat Karin mempercepat tempo ciumannya.

Kode tersirat dari Aryan itu lantas ditangkap dengan baik oleh Karin. Karin pun segera melakukannya lebih jauh, kini ia sudah menggenggam milik Aryan dengan satu tangannya. Napas mereka saling beradu, itu semakin intens, ketika Karin menggerakkan milik Aryan dengan gerakan naik turun.

Bibir keduanya masih saling memagut ketika Karin mulai memasukkan milik Aryan ke dalam miliknya. Tetesan peluh Karin di pelipisnya yang turun hingga ke dadanya, membuat tangan Aryan basah kala ia memainkan dua benda milik Karin di sana. Tubuh mereka sudah sama-sama dibanjiri oleh keringat dan ingin segera sampai ke pelepasan yang sesungguhnya.

“Kak, I love you,” ucap Karin dengan sedikit napas yang terengah, saat akhirnya milik Aryan berhasil menyentuh titik sensitifnya. Keduanya sama-sama bergerak di sana, guna membuat penyatuan tersebut semakin indah.

I love you,” balas Aryan kemudian. Selama itu terjadi, netra mereka saling menatap, mereka menyalurkan cinta dan kasih dari tatapan itu. “I love you more, Karin,” sambung Aryan sembari mengusap puncak dada Karin dengan gerakan halus.

Karin menangis di tengah-tengah kegiatan itu. Melihat air mata Karin membasahi belah pipinya, Aryan segera mengarahkan jemarinya untuk menyekanya dengan lembut. Gerakan Karin di atas Aryan terasa begitu sempurna, Aryan sangat menikmatinya. Semua yang Karin lakukan saat ini adalah hal terindah untuk Aryan. Aryan tahu bahwa Karin mencintainya dan itu lebih dari cukup baginya.

Setelah sekitar sepuluh menit lebih penyatuan tersebut terjadi, keduanya pun memutuskan untuk beristirahat. Karin merebahkan tubuhnya di samping Aryan, mereka saling berhadapan dan melempar pandangan.

“Sayang, kamu hebat banget. You are so great, thank you for everything,” ucap Aryan.

Karin lantas mengulaskan senyumnya, ia mengambil tangan Aryan dan memberikan kecupan di punggung tangan lelakinya.

“Kita mau udahan atau nanti lanjut lagi?” tanya Aryan.

“Hmm … mau lanjut lagi,” jawab Karin.

“Kamu nggak capek emangnya?”

“Capek sih. Sedikit sakit juga. Kamu mau lagi, atau udah?”

“Kalau kamu capek, kita masih bisa lanjutin nanti malem atau besok. Nggak papa Sayang, kasian kamu lagi hamil juga.”

Karin akhirnya mengangguk setuju. Mereka memutuskan menyudahinya, tapi tidak langsung beranjak tidur. Meskipun matanya terasa berat, Aryan berusaha untuk tidak terpejam. Aryan tahu Karin suka mengobrol setelah mereka berhubungan.

Tangan Karin yang tengah memegang lengan Aryan, secara tiba-tiba mencengkramnya dengan cukup erat, membuat Aryan sedikit terkejut. Karin nampak meringis dan berujar kesakitan.

“Kak, barusan bayinya nendang lumayan kenceng,” ucap Karin.

“Ohiya?”

Aryan yang bersemangat setiap merasakan anaknya bergerak, segera mendekatkan dirinya agar sejajar dengan perut Karin.

“Hei, anak papa. Kamu aktif banget ya dari kemarin. Kamu lagi ngapain sih di dalem perut Mama?” ujar Aryan.

“Kamu sabar ya, sebentar lagi kita ketemu. Kalau kamu udah lahir, nanti Papa ajak kamu main bola sama mobil-mobilan. Papa sama Mama nggak sabar banget ketemu sama kamu,” oceh Aryan lagi.

Usai berbicara pada anaknya, Aryan kembali mensejajarkan posisinya dengan Karin. Mata sabit indah milik Aryan, kini menatap teduh ke arah Karin.

“Sayang, dokter bilang kalau kita sering kita berhubungan, itu bagus buat kehamilan kamu, kan?” tanya Aryan.

“Iya. Kata dokter bisa buat mancing kontraksi dan pembukaan jalan lahir,” jawab Karin.

Jawaban Karin itu segera menghadirkan sebuah senyuman cerah di wajah Aryan. Karin yang memperhatikan itu lantas ikut mengulaskan senyum cantiknya. Karin senang bahwa yang mereka lakukan dapat membuat Aryan bahagia. Karin telah memberikan seluruh dirinya untuk Aryan, yang lantas dibalas pria itu dengan cinta yang lebih besar.

Sebenarnya tidak ada yang tahu seberapa besar patokan cinta tersebut. Cinta tidaklah berwujud. Lucu memang, tapi begitulah adanya. Namun cinta itu sendiri yang pada hakikatnya menghasilkan bentuk-bentuk yang lebih besar dari apa yang bahkan tidak manusia duga. Cinta menghasilkan suatu wujud yang membuat manusia bertahan, melestarikan keturunan, dan memungkinkan dua orang yang sebelumnya jauh sekalipun, menjadi dekat, guna melengkapi dan mengasihi satu sama lain.

“Sayang, mau cium,” ucap Aryan.

Karin memperhatikan bibir Aryan yang berucap, padahal mata pria itu kini telah terpejam.

“Masih kurang? Mau cium di mana lagi emangnya?” balas Karin kemudian. Karin bergerak mengalungkan lengannya di pundak Aryan, menghapus ruang yang sebelumnya ada di antara mereka. Merasakan sentuhan kulit Karin di kulitya, membuat Aryan segera membuka matanya.

Aryan lalu mengarahkan telunjuknya untuk menunjuk bibirnya, “Di sini.” Kemudian jarinya segera beralih ke pipi, kening, dan terakhir di dekat rahang. “Di sini juga yaa Sayang. Sebenarnya bebas kamu mau cium di mana. You are a pro and you always amazing when we’re did it.”

Karin tertawa sekilas. “Berkat ajaran kamu juga kan selama ini.”

Aryan kemudian tersenyum bangga. “Are you willing for it? I can teach you more.”

Karin nampak berpikir sejenak, lau dengan jenaka, perempuan itu menjauhkan wajahnya dari Aryan saat Aryan bergerak ingin menciumnya lebih dulu.

I’m forever yours, Kak. Let’s do it tonight, tomorrow, even until we're getting old together. Are you willing for it?” ujar Karin.

Aryan lantas mengangguk. “Yes, Baby. Let's do it for sure,” ucap Aryan.

Sebagai pengantar tidur keduanya, mereka kembali saling mencumbu satu sama lain. Netra Aryan mulai terpejam dan tampak begitu lelap, tapi bibirnya masih setia bergerak mengulum bibir Karin di sana.

Bibir Aryan yang penuh dan agak besar itu, adalah hal yang begitu Karin sukai. Suatu hari, jika anaknya lahir dan akan mewariskan bibir indah milik Aryan, Karin yakin anaknya akan menjadi lelaki yang tampan, persis seperti papanya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin baru saja terjaga dari tidurnya. Begitu membuka mata, Karin langsung menoleh ke samping, tapi ia tidak menemukan sosok Aryan di sana. Napas Karin terdengar naik turun, rasanya dadanya sedikit sesak, ia juga sedikit kesulitan untuk bernapas. Karin menghela napas panjangnya, ketika menyadari bahwa apa yang dilihatnya barusan hanyalah sebuah mimpi.

Karin baru saja mengalami mimpi yang tidak ia inginkan. Karin dibawa pergi ke masa di mana saat dirinya berusia 15 tahun, saat mamanya pergi begitu saja. Setelah papanya meninggal dan memiliki hutang piutang, hal tersebut lantas menyebabkan barang-barang di rumah beberapa disita oleh pihak bank. Beberapa saat setelahnya, mamanya pun pergi meninggalkan ia dan Kavin. Karin tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu. Lebih tepatnya, Karin tidak ingin mengingatnya. Karin hanya mengingat saat kak Syerin dan mama Vanessa datang ke rumah, mengulurkan tangan padanya dan Kavin, mengatakan bahwa mereka bersedia untuk merawat keduanya.

Karin memutuskan untuk turun dari ranjang dan segera melangkah menuruni tangga. Ketika Karin melihat Aryan di sofa ruang tamu sedang berkutat dengan laptop di hadapannya, Karin segera menghampiri lelaki itu. Aryan yang mendapati Karin terjaga dari tidurnya dan wajahnya nampak pucat, langsung bertanya dengan nada khawatir khasnya. “Sayang, kamu kenapa?”

“Kak, aku habis mimpi buruk,” jelas Karin. Tatapan Karin seolah mengadu kepada Aryan. Wajahnya dipenuhi oleh guratan kesedihan. Aryan tidak tega melihatnya dan sepertinya mimpi buruk yang dialami Karin cukup serius.

Aryan lantas mematikan laptopnya dan menutupnya. Setelah itu, Aryan berpindah posisi untuk mendekat pada Karin. Aryan kemudian bergerak membawa torso mungil Karin ke dalam dekapannya.

“Kamu mau tidur lagi? Maaf yaa, tadi aku tinggal kamu sebentar. Aku harus ngerjain tugas magang,” ucap Aryan.

“Aku nggak mau tidur, Kak. Aku takut mimpi lagi,” ucap Karin pelan. Karin membenamkan wajahnya di pelukan hangat Aryan. Perasaannya masih kacau, sampai-sampai membuat rasa kantuknya menguap begitu saja.

Selama beberapa menit berselang, Aryan tetap membiarkan Karin untuk memeluk tubuhnya. Tanpa mengatakan apa pun, Aryan memberi usapan di surai panjang Karin, berharap apa yang ia lakukan dapat mengurangi rasa takut yang sedang perempuannya rasakan.

Usapan lembut Aryan di surai Karin terhenti begitu Karin bergerak dari posisinya. Karin menengadahkan wajahnya, ia menatap Aryan lekat. Karin bersyukur bahwa ia tidak sendiri lagi, ia memiliki seseorang untuk bersandar di kala bersedih dan karenanya Karin dapat merasa lebih baik.

Mereka masih di sana, tapi kini mencoba mengubah posisi agar lebih nyaman. Aryan berada di samping Karin, meminta perempuan itu menyandarkan kepalanya di bahu tegapnya, lalu Aryan mendekap tubuh Karin dari samping. Karin meringkuk layaknya seorang bayi, dua kakinya berada di atas pangkuan Aryan, tampak begitu nyaman dengan posisinya saat ini.

Aryan & Karin Position

Selama hidupnya, belum ada yang tahu soal mimpi yang kerap kali Karin alami. Itu adalah mimpi yang sama, mimpi yang membuatnya merasa ketakutan. Maka dari itu, Karin tidak pernah berniat menceritakannya kepada siapa pun. Namun malam ini, dengan sukarela, Karin mengatakan bahwa ia akan membagi cerita itu kepada Aryan.

Aryan memfokuskan atensinya pada Karin, kini mereka saling menatap. Karin berdeham sekali sebelum akhirnya memulai ceritanya. “Sampai sekarang, aku nggak tau alasan kenapa mama ninggalin aku dan Kavin. Aku kangen sama mama, tapi aku nggak tau aku sanggup ketemu sama beliau atau engga,” ucap Karin. Mengalirlah cerita tentang mimpi yang Karin alami. Saat di mana seorang gadis berusia 15 tahun dipaksa oleh keadaan untuk menjadi dewasa. Karin seorang diri harus bisa mengambil keputusan sekaligus merawat adik lelakinya. Karin tidak memiliki keluarga yang waktu itu datang mengulurkan tangan padanya, sampai akhirnya keluarga dari istri pertama papanya yang datang membantunya.

“Karin, aku boleh tanya satu hal sama kamu?” tanya Aryan kemudian.

Karin pun mengangguk, “Boleh. Kamu mau tanya apa?”

“Apa kamu udah maafin beliau?”

Pertanyaan Aryan itu tidak segera memiliki jawaban di benak Karin. Karin tidak pernah terpikirkan bahwa rasa kecewa dan marah pada mamanya yang belum termaafkan, adalah penyebab dari rasa sakit yang masih bersarang di hatinya hingga sekarang.

Karin akhirnya menjawab Aryan dengan sebuah gelengan kepala. Aryan tidak menatapnya dengan tatapan menghakimi, melainkan lelaki itu melayangkan tatapan lembutnya kepada Karin. Aryan kemudian berujar, “Kamu memaafkan seseorang untuk berdamai dengan diri kamu sendiri. Aku tau ini nggak akan mudah buat kamu, kamu nggak harus buru-buru untuk maafin, tapi kamu coba untuk memaafkan beliau, ya?”

Hati Karin yang sebelumnya seperti bongkahan es yang keras dan beku, kini perlahan-lahan mulai bisa mencair akibat ucapan hangat Aryan. Aryan telah berhasil menyentuh sisi terdasar diri Karin, luka masa lalunya, Aryan lah yang membantu Karin memiliki keinginan sembuh dari luka tersebut.

Aryan kini sangat paham mengapa Karin menjadi perempuan yang begitu tangguh. Masa lalu yang kelam yang mungkin mayoritas orang akan melihat itu sebagai suatu kelemahan, tanpa mereka ketahui, hal berat itulah yang akhirnya membuat Karin menjadi sosok perempuan yang hebat.

Aryan lantas mengarahkan tangannya untuk menangkup sisi wajah Karin, “Karin, aku bangga sama kamu. I’m proud for what you did. You are amazing and you have to know that,” ucap Aryan.

Perlahan-lahan Karin pun mengulaskan senyum bahagianya. Wajahnya yang semula nampak sedih dan begitu sendu, kini sedikit lebih cerah dan semuanya terasa lebih baik. “I’m grateful I knew I have somebody to tell, Kak. Thank you for everything that you did to me,” balas Karin.

Karin mengatakan bahwa dirinya tidak ingin terus bergantung kepada Syerin, kakak sambungnya. Maka dari itu, saat usianya menginjak 18 tahun, Karin akhirnya memutuskan untuk memiliki penghasilan sendiri. Karin memulai karirnya sebagai seorang beauty vlogger dan freelance model. Karin akhirnya berhasil sukses berkat kerja keras dan ketekunannya. Karin juga mendapat gelar mahasiswi berprestasi di kampus karena prestasi cemerlang dan keaktifannya mengikuti berbagai kegiatan jurusan maupun fakultas.

Banyak yang sudah Karin capai, tapi Karin rela hampir kehilangan semua itu untuk mempertahankan bayinya. Karin hanya ingin anaknya kelak hidup bahagia, ia berharap bahwa anaknya tidak akan pernah merasakan apa yang dulu ia rasakan, yakni tidak memiliki sebuah keluarga yang utuh. Karin pun telah berjanji pada dirinya, ia tidak akan membiarkan hal yang ditakutinya tersebut menjadi kenyataan.

“Kak, aku mau tidur. Tapi kamu jangan tiba-tiba pergi ya, bilang dulu sama aku kalau mau pergi,” ucap Karin.

Aryan segera mengangguki permintaan Karin tersebut. Saat mereka beranjak dari sofa, Aryan menawarkan sesuatu pada Karin “Mau aku gendong?”

Karin nampak memikirkan ucapan Aryan itu. Sambil mengulaskan senyum manisnya, akhirnya Karin pun menerima tawaran yang Aryan berikan.

“Mau gendong,” ucap Karin. Nada suaranya sedikit manja. Baru pertama kali ini Aryan mendengarnya dan yaa ... itu sungguh membuat Aryan merasa senang.

Bridal style atau koala?” tanya Aryan.

“Mau bridal.”

“Oke, bridal.”

***

Ketika Karin membuka matanya di pagi hari, ia mendapati Aryan telah terbangun lebih dulu darinya. Karin pun lantas mengernyit, tampak dua buah kerutan di keningnya. Ini hari minggu dan suaminya telah bangun di jam 7 pagi? Karin pun takjub, ini merupakan suatu keajaiban, begitu pikirnya.

“Kok tumben banget kamu udah bangun?” celetuk Karin.

“Hebat nggak aku?” tanya Aryan sembari menaik turunkan alisnya.

Karin mau tidak mau tersenyum. Kalau begini, wajah suaminya itu nampak begitu menggemaskan. Satu hal yang mungkin jarang orang lain dapati, ekspresi Aryan yang seperti ini, ekspresi yang hanya ditampilkan di depan Karin. Aryan versi apa adanya, begitulah lelaki itu ketika bersama Karin.

“Hebat. Hebat banget suami aku,” ucap Karin sambil mengacungkan ibu jarinya. Sesaat kemudian, Karin kembali memejamkan matanya dan bergerak masuk ke dalam pelukan Aryan.

“Hari ini kamu ada schedule apa?” tanya Aryan, posisi keduanya masih saling memeluk, tidak berubah sedikit pun.

“Ada satu scedule, cuma nge-vlog doang kok. Soalnya youtube-ku belum upload video dari minggu lalu,” jelas Karin.

“Oke.”

“Kamu hari ini ada rencana mau keluar rumah nggak Kak?” tanya Karin.

Aryan pun menjawab pertanyaan Karin dengan sebuah gelengan.

“Kamu mau in frame di vlog aku? Soalnya aku mau record videonya di rumah aja, ini tema videonya A Day in My Life gitu,” ucap Karin lagi.

“Kalau vlog-nya di rumah nanti judul videonya apa?” tanya Aryan. Karin pun segera bergerak dari posisinya, ia menjauhkan tubuhnya sedikit dari Aryan dan kini mereka saling menatap.

“Judulnya nanti A Day in My Life with My Husband, Weekend Edition. Is it good or not? Atau kamu punya masukan buat judulnya? Nanti aku bisa bilang ke editorku,” ujar Karin.

Karin memperhatikan Aryan yang kini nampak berpikir. Kedua alis tebal lelaki itu nampak menyatu di tengah, selain itu kedua belah bibirnya mengulum ke dalam.

Dua detik berikutnya, Aryan melayangkan tatapan berbinar sekaligus penuh afeksinya kepada Karin. “Aku mau in frame di vlog kamu. Judulnya udah bagus, bagus banget. Jadi, kita bakal ngapain aja di rumah seharian ini?”

***

Ini adalah pengalaman yang sangat baru sekaligus terasa sedikit lucu bagi Aryan. Namun lelaki itu tampak begitu menikmatinya dan sangat bersedia untuk melakukannya.

Ternyata begini proses di balik layar yang dilakukan oleh seorang content creator. Kenyataan yang terjadi, mereka sudah bangun tidur, tapi harus kembali mengulang adegan bangun tidur. Ini mirip dengan berakting dan Aryan cukup bagus melakukannya meski ia adalah seolah pemula.

Setelah adegan bangun tidur, Karin pun bergerak mengambil kamera yang ia letakkan di meja TV di kamar. Wajah Karin lantas menghadap ke kamera mirrorless di tangannya dan ia memulai sebuah intro. “Hi, everyone. Welcome back with me, Karina. Hari ini aku akan buat video a day in my life with my husband, weekend edition. Udah lama banget yaa kayaknya aku nggak nge vlog. As you guys ask, vlog keseharian adalah permintaan yang paling banyak dari kalian. So here’s the video, hope you guys enjoy it. Happy watching.”

Aryan akui bahwa Karin begitu lihai dan lugas ketika berbicara di depan kamera. Karin pun mengajarkan Aryan beberapa hal dan memberikannya arahan untuk melakukannya. Script yang ada hanya di jadikan bahan acuan, selebihnya mereka banyak melakukan improvisasi.

Hal yang pertama Karin dan Aryan lakukan setelah bangun tidur adalah membuat sarapan. Kamera dipegang oleh Karin, ia merekam Aryan yang sedang memasak sarapan untuk mereka.

“Hari ini kita buat sarapan yang sederhana aja. Suami aku yang buatin sarapannya nih, guys,” ucap Karin lalu mengarahkan kameranya ke arah Aryan. “Makasih yaa,” ucap Karin dengan suara lembutnya. Tepat setelah itu, Aryan mengalihkan fokusnya dari masakannya kepada Karin. Otomatis di layar kamera terlihat wajah Aryan dengan jarak yang cukup dekat.

Karin nampak tersenyum mendapati hal itu terjadi. Kemudian dengan satu tangannya yang tidak memegang tripod kamera, Karin mengarahkannya ke sisi wajah Aryan dan memberikan usapan halus di sana.

Rupanya seusai adegan itu, Karin menjeda videonya. Karin meletakkan kameranya di meja makan, lalu ia kembali menghampiri Aryan yang masih berkutat dengan masakannya. Dengan gerakan lembut, Karin melingkarkan kedua lengannya di seputaran pinggang Aryan, ia memeluk torso lelakinya dari belakang.

Mendapat perilaku Karin tersebut, Aryan bergegas mematikan kompor. Kemudian satu tangannya mengusap tangan Karin yang berada di pinggangnya.

“Lima menit kayak gini, boleh?” tanya Karin.

Aryan lantas begerak membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Karin. Dengan kedua tangannya, Aryan pun menangkup wajah Karin, ia menatap paras Karin dengan tatapan penuh arti.

“Kamu lagi manja banget ya akhir-akhir ini. Atau cuma perasaan aku aja?” cetus Aryan.

Karin sendiri akhirnya mengaku bahwa ia tidak sadar akan hal yang ditanyakan oleh Aryan barusan. Namun kalau dipikir lagi, semua perilakunya belakangan ini memang persis seperti yang Aryan katakan. Akhirnya Karin hanya mengulaskan senyum tersipunya, lalu ia segera berbalik dan melangkah ke meja makan. Karin berlalu dari hadapannya, meninggalkan Aryan dengan perasaan bahagia yang seketika memenuhi rongga dadanya.

***

Usai menghabiskan sarapan, Aryan dan Karin bekerja sama membereskan rumah. Area lantai bawah disapu dan bantal-bantal sofa di tata dengan rapi. Kamera masih menyala dan diletakkan di meja ruang tamu. Dari layar kamera tersebut, tampak Aryan yang sudah selesai dengan tugasnya, lelaki jangkung itu lantas berjalan menghampiri Karin.

Begitu sampai di hadapan Karin, Aryan memeluk mesra pinggang Karin dari belakang.

“Kak,” ujar Karin pelan di dekat Aryan.

“Apa?”

“Videonya nanti pas diupload harus dibatasi umur penontonnya lho, kalau kita kayak gini di depan kamera.”

“Kalau dibatasi emangnya kenapa?”

“Yaa nggak papa sih. Nanti aku bilang editorku kalau gitu,” ucap Karin.

Tiba-tiba saja tawa keduanya membuncah begitu saja. Ini terasa lucu dan menggelitik perut, tapi baik Aryan maupun Karin rupanya begitu menikmati semuanya. Mereka menyukai waktu yang dihabiskan berdua, melakukan hal-hal sederhana, saling bertukar pikiran, dan saling memberikan perasaan nyaman satu sama lain.

Tidak sampai lima menit berlalu, Karin pun sudah selesai dengan urusan berberesnya. Karin membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Aryan.

Karin melingkarkan lengannya di pinggang Aryan. Kemudian Karin memangkas jarak yang ada di antara mereka, keduanya kini berpelukan ringan. Dengan perlahan, Aryan menggerakkan pelukan mereka, hampir seperti sedang berdansa. Tubuh keduanya kini mengayun ke kanan dan ke kiri dengan tempo yang lambat.

Begitu tatapan keduanya bertemu di tengah, dari sana mereka tahu apa yang mereka inginkan satu sama lain. Aryan lantas meminta Karin untuk menunggu di tempatnya. Karin tidak terpikirkan tentang apa yang akan Aryan lakukan. Karin hanya memperhatikan, ketika Aryan mengambil sebuah kursi dari meja makan lalu meletakkannya di hadapan Karin. Aryan pun duduk di bangku itu, kemudian Aryan menghela Karin untuk duduk di atas pangkuannya.

Aryan meletakkan kedua lengannya di pinggang Karin, menjaga wanitanya agar tetap aman berada bersamanya. Karin melayangkan tatapannya pada Aryan, lalu tiba-tiba saja Karin meneguk salivanya dengan susah payah. Jantung Karin berdebar kencang di dalam sana, selalu seperti ini yang terjadi ketika atensinya hanya tertuju kepada Aryan.

Perlahan Karin mengarahkan lengannya untuk melingkar di bahu Aryan, membuat posisi mereka menjadi semakin intim.

“Kak, aku matiin kameranya dulu ya?” tanya Karin.

Aryan pun hanya mengangguk, ia membiarkan Karin pergi untuk mengambil kamera dan mematikannya. Saat Karin selesai mematikan kamera dan kembali berjalan ke arahnya, tatapan Aryan tidak bisa lepas sedikit pun dari perempuan itu. Karin selalu mempesona, ia cantik dengan caranya sendiri.

Karin pun sudah kembali ke posisi semula, berada di pangkuan Aryan. Wajah keduanya kini sejajar, mereka saling menatap dengan tatapan penuh afeksi. Ada kasih sayang yang jelas terpancar melalui tatapan itu. Aryan tersenyum kecil, lalu ia bergerak mempertemukan hidungnya dengan hidung Karin.

Dengan lembut, Aryan menggesekkan hidungnya di sana, lalu beralih memberi kecupan di pipi Karin. Bunyi kecupan itu terdengar lembut sekaligus menggemaskan secara bersamaan.

“Karin, aku boleh tanya sesuatu ke kamu?” tanya Aryan usai kegiatannya menghujani pipi Karin dengan ciuman.

Karin pun mengangguk, “Kamu mau nanya apa?”

Aryan berdeham sejenak, lalu ia bersuara lagi, “Kenapa akhirnya kamu lebih memilih aku dari pada Rey?”

Mendengar pertanyaan Aryan yang tidak terduga itu, Karin seketika mengernyitkan kedua alisnya.

I mean he’s a perfect boyfriend for you. You look really happy when you with him. I just wondering, the reason finally you chose me than him,” jelas Aryan lagi. Seperti dapat membaca apa yang Karin pikirkan, Aryan pun mengungkapkan alasannya mengutarakan pertanyaan itu kepada Karin.

Karin akhirnya mengatakan bahwa ia akan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Aryan. Karin tidak pandai merangkai kata-kata, perempuan itu mengakuinya. Namun Karin akan mengatakan yang sejujurnya dan itu dari hatinya yang paling dalam.

“Aku tau, Rey akan berjuang untuk aku dan hubungan kita pada saat itu, meskipun orang tuanya nggak setuju. Apa yang kamu bilang juga benar, Rey adalah pacar yang sempurna buat aku,” ucap Karin.

Aryan masih mendapati Karin menatapnya begitu lekat, bahkan perempuan itu menghadiahkan sebuah senyuman yang begitu cantik untuknya. “Kak, aku pernah punya hidup yang menurutku mungkin nggak sempurna. Dari sana akhirnya aku belajar banyak, salah satunya adalah tentang cinta yang nggak selalu tentang kesempurnaan pasangan kita. Cinta itu lahir dan tumbuh beriringan dengan kelebihan dan kekurangan. Because perfectness is full of condition. Tapi kamu tau, cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang tanpa batas. Perasaan itu nggak terbatas dengan cuma melihat kelebihan seseorang, tapi juga kekurangannya.”

Karin mengatakan bahwa Rey mencintainya, sama seperti Aryan. Namun itu lah yang terjadi, Aryan adalah sosok cinta pertama bagi Karin. Aryan adalah sosok yang yang membuat Karin jatuh cinta pertama kali sedalam ini. Karin merasa sedih saat Aryan sedih, dan sebaliknya Karin merasa bahagia saat Aryan bahagia.

Aryan masih berusaha mencerna semua perkataan Karin. Aryan tidak punya alasan yang pasti mengapa memberikan pertanyaan itu pada Karin. Ia hanya ingin tahu dan benar-benar memastikan bahwa Karin bahagia saat bersamanya. Ini bukan soal keraguannya terhadap Karin, tapi soal keraguannya terhadap dirinya sendiri. Terkadang Aryan masih merasa tidak pantas untuk Karin.

Aryan akhirnya mengetahui jawabannya dari Karin hari ini. Aryan bersyukur bahwa pilihan yang diambil oleh Karin adalah yang membuat perempuan itu bahagia. Bukan berarti saat bersama masa lalunya Karin tidak bahagia, akan tetapi seperti yang kita ketahui, hati tidak akan pernah salah untuk memilih.

Karin bahagia bersama Rey, tapi hatinya telah memilih Aryan. Kita tidak tahu siapa yang akan menjadi pelabuhan terakhir hati kita, kapan dan dimana kita akan bertemu dengannya. Terkadang waktu juga tidak dapat menjadi jaminan bahwa yang paling lama akan menjadi sosok satu-satunya, sosok yang akan menjadi tempat untuk pulang dan menghabiskan sisa hidup bersama.

Karin lantas menatap Aryan lekat, ia mengunci tatapan lelaki itu. Aryan terdiam di sana, kelopak matanya sedikit melebar begitu Karin perlahan-lahan bergerak menciumnya. Seperti yang sudah terjadi sebelumnya, Karin melakukannya dengan begitu lembut. Seperti mengulum sebuah coklat di dalam mulut, rasanya ciuman tersebut begitu manis. Bukan manis secara harfiah, saking nikmatnya, rasanya menjadi begitu manis. Kira-kira seperti itu lah penggambarannya.

Aryan memang sedikit terkejut karena adegan mendadak itu, tapi ia bahagia Karin melakukannya lebih dulu. Napas mereka pun saling beradu, terasa hangat sekaligus mendebarkan. Agar memudahkan kegiatannya, Aryan pun menangkup wajah Karin menggunakan kedua tangannya, ia membalas ciuman Karin tidak kalah mesra, pergerakan Aryan juga berangsur terasa lumayan intens.

Sekitar lebih dari lima menit kemudian, aktivitas tersebut akhirnya selesai, begitu dirasa keduanya telah sama-sama cukup. Melalui apa yang mereka lakukan, rasa kasih pun dapat tersalurkan. Usapan lembut Aryan di pinggang Karin, memberikan sensasi nyaman dan perasaan gembira bagi Karin sendiri. Setiap waktu yang ia jalani bersama Aryan, Karin begitu menikmati dan menghargainya.

Aryan memberikan satu kecupan lembut di bibir Karin sebelum benar-benar menyudahi semuanya. Begitu Aryan mengulaskan senyum lebarnya, di sana Karin juga tersenyum. Senyum Karin yang terasa begitu tulus itu, mengembangkan gelora-gelora cinta di dalam diri Aryan. Setiap hari perasaannya kepada Karin selalu bertambah, begitu lah adanya.

Tanpa mengatakan apa pun, Karin bergerak menjatuhkan dirinya ke dekapan Aryan. Ia selalu nyaman berada di sana. She feels like she found a home.

“Kak, apa jawabanku tadi udah cukup?” tanya Karin di sela-sela pelukan mereka.

Aryan lantas mengurai pelukannya untuk saling menatap dengan Karin. Aryan pun segera mengatakan iya sebagai jawaban atas pertanyaan Karin barusan.

“Kak, aku mau, di antara kita saling terbuka. Kamu boleh nanyain hal yang kamu ingin tahu. Aku akan ngasih jawabannya, dan aku selalu berharap kamu percaya sama aku. Ada lagi yang mau kamu tanyain?” ucap Karin panjang lebar.

Aryan nampak memicingkan matanya ke arah Karin. “Ini bukan pertanyaan, tapi permintaan.”

“Oh iya? Oke, kamu mau minta apa?” tanya Karin.

Saat akhirnya Karin mendengar permintaan yang Aryan ajukan, Karin segera melayangkan tatapan tidak percayanya. Aryan baru saja meminta Karin melakukan permaian Describe Your Husband. Satu hal yang kalian harus tahu, itu adalah permainan yang Aryan ciptakan sendiri.

“Deskripsinya bebas tentang apa aja, kan?” tanya Karin memastikan sebelum ia akan memulai. Aryan pun lekas mengangguk mengiyakan.

“Oke, aku mulai ya. Nomor satu sampai tiga, ganteng. Empat sampai tujuh …. hmm ... seksi.”

“Tunggu,” ucap Aryan yang seketika menahan Karin. Karin pun segera melemparkan tatapan tanyanya kepada Aryan.

“Kenapa satu sampai tiga sama? Empat sampai tujuh juga sama?” tanya Aryan kemudian.

“Ya … karena kamu gantengnya tiga kali lipat. Terus seksinya empat kali lipat, gitu,” jelas Karin sambil menampakkan cengiran kecilnya.

Mau tidak mau Aryan terbahak mendapati penjelasan Karin tersebut. Karin rupanya ikut tertawa dan sepertinya ia merasa sebentar lagi dirinya akan ketularan ke-random-an Aryan, atau mungkin levelnya bisa lebih parah dari Aryan.

“Oke, next,” ujar Aryan mempersilakan Karin untuk melanjutkannya.

“Delapan, love shape lips. I like it, your lips. Sembilan sampai sebelas … smart. Dua belas family man, tiga belas si paling act of service, empat belas hmm …. “

Karin menggantung ucapannya, ia menatap Aryan penuh arti. Aryan sendiri menunggu dengan penasaran tentang deksripsi nomor empat belas.

“Nomor empat belasnya apa?” tanya Aryan.

“Kamu beneran mau tau? Tapi ini agak gimana gitu,” ucap Karin dengan suara pelannya.

Justru Aryan semakin penasaran dibuatnya. “It’s oke. Just tell me. Kamu malu? Apa ini berhubungan sama yang dilakuin suami dan istri?”

Seketika pupil mata Karin melebar. Ia akhirnya menganggukkan kepalanya pelan. “Oke, empat belas, a pro kisser,” citi Krin, bahkan Aryan hampir saja tidak mendengarnya.

Really?” balas Aryan cepat. Lelaki itu nampak tidak percaya, kali ini tawanya menggelegar lebih kencang dari sebelumnya. Keduanya lantas saling menatap. Oh, mereka tidak dapat mengingat sudah berapa kali mereka melakukannya. Detik berikutnya, Karin segera mengalihkan tatapannya dari Aryan, perempuan itu masih malu jika tiba-tiba saja terbayang, apalagi kini pelakunya ada di hadapannya sendiri.

Setelah akhirnya tawa Aryan mulai reda, Karin pun melanjutkannya. “Lima belas, you are a very kind hearted person. Enam belas, you are a loveable person. Tujuh belas dan yang terakhir, kamu punya pendirian yang kuat. Artinya saat kamu punya keinginan, kamu akan benar-benar berjuang untuk itu.”

Aryan mengarahkan tatapannya kepada Karin, tatapan tersebut tiak berubah sedikit pun. Aryan jatuh dan tenggelam ke dalam iris legam yang selalu membuatnya nyaman itu. Karin telah menjadi bagian penting dari hidupnya, hatinya, dan setiap ruang di dalam pikirannya.

“Karin,” ujar Aryan.

“Hmm?” balas Karin.

Let's make our journey together and forever. Only us and our beloved childrens in future. Karin, I'm not a perfect person, I made mistakes sometimes, but I want you to know. I want to be a person that make you happy and smile,” Aryan berujar panjang lebar. Ia mengungkapkan janjinya kepada Karin. Persis seperti apa yang Aryan katakan di altar waktu pernikahan mereka, Aryan akan memenuhi janji yang telah ia buat untuk Karin di hadapan Tuhan.

Aryan berjanji bahwa Karin adalah satu-satunya perempuan yang ia cintai. Aryan akan berusaha menjadi yang lebih baik lagi untuk Karin ke depannya, bukan menjadi yang sempurna. Aryan tahu bahwa wanitanya tidak mendambakan sebuah kesempurnaan, tapi Aryan sendirilah yang akan memberikan semua yang ia miliki untuk Karin, hingga perempuan itu merasa spesial dan begitu cukup ketika bersamanya.

Aryan dan Karin adalah dua insan yang sama-sama tidak sempurna. Mereka dipertemukan dengan kejadian tidak terduga yang tidak diharapkan dalam persepsi kebanyakan orang. Namun Aryan dan Karin percaya bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang dapat mereka ciptakan. Mereka sama-sama pernah hancur, tapi demi masa depan keduanya dan buah hati mereka, mereka akan selalu berusaha dan berjuang untuk menciptakan kebahagiaan tersebut.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dua hari yang lalu, Nayna menyampaikan niatnya pada Karin untuk menemui Kina. Nayna mengatakan bahwa ia akan turun tangan, ia ingin memberitahu Kina agar perempuan itu tahu batasannya. Sudah cukup Kina mengganggu hubungan Aryan dan Karin. Sesuai tekadnya sejak awal pernikahan kakaknya, Nayna akan menjadi garda terdepan untuk mendukung hubungan kakaknya dengan Karin.

Nayna sudah mengetahui bahwa Aryan dan Karin membatalkan niat mereka untuk membawa kasus Kina ke jalur hukum. Awalnya Nayna sudah setuju dengan keputusan itu, toh mereka memiliki bukti yang kuat kalau sewaktu-waktu ingin menjebloskan Kina ke penjara. Namun Kina kembali berulah. Ia mengirim ancaman bahwa dirinya akan menyebarluaskan foto-fotonya bersama Aryan di masa lalu.

Saat Nayna berencana menghampiri Kina secara langsung, Karin lebih dulu menyampaikan rencana yang dimilikinya. Nayna akhirnya setuju, ia akan menjalankannya sesuai dengan yang Karin beritahu padanya. Rupanya mengenali lawan adalah hal yang sangat dibutuhkan sebelum menjalankan aksi, tentunya dibarengi juga dengan rencana yang matang dan terperinci.

Siang ini di parkiran basement Universitas Pelita Bhakti, Nayna sudah menunggu kemunculan Kina di sana. Rupanya perkiraannya cukup tepat, sepuluh menit setelah menunggu, Nayna mendapati sosok Kina tengah berjalan keluar dari lift menuju ke parkiran.

Tepat saat Kina mengarahkan kunci di tangannya ke arah mobil miliknya, Nayna sudah muncul di hadapannya. Kina yang mendapati kehadiran Nayna di sana, melemparkan tatapan datarnya, seolah merasa tidak ada urusan yang penting yang perlu ia selesaikan dengan Nayna.

Nayna Appear

“Kak Kina, you have a business with me. Let me say it to you,” ucap Nayna sambil menatap Kina tepat di matanya. Tatapan Nayna terasa begitu menghunus, tapi Kina berusaha tidak memperlihatkan bahwa dirinya tengah terintimidasi.

Saat Kina ingin membuka pintu mobilnya, Nayna segera bergerak menahannya. Kina nampak kesal, ia akhirnya menyerah dan membatalkan niatnya untuk pergi begitu saja dari hadapan Nayna.

Nayna berdeham sekali, lantas menatap Kina dari atas sampai bawah. Tentu perilaku Nayna tersebut dapat membuat Kina merasa terintimidasi. Nayna kemudian mengangkat dagunya sedikit, lalu ia mengulaskan senyum tipis di wajah cantiknya.

“Awalnya kak Aryan udah mau bawa kasusnya jalur hukum, tapi Kak Karin yang cegah itu semua. Satu hal yang perlu Kak Kina tau, aku bisa kapan aja bongkar kasusnya, sekali pun kak Karin yang akan larang aku. Aku bisa ngelakuin itu, kalau Kak Kina masih ganggu hubungan kak Karin dan kak Aryan.”

Nayna menjeda ucapannya selama beberapa sesaat. Nayna berdeham sekilas, lalu ia kembali bersuara, “Dari awal, waktu keluargaku tau apa yang udah Kak Kina lakuin, mereka udah punya niat kuat buat bawa kasusnya ke pihak berwajib. Tapi Kakak beruntung karena kak Karin bersikap baik ke kakak, orang yang dulu pernah kak Karin anggap sebagai teman.”

“Soal foto Kakak dan kak Aryan, silakan kalau mau nyebarin itu. Tapi aku yakin, Kak Kina tau banget soal background keluargaku. Aku akan berusaha bawa kasusnya ke jalur hukum, toh papaku mau bantu semua prosesnya.” Mendengar rentetan kalimat Nayna, Kina pun nampak mengepalkan tangannya dan raut wajahnya tampak begitu kesal. Kina jelas tahu bahwa keluarga Aryan memiliki kekuatan untuk melakukan apapun, apalagi kasus seperti ini, mungkin papanya Aryan hanya menganggapnya perihal yang mudah.

“Nayna, kamu ngerti apa. Kamu masih kecil. Kamu tau, Karin udah membodohi Aryan dan keluarga kalian—”

“Kak, you better shut up. Stop talking or you will regret it someday,” potong Nayna sebelum Kina sempat menyelesaikan kalimatnya.

Do everything want you want to do,” ujar Nayna dengan tatapannya yang masih intens tertuju kepada Kina. Perempuan berambut sebahu itu lantas membenarkan posisi totebag di pundaknya, lalu kembali berujar, “But you have to make sure that you knew the consequence.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Nayna akhirnya melangkah pergi, menyiskan Kina yang berdiri mematung di sana dengan seluruh amrah dan rasa kesal di dalam dirinya.

***

Karakter dalam diri seseorang adalah sesuatu tidak mudah untuk berubah. Seseorang mengalami berbagai hal di dalam hidupnya. Salah satunya, adalah kejadian yang dapat dijadikan sebuah pelajaran berharga, agar kedepannya bisa menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Namun kita tidak bisa mengharapkan perubahan itu terjadi begitu saja, sekalipun orang itu tahu konsekuensinya, terkadang beberapa orang masih mengabaikannya.

Setelah kelas terakhir Karin, Kina menghampirinya dan mengajak bicara. Kebetulan mereka satu kelas di mata kuliah ini. Karin mengatakan pada Aulia untuk menunggunya sebentar selagi Karin berbicara dengan Kina di dalam kelas. Aulia bertanya pada Karin sebelum memutuskan benar-benar melenggang keluar.

“Rin, lo yakin mau ngomong sama dia?” bisik Aulia di dekat Karin.

“Iya, gue yakin. Sebentar aja kok, habis itu kita beli makanan di kantin,” ucap Karin.

“Oke deh. Gue tunggu di luar ya,” putus Aulia.

Setelah mendapat anggukan Karin, Aulia pun berlalu. Kini di kelas itu tersisa Karin dan Kina. Karin pun mempersilakan Kina untuk berbicara, Kina lekas mengambil tempat di kursi di hadapan Karin.

Are you enjoy all of this, Karin?” tanya Kina. Kina tidak terima mengetahui bahwa keluarga Aryan memegang semua bukti perbuatannya. Kina takut karirnya akan hancur kalau sampai kasusnya terbongkar.

Seorang publik figur yang bekerja untuk industri kreatif, dituntut untuk memiliki citra yang baik. Ibaratnya ini seperti sebuah konsekuensi karena apa yang ada pada diri publik figur dapat menjadi contoh bagi para penonton yang melihatnya. Resiko harus ditanggung sendiri apabila nama menjadi buruk, karena mereka bekerja untuk publik, maka publik mempunyai peran besar dalam menentukan apa yang ingin mereka konsumsi dan apa yang tidak ingin mereka konsumsi. Ditolak oleh masyarakat berkat sebuah perbuatan buruk, tentunya dapat menjadi ancaman kehancuran yang besar bagi seorang publik figur.

“Kina, semua yang terjadi adalah karena perbuatan yang udah kamu rencanain sendiri. Seharusnya kamu tau setiap perbuatan punya tanggung jawab di baliknya,” ujar Karin.

“Lo ngerencanain semua ini sejak awal, kan? You teased my boyfriend first, you made him fell in love with you. You did it well, Karin,” balas Kina.

Karin lantas hanya membiarkan Kina mengatakan semuanya. Karin akan mengumpulkannya terlebih dulu dan menyusun kalimat yang dengan sendirinya akan membuat Kina bungkam.

You are like your mom did in past, Karin. Lo nggak lebih dari seseorang yang merebut lelaki orang lain. Lo pikir, kenapa almarhum om Roland nikahin nyokap lo? That’s because only one reason, you are like her. Everything is just clear right now,” ucap Kina panjang lebar tanpa beban sama sekali. Kina masih mengulaskan senyum simpul di wajahnya, merasa bahwa dirinya tengah berada di atas awan.

“Tante Vanessa dan kak Syerin terlalu baik sama lo. Lo nggak pernah tau kan, kalau sebenarnya lo cuma jadi beban untuk mereka?” Kina tertawa pelan.

“Kamu udah selesai?” tanya Karin kemudian.

Kina seketika terdiam mendapati tatapan datar Karin padanya, hal itu juga membuat Kina sedikit menjauhkan posisinya dari Karin.

“Aku udah selesai,” ujar Kina berusaha menutupi rasa terintimidasinya.

Karin lantas berdeham, lalu detik berikutnya ia berujar, “Oke, sekarang giliran aku. Aku tegasin sebelumnya sama kamu, aku nggak pernah jadi perebut lelaki orang. Terus, kamu juga nggak bisa ngomong sembarangan tentang keluargaku, mamaku, papaku, dan keluarga mama sambungku. Apa yang kamu katakan, udah cukup ngejelasin kamu orang yang seperti apa.”

Karin menjeda ucapannya sesaat. Tiba-tiba dadanya terasa begitu sesak. Karin tidak terima jelas-jelas Kina berbicara mengenai keluarganya. Tidak seorang pun dapat berbicara sembarangan mengenai dirinya, apalagi keluarganya.

Karin menatap Kina tepat di iris matanya, lalu ia kembali berujar, “Kamu ingat waktu kamu menolak lamaran kak Aryan?” Karin memberi waktu bagi Kina untuk berpikir. Di rasa Kina tidak akan menjawab, Karin pun memutuskan untuk melanjutkan ucapannya.

“Aku yakin kamu nggak akan lupa. Malam itu juga, kamu udah rencanain semuanya, kan?” ujar Karin.

Setelah kalimatnya itu, Karin segera mengambil dompetnya dari dalam totebag miliknya, lalu ia bergerak dari posisi duduknya. Karin menatap Kina sesaat sembari berucap, “You know what? At the day you hurt him, you’re already lost him, Kina.”

Tanpa Kina sadari, dirinya telah kehilangan Aryan malam itu, tepat di mana dirinya menyakiti Aryan dengan menolak lamarannya. Padahal Aryan tulus mencintai Kina pada saat itu. Namun Kina lebih memilih mengutamakan dirinya. Kina mementingkan ego dan rasa cemburu sosialnya kepada Karin, hingga membuatnya lupa apa yang lebih berharga yang sebelumnya telah perempuan itu miliki.

Kina tidak dapat menghargai ketulusan Aryan padanya. Kebersamaannya dengan Aryan semata hanya karena Kina menganggapnya sebagai sebuah keuntungan, bukan sebuah cinta yang benar-benar tulus dari dalam hatinya.

Berbagai pertanyaan lantas berkecamuk di dalam benak Kina. Apakah benar selama ini ia tidak sungguhan mencintai Aryan? Apakah ia hanya terobsesi pada Aryan dan bersama lelaki itu hanya untuk merasa beruntung? Kenapa Kina harus mengalami semua hal yang justru menghancurkan dirinya sendiri? Mungkin kejadian ini akan menjadi pelajaran sekaligus penyesalan terbesar di dalam hidupnya.

Karin pun berlalu dari hadapan Kina. Kina masih duduk di kursinya, memikirkan semua ucapan Karin. Logika dan egonya berusaha menampik semua itu, tapi hati kecilnya, tempat di mana kejujuran seseorang berada, justru membenarkannya.

Rasa benci serta ego yang besar yang menguasai Kina, telah mendatangkan kehancuran baginya. Apa yang Kina lakukan adalah hal yang salah, perbuatannya pada Karin bukan hanya merugikan dan menyakiti orang lain, tapi rupanya juga merugikan dirinya sendiri. Bahkan kehancuran itu rasanya berkali lipat lebih besar dari yang Kina berikan pada Karin.

Kina pun mendapat hukumannya, mungkin sejak malam itu, takdir telah digariskan, dan garis tersebut tidak dapat dihapus, apalagi diubah. Kina telah kehilangan seseorang yang tulus mencintainya. Kina pun merasa begitu hancur dan baru menyadari semuanya sekarang.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Hukuman yang Paling Pantas

Aryan sedikit menyesal karena ia bangun agak terlambat pagi ini. Hal itulah yang mengakibatkan dirinya dan Karin hanya memiliki sedikit waktu sebelum mereka harus berangkat ke kampus. Dua jam lagi kelas Aryan dimulai, tapi lelaki itu tampak tidak terlalu memikirkannya. Aryan masih setia mendekap tubuh Karin dengan kedua lengannya, sesekali Aryan juga memberi usapan di punggung Karin.

“Kak, kapan kamu mau mandi? Kelas kamu jam 9 lho, ini udah jam 7,” ucap Karin.

“Sebentar lagi, Sayang,” ujar Aryan, suaranya masih terdengar sedikit serak dan berat, khas sekali orang yang baru bangun tidur.

“Berapa menit?” tanya Karin kemudian.

“Mau cium kamu dulu,” ujar Aryan.

“Aku tanyanya berapa menit, Kak.”

Aryan lantas melayangkan tatapan jenakanya pada Karin. “Cium dulu, habis itu janji, aku langsung mandi.”

Sebuah senyuman seketika terulas di wajah Karin. Kemudian tidak lama setelah itu, Karin memberikan sebuah kecupan lembut di sisi wajah Aryan. Aryan otomatis tersenyum lebar, begitu merasakan bibir lembap Karin menyentuh permukaan kulitnya.

“Mau cium di mana lagi?” tanya Karin. Tatapan keduanya pun bertemu, lalu netra Aryan turun ke arah bibir Karin. Di sana Karin nampak menggigit bibir bawahnya, membuat Aryan gemas melihatnya.

There’s so many spot that we can explore, Sayang,” ucap Aryan dengan suara husky-nya. Bisikan lembut Aryan di dekat telinga Karin tersebut sukses membuat bulu-bulu lengan Karin berdiri.

Pandangan Karin seketika jatuh ke bibir penuh Aryan. Bibir tebal yang tampak begitu sempurna dengan garis indah yang membentuknya sangat apik. Karin jadi ingat perkataannya malam itu. God was happy when he created Aryan. That is very true, Karin benar-benar menyadari itu sekarang.

Can I?” tanya Karin dengan suaranya yang melemah.

Aryan jelas mengerti maksud Karin, ia pun lekas mengangguk sembari mengulaskan senyum kecilnya. Setelah itu, Karin mendekatkan dirinya pada Aryan, kini sepenuhnya tubuhnya menempel di torso keras dan berotot milik lelakinya.

Karin tampak memiringkan kepalanya sedikit, lalu dengan gerakan perlahan dan lembut, ia mulai menempelkan bibirnya di bibir Aryan. Itu berjalan begitu mulus, Karin menggerakkannya dengan gerakan yang halus dan semuanya terasa begitu indah untuk keduanya. Begitu pagutan tersebut bergerak semakin intens, Karin mengalungkan lengannya di seputaran leher Aryan. Semakin dalam mereka saling mencumbu, Karin merasakan sesuatu tidak bertulang itu mulai menyapa miliknya di dalam, mengabsen semua celah di rongga mulutnya.

Tubuh Karin sedikit menjengit kala Aryan semakin menambah tempo ciumannya, itu memberikan sensasi yang begitu nikmat dan memabukkan, sampai-sampai menciptakan sebuah lenguhan yang terdengar begitu seksi yang lolos dari bibir Karin.

Sejenak mereka memutuskan mengurai ciumannya untuk mengambil napas. Kemudian mereka saling melempar tatapan mesra, lalu tanpa diduga oleh Aryan, Karin bergerak ke atas tubuhnya. Posisi Karin kini berada di atas Aryan, kedua lengan perempuan itu ia tempatkan di kedua sisi wajah Aryan. Karin kembali mengecup lembut bibir Aryan. Selagi kegiatan itu berlangsung, tangan Aryan bergerak mengusap lengan Karin dengan gerakan sensual, memberi isyarat supaya Karin tetap melakukan ciumannya seperti itu.

Aryan & Karin's Kissing

Sekitar hampir sepuluh menit berlalu, penyatuan tersebut terpaksa harus disudahi. Sebenarnya keduanya belum cukup puas, tapi masuk terlambat ke kelas juga bukan pilihan yang bagus.

“Kamu mandi duluan, habis itu aku mandi,” ucap Karin yang kini sudah kembali berbaring di samping Aryan.

Aryan pun mengangguk, “Dua menit lagi, Sayang. Aku mau peluk kamu dulu,” ujar Aryan.

“Ada aja alesannya yaa kamu,” cetus Karin.

Berikutnya sesuai perkataan Aryan, lelaki itu menyelipkan kedua lengannya di bawah lengan Karin, mendekap torso Karin untuk saling mengisi dengannya. Karin lalu sedikit mendongakkan wajahnya agar bisa menatap wajah Aryan. Lebih tepatnya, Karin memandanginya, kegiatan tersebut membuatnya nyaman dan bahagia. Detik berikutnya, Karin pun bergerak menaikkan posisi kepalanya agar dapat sejajar dengan Aryan.

“Kak,” ujar Karin.

“Iya?” sahut Aryan.

“Soal kasus itu, aku mau Kina dapat hukuman dari yang paling pantas ngasih hukumannya,” ucap Karin.

“Maksud kamu?” tanya Aryan yang tampak belum paham.

Karin pun menjelaskan perkataannya lebih detail. Karin tidak ingin Aryan membawa kasusnya ke jalur hukum. Karin ingin Kina mendapatkan pelajaran dari apa yang dilakukannya dari sosok yang paling pantas memberikannya, yakni Tuhan. Hukum karma dan sanksi sosial adalah yang paling adil menurutnya. Karin yakin, suatu hari nanti semuanya akan terkuak. Ia ingin membiarkan alam yang bekerja untuk itu dengan sendirinya.

“Karin, tapi gimana kalau dia macem-macem lagi sama kamu? Aku khawatir,” ungkap Aryan menjelaskan apa yang belakangan ini telah membebani pikirannya.

“Kamu tenang, ya. Everything is oke,” Karin mengarahkan tangannya untuk mengusap lengan Aryan sekilas, berusaha mengurangi kekhwatiran lelaki itu. “Kalau Kina berani ngelakuin itu lagi, kamu boleh bawa kasusnya ke jalur hukum. Oke?” sambung Karin.

Karin mengatakan bahwa mereka tidak perlu khawatir. Ibaratnya saat ini mereka memegang kartu AS yang kapan saja bisa digunakan, jika Kina melakukan hal-hal yang diluar nalar lagi.

Karin lantas menatap Aryan dengan tatapan lembutnya, ia sedang berusaha meyakinkan lelakinya. Karin memberi pengertian yang masuk akal kepada Aryan, hingga akhirnya lelaki itu setuju akan rencana yang sebelumnya Karin usulkan.

“Karin, kamu mau janji satu hal sama aku?” ucap Aryan beberapa detik kemudian.

“Janji apa?”

“Kamu nggak boleh pergi kemana-mana sendirian. Kalau aku lagi nggak bisa temenin kamu, kamu bisa minta tolong sama Nayna, Leon, pak Hamdi, om Rama, atau teman-teman kamu. Aulia sama Nadhifa, atau Beryl juga boleh.”

Usai perkataannya tersebut, Aryan malah mendapati Karin menatapnya sambil mengulaskan senyum simpulnya.

“Karin, are you willing to promise to me?” tanya Aryan.

Karin mengangguk sekali. “Iya, aku janji, Kak. Aku nggak akan pergi kemana pun sendirian. I will make sure that I’m safe. Are you happy right now?” ujar Karin sembari memperhatikan raut wajah Aryan.

Aryan segera menganggukan kepalanya. “Oke, aku udah tenang kalau gitu. Hp kamu juga harus selalu aktif ya. Kalau ada apa-apa, kamu langsung telfon aku,” ucap Aryan yang lekas mendapat anggukan dari Karin.

“Kak,” ujar Karin, kedua netranya memandang Aryan tepat diiris hitam legamnya.

“Iya?”

“Kamu kalau kayak gini mirip sama papa deh.”

“Maksudnya?” tanya Aryan.

“Protektifnya mirip papa. Mama pernah cerita ke aku. Dulu katanya papa lumayan protektif sama mama, sampai minta bodyguard khusus buat jagain mama.”

Mendengar itu Aryan pun tertawa sekilas. “Oh iya, jelas. Bagus dong. Bodyguard papa udah terlatih banget dan profesional. Kalau kamu mau, aku bisa minta salah satu bodyguard papa buat jagain kamu. Gimana?”

“Masa kemana-mana nanti aku diikutin sama bodyguard,” Karin tertawa, hingga menampakkan deretan gigi depannya yang tampak rapi. “Aku kan udah ada kamu, udah cukup. Aku nggak perlu bodyguard,” ujar Karin lagi.

“Oke-oke. Yaudah aku mandi dulu ya. Kelas pertama kamu jam berapa?”

“Jam 11 sih. Tapi aku berangkat bareng kamu aja,” ujar Karin.

“Berangkatnya aja yang bareng?” tanya Aryan sembari menatap Karin dengan tatapan menggoda. Kedua alis Aryan bergerak naik turun, membuat Karin tidak dapat berpikiran ke arah yang positif. Pasti ada sesuatu, sepertinya Karin sudah mulai hapal setiap tatapan dan gestur tubuh seorang Aryan Sakha.

“Iya, berangkat ke kampusnya bareng. Emangnya apa lagi?” ucap Karin masih berusaha santai. Karin pun segera mengusir berbagai macam pikiran yang tidak-tidak yang seringkali datang ke pikirannya ketika ia sedang bersama Aryan.

“Nggak mau mandi bareng? Kamu tadi ciumnya lama banget lho, aku hampir telat nih. Kita bisa lebih hemat waktu kalau mandinya bareng. Gimana?” tawar Aryan.

Karin tidak dapat mengontrol rona merah yang muncul di dua belah pipinya berkat kelakuan Aryan itu. Namun Karin bersyukur, bahwa pikirannya masih bisa bersikap sedikit normal. Maka ia membalas perkataan Aryan, “Kamu yakin bisa hemat waktu? Kayaknya malah jadi lebih lama deh Kak, kalau kita mandi bareng. Nanti kamu telat masuk kelas lho.”

Setelah Aryan memikirkan ucapan Karin, itu ada benarnya juga. Dirasa tidak mungkin hanya sekedar mandi jika mereka pergi berdua, akhirnya Aryan memutuskan untuk mandi lebih dulu. Baiklah, besok tolong ingatkan Aryan untuk menyetel alarm di pagi hari. Aryan ingin bangun lebih cepat dari biasanya, ia akan berusaha untuk melakukan itu, meskipun ada sedikit keraguan di dalam hatinya kalau ia akan berhasil.

Aryan tetaplah Aryan yang menjadikan tidur sebagai salah satu hobinya, tapi kini terasa sedikit berbeda. Sekarang ada yang lebih menarik dan berharga dari tidurnya, yakni eksistensi dan peringai seorang Karina Titania di dalam hidupnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Management Olympics atau yang lebih di kenal dengan M-Olympics adalah acara yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Manajemen FEB Universitas Pelita Bhakti. Acara tersebut diadakan guna memperingati ulang tahun HIMA Manajemen. M-Olympics tahun ini diselenggarakan dengan lima rangkaian acara yang terdiri dari kegiatan ilmiah, sosial, dan seremonial.

Di minggu ketiga, di mana hampir sampai pada penghujung acara, sampailah pada rangkaian acara Bazar dan Art Festival. Para mahasiswa dan mahasiswi wajib untuk berpartisipasi dalam acara tersebut. Setiap angkatan di jurusan manajemen membagi tugas untuk kepanitian agar seluruh acara dapat terlaksana dengan baik dan sesuai tujuan program kerja yang telah disusun.

Karin dan beberapa sahabatnya berpartisipasti menjadi panitia dalam acara Bazar. Acara tersebut berada di bagian sayap kiri aula luas milik FEB. Hari ini terlihat aula telah disulap menjadi tempat yang sangat keren. Mengusung tema peduli lingkungan, tempat itu di dekor dengan nuansa alam. Suasananya di sana pun terasa seperti berada di dalam hutan peri yang dipenuhi dengan pepohonan dan karpet yang mirip dengan rerumputan.

“Rin, ayang lo jadi dateng nanti?” celetuk Aulia yang tepat berada di samping kanan Karin. Mereka sedang berkeliling untuk memastikan para pedagang telah siap dengan tenant makanan mereka. Sebentar lagi acara akan mulai, para panitia pun berpencar menjalankan tugas masing-masing sesuai job description yang telah di berikan.

Karin lantas menoleh ke arah ke Aulia. “Jadi. Tadi udah ngabarin katanya mau dateng habis kelas,” ujar Karin menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

Aulia pun mengangguk-angguk. “Sayang ya, nggak bisa satu kepanitiaan sama ayang. Emang doi ngambil acara apa Rin kemarin?”

“Marketing competition doang, di minggu pertama kemarin. Soalnya jadwal magang sama kuliahnya lumayan padet,” jelas Karin.

“Ohiya, mahasiswa menuju semester akhir gitu ya. Cerah banget sih Rin muka lo karena mau disamperin doi. Duh enaknya yang punya ayang,” goda Aulia.

Karin yang digoda seperti itu lantas hanya mengulaskan senyumnya. Seperti itulah yang terjadi beberapa minggu belakangan ini. Semuanya antara Karin dan Aryan berjalan dengan baik. Mereka menjalani hubungan yang sesungguhnya sebagai pasangan, hingga seringkali membuat teman-temannya mengira bahwa nikah muda adalah hal yang sangat menyenangkan. Reaksi yang diberikan teman-teman Karin maupun teman-teman Aryan rupanya juga sangat positif dan begitu me-support keduanya.

Kini masa lalu yang Karin dan Aryan miliki sama-sama telah sampai di halaman terakhir sebuah buku. Sejak saat itu lah, lembar baru Aryan dan Karin pun sudah dimulai.

***

Aryan telah sampai di aula dan langsung menemukan Karin yang tengah berada di salah satu tenant makanan. Karin sedang bersama beberapa sahabatnya dan tengah menikmati sebuah jajanan khas Korea.

Tempat tersebut seketika heboh ketika Aryan hadir di sana. Aryan menyapa teman-teman Karin dan ternyata hampir semua teman Karin sudah mengenalnya. Rupanya lelaki itu cukup tenar juga di kalangan adik-adik tingkatnya.

“Cie, disamperin sama Ayang,” celetuk Beryl, salah satu teman laki-laki Karin.

Review dong Rin, gimana rasanya nikah muda,” timpal salah satu teman perempuannya, Delia.

Obrolan singkat antara Aryan dan teman-teman Karin pun akhirnya mengalir begitu saja. Mereka membahas beberapa hal yang ringan atau sesekali menggoda Karin yang kerap menceritakan soal Aryan pada teman-temannya. Kartu AS Karin ada di tangan teman-temannya, sehingga terjadilah sesi pembocoran rahasia di sana.

Aryan dapat dengan mudah membaur dan akrab dengan teman-temannya. Karin senang melihatnya. Rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan dari mempunyai sahabat yang ikut mendukung apa yang kita jalani. Pernikahan Aryan dan Karin, adalah salah satu aspek dari hidup Karin yang begitu didukung oleh sahabatnya.

“Kak Aryan, tadi Karin kepengen boba gula aren di tenant yang warna ungu di sana. Tapi karena stand-nya lumayan jauh sama ngantrinya penuh banget, jadi belum sempet beli deh tadi,” adu Sarah kepada Aryan. Seketika Aryan menoleh pada Sarah dan menanyakan hal tersebut pada Karin untuk memastikan.

“Aku beliin ya? Kamu tunggu di sini sebentar,” ujar Aryan kemudian.

Karin belum sempat menjawab Aryan sampai akhirnya Nadhifa lebih dulu menyeletuk, “Tenang Kak, Karin aman di sini sama kita-kita. Kakak beli aja bobanya.” Nadhifa lantas terkikik dan langsung diikuti oleh teman-temannya yang lain.

Akhirnya Aryan pun pergi dari sana untuk membeli minuman yang diinginkan oleh Karin. Saat Aryan mulai menjauh dan punggung lebarnya tidak lagi terlihat, Karin melayangkan tatapannya pada teman-temannya yang segera dibalas oleh senyuman penuh arti dan mereka kembali menggoda Karin untuk yang kesekian kalinya.

“Hmm … apa pun rela di lakukan demi ayang. Mantep lah, sweet banget Rin laki lo,” cetus Delia.

“Hari ini TMI banget ya guys,” ujar Karin.

“Nggak papa, dong. Lo harus lebih tancep gas, Rin,” celetuk Aulia.

Kemudian Nadhifa menimpali ucapan Aulia sambil menoleh ke arah Karin. “Gue sih kalau jadi lo nih ya, punya suami kayak kak Aryan, udah gue kurung terus di rumah. Nggak akan gue biarin ada cewek yang ngelirik doi.”

***

Karin menunggu Aryan kembali cukup lama. Karin jadi tidak tega, pasti antreannya sungguhan panjang. Sebentar lagi akan ada live music yang diisi oleh bintang tamu yang merupakan salah satu penyanyi terkenal. Teman-teman Karin ingin menonton acara tersebut, tapi jadi tertunda karena harus menemani Karin duduk di salah satu bangku di dekat tenant.

Guys, kalian kalau mau ke panggung, duluan aja. Gue nunggu kak Aryan dulu di sini, nanti gue nyusul,” ucap Karin kepada teman-temannya.

“Kita nggak mungkin ninggalin lo di sini sendiri, Rin. Bumil harus dijagain. Santai lah, nonton dari agak jauh juga nggak papa,” ujar Delia kemudian.

Tidak lama berselang, Aryan pun akhirnya kembali. Namun pria itu tidak datang sendiri. Di sampingnya ada sosok perempuan yang begitu Karin dan teman-temannya kenali. Perempuan tersebut adalah Shakina, mantan pacar dari Aryan.

Teman-teman Karin terdiam dan saling melempar pandangan. Mereka nampak tidak suka dengan kehadiran Kina di sana. Sudah jelas-jelas yang mereka tahu antara Aryan dan Kina sudah berakhir. Bukan hanya mereka yang tahu, hampir di jurusan Manajemen baik di angkatan atas maupun bawah, sudah mengetahui kabar tersebut berkat informasi yang tersebar begitu cepat.

Karin mengarahkan tatapannya pada Aryan dan Kina, yang dibalas Kina dengan sebuah senyum tipis di wajahnya. Tidak sampai lima detik kemudian, begitu Kina hendak meraih tangan Aryan untuk digenggam, Aryan pun menghempaskannya dengan tegas.

Aryan beralih menuju ke sisi Karin. Rupanya saat membeli minuman boba untuk Karin tadi, Aryan bertemu dengan Kina dan perempuan itu tidak mau menjauh darinya. Shakina masih nekat mendatangi Aryan, padahal Aryan sudah memutuskan hubungannya secara tegas pada Kina.

Aryan nampak menghembuskan napasnya yang terdengar sedikit kasar. Kina tidak ingin pergi juga dari sana. Aryan pun mengatakan bahwa ia akan menegaskan sesuatu kepada Kina, di hadapan banyak orang, toh Kina sendiri bersedia untuk itu. Rupanya Kina cukup bermuka tebal.

“Kina, aku udah akhirin hubungan sama kamu. Di antara kita semuanya udah selesai,” ucap Aryan.

Kina masih dengan tampang lempengnya, maju selangkah lebih dekat pada Aryan dan Karin. Aryan dengan sigap melindungi Karin, menghela Karin untuk berada di balik punggungnya.

“Kamu yakin? Kamu udah nggak peduli soal kesepakatan yang kita buat waktu itu?” ujar Kina dengan berani.

Tidak sepantasnya ini dibicarakan di depan banyak orang. Di antara Aryan, Karin, dan Kina adalah persoalan yang cukup pribadi. Aryan pun melayangkan tatapan memperingatinya ke arah Kina.

“Kina, kamu bebas mau ngelakuin apa pun yang kamu mau,” Aryan menjeda ucapannya sesaat. Detik berikutnya Aryan meraih satu tangan Karin untuk digenggam erat dengan tangan besarnya. “Tapi kamu lebih baik tau, aku nggak akan tinggal diam kalau kamu sampai ngelakuin sesuatu ke Karin. Kamu tau kan, aku nggak pernah main-main sama apa yang aku bilang,” ucap Aryan tegas.

Usai kejadian itu, Aryan meminta izin pada teman-teman Karin untuk memberi ruang pada Karin, Aryan, dan Kina untuk berbicara. Teman-teman Karin mengatakan bahwa mereka mempersilakan itu, mereka memaklumi situasi yang tengah terjadi.

Aryan, Karin, dan Kina akhirnya menjauh dari keramaian. Di sini lah, di dekat parkiran mobil, ketiganya pun berhadapan dan harus menyelesaikan apa yang terjadi.

“Aku cuma mau ngomong berdua sama kamu, Aryan,” ucap Kina.

“Di antara kita udah selesai,” ujar Aryan. Aryan berdeham sekali sebelum kembali berucap, “Kalau kamu merasa masih punya urusan sama aku, artinya kamu juga punya urusan sama Karin.”

Mendengar kalimat Aryan tersebut, Kina seketika terdiam.

“Kina, aku dan Karin udah tau semua yang kamu lakuin. Kita akan bawa kasus itu ke jalur hukum,” ujar Aryan lagi.

Sebelum semua ini, Aryan sudah mengatakan pada Kina bahwa hubungan mereka benar-benar berakhir. Aryan tidak peduli akan kesepatakan dan ancaman yang Kina berikan untuk menyakiti Karin. Selama Aryan berada di samping Karin, Aryan akan memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh perempuannya.

“Aryan, aku nggak ngerti apa yang kamu bilang. Maksud kamu kasus apa?” tanya Kina.

Aryan lantas mengulaskan senyum smirk-nya, lalu lelaki itu berujar, “Don’t even act like you don’t know anything. Kamu mungkin merasa pintar udah ngerencanain semuanya. Tapi satu hal, karena kamu udah berani melakukannya, kamu harus berani juga untuk nanggung resikonya.”

Kedua pupil mata Kina nampak membesar begitu otaknya dapat mencerna maksud dari perkataan Aryan. Dari ekspresi Kina saat ini, perempuan itu tidak lagi dapat mengelak dari semua perbuatannya. Wajahnya mengatakan kalau Kina paham betul apa yang Aryan katakan.

“Aryan, kenapa kamu lebih milih dia dibanding aku? Kita udah pacaran dua tahun, sedangkan kamu baru ketemu sama dia beberapa bulan,” ujar Kina bertubi-tubi.

“Kamu beneran mau tau alasannya?” tanya Aryan.

“Iya, aku mau tau,” balas Kina cepat.

Aryan lantas mengalihkan tatapannya dari Kina ke arah Karin yang berada di sampingnya. Setelah dua detik menatap Karin dengan tatapan teduhnya, Aryan kemudian mengambil tangan Karin dan menggenggamnya.

Pandangan Kina pun tertuju kepada dua buah cincin serupa yang melekat di jari manis Aryan dan di jari manis Karin. Rahang Kina nampak mengeras dan air mukanya berubah menjadi agak merah.

“Mungkin ini kesalahan aku di masa lalu. Aku terlalu memperlakukan kamu dengan istimewa, Kina,” ucap Aryan.

Selama ini Aryan memperlakukan Kina layaknya seorang ratu, mungkin hal itu adalah faktor yang membuat Kina menjadi sosok yang egois, self oriented, dan selalu ingin menang sendiri. Kina mencintai Aryan, itu memang benar, tapi Kina lupa cara untuk menghargainya.

“Apa semuanya karena dia hamil anak kamu? Kamu jadi kasian sama dia,” ucap Kina. Kina menjeda ucapannya sesaat, ia menatap Karin dengan tatapan nyalangnya. “Karin, lo sengaja ngerencanain semua ini, kan? Lo mau ngerebut apa yang sebelumnya jadi milik gue. Gue nggak nyangka lo sejahat ini.”

Usai mendengar ucapan Kina itu, Karin merasakan genggaman tangan Aryan di tangannya mengerat. Karin memperhatikan air muka Aryan yang kini berbeda, lelaki itu nampak sedang menahan amarahnya. Karin pun menatap Aryan, ia mengusap lengan Aryan sekilas, berusaha menenangkannya.

“Aku nggak pernah merebut apa pun milik orang lain, Kina,” Karin membuka suaranya. Karin pun menatap Kina tepat di iris matanya, tatapan Karin tetap santai, tapi terasa tegas. “Kak Aryan punya masa lalu sama kamu. Tapi sekarang, dia punya masa depan sama aku. Aku akan mastiin dia bahagia sama aku. Aku pikir cukup pinter untuk ngerti semuanya,” pungkas Karin.

Kina seketika terdiam, ia memikirkan semua ucapan Karin padanya. Beberapa detik kemudian, Kina pun kembali berujar sambil tidak melepas tatapannya dari Aryan. “Kenapa harus dia, Aryan? Kenapa? Aku bisa ngasih semua yang kamu mau, aku selalu ada buat kamu, aku cinta sama kamu. Kamu cuma terpengaruh sama dia, Aryan. Kamu nggak sadar itu?” Kina masih kekeuh dengan pikiran keras kepala dan sikap egoisnya.

Aryan lantas menatap Kina lurus, tatapan tersebut terasa begitu tegas dan menghunus. Aryan tampak menghela napasnya panjang, lalu ia berujar, “Kina, ini terakhir aku bilang ini sama kamu. Kamu sama Karin beda. Karin menghormati aku, dia tau apa yang bener-bener aku butuhin dari sebuah hubungan, dari sebuah komitmen. Karin peduli sama aku tanpa ngeliat apa yang pernah aku lakuin sama dia. Aku pernah nyakitin Karin, tapi itu nggak sama sekali ngilangin rasa peduli dan hormatnya sama aku. Everything between you and me, is clear right now. Aku harap kamu bisa menghormati hubungan aku dan Karin.”

Aryan mengalihkan tatapannya dari Kina ke arah Karin. Aryan mengulaskan senyum hangatnya untuk Karin. Berikutnya ia mengayunkan tangan Karin yang berada di genggaman tangannya, mengajak Karin untuk pergi dari sana. Karin pun mengangguk, ia segera mengikuti langkah Aryan untuk berjalan di sisinya.

Aryan telah berjanji pada Karin, selama lelaki itu berada di sampingnya, ia akan memastikan bahwa Karin selalu aman. Sama dengan janji Aryan padanya, Karin pun akan melakukan hal yang sama. Karin akan berada di sisi Aryan, membalas genggaman tangannya, serta memastikan lelakinya bahagia dan mendapat kasih sayang yang cukup darinya.

Karin dan Aryan memang memiliki pengikat yang di awal telah mempersatukan mereka dalam sebuah pernikahan. Mereka dipertemukan dengan kejadian yang tidak terduga, sesuatu yang sama sekali tidak mereka harapkan. Namun rasa cinta yang tumbuh perlahan di antara mereka adalah rasa yang murni.

Karin dan Aryan telah sama-sama hancur di awal, tapi berkat usaha dan tekad kuat keduanya, mereka berhasil mewujudkan kebahagiaan itu. Bukan hanya untuk Aryan dan Karin sendiri, melainkan juga untuk bayi mungil yang hidup di rahim Karin. Nyawa kecil itu merupakan alasan kedua setelah cinta yang membuat Karin dan Aryan memutuskan untuk bersatu.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan mengerti mengapa Karin tidak membiarkannya untuk turun dari mobil. Selama Karin bertemu dan berbincang dengan Rey di kafe, Aryan menunggunyadi mobil. Karin mengatakan bahwa ia memikirkan perasaan Rey. Rey adalah masa lalu bagi Karin yang hanya akan menjadi kenangan. Aryan pun menghargai masa lalu milik Karin tersebut. Aryan berpikir bahwa buku yang dimiliki Karin dan Rey telah menemui akhir kisahnya. Kini Karin akan memulai lembar di buku yang baru bersama Aryan.

“Kak,” ujar Karin yang seketika memecah pikiran Aryan.

Tanpa menoleh ke samping karena harus fokus menyetir, Aryan lantas menanggapi panggilan Karin, “Iya?”

Karin memperhatikan Aryan yang tengah menyetir menggunakan satu tangannya. Kemudian Karin mendekatkan dirinya, ia bergerak memeluk satu lengan Aryan yang bebas. Aksi Karin tersebut membuat Aryan menjadi kurang fokus terhadap jalanan di depannya. Aryan, lo harus fokus nyetir, ucap Aryan di dalam hatinya.

“Nggak papa aku gini?” Karin bertanya dengan nadanya yang terdengar sedikit sungkan.

“Nggak papa,” jawab Aryan cepat. Dalam hatinya, Aryan merasa begitu senang mendapati perilaku Karin terhadapnya.

Karin dan Aryan kini telah sepakat untuk memulai lembar kehidupan mereka yang baru. Setelah masing-masing mengakhiri hubungan dengan pasangan mereka, Aryan dan Karin memutuskan untuk belajar saling mencintai. Mereka akan membuka hati dan menjalani kehidupan berumah tangga bersama. Karin akan belajar untuk mencintai Aryan, setelah lebih dulu Aryan mengungkapkan perasaan lelaki itu terhadapnya.

Aryan dan Karin melakukannya untuk masa depan keduanya dan juga anak mereka kelak. Bayi di dalam kandungan Karin akan membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya. Jika Aryan dan Karin sebagai orang tua saja tidak tahu rasanya saling mencintai, bagaimana bisa bersamaan memberikan cinta tersebut untuk sang bayi? Itu terdengar agak mustahil untuk terjadi. Aryan dan Karin telah memutuskan untuk memberikan kasih sayang terbaik untuk satu sama lain dan juga untuk anak mereka nantinya.

Aryan menoleh sekilas ke arah Karin dan melihat Karin nampak memejamkan matanya. Kepala Karin mendusel di lengan Aryan, nampak nyaman, mirip seperti bayi koala.

“Karin, kamu ngantuk?” tanya Aryan dengan suara pelan.

Mendengar pertanyaan Aryan, Karin segera mendongakkan kepalanya. Mata mereka bertemu dan Karin mengurai pelukannya di lengan Aryan. Saat ini mobil mereka sedang berhenti karena lampu merah di depan, jadi Aryan bisa memberikan fokus penuhnya kepada Karin.

“Mau peluk aja. Aku nggak ngantuk sih sebenarnya,” jawab Karin diiringi senyum kecilnya.

Alright, peluk aja,” balas Aryan sembari mengusap sekilas pipi Karin. Jeda dua detik berikutnya, Aryan pun nampak mengulaskan senyumnya. Senyum tersebut tampak begitu alami, hingga Karin sedikit terkejut dibuatnya. Melihat senyum itu, hati Karin rasanya berantakan, persis seperi lemari pakaiannya ketika ia belum sempat merapikannya.

Karin akhirnya memutuskan untuk kembali memeluk lengan Aryan ketika lelaki itu mulai memanuver mobilnya, rupanya lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau.

Apa yang Karin lakukan tersebut berdasarkan apa kata hatinya. Tiba-tiba Karin ingin merasakan bagaimana hangatnya berada di pelukan Aryan. Lebih dari yang Karin bayangkan, ternyata rasanya begitu nyaman sekaligus membahagiakan.

Di tempat duduknya, Aryan sedang berusaha mengatakan pada dirinya sendiri untuk tetap fokus menyetir. Rupanya aksi kecil Karin tersebut mampu menciptakan dampak yang cukup besar bagi Aryan. Halus kulit Karin yang bersentuhan dengan kulit lengannya, tutur lembut ketika perempuan itu berucap, sukses membuat jantung Aryan membuncah bahagia di dalam sana.

***

Karin baru saja kembali ke kamar setelah mengganti pakaiannya. Sedikit belum terbiasa, jadi Karin masih melakukannya di dalam kamar mandi. Kamar yang beberapa bulan lalu hanya ditempati olehnya seorang diri, kini keadaannya nampak berbeda. Karin tidak sendirian lagi, ia tahu, ketika akan tidur akan ada seorang yang memandang wajahnya. Ketika ia membuka mata, akan ada sosok yang menatapnya sembari mengulaskan senyum surgawinya yang nampak begitu teduh dan indah.

Ketika Karin sudah menjamah kasur lebih dulu, tidak lama setelah itu Aryan pun bergerak menyusulnya.

“Kak, kamu pakai parfum yang mana?” tanya Karin sembari menautkan alisnya.

“Parfum aku yang biasa. Kenapa? Kamu kurang suka ya sama aromanya?” tanya Aryan.

Karin seketika menggeleng. “Suka kok,” ujar Karin.

“Parfumnya masih nempel banget, padahal kamu udah ganti baju,” tambah Karin lagi.

“Bagus dong, kalau gitu. Selama kamu suka sama aromanya,” celetuk Aryan dengan lugas.

Ucapan spontan Aryan itu seketika membuat keduanya terdiam. Dengan cepat dan tanpa bisa dicegah, kedua belah pipi Karin terasa memanas dan muncul rona kemerahan di sana.

Aryan pun juga baru sadar akan ucapannya barusan. Keduanya seketika teringat momen kemarin malam, di mana saat mereka tidur bersama dan entah siapa yang memulainya lebih dulu. Ketika pagi hari tiba, Aryan dan Karin sama-sama bersemu mendapati keadaan mereka yang tengah berpelukan. Entah gaya tidur macam apa yang telah mereka coba, sampai-sampai seharian Karin dapat merasakan wangi parfum Aryan menempel hampir di seluruh bagian tubuhnya.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Aryan dan Karin akhirnya telah sama-sama berbaring di kasur dengan posisi saling membelakangi. Sepertinya mereka memiliki pikiran yang sama. Entahlah, tapi kalau ingat malam itu, memang masih membuat keduanya malu.

Beberapa saat berlalu, Karin pun membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Aryan. Rupanya Karin belum tidur. Begitu pun dengan Aryan. Biasanya Aryan lebih cepat terlelap dibandingkan Karin, tapi kini Aryan justru hanya menatapnya lekat dengan matanya yang masih nampak segar.

“Karin, can I hug you?” tanya Aryan.

Pupil mata Karin nampak melebar kala mendengar pertanyaan tersebut. Waktu itu mereka melakukannya tanpa kesadaran dari masing-masing pihak. Namun kini dalam keadaan seratus persen sadar, Aryan meminta pada Karin untuk melakukannya.

Tidak sampai lima detik berselang, akhirnya Karin mendekatkan dirinya terlebih dulu. Dengan perlahan tapi pasti, Karin akhirnya bergerak melesak ke dalam pelukan Aryan. Lengan Karin melingkari torso Aryan, kemudian Karin menyandarkan kepalanya di dada bidang Aryan.

Ruang yang sebelumnya hadir di antara mereka, kini telah menghilang begitu saja. Mereka saling mengisi satu sama lain, saling mendekap untuk menyalurkan kasih dan kehangatan. Ketika Karin sedikit mendongakkan kepalanya untuk kemudian meletakkan dagunya di bahu Aryan yang lebih tinggi, Aryan membalasnya dengan mengeratkan pelukannya di tubuh Karin.

Karin dapat merasakan Aryan memberikan usapan lembut yang terasa sangat menenangkan di punggungnya. Satu tangan Aryan yang lain berada di pinggang Karin, memeluknya mesra di sana.

Tanpa frasa apa pun, sebuah gestur cukup untuk menunjukkan sebuah perasaan. Orang yang mendekap Karin saat ini, adalah orang yang Karin yakini di dalam hatinya. Kurang lebih selama empat bulan, rasanya itu merupakan waktu yang singkat, tapi Karin yakin hatinya tidak pernah salah memilih. Aryan bukanlah lelaki yang sempurna, tapi ketulusannya telah membuat Karin mencintai sosoknya. Aryan menunjukkan sosok yang apa adanya di hadapan Karin.

Karin melihat perjuangan Aryan dan pria itu mau belajar dari kesalahan di masa lalu. Perjuangan yang Aryan lakukan tidak sia-sia, itu membuahkan hasil. Perlakuan sederhana Aryan pada Karin, caranya memberi perhatian, telah menyentuh sisi terdasar ruang di hati Karin.

Saat Karin merasakan pelukan Aryan sedikit mengendur, Karin pun sedikit menjauhkan wajahnya agar dapat menatap wajah Aryan. Rupanya Aryan telah tertidur, helaan napas pria itu terdengar beraturan dan begitu damai.

I never expected that I will fall in love with you like this. Kak, I love you, truly, madly, and deeply,” ucap Karin dengan suara pelan. Karin ingat, ia pernah meminta takdir agar tidak berpihak untuknya dan Aryan. Karin ingin ia tidak jatuh cinta kepada Aryan. Namun Karin lupa meminta untuk tidak membuat Aryan memiliki perasaan terhadapnya.

Karin menyadarinya, sekeras apa pun dirinya berusaha, hatinya tetap akan memilih orang yang tepat. Seseorang yang telah ditakdirkan untuknya akan datang padanya, sekuat apa pun tembok yang sebelumnya memisahkan mereka.

Setelah puas dengan pikiran monolognya, Karin memutuskan untuk memejamkan matanya. Namun belum sempat itu terjadi, pergerakan Aryan kembali membuat Karin terjaga.

Rasanya perasaan ini masih lucu, tapi itu lah adanya. Karin akan menghabiskan hidupnya dengan mendapati paras ini setiap matanya terbuka, di setiap ruang di hidupnya, Karin telah merelakan tempat tersebut diisi oleh Aryan.

“Karina, I love you,” ucap Aryan dengan matanya yang nampak sayu.

Suddenly?”

I just want you to know,” jelas Aryan.

I knew it,” ujar Karin pelan.

Oke, that’s good.”

Karin tertawa kecil berkat tingkah random yang beberapa kali Aryan tunjukkan di depannya. Setelah tawanya mereda, Karin pun mendapati Aryan menatapnya dalam-dalam. “Karin, can we try something?”

Something what?” tanya Karin.

A kiss,” jawab Aryan kemudian.

Aryan memperhatikan reaksi Karin usai ucapannya tersebut. Kedua pipi Karin nampak berubah warna menjadi merah muda, terlihat sangat kontras dengan kulit cerahnya.

Kemudian tatapan intens Aryan pada Karin, perlahan-lahan mampu mendobrak pintu pertahanan Karin. Karin awalnya mengatakan malu untuk melakukannya, tapi ia ingin mencoba. Karin ingin menunjukkan perasaannya kepada Aryan. Setelah keraguan yang menguap itu, Karin pun akhirnya setuju untuk melakukannya.

Keduanya lantas sama-sama melemparkan sebuah senyuman. Rasanya membahagiakan dan seperti ada yang menggelitik di dalam perut. Aryan menatap Karin dengan lekat, Karin pun membalas tatapan itu. Berikutnya Aryan pun memangkas jarak di antara mereka. Pandangan Aryan perlahan turun menuju ke arah bibir Karin, itu sukses membuat jantung Karin berdegup dengan kencang.

Begitu Aryan memajukan wajahnya mendekat, Karin dapat merasakan helaan napas hangat Aryan yang menyapa permukaan kulitnya.

Aryan mengarahkan tangannya untuk menangkup satu sisi wajah Karin, perlakuan Aryan itu dapat menghidupkan gelora asmara yang selama ini ada di dalam diri Karin. Seperti ketika berada di dalam pesawat yang akan lepas landas, dentuman jantung Karin begitu terasa keras dan perutnya terasa geli.

Berkat suasana yang hening tersebut, Aryan tersenyum kecil karena mendengar degup jantung Karin yang tidak seperti biasanya. Lantas Aryan kembali mendapati Karin bersemu malu.

You are so cute,” ucap Aryan pelan.

It’s gonna be our first time, Kak. I'm a little bit nervous,” cicit Karin.

“Nggak papa, Karin. Kamu percaya sama aku?”

Karin menatap Aryan sejenak, tidak lama kemudian, Karin pun menganggukkan kepala. “Aku percaya sama kamu,” ucap Karin seraya menyunggingkan senyum manisnya.

Karin merelakan sepenuhnya dirinya, ia telah memberikan kepercayaannya kepada Aryan. Tidak sampai lima detik kemudian, dengan perlahan dan pasti, Aryan pun sukses memangkas habis jaraknya dengan Karin. Gerakan Aryan begitu lembut saat lelaki itu mempertemukan bibirnya dengan bibir ranum Karin.

Sesuatu yang lembap dan kenyal itu mengulum bibir Karin, sensasinya membuat Karin serasa ingin terbang ke langit. Pertemuan tersebut terasa begitu indah, dan selama beberapa detik, Karin akhirnya mulai bisa merasa rileks dan menikmatinya. Awalnya memang terasa canggung dan sedikit malu, tapi keinginan kuat lebih mendominasi Karin. Rasa cintanya pada Aryan, mendorong Karin untuk melakukannya. Karin pun bahagia bisa melakukannya bersama Aryan.

Setelah hampir lima menit berlalu, bibir Aryan saat ini masih setia mengulum bibir Karin. Aryan melakukannya dengan lihai, tapi tetap terasa lembut, hingga membuat Karin terbuai. Di sela-sela kegiatan itu, Aryan mengurainya sejenak untuk berujar pada Karin.

“Kalau kekencengan, kamu bilang ya, atau kasih kode,” ucap Aryan yang lekas di angguki oleh Karin.

Mereka kembali mencobanya. Masih sama lembutnya, Aryan mulai mencium kembali bibir Karin. Dari kegiatan keduanya tersebut, Karin dapat merasakan afeksi yang ingin Aryan berikan padanya. Karin merasa Aryan menginginkan lebih, tapi lelaki itu masih berada di fase yang sama, masih mengecup dengan lembut dengan tempo yang cukup pelan.

Sepertinya Karin berhasil membuat Aryan si professional menjadi seorang pemula. Mereka layaknya anak kecil yang baru saja mempelajari hal yang baru. Learning by doing, itu lah yang sedang mereka lakukan.

Kegiatan tersebut bukan hanya sekedar menyalurkan kasih, melainkan sebuah bentuk komunikasi antara kedua pasangan. Masing-masing perlu mempelajari apa yang pasangan sukai, apa yang tidak disukai, guna menumbuhkan rasa empati dan perasaan yang nyaman untuk kedua belah pihak.

Saat Aryan akan melepaskan pagutannya, gerakan dari Karin yang membalas ciuman itu dengan cukup lihai, membuat Aryan mengurungkan niatnya untuk menjauh.

Kini belah bibir Karin mengecup bibir Aryan terlebih dulu. Karin menggerakkan bibirnya di atas bibir Aryan dengan irama yang terasa indah. Karin memiringkan kepalanya sedikit, guna memudahkan segala kegiatan mereka. Penyatuan itu tidak terjadi terlalu lama, tapi mampu membuat Aryan merasa bahagia, mendapati Karin yang sukarela dan berani mencoba untuk memulai pergerakan terlebih dulu.

Begitu keduanya menjauh, Aryan mengusapkan tangannya yang masih berada di sisi wajah Karin. Cara Aryan menatapnya, Karin selalu menyukai itu. Karin dibuat jatuh cinta berkali-kali setiap detik Aryan menatapnya seperti ini.

You are so amazing. Karin, terima kasih,” ucap Aryan.

You are amazing too. You’re did it very well,” balas Karin.

Aryan lantas menyunggingkan senyum bahagianya. Hatinya dan hidupnya kini terasa sangat lengkap. Merasa begitu dicintai oleh seseorang yang dicintai, adalah hal yang tidak ternilai bagi Aryan.

“Kamu ngantuk? Kita tidur ya sekarang,” ucap Karin, ia memperhatikan wajah Aryan yang terlihat sedikit sayu.

“Nggak ada ronde dua?” tanya Aryan.

“Aku kira tadi udah 3 ronde,” jawab Karin.

Aryan lekas menggeleng. Bibirnya sedikit mencebik dan ekspresinya dibuat seolah lelaki itu kini sedang bersedih.

“Kamu mau lagi emangnya?” tanya Karin.

Aryan lekas mengangguk. Namun rupanya yang dimaksud Karin adalah ciuman di pipi. Karin pikir Aryan akan menolaknya dan kecewa, tapi lelaki itu segera mendekatkan wajahnya ke arah Karin. Aryan memberi isyarat supaya Karin mencium pipinya.

Karin akhirnya mendekatkan diri untuk memudahkan yang akan dilakukannya. Karin juga mengalungkan lengannya di bahu Aryan, dan dua detik berikutnya, Aryan pun merasakan sesuatu yang lembut mendarat di permukaan kulit pipinya. Dua kali, tiga kali, sampai lima kali, Karin memberikan ciuman itu untuknya. Aryan pun tidak bisa menahan senyuman lebar untuk terbit di wajahnya.

“Udah, kan? Atau masih mau lagi?” tanya Karin.

“Engga.”

“Oke.”

Karin menjauhkan dirinya sedikit dari Aryan. Jarak mereka masih minim, Aryan masih bisa melihat mata indah Karin yang selalu berbinar itu. Ketika Karin mengulaskan senyumnya, nampak dua buah eye smile yang begitu cantik di parasnya.

“Maksudnya engga sekarang, tapi besok. Boleh ya?” ujar Aryan.

Karin mengusap pelan pipi Aryan yang sebelumnya menjadi sasaran bibirnya, lalu Karin tersenyum dan mengangguki permintaan Aryan itu. “Iya, boleh,” ucap Karin yang langsung membuat Aryan tersenyum cerah.

Sebelum mereka akan pergi tidur, Aryan mengatakan ingin berbicara pada anaknya. Aryan merubah posisinya, satu tangannya di gunakan untuk menopang kepala, dan satunya lagi mengarah ke perut Karin. Begitu tangan Aryan mendarat di sana, hatinya pun membuncah bahagia. Aryan lantas mengusap perut Karin pelan, kemudian ia berujar di dekatnya, “Kamu seneng kan, Sayang?” tanya Aryan, lalu tatapannya tertuju ke arah Karin.

Aryan nampak menaik turunkan alisnya. Karin yang tidak mengerti maksud lelaki itu, lekas melemparkan tatapan tanya.

“Anak kita seneng, Karin. Papa sama Mamanya sekarang udah pacaran,” jelas Aryan.

“Ada-ada aja sih kamu. Kita kan udah nikah,” ujar Karin.

“Iya, kita udah nikah. Tapi kan baru pacaran sekarang. Atau … kamu udah naksir aku duluan ya dari awal kita nikah?” serbu Aryan, nadanya terdengar jenaka menggoda Karin.

“Enggak tuh,” Karin berusaha menghindari tatapan Aryan. Kalau tidak, mungkin ekspresinya bisa begitu jelas menggambarkan jawabannya.

It’s oke. Kapan pun kamu mulai punya perasaan ke aku, itu nggak terlalu penting, Karin,” terang Aryan.

“Terus yang penting apa?” tanya Karin.

“Yang paling penting adalah waktu saat ini yang kita jalani. Kita punya masa lalu untuk disimpan, masa sekarang untuk dijalanin, dan masa depan untuk ditunggu. Kita nggak tau apa yang bisa terjadi nanti, tapi aku akan selalu berusaha mewujudkan masa depan yang baik untuk kita dan anak-anak kita nanti,” Aryan menjeda ucapannya sejenak. Ia mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala Karin, lalu Aryan kembali berujar, “Keluarga yang lengkap yang kamu inginkan, aku ingin aku yang bisa mewujudkan itu.”

Selama dua puluh tahun dalam hidupnya, setiap hari Karin selalu berharap dan berdoa. Karin ingin memiliki keluarga yang hangat dan lengkap. Karin pun berusaha menjadi pantas untuk seseorang yang akan bersamanya nanti, itu sudah menjadi tekadnya. Karin akan melakukannya untuk seseorang yang akan menjadi sandaran baginya dan bisa bersandar juga padanya.

Karin segera melayangkan tatapannya kepada Aryan, ia mengamati setiap detail paras tampan itu. Alis tebal yang melengkung rapi, kedua mata kecil yang berbentuk sabit, hidung mancung, serta bibir penuh yang tampak begitu sempurna.

“Kamu beneran suami aku nggak sih?” celetuk Karin dengan nada jenakanya.

“Maksud kamu? Aku kan emang suami kamu,” ujar Aryan nampak heran.

“Ohh iya, kamu bener suamiku. Ganteng banget ya suamiku,” puji Karin sembari mengamati setiap celah dan proporsi wajah Aryan. Sempurna, hanya itu yang terlintas di dalam benak Karin.

“Kalau nggak ganteng, kamu masih mau nggak sama aku?” cetus Aryan tidak kalah jenaka.

Namun Karin lebih pintar untuk merangkai jawaban di kepalanya. “Nggak mau, lah. Nanti anakku nggak ganteng dong kalau papanya nggak ganteng.”

“Aku beruntung dong karena ganteng?” tanya Aryan.

Karin mengangguk dengan cepat, tapi sebenarnya Karin sedang berusaha untuk menahan senyumnya. “Aku juga beruntung, Kak.”

“Karena?”

“Aku beruntung karena Tuhan ngasih kamu buat aku. Kamu dan anak kita, kalian adalah jawaban dari semua doa-doa aku selama ini. Tuhan ngasih aku lebih dari apa yang aku minta,” terang Karin.

Masa lalu yang cukup berat dan menyakitkan yang Karin alami di usia remajanya, kini telah digantikan oleh sesuatu yang lebih indah. Karin ingat ketika ia menghadapi masa sulitnya, terlebih saat harus sendiri melewati masa mudanya. Karin harus terlihat kuat di hadapan Kavin, ia adalah pengganti orang tua untuk adiknya. Berpura-pura kuat hanya akan membuat seseorang semakin hancur di dalam. Namun rupanya Karin berhasil bertahan dengan kehancuran itu dan perlahan-lahan bisa bangkit.

Karin ingat satu hal bahwa ia tidak menyukai hujan. Menurutnya hujan hanya akan mengacaukan segalanya, membuat orang-orang repot, membuat seragam dan sepatu sekolah Karin basah ketika hujan turun begitu saja. Saat teman-temannya diantar ke sekolah oleh orang tua mereka, Karin hanya bisa menatap kejadian tersebut dengan tatapan nanar. Tanpa seorang pun yang mengulurkan payung atau menyelipkan jas hujan di tas sekolahnya, Karin pada saat itu adalah seorang gadis yang pernah menyalahkan keadaan.

Karin merasa bahwa kehadirannya di dunia tidak diharapkan oleh siapa pun. Sama halnya dengan hujan yang datangnya kurang diharapkan, bisa dihitung hanya beberapa orang yang menyukai kehadirannya. Namun tanpa hujan, Karin tahu bahwa sebuah pelangi tidak akan pernah muncul. Pelangi tersebut dapat diibaratkan layaknya sebuah kebahagiaan. Meski pun harus melalui rasa sakit, kehadirannya adalah sesuatu yang patut untuk ditunggu.

Sebelum memejamkan matanya, Karin menatap Aryan dalam-dalam, lalu ia berucap, “Kak.”

“Iya, kenapa?” balas Aryan.

I love you,” ungkap Karin. “I’m forever yours,” pungkas Karin sembari menyematkan sebuah kecupan penuh afeksi di sisi wajah Aryan.

Aryan nampak terkejut mendapati ungkapan Karin yang tiba-tiba itu. Namun tidak lama setelahnya, Aryan segera membalasnya, “Aku juga sayang kamu. I love you more, Karin,” ucap Aryan seraya memberi sebuah kecupan di kening Karin. Kecupan di kening tersebut terasa sangat bermakna untuk Karin. Rasanya ia begitu disayangi, dilindungi, sekaligus dicintai.

Aryan dan anak mereka, merupakan anugerah tidak terduga sekaligus tidak ternilai dalam hidupnya. Tuhan telah menjawab doa-doa Karin selama ini, bahkan memberinya lebih dari apa yang Karin pinta. Sesungguhnya orang yang benar-benar mencintaimu adalah orang yang selalu berusaha mewujudkan keinginanmu, dan hanya dengan bersama, kamu percaya bahwa mimpi-mimpi tersebut dapat diwujudkan.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin menemukan Rey sampai lebih dulu di cafe yang telah mereka sepakati untuk bertemu hari ini. Sebelumnya Karin telah menghubungi Rey dan mengatakan bahwa ada hal yang ingin Karin sampaikan kepada lelaki itu.

Tidak lama dari waktu mereka memesan, seorang pelayan pun menyajikan dua buah minuman di atas meja. Secangkir caramel macchiato untuk Rey dan secangkir latte untuk Karin.

Karin meneguk minumannya satu tegukan, lalu ia kembali meletakkan cangkirnya di atas meja. Sesaat kemudian, Karin melihat Rey melakukan hal yang sama dengannya. Cara Rey menatapnya, semuanya masih terasa sama. Namun ada yang berbeda dan itu terjadi dengan Karin.

“Rey, hal yang mau aku sampaikan ke kamu adalah aku ingin mengakhiri hubungan kita,” ucap Karin kemudian.

Karin lantas menatap Rey tepat di matanya. Iris mata Rey seketika memancarkan luka yang Karin sendiri tidak dapat mendeskripsikannya.

“Karin, maksud kamu apa? Kamu nggak serius sama ucapan kamu, kan?” tanya Rey.

“Aku serius, Rey,” jawab Karin dengan nada yakinnya.

Rey segera melayangkan pandangan penuh tanya, ia meminta Karin untuk menjelaskan semuanya.

“Aku akan ngejelasin semuanya sama kamu,” ucap Karin diiringi helaan napas beratnya.

“Rey, I was truly loves you, I did. Tapi aku nggak bisa memaksakan takdir yang nggak berpihak sama kita,” ujar Karin.

“Maksud kamu?”

“Kamu lelaki sempurna dan pacar yang baik. Aku bersyukur memiliki kamu, aku bahagia saat kita bersama. Tapi satu hal yang kamu harus tau, aku nggak ingin memaksakan semuanya yang akhirnya cuma akan nyakitin kita berdua,” jelas Karin.

Selamanya cinta tidak hanya tentang kesempurnaan. Karin belajar banyak dari apa yang terjadi di antara mereka. Karin telah menemukan cinta pertamanya. Cinta pertama bukan orang yang pertama kali kamu temui dan kamu cintai untuk pertama kali. Namun cinta pertama adalah orang yang bisa membuat kamu jatuh cinta sedalam itu, untuk pertama kalinya. Kamu tidak akan menyangka kapan dan dimana kamu bertemu dengannya, begitupun dengan siapa cinta pertama kamu.

“Karin, apa dua tahun semudah itu digantikan sama yang beberapa bulan?” tanya Rey. Tanpa Karin menjelaskannya, Rey sudah tahu cinta pertama yang maksud oleh Karin.

Karin menghela napasnya, detik berikutnya ia pun mengangguk. Rey nampak tidak percaya akan jawaban yang diberikan oleh Karin. Rey masih berusaha menampiknya, ia tidak bisa menerima keputusan Karin tersebut.

“Karin, apa kamu menjadikan dia pilihan saat takdir nggak berpihak ke kita?” Rey kemudian bertanya lagi.

Karin mengerti maksud dari pertanyaan Rey tersebut, maka ia memiliki jawaban untuk itu.

“Rey, aku nggak pernah menjadikan kak Aryan pilihan. Pilihan dan memilih, itu dua hal yang berbeda,” jelas Karin.

Karin menjelaskan pada Rey bahwa hatinya telah memilih Aryan. Karin jatuh cinta pada Aryan tanpa ia memintanya. Karin membutuhkan proses untuk sampai di tahap itu. Waktu yang Karin dan Rey lalui memang lebih lama ketimbang dengan Aryan. Namun rasa cinta dan chemistry itu tidak dapat dibohongi dan digantikan oleh waktu. Sekalipun Karin dan Rey tidak ditakdirkan untuk bersama, kalau hati Karin tidak memilih Aryan, maka Karin tidak akan memutuskan bersama Aryan.

Karin kembali menatap Rey, lalu ia berujar, “Suatu hari, kamu akan nemuin seseorang untuk membuka awal baru yang lebih baik. Terima kasih untuk dua tahun yang indah ini, makasih pernah ada untuk aku. Aku bersyukur karena pernah mengenal kamu.”

Usai ucapan Karin itu, suasana itu tiba-tiba terpecah karena sebuah suara telfon. Karin lekas mengangkat panggilan tersebut, ia meletakkan ponsel miliknya di dekat telinga.

“Iya, sebentar lagi aku selesai. Oke, kamu tunggu ya,” ucap Karin di telfon dan berikutnya sambungan pun diakhiri.

Karin kembali menatap Rey, ia mengatakan bahwa dirinya harus pergi sekarang. Seseorang telah menjemput Karin, dan Rey jelas mengetahui siapa sosok itu.

“Karin, boleh aku ngajuin permintaan terakhir sebelum aku ngelepas kamu?” tanya Rey yang membuat Karin seketika terdiam di tempatnya. Karin memikirkan perkataan itu. Tergambar jelas di raut wajah Rey, sehancur apa lelaki itu saat ini.

“Kamu mau minta apa?” tanya Karin akhirnya. Karin setuju untuk memenuhi permintaan Rey barusan.

Can I hug you for the last? You know what, I will always loving you, Karina. You have your own place in my heart.”

***

Selama beberapa detik, Karin berada di pelukan hangat Rey. Karin membiarkan Rey untuk melakukannya. Bagaimana pun, Karin tidak sanggup melihat Rey lebih hancur dari ini.

Pelukan Rey masih terasa sama seperti dua tahun terakhir. Hanya saja yang berbeda, Karin tidak melingkarkan lengannya di pinggang Rey. Melainkan Karin mengarahkan tangannya untuk menepuk punggung Rey sekilas. Selang lima detik berikutnya, Rey perlahan-lahan mengurai pelukannya di tubuh Karin.

You need to go. He must be waiting on you,” ucap Rey kemudian.

Karin mengangguk sekilas, lalu ia bergerak mengambil tasnya di kursi. “Rey, aku pamit dulu ya,” ujar Karin sebelum melangkah dari hadapan Rey.

Ketika sudah beberapa langkah Karin berlalu, Rey masih menatap punggung yang menjauh itu. Mata Rey setia tertuju pada Karin, hingga perempuan itu menghampiri sebuah BMW putih di parkiran milik kafe dan masuk ke dalamnya.

Perpisahan akan selalu menyakitkan. Namun perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Tugas Karin di hidup Rey telah usai, begitu juga dengan tugasnya di hidup Karin. Rey akan belajar merelakan cintanya pergi untuk menemukan cinta sejatinya. Sekalipun harus hancur berkeping-keping untuk itu, Rey berpikir bahwa inilah level tertinggi cintanya pada Karin, yakni merelakannya bahagia meski itu bukan bersamanya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷