alyadara

Kelas terakhir Rey hari ini ditutup dengan Akuntansi Keuangan Menengah, selesai sekitar pukul 7 malam. Rey bergegas keluar dan memakirkan motornya di parkiran gedung A, dimana parkiran itu khusus untuk jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Setelah melepas helm full face-nya, Rey mendapati ponsel di saku celananya berdering. Ia meraih ponselnya dan mendapati caller ID di layarnya terpampang nama Karina🖤. Rey mengabaikan panggilan itu, sampai layarnya kembali menggelap, pertanda bahwa sambungannya telah terputus.

Rey melangkahkan kakinya menuju lapangan yang terletak di dekat gedung jurusan Manajemen. Sesampainya Rey di lapangan yang cukup luas itu, matanya langsung memindai sekitar untuk menemukan sosok yang sedang dicarinya.

Begitu menangkap sosok bertubuh tinggi yang berada di bagian selatan lapangan, Rey segera menghampiri dengan langkah kakinya yang lebar. Rupanya Aryan Sakha sedang bersama Shakina di sana. Namun Rey tidak berniat mundur sama sekali, ia tetap menghampiri Aryan dan mengatakan bahwa dirinya ingin bicara berdua dengan Aryan.

If you want to talk to my boyfriend, it means you talk with me too. Ngomong di sini aja,” ujar Shakina dengan tampang lempengnya.

“Gue perlu ngomong sama cowok lo empat mata. Bisa?” ulang Rey sekali lagi, ia menekankan setiap kata-kata yang diucapkannya.

Suasana lapangan tidak terlalu ramai malam ini, hanya terdapat beberapa mahasiswa yang sedang bermain basket dengan santai.

“Oke. Gue akan ngomong sama lo di sini,” putus Rey.

“Lo bisa ngomong sekarang,” ujar Aryan mempersilakan Rey untuk mulai bicara.

Aryan, Shakina, dan Rey kini saling berhadapan. Rey berdeham lalu menyunggingkan senyum smirk-nya sebelum berujar, “Pacar lo belum tahu apa-apa kayaknya. Lo emang nggak niat ngasih tau Kina soal kelakuan lo di belakang dia atau gimana?” ujar Rey.

“Maksud lo apa bilang kayak gitu?” Shakina melayangkan tatapan tidak sukanya pada Rey.

“Kina, biarin dia ngomong dulu sampai selesai,” ucap Aryan menahan Kina yang hendak meminta Rey enyah dari hadapan mereka.

Rey mengarahkan tatapannya pada Shakina, “Lo tau? Cowok lo ini udah menyentuh sesuatu yang seharusnya nggak dia sentuh.” Sebelum kembali berucap, Rey melayangakn tatapan nyalangnya pada Aryan, “You're not even allowed to hurts someone I love. But you did it. Lo harus satu hal Aryan, gue nggak akan biarin lo melihat Karina lagi.”

“Maksud lo apa ngomong kayak gitu?” Aryan balas menatap Rey tidak kalah sengit.

“Buah emang jatuh nggak jauh dari pohonnya. You are same as your father did in past. Lo nggak bisa menghapus jejak digital yang ada. Keluarga lo punya nama besar, selalu berusaha buat bikin citra yang baik. Tapi keturunannya sendiri yang udah ngerusak itu,” ujar Rey.

Mendengar ucapan Rey tersebut, membuat emosi Aryan seketika tersulut. Rahang pria itu nampak mengeras, dengan langkah lebarnya, Aryan menyusul langkah Rey yang sudah berbalik pergi dari sana. Shakina tidak dapat menahan Aryan yang mengejar Rey.

Langkah Aryan membawanya bertemu dengan Karina di ujung lapangan. Rey juga terlihat terkejut mendapati Karin ada di sana.

“Rey, aku udah bilang sama kamu. Kamu nggak perlu ke sini,” ujar Karin.

“Karin, aku cuma mau ngasih dia pelajaran,” ucap Rey.

“Seharusnya gue yang ngasih pelajaran sama lo. You talked about my family and you're not allowed for that,” seru Aryan.

Mendengar ucapan Aryan itu, air muka Rey berubah marah. Ia berbalik menghadap Aryan dan tidak segan-segan melayangkan bogem mentahnya ke wajah pria itu. Tidak cukup satu kali hantaman, Rey kembali memukul Aryan di sisi wajahnya yang lain.

“Rey, stop!!” seru Karin berusaha menghentikan aksi Rey. Sampai keempat kalinya Rey ingin melayangkan tinjunya, Karin memosisikan dirinya untuk menghalangi Rey memukul Aryan lagi.

“Rey, stop. Please,” ucap Karin.

Rey menatap Karin dengan tatapan tidak percayanya. Rey mundur beberapa langkah, ia pun meminta semua orang yang tersisa di sana untuk pergi sekarang juga.

Rey mengatakan bahwa ia masih memiliki urusan dengan Aryan dan tidak ada yang boleh mengetahuinya selain yang berkepentingan.

“Lo bener-bener mau tau alasan gue mukul lo?” sarkas Rey pada Aryan.

“Karin, you need to go away from him. Aku masih ada urusan sama dia,” titah Rey.

Beberapa detik kemudian, yang terjadi adalah Aryan menatap Rey dengan tatapan nyalangnya. Pria itu menghampiri Rey dengan langkah lebarnya dan melayangkan satu tinjuan keras ke wajah Rey.

“Hey, you both need to stop!” seru Shakina. Shakina berusaha menjauhkan Aryan dari Rey dan Karin berusaha menarik Rey dari sana.

“Pukulan pertama, karena lo udah nyakitin Karin. Pukulan kedua, karena lo udah menghancurkan masa depannya. Pukulan ketiga, karena lo udah buat Karin mengandung anak lo,” tukas Rey.

Hening. Ucapan Rey sukses membuat ketiga orang di hadapannya bungkam. Rey meraih tangan Karin, ia menggenggam jemarinya dan membawa Karin pergi dari sana.

Belum selesai dengan semua itu, Shakina menghampiri Karin dan menahan langkahnya. Perempuan itu mengangkat tangannya dan hampir melayangkan tamparan ke pipi Karin, tapi Aryan dengan sigap menahannya.

“Kina, you can't touch her,” ucap Aryan.

Shakina berusaha melepaskan genggaman Aryan di pergelangan tangannya, “Aryan, dia pantas buat dapetin itu. Dia udah berani-berani nyentuh yang bukan miliknya,” desis Shakina.

Karin bergerak menghela tangan Rey yang menggenggam tangannya. Ia mendekat menghampiri Aryan dan Shakina. “You've better watched what you're talking about. I never teased to your boyfriend,” tegas Karin.

Shakina menyuggingkan senyum smirk-nya. “Jadi maksud lo pacar gue yang godain lo, gitu? Oke, anything you said. Then, lo bisa gugurin kandungan itu. Masalahnya beres, kan?”

Karin melayangkan tatapan nyalangnya pada Shakina. Detik berikutnya, sebuah senyum tipis terulas di bibirnya. Karin menatap Aryan sekilas sebelum kembali menatap Shakina tepat di matanya. “Gue nggak akan gugurin darah daging gue sendiri. Apa yang keluar dari mulut lo, mencerminkan gimana diri lo, Shakina,” tukas Karin sebelum melangkahkan kakinya berbalik.

Saat berpapasan dengan Rey, Karin menghentikan langkahnya. Rey mendapati kedua mata indah Karin yang biasanya bersinar bahagia kini nampak berkaca-kaca. Rey mengarahkan tangannya untuk mengusap pipi Karin, lalu detik berikutnya ia menggenggam tangan Karin dengan lembut, membawanya untuk pergi dari sana bersamanya.

Sepeninggalan Karin dan Rey, beribu-ribu rasa bersalah kini menyerang Aryan. Seperti sebuah bom yang di lemparkan padanya, kejadian besar hari ini telah begitu menamparnya. Kini ia memiliki tanggung jawab besar yang sama sekali tidak pernah terbayang akan terjadi di dalam hidupnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

1 months later

Karin baru saja meletakkan sepatunya di dekat pintu aprtemennya begitu Molly berlari padanya. Karin menorehkan senyumnya dan langsung mengangkat anjing poodle putih itu ke gendongannya.

“Hey, Molly. Kamu kangen aku yaa?” ujar Karin yang lantas dibalas gonggongan kecil oleh Molly. Tidak lama kemudian, Karin beranjak menurunkan Molly karena ia harus menaruh barang bawaan dan mencuci kaki serta tangannya.

Karin berjalan ke dapur dan menemukan sosok wanita paruh baya yang selama ini telah membantu membersihkan apartemennya. Mbak Fitri merupakan asisten Kak Syerin yang 3 kali seminggu datang ke apartemennya untuk mencuci dan menyetrikan pakaian. Sisa pekerjaan rumah lainnya Karin masih bisa menghandle-nya sendiri.

“Non Karin, barusan Mbak masak ayam asam manis. Bu Syerin yang titip, katanya minta tolong masakin buat Non Karin,” ujar Mbak Fitri.

Karin selesai mencuci tangannya di wastafel dan segera berjalan menuju meja makan. Di sana nampak hidangan ayam asam manis yang terlihat begitu menggugah selera.

“Makasih ya Mbak udah dimasakin,” ujar Karin pada Mbak Fitri.

“Sama-sama Non. Cucian udah Mbak jemur, baju kuliah Non juga udah di setrika. Jaga kesehatan ya Non, Ibu takut Non sakit. Kemarin kata Ibu Non sempat sakit ya karena kecapean kerja. Ibu khawatir lho Non.”

“Ohh itu Mbak. Cuma nggak enak badan dikit kok Mbak. Nanti aku makan masakan Mbak, minum obat, terus tidur. Pasti mendingan setelahnya,” ucap Karin diiringi senyuman di wajahnya.

Mbak Fitri mengangguk mengiyakan. “Kalau perlu apa-apa, telfon Mbak aja Non. Jangan terlalu forsir kerja, Mbak nggak tega lho liat Non sakit mana sendirian tinggal di sini.”

“Iya Mbak, tenang aja. Kalau masih sakit, besok Karin nginep di rumah kakak.”

Mbak Fitri memastikan Karin melahap makanannya dan meminum obat sakit kepalanya sebelum wanita itu pamit pulang. Sepeninggalan Mbak Fitri, Karin berniat tidur siang dan berharap ketika bangun nanti kondisinya jauh lebih baik.

Kondisinya 3 hari belakangan ini memang kurang baik. Terdapat banyak hal yang harus Karin kerjakan di luar kewajibannya sebagai mahasiswi, yakni pekerjaannya sebagai beauty influencer dan juga model. Kepadatan kegiatan itu membuat Karin drop dan berakhir hari ini izin pulang dari kampus lebih cepat.

Karin mengecek ponselnya sebelum tidur. Pesan tiga teratasnya dari Dara, Kak Syerin, dan grup 'My Babes' yang diisi olehnya, Jihan, dan Naya. Karin membalas pesan dari Dara dan Kak Syerin lebih dulu dan terakhir pesan dari grup bersama dua sahabatnya itu.

Chat 1

Chat 2

Selesai Karin membalas pesan di grup itu, ia mengecek tanggal di kalender ponselnya. Angka di layar ponselnya menunjukkan angka 26. Artinya sudah 2 minggu lebih dari jadwal datang bulannya, tapi Karin belum mendapatkannya. Karin mencoba menepis pemikiran yang tiba-tiba singgah di benaknya. Namun ia tetap ingin mengeceknya sendiri dan memastikan bahwa pemikirannya itu tidaklah benar.

***

“Makasih ya Mas,” ujar Karin pada seorang kurir ojek online yang mengantar pesanannya di depan pintu apartemennya. Karin mendapatkan sebuah bungkusan plastik berlogo apotek dan segera membawanya ke dalam. Ia menutup pintu apartemennya dan melangkah menuju kamar mandi.

Karin merenungkannya. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Akhirnya pagi ini, sebelum berangkat ke kampus, Karin memutuskan mengeceknya. Karin menatap benda di tangannya itu, lantas ia membuka bungkusan yang pertama. Itu adalah sebuah test pack digital berwarna biru.

Karin tidak hanya membeli satu jenis test pack, ia membeli model lainnya. Ia ingin memastikan hasilnya benar, maka memerlukan beberapa merek dan jenis.

Karin menunggu hasilnya setelah melakukan langkah demi langkah untuk menggunakan benda itu sesuai petunjuk yang tertera di box-nya. Karin menunggu dengan cemas selama kurang lebih 10 menit.

Setelah alarm di ponselnya berbunyi, Karin membalikkan posisi tangannya yang menggenggam tiga buah test pack berbeda. Perlahan Karin membuka matanya untuk melihat hasil yang tertera di sana.

5 detik, 10 detik, hingga 20 detik pun, tidak mengubah hasil itu. Hasilnya akan tetap sama. Satu kata pada test pack digital itu membuat Karin kehilangan kata-katanya. Dua benda lainnya menunjukkan dua garis merah yang menandakan bahwa dirinya positif hamil.

Tangan Karin yang masih memegang benda-benda itu pun bergetar dan terasa lemas seketika, air matanya luruh begitu saja membasahi pipinya. Karin mengambil ponselnya, menghubungi satu-satunya orang yang harus tahu ini lebih dulu.

“Dara ...” ucap Karin diiringi isak tangisnya ketika sambungannya terhubung.

“Karin? Lo nggak papa? Everything is oke?” balas Dara. Dara memang belum tahu apapun soal kejadian malam itu. Sesuai yang telah di sepakatinya dengan Aryan, Karin tidak memberi tahu siapapun tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Aryan di kamar hotel itu.

Dara dapat langsung tahu bahwa Karin sedang menangis. Dari nada bicaranya, managernya itu terdengar begitu khawatir. “Karin, you can tell me. What happened?” tanya Dara sekali lagi.

“Dar, gue hamil ... ” ucapan Karin itu sukses membuat Dara diam seribu bahasa.

“Dara, gue harus gimana?” ucap Karin lagi ketika Dara tidak ada tanda-tanda menjawab.

“Karin, gue ke apartemen lo sekarang ya. Lo tenang dulu di sana, jangan ngelakuin apapun dulu,” ucap Dara sebelum menutup sambungan telfonnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

** 1 months later**

Karin baru saja meletakkan sepatunya di dekat pintu aprtemennya begitu Molly berlari padanya. Karin menorehkan senyumnya dan langsung mengangkat anjing poodle putih itu ke gendongannya.

“Hey, Molly. Kamu kangen aku yaa?” ujar Karin yang lantas dibalas gonggongan kecil oleh Molly. Tidak lama kemudian, Karin beranjak menurunkan Molly karena ia harus menaruh barang bawaan dan mencuci kaki serta tangannya.

Karin berjalan ke dapur dan menemukan sosok wanita paruh baya yang selama ini telah membantu membersihkan apartemennya. Mbak Fitri merupakan asisten Kak Syerin yang 3 kali seminggu datang ke apartemennya untuk mencuci dan menyetrikan pakaian. Sisa pekerjaan rumah lainnya Karin masih bisa menghandle-nya sendiri.

“Non Karin, barusan Mbak masak ayam asam manis. Bu Syerin yang titip, katanya minta tolong masakin buat Non Karin,” ujar Mbak Fitri.

Karin selesai mencuci tangannya di wastafel dan segera berjalan menuju meja makan. Di sana nampak hidangan ayam asam manis yang terlihat begitu menggugah selera.

“Makasih ya Mbak udah dimasakin,” ujar Karin pada Mbak Fitri.

“Sama-sama Non. Cucian udah Mbak jemur, baju kuliah Non juga udah di setrika. Jaga kesehatan ya Non, Ibu takut Non sakit. Kemarin kata Ibu Non sempat sakit ya karena kecapean kerja. Ibu khawatir lho Non.”

“Ohh itu Mbak. Cuma nggak enak badan dikit kok Mbak. Nanti aku makan masakan Mbak, minum obat, terus tidur. Pasti mendingan setelahnya,” ucap Karin diiringi senyuman di wajahnya.

Mbak Fitri mengangguk mengiyakan. “Kalau perlu apa-apa, telfon Mbak aja Non. Jangan terlalu forsir kerja, Mbak nggak tega lho liat Non sakit mana sendirian tinggal di sini.”

“Iya Mbak, tenang aja. Kalau masih sakit, besok Karin nginep di rumah kakak.”

Mbak Fitri memastikan Karin melahap makanannya dan meminum obat sakit kepalanya sebelum wanita itu pamit pulang. Sepeninggalan Mbak Fitri, Karin berniat tidur siang dan berharap ketika bangun nanti kondisinya jauh lebih baik.

Kondisinya 3 hari belakangan ini memang kurang baik. Terdapat banyak hal yang harus Karin kerjakan di luar kewajibannya sebagai mahasiswi, yakni pekerjaannya sebagai beauty influencer dan juga model. Kepadatan kegiatan itu membuat Karin drop dan berakhir hari ini izin pulang dari kampus lebih cepat.

Karin mengecek ponselnya sebelum tidur. Pesan tiga teratasnya dari Dara, Kak Syerin, dan grup 'My Babes' yang diisi olehnya, Jihan, dan Naya. Karin membalas pesan dari Dara dan Kak Syerin lebih dulu dan terakhir pesan dari grup bersama dua sahabatnya itu.

Chat 1

Chat 2

Selesai Karin membalas pesan di grup itu, ia mengecek tanggal di kalender ponselnya. Angka di layar ponselnya menunjukkan angka 26. Artinya sudah 2 minggu lebih dari jadwal datang bulannya, tapi Karin belum mendapatkannya. Karin mencoba menepis pemikiran yang tiba-tiba singgah di benaknya. Namun ia tetap ingin mengeceknya sendiri dan memastikan bahwa pemikirannya itu tidaklah benar.

***

“Makasih ya Mas,” ujar Karin pada seorang kurir ojek online yang mengantar pesanannya di depan pintu apartemennya. Karin mendapatkan sebuah bungkusan plastik berlogo apotek dan segera membawanya ke dalam. Ia menutup pintu apartemennya dan melangkah menuju kamar mandi.

Karin merenungkannya. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Akhirnya pagi ini, sebelum berangkat ke kampus, Karin memutuskan mengeceknya. Karin menatap benda di tangannya itu, lantas ia membuka bungkusan yang pertama. Itu adalah sebuah test pack digital berwarna biru.

Karin tidak hanya membeli satu jenis test pack, ia membeli model lainnya. Ia ingin memastikan hasilnya benar, maka memerlukan beberapa merek dan jenis.

Karin menunggu hasilnya setelah melakukan langkah demi langkah untuk menggunakan benda itu sesuai petunjuk yang tertera di box-nya. Karin menunggu dengan cemas selama kurang lebih 10 menit.

Setelah alarm di ponselnya berbunyi, Karin membalikkan posisi tangannya yang menggenggam tiga buah test pack berbeda. Perlahan Karin membuka matanya untuk melihat hasil yang tertera di sana.

5 detik, 10 detik, hingga 20 detik pun, tidak mengubah hasil itu. Hasilnya akan tetap sama. Satu kata pada test pack digital itu membuat Karin kehilangan kata-katanya. Dua benda lainnya menunjukkan dua garis merah yang seolah menohok hatinya.

Tangan Karin yang masih memegang benda-benda itu pun bergetar dan terasa lemas seketika, air matanya luruh begitu saja membasahi pipinya. Karin mengambil ponselnya, menghubungi satu-satunya orang yang harus tahu ini lebih dulu.

“Dara ...” ucap Karin diiringi isak tangisnya ketika sambungannya terhubung.

“Karin? Lo nggak papa? Everything is oke?” balas Dara. Dara memang belum tahu apapun soal kejadian malam itu. Sesuai yang telah di sepakatinya dengan Aryan, Karin tidak memberi tahu siapapun tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Aryan di kamar hotel itu.

Dara dapat langsung tahu bahwa Karin sedang menangis. Dari nada bicaranya, managernya itu terdengar begitu khawatir. “Karin, you can tell me. What happened?” tanya Dara sekali lagi.

“Dar, gue hamil ... ” ucapan Karin itu sukses membuat Dara diam seribu bahasa.

“Dara, gue harus gimana?” ucap Karin lagi ketika Dara tidak ada tanda-tanda menjawab.

“Karin, gue ke apartemen lo sekarang ya. Lo tenang dulu di sana, jangan ngelakuin apapun dulu,” ucap Dara sebelum menutup sambungan telfonnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Mata Karin masih terpejam rapat begitu merasakan sesuatu yang kenyal dan lembap menempel di bibirnya. Alam bawah sadarnya memerintahkan otaknya untuk membalas pergerakan itu. Satu tangannya menarik sesuatu itu mendekat padanya, guna memudahkan aktivitas tersebut.

Perpaduan aroma segar citrus dan white floral yang merasuk ke indera penciumannya, membuat Karin betah. Rasanya ia tidak ingin beranjak dan bangun, lagipula sekujur tubuhnya terasa sakit semua sekarang.

Perlahan-lahan Karin tidak merespon kecupan lembut itu lagi, ketika kabel-kabel di otaknya mulai terhubung satu sama lain. Ia menemukan benang merahnya yang membuat matanya seketika terbuka.

Betapa terkejutnya Karin kala mendapati seorang pria bersamanya di atas kasur. Di tambah tubuhnya tanpa balutan pakaian apapun, hanya di tutupi oleh sebuah bed cover putih tebal. Napas Karin berhembus tidak beraturan, matanya terasa memanas, dan sesuatu seperti mencekat tenggorakannya hingga ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

Isakan kecil yang mulai keluar dari bibir Karin, perlahan membuat Aryan membuka matanya. Pria itu menatap Karin dengan pandangan terkejut, mata kecilnya membola. Aryan menghela napasnya dan menghembuskannya sebelum membuka suaranya, “Kenapa kita bisa di sini? What we have done?” tanya Aryan.

Aryan tidak mendapat jawaban apapun dari Karin. Ia hanya mendapati perempuan itu bergerak menjauhinya dan isakannya masih terdengar.

I know you. Kamu temannya Kina, right?” ujar Aryan lagi. Perkataan Aryan barusan membuat Karin menoleh dan menatapnya.

Karin berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Orange juice yang ia minum telah memberikan reaksi aneh pada tubuhnya dan seseorang mengantarnya ke kamar ini untuk beristirahat.

“Kamu ingat sesuatu? Ini kamarku dan kamu tiba-tiba masuk ke sini semalam,” ucap Aryan.

You've planned all of this?” tanya Karin sambil menatap Aryan dengan tatapan nyalangnya.

Aryan berdecak, “I don't understand what you talking about, Karin.” Aryan bergerak bangun dari posisinya. Ia berusaha menjangkau pakaiannya yang tercecer di lantai.

Karin tidak tahu bahwa Aryan mengetahui namanya. Oh, jelas. Kemungkinan Aryan memang tahu namanya. Pria yang tidur bersamanya adalah kakak tingkat di jurusannya sekaligus kekasih Shakina, teman sesama influencer-nya.

You've said that I was planned all of this?” seru Aryan.

Of course. Aku yang dijebak di sini,” balas Karin.

Aryan mengambil arlojinya di nakas samping kasur. Setelah memakainya, pria itu berniat menghubungi seseorang melalui ponselnya. Karin yang mendengar percakapan Aryan di telfon dan meminta seseorang untuk mencari tahu siapa yang menjebaknya, segera menahan perbuatan pria itu.

“Kenapa kamu nggak ingin kejadian ini dicari tahu? Kalau kamu merasa kamu dijebak, you must let me looking who is behind this shit,” ucap Aryan. Karin telah memakai kembali dressnya dan kini meraih ponsel Aryan dari tangan pria itu.

“Kamu pikir hanya kamu yang dijebak?” Karin berdecih. Ia mendongakkan wajahnya, menatap Aryan tepat di matanya. “Kamu bisa jamin namaku aman kalau skandal ini sampai bocor? You can do that?”

Aryan tidak dapat menjawab pertanyaan Karin tersebut. Pria itu terdiam, lantas mengambil kembali ponselnya dari tangan Karin.

Fine. I will not do that,” putus Aryan. Air mukanya terlihat menahan amarah, genggaman tangannya di ponselnya pun terlihat mengerat.

Karin menghembuskan napasnya yang terdengar berat, “Kita harus rahasiakan ini. Kita bisa bersikap seolah nggak ada yang pernah terjadi semalam,” ucap Karin tanpa berniat melihat ke arah Aryan sama sekali.

“Karina, you have to know that I've never planned this,” ujar Aryan setelah beberapa detik keduanya hanya terdiam.

“Ya, I know. Aku tadi kebawa emosi dan berakhir nuduh kamu. I know you are Kina's boyfriend and what we've done it's a secret. I don't want Kina or anyone know about this.”

Aryan mengangguk setuju, “Sure. We can keep it as secret.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dari pantulan kaca panjang di kamar hotel itu, nampak seorang perempuan yang sedang memerhatikan penampilannya. Tubuh ramping dan semampainya dibalut dress hitam sepanjang lutut dengan model lengan mengembang seperti balon. Elegan, tapi terkesan simpel dan tidak berlebihan, ciri khas yang sangat menggambarkan perempuan itu.

Puas mengecek gaun yang dikenakannya, perempuan itu mengambil sebuah lipstik berwarna merah ceri dari tas hitamnya. Kemudian ia berjalan menuju kaca meja rias dan mulai memoleskan pewarna bibir itu di bibir tipisnya. Sedikit sentuhan lagi dan penampilannya kini telah sempurna.

Karina Titania Roland, nama perempuan itu. Tadi siang pekerjaannya untuk pengambilan foto dan video berjalan dengan sangat lancar. Malam ini ia berencana menghadiri after party bersama para influencer lain yang ikut dalam project untuk Clairs Beauty di Bali.

Di nakas samping tempat tidurnya, sebuah benda tipis berbentuk persegi panjang berdering, memutar lagi Every Summertime yang dinyanyikan oleh Niki.

Karin berjalan untuk mengambil ponselnya dan mendapati ID call yang tertera di sana adalah Rey❤️. Senyum Karin seketika mengembang, ia pun menggeser layar ponselnya untuk mengangkat panggilan dari kekasihnya.

“Halo Karin,” terdengar suara husky Rey, begitu Karin menempelkan ponselnya di dekat telinga.

“Halo Rey,” balas Karin detik berikutnya.

“Kamu jadi pergi ke after party malam ini?” tanya Rey.

“Jadi. Actually it's not my cup of tea. But yaa ... I should go. Teman-teman influencer yang lain juga datang semua,” jelas Karin.

“*It's sound nice, Babe. You should go and have fun. I wish I can be there to accompany you,” ujar Rey.

It's oke. Kamu harus ambil job wedding photoshoot itu. Keren banget pasti hasilnya buat di pajang di portofolio kamu,” ucap Karin.

“Karina, thank you,” ujar Rey cepat.

Thank you for what?”

Thank you for always be my best support system and I'm so glad to having you. Aku jemput kamu di bandara nanti pas kamu pulang ya. Kamu flight besok kan ke Jakarta?” tutur Rey.

“Iya, besok aku udah balik. Berarti aku bilang ke Dara nggak perlu siapin supir ya.”

Alright.”

“Rey, aku tutup dulu telfonnya. Aku harus turun ke ballroom bawah, acaranya udah mulai.”

Well, oke. Have fun yaa Sayang. I'll see you tomorrow.”

See you, Rey.”

Sambungan telfon pun di akhiri. Sebelum memasukkan ponselnya ke dalam tas hitam yang akan di bawanya, Karin memerhatikan sebuah foto yang terpampang di lock screen ponselnya. Detik berikutnya, sebuah senyum pun terukir di wajah Karin.

Karin's Lock Screen Phone

Dua tahun yang lalu, Karin mengenal sosok Rey melalui kepanitiaan yang ia ikuti di kampus. Rey begitu baik padanya dan lambat tapi pasti, perilaku Rey membuat Karin menyukainya. Hubungan mereka berjalan baik dan semakin dekat, mengenal satu sama lain secara lebih personal. Setelah tiga bulan masa pendekatan, Rey menyatakan perasaannya pada Karin dan mereka pun berpacaran sampai saat ini.

Karin tersadar dari kegiatannya memandangi foto Rey ketika satu notif pesan masuk ke ponselnya dan itu dari Dara. Managernya itu menanyakan keberadaannya karena belum menemukan batang hidungnya di tempat acara. Sebelum keluar dari kamarnya, Karin mengetikkan pesan pada Dara dan mengatakan bahwa ia akan segera menuju ballroom.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dari pantulan kaca panjang di kamar hotel itu, nampak seorang perempuan yang sedang memerhatikan penampilannya. Tubuh ramping dan semampainya dibalut dress hitam sepanjang lutut dengan model lengan mengembang seperti balon. Elegan, tapi terkesan simpel dan tidak berlebihan, ciri khas yang sangat menggambarkan perempuan itu.

Puas mengecek gaun yang dikenakannya, perempuan itu mengambil sebuah lipstik berwarna merah ceri dari tas hitamnya. Kemudian ia berjalan menuju kaca meja rias dan mulai memoleskan pewarna bibir itu di bibir tipisnya. Sedikit sentuhan lagi dan penampilannya kini telah sempurna.

Karina Titania Roland, nama perempuan itu. Tadi siang pekerjaannya untuk pengambilan foto dan video berjalan dengan sangat lancar. Malam ini ia berencana menghadiri after party bersama para influencer lain yang ikut dalam project untuk Clairs Beauty di Bali.

Di nakas samping tempat tidurnya, sebuah benda tipis berbentuk persegi panjang berdering, memutar lagi Every Summertime yang dinyanyikan oleh Niki.

Karin berjalan untuk mengambil ponselnya dan mendapati ID call yang tertera di sana adalah Rey❤️. Senyum Karin seketika mengembang, ia pun menggeser layar ponselnya untuk mengangkat panggilan dari kekasihnya.

“Halo Karin,” terdengar suara husky Rey, begitu Karin menempelkan ponselnya di dekat telinga.

“Halo Rey,” balas Karin detik berikutnya.

“Kamu jadi pergi ke after party malam ini?” tanya Rey.

“Jadi. Actually it's not my cup of tea. But yaa ... I should go. Teman-teman influencer yang lain juga datang semua,” jelas Karin.

“*It's sound nice, Babe. You should go and have fun. I wish I can be there to accompany you,” ujar Rey.

It's oke. Kamu harus ambil job wedding photoshoot itu. Keren banget pasti hasilnya buat di pajang di portofolio kamu,” ucap Karin.

“Karina, thank you,” ujar Rey cepat.

Thank you for what?”

Thank you for always be my best support system and I'm so glad to having you. Aku jemput kamu di bandara nanti pas kamu pulang ya. Kamu flight besok kan ke Jakarta?” tutur Rey.

“Iya, besok aku udah balik. Berarti aku bilang ke Dara nggak perlu siapin supir ya.”

Alright.”

“Rey, aku tutup dulu telfonnya. Aku harus turun ke ballroom bawah, acaranya udah mulai.”

Well, oke. Have fun yaa Sayang. I'll see you tomorrow.”

See you, Rey.”

Sambungan telfon pun di akhiri. Sebelum memasukkan ponselnya ke dalam tas hitam yang akan di bawanya, Karin memerhatikan sebuah foto yang terpampang di lock screen ponselnya. Detik berikutnya, sebuah senyum pun terukir di wajah Karin.

Karin's Lock Screen Phone

Dua tahun yang lalu, Karin mengenal sosok Rey melalui kepanitiaan yang ia ikuti di kampus. Rey begitu baik padanya dan lambat tapi pasti, perilaku Rey membuat Karin menyukainya. Hubungan mereka berjalan baik dan semakin dekat, mengenal satu sama lain secara lebih personal. Dua bula masa pendekatan, Rey menyatakan perasaannya pada Karin dan mereka berpacaran sampai saat ini.

Karin tersadar dari kegiatannya memandangi foto Rey ketika satu notif pesan masuk ke ponselnya dan itu dari Dara. Managernya itu menanyakan keberadaannya karena belum menemukan batang hidungnya di tempat acara. Sebelum keluar dari kamarnya, Karin mengetikkan pesan pada Dara dan mengatakan bahwa ia akan segera menuju ballroom.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

“Terima kasih ya,” ucap Karin sebelum melangkah memasuki kamar berpintu putih itu. Tim Clairs Beauty yang mengantarnya pun berlalu dari sana setelah memastikan Karin masuk.

Karin melangkah lebih jauh ke dalam ruangan yang lebih besar dari dugaannya itu. Baiklah, sangat lebih dari cukup untuknya beristirahat sejenak di sini.

Karin meletakkan tas hitam kecil yang dibawanya di sebuah sofa. Sejauh apa lagi ia harus masuk untuk menemukan kamarnya? Tempat ini lebih pantas disebut penthouse dari pada kamar hotel.

Karin berniat melepaskan high heels yang terasa menyakiti tumitnya, tapi kegiatannya itu tertahan ketika matanya menangkap 2 buah botol minuman alkohol di lantai marmer kamar itu. Aroma alkohol yang menguar di dekatnya, membuat Karin seketika mengernyit karena kembali merasakan pusing di kepalanya.

Karin berusaha berdiri tegak dan mengatur pernapasannya yang terasa berkejaran. Detik berikutnya, Karin mendengar derap langkah kaki yang mendekat padanya. Karin mendongakkan kepalanya dan bertemulah tatapannya oleh sosok bertubuh tinggi di hadapannya, mungkin tingginya hanya sebatas dada lelaki itu.

How you can get here? Who are ... you?” tanya suara bernada rendah itu. Tanpa perlu lebih dekat, Karin dapat menghirup aroma alkohol yang menguar dari tubuh lelaki di hadapannya ini.

Jantung Karin rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya, kala lelaki itu menyipitkan matanya dan memandangi wajah Karin lamat-lamat.

Karin balas menatap paras oriental itu. Alis rapi, mata sipit, dan bibir penuhnya membuat Karin meneguk salivanya dengan susah payah. Karin berusaha menepis sesuatu yang mendorong dirinya dari dalam. Karin sangat mengerti sinyal yang diberikan tubuhnya, tapi sisa pikiran warasnya telah mencegahnya untuk melakukannya.

“Aku yang harusnya tanya ke kamu. Kenapa ada laki-laki di ruangan ini? Kamar ini khusus untuk tamu Clairs Beauty,” racau Karin dengan matanya yang setengah terpejam.

Hello, it's my room. Kamu yang masuk ke sini dengan keadaan mabuk,see,” balas lelaki itu sambil menghembuskan napas beratnya.

“Kamu yang mabuk,” Karin mengambil dua botol yang isinya telah habis di lantai, lalu ia menunjukkannya di hadapan lelaki itu.

Lelaki itu mendekat padanya, hendak mengambil botol yang ada di tangan Karin. Otomatis Karin melangkahkan kakinya mundur untuk menjauh. Tanpa perkiraan yang matang, tubuhnya sudah menyentuh salah satu dinding di kamar. Itu bertambah buruk saat lelaki itu memangkas jaraknya dengan Karin, membuat jantung Karin kembali berdetak tidak karuan di dalam rongga dadanya.

Karin tidak sadar bahwa kini tangannya telah bebas dari botol alkohol. Karin kembali memerhatikan paras tampan lelaki itu dan pandangannya turun pada bibir tebalnya. Karin berpikir bahwa bibir itu dipahat dengan sangat hati-hati, hingga tercipta bentuj yang begitu indah.

God was happy when he created you,” cetus Karin. Setelah mengucapkannya, kepala Karin hampir saja jatuh ke lantai kalau saja Aryan tidak menahannya. Aryan mengangkat wajah Karin menggunakan satu tangannya. Aryan Sakha, lelaki yang mengatakan bahwa kamar ini adalah miliknya, kini tengah menelusuri wajah Karin menggunakan iris hitamnya.

I'm dying, when I'm try to not looked at you,” ucap Karin ketika matanya bertemu dengan mata Aryan.

I want to taste you ... but it's feels so wrong ... “ sambung Karin lagi.

You want it?” Aryan mengusapkan tangannya di pipi Karin. Ia dapat merasakan hawa panas di permukaan halus kulit perempuan itu. Karin pun menatap Aryan, ia mendapati mata pria itu terlihat sayu dan tatapannya menggelap.

Karin menjawab pertanyaan Aryan dengan sebuah anggukan. Perlahan tapi pasti, tangannya pun bergerak menarik kerah kemeja hitam Aryan agar pria itu mendekat padanya.

Karin dapat merasakan deru napas Aryan di dekat rahangnya, jantung Karin rasanya ingin merosot ke perut ketika Aryan bergerak menempelkan bibirnya pada bibir Karin. Pertama kali dalam hidup Karin, seseorang tengah mencium bibirnya. Karin tidak dapat mendeskripsikan bagaimana rasanya, ia hanya berusaha membalas lumatan yang Aryan lakukan. Aryan mencumbunya dengan sangat lembut, hati-hati, seolah tidak ingin menyakiti Karin.

Sekitar tiga menit berikutnya, Aryan mengurai ciumannya, “Hei, are you okay?” tanya Aryan saat ia memerhatikan kondisi Karin. Wajah Karin sepenuhnya memerah, Aryan pikir Karin lebih mabuk darinya.

Karin menggeleng, ia merasa tidak baik-baik saja saat ini. “I'm not feeling good and I'm sweating,” ucap Karin.

Just do it again, please,” pinta Karin. Ia menjinjitkan kakinya untuk meraih pundak Aryan, hingga kini tinggi keduanya menjadi sejajar. Karin memajukan wajahnya, ia segera melayangkan kecupan halus di bibir Aryan. Karin melakukannya dengan cukup baik, tidak hanya mengecup, tangannya mengusap tengkuk Aryan. Itu menciptakan sensasi mendebarkan bagi Aryan, ditambah kini Karin melesakkan lidahnya, membaut saliva mereka saling bertemu.

Are you sure you want it?” tanya Aryan begitu Karin mengakhiri ciumannya. Perempuan itu mendekap torsonya, menciptakan rasa hangat di tubuh keduanya.

I'm sure,” bisik Karin di dekat Aryan.

Karin memberikan usapan di punggung Aryan dengan gerakan searah, membuat pria itu seketika memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang Karin berikan.

Setelah mendapat jawaban itu, Aryan meletakkan kedua lengannya di bawah paha Karin, ia menggendong Karin di depan tubuhnya. Sesampainya di kamar, Aryan membaringkan Karin di atas sebuah ranjang king size. Tangan Karin bergerak melepas dress hitamnya, perempuan itu nampak kesulitan untuk melakukannya sendiri.

Aryan and Karin's Hotel Room

Aryan ikut bergabung bersama Karin di atas kasur setelah pria itu melepas kemeja hitamnya. “Let me help you,” ucap Aryan. Pemandangan tubuh shirtless Aryan membuat Karin menggigiti bibir bawahnya. Pahatan otot tubuh sempurna Aryan, mendorong Karin untuk membayangkan bagaimana rasanya benda-benda itu jika disentuh.

Beberapa detik kemudian, dress hitam Karin berhasil terlepas dari tubuhnya. Aryan membantunya menarik resleting dress di punggung dan mendapat pemandangan punggung putih dan halus milik Karin. Perasaan dari dalam diri Aryan begitu mendorongnya untuk merasakan halusnya punggung Karin dengan jemarinya.

Aryan lekas menempatkan Karin untuk berada di bawahnya. Ia melesakkan jemarinya untuk menyisir surai lembut Karin. “You're so gorgeous,” ucap Aryan sambil menjelajahi setiap inci paras Karin. Karin begitu cantik. Kedua mata yang berukuran agak besar, hidung kecil yang tinggi, serta bibir merah yang tipis itu. Karin sempurna dan indah.

Karin balas menatap paras rupawan Aryan, “God was happy when he created you,” ucap Karin. Seketika Aryan mengernyit mendengarnya, alis rapinya pun menyatu.

“Kamu udah bilang itu tadi,” ujar Aryan diiringi tawa kecilnya.

“Oh iya? Aku lupa,” ucap Karin. “Di sini dingin banget, ta-tapi panas juga,” lanjut Karin lagi sambil melengkungkan bibirnya ke dalam, menahan perasaan yang begitu bergejolak dari dalam dirinya.

“Ada selimut. Kamu mau?” tanya Aryan. Karin menjawab Aryan dengan sebuah gelengan. Aryan pun terlihat bingung dan lantas menanyakan apa yang Karin inginkan.

I-I just want you. I want you to hug me,” ucap Karin dengan suaranya yang terdengar parau.

Aryan memerhatikan wajah Karin sesaat, sebelum kembali mencumbu bibir merah ceri miliknya. Kali ini Aryan melakukannya dengan sedikit intens, ia menghisap bibir bawah Karin sampai meninggalkan rasa nyeri di sana. Aryan melepaskannya sesaat, ia mengusap bibir Karin dengan ibu jarinya. “I want you too,” lirih Aryan di tengah napasnya yang beradu indah bersama Karin.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

“Terima kasih ya,” ucap Karin sebelum melangkah memasuki kamar berpintu putih itu. Tim Clairs Beauty yang mengantarnya pun berlalu dari sana setelah memastikan Karin masuk.

Karin melangkah lebih jauh ke dalam ruangan yang lebih besar dari dugaannya itu. Baiklah, sangat lebih dari cukup untuknya beristirahat sejenak di sini.

Karin meletakkan tas hitam kecil yang dibawanya di sebuah sofa. Sejauh apa lagi ia harus masuk untuk menemukan kamarnya? Tempat ini lebih pantas disebut penthouse dari pada kamar hotel.

Aryan and Karin's Hotel Room

Karin berniat melepaskan high heels yang terasa menyakiti tumitnya, tapi kegiatannya itu tertahan ketika matanya menangkap 2 buah botol minuman alkohol di lantai marmer kamar itu. Aroma alkohol yang menguar di dekatnya, membuat Karin seketika mengernyit karena kembali merasakan pusing di kepalanya.

Karin berusaha berdiri tegak dan mengatur pernapasannya yang terasa berkejaran. Detik berikutnya, Karin mendengar derap langkah kaki yang mendekat padanya. Karin mendongakkan kepalanya dan bertemulah tatapannya oleh sosok bertubuh tinggi di hadapannya, mungkin tingginya hanya sebatas dada lelaki itu.

How you can get here? Who are ... you?” tanya suara bernada rendah itu. Tanpa perlu lebih dekat, Karin dapat menghirup aroma alkohol yang menguar dari tubuh lelaki di hadapannya ini.

Jantung Karin rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya, kala lelaki itu menyipitkan matanya dan memandangi wajah Karin lamat-lamat.

Karin balas menatap paras oriental itu. Alis rapi, mata sipit, dan bibir penuhnya membuat Karin meneguk salivanya dengan susah payah. Karin berusaha menepis sesuatu yang mendorong dirinya dari dalam. Karin sangat mengerti sinyal yang diberikan tubuhnya, tapi sisa pikiran warasnya telah mencegahnya untuk melakukannya.

“Aku yang harusnya tanya ke kamu. Kenapa ada laki-laki di ruangan ini? Kamar ini khusus untuk tamu Clairs Beauty,” racau Karin dengan matanya yang setengah terpejam.

Hello, this is my room. Kamu yang masuk ke sini dengan keadaan mabuk, wajah kamu merah semua, see,” balas lelaki itu sambil menghela napas beratnya.

“Kamu yang mabuk,” Karin mengambil dua botol yang isinya telah habis di lantai, lalu ia menunjukkannya di hadapan lelaki itu.

Lelaki itu mendekat padanya, hendak mengambil botol yang ada di tangan Karin. Otomatis Karin melangkahkan kakinya mundur untuk menjauh. Tanpa perkiraan yang matang, tubuhnya sudah menyentuh salah satu dinding di kamar. Itu bertambah buruk saat lelaki itu memangkas jaraknya dengan Karin, membuat jantung Karin kembali berdetak tidak karuan di dalam rongga dadanya.

Karin tidak sadar bahwa kini tangannya telah bebas dari botol alkohol. Karin kembali memerhatikan paras tampan lelaki itu dan pandangannya turun pada bibir tebalnya. Karin berpikir bahwa bibir itu dipahat dengan sangat hati-hati, hingga tercipta bentuj yang begitu indah.

God was happy when he created you,” cetus Karin. Setelah mengucapkannya, kepala Karin hampir saja jatuh ke lantai kalau saja Aryan tidak menahannya. Aryan mengangkat wajah Karin menggunakan satu tangannya. Aryan Sakha, lelaki yang mengatakan bahwa kamar ini adalah miliknya, kini tengah menelusuri wajah Karin menggunakan iris hitamnya.

I'm dying, when I'm try to not looked at you,” ucap Karin ketika matanya bertemu dengan mata Aryan.

I want to taste you so bad, but it's feels so wrong ... “ sambung Karin lagi.

You want it?” Aryan mengusapkan tangannya di pipi Karin. Ia dapat merasakan hawa panas di permukaan halus kulit perempuan itu. Karin pun menatap Aryan, ia mendapati mata pria itu terlihat sayu dan tatapannya menggelap.

Karin menjawab pertanyaan Aryan dengan sebuah anggukan. Perlahan tapi pasti, tangannya pun bergerak menarik kerah kemeja hitam Aryan agar pria itu mendekat padanya.

Karin dapat merasakan deru napas Aryan di dekat rahangnya, jantung Karin rasanya ingin merosot ke perut ketika Aryan bergerak menempelkan bibirnya pada bibir Karin. Pertama kali dalam hidup Karin, seseorang tengah mencium bibirnya. Karin tidak dapat mendeskripsikan bagaimana rasanya, ia hanya berusaha membalas lumatan yang Aryan lakukan. Aryan mencumbunya dengan sangat lembut, hati-hati, seolah tidak ingin menyakiti Karin.

Sekitar tiga menit berikutnya, Aryan mengurai ciumannya, “Hei, are you okay?” tanya Aryan saat ia memerhatikan kondisi Karin. Wajah Karin sepenuhnya memerah, Aryan pikir Karin lebih mabuk darinya.

Karin menggeleng, ia merasa tidak baik-baik saja saat ini. “I'm not feeling good and I'm sweat-sweating*,” ucap Karin terbata-bata.

Just do it again, please,” pinta Karin. Ia menjinjitkan kakinya untuk meraih pundak Aryan, hingga kini tinggi keduanya menjadi sejajar. Karin memajukan wajahnya, ia segera melayangkan kecupan halus di bibir Aryan. Karin melakukannya dengan cukup baik, tidak hanya mengecup, tangannya mengusap tengkuk Aryan. Itu menciptakan sensasi mendebarkan bagi Aryan, ditambah kini Karin melesakkan lidahnya, membaut saliva mereka saling bertemu.

Are you sure you want it?” tanya Aryan begitu Karin mengakhiri ciumannya. Perempuan itu mendekap torsonya, menciptakan rasa hangat di tubuh keduanya.

I'm sure,” bisik Karin di dekat Aryan.

Karin memberikan usapan di punggung Aryan dengan gerakan searah, membuat pria itu seketika memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang Karin berikan.

Setelah mendapat jawaban itu, Aryan meletakkan kedua lengannya di bawah paha Karin, ia menggendong Karin di depan tubuhnya. Sesampainya di kamar, Aryan membaringkan Karin di atas sebuah ranjang king size. Tangan Karin bergerak melepas dress hitamnya, perempuan itu nampak kesulitan untuk melakukannya sendiri.

Aryan ikut bergabung bersama Karin di atas kasur setelah pria itu melepas kemeja hitamnya. “Let me help you,” ucap Aryan. Pemandangan tubuh shirtless Aryan membuat Karin menggigiti bibir bawahnya. Pahatan otot tubuh sempurna Aryan, mendorong Karin untuk membayangkan bagaimana rasanya benda-benda itu jika disentuh.

Beberapa detik kemudian, dress hitam Karin berhasil terlepas dari tubuhnya. Aryan membantunya menarik resleting dress di punggung dan mendapat pemandangan punggung putih dan halus milik Karin. Perasaan dari dalam diri Aryan begitu mendorongnya untuk merasakan halusnya punggung Karin dengan jemarinya.

Aryan lekas menempatkan Karin untuk berada di bawahnya. Ia melesakkan jemarinya untuk menyisir surai lembut Karin. “You're so gorgeous,” ucap Aryan sambil menjelajahi setiap inci paras Karin. Karin begitu cantik. Kedua mata yang berukuran agak besar, hidung kecil yang tinggi, serta bibir merah yang tipis itu. Karin sempurna dan indah.

Karin balas menatap paras rupawan Aryan, “God was happy when he created you,” ucap Karin. Seketika Aryan mengernyit mendengarnya, alis rapinya pun menyatu.

“Kamu udah bilang itu tadi,” ujar Aryan diiringi tawa kecilnya.

“Oh iya? Aku lupa,” ucap Karin. “Di sini dingin banget, ta-tapi panas juga,” lanjut Karin lagi sambil melengkungkan bibirnya ke dalam, menahan perasaan yang begitu bergejolak dari dalam dirinya.

“Ada selimut. Kamu mau?” tanya Aryan. Karin menjawab Aryan dengan sebuah gelengan. Aryan pun terlihat bingung dan lantas menanyakan apa yang Karin inginkan.

I-I just want you. I want you to hug me,” ucap Karin dengan suaranya yang terdengar parau.

Aryan memerhatikan wajah Karin sesaat, sebelum kembali mencumbu bibir merah ceri miliknya. Kali ini Aryan melakukannya dengan sedikit intens, ia menghisap bibir bawah Karin sampai meninggalkan rasa nyeri di sana. Aryan melepaskannya sesaat, ia mengusap bibir Karin dengan ibu jarinya. “I want you too,” lirih Aryan di tengah napasnya yang beradu indah bersama Karin.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

“Terima kasih ya,” ucap Karin sebelum melangkah memasuki kamar berpintu putih itu. Tim Clairs Beauty yang mengantarnya pun berlalu dari sana setelah memastikan Karin masuk.

Karin melangkah lebih jauh ke dalam ruangan yang lebih besar dari dugaannya itu. Baiklah, sangat lebih dari cukup untuknya beristirahat sejenak di sini.

Karin meletakkan tas hitam kecil yang dibawanya di sebuah sofa. Sejauh apa lagi ia harus masuk untuk menemukan kamarnya? Tempat ini lebih pantas disebut penthouse dari pada kamar hotel.

Aryan and Karin's Hotel Room

Karin berniat melepaskan high heels yang terasa menyakiti tumitnya, tapi kegiatannya itu tertahan ketika matanya menangkap 2 buah botol minuman alkohol di lantai marmer kamar itu. Aroma alkohol yang menguar di dekatnya, membuat Karin seketika mengernyit karena kembali merasakan pusing di kepalanya.

Karin berusaha berdiri tegak dan mengatur pernapasannya yang terasa berkejaran. Detik berikutnya, Karin mendengar derap langkah kaki yang mendekat padanya. Karin mendongakkan kepalanya dan bertemulah tatapannya oleh sosok bertubuh tinggi di hadapannya, mungkin tingginya hanya sebatas dada lelaki itu.

How you can get here? Who are ... you?” tanya suara bernada rendah itu. Tanpa perlu lebih dekat, Karin dapat menghirup aroma alkohol yang menguar dari tubuh lelaki di hadapannya ini.

Jantung Karin rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya, kala lelaki itu menyipitkan matanya dan memandangi wajah Karin lamat-lamat.

Karin balas menatap paras oriental itu. Alis rapi, mata sipit, dan bibir penuhnya membuat Karin meneguk salivanya dengan susah payah. Karin berusaha menepis sesuatu yang mendorong dirinya dari dalam. Karin sangat mengerti sinyal yang diberikan tubuhnya, tapi sisa pikiran warasnya telah mencegahnya untuk melakukannya.

“Aku yang harusnya tanya ke kamu. Kenapa ada laki-laki di ruangan ini? Kamar ini khusus untuk tamu Clairs Beauty,” racau Karin dengan matanya yang setengah terpejam.

Hello, this is my room. Kamu yang masuk ke sini dengan keadaan mabuk, wajah kamu merah semua, see” balas lelaki itu sembari menghela napas beratnya.

“Kamu yang mabuk,” Karin mengambil dua botol yang isinya telah habis di lantai, lalu ia menunjukkannya di hadapan lelaki itu.

Lelaki itu mendekat padanya, hendak mengambil botol yang ada di tangan Karin. Otomatis Karin melangkahkan kakinya mundur untuk menjauh. Tanpa perkiraan yang matang, tubuhnya sudah menyentuh salah satu dinding di kamar. Itu bertambah buruk saat lelaki itu memangkas jaraknya dengan Karin, membuat jantung Karin kembali berdetak tidak karuan di dalam rongga dadanya.

Karin tidak sadar bahwa kini tangannya telah bebas dari botol alkohol. Karin kembali memerhatikan paras tampan lelaki itu dan pandangannya turun pada bibir tebalnya. Karin berpikir bahwa bibir itu dipahat dengan sangat hati-hati, hingga tercipta bentuj yang begitu indah.

God was happy when he created you,” cetus Karin. Setelah mengucapkannya, kepala Karin hampir saja jatuh ke lantai kalau saja Aryan tidak menahannya. Aryan mengangkat wajah Karin menggunakan satu tangannya. Aryan Sakha, lelaki yang mengatakan bahwa kamar ini adalah miliknya, kini tengah menelusuri wajah Karin menggunakan iris hitamnya.

I'm dying, when I'm try to not looked at you,” ucap Karin ketika matanya bertemu dengan mata Aryan.

I want to taste you so bad, but it's feels so wrong ... “ Karin meracau lagi.

You want it?” Aryan mengusapkan tangannya pipi Karin. Ia dapat merasakan hawa panas di permukaan halus kulit perempuan itu. Karin pun menatap Aryan dan mendapati mata pria itu terlihat sayu dan tatapannya menggelap.

Karin menjawab pertanyaan Aryan dengan sebuah anggukan. Perlahan tapi pasti, tangannya pun bergerak menarik kerah kemeja hitam Aryan agar pria itu mendekat padanya.

Karin dapat merasakan deru napas Aryan di dekat rahangnya, jantung Karin rasanya ingin merosot ke perut ketika Aryan bergerak menempelkan bibirnya pada bibir Karin. Pertama kali dalam hidup Karin, seseorang tengah mencium bibirnya. Karin tidak dapat mendeskripsikan bagaimana rasanya, ia hanya berusaha membalas lumatan yang Aryan lakukan. Aryan mencumbunya dengan sangat lembut, hati-hati, seolah tidak ingin menyakiti Karin.

Sekitar tiga menit berikutnya, Aryan mengurai ciumannya, “Hei, are you okay?” tanya Aryan saat ia memerhatikan kondisi Karin. Wajah Karin sepenuhnya memerah, Aryan pikir Karin lebih mabuk darinya.

Karin menggeleng, ia merasa tidak baik-baik saja saat ini. “I'm not feeling good and I'm sweat-sweating*,” ucap Karin terbata-bata.

Just do it again, please,” pinta Karin. Ia menjinjitkan kakinya untuk meraih pundak Aryan, hingga kini tinggi keduanya menjadi sejajar. Karin memajukan wajahnya, ia segera melayangkan kecupan halus di bibir Aryan. Karin melakukannya dengan cukup baik, tidak hanya mengecup, tangannya mengusap tengkuk Aryan. Itu menciptakan sensasi mendebarkan bagi Aryan, ditambah kini Karin melesakkan lidahnya, membaut saliva mereka saling bertemu.

Are you sure you want it?” tanya Aryan begitu Karin mengakhiri ciumannya. Perempuan itu mendekap torsonya, menciptakan rasa hangat di tubuh keduanya.

I'm sure,” bisik Karin di dekat Aryan.

Karin memberikan usapan di punggung Aryan dengan gerakan searah, membuat pria itu seketika memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang Karin berikan.

Setelah mendapat jawaban itu, Aryan meletakkan kedua lengannya di bawah paha Karin, ia menggendong Karin di depan tubuhnya. Sesampainya di kamar, Aryan membaringkan Karin di atas sebuah ranjang king size. Tangan Karin bergerak melepas dress hitamnya, perempuan itu nampak kesulitan untuk melakukannya sendiri.

Aryan ikut bergabung bersama Karin di atas kasur setelah pria itu melepas kemeja hitamnya. “Let me help you,” ucap Aryan. Pemandangan tubuh shirtless Aryan membuat Karin menggigiti bibir bawahnya. Pahatan otot tubuh sempurna Aryan, mendorong Karin untuk membayangkan bagaimana rasanya benda-benda itu jika ia sentuh.

Beberapa detik kemudian, dress hitam Karin berhasil terlepas dari tubuhnya. Aryan membantunya menarik resleting dress di punggung dan mendapat pemandangan punggung putih dan halus milik Karin. Perasaan dari dalam diri Aryan begitu mendorongnya untuk merasakan halusnya punggung Karin dengan jemarinya.

Aryan lekas menempatkan Karin untuk berada di bawahnya. Ia melesakkan jemarinya untuk menyisir surai lembut Karin. “You're so gorgeous,” ucap Aryan sambil menjelajahi setiap inci paras Karin. Karin begitu cantik. Kedua mata yang berukuran agak besar, hidung kecil yang tinggi, serta bibir merah yang tipis itu. Karin sempurna dan indah.

Karin balas menatap paras rupawan Aryan, “God was happy when he created you,” ucap Karin. Seketika Aryan mengernyit mendengarnya, alis rapinya pun menyatu.

“Kamu udah bilang itu tadi,” ujar Aryan diiringi tawa kecilnya.

“Oh iya? Aku lupa,” ucap Karin. “Di sini dingin banget, ta-tapi panas juga,” lanjut Karin lagi sambil melengkungkan bibirnya ke dalam, menahan perasaan yang begitu bergejolak dari dalam dirinya.

“Ada selimut. Kamu mau?” tanya Aryan. Karin menjawab Aryan dengan sebuah gelengan. Aryan pun terlihat bingung dan lantas menanyakan apa yang Karin inginkan.

I-I just want you. I want you to hug me,” ucap Karin dengan suaranya yang terdengar parau.

Aryan memerhatikan wajah Karin sesaat, sebelum kembali mencumbu bibir merah ceri miliknya. Kali ini Aryan melakukannya dengan sedikit intens, ia menghisap bibir bawah Karin sampai meninggalkan rasa nyeri di sana. Aryan melepaskannya sesaat, ia mengusap bibir Karin dengan ibu jarinya. “I want you too,” ucap Aryan di tengah napasnya yang beradu indah dengan Karin.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

“Terima kasih ya,” ucap Karin sebelum melangkah memasuki kamar berpintu putih itu. Tim Clairs Beauty yang mengantarnya pun berlalu dari sana setelah memastikan Karin masuk.

Karin melangkah lebih jauh ke dalam ruangan yang lebih besar dari dugaannya itu. Baiklah, sangat lebih dari cukup untuknya beristirahat sejenak di sini.

Karin meletakkan tas hitam kecil yang dibawanya di sebuah sofa. Sejauh apa lagi ia harus masuk untuk menemukan kamarnya? Tempat ini lebih pantas disebut penthouse ketimbang kamar hotel.

Aryan and Karin's Hotel Room

Karin berniat melepaskan high heels yang terasa menyakiti tumitnya, tapi kegiatannya itu tertahan ketika matanya menangkap 2 buah botol minuman alkohol di lantai marmer kamar itu. Aroma alkohol yang menguar di dekatnya, membuat Karin seketika mengernyit karena kembali merasakan pusing di kepalanya.

Karin berusaha berdiri tegak dan mengatur pernapasannya yang terasa berkejaran. Detik berikutnya, Karin mendengar derap langkah kaki yang mendekat padanya. Karin mendongakkan kepalanya dan bertemulah tatapannya oleh sosok bertubuh tinggi, mungkin dirinya hanya sebatas dada lelaki itu.

How you can get here? Who are ... you?” tanya suara bernada rendah itu. Tanpa perlu lebih dekat, Karin dapat menghirup aroma alkohol yang menguar dari tubuh lelaki di hadapannya ini.

Jantung Karin rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya, kala lelaki itu menyipitkan matanya dan memandangi wajah Karin lamat-lamat.

Karin balas menatap paras oriental itu. Alis rapi, mata sipit, dan bibir penuhnya membuat Karin meneguk salivanya dengan susah payah. Karin berusaha menepis sesuatu yang mendorong dirinya dari dalam. Karin sangat mengerti sinyal yang diberikan tubuhnya, tapi sisa pikiran warasnya telah mencegahnya untuk melakukannya.

“Aku yang harusnya tanya ke kamu. Kenapa ada laki-laki di ruangan ini? Kamar ini khusus untuk tamu Clairs Beauty,” racau Karin dengan matanya yang setengah terpejam.

Hello, this is my room. Kamu yang masuk ke sini dengan keadaan mabuk, wajah kamu merah semua, see” balas lelaki itu sembari menghela napas beratnya.

“Kamu yang mabuk,” Karin mengambil dua botol yang isinya telah habis di lantai, lalu ia menunjukkannya di hadapan lelaki itu.

Lelaki itu mendekat padanya, hendak mengambil botol yang ada di tangan Karin. Otomatis Karin melangkahkan kakinya mundur untuk menjauh. Tanpa perkiraan yang matang, tubuhnya sudah menyentuh salah satu dinding di kamar. Itu bertambah buruk saat lelaki itu memangkas jaraknya dengan Karin, membuat jantung Karin kembali berdetak tidak karuan di dalam rongga dadanya.

Karin tidak sadar bahwa kini tangannya telah bebas dari botol alkohol. Karin kembali memerhatikan paras tampan lelaki itu dan pandangannya turun pada bibir tebalnya. Karin berpikir bahwa bibir itu dipahat dengan sangat hati-hati, hingga tercipta bentuj yang begitu indah.

God was happy when he created you,” cetus Karin. Setelah mengucapkannya, kepala Karin hampir saja jatuh ke lantai kalau saja Aryan tidak menahannya. Aryan mengangkat wajah Karin menggunakan satu tangannya. Aryan Sakha, lelaki yang mengatakan bahwa kamar ini adalah miliknya, kini tengah menelusuri wajah Karin menggunakan iris hitamnya.

I'm dying, when I'm try to not looked at you,” ucap Karin ketika matanya bertemu dengan mata Aryan.

I want to taste you so bad, but it's feels so wrong ... “ Karin meracau lagi.

You want it?” Aryan mengusapkan tangannya pipi Karin. Ia dapat merasakan hawa panas di permukaan halus kulit perempuan itu. Karin pun menatap Aryan dan mendapati mata pria itu terlihat sayu dan tatapannya menggelap.

Karin menjawab pertanyaan Aryan dengan sebuah anggukan. Perlahan tapi pasti, tangannya pun bergerak menarik kerah kemeja hitam Aryan agar pria itu mendekat padanya.

Karin dapat merasakan deru napas Aryan di dekat rahangnya, jantung Karin rasanya ingin merosot ke perut ketika Aryan bergerak menempelkan bibirnya pada bibir Karin. Pertama kali dalam hidup Karin, seseorang tengah mencium bibirnya. Karin tidak dapat mendeskripsikan bagaimana rasanya, ia hanya berusaha membalas lumatan yang Aryan lakukan. Aryan mencumbunya dengan sangat lembut, hati-hati, seolah tidak ingin menyakiti Karin.

Sekitar tiga menit berikutnya, Aryan mengurai ciumannya, “Hei, are you okay?” tanya Aryan saat ia memerhatikan kondisi Karin. Wajah Karin sepenuhnya memerah, Aryan pikir Karin lebih mabuk darinya.

Karin menggeleng, ia merasa tidak baik-baik saja saat ini. “I'm not feeling good and I'm sweat-sweating*,” ucap Karin terbata-bata.

Just do it again, please,” pinta Karin. Ia menjinjitkan kakinya untuk meraih pundak Aryan, hingga kini tinggi keduanya menjadi sejajar. Karin memajukan wajahnya, ia segera melayangkan kecupan halus di bibir Aryan. Karin melakukannya dengan cukup baik, tidak hanya mengecup, tangannya mengusap tengkuk Aryan. Itu menciptakan sensasi mendebarkan bagi Aryan, ditambah kini Karin melesakkan lidahnya, membaut saliva mereka saling bertemu.

Are you sure you want it?” tanya Aryan begitu Karin mengakhiri ciumannya. Perempuan itu mendekap torsonya, menciptakan rasa hangat di tubuh keduanya.

I'm sure,” bisik Karin di dekat Aryan.

Karin memberikan usapan di punggung Aryan dengan gerakan searah, membuat pria itu seketika memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang Karin berikan.

Setelah mendapat jawaban itu, Aryan meletakkan kedua lengannya di bawah paha Karin, ia menggendong Karin di depan tubuhnya. Sesampainya di kamar, Aryan membaringkan Karin di atas sebuah ranjang king size. Tangan Karin bergerak melepas dress hitamnya, tapi Aryan menahannya.

Aryan ikut bergabung dengan Karin di atas kasur setelah pria itu melepas kemeja hitamnya. “Let me help you,” ucap Aryan. Pemandangan tubuh shirtless Aryan membuat Karin kini menggigiti bibir bawahnya.

Beberapa detik kemudian, dress hitam Karin berhasil terlepas dari tubuhnya. Aryan membantunya menarik resleting dress di punggung dan mendapat pemandangan punggung putih dan halus milik Karin. Perasaan dari dalam diri Aryan begitu mendorongnya untuk merasakan halusnya punggung Karin itu dengan jemarinya.

Aryan lekas menempatkan Karin untuk berada di bawahnya. Ia melesakkan jemarinya untuk menyisir surai lembut Karin. “You're so gorgeous,” ucap Aryan sambil menjelajahi setiap inci paras Karin. Karin begitu cantik. Kedua mata yang berukuran agak besar, hidung kecil yang tinggi, serta bibir merah yang tipis itu. Karin sempurna dan indah.

Karin balas menatap paras rupawan Aryan, “God was happy when he created you,” ucap Karin. Seketika Aryan mengernyit mendengarnya, alis rapinya pun menyatu.

“Kamu udah bilang itu tadi,” ujar Aryan diiringi tawa kecilnya.

“Oh iya? Aku lupa,” ucap Karin. “Di sini dingin banget, ta-tapi panas juga,” lanjut Karin lagi sambil melengkungkan bibirnya ke dalam, menahan perasaan yang begitu bergejolak dari dalam dirinya.

“Ada selimut. Kamu mau?” tanya Aryan. Karin menjawab Aryan dengan sebuah gelengan. Aryan pun terlihat bingung dan lantas menanyakan apa yang Karin inginkan.

I-I just want you. I want you to hug me,” ucap Karin dengan suaranya yang terdengar parau.

Aryan memerhatikan wajah Karin sesaat sebelum kembali mencumbu bibir merah ceri miliknya. “I want you too,” ucap Aryan di tengah-tengah cumbuan panas keduanya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷