Tanggung Jawab Besar
Kelas terakhir Rey hari ini ditutup dengan Akuntansi Keuangan Menengah, selesai sekitar pukul 7 malam. Rey bergegas keluar dan memakirkan motornya di parkiran gedung A, dimana parkiran itu khusus untuk jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Setelah melepas helm full face-nya, Rey mendapati ponsel di saku celananya berdering. Ia meraih ponselnya dan mendapati caller ID di layarnya terpampang nama Karina🖤. Rey mengabaikan panggilan itu, sampai layarnya kembali menggelap, pertanda bahwa sambungannya telah terputus.
Rey melangkahkan kakinya menuju lapangan yang terletak di dekat gedung jurusan Manajemen. Sesampainya Rey di lapangan yang cukup luas itu, matanya langsung memindai sekitar untuk menemukan sosok yang sedang dicarinya.
Begitu menangkap sosok bertubuh tinggi yang berada di bagian selatan lapangan, Rey segera menghampiri dengan langkah kakinya yang lebar. Rupanya Aryan Sakha sedang bersama Shakina di sana. Namun Rey tidak berniat mundur sama sekali, ia tetap menghampiri Aryan dan mengatakan bahwa dirinya ingin bicara berdua dengan Aryan.
“If you want to talk to my boyfriend, it means you talk with me too. Ngomong di sini aja,” ujar Shakina dengan tampang lempengnya.
“Gue perlu ngomong sama cowok lo empat mata. Bisa?” ulang Rey sekali lagi, ia menekankan setiap kata-kata yang diucapkannya.
Suasana lapangan tidak terlalu ramai malam ini, hanya terdapat beberapa mahasiswa yang sedang bermain basket dengan santai.
“Oke. Gue akan ngomong sama lo di sini,” putus Rey.
“Lo bisa ngomong sekarang,” ujar Aryan mempersilakan Rey untuk mulai bicara.
Aryan, Shakina, dan Rey kini saling berhadapan. Rey berdeham lalu menyunggingkan senyum smirk-nya sebelum berujar, “Pacar lo belum tahu apa-apa kayaknya. Lo emang nggak niat ngasih tau Kina soal kelakuan lo di belakang dia atau gimana?” ujar Rey.
“Maksud lo apa bilang kayak gitu?” Shakina melayangkan tatapan tidak sukanya pada Rey.
“Kina, biarin dia ngomong dulu sampai selesai,” ucap Aryan menahan Kina yang hendak meminta Rey enyah dari hadapan mereka.
Rey mengarahkan tatapannya pada Shakina, “Lo tau? Cowok lo ini udah menyentuh sesuatu yang seharusnya nggak dia sentuh.” Sebelum kembali berucap, Rey melayangakn tatapan nyalangnya pada Aryan, “You're not even allowed to hurts someone I love. But you did it. Lo harus satu hal Aryan, gue nggak akan biarin lo melihat Karina lagi.”
“Maksud lo apa ngomong kayak gitu?” Aryan balas menatap Rey tidak kalah sengit.
“Buah emang jatuh nggak jauh dari pohonnya. You are same as your father did in past. Lo nggak bisa menghapus jejak digital yang ada. Keluarga lo punya nama besar, selalu berusaha buat bikin citra yang baik. Tapi keturunannya sendiri yang udah ngerusak itu,” ujar Rey.
Mendengar ucapan Rey tersebut, membuat emosi Aryan seketika tersulut. Rahang pria itu nampak mengeras, dengan langkah lebarnya, Aryan menyusul langkah Rey yang sudah berbalik pergi dari sana. Shakina tidak dapat menahan Aryan yang mengejar Rey.
Langkah Aryan membawanya bertemu dengan Karina di ujung lapangan. Rey juga terlihat terkejut mendapati Karin ada di sana.
“Rey, aku udah bilang sama kamu. Kamu nggak perlu ke sini,” ujar Karin.
“Karin, aku cuma mau ngasih dia pelajaran,” ucap Rey.
“Seharusnya gue yang ngasih pelajaran sama lo. You talked about my family and you're not allowed for that,” seru Aryan.
Mendengar ucapan Aryan itu, air muka Rey berubah marah. Ia berbalik menghadap Aryan dan tidak segan-segan melayangkan bogem mentahnya ke wajah pria itu. Tidak cukup satu kali hantaman, Rey kembali memukul Aryan di sisi wajahnya yang lain.
“Rey, stop!!” seru Karin berusaha menghentikan aksi Rey. Sampai keempat kalinya Rey ingin melayangkan tinjunya, Karin memosisikan dirinya untuk menghalangi Rey memukul Aryan lagi.
“Rey, stop. Please,” ucap Karin.
Rey menatap Karin dengan tatapan tidak percayanya. Rey mundur beberapa langkah, ia pun meminta semua orang yang tersisa di sana untuk pergi sekarang juga.
Rey mengatakan bahwa ia masih memiliki urusan dengan Aryan dan tidak ada yang boleh mengetahuinya selain yang berkepentingan.
“Lo bener-bener mau tau alasan gue mukul lo?” sarkas Rey pada Aryan.
“Karin, you need to go away from him. Aku masih ada urusan sama dia,” titah Rey.
Beberapa detik kemudian, yang terjadi adalah Aryan menatap Rey dengan tatapan nyalangnya. Pria itu menghampiri Rey dengan langkah lebarnya dan melayangkan satu tinjuan keras ke wajah Rey.
“Hey, you both need to stop!” seru Shakina. Shakina berusaha menjauhkan Aryan dari Rey dan Karin berusaha menarik Rey dari sana.
“Pukulan pertama, karena lo udah nyakitin Karin. Pukulan kedua, karena lo udah menghancurkan masa depannya. Pukulan ketiga, karena lo udah buat Karin mengandung anak lo,” tukas Rey.
Hening. Ucapan Rey sukses membuat ketiga orang di hadapannya bungkam. Rey meraih tangan Karin, ia menggenggam jemarinya dan membawa Karin pergi dari sana.
Belum selesai dengan semua itu, Shakina menghampiri Karin dan menahan langkahnya. Perempuan itu mengangkat tangannya dan hampir melayangkan tamparan ke pipi Karin, tapi Aryan dengan sigap menahannya.
“Kina, you can't touch her,” ucap Aryan.
Shakina berusaha melepaskan genggaman Aryan di pergelangan tangannya, “Aryan, dia pantas buat dapetin itu. Dia udah berani-berani nyentuh yang bukan miliknya,” desis Shakina.
Karin bergerak menghela tangan Rey yang menggenggam tangannya. Ia mendekat menghampiri Aryan dan Shakina. “You've better watched what you're talking about. I never teased to your boyfriend,” tegas Karin.
Shakina menyuggingkan senyum smirk-nya. “Jadi maksud lo pacar gue yang godain lo, gitu? Oke, anything you said. Then, lo bisa gugurin kandungan itu. Masalahnya beres, kan?”
Karin melayangkan tatapan nyalangnya pada Shakina. Detik berikutnya, sebuah senyum tipis terulas di bibirnya. Karin menatap Aryan sekilas sebelum kembali menatap Shakina tepat di matanya. “Gue nggak akan gugurin darah daging gue sendiri. Apa yang keluar dari mulut lo, mencerminkan gimana diri lo, Shakina,” tukas Karin sebelum melangkahkan kakinya berbalik.
Saat berpapasan dengan Rey, Karin menghentikan langkahnya. Rey mendapati kedua mata indah Karin yang biasanya bersinar bahagia kini nampak berkaca-kaca. Rey mengarahkan tangannya untuk mengusap pipi Karin, lalu detik berikutnya ia menggenggam tangan Karin dengan lembut, membawanya untuk pergi dari sana bersamanya.
Sepeninggalan Karin dan Rey, beribu-ribu rasa bersalah kini menyerang Aryan. Seperti sebuah bom yang di lemparkan padanya, kejadian besar hari ini telah begitu menamparnya. Kini ia memiliki tanggung jawab besar yang sama sekali tidak pernah terbayang akan terjadi di dalam hidupnya.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷



