alyadara

Balroom hotel

Karin melangkahkan kaki jenjangnya memasuki ballroom hotel mewah dengan nuansa warna hijau emerald. Ia memberikan undangannya pada bagian penerima tamu. Setelah itu, seorang penanggung jawab acara membawanya menuju sebuah kursi dengan ukiran nama lengkapnya di sana. Di samping kanan dan kiri tempat duduknya, Karin bertemu dengan dua teman influencer yang dikenalnya. Mereka berbincang dan berfoto bersama sembari menunggu acara di mulai.

“Mana pacar lo Rin? Katanya doi mau ikut kemarin,” ujar Amanda.

“Nggak bisa ikut dia,” jawab Karin.

“Lho kenapa?” celetuk Tasya yang duduk di samping kiri Karin.

“Rey ada kerjaan photoshoot untuk pre-wedding. Nah pas banget harinya bentrok sama project-nya Clairs,” terang Karin.

“Ohh gitu,” ujar Amanda diiringi anggukan.

Detik berikutnya, semua atensi para tamu tertuju pada sosok yang naik ke atas panggung di depan. Seorang wanita dengan surai sebahu berwarna soft purple menaiki panggung dan mulai berbicara melalui microphone. “Hello everyone,” sapanya diiringi sebuah senyuman.

With me right here, Iona, master of ceremony of this event. First of all, I wanna say thank you for coming to the Clairs Beauty party celebration. Clairs Beauty has to glad to make this huge project for support our campaign this year. For all Clairs Beauty team and our beloved beauty influencer that attend tonight, let's enjoy the party to celebrate our hard work together. Cheers all!” ujar sang MC sebagai penanda bahwa acara telah di mulai.

***

Gemerlap lampu dan live music di atas panggung, membuat suasana pesta malam itu terasa sempurna. Acara baru dimulai satu jam yang lalu, tapi tidak ada satu pun di antara orang-orang yang hadir yang semangatnya terlihat surut. Berbeda dengan yang di rasakan oleh Karin saat ini. Tasya dan Amanda mengajaknya mendekati panggung musik untuk berdansa bersama, tapi Karin menahan tangan Tasya ketika tubuhnya terasa lunglai dan lemas.

“Sya, lo yakin minuman tadi nggak ada alkoholnya?” tanya Karin pada Tasya.

“Minuman orange juice yang tadi? Nggak ada ko, Rin. Gue kan juga minum sama kayak lo, gue mana bisa mabuk,” ujar Tasya.

Tasya pun memerhatikan air muka Karin yang tampak berbeda. “Rin, lo kenapa deh? Lo mabuk?”

“Kayaknya gue salah minum deh Sya,” balas Karin dengan suaranya yang serak. Hembusan napas Karin terdengar berat dan pandangannya mulai mengabur. Karin pun berusaha menghubungi Dara tapi sampai 6 kali pun Karin mendial nomor managernya, tidak satu pun yang di jawab.

“Karin, are you okay? Gue anter lo ke kamar ya?” saran Tasya. Karin hanya menjawab Tasya dengan anggukan dan membiarkan Tasya menuntun langkahnya. Saat mereka melewati kerumunan orang-orang, seorang perempuan dengan stelan seragam Clairs Beauty menawarkan sesuatu pada Karin.

“Kak, kita punya ruangan yang diperuntukkan bagi para influencer beristirahat. Biar saya antar Kak, silakan,” ujar perempuan itu.

Sebelum pergi bersama perempuan itu, Karin menitipkan pesan pada Tasya untuk memberitahu Dara ketika managernya itu mencari keberadaannya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Balroom hotel

Karin melangkahkan kaki jenjangnya memasuki ballroom hotel mewah dengan nuansa warna hijau emerald itu. Ia memberikan undangannya pada bagian penerima tamu. Setelah itu, seorang penanggung jawab acara membawanya menuju sebuah kursi dengan ukiran nama lengkapnya di sana. Di samping kanan dan kiri tempat duduknya, Karin bertemu dengan dua teman influencer yang dikenalnya. Mereka berbincang dan berfoto bersama sembari menunggu acara di mulai.

“Mana pacar lo Rin? Katanya doi mau ikut kemarin,” ujar Amanda.

“Nggak bisa ikut dia,” jawab Karin.

“Lho kenapa?” celetuk Tasya yang duduk di samping kiri Karin.

“Rey ada kerjaan photoshoot untuk pre-wedding. Nah pas banget harinya bentrok sama project-nya Clairs,” terang Karin.

“Ohh gitu,” ujar Amanda diiringi anggukan.

Detik berikutnya, semua atensi para tamu tertuju pada sosok yang naik ke atas panggung di depan. Seorang wanita dengan surai sebahu berwarna soft purple menaiki panggung dan mulai berbicara melalui microphone. “Hello everyone,” sapanya diiringi sebuah senyuman.

With me right here, Iona, master of ceremony of this event. First of all, I wanna say thank you for coming to the Clairs Beauty party celebration. Clairs Beauty has to glad to make this huge project for support our campaign this year. For all Clairs Beauty team and our beloved beauty influencer that attend tonight, let's enjoy the party to celebrate our hard work together. Cheers all!” ujar sang MC sebagai penanda bahwa acara telah di mulai.

***

Gemerlap lampu dan live music di atas panggung, membuat suasana pesta malam itu terasa sempurna. Acara baru dimulai satu jam yang lalu, tapi tidak ada satu pun di antara orang-orang yang hadir yang semangatnya terlihat surut. Berbeda dengan yang di rasakan oleh Karin saat ini. Tasya dan Amanda mengajaknya mendekati panggung musik untuk berdansa bersama, tapi Karin menahan tangan Tasya ketika tubuhnya terasa lunglai dan lemas.

“Sya, lo yakin minuman tadi nggak ada alkoholnya?” tanya Karin pada Tasya.

“Minuman orange juice yang tadi? Nggak ada ko, Rin. Gue kan juga minum sama kayak lo, gue mana bisa mabuk,” ujar Tasya.

Tasya pun memerhatikan air muka Karin yang tampak berbeda. “Rin, lo kenapa deh? Lo mabuk?”

“Kayaknya gue salah minum deh Sya,” balas Karin dengan suaranya yang serak. Hembusan napas Karin terdengar berat dan pandangannya mulai mengabur. Karin pun berusaha menghubungi Dara tapi sampai 6 kali pun Karin mendial nomor managernya, tidak satu pun yang di jawab.

“Karin, are you okay? Gue anter lo ke kamar ya?” saran Tasya. Karin hanya menjawab Tasya dengan anggukan dan membiarkan Tasya menuntun langkahnya. Saat mereka melewati kerumunan orang-orang, seorang perempuan dengan stelan seragam Clairs Beauty menawarkan sesuatu pada Karin.

“Kak, kita punya ruangan yang diperuntukkan bagi para influencer beristirahat. Biar saya antar Kak, silakan,” ujar perempuan itu.

Sebelum pergi bersama perempuan itu, Karin menitipkan pesan pada Tasya untuk memberitahu Dara ketika managernya itu mencari keberadaannya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Balroom hotel

Karin melangkahkan kaki jenjangnya memasuki ballroom hotel mewah dengan nuansa warna hijau emerald itu. Ia memberikan undangannya pada bagian penerima tamu. Setelah itu, seorang penanggung jawab acara membawanya menuju sebuah kursi dengan ukiran nama lengkapnya di sana. Di samping kanan dan kiri tempat duduknya, Karin bertemu dengan dua teman influencer yang dikenalnya. Mereka berbincang dan berfoto bersama sembari menunggu acara di mulai.

“Mana pacar lo Rin? Katanya doi mau ikut kemarin,” ujar Amanda.

“Nggak bisa ikut dia,” jawab Karin.

“Lho kenapa?” celetuk Tasya yang duduk di samping kiri Karin.

“Rey ada kerjaan photoshoot untuk pre-wedding. Nah pas banget harinya bentrok sama project-nya Clairs,” terang Karin.

“Ohh gitu,” ujar Amanda diiringi anggukan.

Detik berikutnya, semua atensi para tamu tertuju pada sosok yang naik ke atas panggung di depan. Seorang wanita dengan surai sebahu berwarna soft purple menaiki panggung dan mulai berbicara melalui microphone. “Hello everyone,” sapanya diiringi sebuah senyuman.

With me right here, Iona, master of ceremony of this event. First of all, I wanna say thank you for coming to the Clairs Beauty party celebration. Clairs Beauty has to glad to make this huge project for support our campaign this year. For all Clairs Beauty team and our beloved beauty influencer that attend tonight, let's enjoy the party to celebrate our hard work together. Cheers all!” ujar sang MC sebagai penanda bahwa acara telah di mulai.

***

Gemerlap lampu dan live music di atas panggung, membuat suasana pesta malam itu terasa sempurna. Acara baru dimulai satu jam yang lalu, tapi tidak ada satu pun di antara orang-orang yang hadir yang semangatnya terlihat surut. Berbeda dengan yang di rasakan oleh Karin saat ini. Tasya dan Amanda mengajaknya mendekati panggung musik untuk berdansa bersama, tapi Karin menahan tangan Tasya ketika tubuhnya terasa lunglai dan lemas.

“Sya, lo yakin minuman tadi nggak ada alkoholnya?” tanya Karin pada Tasya.

“Minuman infuse orange yang tadi? Nggak ada ko, Rin. Gue kan juga minum sama kayak lo, gue mana bisa mabuk,” ujar Tasya.

Tasya pun memerhatikan air muka Karin yang tampak berbeda. “Rin, lo kenapa deh? Lo mabuk?”

“Kayaknya gue salah minum deh Sya,” balas Karin dengan suaranya yang serak. Hembusan napas Karin terdengar berat dan pandangannya mulai mengabur. Karin pun berusaha menghubungi Dara tapi sampai 6 kali pun Karin mendial nomor managernya, tidak satu pun yang di jawab.

“Karin, are you okay? Gue anter lo ke kamar ya?” saran Tasya. Karin hanya menjawab Tasya dengan anggukan dan membiarkan Tasya menuntun langkahnya. Saat mereka melewati kerumunan orang-orang, seorang perempuan dengan stelan seragam Clairs Beauty menawarkan sesuatu pada Karin.

“Kak, kita punya ruangan yang diperuntukkan bagi para influencer beristirahat. Biar saya antar Kak, silakan,” ujar perempuan itu.

Sebelum pergi bersama perempuan itu, Karin menitipkan pesan pada Tasya untuk memberitahu Dara ketika managernya itu mencari keberadaannya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dari pantulan kaca panjang di kamar hotel itu, nampak seorang perempuan yang sedang memerhatikan penampilannya. Tubuh ramping dan semampainya dibalut dress hitam sepanjang lutut dengan model lengan mengembang seperti balon. Elegan, tapi terkesan simpel dan tidak berlebihan, ciri khas yang sangat menggambarkan perempuan itu.

Puas mengecek gaun yang dikenakannya, perempuan itu mengambil sebuah lipstik berwarna merah ceri dari tas hitamnya. Kemudian ia berjalan menuju kaca meja rias dan mulai memoleskan pewarna bibir itu di bibir tipisnya. Sedikit sentuhan lagi dan penampilannya kini telah sempurna.

Karina Titania Roland, nama perempuan itu. Tadi siang pekerjaannya untuk pengambilan foto dan video berjalan dengan sangat lancar. Malam ini ia berencana menghadiri after party bersama para influencer lain yang ikut dalam project untuk Clairs Beauty di Bali.

Di nakas samping tempat tidurnya, sebuah benda tipis berbentuk persegi panjang berdering, memutar lagi Every Summertime yang dinyanyikan oleh Niki.

Karin berjalan untuk mengambil ponselnya dan mendapati ID call yang tertera di sana adalah Rey❤️. Senyum Karin seketika mengembang, ia pun menggeser layar ponselnya untuk mengangkat panggilan dari kekasihnya.

“Halo Karin,” terdengar suara husky Rey, begitu Karin menempelkan ponselnya di dekat telinga.

“Halo Rey,” balas Karin detik berikutnya.

“Kamu jadi pergi ke after party malam ini?” tanya Rey.

“Jadi. Actually it's not my cup of tea. But yaa ... I should go. Teman-teman influencer yang lain juga datang semua,” jelas Karin.

“*It's sound nice, Babe. You should go and have fun. I wish I can be there to accompany you,” ujar Rey.

It's oke. Kamu harus ambil job wedding photoshoot itu. Keren banget pasti hasilnya buat di pajang di portofolio kamu,” ucap Karin.

“Karina, thank you,” ujar Rey cepat.

Thank you for what?”

Thank you for always be my best support system and I'm so glad to having you. Aku jemput kamu di bandara nanti pas kamu pulang ya. Kamu flight besok kan ke Jakarta?” tutur Rey.

“Iya, besok aku udah balik. Berarti aku bilang ke Dara nggak perlu siapin supir ya.”

Alright.”

“Rey, aku tutup dulu telfonnya. Aku harus turun ke ballroom bawah, acaranya udah mulai.”

Well, oke. Have fun yaa Sayang. I'll see you tomorrow.”

See you, Rey.”

Sambungan telfon pun di akhiri. Sebelum memasukkan ponselnya ke dalam tas hitam yang akan di bawanya, Karin memerhatikan sebuah foto yang terpampang di lock screen ponselnya. Detik berikutnya sebuah senyuman terukir di wajah Karin.

Karin's Lock Screen Phone

Dua tahun yang lalu, Karin mengenal sosok Rey melalui kepanitiaan yang ia ikuti di kampus. Rey begitu baik padanya dan lambat tapi pasti, perilaku Rey membuat Karin menyukainya. Hubungan mereka berjalan baik dan semakin dekat, mengenal satu sama lain secara lebih personal. Dua bula masa pendekatan, Rey menyatakan perasaannya pada Karin dan mereka berpacaran sampai saat ini.

Karin tersadar dari kegiatannya memandangi foto Rey ketika satu notif pesan masuk ke ponselnya dan itu dari Dara. Managernya itu menanyakan keberadaannya karena belum menemukan batang hidungnya di tempat acara. Sebelum keluar dari kamarnya, Karin mengetikkan pesan pada Dara dan mengatakan bahwa ia akan segera menuju ballroom.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dari pantulan kaca panjang di kamar hotel itu, nampak seorang perempuan yang sedang memerhatikan penampilannya. Tubuh ramping dan semampainya dibalut dress hitam sepanjang lutut dengan model lengan mengembang seperti balon. Elegan, tapi terkesan simpel dan tidak berlebihan, ciri khas yang sangat menggambarkan perempuan itu.

Puas mengecek gaun yang dikenakannya, perempuan itu mengambil sebuah lipstik berwarna merah ceri dari tas hitamnya. Kemudian ia berjalan menuju kaca meja rias dan mulai memoleskan pewarna bibir itu di bibir tipisnya. Sedikit sentuhan lagi dan penampilannya kini telah sempurna.

Karina Titania Roland, nama perempuan itu. Tadi siang pekerjaannya untuk pengambilan foto dan video berjalan dengan sangat lancar. Malam ini ia berencana menghadiri after party bersama para influencer lain yang ikut dalam project untuk Clairs Beauty di Bali.

Di nakas samping tempat tidurnya, sebuah benda tipis berbentuk persegi panjang berdering, memutar lagi Every Summertime yang dinyanyikan oleh Niki.

Karin berjalan untuk mengambil ponselnya dan mendapati ID call yang tertera di sana adalah Rey❤️. Senyum Karin seketika mengembang, ia pun menggeser layar ponselnya untuk mengangkat panggilan dari kekasihnya.

“Halo Karin,” terdengar suara husky Rey, begitu Karin menempelkan ponselnya di dekat telinga.

“Halo Rey,” balas Karin detik berikutnya.

“Kamu jadi pergi ke after party malam ini?” tanya Rey.

“Jadi. Actually it's not my cup of tea. But yaa ... I should go. Teman-teman influencer yang lain juga datang semua,” jelas Karin.

“*It's sound nice, Babe. You should go and have fun. I wish I can be there to accompany you,” ujar Rey.

It's oke. Kamu harus ambil job wedding photoshoot itu. Keren banget pasti hasilnya buat di pajang di portofolio kamu,” ucap Karin.

“Karina, thank you,” ujar Rey cepat.

Thank you for what?”

You always be my best support system and I'm so glad to having you. Aku jemput kamu di bandara nanti pas kamu pulang ya. Kamu flight besok kan ke Jakarta?” tutur Rey.

“Iya, besok aku udah balik. Berarti aku bilang ke Dara nggak perlu siapin supir ya.”

Alright.”

“Rey, aku tutup dulu telfonnya. Aku harus turun ke ballroom bawah, acaranya udah mulai.”

Well, oke. Have fun yaa Sayang. I'll see you tomorrow.”

See you, Rey.”

Sambungan telfon pun di akhiri. Sebelum memasukkan ponselnya ke dalam tas hitam yang akan di bawanya, Karin memerhatikan sebuah foto yang terpampang di lock screen ponselnya. Detik berikutnya sebuah senyuman terukir di wajah Karin.

Karin's Lock Screen Phone

Dua tahun yang lalu, Karin mengenal sosok Rey melalui kepanitiaan yang ia ikuti di kampus. Rey begitu baik padanya dan lambat tapi pasti, perilaku Rey membuat Karin menyukainya. Hubungan mereka berjalan baik dan semakin dekat, mengenal satu sama lain secara lebih personal. Dua bula masa pendekatan, Rey menyatakan perasaannya pada Karin dan mereka berpacaran sampai saat ini.

Karin tersadar dari kegiatannya memandangi foto Rey ketika satu notif pesan masuk ke ponselnya dan itu dari Dara. Managernya itu menanyakan keberadaannya karena belum menemukan batang hidungnya di tempat acara. Sebelum keluar dari kamarnya, Karin mengetikkan pesan pada Dara dan mengatakan bahwa ia akan segera menuju ballroom.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dari pantulan kaca panjang di kamar hotel itu, nampak seorang perempuan yang sedang memerhatikan penampilannya. Tubuh ramping dan semampainya dibalut dress hitam sepanjang lutut dengan model lengan mengembang seperti balon. Elegan, tapi terkesan simpel dan tidak berlebihan, ciri khas yang sangat menggambarkan perempuan itu.

Puas mengecek gaun yang dikenakannya, perempuan itu mengambil sebuah lipstik berwarna merah ceri dari tas hitamnya. Kemudian ia berjalan menuju kaca di meja rias dan mulai memoleskan pewarna bibir itu di bibir tipisnya. Sedikit sentuhan lagi dan penampilannya kini telah sempurna.

Karina Titania Roland, nama perempuan itu. Tadi siang pekerjaannya untuk pengambilan foto dan video berjalan dengan sangat lancar. Malam ini ia berencana menghadiri after party bersama para influencer lain yang ikut dalam project untuk Clairs Beauty di Bali.

Di nakas samping tempat tidurnya, sebuah benda tipis berbentuk persegi panjang berdering, memutar lagi Every Summertime yang dinyanyikan oleh Niki. Karin segera mengambil ponselnya dan mendapati ID call yang tertera di sana adalah Rey❤️. Senyum Karin seketika mengembang, ia pun menggeser layar ponselnya untuk mengangkat panggilan dari kekasihnya.

“Halo Karin,” terdengar suara husky Rey, begitu Karin menempelkan ponselnya di dekat telinga.

“Halo Rey,” balas Karin detik berikutnya.

“Kamu jadi pergi ke after party malam ini?” tanya Rey.

“Jadi. Actually it's not my cup of tea. But yaa ... I should go. Teman-teman influencer yang lain juga datang semua,” jelas Karin.

“*It's sound nice, Babe. You should go and have fun. I wish I can be there to accompany you,” ujar Rey.

It's oke. Kamu harus ambil job wedding photoshoot itu. Keren banget pasti hasilnya buat di pajang di portofolio kamu,” ucap Karin.

“Karina, thank you,” ujar Rey cepat.

Thank you for what?”

You always be my best support system and I'm so glad to having you. Aku jemput kamu di bandara nanti pas kamu pulang ya. Kamu flight besok kan ke Jakarta?” tutur Rey.

“Iya, besok aku udah balik. Berarti aku bilang ke Dara nggak perlu siapin supir ya.”

Alright.”

“Rey, aku tutup dulu telfonnya. Aku harus turun ke ballroom bawah, acaranya udah mulai.”

Well, oke. Have fun yaa Sayang. I'll see you tomorrow.”

See you, Rey.”

Sambungan telfon pun di akhiri. Sebelum memasukkan ponselnya ke dalam tas hitam yang akan di bawanya, Karin memerhatikan sebuah foto yang terpampang di lock screen ponselnya. Detik berikutnya sebuah senyuman terukir di wajah Karin.

Karin's Lock Screen Phone

Dua tahun yang lalu, Karin mengenal sosok Rey melalui kepanitiaan yang ia ikuti di kampus. Rey begitu baik padanya dan lambat tapi pasti, perilaku Rey membuat Karin menyukainya. Hubungan mereka berjalan baik dan semakin dekat, mengenal satu sama lain secara lebih personal. Dua bula masa pendekatan, Rey menyatakan perasaannya pada Karin dan mereka berpacaran sampai saat ini.

Karin tersadar dari kegiatannya memandangi foto Rey ketika satu notif pesan masuk ke ponselnya dan itu dari Dara. Managernya itu menanyakan keberadaannya karena belum menemukan batang hidungnya di tempat acara. Sebelum keluar dari kamarnya, Karin mengetikkan pesan pada Dara dan mengatakan bahwa ia akan segera menuju ballroom.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

“Terima kasih ya,” ucap Karin sebelum kakinya melangkah memasuki kamar berpintu putih itu. Tim Clairs Beauty yang mengantarnya pun berlalu dari sana setelah memastikan Karin masuk.

Karin melangkah lebih jauh ke dalam ruangan yang lebih besar dari dugaannya. Setahunya ini adalah tipe president suit room. Baiklah, sangat lebih dari cukup untuknya beristirahat sejenak di sini.

Karin meletakkan tas hitam kecil yang dibawanya di sebuah sofa. Sejauh apa lagi ia harus masuk untuk menemukan kamarnya? Tempat ini lebih pantas disebut penthouse dari pada kamar hotel.

Aryan and Aryan's Hotel Room

Karin berniat melepaskan high heels yang terasa menyakiti kakinya, tapi kegiatannya itu tertahan ketika matanya menangkap 2 buah botol minuman berakohol di lantai marmer kamar itu. Aroma alkohol yang menguar di dekatnya, membuat Karin seketika mengernyit karena kemabli merasakan pusing di kepalanya.

Karin berusaha berdiri dengan tegak dan mengatur pernapasannya. Detik berikutnya, Karin mendengar derap langkah kaki, itu semakin mendekat padanya. Karin mendongakkan kepalanya dan bertemulah tatapannya dengan sosok bertubuh tinggi, mungkin dirinya hanya sebatas dada lelaki itu.

How you can get here? Who are ... you?” tanya suara bernada rendah itu. Tanpa perlu lebih dekat, Karin dapat menghirup aroma alkohol yang menguar dari tubuh lelaki di hadapannya.

Jantung Karin rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya, kala lelaki itu menyipitkan matanya dan memandangi wajah Karin lamat-lamat.

Karin balas menatap paras oriental itu. Alis rapi, mata sipit, dan bibir penuhnya membuat Karin meneguk salivanya dengan susah payah. Karin berusaha menepis sesuatu yang mendorong dirinya dari dalam. Karin sangat mengerti sinyal yang diberikan tubuhnya itu, tapi sisa pikiran warasnya telah melarangnya untuk melakukannya.

“Aku yang harusnya tanya ke kamu. Kenapa ada laki-laki di ruangan ini? Kamar ini khusus untuk tamu Clairs Beauty,” racau Karin dengan matanya yang setengah terpejam.

Hello, this is my room. Kamu yang masuk ke sini dengan keadaan mabuk, wajah kamu merah semua,” balas lelaki itu.

“Kamu yang mabuk,” Karin mengambil dua botol yang isinya telah habis di lantai, lalu ia menunjukkannya di hadapan lelaki itu.

Lelaki itu mendekat padanya, hendak mengambil botol yang ada di tangan Karin. Otomatis Karin menjauh, melangkahkan kakinya mundur. Tanpa perkiraan yang matang, tubuhnya sudah menyentuh dinding kamar. Itu bertambah buruk saat lelaki itu memangkas jaraknya dengan Karin. Jantung Karin kembali berdetak tidak karuan di dalam sana.

Karin tidak sadar bahwa tangannya telah bebas dari botol alkohol. Karin kembali memerhatikan paras tampan lelaki itu. Pandangannya turun pada bibir tebal itu. Karin berpikir benda itu seperti dipahat dengan sangat hati-hati, hingga tercipta begitu indah.

God was happy when he created you,” cetus Karin. Setelah mengucapkannya, kepala Karin saja jatuh ke lantai kalau saja Aryan tidak menahannya. Aryan mengangkat wajah Karin menggunakan satu tangannya. Aryan Sakha, lelaki yang mengatakan bahwa kamar ini adalah miliknya, sekarang tengah menelusuri wajah Karin menggunakan iris hitamnya.

I'm dying when I'm try to not looked at you,” ucap Karin ketika matanya bertemu dengan mata Aryan.

“*I want to taste you so bad, but it's feels so wrong ... “ Karin meracau lagi.

You want it?” Aryan mengusapkan tangannya pipi Karin. Ia dapat merasakan hawa panas di permukaan halus kulit perempuan itu. Karin pun menatap Aryan dan mendapati mata pria terlihat sayu dan tatapannya menggelap.

Karin menjawab pertanyaan Aryan dengan sebuah anggukan. Perlahan tapi pasti, tangannya pun bergerak menarik kerah kemeja hitam Aryan agar pria itu mendekat.

Karin dapat merasakan deru napas Aryan di dekat rahangnya, jantung Karin rasanya ingin merosot ke perut ketika Aryan mengusapkan tangannya di sisi wajahnya. Pertama kali dalam hidup Karin, seseorang tengah mencium bibirnya. Karin tidak dapat mendeskripsikan bagaimana rasanya, ia hanya berusaha membalas lumatan yang Aryan lakukan. Aryan mencumbunya dengan sangat lembut, hati-hati, seolah tahu ini yang pertama bagi Karin.

“Hei, are you okay?” tanya Aryan ketika ia melepas ciumannya dan memerhatikan kondisi Karin.

Karin menggeleng, ia merasa tidak baik-baik saja saat ini. “I'm not feeling good and I'm sweat-sweating*,” ucap Karin terbata-bata.

Just do it again, please,” pinta Karin. Ia menjinjitkan kakinya untuk meraih pundak Aryan, hingga kini tinggi keduanya menjadi sejajar dan Karin segera memberikan kecupan halus di bibir Aryan

You sure?” tanya Aryan begitu Karin mendekapnya, menciptakan rasa hangat di tubuh keduanya.

I'm sure,” bisik Karin di dekat Aryan.

Karin memberikan usapan di punggung Aryan dengan gerakan searah, membuat pria itu seketika memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang Karin berikan.

Setelah mendapat jawaban itu, Aryan meletakkan kedua lengannya di bawah paha Karin, ia menggendong Karin di depan tubuhnya. Sesampainya di kamar, Aryan membaringkan Karin di atas sebuah ranjang king size. Tangan Karin bergerak melepas dress hitamnya tapi Aryan menahannya.

Let me help you,” ucap Aryan yang ikut bergabung dengan Karin di atas kasur setelah pria itu melepas kemeja hitamnya. Pemandangan tubuh shirtless Aryan membuat Karin menggigit bibir bawahnya.

Beberapa detik kemudian, dress hitam Karin berhasil terlepas dari tubuhnya. Aryan membantunya menarik resleting dress di punggung Karin. Pria itu memandangi punggung putih dan halus milik Karin. Perasaan dari dalam diri Aryan begitu mendorongnya untuk merasakan halusnya punggung Karin itu.

Aryan lekas menempatkan Karin untuk berada di bawahnya. Ia melesakkan jemarinya untuk menyisir surai lembut Karin. “You're so gorgeous,” ucap Aryan sambil memandangi setiap inci paras Karin. Kedua mata yang berukuran agak besar, hidung kecil yang tinggi, serta bibir merah yang tipis itu. Karin sempurna dan cantik.

Karin balas menatap paras rupawan Aryan, “God was happy when he created you,” ucap Karin. Seketika Aryan mengernyit mendengarnya, alis rapinya menyatu.

“Kamu udah bilang itu tadi,” ujar Aryan.

“Oh iya? Aku lupa,” ucap Karin. “Di sini dingin banget, ta-tapi panas juga,” lanjut Karin lagi sembari melengkungkan bibirnya ke dalam, menahan perasaan yang begitu bergejolak dari dalam dirinya.

“Ada selimut. Kamu mau?” tanya Aryan. Karin menjawab Aryan dengan sebuah gelengan. Aryan pun terlihat bingung dan lantas menanyakan apa yang Karin inginkan.

I-I just want you. I want you to hug me,” ucap Karin dengan suaranya yang terdengar parau.

Aryan memerhatikan wajah Karin sesaat sebelum kembali mencumbu bibir merah ceri milik Karin. “I want you too,” ucap Aryan di tengah-tengah kegiatan panas keduanya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Balroom hotel

Karin melangkahkan kaki jenjangnya memasuki ballroom hotel mewah dengan nuansa warna hijau emerald tersebut. Ia memberikan undangannya pada bagian penerima tamu. Setelah itu, seorang penanggung jawab acara membawa Karin menuju sebuah kursi dengan tulisan nama lengkapnya di sana. Di samping kanan dan kiri tempat duduknya, Karin bertemu dengan dua teman influencer yang dikenalnya. Mereka berbincang dan berfoto bersama sembari menunggu acara di mulai.

“Mana pacar lo Rin? Katanya doi mau ikut kemarin,” ujar Amanda.

“Nggak bisa ikut dia,” jawab Karin.

“Lho kenapa?” celetuk Tasya yang duduk di samping kiri Karin.

“Rey ada kerjaan photoshoot untuk wedding. Nah pas banget harinya bentrok sama project-nya Clairs,” terang Karin.

“Ohh gitu,” ujar Amanda diiringi anggukan.

Detik berikutnya seorang wanita dengan surai berwarna soft purple menaiki panggung dan membuka suaranya melalui microphone. “Hello everyone,” sapanya diiringi sebuah senyuman.

With me right here, Iona, master of ceremony of this event. First of all, thank you for coming to the Clairs Beauty party celebrtation. Clairs Beauty has to glad to make this huge project for support our campaign this year. For all Clairs Beauty team and our beloved beauty influencer that attend tonight, let's enjoy the party to celebrate our hard work together. Cheers all!” ujar sang MC sebagai penanda bahwa acara telah di mulai.

***

Gemerlap lampu dan live music dari atas panggung, membuat suasana pesta malam itu terasa sempurna. Acara baru dimulai satu jam yang lalu, tapi tidak ada satu pun di antara orang-orang yang hadir yang semangatnya terlihat surut. Berbeda dengan yang di rasakan oleh Karin saat ini. Tasya dan Amanda mengajaknya mendekati panggung musik untuk berdansa bersama, tapi Karin menahan tangan Tasya ketika tubuhnya terasa lunglai dan lemas.

“Sya, lo yakin minuman tadi nggak ada alkoholnya?” tanya Karin pada Tasya.

“Minuman infuse orange yang tadi? Yaa nggak ada lah, Rin. Gue kan juga minum sama kayak lo, gue mana bisa mabuk,” ujar Tasya.

Tasya pun memerhatikan air muka Karin yang tampak berbeda. “Rin, lo kenapa deh? Lo mabuk?”

“Kayaknya gue salah minum deh Sya,” balas Karin dengan suaranya seraknya. Hembusan napas Karin terdengar berat dan pandangannya mulai mengabur. Karin pun berusaha menghubungi Dara tapi sampai 6 kali pun Karin mendial nomor managernya, tidak satu pun yang di jawab.

“Karin, are you okay? Gue anter lo ke kamar ya?” saran Tasya. Karin hanya menjawab Tasnya dengan anggukan dan membiarkan Tasya menuntunnya. Saat mereka melewati kerumunan orang-orang, seorang perempuan dengan stelan seragam Clairs Beauty menawarkan sesuatu pada Karin.

“Kak, kita punya ruangan yang diperuntukkan bagi para influencer beristirahat. Biar saya antar Kak, silakan,” ujar perempuan itu.

Sebelum pergi bersama perempuan itu, Karin menitipkan pesan pada Tasya untuk memberitahu Dara ketika managernya itu mencari keberadaannya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

“Terima kasih ya Mbak,” ucap Karin sebelum kakinya melangkah memasuki kamar di hadapannya itu. Tim Clairs Beauty yang mengantarnya itu pun berlalu dari sana setelah memastikan karin masuk.

Karin melangkah lebih jauh ke dalam ruangan yang lebih besar dari dugaannya tersebut. Setahunya ini adalah tipe president suit room. Baiklah, sangat lebih dari cukup untuknya beristirahat sejenak di sini.

Karin meletakkan mini bag hitam yang dibawanya di sebuah sofa yang ada di ruang tamu. Sejauh apa lagi ia harus masuk untuk menemukan kamarnya? Kamar ini lebih pantas di sebut penthouse, dari pada sebuah kamar hotel.

Karin berniat melepaskan high heels yang terasa menyakiti kakinya, tapi kegiatannya itu tertahan kala matanya menangkap 2 buah botol minuman berakohol di lantai marmer kamar itu. Aroma alkohol yang menguar di dekatnya, membuat Karin seketika mengernyit karena merasakan pusing di kepalanya yang semakin menjadi-jadi.

Karin berusaha berdiri dengan tegak dan mengatur pernapasannya. Detik berikutnya, Karin mendengar derap langkah kaki, itu semakin mendekat padanya. Karin mendongakkan kepalanya dan bertemulah tatapannya dengan sosok bertubuh tinggi, mungkin ia hanya sebatas dada lelaki itu.

How you can get here? Who are ... you?” ucap suara bernada rendah itu. Tanpa perlu lebih dekat, Karin dapat menghirup aroma alkohol yang menguar dari lelaki itu.

Jantung Karin rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya dan punggungnya terasa memanas, kala lelaki itu menyipitkan matanya dan memandangi wajah Karin lamat-lamat.

Karin balas menatap paras oriental itu. Alis rapi, mata sipit, dan bibir penuhnya membuat Karin meneguk salivanya dengan susah payah. Karin berusaha menepis sesuatu yang mendorong dirinya dari dalam. Karin sangat mengerti sinyal yang diberikan tubuhnya itu, tapi sisa pikiran warasnya melarangnya untuk melakukannya.

“Aku yang harusnya tanya ke kamu. Kenapa ada laki-laki di ruangan ini? Kamar ini khusus untuk tamu Clairs Beauty,” racau Karin dengan matanya yang setengah terpejam.

“Hello, this is my room. Kamu yang masuk ke sini, dengan keadaan mabuk, wajah kamu merah semua,” ucap lelaki itu.

“Kamu yang mabuk,” Karin mengambil dua botol yang isinya telah habis di lantai, lalu ia menunjukkannya di depan wajah lelaki itu.

Lelaki itu mendekat padanya, hendak mengambil botol yang di pegang Karin. Otomatis Karin menjauh, melangkahkan kakinya mundur. Tanpa perkiraan yang matang, tubuhnya sudah menyentuh dinding kamar. Itu bertambah buruk saat lelaki itu memangkas jaraknya dengan Karin.

Karin tidak sadar ketika tangannya telah bebas dari botol itu. Karin memerhatikan paras tampan itu lagi dan turun pada bibir tebal yang melengkung indah, seperti dipahat tanpa celah.

God was happy when he created you,” cetus Karin. Lelaki itu memperhatikan senyum yang terukir di wajah Karin. Setelah mengucapkannya, kepala Karin saja jatuh ke lantai kalau saja pria itu tidak menahannya.

I'm dying to not looked at you,” ucap Karin ketika Aryan mengangkat wajahnya menggunakan satu tangan. Aryan Sakha, lelaki yang mengatakan kamar ini adalah miliknya, kini menelurusi wajah Karin menggunakan iris hitamnya.

I want to taste you so bad, but it's feels so wrong ... right?” Karin meracau lagi.

You want it?” Aryan mengusapkan tangannya pipi Karin. Ia dapat merasakan hawa panas di permukaan halus kulit itu.

Karin mengangguk lemah. Perlahan tapi pasti, tangannya pun bergerak menarik kerah kemeja hitam Aryan. Karin dapat merasakan deru napas Aryan di dekat rahangnya, jantung Karin rasanya ingin merosot ke perut ketika Aryan mengusapkan tangannya di sisi wajahnya.

Pertama kali dalam hidup Karin, seseorang tengah mencium bibirnya. Karin tidak dapat mendeskripsikan bagaimana rasanya, ia hanya berusaha membalas lumatan yang Aryan lakukan. Aryan mencumbunya dengan sangat lembut, hati-hati, seolah tahu ini yang pertama bagi Karin.

“Hei, are you okay?” tanya Aryan, ia melepas ciumannya dan memerhatikan Karin.

Karin menggeleng, ia merasa tidak baik-baik saja saat ini. “I'm feeling so hot and sweat- sweating*,” ucap Karin terbata-bata.

Just do it again, please,” pinta Karin. Ia menjinjitkan kakinya untuk meraih pundak Aryan, hingga kini tinggi keduanya menjadi sejajar. Karin memberikan kecupan halus di bibir Aryan, itu hanya sekilas, tapi sukses membuat Aryan membuncah.

You sure?” tanya Aryan begitu Karin mendekap tubuhnya. Seketika kehangatan pun sama-sama memeluk keduanya, itu mendatangkan jutaan kupu-kupu yang terasa menggelitik perut.

I'm sure,” jawab Karin sembari mengusap punggung Aryan dengan gerakan searah. Kegiatan Karin itu mendatangkan jutaan kupu-kupu yang terasa menggelitik perut Aryan.

Setelah ucapan Karin itu, Aryan meletakkan kedua lengannya di bawah paha Karin, ia menggendong Karin di depan tubuhnya. Sesampainya di kamar, Aryan membaringkan Karin di atas ranjang king size itu. Tangan Karin bergerak melepas dress hitamnya tapi Aryan menahannya.

Let me help you,” ucap Aryan yang ikut bergabung dengan Karin di atas kasur setelah melepas kemeja hitamnya. Pemandangan tubuh shirtless Aryan membuat Karin menggigit bibir bawahnya.

Beberapa detik kemudian, dress hitam Karin berhasil terlepas dari tubuhnya. Pipi Karin memerah sejadi-jadinya saat Aryan menyunggingkan senyumnya dan menatapnya lekat.

Aryan lekas menempatkan Karin untuk berada di bawahnya. Ia menjalarkan jemarinya untuk menyisir surai lembut Karin.

You're so beautiful,” ucap Aryan.

God was happy when he created you,” balas Karin. Aryan mengernyit mendengarnya, alisnya bersatu.

“Kamu udah bilang itu tadi,” ujar Aryan.

“Ohiya? Aku lupa. Di sini dingin banget, tapi panas juga.”

“Ada selimut. Kamu mau?” tanya Aryan. Karin menjawab Aryan dengan sebuah gelengan kepala. Aryan pun terlihat bingung, pria itu menanyakan apa yang Karin inginkan.

I want you,” ucap Karin dengan nada pelannya.

Aryan memerhatikan wajah Karin sesaat sebelum mencumbu bibir ranum itu lagi. “I want you too,” ucap Aryan.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

“Terima kasih ya Mbak,” ucap Karin sebelum kakinya melangkah memasuki kamar di hadapannya itu. Tim Clairs Beauty yang mengantarnya itu pun berlalu dari sana setelah memastikan karin masuk.

Karin melangkah lebih jauh ke dalam ruangan yang lebih besar dari dugaannya tersebut. Setahunya ini adalah tipe president suit room. Baiklah, sangat lebih dari cukup untuknya beristirahat sejenak di sini.

Karin meletakkan mini bag hitam yang dibawanya di sebuah sofa yang ada di ruang tamu. Sejauh apa lagi ia harus masuk untuk menemukan kamarnya? Kamar ini lebih pantas di sebut penthouse, dari pada sebuah kamar hotel.

Karin berniat melepaskan high heels yang terasa menyakiti kakinya, tapi kegiatannya itu tertahan kala matanya menangkap 2 buah botol minuman berakohol di lantai marmer kamar itu. Aroma alkohol yang menguar di dekatnya, membuat Karin seketika mengernyit karena merasakan pusing di kepalanya yang semakin menjadi-jadi.

Karin berusaha berdiri dengan tegak dan mengatur pernapasannya. Detik berikutnya, Karin mendengar derap langkah kaki, itu semakin mendekat padanya. Karin mendongakkan kepalanya dan bertemulah tatapannya dengan sosok bertubuh tinggi, mungkin ia hanya sebatas dada lelaki itu.

How you can get here? Who are ... you?” ucap suara bernada rendah itu. Tanpa perlu lebih dekat, Karin dapat menghirup aroma alkohol yang menguar dari lelaki itu.

Jantung Karin rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya dan punggungnya terasa memanas, kala lelaki itu menyipitkan matanya dan memandangi wajah Karin lamat-lamat.

Karin balas menatap paras oriental itu. Alis rapi, mata sipit, dan bibir penuhnya membuat Karin meneguk salivanya dengan susah payah. Karin berusaha menepis sesuatu yang mendorong dirinya dari dalam. Karin sangat mengerti sinyal yang diberikan tubuhnya itu, tapi sisa pikiran warasnya melarangnya untuk melakukannya.

“Aku yang harusnya tanya ke kamu. Kenapa ada laki-laki di ruangan ini? Kamar ini khusus untuk tamu Clairs Beauty,” racau Karin dengan matanya yang setengah terpejam.

“Hello, this is my room. Kamu yang masuk ke sini, dengan keadaan mabuk, wajah kamu merah semua,” ucap lelaki itu.

“Kamu yang mabuk,” Karin mengambil dua botol yang isinya telah habis di lantai, lalu ia menunjukkannya di depan wajah lelaki itu.

Lelaki itu mendekat padanya, hendak mengambil botol yang di pegang Karin. Otomatis Karin menjauh, melangkahkan kakinya mundur. Tanpa perkiraan yang matang, tubuhnya sudah menyentuh dinding kamar. Itu bertambah buruk saat lelaki itu memangkas jaraknya dengan Karin.

Karin tidak sadar ketika tangannya telah bebas dari botol itu. Karin memerhatikan paras tampan itu lagi dan turun pada bibir tebal yang melengkung indah, seperti dipahat tanpa celah.

God was happy when he created you,” cetus Karin. Lelaki itu memperhatikan senyum yang terukir di wajah Karin. Setelah mengucapkannya, kepala Karin saja jatuh ke lantai kalau saja pria itu tidak menahannya.

I'm dying to not looked at you,” ucap Karin ketika Aryan mengangkat wajahnya menggunakan satu tangan. Aryan Sakha, lelaki yang mengatakan kamar ini adalah miliknya, kini menelurusi wajah Karin menggunakan iris hitamnya.

I want to taste you so bad, but it's feels so wrong ... right?” Karin meracau lagi.

You want it?” Aryan mengusapkan tangannya pipi Karin. Ia dapat merasakan hawa panas di permukaan halus kulit itu.

Karin mengangguk lemah. Perlahan tapi pasti, tangannya pun bergerak menarik kerah kemeja hitam Aryan. Karin dapat merasakan deru napas Aryan di dekat rahangnya, jantung Karin rasanya ingin merosot ke perut ketika Aryan mengusap tangannya dengan gerakan sensual di sisi wajahnya.

Pertama kali dalam hidup Karin, seseorang tengah mencium bibirnya. Karin tidak dapat mendeskripsikan bagaimana rasanya, ia hanya berusaha membalas lumatan yang Aryan lakukan. Aryan mencumbunya dengan sangat lembut, hati-hati, seolah tahu ini yang pertama bagi Karin.

“Hei, are you okay?” tanya Aryan, ia melepas ciumannya dan memerhatikan Karin.

Karin menggeleng, ia merasa tidak baik-baik saja saat ini. “It feels so warm and I'm sweating,” ucap Karin terbata-bata.

Just do it again, please,” pinta Karin. Ia menjinjitkan kakinya untuk meraih pundak Aryan, hingga kini tinggi keduanya menjadi sejajar. Karin memberikan kecupan halus di bibir Aryan, itu hanya sekilas, tapi sukses membuat Aryan membuncah.

You sure?” tanya Aryan begitu Karin mendekap tubuhnya. Seketika kehangatan pun sama-sama memeluk keduanya, itu mendatangkan jutaan kupu-kupu yang terasa menggelitik perut.

I'm sure,” jawab Karin sembari mengusap punggung Aryan dengan gerakan searah. Kegiatan Karin itu mendatangkan jutaan kupu-kupu yang terasa menggelitik perut Aryan.

Setelah ucapan Karin itu, Aryan meletakkan kedua lengannya di bawah paha Karin, ia menggendong Karin di depan tubuhnya. Sesampainya di kamar, Aryan membaringkan Karin di atas ranjang king size itu. Tangan Karin bergerak melepas dress hitamnya tapi Aryan menahannya.

Let me help you,” ucap Aryan yang ikut bergabung dengan Karin di atas kasur setelah melepas kemeja hitamnya. Pemandangan tubuh shirtless Aryan membuat Karin menggigit bibir bawahnya.

Beberapa detik kemudian, dress hitam Karin berhasil terlepas dari tubuhnya. Pipi Karin memerah sejadi-jadinya saat Aryan menyunggingkan senyumnya dan menatapnya lekat.

Aryan lekas menempatkan Karin untuk berada di bawahnya. Ia menjalarkan jemarinya untuk menyisir surai lembut Karin.

“Kamu cantik sekali,” ucap Aryan.

God was happy when he created you,” balas Karin. Aryan mengernyit mendengarnya, alisnya bersatu.

“Kamu udah bilang itu tadi,” ujar Aryan.

“Ohiya? Aku lupa. Di sini dingin banget, tapi panas juga.”

“Ada selimut. Kamu mau?”

Karin menjawab Aryan dengan sebuah gelengan kepala. Aryan pun terlihat bingung, pria itu menanyakan apa yang Karin inginkan.

I want you,” ucap Karin dengan nada pelannya.

Aryan memerhatikan wajah Karin sesaat sebelum mencumbu bibir ranum itu lagi. “I want you too,” ucap Aryan.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷