alyadara

Kabar besar soal Aryan dan Karin telah sampai juga ke telinga Edi dan Felicia, opa dan omanya Aryan. Felicia menghubungi putranya itu, meminta Aryo untuk membatalkan keputusannya. Namun yang terjadi adalah Aryo tetap kekeuh pada pendiriannya.

Tidak ada yang berhasil membujuk Aryo untuk tidak memberikan pelajaran berharga pada putranya. Tiara, Nayna, maupun Felicia, ketiga perempuan yang dicintai Aryo itu, tidak dapat menggugurkan niatnya untuk mencabut fasilitas yang ia berikan pada Aryan.

Hampir semua fasilitas yang Aryan miliki telah disita, kini lelaki itu hanya memiliki tabungan sebesar 10% dari dana tak terbatas yang ia punya sebelumnya. Seolah belum cukup dengan itu, papanya juga memintanya untuk pergi dari rumah.

Aryo menahan Tiara dan Nayna yang hendak menyusul langkah Aryan. Sebagai seorang ibu, Tiara mana tega melihat anaknya pergi dari rumah.

“Sayang, Aryan sudah besar. Dia harus belajar berpikir dan mengambil keputusan yang tepat,” ujar Aryo pada Tiara.

Tiara pun melayangkan tatapannya pada Aryo, “Setidaknya jangan minta dia pergi dari rumah. Nggak ada seorang ibu yang bisa melihat anaknya pergi dan nggak punya tujuan,” ucap Tiara.

Hati Aryan yang mendengar penuturan mamanya itu, seketika terasa seperti dihantam kuat. Beberapa langkah lagi, kakinya hampir sampai di pintu rumah. Sebelum benar-benar pergi, Aryan memutuskan untuk memutar balik langkahnya dan berbicara pada mamanya.

Aryan menatap Tiara, “Mama nggak perlu khawatir sama Aryan. Aryan akan berusaha menyelesaikan masalah Aryan,” ujar Aryan.

Setelah itu Aryan mengalihkan tatapannya kepada Aryo, tapi papanya itu terlihat tidak sudi untuk sekedar melihatnya. “Pah, Aryan tau kata maaf nggak cukup untuk semua rasa kecewa yang Papa dan Mama. Tapi Aryan janji, Aryan hanya akan kembali ke rumah setelah membuat Papa dan Mama bangga,” tutur Aryan.

Usai mengatakannya, Aryan berbalik dan melangkahkan kakinya untuk pergi. Tiara dan Nayna menatap kepergian Aryan dengan tatapan terlukanya. Nayna menghampiri mamanya dan menenangkanya, ia membawa Tiara ke dalam pelukannya.

“Mah, percaya sama koko ya. Koko bakal balik kok. Nayna tau, suatu hari koko akan membuat Mama dan Papa bangga.”

***

Nayna meminta tolong pada pak Hamid, supir pribadinya, untuk tidak langsung mengantarnya pulang ke rumah. Fakultas Ekonomi dan Bisnis menjadi tujuan perempuan dengan surai legam sebahu itu. Setibanya di gedung bernuansa biru dan putih tersebut, Nayna segera melangkahkan kakinya untuk masuk.

Nayna menempelkan ponselnya di telinga setelah mendial nomor Leon. Tidak lama kemudian, Leon pun mengangkat telfonnya. “Halo, kak Leon. Iya kak, gue udah di lobi. Oke kak, makasih ya.” Sambungan pun di akhiri dan Nayna menunggu Leon yang katanya akan segera menghampirinya.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Nayna menunggu Leon datang. Pria jangkung dengan potongan rambut undercut itu bersedia membantunya untuk bertemu dengan seseorang yang ia ingin temui.

Nayna mengikuti langkah Leon dan akhirnya mereka sampai di kantin fakultas. Bertemulah Nayna dengan sosok perempuan berambut hitam legam sepunggung. Sosok itu merupakan seorang diceritakan oleh Aryan kemarin padanya. Karina Titania Roland, perempuan itu menatap Nayna dan lantas mengulaskan senyum tipisnya.

“Lo berdua silakan ngobrol. Gue tinggal dulu ya Nay, Rin,” ucap Leon. Nayna dan Karin pun mengangguki Leon. Sampai punggung Leon menjauh dari pandangan mereka, Nayna maupun Karin belum ada yang membuka suara.

“Hai, Kak Karin. Kenalin, aku Nayna, adiknya Kak Aryan,” Nayna mengulaskan senyum sopannya sembari mengulurkan tangannya di atas meja.

Karin segera membalas uluran tangan itu, “Karin.”

“Aku minta maaf udah ganggu waktu Kak Karin hari ini. Sebelumnya aku emang minta tolong kak Leon untuk ketemu sama Kakak. Aku udah tahu juga soal Kakak dan Kak Aryan.”

Kedua mata Karin nampak melebar kala mendengar penuturan Nayna. Karin terdiam, ia tidak tahu harus memberi respon apa. Sejak kejadian di lapangan tempo hari, Karin memang belum mendengar apapun lagi soal Aryan.

“Kak Aryan udah ngasih tau papa dan mama soal semuanya. Rencananya hari ini mama mau ketemu sama Kak Karin, tapi beliau berhalangan. Tiba-tiba tadi pagi mama sakit dan harus di infus. Udah dua hari yang lalu mama kurang semangat untuk makan ataupun bangun dari tempat tidur,” terang Nayna.

“Nayna, apa itu karena masalah ini?” tanya Karin.

“Papa dan mamaku memang shock banget waktu dengar kabar ini. Kak Aryan dapat pelajaran dari papaku. Orang tuaku bilang, mereka nggak ingin kehilangan nyawa kecil itu, Kak. Mereka sayang sama bayi itu. Kakak mau pertahanin, kan?” tanya Nayna. Sorot matanya memancarkan tatapan penuh harap.

Karin mengerti apa yang sedang coba disampaikan oleh Nayna. Karin pun mengangguk. “Kakak nggak pernah berniat untuk gugurin kandungan ini, Nayna,” papar Karin.

Nayna yang mendengar itu lantas mengulaskan senyumnya. “Kalau mama udah sembuh, Kakak mau ketemu sama mama? Mama bilang mau bicarain semuanya, Nayna belum tau itu apa, tapi yang jelas, kita nggak akan membiarkan Kakak jalanin ini sendiri,” jelas Nayna.

Karin terlihat bingung untuk memberikan jawaban. Perempuan itu berdeham, sebelum akhirnya memiliki keputusan untuk menjawab. Karin pun menganggukkan kepalanya tanda ia setuju untuk bertemu dengan mamanya Aryan. Ia dan Nayna pun bertukar nomor ponsel sebelum keduanya harus berpisah.

“Oke, kalau gitu, kita ngobrol lagi ya nanti Kak. If you need anything, just text me. I’m an aunty right now,” ucap Nayna.

Mendengar perkataan Nayna, membuat seulas senyum tersungging di bibir Karin. “Nay, makasih ya,” ucap Karin.

Nayna menampakkan cengiran manisnya, “Anytime, Kak. Aku siap di repotin sebagai aunty.”

Di tengah situasi tersebut, kehadiran Leon menginterupsi Nayna dan Karin. “Udah selesai ngobrolnya?” tanya Leon.

Kedua perempuan di hadapan Leon itu lantas mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Nayna sekali lagi berpamitan pada Karin. Namun sebelum Nayna benar-benar pergi, Karin menahannya, “Nay, aku titip ini ya.” Karin menyerahkan sebuah wadah berbentuk tube berukuran sedang dari tasnya ke tangan Nayna.

Nayna memerhatikan benda yang kini berada di tangannya. “Ini buat siapa Kak?” tanya Nayna saat mendapati benda tersebut adalah obat untuk luka lebam.

“Buat Aryan. Di olesin ke lukanya 3 kali sehari, biar cepat sembuh,” jelas Karin.

Nayna lantas memasukkan obat itu ke dalam tas kecilnya. “Sure. Aku pastiin koko pakai ini 3 kali sehari. Makasih banyak ya Kak,” ucap Nayna sembari tersenyum simpul.

“Nay, Leon, aku duluan ya. Aku ada kelas lima menit lagi,” pamit Karin setelah mengecek arloji di pergelangan tangannya. Nayna menganggukinya dan membiarkan Karin untuk berlalu lebih dulu.

“Ceritanya kamu jadi kurirnya Aryan sama Karin, gitu Nay?” tanya Leon sepeninggalan Karin dari sana.

“Ya gitu deh, Kak,” Nayna tertawa sekilas. “Habisnya aku tuh khawatir banget lho sama koko. Aku yakin, dua hari ini dia pasti makan makanan instan. Sok-sokan bisa tinggal mandiri, padahal mah, koko tuh manja banget. Kak Leon tau lah koko gimana,” ujar Nayna panjang lebar.

Tadi Nayna memang mengatakan pada Karin bahwa setelah dari sini, ia akan mengunjungi apartemen dimana saat ini Aryan tinggal. Nayna khawatir terhadap kakaknya itu, ia tidak yakin Aryan akan melakukan semuanya dengan benar.

Di dalam perjalanan Nayna menuju apartemen, gadis itu kembali melihat obat luka lebam yang di berikan Karin untuk Aryan. Hal kecil, tapi kok rasanya dalam sekali.

Benda ini bukan untuk Nayna, ia hanya kurir, kalau kata Leon. Namun Nayna saja berhasil tersentuh, hingga sebuah senyum cerah terukir sempurna di wajahnya. Melalui benda kecil tersebut, Nayna yakin, kakaknya yang berhati baja itu akan tersentuh. Kali ini, Nayna bahkan berani bertaruh dengan dirinya sendiri.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Kabar besar soal Aryan dan Karin telah sampai juga ke telinga Edi dan Felicia, opa dan omanya Aryan. Felicia menghubungi putranya itu, meminta Aryo untuk membatalkan keputusannya. Namun yang terjadi adalah Aryo tetap kekeuh pada pendiriannya.

Tidak ada yang berhasil membujuk Aryo untuk tidak memberikan pelajaran berharga pada putranya. Tiara, Nayna, maupun Felicia, ketiga perempuan yang dicintai Aryo itu, tidak dapat menggugurkan niatnya untuk mencabut fasilitas yang ia berikan pada Aryan.

Hampir semua fasilitas yang Aryan miliki telah disita, kini lelaki itu hanya memiliki tabungan sebesar 10% dari dana tak terbatas yang ia punya sebelumnya. Seolah belum cukup dengan itu, papanya juga memintanya untuk pergi dari rumah.

Aryo menahan Tiara dan Nayna yang hendak menyusul langkah Aryan. Sebagai seorang ibu, Tiara mana tega melihat anaknya pergi dari rumah.

“Sayang, Aryan sudah besar. Dia harus belajar berpikir dan mengambil keputusan yang tepat,” ujar Aryo pada Tiara.

Tiara pun melayangkan tatapannya pada Aryo, “Setidaknya jangan minta dia pergi dari rumah. Nggak ada seorang ibu yang bisa melihat anaknya pergi dan nggak punya tujuan,” ucap Tiara.

Hati Aryan yang mendengar penuturan mamanya itu, seketika terasa seperti dihantam kuat. Beberapa langkah lagi, kakinya hampir sampai di pintu rumah. Sebelum benar-benar pergi, Aryan memutuskan untuk memutar balik langkahnya dan berbicara pada mamanya.

Aryan menatap Tiara, “Mama nggak perlu khawatir sama Aryan. Aryan akan berusaha menyelesaikan masalah Aryan,” ujar Aryan.

Setelah itu Aryan mengalihkan tatapannya kepada Aryo, tapi papanya itu terlihat tidak sudi untuk sekedar melihatnya. “Pah, Aryan tau kata maaf nggak cukup untuk semua rasa kecewa yang Papa dan Mama. Tapi Aryan janji, Aryan hanya akan kembali ke rumah setelah membuat Papa dan Mama bangga,” tutur Aryan.

Usai mengatakannya, Aryan berbalik dan melangkahkan kakinya untuk pergi. Tiara dan Nayna menatap kepergian Aryan dengan tatapan terlukanya. Nayna menghampiri mamanya dan menenangkanya, ia membawa Tiara ke dalam pelukannya.

“Mah, percaya sama Koko ya. Koko bakal balik kok. Nayna tau, suatu hari Koko akan membuat Mama dan Papa bangga.”

***

Nayna meminta tolong pada pak Hamid, supir pribadinya, untuk tidak langsung mengantarnya pulang ke rumah. Fakultas Ekonomi dan Bisnis menjadi tujuan perempuan dengan surai legam sebahu itu. Setibanya di gedung bernuansa biru dan putih tersebut, Nayna segera melangkahkan kakinya untuk masuk.

Nayna menempelkan ponselnya di telinga setelah mendial nomor Leon. Tidak lama kemudian, Leon pun mengangkat telfonnya. “Halo, Kak Leon. Iya Kak, gue udah di lobi. Oke Kak, makasih ya.” Sambungan pun di akhiri dan Nayna menunggu Leon yang katanya akan segera menghampirinya.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Nayna menunggu Leon datang. Pria jangkung dengan potongan rambut undercut itu bersedia membantunya untuk bertemu dengan seseorang yang ia ingin temui.

Nayna mengikuti langkah Leon dan akhirnya mereka sampai di kantin fakultas. Bertemulah Nayna dengan sosok perempuan berambut hitam legam sepunggung. Sosok itu merupakan seorang diceritakan oleh Aryan kemarin padanya. Karina Titania Roland, perempuan itu menatap Nayna dan lantas mengulaskan senyum tipisnya.

“Lo berdua silakan ngobrol. Gue tinggal dulu ya Nay, Rin,” ucap Leon. Nayna dan Karin pun mengangguki Leon. Sampai punggung Leon menjauh dari pandangan mereka, Nayna maupun Karin belum ada yang membuka suara.

“Hai, Kak Karin. Kenalin, aku Nayna, adiknya Kak Aryan,” Nayna mengulaskan senyum sopannya sembari mengulurkan tangannya di atas meja.

Karin segera membalas uluran tangan itu, “Karin,” ucap Karin.

“Aku minta maaf udah ganggu waktu Kak Karin hari ini. Sebelumnya aku emang minta tolong kak Leon untuk ketemu sama Kakak. Aku udah tahu juga soal Kakak dan Kak Aryan.”

Kedua mata Karin nampak melebar kala mendengar penuturan Nayna. Karin terdiam, ia tidak tahu harus memberi respon apa. Sejak kejadian di lapangan tempo hari, Karin memang belum mendengar apapun lagi soal Aryan.

“Kak Aryan udah ngasih tau papa dan mama soal semuanya. Rencananya hari ini mama mau ketemu sama Kak Karin, tapi beliau berhalangan. Tiba-tiba tadi pagi mama sakit dan harus di infus. Udah dua hari yang lalu mama kurang semangat untuk makan ataupun bangun dari tempat tidur,” terang Nayna.

“Nayna, apa itu karena masalah ini?” tanya Karin.

“Papa dan mamaku memang shock banget waktu dengar kabar ini. Kak Aryan dapat pelajaran dari papaku. Orang tuaku bilang, mereka nggak ingin kehilangan nyawa kecil itu, Kak. Mereka sayang sama bayi itu. Kakak mau pertahanin, kan?” tanya Nayna. Sorot matanya memancarkan tatapan penuh harap.

Karin mengerti apa yang sedang coba disampaikan oleh Nayna. Karin pun mengangguk. “Kakak nggak pernah berniat untuk gugurin kandungan ini, Nayna,” papar Karin.

Nayna yang mendengar itu lantas mengulaskan senyumnya. “Kalau mama udah sembuh, Kakak mau ketemu sama mama? Mama bilang mau bicarain semuanya, Nayna belum tau itu apa, tapi yang jelas, kita nggak akan membiarkan Kakak jalanin ini sendiri,” jelas Nayna.

Karin nampak bingung memberikan jawabannya. Perempuan itu berdeham, sebelum akhirnya memiliki keputusan untuk menjawab. Detik berikutnya, Karin pun menganggukkan kepalanya. Ia dan Nayna pun bertukar nomor ponsel sebelum keduanya harus berpisah.

“Oke, kalau gitu, kita ngobrol lagi ya nanti Kak. If you need anything, just text me. I’m an aunty right now,” ucap Nayna.

Mendengar perkataan Nayna, membuat seulas senyum tersungging di bibir Karin. “Nay, makasih ya,” ucap Karin.

Nayna menampakkan cengiran manisnya, “Anytime, Kak. Aku siap di repotin sebagai aunty.”

Di tengah situasi tersebut, kehadiran Leon menginterupsi Nayna dan Karin. “Udah selesai ngobrolnya?” tanya Leon.

Kedua perempuan di hadapan Leon itu lantas mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Nayna sekali lagi berpamitan pada Karin. Namun sebelum Nayna benar-benar pergi, Karin menahannya, “Nay, aku titip ini ya.” Karin menyerahkan sebuah tube berukuran sedang dari tasnya ke tangan Nayna.

Nayna memerhatikan benda yang kini berada di tangannya. “Ini buat siapa Kak?” tanya Nayna saat mendapati benda tersebut adalah obat untuk luka lebam.

“Buat Aryan. Di olesin ke lukanya 3 kali sehari, biar cepet sembuh,” jelas Karin.

Nayna lantas memasukkan obat itu ke tas kecilnya. “Sure. Aku pastiin koko pakai ini 3 kali sehari. Makasih banyak ya Kak,” ucap Nayna sembari tersenyum simpul.

“Nay, Leon, aku duluan ya. Aku ada kelas lima menit lagi,” pamit Karin setelah mengecek arloji di pergelangan tangannya. Nayna menganggukinya dan membiarkan Karin untuk berlalu lebih dulu.

“Ceritanya kamu jadi kurirnya Aryan sama Karin, gitu Nay?” tanya Leon sepeninggalan Karin dari sana.

As you see, Kak. Habisnya aku tuh khawatir banget lho sama koko. Aku yakin, dua hari ini dia pasti makan makanan instan. Sok-sokan bisa tinggal mandiri, padahal mah, koko tuh manja banget. Kak Leon tau lah koko gimana,” ujar Nayna panjang lebar.

Tadi Nayna memang mengatakan pada Karin bahwa setelah dari sini, ia akan mengunjungi apartemen dimana saat ini Aryan tinggal. Nayna khawatir terhadap kakaknya itu, ia tidak yakin Aryan akan melakukan semuanya dengan benar.

Di dalam perjalanan Nayna menuju apartemen, gadis itu melihat lagi obat luka lebam yang di berikan Karin kepadanya. Hal kecil, tapi kok rasanya dalam sekali.

Benda ini bukan untuknya, ia hanya kurir, kalau kata Leon. Namun Nayna saja berhasil tersentuh, hingga sebuah senyum cerah terukir sempurna di wajahnya. Melalui benda kecil tersebut, Nayna yakin, kakaknya yang berhati baja itu akan tersentuh. Kali ini, Nayna bahkan berani bertaruh dengan dirinya sendiri.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dua hari sudah berlalu sejak kejadian Rey memukul Aryan di lapangan. Gosip tentang Aryan dan Karin yang memiliki hubungan pun mulai santer terdengar di seantero fakultas. Pekerjaan Karin yang notabenenya adalah public figure, membuat berita itu tersebar cepat di media sosial. Karin tidak tahu apa yang akan bertambah buruk lagi dari itu, yang jelas cepat atau lambat, ia yakin, fakta bahwa dirinya hamil akan segera terungkap.

Sepulang kuliah sore ini, Karin memutuskan memberi tahu Syerin dan Vanessa mengenai kehamilannya. Tidak mudah bagi Karin untuk menyampaikan kabar besar ini. Kakak dan ibu sambungnya itu telah begitu menyayangi pada Karin dan Kavin, merawat mereka dengan sepenuh hati. Bagaimana bisa Karin melemparkan bom kepada mereka?

“Kakak, Mami. Karin mau menyampaikan sesuatu,” ucap Karin. Perempuan itu menghela napasnya yang terdengar berat, “Kabar ini akan mengecewakan Kakak dan Mami. Karin minta maaf.” Karin berusaha menatap mata Syerin dan Vanessa, meskipun saat ini itu terasa begitu sulit dilakukan.

Hanya dengan satu kalimat yang barusan diutarakan oleh Karin, sudah cukup untuk menjelaskan situasi yang tengah terjadi. Hampir mirip dengan reaksi Dara waktu Karin memberitahu bahwa dirinya hamil, Syerin dan Vanessa seketika bungkam. Dari tatapan matanya, Karin tahu bahwa kakak dan mamanya itu sangat kecewa terhadapnya.

Beberapa detik berlalu, Syerin pun mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. Syerin menatap adik sambungnya itu tepat di manik matanya, “Siapa ayahnya? Kamu kasih tau sama Kakak sekarang,” tutur Syerin.

“Dia kakak tingkat di jurusan Karin, namanya Aryan,” jawab Karin.

Karin mendapati air mata Syerin mengalir membasahi pipinya. Baru pertama kali Karin melihat kakaknya itu menangis karena kecewa terhadapnya.

Syerin beralih menatap Vanessa. “Mam, Syerin gagal Mam,” lirih Syerin. Vanessa pun bergerak mendekap Syerin ke pelukannya, kedua wanita yang begitu Karin sayangi itu menangis bersama karena apa yang telah ia lakukan.

“Syerin gagal menjaga adik Syerin. Papi pasti kecewa Mam,” ucap Syerin lagi.

Saat tangisnya berangsur reda, Syerin berusaha mengatur napasnya dan kembali bertanya pada Karin. “Karin, kamu udah tau apa yang harus kamu lakukan?” tanya Syerin.

“Saat ini kamu punya tanggung jawab yang besar. Jadi orang tua itu nggak mudah, Karin,” sambung Syerin.

Karin menatap Syerin dan Vaness bergantian. “Mami, Kakak. Selama ini ... kalian udah ngasih yang terbaik buat Karin dan Kavin. Karin sayang banget sama kalian. Mami sama Kakak nggak pernah gagal mendidik Karin. Karin nggak membenarkan kejadian ini, tapi apapun itu, Karin nggak ingin kehilangan anak ini. Karin mau mempertahankannya,” tutur Karin panjang lebar.

Syerin menatap adiknya dengan tatapan tidak percaya. Namun tidak berapa lama kemudian, wanita berusia 30 tahun itu membawa tubuh Karin ke dalam dekapannya. Karin balas memeluk kakaknya itu, ia pun mendengar Syerin terisak pilu sambil mengeratnya pelukannya. Kejadian ini telah membuat Syerin hancur, tapi ia tidak ingin adiknya lebih hancur lagi jika ia tidak merangkulnya.

Syerin perlahan-lahan mengurai pelukannya, ia menatap Karin dengan tatapan sayangnya, “Karin, Kakak nggak akan biarin kamu hadapin semua ini sendiri. Ingat ya, Kakak akan selalu ada buat kamu.”

***

Di antara papa dan mamanya, Aryan lebih dulu memberitahu adiknya soal berita besar dua hari yang lalu. Nayna telah tahu apa yang terjadi antara Aryan dan Karin. Nayna mengetahui semuanya soal perempuan yang saat ini tengah mengandung anak kakaknya. Wah ini rumit sekali, kata Nayna.

Nayna kini berada di kamar Aryan, sedang mondar-mandir layaknya setrikaan. Perempuan dengan tinggi 165 centi itu ikutan pusing memikirkan bagaimana nasib kakaknya jika orang tua mereka nanti tahu soal berita besar ini.

“Ko, lo kok santai banget sih,” cetus Nayna. Gadis itu menghampiri Aryan dan menarik lengannya agar pria bertubuh jangkung itu bangun dari kasurnya.

“Lo jadi ngasih tau papa dan mama hari ini, kan?” tanya Nayna.

“Iya, jadi,” jawab Aryan seadanya.

“Mending lo siapin diri dari sekarang deh, dikit lagi papa pulang. Gue nggak nyangka sih lo mainnya jauh banget, Ko. Kok bisa sampai kebablasan sih? Lo nggak pake pengaman emangnya?” cerocos Nayna panjang lebar.

“Malam itu gue hangover, and everything is just happened,” terang Aryan.

Nayna menatap Aryan sambil menyipitkan matanya, “Ohh ... gitu. Jadi maksud lo ini yang pertama buat lo?Ternyata keren juga yaa Koko gue,” Nayna tersenyum sambil menepuk-nepuk lengan Aryan. “Gue nggak tahu papa dan mama akan ngasih reaksi apa pas tau kabar ini. Yang jelas, lo siap-siap aja sama serangan papa. You know your daddy so well, right?”

***

Aryan jelas sangat mengetahui watak papanya seperti apa. Namun apapun resikonya, ia akan siap menanggung itu. Ia harus memberitahu apa yang terjadi, sekalipun harus mendapat pukulan untuk yang pertama kali dari tangan papanya secara langsung, Aryan sudah siap mendapatkannya.

“Pah, Mah, apa yang barusan Aryan sampaikan semuanya adalah benar,” ucap Aryan ketika Aryo dan Tiara masih terdiam. Kedua orang tuanya itu belum menunjukkan tanda-tanda akan merespon perkataannya. Aryan telah mengatakan semuanya, soal dirinya dan Karin yang kini memiliki tanggung jawab besar bersama. Bukan main-main tanggung jawab tersebut, karena menjadi orang tua itu adalah urusan seumur hidup.

Aryan duduk di sofa yang berjarak beberapa langkah dari papa dan mamanya. Ruang keluarga yang luas itu dalam sekejap terasa begitu sunyi, bahkan Aryan dapat mendengar hembusan napasnya sendiri.

Saat Aryan mengarahkan pandangannya yang semula menatap lantai marmer dan kini beralih pada Aryo di hadapannya, Aryan mendapati papanya itu melayangkan tatapan tajam ke arahnya. Sorot itu terasa dapat dapat menghunus jantung Aryan sampai ke yang paling dalam. Papanya terlihat menggulung kedua lengan kemejanya sampai sebatas siku, lalu berjalan dengan langkah lebar untuk menghampirinya.

“Apa perlu kamu kasih tau Papa dan Mama soal perbuatan kamu itu?” tanya Aryo dengan nada sarkasnya.

Aryo terlihat menghela napasnya dan menghembuskannya dengan kasar, “Papa pikir, karena kamu sudah bisa berbuat, maka kamu bisa menyelesaikannya sendiri,” ujar Aryo lagi. Buku-buku tangannya tampak memutih karena mengepal terlalu kuat. Aryo pun mengangkat lengannya dan hendak mengarahkannya pada Aryan. Seolah dapat memprediksi apa yang akan terjadi, Tiara dengan sigap menghampiri Aryo dan segera menahan lengannya. Tiara mengusap lengan suaminya itu, meminta Aryo untuk meredam emosinya.

“Aryan, apa rencana kamu setelah ini? Kamu udah tau apa yang harus kamu lakukan?” tanya Tiara pada putra sulungnya itu.

Aryan pun mendapati tatapan kecewa dari wanita yang sangat dicintainya itu, “I don't know yet, Mom. I'm still think about that,” jawab Aryan dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Kedua lutut Tiara rasanya lemas mendengar kalimat yang dilontarkan Aryan. Pegangan tangannya pada lengan Aryo pun mengendur, kedua mata indahnya itu nampak berkaca-kaca.

Aryan melihat Aryo mendekat padanya dan hendak melayangkan tamparan ke wajahnya, tapi sampai lima detik pun berlalu, Aryan tidak merasakan rasa sakitnya yang diprediksinya.

Aryan pun mendapati Nayna tengah melindunginya. Adiknya itu menjadi alasan mengapa papanya mengurungkan niat untuk memukul Aryan.

“Pah, jangan pukul Koko. I'm begging you,” ucap Nayna. Gadis berusia 18 tahun itu lantas menatap Aryo dengan pandangan memohonnya.

“Koko sama kak Karin dijebak, Pah, Mah. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Koko,” jelas Nayna.

“Kamu tau itu dari mana Nayna?” tanya Aryo.

Nayna lantas melayangkan tatapannya pada Aryan dan meminta kakaknya itu untuk menjelaskan.

Aryan berdeham sebelum akhirnya ia mengutarakannya, “Aryan dan Karin sepakat untuk tidak mencari tau soal itu, Pah, Mah. Kalau sampai skandal ini tersebar, kemungkinan karir dan masa depan Karin yang jadi taruhannya,” tutur Aryan.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Kelas terakhir Rey hari ini berakhir dengan mata kuliah Akuntansi Keuangan Menengah, selesai sekitar pukul 7 malam. Rey bergegas keluar dan memakirkan motornya di parkiran gedung A, dimana parkiran itu khusus untuk jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Setelah melepas helm full face-nya, Rey mendapati ponsel di saku celananya berdering. Ia meraih benda itu dan mendapati caller ID di layarnya terpampang nama Karina🖤. Rey mengabaikan panggilan itu, sampai layarnya kembali menggelap, pertanda bahwa sambungannya telah terputus.

Rey melangkahkan kakinya menuju lapangan yang terletak di dekat gedung jurusan Manajemen. Sesampainya Rey di lapangan yang cukup luas itu, matanya langsung memindai sekitar untuk menemukan seseorang yang sedang dicarinya.

Begitu menangkap sosok bertubuh tinggi yang terlihat di bagian selatan lapangan, Rey segera menghampiri dengan langkah kakinya yang lebar. Rupanya Aryan Sakha sedang bersama Shakina di sana. Rey pun menghampiri Aryan dan segera mengatakan bahwa dirinya ingin bicara berdua dengan lelaki itu.

“Kalau lo mau ngomong sama cowok gue, artinya lo ngomong sama gue juga. Ngomong di sini aja,” ujar Shakina dengan tampang lempengnya.

Suasana lapangan tidak terlalu ramai malam ini, hanya terdapat beberapa mahasiswa yang sedang bermain basket dengan santai.

“Oke. Gue akan ngomong sama lo di sini,” putus Rey.

“Lo bisa ngomong sekarang,” ujar Aryan mempersilakan Rey untuk mulai bicara.

Aryan, Shakina, dan Rey kini saling berhadapan. Rey berdeham, lalu ia menyunggingkan senyum smirk-nya sebelum berujar, “Pacar lo belum tahu apa-apa kayaknya. Lo emang nggak niat ngasih tau dia soal kelakuan lo di belakangnya atau gimana?” ujar Rey.

Shakina melayangkan tatapan tidak sukanya pada Rey, “Maksud lo apa bilang kayak gitu?”

“Kina, biarin dia ngomong dulu sampai selesai,” ucap Aryan menahan Kina yang hendak meminta Rey enyah dari hadapan mereka.

Rey pun mengarahkan tatapannya pada Shakina, “Lo tau? Cowok lo ini udah menghancurkan masa depan dan mimpi seseorang.” Sebelum kembali berucap, Rey melayangkan tatapan nyalangnya pada Aryan, “You're not even allowed to hurts someone I love. But you did it. Lo harus satu hal Aryan, gue nggak akan biarin lo melihat Karina lagi.”

“Maksud lo apa ngomong kayak gitu?” Aryan balas menatap Rey tidak kalah tajam.

“Buah memang jatuh nggak jauh dari pohonnya. You are same as your father did in past. Lo nggak bisa menghapus jejak digital yang ada di internet. Keluarga lo punya nama besar, selalu berusaha buat bikin citra yang baik. Tapi keturunannya sendiri yang akan ngerusak itu,” ujar Rey.

Mendengar ucapan Rey barusan, membuat emosi Aryan seketika tersulut. Rahang tegas pria itu nampak mengeras. Dengan langkah lebarnya, Aryan pun menyusul langkah Rey yang sudah berbalik pergi dari sana. Shakina tidak dapat menahan Aryan yang kini tengah mengejar Rey.

Langkah Aryan membawanya bertemu dengan Karina di ujung lapangan. Rey juga terlihat terkejut mendapati bahwa Karin berada di sana.

“Rey, aku udah bilang sama kamu. Kamu nggak perlu ke sini,” ujar Karin.

“Karin, aku cuma mau ngasih dia pelajaran,” ucap Rey.

“Seharusnya gue yang ngasih lo pelajaran. You talked about my family and you're not allowed for that,” desis Aryan.

Mendengar ucapan Aryan itu, air muka Rey seketika berubah dan lelaki itu terlihat menahan amarahnya. Ia berbalik menghadap Aryan dan tidak segan-segan melayangkan bogem mentahnya ke wajah lelaki itu. Tidak cukup satu kali hantaman, Rey kembali memukul Aryan di sisi wajahnya yang lain.

“Rey, stop!!” seru Karin berusaha menghentikan aksi Rey. Sampai keempat kalinya Rey akan melayangkan tinjunya, Karin memosisikan dirinya untuk menghalangi Rey kembali memukul Aryan.

“Rey, stop. Please,” ucap Karin.

Rey menatap Karin dengan tatapan tidak percayanya. Rey mundur beberapa langkah. Rey pun meminta semua orang yang tersisa di lapangan untuk pergi sekarang juga. Ia mengatakan bahwa ia masih memiliki urusan dengan Aryan dan tidak ada yang boleh mengetahuinya selain yang berkepentingan.

“Lo benar-benar mau tau apa alasan gue mukul lo?” sarkas Rey pada Aryan.

“Karin, you need to stay away from him. Aku masih ada urusan sama dia,” titah Rey.

Beberapa detik kemudian, Aryan menatap Rey dengan tatapan nyalangnya. Lelaki itu menghampiri Rey dengan langkah lebarnya dan melayangkan satu tinjuan keras ke wajah Rey.

“Hey, you both need to stop!” seru Shakina. Shakina berusaha menjauhkan Aryan dari Rey dan Karin berusaha menarik Rey dari sana.

Rey mengacungkan telunjuknya ke arah Aryan, “Pukulan yang pertama, karena lo udah nyakitin Karin. Pukulan yang kedua, karena lo udah menghancurkan masa depannya. Pukulan ketiga, karena lo udah buat Karin mengandung anak lo,” tukas Rey.

Hening. Perkataan Rey tersebut sukses membuat ketiga orang di hadapannya itu kini bungkam. Rey meraih tangan Karin, ia menggenggam jemarinya dan membawa Karin untuk pergi dari sana.

Belum selesai dengan semua itu, Shakina menghampiri Karin dan menahan langkahnya. Perempuan itu mengangkat tangannya dan hampir saja melayangkan tamparan ke pipi Karin, tapi Aryan dengan sigap menahannya.

“Kina, you can't touch her,” ucap Aryan.

Shakina berusaha melepaskan genggaman Aryan di pergelangan tangannya, “Aryan, dia pantas buat dapetin itu. Dia udah berani-berani nyentuh yang bukan miliknya,” ujar Shakina.

Karin bergerak untuk menghela tangan Rey yang menggenggam tangannya. Setelah melepas genggaman Rey itu, Karin berjalan menghampiri Aryan dan Shakina. “You've better watched what you're talking about. I never teased to your boyfriend,” tegas Karin sambil menatap Shakina tepat di matanya.

Shakina lantas menyuggingkan senyum smirk-nya. “Jadi maksud lo pacar gue yang godain lo, gitu? *Oke, anything what you said. Jadi lo bisa gugurin kandungan itu kan. Then the problem is gonna be solve.”

Karin melayangkan tatapan nyalangnya pada Shakina. Detik berikutnya, sebuah senyum tipis terulas di bibirnya. Karin menatap Aryan sekilas sebelum kembali menatap Shakina dengan kilatan amarah di matanya. “Gue nggak akan gugurin darah daging gue sendiri. Apa yang keluar dari mulut lo, udah mencerminkan gimana diri lo, Shakina,” tukas Karin sebelum berbalik dan melangkahkan kakinya dari sana.

Saat berpapasan dengan Rey, Karin menghentikan langkahnya. Rey mendapati kedua mata indah Karin yang biasanya dipenuhi sorot bahagia, kali ini tampak berkaca-kaca. Rey mengarahkan tangannya untuk mengusap pipi Karin sejenak, lalu detik berikutnya ia menggenggam tangan Karin dengan lembut, membawanya untuk pergi dari sana bersamanya.

Sepeninggalan Karin dan Rey, beribu-ribu rasa bersalah kini menyerang Aryan. Seperti sebuah bom yang dilemparkan padanya, kejadian besar hari ini telah begitu menghancurkannya. Kini ia memiliki tanggung jawab besar yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan terjadi di dalam hidupnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

1 bulan kemudian

Karin baru saja meletakkan sepatunya di rak sepatu dekat pintu apartemennya begitu Molly berlari menuju ke arahnya. Karin menorehkan senyumnya dan langsung mengangkat anjing poodle putih itu ke gendongannya.

“Hey, Molly. Kamu kangen sama aku yaa?” ujar Karin yang lantas dibalas gonggongan kecil oleh Molly. Tidak lama kemudian, Karin beranjak menurunkan Molly karena ia harus menaruh barang yang dibawanya dan segera mencuci kaki serta tangannya.

Karin berjalan menuju dapur dan menemukan sosok wanita paruh baya yang selama ini telah membantu membersihkan apartemennya. Mbak Fitri merupakan asisten di rumah kakaknya yang 3 kali seminggu datang ke apartemennya untuk mencuci dan menyetrika pakaian. Sisa pekerjaan rumah lainnya Karin masih bisa menghandle-nya sendiri.

“Non Karin, barusan Mbak masak ayam asam manis. Bu Syerin yang titip, katanya minta tolong masakin buat Non Karin,” ujar Mbak Fitri.

Karin selesai mencuci tangannya di wastafel dan segera berjalan menuju meja makan. Di sana ia melihat hidangan ayam asam manis yang nampak begitu menggugah selera.

“Makasih ya Mbak udah dimasakin,” ujar Karin pada Mbak Fitri.

“Sama-sama Non. Cucian udah Mbak jemur, baju Non juga udah di setrika. Jaga kesehatan ya Non, ibu takut Non sakit. Kemarin ibu bilang, Non sempat sakit ya karena kecapean kerja. Ibu khawatir lho Non,” terang mbak Fitri.

“Aku cuma nggak enak badan dikit kok. Nanti aku makan masakan Mbak, minum obat, terus tidur. Pasti mendingan habis itu,” ucap Karin diiringi sebuah senyum di wajahnya.

Mbak Fitri pun mengangguk mengiyakan. “Kalau perlu apa-apa, telfon Mbak aja ya Non. Jangan terlalu forsir kerja, Mbak nggak tega lho liat Non sakit, mana sendirian tinggal di sini.”

“Iya Mbak, tenang aja. Kalau masih sakit, besok Karin nginep di rumah kakak deh,” putus Karin. Ia memutuskan untuk menyantap makanannya karena setelah ini berniat untuk minum obat dan pergi tidur.

Mbak Fitri memastikan Karin melahap makanannya dan meminum obat sakit kepalanya sebelum wanita itu akhirnya pamit pulang. Sepeninggalan Mbak Fitri, Karin pun berbersih diri sebelum beranjak ke kamarnya untuk tidur siang. Ia berharap ketika bangun nanti kondisinya akan jauh lebih baik.

Kondisi Karin 3 hari belakangan ini memang kurang baik. Terdapat banyak hal yang harus ia kerjakan di luar kewajibannya sebagai mahasiswi, yakni pekerjaannya sebagai beauty influencer dan juga model. Kepadatan kegiatan itu membuat Karin drop dan berakhir hari ini ia izin pulang dari kampus lebih cepat.

Karin mengecek ponselnya sebelum memejamkan mata. Tiga pesan teratasnya adalah dari Dara, kak Syerin, dan grup 'My Babes' yang diisi olehnya, Jihan, dan Naya. Karin membalas pesan dari Dara dan kak Syerin lebih dulu dan terakhir ia membalas pesan dari grup bersama dua sahabatnya itu.

Chat 1

Chat 2

Selesai Karin membalas pesan di grup itu, tiba-tiba ia kepikiran untuk mengecek tanggal di kalender ponselnya. Angka di layar ponselnya pun menunjukkan angka 26. Artinya sudah 2 minggu lebih dari jadwal datang bulannya, tapi Karin belum mendapatkannya. Karin mencoba menepis pemikiran yang tiba-tiba saja singgah di benaknya. Namun rasa penasarannya membuatnya ingin mengeceknya sendiri dan memastikan bahwa pemikirannya tersebut tidaklah benar.

***

“Makasih ya Mas,” ujar Karin pada seorang kurir ojek online yang mengantar pesanannya di depan pintu apartemennya. Karin mendapatkan sebuah bungkusan plastik berlogo apotek dan segera membawanya ke dalam. Ia menutup pintu apartemennya dan melangkah menuju kamar mandi.

Karin merenungkannya. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Akhirnya sebelum berangkat ke kampus pagi ini, Karin memutuskan untuk mengeceknya. Karin menatap benda di tangannya itu sejenak, lalu ia membuka bungkusan yang pertama. Itu adalah sebuah test pack digital berwarna biru.

Karin tidak hanya membeli satu jenis test pack, tapi membeli model lainnya. Karin ingin memastikan bahwa hasilnya akurat, maka ia memerlukan beberapa merek dan jenis yang berbeda.

Karin menunggu hasilnya setelah melakukan langkah demi langkah untuk menggunakan benda itu sesuai dengan petunjuk yang tertera. Di sofa ruang tamunya, Karin menunggu dengan cemas selama kurang lebih 10 menit.

Setelah alarm di ponselnya berbunyi, Karin membalikkan posisi tangannya yang menggenggam tiga buah test pack berbeda. Dengan perlahan, Karin membuka matanya untuk melihat hasil yang tertera di sana.

5 detik, 10 detik, hingga 20 detik pun, hasil itu tidak berubah. Hasilnya tetap lah sama. Pregnant. Satu kata pada test pack digital itu membuat Karin kehilangan semua kata-katanya. Dua benda lainnya menunjukkan dua garis merah yang menandakan bahwa dirinya positif hamil. Karin bergerak mengambil satu buah lagi yang belum ia buka bungkusnya. Meskipun kemungkinannya kecil, Karin tetap berharap bahwa 3 benda itu salah dan yang 1 tersisa adalah benar.

Karin kembali ke kamar mandi dan memasukkan benda itu ke dalam gelas yang telah berisi air urinnya. Sekitar 10 menit berlalu, Karin mendapati dua garis merah di test pack itu. Tangan Karin yang masih memegang benda-benda itu pun bergetar dan seketika terasa lemas, air matanya pun luruh begitu saja membasahi pipinya.

Karin beranjak untuk mengambil ponselnya. Ia menghubungi satu-satunya orang yang ia pikir harus mengetahui ini lebih dulu.

“Dara ...” ucap Karin diiringi isak tangisnya ketika sambungannya terhubung dengan Dara.

“Karin? Lo nggak papa? Everything is oke?” balas Dara di ujung sana. Dara memang belum tahu apapun soal kejadian malam itu. Sesuai yang telah disepakatinya dengan Aryan, Karin tidak memberi tahu siapapun tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Aryan di kamar hotel malam itu.

Dara dapat langsung tahu bahwa Karin sedang menangis. Dari nada bicaranya, managernya itu terdengar khawatir. “Karin, you can tell me. What happened?” tanya Dara sekali lagi.

“Dar, gue hamil ... ” ucap Karin.

Hening. Karin hanya mendapati itu setelah mengucapkan berita besar itu. Dara di tempatnya saat ini sukses dibaut diam seribu bahasa.

“Dara ... gue harus gimana?” ucap Karin lagi ketika Dara tidak ada tanda-tanda akan menjawab.

Lima detik berikutnya, Karin dapat mendengar dehaman suara Dara dari ponselnya. “Rin, gue ke apartemen lo sekarang ya. Lo tenang di sana, jangan ngelakuin apa pun dulu, oke?” ucap Dara sebelum mengakhiri sambungan telfonnya dengan Karin.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

1 bulan kemudian

Karin baru saja meletakkan sepatunya di rak sepatu dekat pintu apartemennya begitu Molly berlari menuju ke arahnya. Karin menorehkan senyumnya dan langsung mengangkat anjing poodle putih itu ke gendongannya.

“Hey, Molly. Kamu kangen aku yaa?” ujar Karin yang lantas dibalas gonggongan kecil oleh Molly. Tidak lama kemudian, Karin beranjak menurunkan Molly karena ia harus menaruh barang yang dibawanya dan segera mencuci kaki serta tangannya.

Karin berjalan menuju dapur dan menemukan sosok wanita paruh baya yang selama ini telah membantu membersihkan apartemennya. Mbak Fitri merupakan asisten di rumah kakaknya yang 3 kali seminggu datang ke apartemennya untuk mencuci dan menyetrika pakaian. Sisa pekerjaan rumah lainnya Karin masih bisa menghandle-nya sendiri.

“Non Karin, barusan Mbak masak ayam asam manis. Bu Syerin yang titip, katanya minta tolong masakin buat Non Karin,” ujar Mbak Fitri.

Karin selesai mencuci tangannya di wastafel dan segera berjalan menuju meja makan. Di sana ia melihat hidangan ayam asam manis yang nampak begitu menggugah selera.

“Makasih ya Mbak udah dimasakin,” ujar Karin pada Mbak Fitri.

“Sama-sama Non. Cucian udah Mbak jemur, baju Non juga udah di setrika. Jaga kesehatan ya Non, ibu takut Non sakit. Kemarin ibu bilang, Non sempat sakit ya karena kecapean kerja. Ibu khawatir lho Non,” terang mbak Fitri.

“Aku cuma nggak enak badan dikit kok. Nanti aku makan masakan Mbak, minum obat, terus tidur. Pasti mendingan habis itu,” ucap Karin diiringi sebuah senyum di wajahnya.

Mbak Fitri pun mengangguk mengiyakan. “Kalau perlu apa-apa, telfon Mbak aja ya Non. Jangan terlalu forsir kerja, Mbak nggak tega lho liat Non sakit, mana sendirian tinggal di sini.”

“Iya Mbak, tenang aja. Kalau masih sakit, besok Karin nginep di rumah kakak deh,” putus Karin. Ia memutuskan untuk menyantap makanannya karena setelah ini berniat untuk minum obat dan pergi tidur.

Mbak Fitri memastikan Karin melahap makanannya dan meminum obat sakit kepalanya sebelum wanita itu akhirnya pamit pulang. Sepeninggalan Mbak Fitri, Karin pun berbersih diri sebelum beranjak ke kamarnya untuk tidur siang. Ia berharap ketika bangun nanti kondisinya akan jauh lebih baik.

Kondisi Karin 3 hari belakangan ini memang kurang baik. Terdapat banyak hal yang harus ia kerjakan di luar kewajibannya sebagai mahasiswi, yakni pekerjaannya sebagai beauty influencer dan juga model. Kepadatan kegiatan itu membuat Karin drop dan berakhir hari ini ia izin pulang dari kampus lebih cepat.

Karin mengecek ponselnya sebelum memejamkan mata. Tiga pesan teratasnya adalah dari Dara, kak Syerin, dan grup 'My Babes' yang diisi olehnya, Jihan, dan Naya. Karin membalas pesan dari Dara dan kak Syerin lebih dulu dan terakhir ia membalas pesan dari grup bersama dua sahabatnya itu.

Chat 1

Chat 2

Selesai Karin membalas pesan di grup itu, tiba-tiba ia kepikiran untuk mengecek tanggal di kalender ponselnya. Angka di layar ponselnya pun menunjukkan angka 26. Artinya sudah 2 minggu lebih dari jadwal datang bulannya, tapi Karin belum mendapatkannya. Karin mencoba menepis pemikiran yang tiba-tiba saja singgah di benaknya. Namun rasa penasarannya membuatnya ingin mengeceknya sendiri dan memastikan bahwa pemikirannya tersebut tidaklah benar.

***

“Makasih ya Mas,” ujar Karin pada seorang kurir ojek online yang mengantar pesanannya di depan pintu apartemennya. Karin mendapatkan sebuah bungkusan plastik berlogo apotek dan segera membawanya ke dalam. Ia menutup pintu apartemennya dan melangkah menuju kamar mandi.

Karin merenungkannya. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Akhirnya sebelum berangkat ke kampus pagi ini, Karin memutuskan untuk mengeceknya. Karin menatap benda di tangannya itu sejenak, lalu ia membuka bungkusan yang pertama. Itu adalah sebuah test pack digital berwarna biru.

Karin tidak hanya membeli satu jenis test pack, tapi membeli model lainnya. Karin ingin memastikan bahwa hasilnya akurat, maka ia memerlukan beberapa merek dan jenis yang berbeda.

Karin menunggu hasilnya setelah melakukan langkah demi langkah untuk menggunakan benda itu sesuai dengan petunjuk yang tertera. Di sofa ruang tamunya, Karin menunggu dengan cemas selama kurang lebih 10 menit.

Setelah alarm di ponselnya berbunyi, Karin membalikkan posisi tangannya yang menggenggam tiga buah test pack berbeda. Dengan perlahan, Karin membuka matanya untuk melihat hasil yang tertera di sana.

5 detik, 10 detik, hingga 20 detik pun, hasil itu tidak berubah. Hasilnya tetap lah sama. Pregnant. Satu kata pada test pack digital itu membuat Karin kehilangan semua kata-katanya. Dua benda lainnya menunjukkan dua garis merah yang menandakan bahwa dirinya positif hamil. Karin bergerak mengambil satu buah lagi yang belum ia buka bungkusnya. Meskipun kemungkinannya kecil, Karin tetap berharap bahwa 3 benda itu salah dan yang 1 tersisa adalah benar.

Karin kembali ke kamar mandi dan memasukkan benda itu ke dalam gelas yang telah berisi air urinnya. Sekitar 10 menit berlalu, Karin mendapati dua garis merah di test pack itu. Tangan Karin yang masih memegang benda-benda itu pun bergetar dan seketika terasa lemas, air matanya pun luruh begitu saja membasahi pipinya.

Karin beranjak untuk mengambil ponselnya. Ia menghubungi satu-satunya orang yang ia pikir harus mengetahui ini lebih dulu.

“Dara ...” ucap Karin diiringi isak tangisnya ketika sambungannya terhubung dengan Dara.

“Karin? Lo nggak papa? Everything is oke?” balas Dara di ujung sana. Dara memang belum tahu apapun soal kejadian malam itu. Sesuai yang telah disepakatinya dengan Aryan, Karin tidak memberi tahu siapapun tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Aryan di kamar hotel malam itu.

Dara dapat langsung tahu bahwa Karin sedang menangis. Dari nada bicaranya, managernya itu terdengar khawatir. “Karin, you can tell me. What happened?” tanya Dara sekali lagi.

“Dar, gue hamil ... ” ucap Karin.

Hening. Karin hanya mendapati itu setelah mengucapkan berita besar itu. Dara di tempatnya saat ini sukses dibaut diam seribu bahasa.

“Dara ... gue harus gimana?” ucap Karin lagi ketika Dara tidak ada tanda-tanda akan menjawab.

Lima detik berikutnya, Karin dapat mendengar dehaman suara Dara dari ponselnya. “Rin, gue ke apartemen lo sekarang ya. Lo tenang di sana, jangan ngelakuin apa pun dulu, oke?” ucap Dara sebelum mengakhiri sambungan telfonnya dengan Karin.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Netra Karin masih terpejam dengan rapat, begitu ia merasakan sesuatu yang kenyal dan lembap menempel di atas bibirnya. Alam bawah sadarnya memerintahkan otaknya untuk membalas pergerakan tersebut. Satu tangan Karin bergerak menghela sesuatu di hadapannya untuk mendekat padanya, guna memudahkan aktivitas yang sedang berlangsung.

Saat Karin membalas ciuman itu, ia dapat menghirup perpaduan aroma segar citrus dengan floral di sekitarnya, harum itu membuat Karin betah. Rasanya ia tidak ingin beranjak dan bangun begitu saja, lagipula sekujur tubuhnya saat ini terasa pegal dan nyeri.

Perlahan-lahan Karin tidak merespon kecupan lembut itu lagi, ketika kabel-kabel di otaknya mulai terhubung satu sama lain. Sebuah sinyal dari kepalanya memerintahkan Karin untuk membuka matanya, untuk mengecek apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Betapa terkejutnya Karin kala mendapati seorang lelaki tengah bersamanya di atas kasur. Belum cukup dengan itu, Karin menemukan tubuhnya telah polos tanpa sehelai benang pun, hanya ditutupi oleh sebuah bed cover putih tebal.

Jantung Karin berdetak kencang, matanya terasa memanas, dan sesuatu seperti mencekat tenggorokannya, hingga ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.

Isakan kecil yang keluar dari bibir Karin, perlahan membuat Aryan membuka matanya. Pria itu menatap Karin dengan pandangan tidak kalah terkejut dari Karin. Aryan menghela napasnya dan menghembuskannya sebelum membuka suaranya, “Kenapa kita bisa di sini? What we have done?” kalimat itu lah yang terlontar dari Aryan pertama kali, setelah lidahnya beberapa detik lalu terasa kelu.

Aryan tidak mendapat jawaban apapun dari Karin. Ia hanya mendapati perempuan itu bergerak menjauhinya dan isakan senantiasa keluar dari bibirnya.

Aryan bergerak bangun dari posisinya. Ia berusaha menjangkau pakaiannya yang tercecer di atas lantai. Karin membuang pandangannya dari Aryan saat pria itu bergegas menuju kamar mandi.

Karin pun melakukan hal yang sama. Setelah menemukan dimana keberadaan gaunnya, perempuan itu segera mengambilnya dan memakainya di kamar mandi yang satunya.

Ketika selesai dengan pakaiannya, Karin mendapati harum gaunnya telah berubah. Aroma parfum citrus berpadu dengan floral itu melekat di gaun hitamnya. Itu parfum yang ia temukan sesaat sebelum terbangun tadi, ketika bisa-bisanya ia tidak sadar dan masih melakukannya bersama Aryan. Rasanya Karin ingin memaki dirinya sendiri.

Karin keluar dari kamar mandi dan mengambil tasnya di sofa. Aryan juga telah kembali dengan tubuhnya yang sudah terbalut pakaian.

Karin terlihat sedang memikirkan sesuatu, ia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Orange juice yang ia minum telah memberikan reaksi aneh pada tubuhnya dan seseorang mengantarnya ke kamar ini untuk beristirahat.

“Kamu ingat sesuatu? Ini kamarku, kamu tiba-tiba masuk ke sini semalam,” ucap Aryan.

Karin lantas menoleh ke arah Aryan. “You've planned all of this?” tanya Karin sambil menatap Aryan dengan tatapan selidiknya.

Aryan berdecak, “I don't understand what you talking about, Karina. “I know you. Kamu temannya Kina, right?”

Karin tidak tahu bahwa ternyata Aryan mengetahui namanya. Oh, jelas. Kemungkinan Aryan memang tahu namanya. Pria yang tidur bersamanya ini adalah kakak tingkat di jurusannya sekaligus kekasih Shakina, teman sesama influencer-nya.

You've said that I was planned all of this?” tanya Aryan.

Of course. Aku yang dijebak di sini,” balas Karin.

Aryan mengambil jam tangan Daniel Wellington miliknya dari nakas samping kasur. Setelah sempurna memakainya, lelaki itu meraih ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang. Karin yang mendengar Aryan meminta seseorang untuk mencari tahu siapa yang telah menjebaknya, segera bergerak untuk menahan apa yang lelaki itu lakukan.

Aryan menatap Karin dengan matanya yang menyipit. “Kenapa kamu nggak ingin kejadian ini dicari tau? Kalau kamu merasa kamu dijebak, harusnya kamu biarin aku buat cari tau siapa dibalik semua ini,” ucap Aryan.

Karin mendongakkan wajahnya, ia menatap Aryan tepat di matanya, “Kamu pikir cuma kamu yang dijebak?”

Karin berdeham sebelum kembali berujar, “Kamu bisa jamin namaku aman kalau skandal ini sampai bocor?”

Aryan tidak dapat menjawab pertanyaan Karin tersebut. Tidak lama kemudian, Aryan mengambil kembali ponselnya dari tangan Karin.

“Oke, aku nggak akan cari tau,” putus Aryan. Air mukanya terlihat menahan amarah, genggaman tangannya di ponselnya pun terlihat mengerat.

Karin menghembuskan napasnya panjang, “ Kita bisa bersikap seolah nggak ada yang pernah terjadi semalam,” ucap Karin tanpa berniat melihat ke arah Aryan sama sekali. Karin berlalu dari hadapan Aryan, ia menuju ke cermin yang ada di kamar itu dan bergerak merapikan tatanan rambutnya.

“Karina, you have to know that I've never planned all of this,” ujar Aryan setelah beberapa detik hanya hening yang terjadi di antara mereka.

Karin selesai dengan kegiatannya, ia berbalik dan kini menghadap Aryan. “Ya, I know. Aku tadi kebawa emosi dan akhirnya nuduh kamu. Aku tau kamu pacarnya Kina dan apa yang terjadi di antara kita adalah rahasia. Aku nggak mau Kina atau siapa pun sampai tau soal ini,” jelas Karin.

Aryan mengangguk setuju, “Sure. We can keep this as a secret.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Netra Karin masih terpejam dengan rapat, begitu ia merasakan sesuatu yang kenyal dan lembap menempel di atas bibirnya. Alam bawah sadarnya memerintahkan otaknya untuk membalas pergerakan tersebut. Satu tangan Karin bergerak menghela sesuatu di hadapannya utuk mendekat padanya, guna memudahkan aktivitas yang sedang berlangsung.

Saat Karin membalas ciuman itu, ia dapat menghirup perpaduan aroma segar citrus dengan floral di sekitarnya, harum itu membuat Karin betah. Rasanya ia tidak ingin beranjak dan bangun begitu saja, lagipula sekujur tubuhnya saat ini terasa pegal dan nyeri.

Perlahan-lahan Karin tidak merespon kecupan lembut itu lagi, ketika kabel-kabel di otaknya mulai terhubung satu sama lain. Sebuah sinyal dari kepalanya memerintahkan Karin untuk membuka matanya, untuk mengecek apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Betapa terkejutnya Karin kala mendapati seorang lelaki tengah bersamanya di atas kasur. Belum cukup dengan itu, Karin menemukan tubuhnya telah polos tanpa sehelai benang pun, hanya di tutupi oleh sebuah bed cover putih tebal.

Jantung Karin berdetak kencang, matanya terasa memanas, dan sesuatu seperti mencekat tenggorakannya, hingga ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.

Isakan kecil yang keluar dari bibir Karin, perlahan membuat Aryan membuka matanya. Pria itu menatap Karin dengan pandangan tidak kalah terkejut dari Karin. Aryan menghela napasnya dan menghembuskannya sebelum membuka suaranya, “Kenapa kita bisa di sini? What we have done?” kalimat itu lah yang terlontar dari Aryan pertama kali, setelah lidahnya beberapa detik lalu terasa kelu.

Aryan tidak mendapat jawaban apapun dari Karin. Ia hanya mendapati perempuan itu bergerak menjauhinya dan isakan senantiasa keluar dari bibirnya.

Aryan bergerak bangun dari posisinya. Ia berusaha menjangkau pakaiannya yang tercecer di atas lantai. Karin membuang pandangannya dari Aryan saat pria itu bergegas menuju kamar mandi.

Karin pun melakukan hal yang sama. Setelah menemukan dimana keberadaan gaunnya, perempuan itu segera mengambilnya dan memakainya di kamar mandi yang satunya.

Ketika selesai dengan pakaiannya, Karin mendapati harum gaunnya telah berubah. Aroma parfum citrus berpadu dengan floral itu melekat di gaun hitamnya. Itu parfum yang ia temukan sesaat sebelum terbangun tadi, ketika bisa-bisanya ia tidak sadar dan masih melakukannya bersama Aryan. Rasanya Karin ingin memaki dirinya sendiri.

Karin keluar dari kamar mandi dan mengambil tasnya di sofa. Aryan juga telah kembali dengan tubuhnya yang sudah terbalut pakaian.

Karin terlihat sedang memikirkan sesuatu, ia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Orange juice yang ia minum telah memberikan reaksi aneh pada tubuhnya dan seseorang mengantarnya ke kamar ini untuk beristirahat.

“Kamu ingat sesuatu? Ini kamarku, kamu tiba-tiba masuk ke sini semalam,” ucap Aryan.

Karin lantas menoleh ke arah Aryan. “You've planned all of this?” tanya Karin sambil menatap Aryan dengan tatapan selidiknya.

Aryan berdecak, “I don't understand what you talking about, Karina. “I know you. Kamu temannya Kina, right?”

Karin tidak tahu bahwa ternyata Aryan mengetahui namanya. Oh, jelas. Kemungkinan Aryan memang tahu namanya. Pria yang tidur bersamanya ini adalah kakak tingkat di jurusannya sekaligus kekasih Shakina, teman sesama influencer-nya.

You've said that I was planned all of this?” tanya Aryan.

Of course. Aku yang dijebak di sini,” balas Karin.

Aryan mengambil jam tangan Daniel Wellington miliknya di nakas samping kasur. Setelah memakainya, lelaki itu meraih ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang. Karin yang mendengar Aryan meminta seseorang untuk mencari tahu siapa yang telah menjebaknya, segera bergerak untuk menahan apa yang lelaki itu lakukan.

Aryan menatap Karin dengan matanya yang menyipit. “Kenapa kamu nggak ingin kejadian ini dicari tau? Kalau kamu merasa kamu dijebak, harusnya kamu biarin aku buat cari tau siapa dibalik semua ini,” ucap Aryan.

Karin mendongakkan wajahnya, ia menatap Aryan tepat di matanya, “Kamu pikir cuma kamu yang dijebak?”

Karin berdeham sebelum kembali berujar, “Kamu bisa jamin namaku aman kalau skandal ini sampai bocor?”

Aryan tidak dapat menjawab pertanyaan Karin tersebut. Tidak lama kemudian, Aryan mengambil kembali ponselnya dari tangan Karin.

“Oke, aku nggak akan cari tau,” putus Aryan. Air mukanya terlihat menahan amarah, genggaman tangannya di ponselnya pun terlihat mengerat.

Karin menghembuskan napasnya panjang, “ Kita bisa bersikap seolah nggak ada yang pernah terjadi semalam,” ucap Karin tanpa berniat melihat ke arah Aryan sama sekali. Karin berlalu dari hadapan Aryan, ia menuju ke cermin yang ada di kamar itu dan bergerak merapikan tatanan rambutnya.

“Karina, you have to know that I've never planned all of this,” ujar Aryan setelah beberapa detik hanya hening yang terjadi di antara mereka.

Karin selesai dengan kegiatannya, ia berbalik dan kini menghadap Aryan. “Ya, I know. Aku tadi kebawa emosi dan akhirnya nuduh kamu. Aku tau kamu pacarnya Kina dan apa yang terjadi diantara kita adalah rahasia. Aku nggak mau Kina atau siapa pun sampai tau soal ini,” jelas Karin.

Aryan mengangguk setuju, “Sure. We can keep this as a secret.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Kabar besar soal Aryan dan Karin telah sampai ke telinga Edi dan Felicia, opa dan omanya Aryan. Tidak ada yang berhasil membujuk Aryo untuk memberikan pelajaran berharga pada Aryan. Tiara, Nayna, maupun Felicia, ketiga perempuan yang dicintai Aryo itu tidak dapat menggugurkan niat Aryo untuk mencabut fasilitas yang ia berikan pada Aryan.

Hampir semua fasilitas yang Aryan miliki telah diambil, kini lelaki itu hanya memiliki tabungan sebesar 10% dari unlimited dana yang ia punya sebelumnya. Seolah belum cukup dengan itu, papanya juga memintanya pergi dari rumah.

Aryo menahan Tiara dan Nayna yang hendak menyusul langkah Aryan. Sebagai seorang ibu, Tiara mana tega melihat anaknya pergi dari rumah. “Sayang, Aryan sudah besar. Dia harus belajar berpikir dan mengambil keputusan yang tepat,” ujar Aryo.

Tiara menatap Aryo, “Setidaknya jangan minta dia pergi dari rumah. Nggak ada seorang ibu yang bisa melihat anaknya pergi dan nggak punya tujuan,” ucap Tiara.

Hati Aryan yang mendengar penuturan mamanya itu, seketika terasa seperti dihantam kuat. Beberapa langkah lagi, kakinya sampai di pintu rumah. Aryan memutuskan memutar balik langkahnya untuk berbicara pada mamanya.

“Mama nggak perlu khawatir sama Aryan. Aryan akan berusaha menyelesaikan masalah Aryan,” ujar Aryan.

Aryan mengalihkan tatapannya kepada Aryo, tapi papanya itu terlihat tidak sudi melihatnya. “Pah, Aryan tau kata maaf nggak cukup untuk semua rasa kecewa yang Papa dan Mama dapat dari perbuatan Aryan. Tapi Aryan janji, Aryan hanya akan kembali ke rumah setelah membuat Papa dan Mama bangga.”

Usai mengatakannya, Aryan berbalik dan melangkahkan kakinya pergi. Tiara dan Nayna menatap kepergian Aryan dengan tatapan sedihnya. Nayna menghampiri mamanya dan menenangkanya, ia membawa Tiara ke pelukannya.

“Mah, percaya sama Koko ya. Koko bakal balik kok. Nayna tau Koko nggak akan ingkarin ucapannya.”

***

Nayna meminta tolong pada pak Hamid, supir pribadinya, untuk tidak langsung mengantarnya pulang ke rumah. Fakultas Ekonomi dan Bisnis menjadi tujuan perempuan dengan surai legam sebahu itu. Setibanya di gedung bernuansa biru dan putih itu, Nayna melangkahkan kakinya untuk masuk.

Nayna menempelkan ponselnya di telinga setelah mendial nomor Leon. Tidak lama Leon pun mengangkat telfonnya. “Halo, Kak Leon. Iya Kak, gue udah di lobi. Oke Kak, makasih ya.” Sambungan pun di akhiri dan Nayna menunggu Leon yang katanya akan menghampirinya.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Nayna menunggu Leon datang. Pria jangkung berotongan rambut undercut itu bersedia membantunya untuk bertemu dengan seseorang yang ia ingin temui.

Nayna mengikuti langkah Leon dan akhirnya mereka sampai di kantin fakultas. Bertemulah Nayna dengan sosok perempuan berambut hitam legam sepunggung, yang diceritakan oleh Aryan kemarin padanya. Karina Titani Roland, perempuan itu menatap Nayna dan mengulaskan senyum tipisnya.

“Lo berdua silakan ngobrol. Gue tinggal dulu ya Nay, Rin,” ucap Leon. Nayna dan Karin pun mengangguki Leon. Sampai punggung Leon menjauh dari pandangan mereka, Nayna maupun Karin belum ada yang membuka suara.

“Hai Kak Karin. Kenalin, aku Nayna,” Nayna mengulaskan senyum sopannya sembari mengulurkan tangannya di atas meja. Karin segera membalas uluran tangan itu, “Karin,” ucap Karin.

“Aku minta maaf udah ganggu waktu Kak Karin hari ini. Sebelumnya aku emang minta tolong kak Leon untuk ketemu Kak Karin. Aku udah tahu juga soal Kakak dan Kak Aryan.”

Kedua mata Karin nampak melebar kala mendengar penuturan Nayna. Karin terdiam, ia tidak tahu harus memberi respon apa. Sejak kejadian di lapangan tempo hari, Karin memang belun mendengar apapun lagi soal Aryan. “Kak Aryan udah ngasih tau papa dan mamaku soal semuanya. Aku tau apa yang terjadi antara Kakak dan Kak Aryan udah merugikan Kak Karin,” ujar Nayna.

“Rencananya mama mau ketemu sama Kak Karin, tapi beliau berhalangan karena tiba-tiba tadi pagi mama sakit. Udah dua hari mama nggak semangat untuk makan ataupun bangun dari kasur.”

“Nayna, apa itu karena masalah ini?” tanya Karin.

“Papa dan mamaku emang shock banget Kak pas dengar kabar ini. Kak Aryan dapat pelajaran dari papaku. Tapi mereka bilang, mereka nggak ingin kehilangan nyawa kecil itu Kak. Mereka sayang sama bayi itu. Kakak mau pertahanin, kan?” tanya Nayna. Sorot matanya memancarkan tatapan penuh harap.

Karin mengerti apa yang sedang coba di sampaikan oleh Nayna. Karin pun mengangguk. “Kakak nggak pernah berniat untuk gugurin kandungan ini, Nayna.”

Nayna mengulaskan senyumnya sebelum akhirnya gadis itu berpamitan pada Karin. “Kak, kita ngobrol lagi ya nanti. If you need anything, just text me. I’m an aunty right now.”

Mendengar perkataan Nayna, membuat seulas senyum tersungging di bibir Karin. “Nay, makasih ya,” ucap Karin.

“Anytime Kak. Aku siap di repotin sebagai aunty.”

Di tengah situasi tersebut, kehadiran Leon menginterupsi Nayna dan Karin. “Udah selesai ngobrolnya?” tanya Leon.

Kedua perempuan di hadapan Leon itu lantas mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Nayna sekali lagi berpamitan pada Karin. Namun sebelum Nayna benar-benar pergi, Karin menahannya “Nay, aku titip ini.” Karin menyerahkan sebuah tube berukuran sedang ke tangan Nayna.

Nayna memerhatikan benda di tangannya itu. “Ini buat siapa Kak?” tanya Nayna saat mendapati benda tersebut adalah obat untuk luka lebam.

“Buat Aryan. Di olesin ke lukanya 3 kali sehari, biar cepet sembuh,” jelas Karin.

Nayna lantas memasukkan obat itu ke tas kecilnya. “Sure. Aku pastiin Koko pakai ini 3 kali sehari. Makasih banyak ya Kak,” ucap Nayna sembari tersenyum simpul.

“Nay, Leon, aku duluan ya. Aku ada kelas,” pamit Karin setelah mengecek arloji di pergelangan tangannya. Nayna menganggukinya dan membiarkan Karin berlalu. Sepeninggalan Karin, Leon melayangkan tatapan bertanyanya pada Nayna.

“Kenapa Kak?” tanya Nayna yang tidak paham dengan tatapan Leon itu. Sahabat Aryan itu juga sudah tahu soal yang terjadi antara Karin dan Aryan.

“Ceritanya kamu jadi kurirnya Aryan sama Karin gitu Nay?”

“Yaa begitu lah kira-kira. Habis yaa, aku tuh khawatir banget sama koko. Aku yakin dua hari ini dia pasti makan makanan instan. Sok-sokan bisa tinggal mandiri, padahal mah, koko tuh manja banget. Kak Leon tau lah koko gimana.”

Tadi Nayna memang mengatakan pada Karin bahwa setelah dari sini, ia akan mengunjungi apartemen dimana saat ini Aryan tinggal. Nayna khawatir terhadap kakaknya itu, ia tidak yakin Aryan akan melakukan semuanya dengan benar. Di dalam perjalanan Nayna menuju apartemen, gadis itu melihat lagi obat luka lebam yang di berikan Karin padanya. Hal kecil, tapi kok rasanya dalam sekali. Nayna bertaruh dengan dirinya sendiri. Melalui benda kecil ini, kakaknya yang berhati keras itu akan tersentuh. Nayna begitu percaya diri kali ini.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dua hari sudah berlalu sejak kejadian Rey memukul Aryan di lapangan. Sepulang kuliah sore ini, Karin berniat memberi tahu Syerin dan Vanessa mengenai kehamilannya. Tidak mudah bagi Karin untuk menyampaikan kabar besar itu. Kakak dan ibu sambungnya itu telah begitu sayang pada Karin dan Kavin, merawat mereka dengan sepenuh hati. Bagaimana bisa Karin melemparkan bom

“Kakak, Mami. Karin mau menyampaikan sesuatu. Kabar ini akan mengecewakan Kakak dan Mami. Karin minta maaf,” ucap Karin membuka suaranya. Karin berusaha menatap mata Syerin dan Vanessa.

Hanya dengan satu kalimat yang diutarakan Karin, sudah cukup menjelaskan situasi yang tengah terjadi. Hampir mirip dengan reaksi Dara waktu Karin memberitahu kalau dirinya hamil, Syerin dan Vanessa seketika bungkam. Dari tatapan matanya, Karin tahu bahwa kakak dan mamanya sangat kecewa terhadapnya.

Beberapa detik berlalu, Syerin pun mengangkat wajahnya yan gsemual tertunduk. Syerin menatap adik sambungnya itu tepat di manik matanya. “Siapa ayahnya? Kamu kasih tau Kakak sekarang,” tutur Syerin.

“Dia kakak tingkat di jurusan Karin, namanya Aryan,” jawab Karin.

Karin mendapati air mata Syerin mengalir membasahi pipinya. Baru pertama kali sejak bertemu dengan Syerin, Karin melihat kakaknya itu menangis karena kecewa terhadapnya.

“Mami,” Syerin giliran menatap Vanessa. “Mam, Syerin gagal Mam,” lirih Syerin. Vanessa bergerak mendekap Syerin ke pelukannya, kedua wanita yang begitu Karin sayangi itu menangis bersama karena perbuatannya.

“Syerin gagal menjaga adik Syerin. Papi pasti kecewa Mam,” ucap Syerin lagi.

Saat tangisnya mulai reda, Syerin berusaha mengatur napasnya dan kembali bertanya pada Karin. “Karin, kamu udah tau apa yang harus kamu lakukan? Saat ini kamu punya tanggung jawab yang besar. Jadi orang tua itu nggak mudah, Karin,” jelas Syerin.

“Mami, Kakak. Selama ini kalian udah ngasih yang terbaik buat Karin dan Kavin. Karin sayang banget sama kalian. Mami sama Kakak nggak pernah gagal mendidik Karin. Karin nggak membenarkan kejadian ini, tapi apapun itu, Karin nggak ingin kehilangan anak ini. Karin mau mempertahankannya,” tutur Karin panjang lebar.

Syerin menatap adiknya tidak percaya. Namun tidak berapa lama kemudian, wanita berusia 30 tahun itu membawa tubuh Karin ke dekapannya. Karin balas memeluk kakaknya, ia mendengar Syerin terisak pilu.

“Karin,” ujar Syerin ketika ia mengurai pelukannya, “Kakak nggak akan biarin kamu hadapin semuanya sendiri. Inget ya, Kakak selalu ada buat kamu.”

***

Di antara papa dan mamanya, Aryan lebih dulu memberitahu adiknya soal berita besar dua hari yang lalu. Nayna telah tahu apa yang terjadi antara Aryan dan Karin. Nayna tahu semuanya soal perempuan yang saat ini tengah mengandung anak kakaknya. Wah ini rumit sekali, pikir Nayna.

Nayna kini berada di kamar Aryan, sedang mondar-mandir layaknya setrikaan.

“Ko, lo kok santai banget sih,“cetus Nayna. Gadis itu menghampiri Aryan dan menarik lengannya dengan susah payah agar pria bertubuh jangkung itu bangun dari kasur.

“Lo jadi ngasih tau papa dan mama hari ini, kan?” tanya Nayna.

“Iya, jadi,” jawab Aryan seadanya.

“Mending lo siapindiri deh dari sekarang, dikit lagi papa pulang. Gue nggak nyangka sih lo mainnya jauh banget, Ko. Kok bisa sampai kebablasan sih? Lo nggak pake pengaman emangnya?” cerocos Nayna panjang lebar.

“Malam itu gue hangover, and everything is just happened,” terang Aryan.

Nayna menatap Aryan sambil menyipitkan matanya, “Ohh ... gitu. Jadi maksud lo ini yang pertama buat lo? Duh, keren juga yaa Koko gue,” Nayna tersenyum sambil menepuk-nepuk lengan Aryan. “Gue nggak tahu papa dan mama akan ngasih reaksi apa pas tau kabar ini. Yang jelas, lo siap-siap aja sama serangan papa. You know your daddy so well, right?”

***

Aryan jelas sangat mengetahui watak papanya seperti apa. Namun apapun resikonya, ia akan siap menanggung itu. Ia harus memberitahu apa yang terjadi, sekalipun harus mendapat pukulan untuk yang pertama kali dari tangan papanya langsung, Aryan sudah siap mendapatkannya.

“Pah, Mah, apa yang barusan Aryan sampaikan semuanya benar,” ucap Aryan ketika Aryo dan Tiara masih terdiam. Kedua orang tuanya itu belum menunjukkan tanda-tanda akan merespon perkataannya. Aryan telah mengatakan semuanya, soal dirinya dan Karin yang kini memiliki tanggung jawab besar bersama. Bukan main-main tanggung jawab itu, karena menjadi orang tua adalah urusan seumur hidup.

Aryan duduk di sofa yang berjarak beberapa langkah dari papa dan mamanya. Ruang keluarga yang luas itu sekejap terasa begitu sunyi, bahkan Aryan dapat mendengar hembusan napasnya sendiri.

Saat Aryan mengarahkan pandangannya dari yang semula menatap lantai marmer dan kini beralih pada Aryo di hadapannya, Aryan mendapati papanya melayangkan tatapan tajam kearahnya. Sorot itu terasa dapat dapat menghunus jantung Aryan sampai ke yang paling dalam. Papanya terlihat menggulung kedua lengan kemejanya sampai sebatas siku, lalu berjalan dengan langkah lebar untuk menghampirinya.

“Apa perlu kamu kasih tau Papa dan Mama soal perbuatan kamu itu?” tanya Aryo dengan nada sarkasnya.

Aryo terlihat menghela napasnya dan menghembuskannya secara kasar, “Papa pikir karena kamu sudah bisa berbuat, maka kamu bisa menyelesaikannya sendiri,” ujar Aryo lagi. Buku-buku tangannya tampak memutih karena mengepal terlalu kuat. Aryo mengangkat lengannya dan hendak mengarahkannya pada Aryan. Seolah dapat memprediksi apa yang akan terjadi, Tiara lekas menghampiri Aryo dan segera menahan lengannya. Tiara mengusap lengan suaminya itu, meminta Aryo untuk meredam emosinya.

“Aryan, apa rencana kamu setelah ini? Kamu udah tau apa yang harus kamu lakukan?” tanya Tiara pada putra sulungnya itu.

Aryan pun mendapati tatapan kecewa dari wanita yang sangat dicintainya itu, “I don't know yet, Mom. I'm still think about that,” jawab Aryan dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Kedua lutut Tiara rasanya lemas mendengar kalimat yang dilontarkan Aryan. Pegangan tangannya pada lengan Aryo pun mengendur, kedua mata indahnya itu nampak berkaca-kaca.

Aryan melihat Aryo mendekat padanya dan hendak melayangkan tamparan ke wajahnya, tapi Aryan tidak merasakan rasa sakitnya yang diprediksinya.

Dua detik berlalu, Aryan pun mendapati Nayna melindunginya. Adiknya itu menjadi alasan mengapa papanya mengurungkan niat untuk memukul Aryan.

“Pah, jangan pukul Koko. I'm begging you,” ucap Nayna. Gadis berusia 18 tahun itu lantas menatap Aryo dengan pandangan memohon.

“Koko sama kak Karin dijebak, Pah, Mah. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Koko,” jelas Nayna.

“Kamu tau itu dari mana Nayna?” tanya Aryo.

Nayna lantas melayangkan tatapannya pada Aryan dan memintanya untuk menjelaskan. Aryan berdeham sebelum akhirnya lelaki itu mengutarakannya, “Aryan dan Karin sepakat untuk tidak mencari tau soal itu, Pah, Mah. Kalau sampai skandal ini tersebar, kemungkinan karir dan masa depan Karin yang jadi taruhannya,” tutur Aryan.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷