alyadara

Ketika Tiara sampai di lantai satu, ia mendapati Aryo menunggunya di sana dan pria itu masih dengan stelan kantornya.

“Jam berapa ini Tiara?” tanya Aryo.

“Hampir jam sepuluh.”

“Ayo kita bicarain yang tadi sempat tertunda,” ujar Aryo.

“Gue pikir udah nggak ada yang perlu dibicarain.” Tiara menatap Aryo dengan tatapan datarnya.

“Kenapa? Tadi lo bersikeras diskusiin itu sama gue.”

Tiara termenung tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Lo tau, apa yang gue lakuin adalah untuk ngelindungin lo. Di saat gue ngelakuin itu, justru lo yang membahayakan diri sendiri.” Aryo menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Aryo mendapatkan dari salah satu omnya yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan. Om nya itu sangat mendukungnya, sehingga berbaik hati menyerahkan foto itu padanya untuk disimpan saja.

Good job for you. Gue nggak nyangka bisa nikah sama diktator yang keren kayak lo.” Tiara bertepuk tangan sambil menyunggingkan senyum smirk-nya. Kemudian Tiara hendak mengambil langkah pergi melewati Aryo, namun pria itu menahan pergelangan tangannya.

“Gue mau ke kamar, jadi tolong lepasin gue,” desis Tiara.

“Gue lepasin, setelah lo jelasin foto itu,” ujar Aryo.

“Lo nganggap gue istri lo, di saat lo cuma butuh kuasa atas gue? Hello sir, you can’t do anything you want to do. Gue sama Akmal pergi berdua buat ngerjain tugas fotografi,” jelas Tiara yang lantas membuat pegangan tangan Aryo terlepas pada tangannya.

Tiara tidak ingin perasaannya terhadap Aryo semakin dalam karena ia tahu pada akhirnya mereka tidak akan pernah bisa bersama. Dari awal pertemuannya dengan Aryo, Tiara sadar ia memiliki perasaan terhadap lelaki ini, tapi lebih baik membangun tembok antara dirinya dan Aryo demi kebaikan keduanya.

“Terus dengan mudahnya, lo berpikir ngasih keluarga keturunan? Lo pikir semudah itu untuk punya anak?” tanya Aryo.

Tiara berbalik kemudian menatap Aryo, “Bukannya gampang aja buat lo? Gue cuma aset lo untuk dapetin posisi itu. Asal nantinya lo nggak punya perasaan untuk gue, kita bisa punya anak. Setelah itu cerai. Gimana?”

“Gimana dengan perasaan lo sendiri?”

It’s easy. Every woman never think about love only for one men. So we can start our project?

***

Siang ini Tiara mengunjungi rumah mertuanya. Mertuanya meminta supir menjemput Tiara agar datang ke sana. Mamanya itu berencana menyiapkan surprise untuk papa mertuanya dan suaminya, karena hari ini adalah hari ulang tahun keduanya yang jatuh berbarengan.

“Malam ini, kamu sama Aryo nginap disini aja ya?” ucap ibu mertuanya pada Tiara. Melihat reaksi menantunya itu, Felicia lantas menyunggingkan senyumannya.

“Tenang aja, suami kamu pasti mau kok. Sejak Aryo nikah, rumah ini makin sepi. Habis semua ini matang, tolong siapin bekal untuk diantar ke kantor suamimu ya,” tutur Felicia.

Tiara mengiyakan ucapan mertuanya diiringi sebuah senyuman. Bagaimanapun ia tidak enak menolak permintaan Felicia untuk menginap. Lagipula Aryo itu kan anak tunggal, jadi wajar mertuanya merasa rumah sebesar ini begitu kosong sejak anak satu-satunya menikah.

“Kenapa Tiara? Aryo sibuk banget di kantor ya? Dia jarang luangin waktunya buat kamu?” duga ibu mertuanya ketika memerhatikan raut wajah Tiara.

“Aryo besok harus ke luar kota untuk urusan kerjaan, Mah. Jadi kayaknya kita nggak bisa nginap malam ini,” ujar Tiara mengatakan alasan mungkin mereka tidak bisa menginap.

“Ohya? Artinya dia akan ninggalin kamu berhari-hari dong? Padahal kalian itu kan pengantin baru. Harusnya dia bisa bagi waktu antara kerjaannya dan kamu.”

Tiara membantu mertuanya membawa makanan yang telah matang ke meja makan. Sepertinya mertuanya salah menangkap. Kini mertuanya ingin dirinya dan Aryo menghabiskan waktu bersama hanya berdua.

“Kalau seperti ini terus, kalian susah punya waktu bareng. Yaudah gini aja, malam ini kalian harus nginap di sini ya. Mama pastiin Aryo setuju,” ucap Felicia sambil memegang tangan Tiara. Kemudian ibu mertuanya itu menepuk punggung tangannya itu dan tersenyum hangat.

***

Sekitar pukul tujuh malam, Aryo berada di perjalanan pulang dari kantornya. Jalanan ibukota seperti biasa dipenuhi oleh kendaraan yang menyebabkan jalanan padat. Mobil Aryo mau tidak mau ikut terjebak macet dan hanya bergerak sedikit demi sedikit.

“Tuan, tadi ibu Feli bilang kalau Tuan harus ke rumah dulu untuk ngambil titipan ibu,” ujar supir pribadinya.

“Tumben. Biasanya mama langsung nelfon saya sendiri.”

“Ibu bilang, Tuan cuma diminta untuk mampir sebentar.”

“Oh yaudah Pak, kita langsung ke rumah mama aja,” tutur Aryo.

Aryo menoleh ke samping jok dan terdapat tas bekal yang tadi siang diantar ke kantornya. Wajahnya mengernyit curiga, namun ia mengulaskan senyum semringah setelah kembali mengingat isi tulisan di notes dalam kotak bekal.

Aryo tidak tahu mamanya bisa seromantis ini padanya di hari ulang tahunnya. Mamanya itu mengirimkan kotak bekal disertai notes kecil berwarna peach. Di dalam notes tersebut, berisi untaian kalimat doa yang begitu indah di hari ulang tahunnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara tidak ada kelas siang ini karena dosennya membatalkan kelas secara tiba-tiba. Gadis itu berniat untuk pulang dan cabut kelas yang masih tersisa di jam tiga sore nanti. Namun ia membatalkan niatnya karena seseorang yang membiayai kuliahnya. Pengaruh dan eksistensi Aryo telah memberikan dampak yang begitu besar bagi aspek-aspek kehidupan Tiara.

Tiara keluar dari kelasnya dan mendapati ponselnya berbunyi.

“Dimana Ra?”

“Baru aja keluar kelas. Lo dimana?”

“Lo masih ada kelas kan nanti sore?”

“Iya. Kenapa emang Mal?”

“Sekarang lo sama siapa? Lo nggak sendirian kan?”

Tiara tidak langsung menjawab.

“Gue telfon Valdo ya?” ujar Akmal sebelum Tiara menjawabnya.

“Nggak usah, Mal. Ini orangnya lagi jalan ke arah gue.” Tiara menatap lurus pada sosok Valdo yang terlihat berjalan ke kearahnya di lorong lantai dua.

Ketika Valdo berada di hadapannya, sambungan telfonnya dengan Akmal pun berakhir.

“Akmal?” tebak Valdo.

“Iya, tadi hampir nelfon lo, tapi lo udah nongol.” Tiara dan Valdo berjalan bersama menuju lift untuk turun.

Tiara mengamati ekspresi Valdo yang nampak berbeda dari biasanya itu.

“Lo kenapa?” tembak Tiara. Ia menyadari ekspresi sahabatnya itu nampak berbeda dari biasanya.

“Nggak papa,” jawab Valdo.

Tiara telah sangat mengenal sahabatnya itu dan firasatnya mengatakan ada sesuatu yang Valdo sembunyikan dari Tiara.

“Do, lo tau kan gue nggak suka sahabat gue nyembunyiin sesuatu dari gue.”

***

“Lo tau apa yang ada di pikiran gue?” tanya Aryo.

Rama yang mendengar pertanyaan yang lebih mirip pernyataan dari atasannya itu, langsung memasang ekspresi terkejut.

“Acaranya masih lima belas menit lagi. Lo nggak mau ngasih tau istri lo?” Rama melihat arloji di tangannya. Mereka berada di satu ruangan khusus untuk menunggu yang telah di sediakan oleh panitia acara.

“Untuk?”

“Ngasih tau lo ada di sini lah,” ujar Rama.

“Dia mahasiswi di sini Ram.”

“Cuma ketemu sebentar elah.”

“Terus apa yang harus gue bilang, kalau ada yang orang yang liat?”

Rama pun mengangguk mengerti. Kondisinya memang tidak memungkinkan bosnya itu bertemu istrinya di hadapan umum yang kemungkinan dapat memancing kehebohan.

“Tapi kalau akhirnya dia tau lo di sini, gimana?”

“Menurut lo dia akan marah nggak kalau tau dari orang lain?” Aryo terlihat berpikir dan ia meminta pendapat asistennya itu.

“Perempuan emang sulit ditebak, Bro. Tapi habis ngungkapin perasaan, biasanya mereka lebih sensitif. Saran gue, jangan nyembunyiin apapun dari istri lo. Insting seorang istri kuat coy, intel mah lewat.”

***

“Kita bisa bicarain ini di rumah, Tiara.”

“Kenapa nggak disini aja? Udah tujuh jam dari pertanyaan gue, tapi lo belum jawab,” kekeuh Tiara.

Aryo mendapati Tiara hadir di seminar itu dan kini gadis itu menemuinya di lorong menuju ruangan khusus tamu, setelah acara selesai. Tiara meminta Aryo menjawab soal diskusi mereka untuk memiliki anak.

“Lo ngehindarin gue. Bahkan gue tau lo di sini dari orang lain,” ucap Tiara.

“Tiara,” interupsi suara berasal dari belakang Tiara. Terlihat Akmal berjalan menghampiri keduanya.

“Maaf Pak Aryo, apakah Anda memiliki urusan penting dengan salah satu mahasiswi kami?” tanya Akmal pada Aryo.

“Mahasiswi yang kamu maksud adalah istri saya,” ucap Aryo.

Tiara bergantian menatap kedua orang yang saling melemparkan kalimat dengan tatapan dan nada yang terdengar tidak bersahabat itu.

“Tapi kehadiran Bapak di sini adalah sebagai pembicara seminar. Demi ketertiban acara, jika ada urusan pribadi dengan mahasiswi kami, mohon di selesaikan di luar area kampus,” tukas Akmal.

***

Saat Tiara keluar dari kelas terakhirnya sekitar pukul lima sore, Akmal sudah menunggunya di depan kelas gadis itu.

“Hai Mal,” sapa Tiara.

“Hai Ra. Kita jadi kan ngerjain tugas bareng?”

Tepat saat itu ponsel Tiara berbunyi dan ternyata Aryo yang menelfonnya.

“Suami lo?” tanya Akmal.

Tiara mengangguk. “Dia cuma bakal nanyain gue dimana terus minta gue pulang. Yang lo bilang ke gue ada benernya, Mal. Gue cuma aset yang akan bawa dia buat dapetin jabatan itu. So, thats the reason he really wants to protect me.”

***

“Mal gue mau nanya sesuatu deh sama lo,” ujar Tiara.

“Nanya apa Ra?”

Setelah mengambil beberapa foto pemandangan untuk keperluan tugas mata kuliah fotografi, mereka berjalan santai bersama beberapa orang yang sedang menikmati indahnya pantai di sore hari.

Semakin menjelang malam, pemandangan pantai yang merupakan reklamasi teluk di ibukota ini semakin indah. Bermacam-macam orang datang kesini dengan tujuan yang berbeda. Beberapa meter lagi, mereka akan sampai untuk melihat dengan jelas pemandangan matahari terbenam.

“Lo pernah nolak perasaan lo saat lo suka sama seseorang?” tanya Tiara.

“Pernah,” jawab Akmal. Langkah kaki keduanya berhenti dan di depan mereka kini terpampang pemandangan matahari terbenam.

“Terus gimana?”

“Gue nggak bisa nolak perasaan itu selamanya. Jadi gue mutusin suka sama orang itu sampai saat ini,” jelas Akmal.

Tiara dan Akmal menikmati pemandangan sunset di tambah angin yang bertiup lembut, terasa begitu menenangkan pikiran.

“Lo nggak pernah cerita sama gue soal ini, padahal kita temenan lama. Lo emangnya nggak anggap gue sahabat lo?” tanya Tiara dengan nada seolah-olah ia tengah marah besar pada Akmal.

She have someone, Ra.”

Tiara termangu mendengarnya. Ia memutuskan tidak bertanya lebih lanjut karena tidak ingin membuat perasaan sahabatnya menjadi kacau.

“Ohya Ra, lo tahu kenapa gue suka banget sama tempat ini?”

“Kenapa?”

“Saat lo punya masalah, entah itu cinta, keluarga, atau lo khawatir dengan masa depan lo. Tempat ini bisa bikin lo tenang. Nggak akan ada yang ngeliat lo dengan tatapan ingin tau, xkarena mereka juga memiliki tujuan masing-masing ke tempat ini.”

“Lampu jalannya cuma ada dikit Mal. Pantes aja di sini gelap.” Tiara menyapukan pandangannya ke sekeliling untuk memastikan. Benar saja, lampu jalan disini sangat minim.

But I still can see a star, in front of me,” papar Akmal.

Where?

Here,” Akmal mengunci pandangan Tiara dengan kedua netranya. Tiara mendapati Akmal menatapnya dengan cara yang berbeda selama ia mengenal pria ini.

Like a star, you light up my world, Tiara.”

Tiara terdiam tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Ia menyadari satu hal hari ini. Sahabat lelakinya tengah menaruh perasaan padanya, sebuah perasaan untuk menjadi lebih dari seorang teman.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara bersyukur ia masih memiliki alasan untuk keluar dari tempat tinggalnya, yakni dengan berkuliah. Tentu Tiara akan memanfaatkan waktu tersebut dan tidak langsung kembali ke rumah ketika perkuliahan selesai.

Tiara sedang berada di kantin bersama Adrian dan Sandi sembari menunggu kelas selanjutnya dimulai. Biasanya Valdo selalu menempel dengan Sandi, tapi entah kemana perginya bocah itu kali ini. Kalau ada Valdo, mugkin cowok itu jadi yang paling heboh dan ingin tahu soal pernikahannya. Tentu Tiara akan malas menjawab pertanyaan itu.

“Pulang ngampus lo nggak bareng Akmal lagi dong, Ra?” tanya Adrian sebelum ia menghembuskan asap rokoknya. Memang biasanya Tiara pulang kampus bareng Akmal dikarenakan rumahnya dan Akmal yang searah dan jaraknya cukup dekat.

“Ada Akmal suruh matiin tuh rokok,” Sandi memperingati Adrian. Dengan berat hati, cowok itu pun menurut. Adrian mematikan rokoknya yang baru ia hisap setengahnya itu. Biasanya tidak lama Akmal akan datang dimana itu ada Tiara.

Tiara merasakan pundaknya ditepuk dan ia langsung menoleh pada sosok yang kehadirannya saat ini tidak ia harapkan. “Gimana Ra? Nikah enak nggak?” seru Valdo.

Valdo mengambil tempat duduk di samping Tiara dan menaruh tasnya di atas meja. Pria itu tersenyum pada Tiara dan minta perempuan itu untuk menjawab pertanyaannya.

“Nggak enak, karena nggak sebebas sebelum nikah,” jawab Tiara apa adanya.

“Yahh, bakal susah kayaknya nih nongkrong sama kita,” celetuk Sandi sambil nampilin wajah sok sedihnya.

“Nanti gue pulang bareng sama Akmal,” celetuk Tiara.

“Akmal kayaknya sampe malem di kampus Ra, soalnya dia ada rapat. Dia kan ketua pelaksana acara untuk orientasi maahasiswa baru,” ujar Adrian.

“Iya, gue nunggu Akmal selesai rapat dulu,” timpal Tiara menanggapi ucapan Adrian.

***

Tiara dan Akmal berjalan bersisian menuju parkiran motor yang berada di belakang gedung fakultas mereka. Setelah selesai dengan rapat kepanitiannya, Akmal menepati janjinya untuk pergi berdua dengan Tiara.

Mereka sampai di parkiran dan Akmal pun memberikan sebuah helm bogo berwarna putih kepada Tiara.

“Masih lo bawa aja nih helm,” celetuk Tiara setelah memasang helm itu di kepalanya.

“Emangnya lo nggak mau pulang bareng gue lagi?”

“Lo lupa gue udah jadi istri orang,” ujar Tiara diiringi tawanya yang terdengar hambar.

Akmal menghadap Tiara dan tangannya bergerak memastikan pengait helm milik Tiara telah terpasang dengan sempurna.

“Ra, jangan buru-buru ngejalanin rencana ini. Oke?” Akmal wajahnya menampakkan kekhawatiran.

Tiara mengulas senyumnya untuk meyakinkan Akmal semuanya akan baik-baik saja. Tiara menceritakan pada Akmal mengenai perjanjian yang telah ia sepakati dengan Aryo. Perjanjian tersebut berguna untuk mencegah resiko buruk yang bisa terjadi selama mereka menjalankan rencana.

“Gue akan berusaha untuk dapetin informasi tanpa Aryo curiga dan tau soal rencana kita,” ujar Tiara.

“Gimana caranya lo dapet informasi, kalau ada batasan antara lo sama dia karena perjanjian itu?”

“Gue bisa ngelakuinnya dengan cara yang halus. Kayak yang di bilang dosen kita di mata kuliah marketing, it's called soft selling.”

“Gimana cara kerjanya?”

“Sekarang gue adalah istrinya. Pertama, gue akan bikin Aryo percaya sama gue dan pelan-pelan hubungan kita membaik. Habis itu gue akan cari informasinya saat gue udah punya akses ke sana.”

Tiara mengecek arloji dpi pergelangan tangannya, “Nanti kita bahas ini lagi. Kita harus berangkat sekarang kalau nggak mau telat nonton filmnya.”

“Tunggu, Ra.” Akmal menahan pergelangan tangan Tiara dan menatap matanya.

“Kenapa?”

“Gue khawatir lo salah langkah dengan ngambil cara ini. Gue nggak bodoh untuk ngerti maksud kata-kata lo, Tiara.”

“Lo khawatir soal apa?” Mereka saling bertatapan dan Tiara tidak mengerti dimana letak kekhawatiran sahabatnya itu.

Akmal hanya menggeleng. Kemudian lelaki itu menancapkan kunci pada motornya dan meminta Tiara untuk naik ke boncengan.

***

“Makasih ya Ma, hari ini udah nemenin gue,” ujar Tiara setelah mengembalikan helm yang ia pakai kepada Akmal.

“Gue masuk dulu ya, lo hati-hati di jalan,” timpal Tiara sebelum berjalan ke arah bangunan yang saat ini menjadi tempat tinggalnya. Tiara meminta Akmal menurunkannya sekitar seratus meter lebih dari bangunan tingkat tiga itu.

“Tiara,” Akmal memanggilnya dan Tiara menoleh. Akmal turun dari motornya lalu berlari kecil untuk menghampirinya.

“Ada yang ketinggalan Mal?” tanya Tiara dan Akmal hanya menggeleng sebagai jawaban.

“Ohiya, anak-anak bilangm satu bulan kedepan lo bakal sibuk ya sama acara orientasi mahasiswa baru.” Tiara teringat pembicaraan di kantin siang tadi dengan teman-temannya.

“Iya, gue bakal sedikit sibuk. Tapi kalau ada apa-apa, lo bisa hubungin gue Ra,” ucap Akmal yang dijawab Tiara dengan sebuah anggukan. Akmal mengarahkan tangannya ke puncak kepala Tiara lalu menepuk pelan di sana dan mengusapnya sekilas.

“Gue bakal kangen lo dan semua memori yang kita punya. Mungkin sekarang kita nggak bisa kayak dulu. Apa gue kedengeran kayak orang yang egois, Ra?”

“Kita tetep bisa kayak dulu kali, Mal. Selama lo bisa jagain gue, Aryo bolehin gue punya kebebasan sesuai dengan perjanjiannya,” jelas Tiara.

Keduanya pun sama-sama mengulas senyum. Kemudian Tiara sungguhan harus masuk. Akmal membiarkan Tiara pergi dari hadapannya dengan perasaan khawatir yang sebenarnya akan selalu ia sematkan untuk gadis itu.

Mengingat Tiara harus menyimpan rekaman memori pahit mengenai masa lalunya. Tiara adalah teman masa kecilnya yang perlahan memasuki relung hatinya. Perasaannya pada Tiara berubah menjadi perasaan antara laki-laki dan perempuan yang sudah sama-sama dewasa.

Akmal tidak pernah menduga ia akan mencintai sahabatnya seperti ini. Gadis kecil yang dulu sangat ingin ia lindungi, kini sudah bertumbuh dewasa dan begitu cantik. Sayangnya Akmal bukanlah pria beruntung yang menikahi gadis itu. Ada pria lain yang telah menikahinya dan Tiara adalah milik pria itu saat ini. Namun di sisi lain, Akmal memiliki tekad untuk mewujudkan keinginan Tiara, agar gadis itu tidak mendapatkan mimpi buruknya lagi.

Ketakutannya mengenai rencana Tiara barusan terasa terlalu berlebihan dan tidak berdasar untuk sekarang.

Pria itu menyisir kebelakang surai hitam legamnya dengan jari-jari tangannya. Kemudian ia menghembuskan napasnya panjang. Sebelum pergi dari sana, Akmal memastikan punggung kecil Tiara tidak terlihat lagi oleh jarak pandangnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara bersyukur ia masih memiliki alasan untuk keluar dari tempat tinggalnya, yakni dengan berkuliah. Tentu Tiara akan memanfaatkan waktu tersebut dan tidak langsung kembali ke rumah ketika perkuliahan selesai.

Tiara sedang berada di kantin bersama Adrian dan Sandi sembari menunggu kelas selanjutnya dimulai. Biasanya Valdo selalu menempel dengan Sandi, tapi entah kemana perginya bocah itu kali ini. Kalau ada Valdo, mugkin cowok itu jadi yang paling heboh dan ingin tahu soal pernikahannya. Tentu Tiara akan malas menjawab pertanyaan itu.

“Pulang ngampus lo nggak bareng Akmal lagi dong, Ra?” tanya Adrian sebelum ia menghembuskan asap rokoknya. Memang biasanya Tiara pulang kampus bareng Akmal dikarenakan rumahnya dan Akmal yang searah dan jaraknya cukup dekat.

“Ada Akmal suruh matiin tuh rokok,” Sandi memperingati Adrian. Dengan berat hati, cowok itu pun menurut. Adrian mematikan rokoknya yang baru ia hisap setengahnya itu. Biasanya tidak lama Akmal akan datang dimana itu ada Tiara.

Tiara merasakan pundaknya ditepuk dan ia langsung menoleh pada sosok yang kehadirannya saat ini tidak ia harapkan. “Gimana Ra? Nikah enak nggak?” seru Valdo.

Valdo mengambil tempat duduk di samping Tiara dan menaruh tasnya di atas meja. Pria itu tersenyum pada Tiara dan minta perempuan itu untuk menjawab pertanyaannya.

“Nggak enak, karena nggak sebebas sebelum nikah,” jawab Tiara apa adanya.

“Yahh, bakal susah nongkrong lagi dong sama kita,” celetuk Sandi sambil nampilin wajah sok sedihnya.

“Nanti gue pulang bareng sama Akmal,” celetuk Tiara.

“Akmal kayaknya sampe malem di kampus Ra, soalnya dia ada rapat. Dia kan ketua pelaksana acara untuk orientasi maahasiswa baru,” ujar Adrian.

“Iya, gue nunggu Akmal selesai rapat dulu,” timpal Tiara menanggapi ucapan Adrian.

***

Tiara dan Akmal berjalan bersisian menuju parkiran motor yang berada di belakang gedung fakultas mereka. Setelah selesai dengan rapat kepanitiannya, Akmal menepati janjinya untuk pergi berdua dengan Tiara.

Mereka sampai di parkiran dan Akmal pun memberikan sebuah helm bogo berwarna putih kepada Tiara.

“Masih lo bawa aja nih helm,” celetuk Tiara setelah memasang helm itu di kepalanya.

“Emangnya lo nggak mau pulang bareng gue lagi?”

“Lo lupa gue udah jadi istri orang,” ujar Tiara diiringi tawanya yang terdengar hambar.

Akmal menghadap Tiara dan tangannya bergerak memastikan pengait helm milik Tiara telah terpasang dengan sempurna.

“Ra, jangan buru-buru ngejalanin rencana ini. Oke?” Akmal wajahnya menampakkan kekhawatiran.

Tiara mengulas senyumnya untuk meyakinkan Akmal semuanya akan baik-baik saja. Tiara menceritakan pada Akmal mengenai perjanjian yang telah ia sepakati dengan Aryo. Perjanjian tersebut berguna untuk mencegah resiko buruk yang bisa terjadi selama mereka menjalankan rencana.

“Gue akan berusaha untuk dapetin informasi tanpa Aryo curiga dan tau soal rencana kita,” ujar Tiara.

“Gimana caranya lo dapet informasi, kalau ada batasan antara lo sama dia karena perjanjian itu?”

“Gue bisa ngelakuinnya dengan cara yang halus. Kayak yang di bilang dosen kita di mata kuliah marketing, it's called soft selling.”

“Gimana cara kerjanya?”

“Sekarang gue adalah istrinya. Pertama, gue akan bikin Aryo percaya sama gue dan pelan-pelan hubungan kita membaik. Habis itu gue akan cari informasinya saat gue udah punya akses ke sana. Nanti kita bahas ini lagi. Kita harus berangkat sekarang kalau nggak mau telat nonton filmnya,” Tiara menepuk pundak Akmal untuk menyadarkan cowok itu dari diamnya.

“Tunggu, Ra.” Akmal menahan pergelangan tangan Tiara dan menatap matanya.

“Kenapa?”

“Gue cuma takut, lo salah langkah dengan ngambil cara ini. Gue nggak bodoh untuk ngerti maksud kata-kata lo, Tiara.”

“Lo khawatir soal apa?” Mereka saling bertatapan dan Tiara tidak mengerti dimana letak kekhawatiran sahabatnya itu.

Akmal hanya menggeleng. Kemudian lelaki itu menancapkan kunci pada motornya dan meminta Tiara untuk naik ke boncengan.

***

“Makasih ya Ma, hari ini udah nemenin gue,” ujar Tiara setelah mengembalikan helm yang ia pakai kepada Akmal.

“Gue masuk dulu ya, lo hati-hati di jalan,” timpal Tiara sebelum berjalan ke arah bangunan yang saat ini menjadi tempat tinggalnya. Tiara meminta Akmal menurunkannya sekitar seratus meter lebih dari bangunan tingkat tiga itu.

“Tiara,” Akmal memanggilnya dan Tiara menoleh. Akmal turun dari motornya lalu berlari kecil untuk menghampirinya.

“Ada yang ketinggalan Mal?” tanya Tiara dan Akmal hanya menggeleng sebagai jawaban.

“Ohiya, anak-anak bilangm satu bulan kedepan lo bakal sibuk ya sama acara orientasi mahasiswa baru.” Tiara teringat pembicaraan di kantin siang tadi dengan teman-temannya.

“Iya, gue bakal sedikit sibuk. Tapi kalau ada apa-apa, lo bisa hubungin gue Ra,” ucap Akmal yang dijawab Tiara dengan sebuah anggukan. Akmal mengarahkan tangannya ke puncak kepala Tiara lalu menepuk pelan di sana dan mengusapnya sekilas.

“Gue bakal kangen lo dan semua memori yang kita punya. Mungkin sekarang kita nggak bisa kayak dulu. Apa gue kedengeran kayak orang yang egois, Ra?”

“Kita tetep bisa kayak dulu kali, Mal. Selama lo bisa jagain gue, Aryo bolehin gue punya kebebasan sesuai dengan perjanjiannya,” jelas Tiara.

Keduanya pun sama-sama mengulas senyum. Kemudian Tiara sungguhan harus masuk. Akmal membiarkan Tiara pergi dari hadapannya dengan perasaan khawatir yang sebenarnya akan selalu ia sematkan untuk gadis itu.

Mengingat Tiara harus menyimpan rekaman memori pahit mengenai masa lalunya. Tiara adalah teman masa kecilnya yang perlahan memasuki relung hatinya. Perasaannya pada Tiara berubah menjadi perasaan antara laki-laki dan perempuan yang sudah sama-sama dewasa.

Akmal tidak pernah menduga ia akan mencintai sahabatnya seperti ini. Gadis kecil yang dulu sangat ingin ia lindungi, kini sudah bertumbuh dewasa dan begitu cantik. Sayangnya Akmal bukanlah pria beruntung yang menikahi gadis itu. Ada pria lain yang telah menikahinya dan Tiara adalah milik pria itu saat ini. Namun di sisi lain, Akmal memiliki tekad untuk mewujudkan keinginan Tiara, agar gadis itu tidak mendapatkan mimpi buruknya lagi.

Ketakutannya mengenai rencana Tiara barusan terasa terlalu berlebihan dan tidak berdasar untuk sekarang.

Pria itu menyisir kebelakang surai hitam legamnya dengan jari-jari tangannya. Kemudian ia menghembuskan napasnya panjang. Sebelum pergi dari sana, Akmal memastikan punggung kecil Tiara tidak terlihat lagi oleh jarak pandangnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara tidak ada kelas siang ini karena dosennya membatalkan kelas secara tiba-tiba. Gadis itu berniat pulang saja dan cabut kelas yang masih tersisa di jam tiga sore nanti. Namun tidak disangka juga olehnya, ia membatalkan niatnya itu hanya karena seseorang yang membiayai kuliahnya. Pengaruh dan eksistensi Aryo di hidupnya telah memberikan dampak yang begitu besar bagi aspek-aspek kehidupan Tiara.

Tiara keluar dari kelasnya dan mendapati ponselnya berbunyi.

“Dimana Ra?”

“Baru aja keluar kelas. Lo dimana?”

“Lo masih ada kelas kan nanti sore?”

“Iya. Kenapa emang Mal?”

“Sekarang lo sama siapa? Lo nggak sendirian kan?”

Tiara tidak langsung menjawab.

“Gue telfon Valdo ya?” ujar Akmal sebelum Tiara menjawabnya.

“Nggak usah, Mal. Ini orangnya lagi jalan ke arah gue.” Tiara menatap lurus pada sosok Valdo yang terlihat berjalan ke kearahnya di lorong lantai dua.

Ketika Valdo berada di hadapannya, sambungan telfonnya dengan Akmal pun berakhir.

“Akmal?” tebak Valdo.

“Iya, tadi hampir nelfon lo, tapi lo udah nongol.” Tiara dan Valdo berjalan bersama menuju lift untuk turun.

Tiara mengamati ekspresi Valdo yang nampak berbeda dari biasanya itu.

“Lo kenapa?” tembak Tiara. Ia menyadari ekspresi sahabatnya itu nampak berbeda dari biasanya.

“Nggak papa,” jawab Valdo.

Tiara telah sangat mengenal sahabatnya itu dan firasatnya mengatakan ada sesuatu yang Valdo sembunyikan dari Tiara.

“Do, lo tau kan gue nggak suka sahabat gue nyembunyiin sesuatu dari gue.”

***

“Lo tau apa yang ada di pikiran gue?” tanya Aryo.

Rama yang mendengar pertanyaan yang lebih mirip pernyataan dari atasannya itu, langsung memasang ekspresi terkejut.

“Acaranya masih lima belas menit lagi. Lo nggak mau ngasih tau istri lo?” Rama melihat arloji di tangannya. Mereka berada di satu ruangan khusus untuk menunggu yang telah di sediakan oleh panitia acara.

“Untuk?”

“Ngasih tau lo ada di sini lah,” ujar Rama.

“Dia mahasiswi di sini Ram.”

“Cuma ketemu sebentar elah.”

“Terus apa yang harus gue bilang, kalau ada yang orang yang liat?”

Rama pun mengangguk mengerti. Kondisinya memang tidak memungkinkan bosnya itu bertemu istrinya di hadapan umum yang kemungkinan dapat memancing kehebohan.

“Tapi kalau akhirnya dia tau lo di sini, gimana?”

“Menurut lo dia akan marah nggak kalau tau dari orang lain?” Aryo terlihat berpikir dan ia meminta pendapat asistennya itu.

“Perempuan emang sulit ditebak, Bro. Tapi habis ngungkapin perasaan, biasanya mereka lebih sensitif. Saran gue, jangan nyembunyiin apapun dari istri lo. Insting seorang istri kuat coy, intel mah lewat.”

***

“Kita bisa bicarain ini di rumah, Tiara.”

“Kenapa nggak disini aja? Udah tujuh jam dari pertanyaan gue, tapi lo belum jawab,” kekeuh Tiara.

Aryo menatap Tiara yang berada di hadapannya. Setelah adegan saling bertukar pandang di antara ratusan pasang mata yang semangat menatap suaminya ketika bicara di atas stage, saat mata pria itu bertemu dengan matanya ; fokus Aryo langsung tertuju pada mata Tiara.

Aryo mendapati Tiara hadir di seminar itu dan kini gadis itu menemuinya di lorong menuju ruangan khusus tamu, setelah acara seminarnya selesai. Tiara meminta Aryo menjawab soal diskusi mereka untuk memiliki anak.

“Lo ngehindarin gue. Bahkan gue tau lo di sini dari orang lain,” ucap Tiara.

“Tiara.” Suara itu berasal dari arah belakang Tiara dan mereka mendapati Akmal berjalan menghampiri keduanya.

“Maaf Pak Aryo, apakah Anda memiliki urusan penting dengan salah satu mahasiswi kami?” tanya Akmal pada Aryo.

“Mahasiswi yang kamu maksud adalah istri saya,” ucap Aryo.

Tiara bergantian menatap kedua orang yang saling melemparkan kalimat dengan tatapan dan nada yang terdengar tidak bersahabat itu.

“Tapi kehadiran Bapak di sini adalah sebagai pembicara seminar. Demi ketertiban acara, jika ada urusan pribadi dengan mahasiswi kami, mohon di selesaikan di luar area kampus,” tukas Akmal.

***

Saat Tiara keluar dari kelas terakhirnya sekitar pukul lima sore, Akmal sudah menunggunya di depan kelas gadis itu.

“Hai Mal,” sapa Tiara.

“Hai Ra. Kita jadi kan ngerjain tugas bareng?”

Tepat saat itu ponsel Tiara berbunyi dan ternyata Aryo yang menelfonnya.

“Suami lo?” tanya Akmal.

Tiara mengangguk. “Dia cuma bakal nanyain gue dimana terus minta gue pulang. Yang lo bilang ke gue ada benernya, Mal. Gue cuma aset yang akan bawa dia buat dapetin jabatan itu. So, thats the reason he really wants to protect me.”

***

“Mal gue mau nanya sesuatu deh sama lo,” ujar Tiara.

“Nanya apa Ra?”

Setelah mengambil beberapa foto pemandangan untuk keperluan tugas mata kuliah fotografi, mereka berjalan santai bersama beberapa orang yang sedang menikmati indahnya pantai di sore hari.

Semakin menjelang malam, pemandangan pantai yang merupakan reklamasi teluk di ibukota ini semakin indah. Bermacam-macam orang datang kesini dengan tujuan yang berbeda. Beberapa meter lagi, mereka akan sampai untuk melihat dengan jelas pemandangan matahari terbenam.

“Lo pernah nolak perasaan lo saat lo suka sama seseorang?” tanya Tiara.

“Pernah,” jawab Akmal. Langkah kaki keduanya berhenti dan di depan mereka kini terpampang pemandangan matahari terbenam.

“Terus gimana?”

“Gue nggak bisa nolak perasaan itu selamanya. Jadi gue mutusin suka sama orang itu sampai saat ini,” jelas Akmal.

Tiara dan Akmal menikmati pemandangan sunset di tambah angin yang bertiup lembut, terasa begitu menenangkan pikiran.

“Lo nggak pernah cerita sama gue soal ini, padahal kita temenan lama. Lo emangnya nggak anggap gue sahabat lo?” tanya Tiara dengan nada seolah-olah ia tengah marah besar pada Akmal.

She have someone, Ra.”

Tiara termangu mendengarnya. Ia memutuskan tidak bertanya lebih lanjut karena tidak ingin membuat perasaan sahabatnya menjadi kacau.

“Ohya Ra, lo tahu kenapa gue suka banget sama tempat ini?”

“Kenapa?”

“Saat lo punya masalah, entah itu cinta, keluarga, atau lo khawatir dengan masa depan lo. Tempat ini bisa bikin lo tenang. Nggak akan ada yang ngeliat lo dengan tatapan ingin tau, xkarena mereka juga memiliki tujuan masing-masing ke tempat ini.”

“Lampu jalannya cuma ada dikit Mal. Pantes aja di sini gelap.” Tiara menyapukan pandangannya ke sekeliling untuk memastikan. Benar saja, lampu jalan disini sangat minim.

But I still can see a star, in front of me,” papar Akmal.

Where?

Here,” Akmal mengunci pandangan Tiara dengan kedua netranya. Tiara mendapati Akmal menatapnya dengan cara yang berbeda selama ia mengenal pria ini.

Like a star, you light up my world, Tiara.”

Tiara terdiam tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Ia menyadari satu hal hari ini. Sahabat lelakinya tengah menaruh perasaan padanya, sebuah perasaan untuk menjadi lebih dari seorang teman.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara tidak ada kelas siang ini karena dosennya membatalkan kelas secara tiba-tiba. Gadis itu berniat pulang saja dan cabut kelas yang masih tersisa di jam tiga sore nanti. Namun tidak disangka juga olehnya, ia membatalkan niatnya itu hanya karena seseorang yang membiayai kuliahnya. Pengaruh dan eksistensi Aryo di hidupnya telah memberikan dampak yang begitu besar bagi aspek-aspek kehidupan Tiara.

Tiara keluar dari kelasnya dan mendapati ponselnya berbunyi.

“Dimana Ra?”

“Baru aja keluar kelas. Lo dimana?”

“Lo masih ada kelas kan nanti sore?”

“Iya. Kenapa emang Mal?”

“Sekarang lo sama siapa? Lo nggak sendirian kan?”

Tiara tidak langsung menjawab.

“Gue telfon Valdo ya?” ujar Akmal sebelum Tiara menjawabnya.

“Nggak usah, Mal. Ini orangnya lagi jalan ke arah gue.” Tiara menatap lurus pada sosok Valdo yang terlihat berjalan ke kearahnya di lorong lantai dua.

Ketika Valdo berada di hadapannya, sambungan telfonnya dengan Akmal pun berakhir.

“Akmal?” tebak Valdo.

“Iya, tadi hampir nelfon lo, tapi lo udah nongol.” Tiara dan Valdo berjalan bersama menuju lift untuk turun.

Tiara mengamati ekspresi Valdo yang nampak berbeda dari biasanya itu.

“Kenapa muka lo?” tembak Tiara.

“Nggak papa,” jawab Valdo.

Tiara mengenal sahabatnya itu dan firasatnya mengatakan ada sesuatu yang Valdo sembunyikan dari Tiara.

“Do, lo tau kan gue nggak suka sahabat gue nyembunyiin sesuatu dari gue.”

***

“Lo tau apa yang ada di pikiran gue?” tanya Aryo.

Rama yang mendengar pertanyaan yang lebih mirip pernyataan dari atasannya itu, langsung memasang ekspresi terkejut.

“Acaranya masih lima belas menit lagi. Lo nggak mau ngasih tau istri lo?” Rama melihat arloji di tangannya. Mereka berada di satu ruangan khusus untuk menunggu yang telah di sediakan oleh panitia acara.

“Untuk?”

“Ngasih tau lo ada di sini lah,” ujar Rama.

“Dia mahasiswi di sini Ram.”

“Cuma ketemu sebentar elah.”

“Terus apa yang harus gue bilang, kalau ada yang orang yang liat?”

Rama pun mengangguk mengerti. Kondisinya memang tidak memungkinkan bosnya itu bertemu istrinya di hadapan umum yang kemungkinan dapat memancing kehebohan.

“Tapi kalau akhirnya dia tau lo di sini, gimana?”

“Menurut lo dia akan marah nggak kalau tau dari orang lain?” Aryo terlihat berpikir dan ia meminta pendapat asistennya itu.

“Perempuan emang sulit ditebak, Bro. Tapi habis ngungkapin perasaan, biasanya mereka lebih sensitif. Saran gue, jangan nyembunyiin apapun dari istri lo. Insting seorang istri kuat coy, intel mah lewat.”

***

“Kita bisa bicarain ini di rumah, Tiara.”

“Kenapa nggak disini aja? Udah tujuh jam dari pertanyaan gue, tapi lo belum jawab,” kekeuh Tiara.

Aryo menatap Tiara yang berada di hadapannya. Setelah adegan saling bertukar pandang di antara ratusan pasang mata yang semangat menatap suaminya ketika bicara di atas stage, saat mata pria itu bertemu dengan matanya ; fokus Aryo langsung tertuju pada mata Tiara.

Aryo mendapati Tiara hadir di seminar itu dan kini gadis itu menemuinya di lorong menuju ruangan khusus tamu, setelah acara seminarnya selesai. Tiara meminta Aryo menjawab soal diskusi mereka untuk memiliki anak.

“Lo ngehindarin gue,” ucap Tiara.

“Tiara.” Suara itu berasal dari arah belakang Tiara dan mereka mendapati Akmal berjalan menghampiri keduanya.

“Maaf Pak Aryo, apakah Anda memiliki urusan penting dengan salah satu mahasiswi kami?” tanya Akmal.

“Mahasiswi yang kamu maksud adalah istri saya,” ucap Aryo.

Tiara bergantian menatap kedua orang yang saling melemparkan kalimat dengan tatapan dan nada yang terdengar tidak bersahabat itu.

“Tapi kehadiran Bapak di sini adalah sebagai pembicara. Demi ketertiban acara, jika ada urusan pribadi dnegan mahasiswi kami, mohon di selesaikan di luar area kampus,” tukas Akmal.

***

Saat Tiara keluar dari kelas terakhirnya sekitar pukul lima sore, Akmal sudah menunggunya di depan kelas gadis itu.

“Hai Mal,” sapa Tiara.

“Hai Ra. Kita jadikan ngerjain tugas bareng?”

Tiara terlihat berpikir sebelum menjawabnya. Tepat saat itu ponselnya berbunyi dan Aryo yang menelfonnya.

“Suami lo?” tanya Akmal.

Tiara hanya mengangguk.

“Dia cuma bakal nanyain gue dimana terus minta gue pulang. Yang lo bilang ke gue ada benernya. Gue cuma aset yang akan bawa dia dapetin jabatan itu. So, thats the reason he really wants to protect me.”

***

“Mal gue mau nanya sesuatu deh sama lo,” ujar Tiara.

“Nanya apa Ra?”

Setelah mengambil beberapa foto pemandangan untuk keperluan tugas mata kuliah fotografi, mereka berjalan santai bersama beberapa orang yang sedang menikmati indahnya pantai di sore hari.

Semakin menjelang malam, pemandangan pantai yang merupakan reklamasi teluk di ibukota ini semakin indah. Bermacam-macam orang datang kesini dengan tujuan yang berbeda. Beberapa meter lagi, mereka akan sampai untuk melihat dengan jelas pemandangan matahari terbenam.

“Apa lo pernah nolak perasaan lo sendiri saat lo suka sama seseorang?”

“Pernah,” jawab Akmal.

“Terus gimana?”

“Gue nggak bisa nolak perasaan itu selamanya. Jadi gue mutusin suka sama orang itu sampai saat ini.”

Tiara dan Akmal menikmati pemandangan sunset di tambah angin yang bertiup lembut, terasa begitu menenangkan pikiran.

“Lo nggak pernah cerita sama gue soal ini. Kita temenan lama. Lo emangnya nggak anggap gue sahabat lo?” tanya Tiara dengan nada seolah ia tengah marah besar pada Akmal.

She’s have someone, Ra.”

Tiara terdiam mendengarnya. Ia memutuskan tidak bertanya lebih lanjut karena tidak ingin membuat perasaan sahabatnya menjadi kacau.

“Ohya Ra, lo tahu kenapa gue suka banget sama tempat ini?”

“Kenapa?”

“Saat lo punya masalah, entah itu cinta, keluarga, atau lo khawatir dengan masa depan lo, tempat ini bisa bikin lo tenang. Nggak akan ada yang ngeliat lo dengan tatapan ingin tau, karena mereka juga memiliki tujuan masing-masing ke tempat ini.”

“Lampu jalannya cuma ada dikit Mal. Emang gelap di sini,” Tiara menyapukan pandangannya ke sekeliling untuk memastikan. Benar saja, lampu jalan disini sangat minim.

But I still can see the star in front of me.”

Where?

Here.”

Akmal mengunci kedua mata Tiara dengan matanya. Lelaki itu menatapnya dengan cara yang berbeda selama ia mengenal pria ini.

You light up my world, Tiara.”

Tiara terdiam sejenak tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo mendapat tugas mengajarinya memasak mulai hari ini hingga setidaknya sampai Tiara bisa masak makanan kesukaan pria itu.

Sebenarnya, Aryo tidak terlalu pemilih terhadap makanan. Namun terasa sulit bagi Tiara yang belum ahli memasak. Meski kata Tiara, gadis itu sering membantu bundanya di dapur, tapi tetap saja ia harus belajar dari orangnya langsung agar racikannya sesuai dengan selera Aryo.

Setelah 30 menit di dapur, akhirnya Tiara mendapat tugas mencuci piring kotor. Aryo mengambil alih teflon dan melanjutkan memasak sarapan untuk mereka, setelah Tiara hampir saja membakar seisi dapurnya.

“Padahal tadi cuma kebesaran dikit apinya. Lo bisa lanjut ajarin gue masak, Aryo. Yaa ... boleh ya ...?” bujuk Tiara sambil menunjukkan wajah memelasnya.

Tiara masih ingin melanjutkan sesi les memasaknya bersama Aryo, tapi lelaki itu justru menyuruhnya duduk manis dan menunggu makanannya siap. Rupanya Tiara tidak menyerah untuk meminta perhatian Aryo yang sedang fokus dengan kegiatan memasaknya itu.

“Nanti malah lo kenapa-napa,” ujar Aryo.

“Gue nggak bakal membakar rumah ini, Aryo.”

Indeed. Tapi lo membahayakan diri lo sendiri, Ra. Kita berdua bisa ada dalam bahaya.”

“Oke-oke. Karena lo udah berjasa untuk perut gue pagi ini, you can ask me for one wish. You can tell what you want.” Tiara mengekori Aryo yang membawa sepiring besar masakan yang sudah siap ke meja makan.

“Permintaan gue cuma satu. Gimana kalau kita nggak langgar perjanjian yang udah kita sepakatin?” ucap Aryo sambil menatap ke mata Tiara.

“Kenapa? Bukannya dengan punya keturunan akan menguntungkan posisi lo yang sekarang?”

You’re right, Tiara.”

“Keluarga lo juga menginginkan keturunan dari kita, kan?”

Aryo nampak berpikir sejenak, mereka duduk berhadapan setelah ia menarik kursi meja makan.

“Kita bakal cari cara, biar mereka nggak buru-buru minta anak dari kita.”

“Sebelum kita cerai, keluarga akan nuntut anak dari kita. Satu tahun bukan waktu yang sebentar, Aryo. Kayak yang lo bilang sebelum kita nikah, mereka bisa curiga sama pernikahan kita. Keluarga lo bisa aja minta lo nikah lagi, karena kalau sama gue, lo nggak akan mendapatkannya.” Tiara mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauk, kemudian ia menaruhnya di hadapan Aryo.

“Kenapa lo bisa nyimpulin kayak gitu?” tanya Aryo dengan kerutan yang muncul di dahinya.

“Kalau nggak ada keturunan dalam keluarga, pilihan itu bisa diambil, kan? Kalau gitu, lebih baik kita cerai lebih cepat aja. Karena gue nggak bisa ngeliat itu dengan mata kepala gue, Aryo.”

Why?

Tiara menghela napasnya sejenak, “I have a reason. Like you said before, about the feeling. I can’t ignore my feeling to you. I break the rules, because I started falling for you,” ujar Tiara sambil menatap tepat ke dalam mata Aryo.

***

“Kita akhiri rapat hari ini, kalian bisa istirahat.” Aryo mengakhiri rapat yang dipimpin olehnya. Satu persatu karyawan pun mulai meninggalkan ruangan.

Aryo mengecek Rolex di pergelangan tangannya, memperkirakan sisa waktu yang dimilikinya sebelum jadwal berikutnya.

“Ram, tolong cek jadwal gue setelah makan siang nanti,” ucap Aryo pada asistennya ketika mereka keluar dari ruang rapat.

“Lo jadi pembicara di seminar kampus jam 2 siang,” ujar Rama.

“Oke, tolong siapin mobil buat gue ke sana.”

“Siap Bos.”

***

Hari ini jadwal Aryo cukup padat dan banyak yang harus ia lakukan di kantor. Sebagai kandidat presiden direktur yang selanjutnya, pria itu harus bekerja dua kali lipat menjelang hari pemilihan. Ada dua kandidat, yakni dirinya dan sepupu laki-lakinya, Elnino.

Ketika terlahir dan dibesarkan di keluarga pebisnis, Aryo tahu apa yang harus ia lakukan untuk masa depannya. Bersaing dengan sepupunya sendiri, termasuk salah satu yang harus ia hadapi.

Aryo jadi ingat kalimat Tiara tentang adanya anak dalam pernikahan mereka. Soal gadis itu yang mengungkapkan perasaan padanya dan meminta cerai lebih cepat, kalau ia memilih mengikuti jejak eyang kakung.

Sepupunya yang merupakan rivalnya itu, sudah memiliki dua orang anak. Terlebih anak pertamanya yang kira-kira seumuran Kelvin, adalah laki-laki. Hal tersebut membaut posisi El sebagai calon penerus lebih kuat darinya.

Pintu ruangannya di ketuk dan nampak asistennya muncul disana.

“Bos, mobil lo udah siap.”

“Oke.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara menunggu Aryo kembali ke rumah setelah satu minggu ia menginap di rumah orang tuanya. Tiara mengetahui jadwal Aryo yang sangat padat di kantor, karena jadwal pengangkatan presiden direktur yang baru semakin dekat. Beberapa kali Tiara berinisiatif menelfon Aryo, untuk memastikan pria itu makan dan tidur dengan benar.

Matanya menangkap sebuah mobil yang amat Tiara kenali. Kemudian ia mendapati sosok Aryo dengan tampilan formal khasnya. Tuxedo hitamnya yang ditenteng sehingga hanya menyisakan kemeja putih yang melapisi tubuh tegapnya. Dasi yang dikenakan pria itu sudah sedikit dikendurkan dan raut wajah lelahnya membuat Tiara sedikit khawatir.

Tiara berjalan kecil menghampiri Aryo, gadis itu menampakkan senyum cerianya ketika Aryo menatapnya dengan sedikit terkejut. Tiara memang tidak memberitahu Aryo tentang kepulangannya. Ini sudah menjelang malam, jadi Aryo berpikir mungkin Tiara memilih pulang besok pagi.

Sejenak tubuh Tiara terasa membeku kala Aryo meraih tubuhnya ke dalam pelukan pria itu.

Please, give me a five minutes for this,” ujar Aryo di dekatnya.

Biasanya Tiara akan membalas apapun itu ketika Aryo berbicara atau melakukan sesuatu terhadapnya. Namun kali ini kata-kata itu tertahan di bibirnya. Tiara mencoba mengerti akan sikap Aryo itu, guna membuatnya merasa lebih baik, dari apapun yang mungkin sedang di rasakannya saat ini.

Kemudian Tiara merasakan Aryo mengurai pelukan mereka.

“Lo bilang lima menit,” ujar Tiara.

I’m hungry.” Aryo menampakkan cengiran di wajahnya.

“Kayaknya gue mau makan masakan buatan lo,” sambung Aryo.

“Oke, lo mau makan apa?”

“Lo bisa masak nasi goreng?”

“Kalau cuma nasi goreng sih, gue bisa. Lo mandi dulu, abis itu makanannya bakal siap,” ucap Tiara.

***

Sepiring nasi goreng di tambah telur mata sapi, beserta segelas susu putih hangat telah tersaji di meja makan. Di hadapan Aryo, Tiara duduk sambil menopang wajah dengan kedua tangannya. Ia ingin menyaksikan Aryo memakan masakannya untuk yang pertama kali.

Aryo memulai dengan satu suapannya dan menatap ke arah Tiara yang justru menjadi gugup karena kelakuan pria itu.

“Gimana? Enak nggak?” Tiara memasang tampang harap-harap cemasnya.

“Ini enak, Tiara.”

Tiara tersenyum semringah dan menghembuskan napasnya lega. Ia memperhatikan Aryo menyantap masakannya dan itu membuatnya merasakan debaran luar biasa yang lebih intens dari yang sebelumnya.

Thank you for this, Ra.” Aryo selesai dengan makanannya. Kemudian Aryo juga menghabiskan susu putih hangatnya tanpa menyisakannya sedikit pun.

I have something for you,” ucap Aryo setelah menaruh piring dan gelas kotornya ke wastafel.

“Malem-malem gini?” tanya Tiara yang dijawab anggukan oleh Aryo.

“Serius ini udah malem, Aryo. Jangan yang aneh-aneh,” peringat Tiara.

Aryo hanya memintanya mengikutinya. Ternyata pria itu membawanya ke sebuah tempat yang belum Tiara kunjungi di rumah ini, yaitu sebuah ruangan movie theater.

Tiara menatap takjub ruangan itu. Matanya menyapu sekeliling ruangan dengan desain interior berwarna serba ungu dan sedikit sentuhan warna hitam, membuat tempat itu terlihat fancy. Pada bagian langit-langit, terdapat lampu-lampu kecil yang membuat suasana terasa seperti di luar angkasa.

Are you like it?” tanya Aryo ketika mereka sudah duduk bersebelahan dan siap menyaksikan film di layar yang besar.

Tiara mengangguk dengan cepat.

I really like it. Thankyou so much for this,” ucap Tiara.

Setelah itu mereka mulai menikmati film yang di putar. Selang satu jam film berjalan, Aryo memperhatikan wajah Tiara dari samping dan kepala gadis itu hampir saja membentur tangan kursi, kalau saja Aryo tidak sigap memberikan pundaknya sebagai sandaran.

Aryo tersenyum kecil melihat Tiara yang tertidur. Ia membiarkan gadis itu menggunakan pundaknya sebagai alas dan tidak membangunkannya.

Setelah filmnya selesai, Aryo memutuskan membawa Tiara ke kamarnya. Aryo menggendong Tiara ala bridal style dan membaringkan perempuan itu di kasur queen size-nya.

Setelah mematikan lampu kamar Tiara, Aryo memutuskan untuk pergi dari sana, tapi saat ia berbalik, lengannya di tahan.

“Aryo,” panggil Tiara.

“Ra, lo bisa tidur lagi.” Aryo mengusap tangan Tiara yang memegang lengannya itu.

Tiara menggelengkan kepalanya, lalu ia berusaha bangun dari posisinya.

Can we have this night? Only for us?” tanya Tiara. Tiara merasa udara di sekitarnya menipis dan kedua pipinya terasa memanas ketika jarak wajahnya dan Aryo begitu minim.

“Disini aja malam ini, ya?” pinta Tiara.

“Gue temenin sampai lo tidur,” ucap Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya. “Don’t leave me.”

“Tiara, apa lo sadar yang lo ucapin?” tanya Aryo.

“Apa ucapan gue salah?”

“Kita harus jaga batasan itu, Ra. Demi kebaikan kita bersama,” ujar Aryo.

Why you care? Just don’t care about the feeling. We will eventually get divorced.”

“Lo nggak ngerti, Tiara.”

“Akhirnya kita akan tetep bercerai. We just enjoy the time.”

I want a baby,” cetus Tiara. Mata mereka bertemu dan dua detik setelahnya, Tiara menyatukan bibirnya dengan bibir Aryo. Dari hanya kedua belah bibir yang saling menempel, perasaan menggebu keduanya mendorong mereka untuk sampai ke penyatuan yang lebih dalam.

Aryo memperdalam ciumannya saat Tiara mengalungkan lengannya pada lehernya. Agar mempermudah segalanya, mereka mengambil posisi yang nyaman. Aryo mengunci tubuh kecil Tiara di bawahnya dan penyatuan itu kembali terjadi cukup lama.

Aryo mengisyaratkan pada Tiara untuk membuka mulutnya lebih lebar agar Aryo bisa memasukinya dan mengabsen setiap celah milik Tiara yang ada di dalam.

Mereka mengambil napas dengan melepaskan pagutan itu sejenak. Tidak sampai lima detik setelahnya, mereka melanjutkan adegan panas tersebut. Kali ini keduanya bergerak dengan tempo sedang yang tidak secepat dan seintens sebelumnya. Terjadilah sebuah ciuman dengan senyum di kedua bibir masing-masing, ketika lumatan berganti dengan hanya kecupan dan sesapan lembut.

Are you sure about that?” tanya Aryo atas pernyataan Tiara yang sempat tertunda berkat ciuman panas yang mereka lakukan barusan.

Yes, we can have a baby like others,” ujar Tiara lalu ia mengulaskan senyumnya dan mengusap sisi wajah Aryo dengan tangannya.

Tiara sedikit mendongak untuk menatap wajah Aryo begitu sebaliknya pria itu menatapnya sambil tersenyum.

“Artinya kita melanggar perjanjiannya?”

***

Saat terbangun, kedua mata Aryo disuguhkan pemandangan wajah tertidur damai milik Tiara. Mata gadis itu masih terpejam tenang. Bibirnya terkatup dengan kedua ujungnya yang membentuk titik kecil. Aryo pikir Tiara sedang bermimpi indah, jadi gadis itu tersenyum dalam tidurnya.

Tidak sampai tiga puluh menit, Tiara terbangun dari tidur nyenyaknya dan mendapati Aryo yang menungguinya. Timbul sebuah perasaan bahagia sederhana yang tulus dari dalam hati Tiara.

“Lo bisa telat kerja nanti. Lo harus bangun untuk siap-siap, Aryo,” ucap Tiara ketika sadar bahwa hari sudah beranjak siang, namun yang dilakukan Aryo hanya menatap wajah bangun tidurnya.

Ini bukan yang pertama mereka tidur bersama seperti ini, tapi ada yang berubah yakni perasaannya terhadap Aryo, cara mereka saling menatap, dan perlakuan satu sama lain.

“Siapa yang mau kerja di hari minggu?” tanya Aryo.

My bad. Gue lupa kalau ini hari Minggu. Jadi, hari ini lo nggak ke kantor? Artinya kita di rumah aja?”

Aryo mengangguk.

Nice. Kita bisa ngelakuin banyak hal,” ucap Tiara kemudian menyibakkan selimut dan hendak turun dari kasur.

Do you have to do list?” tanya Aryo.

Tiara kembali menatap Aryo, “Of course. I have a lot to do as a wife. Do a laundry, cooking, cleaning up and many more.”

So what can I do as husband?

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara merasa rindu dengan keluarga dan rumahnya. Selain perasaan rindunya tersebut, Tiara mengatakan pada Aryo alasannya pulang ke rumah adalah untuk mengambil beberapa barangnya yang masih tertinggal.

Ketika sampai di rumahnya, Tiara mendapati kedua adiknya yang sedang mengerjakan tugas sekolah di ruang tamu. Ketika adiknya menyadari kehadirannya, mereka langsung menghambur pada Tiara untuk memeluknya.

“Kakak, I miss you!” seru Kelvin ketika pelukan mereka terurai. Mata adiknya kemudian menuju pada sosok jangkung di belakang Tiara.

“Kak Aryo ikut ke sini? Tapi kan di rumah ini nggak ada kamar lagi. Kak Aryo nanti tidurnya dimana?” tanya Kelvin dengan polosnya.

“Kakak tidur di kamarnya Kak Tiara,” ucap Aryo sambil mengulaskan senyumnya pada Kelvin.

“Tidur berdua dong?” tanya bocah laki-laki itu lagi.

“Iya,” jawaban Aryo itu seketika membuat Tiara mengarahkan tatapan mematikannya kepada Aryo.

Kemudian kehadiran bundanya dari kamar menginterupsi pembicaraan mereka. Chelsea juga terlihat senang akan kedatangan Tiara dan menanyakan apakah kakaknya itu menginap atau hanya sekedar berkunjung.

“Kakak mau nginep di sini, karena kangen banget sama kalian. Kalian seneng nggak?” tanya Tiara pada kedua adiknya.

“Lho Kak, kamu mau nginap?” tanya Alifia.

“Iya, Bunda. Tiara udah izin sama Aryo kok,” jelas Tiara sambil melirik ke arah Aryo.

“Ohh, gitu. Tapi nanti Aryo siapa yang ngurus waktu kamu nginep disini?” tanya Alifia lagi.

Kedua adiknya mengajak Aryo untuk bermain di halaman rumah setelah Aryo menyalami tangan mertuanya itu.

Tiara menghampiri Alifia dan mereka duduk di sofa berhadapan. “Tiara nikah terlalu cepat dan semua ini rasanya mendadak banget buat Tiara, Bun. Tiara tetap menghormati Aryo sebagai suami dan Tiara nggak akan nginap kalau Aryo nggak ngasih izin,” jelas Tiara seolah mengerti kekhawatiran yang bersarang di pikiran Alifia.

“Emangnya Bunda nggak kangen sama Tiara?” sambung Tiara lagi.

Alifia menggelengkan kepalanya, lalu tangannya bergerak untuk mengusap kepala Tiara dan menatapnya penuh kasih sayang.

“Mana mungkin, Bunda nggak kangen kamu. Berat rasanya ngelepas kamu untuk nikah secepat ini. Bunda kangen kamu setiap hari, Tiara. Kamu sama Aryo baik-baik aja kan?”

“Kalau istri pulang ke rumah orang tuanya, apa artinya suami dan istri lagi nggak baik-baik aja, Bun?”

“Bunda cuma agak khawatir sama pernikahan kalian. Awalnya Bunda sempet takut pas ngelepas kamu nikah, tapi Bunda bahagia karena sekarang ada yang jagain kamu. Kamu keliatan bahagia sekarang. Ayah sama Bunda rasanya lega udah berhasil menjaga dan membesarkan kamu, Nak.”

***

Sebelum Aryo pulang dari rumahnya, Andi dan Alifia memintanya untuk makan malam bersama. Tiara mengambilkan piring untuk Aryo dan mengisinya dengan nasi beserta lauk pauknya.

“Kak Aryo, kakak nggak boleh tidur di kamar Kak Tiara,” celetuk Kelvin yang duduk di samping kiri Aryo. Adik lelakinya dan Aryo terlihat lebih akrab dari pada sebelumnya.

Tiara yang duduk di samping kanan Aryo pun meminta penjelasan pada Aryo tentang Kelvin yang masih mengingat topik bahasan tersebut.

Andi dan Alifia yang duduk di depan mereka saling bertatapan kemudian tertawa kecil.

“Kelvin, sayang. Nggak boleh bicara kayak gitu ya Nak,” ujar Andi.

“Suami dan istri emang harus tidur berdua, Kelv. Kayak Ayah sama Bunda, kan? Jadi Kak Aryo dan Kak Tiara juga tidur berdua,” cerocos Chelsea.

Kelvin terlihat mem-pouty kan bibirnya setelah mendengar ujaran dari Chelsea itu.

“Kakak nggak boleh tidur sama Kak Tiara, karena Kakak udah janji mau ajarin Kelvin main game. Jadi tidurnya di kamar Kelvin aja,” pinta anak lelaki itu.

Semua orang yang ada di meja makan menjadi terkejut. Rupanya Kelvin yang biasanya selalu posesif dengan Tiara kini beralih posesif pada Aryo.

“Kelvin, Kak Aryo nggak bisa nginep di sini,” ujar Tiara.

“Kenapa?” sahut Kelvin cepat. Rona wajah anak itu memerah dan sedetik setelahnya ia mengeluarkan jurus andalannya, yakni menangis. Kelvin tidak mau tenang bahkan ketika bundanya yang turun tangan. Tiara akhirnya meminta tolong Aryo untuk menenangkan adiknya itu. Kelvin maunya di gendong oleh Aryo untuk ke kamarnya.

Tiara menghembuskan napas lega saat Kelvin mulai tenang dan Aryo membawanya ke kamar, padahal adiknya itu tadi sempat tantrum.

“Tiara, kamu ini suka usil sama adikmu sih,” ujar Andi.

Tiara beralih menatap ayahnya, “Bukan gitu Ayah, Aryo emang nggak bisa nginep di sini. Dia ada kerjaan kantor yang harus diselesaiin,” jelas Tiara.

“Setelah Kelvin tenang dan tidur, kamu anterin makanan untuk Aryo ya. Kasihan dia nggak jadi makan,” ucap Alifia dan Tiara pun mengiyakan.

***

Kedua tangan kecil Kelvin memeluk leher Aryo sementara pria itu setia menimangnya, memastikan bocah lima tahun itu tertidur pulas.

Aryo menyadari kehadiran Tiara di ambang pintu dengan membawa piring berisi makanan.

By the way, makasih ya udah mau direpotin sama Kelvin,” ucap Tiara lalu ia meletakkan piring makanan untuk Aryo di nakas samping tempat tidur.

Selang sepuluh menit kemudian, rupanya Kelvin bersikap baik ketika Aryo meletakkannya di kasur. Anak lelaki itu anteng dalam tidurnya dan tidak menampakkan tanda-tanda akan menangis lagi.

“Tiara,” panggil Aryo.

“Ya?”

“Jaga diri lo ya selama di sini.”

Tiara mengangguk mengiyakan.

“Hmm ... boleh gue tanya sesuatu sebelum sebelum lo pulang dari sini?” tanya Tiara.

“Tanya aja.”

“Dalam perjanjian, apa masing-masing pihak dibolehin untuk punya hubungan sama lawan jenis, selama masih menikah?”

You have someone?” Aryo justru memberikannya pertanyaan balik.

Not yet. How about you?

“Kita nggak akan pernah tau perasaan seseorang kedepannya. Kalau suatu hari, perasaan itu muncul untuk siapapun itu, gue nggak bisa menolaknya. Begitupun lo, Tiara. Lo boleh memilih itu, selama keluarga nggak akan tau.”

Oke then. I got your answer.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Guys, gue udah di jemput nih. Gue duluan ya. Semangat buat presentasi besok, kita harus dapet nilai A pokoknya,” ujar Tiara sambil ber-tosan satu persatu dengan teman-teman kelompoknya. Pekerjaannya bersama grupnya hari ini sudah selesai tepat pukul sembilan malam.

“Di jemput siapa lo Ra?” tanya Vania yang merupakan salah satu teman perempuannya.

“Suami gue. Udah nunggu di parkiran P1,” jawab Tiara.

“Cieeee di jemput suami,” seru Fashan menggoda Tiara.

“Kok suami lo nggak jemput ke sini Ra? Boleh lah bawa ke kita, kenalin dulu gitu,” celetuk Wilda.

Guys, dia udah nungguin. Gue harus cabut sekarang, oke?” ucap Tiara sambil terkekeh.

“Okem deh. Lo hati-hati Ra. Jangan lupa salamin buat suami lo yaa Beb,” seru Vania sebelum Tiara melangkah pergi dari coffee shop itu.

***

Sebenarnya sama sekali tidak ada rencana bagi Aryo dan Tiara untuk mampir ke suatu tempat sebelum pulang. Namun ketika Aryo bilang dirinya belum makan malam dan di rumah tidak ada masakan, Tiara memberi saran untuk mereka makan di luar.

Keduanya menatap ke hamparan gedung perkotaan yang terlihat lebih kecil dari atas sini. Restoran sekaligus bar ini mengusung konsep rooftop. Sehingga rasanya sangat cocok untuk menikmati makan malam sambil memanjakan mata dengan pemandangan langit dan bangunan kota Jakarta.

“Gue tebak, lo belum pernah makan makanan pedagang kaki lima atau paling enggak rumah makan biasa,” cetus Tiara membuka pembicaraan.

“Gue pernah,” jawab Aryo.

“Lo masih inget itu kapan?”

Aryo terlihat mengingat beberapa detik. Kemudian menggeleng untuk menjawab pertanyaan Tiara yang kedua itu.

Tiara mengatakan bahwa baginya restoran pilihan Aryo ini cukup mewah. Namun bagi Aryo, restoran ini masih terbilang biasa saja untuknya.

“Kapan-kapan lo mau nyobain makanan kaki lima? Gue bisa jamin, rasa makanannya nggak kalah jauh dari restoran mewah,” tutur Tiara dengan nada percaya dirinya. Ekspresi gadis itu terlihat sangat meyakinkan dan tidak ada keraguan sedikitpun dari ucapannya.

I bet you will like it,” timpal Tiara lagi.

Oke-oke, I'll try,” putus Aryo.

Tidak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Tiara mulai menyantap sesuap makanannya dan Aryo menunggu reaksi gadis itu.

“Gimana rasanya? Lo kasih rate berapa makanan restoran mewah?” tanya Aryo.

“Delapan,” jawab Tiara.

Seriously? For me it's nine,” ujar Aryo sambil menatap Tiara dengan ekspresi terkejutnya.

“Bagi gue delapan, Aryo,” ujar Tiara dengan nada pelan.

Tiara menghabiskan makanannya lebih dulu dari Aryo. Sadar di perhatikan, gadis itu lantas memergoki Aryo yang tengah menatapnya dan membuatnya merasa gugup.

“Gue habis duluan karena gue laper banget,” jelas Tiara seolah ia dapat membaca apa yang sedang Aryo pikirkan terhadapnya.

“Oke-oke. Lo mau nambah makanannya? Biar gue pesenin lagi.”

Nope. Gue udah kenyang,” ujar Tiara lantas menyeruput minumannya.

“Kalau lo suka, gue bisa masak yang kayak gini,” cetus Aryo.

“Beneran?”

Aryo mengangguk. “Kalau makanan kaki lima yang lo bilang bisa bersaing sama makanan restoran, gue akan masakin lo. Gimana?”

“Oke, kita deal ya?”

Deal.”

***

Saat lampu merah di depan, Tiara menoleh pada Aryo dan ia menanyakan sesuatu yang membuatnya cukup penasaran.

You have hated your life?” tanya Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak dengan kedua alisnya yang menyatu, “I was. I hated my life and felt empty.”

Tiara menatap Aryo tidak percaya. Selama ini ia berpikir kehidupan pria itu sempurna karena memiliki segalanya.

“Tapi lo hampir punya segalanya yang mungkin orang di luar sana nggak punya. What's make you feel empty?

I lost someone I loved. I got privilege from my family, but I lost a lot too,” Aryo menoleh menatap Tiara. Dari tatapan itu Tiara menemukan kesedihan di sana.

“Lo pernah kehilangan seseorang dalam hidup lo?” tanya Aryo pada Tiara.

Tiara mengerjapkan matanya dan ia mengulaskan senyum getirnya. “I was. Gue kehilangan dua orang yang paling gue sayang,” ungkap Tiara.

Lampu lalu lintas pun berubah menjadi hijau dan Tiara mengingatkan Aryo. Aryo mengalihkan tatapannya dari Tiara, lalu kembali memanuver mobilnya membelah jalanan kota Jakarta.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷