alyadara

Tiara tidak mendapat akses masuk karena rupanya Aryo belum pulang ketika ia sampai. Lantas ia menelfon Erza agar pria itu bersedia menemaninya di lobi pintu masuk sampai Aryo pulang.

“Za lo baik banget sih,” ucap Tiara ketika Erza datang.

“Udah jadi tugas saya untuk melayani Nyonya.” Erza mengambil tempat di samping Tiara. Mereka duduk di salah satu kursi di area taman.

“Jangan panggil Nyonya dong, kan mulai kemarin ktia temenan,” ucap Tiara.

“Gue nggak ngerti deh, kenapa orang kaya ngabisin duit buat bangun tempat tinggal sebesar ini, buat apa coba kalau dipikir-pikir.” Tiara menyapukan pandangannya ke area tempat ini.

“Maksud Nyonya tempat ini?”

That’s right. Kenapa coba Aryo harus bangun tempat seluas dan semegah ini? Gue nggak tau apa yang dia pikirin. Padahal rumah sederhana aja yang penting layak ditinggalin, udah lebih dari cukup.” Tiara mengutarakan pemikirannya lagi.

“Mungkin bukan seperti itu yang dimaksud sama tuan, Nyonya.” Balas Erza menanggapi pendapat Tiara.

“Jadi?”

“Tuan membangun tempat ini udah lumayan lama. Setelah nikah, Tuan bawa Nyoya tinggal disini. Kat tuan biar Nyonya nyaman dan senang dengan semua fasilitas yang ada, dan tentunya merasa aman,” papar Erza.

Tiara melongo tidak percaya dengan penuturan Erza barusan. Apanya yang bahagia? Tiara justru merasa Aryo telah mengekangnya dengan semua fasilitas dan peraturan yang pria itu berikan padanya.

“Yang ada, gue takut ngerasa kesepian di sini. Kayak sekarang, kalau Aryo belum pulang, gue nggak bisa masuk ke rumah ini. Tapi lebih baik di luar sih, nggak terlalu menakutkan dan untung ada lo yang nemenin gue.” Tiara kembali menatap bangunan rumah yang terlihat megah di hadapannya. Sepertinya setiap orang yang ditawari tinggal di sini akan setuju dan merasa sangat bahagia. Namun tidak bagi Tiara saat ini. Rasa sepi yang menyergapnya beberapa menit lalu, kembali mengingatkannya pada memori kelam itu.

By the way, gue bosen nih. Lo mau nggak temenin gue jalan-jalan keliling tempat ini?” tanya Tiara.

“Sebentar lagi kayaknya Tuan sampai. Saya udah hubungim Tuan dan ngasih tau kalau Nyonya pulang lebih dulu dari beliau. Saya nggak enak kalau menghabiskan waktu terlalu banyak dengan Nyonya,” jelas Erza.

Setelah memikirkannya kalimat Erza itu, Tiara menjadi paham maksudnya. Oh oke, ini tidak baik. Tiara berpikir bahwa perilaku Aryo telah berlebihan terhadapnya.

“Enggak. Lo nggak boleh pergi. Biarin aja, Aryo lihat gue sama lo. Lagian siapa suruh buat gue nunggu dia di sini sendirian.” Tiara menahan lengan Erza saat pria itu hendak pamit padanya.

Kali ini Erza tidak bisa menolak keingian Tiara untuk menemaninya di sini sampai Aryo pulang. Hari sudah cukup malam dan sebenarnya Erza juga tidak tega meninggalkan Tiara sendirian. Tidak lama kemudian, Erza merasakan pundaknya sedikit berat dan ia mendapati Tiara tertidur dengan kepala gadis itu mendarat di bahunya.

“Nyonya,” panggil Erza untuk membangunkan Tiara, tapi tidak ada jawaban apapun dari gadis itu.

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil terparkir sempurna tidak jauh dari posisi Erza dan Tiara. Terlihat Aryo turun dari mobil dan mendapati Tiara dan Erza dengan istrinya yang tertidur di pundak Erza.

“Bangunin dia dan minta pake kakinya sendiri untuk masuk ke dalam,” ucap Aryo pada Erza sebelum melenggang dari sana.

“Baik, Tuan,” jawab Erza.

***

Meskipun sekujur tubuhnya terasa pegal dan matanya sungguh berat untuk diminta terbuka, Tiara tetap kekeuh mendemo Aryo atas semua tindakan yang telah dilakukan pria itu terhadapnya.

Aryo tersadar Tiara mengikutinya sampai ke depan kamar pria itu. Sebelum membuka knop pintuya, Aryo berbalik menghadap Tiara dengan tatapan dinginnya. Namun Tiara tidak menampakkan sama sekali raut terintimidasinya. Segala emosi berhasil mendobrak pintu rasa takutnya saat ia harus menghadapi Aryo yang seperti ini.

Can you tell me why, you did this to me? You drive me crazy, dengan semua yang lo lakukan untuk mengekang gue,” ucap Tiara dengan napasnya yang tidak beraturan.

“Lo ngelakuin ini untuk ngelindungin reputasi lo dan perusahaan. Lo nggak sadar, kalau itu udah nyakitin gue,” Tiara ingin meluapkan perasaannya agar Aryo tahu dan tidak bersikap berlebihan terhadapnya.

“Lo udah berlebihan, Aryo,” sambung Tiara dengan nadanya yang frustasi.

“Udah selesai?” tanya Aryo setelah beberapa detik Tiara dapat menenangkan dirinya dan gadis itu berhenti berbicara.

“Lo mungkin perlu waktu untuk menerima dan mengerti situasi baru ini. Gue minta maaf, kalau semua ini nyakitin lo, Tiara. Lo nggak salah pergi sama temen cowok lo. Tapi setidaknya lo bisa kasih tau gue kemana lo pergi. If something happened to you, at least gue nggak akan terlambat ada di samping lo.” Aryo menghembuskan napasnya panjang untuk menjeda ucapannya. “Kita punya waktu satu tahun untuk jalanin ini. Saat lo nggak lagi menyandang status istri gue, lo bisa bebas dari semua yang nggak lo sukai,” tutur Aryo.

Tiara mencerna kalimat demi kalimat yang Aryo katakan itu. Aryo mengatakan bahwa ia tahu Tiara pergi dengan siapa dan ia akan megizinkannya. Namun sifat Tiara yang tidak memberitahunya membuat Aryo justru semakin protektif terhadapnya. Ucapan Aryo perlahan mulai mencairkan es yang membeku di hatinya dan membuka pikirannya yang beberapa detik lalu terasa seperti tersumbat.

“Seiring berjalannya waktu, lo akan paham kenapa gue ngelakuin ini untuk lo,” tukas Aryo.

Tiara menatap Aryo dan merasa dirinya justru yang terlihat lebih egois saat ini, dengan tidak mau mendengarkan apa yang baik dan buruk padahal itu untuk dirinya sendiri. Tiba-tiba terlintas ide di pikiran Tiara untuk membuat hubungannya dengan Aryo menjadi lebih baik. Sehingga mendapakan informasi yang ia butuhkan akan lebih mudah.

You get the point?” tanya Aryo.

Tiara mengangguk. “Gue akan coba untuk ngerti itu. Tapi boleh gue minta sesuatu dari lo?”

“Apa? Gue akan coba untuk pertimbangin.”

“Gue belum minta Erza atau Egha jelasin tentang apa aja yang harus gue lakuin sebagai istri lo. Gue nggak akan tanya ke mereka, karena gue mau lo yang ajarin gue. Gue pikir, cara itu lebih baik untuk kita berdua kedepannya.”

Keduanya lantas saling bertatapan. Aryo menatapnya dengan ekspresi yang Tiara tidak bisa artikan dan pria itu sedikit memangkas jarak di antara mereka.

Are you sure with that?” Nada suara Aryo melembut. Tiara tidak pernah mendengar nada tersebut dari bibir Aryo ketika berbicara dengannya.

I’m sure. Kita bisa jalanin satu tahun ini dengan saling berdamai dan bersikap lebih saling mengerti satu sama lain,” jelas Tiara.

“Oke. Kalau gitu, kita akan coba sesuatu yang lebih baik, mulai besok.”

So can I text you everywhere I go?” Tiara tersenyum menampakkan gummy smile-nya.

Aryo mengangguk, lantas ia balas mengulaskan sebuah senyum tipis di bibirnya. Tiara memerhatikan senyum itu dan jantungnya kembali berdetak tidak normal.

***

Hari ini terhitung memasuki dua bulan Aryo dan Tiara sepakat menjalani pernikahan secara kooperatif. Keduanya akan saling membantu satu sama lain, agar pernikahan mereka berjalan lebih baik. Sejauh ini berjalan lancar antara dirinya dan Aryo. Tidak banyak perdebatan yang terjadi. Jika ada masalah, mereka akan bicarakan dengan kepala dingin dan mencoba saling memahami satu sama lain.

Pagi ini Tiara turun ke lantai satu dan ia mendapati Aryo sedang menerima telepon dari mamanya.

“Iya Mah, Aryo sama akan Tiara datang acara keluarga nanti siang.” Aryo mengakhiri percakapan dengan mamanya dan menatap kearah Tiara yang kini berada di hadapannya.

Aryo berjalan menuju mini bar yang terletak di samping dapur, lalu ia kembali melanjutkan kegiatan sarapan paginya. Tiara mengambil tempat di samping Aryo, ia duduk di sana dan memperhatikan kegiatan yang sedang Aryo lakukan.

Aryo menyodorkan satu suap pada Tiara yang dibalas dengan tatapan sedikit terkejut dari gadis itu. Tiara akhirnya menerima suapan itu, lalu mengunyah makanan yang terasa enak sekali hingga mengakibatkan sebuah senyum lebar terbit di wajahnya.

Oh my god, ini enak banget. Gue bisa masak kayak gini, tapi harus diajarin dulu,” ujar Tiara.

“Lo bisa ambil kursus masak kalau lo mau,” saran Aryo.

“Kursus masaknya sama lo aja, gimana?” celetuk Tiara.

Aryo menghentikan kegiatan makannya dan meletakkan sendoknya, “Emang lo mau masak buat siapa?”

“Mau masak buat lo. Sebelum lo berangkat kerja, gue bisa masakin sarapan dulu,” jawab Tiara diiringi senyum kecilnya. Kemudian ia menyendok sendiri makanan yang ada di mangkok Aryo untuknya.

Tiara terlihat senang sekali bangun di pagi hari mendapat sarapan seenak ini. Ditambah pula, ia disuguhi pemandangan sosok bertubuh gagah yang sanggup membuat matanya tidak mengantuk lagi. Ia dapat dengan puas memandangi Aryo tanpa memerlukan banyak usaha. Saat gadis diluar sana mengidolakan lelaki di hadapannya ini dan berharap berada di posisinya, Tiara mendapatkannya secara gratis. Kalau di lihat-lihat, memang suaminya itu lumayan tampan. Ah bukan lumayan, tapi hampir mendekati kata sempurna.

“Tiara, tugas lo yang utama itu bukan masak,” ucap Aryo membuyarkan pembicaraan monolog Tiara di dalam kepalanya. Tiara berusaha berekspresi normal dan menghempaskan apapun yang ada di pikirannya barusan tentang memuja visual Aryo.

“Terus? Tugas gue kan jadi istri lo. Bukannya masak itu kewajiban istri? Lagian gue nggak keberatan untuk itu,” cerocos Tiara.

“Oke, kalau gitu. Lo bisa pilih sendiri kursus masak mana pun yang lo mau.”

Tiara melukiskan senyumnya, “Ooh … jadi lo mau gue kursus masak terus ketemu chef chef yang ganteng dan gagah gitu? Gue pikir, itu nggak akan baik untuk reputasi suami gue di perusahaan and also for our marriage status,” ucap Tiara.

Tiara memerhatikan Aryo yang tidak melanjutkan acara sarapannya itu.

“Lo nggak mau makanannya? Gue yang habisin ya? Sayang tau kalau dibuang, kan mubazir makanan seenak ini.” Tiara hendak mengambil alih makanannya dengan menggeser mangkuk ke arahnya, namun ucapan Aryo menahan aksinya itu.

“Kita akan bahas ini nanti, habis dari acara keluarga. Lo bisa habisin makanannya, terus siap-siap. Dua jam lagi kita harus berangkat.” Aryo mengatakannya dan pria itu melenggang meninggalkannya.

Tiara berharap, rencananya untuk membuat Aryo percaya terhadapnya akan berjalan lancar. Melihat bagaimana pagi ini mereka dapat dengan tenang membicarakan sesuatu dan mendapatkan win win solution bagi kedua pihak. Aryo tidak telak mengucapkan kata ‘tidak’ pada keinginan Tiara yang memerlukan persetujuan pria itu. Namun mereka memilih untuk berdiskusi agar bisa menemukan jalan keluarnya bersama.

***

Aryo dan Tiara berjalan bersama melewati taman dan sampai di depan sebuah pintu masuk ganda berukuran besar.

Di perjalanan tadi, Aryo memberitahu Tiara bahwa rumah yang akan mereka datangi adalah rumah eyangnya. Hampir semua bibi, paman, dan keponakannya hadir di acara spesial malam ini.

“Aryo, tunggu.” Tiara menahan lengan Aryo sebelum mereka melepas sepatu di depan teras rumah yang luas itu.

“Kenapa?”

“Lo bilang, acara keluarga diadain kalau ada momen spesial. Jadi momen spesialnya itu apa?” tanya Tiara.

Aryo menghadap ke samping, sehingga kini dirinya dan Tiara saling berhadapan, “Momen spesial itu pernikahan kita,” jawab Aryo.

“Kenapa lo nggak bilang ke gue sebelumnya? Keluarga lo bisa aja curiga sama pernikahan kita yang sebenarnya.” Nampak kekhawatiran di wajah Tiara.

“Mungkin mereka bisa curiga. Tapi apapun itu, kita terikat sebuah pernikahan, Tiara. Kecurigaan mereka akan sia-sia, saat kita masih sama-sama. I will hold your hand like this,” jelas Aryo sambil menatap matanya dengan lembut. Perkataan pria itu sukses meruntuhkan tembok ketakutan yang sebelumnya ada di dalam diri Tiara.

Tatapan Tiara pun turun ke arah dimana tangan Aryo menggenggam tangannya. Lantas sebuah senyum terlukis di wajah Tiara tanpa bisa ia cegah. Tanpa Aryo ketahui, senyum Tiara malam ini adalah senyuman yang tulus dari lubuk hatinya.

***

Ketika memasuki rumah bergaya eropa yang dipadukan dengan sentuhan minimalis iu, semua mata yang ada disana mengarah pada Tiara dan Aryo. Mereka menyapa satu persatu keluarga Aryo yang hadir, termasuk kedua mertuanya. Kemudian Tiara dan Aryo memberi salam hormat kepada kedua eyang yang mana adalah kakek dan neneknya Aryo. Ketika menyalami eyang putri, wanita paruh baya tersebut mengatakan sesuatu pada Tiara.

“Usia kalian masih muda banget waktu nikah. Apa kalian ingin segera punya anak atau ditunda dulu?”

Tiara berpikir bahwa ia harus memberi jawaban yang dapat mendukung aktingnya dengan Aryo, agar tidak ada curiga soal pernikahan yang mereka jalani sesungguhnya.

“Tiara sama Aryo nggak nunda sama sekali, Eyang. Kita mau secepatnya punya anak,” jawab Tiara sopan. Tidak sengaja tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang dikenalinya itu. Risa mengulaskan senyum kecilnya sebelum berlalu dari sana begitu saja.

“Eyang, ngobrol apa aja sama istri Aryo? Eyang lagi interograsi Tiara ya?” ucapan Aryo seketika membuat Tiara mengalihkan pandangannya pada Aryo. Pria itu kembali setelah mengambil dua minuman, satu untuknya dan satu untuk Tiara.

Aryo mengambil tempat duduk di samping kiri eyangnya. Sementara Tiara berada di sisi kanan eyang dan keduanya saling bertukar pandang.

No. Eyang nggak lagi mengintrograsi istri kamu. Terus kenapa kalian cuma tatap-tatapan kayak gini? Eyang berasa nyamuk diantara pengantin baru deh,” celetuk wanita paruh baya itu.

“Bukan gitu, Eyang. Nggak papa dong, Eyang di antara kita. Aryo kan mau deket-deket sama istri Aryo.” Mendengar ucapan Aryo itu membuat Tiara terkejut dan rupanya eyang menyadari hal tersebut.

“Tiara, jangan dengerin anak ini. Suami kamu ini, kadang-kadang sikapnya masih kayak anak kecil. Manja banget ya pasti dia sama kamu?” Eyang berbicara pada Tiara dan justru mengabaikan keberadaan Aryo.

“Tiara kan istrinya Aryo, Eyang. Yaa boleh dong Aryo manja-manja ke Tiara,” ucap Aryo dengan ekspresinya yang tidak sama sekali menunjukkan bahwa ia seorang pria dewasa berusia 24 tahun. Tiara menyaksikan ekspresi Aryo yang sebelumnya tidak pernah ia dapati pada pria itu.

Ekspresi tersebut terlihat lucu dimata Tiara dan jantungnya berdebar mendapati itu, tapi segera ditampik oleh kenyataan bahwa saat ini Aryo hanya sedang berakting. Tiara berpikir Aryo pantas mendapatkan piala Oscar dengan kategori aktor terbaik.

“Eyang, boleh ya, Tiara ngambilin makanan untuk Aryo dulu? Jangan Eyang ajak ngobrol terus dong istri Aryo,” ucap Aryo masih berusaha mendapat perhatian dua perempuan yang mengabaikannya itu. Masih dicuekin, Aryo pun memutuskan untuk menjauh dari mereka dan bergabung dengan para keponakannya.

“Liat kan, Tiara. Dari pada bahas soal perusahaan sama Om-omnya, dia milih main sama keponakannya. Makanya sebenarnya Eyang agak khawatir waktu dia mutusin buat nikah cepet,” ucap Eyang sambil tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiara mengulaskan senyumnya pada Eyang, lalu matanya mengarah pada satu titik dimana Aryo bermain dengan para keponakannya yang masih kecil itu.

Aryo tidak menyadari diperhatikan, sampai Tiara sudah tidak lagi disana dan Aryo baru menoleh. Aryo pun meninggalkan keponakannya dan beralih mencari keberadaan Tiara.

“Eyang, Tiara dimana?” tanya Aryo.

“Istri kamu lagi ngambilin makanan untuk kamu,” jawab Eyang.

Aryo bernapas lega. Lagipula apa yang ada dipikirannya itu. Mana mungkin Tiara menghilang begitu saja atau diculik oleh seseorang. Entah kemana akal sehatnya beberapa detik yang lalu. Aryo kembali pada keponakannya dan akan menunggu Tiara membawakan makanan untuknya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Guys, gue udah di jemput nih. Gue duluan ya. Semangat buat presentasi besok, kita harus dapet nilai A pokoknya,” ujar Tiara sambil ber-tosan satu persatu dengan teman-teman kelompoknya. Pekerjaannya bersama grupnya hari ini sudah selesai tepat pukul sembilan malam.

“Di jemput siapa lo Ra?” tanya Vania yang merupakan salah satu teman perempuannya.

“Suami gue. Udah nunggu di parkiran P1,” jawab Tiara.

“Cieeee di jemput suami,” seru Fashan menggoda Tiara.

“Kok suami lo nggak jemput ke sini Ra? Boleh lah bawa ke kita, kenalin dulu gitu,” celetuk Wilda.

Guys, dia udah nungguin. Gue harus cabut sekarang, oke?” ucap Tiara sambil terkekeh.

“Okem deh. Lo hati-hati Ra. Jangan lupa salamin buat suami lo yaa Beb,” seru Vania sebelum Tiara melangkah pergi dari coffee shop itu.

***

Sebenarnya sama sekali tidak ada rencana bagi Aryo dan Tiara untuk mampir ke suatu tempat sebelum pulang. Namun ketika Aryo bilang dirinya belum makan malam dan di rumah tidak ada masakan, Tiara memberi saran untuk mereka makan di luar.

Keduanya menatap ke hamparan gedung perkotaan yang terlihat lebih kecil dari atas sini. Restoran sekaligus bar ini mengusung konsep rooftop. Sehingga rasanya sangat cocok untuk menikmati makan malam sambil memanjakan mata dengan pemandangan langit dan bangunan kota Jakarta.

“Gue tebak, lo belum pernah makan makanan pedagang kaki lima atau paling enggak rumah makan biasa,” cetus Tiara membuka pembicaraan.

“Gue pernah,” jawab Aryo.

“Lo masih inget itu kapan?”

Aryo terlihat mengingat beberapa detik. Kemudian menggeleng untuk menjawab pertanyaan Tiara yang kedua itu.

Tiara mengatakan bahwa baginya restoran pilihan Aryo ini cukup mewah. Namun bagi Aryo, restoran ini masih terbilang biasa saja untuknya.

“Kapan-kapan lo mau nyobain makanan kaki lima? Gue bisa jamin, rasa makanannya nggak kalah jauh dari restoran mewah,” tutur Tiara dengan nada percaya dirinya. Ekspresi gadis itu terlihat sangat meyakinkan dan tidak ada keraguan sedikitpun dari ucapannya.

I bet you will like it,” timpal Tiara lagi.

Oke-oke, I'll try,” putus Aryo.

Tidak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Tiara mulai menyantap sesuap makanannya dan Aryo menunggu reaksi gadis itu.

“Gimana rasanya? Lo kasih rate berapa makanan restoran mewah?” tanya Aryo.

“Delapan,” jawab Tiara.

Seriously? For me it's nine,” ujar Aryo sambil menatap Tiara dengan ekspresi terkejutnya.

“Bagi gue delapan, Aryo,” ujar Tiara dengan nada pelan.

Tiara menghabiskan makanannya lebih dulu dari Aryo. Sadar di perhatikan, gadis itu lantas memergoki Aryo yang tengah menatapnya dan membuatnya merasa gugup.

“Gue habis duluan karena gue laper banget,” jelas Tiara seolah ia dapat membaca apa yang sedang Aryo pikirkan terhadapnya.

“Oke-oke. Lo mau nambah makanannya? Biar gue pesenin lagi.”

Nope. Gue udah kenyang,” ujar Tiara lantas menyeruput minumannya.

“Kalau lo suka, gue bisa masak yang kayak gini,” cetus Aryo.

“Beneran?”

Aryo mengangguk. “Kalau makanan kaki lima yang lo bilang bisa bersaing sama makanan restoran, gue akan masakin lo. Gimana?”

“Oke, kita deal ya?”

Deal.”

***

Saat lampu merah di depan, Tiara menoleh pada Aryo dan ia menanyakan sesuatu yang membuatnya cukup penasaran.

You have hated your life?” tanya Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak dengan kedua alisnya yang menyatu, “I was. I hated my life and felt empty.”

Tiara menatap Aryo tidak percaya. Selama ini ia berpikir kehidupan pria itu sempurna karena memiliki segalanya.

“Tapi lo hampir punya segalanya yang mungkin orang di luar sana nggak punya. What's make you feel empty?

I lost someone I loved. I got privilege from my family, but I lost a lot too,” Aryo menoleh menatap Tiara. Dari tatapan itu Tiara menemukan kesedihan di sana.

“Lo pernah kehilangan seseorang dalam hidup lo?” tanya Aryo pada Tiara.

Tiara mengerjapkan matanya dan ia mengulaskan senyum getirnya. “Gue pernah ngalamin itu. Gue kehilangan dua orang yang sangat gue cintai,” ungkap Tiara.

Lampu lalu lintas pun berubah menjadi hijau daan Tiara mengingatkan Aryo. Aryo mengalihkan tatapannya dari Tiara, lalu kembali memanuver mobilnya membelah jalanan kota Jakarta.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Eyang putri keliatan sayang banget ya sama Tiara. Padahal baru berapa bulan jadi istrinya Aryo,” ujar seorang wanita.

“Bener juga kata kamu, Mbak. Kalau mereka bisa ngasih keturunan dalam waktu dekat, potensi Aryo untuk jadi presdir bakal lebih kuat dari El,” timpal wanita yang satunya lagi.

Tiara tidak sengaja mendengar pembicaraan itu ketika ia sampai di dapur. Tiara mengulas senyumnya dan mengatakan dengan sopan pada dua wanita yang merupakan tantenya Aryo, mengenai tujuannya kemari untuk mengambil makanan.

“Jujur aja, Tiara. Kamu harus tau sesuatu,” celetuk Tante Risma.

“Oh iya, Tante mau ngucapin selamat atas pernikahan kamu dan selamat datang di keluarga kita ya,” ucap wanita yang satunya lagi, Tante Sarah, sambil menyunggingkan senyuman di bibir ranumnya. Tiara sebenarnya sudah selesai mengambil makanannya, namun saat akan mengucapkan pamit pada kedua wanita itu, mereka menahannya.

“Tiara, keluarga ini emang sangat baik dalam menutupi apapun, bahkan dari dulu. Waktu eyang kakung nikah lagi, publik nggak langsung tau soal itu. Eyang putri sering ngelakuin sesuatu untuk nutupin semuanya dengan sangat apik dan tersusun, demi melindungi citra baik keluarga ini,” jelas Risma.

“Kenapa Eyang Putri ngelakuin itu?” tanya Tiara.

“Emangnya kamu nggak tahu? Cinta aja nggak akan cukup, membuat kamu bertahan di keluarga ini. Kami emang mencintai suami kami, tapi tanpa keturunan dalam pernikahan, akan besar kemungkinan suami kami ngikutin jejaknya eyang kakung,” jelas Sarah.

Tiara mengerti maksud pembicaraan kedua wanita itu. Sejak ia menikah dengan Aryo, ia mengetahui fakta kalau eyang kakung mempunyai 2 orang istri. Jadi dapat dikatakan eyang putri telah di madu.

Tidak berapa lama, Felicia menghampiri Tiara yang sedang bersama kedua adik iparnya itu.

“Tiara, suami kamu lagi nungguin kamu,” ucap Feli sambil melempar senyuman lembut Tiara.

“Iya, Mah. Tiara ke sana sekarang ya. Permisi Tante.” Tiara berpamitan pada Felicia dan kedua tante itu. Sementara Felicia masih berada di sana dan berniat untuk sedikit mengobrol dengan dua iparnya tersebut.

“Kakak perhatian banget sama menantu Kakak ya,” sindir Sarah.

“Iya, dong. Perhatian sama menantu sendiri, apa nggak boleh?” Feli mengambil sebuah gelas kaca tinggi di meja lalu mengisinya dengan minuman infuse lemon.

“Menantu yang akan ngasih keturunan untuk memenuhi keinginanan Kakak aja?” timpal Risma.

Sambil mendekati kedua iparnya, Felicia berkata, “Pasangan yang menikah dan saling mencintai, tujuannya untuk apa selain memiliki keturunan? Kalian berdua udah nikah, tapi nggak paham soal hal itu. Kakak permisi dulu ya,” tukas Felicia sebelum pergi dari sana.

***

Di perjalanan pulang dari acara keluarga, Tiara memikirkan kata-kata tante Sarah dan tante Risma. Soal menutupi segalanya sejak dulu? Apakah itu ada hubungannya juga dengan informasi yang Tiara butuhkan untuk rencana balas dendamnya?

“Kita udah sampe,” suara Aryo membuat Tiara menoleh dan mendapati mobil mereka berhenti di parkiran sebuah pusat perbelanjaan.

Aryo menarik rem tangan setelah memastikan dari spion bahwa mobilnya telah terparkir sempurna. Pria itu menoleh pada Tiara mendapati wajah bingungnya.

“Lo lagi mikirin apa?” tanya Aryo.

“Gue nggak mikirin apa-apa,” jawab Tiara sambil tersenyum kikuk. Jujur saja, dirinya terkejut dengan Aryo yang dapat menebak bahwa dirinya memang sedang memikirkan sesuatu.

“Apa lo denger sesuatu di rumah eyang tadi?” tembak Aryo.

Gotcha! Tiara memang tidak akan bisa menghindar dari Aryo. Tiara mendesahkan napasnya tanda menyerah bahwa ia telah kalah dari pria itu. Tiara mengarahkan cermin kecil yang menggantung di depannya lalu memperhatikan pantulan wajahnya disana.

“Kenapa?” tanya Aryo sambil sedikit tertawa memperhatikan tingkah aneh Tiara itu.

“Ya habis lo kayak cenayang, bisa baca raut wajah orang,” seru Tiara.

“Nggak semua orang, Tiara.”

“Terus?”

“Mungkin karena kita udah nikah, jadi gue udah hapal tingkah laku lo.”

“Tapi pernikahan kita baru beberapa bulan. Don’t lie to me. Lo ngelakuin apa supaya bisa baca pikiran gue? I’m watching you.” Tiara mem-pouty kan bibirnya, lalu ia bergerak untuk melepas seat belt-nya.

Aryo mengikuti yang dilakukan Tiara dan menatap matanya. “Gue pernah denger, katanya orang yang udah nikah akan punya ikatan dengan sendirinya. Mungkin itu yang lagi terjadi sama kita.” Aryo mengedikkan bahunya, lalu turun lebih dulu dari mobil.

Tiara mengikuti gerakan Aryo dan segera menyusul langkah lelaki itu.

“Kita nggak punya ikatan itu, Aryo,” ucap Tiara setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Aryo. Tiara mendongak untuk menatap Aryo karena pria itu lebih tinggi darinya. Sampai tiba-tiba lengannya dihela dan tubuhnya pun otomatis condong ke arah Aryo.

“Perhatiin langkah lo, Tiara,” peringat Aryo yang masih menahan tubuhnya. Tiara mengerjapkan matanya sesaat kemudian melepaskan tubuhnya agar menjauh dari Aryo.

“Tadi ada orang yang hampir nabrak lo,” jelas Aryo saat mereka menaiki lift dan hanya ada mereka berdua di dalam.

“Maaf gue kurang hati-hati. Thankyou for take care of me. You just say that we have a bonding, but I don’t think so.”

“Kenapa lo nggak berpikir seperti itu?”

Pintu lift terbuka dan mereka keluar dari sana. Supermarket tujuan mereka berada di lantai dua dan tidak jauh dari posisi mereka saat ini.

“Ikatan itu cuma berlaku untuk pasangan yang menikah dan saling mencintai,” papar Tiara.

Tiara mengambil troli di bagian depan pintu masuk supermarket. Aryo berjalan di samping gadis itu dan mereka memasuki pusat perbelanjaan.

“Karena kita juga belum pernah melakukannya. Semua itu udah jelas, Aryo,” lanjut Tiara sambil mengecilkan volume suaranya. Tiara mempercepat laju trolinya sehingga meninggalkan Aryo di belakangnya.

How you say like that, eventhough we never try?” Aryo berhasil menyamai langkahnya dengan Tiara, kini satu tangan pria itu ikut memegang troli sehingga Tiara tidak bisa bergerak lebih jauh untuk menghindarinya lagi.

We never try? Are you forgeted? You kissed me in fitness room. Oh remember, before we got married, we do something that night in your apartment,” papar Tiara.

Its all happen only because of me? Lo juga menginginkannya, Ra.” Aryo memberikan ekspresi sedikit tidak terima dengan perkataan Tiara bahwa kejadian itu hanya dirinya yang menjadi andil.

Yes. It's all because of you.” Mata Tiara tidak lagi menatap Aryo, namun beralih pada jajaran produk dairy. Gadis itu mengambil sekotak susu cair dan memasukkannya ke dalam troli.

It’s different, Tiara. It's only cuddle and kissed, it’s not called* hubungan suami istri.” Perkataan Aryo telah sangat menampar Tiara dan membuktikan bahwa yang dilakukan pria itu selama ini padanya hanya sekedar main-main.

Tiara memilih brand sausage sapi karena ada lumayan banyak merek disini. Aryo beralih ke hadapannya, ia berdiri di depan troli untuk menahan Tiara melanjutkan acara berbelanjanya.

“Lo nggak mau ngakutin kalau kita punya ikatan batin, sebelum kita sungguhan melakukannya?” tanya Aryo.

You're right. Tapi itu nggak akan pernah terjadi. Can we finish our conversation?” Setelah mengucapkan kalimat itu, Tiara menjadi ingat tentang pernikahan tanpa keturunan yang dikatakan kedua tantenya Aryo.

Jika dirinya dan Aryo tidak melakukan hubungan suami istri, maka tidak akan ada keturunan dalam pernikahan mereka. Itu artinya, kemungkinan pernikahannya tidak dapat bertahan.

Keluarga Aryo dapat menendangnya keluar dari keluarga Brodjohujodyo kapan saja, jika Tiara tidak ingin di madu. Bahkan kemungkinan yang terburuk, keluarga Aryo akan mengetahui pernikahan mereka yang sebenarnya hanya untuk sebuah status.

***

Sesampainya di rumah, Tiara membantu membawakan tas belanja yang ringan sementara Aryo membawa yang berukuran lebih besar dan berat.

Tiara menuju dapur untuk meletakkan belanjaannya di sana. Setelah menaruhnya, Tiara memutuskan menunggu Aryo karena pria itu masih harus mengambil satu kardus berisi belanjaan yang cukup besar.

“Aryo,” panggil Tiara ketika Aryo sampai di dapur dan meletakkan kardusnya di meja kitchen set.

“Kenapa?”

“Kira-kira lusa lo sibuk nggak?”

“Sebenernya gue libur, tapi ada meeting online paginya. Emangnya kenapa?” Aryo mengambil gelas lalu menaruhnya di mesin otomatis yang menyatu dengan kulkas. Setelah mesin selesai bekerja, pria itu meneguk air dingin dari gelasnya.

“Gue mau minta izin untuk pulang ke rumah. Karena lo besok ada meeting, jadi gue izinnya sekarang aja. Untuk satu minggu, gue mau nginep di rumah orang tua gue. Boleh kan?” tanya Tiara.

“Boleh. Gue bisa anter lo ke sana habis gue meeting.”

“Gue berangkat sendiri aja.”

“Karena lo udah mengenal keluarga gue sebagai istri gue, gue juga akan mengenal keluarga lo sebagai suami lo, Tiara,” pungkas Aryo.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara tidak mendapat akses masuk karena rupanya Aryo belum pulang ketika ia sampai. Lantas ia menelfon Erza agar pria itu bersedia menemaninya di lobi pintu masuk sampai Aryo pulang.

“Za lo baik banget sih,” ucap Tiara ketika Erza datang.

“Udah jadi tugas saya untuk melayani Nyonya.” Erza mengambil tempat di samping Tiara. Mereka duduk di salah satu kursi di area taman.

“Jangan panggil Nyonya dong, kan mulai kemarin ktia temenan,” ucap Tiara.

“Gue nggak ngerti deh, kenapa orang kaya ngabisin duit buat bangun tempat tinggal sebesar ini, buat apa coba kalau dipikir-pikir.” Tiara menyapukan pandangannya ke area tempat ini.

“Maksud Nyonya tempat ini?”

That’s right. Kenapa coba Aryo harus bangun tempat seluas dan semegah ini? Gue nggak tau apa yang dia pikirin. Padahal rumah sederhana aja yang penting layak ditinggalin, udah lebih dari cukup.” Tiara mengutarakan pemikirannya lagi.

“Mungkin bukan seperti itu yang dimaksud sama tuan, Nyonya.” Balas Erza menanggapi pendapat Tiara.

“Jadi?”

“Tuan membangun tempat ini udah lumayan lama. Setelah nikah, Tuan bawa Nyoya tinggal disini. Kat tuan biar Nyonya nyaman dan senang dengan semua fasilitas yang ada, dan tentunya merasa aman,” papar Erza.

Tiara melongo tidak percaya dengan penuturan Erza barusan. Apanya yang bahagia? Tiara justru merasa Aryo telah mengekangnya dengan semua fasilitas dan peraturan yang pria itu berikan padanya.

“Yang ada, gue takut ngerasa kesepian di sini. Kayak sekarang, kalau Aryo belum pulang, gue nggak bisa masuk ke rumah ini. Tapi lebih baik di luar sih, nggak terlalu menakutkan dan untung ada lo yang nemenin gue.” Tiara kembali menatap bangunan rumah yang terlihat megah di hadapannya. Sepertinya setiap orang yang ditawari tinggal di sini akan setuju dan merasa sangat bahagia. Namun tidak bagi Tiara saat ini. Rasa sepi yang menyergapnya beberapa menit lalu, kembali mengingatkannya pada memori kelam itu.

By the way, gue bosen nih. Lo mau nggak temenin gue jalan-jalan keliling tempat ini?” tanya Tiara.

“Sebentar lagi kayaknya Tuan sampai. Saya udah hubungim Tuan dan ngasih tau kalau Nyonya pulang lebih dulu dari beliau. Saya nggak enak kalau menghabiskan waktu terlalu banyak dengan Nyonya,” jelas Erza.

Setelah memikirkannya kalimat Erza itu, Tiara menjadi paham maksudnya. Oh oke, ini tidak baik. Tiara berpikir bahwa perilaku Aryo telah berlebihan terhadapnya.

“Enggak. Lo nggak boleh pergi. Biarin aja, Aryo lihat gue sama lo. Lagian siapa suruh buat gue nunggu dia di sini sendirian.” Tiara menahan lengan Erza saat pria itu hendak pamit padanya.

Kali ini Erza tidak bisa menolak keingian Tiara untuk menemaninya di sini sampai Aryo pulang. Hari sudah cukup malam dan sebenarnya Erza juga tidak tega meninggalkan Tiara sendirian. Tidak lama kemudian, Erza merasakan pundaknya sedikit berat dan ia mendapati Tiara tertidur dengan kepala gadis itu mendarat di bahunya.

“Nyonya,” panggil Erza untuk membangunkan Tiara, tapi tidak ada jawaban apapun dari gadis itu.

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil terparkir sempurna tidak jauh dari posisi Erza dan Tiara. Terlihat Aryo turun dari mobil dan mendapati Tiara dan Erza dengan istrinya yang tertidur di pundak Erza.

“Bangunin dia dan minta pake kakinya sendiri untuk masuk ke dalam,” ucap Aryo pada Erza sebelum melenggang dari sana.

“Baik, Tuan,” jawab Erza.

***

Meskipun sekujur tubuhnya terasa pegal dan matanya sungguh berat untuk diminta terbuka, Tiara tetap kekeuh mendemo Aryo atas semua tindakan yang telah dilakukan pria itu terhadapnya.

Aryo tersadar Tiara mengikutinya sampai ke depan kamar pria itu. Sebelum membuka knop pintuya, Aryo berbalik menghadap Tiara dengan tatapan dinginnya. Namun Tiara tidak menampakkan sama sekali raut terintimidasinya. Segala emosi berhasil mendobrak pintu rasa takutnya saat ia harus menghadapi Aryo yang seperti ini.

Can you tell me why, you did this to me? You drive me crazy, dengan semua yang lo lakukan untuk mengekang gue,” ucap Tiara dengan napasnya yang tidak beraturan.

“Lo ngelakuin ini untuk ngelindungin reputasi lo dan perusahaan. Lo nggak sadar, kalau itu udah nyakitin gue,” Tiara ingin meluapkan perasaannya agar Aryo tahu dan tidak bersikap berlebihan terhadapnya.

“Lo udah berlebihan, Aryo,” sambung Tiara dengan nadanya yang frustasi.

“Udah selesai?” tanya Aryo setelah beberapa detik Tiara dapat menenangkan dirinya dan gadis itu berhenti berbicara.

“Lo mungkin perlu waktu untuk menerima dan mengerti situasi baru ini. Gue minta maaf, kalau semua ini nyakitin lo, Tiara. Lo nggak salah pergi sama temen cowok lo. Tapi setidaknya lo bisa kasih tau gue kemana lo pergi. If something happened to you, at least gue nggak akan terlambat ada di samping lo.” Aryo menghembuskan napasnya panjang untuk menjeda ucapannya. “Kita punya waktu satu tahun untuk jalanin ini. Saat lo nggak lagi menyandang status istri gue, lo bisa bebas dari semua yang nggak lo sukai,” tutur Aryo.

Tiara mencerna kalimat demi kalimat yang Aryo katakan itu. Aryo mengatakan bahwa ia tahu Tiara pergi dengan siapa dan ia akan megizinkannya. Namun sifat Tiara yang tidak memberitahunya membuat Aryo justru semakin protektif terhadapnya. Ucapan Aryo perlahan mulai mencairkan es yang membeku di hatinya dan membuka pikirannya yang beberapa detik lalu terasa seperti tersumbat.

“Seiring berjalannya waktu, lo akan paham kenapa gue ngelakuin ini untuk lo,” tukas Aryo.

Tiara menatap Aryo dan merasa dirinya justru yang terlihat lebih egois saat ini, dengan tidak mau mendengarkan apa yang baik dan buruk padahal itu untuk dirinya sendiri. Tiba-tiba terlintas ide di pikiran Tiara untuk membuat hubungannya dengan Aryo menjadi lebih baik. Sehingga mendapakan informasi yang ia butuhkan akan lebih mudah.

You get the point?” tanya Aryo.

Tiara mengangguk. “Gue akan coba untuk ngerti itu. Tapi boleh gue minta sesuatu dari lo?”

“Apa? Gue akan coba untuk pertimbangin.”

“Gue belum minta Erza atau Egha jelasin tentang apa aja yang harus gue lakuin sebagai istri lo. Gue nggak akan tanya ke mereka, karena gue mau lo yang ajarin gue. Gue pikir, cara itu lebih baik untuk kita berdua kedepannya.”

Keduanya lantas saling bertatapan. Aryo menatapnya dengan ekspresi yang Tiara tidak bisa artikan dan pria itu sedikit memangkas jarak di antara mereka.

Are you sure with that?” Nada suara Aryo melembut. Tiara tidak pernah mendengar nada tersebut dari bibir Aryo ketika berbicara dengannya.

I’m sure. Kita bisa jalanin satu tahun ini dengan saling berdamai dan bersikap lebih saling mengerti satu sama lain,” jelas Tiara.

“Oke. Kalau gitu, kita akan coba sesuatu yang lebih baik, mulai besok.”

So can I text you everywhere I go?” Tiara tersenyum menampakkan gummy smile-nya.

Aryo mengangguk, lantas ia balas mengulaskan sebuah senyum tipis di bibirnya. Tiara memerhatikan senyum itu dan jantungnya kembali berdetak tidak normal.

***

Hari ini terhitung memasuki dua bulan Aryo dan Tiara sepakat menjalani pernikahan secara kooperatif. Keduanya akan saling membantu satu sama lain, agar pernikahan mereka berjalan lebih baik. Sejauh ini berjalan lancar antara dirinya dan Aryo. Tidak banyak perdebatan yang terjadi. Jika ada masalah, mereka akan bicarakan dengan kepala dingin dan mencoba saling memahami satu sama lain.

Pagi ini Tiara turun ke lantai satu dan ia mendapati Aryo sedang menerima telepon dari mamanya.

“Iya Mah, Aryo sama akan Tiara datang acara keluarga nanti siang.” Aryo mengakhiri percakapan dengan mamanya dan menatap kearah Tiara yang kini berada di hadapannya.

Aryo berjalan menuju mini bar yang terletak di samping dapur, lalu ia kembali melanjutkan kegiatan sarapan paginya. Tiara mengambil tempat di samping Aryo, ia duduk di sana dan memperhatikan kegiatan yang sedang Aryo lakukan.

Aryo menyodorkan satu suap pada Tiara yang dibalas dengan tatapan sedikit terkejut dari gadis itu. Tiara akhirnya menerima suapan itu, lalu mengunyah makanan yang terasa enak sekali hingga mengakibatkan sebuah senyum lebar terbit di wajahnya.

Oh my god, ini enak banget. Gue bisa masak kayak gini, tapi harus diajarin dulu,” ujar Tiara.

“Lo bisa ambil kursus masak kalau lo mau,” saran Aryo.

“Kursus masaknya sama lo aja, gimana?” celetuk Tiara.

Aryo menghentikan kegiatan makannya dan meletakkan sendoknya, “Emang lo mau masak buat siapa?”

“Mau masak buat lo. Sebelum lo berangkat kerja, gue bisa masakin sarapan dulu,” jawab Tiara diiringi senyum kecilnya. Kemudian ia menyendok sendiri makanan yang ada di mangkok Aryo untuknya.

Tiara terlihat senang sekali bangun di pagi hari mendapat sarapan seenak ini. Ditambah pula, ia disuguhi pemandangan sosok bertubuh gagah yang sanggup membuat matanya tidak mengantuk lagi. Ia dapat dengan puas memandangi Aryo tanpa memerlukan banyak usaha. Saat gadis diluar sana mengidolakan lelaki di hadapannya ini dan berharap berada di posisinya, Tiara mendapatkannya secara gratis. Kalau di lihat-lihat, memang suaminya itu lumayan tampan. Ah bukan lumayan, tapi hampir mendekati kata sempurna.

“Tiara, tugas lo yang utama itu bukan masak,” ucap Aryo membuyarkan pembicaraan monolog Tiara di dalam kepalanya. Tiara berusaha berekspresi normal dan menghempaskan apapun yang ada di pikirannya barusan tentang memuja visual Aryo.

“Terus? Tugas gue kan jadi istri lo. Bukannya masak itu kewajiban istri? Lagian gue nggak keberatan untuk itu,” cerocos Tiara.

“Oke, kalau gitu. Lo bisa pilih sendiri kursus masak mana pun yang lo mau.”

Tiara melukiskan senyumnya, “Ooh … jadi lo mau gue kursus masak terus ketemu chef chef yang ganteng dan gagah gitu? Gue pikir, itu nggak akan baik untuk reputasi suami gue di perusahaan and also for our marriage status,” ucap Tiara.

Tiara memerhatikan Aryo yang tidak melanjutkan acara sarapannya itu.

“Lo nggak mau makanannya? Gue yang habisin ya? Sayang tau kalau dibuang, kan mubazir makanan seenak ini.” Tiara hendak mengambil alih makanannya dengan menggeser mangkuk ke arahnya, namun ucapan Aryo menahan aksinya itu.

“Kita akan bahas ini nanti, habis dari acara keluarga. Lo bisa habisin makanannya, terus siap-siap. Dua jam lagi kita harus berangkat.” Aryo mengatakannya dan pria itu melenggang meninggalkannya.

Tiara berharap, rencananya untuk membuat Aryo percaya terhadapnya akan berjalan lancar. Melihat bagaimana pagi ini mereka dapat dengan tenang membicarakan sesuatu dan mendapatkan win win solution bagi kedua pihak. Aryo tidak telak mengucapkan kata ‘tidak’ pada keinginan Tiara yang memerlukan persetujuan pria itu. Namun mereka memilih untuk berdiskusi agar bisa menemukan jalan keluarnya bersama.

***

Aryo dan Tiara berjalan bersama melewati taman dan sampai di depan sebuah pintu masuk ganda berukuran besar.

Di perjalanan tadi, Aryo memberitahu Tiara bahwa rumah yang akan mereka datangi adalah rumah eyangnya. Hampir semua bibi, paman, dan keponakannya hadir di acara spesial malam ini.

“Aryo, tunggu.” Tiara menahan lengan Aryo sebelum mereka melepas sepatu di depan teras rumah yang luas itu.

“Kenapa?”

“Lo bilang, acara keluarga diadain kalau ada momen spesial. Jadi momen spesialnya itu apa?” tanya Tiara.

Aryo menghadap ke samping, sehingga kini dirinya dan Tiara saling berhadapan, “Momen spesial itu pernikahan kita,” jawab Aryo.

“Kenapa lo nggak bilang ke gue sebelumnya? Keluarga lo bisa aja curiga sama pernikahan kita yang sebenarnya.” Nampak kekhawatiran di wajah Tiara.

“Mungkin mereka bisa curiga. Tapi apapun itu, kita terikat sebuah pernikahan, Tiara. Kecurigaan mereka akan sia-sia, saat kita masih sama-sama. I will hold your hand like this,” jelas Aryo sambil menatap matanya dengan lembut. Perkataan pria itu sukses meruntuhkan tembok ketakutan yang sebelumnya ada di dalam diri Tiara.

Tatapan Tiara pun turun ke arah dimana tangan Aryo menggenggam tangannya. Lantas sebuah senyum terlukis di wajah Tiara tanpa bisa ia cegah. Tanpa Aryo ketahui, senyum Tiara malam ini adalah senyuman yang tulus dari lubuk hatinya.

***

Ketika memasuki rumah bergaya eropa yang dipadukan dengan sentuhan minimalis iu, semua mata yang ada disana mengarah pada Tiara dan Aryo. Mereka menyapa satu persatu keluarga Aryo yang hadir, termasuk kedua mertuanya. Kemudian Tiara dan Aryo memberi salam hormat kepada kedua eyang yang mana adalah kakek dan neneknya Aryo. Ketika menyalami eyang putri, wanita paruh baya tersebut mengatakan sesuatu pada Tiara.

“Usia kalian masih muda banget waktu nikah. Apa kalian ingin segera punya anak atau ditunda dulu?”

Tiara berpikir bahwa ia harus memberi jawaban yang dapat mendukung aktingnya dengan Aryo, agar tidak ada curiga soal pernikahan yang mereka jalani sesungguhnya.

“Tiara sama Aryo nggak nunda sama sekali, Eyang. Kita mau secepatnya punya anak,” jawab Tiara sopan.

“Eyang, ngobrol apa aja sama istri Aryo? Eyang lagi interograsi Tiara ya?” ucap Aryo yang datang menghampiri kedua perempuan itu setelah mengambil dua minuman, satu untuknya dan satu untuk Tiara.

Aryo mengambil tempat duduk di samping kiri eyangnya. Sementara Tiara berada di sisi kanan eyang dan keduanya saling bertukar pandang.

No. Eyang nggak lagi mengintrograsi istri kamu. Terus kenapa kalian cuma tatap-tatapan kayak gini? Eyang berasa nyamuk diantara pengantin baru deh,” celetuk wanita paruh baya itu.

“Bukan gitu, Eyang. Nggak papa dong, Eyang di antara kita. Aryo kan mau deket-deket sama istri Aryo.” Mendengar ucapan Aryo itu membuat Tiara terkejut dan rupanya eyang menyadari hal tersebut.

“Tiara, jangan dengerin anak ini. Suami kamu ini, kadang-kadang sikapnya masih kayak anak kecil. Manja banget ya pasti dia sama kamu?” Eyang berbicara pada Tiara dan justru mengabaikan keberadaan Aryo.

“Tiara kan istrinya Aryo, Eyang. Yaa boleh dong Aryo manja-manja ke Tiara,” ucap Aryo dengan ekspresinya yang tidak sama sekali menunjukkan bahwa ia seorang pria dewasa berusia 24 tahun. Tiara menyaksikan ekspresi Aryo yang sebelumnya tidak pernah ia dapati pada pria itu.

Ekspresi tersebut terlihat lucu dimata Tiara dan jantungnya berdebar mendapati itu, tapi segera ditampik oleh kenyataan bahwa saat ini Aryo hanya sedang berakting. Tiara berpikir Aryo pantas mendapatkan piala Oscar dengan kategori aktor terbaik.

“Eyang, boleh ya, Tiara ngambilin makanan untuk Aryo dulu? Jangan Eyang ajak ngobrol terus dong istri Aryo,” ucap Aryo masih berusaha mendapat perhatian dua perempuan yang mengabaikannya itu. Masih dicuekin, Aryo pun memutuskan untuk menjauh dari mereka dan bergabung dengan para keponakannya.

“Liat kan, Tiara. Dari pada bahas soal perusahaan sama Om-omnya, dia milih main sama keponakannya. Makanya sebenarnya Eyang agak khawatir waktu dia mutusin buat nikah cepet,” ucap Eyang sambil tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiara mengulaskan senyumnya pada Eyang, lalu matanya mengarah pada satu titik dimana Aryo bermain dengan para keponakannya yang masih kecil itu.

Aryo tidak menyadari diperhatikan, sampai Tiara sudah tidak lagi disana dan Aryo baru menoleh. Aryo pun meninggalkan keponakannya dan beralih mencari keberadaan Tiara.

“Eyang, Tiara dimana?” tanya Aryo.

“Istri kamu lagi ngambilin makanan untuk kamu,” jawab Eyang.

Aryo bernapas lega. Lagipula apa yang ada dipikirannya itu. Mana mungkin Tiara menghilang begitu saja atau diculik oleh seseorang. Entah kemana akal sehatnya beberapa detik yang lalu. Aryo kembali pada keponakannya dan akan menunggu Tiara membawakan makanan untuknya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara bersyukur ia masih mempunyai alasan untuk keluar dari tempat tinggalnya dengan alasan berkuliah. Tentu Tiara akan memanfaatkan waktu tersebut dan tidak langsung kembali ke rumah ketika perkuliahan selesai.

Tiara sedang berada di kantin bersama Adrian dan Sandi sembari menunggu kelas selanjutnya dimulai. Biasanya Valdo selalu menempel dengan Sandi, tapi entah kemana perginya bocah itu kali ini. Kalau ada Valdo, mugkin cowok itu jadi yang paling heboh dan ingin tahu soal pernikahan Tiara dan malam pertamanya. Tentu Tiara akan malas menjawab pertanyaan itu.

“Pulang ngampus lo nggak bareng Akmal lagi dong, Ra?” tanya Adrian sebelum ia menghembuskan asap rokoknya. Memang biasanya Tiara pulang kampus bareng Akmal dikarenakan rumahnya dan Akmal yang searah dan jaraknya cukup dekat.

“Ada Akmal suruh matiin tuh rokok,” Sandi memperingati Adrian. Dengan berat hati, cowok itu pun menurut. Adrian mematikan rokoknya yang baru ia hisap setengahnya itu. Biasanya tidak lama Akmal akan datang dimana itu ada Tiara.

Tiara merasakan pundaknya ditepuk dan ia langsung menoleh pada sosok yang kehadirannya saat ini tidak ia harapkan. “Gimana Ra? Nikah enak nggak?” seru Valdo.

Valdo mengambil tempat duduk di samping Tiara dan menaruh tasnya di atas meja. Pria itu tersenyum pada Tiara dan minta perempuan itu untuk menjawab pertanyaannya.

“Nggak enak, karena nggak sebebas sebelum nikah,” jawab Tiara apa adanya.

“Yahh, bakal susah nongkrong lagi dong sama kita,” celetuk Sandi sambil nampilin wajah sok sedihnya.

“Nanti gue pulang bareng sama Akmal,” celetuk Tiara.

“Akmal kayaknya sampe malem di kampus Ra, soalnya dia ada rapat. Dia kan ketua pelaksana acara untuk orientasi maahasiswa baru,” ujar Adrian.

“Iya, gue nunggu Akmal selesai rapat dulu,” timpal Tiara menanggapi ucapan Adrian.

***

Tiara dan Akmal berjalan bersisian menuju parkiran motor yang berada di belakang gedung fakultas mereka. Setelah selesai dengan rapat kepanitiannya, Akmal menepati janjinya untuk pergi berdua dengan Tiara.

Mereka sampai di parkiran dan Akmal pun memberikan sebuah helm bogo berwarna putih kepada Tiara.

“Masih lo bawa aja nih helm,” celetuk Tiara setelah ia memasang helm itu di kepalanya.

“Emangnya lo nggak mau pulang bareng gue lagi?”

“Lo lupa gue udah jadi istri orang,” gumam Tiara diiringi tawanya.

Akmal menghadap Tiara dan tangannya bergerak memastikan pengait helm milik Tiara telah terpasang dengan sempurna.

“Ra, jangan buru-buru ngejalanin rencana ini,” Akmal wajahnya menampakkan kekhawatiran.

Tiara mengulas senyumnya untuk meyakinkan Akmal semuanya akan baik-baik saja. Tiara menceritakan pada Akmal mengenai perjanjian yang telah ia sepakati dengan Aryo. Perjanjian tersebut berguna untuk mencegah resiko buruk yang bisa terjadi selama mereka menjalankan rencana.

“Gue akan berusaha untuk dapetin informasi tanpa Aryo curiga dan tau soal rencana kita,” ujar Tiara.

“Gimana caranya lo dapet informasi, kalau ada batasan antara lo sama dia karena perjanjian itu?”

“Gue bisa ngelakuinnya dengan cara yang halus. Kayak yang di bilang dosen kita di mata kuliah marketing, it's called soft selling.”

“Gimana cara kerjanya?”

“Sekarang gue adalah istrinya. Pertama, gue akan bikin Aryo percaya sama gue dan pelan-pelan hubungan kita membaik. Habis itu gue akan cari informasinya saat gue udah punya akses ke sana. Nanti kita bahas ini lagi, kita harus berangkat sekarang nanti kita telat nonton Mal,” Tiara menepuk pundak Akmal untuk menyadarkan cowok itu dari diamnya.

“Tunggu, Ra.” Akmal menahan pergelangan tangan Tiara dan menatap matanya.

“Kenapa?”

“Gue cuma takut, lo salah langkah dengan ngambil cara ini. Gue nggak bodoh untuk mengerti maksud kata-kata lo, Tiara.”

“Lo khawatir soal apa?” Mereka saling bertatapan dan Tiara tidak mengerti dimana letak kekhawatiran sahabatnya itu.

Akmal menggelengkan kepalanya, kemudian ia menancapkan kunci pada motornya. Tiara yang tidak mengerti perkataan cowok itu, hanya menurut lalu naik ke boncengan motor milik Akmal.

***

“Makasih ya Ma, hari ini udah nemenin gue,” ujar Tiara setelah mengembalikan helm yang ia pakai kepada Akmal.

“Gue masuk dulu ya, lo hati-hati di jalan,” timpal Tiara sebelum berjalan ke arah bangunan yang saat ini menjadi tempat tinggalnya. Tiara meminta Akmal menurunkannya sekitar seratus meter lebih dari bangunan tingkat tiga itu.

“Tiara,” Akmal memanggilnya dan Tiara menoleh. Akmal turun dari motornya lalu berlari kecil untuk menghampirinya.

“Ada yang ketinggalan Mal?” tanya Tiara dan Akmal hanya menggeleng sebagai jawaban.

“Ohiya, anak-anak bilangm satu bulan kedepan lo bakal sibuk ya sama acara orientasi mahasiswa baru.” Tiara teringat pembicaraan di kantin siang tadi dengan teman-temannya.

“Iya, gue bakal sedikit sibuk. Tapi kalau ada apa-apa, lo bisa hubungin gue Ra,” ucap Akmal yang dijawab Tiara dengan sebuah anggukan. Akmal mengarahkan tangannya ke puncak kepala Tiara lalu menepuk pelan di sana dan mengusapnya sekilas.

“Gue bakal kangen lo dan semua memori yang kita punya. Mungkin sekarang kita nggak bisa kayak dulu. Apa gue kedengeran kayak orang yang egois, Ra?”

“Kita tetep bisa kayak dulu kali, Mal. Selama lo bisa jagain gue, Aryo bolehin gue punya kebebasan sesuai dengan perjanjiannya,” jelas Tiara.

Keduanya pun sama-sama mengulas senyum. Kemudian Tiara sungguhan harus masuk. Akmal membiarkan Tiara pergi dari hadapannya dengan perasaan khawatir yang sebenarnya akan selalu ia sematkan untuk gadis itu.

Mengingat Tiara harus menyimpan rekaman memori pahit mengenai masa lalunya. Tiara adalah teman masa kecilnya yang perlahan memasuki relung hatinya. Perasaannya pada Tiara berubah menjadi perasaan antara laki-laki dan perempuan yang sudah sama-sama dewasa.

Akmal tidak pernah menduga ia akan mencintai sahabatnya seperti ini. Gadis kecil yang dulu sangat ingin ia lindungi, kini sudah bertumbuh dewasa dan begitu cantik. Sayangnya Akmal bukanlah pria beruntung yang menikahi gadis itu. Ada pria lain yang telah menikahinya dan Tiara adalah milik pria itu saat ini. Namun di sisi lain, Akmal memiliki tekad untuk mewujudkan keinginan Tiara, agar gadis itu tidak mendapatkan mimpi buruknya lagi.

Ketakutannya mengenai rencana Tiara barusan terasa terlalu berlebihan dan tidak berdasar untuk sekarang. Pria itu menyisir kebelakang rambut hitam legamnya dengan jari-jari tangannya, lalu ia menghembuskan napasnya panjang. Sebelum pergi dari sana, Akmal memastikan punggung kecil Tiara tidak terlihat lagi oleh jarak pandangnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Ulang tahun Aryo jatuh berbarengan dengan papanya. Setiap tahun mereka akan merayakannya bersama untuk dua orang sekaligus. Tahun lalu, ibunya turut mengundang kekasihnya untuk private fine dining di hari ulang tahunnya. Aryo berpikir tahun ini akan sedikit berbeda karena kesibukan dan juga statusnya saat ini.

Aryo memasuki rumahnya sambil tangannya menekan touch screen ponselnya. Kemudian ia menempelkan benda pipih itu ke telinga, menunggu seseorang di ujung sana mengangkat panggilannya.

“Tiara, gue pulang agak telat. Lo udah di rumah?”

Aryo tidak kunjung mendapat jawaban dari Tiara. Ia menunggu gadis itu menjawabnya dengan kerutan di dahinya dan langkah kaki yang terhenti.

“Tiara?” panggil Aryo.

“Kenapa pulang telat?” Tiara justru bertanya balik di sambungan telefon.

“Ada sesuatu yang perlu gue ambil di rumah mama,” jawab Aryo.

“Habis itu langsung pulang?”

“Iya.”

Aryo mengernyit curiga. Ia menyapukan pandangannya ke penjuru rumah dan berjalan ke ruang tamu yang berada di ruangan. Ia penasaran karena suara Tiara di telepon terasa begitu dekat denganya. Aryo rasa ia mulai tidak waras berpikiran Tiara berada di dekatnya.

Are you ... at home?” Aryo masih bertanya dengan nada tidak yakin.

Of course.”

Our home?

***

“Malam ini kalian menginap di sini aja ya?”

Aryo dan Tiara saling bertatapan ketika mendengar ucapan Felicia. Setelah Aryo menemukan Tiara berada di rumah orang tuanya, tanpa sepengatahuannya, Tiara menggandeng tangannya untuk sampai di rooftop garden.

Di sana sudah ada papa dan mamanya yang kemudian memberinya ucapan selamat dan sebuah pelukan untuknya. Acara makan malam berjalan sempurna. Setelah menyantap makanan utama, sekarang giliran dessert yang menjadi penutup indah untuk di nikmati bersama.

Pemandangan dari atas yang nampak indah di malam hari menjadi pelengkap acara makan malam tersebut.

“Ma, biarin mereka pulang ke rumah mereka dong. Aryo, bukannya besok kamu harus ke Lembang untuk nunjukin progress pekerjaan disana?” tanya Edi pada anak sematawayangnya itu.

“Iya, Pah. Besok Aryo harus kesana,” jawab Aryo.

“Emang apa salahnya sih Pah kalau mereka sekali aja nginap disini. Aku kan juga ingin lihat anak dan menantuku,” ujar Felicia.

“Lain kali aja bisa kan? Lagian mereka nggak bawa persiapan untuk nginap,” ujar Edi lagi.

“Semua yang dibutuhin, ada disini. Tiara, tinggal bilang aja sama Mama, ya Sayang?”

***

Tiara dan Aryo mau tidak mau tidur di dalam satu kamar yang telah disiapkan. Satu jam yang lalu, para asisten perempuan di rumah ini membantu Tiara untuk menyiapkan segala yang ia perlukan. Dari mulai shower gel, parfum, body lotion hingga pakaian tidur untuknya.

Tiara memasuki kamar dan duduk di atas kasur setelah selesai dengan acara mandinya. Tiara tidak tahu dimana keberadaan Aryo. Mungkin pria itu masih mandi atau sedang menyelesaikan pekerjaannya yang harus diselesaikan malam ini, karena besok pagi-pagi sekali Aryo harus berangkat ke stasiun.

Pintu kamar terbuka dan Tiara menoleh kearah daun pintu. Ia mendapati Aryo di sana dengan stelan piyama biru dongkernya.

“Aryo, ada nggak kamar lain?” tanya Tiara dengan nada ragu.

“Ada, kamar tamu di lantai satu,” jawab Aryo setelah menutup pintunya dan berjalan ke kasur menyusul Tiara.

“Berarti gue bisa tidur di kamar itu, kan?” Tiara hendak turun dari kasur, tapi Aryo menahan tangannya.

“Nggak bisa, Tiara.”

“Kenapa nggak bisa?”

“Mama di bawah masih nonton tv, beliau belum pergi tidur. Lo mau turun ke bawah dan dapat pertanyaan dari mama yang bahkan lo nggak bisa jawab nanti, hmm?”

Tiara menghembuskan nafasnya panjang.

“Lagian mama ada benernya nyuruh kita untuk nginap,” cetus Aryo.

“Ada benernya? Gimana lo bisa bilang begitu,” ucap Tiara dengan nada tidak setuju.

“Lo lupa ya? Kalau kita begini terus, gimana caranya kita bisa punya anak?”

Astaga, Tiara melupakannya. Padahal dirinya sendiri yang kekeuh dari kemarin mengenai hal itu.

“Kalau kita punya anak, apa itu akan membuat posisi lo semakin kuat di perusahaan?” tanya Tiara.

Right,” jawab Aryo diiringi anggukan di kepalanya.

“Kalau lo dapetin itu, gue juga ingin dapetin hal yang sama sebagai gantinya. Gue mau lo ngabulin satu permintaan gue, sebelum kita bercerai nanti.”

***

“Ram, kita masih punya waktu berapa menit lagi?”

“Kurang lebih tiga puluh menit lagi sebelum keretanya berangkat Bos,” jawab Rama.

“Oke, lo tunggu gue sebentar ya,” icap Aryo pada asistennya itu.

Rama mengiyakan ucapan atasannya dan melihat pemandangan di depannya saat ini. Sebelum menyerahkan tiket pada petugas stasiun, Aryo berbalik melangkah ke belakang menghampiri sosok perempuan yang merupakan istrinya itu.

Ketika Aryo berhadapan dengan Tiara, ia membungkukkan sedikit badannya, lalu menghela torso Tiara untuk berada di dekapannya.

“Kenapa? Ada yang ketinggalan?” tanya Tiara.

Tangan Tiara yang semula berada di sisi tubuhnya pun bergerak perlahan untuk membalas pelukan Aryo.

“Keretanya udah mau berangkat kan?” tanyaTiara ketika Aryo belum melepaskan pelukan mereka.

“Sebenernya gue sama Rama masih harus nunggu klien yang berangkat bareng kita,” jelas Aryo.

“Tapi sebentar lagi keretanya berangkat, Aryo.”

Aryo tersenyum. “Masih tiga puluh menit lagi keretanya, Ra. Gue udah lumayan kenal juga sama kliennya.”

Tidak lama kemudian, orang yang ditunggu menghampiri Aryo dari arah yang berlawanan.

“Maaf gue telat. Gue kira kita naik dari gerbong yang disana. Oh hai, Tiara ya? Lo masih inget gue nggak?” Perempuan itu menyapa Tiara dengan sebuah senyuman ramah di bibir merah ranumnya. Perempuan itu hanya membawa tas tangannya sedangkan seorang asisten laki-laki di balik punggungnya membawakan dua buah koper berukuran sedang.

“Gue inget lo kok. Lo cuma mantannya suami gue,” ucap Tiara dengan santai.

“Kita harus berangkat sekarang,” ucap Aryo.

Tiara menoleh pada Aryo yang memecah topik pembicaraannya dengan Aurorae. Tiara melemparkan tatapan sbealnya atas perlakuan Aryo yang menurutnya sedikit tidak adil padanya. Bagaimana pun Tiara harus membungkam mulut mantan kekasih suaminya itu dengan mulutnya sendiri.

“Tiara, gue udah minta tolong sama Erza buat jemput lo disini. Lo bisa pulang sama dia,” ucap Aryo pada Tiara dan gadis itu hanya bisa menahan keinginannya untuk melawan Aurorae. Tiara mengulas senyumnya, ia menatap Aryo lalu mengambil tangannya dan menciumnya di sana.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara sampai di lantai satu dan mendapati Aryo sudah menunggunya di sana dan pria itu masih dengan stelan kantornya.

“Jam berapa ini Tiara?”

“Hampir jam sepuluh.”

“Ayo kita bicarain yang tadi sempat kita tunda.”

“Gue pikir udah nggak ada yang perlu dibicarain.” Tiara menatap Aryo dengan tatapan datarnya.

“Kenapa? Beberapa jam yang lalu lo bersikeras diskusiin itu sama gue.”

Tiara terdiam tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Lo tau, apa yang gue lakukan adalah untuk ngelindungin lo. Di saat gue ngelakuin itu, justru lo yang membahayakan diri sendiri.” Aryo menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Aryo mendapatkan dari salah satu omnya yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan. Om nya itu sangat mendukungnya, sehingga berbaik hati menyerahkan foto itu padanya untuk disimpan saja.

Good job for you. Gue nggak nyangka bisa nikah sama diktator yang keren kayak lo.” Tiara bertepuk tangan sambil menyunggingkan senyum smirk-nya. Kemudian Tiara hendak mengambil langkah pergi melewati Aryo, namun pria itu menahan pergelangan tangannya.

“Gue mau ke kamar, jadi tolong lepasin gue,” desis Tiara.

“Gue lepasin, setelah lo jelasin apa yang lelaki itu perbuat ke istri gue, di depan mata gue sendiri.”

“Lo nganggap gue istri lo, di saat lo cuma butuh kuasa atas gue? Hello sir, you can’t do anything you want to do.” Tiara mengatakannya dan pegangan tangan Aryo terlepas pada tangannya. Tiara tidak ingin perasaannya terhadap Aryo semakin dalam karena ia tahu pada akhirnya mereka tidak akan pernah bisa bersama. Dari awal pertemuannya dengan Aryo, Tiara sadar ia memiliki perasaan terhadap lelaki ini, tetapi lebih baik membangun tembok antara dirinya dan Aryo untuk kebaikan keduanya.

“Terus dengan mudahnya lo berpikir untuk ngasih keluarga keturunan? Lo pikir semudah itu untuk punya anak?” tanya Aryo.

Tiara berbalik kemudian menatap pria itu, “Bukannya gampang aja buat lo? Gue cuma aset lo untuk dapetin posisi itu. Asal nantinya lo nggak akan punya perasaan untuk gue. Kita bisa punya anak, habis itu cerai. Gimana?”

“Gimana dengan perasaan lo sendiri?”

It’s easy. Every woman never think about love only for one men. So we can start our project?

***

Siang ini Tiara mengunjungi rumah mertuanya. Mertuanya meminta supir menjemput Tiara agar datang ke rumah. Mamanya ituberencana menyiapkan surprise untuk papa mertuanya dan suaminya karena hari ini adalah hari ulang tahun keduanya yang jatuh bersamaan.

“Malam ini, kalian menginap disini saja ya,” ucap ibu mertuanya pada Tiara. Melihat reaksi menantunya itu, Felicia lantas menyunggingkan senyumannya.

“Tenang aja, suami kamu pasti mau kok. Semenjak Aryo nikah, rumah ini makin sepi. Habis semua ini matang, tolong siapin bekal untuk diantar ke kantor suamimu ya,” tutur Felicia.

Tiara mengiyakan ucapan mertuanya diiringi senyuman. Bagaimanapun ia tidak enak menolak permintaan Felicia untuk menginap. Lagipula suaminya itu kan anak tunggal, jadi wajar mertuanya merasa rumah sebesar ini begitu kosong sejak Aryo menikah.

“Kenapa Tiara? Apa Aryo sibuk banget di kantor jadi dia jarang luangin waktunya buat kamu?” duga ibu mertuanya ingin menebak apa yang sedang dipikirkan olehnya.

“Aryo besok harus ke luar kota karena urusan pekerjaan, Mah. Jadi kayaknya kita nggak bisa menginap malam ini,” ujar Tiara mengatakan alasan mungkin mereka tidak bisa menginap.

“Ohya? Artinya dia ninggalin kamu berhari-hari dong? Entah apa yang ada dipikiran dia. Padahal kalian itu kan pengantin baru. Harusnya dia sama ngurangin waktu untuk pekerjaannya itu.”

Tiara membantu mertuanya menata makanan yang telah matang di piring-piring putih besar lalu meletakkannya di meja makan. Sepertinya mertuanya salah menangkap, malah kini mertuanya ingin dirinya dan Aryo menghabiskan waktu bersama hanya berdua.

“Kalau seperti ini terus, kalian susah punya waktu bersama. Yaudah gini aja, malam ini kalian harus menginap disini ya. Mama pastiin Aryo setuju,” ucap ibu mertuanya sambil memegang tangan Tiara, lalu menepuk punggung tangan menantunya itu dan tersenyum hangat.

***

Pukul tujuh malam, Aryo berada di perjalanan pulang dari kantornya. Jalanan ibukota seperti biasa dipenuhi oleh kendaraan yang menyebabkan jalanan padat. Mobil Aryo mau tidak mau ikut terjebak macet dan hanya bergerak sedikit demi sedikit.

“Tuan, tadi ibu Feli bilang kalau Bapak harus ke rumah dulu untuk mengambil titipan ibu.” Mendengar penuturan supir pribadinya Aryo menyatukan alisnya.

“Tumben. Biasanya mama langsung nelfon saya sendiri.”

“Ibu bilang, Tuan cuma diminta untuk mampir sebentar.”

“Oh yaudah Pak, kita langsung ke rumah mama aja.”

Aryo menoleh ke samping jok dan terdapat tas bekal yang tadi siang diantar ke kantornya. Wajahnya mengernyit curiga namun ia mengulaskan senyum semringah setelahnya.

Aryo tidak tahu mamanya bisa seromantis ini padanya di hari ulang tahunnya. Mamanya itu mengirimkan kotak bekal disertai notes kecil berwarna peach berisi kalimat doa yang begitu indah untuk hari ulang tahunnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

#

Tiara tidak ada kelas siang ini karena dosennya membatalkan kelas secara tiba-tiba. Gadis itu berniat pulang saja dan cabut kelas yang masih tersisa di jam tiga sore nanti. Namun tidak disangka ia membatalkan niatnya hanya karena seseorang yang membiayai kuliahnya. Pengaruh dan eksistensi pria itu di hidupnya telah memberikan dampak yang begitu besar bagi aspek-aspek kehidupan Tiara.

Tiara keluar dari kelasnya dan mendapati ponselnya berbunyi.

“Dimana Ra?”

“Baru aja keluar kelas. Lo dimana?”

“Lo masih ada kelas kan nanti sore?”

“Iya. Kenapa emang Mal?”

“Sekarang lo sama siapa? Lo nggak sendirian kan?”

Tiara tidak langsung menjawab.

“Gue telfon Valdo ya?” ujar Akmal sebelum Tiara menjawabnya.

“Nggak usah, Mal. Ini orangnya lagi jalan ke arah gue.” Tiara menatap lurus pada sosok Valdo yang benar saja berjalan ke kearahnya di lorong lantai dua.

Tepat ketika Valdo berada di hadapannya, sambungan telfonnya dengan Akmal berakhir.

“Akmal?” tebak Valdo.

“Iya, tadi hampir nelfon lo, tapi lo udah nongol.” Tiara dan Valdo berjalan bersama menuju lift untuk turun.

Tiara mengamati ekspresi Valdo yang nampak berbeda dari biasanya.

“Kenapa muka lo?” tembak Tiara.

“Nggak papa,” jawab Valdo.

Tiara mengenal sahabatnya itu dan firasatnya mengatakan ada sesuatu yang Valdo sembunyikan dari Tiara.

“Do, lo tau kan gue nggak suka sahabat gue nyembunyiin sesuatu dari gue.”

***

“Lo tau apa yang ada di pikiran gue?” tembak Aryo.

Rama yang ditatap oleh Aryo dan mendengar kalimat itu dari atasannya langsung memasang ekspresi terkejut.

“Acaranya masih lima belas menit lagi. Lo nggak mau ngasih tau istri lo?” Rama melihat arloji di tangannya. Mereka berada di satu ruangan khusus untuk menunggu yang telah di sediakan pihak panitia.

“Untuk?”

“Ngasih tau lo ada di sini lah,” ujar Rama.

“Dia mahasiswi di sini Ram.”

“Cuma ketemu sebentar elah.”

“Terus apa yang harus gue bilang kalau ada yang orang yang liat?”

Rama mengangguk mengerti. Kondisinya memang tidak memungkinkan bosnya itu bertemu istrinya di hadapan umum yang bisa saja memancing kehebohan.

“Tapi kalau dia tau lo di sini, gimana?”

“Menurut lo dia akan marah nggak kalau tau dari orang lain?” Aryo terlihat berpikir dan ia meminta pendapat asistennya itu.

“Perempuan emang sulit ditebak, Bro. Tapi habis ngungkapin perasaan, biasanya mereka lebih sensitif. Saran gue, jangan nyembunyiin apapun dari istri lo. Insting seorang istri kuat coy, intel mah lewat.”

***

“Kita bisa bicarain ini di rumah, Ra.”

“Kenapa nggak disini aja? Udah tujuh jam dari pertanyaan gue, tapi lo belum jawab,” kekeuh Tiara.

Aryo menatap Tiara yang ada di hadapannya. Setelah adegan saling bertukar pandang di antara ratusan pasang mata yang semangat menatap suaminya ketika bicara di atas stage, saat mata pria itu bertemu dengan matanya ; fokus Aryo hanya tertuju pada mata Tiara.

Aryo mendapati Tiara hadir di seminar itu dan kini gadis itu menemuinya di lorong menuju ruangan khusus tamu setelah acaranya selesai. Tiara meminta Aryo menjawab soal diskusi mereka untuk memiliki anak.

“Lo ngehindarin gue,” ucap Tiara.

“Tiara.” Suara itu berasal dari arah belakangnya dan Tiara mendapati Akmal berjalan menghampirinya dan Aryo.

“Maaf Pak Aryo, apakah Anda memiliki urusan penting dengan salah satu mahasiswi kami?” tanya Akmal.

“Mahasiswi yang kamu maksud adalah istri saya. Jadi kamu laki-laki yang selalu bersama Tiara,” ucap Aryo.

Tiara hanya bolak-balik menatap kedua orang yang saling melemparkan kalimat dengan tatapan dan nada yang terdengar tidak bersahabat itu.

“Tapi kehadiran Bapak di sini adalah sebagai pembicara. Demi ketertiban acara, jika ada urusan pribadi dnegan mahasiswi kami, mohon di selesaikan di luar area kampus,” tukas Akmal.

***

Saat Tiara keluar dari kelas terakhirnya sekitar pukul lima sore, Akmal sudah menunggunya di depan kelas gadis itu.

“Hai Mal,” sapa Tiara.

“Hai Ra. Apa lo punya waktu? Ada yang ingin gue bicarain serius sama lo.”

Tiara terlihat berpikir sebelum menjawabnya. Tepat saat itu ponselnya berbunyi dan Aryo yang menelfonnya.

“Suami lo?” tanya Akmal.

Tiara hanya mengangguk.

“Dia cuma bakal gue dimana terus minta gue pulang. Yang lo bilang ke gue ada benernya. Gue cuma aset yang akan bawa dia dapetin jabatan itu. So, he’s really want to protect me.”

***

“Mal gue mau nanya satu hal sama lo,” ujar Tiara.

“Nanya apa Ra?”

Mereka berjalan santai bersama beberapa orang yang menikmati indahnya pantai di sore hari. Semakin menjelang malam, pemandangan pantai yang merupakan reklamasi teluk di ibukota ini semakin indah. Bermacam-macam orang datang kesini dengan tujuan yang berbeda. Beberapa meter lagi, mereka akan sampai untuk melihat dengan jelas pemandangan matahari yang terbenam.

“Apa lo pernah nolak perasaan lo sendiri ketika lo suka sama seseorang?”

“Pernah,” jawab Akmal.

“Terus gimana?”

“Gue nggak bisa nolak perasaan itu untuk selamanya dan gue mutusin suka sama orang itu sampai saat ini.”

Tiara dan Akmal menikmati pemandangan sunset di tambah angin halus yang begitu menenangkan pikiran.

“Ohya? How lucky that girl. Lo nggak pernah cerita sama gue soal ini. Kita temenan lama. Lo emangnya nggak anggap gue sahabat lo?” tanya Tiara dengan nada seolah ia tengah marah besar pada Akmal.

She’s have someone.”

Tiara terdiam mendengarnya. Ia memutuskan tidak bertanya lebih lanjut karena tidak ingin membuat perasaan sahabatnya menjadi kacau.

“Ohya Ra, lo tahu kenapa gue suka banget sama tempat ini?”

“Kenapa?”

“Saat lo punya masalah, entah itu cinta, keluarga, atau lo khawatir dengan masa depan lo. Tempat ini bisa bikin lo tenang. Nggak akan ada yang ngeliat lo dengan tatapan ingin tau. Karena mereka juga memiliki tujuan masing-masing ke tempat ini.”

“Lampu jalannya cuma ada beberapa Mal. Emang gleap di sini,” Tiara menyapukan pandangannya ke sekelilingnya untuk memastikan. Benar saja, lampu jalan disini sangat minim.

But I still can see the star in front of me.”

Where?

Here.”

Akmal mengunci kedua mata Tiara. Lelaki itu menatapnya dengan cara yang berbeda selama ia mengenal pria ini.

You light up my world, Tiara.”

Tiara terdiam sejenak tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata dari bibirnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo mendapat tugas mengajarinya memasak mulai hari ini dan seterusnya. Tiara mengatakan setidaknya sampai Tiara bisa masak makanan kesukaan Aryo.

Sebenarnya, Aryo itu suka makanan apa saja, tapi terasa sulit bagi Tiara yang belum ahli memasak. Meski kata Tiara, gadis itu sering membantu bundanya di dapur, tapi tetap saja ia harus belajar dari orangnya langsung agar racikannya sesuai dengan selera Aryo.

Namun yang terjadi akhirnya Tiara mendapat tugas mencuci piring setelah nanti mereka selesai makan. Aryo mengambil alih teflon untuk melanjutkan memasak sarapan untuk mereka, setelah Tiara hampir saja membakar seisi dapurnya.

“Padahal tadi cuma kebesaran dikit apinya. Lo bisa lanjut ajarin gue masak, Aryo. Yaa ... boleh ya ...?” bujuk Tiara menunjukkan wajah memelasnya. Tiara masih ingin melanjutkan sesi les memasaknya bersama Aryo, tapi lelaki itu justru menyuruhnya duduk manis untuk menunggu makanannya siap. Rupanya Tiara tidak menyerah untuk meminta perhatian Aryo yang sedang fokus dengan kegiatan memasaknya itu.

“Nanti lo kenapa-napa,” ujar Aryo.

“Gue nggak bakal membakar rumah ini, Aryo.”

Indeed. Tapi lo membahayakan diri lo sendiri, Ra. Kita berdua bisa ada dalam bahaya.”

“Oke-oke. Karena lo udah berjasa untuk perut gue di pagi ini, you can ask me for one wish. You can tell what you want.” Tiara mengekori Aryo yang membawa sepiring besar masakannya yang sudah siap ke meja makan.

“Permintaan gue cuma satu. Gimana kalau kita nggak langgar perjanjian yang udah kita sepakatin?”

“Kenapa? Bukannya dengan punya keturunan akan menguntungkan untuk posisi lo yang sekarang?”

You’re right, Tiara.”

“Nah, keluarga lo menginginkan keturunan dari kita, kan?”

Aryo nampak berpikir sejenak, mereka duduk berhadapan setelah ia menarik kursi meja makan.

“Kita bakal cari cara biar mereka nggak cepet-cepet minta anak dari kita.”

“Sebelum kita cerai, bisa aja keluarga nuntut anak dari kita. Satu tahun bukan waktu yang sebentar. Kayak yang lo bilang sebelum kita nikah. Keluarga lo bisa aja minta lo nikah lagi, karena kalau sama gue, lo nggak akan mendapatkannya.” Tiara mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauk, lalu ia menaruhnya di hadapan Aryo.

“Kenapa lo bisa nyimpulin kayak gitu?” tanya Aryo dengan kerutan yang muncul di dahinya.

“Kalau nggak ada keturunan dalam keluarga, pilihan itu bisa diambil. Kalau gitu, lebih baik kita cerai lebih cepat aja, karena gue nggak bisa ngeliat itu dengan mata kepala gue, Aryo.”

Why?

Tiara menghela napas panjangnya.

I have a reason. Like you said before, about the feeling. I can’t ignore my feeling to you. I break the rules, because I started falling for you,” ujar Tiara sambil menatap tepat kedalam mata Aryo.

***

“Kita akhiri rapat hari ini, kalian bisa istirahat.” Aryo mengakhiri rapat yang dipimpin olehnya dan beberapa karyawan yang ikut rapat satu persatu mulai meninggalkan ruangan. Pria itu mengecek Rolex di pergelangan tangannya ; memperkirakan sisa waktu yang dimilikinya sebelum jadwal berikutnya.

“Ram, tolong cek jadwal gue setelah makan siang nanti,” ucap Aryo pada asistennya ketika mereka keluar dari ruang rapat.

“Jadwal lo habis makan siang adalah menghadiri acara seminar sebagai pembicara.”

“Oke, tolong siapin mobil buat gue ke sana.”

“Siap Bos,” ujar Rama diiringi anggukan.

***

Hari ini jadwal Aryo cukup padat dan banyak yang harus ia lakukan di kantor. Sebagai kandidat presiden direktur yang selanjutnya, mau tidak mau, pria itu harus bekerja dua kali lipat menjelang hari pemilihan. Ada dua kandidat, yakni dirinya dan sepupu laki-lakinya, Elnino. Ketika terlahir di keluarga ini, Aryo tahu apa yang harus ia lakukan untuk masa depannya. Bersaing dengan sepupunya sendiri, termasuk salah satu yang harus ia hadapi.

Aryo jadi ingat kalimat Tiara tentang adanya anak dalam pernikahan mereka. Soal gadis itu yang mengungkapkan perasaan padanya dan tidak meminta cerai lebih cepat kalau ia memilik mengikuti jejak eyang kakung.

Sepupunya yang merupakan rivalnya sudah memiliki dua orang anak terlebih anak pertamanya yang kira-kira seumuran Kelvin, adalah laki-laki. Kemungkinanm sepupunya yang akan menang mendapatkan jabatan presdir, karena posisinya yang lebih kuat dibanding dirinya.

Pintu ruangannya di ketuk dan nampak asistennya muncul disana.

“Bro, mobil lo udah siap.”

“Oke.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara menunggu Aryo kembali di rumah mereka setelah satu minggu ia menginap di rumah orang tuanya. Tiara beberapa kali menelfon Aryo untuk memastikan pria itu makan dan tidur dengan benar. Tiara mengetahui jadwal Aryo yang sangat padat di kantor, menjelang pengangkatan presiden direktur yang baru semakin dekat.

Matanya menangkap sebuah mobil yang amat Tiara kenali. Kemudian oa melihat sosok Aryo dengan tampilan formal khasnya tepat di depan matanya. Tuxedo hitam yang ditenteng dan hanya menyisakan kemeja putih yang melapisi tubuh tegapnya. Dasi yang dikenakan pria itu sudah sedikit dikendurkan dan raut wajah kelelehannya membuat Tiara sedikit khawatir.

Tiara berjalan kecil menghampiri Aryo, gadis itu menampakkan senyum cerianya ketika Aryo menatapnya dengan sedikit terkejut. Tiara memang tidak memberitahu Aryo tentang kepulangannya. Ini sudah menjelang malam, jadi Aryo berpikir mungkin Tiara memilih pulang besok pagi.

Sejenak tubuh Tiara terasa membeku kala Aryo meraih tubuhnya ke dalam pelukan pria itu.

Please give me a five minutes for this,” ujar Aryo di dekatnya.

Biasanya Tiara akan membalas apapun itu ketika Aryo berbicara atau melakukan sesuatu terhadapnya. Namun kali ini kata-kata itu tertahan di bibirnya. Tiara mencoba mengerti sikap Aryo untuk membuat pria itu merasa lebih baik dari apapun itu yang mungkin sedang di rasakannya saat ini.

Tapi hey, lima menit berpelukan bukankah itu cukup lama.

Aryo lantas melepaskan pelukannya dan Tiara berpikir itu tidak sampai lima menit.

“Lo bilang lima menit.”

I’m hungry.” Aryo menampakkan cengiran di wajahnya.

“Kayaknya gue mau makan masakan buatan lo,” sambung Aryo.

“Lo mau makan apa?”

“Lo bisa masak nasi goreng?”

“Kalau cuma nasi goreng sih, gue bisa. Lo mandi dulu, abis itu makanannya bakal siap,” ucap Tiara.

***

Sepiring nasi goreng di tambah telur mata sapi serta segelas susu putih hangat telah tersaji di meja makan. Di hadapan Aryo, Tiara duduk sambil menopang wajah dengan kedua tangannya. Ia ingin menyaksikan Aryo memakan masakannya untuk yang pertama kali.

Aryo memulai dengan satu suapan nasi goreng di piringnya dan ia hanya menatap Tiara yang justri menjadi gugup karena kelakuannya itu.

“Gimana? Enak nggak?” Tiara memasang tampang harap-harap cemas.

“Ini enak, Tiara.”

Tiara tersenyum semringah dan menghembuskan napasnya lega. Ia memperhatikan Aryo menyantap masakannya dan itu membuatnya merasakan debaran yang luar biasa dan lebih intens dari yang sebelumnya.

Thank you for this, Ra.” Aryo selesai dengan makanannya. Kemuidan Aryo juga menghabiskan susu putih hangatnya tanpa menyisakannya sedikit pun.

I have something for you,” ucap Aryo setelah menaruh piring dan gelas kotornya di wastafel.

“Oke, kita satu sama. Malem-malem gini?” tanya Tiara yang dijawab anggukan oleh Aryo.

“Serius ini udah malem, Aryo. Jangan yang aneh-aneh,” peringat Tiara.

Aryo hanya memintanya mengikutinya. Ternyata Aryo membawanya ke sebuah tempat yang belum Tiara ketahui di rumah ini, yaitu sebuah ruangan movie theater.

Tiara menatap takjub ruangan itu. Matanya menyapu sekeliling ruangan dengan desain interior berwarna serba ungu dan sedikit sentuhan warna hitam, membuat tempat itu terlihat fancy. Pada bagian langit-langit, terdapat lampu-lampu kecil yang membuat suasana terasa seperti di luar angkasa.

Are you like it?” tanya Aryo ketika mereka sudah duduk bersebelahan dan siap menyaksikan film di layar yang besar.

Tiara mengangguk dengan cepat.

I really like it. Thankyou so much for this.”

Setelah itu mereka menikmati film yang di putar. Selang satu jam film berjalan, Aryo memperhatikan wajah Tiara dari samping dan kepala gadis itu hampir saja membentur tangan kursi kalau saja Aryo tidak sigap memberikan pundaknya sebagai sandaran.

Aryo tersenyum kecil melihat Tiara yang tertidur. Membiarkan gadis itu menggunakan pundaknya sebagai alas dan tidak membangunkannya menjadi pilihan Aryo.

Setelah filmnya selesai, Aryo memutuskan membawa Tiara ke kamarnya. Aryo membaringkan Tiara di kasur queen size-nya. Setelah mematikan lampu kamar Tiara, Aryo memutuskan untuk pergi dari sana, tapi saat iaberbalik lengannya di tahan.

“Aryo,” panggil Tiara.

“Ra, lo bisa tidur lagi.” Aryo mengusap tangan Tiara yang memegang lengannya.

Tiara menggelengkan kepalanya, lalu ia berusaha bangun dari posisinya.

Can we have this night? Only for us?” tanya Tiara. Tiara merasa udara di sekitarnya menipis dan kedua pipinya terasa memanas ketika jarak wajahnya dan Aryo begitu minim.

“Disini aja malem ini, ya?” pinta Tiara.

“Gue temenin sampai lo tidur,” ucap Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya. “Don’t leave me.”

“Tiara, apa lo sadar yang lo ucapin?”

“Apa ucapan gue salah?”

“Kita harus jaga batasan itu, Ra. Demi kebaikan kita bersama,” ujar Aryo.

Why you care? Just don’t care about the feeling. We will eventually get divorced.”

“Lo nggak ngerti, Ra.”

“Akhirnya kita akan tetep bercerai. We just enjoy the time.”

“I want a baby,” cetus Tiara dan dua detik setelah mengucapkannya gadis itu menyatukan bibirnya dengan bibir Aryo. Dari hanya kedua belah bibir yang saling menempel, perasaan menggebu keduanya mendorong mereka untuk sampai ke penyatuan yang lebih dalam.

Aryo memperdalam ciumannya saat Tiara mengalungkan lengannya pada lehernya. Agar mempermudah segalanya, mereka mengambil posisi yang nyaman. Aryo mengunci tubuh kecil Tiara di bawahnya dan penyatuan itu kembali terjadi cukup lama. Aryo mengisyaratkan pada Tiara untuk membuka mulutnya lebih lebar agar Aryo bisa memasukinya dan mengabsen setiap celah milik Tiara yang ada di dalam.

Mereka mengambil napas dengan melepaskan pagutan itu sejenak. Tidak sampai lima detik setelahnya, mereka melanjutkan adegan panas tersebut. Kali ini mereka bergerak dengan tempo sedang yang tidak secepat dan seintens sebelumnya. Sebuah ciuman dengan senyum di kedua bibir masing-masing, ketika lumatan berganti dengan hanya kecupan dan sesapan lembut.

Are you sure?” tanya Aryo atas pernyataan Tiara yang sempat tertunda berkat ciuman panas yang mereka lakukan tadi.

“*Yes. We can have a baby like others,” ujar Tiara.

Tiara sedikit mendongak untuk menatap wajah Aryo begitu sebaliknya pria itu menatapnya sambil tersenyum.

“Artinya kita langgar perjanjiannya?”

***

Saat terbangun, kedua mata Aryo disuguhkan pemandangan wajah tertidur yang damai milik Tiara. Mata gadis itu masih terpejam tenang. Bibirnya terkatup dengan kedua ujungnya yang membentuk sebuah titik kecil. Aryo pikir Tiara sedang bermimpi indah, jadi gadis itu tersenyum dalam tidurnya.

Tidak sampai tiga puluh menit, Tiara terbangun dari tidur nyenyaknya dan mendapati Aryo yang menungguinya. Timbul sebuah perasaan bahagia yang sederhana untuk Tiara.

“Lo bakal telat kerja nanti. Lo harus bangun untuk siap-siap, Aryo,” ucap Tiara ketika sadar bahwa hari sudah beranjak siang, namun yang dilakukan Aryo hanya menatap wajah bangun tidurnya.

Ini bukan yang pertama mereka tidur bersama seperti ini, tapi ada yang berubah yakni perasaannya terhadap Aryo, cara mereka saling menatap, dan perlakuan satu sama lain.

“Siapa yang mau kerja di hari minggu?” tanya Aryo.

Oh my god, my bad. Gue lupa kalau ini hari Minggu. Jadi, hari ini lo nggak ke kantor?”

Aryo mengangguk.

“Oke, hari ini kita di rumah aja. Kita bisa ngelakuin banyak hal,” ucap Tiara kemudian menyibakkan selimut dan hendak turun dari kasur.

Do you have to do list?” tanya Aryo.

Of course. I have a lot to do as a wife. Do a laundry, cooking, cleaning up and more.”

So what can I do as husband?

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷