alyadara

“Eyang putri keliatan sayang banget ya sama Tiara. Padahal baru berapa bulan jadi istrinya Aryo,” ujar seorang wanita.

“Bener juga kata kamu, Mbak. Kalau mereka bisa ngasih keturunan dalam waktu dekat, potensi Aryo untuk jadi presdir bakal lebih kuat dari El,” timpal wanita yang satunya lagi.

Tiara tidak sengaja mendengar pembicaraan itu ketika ia sampai di dapur. Tiara mengulas senyumnya dan mengatakan dengan sopan pada dua wanita yang merupakan tantenya Aryo, mengenai tujuannya kemari untuk mengambil makanan.

“Tiara, kamu harus tau sesuatu,” celetuk Tante Risma.

“Selamat atas pernikahan kamu dan selamat datang di keluarga kita ya,” ucap wanita yang satunya lagi, Tante Sarah, sambil menyunggingkan senyuman di bibirnya. Tiara sebenarnya sudah selesai mengambil makanannya, namun saat akan mengucapkan pamit pada kedua wanita itu, mereka menahannya.

“Tiara, keluarga ini emang sangat baik dalam menutupi apapun, bahkan dari dulu. Waktu eyang kakung nikah lagi, publik nggak langsung tau soal itu. Eyang putri selalu ngelakuin sesuatu untuk nutupin semuanya dengan sangat apik dan tersusun, demi melindungi citra baik keluarga ini,” jelas Risma.

“Kenapa Eyang Putri ngelakuin itu?” tanya Tiara.

“Emangnya kamu nggak tau? Cinta aja nggak akan cukup, membuat kamu bertahan di keluarga ini. Eyang kakung jatuh cinta sama perempuan lain dan akhirnya mutusin nikah lagi. Padahal eyang putri udah ngasih segalanya baut beliau, tapi kamu liat kan? Cinta aja nggak cukup,” jelas Sarah.

Sejak ia menikah dengan Aryo, ia mengetahui fakta kalau eyang kakung memang mempunyai 2 orang istri. Jadi dapat dikatakan bahwa eyang putri telah di madu. Namun Tiara baru tau dari dari cerita tante Sarah bahwa eyang kakung lebih dulu punya anak, lalu menikahi perempuan itu.

Tidak berapa lama, Felicia datang menghampiri Tiara yang sedang bersama kedua istri adik iparnya itu.

“Tiara, suami kamu lagi nungguin kamu di ruang tamu,” ucap Feli sambil mengulaskan senyum lembutnya pada Tiara.

“Iya, Mah. Tiara ke sana sekarang ya. Permisi Tante.” Tiara berpamitan pada Felicia dan kedua tante itu. Sementara Felicia masih berada di sana dan berniat untuk sedikit mengobrol dengan dua iparnya tersebut.

“Kakak perhatian banget sama menantu Kakak ya,” sindir Sarah.

“Iya, dong. Perhatian sama menantu sendiri, apa nggak boleh?” Felicia mengambil sebuah gelas kaca tinggi di meja lalu mengisinya dengan minuman infuse lemon.

“Menantu yang akan ngasih keturunan untuk memenuhi keinginanan Kakak aja?” timpal Risma.

Sambil mendekati kedua iparnya, Felicia berkata, “Pasangan yang menikah dan saling mencintai, tujuannya untuk apa selain memiliki keturunan? Kalian berdua udah nikah, tapi nggak paham soal hal itu. Kakak permisi dulu ya,” tukas Felicia sebelum pergi dari sana.

***

Di perjalanan pulang dari acara keluarga, Tiara memikirkan kata-kata tante Sarah dan tante Risma. Soal menutupi segalanya sejak dulu? Apakah itu ada hubungannya juga dengan informasi yang Tiara butuhkan untuk rencana balas dendamnya?

“Kita udah sampe,” suara Aryo membuat Tiara menoleh dan mendapati mobil mereka berhenti di parkiran sebuah pusat perbelanjaan.

Aryo menarik rem tangan setelah memastikan dari spion bahwa mobilnya telah terparkir sempurna. Aryo menoleh pada Tiara dan mendapati ekspresi bingung di wajah gadis itu.

“Lo lagi mikirin apa?” tanya Aryo.

“Gue nggak mikirin apa-apa,” jawab Tiara sambil tersenyum kikuk. Jujur saja, dirinya terkejut dengan Aryo yang dapat menebak bahwa dirinya memang sedang memikirkan sesuatu.

“Lo denger sesuatu di rumah eyang tadi?” tembak Aryo.

Gotcha! Tiara memang tidak akan bisa menghindar dari Aryo. Tiara mendesahkan napasnya tanda menyerah bahwa ia telah kalah dari pria itu. Tiara mengarahkan cermin kecil yang menggantung di depannya, lalu ia memperhatikan pantulan wajahnya disana.

“Kenapa?” tanya Aryo sambil sedikit tertawa memperhatikan tingkah aneh Tiara itu.

“Ya habis lo kayak cenayang, bisa baca raut wajah orang,” seru Tiara.

“Nggak semua orang, Tiara.”

“Terus?”

“Mungkin karena kita udah nikah, jadi gue udah hapal tingkah laku lo.”

“Tapi pernikahan kita baru beberapa bulan. Don’t lie to me. Lo ngelakuin apa supaya bisa baca pikiran gue? I’m watching you.” Tiara mem-pouty kan bibirnya, lalu ia bergerak untuk melepas seat belt-nya.

Aryo mengikuti yang dilakukan Tiara dan menatap matanya. “Gue pernah denger, katanya orang yang udah nikah akan punya ikatan dengan sendirinya. Mungkin itu yang lagi terjadi sama kita.” Aryo mengedikkan bahunya, lalu pria itu turun lebih dulu dari mobil.

Tiara mengikuti gerakan Aryo dan segera menyusul langkah lelaki itu.

“Kita nggak punya ikatan itu, Aryo,” ucap Tiara setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Aryo. Tiara mendongak untuk menatap Aryo karena pria itu lebih tinggi darinya. Sampai tiba-tiba lengannya dihela dan tubuhnya pun otomatis condong ke arah Aryo.

“Perhatiin langkah lo, Tiara,” peringat Aryo yang masih menahan tubuhnya. Tiara mengerjapkan matanya sesaat kemudian melepaskan tubuhnya agar menjauh dari Aryo.

“Tadi ada orang yang hampir nabrak lo,” jelas Aryo saat mereka menaiki lift dan hanya ada mereka berdua di dalam.

“Maaf gue kurang hati-hati. Thankyou for take care of me. You said that we have a bonding, but I don’t think so.”

“Kenapa lo nggak berpikir seperti itu?”

Pintu lift terbuka dan mereka keluar dari sana. Supermarket tujuan mereka berada di lantai dua dan tidak jauh dari posisi mereka saat ini.

“Ikatan itu cuma berlaku untuk pasangan yang menikah dan saling mencintai,” papar Tiara.

Tiara mengambil troli di bagian depan pintu masuk supermarket. Aryo berjalan di samping gadis itu dan mereka memasuki pusat perbelanjaan.

“Karena kita juga belum pernah melakukannya. Semua itu udah jelas, Aryo,” lanjut Tiara sambil mengecilkan volume suaranya. Tiara mempercepat laju trolinya sehingga meninggalkan Aryo di belakangnya.

How you say like that eventhough we never try?” Aryo berhasil menyamai langkahnya dengan Tiara. Kini satu tangan pria itu ikut memegang troli sehingga Tiara tidak bisa bergerak lebih jauh untuk menghindarinya lagi.

We never try? Are you forgot? You kissed me in the fitness room. Oh remember, before we got married, we do something that night in your apartment,” papar Tiara.

Its all happen only because of me? Lo juga menginginkan itu, Tiara.” Aryo memberikan ekspresi sedikit tidak terima dengan perkataan Tiara bahwa kejadian itu hanya dirinya yang menjadi andil.

Yes. It's only because of you.” Mata Tiara tidak lagi menatap Aryo, tapi beralih pada jajaran produk dairy. Gadis itu mengambil sekotak susu cair dan memasukkannya ke dalam troli.

It’s different, Tiara. It's only cuddle and kissed, it’s not called hubungan suami istri.”

Perkataan Aryo tersebut telah sangat menampar Tiara dan membuktikan bahwa yang dilakukan pria itu selama ini padanya hanya sekedar main-main. Memangnya Tiara pantas berharap? Bodoh sekali jika ia pernah bawha beberapa hal dilakukan Aryo untuknya adalah asli, tanpa kepalsuan sama sekali.

Tiara melanjutkan kembali kegiatan belanjanya. Ia memilih brand sausage sapi karena ada lumayan banyak merek disini. Aryo beralih ke hadapannya, ia berdiri di depan troli untuk menahan Tiara melanjutkan acara berbelanjanya.

“Lo nggak mau ngakuin itu, sebelum kita sungguhan melakukannya?” tanya Aryo.

Tiara menoleh pada Aryo dan menatap pria itu tepat di matanya, “You're right. Tapi itu nggak akan pernah terjadi. Can we finish our conversation?” Setelah mengucapkan kalimat itu, Tiara segera teringat tentang pernikahan tanpa keturunan yang dikatakan kedua tantenya Aryo.

Jika dirinya dan Aryo tidak melakukan hubungan suami istri, maka tidak akan ada keturunan dalam pernikahan mereka. Itu artinya, kemungkinan pernikahannya tidak dapat bertahan.

Keluarga Aryo dapat menendangnya keluar dari keluarga Brodjohujodyo kapan saja, jika Tiara tidak ingin di madu. Bahkan kemungkinan yang terburuk, keluarga Aryo akan mengetahui pernikahan mereka yang sebenarnya hanya untuk sebuah status.

***

Sesampainya di rumah, Tiara membantu membawakan tas belanja yang ringan sementara Aryo membawa yang berukuran lebih besar dan berat.

Tiara menuju dapur untuk meletakkan belanjaannya di sana. Setelah menaruhnya, Tiara memutuskan menunggu Aryo karena pria itu masih harus mengambil satu kardus berisi belanjaan yang cukup besar.

“Aryo,” panggil Tiara ketika Aryo sampai di dapur dan pria itu meletakkan kardus belanjaannya di meja kitchen set.

“Kenapa?”

“Kira-kira lusa lo sibuk nggak?”

“Sebenernya gue libur, tapi ada meeting online paginya. Emangnya kenapa?” Aryo mengambil gelas, lalu menaruhnya di mesin otomatis yang menyatu dengan kulkas. Setelah mesin selesai bekerja, pria itu meneguk air dingin dari gelasnya.

“Gue mau minta izin untuk pulang ke rumah. Karena lo besok ada meeting, jadi gue izinnya sekarang aja. Selama satu minggu, gue mau nginep di rumah orang tua gue. Boleh kan?” tanya Tiara.

“Boleh. Gue bisa anter lo habis gue meeting.”

“Gue berangkat sendiri aja.”

“Gue anter lo, Tiara. Lo udah mengenal keluarga gue sebagai istri gue, gue juga akan mengenal keluarga lo sebagai suami lo, Tiara,” pungkas Aryo.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara tidak bisa mendapatkan akses masuk karena rupanya Aryo belum pulang ketika ia sampai. Lantas ia menelfon Erza agar pria itu bersedia menemaninya di lobi pintu masuk sampai Aryo pulang.

“Za lo baik banget sih,” ucap Tiara ketika Erza datang.

“Udah jadi tugas saya untuk melayani Nyonya.” Erza mengambil tempat di samping Tiara. Mereka duduk di salah satu kursi di area taman.

“Jangan panggil Nyonya dong, kan mulai kemarin ktia temenan,” ucap Tiara.

“Gue nggak ngerti deh, kenapa orang kaya ngabisin duit buat bangun tempat tinggal sebesar ini, buat apa coba kalau dipikir-pikir.” Tiara menyapukan pandangannya ke area tempat ini.

“Maksud Nyonya tempat ini?”

“Iya, tempat ini. Kenapa coba Aryo harus bangun tempat seluas dan semegah ini? Gue nggak tau apa yang dia pikirin. Padahal rumah sederhana aja yang penting layak ditinggalin, udah lebih dari cukup.” Tiara mengutarakan pemikirannya lagi.

“Mungkin bukan seperti itu yang dimaksud sama tuan, Nyonya.” Balas Erza menanggapi pendapat Tiara.

“Jadi?”

“Tuan membangun tempat ini udah lumayan lama. Setelah nikah, Tuan bawa Nyoya tinggal disini. Kat tuan biar Nyonya nyaman dan senang dengan semua fasilitas yang ada, dan tentunya merasa aman,” papar Erza.

Tiara melongo tidak percaya dengan penuturan Erza barusan. Apanya yang bahagia? Tiara justru merasa Aryo telah mengekangnya dengan semua fasilitas dan peraturan yang pria itu berikan padanya.

“Yang ada, gue takut ngerasa kesepian di sini. Kayak sekarang, kalau Aryo belum pulang, gue nggak bisa masuk ke rumah ini. Tapi lebih baik di luar sih, nggak terlalu menakutkan dan untung ada lo yang nemenin gue.” Tiara kembali menatap bangunan rumah yang terlihat megah di hadapannya. Sepertinya setiap orang yang ditawari tinggal di sini akan setuju dan merasa sangat bahagia. Namun tidak bagi Tiara saat ini. Rasa sepi yang menyergapnya beberapa menit lalu, kembali mengingatkannya pada memori kelam itu.

By the way, gue bosen nih. Lo mau nggak temenin gue jalan-jalan keliling tempat ini?” tanya Tiara.

“Sebentar lagi kayaknya Tuan sampai. Saya udah hubungim Tuan dan ngasih tau kalau Nyonya pulang lebih dulu dari beliau. Saya nggak enak kalau menghabiskan waktu terlalu banyak dengan Nyonya,” jelas Erza.

Setelah memikirkannya kalimat Erza itu, Tiara menjadi paham maksudnya. Oh oke, ini tidak baik. Tiara berpikir bahwa perilaku Aryo telah berlebihan terhadapnya.

“Enggak. Lo nggak boleh pergi. Biarin aja, Aryo lihat gue sama lo. Lagian siapa suruh buat gue nunggu dia di sini sendirian.” Tiara menahan lengan Erza saat pria itu hendak pamit padanya.

Kali ini Erza tidak bisa menolak keingian Tiara untuk menemaninya di sini sampai Aryo pulang. Hari sudah cukup malam dan sebenarnya Erza juga tidak tega meninggalkan Tiara sendirian. Tidak lama kemudian, Erza merasakan pundaknya sedikit berat dan ia mendapati Tiara tertidur dengan kepala gadis itu mendarat di bahunya.

“Nyonya,” panggil Erza untuk membangunkan Tiara, tapi tidak ada jawaban apapun dari gadis itu.

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil terparkir sempurna tidak jauh dari posisi Erza dan Tiara. Terlihat Aryo turun dari mobil dan mendapati Tiara dan Erza dengan istrinya yang tertidur di pundak Erza.

“Bangunin dia dan minta pake kakinya sendiri untuk masuk ke dalam,” ucap Aryo pada Erza sebelum melenggang dari sana.

“Baik, Tuan,” jawab Erza.

***

Meskipun sekujur tubuhnya terasa pegal dan matanya sungguh berat untuk diminta terbuka, Tiara tetap kekeuh mendemo Aryo atas semua tindakan yang telah dilakukan pria itu terhadapnya.

Aryo tersadar Tiara mengikutinya sampai ke depan kamar pria itu. Sebelum membuka knop pintuya, Aryo berbalik menghadap Tiara dengan tatapan dinginnya. Namun Tiara tidak menampakkan sama sekali raut terintimidasinya. Segala emosi berhasil mendobrak pintu rasa takutnya saat ia harus menghadapi Aryo yang seperti ini.

Can you tell me why, you did this to me? You drive me crazy, dengan semua yang lo lakukan untuk mengekang gue,” ucap Tiara dengan napasnya yang tidak beraturan.

“Lo ngelakuin ini untuk ngelindungin reputasi lo dan perusahaan. Lo nggak sadar, kalau itu udah nyakitin gue,” Tiara ingin meluapkan perasaannya agar Aryo tahu dan tidak bersikap berlebihan terhadapnya.

“Lo udah berlebihan, Aryo,” sambung Tiara dengan napasnya yang naik turun.

Setelah beberapa detik, Aryo memerhatikan raut wajah Tiara yang sudah lebih tenang dan mulai bisa meredakan emosi dalam dirinya itu.

“Udah lebih tenang?” tanya Aryo yang nada suara yang tenang. Tiara mendongak untuk menatap Aryo dan ia mengangguk pelan.

“Oke, dengerin penjelasan gue. Lo mungkin perlu waktu untuk menerima dan mengerti situasi baru ini. Gue minta maaf, kalau semua ini nyakitin lo, Tiara. Lo nggak salah pergi sama temen cowok lo. Tapi setidaknya lo bisa kasih tau gue kemana lo pergi. If something happened to you, at least gue nggak akan terlambat ada di samping lo.” Aryo menghembuskan napasnya untuk menjeda ucapannya. “Kita punya waktu satu tahun untuk jalanin ini. Saat lo nggak lagi menyandang status istri gue, lo bisa bebas dari semua yang nggak lo sukai,” tutur Aryo.

Tiara mencerna kalimat demi kalimat yang Aryo katakan. Aryo mengatakan bahwa ia tahu dengan siapa Tiara pergi dan ia akan mengizinkan itu. Namun sifat Tiara yang tidak memberitahunya membuat Aryo justru semakin khawatir terhadapnya. Ucapan Aryo perlahan mulai mencairkan es yang membeku di hatinya dan membuka pikirannya yang beberapa detik lalu terasa seperti tersumbat.

“Seiring berjalannya waktu, lo akan paham kenapa gue ngelakuin ini untuk lo,” tukas Aryo.

Tiara menatap Aryo dan merasa dirinya justru yang terlihat lebih egois saat ini, dengan tidak mau mendengarkan apa yang baik dan buruk padahal itu untuk dirinya sendiri. Tiba-tiba terlintas ide di pikiran Tiara untuk membuat hubungannya dengan Aryo menjadi lebih baik. Sehingga mendapakan informasi yang ia butuhkan akan lebih mudah.

“Lo dapet poinnya?” tanya Aryo.

Tiara mengangguk. “Oke, gue akan coba untuk ngerti itu. Tapi boleh gue minta sesuatu dari lo?”

“Lo mau minta apa? Gue akan coba untuk pertimbangin.”

“Gue belum minta tolong sama Erza atau Egha untuk jelasin soal apa aja yang harus gue lakuin sebagai istri lo. Gue nggak akan tanya ke mereka, karena gue mau lo yang ajarin gue. Gue pikir, cara itu lebih baik untuk kita berdua kedepannya.”

Keduanya lantas saling bertatapan. Aryo menatapnya dengan ekspresi yang Tiara tidak bisa artikan dan pria itu sedikit memangkas jarak di antara mereka.

“Lo yakin itu bisa berhasil?” Nada suara Aryo melembut. Tiara tidak pernah mendengar nada tersebut keluar dari bibir Aryo ketika berbicara dengannya.

“Gue yakin. Kita bisa jalanin satu tahun ini dengan saling berdamai dan bersikap lebih saling mengerti satu sama lain,” jelas Tiara.

“Oke. Kalau gitu, kita akan coba sesuatu yang lebih baik, mulai besok.”

“Jadi, gue bisa kasih tau lo kemana pun gue pergi?” ucap Tiara sembari menampilkan gummy smile-nya dan Aryo pun mengangguk untuk menyetujui ide tersebut. Aryo mendapati kedua mata Tiara yang berbinar ketika menatapnya. Pria itu balas mengulaskan sebuah senyum tipis di bibirnya.

Sedangkan Tiara yang memerhatikan senyum Aryo itu merasakan jantungnya kembali berdetak tidak normal.

***

Hari ini terhitung memasuki dua bulan Aryo dan Tiara sepakat menjalani pernikahan secara kooperatif. Keduanya akan saling membantu satu sama lain, agar pernikahan mereka berjalan lebih baik. Sejauh ini berjalan lancar antara dirinya dan Aryo. Tidak banyak perdebatan yang terjadi. Jika ada masalah, mereka akan bicarakan dengan kepala dingin dan mencoba saling memahami satu sama lain.

Pagi ini Tiara turun ke lantai satu dan ia mendapati Aryo sedang menerima telepon dari mamanya.

“Iya Mah, Aryo dan Tiara akan datang acara keluarga nanti siang.” Aryo mengakhiri percakapan dengan mamanya dan menatap kearah Tiara yang kini berada di hadapannya.

Aryo berjalan menuju mini bar yang terletak di samping dapur, lalu ia kembali melanjutkan kegiatan sarapan paginya. Tiara mengambil tempat di samping Aryo, ia duduk di sana dan memperhatikan kegiatan yang sedang Aryo lakukan.

Aryo menyodorkan satu suap pada Tiara yang dibalas dengan tatapan sedikit terkejut dari gadis itu. Tiara akhirnya menerima suapan itu, lalu mengunyah makanan yang terasa enak sekali hingga mengakibatkan sebuah senyum lebar terbit di wajahnya.

“Ya tuhan, ini enak banget. Gue bisa masak kayak gini, tapi harus diajarin dulu,” ujar Tiara.

“Lo bisa ambil kursus masak kalau lo mau,” saran Aryo.

“Kursus masaknya sama lo aja, gimana?” celetuk Tiara.

Aryo menghentikan kegiatan makannya dan meletakkan sendoknya, “Emang lo mau masak buat siapa?”

“Mau masak buat lo. Jadi sebelum lo berangkat kerja, gue bisa masakin sarapan dulu,” jawab Tiara diiringi senyum kecilnya. Kemudian ia menyendok sendiri makanan yang ada di mangkok Aryo untuknya.

Tiara sangat senang bangun di pagi hari dan mendapat sarapan seenak ini. Ditambah lagi, ia disuguhi pemandangan sosok bertubuh gagah yang sanggup membuat matanya tidak mengantuk lagi. Ia dapat dengan puas memandangi Aryo tanpa memerlukan banyak usaha.

Saat gadis di luar sana mengidolakan lelaki di hadapannya ini dan berharap berada di posisinya, Tiara telah mendapatkannya Kalau di lihat-lihat, memang suaminya itu lumayan tampan. Ah bukan lumayan, tapi hampir mendekati kata sempurna.

“Tiara, tugas lo yang utama itu bukan masak,” ucapan Aryo membuyarkan pembicaraan monolog Tiara di dalam kepalanya. Tiara berusaha berekspresi normal dan menghempaskan apapun yang ada di pikirannya barusan tentang memuja visual Aryo.

“Terus? Tugas gue kan jadi istri lo. Bukannya masak itu kewajiban istri? Lagian gue nggak keberatan untuk itu,” cerocos Tiara.

“Oke, kalau gitu. Lo bisa pilih sendiri kursus masak mana pun yang lo mau.”

Tiara melukiskan senyumnya, “Ooh … jadi lo mau gue kursus masak terus ketemu chef chef yang ganteng dan gagah gitu? Gue pikir, itu nggak akan baik untuk reputasi suami gue di perusahaan dan juga untuk status pernikahan kita di mata publik,” ucap Tiara.

Tiara memerhatikan Aryo yang tidak melanjutkan acara sarapannya itu.

“Lo nggak mau makanannya? Gue habisin ya? Sayang tau kalau dibuang, kan mubazir makanan seenak ini.” Tiara hendak mengambil alih makanannya dengan menggeser mangkuk ke arahnya, namun ucapan Aryo menahan aksinya itu.

“Kita akan bahas ini nanti, habis dari acara keluarga. Lo bisa habisin makanannya, terus siap-siap. Dua jam lagi kita berangkat.” Aryo mengatakannya dan pria itu melenggang meninggalkannya.

Tiara berharap, rencananya untuk membuat Aryo percaya terhadapnya akan berjalan lancar. Melihat bagaimana pagi ini mereka dapat dengan tenang membicarakan sesuatu dan mendapatkan win win solution bagi kedua pihak. Aryo tidak telak mengucapkan kata ‘tidak’ pada keinginan Tiara yang memerlukan persetujuan pria itu. Namun mereka memilih untuk berdiskusi agar bisa menemukan jalan keluarnya bersama.

***

Aryo dan Tiara berjalan bersama melewati taman dan sampai di depan sebuah pintu masuk ganda berukuran besar.

Di perjalanan tadi, Aryo memberitahu Tiara bahwa rumah yang akan mereka datangi adalah rumah eyangnya. Hampir semua bibi, paman, dan keponakannya hadir di acara spesial malam ini.

“Aryo, tunggu.” Tiara menahan lengan Aryo sebelum mereka melepas sepatu di depan teras rumah yang luas itu.

“Kenapa?”

“Lo bilang, acara keluarga diadain kalau ada momen spesial. Jadi momen spesialnya itu apa?” tanya Tiara.

Aryo menghadap ke samping, sehingga kini dirinya dan Tiara saling berhadapan, “Momen spesial itu pernikahan kita,” jawab Aryo.

“Kenapa lo nggak bilang ke gue sebelumnya? Keluarga lo bisa aja curiga sama pernikahan kita yang sebenarnya.” Nampak kekhawatiran di wajah Tiara.

“Mungkin mereka bisa curiga. Tapi apapun itu, kita terikat sebuah pernikahan, Tiara. Kecurigaan mereka akan sia-sia, saat kita masih sama-sama. Gue akan pegang tangan lo kayak gini,” jelas Aryo sambil menatap matanya dengan lembut. Perkataan pria itu sukses meruntuhkan tembok ketakutan yang sebelumnya ada di dalam diri Tiara.

Tatapan Tiara pun turun ke arah dimana tangan Aryo menggenggam tangannya. Lantas sebuah senyum terlukis di wajah Tiara tanpa bisa ia cegah. Tanpa Aryo ketahui, senyum Tiara malam ini adalah senyuman yang tulus dari lubuk hatinya.

***

Ketika memasuki rumah bergaya eropa yang dipadukan dengan sentuhan minimalis iu, semua mata yang ada disana mengarah pada Tiara dan Aryo. Mereka menyapa satu persatu keluarga Aryo yang hadir, termasuk kedua mertuanya. Kemudian Tiara dan Aryo memberi salam kepada kedua eyang yang mana adalah kakek dan neneknya Aryo.

“Usia kalian masih muda banget waktu nikah. Apa kalian ingin segera punya anak atau ditunda dulu?” ujar eyang putri pada Tiara.

Tiara berpikir bahwa ia harus memberi jawaban yang dapat mendukung aktingnya dengan Aryo, agar tidak ada curiga soal pernikahan yang mereka jalani sesungguhnya.

“Tiara sama Aryo nggak nunda sama sekali, Eyang. Kita mau secepatnya punya anak,” jawab Tiara sopan. Tidak sengaja tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang dikenalinya itu. Risa mengulaskan senyum kecilnya sebelum berlalu dari sana begitu saja.

“Eyang, ngobrol apa aja sama istri Aryo? Eyang lagi interograsi Tiara ya?” ucapan Aryo seketika membuat Tiara mengalihkan pandangannya pada Aryo. Pria itu kembali setelah mengambil dua minuman, satu untuknya dan satu untuk Tiara.

Aryo mengambil tempat duduk di samping kiri eyangnya. Sementara Tiara berada di sisi kanan eyang dan keduanya saling bertukar pandang.

No. Eyang nggak lagi mengintrograsi istri kamu. Terus kenapa kalian cuma tatap-tatapan kayak gini? Eyang berasa nyamuk diantara pengantin baru deh,” celetuk wanita paruh baya itu.

“Bukan gitu, Eyang. Nggak papa dong, Eyang di antara kita. Aryo kan mau deket-deket sama istri Aryo.” Mendengar ucapan Aryo itu membuat Tiara terkejut dan rupanya eyang menyadari hal tersebut.

“Tiara, jangan dengerin anak ini. Suami kamu ini, kadang-kadang sikapnya masih kayak anak kecil. Manja banget ya pasti dia sama kamu?” Eyang berbicara pada Tiara dan justru mengabaikan keberadaan Aryo.

“Tiara kan istrinya Aryo, Eyang. Yaa boleh dong Aryo manja-manja ke Tiara,” ucap Aryo dengan ekspresinya yang tidak sama sekali menunjukkan bahwa ia seorang pria dewasa berusia 24 tahun. Tiara menyaksikan ekspresi Aryo yang sebelumnya tidak pernah ia dapati pada pria itu.

Ekspresi tersebut terlihat lucu dimata Tiara dan jantungnya berdebar mendapati itu, tapi segera ditampik oleh kenyataan bahwa saat ini Aryo hanya sedang berakting. Tiara berpikir Aryo pantas mendapatkan piala Oscar dengan kategori aktor terbaik.

“Eyang, boleh ya, Tiara ngambilin makanan untuk Aryo dulu? Jangan Eyang ajak ngobrol terus dong istri Aryo,” ucap Aryo masih berusaha mendapat perhatian dua perempuan yang mengabaikannya itu. Masih dicuekin, Aryo pun memutuskan untuk menjauh dari mereka dan bergabung dengan para keponakannya.

“Liat kan, Tiara. Dari pada bahas soal perusahaan sama Om-omnya, dia lebih milih main sama keponakannya. Makanya, sebenarnya Eyang agak khawatir waktu dia mutusin untuk menikah cepat,” ucap Eyang sambil tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiara mengulaskan senyumnya pada Eyang, lalu matanya mengarah pada satu titik dimana Aryo bermain dengan para keponakannya yang masih kecil itu.

Aryo tidak menyadari diperhatikan, sampai Tiara sudah tidak lagi disana dan Aryo baru menoleh. Aryo pun meninggalkan keponakannya dan beralih mencari keberadaan Tiara.

“Eyang, Tiara dimana?” tanya Aryo.

“Istri kamu lagi ngambilin makanan untuk kamu,” jawab Eyang.

Aryo bernapas lega. Lagipula apa yang ada dipikirannya itu. Mana mungkin Tiara menghilang begitu saja atau diculik oleh seseorang. Entah kemana akal sehatnya beberapa detik yang lalu. Aryo kembali pada keponakannya dan akan menunggu Tiara membawakan makanan untuknya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara tidak mendapat akses masuk karena rupanya Aryo belum pulang ketika ia sampai. Lantas ia menelfon Erza agar pria itu bersedia menemaninya di lobi pintu masuk sampai Aryo pulang.

“Za lo baik banget sih,” ucap Tiara ketika Erza datang.

“Udah jadi tugas saya untuk melayani Nyonya.” Erza mengambil tempat di samping Tiara. Mereka duduk di salah satu kursi di area taman.

“Jangan panggil Nyonya dong, kan mulai kemarin ktia temenan,” ucap Tiara.

“Gue nggak ngerti deh, kenapa orang kaya ngabisin duit buat bangun tempat tinggal sebesar ini, buat apa coba kalau dipikir-pikir.” Tiara menyapukan pandangannya ke area tempat ini.

“Maksud Nyonya tempat ini?”

“Iya, tempat ini. Kenapa coba Aryo harus bangun tempat seluas dan semegah ini? Gue nggak tau apa yang dia pikirin. Padahal rumah sederhana aja yang penting layak ditinggalin, udah lebih dari cukup.” Tiara mengutarakan pemikirannya lagi.

“Mungkin bukan seperti itu yang dimaksud sama tuan, Nyonya.” Balas Erza menanggapi pendapat Tiara.

“Jadi?”

“Tuan membangun tempat ini udah lumayan lama. Setelah nikah, Tuan bawa Nyoya tinggal disini. Kat tuan biar Nyonya nyaman dan senang dengan semua fasilitas yang ada, dan tentunya merasa aman,” papar Erza.

Tiara melongo tidak percaya dengan penuturan Erza barusan. Apanya yang bahagia? Tiara justru merasa Aryo telah mengekangnya dengan semua fasilitas dan peraturan yang pria itu berikan padanya.

“Yang ada, gue takut ngerasa kesepian di sini. Kayak sekarang, kalau Aryo belum pulang, gue nggak bisa masuk ke rumah ini. Tapi lebih baik di luar sih, nggak terlalu menakutkan dan untung ada lo yang nemenin gue.” Tiara kembali menatap bangunan rumah yang terlihat megah di hadapannya. Sepertinya setiap orang yang ditawari tinggal di sini akan setuju dan merasa sangat bahagia. Namun tidak bagi Tiara saat ini. Rasa sepi yang menyergapnya beberapa menit lalu, kembali mengingatkannya pada memori kelam itu.

By the way, gue bosen nih. Lo mau nggak temenin gue jalan-jalan keliling tempat ini?” tanya Tiara.

“Sebentar lagi kayaknya Tuan sampai. Saya udah hubungim Tuan dan ngasih tau kalau Nyonya pulang lebih dulu dari beliau. Saya nggak enak kalau menghabiskan waktu terlalu banyak dengan Nyonya,” jelas Erza.

Setelah memikirkannya kalimat Erza itu, Tiara menjadi paham maksudnya. Oh oke, ini tidak baik. Tiara berpikir bahwa perilaku Aryo telah berlebihan terhadapnya.

“Enggak. Lo nggak boleh pergi. Biarin aja, Aryo lihat gue sama lo. Lagian siapa suruh buat gue nunggu dia di sini sendirian.” Tiara menahan lengan Erza saat pria itu hendak pamit padanya.

Kali ini Erza tidak bisa menolak keingian Tiara untuk menemaninya di sini sampai Aryo pulang. Hari sudah cukup malam dan sebenarnya Erza juga tidak tega meninggalkan Tiara sendirian. Tidak lama kemudian, Erza merasakan pundaknya sedikit berat dan ia mendapati Tiara tertidur dengan kepala gadis itu mendarat di bahunya.

“Nyonya,” panggil Erza untuk membangunkan Tiara, tapi tidak ada jawaban apapun dari gadis itu.

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil terparkir sempurna tidak jauh dari posisi Erza dan Tiara. Terlihat Aryo turun dari mobil dan mendapati Tiara dan Erza dengan istrinya yang tertidur di pundak Erza.

“Bangunin dia dan minta pake kakinya sendiri untuk masuk ke dalam,” ucap Aryo pada Erza sebelum melenggang dari sana.

“Baik, Tuan,” jawab Erza.

***

Meskipun sekujur tubuhnya terasa pegal dan matanya sungguh berat untuk diminta terbuka, Tiara tetap kekeuh mendemo Aryo atas semua tindakan yang telah dilakukan pria itu terhadapnya.

Aryo tersadar Tiara mengikutinya sampai ke depan kamar pria itu. Sebelum membuka knop pintuya, Aryo berbalik menghadap Tiara dengan tatapan dinginnya. Namun Tiara tidak menampakkan sama sekali raut terintimidasinya. Segala emosi berhasil mendobrak pintu rasa takutnya saat ia harus menghadapi Aryo yang seperti ini.

Can you tell me why, you did this to me? You drive me crazy, dengan semua yang lo lakukan untuk mengekang gue,” ucap Tiara dengan napasnya yang tidak beraturan.

“Lo ngelakuin ini untuk ngelindungin reputasi lo dan perusahaan. Lo nggak sadar, kalau itu udah nyakitin gue,” Tiara ingin meluapkan perasaannya agar Aryo tahu dan tidak bersikap berlebihan terhadapnya.

“Lo udah berlebihan, Aryo,” sambung Tiara dengan napasnya yang naik turun.

Setelah beberapa detik, Aryo memerhatikan raut wajah Tiara yang sudah lebih tenang dan mulai bisa meredakan emosi dalam dirinya itu.

“Udah lebih tenang?” tanya Aryo yang nada suara yang tenang. Tiara mendongak untuk menatap Aryo dan ia mengangguk pelan.

“Oke, dengerin penjelasan gue. Lo mungkin perlu waktu untuk menerima dan mengerti situasi baru ini. Gue minta maaf, kalau semua ini nyakitin lo, Tiara. Lo nggak salah pergi sama temen cowok lo. Tapi setidaknya lo bisa kasih tau gue kemana lo pergi. If something happened to you, at least gue nggak akan terlambat ada di samping lo.” Aryo menghembuskan napasnya untuk menjeda ucapannya. “Kita punya waktu satu tahun untuk jalanin ini. Saat lo nggak lagi menyandang status istri gue, lo bisa bebas dari semua yang nggak lo sukai,” tutur Aryo.

Tiara mencerna kalimat demi kalimat yang Aryo katakan. Aryo mengatakan bahwa ia tahu dengan siapa Tiara pergi dan ia akan mengizinkan itu. Namun sifat Tiara yang tidak memberitahunya membuat Aryo justru semakin khawatir terhadapnya. Ucapan Aryo perlahan mulai mencairkan es yang membeku di hatinya dan membuka pikirannya yang beberapa detik lalu terasa seperti tersumbat.

“Seiring berjalannya waktu, lo akan paham kenapa gue ngelakuin ini untuk lo,” tukas Aryo.

Tiara menatap Aryo dan merasa dirinya justru yang terlihat lebih egois saat ini, dengan tidak mau mendengarkan apa yang baik dan buruk padahal itu untuk dirinya sendiri. Tiba-tiba terlintas ide di pikiran Tiara untuk membuat hubungannya dengan Aryo menjadi lebih baik. Sehingga mendapakan informasi yang ia butuhkan akan lebih mudah.

“Lo dapet poinnya?” tanya Aryo.

Tiara mengangguk. “Oke, gue akan coba untuk ngerti itu. Tapi boleh gue minta sesuatu dari lo?”

“Lo mau minta apa? Gue akan coba untuk pertimbangin.”

“Gue belum minta tolong sama Erza atau Egha untuk jelasin soal apa aja yang harus gue lakuin sebagai istri lo. Gue nggak akan tanya ke mereka, karena gue mau lo yang ajarin gue. Gue pikir, cara itu lebih baik untuk kita berdua kedepannya.”

Keduanya lantas saling bertatapan. Aryo menatapnya dengan ekspresi yang Tiara tidak bisa artikan dan pria itu sedikit memangkas jarak di antara mereka.

“Lo yakin itu bisa berhasil?” Nada suara Aryo melembut. Tiara tidak pernah mendengar nada tersebut keluar dari bibir Aryo ketika berbicara dengannya.

“Gue yakin. Kita bisa jalanin satu tahun ini dengan saling berdamai dan bersikap lebih saling mengerti satu sama lain,” jelas Tiara.

“Oke. Kalau gitu, kita akan coba sesuatu yang lebih baik, mulai besok.”

“Jadi, gue bisa kasih tau lo kemana pun gue pergi?” ucap Tiara sembari menampilkan gummy smile-nya dan Aryo pun mengangguk untuk menyetujui ide tersebut. Aryo mendapati kedua mata Tiara yang berbinar ketika menatapnya. Pria itu balas mengulaskan sebuah senyum tipis di bibirnya.

Sedangkan Tiara yang memerhatikan senyum Aryo itu merasakan jantungnya kembali berdetak tidak normal.

***

Hari ini terhitung memasuki dua bulan Aryo dan Tiara sepakat menjalani pernikahan secara kooperatif. Keduanya akan saling membantu satu sama lain, agar pernikahan mereka berjalan lebih baik. Sejauh ini berjalan lancar antara dirinya dan Aryo. Tidak banyak perdebatan yang terjadi. Jika ada masalah, mereka akan bicarakan dengan kepala dingin dan mencoba saling memahami satu sama lain.

Pagi ini Tiara turun ke lantai satu dan ia mendapati Aryo sedang menerima telepon dari mamanya.

“Iya Mah, Aryo dan Tiara akan datang acara keluarga nanti siang.” Aryo mengakhiri percakapan dengan mamanya dan menatap kearah Tiara yang kini berada di hadapannya.

Aryo berjalan menuju mini bar yang terletak di samping dapur, lalu ia kembali melanjutkan kegiatan sarapan paginya. Tiara mengambil tempat di samping Aryo, ia duduk di sana dan memperhatikan kegiatan yang sedang Aryo lakukan.

Aryo menyodorkan satu suap pada Tiara yang dibalas dengan tatapan sedikit terkejut dari gadis itu. Tiara akhirnya menerima suapan itu, lalu mengunyah makanan yang terasa enak sekali hingga mengakibatkan sebuah senyum lebar terbit di wajahnya.

“Ya tuhan, ini enak banget. Gue bisa masak kayak gini, tapi harus diajarin dulu,” ujar Tiara.

“Lo bisa ambil kursus masak kalau lo mau,” saran Aryo.

“Kursus masaknya sama lo aja, gimana?” celetuk Tiara.

Aryo menghentikan kegiatan makannya dan meletakkan sendoknya, “Emang lo mau masak buat siapa?”

“Mau masak buat lo. Jadi sebelum lo berangkat kerja, gue bisa masakin sarapan dulu,” jawab Tiara diiringi senyum kecilnya. Kemudian ia menyendok sendiri makanan yang ada di mangkok Aryo untuknya.

Tiara sangat senang bangun di pagi hari dan mendapat sarapan seenak ini. Ditambah lagi, ia disuguhi pemandangan sosok bertubuh gagah yang sanggup membuat matanya tidak mengantuk lagi. Ia dapat dengan puas memandangi Aryo tanpa memerlukan banyak usaha.

Saat gadis di luar sana mengidolakan lelaki di hadapannya ini dan berharap berada di posisinya, Tiara telah mendapatkannya Kalau di lihat-lihat, memang suaminya itu lumayan tampan. Ah bukan lumayan, tapi hampir mendekati kata sempurna.

“Tiara, tugas lo yang utama itu bukan masak,” ucapan Aryo membuyarkan pembicaraan monolog Tiara di dalam kepalanya. Tiara berusaha berekspresi normal dan menghempaskan apapun yang ada di pikirannya barusan tentang memuja visual Aryo.

“Terus? Tugas gue kan jadi istri lo. Bukannya masak itu kewajiban istri? Lagian gue nggak keberatan untuk itu,” cerocos Tiara.

“Oke, kalau gitu. Lo bisa pilih sendiri kursus masak mana pun yang lo mau.”

Tiara melukiskan senyumnya, “Ooh … jadi lo mau gue kursus masak terus ketemu chef chef yang ganteng dan gagah gitu? Gue pikir, itu nggak akan baik untuk reputasi suami gue di perusahaan dan juga untuk status pernikahan kita di mata publik,” ucap Tiara.

Tiara memerhatikan Aryo yang tidak melanjutkan acara sarapannya itu.

“Lo nggak mau makanannya? Gue habisin ya? Sayang tau kalau dibuang, kan mubazir makanan seenak ini.” Tiara hendak mengambil alih makanannya dengan menggeser mangkuk ke arahnya, namun ucapan Aryo menahan aksinya itu.

“Kita akan bahas ini nanti, habis dari acara keluarga. Lo bisa habisin makanannya, terus siap-siap. Dua jam lagi kita berangkat.” Aryo mengatakannya dan pria itu melenggang meninggalkannya.

Tiara berharap, rencananya untuk membuat Aryo percaya terhadapnya akan berjalan lancar. Melihat bagaimana pagi ini mereka dapat dengan tenang membicarakan sesuatu dan mendapatkan win win solution bagi kedua pihak. Aryo tidak telak mengucapkan kata ‘tidak’ pada keinginan Tiara yang memerlukan persetujuan pria itu. Namun mereka memilih untuk berdiskusi agar bisa menemukan jalan keluarnya bersama.

***

Aryo dan Tiara berjalan bersama melewati taman dan sampai di depan sebuah pintu masuk ganda berukuran besar.

Di perjalanan tadi, Aryo memberitahu Tiara bahwa rumah yang akan mereka datangi adalah rumah eyangnya. Hampir semua bibi, paman, dan keponakannya hadir di acara spesial malam ini.

“Aryo, tunggu.” Tiara menahan lengan Aryo sebelum mereka melepas sepatu di depan teras rumah yang luas itu.

“Kenapa?”

“Lo bilang, acara keluarga diadain kalau ada momen spesial. Jadi momen spesialnya itu apa?” tanya Tiara.

Aryo menghadap ke samping, sehingga kini dirinya dan Tiara saling berhadapan, “Momen spesial itu pernikahan kita,” jawab Aryo.

“Kenapa lo nggak bilang ke gue sebelumnya? Keluarga lo bisa aja curiga sama pernikahan kita yang sebenarnya.” Nampak kekhawatiran di wajah Tiara.

“Mungkin mereka bisa curiga. Tapi apapun itu, kita terikat sebuah pernikahan, Tiara. Kecurigaan mereka akan sia-sia, saat kita masih sama-sama. Gue akan pegang tangan lo kayak gini,” jelas Aryo sambil menatap matanya dengan lembut. Perkataan pria itu sukses meruntuhkan tembok ketakutan yang sebelumnya ada di dalam diri Tiara.

Tatapan Tiara pun turun ke arah dimana tangan Aryo menggenggam tangannya. Lantas sebuah senyum terlukis di wajah Tiara tanpa bisa ia cegah. Tanpa Aryo ketahui, senyum Tiara malam ini adalah senyuman yang tulus dari lubuk hatinya.

***

Ketika memasuki rumah bergaya eropa yang dipadukan dengan sentuhan minimalis iu, semua mata yang ada disana mengarah pada Tiara dan Aryo. Mereka menyapa satu persatu keluarga Aryo yang hadir, termasuk kedua mertuanya. Kemudian Tiara dan Aryo memberi salam kepada kedua eyang yang mana adalah kakek dan neneknya Aryo.

“Usia kalian masih muda banget waktu nikah. Apa kalian ingin segera punya anak atau ditunda dulu?” ujar eyang putri pada Tiara.

Tiara berpikir bahwa ia harus memberi jawaban yang dapat mendukung aktingnya dengan Aryo, agar tidak ada curiga soal pernikahan yang mereka jalani sesungguhnya.

“Tiara sama Aryo nggak nunda sama sekali, Eyang. Kita mau secepatnya punya anak,” jawab Tiara sopan. Tidak sengaja tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang dikenalinya itu. Risa mengulaskan senyum kecilnya sebelum berlalu dari sana begitu saja.

“Eyang, ngobrol apa aja sama istri Aryo? Eyang lagi interograsi Tiara ya?” ucapan Aryo seketika membuat Tiara mengalihkan pandangannya pada Aryo. Pria itu kembali setelah mengambil dua minuman, satu untuknya dan satu untuk Tiara.

Aryo mengambil tempat duduk di samping kiri eyangnya. Sementara Tiara berada di sisi kanan eyang dan keduanya saling bertukar pandang.

No. Eyang nggak lagi mengintrograsi istri kamu. Terus kenapa kalian cuma tatap-tatapan kayak gini? Eyang berasa nyamuk diantara pengantin baru deh,” celetuk wanita paruh baya itu.

“Bukan gitu, Eyang. Nggak papa dong, Eyang di antara kita. Aryo kan mau deket-deket sama istri Aryo.” Mendengar ucapan Aryo itu membuat Tiara terkejut dan rupanya eyang menyadari hal tersebut.

“Tiara, jangan dengerin anak ini. Suami kamu ini, kadang-kadang sikapnya masih kayak anak kecil. Manja banget ya pasti dia sama kamu?” Eyang berbicara pada Tiara dan justru mengabaikan keberadaan Aryo.

“Tiara kan istrinya Aryo, Eyang. Yaa boleh dong Aryo manja-manja ke Tiara,” ucap Aryo dengan ekspresinya yang tidak sama sekali menunjukkan bahwa ia seorang pria dewasa berusia 24 tahun. Tiara menyaksikan ekspresi Aryo yang sebelumnya tidak pernah ia dapati pada pria itu.

Ekspresi tersebut terlihat lucu dimata Tiara dan jantungnya berdebar mendapati itu, tapi segera ditampik oleh kenyataan bahwa saat ini Aryo hanya sedang berakting. Tiara berpikir Aryo pantas mendapatkan piala Oscar dengan kategori aktor terbaik.

“Eyang, boleh ya, Tiara ngambilin makanan untuk Aryo dulu? Jangan Eyang ajak ngobrol terus dong istri Aryo,” ucap Aryo masih berusaha mendapat perhatian dua perempuan yang mengabaikannya itu. Masih dicuekin, Aryo pun memutuskan untuk menjauh dari mereka dan bergabung dengan para keponakannya.

“Liat kan, Tiara. Dari pada bahas soal perusahaan sama Om-omnya, dia lebih milih main sama keponakannya. Makanya, sebenarnya Eyang agak khawatir waktu dia mutusin untuk menikah cepat,” ucap Eyang sambil tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiara mengulaskan senyumnya pada Eyang, lalu matanya mengarah pada satu titik dimana Aryo bermain dengan para keponakannya yang masih kecil itu.

Aryo tidak menyadari diperhatikan, sampai Tiara sudah tidak lagi disana dan Aryo baru menoleh. Aryo pun meninggalkan keponakannya dan beralih mencari keberadaan Tiara.

“Eyang, Tiara dimana?” tanya Aryo.

“Istri kamu lagi ngambilin makanan untuk kamu,” jawab Eyang.

Aryo bernapas lega. Lagipula apa yang ada dipikirannya itu. Mana mungkin Tiara menghilang begitu saja atau diculik oleh seseorang. Entah kemana akal sehatnya beberapa detik yang lalu. Aryo kembali pada keponakannya dan akan menunggu Tiara membawakan makanan untuknya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Eyang putri keliatan sayang banget ya sama Tiara. Padahal baru berapa bulan jadi istrinya Aryo,” ujar seorang wanita.

“Bener juga kata kamu, Mbak. Kalau mereka bisa ngasih keturunan dalam waktu dekat, potensi Aryo untuk jadi presdir bakal lebih kuat dari El,” timpal wanita yang satunya lagi.

Tiara tidak sengaja mendengar pembicaraan itu ketika ia sampai di dapur. Tiara mengulas senyumnya dan mengatakan dengan sopan pada dua wanita yang merupakan tantenya Aryo, mengenai tujuannya kemari untuk mengambil makanan.

“Jujur aja, Tiara. Kamu harus tau sesuatu,” celetuk Tante Risma.

“Oh iya, Tante mau ngucapin selamat atas pernikahan kamu dan selamat datang di keluarga kita ya,” ucap wanita yang satunya lagi, Tante Sarah, sambil menyunggingkan senyuman di bibir ranumnya. Tiara sebenarnya sudah selesai mengambil makanannya, namun saat akan mengucapkan pamit pada kedua wanita itu, mereka menahannya.

“Tiara, keluarga ini emang sangat baik dalam menutupi apapun, bahkan dari dulu. Waktu eyang kakung nikah lagi, publik nggak langsung tau soal itu. Eyang putri sering ngelakuin sesuatu untuk nutupin semuanya dengan sangat apik dan tersusun, demi melindungi citra baik keluarga ini,” jelas Risma.

“Kenapa Eyang Putri ngelakuin itu?” tanya Tiara.

“Emangnya kamu nggak tahu? Cinta aja nggak akan cukup, membuat kamu bertahan di keluarga ini. Kami emang mencintai suami kami, tapi tanpa keturunan dalam pernikahan, akan besar kemungkinan suami kami ngikutin jejaknya eyang kakung,” jelas Sarah.

Tiara mengerti maksud pembicaraan kedua wanita itu. Sejak ia menikah dengan Aryo, ia mengetahui fakta kalau eyang kakung mempunyai 2 orang istri. Jadi dapat dikatakan eyang putri telah di madu.

Tidak berapa lama, Felicia menghampiri Tiara yang sedang bersama kedua adik iparnya itu.

“Tiara, suami kamu lagi nungguin kamu,” ucap Feli sambil melempar senyuman lembut Tiara.

“Iya, Mah. Tiara ke sana sekarang ya. Permisi Tante.” Tiara berpamitan pada Felicia dan kedua tante itu. Sementara Felicia masih berada di sana dan berniat untuk sedikit mengobrol dengan dua iparnya tersebut.

“Kakak perhatian banget sama menantu Kakak ya,” sindir Sarah.

“Iya, dong. Perhatian sama menantu sendiri, apa nggak boleh?” Feli mengambil sebuah gelas kaca tinggi di meja lalu mengisinya dengan minuman infuse lemon.

“Menantu yang akan ngasih keturunan untuk memenuhi keinginanan Kakak aja?” timpal Risma.

Sambil mendekati kedua iparnya, Felicia berkata, “Pasangan yang menikah dan saling mencintai, tujuannya untuk apa selain memiliki keturunan? Kalian berdua udah nikah, tapi nggak paham soal hal itu. Kakak permisi dulu ya,” tukas Felicia sebelum pergi dari sana.

***

Di perjalanan pulang dari acara keluarga, Tiara memikirkan kata-kata tante Sarah dan tante Risma. Soal menutupi segalanya sejak dulu? Apakah itu ada hubungannya juga dengan informasi yang Tiara butuhkan untuk rencana balas dendamnya?

“Kita udah sampe,” suara Aryo membuat Tiara menoleh dan mendapati mobil mereka berhenti di parkiran sebuah pusat perbelanjaan.

Aryo menarik rem tangan setelah memastikan dari spion bahwa mobilnya telah terparkir sempurna. Pria itu menoleh pada Tiara mendapati wajah bingungnya.

“Lo lagi mikirin apa?” tanya Aryo.

“Gue nggak mikirin apa-apa,” jawab Tiara sambil tersenyum kikuk. Jujur saja, dirinya terkejut dengan Aryo yang dapat menebak bahwa dirinya memang sedang memikirkan sesuatu.

“Apa lo denger sesuatu di rumah eyang tadi?” tembak Aryo.

Gotcha! Tiara memang tidak akan bisa menghindar dari Aryo. Tiara mendesahkan napasnya tanda menyerah bahwa ia telah kalah dari pria itu. Tiara mengarahkan cermin kecil yang menggantung di depannya lalu memperhatikan pantulan wajahnya disana.

“Kenapa?” tanya Aryo sambil sedikit tertawa memperhatikan tingkah aneh Tiara itu.

“Ya habis lo kayak cenayang, bisa baca raut wajah orang,” seru Tiara.

“Nggak semua orang, Tiara.”

“Terus?”

“Mungkin karena kita udah nikah, jadi gue udah hapal tingkah laku lo.”

“Tapi pernikahan kita baru beberapa bulan. Don’t lie to me. Lo ngelakuin apa supaya bisa baca pikiran gue? I’m watching you.” Tiara mem-pouty kan bibirnya, lalu ia bergerak untuk melepas seat belt-nya.

Aryo mengikuti yang dilakukan Tiara dan menatap matanya. “Gue pernah denger, katanya orang yang udah nikah akan punya ikatan dengan sendirinya. Mungkin itu yang lagi terjadi sama kita.” Aryo mengedikkan bahunya, lalu turun lebih dulu dari mobil.

Tiara mengikuti gerakan Aryo dan segera menyusul langkah lelaki itu.

“Kita nggak punya ikatan itu, Aryo,” ucap Tiara setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Aryo. Tiara mendongak untuk menatap Aryo karena pria itu lebih tinggi darinya. Sampai tiba-tiba lengannya dihela dan tubuhnya pun otomatis condong ke arah Aryo.

“Perhatiin langkah lo, Tiara,” peringat Aryo yang masih menahan tubuhnya. Tiara mengerjapkan matanya sesaat kemudian melepaskan tubuhnya agar menjauh dari Aryo.

“Tadi ada orang yang hampir nabrak lo,” jelas Aryo saat mereka menaiki lift dan hanya ada mereka berdua di dalam.

“Maaf gue kurang hati-hati. Thankyou for take care of me. You just say that we have a bonding, but I don’t think so.”

“Kenapa lo nggak berpikir seperti itu?”

Pintu lift terbuka dan mereka keluar dari sana. Supermarket tujuan mereka berada di lantai dua dan tidak jauh dari posisi mereka saat ini.

“Ikatan itu cuma berlaku untuk pasangan yang menikah dan saling mencintai,” papar Tiara.

Tiara mengambil troli di bagian depan pintu masuk supermarket. Aryo berjalan di samping gadis itu dan mereka memasuki pusat perbelanjaan.

“Karena kita juga belum pernah melakukannya. Semua itu udah jelas, Aryo,” lanjut Tiara sambil mengecilkan volume suaranya. Tiara mempercepat laju trolinya sehingga meninggalkan Aryo di belakangnya.

How you say like that eventhough we never try?” Aryo berhasil menyamai langkahnya dengan Tiara, kini satu tangan pria itu ikut memegang troli sehingga Tiara tidak bisa bergerak lebih jauh untuk menghindarinya lagi.

We never try? Are you forgeted? You kissed me in fitness room. Oh remember, before we got married, we do something that night in your apartment,” papar Tiara.

Its all happen only because of me? Lo juga menginginkannya, Ra.” Aryo memberikan ekspresi sedikit tidak terima dengan perkataan Tiara bahwa kejadian itu hanya dirinya yang menjadi andil.

Yes. It's all because of you.” Mata Tiara tidak lagi menatap Aryo, namun beralih pada jajaran produk dairy. Gadis itu mengambil sekotak susu cair dan memasukkannya ke dalam troli.

It’s different, Tiara. It's only cuddle and kissed, it’s not called hubungan suami istri.” Perkataan Aryo telah sangat menampar Tiara dan membuktikan bahwa yang dilakukan pria itu selama ini padanya hanya sekedar main-main.

Tiara memilih brand sausage sapi karena ada lumayan banyak merek disini. Aryo beralih ke hadapannya, ia berdiri di depan troli untuk menahan Tiara melanjutkan acara berbelanjanya.

“Lo nggak mau ngakutin kalau kita punya ikatan batin, sebelum kita sungguhan melakukannya?” tanya Aryo.

You're right. Tapi itu nggak akan pernah terjadi. Can we finish our conversation?” Setelah mengucapkan kalimat itu, Tiara menjadi ingat tentang pernikahan tanpa keturunan yang dikatakan kedua tantenya Aryo.

Jika dirinya dan Aryo tidak melakukan hubungan suami istri, maka tidak akan ada keturunan dalam pernikahan mereka. Itu artinya, kemungkinan pernikahannya tidak dapat bertahan.

Keluarga Aryo dapat menendangnya keluar dari keluarga Brodjohujodyo kapan saja, jika Tiara tidak ingin di madu. Bahkan kemungkinan yang terburuk, keluarga Aryo akan mengetahui pernikahan mereka yang sebenarnya hanya untuk sebuah status.

***

Sesampainya di rumah, Tiara membantu membawakan tas belanja yang ringan sementara Aryo membawa yang berukuran lebih besar dan berat.

Tiara menuju dapur untuk meletakkan belanjaannya di sana. Setelah menaruhnya, Tiara memutuskan menunggu Aryo karena pria itu masih harus mengambil satu kardus berisi belanjaan yang cukup besar.

“Aryo,” panggil Tiara ketika Aryo sampai di dapur dan meletakkan kardusnya di meja kitchen set.

“Kenapa?”

“Kira-kira lusa lo sibuk nggak?”

“Sebenernya gue libur, tapi ada meeting online paginya. Emangnya kenapa?” Aryo mengambil gelas lalu menaruhnya di mesin otomatis yang menyatu dengan kulkas. Setelah mesin selesai bekerja, pria itu meneguk air dingin dari gelasnya.

“Gue mau minta izin untuk pulang ke rumah. Karena lo besok ada meeting, jadi gue izinnya sekarang aja. Untuk satu minggu, gue mau nginep di rumah orang tua gue. Boleh kan?” tanya Tiara.

“Boleh. Gue bisa anter lo ke sana habis gue meeting.”

“Gue berangkat sendiri aja.”

“Karena lo udah mengenal keluarga gue sebagai istri gue, gue juga akan mengenal keluarga lo sebagai suami lo, Tiara,” pungkas Aryo.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Ketika Tiara sampai di lantai satu, ia mendapati Aryo menunggunya di sana dan pria itu masih dengan stelan kantornya.

“Jam berapa ini Tiara?” tanya Aryo.

“Hampir jam sepuluh.”

“Ayo kita bicarain yang tadi sempat tertunda,” ujar Aryo.

“Gue pikir udah nggak ada yang perlu dibicarain.” Tiara menatap Aryo dengan tatapan datarnya.

“Kenapa? Tadi lo bersikeras diskusiin itu sama gue.”

Tiara termenung tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Lo tau, apa yang gue lakuin adalah untuk ngelindungin lo. Di saat gue ngelakuin itu, justru lo yang membahayakan diri sendiri.” Aryo menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Aryo mendapatkan dari salah satu omnya yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan. Om nya itu sangat mendukungnya, sehingga berbaik hati menyerahkan foto itu padanya untuk disimpan saja.

Good job for you. Gue nggak nyangka bisa nikah sama diktator yang keren kayak lo.” Tiara bertepuk tangan sambil menyunggingkan senyum smirk-nya. Kemudian Tiara hendak mengambil langkah pergi melewati Aryo, namun pria itu menahan pergelangan tangannya.

“Gue mau ke kamar, jadi tolong lepasin gue,” desis Tiara.

“Gue lepasin, setelah lo jelasin foto itu,” ujar Aryo.

“Lo nganggap gue istri lo, di saat lo cuma butuh kuasa atas gue? Hello sir, you can’t do anything you want to do. Gue sama Akmal pergi berdua buat ngerjain tugas fotografi,” jelas Tiara yang lantas membuat pegangan tangan Aryo terlepas pada tangannya.

Tiara tidak ingin perasaannya terhadap Aryo semakin dalam karena ia tahu pada akhirnya mereka tidak akan pernah bisa bersama. Dari awal pertemuannya dengan Aryo, Tiara sadar ia memiliki perasaan terhadap lelaki ini, tapi lebih baik membangun tembok antara dirinya dan Aryo demi kebaikan keduanya.

“Terus dengan mudahnya, lo berpikir ngasih keluarga keturunan? Lo pikir semudah itu untuk punya anak?” tanya Aryo.

Tiara berbalik kemudian menatap Aryo, “Bukannya gampang aja buat lo? Gue cuma aset lo untuk dapetin posisi itu. Asal nantinya lo nggak punya perasaan untuk gue, kita bisa punya anak. Setelah itu cerai. Gimana?”

“Gimana sama perasaan lo sendiri?”

It’s easy. Every woman never think about love only for one men. So can we start our project?

***

Siang ini Tiara mengunjungi rumah mertuanya. Mertuanya meminta supir menjemput Tiara agar datang ke sana. Mamanya itu berencana menyiapkan surprise untuk papa mertuanya dan suaminya, karena hari ini adalah hari ulang tahun keduanya yang jatuh berbarengan.

“Malam ini, kamu sama Aryo nginap disini aja ya?” ucap ibu mertuanya pada Tiara. Melihat reaksi menantunya itu, Felicia lantas menyunggingkan senyumnya.

“Tenang aja, suami kamu pasti mau kok. Sejak Aryo nikah, rumah ini makin sepi. Habis semua ini matang, tolong siapin bekal untuk diantar ke kantor suamimu ya,” tutur Felicia.

Tiara mengiyakan ucapan mertuanya diiringi sebuah senyuman. Bagaimanapun ia tidak enak menolak permintaan Felicia untuk menginap. Lagipula Aryo itu kan anak tunggal, jadi wajar mertuanya merasa rumah sebesar ini begitu kosong sejak anak satu-satunya menikah.

“Kenapa Tiara? Aryo sibuk banget di kantor ya? Dia jarang luangin waktunya buat kamu?” duga ibu mertuanya ketika memerhatikan raut wajah Tiara.

“Aryo besok harus ke luar kota untuk urusan kerjaan, Mah. Jadi kayaknya kita nggak bisa nginap malam ini,” ujar Tiara mengatakan alasan mungkin mereka tidak bisa menginap.

“Artinya Aryo akan ninggalin kamu berhari-hari? Padahal kalian itu kan pengantin baru. Harusnya dia bisa bagi waktu antara kerjaannya dan kamu,” ujar Felicia sambil berdecak heran.

Tiara membantu mertuanya membawa makanan yang telah matang ke meja makan. Sepertinya mertuanya salah menangkap. Kini mertuanya ingin dirinya dan Aryo menghabiskan waktu bersama hanya berdua.

“Kalau seperti ini terus, kalian susah punya waktu bareng. Yaudah gini aja, malam ini kalian harus nginap di sini ya. Mama pastiin Aryo setuju,” ucap Felicia sambil memegang tangan Tiara. Kemudian ibu mertuanya itu menepuk punggung tangannya itu dan tersenyum hangat.

***

Sekitar pukul tujuh malam, Aryo berada di perjalanan pulang dari kantornya. Jalanan ibukota seperti biasa dipenuhi oleh kendaraan yang menyebabkan jalanan padat. Mobil Aryo mau tidak mau ikut terjebak macet dan hanya bergerak sedikit demi sedikit.

“Tuan, tadi ibu Feli bilang kalau Tuan harus ke rumah dulu untuk ngambil titipan ibu,” ujar supir pribadinya.

“Tumben. Biasanya mama langsung nelfon saya sendiri.”

“Ibu bilang, Tuan cuma diminta untuk mampir sebentar.”

“Oh yaudah Pak, kita langsung ke rumah mama aja,” tutur Aryo.

Aryo menoleh ke samping jok dan terdapat tas bekal yang tadi siang diantar ke kantornya. Wajahnya mengernyit curiga, namun ia mengulaskan senyum semringah setelah kembali mengingat isi tulisan di notes dalam kotak bekal.

Aryo tidak tahu mamanya bisa seromantis ini padanya di hari ulang tahunnya. Mamanya itu mengirimkan kotak bekal disertai notes kecil berwarna peach. Di dalam notes tersebut, berisi untaian kalimat doa yang begitu indah di hari ulang tahunnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara bersyukur ia masih memiliki alasan untuk keluar dari tempat tinggalnya, yakni dengan berkuliah. Tentu Tiara akan memanfaatkan waktu tersebut dan tidak langsung kembali ke rumah ketika perkuliahan selesai.

Tiara sedang berada di kantin bersama Adrian dan Sandi sembari menunggu kelas selanjutnya dimulai. Biasanya Valdo selalu menempel dengan Sandi, tapi entah kemana perginya bocah itu kali ini. Kalau ada Valdo, mugkin cowok itu jadi yang paling heboh dan ingin tahu soal pernikahannya. Tentu Tiara akan malas menjawab pertanyaan itu.

“Pulang ngampus lo nggak bareng Akmal lagi dong, Ra?” tanya Adrian sebelum ia menghembuskan asap rokoknya. Memang biasanya Tiara pulang kampus bareng Akmal dikarenakan rumahnya dan Akmal yang searah dan jaraknya cukup dekat.

“Ada Akmal suruh matiin tuh rokok,” Sandi memperingati Adrian. Dengan berat hati, cowok itu pun menurut. Adrian mematikan rokoknya yang baru ia hisap setengahnya itu. Biasanya tidak lama Akmal akan datang dimana itu ada Tiara.

Tiara merasakan pundaknya ditepuk dan ia langsung menoleh pada sosok yang kehadirannya saat ini tidak ia harapkan. “Gimana Ra? Nikah enak nggak?” seru Valdo.

Valdo mengambil tempat duduk di samping Tiara dan menaruh tasnya di atas meja. Pria itu tersenyum pada Tiara dan minta perempuan itu untuk menjawab pertanyaannya.

“Nggak enak, karena nggak sebebas sebelum nikah,” jawab Tiara apa adanya.

“Yahh, bakal susah kayaknya nih nongkrong sama kita,” celetuk Sandi sambil menampilkan wajah sok sedihnya.

“Nanti gue pulang bareng sama Akmal,” celetuk Tiara.

“Akmal kayaknya sampe malem di kampus Ra, soalnya dia ada rapat. Dia kan ketua pelaksana acara untuk orientasi maahasiswa baru,” ujar Adrian.

“Gue nunggu Akmal selesai rapat dulu kok,” timpal Tiara menanggapi ucapan Adrian.

***

Tiara dan Akmal berjalan bersisian menuju parkiran motor yang berada di belakang gedung fakultas mereka. Setelah selesai dengan rapat kepanitiannya, Akmal menepati janjinya untuk pergi berdua dengan Tiara.

Mereka sampai di parkiran dan Akmal pun memberikan sebuah helm bogo berwarna putih kepada Tiara.

“Masih lo bawa aja nih helm,” celetuk Tiara setelah memasang helm itu di kepalanya.

“Emangnya lo nggak mau pulang bareng gue lagi Ra?”

“Lo lupa gue udah jadi istri orang Mal,” ujar Tiara diiringi tawanya yang terdengar hambar.

Akmal menghadap Tiara dan tangannya bergerak memastikan pengait helm milik Tiara telah terpasang dengan sempurna.

“Ra, jangan buru-buru ngejalanin rencana ini. Oke?” Akmal wajahnya menampakkan kekhawatiran.

Tiara mengulas senyumnya untuk meyakinkan Akmal semuanya akan baik-baik saja. Tiara menceritakan pada Akmal mengenai perjanjian yang telah ia sepakati dengan Aryo. Perjanjian tersebut berguna untuk mencegah resiko buruk yang bisa terjadi selama mereka menjalankan rencana.

“Gue akan berusaha untuk dapetin informasi tanpa Aryo curiga soal rencana kita,” ujar Tiara.

“Gimana caranya lo dapet informasi, kalau ada batasan antara lo sama dia karena perjanjian itu?”

“Gue bisa ngelakuinnya dengan cara yang halus. Kayak yang di bilang dosen kita di mata kuliah marketing, it's called soft selling.”

“Gimana cara kerjanya?”

“Sekarang gue adalah istrinya. Pertama, gue akan bikin Aryo percaya sama gue dan pelan-pelan hubungan kita membaik. Habis itu gue akan cari informasinya saat gue udah punya akses ke sana.”

Tiara mengecek arloji dpi pergelangan tangannya, “Nanti kita bahas ini lagi. Kita harus berangkat sekarang kalau nggak mau telat nonton filmnya,” ucap Tiara.

“Tunggu, Ra.” Akmal menahan pergelangan tangan Tiara dan menatap matanya.

“Kenapa?”

“Gue khawatir lo salah langkah dengan ngambil cara ini. Gue nggak bodoh untuk ngerti maksud kata-kata lo, Tiara.”

“Lo khawatir soal apa?” Mereka saling bertatapan dan Tiara tidak mengerti dimana letak kekhawatiran sahabatnya itu.

Akmal hanya menggeleng. Kemudian lelaki itu menancapkan kunci pada motornya dan meminta Tiara untuk naik ke boncengan.

***

“Makasih ya Ma, hari ini udah nemenin gue,” ujar Tiara setelah mengembalikan helm yang ia pakai kepada Akmal.

“Gue masuk dulu ya, lo hati-hati di jalan,” timpal Tiara sebelum berjalan ke arah bangunan yang saat ini menjadi tempat tinggalnya. Tiara meminta Akmal menurunkannya sekitar seratus meter lebih dari bangunan tingkat tiga itu.

“Tiara,” Akmal memanggilnya dan Tiara menoleh. Akmal turun dari motornya lalu berlari kecil untuk menghampirinya.

“Ada yang ketinggalan Mal?” tanya Tiara dan Akmal hanya menggeleng sebagai jawaban.

“Ohiya, anak-anak bilangm satu bulan kedepan lo bakal sibuk ya sama acara orientasi mahasiswa baru.” Tiara teringat pembicaraan di kantin siang tadi dengan teman-temannya.

“Iya, gue bakal sedikit sibuk. Tapi kalau ada apa-apa, lo bisa hubungin gue Ra,” ucap Akmal yang dijawab Tiara dengan sebuah anggukan. Akmal mengarahkan tangannya ke puncak kepala Tiara lalu menepuk pelan di sana dan mengusapnya sekilas.

“Gue bakal kangen lo dan semua memori yang kita punya. Mungkin sekarang kita nggak bisa kayak dulu. Apa gue kedengeran kayak orang yang egois, Ra?”

“Kita tetep bisa kayak dulu kali, Mal. Selama lo bisa jagain gue, Aryo bolehin gue punya kebebasan sesuai dengan perjanjiannya,” jelas Tiara.

Keduanya pun sama-sama mengulas senyum. Kemudian Tiara sungguhan harus masuk. Akmal membiarkan Tiara pergi dari hadapannya dengan perasaan khawatir yang sebenarnya akan selalu ia sematkan untuk gadis itu.

Mengingat Tiara harus menyimpan rekaman memori pahit mengenai masa lalunya. Tiara adalah teman masa kecilnya yang perlahan memasuki relung hatinya. Perasaannya pada Tiara berubah menjadi perasaan antara laki-laki dan perempuan yang sudah sama-sama dewasa.

Akmal tidak pernah menduga ia akan mencintai sahabatnya. Gadis kecil yang dulu sangat ingin ia lindungi, kini sudah bertumbuh dewasa dan begitu cantik.

Namun Akmal bukanlah pria beruntung yang menikahi gadis itu. Ada pria lain yang telah menikahinya dan Tiara adalah milik pria itu sekarang. Ketakutannya mengenai rencana Tiara terasa terlalu berlebihan dan tidak berdasar untuk sekarang. Apakah mungkin suatu hari Tiara dapat menaruh hati pada pria yang berasal dari keluarga yang telah merenggut orang tercintanya.

Akmal menyisir kebelakang surai hitam legamnya dengan jari-jari tangannya dan menghembuskan napasnya. Sebelum pergi dari sana, pria itu memastikan punggung kecil Tiara tidak terlihat lagi oleh jarak pandangnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Ulang tahun Aryo jatuh berbarengan dengan papanya. Setiap tahun mereka akan merayakan ulang tahun untuk dua orang sekaligus. Tahun lalu, ibunya turut mengundang mantan kekasihnya untuk private fine dining. Aryo berpikir tahun ini akan sedikit berbeda karena kesibukan dan juga statusnya saat ini.

Aryo memasuki rumahnya sambil tangannya menekan layar sentuh di ponselnya. Kemudian ia menempelkan benda pipih itu ke telinga, menunggu seseorang di ujung sana mengangkat panggilannya.

“Tiara, gue pulang agak telat. Lo udah di rumah?”

Aryo menunggu Tiara yang tidak kunjung menjawab, hingga sebuah kerutan muncul di dahinya dan langkah kaki yang terhenti.

“Tiara?” panggil Aryo.

“Kenapa pulang telat?” Tiara justru bertanya balik di sambungan telefon.

“Ada sesuatu yang perlu gue ambil di rumah mama,” ujar Aryo.

“Habis itu langsung pulang?”

“Iya Gue cuma mampir sebentar.”

Aryo mengernyit curiga. Ia menyapukan pandangannya ke sekeliling rumah dan berjalan ke ruang tamu. Ia penasaran karena suara Tiara di telepon terasa begitu dekat denganya. Aryo rasa ia mulai tidak waras berpikiran Tiara berada di dekatnya.

Are you ... at home?” Aryo masih bertanya dengan nada setengah yakin.

Of course.”

Our home?

***

Setelah Aryo menemukan Tiara berada di rumah orang tuanya tanpa sepengatahuannya, Tiara membawanya untuk sampai di rooftop. Malam ini taman yang terdapat di rooftop rumah itu di dekor sedemikian rupa untuk merayakan sebuah acara ulang tahun. Sebuah meja dan empat kursi di tata, makanan-makanan yang nampak lezat tersaji, lampu cantik dan berkilau menambah indah suasana malam itu.

Papa dan mamanya memberinya ucapan selamat dan sebuah pelukan untuknya. Acara tersebut berjalan dengan sempurna. Setelah menyantap makanan utama, sekarang giliran dessert yang menjadi penutup indah untuk di nikmati bersama. Pemandangan kota dari atas yang nampak menjadi pelengkap keindahan acara tersebut.

“Malam ini kalian nginap di sini aja ya?” ujar Felicia.

Aryo dan Tiara saling bertatapan ketika mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Felicia.

“Aryo, bukannya besok kamu harus ke Lembang untuk nunjukin progress pekerjaan disana?” tanya Edi pada anak sematawayangnya itu.

“Iya, Pah. Besok Aryo harus ke sana,” jawab Aryo.

“Aku kan juga ingin lihat anak dan menantuku. Rumah ini rasanya sepi banget lho Pah,” ujar Felicia sambil menatap suaminya.

“Lain kali aja bisa, Mah. Lagian mereka nggak bawa persiapan untuk nginap,” ucap Edi menanggapi Felicia.

“Semua yang dibutuhin, ada disini. Tiara, tinggal bilang aja sama Mama, ya Sayang?” Felicia menatap menantunya diiringi kedua netranya yang berbinar.

***

Tiara dan Aryo mau tidak mau tidur di dalam satu kamar yang telah disiapkan untuk mereka. Satu jam yang lalu, para asisten perempuan di rumah ini membantu dan melayani Tiara. Apa yang ia butuhkan semuanya ada di sini. Mulai shower gel, parfum, body lotion hingga piyama untuknya.

Tiara memasuki kamar dan duduk di atas kasur setelah selesai dengan acara mandinya. Tiara tidak tahu dimana keberadaan Aryo. Mungkin pria itu masih mandi atau sedang menyelesaikan pekerjaannya yang harus diselesaikan malam ini. Setahu Tiara, besok pagi-pagi sekali Aryo harus berangkat ke stasiun.

Pintu kamar yang terbuka membuat Tiara menoleh kearah daun pintu. Ia menemukan Aryo di sana dengan stelan piyama biru dongkernya.

“Aryo, ada nggak kamar lain?” tanya Tiara dengan nada ragu.

“Ada, kamar tamu di lantai satu,” jawab Aryo setelah menutup pintunya dan berjalan ke kasur.

“Berarti gue bisa tidur di kamar itu, kan?” Tiara hendak turun dari kasur, tapi Aryo menahan tangannya.

“Nggak bisa, Tiara.”

“Kenapa nggak bisa?”

“Mama di bawah masih nonton tv, beliau belum ke kamar. Lo mau turun ke bawah dan dapat pertanyaan dari mama?”

Tiara menghela napasnya panjang.

“Lagian mama ada benernya, nyuruh kita untuk nginap,” cetus Aryo.

“Gimana lo bisa bilang kayak gitu,” ucap Tiara dengan nada kurang setuju.

“Kalau kita kayak gini terus, gimana caranya kita bisa punya anak?”

Astaga, Tiara melupakannya. Padahal dirinya sendiri yang kekeuh dari kemarin mengenai hal itu.

“Kalau kita punya anak, apa itu akan buat posisi lo di perusahaan semakin kuat?” tanya Tiara.

That's right,” jawab Aryo diiringi sebuah anggukan.

***

“Ram, kita masih punya waktu berapa menit lagi?” tanya Aryo pada Rama.

“Kurang lebih tiga puluh menit lagi sebelum keretanya berangkat Bos,” jelas Rama.

“Oke, gue mau ke sana dulu,” ucap Aryo pada asistennya itu.

Rama mengangguki ucapan Aryo dan menyaksikan pemandangan di depannya saat ini. Aryo berjalan menghampiri Tiara yang berjarak sekitar 300 meter di sana.

Ketika Aryo berhadapan dengan Tiara, ia membungkukkan sedikit badannya, lalu menghela torso perempuan itu untuk berada di dekapannya.

“Kenapa? Ada yang ketinggalan?” tanya Tiara.

Tangan Tiara yang semula berada di sisi tubuhnya pun bergerak perlahan untuk membalas pelukan Aryo.

“Keretanya udah mau berangkat kan?” tanyaTiara ketika Aryo belum juga melepaskan pelukan mereka.

“Sebenernya gue sama Rama masih harus nunggu klien yang berangkat bareng kita,” jelas Aryo.

“Tapi sebentar lagi keretanya berangkat, Aryo. Nanti lo ketinggalan kereta.”

Aryo tersenyum, “Masih tiga puluh menit lagi keretanya, Ra. Gue udah lumayan kenal juga sama kliennya.”

Tidak lama kemudian, orang yang ditunggu menghampiri Aryo dari arah yang berlawanan.

“Maaf yaa gue telat. Gue kira kita naik dari gerbong yang disana. Oh hai, Tiara ya? Lo masih inget gue nggak?” Perempuan itu menyapa Tiara dengan sebuah senyuman di bibir merah ranumnya. Perempuan itu hanya membawa tas tangannya sedangkan seorang asisten laki-laki di balik punggungnya membawakan dua buah koper berukuran sedang.

“Gue inget lo kok. Lo cuma mantannya suami gue,” ucap Tiara dengan santai.

“Kita harus berangkat sekarang,” ucap Aryo.

Tiara menoleh pada Aryo yang memecah topik pembicaraannya dengan Aurorae. Tiara melemparkan tatapan sebalnya atas perlakuan Aryo yang menurutnya sedikit tidak adil padanya. Bagaimana pun Tiara harus membungkam mulut mantan kekasih suaminya itu dengan mulutnya sendiri.

“Tiara, gue udah minta tolong sama Erza buat jemput lo disini. Lo pulang sama dia ya,” ucap Aryo pada Tiara dan gadis itu hanya bisa menahan keinginannya untuk melawan Aurorae. Tiara mengulas senyumnya, ia menatap Aryo lalu mengambil tangan pria itu dan menciumnya di sana.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Ulang tahun Aryo jatuh berbarengan dengan papanya. Setiap tahun mereka akan merayakan ulang tahun untuk dua orang sekaligus. Tahun lalu, ibunya turut mengundang mantan kekasihnya untuk private fine dining. Aryo berpikir tahun ini akan sedikit berbeda karena kesibukan dan juga statusnya saat ini.

Aryo memasuki rumahnya sambil tangannya menekan layar sentuh di ponselnya. Kemudian ia menempelkan benda pipih itu ke telinga, menunggu seseorang di ujung sana mengangkat panggilannya.

“Tiara, gue pulang agak telat. Lo udah di rumah?”

Aryo menunggu Tiara yang tidak kunjung menjawab, hingga sebuah kerutan muncul di dahinya dan langkah kaki yang terhenti.

“Tiara?” panggil Aryo.

“Kenapa pulang telat?” Tiara justru bertanya balik di sambungan telefon.

“Ada sesuatu yang perlu gue ambil di rumah mama,” ujar Aryo.

“Habis itu langsung pulang?”

“Iya Gue cuma mampir sebentar.”

Aryo mengernyit curiga. Ia menyapukan pandangannya ke sekeliling rumah dan berjalan ke ruang tamu. Ia penasaran karena suara Tiara di telepon terasa begitu dekat denganya. Aryo rasa ia mulai tidak waras berpikiran Tiara berada di dekatnya.

Are you ... at home?” Aryo masih bertanya dengan nada setengah yakin.

Of course.”

Our home?

***

Setelah Aryo menemukan Tiara berada di rumah orang tuanya tanpa sepengatahuannya, Tiara membawanya untuk sampai di rooftop. Malam ini taman yang terdapat di rooftop rumah itu di dekor sedemikian rupa untuk merayakan sebuah acara ulang tahun. Sebuah meja dan empat kursi di tata, makanan-makanan yang nampak lezat tersaji, lampu cantik dan berkilau menambah indah suasana malam itu.

Papa dan mamanya memberinya ucapan selamat dan sebuah pelukan untuknya. Acara tersebut berjalan dengan sempurna. Setelah menyantap makanan utama, sekarang giliran dessert yang menjadi penutup indah untuk di nikmati bersama. Pemandangan kota dari atas yang nampak menjadi pelengkap keindahan acara tersebut.

“Malam ini kalian nginap di sini aja ya?” ujar Felicia.

Aryo dan Tiara saling bertatapan ketika mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Felicia.

“Aryo, bukannya besok kamu harus ke Lembang untuk nunjukin progress pekerjaan disana?” tanya Edi pada anak sematawayangnya itu.

“Iya, Pah. Besok Aryo harus ke sana,” jawab Aryo.

“Aku kan juga ingin lihat anak dan menantuku. Rumah ini rasanya sepi banget lho Pah,” ujar Felicia sambil menatap suaminya.

“Lain kali aja bisa, Mah. Lagian mereka nggak bawa persiapan untuk nginap,” ucap Edi menanggapi Felicia.

“Semua yang dibutuhin, ada disini. Tiara, tinggal bilang aja sama Mama, ya Sayang?” Felicia menatap menantunya diiringi kedua netranya yang berbinar.

***

Tiara dan Aryo mau tidak mau tidur di dalam satu kamar yang telah disiapkan untuk mereka. Satu jam yang lalu, para asisten perempuan di rumah ini membantu dan melayani Tiara. Apa yang ia butuhkan semuanya ada di sini. Mulai shower gel, parfum, body lotion hingga piyama untuknya.

Tiara memasuki kamar dan duduk di atas kasur setelah selesai dengan acara mandinya. Tiara tidak tahu dimana keberadaan Aryo. Mungkin pria itu masih mandi atau sedang menyelesaikan pekerjaannya yang harus diselesaikan malam ini. Setahu Tiara, besok pagi-pagi sekali Aryo harus berangkat ke stasiun.

Pintu kamar yang terbuka membuat Tiara menoleh kearah daun pintu. Ia menemukan Aryo di sana dengan stelan piyama biru dongkernya.

“Aryo, ada nggak kamar lain?” tanya Tiara dengan nada ragu.

“Ada, kamar tamu di lantai satu,” jawab Aryo setelah menutup pintunya dan berjalan ke kasur.

“Berarti gue bisa tidur di kamar itu, kan?” Tiara hendak turun dari kasur, tapi Aryo menahan tangannya.

“Nggak bisa, Tiara.”

“Kenapa nggak bisa?”

“Mama di bawah masih nonton tv, beliau belum ke kamar. Lo mau turun ke bawah dan dapat pertanyaan dari mama?”

Tiara menghela napasnya panjang.

“Lagian mama ada benernya, nyuruh kita untuk nginap,” cetus Aryo.

“Gimana lo bisa bilang kayak gitu,” ucap Tiara dengan nada kurang setuju.

“Kalau kita kayak gini terus, gimana caranya kita bisa punya anak?”

Astaga, Tiara melupakannya. Padahal dirinya sendiri yang kekeuh dari kemarin mengenai hal itu.

“Kalau kita punya anak, apa itu akan buat posisi lo di perusahaan semakin kuat?” tanya Tiara.

That's right,” jawab Aryo diiringi sebuah anggukan.

“Kalau lo dapetin itu, gue juga ingin dapetin hal yang sama sebagai gantinya. Gue mau lo ngabulin satu permintaan gue, sebelum kita bercerai.”

***

“Ram, kita masih punya waktu berapa menit lagi?” tanya Aryo pada Rama.

“Kurang lebih tiga puluh menit lagi sebelum keretanya berangkat Bos,” jawab Rama.

“Oke, wait gue mau ke sana dulu,” ucap Aryo pada asistennya itu.

Rama mengiyakan ucapan Aryo dan melihat pemandangan di depannya saat ini. Aryo berjalan menghampiri sosok perempuan yang merupakan istrinya itu.

Ketika Aryo berhadapan dengan Tiara, ia membungkukkan sedikit badannya, lalu menghela torso perempuan itu untuk berada di dekapannya.

“Kenapa? Ada yang ketinggalan?” tanya Tiara.

Tangan Tiara yang semula berada di sisi tubuhnya pun bergerak perlahan untuk membalas pelukan Aryo.

“Keretanya udah mau berangkat kan?” tanyaTiara ketika Aryo belum juga melepaskan pelukan mereka.

“Sebenernya gue sama Rama masih harus nunggu klien yang berangkat bareng kita,” jelas Aryo.

“Tapi sebentar lagi keretanya berangkat, Aryo.”

Aryo tersenyum. “Masih tiga puluh menit lagi keretanya, Ra. Gue udah lumayan kenal juga sama kliennya.”

Tidak lama kemudian, orang yang ditunggu menghampiri Aryo dari arah yang berlawanan.

“Maaf yaa gue telat. Gue kira kita naik dari gerbong yang disana. Oh hai, Tiara ya? Lo masih inget gue nggak?” Perempuan itu menyapa Tiara dengan sebuah senyuman di bibir merah ranumnya. Perempuan itu hanya membawa tas tangannya sedangkan seorang asisten laki-laki di balik punggungnya membawakan dua buah koper berukuran sedang.

“Gue inget lo kok. Lo cuma mantannya suami gue,” ucap Tiara dengan santai.

“Kita harus berangkat sekarang,” ucap Aryo.

Tiara menoleh pada Aryo yang memecah topik pembicaraannya dengan Aurorae. Tiara melemparkan tatapan sebalnya atas perlakuan Aryo yang menurutnya sedikit tidak adil padanya. Bagaimana pun Tiara harus membungkam mulut mantan kekasih suaminya itu dengan mulutnya sendiri.

“Tiara, gue udah minta tolong sama Erza buat jemput lo disini. Lo pulang sama dia ya,” ucap Aryo pada Tiara dan gadis itu hanya bisa menahan keinginannya untuk melawan Aurorae. Tiara mengulas senyumnya, ia menatap Aryo lalu mengambil tangan pria itu dan menciumnya di sana.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Ulang tahun Aryo jatuh berbarengan dengan papanya. Setiap tahun mereka akan merayakan ulang tahun untuk dua orang sekaligus. Tahun lalu, ibunya turut mengundang mantan kekasihnya untuk private fine dining. Aryo berpikir tahun ini akan sedikit berbeda karena kesibukan dan juga statusnya saat ini.

Aryo memasuki rumahnya sambil tangannya menekan layar sentuh di ponselnya. Kemudian ia menempelkan benda pipih itu ke telinga, menunggu seseorang di ujung sana mengangkat panggilannya.

“Tiara, gue pulang agak telat. Lo udah di rumah?”

Aryo menunggu Tiara yang tidak kunjung menjawab, hingga sebuah kerutan muncul di dahinya dan langkah kaki yang terhenti.

“Tiara?” panggil Aryo.

“Kenapa pulang telat?” Tiara justru bertanya balik di sambungan telefon.

“Ada sesuatu yang perlu gue ambil di rumah mama,” ujar Aryo.

“Habis itu langsung pulang?”

“Iya Gue cuma mampir sebentar.”

Aryo mengernyit curiga. Ia menyapukan pandangannya ke sekeliling rumah dan berjalan ke ruang tamu. Ia penasaran karena suara Tiara di telepon terasa begitu dekat denganya. Aryo rasa ia mulai tidak waras berpikiran Tiara berada di dekatnya.

Are you ... at home?” Aryo masih bertanya dengan nada setengah yakin.

Of course.”

Our home?

***

Setelah Aryo menemukan Tiara berada di rumah orang tuanya tanpa sepengatahuannya, Tiara membawanya untuk sampai di rooftop. Malam ini taman yang terdapat di rooftop rumah itu di dekor sedemikian rupa untuk merayakan sebuah acara ulang tahun. Sebuah meja dan empat kursi di tata, makanan-makanan yang nampak lezat tersaji, lampu cantik dan berkilau menambah indah suasana malam itu.

Papa dan mamanya memberinya ucapan selamat dan sebuah pelukan untuknya. Acara tersebut berjalan dengan sempurna. Setelah menyantap makanan utama, sekarang giliran dessert yang menjadi penutup indah untuk di nikmati bersama. Pemandangan kota dari atas yang nampak menjadi pelengkap keindahan acara tersebut.

“Malam ini kalian nginap di sini aja ya?” ujar Felicia.

Aryo dan Tiara saling bertatapan ketika mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Felicia.

“Aryo, bukannya besok kamu harus ke Lembang untuk nunjukin progress pekerjaan disana?” tanya Edi pada anak sematawayangnya itu.

“Iya, Pah. Besok Aryo harus ke sana,” jawab Aryo.

“Aku kan juga ingin lihat anak dan menantuku. Rumah ini rasanya sepi banget lho Pah,” ujar Felicia sambil menatap suaminya.

“Lain kali aja bisa, Mah. Lagian mereka nggak bawa persiapan untuk nginap,” ucap Edi menanggapi Felicia.

“Semua yang dibutuhin, ada disini. Tiara, tinggal bilang aja sama Mama, ya Sayang?” Felicia menatap menantunya diiringi kedua netranya yang berbinar.

***

Tiara dan Aryo mau tidak mau tidur di dalam satu kamar yang telah disiapkan untuk mereka. Satu jam yang lalu, para asisten perempuan di rumah ini membantu dan melayani Tiara. Apa yang ia butuhkan semuanya ada di sini. Mulai shower gel, parfum, body lotion hingga piyama untuknya.

Tiara memasuki kamar dan duduk di atas kasur setelah selesai dengan acara mandinya. Tiara tidak tahu dimana keberadaan Aryo. Mungkin pria itu masih mandi atau sedang menyelesaikan pekerjaannya yang harus diselesaikan malam ini. Setahu Tiara, besok pagi-pagi sekali Aryo harus berangkat ke stasiun.

Pintu kamar yang terbuka membuat Tiara menoleh kearah daun pintu. Ia menemukan Aryo di sana dengan stelan piyama biru dongkernya.

“Aryo, ada nggak kamar lain?” tanya Tiara dengan nada ragu.

“Ada, kamar tamu di lantai satu,” jawab Aryo setelah menutup pintunya dan berjalan ke kasur.

“Berarti gue bisa tidur di kamar itu, kan?” Tiara hendak turun dari kasur, tapi Aryo menahan tangannya.

“Nggak bisa, Tiara.”

“Kenapa nggak bisa?”

“Mama di bawah masih nonton tv, beliau belum ke kamar. Lo mau turun ke bawah dan dapat pertanyaan dari mama?”

Tiara menghela napasnya panjang.

“Lagian mama ada benernya, nyuruh kita untuk nginap,” cetus Aryo.

“Ada benernya? Gimana lo bisa bilang kayak gitu,” ucap Tiara dengan nada kurang setuju.

“Lo lupa ya? Kalau kita kayak gini terus, gimana caranya kita bisa punya anak?”

Astaga, Tiara melupakannya. Padahal dirinya sendiri yang kekeuh dari kemarin mengenai hal itu.

“Kalau kita punya anak, apa itu akan buat posisi lo di perusahaan semakin kuat?” tanya Tiara.

That's right,” jawab Aryo diiringi anggukan di kepalanya.

“Kalau lo dapetin itu, gue juga ingin dapetin hal yang sama sebagai gantinya. Gue mau lo ngabulin satu permintaan gue, sebelum kita bercerai.”

***

“Ram, kita masih punya waktu berapa menit lagi?” tanya Aryo pada Rama.

“Kurang lebih tiga puluh menit lagi sebelum keretanya berangkat Bos,” jawab Rama.

“Oke, wait gue mau ke sana dulu,” ucap Aryo pada asistennya itu.

Rama mengiyakan ucapan Aryo dan melihat pemandangan di depannya saat ini. Aryo berjalan menghampiri sosok perempuan yang merupakan istrinya itu.

Ketika Aryo berhadapan dengan Tiara, ia membungkukkan sedikit badannya, lalu menghela torso perempuan itu untuk berada di dekapannya.

“Kenapa? Ada yang ketinggalan?” tanya Tiara.

Tangan Tiara yang semula berada di sisi tubuhnya pun bergerak perlahan untuk membalas pelukan Aryo.

“Keretanya udah mau berangkat kan?” tanyaTiara ketika Aryo belum juga melepaskan pelukan mereka.

“Sebenernya gue sama Rama masih harus nunggu klien yang berangkat bareng kita,” jelas Aryo.

“Tapi sebentar lagi keretanya berangkat, Aryo.”

Aryo tersenyum. “Masih tiga puluh menit lagi keretanya, Ra. Gue udah lumayan kenal juga sama kliennya.”

Tidak lama kemudian, orang yang ditunggu menghampiri Aryo dari arah yang berlawanan.

“Maaf yaa gue telat. Gue kira kita naik dari gerbong yang disana. Oh hai, Tiara ya? Lo masih inget gue nggak?” Perempuan itu menyapa Tiara dengan sebuah senyuman di bibir merah ranumnya. Perempuan itu hanya membawa tas tangannya sedangkan seorang asisten laki-laki di balik punggungnya membawakan dua buah koper berukuran sedang.

“Gue inget lo kok. Lo cuma mantannya suami gue,” ucap Tiara dengan santai.

“Kita harus berangkat sekarang,” ucap Aryo.

Tiara menoleh pada Aryo yang memecah topik pembicaraannya dengan Aurorae. Tiara melemparkan tatapan sebalnya atas perlakuan Aryo yang menurutnya sedikit tidak adil padanya. Bagaimana pun Tiara harus membungkam mulut mantan kekasih suaminya itu dengan mulutnya sendiri.

“Tiara, gue udah minta tolong sama Erza buat jemput lo disini. Lo pulang sama dia ya,” ucap Aryo pada Tiara dan gadis itu hanya bisa menahan keinginannya untuk melawan Aurorae. Tiara mengulas senyumnya, ia menatap Aryo lalu mengambil tangan pria itu dan menciumnya di sana.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Ketika Tiara sampai di lantai satu, ia mendapati Aryo menunggunya di sana dan pria itu masih dengan stelan kantornya.

“Jam berapa ini Tiara?” tanya Aryo.

“Hampir jam sepuluh.”

“Ayo kita bicarain yang tadi sempat tertunda,” ujar Aryo.

“Gue pikir udah nggak ada yang perlu dibicarain.” Tiara menatap Aryo dengan tatapan datarnya.

“Kenapa? Tadi lo bersikeras diskusiin itu sama gue.”

Tiara termenung tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Lo tau, apa yang gue lakuin adalah untuk ngelindungin lo. Di saat gue ngelakuin itu, justru lo yang membahayakan diri sendiri.” Aryo menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Aryo mendapatkan dari salah satu omnya yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan. Om nya itu sangat mendukungnya, sehingga berbaik hati menyerahkan foto itu padanya untuk disimpan saja.

Good job for you. Gue nggak nyangka bisa nikah sama diktator yang keren kayak lo.” Tiara bertepuk tangan sambil menyunggingkan senyum smirk-nya. Kemudian Tiara hendak mengambil langkah pergi melewati Aryo, namun pria itu menahan pergelangan tangannya.

“Gue mau ke kamar, jadi tolong lepasin gue,” desis Tiara.

“Gue lepasin, setelah lo jelasin foto itu,” ujar Aryo.

“Lo nganggap gue istri lo, di saat lo cuma butuh kuasa atas gue? Hello sir, you can’t do anything you want to do. Gue sama Akmal pergi berdua buat ngerjain tugas fotografi,” jelas Tiara yang lantas membuat pegangan tangan Aryo terlepas pada tangannya.

Tiara tidak ingin perasaannya terhadap Aryo semakin dalam karena ia tahu pada akhirnya mereka tidak akan pernah bisa bersama. Dari awal pertemuannya dengan Aryo, Tiara sadar ia memiliki perasaan terhadap lelaki ini, tapi lebih baik membangun tembok antara dirinya dan Aryo demi kebaikan keduanya.

“Terus dengan mudahnya, lo berpikir ngasih keluarga keturunan? Lo pikir semudah itu untuk punya anak?” tanya Aryo.

Tiara berbalik kemudian menatap Aryo, “Bukannya gampang aja buat lo? Gue cuma aset lo untuk dapetin posisi itu. Asal nantinya lo nggak punya perasaan untuk gue, kita bisa punya anak. Setelah itu cerai. Gimana?”

“Gimana dengan perasaan lo sendiri?”

It’s easy. Every woman never think about love only for one men. So can we start our project?

***

Siang ini Tiara mengunjungi rumah mertuanya. Mertuanya meminta supir menjemput Tiara agar datang ke sana. Mamanya itu berencana menyiapkan surprise untuk papa mertuanya dan suaminya, karena hari ini adalah hari ulang tahun keduanya yang jatuh berbarengan.

“Malam ini, kamu sama Aryo nginap disini aja ya?” ucap ibu mertuanya pada Tiara. Melihat reaksi menantunya itu, Felicia lantas menyunggingkan senyumnya.

“Tenang aja, suami kamu pasti mau kok. Sejak Aryo nikah, rumah ini makin sepi. Habis semua ini matang, tolong siapin bekal untuk diantar ke kantor suamimu ya,” tutur Felicia.

Tiara mengiyakan ucapan mertuanya diiringi sebuah senyuman. Bagaimanapun ia tidak enak menolak permintaan Felicia untuk menginap. Lagipula Aryo itu kan anak tunggal, jadi wajar mertuanya merasa rumah sebesar ini begitu kosong sejak anak satu-satunya menikah.

“Kenapa Tiara? Aryo sibuk banget di kantor ya? Dia jarang luangin waktunya buat kamu?” duga ibu mertuanya ketika memerhatikan raut wajah Tiara.

“Aryo besok harus ke luar kota untuk urusan kerjaan, Mah. Jadi kayaknya kita nggak bisa nginap malam ini,” ujar Tiara mengatakan alasan mungkin mereka tidak bisa menginap.

“Ohya? Artinya dia akan ninggalin kamu berhari-hari dong? Padahal kalian itu kan pengantin baru. Harusnya dia bisa bagi waktu antara kerjaannya dan kamu.”

Tiara membantu mertuanya membawa makanan yang telah matang ke meja makan. Sepertinya mertuanya salah menangkap. Kini mertuanya ingin dirinya dan Aryo menghabiskan waktu bersama hanya berdua.

“Kalau seperti ini terus, kalian susah punya waktu bareng. Yaudah gini aja, malam ini kalian harus nginap di sini ya. Mama pastiin Aryo setuju,” ucap Felicia sambil memegang tangan Tiara. Kemudian ibu mertuanya itu menepuk punggung tangannya itu dan tersenyum hangat.

***

Sekitar pukul tujuh malam, Aryo berada di perjalanan pulang dari kantornya. Jalanan ibukota seperti biasa dipenuhi oleh kendaraan yang menyebabkan jalanan padat. Mobil Aryo mau tidak mau ikut terjebak macet dan hanya bergerak sedikit demi sedikit.

“Tuan, tadi ibu Feli bilang kalau Tuan harus ke rumah dulu untuk ngambil titipan ibu,” ujar supir pribadinya.

“Tumben. Biasanya mama langsung nelfon saya sendiri.”

“Ibu bilang, Tuan cuma diminta untuk mampir sebentar.”

“Oh yaudah Pak, kita langsung ke rumah mama aja,” tutur Aryo.

Aryo menoleh ke samping jok dan terdapat tas bekal yang tadi siang diantar ke kantornya. Wajahnya mengernyit curiga, namun ia mengulaskan senyum semringah setelah kembali mengingat isi tulisan di notes dalam kotak bekal.

Aryo tidak tahu mamanya bisa seromantis ini padanya di hari ulang tahunnya. Mamanya itu mengirimkan kotak bekal disertai notes kecil berwarna peach. Di dalam notes tersebut, berisi untaian kalimat doa yang begitu indah di hari ulang tahunnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷