alyadara

Kaldera merasa bahwa keputusannya menolak permintaan Raegan adalah pilihan yang paling tepat. Kaldera tidak ingin Indri dan Raegan terlibat dengannya, yang artinya mereka harus berurusan juga dengan tantenya. Ini adalah yang terbaik, begitu pikir Kaldera.

Terkadang Kaldera masih menyalahkan apa yang sudah terjadi. Setelah kedua orang tuanya pergi, mengapa Tuhan kembali mengambil orang yang begitu ia cintai? Mengapa ia harus melalui hal seberat ini?

“Kaldera!” seruan yang memanggil namanya itu seketika membuat Kaldera menoleh. Di koridor lantai satu sekolahnya, Kaldera mendapati Icha tengah berlari ke arahnya.

Begitu Icha sampai di hadapannya, perempuan itu berusaha mengatur napasnya yang berkejaran.

“Lo kenapa Cha lari-lari gitu? Ngejar apa sih?” tanya Kaldera yang keheranan melihat tingkah sahabatnya itu.

Icha menghembuskan napasnya sebelum akhirnya berujar, “Lo harus tau ini, Kal. Itu si Aksa ditahan sama polisi!” seru Icha dengan wajah paniknya.

“Gue denger-denger dari anak OSIS, Aksa jadi tersangka kasusnya Zio, Kal ...” lanjut Icha, tatapannya turut prihatin.

Kaldera masih belum merespon Icha, hingga akhirnya Icha menggerakkan tangannya di depan wajah Kaldera untuk menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

“Kal, lo nggak tau apa-apa soal ini?” tanya Icha.

“Gue baru tau berita ini dari lo,” jawab Kaldera apa adanya. Ia memang tidak tahu menahu tentang Aksa yang ditahan.

Di tengah-tengah situasi itu, tiba-tiba seorang lelaki menghampiri Kaldera dan Icha. Lelaki itu adalah Kafka. Kafka adalah sepupu Aksa yang malam itu memberitahu Kaldera lokasi yang dituju Zio untuk membantu Aksa.

“Kal, gue tau lo akan anggap gue kurang ajar kalau gue bilang ini. Tapi gue mohon Kal, tolong bantu Aksa untuk bebas dari penjara. Gue yakin, bukan sepupu gue pelakunya.” Ucapan Kafka seketika membuat Kaldera menoleh dan menatap lelaki itu tepat di iris matanya. Kaldera nampak bingung harus merespon apa. Semua ini terasa bertubi-tubi datang menghampirinya.

“Kal, cuma lo yang bisa bujuk keluarga Zio untuk cabut tuntutannya. Zio sama Aksa sahabatan, Aksa nggak punya motif apapun untuk celakain Zio,” ujar Aksa lagi.

***

Kaldera telah setuju untuk membantu membebaskan Aksa dari tuntutan itu. Kaldera akan mencobanya, tapi ia tidak berjanji bahwa itu akan berhasil. Di sinilah Kaldera dan Kafka sekarang, di lobi sebuah gedung mewah pencakar langit yang merupakan kantor perusahaan batu bara ternama. Seseorang yang diduga membuat tuntutan tersebut, berada di gedung ini. Jadi mereka akan mencoba menemuinya untuk membicarakan tuntutan itu.

Begitu Kaldera dan Kafka sampai di pintu lobi, langkah keduanya ditahan oleh dua orang satpam berbadan tinggi dan besar.

“Mohon maaf, ada keperluan apa datang ke sini? Apakah sudah membuat janji untuk bertemu?” tanya salah seorang satpam.

Kaldera dan Kafka lantas saling berpandangan. Kaldera akhirnya membuka suara setelah menimang itu di dalam pikirannya. “Saya ingin bertemu dengan bapak Raegantara Rahagi. Saya sudah menelfon beliau, tapi belum mendapat respon,” jelas Kaldera.

“Kalau belum ada persetujuan dari beliau, mohon maaf Anda tidak bisa bertemu,” ujar satpam itu lagi.

“Tapi saya harus bertemu dengan beliau,” ucap Kaldera tetap berusaha mendapatkan izin masuk itu.

“Baik, kalau Anda memaksa. Saya akan sampaikan pada bapak Raegan. Tapi bisa jelaskan lebih dulu hubungan apa yang Anda miliki dengan beliau?”

***

Siang ini Raegan sedang berada di ruangannya ketika bodyguard-nya mengatakan bahwa ada seseorang yang bertekad untuk menemuinya.

“Calon istri?” tanya suara bariton itu. Raegan beranjak dari kursi kebesarannya, ia melempar tatapan tidak percaya pada bodyguard yang telah lama bekerja untuknya. Pasalnya Arjuna mengatakan bahwa orang yang ingin menemuinya adalah calon istrinya.

“Betul, Pak. Di luar ruangan Anda, ada seorang gadis delapan belas tahun yang mengaku sebagai calon istri Bapak. Saya tidak percaya karena dia tidak punya bukti apapun. Mohon maaf telah mengganggu waktu Bapak, saya akan mengurus ini segera,” ucap Arjuna dan hendak berbalik pergi dari hadapan Raegan.

“Tunggu,” ucap Raegan menghentikan langkah Arjuna.

“Dia gadis SMA?” tanya Raegan dengan matanya yang nampak memicing.

“Benar, Pak.”

“Izinkan dia masuk. Saya mengenalnya,” putus Raegan.

“Apa betul gadis itu calon istri Bapak? Bukannya mbak Kaluela—”

“Tugas kamu di sini hanya melakukan apa yang saya perintahkan, bukan untuk mencampuri urusan pribadi saya,” tukas Raegan yang seketika membuat Arjuna bungkam.

***

Raegan menatap dua orang yang kini ada di hadapannya. Kaldera Ruby Rinjani, sosok kekasih almarhum adiknya. Gadis itu datang bersama seorang lelaki yang memiliki hubungan keluarga dengan tersangka pembunuh adiknya.

Raegan menatap Kaldera dengan tatapan datarnya. Pria itu tampak acuh dengan kehadiran Kaldera dan Kafka. Di kursi kebesarannya, Raegan terlihat menselancarkan jemarinya pada layar ipad di tangannya, tanpa berniat membuka pembicaraan terlebih dahulu.

“Kenapa Anda menuntut orang yang tidak bersalah?” akhirnya Kafka membuka suara.

Raegan yang mendengar kalimat itu, langsung menaruh ipad-nya di meja dengan gerakan sedikit kasar. Raegan mengarahkan tatapannya pada Kafka. “Kalau sepupu Anda tidak bersalah, polisi akan menyelidikinya dan menemukan bukti. Saya melakukan tuntutan bukan tanpa bukti yang kuat. Semua bukti jelas mengarah pada sepupu Anda,” tukas Raegan dengan satu tarikan napas.

“Anda bisa melakukan penyelidikan tanpa menghancurkan masa depan Aksa. Saya tau, Anda punya uang sehingga bisa membeli hukum dengan uang itu. Dengan mudahnya Anda memasukkan orang ke penjara,” ujar Kafka lagi.

Kaldera yang duduk di samping Kafka, mencegah lelaki itu untuk melanjutkan lagi ucapannya. Kaldera merasakan bahwa situasi yang tengah terjadi antara Kafka dan Raegan berangsur memanas. Dikhawatirkan jika semakin jauh, akan muncul permasalahan yang lebih besar lagi.

Tanpa Kafka memprediksinya, kalimat sembrononya itu telah menciptakan amarah yang kentara jelas di raut wajah Raegan. Raegan beranjak dari posisi duduknya, ia melangkah menuju Kafka dan berujar, “Lantas apa yang telah dilakukan sepupu kamu terhadap adik saya? Lebih dari menghancurkan, bukan?”

Berikutnya tatapan Raegan beralih pada Kaldera. Dari sorot mata itu, Kaldera dapat melihat ada kekecewaan.

“Kaldera, kamu nggak perlu ikut campur ke dalam urusan ini,” ucap Raegan.

“Aku punya alasan untuk ikut campur,” ujar Kaldera.

Raegan lantas menyunggingkan senyum smirk-nya. “Alasan apa yang buat kamu ada di pihak pembunuh pacar kamu, Kaldera?” Raegan masih di sana, menatap Kaldera dengan mata elangnya. Kaldera dapat merasakan tatapan tajam bercampur rasa kecewa yang dalam, saat iris legam Raegan menatapnya.

Kaldera bergeming di tempatnya, ia menunduk dan hanya dapat menatap ke arah lantai marmer hitam di ruangan ini.

“Aku nggak memihak siapa pun,” ucap Kaldera kemudian. Kaldera berusaha menatap Raegan meski rasanya Raegan dapat mengulitinya melalui sorot mata itu.

“Apa kamu nggak sadar kalau dia lagi manfaatin kamu untuk kepentingannya sendiri?” tanya Raegan. Pria itu menjeda ucapannya sesaat. Raegan menghela napasnya, lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar. “Dengar Kaldera, sekalipun kamu yang saya meminta untuk mencabut tuntutan itu, saya tidak akan melakukannya. Kamu memang orang yang dicintai adik saya, tapi itu tidak cukup untuk merubah keputusan saya.”

Semua perkataan Raegan rasanya seperti tamparan tak kasat mata bagi Kaldera. Benarkah bahwa Kaldera telah melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan? Kaldera bertanya-tanya di dalam hatinya.

Belum cukup semua perkataan tajam Raegan padanya, Kaldera rupanya masih mencoba melunakkan hati Raegan. “Kita bisa selesaikan ini dengan kepala dingin dan nemuin pelaku sebenarnya. Aku mohon sama kamu, tolong cabut tuntutannya,” ucap Kaldera.

Raegan tidak habis pikir bahwa Kaldera justru berada di haluan yang sama dengan musuhnya. Kaldera mencoba menjelaskan pada Raegan, tapi pria itu keras kepala. Raegan tetaplah pria yang berpegangan kuat terhadap apa yang ia yakini benar.

“Saya katakan ini sama kamu untuk yang terakhir kali,” Raegan menatap Kaldera dengan tatapan tegasnya. “Saya tidak sudi untuk berhubungan dengan orang yang telah menyebabkan adik saya tiada. Saya bisa menemukan pelakunya dengan tangan saya sendiri,” tukas Raegan.

Seolah perkataan Raegan adalah telak dan tidak dapat diganggu gugat. Raegan memilih berlabuh menggunakan kapalnya sendiri dan tidak ingin bekerja sama dengan Kaldera maupun Kafka.

“Kalian bisa pergi dari ruangan saya,” ucap Raegan kemudian. Pria itu tidak segan-segan mengerahkan bodyguard-nya untuk mengantar Kaldera dan Kafka meninggalkan ruangannya.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Kaldera merasa bahwa keputusannya menolak permintaan Raegan adalah pilihan yang paling tepat. Kaldera tidak ingin Indri dan Raegan terlibat dengannya, yang artinya mereka harus berurusan juga dengan tantenya. Ini adalah yang terbaik, begitu pikir Kaldera.

Terkadang Kaldera masih menyalahkan apa yang sudah terjadi. Setelah kedua orang tuanya pergi, mengapa Tuhan kembali mengambil orang yang begitu ia cintai? Mengapa ia harus melalui hal seberat ini?

“Kaldera!” seruan yang memanggil namanya itu seketika membuat Kaldera menoleh. Di koridor lantai satu sekolahnya, Kaldera mendapati Icha tengah berlari ke arahnya.

Begitu Icha sampai di hadapannya, perempuan itu berusaha mengatur napasnya yang berkejaran.

“Lo kenapa Cha lari-lari gitu? Ngejar apa sih?” tanya Kaldera yang keheranan melihat tingkah sahabatnya itu.

Icha menghembuskan napasnya sebelum akhirnya berujar, “Lo harus tau ini, Kal. Itu si Aksa ditahan sama polisi!” seru Icha dengan wajah paniknya.

“Gue denger-denger dari anak OSIS, Aksa jadi tersangka kasusnya Zio, Kal ...” lanjut Icha, tatapannya turut prihatin.

Kaldera masih belum merespon Icha, hingga akhirnya Icha menggerakkan tangannya di depan wajah Kaldera untuk menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

“Kal, lo nggak tau apa-apa soal ini?” tanya Icha.

“Gue baru tau berita ini dari lo,” jawab Kaldera apa adanya. Ia memang tidak tahu menahu tentang Aksa yang ditahan.

Di tengah-tengah situasi itu, tiba-tiba seorang lelaki menghampiri Kaldera dan Icha. Lelaki itu adalah Kafka. Kafka adalah sepupu Aksa yang malam itu memberitahu Kaldera lokasi yang dituju Zio untuk membantu Aksa.

“Kal, gue tau lo akan anggap gue kurang ajar kalau gue bilang ini. Tapi gue mohon Kal, tolong bantu Aksa untuk bebas dari penjara. Gue yakin, bukan sepupu gue pelakunya.” Ucapan Kafka seketika membuat Kaldera menoleh dan menatap lelaki itu tepat di iris matanya. Kaldera nampak bingung harus merespon apa. Semua ini terasa bertubi-tubi datang menghampirinya.

“Kal, cuma lo yang bisa bujuk keluarga Zio untuk cabut tuntutannya. Zio sama Aksa sahabatan, Aksa nggak punya motif apapun untuk celakain Zio,” ujar Aksa lagi.

***

Kaldera telah setuju untuk membantu membebaskan Aksa dari tuntutan itu. Kaldera akan mencobanya, tapi ia tidak berjanji bahwa itu akan berhasil. Di sinilah Kaldera dan Kafka sekarang, di lobi sebuah gedung mewah pencakar langit yang merupakan kantor perusahaan batu bara ternama. Seseorang yang diduga membuat tuntutan tersebut, berada di gedung ini. Jadi mereka akan mencoba menemuinya untuk membicarakan tuntutan itu.

Begitu Kaldera dan Kafka sampai di pintu lobi, langkah keduanya ditahan oleh dua orang satpam berbadan tinggi dan besar.

“Mohon maaf, ada keperluan apa datang ke sini? Apakah sudah membuat janji untuk bertemu?” tanya salah seorang satpam.

Kaldera dan Kafka lantas saling berpandangan. Kaldera akhirnya membuka suara setelah menimang itu di dalam pikirannya. “Saya ingin bertemu dengan bapak Raegantara Rahagi. Saya sudah menelfon beliau, tapi belum mendapat respon,” jelas Kaldera.

“Kalau belum ada persetujuan dari beliau, mohon maaf Anda tidak bisa bertemu,” ujar satpam itu lagi.

“Tapi saya harus bertemu dengan beliau,” ucap Kaldera tetap berusaha mendapatkan izin masuk itu.

“Baik, kalau Anda memaksa. Saya akan sampaikan pada bapak Raegan. Tapi bisa jelaskan lebih dulu hubungan apa yang Anda miliki dengan beliau?”

***

Siang ini Raegan sedang berada di ruangannya ketika bodyguard-nya mengatakan bahwa ada seseorang yang bertekad untuk menemuinya.

“Calon istri?” tanya suara bariton itu. Raegan beranjak dari kursi kebesarannya, ia melempar tatapan tidak percaya pada bodyguard yang telah lama bekerja untuknya. Pasalnya Arjuna mengatakan bahwa orang yang ingin menemuinya adalah calon istrinya.

“Betul, Pak. Di luar ruangan Anda, ada seorang gadis delapan belas tahun yang mengaku sebagai calon istri Bapak. Saya tidak percaya karena dia tidak punya bukti apapun. Mohon maaf telah mengganggu waktu Bapak, saya akan mengurus ini segera,” ucap Arjuna dan hendak berbalik pergi dari hadapan Raegan.

“Tunggu,” ucap Raegan menghentikan langkah Arjuna.

“Dia gadis SMA?” tanya Raegan dengan matanya yang nampak memicing.

“Benar, Pak.”

“Izinkan dia masuk. Saya mengenalnya,” putus Raegan.

“Dia betul calon istri Bapak? Bukannya mbak Kaluela—”

“Tugas kamu di sini hanya melakukan apa yang saya perintahkan, bukan untuk mencampuri urusan pribadi saya,” tukas Raegan yang seketika membuat Arjuna bungkam.

***

Raegan menatap dua orang yang kini ada di hadapannya. Kaldera Ruby Rinjani, sosok kekasih almarhum adiknya. Gadis itu datang bersama seorang lelaki yang memiliki hubungan keluarga dengan tersangka pembunuh adiknya.

Raegan menatap Kaldera dengan tatapan datarnya. Pria itu tampak acuh dengan kehadiran Kaldera dan Kafka. Raegan menselancarkan jemarinya pada layar ipad di tangannya, tanpa berniat membuka pembicaraan terlebih dahulu.

“Kenapa Anda menuntut orang yang tidak bersalah?” akhirnya Kafka membuka suara.

Raegan yang mendengar kalimat itu, langsung menaruh ipad-nya di meja dengan gerakan sedikit kasar. Raegan mengarahkan tatapannya pada Kafka. “Kalau sepupu Anda tidak bersalah, polisi akan menyelidikinya dan menemukan bukti. Saya melakukan tuntutan bukan tanpa bukti yang kuat. Semua bukti jelas mengarah pada sepupu Anda,” tukas Raegan dengan satu tarikan napas.

“Anda bisa melakukan penyelidikan tanpa menghancurkan masa depan Aksa. Saya tau, Anda punya uang sehingga bisa membeli hukum dengan uang itu. Dengan mudahnya Anda memasukkan orang ke penjara,” ujar Kafka lagi.

Kaldera yang duduk di samping Kafka, mencegah lelaki itu untuk melanjutkan lagi ucapannya. Kaldera merasakan bahwa situasi yang tengah terjadi antara Kafka dan Raegan berangsur memanas. Dikhawatirkan jika semakin jauh, akan muncul permasalahan yang lebih besar lagi.

Tanpa Kafka memprediksinya, kalimat sembrononya itu telah menciptakan amarah yang kentara jelas di raut wajah Raegan. Raegan beranjak dari posisi duduknya, ia melangkah menuju Kafka dan berujar, “Lantas apa yang telah dilakukan sepupu kamu terhadap adik saya? Lebih dari menghancurkan, bukan?”

Berikutnya tatapan Raegan beralih pada Kaldera. Dari sorot mata itu, Kaldera dapat melihat ada kekecewaan.

“Kaldera, kamu nggak perlu ikut campur ke dalam urusan ini,” ucap Raegan.

“Aku punya alasan untuk ikut campur,” ujar Kaldera.

Raegan lantas menyunggingkan senyum smirk-nya. “Alasan apa yang buat kamu ada di pihak pembunuh pacar kamu, Kaldera?” Raegan masih di sana, menatap Kaldera dengan mata elangnya. Kaldera dapat merasakan tatapan tajam bercampur rasa kecewa yang dalam, saat iris legam Raegan menatapnya.

Kaldera bergeming di tempatnya, ia menunduk dan hanya dapat menatap ke arah lantai marmer hitam di ruangan ini.

“Aku nggak memihak siapa pun,” ucap Kaldera kemudian. Kaldera berusaha menatap Raegan meski rasanya Raegan dapat mengulitinya melalui sorot mata itu.

“Apa kamu nggak sadar kalau dia lagi manfaatin kamu untuk kepentingannya sendiri?” tanya Raegan. Pria itu menjeda ucapannya sesaat. Raegan menghela napasnya, lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar. “Dengar Kaldera, sekalipun kamu yang saya meminta untuk mencabut tuntutan itu, saya tidak akan melakukannya. Kamu memang orang yang dicintai adik saya, tapi itu tidak cukup untuk merubah keputusan saya.”

Semua perkataan Raegan rasanya seperti tamparan tak kasat mata bagi Kaldera. Benarkah bahwa Kaldera telah melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan? Kaldera bertanya-tanya di dalam hatinya.

Belum cukup semua perkataan tajam Raegan padanya, Kaldera rupanya masih mencoba melunakkan hati Raegan. “Kita bisa selesaikan ini dengan kepala dingin dan nemuin pelaku sebenarnya. Aku mohon sama kamu, tolong cabut tuntutannya,” ucap Kaldera.

Raegan tidak habis pikir bahwa Kaldera justru berada di haluan yang sama dengan musuhnya. Kaldera mencoba menjelaskan pada Raegan, tapi pria itu keras kepala. Raegan tetaplah pria yang berpegangan kuat terhadap apa yang ia yakini benar.

“Saya katakan ini sama kamu untuk yang terakhir kali,” Raegan menatap Kaldera dengan tatapan tegasnya. “Saya tidak sudi untuk berhubungan dengan orang yang telah menyebabkan adik saya tiada. Saya bisa menemukan pelakunya dengan tangan saya sendiri,” tukas Raegan.

Seolah perkataan Raegan adalah telak dan tidak dapat diganggu gugat. Raegan memilih berlabuh menggunakan kapalnya sendiri dan tidak ingin bekerja sama dengan Kaldera maupun Kafka.

“Kalian bisa pergi dari ruangan saya,” ucap Raegan kemudian. Pria itu tidak segan-segan mengerahkan bodyguard-nya untuk mengantar Kaldera dan Kafka meninggalkan ruangannya.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Kaldera telah pulih dari sakitnya dan menjalani kehidupannya seperti sediakala. Ia pergi ke sekolah, kerja kelompok bersama teman-temannya, dan pulang kembali ke rumah. Kaldera meminta cuti kepada atasannya untuk bekerja part time di restoran makanan cepat saji. Kondisinya dipantau secara berkala oleh dokter, dan kemarin Kaldera baru saja datang ke rumah sakit untuk kontrol terakhirnya. Dokter mengatakan, untuk sementara Kaldera tidak diperbolehkan melakukan banyak kegiatan yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatannya.

Kaldera memutuskan memulai kembali lembar hidupnya yang baru, hidupnya dengan tanpa Zio. Meskipun itu bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa secepat itu baginya untuk melupakan rasa sedihnya. Kehilangan seseorang yang dicintai adalah salah satu fase terberat yang harus dijalani oleh semua manusia. Namun memamg pada hakikatnya, orang datang dan pergi, bukan? Tugas Kaldera di hidup Zio telah selesai, begitu juga dengan tugas Zio di hidupnya, itu sudah berakhir.

Sore ini pukul sekitar pukul 3, Kaldera berjalan keluar dari gang sekolahnya. Setelah beberapa saat, Kaldera baru menyadari bahwa rintik hujan mulai turun. Tubuh Kaldera memang ada di sini, tapi separuh jiwanya seperti dibawa pergi bersama orang yang ia cintai. Rasanya Kaldera tidak lagi peduli pada hujan yang tengah mengguyur tubuhnya.

Kaldera menunggu angkutan umum di depan gang. Tidak ada tempat berteduh di sana, kalau Kaldera kembali lagi ke sekolah, itu juga percuma karena ia akan tetap basah.

Rintik hujan turun semakin deras, Kaldera hanya menutupi kepalanya dengan kedua tangan. Tidak lama berselang, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Kaldera mendongak dan segera mendapati seseorang tengah memayunginya.

Kaldera mendapati orang itu adalah Raegan. Ketika netranya bertemu dengan netra Raegan, perasaan Kaldera rasanya campur aduk. Perlahan bahu Kaldera terlihat terguncang dan isak tangisnya mulai terdengar memenuhi indera pendengaran Raegan.

“Kaldera,” ucap Raegan. Suara pria itu beradu dengan derasnya hujan, tapi Kaldera masih dapat mendengarnya. Tinggi Kaldera yang hanya sebatas dada Raegan, membuatnya harus mendongak untuk menatap pria jangkung itu.

“Apa yang Redanzio lakukan untuk menghibur kamu saat kamu sedih seperti ini?” tanya Raegan.

Bukan hanya Kaldera yang basah oleh air hujan, tapi perlahan-lahan rintik itu mulai membasahi bahu Raegan. Jika mereka tidak lekas beranjak dari sana, mungkin keduanya akan sama-sama terserang flu setelah ini.

“Apapun itu, saya akan melakukannya untuk kamu,” sambung Raegan. Detik berikutnya, Raegan menarik Kaldera mendekat saat Kaldera justru akan bergerak menjauhinya.

Di tengah rintik hujan yang menghantam tanah yang dipijaknya, Kaldera mendapati seseorang tengah berusaha melindunginya. Saat Kaldera tidak lagi peduli terhadap dirinya, pria itu pertama kali rela basah-basahan dengan stelan jas kantornya hanya karena berbagi payung bersamanya.

***

Kaldera terlihat begitu menikmati es krimnya meskipun di luar hujan masih mengguyur dan udara terasa dingin. Namun sepertinya hanya makanan ini yang mampu membuat Kaldera merasa lebih baik. Jadi Kaldera mengatakan pada Raegan bahwa ia hanya ingin makan es krim.

Di tengah-tengah kegiatannya, Kaldera menoleh kepada Raegan. Rambut hitam Raegan yang jadi setengah basah sama sepertinya, membuat Kaldera mengulaskan senyum sungkan ke arah pria itu.

“Mas, kita lupain aja wasiat itu. Kita bisa jalanin kehidupan masing-masing,” ucap Kaldera, lalu perempuan itu kembali menyantap es krim vanilanya.

“Kenapa kamu mau ngelupain wasiat itu?” tanya Raegan. Sepertinya Kaldera memang tidak bisa menghindari pertanyaan tersebut. Namun Kaldera juga tidak dapat menjelaskan alasannya kepada Raegan.

Kaldera mengetahui watak tantenya, jadi waktu Raegan menanyakan soal wasiat, Kaldera memutuskan untuk menolak.

“Kaldera, saya ingin menjadikan kamu bagian dari keluarga kami. Sesuai yang diinginkan Zio, saya akan mengambil pilihan yang pertama. Saya sudah diskusi sama mama dan beliau juga setuju. Mama mau menjadikan kamu anak angkatnya,” jelas Raegan.

Kaldera lantas menoleh pada Raegan, ia berusaha memberi pengertian lewat tatapan matanya. Kaldera pada akhirnya tetap menolak Raegan, tapi tidak memberi tahu alasannya.

“Paling nggak kasih tau saya alasannya, Kaldera,” ucap Raegan yang masih berusaha membujuk Kaldera.

Kaldera terdiam sesaat, ia mengalihkan tatapannya dari Raegan pada jalanan di depannya. “Aku nggak mau ngerepotin siapa pun. Apa yang udah kamu dan tante Indri lakuin buat aku kemarin, aku bersyukur dan berterima kasih. Tapi aku pikir semuanya cukup sampai di sana,” ujar Kaldera.

Pada akhirnya Raegan memang tidak bisa memaksa Kaldera untuk mengubah keputusannya. Saat es krim Kaldera telah habis dan jalanan tampak terang karena hujan angin yang mulai reda, Raegan memutuskan menjalankan mobilnya untuk mengantar Kaldera pulang.

Ketika mobil Raegan sampai di depan sebuah gang, Kaldera memintanya untuk berhenti di sana. Sikap Kaldera yang tidak mau Raegan mengantarnya sampai ke depan rumahnya, membuat Raegan merasakan ada sesuatu yang aneh.

Sebelum turun dari mobil, Kaldera menoleh pada Raegan dan berujar, “Mas, makasih ya untuk hari ini.”

Raegan hanya mengangguk sekilas dan membiarkan Kaldera melangkah keluar dari mobilnya. Sepeninggalan Kaldera, Raegan rupanya memikirkan sesuatu tentang gadis itu.

Sikap Kaldera yang menjaga jarak justru membuat Raegan semakin penasaran terhadapnya. Tidak mungkin Zio memintanya untuk menjaga Kaldera, kalau tahu gadis itu dapat menjaga dirinya sendiri. Selain itu, pasti ada alasan di balik sikap Kaldera yang terang-terangan menolak permintaannya.

Sampai punggung Kaldera sudah tidak terlihat lagi oleh Raegan, pria itu masih di sana. Raegan belum berniat menjalankan kembali mobilnya. Raegan merasakan ada sesuatu yang aneh dan berniat mencari tahu lebih jauh tentang kekasih almarhum adiknya itu.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Hasil laboratorium telah keluar dan mendiagnosa bahwa Kaldera mengalami penyakit tipes. Sehingga untuk beberapa hari ke depan, Kaldera perlu menjalani rawat inap di rumah sakit.

Ini sudah hari ketiga sejak Kaldera menjalani perawatan di ruang VVIP itu. Kaldera beberapa kali menghubungi tantenya, tapi tidak ada jawaban dari Laura. Dari peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi di hidupnya, Kaldera bersyukur mendapati kenyataan bahwa ia masih memiliki seseorang di sisinya. Terlebih saat Kaldera hanya dapat terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia tidak sendirian.

Saat tahu dari Raegan bahwa Kaldera sakit, Indri langsung datang. Beliau merawat Kaldera dan memperlakukannya selayak Kaldera adalah anaknya sendiri. Indri sungguh ingin melakukannya. Indri mengatakan pada Kaldera, ia ingin memberikan kasih sayang pada Kaldera karena belum sempat sepenuhnya memberikan itu untuk Zio.

Sore ini setelah menyantap makanannya dan perawat datang untuk mengganti cairan infusnya, Kaldera tengah mencoba untuk tidur. Meskipun hanya dapat menyuap 3 sendok nasi, setidaknya perutnya terisi, itu sudah cukup baik menurut yang dikatakan oleh dokter. Napsu makan Kaldera memang berkurang drastis, hal itu juga dikarenakan oleh obat yang harus dikonsumsinya.

“Tante pulang aja nggak papa. Kaldera bisa sendiri di sini,” ucap Kaldera pada Indri, sebelum kedua matanya hampir terpejam.

“Tante tungguin kamu sampe Raegan dateng ya. Tante nggak tega ninggalin kamu,” balas Indri sembari mengusap punggung tangan Kaldera dan menatapnya dengan tatapan penuh sayang.

Lagi-lagi Kaldera tidak dapat menolak perlakuan baik keluarga Zio terhadapnya. Berikutnya Kaldera menampakkan senyum kecilnya, sebelum akhirnya perlahan netranya mulai terpejam karena rasa kantuk yang menghampiri.

***

Sekitar pukul 5 sore, Raegan sampai di ruang rawat Kaldera dan mendapati Kaldera tengah tertidur. Mamanya masih menunggui Kaldera dan hampir terlelap juga di sofa bed di sisi kanan ruangan itu.

“Mah, Mama pulang aja ya? Biar Raegan yang di sini,” ucap Raegan ketika Indri menyadari kehadirannya di sana.

“Kerjaan kamu di kantor udah selesai semua?” Indri bertanya.

Raegan segera mengangguk untuk menjawab pertanyaan mamanya.

“Oke, kalau gitu Mama bisa tenang,” ucap Indri.

“Kenapa Mama nanyain kerjaan aku udah selesai atau belum?” tanya Raegan.

Indri bergerak mengambil tas tangannya di meja dekat sofa. Kemudian wanita berusia 50 tahunan itu merapikan rambut sebahunya yang sedikit berantakan. “Mama tau pekerjaan adalah yang utama buat kamu, Raegan. Tapi sekarang Mama minta tolong sama kamu. Tolong jaga Kaldera seperti kamu menjaga Zio waktu adikmu kecil,” Indri terlihat mengalihkan tatapannya dari kedua mata Raegan, wanita itu tengah berusaha menahan air matanya yang siap untuk meluncur.

“Iya, Mama tenang aja. Malam ini Raegan yang jaga Kaldera di sini,” ujar Raegan.

***

Ketika Kaldera terbangun dari tidurnya, ia pikir ia akan mendapati Raegan di sana. Namun Kaldera justru menemukan tantenya di ruang rawatnya. Bukannya nampak khawatir dengan Kaldera, Laura justru terlihat tersenyum cerah dan ekspresi wajahnya begitu semringah.

Kaldera tidak mengucapkan apapun, ia hanya mengalihkan tatapannya ke arah lain, yang jelas selain ke arah Laura.

“Kaldera, kalau Tante tau kamu sakit dan dirawat di ruang VVIP kayak gini, Tante bisa ninggalin kerjaan dan ke sini secepatnya. Kamu nggak bilang ke Tante kalau keluarga almarhum pacar kamu seroyal ini sama kamu,” ucap Laura panjang lebar.

“Tante tau dari mana aku dirawat di sini?” tanya Kaldera begitu ia menoleh ke arah Laura. Kaldera melihat tantenya tengah mengemil makanan manis di meja samping tempat tidurnya. Selama Kaldera dirawat di sini dan napsu makannya berkurang, Raegan kerap kali membelikan beberapa makanan untuknya. Kaldera menduga Raegan tadi datang saat ia tidur dan lagi-lagi membawakan makanan untuknya.

“Kenapa kamu nanya soal itu? Kamu nggak suka Tante dateng ke sini? Kayaknya kamu udah nyaman banget ya nikmatin semua fasilitas di tempat ini,” Laura beranjak dari posisi duduknya, ia mengambil sebuah cookies coklat di meja. Kemudian Laura berjalan ke arah lemari di ruang rawat itu, ia membukanya dan memperhatikan beberapa stel baju yang ada di sana. “Makanan, baju, kamar rawat yang mewah, kakaknya pacar kamu itu siapa namanya, ohiya, Raegan. Dia udah kayak ATM berjalan. Mungkin dia bisa beliin apapun yang kamu minta—”

“Tante, cukup,” tukas Kaldera menghentikan ucapan Laura.

Laura lantas menatap Kaldera dengan tatapan tidak suka. Lagi dan lagi, Kaldera harus dihadapkan pada sifat tantenya yang hanya mengutamakan soal uang.

“Tante, kalau aku sekali lagi denger Tante ngomong kayak gitu, aku bisa minta tolong sama satpam untuk bawa Tante keluar dari sini,” Kaldera menjeda ucapannya sesaat karena tiba-tiba dadanya terasa sesak.

“Kamu mau ngelakuin itu?” sarkas Laura, ia kembali berjalan menghampiri Kaldera. “Sayangnya, Raegan udah percaya sama Tante, Kaldera. Raegan percaya kalau Tante adalah yang terbaik yang udah ngerawat kamu selama ini, Sayang. Mungkin kalau kamu nggak bisa sama adiknya, kamu bisa ngambil hati kakaknya. Kamu bisa pakai wajah cantik kamu itu kan, Kaldera?”

“Tante, ini terakhir kalinya Kaldera ingetin ke Tante. Kaldera nggak akan biarin Tante nyentuh keluarganya Zio sedikit pun. Tante inget itu,” tegas Kaldera sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Laura.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Satu minggu kemudian

Bel pulang sekolah telah berbunyi beberapa saat yang lalu. Di kelas 12 IPS 3, terlihat Kaldera masih merapikan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas putihnya. Icha, teman sebangku Kaldera, menatapnya dengan tatapan khawatir. Pasalnya kondisi Kaldera nampak mengkhawatirkan. Sahabatnya itu terlihat murung dan lebih sering melamun.

“Kal, habis ini lo nggak langsung balik, kan?” tanya Icha yang sudah lebih dulu selesai merapikan barang-barangnya.

“Iya, Cha. Gue harus nemuin bu Tata dulu di ruang guru,” jawab Kaldera.

“Gue temenin lo sampe selesai, gimana? Nanti kita pulang bareng aja,” ujar Icha.

“Nggak papa Cha, gue bisa balik sendiri kok. Lo pulang aja ya,” ujar Kaldera sambil menampakkan senyum kecilnya.

Icha akhirnya menerima keputusan Kaldera. Mungkin sahabatnya memang sedang membutuhkan ruang untuk sendiri. Kehilangan seseorang yang disayangi bukanlah hal yang mudah. Melupakan pun juga membutuhkan waktu. Namun sepertinya sosok Zio selamanya tidak akan terlupakan di hati Kaldera.

***

Kaldera sedang menjalani hukuman yang diberikan oleh bu Tata, guru mata pelajaran matematika di sekolahnya. Kaldera ketahuan melamun di kelas dan tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh gurunya. Berakhirlah saat ini Kaldera harus menulis rumus mencari quartil 2 pada tiga lembar kertas folio, sebagai tanda bahwa ia menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Begitu Kaldera teringat akan sesuatu, tangannya yang sebelumnya menulis tiba-tiba terhenti. Kaldera memang paling lemah di pelajaran matematika. Kala itu, ada seseorang yang begitu sabar yang rela mengajarinya sampai ia mengerti.

Redanzio.

Kaldera lagi-lagi teringat lelaki itu. Baru saja satu minggu sejak kepergian Zio, rasanya Kaldera sudah begitu rindu. Rindunya terasa begitu menyakitkan, karena ia tidak dapat bertemu sosok itu lagi untuk selamanya.

Kaldera menghembuskan napasnya panjang, lalu ia memutuskan untuk kembali melanjutkan menulis. Kaldera ingin cepat pulang ke rumah dan pergi tidur, berharap rasa sakitnya dapat reda atau setidaknya ia bisa bertemu dengan Zio meskipun hanya di dalam mimpi.

Berada di sekolah semakin mengingatkannya kepada Zio. Tempat ini telah menyimpan begitu banyak kenangan untuk Kaldera dan Zio. Tempat yang dulu paling suka Kaldera datangi, kini justru berubah menjadi momok baginya.

“Kaldera, apa tugas dari Ibu sudah selesai?” suara bu Tata membuat Kaldera seketika menoleh.

“Sudah saya selesaikan, Bu,” ucap Kaldera sembari menyerahkan kertas di tangannya kepada bu Tata.

Wanita yang merupakan gurunya itu lantas tampak terkejut, begitu melihat cairan merah kental mengalir dari hidung Kaldera.

“Kaldera, kamu mimisan, Nak. Ayo, Ibu antar kamu ke UKS sekarang ya. Ya ampun, kamu kenapa nggak bilang kalau sakit,” ucap bu Tata dengan nadanya yang terdengar panik.

Kaldera tidak sadar terhadap apa yang terjadi pada dirinya. Apakah benar ia sakit? Namun mengapa tubuhnya seolah sudah kebal, hingga tidak dapat lagi merasakan rasa sakit itu?

***

Perlahan-lahan Kaldera mencoba untuk membuka matanya. Tubuhnya terasa kurang bertenaga dan kepalanya sedikit pusing. Begitu menoleh ke sampingnya, Kaldera tidak menemukan siapa pun di ruang UKS sekolahnya itu. Namun samar-samar dari balik bilik pembatas, Kaldera dapat mendengar percakapan petugas kesehatan UKS dengan seseorang.

“Saya sudah coba menghubungi kontak walinya Kaldera. Tapi beliau tidak mengangkat telfonnya. Jadi saya menghubungi nomor terakhir yang ada di riwayat panggilan hpnya Kaldera,” ujar petugas kesehatan itu.

“Apakah Bapak walinya Kaldera? Atau mungkin Bapak bisa jelaskan pada saya hubungan Anda dengan Kaldera?”

Beberapa detik setelah itu, Kaldera dapat mendengar jawaban dari orang yang berbicara dengan petugas perempuan itu.

“Perkenalkan Bu, saya Raegan. Saya adalah walinya Kaldera,” ujar suara berat lelaki itu.

“Baik, Pak Raegan. Kalau begitu, saya ingin menyampaikan sesuatu mengenai kondisi Kaldera. Berdasarkan info yang saya dapat dari wali kelas Kaldera dan guru mata pelajaran lainnya, beberapa kali Kaldera sempat pingsan di sekolah dan hari ini dia mengalami mimisan. Saya harap setelah Bapak mengetahui hal ini, Bapak dapat lebih memperhatikan kondisi kesehatan Kaldera.”

***

Siang tadi Raegan mendapat telfon saat ia sedang berada di kantornya. Panggilan itu berasal dari nomor tidak dikenal yang ternyata merupakan nomor sekolah Kaldera. Raegan akhirnya datang setelah dapat informasi bahwa Kaldera sakit.

Saat ini Raegan dalam perjalanan bersama Kaldera. Raegan sudah mengatakan bahwa ia akan melakukan yang diminta oleh petugas kesehatan di sekolah Kaldera.

“Ayo, kita turun,” ucap Raegan setelah tangannya menarik rem mobilnya.

Kaldera mengangguk pelan, ia tidak bisa menolak saat Raegan membawanya untuk berobat ke rumah sakit. Begitu mereka sampai di ruangan dokter dan Kaldera diperiksa, dokter meminta agar Kaldera melakukan tes laboratorium.

Kaldera dan Raegan menunggu hasil lab, mereka duduk bersebelahan di kursi ruang tunggu. Tidak ada yang memulai percakapan, sampai akhirnya Kaldera mengucapkan permintaan maaf pada Raegan.

“Maaf udah ngerepotin kamu,” ucap Kaldera sambil menoleh ke arah Raegan.

“Kenapa kamu nggak angkat telfon dari saya?” Raegan malah mempertanyakan hal lain. Kaldera terlihat sedikit terkejut mendapati pertanyaan Raegan.

“Kamu juga mengabaikan chat dari saya,” tambah Raegan lagi.

Kaldera sedikit bersyukur ketika seorang perawat menghampiri mereka. Hasil laboratoriumnya telah keluar, otomatis pembicaraannya dengan Raegan terhenti begitu saja. Kaldera dapat menghindari pertanyaan Raegan, soal mengapa ia mengabaikan pesan Raegan saat lelaki itu membahas wasiat yang Zio berikan.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Satu minggu kemudian

Bel pulang sekolah telah berbunyi beberapa saat yang lalu. Di kelas 12 IPS 3, terlihat Kaldera masih merapikan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas putihnya. Icha, teman sebangku Kaldera, menatapnya dengan tatapan khawatir. Pasalnya kondisi Kaldera nampak mengkhawatirkan. Sahabatnya itu terlihat murung dan lebih sering melamun.

“Kal, habis ini lo nggak langsung balik, kan?” tanya Icha yang sudah lebih dulu selesai merapikan barang-barangnya.

“Iya, Cha. Gue harus nemuin bu Tata dulu di ruang guru,” jawab Kaldera.

“Gue temenin lo sampe selesai, gimana? Nanti kita pulang bareng aja,” ujar Icha.

“Nggak papa Cha, gue bisa balik sendiri kok. Lo pulang aja ya,” ujar Kaldera sambil menampakkan senyum kecilnya.

Icha akhirnya menerima keputusan Kaldera. Mungkin sahabatnya memang sedang membutuhkan ruang untuk sendiri. Kehilangan seseorang yang disayangi bukanlah hal yang mudah. Melupakan pun juga membutuhkan waktu. Namun sepertinya sosok Zio selamanya tidak akan terlupakan di hati Kaldera.

***

Kaldera sedang menjalani hukuman yang diberikan oleh bu Tata, guru mata pelajaran matematika di sekolahnya. Kaldera ketahuan melamun di kelas dan tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh gurunya. Berakhirlah saat ini Kaldera harus menulis rumus mencari quartil 2 pada tiga lembar kertas folio, sebagai tanda bahwa ia menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Begitu Kaldera teringat akan sesuatu, tangannya yang sebelumnya menulis tiba-tiba terhenti. Kaldera memang paling lemah di pelajaran matematika. Kala itu, ada seseorang yang begitu sabar yang rela mengajarinya sampai ia mengerti.

Redanzio.

Kaldera lagi-lagi teringat lelaki itu. Baru saja satu minggu sejak kepergian Zio, rasanya Kaldera sudah begitu rindu. Rindunya terasa begitu menyakitkan, karena ia tidak dapat bertemu sosok itu lagi untuk selamanya.

Kaldera menghembuskan napasnya panjang, lalu ia memutuskan untuk kembali melanjutkan menulis. Kaldera ingin cepat pulang ke rumah dan pergi tidur, berharap rasa sakitnya dapat reda atau setidaknya ia bisa bertemu dengan Zio meskipun hanya di dalam mimpi.

Berada di sekolah semakin mengingatkannya kepada Zio. Tempat ini telah menyimpan begitu banyak kenangan untuk Kaldera dan Zio. Tempat yang dulu paling suka Kaldera datangi, kini justru berubah menjadi momok baginya.

“Kaldera, apa tugas dari Ibu sudah selesai?” suara bu Tata membuat Kaldera seketika menoleh.

“Sudah saya selesaikan, Bu,” ucap Kaldera sembari menyerahkan kertas di tangannya kepada bu Tata.

Wanita yang merupakan gurunya itu lantas tampak terkejut, begitu melihat cairan merah kental mengalir dari hidung Kaldera.

“Kaldera, kamu mimisan, Nak. Ayo, Ibu antar kamu ke UKS sekarang ya. Ya ampun, kamu kenapa nggak bilang kalau sakit,” ucap bu Tata dengan nadanya yang terdengar panik.

Kaldera tidak sadar terhadap apa yang terjadi pada dirinya. Apakah benar ia sakit? Namun mengapa tubuhnya seolah sudah kebal, hingga tidak dapat lagi merasakan rasa sakit itu?

***

Perlahan-lahan Kaldera mencoba untuk membuka matanya. Tubuhnya terasa kurang bertenaga dan kepalanya sedikit pusing. Begitu menoleh ke sampingnya, Kaldera tidak menemukan siapa pun di ruang UKS sekolahnya itu. Namun samar-samar dari balik bilik pembatas, Kaldera dapat mendengar percakapan petugas kesehatan UKS dengan seseorang.

“Saya sudah coba menghubungi kontak walinya Kaldera. Tapi beliau tidak mengangkat telfonnya. Jadi saya menghubungi nomor terakhir yang ada di riwayat panggilan hpnya Kaldera,” ujar petugas kesehatan itu.

“Apakah Bapak walinya Kaldera? Atau mungkin Bapak bisa jelaskan pada saya hubungan Anda dengan Kaldera?”

Beberapa detik setelah itu, Kaldera dapat mendengar jawaban dari orang yang berbicara dengan petugas perempuan itu.

“Perkenalkan Bu, saya Raegantara. Saya adalah walinya Kaldera,” ujar suara berat lelaki itu.

“Baik, Pak Raegan. Kalau gitu, saya ingin menyampaikan sesuatu soal kondisi Kaldera. Beberapa kali Kaldera sempat pingsan di sekolah dan hari ini dia mengalami mimisan. Saya harap setelah Bapak tau hal ini, Bapak dapat lebih memperhatikan kondisi kesehatan Kaldera.”

***

Siang tadi Raegan mendapat telfon saat ia sedang berada di kantornya. Panggilan itu berasal dari nomor tidak dikenal yang ternyata merupakan nomor sekolah Kaldera. Raegan akhirnya datang setelah dapat informasi bahwa Kaldera sakit.

Saat ini Raegan dalam perjalanan bersama Kaldera. Raegan sudah mengatakan bahwa ia akan melakukan yang diminta oleh petugas kesehatan di sekolah Kaldera.

“Ayo, kita turun,” ucap Raegan setelah tangannya menarik rem mobilnya.

Kaldera mengangguk pelan, ia tidak bisa menolak saat Raegan membawanya untuk berobat ke rumah sakit. Begitu mereka sampai di ruangan dokter dan Kaldera diperiksa, dokter meminta agar Kaldera melakukan tes laboratorium.

Kaldera dan Raegan menunggu hasil lab, mereka duduk bersebelahan di kursi ruang tunggu. Tidak ada yang memulai percakapan, sampai akhirnya Kaldera mengucapkan permintaan maaf pada Raegan.

“Maaf udah ngerepotin kamu,” ucap Kaldera sambil menoleh ke arah Raegan.

“Kenapa kamu nggak angkat telfon dari saya?” Raegan malah mempertanyakan hal lain. Kaldera terlihat sedikit terkejut mendapati pertanyaan Raegan.

“Kamu juga mengabaikan chat dari saya,” tambah Raegan lagi.

Kaldera sedikit bersyukur ketika seorang perawat menghampiri mereka. Hasil laboratoriumnya telah keluar, otomatis pembicaraannya dengan Raegan terhenti begitu saja. Kaldera dapat menghindari pertanyaan Raegan, soal mengapa ia mengabaikan pesan Raegan saat lelaki itu membahas wasiat yang Zio berikan.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Kaldera menatap pintu ruang UGD yang beberapa detik lalu baru saja ditutup. Sepanjang perjalanan sampai tiba di rumah sakit, Kaldera tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Pikirannya sungguh kalut, hingga ia hanya dapat memikirkan kondisi Zio.

Kafka yang melihat hancurnya Kaldera ikut merasa terpukul. Saat lelaki itu hendak menghampiri kekasih sahabatnya, Kaldera rupanya sudah lebih dulu mendongak dan menatapnya. Kilatan mata Kaldera memancarkan kekecewaan dan emosi yang begitu mendalam.

Detik berikutnya, Kaldera mengalihkan tatapannya kepada Aksa yang berdiri tidak jauh darinya. Dengan langkah lebarnya, Kaldera berjalan menghampiri Aksa.

Kaldera yang tidak dapat berpikir jernih, menyalahkan Aksa atas apa yang terjadi pada Zio. Aksa juga merasa bersalah, ia tidak menduga kejadiaannya akan berakhir seperti ini.

“Kal, maafin gue ... ” ucap Aksa dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Kaldera menatap Aksa dengan matanya yang berkaca-kaca. “Kalau Zio sampai kenapa-napa, kata maaf lo nggak ada artinya Sa,” ucap Kaldera, air matanya luruh lagi membasahi pipinya.

Tidak lama berselang setelah Kaldera kembali ke kursinya, ia mendapati kedatangan dua orang yang penting di hidup Zio. Tante Indri dan mas Raegan, mama dan kakaknya Zio, mereka ada di sana.

Sosok pria jangkung berparas tegas yang merupakan kakaknya Zio itu berbicara pada salah satu perawat yang sebelumnya membawa Zio ke ruang UGD. Perawat itu menjelaskan pada Raegan soal apa yang terjadi dengan Zio. Kaldera masih berdiri di tempatnya, menyaksikan Indri berderai air mata dan beliau terlihat menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.

Sekitar 30 menit berlalu, pintu ruang UGD terbuka dan menampakkan seorang perawat di sana. Indri dan Raegan segera berdiri dari posisi duduknya untuk mengetahui perkembangan kondisi Zio.

“Kondisi pasien sempat membaik beberapa saat lalu, tapi kini kondisinya kembali memburuk. Pasien meminta untuk bertemu dengan dua orang,” ujar perawat dengan jubah kesehatan berwarna hijau itu.

Setelah itu semua yang ada di sana saling melempar pandangan. “Untuk saudara Kaldera dan Raegantara, silakan ikut saya ke dalam.”

***

Ini pertama kalinya Kaldera melihat sosok itu. Raegantara Rahagi Gumilar, seorang kakak yang selama ini sering Zio ceritakan padanya. Kini di ruang UGD itu, Kaldera berada di sisi kanan ranjang Zio, sementara Raegan berada di sisi kirinya.

Zio memejamkan kedua matanya sesaat, sebelum akhirnya membuka lagi. Zio menatap Kaldera, pandangannya nampak sendu, tapi lelaki itu tetap mencoba untuk mengulaskan sebuah senyum. “Kal,” ucap Zio, ia mengarahkan tangannya untuk mengusap jejak sungai di pipi Kaldera.

Berikutnya Zio mengalihkan tatapannya kepada Raegan. “Mas, gue punya satu permohonan sama lp. Kalau nanti gue nggak bisa bertahan, gue minta tolong lo buat jagain Kaldera. Gue cuma percaya sama lo,” ucap Zio dengan susah payah, hembusan napasnya terdengar berat dan melemah.

Raegan tidak merespon ucapan adiknya itu. Baginya kalimat Zio hanyalah sebuah lelucon. Adiknya bisa bertahan, dan Raegan mempercayai hal tersebut.

Detik berikutnya Zio meraih tangan Kaldera, ia meminta Raegan menggenggam tangan kekasihnya. “Mas, dia berarti banget buat gue. Tolong ya, gue titip dia sama lo,” ujar Zio.

Setelah Zio mengucapkannya, Kaldera menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Kaldera menggelengkan kepalanya dengan kuat, ia tidak ingin mempercayai itu.

“Zio, kamu ngomong apa. Kamu bisa bertahan,” ucap Kaldera.

Seolah ucapan Kaldera hanyalah angin lalu, Zio kembali melanjutkan perkataannya. Zio mengatakan bahwa ini adalah wasiat terakhirnya sebelum ia pergi. Zio mempunyai firasat bahwa ia tidak akan bisa bertahan. Rasanya terlalu sakit, ia ingin tetap di sini, tapi seolah takdir tidak mengizinkannya.

“Mas Raegan, gue ngasih lo dua pilihan,” ucap Zio lagi.

“Lo nggak perlu wasiat itu, Zio. Lo bisa bertahan. Gue panggil dokter dulu ya—” ucapan Raegan seketika terhenti berkat Zio yang segera menahan lengannya.

Zio mengatakan pada Raegan bahwa ia ingin menjadikan Kaldera bagian dari keluarga mereka. Zio tidak dapat memikirkan apa pun saat ini, meski keluarganya rumit, tapi ia yakin bahwa Raegan dapat menjaga Kaldera dengan baik.

Wasiat Zio berisi dua pilihan. Pilihan yang pertama adalah Zio ingin keluarganya mengangkat Kaldera menjadi anak, yang mana artinya Kaldera akan menjadi adik bagi Raegan dan anak kedua bagi Indri. Sementara pilihan yang kedua adalah menjadikan Kaldera menantu keluarga Gumilar. Untuk pilihan kedua itu, Zio meminta Raegan mencoba mencintai Kaldera dan menikahi kekasih adik kandungnya sendiri.

***

Kaldera menyapukan pandangannya pada penjuru rumah megah dengan dominan warna putih, tempat di mana saat ini ia menginjakkan kakinya. Di ruang tamu rumah tersebut, terdapat satu figura yang berukuran cukup besar. Di sana Kaldera dapat melihat potret sebuah keluarga kecil yang nampak begitu bahagia. Keluarga yang lengkap, sebuah keinginan yang terasa sederhana, tapi Zio tidak lagi memilikinya.

Di rumah besar ini, Kaldera akhirnya mengerti rasa kesepian yang selama ini Zio rasakan. Setelah ini pasti Zio akan lebih merasa kesepian. Zio telah pergi, meninggalkan semua orang yang ia cintai yang hari ini akan mengantar kepulangannya untuk selamanya.

Tatapan Kaldera terlihat kosong dan ia tidak mempedulikan orang-orang yang tengah berlalu lalang. Ketika mereka mengucapkan belasungkawa kepadanya, Kaldera hanya menoleh dan menatap dengan pandangan tanpa arti.

Satu persatu pelayat mulai bergerak meninggalkan rumah duka untuk pergi ke pemakaman. Namun Kaldera masih duduk di salah satu kursi plastik di halaman rumah itu, ditemani beberapa karangan bunga yang merupakan simbol ucapan belasungkawa. Sebuah mobil ambulans baru saja membawa kekasih hatinya pergi, hati Kaldera sangat sakit dan terasa seperti diremas dengan begitu kuat.

“Kal,” panggil seseorang yang suaranya terasa fameliar. Atas panggilan itu, Kaldera akhirnya menoleh. Kaldera mendapati Risa, salah satu mantan pacar Zio yang Kaldera kenal dengan sangat baik.

Seketika tangis Kaldera kembali pecah. Kaldera tidak dapat membendungnya lagi dan saat itu juga Risa segera meraih Kaldera ke dalam pelukannya. Risa berusaha memberi kekuatan pada Kaldera, meskipun ia tahu mungkin itu tidak berarti terlalu besar untuk Kaldera.

“Kal, Zio beruntung banget punya lo. Lo tau, lo selamanya akan selalu ada di hati dia,” tutur Risa sembari mengusapkan tangannya di punggung Kaldera.

***

Di sore yang tampak cukup cerah, Kaldera terlihat berjalan bersisian dengan Indri menuju ke sebuah area pemakaman. Wanita yang merupakan ibu dari kekasihnya itu memeluk lengan Kaldera, mereka sama-sama mencoba saling menguatkan, meskipun tidak tahu sampai mana usaha tersebut akan berhasil.

Setelah berjalan melewati lapangan golf yang cukup luas, mereka akhirnya ampai di pemakaman. Sebenarnya pemakaman ini memiliki dua jalan untuk sampai ke sana, tapi Indri mengatakan pada Kaldera bahwa ia ingin melewati lapangan golf. Indri ingin mempersiapkan hatinya dan menenangkan pikirannya sejenak, sebelum ia harus mengantar Zio pergi untuk selamanya.

Raegan berjalan di belakang Indri dan Kaldera. Dari luar mungkin pria itu terlihat seperti sosok yang paling kuat menghadapi kepergian adiknya. Namun tidak ada yang tahu, bahwa Raegan tengah mati-matian menahan kehancurannya. Kalau ia hancur, maka mamanya akan lebih hancur saat tidak memiliki tempat untuk bersandar. Raegan tidak boleh terlihat lemah, ia menanamkan hal tersebut di dalam pikirannya.

Pemakaman akhirnya berjalan sebagaimana mestinya. Tanah coklat itu perlahan-lahan mulai mengubur sosok yang menjadi cinta bagi semua yang mengantar kepergiannya sore ini. Semua kenangan tentang Redanzio yang tersisa, akan menjadi memori di dalam hati. Begitu tanah telah sempurna tertutup dan sebuah nisan marmer hitam dipasang, Raegan mendapati kehadiran papanya di sana.

Kaldera yang berada di samping Raegan, melihat lelaki itu melangkah menuju seorang pria berusia 50 tahunan di sana. Kaldera menebak bahwa sosok yang dihampiri Raegan itu adalah papanya Zio.

“Kaldera, kita tabur bunganya bareng ya Sayang,” ucap Indri yang langsung mengalihkan perhatian Kaldera.

Kaldera mengangguk pelan. Kemudian ia mengambil bunga di keranjang dan menaburkannya di atas pusara Zio, diikuti oleh Indri yang melakukan hal yang sama dengannya.

Kaldera mengusap sekilas batu nisan itu. Ia berusaha menahan air matanya, tapi air bening itu mengalir lagi untuk yang kesekian kalinya. Beberapa saat kemudian, setelah memanjatkan doa, para pelayat satu persatu mulai meninggalkan tempat itu. Langit tampak menggelap, Kaldera mendongak menatap awan yang sudah berubah menghitam.

“Indri, maaf saya datangnya telat,” ucap sebuah suara yang lantas menginterupsi Indri dan Kaldera.

Indri menoleh pada sosok itu, ia bangkit dari posisi berlututnya di samping makam Zio.

“Makasih kamu sudah datang,” Indri hanya mengucapkan itu sembari mengulaskan sebuah senyum getir.

Kaldera menyaksikannya dengan mata kepalanya. Saat Satrio, papanya Zio, mengucapkan kata maafnya pada Raegan dan Indri, Raegan terang-terangan bersikap dingin dan seperti enggan menanggapi papanya.

Akhirnya untuk yang pertama kali, Kaldera bertemu dengan seluruh anggota keluarga Zio. Papanya Zio ada di sana, beliau datang bersama beberapa ajudannya. Seperti yang Zio sering ceritakan padanya, papanya adalah pejabat negara yang cukup sibuk dengan pekerjaannya. Zio selalu mencoba mengerti kala papanya tidak dapat hadir di hari pentingnya. Saat olimpiade olahraga basketnya, saat hari kelulusan SMP-nya, atau bahkan saat hari ulang tahunnya.

Dari sekian banyak tempat di dunia ini, Kaldera mempertanyakan, mengapa harus di sini orang-orang yang Zio cintai akhirnya dapat berkumpul? Mengapa mereka berkumpul atas alasan yang sama sekali tidak pernah mereka harapkan?

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Malam ini di sebuah kafe outdoor dilengkapi live music, beberapa lelaki nampak berkumpul di salah satu meja. Ketidakhadiran seorang lelaki yang merupakan bagian dari mereka, segera mengundang tanda tanya. Zio yang merupakan sahabat Aksa pun menjadi sasaran teman-temannya yang menanyakan di mana keberadaan lelaki itu.

“Zio, lo tau kenapa Aksa nggak bisa dateng malem ini?” tanya Aldi kepada Zio.

“Aksa nggak ngasih tau gue kenapa dia nggak bisa dateng,” jawab Zio apa adanya.

Kemudian Gilang menghampiri Zio dan duduk di sampingnya. “Kemarin gue nggak sengaja denger pembicaraan Aksa di telfon. Katanya malam ini dia mau dateng ke suatu tempat untuk urusan kerjaannya.”

“Tuh anak belakangan ini aneh banget, deh. Dia sama sekali nggak cerita tentang kerjaannya. Nggak biasanya dia kayak gitu,” celetuk Karel sembari menyalakan pemantik untuk rokoknya. Karel pun menceritakan apa saja yang ia ketahui. 2 bulan yang lalu, Aksa memang menerima tawaran pekerjaan freelancer di bidang IT. Aksa dikenalkan pada seseorang yang akan menggunakan jasanya, oleh senior yang merupakan alumni sekolahnya.

Setelah percakapan tentang Aksa tersebut, ponsel Zio yang berdering membuatnya berpamitan untuk mengangkat panggilan itu. Zio menjauh dari teman-temannya dan rupanya telfon itu adalahh dari Kafka, sepupunya Aksa.

Zio mendengarkan perkataan Kafka dengan seksama. Kedua netranya seketika membola mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Aksa. Rupanya sikap aneh Aksa yang kurang terbuka pada teman-temannya memiliki sebuah alasan.

“Aksa nge-share location ke gue. Gue nggak tau maksudnya apa, tapi firasat gue nggak enak. Gue mau ke sana,” ujar Kafka di telfon.

“Kafka,” ucap Zio yang menahan Kafka yang hendak menutup telfonnya.

“Kaf, share lokasinya ke gue juga ya,” sambung Zio.

“Jangan bilang lo mau ke sana? Aksa kayaknya belum cerita ke lo soal pekerjaannya. Zio, tapi ini bahaya. Atasannya Aksa bukan orang sembarangan. Kalau lo mau ke sana, lo nggak bisa bawa banyak orang.”

***

Malam ini Kaldera tidak bisa tidur setelah mendapat pesan dari Zio. Kekasihnya itu mengatakan kalau ia berniat pergi ke suatu tempat untuk menolong sahabatnya, yakni Aksa.

Zio hanya mengirimkan sebuah kalimat dan meyakinkan Kaldera kalau semuanya akan baik-baik saja. Namun entah mengapa, Kaldera tidak dapat berpikiran jernih saat ini. Kaldera khawatir dan sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Ini jam 10 malam dan Kaldera tidak tahu apa yang akan Zio lakukan di luar sana.

Tanpa berpikir panjang, Kaldera mengambil cardigan-nya, handphone, serta dompetnya. Ponsel Zio tidak aktif, jadi Kaldera tidak bisa menghubunginya untuk mengetahui keberadaan lelaki itu.

Kaldera masih memiliki satu harapan yang dapat membuatnya mengetahui lokasi tujuan Zio. Kafka, sepupu Aksa yang juga sahabat Zio kemungkinan tahu apa yang tengah terjadi.

Setelah mendapat telfon dari Kaldera, Kafka memberikan alamat itu. Kafka pun berada di dalam situasi yang sulit. Ia adalah orang yang telah membuat Zio berkeinginan datang untuk membantu Aksa. Meskipun Kafka tahu Zio tidak akan suka jika Kaldera terlibat, tapi Kafka tetap memberi tahu Kaldera. Di satu sisi, Kafka tidak tega mendengar permohonan Kaldera kepadanya.

***

Kaldera berusaha memantapkan hatinya ketika melangkah memasuki bangunan itu. Kaldera kembali mengecek apakah benar ini lokasinya, ia berharap bahwa dirinya salah tujuan. Namun rupanya tidak. Lokasi ini sesuai dengan yang diberitahu oleh Kafka.

Bangunan yang dulunya merupakan ruko-ruko bertingkat yang menjual berbagai busana di tengah kota ini, sudah lama berubah menjadi tempat yang diasingkan dan tidak lagi terawat.

Kaldera melangkahkan kakinya semakin dalam, ia menelusuri bangunan itu dimulai dari lantai satu hingga saat ini kakinya sudah sampai di lantai 3. Cahaya yang minim di tempat itu, membuat Kaldera kesulitan menemukan keberadaan Zio. Kaldera ingin meminta bantuan, tapi ia tidak tahu kepada siapa harus memintanya. Satu-satunya yang mungkin dapat membantunya adalah keluarga Zio. Namun bukannya memperbaiki keadaan, sepertinya itu malah akan menambah masalah dengan membuat keluarga kekasihnya khawatir.

Saat Kaldera sampai di lantai 4 bangunan itu, beberapa meter dari tempatnya, ia dapat melihat sosok yang dikenalnya. Di sana ada Zio dan Aksa. Namun yang membuat Kaldera terkejut adalah kehadiran seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam. Wajahnya tidak begitu jelas dari jangkauan mata Kaldera. Namun yang pasti dapat ia lihat, pria itu membawa sebuah senjata tajam di satu tangannya.

Kaldera berusaha tidak menimbulkan suara, meskipun ia terkejut bukan main. Kaldera ingin sekali berlari ke sana dan menarik Zio dari bahaya yang ada di depan matanya, tapi Kaldera tahu ia tidak dapat melakukannya. Di tengah pikiran kalutnya itu, Kaldera memutuskan untuk bersembunyi di antara etalase-etalase dan manekin pakaian yang cukup untuk menutupi keberadaannya di sana.

Dari tempat persembunyiannya, Kaldera dapat melihat Aksa tengah berbicara dengan pria yang membawa senjata itu.

Usai pembicaraan itu, Kaldera melihat pria berpakaian serba hitam tersebut melepaskan pelindung kulit dari pisau di tangannya. Entah apa yang terbesit di pikirannya, Kaldera mengaktifkan kamera di ponselnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Kaldera memotret pria itu yang hampir saja mengarahkan senjatanya kepada Aksa. Namun yang membuat Kaldera hampir saja menjatuhkan ponselnya, adalah ketika Zio berusaha mencegah pria itu dan berakhir justru Zio yang tertusuk. Benda tajam itu tertancap tepat di bagian perut Zio. Kaldera menyaksikan itu semua dan ingin lari ke sana, tapi Kaldera tahu ia tidak bisa melakukannya saat ini. Maka air matanya meluruh begitu saja membasahi pipinya.

Kaldera merasakan sesak di dadanya, ia jelas-jelas menyaksikan di depan matanya seseorang yang dicintainya telah disakiti.

Segera setelah Zio jatuh ke lantai sambil memegangi area bawah perutnya, pria asing itu pergi dari sana. Usai kepergian orang itu, Kaldera tidak menunda lagi untuk keluar dari tempat persembunyiannya.

Saat melihat Kaldera ada di sana, Zio dan Aksa nampak terkejut. Kaldera menahan air matanya untuk meluncur lebih banyak, tubuhnya pun luluh lantak di samping Zio. Kedua lutut Kaldera berusaha menumpu tubuhnya yang rasanya lunglai.

“Zio ... ” hanya itu yang terucap dari bibir Kaldera.

Kaldera mendekat pada Zio, membiarkan Zio memeluk tubuhnya untuk mencari kekuatan di sana. Kaldera tidak dapat mengucapkan apapun, tiba-tiba semua rasa takut menyerangnya secara bertubi-tubi.

“Kal, makasih ya kamu pernah ada di hidup aku. Aku sayang kamu,” ucap Zio dengan suara pesannya. Kamudian Zio mengurai pelukannya dari tubuh Kaldera. Kedua iris legam Zio memandang Kaldera dengan tatapan penuh sayangnya.

“Kal, you are everything that I'm dreamed of. Walau nanti tanpa aku, kamu harus selalu bahagia. Janji sama aku, yaa?”

Kata-kata Zio itu terus terngiang-ngiang di benak Kaldera. Namun sampai saat Kafa datang bersama ambulans yang tadi sempat Kaldera hubungi, Kaldera belum bisa mengiyakan janji yang Zio pinta kepadanya.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Malam ini di sebuah kafe outdoor, beberapa lelaki nampak berkumpul. Ketidakhadiran seorang lelaki yang merupakan bagian dari mereka, segera mengundang tanda tanya di antara mereka. Zio, yang merupakan sahabat Aksa pun menjadi sasaran teman-temannya yang menanyakan di mana keberadaan lelaki itu.

“Zio, lo tau kenapa Aksa nggak bisa dateng malem ini?” tanya Aldi kepada Zio.

“Aksa nggak ngasih tau gue kenapa dia nggak bisa dateng,” jawab Zio apa adanya.

Kemudian Gilang menghampiri Zio dan duduk di sampingnya. “Kemarin gue nggak sengaja denger pembicaraan Aksa di telfon. Katanya malam ini dia mau dateng ke suatu tempat untuk urusan kerjaannya.”

“Tuh anak belakangan ini aneh banget, deh. Dia sama sekali nggak cerita tentang kerjaannya. Nggak biasanya dia kayak gitu,” celetuk Karel sembari menyalakan pemantik untuk rokoknya. Karel pun menceritakan apa saja yang ia ketahui. 2 bulan yang lalu, Aksa memang menerima tawaran pekerjaan freelancer di bidang IT. Aksa dikenalkan pada seseorang yang akan menggunakan jasanya, oleh senior yang merupakan alumni sekolahnya.

Setelah percakapan tentang Aksa tersebut, ponsel Zio yang berdering membuatnya berpamitan untuk mengangkat panggilan itu. Zio menjauh dari teman-temannya dan rupanya telfon itu adalahh dari Kafka, sepupunya Aksa.

Zio mendengarkan perkataan Kafka dengan seksama. Kedua netranya seketika membola mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Aksa. Rupanya sikap aneh Aksa yang kurang terbuka pada teman-temannya memiliki sebuah alasan.

“Aksa nge-share location ke gue. Gue nggak tau maksudnya apa, tapi firasat gue nggak enak. Gue mau ke sana,” ujar Kafka di telfon.

“Kafka,” ucap Zio yang menahan Kafka yang hendak menutup telfonnya.

“Kaf, share lokasinya ke gue juga ya,” sambung Zio.

“Jangan bilang lo mau ke sana? Aksa kayaknya belum cerita ke lo soal pekerjaannya. Zio, tapi ini bahaya. Atasannya Aksa bukan orang sembarangan. Kalau lo mau ke sana, lo nggak bisa bawa banyak orang.”

***

Malam ini Kaldera tidak bisa tidur setelah mendapat pesan dari Zio. Kekasihnya itu mengatakan kalau ia berniat pergi ke suatu tempat untuk menolong sahabatnya, yakni Aksa.

Zio hanya mengirimkan sebuah kalimat dan meyakinkan Kaldera kalau semuanya akan baik-baik saja. Namun entah mengapa, Kaldera tidak dapat berpikiran jernih saat ini. Kaldera khawatir dan sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Ini jam 10 malam dan Kaldera tidak tahu apa yang akan Zio lakukan di luar sana.

Tanpa berpikir panjang, Kaldera mengambil cardigan-nya, handphone, serta dompetnya. Ponsel Zio tidak aktif, jadi Kaldera tidak bisa menghubunginya untuk mengetahui keberadaan lelaki itu.

Kaldera masih memiliki satu harapan yang dapat membuatnya mengetahui lokasi tujuan Zio. Kafka, sepupu Aksa yang juga sahabat Zio kemungkinan tahu apa yang tengah terjadi.

Setelah mendapat telfon dari Kaldera, Kafka memberikan alamat itu. Kafka pun berada di dalam situasi yang sulit. Ia adalah orang yang telah membuat Zio berkeinginan datang untuk membantu Aksa. Meskipun Kafka tahu Zio tidak akan suka jika Kaldera terlibat, tapi Kafka tetap memberi tahu Kaldera. Di satu sisi, Kafka tidak tega mendengar permohonan Kaldera kepadanya.

***

Kaldera berusaha memantapkan hatinya ketika melangkah memasuki bangunan itu. Kaldera kembali mengecek apakah benar ini lokasinya, ia berharap bahwa dirinya salah tujuan. Namun rupanya tidak. Lokasi ini sesuai dengan yang diberitahu oleh Kafka.

Bangunan yang dulunya merupakan ruko-ruko bertingkat yang menjual berbagai busana di tengah kota ini, sudah lama berubah menjadi tempat yang diasingkan dan tidak lagi terawat.

Kaldera melangkahkan kakinya semakin dalam, ia menelusuri bangunan itu dimulai dari lantai satu hingga saat ini kakinya sudah sampai di lantai 3. Cahaya yang minim di tempat itu, membuat Kaldera kesulitan menemukan keberadaan Zio. Kaldera ingin meminta bantuan, tapi ia tidak tahu kepada siapa harus memintanya. Satu-satunya yang mungkin dapat membantunya adalah keluarga Zio. Namun bukannya memperbaiki keadaan, sepertinya itu malah akan menambah masalah dengan membuat keluarga kekasihnya khawatir.

Saat Kaldera sampai di lantai 4 bangunan itu, beberapa meter dari tempatnya, ia dapat melihat sosok yang dikenalnya. Di sana ada Zio dan Aksa. Namun yang membuat Kaldera terkejut adalah kehadiran seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam. Wajahnya tidak begitu jelas dari jangkauan mata Kaldera. Namun yang pasti dapat ia lihat, pria itu membawa sebuah senjata tajam di satu tangannya.

Kaldera berusaha tidak menimbulkan suara, meskipun ia terkejut bukan main. Kaldera ingin sekali berlari ke sana dan menarik Zio dari bahaya yang ada di depan matanya, tapi Kaldera tahu ia tidak dapat melakukannya. Di tengah pikiran kalutnya itu, Kaldera memutuskan untuk bersembunyi di antara etalase-etalase dan manekin pakaian yang cukup untuk menutupi keberadaannya di sana.

Dari tempat persembunyiannya, Kaldera dapat melihat Aksa tengah berbicara dengan pria yang membawa senjata itu.

Usai pembicaraan itu, Kaldera melihat pria berpakaian serba hitam tersebut melepaskan pelindung kulit dari pisau di tangannya. Entah apa yang terbesit di pikirannya, Kaldera mengaktifkan kamera di ponselnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Kaldera memotret pria itu yang hampir saja mengarahkan senjatanya kepada Aksa. Namun yang membuat Kaldera hampir saja menjatuhkan ponselnya, adalah ketika Zio berusaha mencegah pria itu dan berakhir justru Zio yang tertusuk. Benda tajam itu tertancap tepat di bagian perut Zio. Kaldera menyaksikan itu semua dan ingin lari ke sana, tapi Kaldera tahu ia tidak bisa melakukannya saat ini. Maka air matanya meluruh begitu saja membasahi pipinya.

Kaldera merasakan sesak di dadanya, ia jelas-jelas menyaksikan di depan matanya seseorang yang dicintainya telah disakiti.

Segera setelah Zio jatuh ke lantai sambil memegangi area bawah perutnya, pria asing itu pergi dari sana. Usai kepergian orang itu, Kaldera tidak menunda lagi untuk keluar dari tempat persembunyiannya.

Saat melihat Kaldera ada di sana, Zio dan Aksa nampak terkejut. Kaldera menahan air matanya untuk meluncur lebih banyak, tubuhnya pun luluh lantak di samping Zio. Kedua lutut Kaldera berusaha menumpu tubuhnya yang rasanya lunglai.

“Zio ... ” hanya itu yang terucap dari bibir Kaldera.

Kaldera mendekat pada Zio, membiarkan Zio memeluk tubuhnya untuk mencari kekuatan di sana. Kaldera tidak dapat mengucapkan apapun, tiba-tiba semua rasa takut menyerangnya secara bertubi-tubi.

“Kal, makasih ya kamu pernah ada di hidup aku. Aku sayang kamu,” ucap Zio dengan suara pesannya. Kamudian Zio mengurai pelukannya dari tubuh Kaldera. Kedua iris legam Zio memandang Kaldera dengan tatapan penuh sayangnya.

“Kal, you are everything that I'm dreamed of. Walau nanti tanpa aku, kamu harus selalu bahagia. Janji sama aku, yaa?”

Kata-kata Zio itu terus terngiang-ngiang di benak Kaldera. Namun sampai saat Kafa datang bersama ambulans yang tadi sempat Kaldera hubungi, Kaldera belum bisa mengiyakan janji yang Zio pinta kepadanya.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Hari ini Zio mengajak Kaldera untuk bertemu dengan keluarganya. Zio ingin mengenalkan Kaldera sebagai kekasihnya. Ini adalah rencana pertemuan yang kedua, setelah rencana pertama waktu itu tidak terlaksana sebagaimana mestinya.

“Kal, aku telfon mama dulu ya. Harusnya mama udah sampe, tapi kayaknya beliau kejebak macet,” ucap Zio. Kaldera pun mempersilakan Zio untuk menghubungi mamanya.

Zio menjauh dari Kaldera beberapa langkah. Kaldera tetap di tempatnya, tapi matanya tidak bisa lepas menatap punggung tegap Zio. Ada pancaran kekhawatiran dari tatapan Kaldera. Jika kejadian gagal bertemu itu terulang lagi hari ini, Kaldera tidak mempersalahkannya sama sekali. Ini bukan tentang dirinya, tapi ini tentang Zio. Kaldera khawatir Zio akan kembali kecewa dan jadi merasa bersalah terhadapnya.

Sekitar 5 menit kemudian, Zio kembali ke meja mereka. Lelaki itu lantas menorehkan senyum tipisnya. “Kal, barusan mama ngabarin kalau beliau mendadak nggak bisa dateng. Aku juga udah hubungin mas Raegan, tapi dia nggak angkat telfonnya. Kayaknya mereka nggak bisa dateng deh hari ini,” jelas Zio.

Dari tatapannya, Zio terlihat kecewa dan merasa bersalah. “Kal, maaf ya. Aku udah buat kamu nunggu, tapi malah nggak jadi ngenalin kamu ke keluargaku,” ucap Zio.

Kaldera menggeleng sekilas, perempuan itu lantas mengulaskan senyum lembutnya. “It's oke, Zio. Aku yakin, akan ada waktu yang tepat untuk aku ketemu keluarga kamu. Masih banyak waktu, kan?”

Kaldera mengatakan pada Zio bahwa ini bukan masalah besar dan Zio tidak perlu merasa bersalah terhadapnya. Toh jika tidak sekarang, Kaldera yakin akan ada saatnya ia dapat mengenal keluarga Zio.

Kaldera lantas meraih satu tangan Zio dan menggenggamnya ringan. Zio menatap tangan besarnya yang digenggam oleh tangan kecil Kaldera.

Begitu Kaldera tersenyum padanya seperti ini, rasanya ada seberkas cahaya yang menerangi dunia Zio yang gelap. Zio dapat merasa lebih baik dengan keberadaan Kaldera di sisinya. Zio begitu merasa bersyukur saat mengetahui ia memiliki seseorang untuk dijadikan tempat pulang.

***

Kaldera dan Zio sudah menjalin hubungan selama kurang lebih satu tahun. Mereka adalah dua remaja yang dipertemukan dan kemudian saling jatuh cinta secara bertahap. Mereka melakukan banyak hal bersama, saling support, dan saling memberi perhatian.

Kaldera telah mengisi hidup Zio yang terasa gelap dan hampa, terlebih sejak kedua orang tua Zio bercerai. Sama seperti yang Kaldera lakukan, Zio juga mewarnai hari-hari Kaldera. Lelaki itu hadir seperti pelangi di hidupnya. Zio adalah penyemangat bagi Kaldera dikala ia lelah dan rasanya ingin menyerah terhadap hidupnya.

Seiring berjalannya waktu, Zio pun ingin sekali mengenalkan Kaldera kepada keluarganya. Namun situasinya berbeda, Kaldera tidak ingin Zio mengenal keluarganya. Kaldera mengetahui betul sifat dan karakter tantenya. Latar belakang keluarga Zio yang berkecukupan, berbeda dengan Kaldera, membuat tantenya kerap kali penasaran soal kekasihnya dan berpikiran yang macam-macam.

Pikiran monolog Kaldera seketika terhenti begitu ninja sport hitam miliki Zio berhenti tepat di depan gang menuju rumahnya. Kaldera segera turun dari motor Zio, ia melepas helm di kepalanya dan memberikannya pada Zio.

“Zio, makasih yaa untuk malam ini. Aku kenyang terus kalau jalan sama kamu,” ujar Kaldera diiringi cengiran kecilnya.

Zio nampak mengulaskan senyumnya, lalu tangannya terangkat untuk merapikan sedikit rambut Kaldera yang berantakan.

“Lain kali boleh nggak aku anter kamu sampe depan rumah?” tanya Zio. Lelaki itu masih di sana, belum berniat menyalakan mesin motornya untuk pergi dari hadapan Kaldera.

“Sampe sini aja nggak papa, Zio. Biar kamunya nggak kejauhan,” ujar Kaldera.

“Emang kenapa aku nggak boleh anter kamu? Aku kan pacar kamu. Aku harus mastiin kamu aman sampe rumah dong.”

“Iya, boleh. Tapi kapan-kapan aja, oke?”

Zio akhirnya menganggukinya. Lelaki itu menatap Kaldera sesaat, kebiasaan yang ia lakukan sebelum mereka berpisah setelah bertemu.

“Kamu hati-hati di jalan ya, bawa motornya jangan ngebut,” peringat Kaldera.

“Iya, Kal. Yaudah aku pulang dulu,” ucap Zio.

Kaldera mengangguk sekilas. “Kalau udah sampe rumah kabarin aku,” pesan Kaldera.

Zio tersenyum, lalu mengacungkan dua ibu jarinya sekaligus. Saat Zio membuka kaca helm full face-nya dan siap menjalankan motornya, Kaldera melambaikan tangannya diiringi senyum semringahnya.

Kaldera masih di sana saat Zio sudah tidak terlihat oleh netranya. Sejujurnya Kaldera hanya tidak ingin Zio sampai bertemu dengan tantenya. Ini hari Sabtu dan tantenya libur bekerja, jadi kemungkinan beliau ada di rumah. Entah sampai kapan Kaldera akan melakukannya. Namun yang jelas, Kaldera tidak ingin sampai tantenya menyakiti Zio, entah melalui perkataan atau hal lainnya yang sama sekali tidak ingin Kaldera bayangkan.

***

Sepi dan kosong. Itulah yang beberapa tahun belakangan ini Zio rasakan ketika ia pulang ke rumahnya.

Zio mencoba untuk baik-baik saja, tapi kenyatannya, ia tidak bisa terus membohongi dirinya sendiri. Zio merasa kesepian. Mengingat rumah ini yang dulunya terasa hangat dan ramai, berbeda dengan situasi sekarang. Itu lah yang akhirnya merubah Zio menjadi pribadi yang dingin dan tertutup. Namun kepada beberapa sahabatnya, Zio bersedia menceritakan kesedihannya, menjadikan mereka tempat berbagi. Berbeda lagi jika sedang bersama Kaldera. Selain dapat mencurahkan perasaannya, Zio dapat menjadi pribadi yang lebih ceria, humoris, penyayang, dan sosok yang sangat peduli.

Ketika sampai di teras rumahnya, Zio melepas sepatu converse-nya dan menaruhnya di rak sepatu.

Orang tuanya berpisah sejak Zio memasuki SMP. Mamanya yang sempat merasa hancur, memilih lebih sering bekerja untuk melampiaskan kesedihannya. Harapan terakhir Zio adalah kakaknya. Zio mempunyai kakak laki-laki. Namun sejak perceraian orang tuanya, kakaknya sibuk bekerja. Kakaknya yang perfeksionis lebih mementingkan karirnya untuk dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Zio mencoba mengerti, bahwa saat ini kewajiban besar itu ada di kedua pundak kakaknya. Namun semuanya yang telah berubah, perlahan juga telah menghancurkan pribadi seorang Redanzio.

Klise.

Zio adalah anak broken home. Masa-masa emas remaja yang seharusnya ia miliki, telah hilang begitu saja. Zio seperti tidak punya rumah dalam artian yang sesungguhnya. Tempat tinggal yang berwujud ini, hanyalah sebuah bentuk, tapi Zio tidak mengenal apa arti tempat pulang yang sebenarnya.

Kehadiran Zio di ruang tamu disambut oleh mbak Yuni. Beliau adalah wanita yang sudah bekerja di rumahnya dari kakaknya remaja hingga sekarang. Sekalipun sudah diberikan kesempatan untuk pensiun, mbak Yuni ini tidak ingin meninggalkan keluarga yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri.

“Mas Zio, Mbak udah siapin makan malam di meja ya. Tadi ibu ngabarin, katanya malam ini nggak bisa pulang, harus dinas ke luar kota. Kalau mas Raegan, beliau ada meeting, belum tau bisa pulang jam berapa,” ujar mbak Yuni.

Setelah mengucapkannya, perasaan mbak Yuni menjadi tidak tega dan ikut merasa bersedih melihat tuan mudanya itu. Zio adalah anak yang baik, hanya saja keadaan yang merubahnya menjadi pribadi yang sekarang.

“Mas Zio jangan ngerokok terus ya, mending makan nasi Mas. Nanti kalau Mas Zio ngerokok lagi, Mbak aduin ke mbak Kaldera lho Mas,” ucap mbak Yuni lagi.

Beberapa kali Zio kerap menceritakan tentang Kaldera kepada mbak Yuni. Seperti tentang Kaldera yang sering meminta Zio untuk mengurangi rokoknya. Dari perhatian yang Kaldera tunjukkan untuk Zio tersebut, mbak Yuni pun merasa senang melihat ada sosok yang begitu sayang dan perhatian terhadap tuan mudanya.

“Iya Mbak, Zio kurangin kok rokoknya,” ujar Zio.

Zio pun mengatakan bahwa mbak Yuni bisa pulang dan tidak masalah ia di rumah sendiri. Mbak Yuni mengiyakan dan akhirnya berpamitan pulang. Sepeninggalan mbak Yuni, Zio langsung naik ke lantai atas di mana kamarnya berada.

Zio akan mencoba untuk tidur. Mungkin dengan beristirahat, bisa membuatnya merasa lebih baik. Zio kecewa karena hari ini mamanya dan kakaknya tidak dapat datang. Keadaan ini kadang memang masih sulit baginya, tapi Zio akan mencoba melupakan soal keluarganya yang memang sudah berbeda, yang memang sudah tidak dapat kembali utuh dan bersama.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂