alyadara

Ada seseorang yang mengatakan pada Aryan bahwa dirinya ingin menghabiskan waktu bersamanya. Selama Aryan menjalani hidupnya, belum pernah ia merasa begitu dispesialkan seperti ini. Aryan mendapat kesempurnaan itu dari keluarganya, tapi belum pernah ada seseorang dari luar hidupnya yang memperlakukan ia sebegininya.

Sekitar pukul 11 siang, akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat. Karin mengatakan tempat pertama yang akan menjadi tujuan mereka adalah Jakarta Aquarium Safari. Karin sengaja memilih waktu lumayan pagi, sehingga saat mereka sampai di aquarium indoor tersebut, tempat itu masih lumayan sepi.

Jenis pengunjung yang datang ke sana berbagai macam. Ada yang bersama keluarga, sahabat, dan mungkin sama seperti Aryan dan Karin, yakni sebagai sebuah pasangan. Dari luar mereka sungguh terlihat seperti itu, terlebih ketika Aryan meraih tangan Karin dan menggenggamnya erat. Hal kecil yang begitu diperhatikan oleh Aryan, perlakuan sederhana lelaki itu padanya, membuat Karin merasa bahagia.

“Kak, kita harus ambil foto,” ucap Karin. Mereka kini berhenti tepat di depan sebuah kolam kaca di mana terdapat ubur-ubur cantik dengan berbagai warna. Latar belakang yang mereka miliki itu nampak indah, warna neon dari ubur-ubur tersebut sangat kontras satu sama lain dan terlihat begitu sempurna.

Aryan dan Karin akhirnya meminta bantuan seorang petugas untuk mengambil foto mereka. Terdapat beberapa hasil jepretan. Sebagian memang tampak seperti hanya siluet, karena tempat ini tidak terlalu cukup cahaya. Namun justru itu yang menjadikan hasil fotonya nampak estetik.

Karin & Aryan at Indoor Aquarium

Setelah mengucapkan terima kasih pada pegawai tersebut, Aryan dan Karin pun kembali melanjutkan perjalanan untuk melihat-lihat hewan akuatik maupun non-akuatik lainnya.

“Kamu mau liat apa lagi habis ini?” tanya Aryan.

“Mermaid. Katanya sih hari ini ada pertunjukan mermaid. Habis liat mermaid, baru kita ke tempat kedua ya. Takutnya nanti hujan kalau terlalu sore,” ujar Karin.

“Emangnya kenapa kalau hujan?” tanya Aryan sembari menautkan alisnya.

“Kalau hujan, hadiah utamanya kemungkinan nggak jadi, Kak.”

“Oke. Kita bisa pergi dari sini sebelum hujan,” putus Aryan sembari menyunggingkan senyum semringahnya.

***

Hari ini tidak hanya Aryan yang merasa bahwa hidupnya spesial. Karin pun merasakan demikian. Rencana yang Karin susun nampaknya berhasil. Meskipun belum mengetahui hadiah darinya, Karin dapat melihat bahwa Aryan menganggap acara ini begitu berharga.

Dari ujung rambut sampai kaki, penampilan Aryan hari ini sangatlah sempurna. Itu juga yang terjadi dengan mobil yang mereka tumpangi. Karin tahu bahwa kemarin Aryan baru saja membawa mobilnya ke salon dan hari ini Karin tidak menemukan setitik pun debu di dalam BMW putih tersebut. Aryan membuat semuanya nampak spesial. Selama di jalan menuju tempat kedua, Karin hampir tidak berucap sama sekali, ia terlalu dibaut terpukau. Beginikah Aryan memperlakukannya. Ketulusan Aryan, Karin dapat begitu merasakan semuanya saat ini.

“Karin, kita udah sampai,” ucap Aryan yang seketika sukses membuyarkan lamunan Karin.

“Bener ini tempatnya?” tanya Aryan memastikan.

“Iya, bener ini tempatnya. Kita nggak ke mall-nya, tapi ke rooftop,” terang Karin.

Aryan nampak berpikir sejenak. Ia jelas tahu bahwa di rooftop bangunan ini merupakan tempat wahana bianglala yang cukup besar. Mall ini terletak di tengah ibukota dan menyajikan pemandangan gedung-gedung serta lampu kota yang begitu indah untuk malam hari. Sehingga rasanya begitu cocok menaiki wahana sembari di temani oleh pemandangan malam yang indah ini.

“Kita beli makanan dulu. Kamu laper, kan?” celetuk Karin.

Aryan pun segera mengangguk. Karin lantas menjelaskan rencana kencan terakhir mereka malam ini. Mereka akan menaiki bianglala sambil menikmati makan malam dengan suasana dan pemandangan perkotaan yang cantik dari atas nanti.

Aryan yang mendengar penjelasan Karin seketika terdiam sesaat. Begitu netra Aryan menangkap Karin hendak meraih pintu mobil dan membukanya, Aryan segera berujar, “Karin.”

“Iya?” Karin kembai menghadap ke arah Aryan, aksinya tersebut pun tertahan.

That’s gonna be a beautiful date,” ucap Aryan.

Ini terasa sederhana, tapi memiliki makna yang besar untuk Aryan. Aryan akan melakukannya bersama orang yang tepat dan itu lebih dari sekedar indah untuknya.

***

Seperti yang sudah Aryan bayangkan sebelumnya, berada di dalam bianglala akan terasa begitu menakjubkan. Pemandangan kota terlihat sempurna malam ini dari atas, tempat di mana sekarang Aryan dan Karin berada. Namun jika keindahan hadir tanpa adanya seseorang yang terasa tepat di hati, semuanya mungkin akan terasa sia-sia dan hampa. Kini Aryan melakukannya bersama seseorang yang telah mengisi hatinya, jadi semuanya terasa begitu indah dan sempurna.

Bianglala

Ukuran satu bianglala yang cukup besar itu, membuat Aryan dan Karin dapat menikmati dengan leluasa makanan yang sempat mereka beli. Keduanya duduk berhadapan di bangku bianglala, sembari makan, sesekali mereka mereka membicarakan hal yang cukup pribadi. Seperti tentang Karin yang jujur tentang alasannya ingin mengajak Aryan pergi seharian ini. Saat-saat yang mereka telah lewati bersama, membuat Karin mengerti apa yang dibutuhkan oleh Aryan. Maka Karin ingin mewujudkannya untuk lelaki itu malam ini. Karin ingin menghabiskan waktu bersama Aryan dan membuat lelaki itu merasa bahwa dirinya berharga dan spesial.

Aryan akhirnya mengerti, apa yang Karin lakukan karena perempuan itu begitu memikirkannya. Selama ini, yang Aryan butuhkan hanyalah hal yang sederhana, tempat dan pemandangan hanya sebagai pelengkap. Bagian terpenting yang sejatinya Aryan inginkan adalah waktu yang dihabiskan bersama seorang yang berarti baginya.

Makanan dan minuman Aryan maupun Karin sedikit lagi sudah hampir habis. Mereka lantas merapikan bungkusan tersebut dan memasukkannya ke dalam satu plastik. Nanti saat turun, mereka bisa langsung membuangnya.

“Kak, aku mau nanya sesuatu sama kamu,” ucap Karin. Aryan pun seketika menoleh dan memfokuskan atensinya kepada Karin.

Are you happy this night?” Itulah pertanyaan yang dilontarkan oleh Karin. Ia ingin tahu apakah dirinya berhasil memberi kebahagiaan itu untuk Aryan.

Aryan nampak berpikir sejenak setelah mendengar pertanyaan Karin barusan. Tentunya tingkah Aryan itu membuat Karin kian penasaran. Beberapa detik setelahnya, Aryan mengulaskan senyum jenakanya, membuat Karin menautkan kedua alisnya.

Raut wajah Karin terlihat memancarkan kecemasan. Namun Aryan tidak membiarkan itu berlangsung lama, lelaki itu segera meraih kedua tangan Karin. Menggunakan ibu jarinya, Aryan mengusap lembut punggung tangan Karin, lalu ia berujar, “Aku bahagia, Karin. Makasih buat waktu yang kamu kasih malam ini.”

Sebuah senyum seketika terbit di wajah Karin begitu mendengar jawaban itu. Sebuah senyuman yang begitu tulus dari dalam hati Karin. “Kak, sebenernya aku akan ngasih jawabannya ke kamu malam ini,” ucap Karin dengan gaya bicaranya yang lugas.

Sontak kalimat Karin itu membuat Aryan mematung. Perlahan-lahan Aryan merasakan Karin melepaskan tangannya dari genggaman Aryan. Bianglala yang mereka tumpangi kini tepat berada di atas dan memang sedang berhenti untuk beberapa saat. Hal ini dilakukan agar para penumpang dapat sekedar berfoto atau menikmati suasana malam di atas langit yang nampak begitu cantik.

Detik berikutnya, mata bulat Karin menatap tepat ke iris legam Aryan. Kini Karin giliran melakukannya, ia meraih kembali kedua tangan besar Aryan dengan tangan kecilnya, lalu menggenggamnya di sana.

“Kak, aku bisa ngerasain kalau semua yang kamu lakuin untuk aku itu tulus. Aku bahagia setiap ngabisin waktu sama kamu. Perlakuan kamu dari yang paling besar sampai yang paling kecil, bikin aku percaya untuk membuat sebuah komitmen dalam rumah tangga, dan aku bersedia melakukan itu sama kamu,” Karin menjeda ucapannya sesaat, lalu dengan senyum kecil di paras cantiknya, Karin kembali berujar, “Kamu udah membuktikan pernyataan kamu waktu itu. Nggak cuma dari ucapan, tapi dari setiap perilaku kamu, kamu udah membuktikan perasaan itu.”

Aryan tidak hanya mengatakan perasaannya, tapi membuktikannya melalui melalui setiap aksi yang mungkin Aryan sendiri tidak sadari. Aryan melakukannya dan berdampak besar terhadap Karin. Karin telah menyadari bahwa perasaannya terhadap Aryan adalah perasaan cinta.

Karin paham bahwa sejatinya perasaan cinta kepada seseorang akan hadir dengan seimbang. Jika ada bahagia, maka juga ada luka di sana. Luka yang pernah Aryan berikan padanya, Karin tahu bahwa lelaki itu tidak berniat untuk melakukannya. Namun itu terjadi begitu saja, karena tanpa Karin sadari juga, ia telah menganggap Aryan bagian yang penting dalam hidupnya. Maka dari itu, setiap perlakuan Aryan padanya begitu reaktif terhadap Karin. Ketika Aryan menatapnya dengan tatapan kecewa karena salah paham di acara awards malam itu, Karin merasa begitu hancur. Karin menyadari bahwa orang yang paling bisa menyakitimu sesungguhnya adalah orang yang paling besar posisinya di hatimu.

“Karin, is it real?” tanya Aryan setelah dirinya berhasil berucap. Lidahnya beberapa saat lalu terasa begitu kelu, sehingga Aryan perlu waktu untuk mencerna semuanya.

Tidak berapa lama kemudian, bianglala mereka mereka tumpangi telah sampai di bawah. Pintu di depan mereka pun di buka oleh seorang pegawai, menandakan keduanya harus segera turun dari sana. Setelah Aryan keluar lebih dulu, Karin pun langsung menyusulnya.

Beberapa langkah saat Aryan berjalan di depan Karin, lelaki itu kembali berbalik dan meraih tangan Karin, menggenggamnya untuk memastikan Karin berada di sisinya. Karin hanya menatap genggaman tangan itu, lalu ia tersenyum kecil.

Kini keduanya telah berada di dalam mobil. Aryan belum berniat untuk menjalankan mobilnya, tapi mesinnya sudah dinyalakan. Aryan lantas memiringkan tubuhnya agar dapat berhadapan dengan Karin. Tatapannya lurus dan begitu lekat memandang Karin seutuhnya.

“Karin, kamu belum jawab pertanyaan aku,” ucap Aryan.

“Pertanyaan yang mana Kak?”

“Apa yang tadi kamu bilang di bianglala, semua itu benar?” tanya Aryan kemudian.

Dengan penuh kepastian, Karin pun menjawab pertanyaan Aryan dengan sebuah anggukan pasti. Berikutnya Karin hanya mendapati Aryan menghembuskan napasnya yang terdengar begitu lega. Karin memperhatikan Aryan dengan raut wajah bahagianya, sebuah senyum lantas ikut mengembang di paras Karin.

Sejak awal, Karin sebenarnya telah merasakan perasaannya terhadap Aryan, tapi Karin mencoba untuk menampik semuanya. Ia tidak ingin perasaan itu menjadi sebuah kekeliruaan, yang mana nanti hanya akan menyakiti Aryan maupun dirinya.

Saat ini Karin sudah memantapkan hatinya. Seperti janjinya pada Aryan sebelumnya, Karin akan berlari menuju Aryan kalau memang hatinya berkata bahwa Aryan adalah orangnya.

Seterjal apa pun jalan yang harus Karin lewati, ia akan bersedia untuk melaluinya. Karin tidak berjuang sendiri untuk melauinya, ia tahu bahwa Aryan akan selalu berada di sampingnya. Aryan pun akan melalukan hal sama yang seperti Karin lakukan, berjuang untuk hubungan mereka. Karin tidak perlu menanyakan itu, karena ia sudah mengetahui jawabannya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin mendapati Aryan datang ke rumah kakaknya secara tiba-tiba. Rey masih ada di sana juga, mereka sedang mengobrol di paviliun kecil yang berada di seberang kolam renang di halaman belakang.

Aryan menatap Rey sekilas, lalu menatap ke arah Karin. “Aku mau jemput kamu pulang,” Aryan menjelaskan maksud kedatangannya ke sini. “Kavin chat aku barusan,” tambah Aryan sebelum akhirnya melenggang dari hadapan Karin dan Rey.

Aryan membiarkan Karin dan Rey untuk mengobrol berdua. Lelaki itu akan menunggu Karin selesai berurusan dengan Rey. Dulu ego begitu menguasai dirinya, tapi kini sisi terlemahnya yang justru tersentuh.

Aryan lebih bisa mengontrol emosinya. Sekarang Aryan dapat merasakannya. Jadi begini, rasanya melihat orang yang kamu sukai bersama dengan orang lain. Aryan hanya memiliki Karin diatas hukum dan agama, tapi belum memiliki hatinya. Namun Aryan telah memutuskan untuk tidak memuaskan egonya, ia membiarkan Karin bersama Rey. Aryan tahu, bahwa ia memiliki waktunya sendiri untuk meluluhkan hati Karin.

***

Karin mengantar Rey sampai ke teras rumah kakaknya. Setelah mengobrol cukup lama, Rey akhirnya berpamitan untuk pulang. Begitu Karin kembali dan langkahnya sampai di ruang tamu, ia mendapati Aryan tengah berada di sana. Karin pun segera berjalan menghampiri Aryan dan mengambil tempat di sofa di samping Aryan.

“Karin, kalau kamu masih mau nginep di sini, it’s oke. Sebentar lagi aku pulang,” ujar Aryan.

“Kamu bilang mau jemput aku tadi. Gimana jadinya?” balas Karin.

Aryan nampak gugup, ia tidak langsung menjawab ucapan Karin barusan. Setelah beberapa detik memikirkannya, Aryan pun akhirnya berujar,“Kavin tadi chat aku, katanya dia khawatir sama kamu. Terus Kavin nyuruh aku ke sini.” Nampak sebuah cengiran kecil di wajah Aryan.

Karin lantas menatap Aryan dengan tatapan aneh dan sedikit menyelidik.

“Kavin yang khawatir atau kamu?” tanya Karin dengan nada jenakanya tapi tetap terlihat tenang dan santai.

Skak mat.

Aryan sungguh dibuat mati kutu oleh Karin. Kalau yang sudah-sudah Aryan dikenal jagoannya flirt, justru kini dirinya yang seperti terkena tembakan panah cinta sampai rasanya menembus ulu hatinya. Aryan tidak dapat berkutik, ia pun akhirnya mengakuinya begitu saja.

“Iya, aku khawatir sama kamu,” ujar Aryan.

Detik berikutnya, Karin nampak mengulaskan senyum kecilnya. Lucu sekali ekspresi Aryan beberapa saat yang lalu. Karin baru pertama kali melihatnya dan ia berpikir apakah itu karena dirinya? Rasanya agak mustahil Karin berhasil membuat Aryan seperti itu. Lho, memangnya Karin habis melakukan apa barusan? Kenapa ia juga tidak menyadarinya sama sekali?

***

Karin tidak mengatakan soal sepenuhnya yang terjadi, tapi Aryan seolah mengerti. Karin masih membutuhkan waktu untuk sendiri, jadi Aryan membiarkan Karin untuk tetap menginap di rumah kakaknya malam ini.

Ini sudah pukul 10 malam dan Aryan belum juga pulang. Karin yang belum bisa tidur pun menghampiri Aryan dan Kavin di ruang keluarga. Kavin yang mengerti akan situasinya, segera beranjak dari sana, membiarkan kedua sejoli itu memiliki waktu dan tempatnya hanya untuk mereka berdua.

“Kak, makasih ya kamu udah sempetin buat dateng ke sini,” ujar Karin membuka obrolan lebih dulu. Karin mempertemukan netranya dengan netra Aryan, detik berikutnya perempuan itu mengulaskan sebuah senyuman tulus.

I feel better when I knew you here,” ujar Karin lagi.

Aryan sedikit tidak percaya mendengar ujaran Karin. Aryan pun balas menatap Karin lekat. Selanjutnya Aryan dibuat terkesiap oleh Karin begitu perempuan itu meraih tangannya dan mengenggamnya.

“Kak, malam ini aku mau coba sesuatu,” ujar Karin kemudian.

Karin kembali mengulaskan senyumnya, kali ini nampak sedikit lebih lebar. Sedetik kemudian, Aryan pun membalas genggaman tangan Karin di tangannya, bahkan memberikan sedikit usapan lembut di punggung tangan itu menggunakan ibu jarinya.

“Aku mau coba membangun rumah itu sama kamu, rumah kita,” Karin menjeda ucapannya sesaat. Ia nampak memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyampaikannya. Cara Aryan menatapnya seperti ini, tatapan yang lembut dan penuh afeksi itu, sudah cukup kuat untuk menghancurkan tembok pertahanan yang selama ini Karin bangun.

“Kak, kamu … mau tidur di sini malam ini?” pertanyaan Karin itu seketika sukses membuat seluruh indera yang Aryan miliki membeku. Tolong seseorang katakan pada Aryan bahwa barusan ia tidak salah mendengar.

***

Di dalam sebuah kamar yang cukup luas, ditemani sebuah temaram lampu tidur, serta di bawah bed cover tebal, Aryan dan Karin kini saling berhadapan dan melempar pandangan.

“Karin, kamu tau,” ucap Aryan membuka sebuah pembicaraan.

“Apa?” balas Karin.

Aryan kemudian mengarahkan tangannya untuk mendarat di sisi kiri dadanya, tepat di mana jantungnya berada. “It’s hurt, here,” ujar Aryan.

“Kamu serius? Kamu nggak papa kan, Kak? Kalau kamu becanda, ini nggak lucu lho.” Karin justru berujar panik berkat tingkah Aryan itu.

Detik berikutnya, Aryan malahengulaskan senyum lebarnya. Saat itulah Karin tahu bahwa Aryan tidak sedang serius.

“Tapi tadi di sini emang sakit, Karin,” ucap Aryan sembari membuat wajahnya menjadi memelas sebisa mungkin. Tangan Aryan masih berada di dadanya. “Aku cuma memiliki kamu di atas agama dan hukum, tapi aku nggak memiliki hati kamu. Bukan nggak, tapi mungkin belum. Makasih kamu udah ngasih kesempatan itu malam ini,” tutur Aryan sambil tidak lepas memandang wajah Karin.

Karin tatapannya berubah menjadi sendu. Mendengar apa yang dirasakan oleh Aryan, itu begitu menyentuh sisi hatinya. Perlahan-lahan Karin memangkas jaraknya dengan Aryan, hingga kini ruang di antara mereka terasa lebih sempit.

“Kak, kamu udah ngantuk belum?” tanya Karin.

Meskipun tidur merupakan salah satu hobinya selain berenang dan basket, Aryan akan berusaha menahan kantuknya khusus untuk malam ini.

“Nggak, aku belum ngantuk,” ucap Aryan akhirnya.

“Aku mau cerita sesuatu sama kamu,” jelas Karin.

“Kamu mau cerita apa? You can tell me,” ujar Aryan.

Karin nampak memikirkannya sejenak. Ia pun mengatakan bahwa dirinya bersedia membagi cerita tersebu kepada Aryan. Hanya kepada Aryan, Karin belum menceritakannya pada siapa pun, bahkan Kavin dan Dara, dua orang terdekat dalam hidupnya.

“Seminggu yang lalu, mamanya Rey minta aku untuk ketemu sama beliau,” ucap Karin memulai ceritanya. Dari sana lah akhirnya mengalir cerita soal orang tua Rey yang tidak merestui hubungannya dengan Rey. Karin begitu hancur pada saat itu, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi semuanya. Kenyataannya, tidaklah semudah yang Karin bayangkan. Mendorong Rey menjauh dari hidupnya, bukanlah hal yang dapat Karin lakukan begitu saja. Rey adalah sosok yang selama ini ada untuknya, selama 2 tahun terakhir, Rey hadir di dalam hidup Karin dan memberikan kasih sayang yang Karin butuhkan.

“Akhirnya ini cuma akan nyakitin aku sama Rey. Harusnya sejak awal kita akhirin semuanya,” Karin mengangkat wajahnya yang sebelumnya tertunduk. Kini Karin menatap Aryan, mengunci pandangan pria itu, lalu Karin berujar, “Kak, aku nggak ingin bersikap egois terhadap kita. Aku mau ngasih kamu ruang untuk memastikan perasaan kamu ke aku. Begitu pun aku, aku mau perasaan aku ke kamu nantinya adalah yang sebenar-benarnya. Aku nggak ingin kita saling menyakiti lagi suatu hari dan berakhir menyesali semuanya.”

Karin sadar bahwa sesuatu yang dipaksakan pada akhirnya tidak akan menjadi baik. Karin meyakinkan Aryan, bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal hubungan mereka, karena sejatinya seorang nahkoda tahu kemana harus mengarahkan kapalnya untuk sampai di pelabuhan yang tepat. Sama halnya dengan hati seseorang, ia tidak akan salah memilih kemana harus berlabuh. Karin akan berlari menuju Aryan, sekalipun jaraknya begitu jauh, jika memang Aryan adalah takdirnya. Karin mengatakan bahwa Aryan dapat memegang ucapannya itu.

Aryan pun akhirnya mengangguk. Ia mengerti maksud perkataan Karin. Aryan menerimanya dan ia siap akan keputusan Karin apa pun nantinya. Karin berhak untuk menentukan jalan hidupnya. Kalau pun tidak bersama Aryan, lelaki itu akan merasakan sakit, tapi Karin akan bahagia. Itu sudah menjadi tujuan Aryan sejak ia menyadari perasaannya terhadap Karin. Aryan ingin Karin bahagia meskipun bukan bersamanya.

Melihat Karin dengan kesedihan di raut wajahnya, membuat Aryan ikut merasa hancur. Di satu sisi, hatinya memang sakit mendapati bahwa Karin begitu mencintai Rey. Namun rasa peduli itu lebih dominan menguasai dirinya. Aryan lebih mementingkan bagaimana cara membuat Karin merasa lebih baik. Karin terluka, maka Aryan bersedia menjadi sandaran untuk perempuan itu.

Ada yang lebih baik dari semua itu, yakni saat Aryan mengetahui bahwa Karin bersedia membagikan cerita tersebut kepadanya, hal itu terasa sangat berharga bagi Aryan.

Ketika Aryan mendapati sebulir cairan bening meluncur dari pelupuk mata Karin dan terjun hingga ke pipinya, Aryan lekas mengarahkan tangannya dan mengusap pipi Karin. Selama beberapa detik, Karin mengeluarkan semua bentuk curahan kesedihannya di hadapan Aryan. Karin sedikit tidak percaya ia melakukannya, tapi ia merasa lebih lega setelah itu. Karin merasa nyaman saat Aryan menyeka air matanya.

Setelah Karin dapat menenangkan dirinya, ia menahan tangan Aryan yang hendak menjauh dari sisi wajahnya. Karin mengulaskan senyum kecilnya, itu sebuah senyuman yang tampak sedikit malu-malu.

“Kavin tadi chat apa ke kamu sampai kamu dateng ke sini?” tanya Karin setelah mengusap sekilas punggung tangan Aryan yang masih berada di wajahnya. Rasanya hangat, perlahan Karin mulai merasa lebih baik dengan semua yang terjadi, dengan cara Aryan membuatnya merasa lebih baik malam ini.

Aryan berdeham sekilas, sebelum akhirnya lelaki itu berujar, “Kavin bilang, dia liat kamu dalam kondisi yang kurang baik. Menurut Kavin kamu butuh aku, jadi dia minta aku ke sini. Malam ini ada dua orang yang percaya sama aku, Kavin dan kamu. Karin, terima kasih ya, kamu mau berbagi cerira itu sama aku. That’s a pleasure for me.”

Karin menyunggingkan senyumnya, kemudian detik berikutnya ia tertawa sekilas. “Alright. Kayaknya Kavin ada di tim kamu deh, Kak.”

“Jelas,” cetus Aryan cepat.

Mendengar ucapan Aryan dengan nada percaya dirinya serta tampang lempengnya khasnya, mau tidak mau membuat Karin tergelak cukup kuat. Tawa Karin berangsur terhenti setelah beberapa detik, itu bertepatan dengan Aryan yang mengunci tatapannya.

Aryan menatap Karin lembut, kemudian lelaki itu berujar, “Karin, I want to be a reason for that smile and laugh. Some times, I will see your tears, but that’s totally fine. You need to know, that I would willing to rub that tears. Okey?”

Detik berikutnya, Karin pun mengangguk setuju. Malam ini, Karin telah mempercayai Aryan seutuhnya. Karin bersedia untuk membagikan kesedihannya yang selama ini mungkin sulit untuk ia lakukan, sekalipun kepada orang-orang yang telah lama hadir di hidupnya.

“Kak, aku tau kamu udah ngantuk sebenarnya,” celetuk Karin sembari memperhatikan raut wajah Aryan yang memang sudah terlihat mengantuk.

“Iya, aku emang udah ngantuk, tapi aku tetep mau dengerin cerita kamu,” ucap Aryan masih sambil menatap Karin, meski mata lelaki itu mungkin hanya tersisa 5 watt. Mungkin beberapa detik lagi Aryan akan terlelap, begitu pikir Karin.

“Kak, I have prepared a surprise for you. Are you curios about that?” ujar Karin pelan di dekat Aryan.

Beberapa detik kemudian, Karin terkesiap begitu Aryan kembali membuka kelopak matanya yang sebelumnya telah setengah terpejam. Kini raut wajah Aryan tampak lebih segar dari sebelumnya, seolah rasa kantuk itu telah menguap dan hilang begitu saja.

“Kamu serius?” tanya Aryan yang lekas diangguki oleh Karin.

“Lusa kamu ada janji keluar nggak?” tanya Karin kemudian.

“Aku bisa cancel semuanya,” putus Aryan dengan cepat.

“Oke, lusa aku bakal ngasih kamu surprise-nya. I prepared a date for us,” ucap Karin seraya mengulaskan senyum misteriusnya.

Kalau sebelumnya Karin masih memiliki kendalinya, kini begitu Aryan menatapnya penuh arti seperti ini, Karin merasa bahwa hatinya telah berantakan. Kendali Karin telah terlepas, hingga kini rasanya dunia Karin seperti terhenti berputar. Pandangan Karin hanya dapat tertuju kepada Aryan.

“Apa hadiahnya? Can I get a clue for the date?” ujar Aryan bertubi-tubi, lelaki itu tampak tidak sabar dan begitu penasaran.

“Kamu sabar dong, Kak. Udah, sekarang kamu tidur ya. Katanya tadi kamu ngantuk,” tutur Karin.

“Karin, kalau kayak gini aku malah jadi nggak bisa tidur,” aku Aryan blak-blakan.

“Kamu harus tidur, Kak. Kalau nggak, nanti aku nggak jadi kasih hadiahnya lho,” ucap Karin yang lantas membalikkan tubuhnya untuk memunggungi Aryan.

Tanpa Aryan melihatnya, Karin nampak mengulaskan senyum lebarnya sembari berusaha membawa dirinya menuju ke alam mimpi.

Aryan akhirnya mengangguk setuju. Aryan pun pasrah, lelaki itu memutuskan untuk segera tidur, meskipun saat ini justru terasa sulit baginya untuk memejamkan mata. Rasanya Aryan ingin membeli mesin waktu agar bisa segera sampai di hari yang dinantikannya itu. Aryan pun bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa apa pun yang berkaitan dengan Karin rasanya selalu membuat Aryan hampir gila? Aryan kurang pandai mengungkapkannya melalui perkataan, tapi yang jelas ia ketahui, sosok Karin telah menempati setiap aspek dan ruang di dalam hidupnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Sudah lebih dari seminggu belakangan ini, Rey menyadari bahwa sikap yang Karin tunjukkan padanya adalah bentuk usaha perempuan itu untuk menghindarinya. Karin selalu memiliki alasan untuk tidak bertemu dengannya. Malam ini pun, saat Rey bertanya pada Dara soal keberadaan Karin, manager kekasihnya itu mengatakan bahwa ia tidak bisa memberi tahu di mana Karin sekarang.

Satu-satunya kemungkinannya, Karin berada di rumah Syerin. Maka dari itu, Rey kini sudah berada di depan pagar besar sebuah rumah tingkat dua bergaya minimalis dengan dominan warna putih dan abu-abu. Begitu seorang satpam mempersilakannya masuk, Rey berhadapan dengan Kavin yang membukakan pintu berpelitur coklat jati di hadapannya.

Kavin nampak sedikit terkejut begitu mendapati kehadiran Rey di sana. Setahu Kavin, semua tentang Rey dan kakaknya telah berakhir. Ada yang tidak bisa Rey jelaskan kepada Kavin. Intinya yang terjadi saat ini, Rey meminta Kavin untuk memberinya izin bertemu dengan Karin.

“Kak Syerin sama mama lagi nggak ada di rumah. Mungkin kalau mereka ada, Kak Rey nggak bisa ketemu sama kak Karin,” ucap Kavin yang akhirnya mengizinkan Rey untuk masuk.

Sebelumnya Kavin juga sempat bertanya pada Karin dan membuat Rey menunggu di teras rumah itu. Karin sedang dalam kondisi kurang sehat, tapi Rey tetap bersikeras untuk bertemu. Rey mengatakan dirinya dan Karin harus bicara serius mengenai hubungan keduanya.

***

Sudah dua hari yang lalu, Karin menginap di rumah Syerin. Sebelumnya Karin telah meminta izin pada Aryan dan lelaki itu mengizinkannya untuk pergi. Karin membutuhkan waktu untuk menata hati dan pikirannya. Pertemuan Karin dengan ibunya Rey minggu lalu membuat Karin begitu hancur. Rasanya masih sulit bagi Karin mendorong Rey untuk menjauh dari hidupnya, ini bukanlah perkara yang mudah. Rey adalah sosok yang salama ini ada untuknya, di saat senang maupun di saat sedih.

Malam ini Rey nekat mendatangi Karin di rumah kakaknya. Karin tidak dapat lagi menghindar, ia sadar bahwa dirinya harus menyelesaikan urusannya dengan Rey.

Meskipun Karin berusaha menghindari tatapan Rey yang kini tertuju lurus dan intens padanya, Rey tetap dapat melihat guratan kesedihan di wajah Karin.

“Karin, ada apa? Kamu mau cerita ke aku? Kenapa kamu ngehindarin aku akhir-akhir ini?” tanya Rey setelah beberapa saat mereka berdua hanya diam.

“Karin, look at me. Please, tell me what happened,” ucap Rey lagi, kali ini nada suara lelaki itu terdengar sedikit frustasi.

Karin menghela napasnya sesaat, lalu ia berujar sambil menatap tepat diiris mata Rey. “Rey, aku mau fokus ke anak aku. Gimana pun, aku sama kak Aryan udah nikah. Aku sepantasnya menghormati kak Aryan, bertemu sama keluarganya untuk lebih saling mengenal. Aku sadar kalau keputusan aku untuk tetap berhubungan sama kamu disaat udah menikah, adalah hal yang kurang pantas. Waktu itu aku dan kak Aryan nggak punya pilihan,” Karin menjeda ucapannya sesaat. Begitu mengucapkannya hati Karin terasa seperti diiris iris. “Aku sama kak Aryan punya anak, tapi hati kita tidak bisa membohongi rasa cinta untuk pasangan masing-masing,” lanjut Karin.

Selama sepersekian detik, Karin dan Rey hanya saling menatap. Rey tidak lagi dapat menyembunyikan tatapan sedihnya di hadapan Karin.

“Karin, aku mau tanya satu hal sama kamu,” ucap Rey kemudian. Rey nampak memejamkan matanya sesaat sebelum akhirnya menatap Karin dan bertanya, “Kamu mau tau alasan kenapa aku pukul Aryan waktu itu? Kamu mau tau alasan kenapa aku benci sama dia?”

“Maksud kamu apa?” Karin justru balik bertanya karena ia tidak paham maksud pertanyaan yang Rey ajukan padanya.

“Aku takut dia ngerebut kamu dari aku, Karin. Rahasia terbesarku soal orang yang pernah suka sama kamu, aku tau kalau orang itu adalah Aryan,” ungkap Rey.

Rey menjelaskan pada Karin alasan mengapa dirinya membenci Aryan. Rey mengetahui fakta soal Aryan yang pernah memiliki perasaan pada Karin dua tahun yang lalu. Di kampus mereka sudah menjadi konsumsi publik bahwa banyak lelaki yang menyukai Karin. Begitu Rey tahu kalau salah satu dari mereka adalah Aryan, Rey takut kalau Aryan bisa lebih dulu mendapatkan Karin dari pada dirinya.

Rey membandingkan dirinya dengan Aryan dan merasa kalau Aryan selalu lebih unggul ketimbang dirinya dari segi apa pun. Rey berpikir kalau Aryan berengsek. Aryan lah yang menjebak Karin malam itu. Selain itu, alasan Rey mengatakan kalau Aryan mirip papanya di masa lalu yakni Aryan adalah lelaki brengsek yang hanya mementingkan kepuasannya. Rey sebelumnya telah mencari tahu masa lalu papanya Aryan. Jejak digital tersebut masih ada, hingga hal tersebut lah yang semakin memupuk kebencian Rey terhadap Aryan. Begitu Rey tahu Karin dan Aryan memiliki pengikat yang kuat di antara keduanya, Rey merasa sangat hancur. Ketakutan terbesar Rey adalah Aryan mampu membuat Karin mencintainya dan suatu saat Karin akan meninggalkan Rey.

“Rey, semua dugaan kamu salah. Kak Aryan nggak ngejebak aku sama sekali. Kita berdua dijebak. Lebih tepatnya, ada seseorang yang menjebak aku,” ucap Karin meluruskan.

Karin juga menjelaskan bahwa gosip yang masih ada di media digital mengenai papa mertuanya, semua itu hanyalah isu miring belaka. Semuanya pun terungkap, Karin tidak memihak siapa pun di sini, ia hanya mengatakan apa yang menjadi kebenarannya.

Karin masih termangu di tempatnya. Ia ingin merespon pengakuan Rey, tapi tidak tahu harus mulai menanggapinya mulai dari mana. Karin sama sekali tidak menduga hal tersebut. Sekali pun Karin sudah bersama Rey, namun Rey tetap belum bisa percaya terhadap dirinya sendiri. Padahal Karin mencintai Rey, tapi rupanya semua itu belum cukup membuat Rey paham akan value yang dimilikinya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin melangkahkan kakinya memasuki restoran khas jepang dengan gaya bangunan minimalis. Ketika sampai di bagian resepsionis, Karin lantas menyebutkan sebuah nama kepada pegawai di sana. Setelah pegawai perempuan di hadapannya mengecek pada bagian daftar tamu yang sudah melakukan reservasi, Karin segera diantar untuk sampai ke meja yang di maksud.

Dari jarak kurang dari 100 meter di hadapannya, kini Karin menangkap sosok perempuan paruh baya yang terlihat begitu fameliar baginya. Pegawai yang mengantarnya tadi sempat menarik kursi untuk Karin, sebelum akhirnya pergi meninggalkannya hanya berdua dengan wanita itu.

“Selamat malam, Karina,” sapa Catherine sembari mengulaskan senyum di wajah anggunnya.

“Malam, Tante,” balas Karin dengan sebuah senyuman ramah di parasnya.

Catherine lalu mempersilakan Karin untuk mencoba minuman yang telah tersaji di atas meja. Karin mengucapkan terima kasih, sebelum akhirnya meneguk minuman teh leci dari gelas bening tersebut.

“Makanannya sebentar lagi sampai. Sebelum kita makan, boleh saya sampaikan maksud saya mengundang kamu ke sini?” tanya Catherine.

Karin lantas menjawab Catherine dengan sebuah anggukan. Catherine terlihat mengambil gelasnya, dengan gerakan anggun ia meneguk minuman teh jasmine itu. Setelah meletakkan gelasnya, Catherine pun berujar, “Apa Rey tau kalau kamu ketemu saya malam ini?”

Karin dengan lugas segera menjawab pertanyaan Catherine. “Sesuai yang Tante inginkan, saya tidak akan memberitahu Rey kalau mamanya ingin bertemu dengan saya,” ucap Karin.

Perbincangan keduanya pun terhenti sejenak kala dua orang pelayan mendatangi meja mereka untuk menyajikan makanan. Catherine pun mempersilakan Karin untuk menyantap makanannya. Di tengah-tengah kegiatan makan malam tersebut, Catherine kembali menatap Karin dan berujar, “Saya tahu kalau anak saya sangat mencintai kamu, Karina.”

Karin pun juga tahu bahwa Catherine, mama dari Rey yang kini berada di hadapannya, tidak merestui hubungannya dengan Rey sejak tahu Karin tengah mengandung.

Karin seketika termenung, garpu dan sendok yang sebelumnya bergerak mengambil makanan di piring pun terhenti, kini hanya menggantung di tangannya begitu saja.

“Namun sebagai seorang ibu, tentunya saya ingin yang terbaik untuk anak saya. Kamu paham kan, maksud saya? Sebentar lagi kamu juga akan menjadi seorang ibu,” ucap Catherine lagi.

Setelah mengucapkannya, Catherine kembali menikmati makanannya dengan begitu tenang. Berbeda dengan Karin yang saat ini merasa sudah kehilangan nafsu makannya. Ajakan Catherine untuk bertemu dengannya tidak dapat Karin tolak, meskipun ia sempat menduga bahwa Catherine memang akan mengatakan hal ini kepadanya.

Ketika Karin mengangkat wajahnya yang sebelumnya tertunduk, Catherine menatapnya lurus-lurus, lalu perempuan itu berujar lagi, “Saya meminta kerelaan kamu untuk menjauh dari hidup anak saya.” Seperti bom waktu yang dapat meledak kapan saja, mungkin ini lah saatnya Karin menemui kehancuran yang selama ini ditakutinya.

Karin lantas meletakkan garpu dan sendoknya di atas piring dengan posisi terbalik. Catherine yang melihat hal tersebut, nampak menautkan alisnya dan melayangkan tatapan bertanya kepada Karin.

“Kamu sudah selesai dengan makanannya?” tanya Catherine.

Karin lantas menjawab pertanyaan Catherine dengan sebuah anggukan.

“Karin, kamu tahu kan, sebenarnya saya merestui kamu dan Rey sejak awal hubungan kalian. Kamu mahasiswi berprestasi di kampus, sopan, baik dan kamu juga cantik,” Catherine menjeda ucapannya selama beberapa detik. Tatapan Catherine yang sebelumnya masih ramah menatap Karin, kini berubah menjadi minim ekspresi.

“Saya pikir, kamu sempurna untuk anak saya, tapi kejadian yang menimpa kamu membuat saya harus kembali berpikir. Saya nggak ingin kamu membawa pengaruh yang tidak baik untuk Rey. Jadi, saya minta kamu benar-benar menghilang dari hidup anak saya. Saya hanya ingin itu Karina, saya mohon.sama kamu, lakukan permintaan saya.”

Pandangan Catherine mengenai Karin seperti berubah seratus delapan puluh derajat. Semudah itu seseorang menilai orang lain dari apa yang terlihat oleh mata dan terdengar oleh telinga. Catherine hanya menganggap Karin sebagai perempuan yang hamil di luar nikah, itu merupakan suatu aib dan perilaku yang buruk.

“Tante, saya tahu apa yang terjadi pada saya bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan atau patut dijadikan contoh. Tapi apa seseorang hanya akan melihat satu keburukan seseorang untuk menilainya secara keseluruhan,” ucap Karin.

Ucapan Karin tersebut anehnya terasa benar di dalam pemikiran Catherine. Namun lagi-lagi, Catherine segera menampik semua itu dan tetap bersikap bahwa keputusannya meminta Karin meninggalkan Rey adalah yang terbaik.

“Karin, kamu bahkan mengkhianati anak saya. Kamu selingkuh di belakangnya sampai hamil anak lelaki lain. Kamu pikir, orang tua mana yang rela anaknya bersama perempuan seperti itu?”

Mendengar seluruh kalimat yang dilontarkan Catherine, rasanya seperti meremukkan hati Karin hingga hancur berkeping-keping. Dengan sisa kekuatan yang Karin miliki, ia berusaha menatap mata wanita berusia 50 tahunan di hadapannya ini. “Tante, terima kasih untuk undangan makan malamnya,” ucap Karin. “Saya akan berusaha melakukan permintaan Tante. Tapi satu hal yang mungkin Tante harus tahu, saya tidak akan membiarkan Rey memperjuangkan apa yang dilarang oleh orang tuanya. Saya pernah merelakan Rey sejak awal, tapi Rey yang memilih untuk bertahan. Saya tahu Tante, seorang anak tetap harus menghormati orang tuanya. Saya permisi, sekali lagi terima kasih.”

Catherine masih diam di tempatnya dengan segala kebingungan yang kini melandanya. Kalimat perempuan yang begitu dicintai anaknya itu memiliki pembenaran yang begitu kuat di dalam hati Catherine. Kalimat Karin tentang seseorang hanya akan melihat satu keburukan seseorang untuk menilainya secara keseluruhan, itu membuat batin Catherine begitu bergejolak.

Karin melihat Catherine mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Rupanya itu adalah beberapa lembar uang yang kemudian diletakkannya di atas meja. Sebelum Catherine melangkahkan kakinya dari meja itu, wanita itu pun kembali berujar di hadapan Karin, “Ternyata kamu memang pandai berbicara, Karin. Saya akui kamu perempuan yang pintar. Jadi, saya pikir kamu cukup tau bahwa apa yang saya katakan adalah benar. Kalau kamu ada di posisi saya, mungkin kamu juga akan melakukan hal yang sama untuk anak kamu.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Tiga bulan kemudian …

Sebenarnya apa definisi sebuah impian bagi seseorang? Apakah semata hanya tentang benda atau sesuatu yang sangat diinginkan? Setiap orang tentunya memiliki impian yang berbeda, dan juga mereka punya pemahaman masing-masing mengenai definisi sebuah impian. Latar belakang juga dapat mempengaruhi impian seseorang. Menurut Karin sendiri, impian baginya tidak hanya berarti soal barang yang berwujud.

Karin punya impian untuk memiliki keluarga yang utuh. Dulu keluarga adalah hal terdengar asing bagi Karin. Namun Karin tahu bahwa impiannya hanya akan menjadi bunga tidur, kalau ia tidak berupaya untuk mewujudkannya. Karin percaya bahwa melakukan yang terbaik yang mampu kita lakukan adalah hal terpenting untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Kebaikan sekecil apapun yang kita lakukan, Tuhan pasti akan menghargainya dan membayarnya dengan sesuatu yang lebih besar.

Satu persatu impian Karin telah terwujud. Karin memiliki keluarga kecilnya sendiri, keluarga yang hangat yang sebelumnya hanya menjadi angan bagi Karin. Suami yang mencintainya, anaknya yang sebentar lagi akan lahir kedua, tempat tinggal baru, serta masih banyak mimpi-mimpi lain akan Karin wujudkan bersama Aryan. Itu sudah menjadi tekad kuat yang Karin dan Aryan telah sepakati.

Karin melangkah ke dalam rumah lebih dulu begitu mereka sampai. Aryan mengatakan bahwa ia akan menyusul Karin setelah mengambil belanjaan di bagasi mobil.

Dari garasi mobil menuju pekarangan rumah, Karin melewati jalanan setapak yang di kanan dan kirinya terdapat jalanan berumput hijau pendek yang telah di pangkas begitu rapi.

Begitu langkah Karin akhirnya sampai di teras rumah, ia melepas sandalnya dan melangkah masuk ke dalam. Karin langsung bertemu dengan mbak Fitri yang sedang berada di dapur kecil yang bersebelahan dengan ruang tamu.

“Non, tadi jadi belanja bulanan sama mas Aryan?” tanya mbak Fitri pada Karin.

“Jadi, Mbak,” jawab Karin.

Mbak Fitri yang mengetahui hal tersebut pun segera bergegas menghampiri Aryan untuk membantu membawakan belanjaan.

Setelah seminggu yang lalu resmi pindah ke rumah ini, kak Syerin telah sepenuhnya menyerahkan mbak Fitri untuk ikut bersama Karin. Asisten rumah tangga kakaknya itu ditugaskan untuk membantu mengurus urusan rumah tangga di rumah ini. Selain itu, anjing puddle berbulu putih kesayangan Karin, Molly, telah ikut tinggal bersama Karin lagi. Karin merasa begitu senang, aspek-aspek penting dalam hidupnya perlahan tertata lengkap dan semuanya terasa lebih indah dari apa yang ia impikan.

Sementara saat Karin sedang mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin dari kulkas, tidak lama berselang, nampak Aryan memasuki rumah dengan dua buah shopping bag di tangannya. Karin pun terdiam di tempatnya begitu merasakan sesuatu mendekap tubuhnya dari belakang.

Karin meletakkan gelas minumnya, kemudian satu tangannya mengusap lengan Aryan yang melingkar di pinggangnya. Pandangan Karin pun lantas mengarah pada tangan keras dengan jalar urat yang begitu menonjol yang mendekapnya itu.

“Belanjaannya ditaruh di mana Kak?” tanya Karin.

“Aku minta tolong mbak Fitri buat bantu bawain ke dapur besar, terus aku nyusul kamu ke sini deh,” jelas Aryan.

Karin pun bergerak membalikkan posisi tubuhnya untuk menghadap Aryan. “Kak, itu kan sebagian belanjaannya ada yang mau aku taruh di dapur kecil. Ada buah-buahan sama susu hamil aku lho di situ,” ujarnya kemudian.

“Oh gitu ya? Maaf ya Sayang, aku tadi lupa. Aku minta mbak Fitri bawain lagi deh kesini ya?” Saat Aryan akan bergerak menjauh dari Karin, perempuan itu justru menahan pergerakannya. Karin menghela Aryan agar kembali memeluk tubuhnya, tidak membiarkan lelaki itu untuk pergi.

“Nggak papa, nanti aja aku yang bilang ke mbak Fitri,” ucap Karin.

Aryan pun segera menyunggingkan senyum semringahnya mendapati kelakuan Karin barusan. Karin yang seperti ini, yang menunjukkan sisi manjanya dan terlihat begitu menikmati waktu saat bersamanya, membuat Aryan merasa begitu berharga dan dicintai.

Di tengah-tengah suasana itu, kehadiran mbak Fitri di sana menginterupsi keduanya. “Maaf Non, ini ada belanjaan buah-buahan sama susu ibu hamil, apa mau di taruh di dapur kecil aja?” tanya mbak Fitri.

Mbak Fitri mau tidak mau menyaksikan pemandangan dua majikannya yang sedang bermesraan itu. Perempuan berusia 40 tahunan itu lantas tidak dapat menahan senyumnya.

“Maaf yaa Non, Mas, saya jadi ganggu waktunya. Ini saya taruh di dapur besar dulu aja ya. Buah-buahannya biar saya cuci dulu, nanti saya bawa lagi ke sini.”

“Oh iya Mbak, buah-buahannya di cuci aja dulu. Makasih ya Mbak,” ucap Karin yang segera diangguki oleh mbak Fitri. Beliau pun segera berlalu dari hadapan Aryan dan Karin, membawa kembali belanjaan di tangannya.

Sepeninggalan mbak Fitri, kini di ruang tamu rumah itu hanya tersisa Aryan dan Karin. Karin yang merasa di perhatikan oleh Aryan menjadi sedikit gugup. Pasalnya seperti yang sudah-sudah, Aryan itu suka lepas kendali dan tidak tahu tempat. Mbak Fitri adalah korban kedua setelah pak Hamdi, supir keluarga yang pernah memergoki keduanya sedang bermesraan. Bukan sekedar bermesraan biasa, tapi ini tentang hubungan yang dilakukan di antara suami dan istri saja.

“Gimana tinggal di rumah ini? Kamu suka?” tanya Aryan sambil menatap Karin lekat.

“Suka. Sebenarnya aku suka tinggal di mana aja, asal masih ada atap sama lantainya sih,” jawab Karin.

“Maksud kamu?”

“Iyaa, aku suka tinggal di mana aja, asal tinggalnya sama kamu.”

Senyuman di wajah Aryan spontan mengembang begitu mendengarnya. Kemudian dengan gemas Aryan mengarahkan jarinya untuk menjepit pelan ujung hidung Karin.

“Papa bilang, rumah ini hadiah buat kita. Waktu papa tanya soal desain sebelum pembangunan, aku nggak masalah desainnya mau kayak gimana. Jadi aku bilang aja ke papa kalau rumah ini khusus dibikin untuk kamu, so semua desainnya biar kamu yang nentuin.”

Pandangan Karin seketika berubah terharu mendengar perkataan Aryan, tampak kilatan di kedua bola matanya. Sekitar tiga bulan yang lalu, papa mertuanya menyampaikan niat untuk memberikan hadiah kepada Aryan dan Karin. Rencananya papa memang ingin memberikan sebuah rumah hunian dan beliau mengatakan bahwa rumahnya akan dibangun cukup besar. Papa mengatakan rumah tersebut haruslah cukup untuk tinggal anak, menantu, dan cucu-cucunya kelak.

“Papa bilang beliau pengen punya cucu banyak lho, Sayang. Rumah ini besar banget, kira-kira kamu mau kita punya anak berapa?” tanya Aryan.

Rumah ini dibangun dengan desain yang diinginkan Karin, yakni dengan gaya amerika modern. Terdapat halaman di depan dan di belakang, serta pohon-pohon yang ditanam membuat area sekitar rumah sangat asri dan sejuk. Papanya memberi hadiah rumah ini berkat melihat itikad baik yang Aryan dan Karin telah lakukan untuk mempertahankan rumah tangga keduanya. Wujud cinta yang Aryan dan Karin telah tunjukkan, telah begitu menggerakkan hati papanya. Papa begitu bangga dengan mereka. Selain itu, alasan lainnya adalah Aryan berhasil diangkat menjadi karyawan tetap di Harapan Jaya Group. Aryan mencapainya berkat usaha dan kegigihannya dalam menunjukkan skill dan kinerjanya selama menjadi karyawan magang di perusahan itu.

“Kak, aku udah mutusin sesuatu,” ujar Karin sembari menatap Aryan dan menyisir pelan rambut Aryan menggunakan jemarinya.

“Soal apa?” tanya Aryan.

“Mulai besok aku udah ngambil cuti untuk semua kerjaan aku.”

Sebelumnya Karin memang telah mendiskusinnya pada Aryan. Kini ia akhirnya telah memutuskan untuk mengambil waktu istirahat untuk pekerjaannya. Karin ingin fokus terhadap kandungannya karena beberapa bulan lagi anaknya akan segera lahir.

“Kamu ambil cuti kuliah juga?”

“Aku belum tau sih Kak. Menurut kamu gimana?”

Aryan pun memberikan saran bahwa Karin bisa tetap kuliah dan dapat menggunakan liburan panjang akhir semester yang berdekatan dengan hari perkiraan lahir anak mereka, untuk persalinannya nanti. Mengenai urusan merawat anak, Aryan mengatakan bahwa Karin tidak perlu khawatir. Aryan akan membantunya dan mengambil peran yang saling melengkapi untuk merawat anak mereka. Selain itu mereka juga bisa meminta bantuan suster untuk itu. Sebagai seorang ibu baru, Karin juga masih harus banyak belajar. Maka pilihan meminta bantuan kepada ahlinya dirasa adalah opsi yang cukup baik.

“Kak,” ujar Karin lagi.

“Iya, Sayang?”

“Aku kayaknya ngidam sesuatu deh.”

“Oh, iya? Kamu ngidam apa? Bilang aja, aku bakal usahain buat turutin.”

“Kamu serius?” tanya Karin memastikan.

Aryan dengan cepat menganggukkan kepalanya. “Iya, Sayang. Aku serius. Kalau aku nggak sanggup nurutin, aku bisa minta bantuan papa. Aku yakin papa bisa ngelakuin apa pun.”

“Ada-ada aja sih kamu.” Karin pun tergelak.

“Lho, kamu nggak percaya? Nanti kalau aku udah sehebat papa, aku nggak akan minta bantuan papa lagi. Aku akan berusaha sendiri untuk nurutin semua keinginan kamu.”

Bagi Aryan ia akan melakukan apa pun dan memberikan segalanya yang ia mampu untuk Karin. Namun sebenarnya bagi Karin, kehadiran Aryan di hidupnya sudah lebih dari cukup. Materi dapat dibeli, tapi waktu dan cinta tulus seseorang adalah hal yang tidak akan ternilai dan dapat digantian oleh uang.

***

Aryan tidak terpikirkan bahwa permintaan Karin adalah hal yang begitu sederhana. Persiapan yang mereka perlu dilakukan pun sangat lah mudah. Sebuah bathtub yang cukup luas yang cukup untuk mereka berdua, lilin aroma terapi, serta busa-busa yang banyak berkat bathbomb beraroma jasmine, Karin dan Aryan akan berendam bersama.

Karin menyandarkan tubuhnya di dada bidang Aryan, dengan kedua lengan lelakinya yang memeluk tubuh polosnya dari belakang. Karin memejamkan matanya, nampak begitu nyaman dengan posisi mereka.

Bathtub talk, itu lah yang ingin Karin lakukan di saat waktu siang menjelang ke sore ini. Mereka telah membicarakan beberapa hal. Sesuai kesepakatan keduanya, mereka ingin selalu memiliki waktu seperti ini, saling bertukar pikiran, dan terbuka satu sama lain.

Karin membuka matanya perlahan, lalu ia merubah posisinya hingga kini berhadapan dengan Aryan. Kemudian dengan satu tangannya, Karin mengambil gumpalan busa dan mengusapkannya ke satu sisi wajah Aryan. Karin tertawa kecil, ia nampak begitu senang dengan kegiatan mereka tersebut.

Aryan lantas ikut tertawa, ia hanya menikmati apa yang terjadi, apa yang dirinya lakukan bersama Karin.

“Kak, aku mau tanya satu hal sama kamu. Boleh?”

“Boleh. Mau tanya apa?”

Karin pun bertanya mengenai perasaan Aryan padanya saat di awal. Mereka saling menatap, netra Karin yang berbinar ketika memandangnya, berkali lipat membuat Aryan jatuh cinta.

“Aku bakal jawab jujur,” ujar Aryan.

Karin mengangguk kemudian. Karin memajukan tubuhnya sedikit agar lebih dekat dengan Aryan.

“Awalnya aku belum tau pasti soal perasaanku. Aku belum sadar itu, sampai Leon yang akhirnya nyadarin aku,” ucap Aryan.

Leon yang notabenenya adalah sahabat Aryan sejak lama dan telah begitu mengenalnya, tentu dapat menyadari perasaan Aryan kepada Karin. Aryan mungkin sadar soal perasaannya, tapi logikanya sering kali lebih dominan dan menampik semua itu.

“Aku butuh waktu untuk mastiin semuanya. Bukan soal aku aja, tapi ini tentang kamu juga. Aku nggak mau sampai sesuatu nyakitin kamu lagi. Kayaknya udah cukup semua rasa sakit yang pernah aku kasih ke kamu,” ungkap Aryan.

Perlakuan Karin kepada Aryan, rasa percaya, rasa menghormati, dan peduli, telah membuat Aryan jatuh hati. Aryan akui pada akhirnya, bahwa hatinya sepenuhnya adalah milik Karin. Rasa cinta tersebut tumbuh dan berkembang semakin besar. Kepribadian Karin lah yang telah membuat Aryan jatuh cinta padanya. Semata-mata bukan karena Karin cantik. Kecantikan Karin itu adalah bonus baginya.

“Akhirnya aku tau dan benar-benar bisa pastiin semuanya. Kalau pun kamu nggak milih aku, aku akan nerima itu, Karin. Apa pun pilihan kamu, yang paling penting itu buat kamu bahagia,” ucap Aryan lagi.

Aryan tahu bahwa Karin menyayanginya sejak perempuan itu selalu ada untuknya di kala Aryan hilang arah, saat Aryan merasa tidak dicintai dan tidak berharga. Karin menerangi kembali dunia Aryan yang tiba-tiba saja menjadi gelap. Aryan tahu dan mempercayai hal tersebut di hatinya, bahwa Karin sungguh-sungguh mencintainya.

Aryan telah mengakhiri jawaban atas pertanyaan Karin padanya. Lelaki itu lantas memperhatikan ekspresi terharu di wajah Karin. Aryan tahu bahwa Karin bukan meragukannya, sesekali wanita memang memerlukan validasi. Aryan akan dengan sukarela memberi tahu Karin. Sekali pun Karin meminta Aryan mengutarakan perasaannya setiap satu bulan sekali atau satu minggu sekali, Aryan akan dengan sukarela melakukan itu.

***

Sekitar setengah jam yang lalu, Aryan dan Karin memutuskan untuk membilas badan, setelah itu mereka segera beranjak dari bathtub. Setelah mengenakan pakaian dan mengeringkan rambut, keduanya menuju kamar dan pergi tidur. Namun kini begitu Aryan terjaga dari tidurnya, ia mendapati Karin tengah terjaga juga. Kedua netra bulat Karin nampak segar, padahal tadi Karin mengatakan bahwa ia mengantuk dan jadilah mereka mengkakhiri kegiatan berendam.

“Aku nggak bisa tidur,” ucap Karin pelan.

Dengan tatapan mengantuknya, Aryan masih berusaha meladeni Karin. “Kenapa nggak bisa tidur? Anak kita gerak-gerak lagi ya?”

“Iya, tadi dia nendang. Aku agak kaget, jadi kebangun. Sekarang aku nggak bisa tidur lagi,” jelas Karin.

“Sakit nggak perut kamu? Mau aku usapin?” tawar Aryan.

“Mau,” balas Karin sembari menganggukkan kepalanya, bibirnya sedikit mencebik lucu. Detik berikutnya, Karin bergerak mendekat pada Aryan, memudahkan pria itu untuk mengusap perutnya.

Karin memejamkan matanya begitu tangan Aryan mulai mengusap perutnya dengan gerakan searah. Karin merasa nyaman berkat apa yang Aryan lakukan itu. Satu tangan Aryan yang bebas tidak tinggal diam, telapak tangan yang hangat dan besar itu bergerak mengusap sisi wajah Karin.

Karin selalu suka ketika Aryan melakukannya, itu membuatnya lebih cepat tidur. Semenjak usia kehamilannya semakin tua, Karin jadi lebih sulit tidur. Padahal Karin mudah merasa lelah, ia butuh banyak istirahat. Namun perutnya yang sudah membesar, membuatnya sering merasa sesak dan napasnya terasa agak berat.

Aryan masih di sana, ketika akhirnya Karin membuka kelopak matanya. Netra Karin menatap Aryan lekat, penuh arti.

“Masih nggak bisa tidur ya?” tanya Aryan, tatapannya terlihat khawatir.

“Kak,” ucap Karin sembari meraih tangan Aryan yang masih berada di wajahnya. Gerakan Aryan memberi usapan di sana pun terhenti. Karin menyelipkan jemari mungilnya di antara jemari Aryan, lalu menggenggam erat jemari Aryan di sana.

Dari tatapan Karin, Aryan akhirnya mengerti apa yang istrinya inginkan. Aryan menatap Karin dalam-dalam, kemudian ia bertanya untuk memastikan. “Beneran mau?”

Karin nampak berpikir sesaat. Setelah tersenyum kecil, Karin akhirnya memberi jawaban, “Iya, mau.”

“Oke,” balas Aryan, senyum bahagia pun tidak dapat luntur dari wajah tampannya. “Aku siap-siap dulu ya. Kamu tunggu sebentar.”

“Kak, aku mau siap-siap juga.”

Aryan mengarahkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Karin, lalu Aryan mengulaskan senyumnya.

Sebelum beranjak dari kasur, Aryan menyematkan sebuah kecupan di bibir Karin. Aryan dapat merasakan lipbalm manis di bibir Karin yang tertransfer ke bibirnya. Keduanya lantas saling melempar sebuah senyuman.

Ketika Aryan ingin memberikan yang terbaik untuk Karin, maka Karin juga ingin memberikan yang terbaik untuknya. Tanpa Karin mengatakannya, Aryan tahu bahwa ia telah memiliki Karin seutuhnya. Raga dan jiwa Karin, perempuan itu telah menyerahkan sepenuhnya hanya untuk Aryan.

***

Karin menatap pantulan dirinya di cermin meja rias putih di kamar. Karin menghela napasnya lalu menghembuskannya. Ia sedikit gugup. Meski ini bukan pertama kali ia dan Aryan akan melakukannya, gelora cinta dalam diri Karin selalu sukses membuatnya berdebar seperti ini.

Ketika Karin selesai menggunakan beberapa wewangian di tubuhnya, tepat saat itu ia mendapati Aryan melenggang memasuki kamar.

Sesampainya Aryan di hadapan Karin, lelaki itu menangkup kedua sisi wajah Karin. Detik berikutnya, Karin pun beranjak dari posisi duduknya, dengan gerakan lembut Aryan pun menarik pinggang Karin mendekat padanya.

Aryan lantas sedikit menunduk, lalu perlahan-lahan mulai mengecup mesra bibir ranum Karin. Tubuh Aryan yang sedikit lebih tinggi dari Karin, membuat Karin harus berjinjit untuk mengimbangi tempo ciuman yang Aryan lakukan.

Desahan yang terdengar begitu seksi lolos dari bibir Karin saat Aryan memperdalam ciumannya. Satu tangan Aryan menghela tengkuk Karin, guna mempermudah kegiatan yang sedang mereka lakukan. Tangan Aryan yang bebas bergerak mengusap aset milik Karin yang terasa begitu sintal di bagian belakang itu. Kegiatan Aryan itu membuat Karin seketika menjengitkan tubuhnya, dengan seruan dari dalam dirinya, Karin pun menghela Aryan untuk beralih mencumbu area lehernya.

Setelah ciuman yang mereka lakukan selama hampir sepuluh menit, Aryan kini telah membawa tubuh Karin ke ranjang. Sambil menjelajahi wajah Karin, Aryan pun berujar, “Karin, kamu cantik banget.”

Suara berat Aryan yang memujanya, pandangan Aryan yang begitu terlihat mendamba kala melihatnya, membuat iris mata Karin langsung berkaca-kaca.

“Kamu hamil gini, jadi makin seksi,” ujar Aryan lagi, tatapannya gemas, nada bicaranya sedikit jenaka.

“Masa sih? Bukannya aku jadi gendut?”

“Kamu nggak gendut, Sayang, tapi seksi. Aku suka kamu kayak gini, istri aku selalu cantik,” puji Aryan lagi.

Perlakuan Aryan yang menghargai Karin seperti ini, selalu mampu membuat Karin merasa nyaman dan spesial. Aryan tidak pernah lupa memperlakukan Karin dengan spesial, memuji, menuruti keinginannya, semua itu bentuk cinta yang Karin terima hampir setiap hari.

Bibir Aryan yang penuh dan terasa lembap itu, kini turun perlahan-lahan ke dari rahang Karin hingga ke lehernya. Aryan mengecup leher Karin dalam-dalam di sana, rasanya begitu nikmat, hingga menghadirkan reaksi alami dari tubuh Karin. Karin dengan pintar merespon setiap pergerakan yang Aryan lakukan, mereka saling mengapresiasi satu sama lain, dari sana lah terjadi komunikasi antar pasangan yang begitu intim. Hubungan tersebut tidak hanya sepihak, mereka saling memberi respon yang baik, itu lah yang membuat keduanya menghabiskan waktu hingga lebih dari dua puluh menit sendiri untuk kegiatan foreplay.

“Kak, gimana kalau kita coba posisi baru?” ujar Karin sembari menyibak helaian rambut Aryan yang turun menutupi keningnya. Aryan lantas nampak sedikit terkejut mendengar ucapan Karin barusan.

“Kamu mau posisi apa emangnya?” tanya Aryan.

Woman on top. Gimana?”

Tidak lama kemudian, Aryan mengangguk menyetujuinya. Lelaki itu mengatakan pada Karin bahwa ia percaya untuk mereka melakukannya. Dari jurnal-jurnal yang mereka baca dan hasil konsultasi dengan dokter, posisi woman on top dapat memberikan kepuasan yang lebih kepada wanita. Seorang wanita akan memegang kendali hampir sepenuhnya, sehingga lebih tau titik kepuasannya. Posisi ini akan membuat gerakan pria tidak terlalu intens dan ejakulasi menjadi tertunda. Jadi dalam posisi ini pria tidak hanya memberi, tapi juga menerima.

Sebelum Karin bergerak ke atasnya, Karin membiarkan Aryan untuk melucuti pakaiannya. Itu sangatlah mudah bagi Aryan. Gaun sutra pendek berwarna merah gelap yang dikenakan Karin, hanya membutuhkan lima detik untuk berhasil tanggal ke lantai. Sama yang dilakukan oleh Aryan, Karin pun melepaskan satu persatu pakaian Aryan.

Setelah adegan melepaskan pakaian itu, Karin kembali mengecup bibir Aryan, sambil tangannya menyentuh setiap bagian tubuh keras dan berotot pria itu. Ini babak kedua dari foreplay, lagi dan lagi, keduanya sama-sama merasa terbang ke atas langit. Setiap gerakan mereka begitu terasa indah dan memabukkan.

Babak kedua terjadi lebih lama dari babak pertama. Aryan selalu melakukannya seperti itu, memberi Karin service spesial sampai perempuan itu puas lebih dulu.

Setelah pemanasan tersebut berakhir, kini Karin telah berpindah posisi menjadi di atas Aryan. Surai panjang Karin yang sudah menjadi lembap berkat cucuran keringatnya, membuat Karin terlihat semakin seksi. Begitu Karin mencium bibir Aryan lagi, helai rambut Karin yang jatuh mengenai wajah Aryan, memberikan sensasi nikmat tersendiri untuk pria itu.

Dengan satu tangannya dan sisa kekuatannya, Karin menyilakan rambutnya. Rambutnya sedikit menghalangi Karin dengan kegiatannya. Pergerakan Karin menyilakan rambutnya itu sukses membuat Aryan tidak berkedip. Karin sangat cantik. Sendi-sendi lutut Aryan seketika melemah, rasanya kedua kaki miliknya kini telah berubah menjadi jeli.

“Karin ... “ lenguhan itu lolos begitu saja dari bibir Aryan.

Kode tersirat dari Aryan itu lantas ditangkap dengan baik oleh Karin. Karin pun segera melakukannya lebih jauh, ia sudah menggenggam milik Aryan dengan satu tangannya. Napas mereka saling beradu, itu semakin intens, ketika Karin menggerakkan milik Aryan dengan tangannya dengan gerakan naik turun.

Bibir keduanya masih saling memagut ketika Karin mulai memasukkan milik Aryan ke dalam miliknya. Tetesan peluh Karin di pelipisnya yang turun hingga ke dadanya, membuat tangan Aryan basah kala ia memainkan dua benda milik Karin di sana. Mereka sudah sama-sama basah seujur tubuh dan ingin segera sampai ke pelepasan yang sesungguhnya.

“Kak, I love you,” ucap Karin dengan sedikit napas yang terengah, saat akhirnya milik Aryan berhasil menyentuh titik sensitifnya.

I love you,” balas Aryan. Selama itu terjadi, netra mereka saling menatap, mereka menyalurkan cinta dan kasih dari tatapan itu. “I love you more, Karin,” sambung Aryan sembari mengusap puncak dada Karin dengan gerakan lembut.

Karin menangis di tengah-tengah kegiatan itu. Melihat air mata Karin membasahi belah pipinya, Aryan segera mengarahkan jemarinya untuk menyekanya dengan lembut. Gerakan Karin di atas Aryan terasa begitu sempurna, Aryan sangat menikmatinya. Semua yang Karin lakukan saat ini adalah hal terindah untuk Aryan. Aryan tahu bahwa Karin mencintainya dan lebih dari cukup baginya.

Setelah sekitar sepuluh menit lebih penyatuan tersebut terjadi, keduanya memutuskan untuk beristirahat. Karin merebahkan tubuhnya di samping Aryan, mereka saling berhadapan dan melempar pandangan.

“Sayang, kamu hebat banget. You are great, thank you for everything,” ucap Aryan.

Karin lantas mengulaskan senyumnya, ia mengambil tangan Aryan dan memberikan kecupan di punggung tangannya.

“Kita mau udahan atau nanti lanjut lagi?” tanya Aryan.

“Hmm … mau lanjut lagi,” jawab Karin.

“Kamu nggak capek emangnya?”

“Capek sih. Sedikit sakit juga. Kamu mau lagi, atau udah?”

“Kalau kamu capek, kita masih bisa lanjutin nanti malem atau besok. Nggak papa Sayang, kasian kamu lagi hamil juga.”

Karin akhirnya mengangguk setuju. Mereka memutuskan menyudahinya, tapi tidak langsung beranjak tidur. Meskipun matanya terasa berat, Aryan berusaha untuk tidak terpejam. Aryan tahu Karin suka mengobrol setelah mereka melakukan hubungan badan.

Tangan Karin yang tengah memegang lengan Aryan, secara tiba-tiba mencengkramnya dengan cukup erat, membuat Aryan sedikit terkejut. Karin nampak meringis dan berujar kesakitan.

“Kak, barusan bayinya nendang lumayan kenceng,” ucap Karin.

“Ohiya?”

Aryan yang bersemangat setiap merasakan anaknya bergerak, segera mendekatkan dirinya agar sejajar pada perut Karin.

“Hei, anak papa. Kamu aktif banget ya dari kemarin. Kamu lagi ngapain sih di dalem perut Mama?”

“Kamu sabar ya, sebentar lagi kita ketemu. Kalau kamu udah lahir, nanti Papa ajak kamu main bola sama mobil-mobilan. Papa sama Mama nggak sabar banget ketemu sama kamu,” oceh Aryan lagi.

Usai berbicara pada anaknya, Aryan kembali mensejajarkan posisinya dengan Karin. Mata sabit indah milik Aryan, kini menatap teduh ke arah Karin.

“Sayang, dokter bilang kalau kita makin sering kita berhubungan, itu bagus buat bayinya, kan?”

“Iya. Kata dokter bisa buat mancing kontraksi dan pembukaan jalan lahir,” jawab Karin.

Jawaban Karin itu segera menghadirkan sebuah senyuman cerah di wajah Aryan. Karin yang memperhatikan itu lantas ikut mengulaskan senyum cantiknya. Karin senang bahwa yang mereka lakukan dapat membuat Aryan bahagia. Karin telah memberikan seluruh dirinya untuk Aryan, yang lantas dibalas pria itu dengan cinta yang lebih besar.

Sebenarnya tidak ada yang tahu seberapa besar patokan cinta itu. Cinta tidaklah berwujud. Lucu memang, tapi begitulah adanya. Namun cinta itu sendiri yang pada hakikatnya menghasilkan bentuk-bentuk yang lebih besar dari apa yang bahkan tidak manusia duga. Cinta menghasilkan suatu wujud yang membuat manusia bertahan, melestarikan keturunan, dan memungkinkan dua orang yang sebelumnya jauh sekalipun, menjadi dekat, guna melengkapi dan mengasihi satu sama lain.

“Sayang, mau cium,” ucap Aryan.

Karin memperhatikan bibir Aryan yang berucap, padahal mata pria itu kini telah terpejam.

“Masih kurang? Mau cium di mana lagi emangnya?” balas Karin kemudian. Karin mengalungkan lengannya di pundak Aryan, menghapus ruang yang sebelumnya ada di antara mereka. Merasakan sentuhan Karin di tubuh polosnya, Aryan segera membuka matanya.

Aryan lalu mengarahkan telunjuknya untuk menunjuk bibirnya, “Di sini.” Kemudian jarinya segera beralih, ke pipi, kening dan terakhir di dekat rahang. “Di sini juga Sayang. Sebenarnya bebas kamu mau cium di mana. You are a pro and you always amazing when we’re did it.”

Karin tertawa sekilas. “Berkat ajaran kamu selama ini.”

Aryan kemudian tersenyum bangga. “Are you willing for it? I can teach you more.”

Karin nampak berpikir sejenak, dengan jenaka, perempuan itu menjauhkan wajahnya dari Aryan saat Aryan bergerak ingin menciumnya.

I’m forever yours, Kak. Let’s do it tonight, tomorrow, even until we get older together. Are you willing for it?” ujar Karin.

Aryan lantas mengangguk. “Yes, Baby. Let's do it for sure,” ucap Aryan.

Sebagai pengantar tidur keduanya, mereka kembali saling mencumbu satu sama lain. Netra Aryan mulai terpejam dan tampak begitu lelap, tapi bibirnya masih setia bergerak mengulum bibir Karin di sana.

Bibir Aryan yang penuh dan besar itu, Karin begitu menyukainya. Suatu hari, jika anaknya lahir dan akan mewariskan bibir Aryan ini, Karin yakin anaknya akan menjadi lelaki yang tampan, persis seperti papanya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin baru saja terjaga dari tidurnya. Begitu membuka mata, Karin langsung menoleh ke samping, tapi ia tidak menemukan sosok Aryan di sana. Napas Karin terdengar naik turun, rasanya dadanya sedikit sesak, ia juga kesulitan untuk bernapas. Karin menghela napas panjangnya ketika menyadari bahwa apa yang dilihatnya barusan hanyalah sebuah mimpi.

Karin baru saja mengalami mimpi yang tidak ia inginkan. Karin dibawa ke masa saat dirinya berusia 15 tahun, tepat saat di mana mamanya pergi begitu saja. Setelah papanya meninggal dan memiliki hutang piutang, hal tersebut menyebabkan barang-barang di rumah beberapa disita oleh bank. Beberapa saat setelah itu lah mamanya pergi, meninggalkan ia dan Kavin hanya berdua di rumah. Karin tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu. Lebih tepatnya, Karin tidak ingin mengingatnya. Karin hanya mengingat saat kak Syerin dan mama Vanessa datang ke rumah, mengulurkan tangan padanya dan Kavin dan bersedia untuk merawat keduanya.

Karin memutuskan turun dari ranjang dan segera melangkah menuruni tangga. Ketika Karin melihat Aryan di meja ruang tamu sedang berkutat dengan laptop di hadapannya, ia segera menghampiri lelaki itu. Aryan yang mendapati Karin terjaga dari tidurnya dan wajahnya nampak pucat, langsung bertanya dengan nada khawatir khasnya.

“Sayang, kamu kenapa?”

“Kak, aku habis mimpi buruk,” jelas Karin. Tatapan Karin seolah mengadu pada Aryan. Wajahnya dipenuhi dengan guratan kesedihan. Aryan tidak tega melihatnya dan sepertinya mimpi buruk yang dialami Karin cukup serius.

Aryan lantas mematikan laptopnya dan menutupnya. Setelah itu Aryan berpindah posisi untuk mendekat pada Karin. Aryan bergerak membawa torso mungil Karin ke dalam dekapannya.

“Kamu mau tidur lagi? Maaf yaa, tadi aku tinggal kamu sebentar. Aku harus ngerjain tugas magang,” ucap Aryan.

“Aku nggak mau tidur. Aku takut mimpi lagi,” ucap Karin pelan. Karin membenamkan wajahnya di pelukan hangat Aryan. Perasaannya masih kacau, sampai-sampai membuat rasa kantuknya hilang begitu saja.

Selama beberapa menit berselang, Aryan tetap membiarkan Karin untuk memeluk tubuhnya. Tanpa mengatakan apa pun, Aryan memberi usapan di surai panjang Karin, berharap apa yang ia lakukan dapat mengurangi rasa takut yang sedang Karin rasakan.

Usapan lembut Aryan di surai Karin terhenti begitu Karin bergerak dari posisinya. Karin menengadahkan wajahnya, ia menatap Aryan lekat. Karin bersyukur bahwa ia tidak sendiri lagi, ia memiliki seseorang untuk bersandar di kala bersedih dan karenanya Karin dapat merasa lebih baik.

Mereka masih di sana, tapi kini mencoba mengubah posisi agar lebih nyaman. Aryan berada di samping Karin, meminta perempuan itu menyandarkan kepalanya di bahu tegapnya, lalu Aryan mendekap tubuh Karin dari samping. Karin meringkuk layaknya seorang bayi, dua kakinya berada di atas pangkuan Aryan, tampak begitu nyaman dengan posisinya saat ini.

Aryan & Karin Position

Selama hidupnya, belum ada yang tahu soal mimpi yang kerap kali Karin alami. Itu adalah mimpi yang sama, mimpi yang membuatnya merasa ketakutan. Maka dari itu, Karin tidak pernah berniat menceritakannya kepada siapa pun. Namun malam ini, dengan sukarela, Karin mengatakan bahwa ia akan membagi cerita itu kepada Aryan.

Aryan memfokuskan atensinya pada Karin, kini mereka saling menatap. Karin berdeham sekali sebelum akhirnya memulai ceritanya. “Sampai sekarang, aku nggak tau alasan kenapa mama ninggalin aku dan Kavin. Aku kangen sama mama, tapi aku nggak tau aku sanggup ketemu sama beliau atau engga,” ucap Karin.

“Karin, aku boleh tanya satu hal sama kamu?” tanya Aryan kemudian.

Karin pun mengangguk, “Boleh. Kamu mau tanya apa?”

“Apa kamu udah maafin beliau?”

Pertanyaan Aryan itu tidak lantas mempunyai jawaban di benak Karin. Karin tidak pernah terpikirkan bahwa rasa kecewa dan marah pada mamanya yang belum termaafkan, adalah penyebab dari rasa sakit yang masih bersarang di hatinya hingga sekarang.

Karin akhirnya menjawab Aryan dengan sebuah gelengan. Aryan tidak menatapnya dengan tatapan menghakimi, melainkan lelaki itu melayangkan tatapan lembutnya pada Karin. Aryan lalu berujar, “Kamu memaafkan seseorang untuk berdamai dengan diri kamu sendiri. Aku tau ini nggak akan mudah buat kamu, kamu nggak harus buru-buru untuk maafin, tapi kamu coba untuk memaafkan beliau, ya?”

Hati Karin yang sebelumnya seperti bongkahan es yang keras dan beku, kini perlahan-lahan mulai bisa mencair akibat ucapan hangat Aryan. Aryan kini sangat paham mengapa Karin menjadi perempuan yang begitu tangguh. Masa lalu yang kelam yang mungkin mayoritas orang akan melihat itu sebagai suatu kelemahan, tanpa mereka ketahui, hal berat itulah yang membuat Karin menjadi sosok perempuan yang hebat.

Aryan lantas mengarahkan tangannya untuk menangkup sisi wajah Karin, “Karin, aku bangga sama kamu. I’m proud for what you did. You are amazing and you have to know that,” ucap Aryan.

Perlahan-lahan Karin mengulaskan senyum bahagianya. Wajahnya yang semula nampak sedih dan begitu sendu, kini sedikit lebih ceria dan semuanya terasa lebih baik. “I’m grateful I knew I have somebody to tell, Kak. Thank you for everything that you did to me,” balas Karin.

Karin mengatakan bahwa dirinya tidak ingin terus bergantung kepada Syerin, kakak sambungnya. Maka dari itu, saat usianya menginjak 18 tahun, Karin akhirnya memutuskan untuk memiliki penghasilan sendiri. Karin memulai karirnya sebagai seorang beauty vlogger dan freelance model. Karin pun akhirnya berhasil sukses berkat kerja keras dan ketekunannya. Karin juga mendapat gelar mahasiswi berprestasi di kampus karena prestasi cemerlang dan keaktifannya mengikuti berbagai kegiatan fakultas.

Banyak yang sudah Karin capai, tapi Karin rela hampir kehilangan semuanya untuk mempertahankan bayinya. Karin hanya ingin anaknya kelak hidup bahagia, ia berharap bahwa anaknya tidak akan pernah merasakan apa yang dulu ia rasakan. Karin pun telah berjanji pada dirinya, ia tidak akan membiarkan hal yang ditakutinya tersebut menjadi kenyataan.

“Kak, aku mau tidur. Tapi kamu jangan tiba-tiba pergi ya, bilang dulu sama aku kalau mau pergi,” ucap Karin.

Aryan segera mengangguki permintaan Karin tersebut. Saat mereka beranjak dari sofa, Aryan menawarkan sesuatu pada Karin “Mau aku gendong?”

Karin nampak memikirkan ucapan Aryan itu. Sambil mengulaskan senyum manisnya, akhirnya Karin pun mengangguk.

“Mau gendong,” ucap Karin. Nada suaranya sedikit manja. Baru pertama kali ini Aryan mendengarnya dan yaa ... itu sungguh membuat Aryan merasa senang.

Bridal style atau koala?” tanya Aryan.

“Mau bridal.”

“Oke, bridal.”

***

Ketika Karin membuka matanya di pagi hari, ia mendapati Aryan telah terbangun lebih dulu darinya. Karin pun lantas mengernyit, tampak dua buah kerutan di keningnya. Ini hari minggu dan suaminya telah bangun di jam 7 pagi? Karin pun takjub, ini merupakan suatu keajaiban, pikirnya.

“Kok tumben banget kamu udah bangun?” celetuk Karin.

“Hebat nggak aku?” tanya Aryan sembari menaik turunkan alisnya.

Karin mau tidak mau tersenyum. Kalau begini, wajah suaminya itu nampak begitu menggemaskan. Satu hal yang mungkin jarang orang lain dapati, ekspresi Aryan yang seperti ini, hanya ditampilkan di depan Karin. Aryan versi apa adanya, begitulah lelaki itu ketika bersama Karin.

“Hebat. Hebat banget suami aku,” ucap Karin sambil mengacungkan ibu jarinya. Sesaat kemudian, Karin kembali memejamkan matanya dan bergerak masuk ke dalam pelukan Aryan.

“Hari ini kamu ada schedule apa?” tanya Aryan, posisi keduanya masih saling memeluk, tidak berubah sedikit pun.

“Nggak ada, hari ini aku libur. Ada sih sebenernya, cuma nge-vlog kok. Soalnya youtubeku belum upload video dari minggu lalu,” jelas Karin.

“Oke.”

“Kamu hari ini mau keluar rumah nggak Kak?” tanya Karin.

Aryan pun menjawab pertanyaan Karin dengan sebuah gelengan.

“Hmm … kamu mau in frame di vlog aku nggak? Soalnya aku mau record videonya di rumah aja, ini tema videonya A Day in My Life,” ucap Karin lagi. Ia mengungkapkan ide yang terlintas di kepalanya.

“Kalau vlog-nya di rumah nanti judul videonya apa?” tanya Aryan. Karin pun segera bergerak dari posisinya, ia menjauhkan tubuhnya sedikit dari Aryan dan kini mereka saling menatap.

“Judulnya nanti A Day in My Life with My Husband, Weekend Edition. Is it good or not? Atau kamu punya masukan buat judulnya? Nanti aku bisa bilang ke editorku,” ujar Karin.

Karin memperhatikan Aryan yang kini nampak berpikir. Kedua alis tebal lelaki itu nampak menyatu di tengah serta belah bibirnya mengulum ke dalam.

Dua detik berikutnya, Aryan melayangkan tatapan berbinar sekaligus penuh afeksinya kepada Karin. “Aku mau in frame di vlog kamu. Judulnya udah bagus, bagus banget. Jadi, kita bakal ngapain aja di rumah seharian ini?”

***

Ini adalah pengalaman yang sangat baru sekaligus terasa sedikit lucu bagi Aryan. Namun pria itu nampak begitu menikmatinya dan sangat bersedia untuk melakukannya.

Ternyata begini proses di balik layar yang dilakukan oleh seorang content creator. Kenyataan yang terjadi, mereka sudah bangun tidur, tapi harus kembali mengulang adegan bangun tidur. Ini mirip dengan berakting, tapi Aryan cukup bagus melakukannya meski ia adalah seolah pemula.

Setelah adegan bangun tidur, Karin bergerak mengambil kamera yang ia letakkan di dekat TV di kamar. Wajah Karin lantas menghadap ke kamera mirrorless di tangannya dan ia memulai sebuah intro. “Hi, everyone. Welcome back with me, Karina. Hari ini aku akan buat video a day in my life with my husband, weekend edition. Udah lama banget yaa kayaknya aku nggak nge vlog. As you guys ask, vlog keseharian adalah permintaan yang paling banyak dari kalian. So here’s the video, hope you guys enjoy it. Happy watching.”

Aryan akui bahwa Karin begitu lihai dan lugas ketika berbicara di depan kamera. Karin memberikan Aryan arahan untuk melakukannya. Script yang ada hanya di jadikan bahan acuan, selebihnya mereka banyak melakukan improvisasi.

Hal yang pertama Karin dan Aryan lakukan setelah bangun tidur adalah membuat sarapan. Kamera dipegang oleh Karin, ia merekam Aryan yang sedang membuat sarapan untuk mereka.

“Hari ini kita buat sarapan yang sederhana aja. Suami aku yang buatin sarapannya nih, guys,” Karin lalu mengarahkan kameranya kepada Aryan. “Makasih yaa,” ucap Karin dengan suara lembutnya. Tepat setelah itu, Aryan mengalihkan fokusnya dari masakannya kepada Karin. Otomatis di layar kamera terlihat wajah Aryan dengan jarak yang cukup dekat.

Karin nampak tersenyum mendapati hal itu terjadi. Kemudian dengan satu tangannya yang tidak memegang kamera, Karin mengarahkannya ke sisi wajah Aryan dan memberikan usapan halus di sana.

Rupanya seusai adegan itu, kamera berhenti merekam sampai di sana. Karin meletakkan kameranya di meja makan, lalu ia kembali menghampiri Aryan yang masih berkutat dengan masakannya. Dengan gerakan lembut, Karin melingkarkan kedua lengannya di seputaran pinggang Aryan, ia memeluk torso lelakinya dari belakang.

Mendapat perilaku Karin tersebut, Aryan bergegas mematikan kompor. Kemudian satu tangannya mengusap tangan Karin yang berada di pinggangnya.

“Lima menit kayak gini, boleh?” tanya Karin.

Aryan begerak membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Karin. Dengan kedua tangannya, Aryan pun menangkup wajah Karin, ia menatap paras Karin dengan tatapan penuh arti.

“Kamu lagi manja banget ya akhir-akhir ini. Atau cuma perasaan aku aja?” cetus Aryan.

Karin sendiri akhirnya mengaku bahwa ia tidak sadar akan hal yang diungkapkan oleh Aryan barusan. Namun kalau dipikir lagi, semua perilakunya belakangan ini persis seperti yang Aryan katakan. Akhirnya Karin hanya mengulaskan senyum tersipunya, lalu ia segera berbalik dan melangkah ke meja makan. Karin berlalu dari hadapan Aryan, ia meninggalkan lelaki itu dengan perasaan bahagia yang seketika memenuhi rongga dadanya.

***

Usai menghabiskan sarapan, Aryan dan Karin sedikit membereskan rumah. Area lantai bawah disapu dan bantal-bantal sofa di tata dengan rapi. Kamera masih menyala, di letakkan di meja ruang tamu. Dari layar kamera tersebut, tampak Aryan yang sudah selesai dengan tugasnya, lelaki jangkung itu lantas berjalan menghampiri Karin.

Begitu sampai di hadapan Karin, Aryan memeluk mesra pinggang Karin dari belakang.

“Kak,” ujar Karin pelan di dekat Aryan.

“Apa?”

“Videonya nanti pas diupload harus dibatasi umur penontonnya lho, kalau kita kayak gini di depan kamera.”

“Kalau dibatasi emangnya kenapa?”

“Yaa nggak papa sih. Nanti aku bilang editorku kalau gitu,” ucap Karin.

Tiba-tiba saja tawa keduanya membuncah begitu saja. Ini terasa lucu dan menggelitik perut, tapi baik Aryan maupun Karin rupanya begitu menikmati semuanya. Mereka menikmati waktu yang dihabiskan berdua, melakukan hal-hal sederhana, saling bertukar pikiran, dan saling memberikan perasaan nyaman satu sama lain.

Tidak sampai lima menit berlalu, Karin pun sudah selesai dengan urusan berberesnya. Karin membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Aryan.

Karin melingkarkan lengannya di pinggang Aryan. Kemudian Karin memangkas jarak yang ada di antara mereka, keduanya kini berpelukan ringan. Dengan perlahan Aryan menggerakkan pelukan mereka, hampir seperti sedang berdansa, tubuh keduanya mengayun ke kanan dan ke kiri dengan tempo yang lambat.

Begitu tatapan keduanya bertemu di tengah, dari sana mereka tahu apa yang mereka inginkan satu sama lain. Aryan lantas meminta Karin untuk menunggu di tempatnya. Karin tidak terpikirkan tentang apa yang akan Aryan lakukan. Karin hanya memperhatikan, ketika Aryan mengambil bangku meja makan lalu meletakkannya di hadapan Karin. Aryan pun duduk di bangku itu, lalu Aryan menghela Karin untuk duduk di atas pangkuannya.

Aryan meletakkan kedua lengannya di pinggang Karin, menjaga wanitanya agar tetap aman berada bersamanya. Karin melayangkan tatapannya pada Aryan, lalu tiba-tiba saja Karin meneguk salivanya dengan susah payah. Jantung Karin berdebar kencang di dalam sana, selalu seperti ini yang terjadi ketika atensinya hanya tertuju kepada Aryan.

Perlahan Karin mengarahkan lengannya untuk melingkar di bahu Aryan, membuat posisi mereka menjadi semakin intim.

“Kak, aku matiin kameranya dulu ya?” tanya Karin.

Aryan pun hanya mengangguk, lalu ia membiarkan Karin pergi untuk mengambil kamera dan mematikannya. Saat Karin selesai mematikan kamera dan kembali berjalan ke arahnya, tatapan Aryan tidak bisa lepas sedikit pun dari perempuan itu. Karin selalu mempesona, perempuan itu cantik dengan caranya sendiri.

Karin pun sudah kembali ke posisi semula, berada di pangkuan Aryan. Wajah keduanya sejajar, mereka saling menatap dengan tatapan penuh afeksi. Ada kasih sayang yang jelas terpancar melalui tatapan itu. Aryan tersenyum kecil, lalu ia bergerak mempertemukan hidungnya dengan hidung Karin.

Dengan lembut, Aryan menggesekkan hidungnya di sana, lalu beralih memberi kecupan di pipi Karin. Bunyi kecupan itu terdengar lembut sekaligus menggemaskan secara bersamaan.

“Karin, aku boleh tanya sesuatu ke kamu?” tanya Aryan usai kegiatannya menghujani pipi Karin dengan ciuman.

Karin pun mengangguk, “Kamu mau nanya apa?”

Aryan berdeham sejenak, lalu ia bersuara lagi, “Kenapa akhirnya kamu lebih memilih aku dari pada Rey?”

Mendengar pertanyaan Aryan yang tidak terduga itu, seketika membuat Karin mengernyitkan kedua alisnya.

I mean he’s a perfect boyfriend for you. You look really happy when you with him. I just wondering the reason finally you chose me than him,” jelas Aryan lagi. Seperti dapat membaca apa yang Karin pikirkan, Aryan pun mengungkapkan alasannya mengutarakan pertanyaan itu kepada Karin.

Karin akhirnya mengatakan bahwa ia akan menjawab pertanyaan yang diajukan Aryan. Karin tidak pandai merangkai kata-kata, perempuan itu mengakuinya. Namun Karin akan mengatakan yang sejujurnya dan itu dari hatinya yang paling dalam.

“Aku tau, Rey akan berjuang untuk aku dan hubungan kita pada saat itu, meskipun orang tuanya nggak setuju. Apa yang kamu bilang juga benar, Rey adalah pacar yang sempurna buat aku,” ucap Karin.

Aryan masih mendapati Karin menatapnya begitu lekat, bahkan perempuan itu menghadiahkan sebuah senyuman yang begitu cantik untuknya. “Kak, aku pernah punya hidup yang menurutku mungkin nggak sempurna. Dari sana akhirnya aku belajar banyak, salah satunya adalah tentang cinta yang nggak selalu tentang kesempurnaan pasangan kita. Cinta itu lahir dan tumbuh beriringan sama kelebihan dan kekurangan. Because perfectness is full of condition. Tapi kamu tau, cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang tanpa batas. Perasaan itu nggak terbatas dengan cuma ngeliat kelebihan seseorang, tapi juga kekurangannya.”

Karin mengatakan bahwa Rey mencintainya, sama seperti Aryan. Namun itu lah yang terjadi, Aryan adalah sosok cinta pertama bagi Karin. Aryan adalah sosok yang yang membuat Karin jatuh cinta pertama kali sedalam ini. Karin merasa sedih saat Aryan sedih, dan sebaliknya Karin merasa bahagia saat Aryan bahagia.

Aryan masih berusaha mencerna semua perkataan Karin. Aryan tidak punya alasan yang pasti mengapa memberikan pertanyaan itu pada Karin. Ia hanya ingin tahu dan benar-benar memastikan bahwa Karin bahagia saat bersamanya. Ini bukan soal keraguannya terhadap Karin, tapi soal keraguannya terhadap dirinya sendiri. Terkadang Aryan masih merasa tidak pantas untuk Karin.

Aryan akhirnya mengetahui jawabannya dari Karin hari ini. Aryan bersyukur bahwa pilihan yang diambil oleh Karin adalah yang membuat perempuan itu bahagia. Bukan berarti saat bersama masa lalunya Karin tidak bahagia, akan tetapi seperti yang kita ketahui, hati tidak akan pernah salah untuk memilih.

Karin bahagia bersama Rey, tapi hatinya telah memilih Aryan. Kita tidak tahu siapa yang akan menjadi pelabuhan terakhir hati kita, kapan dan dimana kita akan bertemu dengannya. Terkadang waktu juga tidak dapat menjadi jaminan bahwa yang paling lama akan menjadi sosok satu-satunya, sosok yang akan menjadi tempat untuk pulang dan menghabiskan sisa hidup bersama.

Karin menatap Aryan lekat, ia mengunci tatapan lelaki itu. Aryan terdiam di sana, kelopak matanya sedikit melebar begitu Karin bergerak menciumnya. Seperti yang sudah terjadi sebelumnya, Karin melakukannya dengan begitu lembut. Seperti mengulum sebuah coklat di dalam mulut, rasanya ciuman tersebut begitu manis. Bukan manis secara harfiah, saking nikmatnya, rasanya menjadi begitu manis. Kira-kira seperti itu lah penggambarannya.

Aryan memang sedikit terkejut karena adegan mendadak itu, tapi ia bahagia Karin melakukannya lebih dulu. Napas mereka saling beradu, terasa hangat sekaligus mendebarkan. Agar memudahkan kegiatannya, Aryan pun menangkup wajah Karin menggunakan kedua tangannya, ia membalas ciuman Karin tidak kalah mesra, pergerakan Aryan juga berangsur terasa lumayan intens.

Sekitar lebih dari lima menit kemudian, aktivitas tersebut akhirnya selesai, begitu dirasa keduanya telah sama-sama cukup. Melalui apa yang mereka lakukan, rasa kasih pun dapat tersalurkan. Usapan lembut Aryan di pinggang Karin, memberikan sensasi nyaman dan perasaan gembira bagi Karin sendiri. Setiap waktu yang ia jalani bersama Aryan, Karin begitu menikmati dan menghargainya.

Aryan memberikan satu kecupan lembut di bibir Karin sebelum benar-benar menyudahi semuanya. Begitu Aryan mengulaskan senyum lebarnya, di sana Karin juga tersenyum. Senyum Karin yang terasa begitu tulus itu, mengembangkan gelora-gelora cinta di dalam diri Aryan. Setiap hari perasaannya kepada Karin selalu bertambah, begitu lah adanya.

Tanpa mengatakan apa pun, Karin bergerak menjatuhkan dirinya ke dekapan Aryan. Ia selalu nyaman berada di sana. She feels like she found a home.

“Kak, apa jawabanku tadi udah cukup?” tanya Karin di sela-sela pelukan mereka.

Aryan lantas mengurai pelukannya untuk saling menatap dengan Karin. Aryan pun segera menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Karin barusan.

“Kak, aku mau, di antara kita saling terbuka. Kamu boleh nanyain hal yang membuat kamu ingin tahu. Aku akan ngasih jawabannya, dan aku selalu berharap kamu percaya sama aku. Ada lagi yang mau kamu tanyain?”

Aryan nampak memicingkan matanya ke arah Karin. “Ini bukan pertanyaan, tapi permintaan.”

“Oh iya? Oke, kamu mau minta apa?”

Saat akhirnya Karin mendengar permintaan yang Aryan ajukan, Karin segera melayangkan tatapan tidak percayanya. Aryan baru saja meminta Karin melakukan permaian Describe Your Husband. Satu hal yang kalian harus tahu, itu adalah permainan yang Aryan ciptakan sendiri.

“Deskripsinya bebas tentang apa aja, kan?” tanya Karin memastikan sebelum ia akan memulai. Aryan pun lekas mengangguk mengiyakan.

“Oke, aku mulai ya. Nomor satu sampai tiga, ganteng. Empat sampai tujuh …. hmm ... seksi.”

“Tunggu,” ucap Aryan yang seketika menahan Karin. Karin pun segera melemparkan tatapan tanyanya.

“Kenapa satu sampai tiga sama? Empat sampai tujuh juga sama?” tanya Aryan kemudian.

“Ya … karena kamu gantengnya tiga kali lipat. Terus seksinya empat kali lipat, gitu,” jelas Karin sambil menampakkan cengiran kecilnya.

Mau tidak mau Aryan terbahak mendapati penjelasan Karin tersebut. Karin rupanya ikut tertawa dan sepertinya ia merasa sebentar lagi dirinya akan ketularan ke-random-an Aryan, atau mungkin levelnya bisa lebih parah dari Aryan.

“Oke, next,” ujar Aryan mempersilakan Karin untuk melanjutkannya.

“Delapan, love shape lips. I like it, your lips. Sembilan sampai sebelas … smart. Dua belas, family man, tiga belas si paling act of service, empat belas hmm …. “

Karin menggantung ucapannya, ia menatap Aryan penuh arti. Aryan sendiri menunggu dengan penasaran tentang deksripsi nomor empat belas.

“Nomor empat belasnya apa?” tanya Aryan.

“Kamu beneran mau tau? Tapi ini agak gimana gitu,” ucap Karin sembari mengulum bibirnya ke dalam.

Justru Aryan semakin penasaran dibuatnya. “It’s oke. Just tell me. Kamu malu? Apa ini berhubungan sama hubungan yang dilakuin suami dan istri?”

Seketika pupil mata Karin melebar. Ia akhirnya menganggukkan kepalanya pelan. “Oke, empat belas, a pro kisser,” ucap Karin dengan suaranya yang pelan, bahkan Aryan hampir saja tidak mendengarnya.

Really?” balas Aryan cepat. Lelaki itu nampak tidak percaya, kali ini tawanya menggelegar lebih kencang dari sebelumnya. Keduanya lantas saling menatap. Oh, mereka tidak dapat mengingat sudah berapa kali mereka melakukannya. Detik berikutnya, Karin segera mengalihkan tatapannya dari Aryan, perempuan itu masih malu jika tiba-tiba saja terbayang, apalagi kini pelakunya ada di hadapan Karin sendiri.

Setelah akhirnya tawa Aryan mulai reda, Karin pun melanjutkannya. “Lima belas, you are a very kind hearted person. Enam belas, you are a loveable person. Tujuh belas dan yang terakhir, kamu punya pendirian yang kuat. Artinya saat kamu punya keinginan, kamu benar-benar berjuang untuk itu.”

Aryan mengarahkan tatapannya pada Karin. Ia jatuh dan tenggelam ke dalam iris legam yang selalu membuatnya nyaman itu. Karin telah menjadi bagian dari hidupnya, hatinya, dan setiap ruang di dalam pikirannya.

“Karin,” ujar Aryan.

“Hmm?” balas Karin.

Let's make our journey together and forever. Only us and our beloved childrens in future. Karin, I'm not a perfect person, I made mistakes sometimes, but I want you to know. I want to be a person that make you happy and smile,” Aryan berujar panjang lebar. Ia mengungkapkan janjinya kepada Karin. Persis seperti apa yang Aryan katakan di altar waktu pernikahan mereka, Aryan akan memenuhi janji yang telah ia buat untuk Karin di hadapan Tuhan.

Aryan berjanji bahwa Karin adalah satu-satunya perempuan yang ia cintai. Aryan akan berusaha menjadi yang lebih baik lagi untuk Karin ke depannya, bukan menjadi yang sempurna. Aryan tahu bahwa wanitanya tidak mendambakan sebuah kesempurnaan, tapi Aryan sendirilah yang akan memberikan semua yang ia miliki untuk Karin hingga perempuan itu merasa spesial dan begitu cukup ketika bersamanya.

Aryan dan Karin adalah dua insan yang sama-sama tidak sempurna. Mereka dipertemukan dengan kejadian tidak terduga yang tidak diharapkan dalam persepsi kebanyakan orang. Namun Aryan dan Karin percaya bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang dapat mereka ciptakan. Mereka sama-sama pernah hancur, tapi demi masa depan keduanya dan buah hati mereka, mereka akan selalu berusaha dan berjuang untuk menciptakan kebahagiaan tersebut.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin baru saja terjaga dari tidurnya. Begitu membuka mata, Karin langsung menoleh ke samping, tapi ia tidak menemukan sosok Aryan di sana. Napas Karin terdengar naik turun, rasanya dadanya sedikit sesak, ia juga kesulitan untuk bernapas. Karin menghela napas panjangnya ketika menyadari bahwa apa yang dilihatnya barusan hanyalah sebuah mimpi.

Karin baru saja mengalami mimpi yang tidak ia inginkan. Karin dibawa ke masa saat dirinya berusia 15 tahun, tepat saat di mana mamanya pergi begitu saja. Setelah papanya meninggal dan memiliki hutang piutang, hal tersebut menyebabkan barang-barang di rumah beberapa disita oleh bank. Beberapa saat setelah itu lah mamanya pergi, meninggalkan ia dan Kavin hanya berdua di rumah. Karin tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu. Lebih tepatnya, Karin tidak ingin mengingatnya. Karin hanya mengingat saat kak Syerin dan mama Vanessa datang ke rumah, mengulurkan tangan padanya dan Kavin dan bersedia untuk merawat keduanya.

Karin memutuskan turun dari ranjang dan segera melangkah menuruni tangga. Ketika Karin melihat Aryan di meja ruang tamu sedang berkutat dengan laptop di hadapannya, ia segera menghampiri lelaki itu. Aryan yang mendapati Karin terjaga dari tidurnya dan wajahnya nampak pucat, langsung bertanya dengan nada khawatir khasnya.

“Sayang, kamu kenapa?”

“Kak, aku habis mimpi buruk,” jelas Karin. Tatapan Karin seolah mengadu pada Aryan. Wajahnya dipenuhi dengan guratan kesedihan. Aryan tidak tega melihatnya dan sepertinya mimpi buruk yang dialami Karin cukup serius.

Aryan lantas mematikan laptopnya dan menutupnya. Setelah itu Aryan berpindah posisi untuk mendekat pada Karin. Aryan bergerak membawa torso mungil Karin ke dalam dekapannya.

“Kamu mau tidur lagi? Maaf yaa, tadi aku tinggal kamu sebentar. Aku harus ngerjain tugas magang,” ucap Aryan.

“Aku nggak mau tidur. Aku takut mimpi lagi,” ucap Karin pelan. Karin membenamkan wajahnya di pelukan hangat Aryan. Perasaannya masih kacau, sampai-sampai membuat rasa kantuknya hilang begitu saja.

Selama beberapa menit berselang, Aryan tetap membiarkan Karin untuk memeluk tubuhnya. Tanpa mengatakan apa pun, Aryan memberi usapan di surai panjang Karin, berharap apa yang ia lakukan dapat mengurangi rasa takut yang sedang Karin rasakan.

Usapan lembut Aryan di surai Karin terhenti begitu Karin bergerak dari posisinya. Karin menengadahkan wajahnya, ia menatap Aryan lekat. Karin bersyukur bahwa ia tidak sendiri lagi, ia memiliki seseorang untuk bersandar di kala bersedih dan karenanya Karin dapat merasa lebih baik.

Mereka masih di sana, tapi kini mencoba mengubah posisi agar lebih nyaman. Aryan berada di samping Karin, meminta perempuan itu menyandarkan kepalanya di bahu tegapnya, lalu Aryan mendekap tubuh Karin dari samping. Karin meringkuk layaknya seorang bayi, dua kakinya berada di atas pangkuan Aryan, tampak begitu nyaman dengan posisinya saat ini.

Aryan & Karin Position

Selama hidupnya, belum ada yang tahu soal mimpi yang kerap kali Karin alami. Itu adalah mimpi yang sama, mimpi yang membuatnya merasa ketakutan. Maka dari itu, Karin tidak pernah berniat menceritakannya kepada siapa pun. Namun malam ini, dengan sukarela, Karin mengatakan bahwa ia akan membagi cerita itu kepada Aryan.

Aryan memfokuskan atensinya pada Karin, kini mereka saling menatap. Karin berdeham sekali sebelum akhirnya memulai ceritanya. “Sampai sekarang, aku nggak tau alasan kenapa mama ninggalin aku dan Kavin. Aku kangen sama mama, tapi aku nggak tau aku sanggup ketemu sama beliau atau engga,” ucap Karin.

“Karin, aku boleh tanya satu hal sama kamu?” tanya Aryan kemudian.

Karin pun mengangguk, “Boleh. Kamu mau tanya apa?”

“Apa kamu udah maafin beliau?”

Pertanyaan Aryan itu tidak lantas mempunyai jawaban di benak Karin. Karin tidak pernah terpikirkan bahwa rasa kecewa dan marah pada mamanya yang belum termaafkan, adalah penyebab dari rasa sakit yang masih bersarang di hatinya hingga sekarang.

Karin akhirnya menjawab Aryan dengan sebuah gelengan. Aryan tidak menatapnya dengan tatapan menghakimi, melainkan lelaki itu melayangkan tatapan lembutnya pada Karin. Aryan lalu berujar, “Kamu memaafkan seseorang untuk berdamai dengan diri kamu sendiri. Aku tau ini nggak akan mudah buat kamu, kamu nggak harus buru-buru untuk maafin, tapi kamu coba untuk memaafkan beliau, ya?”

Hati Karin yang sebelumnya seperti bongkahan es yang keras dan beku, kini perlahan-lahan mulai bisa mencair akibat ucapan hangat Aryan. Aryan kini sangat paham mengapa Karin menjadi perempuan yang begitu tangguh. Masa lalu yang kelam yang mungkin mayoritas orang akan melihat itu sebagai suatu kelemahan, tanpa mereka ketahui, hal berat itulah yang membuat Karin menjadi sosok perempuan yang hebat.

Aryan lantas mengarahkan tangannya untuk menangkup sisi wajah Karin, “Karin, aku bangga sama kamu. I’m grateful for what you did. You are amazing and you have to know that,” ucap Aryan.

Perlahan-lahan Karin mengulaskan senyum bahagianya. Wajahnya yang semula nampak sedih dan begitu sendu, kini sedikit lebih ceria dan semuanya terasa lebih baik. “I’m glad I knew I have somebody to tell, Kak. Thank you for everything that you did to me,” balas Karin.

Karin mengatakan bahwa dirinya tidak ingin terus bergantung kepada Syerin, kakak sambungnya. Maka dari itu, saat usianya menginjak 18 tahun, Karin akhirnya memutuskan untuk memiliki penghasilan sendiri. Karin memulai karirnya sebagai seorang beauty vlogger dan freelance model. Karin pun akhirnya berhasil sukses berkat kerja keras dan ketekunannya. Karin juga mendapat gelar mahasiswi berprestasi di kampus karena prestasi cemerlang dan keaktifannya mengikuti berbagai kegiatan fakultas.

Banyak yang sudah Karin capai, tapi Karin rela hampir kehilangan semuanya untuk mempertahankan bayinya. Karin hanya ingin anaknya kelak hidup bahagia, ia berharap bahwa anaknya tidak akan pernah merasakan apa yang dulu ia rasakan. Karin pun telah berjanji pada dirinya, ia tidak akan membiarkan hal yang ditakutinya tersebut menjadi kenyataan.

“Kak, aku mau tidur. Tapi kamu jangan tiba-tiba pergi ya, bilang dulu sama aku kalau mau pergi,” ucap Karin.

Aryan segera mengangguki permintaan Karin tersebut. Saat mereka beranjak dari sofa, Aryan menawarkan sesuatu pada Karin “Mau aku gendong?”

Karin nampak memikirkan ucapan Aryan itu. Sambil mengulaskan senyum manisnya, akhirnya Karin pun mengangguk.

“Mau gendong,” ucap Karin. Nada suaranya sedikit manja. Baru pertama kali ini Aryan mendengarnya dan yaa ... itu sungguh membuat Aryan merasa senang.

Bridal style atau koala?” tanya Aryan.

“Mau bridal.”

“Oke, bridal.”

***

Ketika Karin membuka matanya di pagi hari, ia mendapati Aryan telah terbangun lebih dulu darinya. Karin pun lantas mengernyit, tampak dua buah kerutan di keningnya. Ini hari minggu dan suaminya telah bangun di jam 7 pagi? Karin pun takjub, ini merupakan suatu keajaiban, pikirnya.

“Kok tumben banget kamu udah bangun?” celetuk Karin.

“Hebat nggak aku?” tanya Aryan sembari menaik turunkan alisnya.

Karin mau tidak mau tersenyum. Kalau begini, wajah suaminya itu nampak begitu menggemaskan. Satu hal yang mungkin jarang orang lain dapati, ekspresi Aryan yang seperti ini, hanya ditampilkan di depan Karin. Aryan versi apa adanya, begitulah lelaki itu ketika bersama Karin.

“Hebat. Hebat banget suami aku,” ucap Karin sambil mengacungkan ibu jarinya. Sesaat kemudian, Karin kembali memejamkan matanya dan bergerak masuk ke dalam pelukan Aryan.

“Hari ini kamu ada schedule apa?” tanya Aryan, posisi keduanya masih saling memeluk, tidak berubah sedikit pun.

“Nggak ada, hari ini aku libur. Ada sih sebenernya, cuma nge-vlog kok. Soalnya youtubeku belum upload video dari minggu lalu,” jelas Karin.

“Oke.”

“Kamu hari ini mau keluar rumah nggak Kak?” tanya Karin.

Aryan pun menjawab pertanyaan Karin dengan sebuah gelengan.

“Hmmm … kamu mau in frame di vlog aku nggak? Soalnya aku mau record videonya di rumah aja, ini tema videonya A Day in My Life,” ucap Karin lagi. Ia mengungkapkan ide yang terlintas di kepalanya.

“Kalau vlog-nya di rumah nanti judul videonya apa?” tanya Aryan. Karin pun segera bergerak dari posisinya, ia menjauhkan tubuhnya sedikit dari Aryan dan kini mereka saling menatap.

“Judulnya nanti A Day in My Life with My Husband, Weekend Edition. Is it good or not? Atau kamu punya masukan buat judulnya? Nanti aku bisa bilang ke editorku,” ujar Karin.

Karin memperhatikan Aryan yang kini nampak berpikir. Kedua alis tebal lelaki itu nampak menyatu di tengah serta belah bibirnya mengulum ke dalam.

Dua detik berikutnya, Aryan melayangkan tatapan berbinar sekaligus penuh afeksinya kepada Karin. “Aku mau in frame di vlog kamu. Judulnya udah bagus, bagus banget. Jadi, kita bakal ngapain aja di rumah seharian ini?”

***

Ini adalah pengalaman yang sangat baru sekaligus terasa sedikit lucu bagi Aryan. Namun pria itu nampak begitu menikmatinya dan sangat bersedia untuk melakukannya.

Ternyata begini proses di balik layar yang dilakukan oleh seorang content creator. Kenyataan yang terjadi, mereka sudah bangun tidur, tapi harus kembali mengulang adegan bangun tidur. Ini mirip dengan berakting, tapi Aryan cukup bagus melakukannya meski ia adalah seolah pemula.

Setelah adegan bangun tidur, Karin bergerak mengambil kamera yang ia letakkan di dekat TV di kamar. Wajah Karin lantas menghadap ke kamera mirrorless di tangannya dan ia memulai sebuah intro. “Hi, everyone. Welcome back with me, Karina. Hari ini aku akan buat video a day in my life with my husband, weekend edition. Udah lama banget yaa kayaknya aku nggak nge vlog. As you guys ask, vlog keseharian yang aku lakukan adalah permintaan paling banyak dari kalian. So here’s the video, hope you guys enjoy it. Happy watching.”

Aryan akui bahwa Karin begitu lihai dan lugas ketika berbicara di depan kamera. Mereka pun melakukannya dengan cukup natural, script hanya di jadikan bahan acuan, selebihnya mereka banyak melakukan improvisasi.

Hal yang pertama Karin dan Aryan lakukan setelah bangun tidur adalah membuat sarapan. Kamera dipegang oleh Karin, ia merekam Aryan yang sedang membuat sarapan untuk mereka.

“Hari ini kita buat sarapan yang sederhana aja. Suami aku yang buatin sarapannya nih, guys,” Karin lalu mengarahkan kameranya kepada Aryan. “Makasih yaa,” ucap Karin dengan suara lembutnya. Tepat setelah itu, Aryan mengalihkan fokusnya dari masakannya kepada Karin. Otomatis di layar kamera terlihat wajah Aryan dengan jarak yang cukup dekat.

Karin nampak tersenyum mendapati hal itu terjadi. Kemudian dengan satu tangannya yang tidak memegang kamera, Karin mengarahkannya ke sisi wajah Aryan dan memberikan usapan halus di sana.

Rupanya seusai adegan itu, kamera berhenti merekam sampai di sana. Karin meletakkan kameranya di meja makan, lalu ia kembali menghampiri Aryan yang masih berkutat dengan masakannya. Dengan gerakan lembut, Karin melingkarkan kedua lengannya di seputaran pinggang Aryan, ia memeluk torso lelakinya dari belakang.

Mendapat perilaku Karin tersebut, Aryan bergegas mematikan kompor. Kemudian satu tangannya mengusap tangan Karin yang berada di pinggangnya.

“Lima menit kayak gini, boleh?” tanya Karin.

Aryan begerak membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Karin. Dengan kedua tangannya, Aryan pun menangkup wajah Karin, ia menatap paras Karin dengan tatapan penuh arti.

“Kamu lagi manja banget ya akhir-akhir ini. Atau cuma perasaan aku aja?” cetus Aryan.

Karin sendiri akhirnya mengaku bahwa ia tidak sadar akan hal yang diungkapkan oleh Aryan barusan. Namun kalau dipikir lagi, semua perilakunya belakangan ini persis seperti yang Aryan katakan. Akhirnya Karin hanya mengulaskan senyum tersipunya, lalu ia segera berbalik dan melangkah ke meja makan. Karin berlalu dari hadapan Aryan, ia meninggalkan lelaki itu dengan perasaan bahagia yang seketika memenuhi rongga dadanya.

***

Usai menghabiskan sarapan, Aryan dan Karin sedikit membereskan rumah. Area lantai bawah disapu dan bantal-bantal sofa di tata dengan rapi. Kamera masih menyala, di letakkan di meja ruang tamu. Dari layar kamera tersebut, tampak Aryan yang sudah selesai dengan tugasnya, lelaki jangkung itu lantas berjalan menghampiri Karin.

Begitu sampai di hadapan Karin, Aryan memeluk mesra pinggang Karin dari belakang.

“Kak,” ujar Karin pelan di dekat Aryan.

“Apa?”

“Videonya nanti pas diupload harus dibatasi umur penontonnya lho, kalau kita kayak gini di depan kamera.”

“Kalau dibatasi emangnya kenapa?”

“Yaa nggak papa sih. Nanti aku bilang editorku kalau gitu,” ucap Karin.

Tiba-tiba saja tawa keduanya membuncah begitu saja. Ini terasa lucu dan menggelitik perut, tapi baik Aryan maupun Karin rupanya begitu menikmati semuanya. Mereka menikmati waktu yang dihabiskan berdua, melakukan hal-hal sederhana, saling bertukar pikiran, dan saling memberikan perasaan nyaman satu sama lain.

Tidak sampai lima menit berlalu, Karin pun sudah selesai dengan urusan berberesnya. Karin membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Aryan.

Karin melingkarkan lengannya di pinggang Aryan. Kemudian Karin memangkas jarak yang ada di antara mereka, keduanya kini berpelukan ringan. Dengan perlahan Aryan menggerakkan pelukan mereka, hampir seperti sedang berdansa, tubuh keduanya mengayun ke kanan dan ke kiri dengan tempo yang lambat.

Begitu tatapan keduanya bertemu di tengah, dari sana mereka tahu apa yang mereka inginkan satu sama lain. Aryan lantas meminta Karin untuk menunggu di tempatnya. Karin tidak terpikirkan tentang apa yang akan Aryan lakukan. Karin hanya memperhatikan, ketika Aryan mengambil bangku meja makan lalu meletakkannya di hadapan Karin. Aryan pun duduk di bangku itu, lalu Aryan menghela Karin untuk duduk di atas pangkuannya.

Aryan meletakkan kedua lengannya di pinggang Karin, menjaga wanitanya agar tetap aman berada bersamanya. Karin melayangkan tatapannya pada Aryan, lalu tiba-tiba saja Karin meneguk salivanya dengan susah payah. Jantung Karin berdebar kencang di dalam sana, selalu seperti ini yang terjadi ketika atensinya hanya tertuju kepada Aryan.

Perlahan Karin mengarahkan lengannya untuk melingkar di bahu Aryan, membuat posisi mereka menjadi semakin intim.

“Kak, aku matiin kameranya dulu ya?” tanya Karin.

Aryan pun hanya mengangguk, lalu ia membiarkan Karin pergi untuk mengambil kamera dan mematikannya. Saat Karin selesai mematikan kamera dan kembali berjalan ke arahnya, tatapan Aryan tidak bisa lepas sedikit pun dari perempuan itu. Karin selalu mempesona, perempuan itu cantik dengan caranya sendiri.

Karin pun sudah kembali ke posisi semula, berada di pangkuan Aryan. Wajah keduanya sejajar, mereka saling menatap dengan tatapan penuh afeksi. Ada kasih sayang yang jelas terpancar melalui tatapan itu. Aryan tersenyum kecil, lalu ia bergerak mempertemukan hidungnya dengan hidung Karin.

Dengan lembut, Aryan menggesekkan hidungnya di sana, lalu beralih memberi kecupan di pipi Karin. Bunyi kecupan itu terdengar lembut sekaligus menggemaskan secara bersamaan.

“Karin, aku boleh tanya sesuatu ke kamu?” tanya Aryan usai kegiatannya menghujani pipi Karin dengan ciuman.

Karin pun mengangguk, “Kamu mau nanya apa?”

Aryan berdeham sejenak, lalu ia bersuara lagi, “Kenapa akhirnya kamu lebih memilih aku dari pada Rey?”

Mendengar pertanyaan Aryan yang tidak terduga itu, seketika membuat Karin mengernyitkan kedua alisnya.

I mean he’s a perfect boyfriend for you. You look really happy when you with him. I just wondering the reason finally you chose me than him,” jelas Aryan lagi. Seperti dapat membaca apa yang Karin pikirkan, Aryan pun mengungkapkan alasannya mengutarakan pertanyaan itu kepada Karin.

Karin akhirnya mengatakan bahwa ia akan menjawab pertanyaan yang diajukan Aryan. Karin tidak pandai merangkai kata-kata, perempuan itu mengakuinya. Namun Karin akan mengatakan yang sejujurnya dan itu dari hatinya yang paling dalam.

“Aku tau, Rey akan berjuang untuk aku dan hubungan kita pada saat itu, meskipun orang tuanya nggak setuju. Apa yang kamu bilang juga benar, Rey adalah pacar yang sempurna buat aku,” ucap Karin.

Aryan masih mendapati Karin menatapnya begitu lekat, bahkan perempuan itu menghadiahkan sebuah senyuman yang begitu cantik untuknya. “Kak, aku pernah punya hidup yang menurutku mungkin nggak sempurna. Dari sana akhirnya aku belajar banyak, salah satunya adalah tentang cinta yang nggak selalu tentang kesempurnaan pasangan kita. Cinta itu lahir dan tumbuh beriringan sama kelebihan dan kekurangan. Because perfectness is full of condition. Tapi kamu tau, cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang tanpa batas. Perasaan itu nggak terbatas dengan cuma ngeliat kelebihan seseorang, tapi juga kekurangannya.”

Karin mengatakan bahwa Rey mencintainya, sama seperti Aryan. Namun itu lah yang terjadi, Aryan adalah sosok cinta pertama bagi Karin. Aryan adalah sosok yang yang membuat Karin jatuh cinta pertama kali sedalam ini. Karin merasa sedih saat Aryan sedih, dan sebaliknya Karin merasa bahagia saat Aryan bahagia.

Aryan masih berusaha mencerna semua perkataan Karin. Aryan tidak punya alasan yang pasti mengapa memberikan pertanyaan itu pada Karin. Ia hanya ingin tahu dan benar-benar memastikan bahwa Karin bahagia saat bersamanya. Ini bukan soal keraguannya terhadap Karin, tapi soal keraguannya terhadap dirinya sendiri. Terkadang Aryan masih merasa tidak pantas untuk Karin.

Aryan akhirnya mengetahui jawabannya dari Karin hari ini. Aryan bersyukur bahwa pilihan yang diambil oleh Karin adalah yang membuat perempuan itu bahagia. Bukan berarti saat bersama masa lalunya Karin tidak bahagia, akan tetapi seperti yang kita ketahui, hati tidak akan pernah salah untuk memilih.

Karin bahagia bersama Rey, tapi hatinya telah memilih Aryan. Kita tidak tahu siapa yang akan menjadi pelabuhan terakhir hati kita, kapan dan dimana kita akan bertemu dengannya. Terkadang waktu juga tidak dapat menjadi jaminan bahwa yang paling lama akan menjadi sosok satu-satunya, sosok yang akan menjadi tempat untuk pulang dan menghabiskan sisa hidup bersama.

Karin menatap Aryan lekat, ia mengunci tatapan lelaki itu. Aryan terdiam di sana, kelopak matanya sedikit melebar begitu Karin bergerak menciumnya. Seperti yang sudah terjadi sebelumnya, Karin melakukannya dengan begitu lembut. Seperti mengulum sebuah coklat di dalam mulut, rasanya ciuman tersebut begitu manis. Bukan manis secara harfiah, saking nikmatnya, rasanya menjadi begitu manis. Kira-kira seperti itu lah penggambarannya.

Aryan memang sedikit terkejut karena adegan mendadak itu, tapi ia bahagia Karin melakukannya lebih dulu. Napas mereka saling beradu, terasa hangat sekaligus mendebarkan. Agar memudahkan kegiatannya, Aryan pun menangkup wajah Karin menggunakan kedua tangannya, ia membalas ciuman Karin tidak kalah mesra, pergerakan Aryan juga berangsur terasa lumayan intens.

Sekitar lebih dari lima menit kemudian, aktivitas tersebut akhirnya selesai, begitu dirasa keduanya telah sama-sama cukup. Melalui apa yang mereka lakukan, rasa kasih pun dapat tersalurkan. Usapan lembut Aryan di pinggang Karin, memberikan sensasi nyaman dan perasaan gembira bagi Karin sendiri. Setiap waktu yang ia jalani bersama Aryan, Karin begitu menikmati dan menghargainya.

Aryan memberikan satu kecupan lembut di bibir Karin sebelum benar-benar menyudahi semuanya. Begitu Aryan mengulaskan senyum lebarnya, di sana Karin juga tersenyum. Senyum Karin yang terasa begitu tulus itu, mengembangkan gelora-gelora cinta di dalam diri Aryan. Setiap hari perasaannya kepada Karin selalu bertambah, begitu lah adanya.

Tanpa mengatakan apa pun, Karin bergerak menjatuhkan dirinya ke dekapan Aryan. Ia selalu nyaman berada di sana. She feels like she found a home.

“Kak, apa jawabanku tadi udah cukup?” tanya Karin di sela-sela pelukan mereka.

Aryan lantas mengurai pelukannya untuk saling menatap dengan Karin. Aryan pun segera menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Karin barusan.

“Kak, aku mau, di antara kita saling terbuka. Kamu boleh nanyain hal yang membuat kamu ingin tahu. Aku akan ngasih jawabannya, dan aku selalu berharap kamu percaya sama aku. Ada lagi yang mau kamu tanyain?”

Aryan nampak memicingkan matanya ke arah Karin. “Ini bukan pertanyaan, tapi permintaan.”

“Oh iya? Oke, kamu mau minta apa?”

Saat akhirnya Karin mendengar permintaan yang Aryan ajukan, Karin segera melayangkan tatapan tidak percayanya. Aryan baru saja meminta Karin melakukan permaian Describe Your Husband. Satu hal yang kalian harus tahu, itu adalah permainan yang Aryan ciptakan sendiri.

“Deskripsinya bebas tentang apa aja, kan?” tanya Karin memastikan sebelum ia akan memulai. Aryan pun lekas mengangguk mengiyakan.

“Oke, aku mulai ya. Nomor satu sampai tiga, ganteng. Empat sampai tujuh …. hmm ... seksi.”

“Tunggu,” ucap Aryan yang seketika menahan Karin. Karin pun segera melemparkan tatapan tanyanya.

“Kenapa satu sampai tiga sama? Empat sampai tujuh juga sama?” tanya Aryan kemudian.

“Ya … karena kamu gantengnya tiga kali lipat. Terus seksinya empat kali lipat, gitu,” jelas Karin sambil menampakkan cengiran kecilnya.

Mau tidak mau Aryan terbahak mendapati penjelasan Karin tersebut. Karin rupanya ikut tertawa dan sepertinya ia merasa sebentar lagi dirinya akan ketularan ke-random-an Aryan, atau mungkin levelnya bisa lebih parah dari Aryan.

“Oke, next,” ujar Aryan mempersilakan Karin untuk melanjutkannya.

“Delapan, love shape lips. I like it, your lips. Sembilan sampai sebelas … smart. Dua belas, family man, tiga belas si paling act of service, empat belas hmm …. “

Karin menggantung ucapannya, ia menatap Aryan penuh arti. Aryan sendiri menunggu dengan penasaran tentang deksripsi nomor empat belas.

“Nomor empat belasnya apa?” tanya Aryan.

“Kamu beneran mau tau? Tapi ini agak gimana gitu,” ucap Karin sembari mengulum bibirnya ke dalam.

Justru Aryan semakin penasaran dibuatnya. “It’s oke. Just tell me. Kamu malu? Apa ini berhubungan sama hubungan yang dilakuin suami dan istri?”

Seketika pupil mata Karin melebar. Ia akhirnya menganggukkan kepalanya pelan. “Oke, empat belas, a pro kisser,” ucap Karin dengan suaranya yang pelan, bahkan Aryan hampir saja tidak mendengarnya.

Really?” balas Aryan cepat. Lelaki itu nampak tidak percaya, kali ini tawanya menggelegar lebih kencang dari sebelumnya. Keduanya lantas saling menatap. Oh, mereka tidak dapat mengingat sudah berapa kali mereka melakukannya. Detik berikutnya, Karin segera mengalihkan tatapannya dari Aryan, perempuan itu masih malu jika tiba-tiba saja terbayang, apalagi kini pelakunya ada di hadapan Karin sendiri.

Setelah akhirnya tawa Aryan mulai reda, Karin pun melanjutkannya. “Lima belas, you are a very kind hearted person. Enam belas, you are a loveable person. Tujuh belas dan yang terakhir, kamu punya pendirian yang kuat. Artinya saat kamu punya keinginan, kamu benar-benar berjuang untuk itu.”

Aryan mengarahkan tatapannya pada Karin. Ia jatuh dan tenggelam ke dalam iris legam yang selalu membuatnya nyaman itu. Karin telah menjadi bagian dari hidupnya, hatinya, dan setiap ruang di dalam pikirannya.

“Karin,” ujar Aryan.

“Hmm?” balas Karin.

Let's make our journey together and forever. Only us and our beloved childrens in future. Karin, I'm not a perfect person, I made mistakes sometimes, but I want you to know. I want to be a person that make you happy and smile,” Aryan berujar panjang lebar. Ia mengungkapkan janjinya kepada Karin. Persis seperti apa yang Aryan katakan di altar waktu pernikahan mereka, Aryan akan memenuhi janji yang telah ia buat untuk Karin di hadapan Tuhan.

Aryan berjanji bahwa Karin adalah satu-satunya perempuan yang ia cintai. Aryan akan berusaha menjadi yang lebih baik lagi untuk Karin ke depannya, bukan menjadi yang sempurna. Aryan tahu bahwa wanitanya tidak mendambakan sebuah kesempurnaan, tapi Aryan sendirilah yang akan memberikan semua yang ia miliki untuk Karin hingga perempuan itu merasa spesial dan begitu cukup ketika bersamanya.

Aryan dan Karin adalah dua insan yang sama-sama tidak sempurna. Mereka dipertemukan dengan kejadian tidak terduga yang tidak diharapkan dalam persepsi kebanyakan orang. Namun Aryan dan Karin percaya bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang dapat mereka ciptakan. Mereka sama-sama pernah hancur, tapi demi masa depan keduanya dan buah hati mereka, mereka akan selalu berusaha dan berjuang untuk menciptakan kebahagiaan tersebut.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Hukuman yang Paling Pantas

Aryan sedikit menyesal karena ia bangun agak siang pagi ini. Hal itulah yang mengakibatkan dirinya dan Karin hanya memiliki sedikit waktu sebelum mereka harus berangkat ke kampus. Dua jam lagi kelas Aryan dimulai, tapi lelaki itu tampak tidak terlalu memikirkannya. Aryan masih setia mendekap tubuh Karin dengan kedua lengannya, sesekali Aryan juga memberi usapan lembut di punggung Karin.

“Kak, kapan kamu mau mandi? Kelas kamu jam 9 lho, ini udah jam 7,” ucap Karin.

“Sebentar lagi, Sayang,” ujar Aryan, suaranya masih terdengar sedikit serak, khas sekali orang yang baru bangun tidur.

“Berapa menit?” tanya Karin kemudian.

“Mau cium kamu dulu,” ujar Aryan.

“Aku tanyanya berapa menit, Kak.”

Aryan lantas melayangkan tatapan jenakanya pada Karin. “Cium dulu, habis itu janji, aku langsung mandi.”

Sebuah senyuman seketika terulas di wajah Karin. Kemudian tidak lama setelah itu, Karin memberikan sebuah kecupan lembut di sisi wajah Aryan. Aryan otomatis tersenyum lebar, begitu ,erasakan bibir lembap Karin menyentuh permukaan kulitnya.

“Mau cium di mana lagi?” tanya Karin. Tatapan keduanya bertemu, lalu netra Aryan turun ke arah bibir Karin. Di sana Karin nampak menggigit bibir bawahnya, membuat Aryan gemas melihatnya.

There’s so many spot that we can explore, Sayang,” ucap Aryan dengan suara husky-nya. Bisikan lembut Aryan di dekat telinga Karin tersebut sukses membuat bulu-bulu lengan Karin berdiri.

Pandangan Karin seketika jatuh ke bibir penuh Aryan. Bibir tebal yang tampak begitu sempurna, garis yang membentuknya sangat indah. Karin jadi ingat perkataannya malam itu. God was happy when he created Aryan. That is very true, Karin benar-benar menyadari itu sekarang.

Can I?” ujar Karin dengan suaranya yang melemah.

Aryan jelas mengerti maksud Karin, ia pun lekas mengangguk sembari mengulaskan senyum kecilnya. Setelah itu, Karin mendekatkan dirinya pada Aryan, kini sepenuhnya tubuhnya menempel di torso keras dan berotot milik Aryan.

Karin memiringkan kepalanya sedikit, lalu dengan gerakan perlahan dan lembut, ia mulai menempelkan bibirnya di bibir Aryan. Itu berjalan begitu mulus, Karin menggerakkannya dengan gerakan yang halus dan semuanya terasa begitu indah bagi keduanya. Saat pagutan tersebut bergerak semakin intens, Karin mengalungkan lengannya di seputaran leher Aryan. Semakin dalam mereka saling mencumbu, Karin merasakan sesuatu tidak bertulang itu mulai menyapa miliknya di dalam, mengabsen semua celah di rongga mulutnya.

Tubuh Karin sedikit menjengit kala Aryan semakin menambah tempo ciumannya, itu memberikan sensasi yang begitu nikmat dan memabukkan, sampai-sampai menciptakan sebuah lenguhan yang terdengar begitu seksi yang lolos dari bibir Karin.

Sejenak mereka memutuskan mengurai ciumannya, guna mengambil napas. Kemduian mereka saling melempar tatapan mesra, lalu tanpa diduga oleh Aryan, Karin bergerak ke atas tubuhnya. Posisi Karin kini berada di atas Aryan, kedua lengan perempuan itu ia tempatkan di kedua sisi wajah Aryan. Karin kembali mengecup lembut bibir Aryan. Selagi itu terjadi, tangan Aryan bergerak mengusap lengan Karin dengan gerakan sensual, memberi isyarat supaya Karin tetap melakukan ciumannya seperti itu.

Sekitar hampir sepuluh menit berlalu, penyatuan tersebut terpaksa harus di sudahi. Sebenarnya keduanya belum cukup puas, tapi masuk terlambat ke kelas juga bukan pilihan yang bagus.

“Kamu mandi duluan, habis itu aku mandi,” ucap Karin.

Aryan pun mengangguk, “Dua menit lagi, Sayang. Aku mau peluk kamu dulu,” ujar Aryan.

“Ada aja alesannya ya kamu,” cetus Karin.

Berikutnya sesuai perkataan Aryan, lelaki itu menyelipkan kedua lengannya di bawah lengan Karin, mendekap torso Karin untuk saling mengisi dengannya. Karin sedikit mendongakkan wajahnya, untuk menatap wajah Aryan. Lebih tepatnya, Karin memandanginya, kegiatannya tersebut membuatnya nyaman dan bahagia. Detik berikutnya Karin bergerak menaikkan posisi kepalanya agar dapat sejajar dengan Aryan.

“Kak,” ujar Karin.

“Iya?” sahut Aryan.

“Soal kasus itu, aku mau Kina dapat hukuman dari yang paling pantas ngasih hukumannya,” ucap Karin.

“Maksud kamu?” tanya Aryan yang tampak belum paham.

Karin pun menjelaskan perkataannya lebih detail. Karin tidak ingin Aryan membawa kasusnya ke jalur hukum, karena Karin ingin Kina mendapatkan pelajaran dari apa yang dilakukannya dari sosok yang paling pantas memberikannya, yakni Tuhan. Hukum karma dan sanksi sosial adalah yang paling adil dibandingkan apa pun. Karin yakin, suatu hari nanti semuanya akan terkuak. Ia ingin membiarkan alam yang bekerja untuk itu dengan sendirinya.

“Karin, tapi gimana kalau dia macem-macem lagi sama kamu? Aku khawatir,” ungkap Aryan menjelaskan apa yang belakangan ini telah membebani pikirannya.

“Kamu tenang, ya. Everything is oke,” Karin mengarahkan tangannya untuk mengusap lengan Aryan sekilas, berusaha mengurangi kekhwatiran lelaki itu. “Kalau Kina berani ngelakuin itu lagi, kamu boleh bawa kasusnya ke jalur hukum. Oke?” sambung Karin.

Karin mengatakan bahwa mereka tidak perlu khawatir. Ibaratnya saat ini mereka memegang kartu AS yang kapan saja bisa digunakan, jika Kina melakukan hal-hal yang diluar nalar lagi.

Karin menatap Aryan dengan tatapan lembutnya, ia sedang berusaha meyakinkan lelakinya. Karin memberi pengertian yang masuk akal pada Aryan, hingga akhirnya lelaki itu setuju akan rencana yang sebelumnya ia usulkan.

“Karin, kamu mau janji satu hal sama aku?” ucap Aryan beberapa detik kemudian.

“Janji apa?”

“Kamu nggak boleh pergi kemana-mana sendirian. Kalau aku lagi nggak bisa temenin kamu, kamu bisa minta tolong sama Nayna, Leon, pak Hamdi, om Rama, atau teman-teman kamu. Aulia sama Nadhifa, atau Beryl juga boleh.”

Usai perkataan Aryan tersebut, ia malah mendapati Karin menatapnya sambil mengulaskan senyum simpulnya.

“Karin, are you willing to promise to me?” tanya Aryan.

“Iya, aku janji, Kak. Aku nggak akan pergi kemana pun sendirian. I will make sure that I’m safe. Are you happy right now?” ujar Karin sembari memperhatikan raut wajah Aryan.

Aryan mengangguk sekali. “Oke, aku udah tenang kalau gitu. Hp kamu juga harus selalu aktif ya. Kalau ada apa-apa, kamu langsung telfon aku,” ucap Aryan yang lekas mendapat anggukan dari Karin.

“Kak,” ujar Karin, kedua netranya memandang Aryan tepat diiris hitam legamnya.

“Iya?”

“Kamu kalau kayak gini mirip sama papa deh.”

“Maksudnya?” tanya Aryan.

“Protektifnya mirip papa. Mama pernah cerita ke aku. Dulu katanya papa lumayan protektif sama mama, sampai minta bodyguard khusus buat jagain mama.”

Mendengar itu Aryan pun tertawa sekilas. “Oh iya, jelas. Bagus dong. Bodyguard papa udah terlatih banget dan profesional. Kalau kamu mau, aku bisa minta salah satu bodyguard papa buat jagain kamu.”

“Masa kemana-mana nanti aku diikutin sama bodyguard,” Karin tertawa, hingga menampakkan deretan gigi depannya yang tampak rapi. “Aku kan udah ada kamu, udah cukup. Aku nggak perlu bodyguard,” ujar Karin lagi.

“Oke-oke. Yaudah aku mandi dulu ya. Kelas pertama kamu jam berapa?”

“Jam 11 sih. Tapi aku berangkat bareng kamu aja,” ujar Karin.

“Berangkatnya aja yang bareng?” tanya Aryan sembari menatap Karin dengan tatapan menggodanya. Kedua alis bergerak naik turun, membuat Karin tidak dapat berpikiran ke arah yang positif. Pasti ada sesuatu, sepertinya Karin sudah mulai hapal setiap tatapan dan gestur tubuh seorang Aryan Sakha.

“Iya, berangkat ke kampusnya bareng. Emangnya apa lagi?” ucap Karin masih berusaha santai. Karin pun segera mengusir berbagai macam pikiran yang tidak-tidak yang seringkali datang ke pikirannya ketika ia sedang bersama Aryan.

“Nggak mau mandi bareng? Kamu tadi ciumnya lama banget lho, aku hampir telat nih. Kita bisa lebih hemat waktu kalau madinya bareng. Gimana?”

Karin tidak dapat mengontrol rona merah yang muncul di dua belah pipinya. Namun Karin bersyukur, bahwa pikirannya masih bisa bersikap sedikit normal. Maka ia membalas perkataan Aryan, “Kamu yakin bisa hemat waktu? Kayaknya malah jadi lebih lama deh Kak, kalau kita mandi bareng. Nanti kamu telat masuk kelas lho.”

Setelah Aryan memikirkan ucapan Karin, itu ada benarnya juga. Dirasa tidak mungkin hanya sekedar mandi jika mereka pergi berdua, akhirnya Aryan memutuskan untuk mandi lebih dulu. Baiklah. Besok tolong ingatkan Aryan untuk menyetel alarm di pagi hari. Aryan ingin bangun lebih cepat dari biasanya, ia akan berusaha untuk melakukan itu, meskipun ada sedikit keraguan di dalam hatinya kalau ia akan berhasil. Aryan tetaplah Aryan yang menjadikan tidur sebagai salah satu hobinya, tapi kini terasa sedikit berbeda. Ada yang lebih menarik dan berharga dari tidurnya itu, yakni eksistensi dan peringai seorang Karina Titania di dalam hidupnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dua hari yang lalu, Nayna menyampaikan niatnya pada Karin untuk menemui Kina. Nayna bilang ia akan turun tangan, ia ingin memberitahu Kina agar perempuan itu tahu batasannya. Sudah cukup Kina mengganggu hubungan Aryan dan Karin. Sesuai tekadnya sejak awal pernikahan kakaknya, Nayna akan menjadi garda terdepan untuk mendukung hubungan kakaknya dengan Karin.

Nayna sudah mengetahui bahwa Aryan dan Karin membatalkan niat mereka untuk membawa kasus Kina ke jalur hukum. Awalnya Nayna sudah setuju dengan keputusan itu, toh mereka memiliki bukti yang kuat kalau sewaktu-waktu ingin menjebloskan Kina ke penjara. Namun Kina kembali berulah. Ia mengirim ancamana bahwa dirinya akan menyebarluaskan foto-fotonya bersama Aryan di masa lalu.

Saat Nayna berencana menghampiri Kina secara langsung, Karin menyampaikan rencana yang ia milikinya. Nayna akhirnya setuju, ia akan menjalankannya sesuai dengan yang Karin beritahu padanya. Rupanya mengenali lawan adalah hal yang sangat dibutuhkan sebelum menjalankan aksi, tentunya dibarengi juga dengan rencana yang matang dan terperinci.

Siang ini di parkiran basement Universitas Pelita Bhakti, Nayna sudah menunggu kemunculan Kina di sana. Rupanya perkiraannya cukup tepat, sepuluh menit setelah menunggu, Nayna mendapati sosok Kina berjalan keluar dari lift.

Tepat saat Kina mengarahkan kunci di tangannya ke arah mobil miliknya, Nayna sudah muncul di hadapannya. Kina yang mendapati kehadiran Nayna di sana, melemparkan tatapan datarnya, seolah merasa tidak ada urusan yang penting yang perlu diselesaikan di antara dirinya dan Nayna.

“Kak Kina, you have a business with me. Let me to say it to you,” ucap Nayna sambil menatap Kina tepat di matanya. Tatapan Nayna terasa mengintimidasi, tapi Kina berusaha tidak memperlihatkan kelemahannya.

Saat Kina ingin membuka pintu mobilnya, Nayna menahannya. Rupanya perempuan delapan belas tahun itu cukup kuat, pikir Kina.

Kina nampak kesal, ia akhirnya menyerah dan membatalkan niatnya untuk pergi begitu saja dari hadapan Nayna.

Nayna berdeham sekali, lalu menatap Kina dari atas sampai bawah. Tentu perilaku Nayna tersebut dapat membuat Kina merasa terintimidasi. Nayna kemudian mengangkat dagunya sedikit, lalu ia mengulaskan senyum tipis di wajah cantiknya.

“Awalnya kak Aryan udah mau bawa kasusnya jalur hukum, tapi Kak Karin yang cegah itu semua. Satu hal yang perlu Kak Kina tau, aku bisa kapan aja bongkar kasusnya, sekali pun kak Karin yang akan larang aku. Aku bisa ngelakuin itu, kalau Kak Kina masih ganggu hubungan kak Karin dan kak Aryan.”

Nayna menjeda ucapannya selama beberapa sesaat. Nayna berdeham sekilas, lalu ia kembali bersuara, “Dari awal, waktu keluargaku tau apa yang udah Kak Kina lakuin, mereka udah punya niat kuat buat bawa kasusnya ke pihak berwenang. Tapi Kakak beruntung karena kak Karin bersikap baik ke kakak, orang yang dulu pernah kak Karin anggap sebagai teman.”

“Soal foto Kakak dan kak Aryan, silakan kalau mau nyebarin itu. Tapi aku yakin, Kak Kina tau banget soal background keluargaku. Aku akan berusaha bawa kasusnya ke jalur hukum, toh papaku mau bantu semua prosesnya.” Mendengar rentetan kalimat Nayna, Kina pun nampak mengepalkan tangannya dan raut wajahnya tampak begitu kesal.

“Nayna, kamu ngerti apa. Kamu masih kecil. Kamu tau, Karin udah membodohi Aryan dan keluarga kalian—”

“Kak, you better shut up. Stop talking or you will be regret someday,” potong Nayna sebelum Kina sempat menyelesaikan ucapannya.

Do everything want you want to do,” ujar Nayna dengan tatapannya yang masih intens tertuju ke Kina. Perempuan berambut sebahu itu lantas membenarkan posisi totebag di pundaknya, lalu kembali berujar, “But you have to make sure that you knew the consequence.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Nayna akhirnya melangkah pergi, menyiskan Kina yang berdiri mematung di sana dengan seluruh amrah dan rasa kesal di dalam dirinya.

***

Karakter dalam diri seseorang adalah sesuatu tidak mudah untuk berubah. Seseorang mengalami berbagai hal di dalam hidupnya. Salah satunya, adalah kejadian yang dapat dijadikan sebuah pelajaran berharga, agar kedepannya bisa menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Namun kita tidak bisa mengharapkan perubahan itu terjadi, sekalipun orang itu tahu konsekuensinya, terkadang beberapa orang masih mengabaikannya.

Setelah kelas terakhir Karin, Kina menghampirinya. Kebetulan mereka satu kelas di mata kuliah ini. Karin mengatakan pada Aulia untuk menunggu sebentar selagi Karin berbicara dengan Kina di dalam kelas. Aulia bertanya pada Karin sebelum memutuskan benar-benar melenggang keluar.

“Rin, lo yakin mau ngomong sama dia?” bisik Aulia di dekat Karin.

“Iya, gue yakin. Sebentar aja kok, habis itu kita beli makanan di kantin,” ucap Karin.

“Oke deh. Gue tunggu di luar ya,” putus Aulia.

Setelah mendapat anggukan Karin, Aulia pun berlalu. Kini di kelas itu tersisa Karin dan Kina. Karin mempersilakan Kina untuk berbicara, perempuan itu mengambil tempat di kursi di hadapan Karin.

Are you enjoy all of this, Karin?” tanya Kina. Kina tidak terima mengetahui bahwa keluarga Aryan memegang semua bukti perbuatannya. Kina takut karirnya akan hancur kalau sampai kasusnya terbongkar. Seorang publik figur yang bekerja untuk industri kreatif, dituntut untuk memiliki citra yang baik. Ibaratnya ini seperti sebuah konsekuensi karena apa yang ada pada diri publik figur dapat menjadi contoh bagi para audiens yang melihatnya. Resiko dapat ditanggung sendiri apabila nama menjadi buruk, karena mereka bekerja untuk publik, maka publik mempunyai peran besar dalam menentukan apa yang ingin mereka konsumsi dan apa yang tidak ingin mereka konsumsi. Ditolak oleh masyrakat berkat sebuah perbuatan buruk, tentunya dapat menjadi sebuah kehancuran besar bagi seorang publik figur.

“Kina, semua yang terjadi adalah karena perbuatan yang udah kamu rencanain sendiri. Seharusnya kamu tau setiap perbuatan punya tanggung jawab di baliknya,” ujar Karin.

“Lo ngerencanain semua ini sejak awal, kan? You teased my boyfriend first, you made him fell in love with you. You did it well, Karin.”

Karin membiarkan Kina mengatakan semuanya. Karin akan mengumpulkannya terlebih dulu dan menyusun kalimat yang dengan sendirinya akan membuat Kina bungkam.

You are like your mom did in past, Karin. Lo nggak lebih dari seseorang yang merebut lelaki orang lain. Lo pikir kenapa almarhum om Roland nikahin nyokap lo? That’s because only one reason, you are like her. Everything is just clear right now,” ucap Kina panjang lebar tanpa beban sama sekali. Kina masih mengulaskan senyum simpul di wajahnya, merasa bahwa dirinya tengah berada di atas awan.

“Tante Vanessa dan kak Syerin terlalu baik sama lo. Lo nggak pernah tau kan, kalau sebenarnya lo cuma beban untuk mereka?” Kina tertawa pelan.

“Kamu udah selesai?” tanya Karin kemudian.

Kina seketika terdiam mendapati tatapan datar Karin padanya, hal itu juga membuat Kina sedikit menjauhkan posisinya dari Karin.

“Aku udah selesai,” ujar Kina berusaha menutupi rasa terintimidasinya.

Karin lantas berdeham, lalu ia berujar, “Oke, sekarang giliran aku. Aku tegasin sebelumnya sama kamu, aku nggak pernah jadi perebut lelaki orang. Kamu nggak bisa ngomong sembarangan tentang keluargaku, mamaku, papaku, dan keluarga mama sambungku. Apa yang kamu bicarain, udah cukup ngejelasin kamu orang yang seperti apa.”

Karin menjeda ucapannya sesaat. Tiba-tiba dadanya terasa begitu sesak. Karin tidak terima jelas-jelas Kina berbicara mengenai keluarganya. Tidak seorang pun dapat berbicara sembarangan mengenai dirinya, apalagi keluarganya.

Karin menatap Kina tepat di iris matanya, lalu ia kembali berujar, “Kamu ingat waktu kamu menolak lamaran kak Aryan?” Karin memberi waktu bagi Kina untuk berpikir. Di rasa Kina tidak akan menjawab, Karin memutuskan untuk melanjutkan ucapannya.

“Aku yakin kamu nggak akan lupa. Malam itu juga, kamu udah rencanain semuanya, kan?” ujar Karin.

Karin mengambil dompetnya dari dalam totebag miliknya, lalu ia bergerak dari posisi duduknya. Karin menatap Kina sesaat sembari berucap, “You know what? A the day you hurt him, you’re already lost him, Kina.”

Tanpa Kina sadari, dirinya telah kehilangan Aryan malam itu, tepat di saat dirinya menyakiti Aryan dengan menolak lamarannya. Padahal Aryan tulus mencintai Kina pada saat itu. Namun Kina lebih memilih mengutamakan dirinya. Kina mementingkan ego dan rasa cemburu sosialnya pada Karin, hingga membuatnya lupa apa yang lebih berharga yang sebelumnya telah perempuan itu miliki.

Kina tidak dapat menghargai ketulusan Aryan padanya. Kebersamaannya dengan Aryan semata karena Kina menganggapnya sebagai sebuah keuntungan, bukan sebuah cinta yang benar-benar tulus dari dalam hatinya.

Karin pun berlalu dari hadapan Kina. Kina masih duduk di kursinya, memikirkan semua ucapan Karin. Logika dan egonya berusaha menampik semua itu, tapi hati kecilnya, tempat di mana kejujuran seseorang terletak, justru membenarkannya.

Rasa benci serta ego yang besar yang menguasai Kina, telah mendatangkan kehancuran baginya. Apa yang ia lakukan adalah hal yang salah, perbuatannya pada Karin bukan hanya merugikan dan menyakiti orang lain, tapi rupanya juga merugikan dirinya sendiri, bahkan rasanya berkali lipat lebih besar dari yang Kina berikan pada Karin.

Kina pun mendapat hukumannya, mungkin sejak malam itu, takdir telah digariskan, dan garis itu tidak dapat dihapus ataupun diubah. Kina telah kehilangan seseorang yang tulus mencintainya. Kina merasa begitu hancur dan baru menyadari semuanya sekarang. Kina tidak tahu apa yang benar-benar ia inginkan.

Berbagai pertanyaan lantas berkecamuk di dalam benak Kina. Apakah benar selama ini ia tidak sungguhan mencintai Aryan? Apakah ia hanya terobsesi pada Aryan dan bersama lelaki itu hanya untuk merasa beruntung? Kenapa Kina harus mengalami semua hal yang justru menghancurkan dirinya sendiri? Mungkin kejadian ini akan menjadi pelajaran sekaligus penyesalan terbesar di dalam hidupnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Hukuman yang Paling Pantas

Aryan sedikit menyesal karena pagi ini dirinya bangun agak siang pagi ini, hal itu yang mengakibatkan ia dan Karin hanya memiliki sedikit waktu sebelum mereka harus berangkat ke kampus. 2 jam lagi kelas Aryan dimulai, tapi lelaki itu tampak tidak terlalu memikirkannya. Aryan masih setia mendekap tubuh Karin dengan kedua lengannya, sesekali Aryan juga memberi usapan lembut di punggung Karin.

“Kak, kapan kamu mau mandi? Kelas kamu jam 9 lho, ini udah jam 7,” ucap Karin.

“Sebentar lagi, Sayang,” ujar Aryan, suaranya masih terdengar sedikit serak, khas sekali orang yang baru bangun tidur.

“Berapa menit?” tanya Karin kemudian.

“Mau cium kamu dulu,” ujar Aryan.

“Aku tanyanya berapa menit, Kak.”

Aryan lantas melayangkan tatapan jenakanya pada Karin. “Cium dulu, habis itu janji, aku langsung mandi.”

Sebuah senyuman seketika terulas di wajah Karin. Kemudian tidak lama setelah itu, Karin memberikan sebuah kecupan lembut di sisi wajah Aryan. Aryan otomatis tersenyum lebar, begitu ,erasakan bibir lembap Karin menyentuh permukaan kulitnya.

“Mau cium di mana lagi?” tanya Karin. Tatapan keduanya bertemu, lalu netra Aryan turun ke arah bibir Karin. Di sana Karin nampak menggigit bibir bawahnya, membuat Aryan gemas melihatnya.

There’s so many spot that we can explore, Sayang,” ucap Aryan dengan suara husky-nya. Bisikan lembut Aryan di dekat telinga Karin tersebut sukses membuat bulu-bulu lengan Karin berdiri.

Pandangan Karin seketika jatuh ke bibir penuh Aryan. Bibir tebal yang tampak begitu sempurna, garis yang membentuknya sangat indah. Karin jadi ingat perkataannya malam itu. God was happy when he created Aryan. That is very true, Karin benar-benar menyadari itu sekarang.

Can I?” ujar Karin dengan suaranya yang melemah.

Aryan jelas mengerti maksud Karin, ia pun lekas mengangguk sembari mengulaskan senyum kecilnya. Setelah itu, Karin mendekatkan dirinya pada Aryan, kini sepenuhnya tubuhnya menempel di torso keras dan berotot milik Aryan.

Karin memiringkan kepalanya sedikit, lalu dengan gerakan perlahan dan lembut, ia mulai menempelkan bibirnya di bibir Aryan. Itu berjalan begitu mulus, Karin menggerakkannya dengan gerakan yang halus dan semuanya terasa begitu indah bagi keduanya. Saat pagutan tersebut bergerak semakin intens, Karin mengalungkan lengannya di seputaran leher Aryan. Semakin dalam mereka saling mencumbu, Karin merasakan sesuatu tidak bertulang itu mulai menyapa miliknya di dalam, mengabsen semua celah di rongga mulutnya.

Tubuh Karin sedikit menjengit kala Aryan semakin menambah tempo ciumannya, itu memberikan sensasi yang begitu nikmat dan memabukkan, sampai-sampai menciptakan sebuah lenguhan yang terdengar begitu seksi yang lolos dari bibir Karin.

Sejenak mereka memutuskan mengurai ciumannya, guna mengambil napas. Kemduian mereka saling melempar tatapan mesra, lalu tanpa diduga oleh Aryan, Karin bergerak ke atas tubuhnya. Posisi Karin kini berada di atas Aryan, kedua lengan perempuan itu ia tempatkan di kedua sisi wajah Aryan. Karin kembali mengecup lembut bibir Aryan. Selagi itu terjadi, tangan Aryan bergerak mengusap lengan Karin dengan gerakan sensual, memberi isyarat supaya Karin tetap melakukan ciumannya seperti itu.

Sekitar hampir sepuluh menit berlalu, penyatuan tersebut terpaksa harus di sudahi. Sebenarnya keduanya belum cukup puas, tapi masuk terlambat ke kelas juga bukan pilihan yang bagus.

“Kamu mandi duluan, habis itu aku mandi,” ucap Karin.

Aryan pun mengangguk, “Dua menit lagi, Sayang. Aku mau peluk kamu dulu,” ujar Aryan.

“Ada aja alesannya ya kamu,” cetus Karin.

Berikutnya sesuai perkataan Aryan, lelaki itu menyelipkan kedua lengannya di bawah lengan Karin, mendekap torso Karin untuk saling mengisi dengannya. Karin sedikit mendongakkan wajahnya, untuk menatap wajah Aryan. Lebih tepatnya, Karin memandanginya, kegiatannya tersebut membuatnya nyaman dan bahagia. Detik berikutnya Karin bergerak menaikkan posisi kepalanya agar dapat sejajar dengan Aryan.

“Kak,” ujar Karin.

“Iya?” sahut Aryan.

“Soal kasus itu, aku mau Kina dapat hukuman dari yang paling pantas ngasih hukumannya,” ucap Karin.

“Maksud kamu?” tanya Aryan yang tampak belum paham.

Karin pun menjelaskan perkataannya lebih detail. Karin tidak ingin Aryan membawa kasusnya ke jalur hukum, karena Karin ingin Kina mendapatkan pelajaran dari apa yang dilakukannya dari sosok yang paling pantas memberikannya, yakni Tuhan. Hukum karma dan sanksi sosial adalah yang paling adil dibandingkan apa pun. Karin yakin, suatu hari nanti semuanya akan terkuak. Ia ingin membiarkan alam yang bekerja untuk itu dengan sendirinya.

“Karin, tapi gimana kalau dia macem-macem lagi sama kamu? Aku khawatir,” ungkap Aryan menjelaskan apa yang belakangan ini telah membebani pikirannya.

“Kamu tenang, ya. Everything is oke,” Karin mengarahkan tangannya untuk mengusap lengan Aryan sekilas, berusaha mengurangi kekhwatiran lelaki itu. “Kalau Kina berani ngelakuin itu lagi, kamu boleh bawa kasusnya ke jalur hukum. Oke?” sambung Karin.

Karin mengatakan bahwa mereka tidak perlu khawatir. Ibaratnya saat ini mereka memegang kartu AS yang kapan saja bisa digunakan, jika Kina melakukan hal-hal yang diluar nalar lagi.

Karin menatap Aryan dengan tatapan lembutnya, ia sedang berusaha meyakinkan lelakinya. Karin memberi pengertian yang masuk akal pada Aryan, hingga akhirnya lelaki itu setuju akan rencana yang sebelumnya ia usulkan.

“Karin, kamu mau janji satu hal sama aku?” ucap Aryan beberapa detik kemudian.

“Janji apa?”

“Kamu nggak boleh pergi kemana-mana sendirian. Kalau aku lagi nggak bisa temenin kamu, kamu bisa minta tolong sama Nayna, Leon, pak Hamdi, om Rama, atau teman-teman kamu. Aulia sama Nadhifa, atau Beryl juga boleh.”

Usai perkataan Aryan tersebut, ia malah mendapati Karin menatapnya sambil mengulaskan senyum simpulnya.

“Karin, are you willing to promise to me?” tanya Aryan.

“Iya, aku janji, Kak. Aku nggak akan pergi kemana pun sendirian. I will make sure that I’m safe. Are you happy right now?” ujar Karin sembari memperhatikan raut wajah Aryan.

Aryan mengangguk sekali. “Oke, aku udah tenang kalau gitu. Hp kamu juga harus selalu aktif ya. Kalau ada apa-apa, kamu langsung telfon aku,” ucap Aryan yang lekas mendapat anggukan dari Karin.

“Kak,” ujar Karin, kedua netranya memandang Aryan tepat diiris hitam legamnya.

“Iya?”

“Kamu kalau kayak gini mirip sama papa deh.”

“Maksudnya?” tanya Aryan.

“Protektifnya mirip papa. Mama pernah cerita ke aku. Dulu katanya papa lumayan protektif sama mama, sampai minta bodyguard khusus buat jagain mama.”

Mendengar itu Aryan pun tertawa sekilas. “Oh iya, jelas. Bagus dong. Bodyguard papa udah terlatih banget dan profesional. Kalau kamu mau, aku bisa minta salah satu bodyguard papa buat jagain kamu.”

“Masa kemana-mana nanti aku diikutin sama bodyguard,” Karin tertawa, hingga menampakkan deretan gigi depannya yang tampak rapi. “Aku kan udah ada kamu, udah cukup. Aku nggak perlu bodyguard,” ujar Karin lagi.

“Oke-oke. Yaudah aku mandi dulu ya. Kelas pertama kamu jam berapa?”

“Jam 11 sih. Tapi aku berangkat bareng kamu aja,” ujar Karin.

“Berangkatnya aja yang bareng?” tanya Aryan sembari menatap Karin dengan tatapan menggodanya. Kedua alis bergerak naik turun, membuat Karin tidak dapat berpikiran ke arah yang positif. Pasti ada sesuatu, sepertinya Karin sudah mulai hapal setiap tatapan dan gestur tubuh seorang Aryan Sakha.

“Iya, berangkat ke kampusnya bareng. Emangnya apa lagi?” ucap Karin masih berusaha santai. Karin pun segera mengusir berbagai macam pikiran yang tidak-tidak yang seringkali datang ke pikirannya ketika ia sedang bersama Aryan.

“Nggak mau mandi bareng? Kamu tadi ciumnya lama banget lho, aku hampir telat nih. Kita bisa lebih hemat waktu kalau madinya bareng. Gimana?”

Karin tidak dapat mengontrol rona merah yang muncul di dua belah pipinya. Namun Karin bersyukur, bahwa pikirannya masih bisa bersikap sedikit normal. Maka ia membalas perkataan Aryan, “Kamu yakin bisa hemat waktu? Kayaknya malah jadi lebih lama deh Kak, kalau kita mandi bareng. Nanti kamu telat masuk kelas lho.”

Setelah Aryan memikirkan ucapan Karin, itu ada benarnya juga. Dirasa tidak mungkin hanya sekedar mandi jika mereka pergi berdua, akhirnya Aryan memutuskan untuk mandi lebih dulu. Baiklah. Besok tolong ingatkan Aryan untuk menyetel alarm di pagi hari. Aryan ingin bangun lebih cepat dari biasanya, ia akan berusaha untuk melakukan itu, meskipun ada sedikit keraguan di dalam hatinya kalau ia akan berhasil. Aryan tetaplah Aryan yang menjadikan tidur sebagai salah satu hobinya, tapi kini terasa sedikit berbeda. Ada yang lebih menarik dan berharga dari tidurnya itu, yakni eksistensi dan peringai seorang Karina Titania di dalam hidupnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷