alyadara

Karin sampai di depan pintu apartemennya dan ia langsung membuka pintunya dengan menekan kode pada smart lock. Begitu pintunya terbuka, Karin mendapati sebuah high heels berwarna broken white di rak sepatu. Itu bukan sepatu miliknya, berarti ada seseorang lain di tempat ini. Pandangan Karin lantas tertuju pada sosok yang berada di ruang tamu. Bertemulah tatapannya dengan Shakina. Karin maupun Kina kemudian hanya saling menatap, sampai Kina akhirnya lebih dulu membuka suara, “Aryan lagi mandi, tadi dia ngajak aku ke sini.”

Karin pun hanya mengangguk sekilas. Setelah itu Karin melangkahkan kakinya menuju dapur, ia meletakkan tas belanjaan yang dibawanya di sana. Karin segera merapikan isi belanjaannya, meletakkan beberapa makanan ke lemari dan yang lainnya ke kulkas.

Saat Karin selesai dengan kegiatannya, matanya bertemu dengan Aryan yang baru saja turun dari lantai atas. Aryan telah mengenakan pakaian santainya dan rambutnya tampak setengah basah.

“Karin, maaf aku lupa bilang kalau aku bawa Kina ke sini,” ucap Aryan sambil berjalan menghampiri Karin.

Karin balas menatap Aryan seusia ia merapikan seluruh belanjaannya. “It’s oke, you can do it. Ini apartemen kamu, Aryan,” ujar Karin.

Karin lekas beranjak naik ke kamarnya, sementara Aryan menghampiri Kina di ruang tamu. Rupanya tidak lama berselang, Karin turun lagi ke bawah, tapi yang berbeda kini adalah perempuan itu telah mengganti stelannya dengan pakaian yang lebih santai.

Karin pun melangkah melewati Aryan dan Kina di ruang tamu menuju pintu. Aryan yang melihat itu segera menyusul langkah Karin. “Karin, kamu mau ke mana?” tanya Aryan sebelum tangan Karin meraih gagang pintu.

“Aku mau ke kafe yang ada di lantai bawah,” ujar Karin sembari mengulaskan senyum kecilnya. “Aku nggak mau ganggu kamu sama Kina. Aku pergi dulu.” Setelah mengatakannya, Karin lekas berbalik dari Aryan dan melangkahkan kakinya keluar dari apartemen.

Aryan masih berdiri di tempatnya ketika Kina berjalan menghampirinya. Kina memeluk pinggang Aryan dari belakang, lalu menyandarkan tubuhnya di punggung tegap Aryan.

You know what, Baby? I’m so happy today. Finally, we can spend our time together,” ujar Kina.

Aryan lantas berbalik untuk berhadapan dengan Kina. “Alright,” Aryan mengulaskan senyumnya yang segera dibalas oleh senyum cantik perempuan itu. “It’s only about us right now*,” sambung Aryan.

***

Karin kembali ke apartemen setelah Aryan mengabarinya bahwa Kina sudah tidak ada di sana. Fokus utama Aryan ketika Karin memasuki apartemen adalah sebuah bungkusan plastik yang kini dibawa Karin di tangannya.

Aryan berjalan mendekat pada Karin dan bertanya, “Kamu habis dari mana?”

Karin pun menunjukkan bungkusan di tangannya. “Dari kafe. Terus aku pengen martabak, yaudah aku beli.”

Usai mengatakannya, Karin pun berjalan melewati Aryan. Karin meletakkan bungkusan berisi martabak yang masih bersisa itu di meja makan.

Sebelum melangkah naik ke kamarnya, Karin kembali berbalik pada Aryan, “Kamu bisa bilang ke aku kalau lain kali Kina mau ke sini lagi.”

“Kamu mau pergi kemana lagi?” Aryan malah melempar pertanyaan balik ke karin.

Karin nampak berpikir sejenak. Kemudian tidak lama kemudian, ia kembali berujar, “Aku mau ke apartemenku. Ada kerjaan yang harus aku kerjain sama Dara di sana,” jelas Karin.

Aryan pun akhirnya mengangguki ucapan Karin. Setelah itu Karin segera melangkahkan kakinya menaiki tangga sampai akhirnya punggung itu hilang dari pandangan Aryan.

Sepeninggalan Karin dari hadapannya, Aryan pun didatangi oleh pemikiran yang tiba-tiba saja memenuhi hatinya. Aryan merasa kecil karena Rey yang justru memberikan perhatian tersebut pada Karin dan anaknya. Aryan merasa bahwa seharusnya posisi itu adalah miliknya. Hati Aryan mengatakan demikian, tapi pikiran logisnya masih mencoba untuk menampik hal tersebut. Pikirannya mengatakan bahwa seharusnya Aryan tidak mempermasalahkannya. Saat keinginan dan kebahagiaan Karin terpenuhi, dampak yang positif juga akan terjadi pada bayi di kandungannya. Bukankah memang itu yang selama ini Aryan inginkan?

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin sampai di depan pintu apartemennya dan ia langsung membuka pintunya dengan menekan kode pada smart lock. Begitu pintunya terbuka, Karin mendapati sebuah high heels di rak sepatu. Itu bukan sepatu miliknya, berarti ada seseorang lain di tempat ini. Pandangan Karin lantas tertuju pada sosok yang berada di ruang tamu. Bertemulah tatapannya dengan Shakina. Karin maupun Kina kemudian hanya saling menatap, sampai Kina akhirnya lebih dulu membuka suara, “Aryan lagi mandi, tadi dia ngajak aku ke sini.”

Karin pun hanya mengangguk sekilas. Setelah itu Karin melangkahkan kakinya menuju dapur, ia meletakkan tas belanjaan yang dibawanya di sana. Karin segera merapikan isi belanjaannya, meletakkan beberapa makanan ke lemari dan yang lainnya ke kulkas.

Saat Karin selesai dengan kegiatannya, matanya bertemu dengan Aryan yang baru saja turun dari lantai atas. Aryan telah mengenakan pakaian santainya dan rambutnya tampak setengah basah.

“Karin, maaf aku lupa bilang kalau aku bawa Kina ke sini,” ucap Aryan sambil berjalan menghampiri Karin.

Karin balas menatap Aryan seusia ia merapikan seluruh belanjaannya. “It’s oke, you can do it. Ini apartemen kamu, Aryan,” ujar Karin.

Karin lekas beranjak naik ke kamarnya, sementara Aryan menghampiri Kina di ruang tamu. Rupanya tidak lama berselang, Karin turun lagi ke bawah, tapi yang berbeda kini adalah perempuan itu telah mengganti stelannya dengan pakaian yang lebih santai.

Karin pun melangkah melewati Aryan dan Kina di ruang tamu menuju pintu. Aryan yang melihat itu segera menyusul langkah Karin. “Karin, kamu mau ke mana?” tanya Aryan sebelum tangan Karin meraih gagang pintu.

“Aku mau ke kafe yang ada di lantai bawah,” ujar Karin sembari mengulaskan senyum kecilnya. “Aku nggak mau ganggu kamu sama Kina. Aku pergi dulu.” Setelah mengatakannya, Karin lekas berbalik dari Aryan dan melangkahkan kakinya keluar dari apartemen.

Aryan masih berdiri di tempatnya ketika Kina berjalan menghampirinya. Kina memeluk pinggang Aryan dari belakang, lalu menyandarkan tubuhnya di punggung tegap Aryan.

You know what, Baby? I’m so happy today. Finally, we can spend our time together,” ujar Kina.

Aryan lantas berbalik untuk berhadapan dengan Kina. “Alright,” Aryan mengulaskan senyumnya yang segera dibalas oleh senyum cantik perempuan itu. “It’s only about us right now*,” sambung Aryan.

***

Karin kembali ke apartemen setelah Aryan mengabarinya bahwa Kina sudah tidak ada di sana. Fokus utama Aryan ketika Karin memasuki apartemen adalah sebuah bungkusan plastik yang kini dibawa Karin di tangannya.

Aryan berjalan mendekat pada Karin dan bertanya, “Kamu habis dari mana?”

Karin pun menunjukkan bungkusan di tangannya. “Dari kafe. Terus aku pengen martabak, yaudah aku beli.”

Usai mengatakannya, Karin pun berjalan melewati Aryan. Karin meletakkan bungkusan berisi martabak yang masih bersisa itu di meja makan.

Sebelum melangkah naik ke kamarnya, Karin kembali berbalik pada Aryan, “Kamu bisa bilang ke aku kalau lain kali Kina mau ke sini lagi.”

“Kamu mau pergi kemana lagi?” Aryan malah melempar pertanyaan balik ke karin.

Karin nampak berpikir sejenak. Kemudian tidak lama kemudian, ia kembali berujar, “Aku mau ke apartemenku. Ada kerjaan yang harus aku kerjain sama Dara di sana,” jelas Karin.

Aryan pun akhirnya mengangguki ucapan Karin. Setelah itu Karin segera melangkahkan kakinya menaiki tangga sampai akhirnya punggung itu hilang dari pandangan Aryan.

Sepeninggalan Karin dari hadapannya, Aryan pun didatangi oleh pemikiran yang tiba-tiba saja memenuhi hatinya. Aryan merasa kecil karena Rey yang justru memberikan perhatian tersebut pada Karin dan anaknya. Aryan merasa bahwa seharusnya posisi itu adalah miliknya. Hati Aryan mengatakan demikian, tapi pikiran logisnya masih mencoba untuk menampik hal tersebut. Pikirannya mengatakan bahwa seharusnya Aryan tidak mempermasalahkannya. Saat keinginan dan kebahagiaan Karin terpenuhi, dampak yang positif juga akan terjadi pada bayi di kandungannya. Bukankah memang itu yang selama ini Aryan inginkan?

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Hari ini merupakan hari Senin. Tepatnya kini sudah satu minggu sejak pernikahan Aryan dan Karin. Tidak banyak yang berubah dari keduanya. Namun pagi ini ada kejadian yang membuat Karin sedikit terkejut. Perempuan itu mendapati Aryan sudah terbangun dari tidurnya, tanpa usahanya untuk membangunkan lelaki itu. Ya, salah satu kebiasaan baru adalah Karin yang harus membangunkan Aryan. Terutama jika Aryan ada jadwal kuliah pagi, Karin harus mengerahkan tenaga ekstra untuk membuat Aryan bangun dari tidurnya yang kelewat nyenyak itu.

“Tumben bisa bangun sendiri. Kamu pasang alarm?” tanya Karin begitu Aryan menarik kursi di dapur, kemudian lelaki itu duduk di sana.

“Kebangun sendiri, aku nggak pasang alarm,” jawab Aryan.

Karin pun mengangguk-angguk, lalu kembali mengalihkan atensinya dari Aryan pada masakannya. Setelah semuanya siap, Karin mengambil dua piring untuk menyajikan sarapan. Satu untuk dirinya dan satu untuk Aryan.

Karin menarik kursi di hadapan Aryan setelah menaruh dua piring french toast yang dilengkapi dengan buah-buahan yang nampak segar. Karin juga menghangatkan segelas susu untuknya dan membuatkan secangkir kopi susu panas untuk Aryan.

Aryan and Karin's Breakfast

Setelah Karin menelan suapan pertama french toast-nya, alisnya pun mengernyit sembari menatap ke arah Aryan. “Kamu kebangun karena aku berisik masak di dapur, ya?” tanya Karin.

Aryan yang mendengar pertanyaan Karin seketika menganggukkan kepalanya. “Itu salah satu faktornya. Tapi mungkin faktor lainnya karena udah kebiasaan kamu bangunin, jadi nggak terlalu susah untuk bangun sendiri,” ujar Aryan.

Karin hanya beroh ria saja mendengar jawaban Aryan. Kemudian keduanya fokus menikmati sarapan masing-masing dan tidak ada percakapan lebih lanjut yang terjadi. Sekitar 10 menit berlalu, french toast di piring Aryan sudah bersih, begitupun dengan Karin. Namun Aryan masih setia di meja makan, lelaki itu tengah menikmati kopinya yang masih tersisa. Sementara Karin bergerak membawa piring kotor miliknya dan milik Aryan ke wastafel.

“Karin, piringnya nggak usah dicuci. Hari ini ada asisten yang dateng ke sini,” ujar Aryan dan seketika menghentikan aksi Karin.

Begitu Karin berbalik dari wastafel, ia mendapati Aryan sudah berada tepat di belakangnya. Aryan pun meletakkan gelas bekas kopinya yang telah kosong di wastafel.

“Kamu ada kelas jam berapa hari ini?” tanya Aryan.

“Jam 12 siang. Kelas terakhirku jam 5 sore,” jawab Karin.

Beberapa kali keduanya kerap berangkat dan pulang bersama. Jika jam mulai dan berakhir kelas mereka berdekatan, Aryan akan sekalian membawa Karin bersamanya.

Hari ini Karin tidak memiliki kegiatan lain setelah perkuliahan, baik BEM atau pun kepanitiaan. Jadi Karin bisa langsung pulang setelah kelas terakhirnya selesai.

“Oke, kalau gitu kita bisa pulang bareng. Nanti aku kabarin kamu lagi,” ucap Aryan.

***

Karin berada di mobil, ia duduk di kursi penumpang di belakang. Sementara Aryan sudah siap di balik kemudinya. Alasan mereka belum keluar dari pelataran parkir kampus adalah seorang perempuan yang kini baru saja membuka pintu di samping kemudi.

Begitu masuk ke mobil, Shakina menatap ke arah Karin sekilas, kemudian perempuan itu mengulaskan senyum manisnya kepada Aryan. Shakina merangkul satu lengan Aryan dari samping, lalu menyandarkan kepalanya di sana.

I missed you,” ucap Kina sembari mendongakkan wajahnya untuk mempertemukan netranya dengan netra Aryan. Detik berikutnya, Kina kembali menduselkan kepalanya di lengan Aryan, “I need five minutes for this.”

Beberapa hari yang lalu, Kina dan Aryan memang tidak bertemu dikarenakan perbedaan jadwal keduanya. Kina ada pekerjaan yang harus diselesaikannya sementara sehabis kelas, Aryan ada jadwal magang di perusahaan papanya.

“Sayang, kita nggak jadi dinner berdua ya?” tanya Kina setelah akhirnya melepaskan pelukannya di lengan Aryan.

“Besok aja kita dinner-nya. Oke?” ujar Aryan.

Well okey. Aku udah seneng kok, yang penting hari ini aku bisa ketemu sama kamu,” ujar Kina sembari mengulaskan senyumnya.

Aryan pun balas tersenyum ke arah Kina, sebelum akhirnya Aryan bergerak untuk mulai memanuver mobilnya keluar dari pelataran parkir fakultas.

Sebelumnya Aryan tidak menduga kalau Kina meminta diantar pulang hari ini dan kekasihnya itu mengatakan begitu merindukannya. Namun yang terjadi, Aryan juga tidak bisa membiarkan Karin pulang sendiri. Karin sudah mengatakan bahwa ia bisa naik taksi online, karena hari ini Rey tidak bisa mengantarnya pulang. Akhirnya Aryan pun memutuskan tetap membawa Karin dan tetap mengantar Kina. Toh Aryan bisa mengantar Kina lebih dulu baru setelah itu ia dan Karin pulang.

***

Aryan mendapati Karin tengah tertidur di jok belakang sesampainya mereka di parkiran apartemen. Aryan segera turun dan membuka pintu di samping Karin. Ketika tubuh Karin hampir saja limbung, Aryan segera menahannya menggunakan satu lengannya.

“Karin, kita udah sampai,” ujar Aryan di dekat Karin.

Respon yang didapatkan Aryan dari Karin hanyalah sebuah gumaman tidak jelas dan sedikit pergerakan dalam tidurnya.

Sesaat Aryan memperhatikan wajah tertidur Karin. Kegiatan Aryan itu tidak berlangsung lama, dikarenakan Karin bergerak lagi dalam posisinya.

“Karin,” panggil Aryan lagi untuk membangunkan Karin. Sepertinya usaha Aryan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhasil, Karin terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya.

“Oke, aku gendong kamu,” ucap Aryan. Berikutnya yang terjadi adalah Aryan menyelipkan lengannya di bawah lekukan kaki Karin, lalu lengan satunya lagi berada di balik punggung perempuan itu.

Aryan hampir saja melupakan sesuatu. Ia kembali berbalik untuk mengambil tas milik Karin dan berusaha sebisa mungkin menyampirkan benda itu di pundaknya. Begitulah Aran harus melakukannya hingga langkahnya sampai di unit apartemen mereka.

Ketika sampai di kamar, Aryan membaringkan Karin dengan perlahan di atas kasur. Setelah itu tidak lupa Aryan melepaskan flat shoes Karin, meletakkannya di lantai, dan bergerak menyelimuti tubuh Karin. Sebelum pergi dari sana, Aryan meletakkan tas Karin di kursi meja belajarnya. Kemudian memandang wajah Karin sesaat, lalu ia bergegas untuk mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.

Aryan berpikir bahwa kehidupan baru yang ia jalani ini tidaklah mudah. Ia memiliki istri, tapi juga memiliki kekasih. Namun ketika melihat Karin, Aryan tahu bahwa beban perempuan itu akan lebih berat darinya, mulai sekarang maupun nanti ke depannya. Karin akan mengandung selama sembilan bulan dan melahirkan seorang anak, itu bukanlah persoalan yang mudah. Tidak sepatutnya Aryan mengeluh dan menyalahkan keadaan. Pola pikirnya lah yang perlu diubah, tidak lama lagi ia akan menjadi seorang ayah dan memiliki tanggung jawab yang besar.

Meskipun malam itu antara dirinya dan Karin adalah kecelakaan, Aryan tidak ingin menjadi lebih berengsek lagi dengan meninggalkan Karin dan membiarkan perempuan itu menjalani semuanya sendiri.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Hari ini merupakan hari Senin. Tepatnya kini sudah satu minggu sejak pernikahan Aryan dan Karin. Tidak banyak yang berubah dari keduanya. Namun pagi ini ada kejadian yang membuat Karin sedikit terkejut. Perempuan itu mendapati Aryan sudah terbangun dari tidurnya, tanpa usahanya untuk membangunkan lelaki itu. Ya, salah satu kebiasaan baru adalah Karin yang harus membangunkan Aryan. Terutama jika Aryan ada jadwal kuliah pagi, Karin harus mengerahkan tenaga ekstra untuk membuat Aryan bangun dari tidurnya yang kelewat nyenyak itu.

“Tumben bisa bangun sendiri. Kamu pasang alarm?” tanya Karin begitu Aryan menarik kursi di dapur, kemudian lelaki itu duduk di sana.

“Kebangun sendiri, aku nggak pasang alarm,” jawab Aryan.

Karin pun mengangguk-angguk, lalu kembali mengalihkan atensinya dari Aryan pada masakannya. Setelah semuanya siap, Karin mengambil dua piring untuk menyajikan sarapan. Satu untuk dirinya dan satu untuk Aryan.

Karin menarik kursi di hadapan Aryan setelah menaruh dua piring french toast yang dilengkapi dengan buah-buahan yang nampak segar. Karin juga menghangatkan segelas susu untuknya dan membuatkan secangkir kopi susu panas untuk Aryan.

Aryan and Karin's Breakfast

Setelah Karin menelan suapan pertama french toast-nya, alisnya pun mengernyit sembari menatap ke arah Aryan. “Kamu kebangun karena aku berisik masak di dapur, ya?” tanya Karin.

Aryan yang mendengar pertanyaan Karin seketika menganggukkan kepalanya. “Itu salah satu faktornya. Tapi mungkin faktor lainnya karena udah kebiasaan kamu bangunin, jadi nggak terlalu susah untuk bangun sendiri,” ujar Aryan.

Karin hanya beroh ria saja mendengar jawaban Aryan. Kemudian keduanya fokus menikmati sarapan masing-masing dan tidak ada percakapan lebih lanjut yang terjadi. Sekitar 10 menit berlalu, french toast di piring Aryan sudah bersih, begitupun dengan Karin. Namun Aryan masih setia di meja makan, lelaki itu tengah menikmati kopinya yang masih tersisa. Sementara Karin bergerak membawa piring kotor miliknya dan milik Aryan ke wastafel.

“Karin, piringnya nggak usah dicuci. Hari ini ada asisten yang dateng ke sini,” ujar Aryan dan seketika menghentikan aksi Karin.

Begitu Karin berbalik dari wastafel, ia mendapati Aryan sudah berada tepat di belakangnya. Aryan pun meletakkan gelas bekas kopinya yang telah kosong di wastafel.

“Kamu ada kelas jam berapa hari ini?” tanya Aryan.

“Jam 12 siang. Kelas terakhirku jam 5 sore,” jawab Karin.

Beberapa kali keduanya kerap berangkat dan pulang bersama. Jika jam mulai dan berakhir kelas mereka berdekatan, Aryan akan sekalian membawa Karin bersamanya.

Hari ini Karin tidak memiliki kegiatan lain setelah perkuliahan, baik BEM atau pun kepanitiaan. Jadi Karin bisa langsung pulang setelah kelas terakhirnya selesai.

“Oke, kalau gitu kita bisa pulang bareng. Nanti aku kabarin kamu lagi,” ucap Aryan.

***

Karin berada di mobil, ia duduk di kursi penumpang di belakang. Sementara Aryan sudah siap di balik kemudinya. Alasan mereka belum keluar dari pelataran parkir kampus adalah seorang perempuan yang kini baru saja membuka pintu di samping kemudi.

Begitu masuk ke mobil, Shakina menatap ke arah Karin sekilas, kemudian perempuan itu mengulaskan senyum manisnya kepada Aryan. Shakina merangkul satu lengan Aryan dari samping, lalu menyandarkan kepalanya di sana.

I missed you,” ucap Kina sembari mendongakkan wajahnya untuk mempertemukan netranya dengan netra Aryan. Detik berikutnya, Kina kembali menduselkan kepalanya di lengan Aryan, “I need five minutes for this.”

Beberapa hari yang lalu, Kina dan Aryan memang tidak bertemu dikarenakan perbedaan jadwal keduanya. Kina ada pekerjaan yang harus diselesaikannya sementara sehabis kelas, Aryan ada jadwal magang di perusahaan papanya.

“Sayang, kita nggak jadi dinner berdua ya?” tanya Kina setelah akhirnya melepaskan pelukannya di lengan Aryan.

“Besok aja ya kita dinnernya,” ujar Aryan.

Well okey. Aku udah seneng kok, yang penting hari ini aku bisa ketemu sama kamu,” ujar Kina sembari mengulaskan senyumnya.

Aryan pun balas tersenyum ke arah Kina, sebelum akhirnya Aryan bergerak untuk mulai memanuver mobilnya keluar dari pelataran parkir fakultas.

Sebelumnya Aryan tidak menduga kalau Kina meminta diantar pulang hari ini dan kekasihnya itu mengatakan begitu merindukannya. Namun yang terjadi, Aryan juga tidak bisa membiarkan Karin pulang sendiri. Karin sudah mengatakan bahwa ia bisa naik taksi online, karena hari ini Rey tidak bisa mengantarnya pulang. Akhirnya Aryan pun memutuskan tetap membawa Karin dan tetap mengantar Kina. Toh Aryan bisa mengantar Kina lebih dulu baru setelah itu ia dan Karin pulang.

***

Aryan mendapati Karin tengah tertidur di jok belakang sesampainya mereka di parkiran apartemen. Aryan segera turun dan membuka pintu di samping Karin. Ketika tubuh Karin hampir saja limbung, Aryan segera menahannya menggunakan satu lengannya.

“Karin, kita udah sampai,” ujar Aryan di dekat Karin.

Respon yang didapatkan Aryan dari Karin hanyalah sebuah gumaman tidak jelas dan sedikit pergerakan dalam tidurnya.

Sesaat Aryan memperhatikan wajah tertidur Karin. Kegiatan Aryan itu tidak berlangsung lama, dikarenakan Karin bergerak lagi dalam posisinya.

“Karin,” panggil Aryan lagi untuk membangunkan Karin. Sepertinya usaha Aryan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhasil, Karin terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya.

“Oke, aku gendong kamu,” ucap Aryan. Berikutnya yang terjadi adalah Aryan menyelipkan lengannya di bawah lekukan kaki Karin, lalu lengan satunya lagi berada di balik punggung perempuan itu.

Aryan hampir saja melupakan sesuatu. Ia kembali berbalik untuk mengambil tas milik Karin dan berusaha sebisa mungkin menyampirkan benda itu di pundaknya. Begitulah Aran harus melakukannya hingga langkahnya sampai di unit apartemen mereka.

Ketika sampai di kamar, Aryan membaringkan Karin dengan perlahan di atas kasur. Setelah itu tidak lupa Aryan melepaskan flat shoes Karin, meletakkannya di lantai, dan bergerak menyelimuti tubuh Karin. Sebelum pergi dari sana, Aryan meletakkan tas Karin di kursi meja belajarnya. Aryan memandang wajah Karin sesaat, lalu ia bergegas mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.

Aryan berpikir bahwa kehidupan baru yang ia jalani ini tidaklah mudah. Ia memiliki istri, tapi juga memiliki kekasih. Namun ketika melihat Karin, Aryan tahu bahwa beban perempuan itu akan lebih berat darinya, mulai sekarang maupun nanti ke depannya. Karin akan mengandung selama sembilan bulan dan melahirkan seorang anak, itu bukanlah persoalan yang mudah. Tidak sepatutnya Aryan mengeluh dan menyalahkan keadaan. Pola pikirnya lah yang perlu diubah, tidak lama lagi ia akan menjadi seorang ayah dan memiliki tanggung jawab yang besar.

Meskipun malam itu antara dirinya dan Karin adalah kecelakaan, Aryan tidak ingin menjadi lebih berengsek lagi dengan meninggalkan Karin dan membiarkan perempuan itu menjalani semuanya sendiri.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Hari ini merupakan hari Senin. Tepatnya kini sudah satu minggu sejak pernikahan Aryan dan Karin. Tidak banyak yang berubah dari keduanya. Namun pagi ini ada kejadian yang membuat Karin sedikit terkejut. Perempuan itu mendapati Aryan sudah terbangun dari tidurnya, tanpa usahanya untuk membangunkan lelaki itu. Ya, salah satu kebiasaan baru adalah Karin yang harus membangunkan Aryan. Terutama jika Aryan ada jadwal kuliah pagi, Karin harus mengerahkan tenaga ekstra untuk membuat Aryan bangun dari tidurnya yang kelewat nyenyak itu.

“Tumben bisa bangun sendiri. Kamu pasang alarm?” tanya Karin begitu Aryan menarik kursi di dapur, kemudian lelaki itu duduk di sana.

“Kebangun sendiri, aku nggak pasang alarm,” jawab Aryan.

Karin pun mengangguk-angguk, lalu kembali mengalihkan atensinya dari Aryan pada masakannya. Setelah semuanya siap, Karin mengambil dua piring untuk menyajikan sarapan. Satu untuk dirinya dan satu untuk Aryan.

Karin menarik kursi di hadapan Aryan setelah menaruh dua piring french toast yang dilengkapi dengan buah-buahan yang nampak segar. Karin juga menghangatkan segelas susu untuknya dan membuatkan secangkir hot cappucino untuk Aryan.

Aryan and Karin's Breakfast

Setelah Karin menelan suapan pertama french toast-nya, alisnya pun mengernyit sembari menatap ke arah Aryan. “Kamu kebangun karena aku berisik masak di dapur, ya?” tanya Karin.

Aryan yang mendengar pertanyaan Karin seketika menganggukkan kepalanya. “Itu salah satu faktornya. Tapi mungkin faktor lainnya karena udah kebiasaan kamu bangunin, jadi nggak terlalu susah untuk bangun sendiri,” ujar Aryan.

Karin hanya beroh ria saja mendengar jawaban Aryan. Kemudian keduanya fokus menikmati sarapan masing-masing dan tidak ada percakapan lebih lanjut yang terjadi. Sekitar 10 menit berlalu, french toast di piring Aryan sudah bersih, begitupun dengan Karin. Namun Aryan masih setia di meja makan, lelaki itu tengah menikmati kopinya yang masih tersisa. Sementara Karin bergerak membawa piring kotor miliknya dan milik Aryan ke wastafel.

“Karin, piringnya nggak usah dicuci. Hari ini ada asisten yang dateng ke sini,” ujar Aryan yang seketia menghentikan aksi Karin.

Begitu Karin berbalik dari wastafel, ia mendapati Aryan sudah berada tepat di belakangnya. Aryan pun meletakkan gelas bekas kopinya yang telah kosong di wastafel.

“Kamu ada kelas jam berapa hari ini?” tanya Aryan.

“Jam 12 siang. Kelas terakhirku jam 5 sore,” jawab Karin.

Beberapa kali keduanya kerap berangkat dan pulang bersama. Jika jam mulai dan berakhir kelas mereka berdekatan, Aryan akan sekalian membawa Karin bersamanya.

Hari ini Karin tidak memiliki kegiatan lain setelah perkuliahan, baik BEM atau pun kepanitiaan. Jadi Karin bisa langsung pulang setelah kelas terakhirnya selesai.

“Oke, kita bisa pulang bareng kalau gitu. Nanti aku kabarin kamu lagi,” ucap Aryan.

***

Karin berada di mobil, ia duduk di kursi penumpang di belakang. Sementara Aryan sudah siap di balik kemudinya. Alasan mereka belum keluar dari pelataran parkir kampus adalah seorang perempuan yang kini baru saja membuka pintu di samping kemudi.

Begitu masuk ke mobil, Shakina menatap ke arah Karin sekilas, kemudian perempuan itu mengulaskan senyum manisnya kepada Aryan. Shakina merangkul satu lengan Aryan dari samping, lalu menyandarkan kepalanya di sana.

I missed you,” ucap Kina sembari mendongakkan wajahnya untuk mempertemukan netranya dengan netra Aryan. Detik berikutnya, Kina kembali menduselkan kepalanya di lengan Aryan, “I need five minutes for this.”

Beberapa hari yang lalu, Kina dan Aryan memang tidak bertemu dikarenakan perbedaan jadwal keduanya. Kina ada pekerjaan yang harus diselesaikannya sementara sehabis kelas, Aryan ada jadwal magang di perusahaan papanya.

“Sayang, kita nggak jadi dinner berdua ya?” tanya Kina setelah akhirnya melepaskan pelukannya di lengan Aryan.

“Besok aja ya kita dinnernya,” ujar Aryan.

Well okey. Aku udah seneng kok, yang penting hari ini aku bisa ketemu sama kamu,” ujar Kina sembari mengulaskan senyumnya.

Aryan pun balas tersenyum ke arah Kina, sebelum akhirnya Aryan bergerak untuk mulai memanuver mobilnya keluar dari pelataran parkir fakultas.

Sebelumnya Aryan tidak menduga kalau Kina meminta diantar pulang hari ini dan kekasihnya itu mengatakan begitu merindukannya. Namun yang terjadi, Aryan juga tidak bisa membiarkan Karin pulang sendiri. Karin sudah mengatakan bahwa ia bisa naik taksi online, karena hari ini Rey tidak bisa mengantarnya pulang. Akhirnya Aryan pun memutuskan tetap membawa Karin dan tetap mengantar Kina. Toh Aryan bisa mengantar Kina lebih dulu baru setelah itu ia dan Karin pulang.

***

Aryan mendapati Karin tengah tertidur di jok belakang sesampainya mereka di parkiran apartemen. Aryan segera turun dan membuka pintu di samping Karin. Ketika tubuh Karin hampir saja limbung, Aryan segera menahannya menggunakan satu lengannya.

“Karin, kita udah sampai,” ujar Aryan di dekat Karin.

Respon yang didapatkan Aryan dari Karin hanyalah sebuah gumaman tidak jelas dan sedikit pergerakan dalam tidurnya.

Sesaat Aryan memperhatikan wajah tertidur Karin. Kegiatan Aryan itu tidak berlangsung lama, dikarenakan Karin bergerak lagi dalam posisinya.

“Karin,” panggil Aryan lagi untuk membangunkan Karin. Sepertinya usaha Aryan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhasil, Karin terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya.

“Oke, aku gendong kamu,” ucap Aryan. Berikutnya yang terjadi adalah Aryan menyelipkan lengannya di bawah lekukan kaki Karin, lalu lengan satunya lagi berada di balik punggung perempuan itu.

Aryan hampir saja melupakan sesuatu. Ia kembali berbalik untuk mengambil tas milik Karin dan berusaha sebisa mungkin menyampirkan benda itu di pundaknya. Begitulah Aran harus melakukannya hingga langkahnya sampai di unit apartemen mereka.

Ketika sampai di kamar, Aryan membaringkan Karin dengan perlahan di atas kasur. Setelah itu tidak lupa Aryan melepaskan flat shoes Karin, meletakkannya di lantai, dan bergerak menyelimuti tubuh Karin. Sebelum pergi dari sana, Aryan meletakkan tas Karin di kursi meja belajarnya. Aryan memandang wajah Karin sesaat, lalu ia bergegas mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.

Aryan berpikir bahwa kehidupan baru yang ia jalani ini tidaklah mudah. Ia memiliki istri, tapi juga memiliki kekasih. Namun ketika melihat Karin, Aryan tahu bahwa beban perempuan itu akan lebih berat darinya, mulai sekarang maupun nanti ke depannya. Karin akan mengandung selama sembilan bulan dan melahirkan seorang anak, itu bukanlah persoalan yang mudah. Tidak sepatutnya Aryan mengeluh dan menyalahkan keadaan. Pola pikirnya lah yang perlu diubah, tidak lama lagi ia akan menjadi seorang ayah dan memiliki tanggung jawab yang besar.

Meskipun malam itu antara dirinya dan Karin adalah kecelakaan, Aryan tidak ingin menjadi lebih berengsek lagi dengan meninggalkan Karin dan membiarkan perempuan itu menjalani semuanya sendiri.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Hari ini merupakan hari Senin. Tepatnya kini sudah satu minggu sejak pernikahan Aryan dan Karin. Tidak banyak yang berubah dari keduanya. Namun pagi ini ada kejadian yang membuat Karin sedikit terkejut. Perempuan itu mendapati Aryan sudah terbangun dari tidurnya, tanpa alarm atau pun usahanya membangunkan lelaki itu. Ya, salah satu kebiasaan baru adalah Karin yang harus membangunkan Aryan. Terutama jika Aryan ada kuliah pagi, Karin harus menggunakan ekstra tenaganya untuk berhasil membuat Aryan bangun dari tidurnya yang kelewat nyenyak itu.

“Tumben bisa bangun sendiri. Kamu pasang alarm?” tanya Karin begitu Aryan menarik kursi di dapur, kemudian lelaki itu duduk di sana.

“Kebangun, nggak pakai alarm,” jawab Aryan.

Karin pun mengangguk-angguk, lalu kembali mengalihkan atensinya dari Aryan pada masakannya. Setelah semuanya siap, Karin mengambil dua piring untuk menyajikan sarapan. Satu untuk dirinya dan satu untuk Aryan.

Karin menarik kursi di hadapan Aryan setelah menaruh dua piring french toast yang dilengkapi dengan buah-buahan yang nampak segar. Karin juga menghangatkan segelas susu untuknya dan membuatkan secangkir hot cappucino untuk Aryan.

Aryan and Karin's Breakfast

Setelah Karin menelan suapan pertama french toast-nya, alisnya pun mengernyit sembari menatap ke arah Aryan. “Kamu kebangun karena aku berisik masak di dapur, ya?” tanya Karin.

Aryan yang mendengar pertanyaan Karin seketika menganggukkan kepalanya. “Itu salah satu faktornya. Tapi mungkin faktor lainnya karena udah kebiasaan kamu bangunin, jadi nggak terlalu susah untuk bangun sendiri” ujar Aryan.

Karin hanya beroh ria saja mendengar jawaban Aryan. Kemudian keduanya fokus menikmati sarapan masing-masing dan tidak ada percakapan lebih lanjut yang terjadi. Sekitar 10 menit berlalu, french toast di piring Aryan sudah bersih, begitupun dengan Karin. Namun Aryan masih setia di meja makan, lelaki itu tengah menikmati segelas cappucinonya. Sementara Karin bergerak membawa piring kotor miliknya dan milik Aryan ke wastafel.

“Karin, piringnya nggak usah di cuci. Hari ini ada asisten yang ke sini,” ujar Aryan yang seketia menghentikan aksi Karin.

Begitu Karin berbalik dari wastafel, ia mendapati Aryan sudah berada tepat di belakangnya. Aryan pun meletakkan gelas bekas kopinya yang telah kosong di wastafel.

“Kamu ada kelas jam berapa hari ini?” tanya Aryan.

“Jam 12 siang. Kelas terakhirku jam 5 sore,” jawab Karin.

Beberapa kali keduanya kerap berangkat dan pulang bersama. Jika jam mulai dan berakhir kelas mereka berdekatan, Aryan akan sekalian membawa Karin bersamanya.

Hari ini Karin tidak memiliki kegiatan lain setelah perkuliahan, baik BEM atau pun kepanitiaan, jadi ia bisa langsung pulang setelah kelas terakhirnya.

“Oke, kita bisa pulang bareng kalau gitu. Nanti aku kabarin kamu lagi,” ucap Aryan.

Karin terdiam sesaat, sebelumnya akhirnya perempuan itu mengangguk. Setelah persetujuan Karin itu, Aryan segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Lelaki itu harus bersiap-siap untuk segera berangkat kuliah.

***

Karin berada di mobil, ia duduk di kursi penumpang di belakang. Sementara Aryan sudah siap di balik kemudinya. Alasan mereka belum keluar dari pelataran parkir kampus adalah seorang perempuan yang kini baru saja membuka pintu di samping kemudi.

Begitu masuk ke mobil, Shakina menatap ke arah Karin sekilas, kemudian perempuan itu mengulaskan senyum manisnya kepada Aryan. Shakina merangkul satu lengan Aryan dari samping, lalu menyandarkan kepalanya di sana.

I missed you,” ucap Kina sembari mendongakkan wajahnya untuk mempertemukan netranya dengan netra Aryan. Detik berikutnya, Kina kembali menduselkan kepalanya di lengan Aryan, “I need five minutes for this.”

Beberapa hari yang lalu, Kina dan Aryan memang tidak bertemu dikarenakan perbedaan jadwal keduanya. Kina ada pekerjaan yang harus diselesaikannya sementara sehabis kelas, Aryan ada jadwal magang di perusahaan papanya.

“Sayang, kita nggak jadi dinner berdua ya?” tanya Kina setelah akhirnya melepaskan pelukannya di lengan Aryan.

“Besok aja ya kita dinnernya,” ujar Aryan.

Well okey, yang penting aku ketemu kamu hari ini. Aku udah seneng kok,” ujar Kina.

Aryan pun mengulaskan senyumnya ke arah Kina. Detik berikutnya Aryan bergerak untuk mulai memanver mobilnya keluar dari pelataran parkir fakultas.

Sebelumnya Aryan tidak menduga kalau Kina meminta diantar pulang hari ini dan kekasihnya itu mengatakan begitu merindukannya. Namun yang terjadi, Aryan juga tidak bisa membiarkan Karin pulang sendiri. Karin sudah mengatakan bahwa ia bisa naik taksi online, karena hari ini Rey tidak bisa mengantarnya pulang. Akhirnya Aryan pun memutuskan tetap membawa Karin dan tetap mengantar Kina. Toh Aryan bisa mengantar Kina lebih dulu baru setelah itu ia dan Karin pulang.

***

Aryan mendapati Karin tengah tertidur di jok belakang sesampainya mereka di parkiran apartemen. Aryan segera turun dan membuka pintu di samping Karin. Ketika tubuh Karin hampir saja limbung, Aryan segera menahannya menggunakan satu lengannya.

“Karin, kita udah sampai,” ujar Aryan di dekat Karin.

Respon yang didapatkan Aryan dari Karin hanyalah sebuah gumaman tidak jelas dan sedikit pergerakan dalam tidurnya.

Sesaat Aryan memperhatikan wajah tertidur Karin. Kegiatan Aryan itu tidak berlangsung lama, dikarenakan Karin bergerak lagi dalam posisinya.

“Karin,” panggil Aryan lagi untuk membangunkan Karin. Sepertinya usaha Aryan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhasil, Karin terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya.

“Oke, aku gendong kamu. Karena kamu nggak bangun,” monolog Aryan. Berikutnya yang terjadi adalah Aryan segera menyelipkan lengannya di bawah lekukan kaki Karin, lalu lengan satunya lagi berada di balik punggung perempuan itu.

Aryan hampir saja melupakn sesuatu. Ia kembali berbalik untuk mengambil tas milik Karin dan berusaha sebisa mungkin menyampirkan benda itu di pundaknya. Begitulah Aran harus melakukannya hingga langkahnya sampai di unit apartemen mereka.

Ketika sampai di kamar, Aryan membaringkan Karin dengan perlahan di atas kasur. Setelah itu tidak lupa Aryan melepaskan flat shoes Karin, meletakkan di lantai, lalu bergerak menyelimuti tubuh Karin. Sebelum pergi dari sana, Aryan meletakkan tas Karin di kursi meja belajarnya. Aryan memandang wajah Karin sesaat, lalu ia mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.

Aryan berpikir bahwa kehidupan baru yang ia jalani ini tidaklah mudah. Ia memiliki istri, tapi juga memiliki kekasih. Namun ketika Aryan melihat Karin, ia tahu bahwa beban perempuan itu akan lebih berat darinya, mulai sekarang maupun nanti ke depannya. Karin akan mengandung selama sembilan bulan dan melahirkan seorang anak. Tidak sepatutnya Aryan mengeluh dan menyalahkan keadaan. Pola pikirnya lah yang perlu diubah, ia akan menjadi seorang ayah dan Karin akan menjadi seorang ibu tidak lama lagi.

Meskipun malam itu antara dirinya dan Karin adalah kecelakaan, Aryan tidak ingin menjadi lebih brengsek lagi dengan meninggalkan Karin dan membiarkan perempuan itu menjalani semuanya sendiri.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Koridor lantai 5 gedung perkuliahan itu terlihat ramai oleh lalu lalang orang. Di jam seperti ini, biasanya para mahasiswa dan mahasiswi menggunakan waktu istirahat mereka untuk makan siang. Sama halnya dengan yang akan dilakukan oleh Karin, perempuan itu berniat keluar kelas untuk mencari makan. Namun ketika sampai di depan kelas, langkah Karin seketika terhenti. Ia menangkap sosok fameliar yang berjarak tidak jauh dari posisinya saat ini. Begitu melihat keberadaan Karin, lelaki bertubuh jangkung itu segera berjalan menghampirinya.

Aryan Sakha

“Karin, tolong izinin aku buat bicara berdua sama kamu,” ucap Aryan ketika dirinya dan Karin telah berhadapan. Setelah kejadian di lapangan tempo hari, di mana akhirnya Aryan mengetahui fakta bahwa Karin tengah mengandung anak lelaki itu, Aryan baru menampakkan lagi batang hidungnya di hadapan Karin. Aryan pun mengatakan pada Karin bahwa kedatangannya karena bermaksud membicarakan soal apa yang saat ini terjadi di antara mereka.

“Oke.” Hanya itu yang terlontar dari bibir Karin setelah Aryan mengajaknya untuk keluar.

Karin pun mengikuti langkah Aryan dan berjalan di sisinya. Saat Aryan dan Karin melewati beberapa orang, keduanya tidak dapat mencegah orang-orang untuk tidak melayangkan tatapan ingin tahu ke arah mereka. Fakta yang selama ini publik ketahui adalah Aryan kekasih Shakina, sementara Karin adalah kekasih dari Rey. Namun berkat kejadian di lapangan waktu itu, Aryan dan Karin pun dirumorkan memiliki hubungan percintaan di belakang pasangan mereka.

Aryan terlihat tidak peduli akan semua itu dan sama sekali tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun untuk membungkam mulut mereka yang membicarakan itu di balik punggungnya. Aryan berpikir bahwa terkadang kita hanya perlu membiarkan publik untuk menerka-nerka, karena sejatinya tidak semua perlu menjadi bahan konsumsi.

“Karin, kita ngobrolnya sambil makan siang. Kamu mau makan sesuatu?” tanya Aryan pada Karin. Otomatis Karin menghentikan langkahnya dan memberikan atensinya kepada Aryan.

Karin pun mengatakan bahwa ia ingin makan fast food yang berada di dekat gedung fakultas mereka.

“Oke. Kita ke sana,” putus Aryan.

***

Aryan memperhatikan Karin yang sedang menikmati makanannya dan tampak sangat lahap. Lima belas menit berlalu dan ternyata Karin selesai lebih dulu dibandingkan dengan Aryan. Jadi sekarang giliran Karin yang menonton Aryan menghabiskan makanannya.

Tidak lama berselang, Aryan akhirnya selesai dengan makanannya. Lelaki itu meneguk minumannya lebih dulu, lalu mengatakan pada Karin bahwa ia akan memulai pembicaraannya.

Karin merapikan piring bekas makannya sekaligus piring milik Aryan. Karin menggeser itu untuk menjauh, sebelum akhirnya Aryan membuka suaranya.

“Karin, kamu tau kalau ini nggak mudah buat kamu,” ucap Aryan sambil menatap ke arah iris legam Karin. “Aku ingin nawarin kamu solusi yang terbaik untuk kita berdua,” ujar Aryan lagi.

“Maksud kamu solusi apa?” tanya Karin yang belum dapat sepenuhnya memahami maksud Aryan.

“Kita masih terlalu muda untuk jadi orang tua, Karin. Kamu paham itu, kan?” tutur Aryan.

Karin akhirnya mengerti maksud dari kalimat demi kalimat yang Aryan sampaikan kepadanya. Karin lantas menatap Aryan lekat, “Nggak papa kalau kamu nggak menginginkan anak ini, tapi aku nggak mau kehilangan dia.”

“Karin, tapi kamu nggak bisa rawat dia sendiri,” ujar Aryan.

“Aku bisa,” Karin kekeuh terhadap keputusannya.

Aryan pun berusaha menjelaskan pada Karin tentang situasi yang harus mereka hadapi. Keduanya tidak saling mencintai, bagaimana bisa dapat bersatu. Karin memiliki kekasih, begitupun dengan Aryan.

Aryan memberikan solusi pada Karin untuk menggugurkan kandungannya. Ia berpikir bahwa itu yang terbaik untuk karir dan masa depan Karin juga nantinya. Aryan mencoba untuk berpikir realistis, bahwa kenyataannya menjadi orang tua dalam kondisi yang belum matang, merupakan hal yang tidak gampang. Namun Karin tidak berpikir demikian, ia lebih menggunakan perasaannya untuk mengambil keputusan.

“Aryan, mungkin solusi itu yang terbaik buat kamu,” ujar Karin. Karin menatap Aryan lekat tepat di iris legam lelaki itu, “Satu hal yang perlu kamu tau, anak ini nggak salah apa-apa. Dia nggak pernah meminta untuk dihadirkan di dunia ini. Aku yang mengandung dia dan aku berhak untuk memperjuangkannya.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dua minggu kemudian

Sebuah venue yang cukup megah dengan dominan warna putih, menjadi tempat berlangsungnya pemberkatan pernikahan Aryan dan Karin. Setelah Karin berjalan melewati para hadirin dan sampai di depan altar, Aryan meraih satu tangan Karin dan menggenggamnya.

Aryan & Karin Wedding

Sesuai dengan tata cara pernikahan, Aryan akan lebih dulu mengucapkan ikrar sucinya di hadapan pendeta dan para tamu yang hadir. Sambil masih menggenggam tangannya, Aryan menatap Karin tepat di iris legamnya, “Karina Titania Roland, saya memilih engkau untuk menjadi istri saya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Saya berjanji setia padamu pada saat sehat maupun sakit, pada saat senang maupun susah. Saya mau mencintai dan menghormatimu seumur hidup,” Aryan mengucapkan kalimat demi kalimat itu dengan fasih dan cukup lancar.

Setelah Aryan selesai, kini giliran Karin mengikrarkan janjinya. Karin mengucapkannya dengan lancar, hampir mirip dengan yang Aryan lakukan.

Semua aturan yang dibutuhkan untuk menyatukan kedua insan pun telah selesai dilaksanakan. Sekarang Aryan dan Karin telah resmi disebut sepasang suami istri yang disatukan atas nama agama dan hukum negara yang sah.

Acara pun dilanjutkan dengan sesi pemasangan cincin secara bergantian di jari manis masing-masing. Setelah sesi tersebut, Aryan pun mengambil tangan Karin, mereka berbalik badan untuk menghadap ke arah para hadirin. Keduanya mendapati senyum bahagia terpancar di wajah para sanak keluarga dan teman dekat yang diundang.

Satu hal yang lantas tidak dapat Aryan dan Karin hindari adalah sesi pemberian ciuman yang memang umum untuk dilakukan. Sesi itu juga yang begitu ditunggu-tunggu oleh para hadirin.

Aryan dan Karin saling bertatapan canggung. Aryan mendapati wajah panik Karin begitu seruan itu semakin menjadi-jadi. Karin menggelengkan kepalanya sekilas, ia meminta Aryan untuk tidak melakukannya.

“Kita harus gimana?” bisik Aryan di dekat Karin dengan nadanya yang juga terdengar panik.

“Aku yakin kamu nggak akan melakukannya. Lihat ke arah jam dua belas. Kamu nggak tau kalau pacar kamu datang ke sini?” ujar Karin balas berbisik di dekat Aryan.

Aryan pun menjauhkan tubuhnya dari Karin, ia mengarahkan pandangannya ke titik yang diberitahu oleh Karin. Rupanya yang di katakan Karin benar. Shakina menghadiri pernikahannya tanpa sepengetahuan Aryan. Dari tempatnya saat ini, Aryan dapat melihat kekasihnya itu menatap lekat ke arahnya dan Karin.

“Aku nggak tau kalau Kina datang,” ucap Aryan pelan. Sesuai dengan kesepakatan, hubungan Aryan dan Karin dengan pasangan mereka tidak boleh sampai terlihat di depan keluarga. Namun hari ini Kina menjadi tamu yang tidak diundang ke acara pernikahan mereka dan itu di luar kuasa Aryan.

It's oke. Selama acara ini berjalan lancar sesuai rencana, itu bukan masalah besar,” tutur Karin.

Satu lengan Aryan yang sebelumnya memeluk pinggang Karin pun perlahan-lahan menjauh dari sana. Aryan mengulaskan senyum palsunya di hadapan para tamu yang nampak kecewa karena tidak ada ciuman pasca pemberkatan. Aryan segera mengambil tangan Karin untuk ia genggam, lalu mereka berjalan melewati para tamu.

Ketika dirinya dan Aryan melewati kursi di mana Shakina berada, Karin mendapati tatapan terluka dari kedua mata Shakina. Aryan rupanya juga melihat ke arah Shakina dan Karin memerhatikan kejadian itu. Dari tatapan Aryan, Karin tahu bahwa lelaki yang sedang menggenggam tangannya ini begitu mencintai kekasihnya.

***

Seminggu yang lalu sebelum acara pemberkatan, Karin sudah memindahkan barang-barangnya ke apartemen milik Aryan. Setelah mereka resmi menikah, Karin pun resmi untuk tinggal bersama dengan Aryan.

Karin menyapukan pandangannya ke penjuru apartemen yang bisa dibilang cukup luas ini. Ketika baru saja memasukinya, mata Karin langsung disuguhkan pada sebuah dapur. Di samping dapur itu, terdapat kitchen set dan meja makan dengan kursi untuk 4 orang. Berjalan lurus ke depan, akan ditemui sebuah ruang tamu dengan sofa leter L beserta TV berlayar datar yang berukuran cukup besar.

Apartemen ini memiliki model bangunan mezzanine, yakni terdapat ruang ekstra tanpa perlu menambah lantai bangunan. Jadi yang tampak dari bawah adalah sebuah balkon yang melayang dan itu merupakan kamar tidur.

Apartemen Aryan

Saat Karin menoleh ke arah tangga, ia mendapati Aryan tengah turun dari sana. Lelaki itu baru saja membawakan barang Karin yang tersisa dan meletakkannya di lantai atas. Aryan masih mengenakan stelan lengkap tuxedonya, sama dengan Karin yang masih mengenakan gaun putih pernikahannya.

“Sementara kamarnya cuma ada satu. Kamu bisa tidur di kamar atas, biar aku tidur di sofa,” terang Aryan sambil mengarahkan tatapannya pada sofa abu-abu di ruang tamu.

“Ini cuma sementara, kan?” tanya Karin.

“Iya. Nanti aku usahain untuk pindah ke apartemen yang punya dua kamar.”

Karin menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Keduanya pun memutuskan untuk membersihkan diri. Karin akan melakukannya lebih dulu di lantai atas, sementara Aryan akan menunggu Karin selesai.

Beberapa pakaian Aryan masih berada di lemari miliknya, berdampingan dengan baju-baju Karin yang beberapa hari lalu sudah dipindahkan.

“Karin,” ujar Aryan sebelum Karin melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga pertama.

“Iya?” sahut Karin yang kembali menoleh pada Aryan.

“Kamu hati-hati naik dan turun tangganya.”

“Hmm,” Karin pun mengiyakan ucapan Aryan. Setelah itu Karin segera bergegas naik ke atas untuk mengganti gaunnya menjadi pakaian rumahan.

***

Sudah hampir tiga puluh menit Karin berbaring dan berusaha untuk memejamkan matanya, tapi usahanya tersebut tidak membuahkan hasil. Setelah mandi dan melakukan rutinitas lainnya, Karin pun berniat untuk tidur lebih cepat malam ini. Namun sebuah bunyi yang terdengar dari perutnya, membuat Karin tidak bisa terpejam. Karin lantas mengarahkan tangannya untuk memegang perutnya. Karin memang belum makan sore, beberapa kali ia kehilangan napsu makannya di jam-jam tertentu.

“Oke bayi kecil, kita akan cari makanan. Kamu sabar dulu yaa,” ucap Karin sambil mengusap pelan perutnya. Karin pun bergerak dari kasur dan mulai melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga.

Sesampainya Karin di lantai bawah, ia langsung menuju dapur tanpa menyalakan lampu. Ia melewati Aryan yang tengah tertidur di sofa dengan posisi membelakangi Karin.

Pertama kali yang Karin lakukan adalah membuka kulkas untuk mencari bahan makanan. Namun Karin tidak menemukan bahan makanan mentah ataupun makanan cepat saji yang bisa ia panaskan di microwave. Hanya ada botol minuman soda dan air mineral di kulkas itu.

Karin punkan tatapannya mengarah pada lemari kitchen set di mana biasanya makanan di simpan di sana. Saat Karin membuka lemari itu dan berusaha menjangkau sesuatu dengan tangannya, sebuah suara seketika menghentikan aksinya.

“Kamu lagi cari makanan apa?” ujar suara yang terdengar sedikit serak itu. Karin pun menoleh ke belakang dan mendapati Aryan dengan wajah kantuknya.

Anything, yang bisa dimakan. Aku laper,” cicit Karin diiringi dengan sebuah cengiran di wajahnya.

“Kenapa malam-malam begini?” tanya Aryan.

Karin pun mengedikkan kedua bahunya. “Tadi sore belum pengen. Kayaknya di lemari ada mie instan, aku mau masak itu aja. Boleh, kan?” tanya Karin.

“Boleh, tapi jangan terlalu sering. Nanti aku minta tolong mbak buat belanja bahan makanan.”

“Oke,” ucap Karin sembari menganggukkan kepalanya.

Begitu Karin mengambil bungkusan mie dari lemari dan hendak merebus air di panci, Aryan memintanya untuk duduk di meja makan. Lelaki itu mengatakan bahwa ia yang akan membuatkan mienya.

Karin pun menurut. Ia melenggang ke meja makan dan duduk di sana. Tidah butuh waktu lama bagi seseorang memasakan mie instan, meskipun dalam kondisi masih mengantuk. Sekitar lima menit kemudian, Aryan meletakkan semangkuk mie kuah di hadapan Karin.

Karin langsung mengambil garpu dan sendok untuk menyantap makanannya. Selagi Karin makan, Aryan mencuci peralatan masak yang sebelumnya ia gunakan. Tidak lama kemudian, Aryan sudah selesai dengan kegiatannya. Aryan memerhatikan Karin yang nampak lahap menikmati makanannya yang sedikit lagi akan habis.

“Kamu masih laper?” tanya Aryan begitu mie di mangkuk Karin telah bersih tak bersisa.

Mendengar pertanyaan Aryan tersebut, Karin pun menghentikan aktivitasnya menyeruput sisa kuah yang ada di mangkuknya. Kemudian Karin beralih melihat Aryan, “Engga. Aku udah kenyang kok,” ujar Karin diiringi senyuman kecilnya. Lantas Karin membawa mangkuknya ke wastafel dan langsung mencuci bekas makannya di sana.

Ketika Karin telah selesai dengan kegiatannya, ia mendapati Aryan masih berada di sana. Karin berdeham sebelum mengarahkan tatapannya pada Aryan dan berujar, “Makasih ya Kak buat makanannya,” ujar Karin.

Karin pun hendak berlalu dari hadapan Aryan setelah mengatakannya, tapi Aryan menahannya.

“Kamu panggil aku apa barusan?” tanya Aryan.

Aryan dan Karin pun kini saling bertatapan. Karin tidak langsung menjawab pertayaan Aryan, ia terlihat sedikit bingung bagaimana harus menjelaskannya.

Karin akhirnya berdeham sebelum mengutarakan maksudnya. “Kalau kamu nggak nyaman dengan itu, aku nggak akan melakukannya. Itu cuma bentuk rasa hormatku karena kamu adalah ayahnya anakku. Aku nggak bermaksud apa pun. Aku hanya menerapkan apa yang keluargaku ajarkan.”

“Yaudah aku ke kamar dulu ya,” ucap Karin sebelum melangkah melewati Aryan.

Beberapa langkah setelah Karin menjauhi Aryan, rupanya Aryan masih setia berada di tempatnya. Aryan mencermati kalimat yang diucapkan oleh Karin dan semua itu terasa benar di hatinya. Aryan sedikit tidak menduga bahwa Karin menunjukkan sifat tersebut di hadapannya. Karin bersikap menghormatinya bagaimana pun kondisi mereka saat ini. Namun pada kenyataannya, Aryan memang tidak mengenal sosok Karin sepenuhnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dua minggu kemudian

Sebuah venue yang cukup megah dengan dominan warna putih, menjadi tempat berlangsungnya pemberkatan pernikahan Aryan dan Karin. Setelah berjalan melewati para hadirin dan sampai di depan altar, kini Aryan meraih satu tangan Karin dan menggenggamnya.

Aryan & Karin Wedding

Sesuai dengan tata cara pernikahan, Aryan akan terlebih dulu mengucapkan ikrar sucinya di hadapan pendeta dan para tamu yang hadir menjadi saksi. Sambil masih menggenggam tangannya, Aryan menatap Karin tepat di iris legamnya, “Saya, Aryan Sakha Brodjohujodyo, mengambil kamu Karina Titania Roland, untuk menjadi istri saya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya.” Aryan mengucapkannya dengan cukup lancar.

Setelah Aryan selesai, kini giliran Karin mengikrarkan janjinya. Karin mengucapkannya dengan lancar, hampir mirip dengan yang Aryan lakukan.

Semua aturan yang dibutuhkan untuk menyatukan kedua insan pun telah selesai dilaksanakan. Sekarang Aryan dan Karin telah resmi disebut sepasang suami istri yang disatukan atas nama agama dan hukum yang sah.

Acara pun dilanjutkan dengan sesi pemasangan cincin secara bergantian di jari manis masing-masing. Setelah sesi tersebut, Aryan mengambil tangan Karin, mereka pun berbalik badan untuk menghadap ke arah para hadirin. Keduanya mendapati senyum bahagia terpancar di wajah para sanak keluarga dan teman dekat yang diundang.

Satu hal yang lantas tidak dapat Aryan dan Karin hindari di atas altar adalah sesi pemberian ciuman yang memang umum untuk dilakukan. Sesi itu juga yang begitu ditunggu-tunggu oleh para hadirin. Aryan mendapati wajah panik Karin begitu seruan itu semakin menjadi-jadi. Karin menggelengkan kepalanya sekilas, ia meminta Aryan untuk tidak melakukannya.

“Kita harus gimana?” tanya Aryan dengan nada tidak kalah paniknya, ia berbisik di dekat Karin.

“Aku yakin kamu nggak akan melakukannya. Liat ke arah jam dua belas. Kamu nggak tau kalau pacar kamu datang ke sini?” ujar Karin balas berbisik di dekat Aryan.

Aryan pun menjauhkan tubuhnya dari Karin, ia mengarahkan pandangannya ke titik yang diberitahu oleh Karin. Rupanya yang di katakan Karin benar. Shakina menghadiri pernikahannya tanpa sepengetahuan Aryan. Dari tempatnya saat ini, Aryan dapat melihat kekasihnya itu menatap lekat ke arahnya dan Karin.

Satu lengan Aryan yang sebelumnya memeluk pinggang ramping Karin pun perlahan-lahan menjauh dari sana. Aryan mengulaskan senyum palsunya di hadapan para tamu yang nampak kecewa karena tidak ada ciuman pasca pemberkatan. Aryan pun segera mengambil tangan Karin untuk ia genggam, lalu mereka berjalan melewati para tamu.

Ketika dirinya dan Aryan melewati kursi di mana Shakina berada, Karin menemukan tatapan terluka dari kedua mata Shakina. Aryan rupanya juga melihat ke arah Shakina dan Karin memerhatikan kejadian itu. Dari tatapan matanya, Karin tahu bahwa lelaki yang sedang menggenggam tangannya ini begitu mencintai kekasihnya.

***

Beberapa hari lalu sebelum acara pemberkatan, Karin sudah memindahkan barang-barangnya ke apartemen milik Aryan. Setelah mereka resmi menikah, Karin pun resmi untuk tinggal bersama Aryan.

Karin menyapukan pandangannya pada apartemen yang bisa dibilang cukup luas ini. Ketika baru saja memasukinya, mata Karin langsung disuguhkan pada sebuah dapur beserta kitchen set dan meja makan dengan kursi untuk 4 orang. Berjalan lurus ke depan, akan ditemui sebuah ruang tamu dengan sofa berbentuk L serta TV berlayar datar yang berukuran cukup besar.

Apartemen ini memiliki model bangunan mezzanine, yakni terdapat ruang ekstra tanpa perlu menambah lantai bangunan. Jadi yang tampak dari bawah adalah sebuah balkon yang melayang dan itu merupakan kamar tidur.

Apartemen Aryan

Saat Karin menoleh ke arah tangga, ia mendapati Aryan tengah turun dari sana. Lelaki itu baru saja membawakan barang Karin yang tersisa dan meletakkannya di lantai atas. Aryan masih mengenakan stelan lengkap tuxedonya, sama dengan Karin yang masih mengenakan gaun putih pernikahannya.

“Sementara kamarnya cuma ada satu. Kamu bisa tidur di kamar atas, biar aku tidur di sofa,” terang Aryan sambil mengarahkan tatapannya pada sofa abu-abu di ruang tamu.

“Ini cuma sementara, kan?” tanya Karin.

“Iya. Nanti aku akan usahakan untuk pindah ke apartemen yang punya dua kamar.”

Karin menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Keduanya pun memutuskan untuk membersihkan diri. Karin akan melakukannya lebih dulu di lantai atas sementara Aryan akan menunggu Karin selesai.

Beberapa pakaian Aryan masih berada di lemari miliknya, berdampingan dengan baju-baju Karin yang beberapa hari lalu sudah dipindahkan.

“Karin,” ujar Aryan sebelum Karin melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga pertama.

“Iya?” sahut Karin sembari kembali menoleh pada Aryan.

“Kamu hati-hati naik dan turun tangganya.”

“Hmm,” Karin pun mengiyakan ucapan Aryan. Setelah itu Karin segera bergegas naik ke atas untuk mengganti gaunnya menjadi pakaian rumahan.

***

Sudah hampir tiga puluh menit Karin berbaring dan berusaha untuk memejamkan matanya, tapi usahanya tersebut tidak membuahkan hasil. Setelah mandi dan melakukan rutinitas lainnya, Karin pun berniat untuk tidur lebih cepat malam ini.

Karin lantas mengarahkan tangannya untuk memegangi perutnya. Sebuah bunyi pun terdengar pelan dari sana. Karin memang belum makan sore, beberapa kali ia kehilangan napsu makannya di jam-jam tertentu.

“Oke bayi kecil, kita akan cari makanan. Kamu sabar dulu yaa,” ucap Karin sambil mengusap pelan perutnya. Karin pun bergerak dari kasur dan mulai melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga.

Sesampainya Karin di lantai bawah, ia langsung menuju dapur tanpa menyalakan lampu. Ia melewati Aryan yang tengah tertidur di sofa dengan posisi membelakangi Karin.

Pertama kali yang Karin lakukan adalah membuka kulkas untuk mencari bahan makanan yang kemungkinan bisa ia panaskan menggunakan microwave. Namun Karin tidak menemukan bahan makanan mentah ataupun makanan cepat saji yang bisa mengisi perutnya. Hanya ada botol minuman soda dan air mineral di kulkas itu.

Karin masih memiliki harapan ketika matanya mengarah pada lemari kitchen set di mana biasanya makanan di simpan di sana. Saat Karin membuka lemari itu dan berusaha menjangkau sesuatu dengan tangannya, sebuah suara seketika menghentikan aksinya.

“Kamu lagi cari makanan apa?” ujar suara yang terdengar sedikit serak itu. Karin pun menoleh ke belakang dan mendapati Aryan dengan wajah menahan kantuknya.

Anything, yang bisa dimakan. Aku laper,” cicit Karin diiringi dengan sebuah cengiran di wajahnya.

“Kenapa malam-malam begini?” tanya Aryan.

Karin pun mengedikkan kedua bahunya. “Tadi sore belum pengen. Kayaknya di lemari ada mie instan, aku mau masak itu aja. Boleh, kan?” tanya Karin.

“Boleh, tapi jangan terlalu sering. Nanti aku minta tolong mbak buat belanja bahan makanan.”

“Oke. Makasih,” ucap Karin.

Begitu Karin mengambil bungkusan mie dari lemari dan hendak merebus air di panci, Aryan memintanya untuk duduk di meja makan. Lelaki itu mengatakan bahwa ia yang akan membuatkan mienya.

Karin pun menurut. Ia melenggang ke meja makan dan duduk di sana. Tidak butuh waktu lama bagi Aryan untuk membuat mie instan itu. Sekitar lima menit kemudian, semangkuk mie kuah pun tersaji di hadapan Karin.

Karin langsung mengambil garpu dan sendok untuk menyantap makanannya. Selagi Karin makan, Aryan mencuci peralatan masak yang sebelumnya ia gunakan. Tidak lama kemudian, Aryan sudah selesai dengan kegiatannya. Aryan memerhatikan Karin yang nampak lahap menikmati makanannya yang sedikit lagi akan habis.

“Kamu masih laper?” tanya Aryan begitu mie di mangkuk Karin habis tak bersisa.

Mendengar pertanyaan Aryan, Karin pun menghentikan aktivitasnya menyeruput kuah mie itu. Kemudian Karin beralih melihat Aryan, “Engga. Aku udah kenyang kok,” ujar Karin diiringi senyuman kecilnya. Lantas Karin membawa mangkuknya ke wastafel dan langsung mencuci bekas makannya di sana.

Ketika Karin telah selesai dengan kegiatannya, ia mendapati Aryan masih berada di sana. Karin berdeham sebelum mengarahkan tatapannya pada Aryan dan berujar, “Makasih ya Kak buat makanannya,” ujar Karin.

Karin pun hendak berlalu dari hadapan Aryan setelah mengucapkannya, tapi ucapan Aryan menahannya.

“Kamu panggil aku apa barusan?” tanya Aryan.

Aryan dan Karin pun kini saling bertatapan. Karin tidak langsung menjawab pertayaan Aryan, ia terlihat bingung bagaimana harus menjelaskannya.

Karin akhirnya berdeham sebelum mengutarakan maksudnya. “Kalau kamu nggak nyaman dengan itu, aku nggak akan melakukannya. Itu cuma bentuk rasa hormatku karena kamu adalah ayahnya anakku. Aku nggak bermaksud apa pun. Aku hanya menerapkan apa yang keluargaku ajarkan.”

“Yaudah, aku naik ke kamar dulu ya,” ucap Karin sebelum melangkah melewati Aryan.

Beberapa langkah setelah Karin menjauhi Aryan, rupanya Aryan masih setia berada di tempatnya. Aryan mencermati kalimat yang diucapkan Karin dan semua itu terasa benar di hati Aryan. Karin bersikap menghormatinya bagaimana pun kondisi mereka saat ini. Aryan sedikit tidak menduga bahwa Karin akan menunjukkan sifat tersebut di hadapannya. Namun pada kenyataannya, Aryan memang tidak mengenal sosok Karin sepenuhnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Siang ini Dara mendapati sosok yang beberapa hari lalu telah menjadi sasaran umpatannya. Aryan Sakha, lelaki yang merupakan ayah biologis dari anak yang di kandung sahabatnya, menampakkan dirinya di hadapan Dara yang jelas-jelas nampak sekali ingin membunuhnya.

“Ada kepentingan apa lo ke sini?” tanya Dara dengan nada tidak bersahabatnya.

“Ada hal penting yang perlu gue bicarain sama Karin,” ujar Aryan menjelaskan maksud kedatangannya.

“Gue pikir udah nggak ada lagi yang perlu lo dan Karin bicarain. Kalau lo cuma mau nyakitin Karin, lebih baik lo pergi. Karin nggak butuh kehadiran lo.”

“Dara, tolong izinin gue buat ketemu sama Karin. Sekarang gue sama Karin punya anak, kita punya tanggung jawab bersama,” ujar Aryan tampak tidak ingin menyerah begitu saja.

“Dari awal lo sendiri yang nolak anak itu dan nyuruh Karin buat gugurin. Apa itu bisa disebut sebagai tanggung jawab bersama?” ucap Dara terang-terangan.

Aryan kehilangan kata-katanya. Apa yang diucapkan Dara memang benar apa adanya dan ia pun mengakui itu.

“Gue minta maaf dan gue nyesal karena pernah minta Karin menggugurkan anak itu,” ungkap Aryan.

Dara pun berusaha mencari penyesalan dari mata Aryan dan nyatanya ia menemukan itu di sana. Rupanya lelaki di hadapannya ini sungguh menyesal dan bertekad kuat untuk mendapat izin darinya agar bisa bertemu dengan Karin.

Dara pun menghela napasnya, “Oke. Gue izinin lo buat ketemu sama Karin.” Dara menggeser tubuhnya dan membuka pintu apartemen lebih lebar, “Lo bisa ngomong sama Karin berdua, gue akan kasih lo waktu. Tapi satu hal yang lo harus tau. Kalau lo nyakitin Karin lagi, gue pastiin lo dapat hukuman atas perbuatan itu.”

***

Sesuai yang diperintahkan oleh dokter, Karin harus menjalani bed rest selama 1 minggu sepulangnya ia dari rumah sakit. Ini terhitung hari pertama bagi Karin dan kegiatannya di apartemen hanya makan, mandi, dan tidur.

Dara memberi waktu pada Aryan dan Karin untuk bicara berdua. Dara pun mengerti, bahwa bagaimanapun kini Karin dan Aryan memiliki tanggung jawab yang harus diemban bersama. Keduanya perlu menyelesaikannya dengan cara berkomunikasi, bukannya menutup mata dan lari begitu saja.

Karin melihat Aryan mengambil kursi untuk duduk di samping tempat tidurnya. Karin pun duduk di kasurnya, ia menyandarkan punggungnya ke header kasur.

Aryan menatap Karin sesaat sebelum lelaki itu berujar, “Karin, aku mau jelasin soal apa yang dibilang dokter tentang kandungan kamu.”

Karin balas menatap Aryan. Aryan dapat menangkap kekhawatiran yang terpancar begitu jelas dari kedua mata bulat Karin.

“Bayinya saat ini baik-baik aja, tapi dokter bilang, kondisi kandungan kamu lemah,” ucap Aryan dengan suara pelannya. Tenggorokan Aryan terasa kering kala mengucapkan kata demi kata yang menjelaskan kondisi calon anaknya. Aryan pun mendapati ekspresi terluka yang tergambar dari paras pucat Karin. Fakta ini merupakan tamparan yang cukup keras, baik bagi Karin maupun bagi Aryan.

“Karin, aku minta maaf. Maaf karena pernah minta kamu untuk gugurin kandungan,” ungkap Aryan. Karin pun memerhatikan ekspresi Aryan, ia mendapat sebuah penyesalan dan luka yang begitu dalam dari sana.

Aryan menghembuskan napas beratnya, “Aku sadar akhirnya kalau aku menyayangi anak kita. Aku nggak ingin kehilangan dia.”

Karin hanya terdiam dan seperti tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.

“Aku akan bertanggung jawab atas kamu dan anak ini,” ujar Aryan lagi.

Mendengar kenyataan mengenai kondisi kandungannya, membuat Karin tidak dapat berpikir jernih. Kini ia hanya memikirkan keselamatan anaknya dan bagaimana ia bisa mengandungnya sampai melahirkannya ke dunia.

“Maksud kamu tanggung jawab dalam bentuk apa?” tanya Karin.

“Aku akan menikahi kamu.”

Kalimat yang baru saja Aryan lontarkan, seketika terdengar seperti suara petir di siang bolong bagi Karin.

Karin lantas melayangkan tatapan bertanyanya pada Aryan, “Kamu berpikir nikah semudah itu?”

Aryan berdeham, “Itu mudah, Karin. Kita cuma menikah karena anak. Aku akan tetap berhubungan dengan Shakina setelah kita menikah.”

Karin berusaha mengontrol emosi yang kini mencoba menguasai dirinya. Perempuan itu menghela napasnya, hembusannya pun terdengar berat, “Oke, itu gampang. Aku juga ingin tetap berhubungan sama Rey selama kita menikah. Gimana?” ungkap Karin.

Aryan pun menatap Karin sesaat sebelum akhirnya setuju. “Kamu bisa melakukannya. Setelah anak kita lahir, kita akan berpisah. Aku akan tetap memenuhi semua kebutuhan anak kita, sampai nanti dia besar. Apapun keputusan hak asuh anak, aku akan terima. Ada syarat yang kira-kira mau kamu ajukan ke aku?”

Karin terlihat memikirkan kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Aryan. Karin pun mempertimbangkan keputusan yang harus ia ambil. Saat ini bagi Karin yang terpenting adalah anaknya. Ia akan mengesampingkan prioritas dirinya terlebih dulu, anaknya adalah kepentingan utamanya.

Karin berpikir bahwa selama ia tidak akan mencintai Aryan, maka dirinya tidak akan menyesal jika suatu saat mereka harus berpisah. Toh anaknya akan tetap mendapat kasih sayang yang penuh darinya maupun dari Aryan. Meskipun rasanya tetap akan berbeda untuk seorang anak ketika memiliki orang tua yang tidak bersama.

“Aku mau mengajukan satu syarat ke kamu sebelum menyetujui kesepakatan ini,” ucap Karin.

“Tentu. Kamu bisa ajukan itu.”

“Aku mau hanya kita dan pasangan kita yang tau soal kesepakatannya. Kita bisa berhubungan dengan pasangan kita selama itu tidak diketahui oleh keluargaku maupun keluarga kamu. Keluarga kita hanya tau kita menikah dan berpisah karena masalah ketidakcocokan. Kamu paham kan, maksudku?”

Aryan segera mengangguk, “Iya, aku paham. Aku akan urus semuanya dan kamu tinggal terima beres.”

“Oke. Ada syarat yang mau kamu ajuin ke aku?” tanya Karin.

“Misalnya hak asuhnya jatuh ke tangan kamu, aku mau aku tetap bisa ketemu sama anakku kapan aja,” jawab Aryan.

Karin pun menyetujui syarat yang diajukan oleh Aryan. “Kamu tenang aja. Kamu bisa ketemu dia kapan pun yang kamu mau. Aku nggak akan larang anakku untuk ketemu sama ayah kandungnya.”

“Terima kasih, Karin.” Sebelum pamit dari sana, Aryan kembali pada Karin dan mengatakan sesuatu soal pernikahan mereka.

“Setelah masa bed rest kamu selesai, kita akan ke dokter untuk pastikan kondisi kamu dan bayinya. Kalau dokter bilang oke, kita bisa segera menikah.”

Sure.”

Setelah ucapan Karin itu, Aryan pun pamit untuk pergi. Tidak lama berselang dari kepergian Aryan, Dara menemui Karin di kamarnya. Dara memutuskan tidak menanyai Karin soal apa yang Karin bicarakan dengan Aryan.

“Lo istirahat aja. Kalau lo butuh apa-apa, panggil gue. Gue ada di ruang kerja.”

Karin mengangguk, “Makasih ya, Dar.”

Dara pun melangkah menjauhi Karin. Sebelum menutup pintu kamar, Dara mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur berwarna kuning temaram.

Setelah Dara menghilang di balik pintu, Karin bergerak menaikkan selimut untuk menutupi hampir seluruh tubuhnya. Di bawah selimut tebal itu, Karin kembali memikirkan kesepakatannya dengan Aryan.

Karin berusaha untuk tidak memikirkan itu, ia tidak ingin stressnya bisa berdampak pada bayi di kandungannya. Sebelum benar-benar terjun ke alam mimpinya, sebuah pemikiran kembali terlintas di benak Karin. Pemikiran yang lebih mirip pertanyaan yang diajukan untuk dirinya sendiri.

Apakah Karin bisa menjamin kalau dirinya tidak akan mencintai Aryan? Pikirannya berseru bahwa seharusnya itu mudah saja bagi Karin. Ia dan Aryan seperti dua kutub yang sangat berbeda. Karin telah memiliki Rey, begitu pun Aryan yang sudah bersama dengan Shakina. Namun tiba-tiba hati Karin mengatakan sebuah kalimat yang bertolak belakang dengan pikiran logisnya. Dari banyaknya waktu yang akan ia lalui bersama Aryan, sekitar 9 bulan lamanya, terdapat 1 dari jutaan kemungkinan untuknya bisa jatuh cinta terhadap Aryan.

Karin segera menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pemikiran itu dari kepalanya. Karin pun lantas memanjatkan doa dalam hati, sembari memejamkan kedua matanya. Karin ingin meski hanya 1 dari jutaan kemungkinan yang ada, tidak ada satu pun yang akan berpihak padanya dan Aryan. Karin sungguh berharap bahwa Tuhan bersedia mengabulkan doanya yang satu ini.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷