Dua minggu kemudian
Sebuah venue yang cukup megah dengan dominan warna putih, menjadi tempat berlangsungnya pemberkatan pernikahan Aryan dan Karin. Setelah Karin berjalan melewati para hadirin dan sampai di depan altar, Aryan meraih satu tangan Karin dan menggenggamnya.

Sesuai dengan tata cara pernikahan, Aryan akan lebih dulu mengucapkan ikrar sucinya di hadapan pendeta dan para tamu yang hadir. Sambil masih menggenggam tangannya, Aryan menatap Karin tepat di iris legamnya, “Karina Titania Roland, saya memilih engkau untuk menjadi istri saya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Saya berjanji setia padamu pada saat sehat maupun sakit, pada saat senang maupun susah. Saya mau mencintai dan menghormatimu seumur hidup,” Aryan mengucapkan kalimat demi kalimat itu dengan fasih dan cukup lancar.
Setelah Aryan selesai, kini giliran Karin mengikrarkan janjinya. Karin mengucapkannya dengan lancar, hampir mirip dengan yang Aryan lakukan.
Semua aturan yang dibutuhkan untuk menyatukan kedua insan pun telah selesai dilaksanakan. Sekarang Aryan dan Karin telah resmi disebut sepasang suami istri yang disatukan atas nama agama dan hukum negara yang sah.
Acara pun dilanjutkan dengan sesi pemasangan cincin secara bergantian di jari manis masing-masing. Setelah sesi tersebut, Aryan pun mengambil tangan Karin, mereka berbalik badan untuk menghadap ke arah para hadirin. Keduanya mendapati senyum bahagia terpancar di wajah para sanak keluarga dan teman dekat yang diundang.
Satu hal yang lantas tidak dapat Aryan dan Karin hindari adalah sesi pemberian ciuman yang memang umum untuk dilakukan. Sesi itu juga yang begitu ditunggu-tunggu oleh para hadirin.
Aryan dan Karin saling bertatapan canggung. Aryan mendapati wajah panik Karin begitu seruan itu semakin menjadi-jadi. Karin menggelengkan kepalanya sekilas, ia meminta Aryan untuk tidak melakukannya.
“Kita harus gimana?” bisik Aryan di dekat Karin dengan nadanya yang juga terdengar panik.
“Aku yakin kamu nggak akan melakukannya. Lihat ke arah jam dua belas. Kamu nggak tau kalau pacar kamu datang ke sini?” ujar Karin balas berbisik di dekat Aryan.
Aryan pun menjauhkan tubuhnya dari Karin, ia mengarahkan pandangannya ke titik yang diberitahu oleh Karin. Rupanya yang di katakan Karin benar. Shakina menghadiri pernikahannya tanpa sepengetahuan Aryan. Dari tempatnya saat ini, Aryan dapat melihat kekasihnya itu menatap lekat ke arahnya dan Karin.
“Aku nggak tau kalau Kina datang,” ucap Aryan pelan. Sesuai dengan kesepakatan, hubungan Aryan dan Karin dengan pasangan mereka tidak boleh sampai terlihat di depan keluarga. Namun hari ini Kina menjadi tamu yang tidak diundang ke acara pernikahan mereka dan itu di luar kuasa Aryan.
“It's oke. Selama acara ini berjalan lancar sesuai rencana, itu bukan masalah besar,” tutur Karin.
Satu lengan Aryan yang sebelumnya memeluk pinggang Karin pun perlahan-lahan menjauh dari sana. Aryan mengulaskan senyum palsunya di hadapan para tamu yang nampak kecewa karena tidak ada ciuman pasca pemberkatan. Aryan segera mengambil tangan Karin untuk ia genggam, lalu mereka berjalan melewati para tamu.
Ketika dirinya dan Aryan melewati kursi di mana Shakina berada, Karin mendapati tatapan terluka dari kedua mata Shakina. Aryan rupanya juga melihat ke arah Shakina dan Karin memerhatikan kejadian itu. Dari tatapan Aryan, Karin tahu bahwa lelaki yang sedang menggenggam tangannya ini begitu mencintai kekasihnya.
***
Seminggu yang lalu sebelum acara pemberkatan, Karin sudah memindahkan barang-barangnya ke apartemen milik Aryan. Setelah mereka resmi menikah, Karin pun resmi untuk tinggal bersama dengan Aryan.
Karin menyapukan pandangannya ke penjuru apartemen yang bisa dibilang cukup luas ini. Ketika baru saja memasukinya, mata Karin langsung disuguhkan pada sebuah dapur. Di samping dapur itu, terdapat kitchen set dan meja makan dengan kursi untuk 4 orang. Berjalan lurus ke depan, akan ditemui sebuah ruang tamu dengan sofa leter L beserta TV berlayar datar yang berukuran cukup besar.
Apartemen ini memiliki model bangunan mezzanine, yakni terdapat ruang ekstra tanpa perlu menambah lantai bangunan. Jadi yang tampak dari bawah adalah sebuah balkon yang melayang dan itu merupakan kamar tidur.

Saat Karin menoleh ke arah tangga, ia mendapati Aryan tengah turun dari sana. Lelaki itu baru saja membawakan barang Karin yang tersisa dan meletakkannya di lantai atas. Aryan masih mengenakan stelan lengkap tuxedonya, sama dengan Karin yang masih mengenakan gaun putih pernikahannya.
“Sementara kamarnya cuma ada satu. Kamu bisa tidur di kamar atas, biar aku tidur di sofa,” terang Aryan sambil mengarahkan tatapannya pada sofa abu-abu di ruang tamu.
“Ini cuma sementara, kan?” tanya Karin.
“Iya. Nanti aku usahain untuk pindah ke apartemen yang punya dua kamar.”
Karin menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Keduanya pun memutuskan untuk membersihkan diri. Karin akan melakukannya lebih dulu di lantai atas, sementara Aryan akan menunggu Karin selesai.
Beberapa pakaian Aryan masih berada di lemari miliknya, berdampingan dengan baju-baju Karin yang beberapa hari lalu sudah dipindahkan.
“Karin,” ujar Aryan sebelum Karin melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga pertama.
“Iya?” sahut Karin yang kembali menoleh pada Aryan.
“Kamu hati-hati naik dan turun tangganya.”
“Hmm,” Karin pun mengiyakan ucapan Aryan. Setelah itu Karin segera bergegas naik ke atas untuk mengganti gaunnya menjadi pakaian rumahan.
***
Sudah hampir tiga puluh menit Karin berbaring dan berusaha untuk memejamkan matanya, tapi usahanya tersebut tidak membuahkan hasil. Setelah mandi dan melakukan rutinitas lainnya, Karin pun berniat untuk tidur lebih cepat malam ini. Namun sebuah bunyi yang terdengar dari perutnya, membuat Karin tidak bisa terpejam. Karin lantas mengarahkan tangannya untuk memegang perutnya. Karin memang belum makan sore, beberapa kali ia kehilangan napsu makannya di jam-jam tertentu.
“Oke bayi kecil, kita akan cari makanan. Kamu sabar dulu yaa,” ucap Karin sambil mengusap pelan perutnya. Karin pun bergerak dari kasur dan mulai melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga.
Sesampainya Karin di lantai bawah, ia langsung menuju dapur tanpa menyalakan lampu. Ia melewati Aryan yang tengah tertidur di sofa dengan posisi membelakangi Karin.
Pertama kali yang Karin lakukan adalah membuka kulkas untuk mencari bahan makanan. Namun Karin tidak menemukan bahan makanan mentah ataupun makanan cepat saji yang bisa ia panaskan di microwave. Hanya ada botol minuman soda dan air mineral di kulkas itu.
Karin punkan tatapannya mengarah pada lemari kitchen set di mana biasanya makanan di simpan di sana. Saat Karin membuka lemari itu dan berusaha menjangkau sesuatu dengan tangannya, sebuah suara seketika menghentikan aksinya.
“Kamu lagi cari makanan apa?” ujar suara yang terdengar sedikit serak itu. Karin pun menoleh ke belakang dan mendapati Aryan dengan wajah kantuknya.
“Anything, yang bisa dimakan. Aku laper,” cicit Karin diiringi dengan sebuah cengiran di wajahnya.
“Kenapa malam-malam begini?” tanya Aryan.
Karin pun mengedikkan kedua bahunya. “Tadi sore belum pengen. Kayaknya di lemari ada mie instan, aku mau masak itu aja. Boleh, kan?” tanya Karin.
“Boleh, tapi jangan terlalu sering. Nanti aku minta tolong mbak buat belanja bahan makanan.”
“Oke,” ucap Karin sembari menganggukkan kepalanya.
Begitu Karin mengambil bungkusan mie dari lemari dan hendak merebus air di panci, Aryan memintanya untuk duduk di meja makan. Lelaki itu mengatakan bahwa ia yang akan membuatkan mienya.
Karin pun menurut. Ia melenggang ke meja makan dan duduk di sana. Tidah butuh waktu lama bagi seseorang memasakan mie instan, meskipun dalam kondisi masih mengantuk. Sekitar lima menit kemudian, Aryan meletakkan semangkuk mie kuah di hadapan Karin.
Karin langsung mengambil garpu dan sendok untuk menyantap makanannya. Selagi Karin makan, Aryan mencuci peralatan masak yang sebelumnya ia gunakan. Tidak lama kemudian, Aryan sudah selesai dengan kegiatannya. Aryan memerhatikan Karin yang nampak lahap menikmati makanannya yang sedikit lagi akan habis.
“Kamu masih laper?” tanya Aryan begitu mie di mangkuk Karin telah bersih tak bersisa.
Mendengar pertanyaan Aryan tersebut, Karin pun menghentikan aktivitasnya menyeruput sisa kuah yang ada di mangkuknya. Kemudian Karin beralih melihat Aryan, “Engga. Aku udah kenyang kok,” ujar Karin diiringi senyuman kecilnya. Lantas Karin membawa mangkuknya ke wastafel dan langsung mencuci bekas makannya di sana.
Ketika Karin telah selesai dengan kegiatannya, ia mendapati Aryan masih berada di sana. Karin berdeham sebelum mengarahkan tatapannya pada Aryan dan berujar, “Makasih ya Kak buat makanannya,” ujar Karin.
Karin pun hendak berlalu dari hadapan Aryan setelah mengatakannya, tapi Aryan menahannya.
“Kamu panggil aku apa barusan?” tanya Aryan.
Aryan dan Karin pun kini saling bertatapan. Karin tidak langsung menjawab pertayaan Aryan, ia terlihat sedikit bingung bagaimana harus menjelaskannya.
Karin akhirnya berdeham sebelum mengutarakan maksudnya. “Kalau kamu nggak nyaman dengan itu, aku nggak akan melakukannya. Itu cuma bentuk rasa hormatku karena kamu adalah ayahnya anakku. Aku nggak bermaksud apa pun. Aku hanya menerapkan apa yang keluargaku ajarkan.”
“Yaudah aku ke kamar dulu ya,” ucap Karin sebelum melangkah melewati Aryan.
Beberapa langkah setelah Karin menjauhi Aryan, rupanya Aryan masih setia berada di tempatnya. Aryan mencermati kalimat yang diucapkan oleh Karin dan semua itu terasa benar di hatinya. Aryan sedikit tidak menduga bahwa Karin menunjukkan sifat tersebut di hadapannya. Karin bersikap menghormatinya bagaimana pun kondisi mereka saat ini. Namun pada kenyataannya, Aryan memang tidak mengenal sosok Karin sepenuhnya.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷