alyadara

Hari ini merupakan hari Sabtu yang cerah. Biasanya pada hari tersebut rutinitas untuk sekolah, berkuliah, maupun bekerja bagi sebagian orang diliburkan. Namun itu hanya terjadi bagi mayoritas orang yang bekerja di perusahaan, di mana sudah memiliki jam kerjanya masing-masing.

Berbeda dengan orang yang bekerja sebagai freelancer. Jam kerja yang tidak dapat diprediksi, membuat seorang freelancer terkadang merasa tidak memiliki waktu untuk libur. Setelah 2 tahun berkecimpung sebagai freelancer di dunia dan beauty influencer, Karin pun lama-lama terbiasa dengan segala yang harus dijalaninya.

Seperti saat ini yang terjadi. Karin masih berada di ruang tamu sejak satu jam yang lalu, dengan beberapa produk kecantikan yang harus ia promosikan di Instagram story-nya. Terlihatnya pekerjaannya ini mudah, tapi siapa sangka, Karin harus mengulang berkali-kali take untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dan pastinya harus sesuai dengan brief yang diberikan oleh brand.

Katika Karin menyadari kehadiran Aryan di sampingnya, Karin pun menjeda kegiatannya dan menoleh pada Aryan.

“Satu kali take lagi, Kak. Ini tanggung. Habis ini aku sarapan, janji,” ucap Karin sambil menatap Aryan dengan mata memohonnya.

Aryan pun menganggukkan kepala dan Karin kembali melakukan take untuk pembuatan Instagram story. Aryan meninggalkan Karin di sana supaya Karin dapat fokus menyelesaikan pekerjaannya.

Sekitar 20 menit berselang, Karin pun selesai melakukan take videonya. Karin juga sudah mengunggahnya dan mencantumkan tulisan serta memberi tagar ke brand Instagram yang bekerja sama dengannya.

“Akhirnya, selesai juga,” ucap Karin sambil menghembuskan napas leganya. Karin pun bergegas membersihkan barang-barang endorse itu ke dalam satu kotak dan meletakkannya di pojok dekat sofa.

Setelah beres dengan semuanya, Karin melangkah ke dapur ia mendapati Aryan dengan rambut setengah basahnya dan sebuah handuk kecil di tangannya.

“Kak, hari ini kita jadi belanja bulanan?” tanya Karin setelah menelan gigitan pertama sandwich di tangannya. Pagi ini Aryan yang membuat sarapan untuk mereka berdua. Aryan telah belajar untuk melakukannya. Aryan mengatakan pada Karin bahwa hampir seumur hidupnya ia tidak pernah memasak sendiri. Di rumahnya terdapat asisten yang selalu sedia menyiapkan makanan dan Aryan hanya tinggal menikmati semua fasilitas tersebut.

“Jadi. Nanti siang kita ke supermarket ya,” ujar Aryan.

“Oke.”

Karin mengamati Aryan menarik kursi meja makan di hadapannya dan duduk di sana. Kemudian lelaki itu bertanya padanya, “Gimana rasanya?”

“Hmmm,” Karin nampak menimang sejenak. “Enak. Masih ada lagi nggak Kak? Aku mau lagi,” cicit Karin disertai cengiran kecilnya. Satu tangkup sandwich rupanya tidak cukup untuk mengisi perutnya.

“Aku buatin satu lagi untuk kamu ya,” ucap Aryan sebelum lelaki itu beranjak dari duduknya.

***

Kulkas Cantik

Karin menatap puas ke arah kulkas yang kini telah terisi dengan berbagai bahan makanan, minuman, dan juga buah-buahan. Karin telah menatanya beberapa saat yang lalu. Aryan juga telah membantunya, mereka membagi pekerjaan untuk merapikan belanjaan.

Karin memasukkan bahan hasil belanjaan ke dalam kulkas, sementara Aryan menaruh beberapa camilan di lemari penyimpanan makanan. Selesai dengan tugasnya, Aryan pun menghampiri Karin dan mengambil sebuah jeruk, tepat sesaat sebelum Karin menutup kulkasnya.

Aryan mengupasnya jeruknya, lalu memakannya satu buah. Kemudian ia mengambil yang lainnya dan menyodorkannya pada Karin. Karin memandang Aryan sesaat, sebelum akhirnya ia mendekatkan diri dan menerima suapan jeruk itu.

“Karin,” ujar Aryan usai ia mengunyah jeruknya.

“Ya?”

“Besok aku ada janji sama Kina untuk pergi nginep berdua,” ucap Aryan.

Tidak lama kemudian, Karin pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Aryan barusan.

“Aku cuma mau mastiin, kamu nggak papa aku tinggal di apart sendiri?” tanya Aryan.

“Nggak papa, Kak. It's totally fine. Kamu berapa hari nginepnya?”

“Dua hari.”

Alright. Nanti aku ajak Nayna nginep. Kemarin soalnya Nayna bilang mau main ke sini.”

Aryan lantas menganggukkan kepalanya, “Sure. Kamu bisa ajak Nayna ke sini buat temenin kamu.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Sesuai yang Aryan dan Karin rencanakan, hari ini keduanya akan pergi ke rumah sakit untuk melakukan cek kandungan rutin. Begitu memasuki ruang periksa, Karin diminta untuk berbaring di atas tempat tidur.

Setelah dokter mengoleskan sebuah gel ke perut Karin dan mengarahkan sebuah alat ke sana, seketika layar di samping menunjukkan sebuah bentuk menyerupai lingkaran kecil.

“Nah, ini jantung bayinya,” ujar dokter sembari menunjuk ke satu titik di layar.

Dokter pun mempersilakan Karin dan Aryan untuk mendengarkan detak jantung bayinya. Aryan lantas mendekatkan dirinya ke sisi ranjang di mana Karin berbaring, pandangannya mengarah ke layar dan bergantian menatap Karin.

Begitu sebuah suara terdengar memenuhi ruangan itu, Karin mendapati mata Aryan nampak berkaca-kaca. Karin pun bahagia karena dapat merasakan kehadiran bayinya.

“Detak jantungnya normal ya, Bapak, Ibu. Hasil pemeriksaan lainnya juga bagus,” ujar dokter.

Aryan rupanya masih menatap Karin selama beberapa detik dan sebuah senyum hangat terlukis di wajahnya.

“Makasih ya Dok,” ujar Karin sembari bergerak bangun dari baringannya. Aryan pun membantu Karin yang hendak turun dari ranjang, lelaki itu membantu memegang satu lengan Karin.

Karin dan Aryan lantas diberi penjelasan sedikit oleh dokter terkait hal-hal tentang kehamilan. Sesi itu tidak memakan waktu yang lama, hanya sekitar 20 menit, keduanya sudah keluar dari ruangan itu. Dokter juga memberikan resep vitamin dan obat guna mengurangi morning sickness yang dialami oleh Karin.

***

Karin duduk di salah satu kursi yang disediakan untuk menunggu, sementara Aryan sedang membayar biaya dokter. Karin mengambil kursi di depan apotek, karena setelah membayar biaya kontrol kandungan, Aryan akan menebus resep di apotek dan mereka telah janjian untuk bertemu di sini.

Karin menatap ke sekelilingnya. Hari ini merupakan weekdays, jadi kondisi rumah sakit tidak terlalu ramai seperti biasanya saat weekend. Begitu Karin menoleh ke sisi kirinya, jarak empat bangku kosong dari posisinya, ia melihat seseorang yang terasa fameliar di ingatannya.

Karin yakin bahwa penglihatannya tidak salah. Perempuan yang kira-kira berusia 25 tahunan tersebut adalah karyawan Clairs Beauty yang mengantarnya ke kamar malam itu.

“Arumi Lestari, antrian apotek nomor 83,” ujar seorang apoteker melalui pengeras suara.

Seketika perempuan yang Karin perhatikan itu beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju apotek. Karin memerhatikan setiap pergerakan yang dilakukannya. Namun agar kegiatannya tidak dicurigai, Karin segera mengambil ponselnya dan berakting seolah ia tidak sedang mengamati gerak gerik perempuan itu.

Sampai perempuan itu berlalu dari pandangan Karin dan semakin menjauh dari apotek, Karin pun menghembuskan napasnya. Ia begitu yakin dan tidak mungkin salah melihat. Walaupun malam itu Karin seperti terkena pengaruh alkohol, ia masih ingat bahwa perempuan yang barusan dilihatnya adalah karyawan Clairs Beauty yang membuatnya datang ke kamar Aryan malam itu.

“Karin,” sebuah suara seketika membuat Karin tersadar dan menoleh ke samping. Ia mendapati Aryan berada di sana dan lelaki itu baru saja menyadarkan Karin dari lamunannya.

“Kak,” ucap Karin.

“Kenapa Karin?” Aryan pun melihat ke mana mata Karin menatap, tapi ia tidak menemukan apa pun. Hanya beberapa orang yang tampak sewajarnya berlalu lalang di area rumah sakit.

“Barusan aku liat karyawan Clairs Beauty yang waktu itu bawa aku ke kamar kamu.”

Selama beberapa detik Aryan hanya terdiam setelah mendengar penuturan Karin. Karin memang pernah mengatakan padanya bahwa malam itu ia masuk ke kamar Aryan atas kehendak seseorang. Karin tidak sama sekali memegang key card kamar hotel Aryan saat ia masuk ke sana.

“Karin, kamu yakin kalau yang kamu liat itu dia?”

“Aku yakin, Kak. Aku inget banget wajahnya. Aku nggak mungkin salah,” ujar Karin dengan nada yakinnya.

Setelah memikirkannya dengan kepala dingin beberapa hari yang lalu, ketika Karin juga mulai mengingat detail-detail kejadian malam itu, Aryan pun bertekad untuk mencari tahu siapa dalang di balik semuanya.

Aryan dan Karin kini telah bahagia dengan kehadiran anak mereka, keduanya akan selalu berjuang untuk memberikan kasih sayang yang utuh untuk bayi kecil di kandungan Karin. Namun pada kenyataannya, bukankah seseorang tetap harus bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukannya?

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Satu minggu telah berlalu sejak Karin meminta maaf pada Aryan dan lelaki itu juga telah menyadari kesalahannya. Keduanya sudah saling berdamai dan memutuskan untuk berkompromi dalam urusan yang berhubungan dengan anak mereka ke depannya.

Menekan ego tidak akan membuat seseorang mencapai tujuan yang baik. Justru sebaliknya, ego yang tidak bisa dikendalikan dapat menghancurkan satu sama lain. Aryan maupun Karin sama-sama belajar dari itu.

Pagi ini ketika matahari bahkan masih terlelap di peradabannya, Karin harus menghadapi morning sickness-nya. Rasanya hampir separuh isi perutnya kini sudah mengalir bersama air di wastafel. Kedua lutut Karin seketika lemas dan kepalanya terasa pusing. Usai dirasa tidak ada lagi yang ingin dikeluarkan, Karin mengambil tisu untuk mengusap sisa air bilasan di sekitar bibirnya.

Karin yang melihat Aryan mengambil gelas dan merebus air, lekas berjalan menghampiri lelaki itu. Karin berdiri di samping Aryan dan saat Aryan menoleh padanya, Karin bertanya, “Kak, kamu mau bikin apa?”

“Aku bikin teh chamomile buat kamu,” ucap Aryan.

Karin lantas mengangguk dan mengulaskan senyum kecilnya. Aryan pun meminta Karin untuk menunggu di sana dan selesai menyeduh tehnya, lelaki itu akan membawakannya untuk Karin.

Sesampainya Karin di ruang tamu, ia mendaratkan dirinya di sofa. Mata Karin terpejam dan otomatis jemarinya memijat pelipisnya saat rasa pening itu kembali menyerangnya.

Tidak lama kemudian, begitu mendengar derap langkah kaki, Karin segera membuka matanya dan mendapati Aryan di hadapannya membawakan secangkir teh.

“Masih pusing?” tanya Aryan.

Karin menjawab Aryan dengan sebuah anggukan lemah. Karin melihat Aryan menaruh cangkir tehnya di meja di dekat sofa, lalu Aryan melenggang dari hadapannya dan mencari sesuatu di nakas samping TV.

Aryan kembali pada Karin dan menyerahkan sebuah benda kecil dari tangannya. “Kamu pakai ya, biar pusingnya reda,” ujar Aryan. Karin pun memakai minyal aroma terapi dengan wangi laveder itu sekitar pelipisnya dan sedikit di bagian tengkuk. Rasa hangat dan wangi yang menenangkan itu seketika membuat Karin merasa lebih rileks dari sebelumnya.

“Hari ini kamu ada kuis atau presentasi di kampus?” tanya Aryan. Lelaki itu mengambil tempat di samping Karin, matanya menatap Karin dengan tatapan khawatir.

“Nggak ada,” jawab Karin. “Kenapa emangnya?”

“Kalau nggak ada, kamu istirahat aja. Nggak usah ke kampus dulu hari ini,” saran Aryan.

Karin kembali meletakkan cangkirnya setelah meminum tehnya. Karin tahu dari tatapannya, Aryan benar-benar peduli dan tulus terhadap anaknya. Karin melihat sisi lain dari seorang Aryan yang sebelumnya tidak pernah ia lihat dengan matanya sendiri.

“Karin?” panggilan Aryan seketika menyadarkan Karin dari lamunannya.

“Iya, hari ini aku di istirahat di apart aja,” putus Karin.

“Kak,” ujar Karin saat Aryan hendak beranjak dari posisinya. Lelaki itu akan membawa cangkir bekas minum Karin ke dapur.

Aryan lantas berbalik menghadap Karin, “Kenapa?”

“Makasih ya. Aku tau kamu benar-benar tulus dan dan sayang sama anak ini,” ujar Karin.

Samar-samar Aryan nampak mengulaskan senyumnya. Selama beberapa detik setelah terjadi keheningan di antara mereka, Aryan akhirnya membuka suaranya lebih dulu, “Kamu mau sarapan apa? Biar aku beliin sebelum aku berangkat.”

“Di dapur masih ada roti sama selai coklat. Nanti aku bikin roti bakar aja, Kak,” ujar Karin.

Aryan pun mengangguk mendengar jawaban Karin. Sebelum Aryan pergi dari hadapannya, Karin berujar lagi, “Hari ini mbak nggak dateng, buat sore aku mau order makanan. Kamu makan di rumah nggak? Kalau kamu makan di rumah, biar aku pesennya bisa agak banyakan.”

“Pesen banyakan aja. Nanti aku pulang jam 4.”

“Oke.”

***

Seperti yang dikatakan oleh Aryan sebelumnya, tepat pukul 4 sore, lelaki itu sudah menampakkan batang hidungnya di apartemen. Karin sedang berada di ruang tamu dan menyetel TV ketika Aryan berjalan ke sana.

“Kamu mau langsung makan? Biar aku panasin ayamnya di microwave,” ujar Karin pada Aryan.

“Boleh,” ucap Aryan sembari meletakkan kunci mobilnya di meja ruang tamu.

Sementara Karin melenggang ke dapur, Aryan memutuskan untuk naik ke atas untuk mengganti pakaiannya.

Tidak lama kemudian, begitu Aryan kembali ke lantai bawah, ia mendapati di meja makan telah tersaji ayam goreng krispi yang sudah dihangatkan.

Aryan segera mengisi piringnya dengan nasi dan mengambil satu potongan paha atas yang berukuran cukup besar, lalu ia melangkah menuju ruang tamu.

“Kak, kamu makannya di meja makan. Masa di ruang tamu,” ujar Karin saat matanya menangkap Aryan tengah duduk di sampingnya.

“Kamu udah makan?” Aryan justru melempar pertanyaan pada Karin.

“Aku udah makan. Nanti sofanya kotor lho, Kak. Kamu makannya di meja makan gih,” tutur Karin.

“Mau sambil nonton TV,” ujar Aryan dan Karin hanya bisa mengiyakan saja pada akhirnya. Omong-omong soal Karin yang mengubah panggilannya pada Aryan setelah mereka berdamai, itu merupakan hasil kesepakatan keduanya. Lebih tepatnya Aryan yang membahas itu lebih dulu. Karin pun setuju sejak saat itu. Selain faktor usia, Karin melakukannya untuk menghormati Aryan sebagai suami dan ayah dari calon anaknya kelak.

“Kak,” panggil Karin.

Aryan yang sebelumnya fokus pada layar TV dan makanannya, kini beralih menatap Karin. “Iya, kenapa?”

“Itu kulit ayamnya kamu makan nggak?” tanya Karin. Pandangan Aryan pun otomatis menuju ke arah yang sama dengan Karin, yakni ke piring yang berada di tangannya. Di sana terdapat satu kulit ayam yang cukup besar, kebetulan Aryan memang belum memakannya.

Aryan lantas mengambil kulit itu dari piringnya. “Kamu mau?” tanya Aryan sambil mengarahkan tangannya untuk menyuapi Karin. Karin pun mengangguk, sekilas ia tersenyum malu sebelum akhirnya menerima suapan dari Aryan. Begitu Karin mengunyah makanannya, Aryan hanya memperhatikan itu terjadi di hadapannya. Binar bahagia yang terpancar di mata Karin, seketika membuat Aryan ikut merasa senang.

“Karin,” ujar Aryan.

“Iya?”

“Kamu makan yang banyak ya. Kalau kamu happy, bayinya juga happy,” tutur Aryan.

Karin menatap Aryan selama beberapa detik. Tidak lama berselang, senyum simpul pun terukir di paras Karin dan perempuan itu menganggukkan kepalanya. “Dia happy banget lho hari ini, nurut sama aku. Cuma tadi pagi aja agak rewel, habis itu aku udah bisa makan banyak. Pinternya anak Mama,” ujar Karin sembari mengusap perutnya. Ketika netra Karin kembali bertemu dengan Aryan, Karin pun bertanya, “Kamu mau dipanggil apa sama anak kamu?”

“Papa,” cetus Aryan. Aryan pun tersenyum, lalu ia bertanya dengan kedua alisnya yang menyatu, “Is it good?”

Of course. It’s sounds nice.” Karin menurunkan pandangannya ke perutnya, lalu ia kembali berujar, “Nak, nanti kamu panggilnya Papa dan Mama ya.”

Tanpa Aryan bisa kehendaki, hatinya pun terasa berdesir hangat. Aryan kini dapat begitu merasakan ikatan kuat antara orang tua dan anaknya.
Keegoisannya waktu itu terjadi karena rasa takutnya akan kehilangan posisi yang seharusnya menjadi miliknya. Namun apa yang dikatakan oleh Karin adalah benar. Aryan tidak akan kehilangan tempat itu, baik sekarang maupun nanti. Meskipun pernikahannya dan Karin tidak dilandasi oleh perasaan cinta, keduanya akan selalu berusaha memberikan kasih sayang yang utuh untuk anak mereka.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin mengantar Kavin sampai ke pintu. Pagi tadi sekitar pukul enam, Karin mendadak memiliki tugas membangunkan dua orang lelaki dan itu tidaklah mudah. Aryan ada kelas jam sepuluh karena hari ini lelaki itu harus presentasi untuk Ujian Tengah Semesternya. Kalau sampai terlambat, mungkin Aryan tidak akan mendapat nilai dan berakhir harus mengulang mata kuliah. Begitu juga dengan Kavin, lelaki itu harus segera berangkat ke stasiun kalau tidak ingin terlambat menghadiri kuliahnya siang nanti.

Seusai sarapan, akhirnya Kavin memutuskan untuk berangkat. Kavin pun menyalami tangan Karin, tapi bukannya segera berangkat, Kavin malah masih menatap kakak perempuannya itu.

“Kenapa, Dek? Ada barang kamu yang ketinggalan?” tanya Karin.

“Kak Karin sama Kak Aryan baru aja berselisih ya kemarin?” Kavin justru melempar pertanyaan pada Karin.

Karin pun terdiam mendengar ucapan Kavin. Apa Aryan menceritakannya pada Kavin? Tapi untuk apa? pikir Karin.

Seolah dapat membaca isi pikiran Karin, Kavin pun kembali berujar, “Kak Aryan nggak cerita detail masalahnya,” ujar Kavin.

Kavin pun menjelaskan pada Karin bahwa Aryan merasa menyesal akan sikapnya yang melarang Karin untuk bekerja. Mendapati Karin kecewa pada Aryan, entah kenapa membuat Aryan tidak karuan. Kavin dapat merasakan bahwa Aryan beberapa kali tidak fokus ketika bermain, padahal level lelaki itu lebih tinggi darinya dan Kavin mengira ia yang akan kalah banyak tadi malam. Namun kenyataannya justru terbalik, Aryan yang banyak kalah dan Kavin mendapatkan kemenangannya.

“Kak, aku sebenarnya nggak mau ikut campur. Ini urusan rumah tangga Kak Karin sama kak Aryan. Aku cuma mau ngasih saran, sebaiknya Kakak bicarain ini sama kak Aryan. Yaudah, aku berangkat dulu ya Kak,” papar Kavin.

“Oke, Dek. Kamu hati-hati di jalan ya,” ucap Karin.

“Kak Aryan nggak minta aku buat ceritain ini ke Kakak. Aku cuma ngerasa perlu menyampaikan ini ke Kakak,” ucap Kavin lagi sebelum benar-benar melangkah pergi.

Sepeninggalan Kavin, Karin kembali masuk ke apartemennya. Karin memikirkannya dan ia pun merasa bahwa dirinya telah keterlaluan. Perkataan Karin tempo hari mungkin telah membuat Aryan terluka. Urusannya dengan Aryan belum selesai, Karin pun bertekad akan menyelesaikannya hari ini juga.

***

Karin berada di apartemen, ia menunggu Aryan pulang dari kampus. Hari ini Karin pulang lebih dulu karena ia hanya memiliki dua kelas dan selesai lebih cepat dari Aryan. Karin mengirim pesan pada Aryan dan menanyakan jam pulangnya. Aryan tahu Karin sudah pulang lebih dulu, jadi ketika sampai di apartemen, Aryan langsung menuju kamar di lantai atas.

Karin pun bangun dari baringannya ketika melihat kehadiran Aryan di sana. “Aryan, ada yang mau aku bicarain sama kamu,” ujar Karin.

Aryan lantas mengangguk, ia mengambil tempat di tepi ranjang. Karin menjauhkan punggungnya dari sandaran kasur, ia menatap Aryan lurus tepat di matanya. “Aryan, aku minta maaf.” Itu kalimat pertama yang Karin ucapkan.

Iris mata Aryan memperhatikan Karin, ia terlihat sedikit bingung atas permintaan maaf yang tiba-tiba Karin lontarkan padanya. “Karin, kamu minta maaf untuk apa?”

“Aku minta maaf karena udah nganggap kamu nggak tulus. Aku terlalu terbawa emosi kemarin. Aryan, aku benar-benar minta maaf, aku salah di sini. Seharusnya aku bicarain dulu sama kamu dan dapat persetujuan kamu soal pekerjaanku. Aku lupa kalau seharusnya pernikahan memang berjalan seperti itu,” papar Karin.

Aryan lantas balas menatap Karin dengan tatapan menyesalnya. “It’s totally fine, Karin. Di sini aku juga salah. Aku minta maaf sama kamu. Nggak seharusnya kemarin aku bersikap egois dan melarang kamu untuk kerja,” ujar Aryan.

Dua hari belakangan Aryan merasa bahwa dirinya tengah kacau. Mendapati Karin kecewa karena perilakunya, entah mengapa membuat hatinya terasa tidak karuan. Seharusnya Aryan tidak perlu memikirkan Karin sebegitunya. Seharusnya hatinya merasa baik-baik saja, tapi kenyataan yang Aryan dapati tidaklah begitu.

“Aryan.” Panggilan Karin itu menarik Aryan kembali dari pikiran monolognya. Aryan lantas menatap Karin. Mata teduh Karin yang kini memandangnya, pemikiran dewasa Karin, telah berhasil meruntuhan ego sekeras baja yang sebelumnya bersarang di hati Aryan.

“Kamu bisa melakukan apa pun untuk anak kamu, Aryan. Kamu berhak untuk itu, apa pun kondisi kita, orang tuanya. Kamu nggak perlu merasa kalah dari Rey. Aku sadar kalau kamu larang aku kerja karena kamu peduli. Aku terima kasih sama kamu untuk itu,” jelas Karin.

Karin lantas mengusap perutnya, tapi pandangannya tidak lepas dari Aryan, “Seorang anak punya rasa sayang yang besar banget untuk orang tuanya. Ikatan batin itu kuat, Aryan. Begitu pun orang tua ke anaknya. Suatu saat nanti, anak ini akan bisa merasakan, kasih sayang yang kamu berikan untuk dia.”

Aryan

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin mengantar Kavin sampai ke pintu. Pagi tadi sekitar pukul enam, Karin mendadak memiliki tugas membangunkan dua orang lelaki dan itu tidaklah mudah. Aryan ada kelas jam sepuluh karena hari ini lelaki itu harus presentasi untuk Ujian Tengah Semesternya. Kalau sampai terlambat, mungkin Aryan tidak akan mendapat nilai dan berakhir harus mengulang mata kuliah. Begitu juga dengan Kavin, lelaki itu harus segera berangkat ke stasiun kalau tidak ingin terlambat menghadiri kuliahnya siang nanti.

Seusai sarapan, akhirnya Kavin memutuskan untuk berangkat. Kavin pun menyalami tangan Karin, tapi bukannya segera berangkat, Kavin malah masih menatap kakak perempuannya itu.

“Kenapa, Dek? Ada barang kamu yang ketinggalan?” tanya Karin.

“Kak Karin sama Kak Aryan baru aja berselisih ya kemarin?” Kavin justru melempar pertanyaan pada Karin.

Karin pun terdiam mendengar ucapan Kavin. Apa Aryan menceritakannya pada Kavin? Tapi untuk apa? pikir Karin.

Seolah dapat membaca isi pikiran Karin, Kavin pun kembali berujar, “Kak Aryan nggak cerita detail masalahnya,” ujar Kavin.

Kavin pun menjelaskan pada Karin bahwa Aryan merasa menyesal akan sikapnya yang melarang Karin untuk bekerja. Mendapati Karin kecewa pada Aryan, entah kenapa membuat Aryan tidak karuan. Kavin dapat merasakan bahwa Aryan beberapa kali tidak fokus ketika bermain, padahal level lelaki itu lebih tinggi darinya dan Kavin mengira ia yang akan kalah banyak tadi malam. Namun kenyataannya justru terbalik, Aryan yang banyak kalah dan Kavin mendapatkan kemenangannya.

“Kak, aku nggak mau ikut campur. Ini urusan rumah tangga Kak Karin sama kak Aryan. Aku cuma mau ngasih saran, sebaiknya Kakak bicarain ini sama kak Aryan. Yaudah, aku berangkat dulu ya Kak,” papar Kavin.

“Oke, Dek. Kamu hati-hati di jalan ya,” ucap Karin.

“Kak Aryan nggak minta aku buat ceritain ini ke Kakak. Aku cuma ngerasa perlu menyampaikan ini ke Kakak,” ucap Kavin lagi sebelum benar-benar melangkah pergi.

Sepeninggalan Kavin, Karin kembali masuk ke apartemennya. Karin memikirkannya dan ia pun merasa bahwa dirinya telah keterlaluan. Perkataan Karin tempo hari mungkin telah membuat Aryan terluka. Urusannya dengan Aryan belum selesai, Karin pun bertekad akan menyelesaikannya hari ini juga.

***

Karin berada di apartemen, ia menunggu Aryan pulang dari kampus. Hari ini Karin pulang lebih dulu karena ia hanya memiliki dua kelas dan selesai lebih cepat dari Aryan. Karin mengirim pesan pada Aryan dan menanyakan jam pulangnya. Aryan tahu Karin sudah pulang lebih dulu, jadi ketika sampai di apartemen, Aryan langsung menuju kamar di lantai atas.

Karin pun bangun dari baringannya ketika melihat kehadiran Aryan di sana. “Aryan, ada yang mau aku bicarain sama kamu,” ujar Karin.

Aryan lantas mengangguk, ia mengambil tempat di tepi ranjang. Karin menjauhkan punggungnya dari sandaran kasur, ia menatap Aryan lurus tepat di matanya. “Aryan, aku minta maaf.” Itu kalimat pertama yang Karin ucapkan.

Iris mata Aryan memperhatikan Karin, ia terlihat sedikit bingung atas permintaan maaf yang tiba-tiba Karin lontarkan padanya. “Karin, kamu minta maaf untuk apa?”

“Aku minta maaf karena udah nganggap kamu nggak tulus. Aku terlalu terbawa emosi kemarin. Aryan, aku benar-benar minta maaf, aku salah di sini. Seharusnya aku bicarain dulu sama kamu dan dapat persetujuan kamu soal pekerjaanku. Aku lupa kalau seharusnya pernikahan emang berjalan seperti itu,” papar Karin.

Aryan lantas balas menatap Karin dengan tatapan menyesalnya. “It’s totally fine, Karin. Di sini aku juga salah. Aku minta maaf sama kamu. Nggak seharusnya kemarin aku bersikap egois dan melarang kamu untuk kerja,” ujar Aryan.

Dua hari belakangan Aryan merasa bahwa dirinya tengah kacau. Mendapati Karin kecewa karena perilakunya, entah kenapa membuat hatinya terasa tidak karuan. Seharusnya Aryan tidak perlu memikirkan Karin sebegitunya. Seharusnya hatinya merasa baik-baik saja, tapi kenyataan yang Aryan dapati tidaklah begitu.

“Aryan.” Panggilan Karin itu menarik Aryan kembali dari pikiran monolognya. Aryan lantas menatap Karin. Mata teduh Karin yang kini memandangnya, pemikiran dewasa Karin, telah berhasil meruntuhan ego sekeras baja yang sebelumnya bersarang di hati Aryan.

“Kamu bisa melakukan apa pun untuk anak kamu, Aryan. Kamu berhak untuk itu, apa pun kondisi kita, orang tuanya. Kamu nggak perlu merasa kalah dari Rey. Aku sadar kalau kamu larang aku kerja karena kamu peduli. Aku terima kasih sama kamu untuk itu,” jelas Karin.

Karin lantas mengusap perutnya, tapi pandangannya tidak lepas menatap Aryan. “Seorang anak punya rasa sayang yang sangat besar untuk orang tuanya. Ikatan batin itu kuat, Aryan. Begitu pun orang tua ke anaknya. Suatu saat nanti, anak ini akan bisa merasakan, kasih sayang yang kamu berikan untuk dia.”

Aryan

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Sekitar pukul delapan malam, Karin baru saja kembali setelah menginap di apartemennya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kavin, adik lelakinya yang barusan menjemput dan mengantar Karin pulang.

“Kak Aryan lagi nggak di sini Kak?” tanya Kavin begitu netranya tidak menemukan sosok Aryan di penjuru apartemen.

Sejenak Karin nampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Kavin. “Kayaknya lagi tidur di atas. Sebentar Kav, Kakak naik dulu ya,” ucap Karin dan segera melangkah meninggalkan Kavin di ruang tamu.

Sesampainya Karin di lantai atas, benar saja, ia menemukan Aryan tengah tertidur di kamar. Karin mengambil tempat di tepi kasur, selama beberapa detik, ia hanya memerhatikan paras damai tertidur Aryan.

Tidak sampai satu menit berlalu, Karin pun memutuskan untuk meninggalkan Aryan di kamar. Aryan terlihat lelap sekali tidurnya, Karin tidak tega kalau sampai lelaki itu terbangun karena terganggu oleh suara pergerakan di sekitarnya.

Karin pun turun dan menawarkan makan malam untuk Kavin. Karin juga belum makan, ia lantas bergegas menghangatkan mac and cheese menggunakan microwave. Ketika Karin dan Kavin menikmati makanan bersama di meja makan, keduanya mendapati Aryan tengah turun dari tangga dan berjalan menghampiri mereka.

Aryan pun menyapa Kavin dan mereka berakhir mengobrol bersama. Aryan sudah makan katanya, tapi ia butuh kopi. Jadi Karin membuatkan secangkir kopi susu kesukaan Aryan.

“Kak, malam ini gue boleh nginep di sini nggak?” tanya Kavin kepada Karin.

Karin yang telah selesai mencuci piring bekas makannya pun sontak menoleh ke arah Kavin. Otomatis pandangan Karin juga bertemu dengan Aryan. Mereka malah cuma jadi lihat-lihatan tanpa mengeluarkan suara apa pun.

Selang beberapa detik kemudian, Karin akhirnya berujar, “Mau ngapain nginep? Kamu bilang mau langsung on the way ke Bekasi, besok ada kuliah pagi, bukannya?”

“Kelas gue besok siang, Kak. Ini udah malam juga, gue takut balik naik KRL. Lagian gue sama Kak Aryan mau begadang main game. Iya kan, Kak?” Kavin mengakhiri kalimatnya sembari mengarahkan tatapannya ke arah Aryan.

“Iya, Karin. Aku sama Kavin mau main game bareng. Nggak papa Kavin nginep di sini,” ujar Aryan.

Keputusan Aryan itu sontak membuat kelopak mata Karin melebar. Karin tidak percaya bahawa Aryan dengan mudahnya menyetujui keinginan bocah lelaki berusia 18 tahun itu. Bagaimana bisa Kavin menginap, sementara adiknya itu tidak tahu bahwa Karin dan Aryan memiliki kesepatakan pernikahan.

Aryan yang sebelumnya berada di ruang tamu bersama Kavin, kini menghampiri Karin di dapur.

“Kamu izinin Kavin nginep di sini?” tanya Karin pada Aryan dengan suara pelannya.

“Emang kenapa kalau Kavin nginep?” Aryan justru balik bertanya seolah tidak ada masalah yang akan terjadi kalau Kavin menginap.

“Oke, kalau gitu. Kamu silakan sharing sofa sama Kavin ya.” Karin pun menaruh piring yang telah ia cuci ke tempat tatakan piring bersih. Untung saja piring yang sudah kinclong itu tidak lolos begitu saja dari tangannya. Beberapa detik yang lalu, piring itu hampir saja meluncur dari tangannya saat Karin mengetahui bahwa Kavin akan menginap.

“Aku emang mau begadang sama Kavin, Karin. Kita nggak mungkin begadang bertiga, kan? Kamu silakan tidur di atas, kita berusaha nggak berisik supaya kamu tetap bisa tidur,” jelas Aryan.

Karin pun mengangguki ucapan Aryan. Benar juga apa yang dikatakan oleh Aryan. Kenapa pikiran Karin yang justru rumit memikirkan Kavin akan curiga tentang pernikahannya dengan Aryan. Tidak seharusnya setiap malam suami dan istri tidur bersama, bukan?

Khusus untuk malam ini, biarlah Kavin mengira bahwa hanya sekali Aryan dan Karin tidak tidur bersama. Toh Aryan dan Kavin akan bermain sampai malam atau bahkan pagi. Biasanya para lelaki akan melupakan segalanya kalau sudah bermain game. Sebuah senyum kemudian terulas di wajah Karin. Semuanya akan baik-baik saja, ujarnya dalam hati.

***

Waktu menunjukkan pukul 1 malam lebih 10 menit ketika Karin terjaga dari tidurnya. Karin pun mendengar suara gaduh dari lantai bawah yang seketika membuatnya menggelengkan kepala. Lelaki dan game, dua hal yang sulit terpisahkan jika sudah dipertemukan.

Karin memutuskan untuk mengambil air minum di bawah karena rasa haus yang tengah mengganggu tidurnya. Sesampainya Karin di dapur, ia segera mengambil botol minum dan mengisinya sampai hampir penuh. Karin akan membawa botol itu ke atas bersamanya.

Ketika Karin berjalan melewati ruang tamu, ia melihat Kavin tengah menangis. Rupanya itu terjadi karena sebuah game, adiknya itu baru saja kalah bermain.

Saat Karin melihat ke arah Aryan, lelaki itu nampak santai karena ia telah menang. “Kan bisa main lagi buat naikin levelnya. Gitu aja kok nangis sih,” komentar Karin. Ia sudah sering melihat lelaki dan game-nya, tapi rupanya Karin masih heran dengan dampak yang ditimbulkan akibat bemain game yang nyatanya cukup serius itu.

“Tadi Kak Aryan juga kalah sampai nangis kok. Bukan aku doang, Kak. Sayangnya Kak Karin nggak lihat,” adu Kavin.

Berkat ucapan Kavin itu, Karin pun menatap Aryan dan Kavin secara bergantian. “It’s okey. Nggak selamanya harus menang. Itu kan wajar, manusiawi,” ujar Karin sembari memamerkan senyumnya pada dua lelaki di hadapannya itu.

“Gue aja lo ledekin, giliran Kak Aryan lo bilang manusiawi. Paham banget gue mah,” Kavin masih fokus terhadap gamenya, tapi kalimat yang terlontar dari bibirnya itu berhasil membuat Karin seketika bungkam.

Begitu pandangan Karin bertemu dengan Aryan, Karin menangkap sebuah kesedihan dari pendar mata itu. Tidak, bukan begini biasanya binar mata Aryan. Karin tidak mengerti apa yang terjadi. Namun tiba-tiba ia terpikirkan akan satu hal. Apakah dua hari lalu ia telah kelewatan menyampaikan kalimatnya pada Aryan?

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Sekitar pukul delapan malam, Karin baru saja kembali setelah menginap di apartemennya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kavin, adik lelakinya yang barusan menjemput dan mengantar Karin pulang.

“Kak Aryan lagi nggak di sini Kak?” tanya Kavin begitu netranya tidak menemukan sosok Aryan di penjuru apartemen.

Sejenak Karin nampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Kavin. “Kayaknya lagi tidur di atas. Sebentar Kav, Kakak naik dulu ya,” ucap Karin dan segera melangkah meninggalkan Kavin di ruang tamu.

Sesampainya Karin di lantai atas, benar saja, ia menemukan Aryan tengah tertidur di kamar. Karin mengambil tempat di tepi kasur, selama beberapa detik, ia hanya memerhatikan paras damai tertidur Aryan.

Tidak sampai satu menit berlalu, Karin pun memutuskan untuk meninggalkan Aryan di kamar. Aryan terlihat lelap sekali tidurnya, Karin tidak tega kalau sampai lelaki itu terbangun karena terganggu oleh suara pergerakan di sekitarnya.

Karin pun turun dan menawarkan makan malam untuk Kavin. Karin juga belum makan, ia lantas bergegas menghangatkan mac and cheese menggunakan microwave. Ketika Karin dan Kavin menikmati makanan bersama di meja makan, keduanya mendapati Aryan tengah turun dari tangga dan berjalan menghampiri mereka.

Aryan pun menyapa Kavin dan mereka berakhir mengobrol bersama. Aryan sudah makan katanya, tapi ia butuh kopi. Jadi Karin membuatkan secangkir kopi susu kesukaan Aryan.

“Kak, malam ini gue boleh nginep di sini nggak?” tanya Kavin kepada Karin.

Karin yang telah selesai mencuci piring bekas makannya pun sontak menoleh ke arah Kavin. Otomatis pandangan Karin juga bertemu dengan Aryan. Mereka malah cuma jadi lihat-lihatan tanpa mengeluarkan suara apa pun.

Selang beberapa detik kemudian, Karin akhirnya berujar, “Mau ngapain nginep? Kamu bilang mau langsung on the way ke Bekasi, besok ada kuliah pagi, bukannya?”

“Kelas gue besok siang, Kak. Ini udah malam juga, gue takut balik naik KRL. Lagian gue sama Kak Aryan mau begadang main game. Iya kan, Kak?” Kavin mengakhiri kalimatnya sembari mengarahkan tatapannya ke arah Aryan.

“Iya, Karin. Aku sama Kavin mau main game bareng. Nggak papa Kavin nginep di sini,” ujar Aryan.

Keputusan Aryan itu sontak membuat kelopak mata Karin melebar. Karin tidak percaya bahawa Aryan dengan mudahnya menyetujui keinginan bocah lelaki berusia 18 tahun itu. Bagaimana bisa Kavin menginap, sementara adiknya itu tidak tahu bahwa Karin dan Aryan memiliki kesepatakan pernikahan.

Aryan yang sebelumnya berada di ruang tamu bersama Kavin, kini menghampiri Karin di dapur.

“Kamu izinin Kavin nginep di sini?” tanya Karin pada Aryan dengan suara pelannya.

“Emang kenapa kalau Kavin nginep?” Aryan justru balik bertanya seolah tidak ada masalah yang akan terjadi kalau Kavin menginap.

“Oke, kalau gitu. Kamu silakan sharing sofa sama Kavin ya.” Karin pun menaruh piring yang telah ia cuci ke tempat tatakan piring bersih. Untung saja piring yang sudah kinclong itu tidak lolos begitu saja dari tangannya. Beberapa detik yang lalu, piring itu hampir saja meluncur dari tangannya saat Karin mengetahui bahwa Kavin akan menginap.

“Aku emang mau begadang sama Kavin, Karin. Kita nggak mungkin begadang bertiga, kan? Kamu silakan tidur di atas, kita berusaha nggak berisik supaya kamu tetap bisa tidur,” jelas Aryan.

Karin pun mengangguki ucapan Aryan. Benar juga apa yang dikatakan oleh Aryan. Kenapa pikiran Karin yang justru rumit memikirkan Kavin akan curiga tentang pernikahannya dengan Aryan. Tidak seharusnya setiap malam suami dan istri tidur bersama, bukan?

Khusus untuk malam ini, biarlah Kavin mengira bahwa hanya sekali Aryan dan Karin tidak tidur bersama. Toh Aryan dan Kavin akan bermain sampai malam atau bahkan pagi. Biasanya para lelaki akan melupakan segalanya kalau sudah bermain game. Sebuah senyum kemudian terulas di wajah Karin. Semuanya akan baik-baik saja, ujarnya dalam hati.

***

Waktu menunjukkan pukul 1 malam lebih 10 menit ketika Karin terjaga dari tidurnya. Karin pun mendengar suara gaduh dari lantai bawah yang seketika membuatnya menggelengkan kepala. Lelaki dan game, dua hal yang sulit terpisahkan jika sudah dipertemukan.

Karin memutuskan untuk mengambil air minum di bawah karena rasa haus yang tengah mengganggu tidurnya. Sesampainya Karin di dapur, ia segera mengambil botol minum dan mengisinya sampai hampir penuh. Karin akan membawa botol itu ke atas bersamanya.

Ketika Karin berjalan melewati ruang tamu, ia melihat Kavin tengah menangis. Rupanya itu terjadi karena sebuah game, adiknya itu baru saja kalah bermain.

Saat Karin melihat ke arah Aryan, lelaki itu nampak santai karena ia telah menang. “Kan bisa main lagi buat naikin levelnya. Gitu aja kok nangis sih,” komentar Karin. Ia sudah sering melihat lelaki dan game-nya, tapi rupanya Karin masih heran dengan dampak yang ditimbulkan akibat bemain game yang nyatanya cukup serius itu.

“Tadi Kak Aryan juga kalah sampai nangis kok. Bukan aku doang, Kak. Sayangnya Kak Karin nggak lihat,” adu Kavin.

Berkat ucapan Kavin itu, Karin pun menatap Aryan dan Kavin secara bergantian. “It’s okey. Nggak selamanya harus menang. Itu kan wajar, manusiawi,” ujar Karin sembari memamerkan senyumnya pada dua lelaki di hadapannya itu.

“Gue aja lo ledekin, giliran Kak Aryan lo bilang manusiawi. Paham banget gue mah,” Kavin masih fokus terhadap gamenya, tapi kalimat yang terlontar dari bibirnya itu berhasil membuat Karin seketika bungkam.

Begitu pandangan Karin bertemu dengan Aryan, Karin menangkap sebuah kesedihan dari pendar mata itu. Tidak, bukan begini biasanya binar mata Aryan. Karin tidak mengerti apa yang terjadi. Namun tiba-tiba ia terpikirkan akan satu hal. Apakah dua hari lalu ia telah kelewatan menyampaikan kalimatnya pada Aryan?

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Sore ini Aryan menjemput Karin di apartemen miliknya. Aryan menunggu Karin selesai melakukan shooting untuk video youtube di studio miliknya di bantu oleh Dara dan tim kameramennya. Karin pun mengatakan pada Dara bahwa ia harus pulang bersama Aryan dan ada yang perlu ia dan Aryan bicarakan. Ini urusan rumah tangga, Dara akhirnya bersikap mengerti. Managernya itu membiarkan Karin pergi dan mengatakan bahwa beberapa pekerjaan yang tersisa masih bisa dilakukan besok.

Ketika sampai di apartemen, Karin tidak langsung naik ke kamarnya. Ia dan Aryan memutuskan untuk membicarakannya berdua. Di dalam perjalanan tadi, mereka berusaha terlebih dahulu meredakan emosi, agar bisa mendiskusikannya dengan kepala dingin ketika sampai di apartemen.

Pandangan Karin yang sebelumnya tidak mengarah pada Aryan, kini beralih menatap lelaki jangkung itu. Mereka duduk berhadapan di sofa ruang tamu, Aryan pun berujar lebih dulu, “Karin, aku masih punya tabungan dan gaji dari hasil magang. Aku bisa membiayai rumah tangga, tanpa perlu kamu kerja.”

Aryan telah mengetahui bahwa Karin mengambil beberapa job untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Karin merasa bahwa ia masih sanggup bekerja dan karena ini untuk keperluan pribadinya, ia tidak ingin mengandalkan uang yang Aryan berikan padanya. Sementara Aryan sudah mengatakan bahwa sementara Karin tidak perlu kerja. Karin hanya perlu kuliah dan pulang. Namun Karin tetap bekerja bahkan terkadang sampai larut malam ia baru kembali.

“Aku tau kamu berusaha menuhin kebutuhan rumah tangga. Aku terima kasih sama kamu untuk itu. Tapi untuk kebutuhan pribadi aku, aku nggak mau membebani kamu. Aku ingin tetap kerja,” jelas Karin.

Aryan terdiam selama beberapa saat, lelaki itu menghembuskan napasnya dan akhirnya berujar, “Karin, aku nggak izinin kamu buat kerja sementara. Kamu bisa bilang ke aku soal kebutuhan kamu, aku akan berusaha untuk penuhin itu.”

Kalimat yang Aryan ucapkan itu sontak membuat Karin menatapnya dengan tatapan tidak percaya. “Kamu punya alasan dari semua ini?” tanya Karin.

“Maksud kamu alasan apa?”

“Alasan atas sikap kamu yang larang aku untuk kerja,” ujar Karin. Melihat keterdiaman Aryan, seketika membuat Karin kembali membuka suaranya, “Kamu nggak punya jawaban itu, Aryan.”

Karin hendak melangkah pergi, ia pikir pembicaraannya dengan Aryan sudah selesai. Namun sebelum Karin melangkahkan kakinya, Aryan telah lebih dulu menahannya.

“Karin, I have the answer. Aku peduli sama anakku, kamu bawa dia sama kamu,” ucap Aryan.

Karin lantas berbalik untuk kembali menatap Aryan. “Aryan, kamu mempermasalahkan hal kecil yang bahkan sebenarnya nggak perlu kamu permasalahkan. Aku juga peduli sama anakku dan aku selalu berusaha lindungin dia, jadiin dia prioritas utamaku.”

Pegangan Aryan di pergelangan tangan Karin pun perlahan-lahan mengendur. Beberapa hari yang lalu, Aryan mendapati Rey mengantar jemput Karin saat perempuan itu pulang malam karena bekerja. Melihat setiap perhatian yang Rey berikan kepada Karin, membuat ego Aryan akhirnya tersentil.

“Aryan, apa ini soal Rey?” tanya Karin dengan nadanya yang terdengar sedikit tidak yakin.

Karin kembali menatap Aryan tepat di matanya, ia berusaha mencari jawaban itu di iris legam Aryan.

“Iya, kamu benar,” ucap Aryan.

Rupanya tembakan Karin tersebut tepat sasaran. Jawaban Aryan dan tatapan dinginnya kini sukses membuat Karin terdiam di tempatnya. Karin tidak menyangka, semua masalah ini dipicu dari satu sumber yang sebenarnya Karin pikir Aryan tidak perlu mengambil pusing soal itu.

Karin mengalihkan tatapannya dari Aryan, ia memejamkan matanya dan tangannya bergerak memijat pangkal hidungnya. “Aryan, kamu cuma menuruti apa kata ego kamu. Kamu nggak benar-benar tulus sama ucapan kamu soal peduli sama anak ini,” ujar Karin.

Semua kalimat yang Karin ucapkan terasa benar. Aryan pun mencermatinya dan berpikir bahwa sikapnya telah merefleksikan egonya terhadap Karin. Aryan menemukan kekecewaan di kedua mata Karin ketika perempuan itu kembali menatapnya.

Karin menghela napasnya, lalu menghembuskannya perlahan. Karin lantas menatap Aryan lekat, “Perlakuan Rey ke aku, semua itu tulus, Aryan. Rey nggak punya niat untuk merebut posisi kamu sebagai ayahnya bayi ini. Aku paham kalau kamu peduli sama anak kamu. Tapi aku mohon, jangan sampai rasa peduli itu membuat kamu bersikap kayak gini.”

“Aku naik ke atas dulu, aku mau istirahat,” sambung Karin sebelum akhirnya melenggang dari hadapan Aryan.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Sore ini Aryan menjemput Karin di apartemen miliknya. Aryan menunggu Karin selesai melakukan shooting untuk video youtube di studio miliknya di bantu oleh Dara dan tim kameramennya. Karin akhirnya mengatakan pada Dara bahwa ia harus pulang bersama Aryan dan ada yang perlu ia dan Aryan bicarakan. Ini urusan rumah tangga, Dara pun bersikap mengerti. Managernya itu membiarkan Karin pergi dan mengatakan bahwa beberapa pekerjaan yang tersisa masih bisa dilakukan besok.

Ketika sampai di apartemen, Karin tidak langsung naik ke kamarnya. Ia dan Aryan memutuskan untuk membicarakannya berdua. Di dalam perjalanan tadi, mereka berusaha terlebih dahulu meredakan emosi, agar bisa mendiskusikannya dengan kepala dingin ketika sampai di apartemen.

Pandangan Karin yang sebelumnya tidak mengarah pada Aryan, kini beralih menatap lelaki jangkung itu. Mereka duduk berhadapan di sofa ruang tamu, Aryan pun berujar lebih dulu, “Karin, aku masih punya tabungan dan gaji dari hasil magang. Aku bisa membiayai rumah tangga, tanpa perlu kamu kerja.”

Aryan telah mengetahui bahwa Karin mengambil beberapa job untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Karin merasa bahwa ia masih sanggup bekerja dan karena ini untuk keperluan pribadinya, ia tidak ingin mengandalkan uang yang Aryan berikan padanya. Sementara Aryan sudah mengatakan bahwa sementara Karin tidak perlu kerja. Karin hanya perlu kuliah dan pulang. Namun Karin tetap bekerja bahkan terkadang sampai larut malam ia baru kembali.

“Aku tau kamu berusaha menuhin kebutuhan rumah tangga. Aku terima kasih sama kamu untuk itu. Tapi untuk kebutuhan pribadi aku, aku nggak mau membebani kamu. Aku ingin tetap kerja,” jelas Karin.

Aryan terdiam selama beberapa saat, lelaki itu menghembuskan napasnya dan akhirnya berujar, “Karin, aku nggak izinin kamu buat kerja sementara. Kamu bisa bilang ke aku soal kebutuhan kamu, aku akan berusaha untuk penuhin itu.”

Kalimat yang Aryan ucapkan itu sontak membuat Karin menatapnya dengan tatapan tidak percaya. “Kamu punya alasan dari semua ini?”

“Maksud kamu alasan apa?”

“Alasan atas sikap kamu yang larang aku untuk kerja,” ujar Karin. Melihat keterdiaman Aryan, seketika membuat Karin kembali membuka suaranya, “Kamu nggak punya jawaban itu, Aryan.”

Karin hendak melangkah pergi, ia pikir pembicaraannya dengan Aryan sudah selesai. Namun sebelum Karin melangkah dari sana, Aryan sudah lebih dulu menahannya.

“Karin, I have the answer. Aku peduli sama anakku, kamu bawa dia sama kamu,” ujar Aryan.

Karin lantas berbalik untuk kembali menatap Aryan. “Aryan, kamu mempermasalahkan hal kecil yang bahkan sebenarnya baik-baik aja.”

Pegangan Aryan di pergelangan tangan Karin pun perlahan-lahan terasa mengendur. Beberapa hari yang lalu, Aryan mendapati Rey mengantar jemput Karin saat perempuan itu pulang malam karena bekerja. Melihat perhatian Rey kepada Karin, itu membuat ego Aryan tersentil.

“Aryan, apa ini soal Rey?” tanya Karin dengan nadanya yang terdengar sedikit tidak yakin.

Karin kembali menatap Aryan di matanya, ia berusaha mencari jawaban itu di iris legam Aryan.

“Iya, kamu benar,” ucap Aryan.

Rupanya tembakan Karin tersebut tepat sasaran. Jawaban Aryan itu dan tatapan dinginnya sukses membuat Karin terdiam di tempatnya. Karin tidak menyangka, semua masalah ini dipicu dari satu sumber yang sebenarnya Karin pikir Aryan tidak perlu mengambil pusing soal itu.

Karin mengalihkan tatapannya dari Aryan, ia memejamkan matanya dan tangannya bergerak memijat pangkal hidungnya. “Aryan, kamu cuma menuruti apa kata ego kamu. Kamu nggak benar-benar tulus sama ucapan kamu soal peduli sama anak ini,” ujar Karin.

Semua kalimat yang Karin ucapkan terasa benar. Aryan pun mencermatinya dan berpikir bahwa sikapnya telah merefleksikan egonya terhadap Karin. Aryan menemukan kekecewaan di kedua mata Karin ketika perempuan itu kembali menatapnya.

Karin menghela napasnya lalu menghembuskannya perlahan. Kemudian Karin menatap Aryan lekat, “Perlakuan Rey ke aku, semua itu tulus, Aryan. Rey nggak punya niat apa-apa untuk merebut posisi kamu sebagai ayahnya bayi ini. Aku paham kalau kamu peduli sama anak kamu. Tapi aku mohon, jangan sampai rasa peduli itu membuat kamu bersikap kayak gini.”

“Aku naik ke atas dulu, aku mau istirahat,” sambung Karin sebelum akhirnya melangkahkan kakinya meninggalkan Aryan.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin sampai di depan pintu apartemennya dan ia langsung membuka pintunya dengan menekan kode pada smart lock. Begitu pintunya terbuka, Karin mendapati sebuah high heels berwarna broken white di rak sepatu. Itu bukan sepatu miliknya, berarti ada seseorang lain di tempat ini. Pandangan Karin lantas tertuju pada sosok yang berada di ruang tamu. Bertemulah tatapannya dengan Shakina. Karin maupun Kina kemudian hanya saling menatap, sampai Kina akhirnya lebih dulu membuka suara, “Aryan lagi mandi, tadi dia ngajak aku ke sini.”

Karin pun hanya mengangguk sekilas. Setelah itu Karin melangkahkan kakinya menuju dapur, ia meletakkan tas belanjaan yang dibawanya di sana. Karin segera merapikan isi belanjaannya, meletakkan beberapa makanan ke lemari dan yang lainnya ke kulkas.

Saat Karin selesai dengan kegiatannya, matanya bertemu dengan Aryan yang baru saja turun dari lantai atas. Aryan telah mengenakan pakaian santainya dan rambutnya tampak setengah basah.

“Karin, maaf aku lupa bilang kalau aku bawa Kina ke sini,” ucap Aryan sambil berjalan menghampiri Karin.

Karin balas menatap Aryan seusia ia merapikan seluruh belanjaannya. “It’s oke, you can do it. Ini apartemen kamu, Aryan,” ujar Karin.

Karin lekas beranjak naik ke kamarnya, sementara Aryan menghampiri Kina di ruang tamu. Rupanya tidak lama berselang, Karin turun lagi ke bawah, tapi yang berbeda kini adalah perempuan itu telah mengganti stelannya dengan pakaian yang lebih santai.

Karin pun melangkah melewati Aryan dan Kina di ruang tamu menuju pintu. Aryan yang melihat itu segera menyusul langkah Karin. “Karin, kamu mau ke mana?” tanya Aryan sebelum tangan Karin meraih gagang pintu.

“Aku mau ke kafe yang ada di lantai bawah,” ujar Karin sembari mengulaskan senyum kecilnya. “Aku nggak mau ganggu kamu sama Kina. Aku pergi dulu.” Setelah mengatakannya, Karin lekas berbalik dari Aryan dan melangkahkan kakinya keluar dari apartemen.

Aryan masih berdiri di tempatnya ketika Kina berjalan menghampirinya. Kina memeluk pinggang Aryan dari belakang, lalu menyandarkan tubuhnya di punggung tegap Aryan.

You know what, Baby? I’m so happy today. Finally, we can spend our time together,” ujar Kina.

Aryan lantas berbalik untuk berhadapan dengan Kina. “Alright,” Aryan mengulaskan senyumnya yang kemudian segera dibalas oleh senyum cantik Kina. “It’s only about us right now,” sambung Aryan.

***

Karin kembali ke apartemen setelah Aryan mengabarinya bahwa Kina sudah tidak ada di sana. Fokus utama Aryan ketika Karin memasuki apartemen adalah sebuah bungkusan plastik yang kini dibawa Karin di tangannya.

Aryan berjalan mendekat pada Karin dan bertanya, “Kamu habis dari mana?”

Karin pun menunjukkan bungkusan di tangannya. “Dari kafe. Terus aku pengen martabak, yaudah aku beli.”

Usai mengatakannya, Karin pun berjalan melewati Aryan. Karin meletakkan bungkusan berisi martabak yang masih bersisa itu di meja makan.

Sebelum melangkah naik ke kamarnya, Karin kembali berbalik pada Aryan, “Kamu bisa bilang ke aku kalau lain kali Kina mau ke sini lagi.”

“Kamu mau pergi kemana lagi?” Aryan malah melempar pertanyaan balik ke karin.

Karin nampak berpikir sejenak. Kemudian tidak lama kemudian, ia kembali berujar, “Aku mau ke apartemenku. Ada kerjaan yang harus aku kerjain sama Dara di sana,” jelas Karin.

Aryan pun akhirnya mengangguki ucapan Karin. Setelah itu Karin segera melangkahkan kakinya menaiki tangga sampai akhirnya punggung itu hilang dari pandangan Aryan.

Sepeninggalan Karin dari hadapannya, Aryan pun didatangi oleh pemikiran yang tiba-tiba saja memenuhi hatinya. Aryan merasa kecil karena Rey yang justru memberikan perhatian tersebut pada Karin dan anaknya. Aryan merasa bahwa seharusnya posisi itu adalah miliknya. Hati Aryan mengatakan demikian, tapi pikiran logisnya masih mencoba untuk menampik hal tersebut. Pikirannya mengatakan bahwa seharusnya Aryan tidak mempermasalahkannya. Saat keinginan dan kebahagiaan Karin terpenuhi, dampak yang positif juga akan terjadi pada bayi di kandungannya. Bukankah memang itu yang selama ini Aryan inginkan?

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷