alyadara

Siang ini Dara mendapati sosok yang beberapa hari lalu telah menjadi sasaran umpatannya. Aryan Sakha, lelaki yang merupakan ayah biologis dari anak yang di kandung sahabatnya, menampakkan dirinya di hadapan Dara yang jelas-jelas nampak sekali ingin membunuhnya.

“Ada kepentingan apa lo ke sini?” tanya Dara dengan nada tidak bersahabatnya.

“Ada hal penting yang perlu gue bicarain sama Karin,” ujar Aryan menjelaskan maksud kedatangannya.

“Gue pikir udah nggak ada lagi yang perlu lo dan Karin bicarain. Kalau lo cuma mau nyakitin Karin, lebih baik lo pergi. Karin nggak butuh kehadiran lo.”

“Dara, tolong izinin gue buat ketemu sama Karin. Sekarang gue sama Karin punya anak, kita punya tanggung jawab bersama,” ujar Aryan tampak tidak ingin menyerah begitu saja.

“Dari awal lo sendiri yang nolak anak itu dan nyuruh Karin buat gugurin. Apa itu bisa disebut sebagai tanggung jawab bersama?” ucap Dara terang-terangan.

Aryan kehilangan kata-katanya. Apa yang diucapkan Dara memang benar apa adanya dan ia pun mengakui itu.

“Gue minta maaf dan gue nyesal karena pernah minta Karin menggugurkan anak itu,” ungkap Aryan.

Dara pun berusaha mencari penyesalan dari mata Aryan dan nyatanya ia menemukan itu di sana. Rupanya lelaki di hadapannya ini sungguh menyesal dan bertekad kuat untuk mendapat izin darinya agar bisa bertemu dengan Karin.

Dara pun menghela napasnya, “Oke. Gue izinin lo buat ketemu sama Karin.” Dara menggeser tubuhnya dan membuka pintu apartemen lebih lebar, “Lo bisa ngomong sama Karin berdua, gue akan kasih lo waktu. Tapi satu hal yang lo harus tau. Kalau lo nyakitin Karin lagi, gue pastiin lo dapat hukuman atas perbuatan itu.”

***

Sesuai yang diperintahkan oleh dokter, Karin harus menjalani bed rest selama 1 minggu sepulangnya ia dari rumah sakit. Ini terhitung hari pertama bagi Karin dan kegiatannya di apartemen hanya makan, mandi, dan tidur.

Dara memberi waktu pada Aryan dan Karin untuk bicara berdua. Dara pun mengerti, bahwa bagaimanapun kini Karin dan Aryan memiliki tanggung jawab yang harus diemban bersama. Keduanya perlu menyelesaikannya dengan cara berkomunikasi, bukannya menutup mata dan lari begitu saja.

Karin melihat Aryan mengambil kursi untuk duduk di samping tempat tidurnya. Karin pun duduk di kasurnya, ia menyandarkan punggungnya ke header kasur.

Aryan menatap Karin sesaat sebelum lelaki itu berujar, “Karin, aku mau jelasin soal apa yang dibilang dokter tentang kandungan kamu.”

Karin balas menatap Aryan. Aryan dapat menangkap kekhawatiran yang terpancar begitu jelas dari kedua mata bulat Karin.

“Bayinya saat ini baik-baik aja, tapi dokter bilang, kondisi kandungan kamu lemah,” ucap Aryan dengan suara pelannya. Tenggorokan Aryan terasa kering kala mengucapkan kata demi kata yang menjelaskan kondisi calon anaknya. Aryan pun mendapati ekspresi terluka yang tergambar dari paras pucat Karin. Fakta ini merupakan tamparan yang cukup keras, baik bagi Karin maupun bagi Aryan.

“Karin, aku minta maaf. Maaf karena pernah minta kamu untuk gugurin kandungan,” ungkap Aryan. Karin pun memerhatikan ekspresi Aryan, ia mendapat sebuah penyesalan dan luka yang begitu dalam dari sana.

Aryan menghembuskan napas beratnya, “Aku sadar akhirnya kalau aku menyayangi anak kita. Aku nggak ingin kehilangan dia.”

Karin hanya terdiam dan seperti tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.

“Aku akan bertanggung jawab atas kamu dan anak ini,” ujar Aryan lagi.

Mendengar kenyataan mengenai kondisi kandungannya, membuat Karin tidak dapat berpikir jernih. Kini ia hanya memikirkan keselamatan anaknya dan bagaimana ia bisa mengandungnya sampai melahirkannya ke dunia.

“Maksud kamu tanggung jawab dalam bentuk apa?” tanya Karin.

“Aku akan menikahi kamu.”

Kalimat yang baru saja Aryan lontarkan, seketika terdengar seperti suara petir di siang bolong bagi Karin.

Karin lantas melayangkan tatapan bertanyanya pada Aryan, “Kamu berpikir nikah semudah itu?”

Aryan berdeham, “Itu mudah, Karin. Kita cuma menikah karena anak. Aku akan tetap berhubungan dengan Shakina setelah kita menikah.”

Karin berusaha mengontrol emosi yang kini mencoba menguasai dirinya. Perempuan itu menghela napasnya, hembusannya pun terdengar berat, “Oke, itu gampang. Aku juga ingin tetap berhubungan sama Rey selama kita menikah. Gimana?” ungkap Karin.

Aryan pun menatap Karin sesaat, lelaki itu pun mengangguk, “Kamu bisa melakukannya. Setelah anak kita lahir, kita akan berpisah. Aku akan tetap memenuhi semua kebutuhan anak kita, sampai nanti dia besar. Apapun keputusan hak asuh anak, aku akan terima. Ada syarat yang kira-kira mau kamu ajukan ke aku?”

Karin terlihat memikirkan kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Aryan. Karin pun mempertimbangkan keputusan yang harus ia ambil. Saat ini bagi Karin yang terpenting adalah anaknya. Ia akan mengesampingkan prioritas dirinya terlebih dulu, anaknya adalah kepentingan utamanya.

Karin berpikir bahwa selama ia tidak akan mencintai Aryan, maka dirinya tidak akan menyesal jika suatu saat mereka harus berpisah. Toh anaknya tetap akan mendapat kasih sayang yang penuh darinya maupun dari Aryan. Meskipun rasanya tetap akan berbeda untuk seorang anak ketika memiliki orang tua yang tidak bersama.

“Aku mau mengajukan satu syarat ke kamu sebelum menyetujui kesepakatan ini,” ucap Karin.

“Tentu. Kamu bisa ajukan itu.”

“Aku mau hanya kita dan pasangan kita yang tau soal kesepakatannya. Kita bisa berhubungan dengan pasangan kita selama itu tidak diketahui oleh keluargaku maupun keluarga kamu. Keluarga kita hanya tau kita menikah dan berpisah karena masalah ketidakcocokan. Kamu paham kan, maksudku?”

Aryan segera mengangguk, “Iya, aku paham. Aku akan urus semuanya dan kamu tinggal terima beres.”

“Oke. Ada syarat yang mau kamu ajuin ke aku?” tanya Karin.

“Misalnya hak asuhnya jatuh ke tangan kamu, aku mau aku tetap bisa ketemu sama anakku kapan aja,” jawab Aryan.

Karin pun menyetujui syarat yang diajukan oleh Aryan. “Kamu tenang aja. Kamu bisa ketemu dia kapan pun yang kamu mau. Aku nggak akan larang anakku untuk ketemu sama ayah kandungnya.”

“Terima kasih, Karin.” Sebelum pamit dari sana, Aryan kembali pada Karin dan mengatakan sesuatu soal pernikahan mereka.

“Setelah masa bed rest kamu selesai, kita akan ke dokter untuk pastikan kondisi kamu dan bayinya. Kalau dokter bilang oke, kita bisa segera menikah.”

Sure.”

Setelah ucapan Karin itu, Aryan pun pamit untuk pergi. Tidak lama berselang dari kepergian Aryan, Dara menemui Karin di kamarnya. Dara memutuskan tidak menanyai Karin soal apa yang Karin bicarakan dengan Aryan.

“Lo istirahat aja. Kalau lo butuh apa-apa, panggil gue. Gue ada di ruang kerja.”

Karin mengangguk, “Makasih ya, Dar.”

Dara pun melangkah menjauhi Karin. Sebelum menutup pintu kamar, Dara mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur berwarna kuning temaram.

Setelah Dara menghilang di balik pintu, Karin bergerak menaikkan selimut untuk menutupi hampir seluruh tubuhnya. Di bawah selimut tebal itu, Karin kembali memikirkan kesepakatannya dengan Aryan.

Karin berusaha untuk tidak memikirkan itu, ia tidak ingin stressnya bisa berdampak pada bayi di kandungannya. Sebelum benar-benar terjun ke alam mimpinya, sebuah pemikiran kembali terlintas di benak Karin. Pemikiran yang lebih mirip pertanyaan yang diajukan untuk dirinya sendiri.

Apakah Karin bisa menjamin kalau dirinya tidak akan mencintai Aryan? Pikirannya berseru bahwa seharusnya itu mudah saja bagi Karin. Ia dan Aryan seperti dua kutub yang sangat berbeda. Karin telah memiliki Rey, begitu pun Aryan yang sudah bersama dengan Shakina. Namun tiba-tiba hati Karin mengatakan sebuah kalimat yang bertolak belakang dengan pikiran logisnya. Dari banyaknya waktu yang akan ia lalui bersama Aryan, sekitar 9 bulan lamanya, terdapat 1 dari jutaan kemungkinan untuknya bisa jatuh cinta terhadap Aryan.

Karin segera menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pemikiran itu dari kepalanya. Karin pun lantas memanjatkan doa dalam hati, sembari memejamkan kedua matanya. Karin ingin meski hanya 1 dari jutaan kemungkinan yang ada, tidak ada satu pun yang akan berpihak padanya dan Aryan. Karin sungguh berharap bahwa Tuhan bersedia mengabulkan doanya yang satu ini.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dokter yang menangani Karin. Selama kurang lebih 30 menit, dokter Fadly menjelaskan pada Aryan soal kondisi Karin dan bayi yang ada di kandungannya.

Berbagai pilihan pun kini berkecamuk di dalam pikiran Aryan. Ia dihadapkan pada kondisi dimana dirinya harus mengambil keputusan. Dokter menjelaskan bahwa kondisi kandungan Karin saat ini sangat lemah. Faktor stress yang dialami oleh Karin dan karena ini merupakan kehamilan pertama, membuat kandungannya menjadi rentan. Di usia kehamilan muda, seorang perempuan harus benar-benar mendapat perhatian dari orang-orang terdekatnya dan peran ayah si bayi merupakan salah satu yang paling penting.

Aryan memikirkan semuanya salama dalam perjalanannya. Jalanan kota Jakarta malam ini terlihat cukup lengang. Aryan memanuver mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, guna melampiaskan pikiran kalut yang kini berkecamuk di kepalanya.

Aryan pun teringat kata-kata yang tadi sempat diucapkan oleh Leon padanya. Tidak ada yang tahu apa yang mungkin dapat hilang darinya, jika Aryan tidak segera membuat keputusan. Penyesalan akan selalu datang di akhir dan ketika itu terjadi, tidak ada seorang pun yang dapat mengubahnya.

***

Shakina langsung menorehkan senyumnya ketika mendapati Aryan kembali datang ke apartemennya. Shakina meraih satu tangan Aryan, ia menggenggamnya dan mengajak Aryan untuk masuk ke dalam.

“Kamu tadi kemana? Kok tiba-tiba aku ditinggal?” tanya Kina. Sesampainya mereka di sofa yang terletak di ruang tamu, Kina menyandarkan kepalanya di lengan Aryan. Kina nampak nyaman ketika indera penciumannya menghirup parfum khas Aryan yang menguar dari torso lelaki itu.

“Maaf ya aku ninggalin kamu tiba-tiba. Tadi aku habis dari rumah sakit,” ucap Aryan. Mendengar kalimat Aryan, Kina pun mendongakkan wajahnya untuk menatap kekasihnya.

“Siapa yang sakit, Sayang? Mama kamu udah baik-baik aja, right?” tanya Kina nampak khawatir.

“Bukan mama, tapi Karin.”

Selama beberapa detik, Kina pun hanya terdiam setelah mendengar jawaban Aryan.

Kina menatap Aryan dengan tatapan tidak percayanya, “Aku nggak salah dengar, kan? Kamu ... peduli sama dia?”

“Tadi Karin pendarahan. Ini bukan tentang Karin. Ini tentang anak aku, Kina,” Aryan mencoba menjelaskan situasi yang tengah terjadi.

Kina pun menggelengkan kepalanya, tatapannya pada Aryan kini mengatakan bahwa Aryan telah melukai hatinya.

“Kina, kamu paham, kan? Sekarang aku dan Karin punya anak. Aku nggak bisa menutup mata saat ada kejadian yang menimpa Karin,” jelas Aryan.

Kina lantas menghela napasnya dan menghembuskannya, “Alright. Aku akan coba untuk ngerti. Aryan, aku minta maaf. Tadi aku nggak bermaksud kayak gitu. Aku cuma takut kalau nanti kamu akan ninggalin aku.”

Aryan menggelengkan kepalanya, lalu mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut pipi Kina, “Hey, kamu ngomong apa sih? Aku nggak akan ninggalin kamu, Sayang.”

You promise that?”

Aryan menatap Kina lembut, “Yes, I promise.”

Kina lantas mengulaskan senyumnya mendengar jawaban Aryan. Dengan satu gerakan, Kina lantas menjatuhkan dirinya ke dekapan Aryan. Tangannya melingkar di pinggang Aryan dan lelaki itu balas mendekap tubuh ramping Kina menggunakan kedua lengannya.

I love you,” ujar Kina di tengah-tengah pelukan mereka.

Aryan perlahan-lahan mengurai pelukannya, ia menangkup wajah Kina menggunakan kedua tangannya, “Aku juga sayang kamu,” tutur Aryan. Aryan menatap Kina lekat, sorot matanya memancarkan afeksi yang begitu mendalam untuk perempuan itu.

Detik berikutnya, Kina bergerak memangkas jaraknya dengan Aryan. Aryan seketika dapat merasakan hembusan napas hangat Kina di dekat wajahnya. Mereka pun semakin dekat hingga Kina lebih dulu memberikan kecupan di bibir Aryan. Kina mencium Aryan dengan tempo yang pelan. Aryan pun mulai membalas kecupan Kina, pergerakannya tidak terkesan buru-buru, tapi berangsur-angsur semakin terasa intens. Tidak sampai lima menit cumbuan panas itu, Aryan pun mengurainya lebih dulu, membuat kelopak mata Kina sontak melebar.

“Kina, ada yang harus aku sampaikan ke kamu,” ujar Aryan.

Oke, just tell me. What happened?”

“Aku udah buat keputusan, aku akan menikah dengan Karin,” ucap Aryan apa adanya.

“Aryan, kamu jangan becanda.”

“Aku serius, Kina. Aku minta maaf sama kamu. Aku akan tetap menikahi Karin.”

Sorot mata Kina sontak berubah ketika menatap Aryan. Aryan tahu kekasihnya akan tersakiti dengan keputusannya ini, tapi Aryan tidak memiliki pilihan lain.

“Aku sayang sama anak aku. Aku nggak mau suatu hari menyesal karena harus kehilangan dia,” ungkap Aryan.

But you hurted me, you know that?”

“Aku tau akan ada yang tersakiti dengan keputusan ini,” ujar Aryan.

“Kamu baru aja mengingkari janji kamu, Aryan. Kamu bilang kamu nggak akan ninggalin aku, tapi kamu mau nikahin dia,” ujar Kina dengan suara paraunya.

Aryan pun bungkam. Pikirannya kini semakin terasa berantakan dan ia seperti tidak dapat menemui titik terang dari semua masalahnya.

Air mata pun terlihat mengalir membasahi kedua pipi Kina. “Aku nggak mau kehilangan kamu, Aryan. Aku nggak bisa. Aku cinta sama kamu,” ujar Kina.

Setelah beberapa saat, Kina akhirnya berhasil meredakan isak tangisnya. Kina menatap Aryan dalam-dalam, “Kamu menikah sama Karin tanpa rasa cinta. Kamu yakin kamu bisa menjalani pernikahan itu?”

“Kalau kamu nikah cuma karena anak, berarti kamu punya pilihan. Kamu bisa ajukan win win solution ke Karin.”

“Maksud kamu?” tanya Aryan.

Kina lantas mengedikkan kedua bahunya, “Maksud aku, selama kamu nggak akan jatuh cinta dengan Karin, kamu bisa aja mengajukan solusi itu. Setelah anak kalian lahir, kamu dan Karin bisa berpisah. Kamu tetap bisa ketemu sama anak kamu, walaupun nanti hak asuhnya jatuh ke tangan Karin. Gimana?”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dokter yang menangani Karin. Selama kurang lebih 30 menit, dokter Fadly menjelaskan pada Aryan soal kondisi Karin dan bayi yang ada di kandungannya.

Berbagai pilihan pun kini berkecamuk di dalam pikiran Aryan. Ia dihadapkan pada kondisi dimana dirinya harus mengambil keputusan. Dokter menjelaskan bahwa kondisi kandungan Karin saat ini sangat lemah. Faktor stress yang dialami oleh Karin dan karena ini merupakan kehamilan pertama, membuat kandungannya menjadi rentan. Di usia kehamilan muda, seorang perempuan harus benar-benar mendapat perhatian dari orang-orang terdekatnya dan peran ayah si bayi merupakan salah satu yang paling penting.

Aryan memikirkan semuanya salama dalam perjalanannya. Jalanan kota Jakarta malam ini terlihat cukup lengang. Aryan memanuver mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, guna melampiaskan pikiran kalut yang kini berkecamuk di kepalanya.

Aryan pun teringat kata-kata yang tadi sempat diucapkan oleh Leon padanya. Tidak ada yang tahu apa yang mungkin dapat hilang darinya, jika Aryan tidak segera membuat keputusan. Penyesalan akan selalu datang di akhir dan ketika itu terjadi, tidak ada seorang pun yang dapat mengubahnya.

***

Shakina langsung menorehkan senyumnya ketika mendapati Aryan kembali datang ke apartemennya. Shakina meraih satu tangan Aryan, ia menggenggamnya dan mengajak Aryan untuk masuk ke dalam.

“Kamu tadi kemana? Kok tiba-tiba aku ditinggal?” tanya Kina. Sesampainya mereka di sofa yang terletak di ruang tamu, Kina menyandarkan kepalanya di lengan Aryan. Kina nampak nyaman ketika indera penciumannya menghirup parfum khas Aryan yang menguar dari torso lelaki itu.

“Maaf ya aku ninggalin kamu tiba-tiba. Tadi aku habis dari rumah sakit,” ucap Aryan. Mendengar kalimat Aryan, Kina pun mendongakkan wajahnya untuk menatap kekasihnya.

“Siapa yang sakit, Sayang? Mama kamu udah baik-baik aja, right?” tanya Kina nampak khawatir.

“Bukan mama, tapi Karin.”

Selama beberapa detik, Kina pun hanya terdiam setelah mendengar jawaban Aryan.

Kina menatap Aryan dengan tatapan tidak percayanya, “Aku nggak salah dengar, kan? Kamu ... peduli sama dia?”

“Tadi Karin pendarahan. Ini bukan tentang Karin. Ini tentang anak aku, Kina,” Aryan mencoba menjelaskan situasi yang tengah terjadi.

Kina pun menggelengkan kepalanya, tatapannya pada Aryan kini mengatakan bahwa Aryan telah melukai hatinya.

“Kina, kamu paham, kan? Sekarang aku dan Karin punya anak. Aku nggak bisa menutup mata saat ada kejadian yang menimpa Karin,” jelas Aryan.

Kina lantas menghela napasnya dan menghembuskannya, “Alright. Aku akan coba untuk ngerti. Aryan, aku minta maaf. Tadi aku nggak bermaksud kayak gitu. Aku cuma takut kalau nanti kamu akan ninggalin aku.”

Aryan menggelengkan kepalanya, lalu mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut pipi Kina, “Hey, kamu ngomong apa sih? Aku nggak akan ninggalin kamu, Sayang.”

You promise that?”

Aryan menatap Kina lembut, “Yes, I promise.”

Kina lantas mengulaskan senyumnya mendengar jawaban Aryan. Dengan satu gerakan, Kina lantas menjatuhkan dirinya ke dekapan Aryan. Tangannya melingkar di pinggang Aryan dan lelaki itu balas mendekap tubuh ramping Kina menggunakan kedua lengannya.

I love you,” ujar Kina di tengah-tengah pelukan mereka.

Aryan perlahan-lahan mengurai pelukannya, ia menangkup wajah Kina menggunakan kedua tangannya, “Aku juga sayang kamu,” tutur Aryan. Aryan menatap Kina lekat, sorot matanya memancarkan afeksi yang begitu mendalam untuk perempuan itu.

Detik berikutnya, Kina bergerak memangkas jaraknya dengan Aryan. Aryan seketika dapat merasakan hembusan napas hangat Kina di dekat wajahnya. Mereka pun semakin dekat hingga Kina lebih dulu memberikan kecupan di bibir Aryan. Kina mencium Aryan dengan tempo yang pelan. Aryan pun mulai membalas kecupan Kina, pergerakannya tidak terkesan buru-buru, tapi berangsur-angsur semakin terasa intens. Tidak sampai lima menit cumbuan panas itu, Aryan pun mengurainya lebih dulu, membuat kelopak mata Kina sontak melebar.

“Kina, ada yang harus aku sampaikan ke kamu,” ujar Aryan.

Oke, just tell me. What happened?”

“Aku udah buat keputusan, aku akan menikah dengan Karin,” ucap Aryan apa adanya.

“Aryan, kamu jangan becanda.”

“Aku serius, Kina. Aku minta maaf sama kamu. Aku akan tetap menikahi Karin.”

Sorot mata Kina sontak berubah ketika menatap Aryan. Aryan tahu kekasihnya akan tersakiti dengan keputusannya ini, tapi Aryan tidak memiliki pilihan lain.

“Aku sayang sama anak aku. Aku nggak mau suatu hari menyesal karena harus kehilangan dia,” ungkap Aryan.

But you hurted me, you know that?”

“Aku tau akan ada yang tersakiti dengan keputusan ini,” ujar Aryan.

“Kamu baru aja mengingkari janji kamu, Aryan. Kamu bilang kamu nggak akan ninggalin aku, tapi kamu mau nikahin dia,” ujar Kina dengan suara paraunya.

Aryan pun bungkam. Pikirannya kini semakin terasa berantakan dan ia seperti tidak dapat menemui titik terang dari semua masalahnya.

Air mata pun terlihat mengalir membasahi kedua pipi Kina. “Aku nggak mau kehilangan kamu, Aryan. Aku nggak bisa. Aku cinta sama kamu,” ujar Kina.

Setelah beberapa saat, Kina akhirnya berhasil meredakan isak tangisnya. Kina menatap Aryan dalam-dalam, “Kamu menikah sama Karin tanpa rasa cinta. Kamu yakin kamu bisa menjalani pernikahan itu?”

“Kalau kamu nikah cuma karena anak, berarti kamu punya pilihan. Kamu bisa ajukan win win solution ke Karin.”

“Maksud kamu?” tanya Aryan.

Kina lantas mengedikkan kedua bahunya, “Maksud aku, selama kamu nggak akan jatuh cinta dengan Karin, kamu bisa aja mengajukan solusi itu. Setelah anak kalian lahir, kamu dan Karin bisa berpisah. Kamu tetap bisa ketemu sama anak kamu, walaupun nanti hak asuhnya jatuh ke tangan Karin. Gimana?”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan menemukan Nayna dan Leon ketika ia sampai di depan ruang rawat. Leon mengatakan bahwa ia sudah mengabari Syerin, kakaknya Karin. Namun Syerin sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaannya. Jadi Syerin meminta Mbak Fitri, asistennya, untuk membantu menjaga Karin selama berada di rumah sakit.

“Ko, gue udah telfon papa sama mama. Mereka dalam perjalanan ke sini,” ujar Nayna pada Aryan.

Leon melihat Aryan hanya terdiam, lantas ia mendekatinya, “Aryan, lo boleh masuk untuk lihat kondisinya Karin.” Mendapati sahabatnya tampak kalut, Leon pun menyusul langkah Aryan menuju kursi panjang di depan ruang rawat. Leon ikut duduk di samping Aryan, kemudian lelaki itu menepuk pelan pundak sahabatnya.

“Lo masuk dulu sana, Karin dan anaknya butuh lo,” saran Leon. Aryan lantas mengangkat wajahnya yang sebelumnya tertunduk dan ia menatap ke arah Leon.

Leon dapat melihat penyesalan yang sangat dalam dari sorot mata Aryan. Leon menghela napasnya dan menghembuskannya, “It's oke to ruin something. We always made a mess, Bro. Tapi lo harus tau apa yang lebih penting selanjutnya. Lo jangan terlalu larut sama penyesalan. Penyesalan cuma akan bikin kehilangan lebih banyak dan lo nggak akan tau kapan itu terjadi.”

***

Ketika Aryan memasuki ruang rawat Karin, ia mendapati Karin masih memejamkan matanya. Sebelum Aryan datang, Karin berada di ruang UGD dan tengah berjuang menghadapi rasa sakit untuk mempertahankan bayi di kandungannya. Saat ini Karin sudah dipindahkan ke ruang rawat dan keadaannya akan rutin dipantau oleh dokter maupun perawat.

Karin di Rawat

Aryan menarik kursi di samping ranjang Karin dan duduk di sana. Ia melayangkan tatapannya pada paras tertidur Karin. Seperti yang di katakan oleh Leon, saat ini Aryan merasa sangat bersalah dan menyesal. Perbuatannya terhadap Karin tempo hari hampir saja mengakibatkan keduanya kehilangan calon anak mereka.

Beberapa jam yang lalu, Karin yang harus merasakan rasa sakit itu. Kini giliran Aryan yang merasakannya. Jantungnya seperti mendapat pukulan yang kuat hingga membuat dadanya terasa begitu sesak. Aryan pun sadar bahwa ia begitu menyayangi calon anaknya. Ia tidak ingin kehilangan anaknya dan tidak bisa membayangkan bagaimana Karin melalui semuanya sendiri.

Di tengah-tengah pikiran kacau Aryan, perlahan-lahan Karin mulai membuka kelopak matanya. Karin nampak sedikit terkejut mendapati keberadaan Aryan di sampingnya.

Karin pun mengalihkan tatapannya dari Aryan ke arah lain. Rasanya hati Karin rasanya begitu sakit saat melihat Aryan, ia berusaha menahan agar tangisnya tidak pecah.

Beberapa saat kemudian, Karin akhirnya membuka suaranya. Karin bertanya dengan nada dinginnya, “Gimana kondisi bayinya?” Karin berusaha menatap Aryan, meskipun itu terasa sulit, tapi ia tidak ingin ego lebih menguasai dirinya.

“Aku belum ngomong sama dokternya untuk tau detailnya. Tapi dia ... maksud aku, bayinya baik-baik aja,” jelas Aryan, nada suaranya sedikit bergetar dan tutur katanya berantakan.

Tidak lama setelah percakapan singkat Aryan dan Karin, terdengar ketukan di pintu sebanyak dua kali. Aryan pun bergegas untuk membuka pintunya dan mendapati papa dan mamanya berada di sana.

Mamanya melemparkan tatapan khawatir sekaligus bertanya pada Aryan soal kondisi Karin dan bayinya. Aryan pun menjelaskan bahwa calon anaknya baik-baik saja. Untungnya Karin cepat dibawa ke UGD, kalau tidak, mungkin mereka sudah kehilangan nyawa kecil itu.

Setelah lega mendengar penurutan Aryan, mamanya pun segera menemui Karin. Tiara mendapati perempuan yang tengah mengandung cucunya itu nampak sedikit canggung ketika melihatnya di pertemuan pertama mereka.

“Karin, maaf ya. Tante baru sempat menemui kamu,” ujar Tiara sembari menatap Karin. Tatapan lembut dan keibuannya itu perlahan membuat Karin merasa nyaman dan tidak terlalu canggung lagi.

“Nggak papa, Tante,” balas Karin sambil menyunggingkan senyum kecilnya.

Aryan mengarahkan tatapannya pada papanya sebelum berujar, “Pah, Aryan boleh minta tolong sesuatu sama Papa?”

Karin memperhatikan interaksi antara Aryan dan papanya. Terlihat dari tatapan pria kisaran usia 40 tahunan itu, ada kekecewaan yang begitu jelas terpancar. Namun bagaimana pun, seorang ayah tetap menjadi tempat bersandar dan meminta pertolongan bagi anak lelakinya.

“Kamu mau minta tolong apa?” tanya Aryo pada Aryan beberapa detik kemudian.

“Sekarang di lobi banyak media sama wartawan. Mereka berusaha masuk untuk dapat bahan berita soal Karin. Aryan boleh minta tolong sama Papa untuk ngirim bodyguard kesini? Untuk jaga-jaga kalau terjadi sesuatu yang nggak diinginkan,” jelas Aryan.

Selesai Aryan dengan penjelasannya, papanya itu pun segera menganggukinya. “Oke. Papa akan bantu kamu,” putus Aryo.

“Terima kasih, Pah.” Dari tatapan mata Aryan, nampak sebuah kebahagiaan kecil di sana. Rupanya papanya masih begitu peduli, pikirnya. Meskipun mungkin ini bukan ditujukan langsung untuknya, tapi terlihat jelas bahwa rasa sayang seorang ayah terhadap anaknya tidak mudah untuk dihilangkan begitu saja.

***

Tidak lama setelah kedua orang tua Aryan dan adiknya perempuannya pamit pulang, Karin mendapati Rey datang ke ruang rawatnya. Rey tadinya ingin menginap untuk menjaga Karin, tapi Karin mengatakan bahwa lelaki itu tidak perlu menginap. Mbak Fitri akan menemaninya selama Karin di rawat dan itu cukup baginya.

Aryan masih berada di sana saat Rey datang. Jadi ketika dokter dan perawat melakukan visit ke ruangannya, dokter lelaki itu sempat melemparkan tatapan bingung dan akhirnya bertanya kepada Aryan dan Rey. “Siapa di antara kalian yang merupakan ayah dari bayinya?” tanya dokter itu.

Spontan Aryan dan Rey pun saling melempar pandangan. Situasinya sempat sedikit canggung. Karin pun hendak menjawab, tapi rupanya Aryan lebih dulu membuka suaranya, “Saya, Dok. Saya ayah dari bayinya,” ucap Aryan.

“Oke kalau begitu, silakan Bapak ke ruangan saya ya. Ada yang perlu saya sampaikan terkait kondisi ibu dan bayinya,” tutur dokter itu lalu melenggang dari ruang rawat Karin.

Aryan melihat ke arah Karin sekilas, sebelum akhirnya lelaki itu melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Di tengah kehamilan mudanya, Karin tetap ingin berjuang untuk mendapat penghasilan. Karin memutuskan untuk mengambil job photoshoot dengan sebuah clothing line dan bekerja sama dengan brand fashion ternama untuk mempromosikan produk akhir tahun mereka. Beberapa merek masih memberikan kepercayaannya pada Karin dan ingin bekerja dengannya.

Saat ini Karin sedang berada di ruang ganti bersama dua orang stylist yang membantunya untuk mengganti pakaian. Karin masih ada pemotretan untuk beberapa pasang baju lagi. Sekitar 15 menit kemudian, Karin pun selesai memakai outfit-nya dan mendapatkan sedikit touch-up makeup di wajahnya.

Saat Karin menunggu gilirannya untuk difoto, ia mendapati Naya dan Jihan datang ke lokasi pemotretannya. Kedua sahabatnya itu sengaja datang ke studio untuk mengiriminya makanan dan minuman kesukaan Karin.

“Nih, gue bawain red velvet union kesukaan lo. Habisin yaa, biar bumil sama debaynya makin happy,” ujar Jihan sembari meletakkan sebuah bungkusan kue di meja yang ada di dekat Karin.

“Makasih Jihan,” balas Karin sambil mengulaskan senyumnya ke arah Jihan.

Naya pun ikut meletakkan dua buah minuman kesukaan Karin, yakni minuman mango frappe with jelly dan chocolate mousse yang merupakan minuman favorit Karin.

“Rin, lo habis ini masih ada kerjaan atau langsung balik?” tanya Naya.

“Ini yang terakhir. Habis ini gue langsung balik kok,” jawab Karin.

Naya pun menganggukkan kepalanya. “Nice. Lo jangan kecapean dulu ya, Rin. Gue sama Jihan tungguin lo sampai beres, nanti kita anter lo balik ke apart.”

“Gue balik sama Dara pakai supir kok nanti. Kalian nggak perlu repot-repot,” ucap Karin seraya menatap sungkan kepada dua sahabatnya.

Naya dan Jihan memang sudah mengetahui soal apa yang terjadi. Karin pun paham sahabatnya sangat peduli kepadanya. Namun Karin tidak enak hati jika dirinya hanya terus menjadi beban untuk keduanya.

***

Sekitar dua puluh menit yang lalu, Karin telah selesai dengan photoshoot-nya. Kini ia dalam perjalanan pulang bersama Dara. Karin tengah menikmati minuman coklat yang diberikan oleh Naya. Sebuah senyum pun terlukis di wajah Karin. Dara yang mendapati aksi Karin itu ikut menyunggingkan senyumnya. Hatinya tersentuh melihat Karin bahagia meskipun hanya melalui hal yang sederhana.

Karin menoleh pada Dara dan bertanya, “Dar, besok gue ada kerjaan nggak?”

“Untuk besok nggak ada. Lo bisa full seharian istirahat di apart,” jelas Dara.

“Oke, thank you ya Dar.”

“Rin,” ujar Dara.

“Iya?”

“Lo yakin lo bisa membesarkan anak lo sendiri?” tanya Dara. Perlahan-lahan netra Dara pun berubah menjadi berkaca-kaca berkat pertanyaannya sendiri. Beberapa minggu ini Dara telah menahan semuanya, ia hanya memperlihatkan sisi kuatnya di hadapan Karin. Padahal yang terjadi sebenarnya, Dara sangat tidak tega melihat kondisi rekan kerja sekaligus sahabatnya itu. Karin harus tetap bekerja disaat perempuan itu tengah mengandung, itu bukanlah suatu hal yang mudah.

“Gue yakin gue bisa,” ujar Karin menjawab pertanyaan Dara.

“Lo bilang keluarganya Aryan nggak akan biarin lo hadapin ini sendiri. Tapi kenyataannya cowok brengsek itu malah nyuruh lo gugurin kandungan gitu aja,” ucap Dara.

“Dari awal di antara gue sama dia, emang cuma kecelakaan, Dar. Dia punya hak untuk nggak menerima anaknya. Tapi sebagai ibunya, gue juga punya hak untuk mengambil keputusan,” Karin menjeda ucapannya, ia menurunkan pandangannya ke arah perutnya, “Gue mau mempertahankan anak ini, gue sayang banget sama dia, Dar.”

***

Karin sampai di apartemennya dan langsung melenggang menuju kamarnya. Hari ini kegiatan yang dijalani Karin terasa cukup melelahkan baginya. Ketika sampai di apartemen, hari pun sudah gelap dan Karin merasa sekujur tubuhnya terasa begitu pegal.

Setelah mengganti pakaiannya dengan sebuah dress tidur bunga-bunga sebatas lutut, Karin melangkahkan kakinya menuju ranjang berukuran queen size yang berada di kamarnya. Karin ingin langsung memejamkan matanya dan berharap ketika bangun nanti, tubuhnya dapat terasa jauh lebih baik. Namun tiba-tiba Karin justru terbayang akan kejadian malam itu. Malam di mana dirinya dan Aryan terjebak di dalam sebuah kamar hotel. Sekelabat bayangan itu mendatangi Karin seperti sebuah kepingan-kepingan puzzle.

Entah kenapa saat Karin mengingatnya kembali, matanya seketika terasa memanas. Hatinya begitu sakit kala mendapati Aryan menolak anaknya. Seharusnya tidak begitu, bukan? Karin tidak perlu memikirkan itu dan hanya perlu memfokuskan perhatian pada bayinya saja.

Karin bergerak bangun dari baringannya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kasur. Karin pun mengusapkan tangannya di perutnya yang masih terasa rata itu, “Hai, anak Mama.” Senyuman lembut Karin seketika terukir di parasnya. “Mama harap suatu hari nanti, kamu baik-baik aja seandainya keluarga kita nggak lengkap. Nggak papa ya Nak, kalau kamu cuma punya Mama di dunia ini.” Karin menghembuskan napasnya dan mengusap ujung matanya, berusaha menahan air mata yang rasanya mendesak untuk kelaur dari pelupuk matanya.

Setelah sekali lagi memberi sebuah usapan lembut di perutnya, Karin pun memutuskan untuk kembali berbaring. Karin mulai mencoba memejamkan mata bersamaan hatinya yang terasa begitu sakit. Namun menit berikutnya, Karin merasakan rasa sakit yang menyerang perutnya telah mengalahkan rasa sakit di hatinya.

“Arghh,” rintih Karin bersamaan dengan sebuah kernyitan yang muncul di keningnya. Karin menggigit bibir bawahnya guna melampiaskan rasa sakit yang kini mendatanginya. Lama-lama rasa nyeri yang mirip seperti menjelang masa haid yang dirasakan Karin terasa semakin intens, hingga mengakibatkan bulir-bulir keringat mulai merembas di kedua pelipisnya. Dengan segala usahanya, Karin pun akhirnya berhasil bangun dari baringannya.

Ketika Karin melihat ke bagian bawahnya, matanya langsung menangkap sebuah cairan kental berwarna merah yang mengalir di pahanya hingga perlahan turun sampai ke betis.

Karin pun berusaha bergerak untuk mengambil ponselnya. Nomor yang ia hubungi pertama adalah nomor Aryan. Bagaimana pun Aryan perlu tahu apa yang terjadi dengan anaknya. Karin tidak ingin menjadi orang tua yang egois dengan hanya memikirkan hatinya yang terluka.

Beberapa kali Karin telah mencoba untuk menghubungi Aryan, tapi tidak ada satu pun panggilannya yang diangkat. Aryan tidak mengangkat telfonnya atau pun membaca pesannya. Karin tidak ingin menyerah terhadap rasa sakit yang itu, ia akan berjuang demi anaknya. Karin pun berusaha menghubungi Nayna dan Leon. Sekitar lima menit kemudian, akhirnya Nayna membalas pesannya dan Leon pun menjawab panggilan telfonnya. Leon mengatakan bahwa dirinya dalam perjalanan menuju apartemen Karin dan berusaha untuk sampai ke sana secepat mungkin.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dara sedang mengecek pesan masuk dari email yang ia khususkan untuk urusan pekerjaan Karin. Kedua mata Dara memindai satu persatu deretan pesan itu, berharap mendapat balasan berupa kabar baik. Namun harapan Dara seketika sirna kala membaca isi balasan itu. Beberapa brand mengajukan pembatalan kontrak untuk bekerja sama dengan Karin. Selain itu, sekitar lebih dari 30 puluh approaching brand untuk endorse yang sebelumnya telah diajukan, batal ketika sampai di tahap dealing.

Dara menghela napasnya sejenak sebelum mengambil ponselnya dan mendial nomor Karin. “Halo Rin,” ucap Dara begitu sambungannya telah terhubung dengan Karin.

Karin yang berada di lokasi yang berbeda dengan managernya itu, dapat langsung menebak kabar apa yang akan Dara sampaikan. Helaan napas berat Dara, seolah sudah dapat menjelaskan semuanya.

“Kita masih punya kesempatan buat approaching sama brand lain. Don't be worry, oke? Nanti malam gue apart lo. Lo lagi craving apa gitu kira-kira? Bilang aja, nanti sekalian gue bawain,” ucap Dara dengan nada ceria khasnya. Dara berusaha untuk membuat keadaan nampak baik-baik saja di mata Karin.

“Dar, gue minta maaf ya. Selama ini lo udah kerja keras untuk karir gue, tapi gue malah bikin semuanya berantakan.”

“Lo ngomong apa sih, Rin. Denger ya,” Dara menjauhkan ponselnya sejenak dari Karin, berusaha menahan isakan kecil yang hampir saja lolos dari bibirnya.

Tidak sampai lima detik berikutnya, Dara kembali berbicara dengan Karin, “Apa pun yang terjadi sama lo, gue akan selalu ada buat lo, Karin. Lo harus inget itu.”

***

Di tempatnya saat ini, Karin baru saja mengakhiri sambungan telfonnya dengan Dara. Karin lekas memasukkan barang-barangnya ke dalam tote bag miliknya. Hari ini Karin telah resmi kehilangan gelar mapres (Mahasiswi Berprestasi) miliknya setelah pihak kampus mengetahui fakta bahwa dirinya hamil di luar nikah. Namun di antara banyak hal berat yang datang kepadanya, Karin berusaha mensyukuri kebaikan yang masih terjadi padanya. Seperti sian ini misalnya, dosennya memberi tahu bahwa tidak ada kelas dan hanya memberikan tugas individu yang dikumpulkan 3 hari lagi. Jadi Karin bisa langsung pulang ke apartemennya dan beristirahat.

Semenjak dirinya mengandung, Karin merasa jadi lebih cepat lelah. Belum lagi mual-mual yang ia alami telah menganggu konsentrasinya selama berada di kelas.

Karin melangkahkan keluar dari lift dan sampai di lobi gedung. Matanya pun segera menangkap sosok Rey yang berjalan ke arahnya. Hari ini Karin dan Rey memang sudah berencana untuk pergi berdua.

“Rey, kita date-nya di apart aku aja ya. Nggak papa, kan?” tanya Karin.

It's oke. Dara ada rencana mau ke apart kamu nggak?”

“Tadi bilangnya sih mau ke apart, tapi agak maleman. Soalnya Dara masih ada kuliah sampai jam 6,” terang Karin.

Alright. Kira-kira malam ini Dara bisa nginep di apart kamu?”

“Masih ada beberapa kerjaan sih di studio. Mungkin Dara mau nginep. Kenapa kamu nyuruh Dara nginep?”

“Buat temenin kamu di apart.”

“Rey, kenapa kita ke parkiran mobil? Kamu biasanya ke kampus bawa motor,” ucap Karin saat baru sadar bahwa dirinya dan Rey tengah berjalan ke arah parkiran mobil.

“Iya, hari ini aku bawa mobil,” ujar Rey. Sesampainya mereka di depan sebuah Honda HRV berwarna putih, Rey segera membukakan pintu penumpang di samping supir dan mempersilakan Karin untuk masuk. Karin pun bergerak untuk masuk ke dalam mobil itu. Setelah Karin duduk di jok mobil, hatinya seketika membatin. Karin pun akhirnya mengerti apa yang sedang coba Rey lakukan untuknya.

***

Rey memperhatikan kedua mata Karin yang kini tampak sayu. “Kamu ngantuk ya?” tanya Rey. Setelah masak dan makan bersama, kegiatan kencan sederhana mereka hari ini dilanjut dengan menonton siaran netflix dari TV di ruang tamu apartemen Karin. Film yang berdurasi 2 jam itu baru saja berakhir dan Rey bergerak menekan tombol off pada remote control.

“Rey,” ujar Karin.

“Ya?”

Karin mengulaskan senyum kecilnya, “I just want to say that I love you.”

Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Karin, lekas membuat Rey memamerkan senyum lebarnya. Rey pun menggerakkan tangannya untuk mengusap kepala Karin. Ia menatap Karin dengan tatapan penuh afeksinya, lembut, dan terasa begitu teduh. Karin hanyut mendapatkan setiap perlakuan yang Rey tujukan padanya.

Karin mengambil tangan Rey, lalu mengenggamnya, “Everything happened and knowing that I still have you in my life after everything happened, made me feel so grateful, Rey.”

“Aku juga bahagia karena aku memiliki kamu, Karin,” balas Rey.

Setelah beberapa detik keduanya hanya saling bertatapan, Rey kini kembali berujar, “Karin, aku mau ngomong sesuatu yang penting sama kamu.”

“Kamu mau bilang apa?” Kini Karin menopang satu sisi wajahnya menggunakan tangan, menatap Rey dalam-dalam. Selama Karin masih menatapnya seperti itu, Rey tahu bahwa Karin sungguh mencintainya.

“Aku mau menikahi kamu,” ucap Rey dengan nada yakinnya.

Tiga detik berlalu dan perkataan Rey itu masih setia membuat Karin terdiam. Karin tidak tahu bagaimana harus menanggapi empat kata yang baru saja Rey ucapkan.

“Rey, kamu becanda—”

Sebelum Karin menyelesaikan kalimatnya, Rey kembali berbicara, “Aku serius, Karin. Aku nggak ingin liat kamu hadapin semuanya sendiri. Aku mau ada di samping kamu.”

Rey pun menjelaskan walau ia bukan ayah biologis dari anak yang dikandung Karin, ia mencintai anak itu dan menganggap anak Karin sebagai bagian yang penting dari dirinya.

“Rey, kamu tau kalau orang tua kamu nggak setuju. Aku nggak ingin kamu melakukan sesuatu yang dilarang sama mereka. Mereka yang udah membesarkan kamu, Rey.” Karin berusaha untuk mengatakannya, meskipun secara bersamaan hatinya ikut terasa sakit.

Rey menggelengkan kepalanya, kemudian ia mengambil kedua tangan Karin. Rey menggenggam tangan Karin sembari menatap perempuan itu dengan tatapan sayangnya. “Karin, aku akan berjuang untuk dapatin restu dari orang tuaku. Aku mau tetap sama kamu dan selalu jagain kamu. Kamu mau kan, nunggu aku buat nikahin kamu?”

Karin menatap Rey sesaat, sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala. Namun tidak bisa dipungkiri oleh Karin bahwa pikirannya mengatakan hal lain yang berbanding terbalik dengan hatinya. Hati dan pikirannya kini terasa tidak sejalan. Kemungkinannya sangatlah kecil baginya dan Rey untuk bisa bersatu dengan kondisinya saat ini. Karin sungguh mencintai Rey dan ingin hidup bersamanya. Namun situasi yang terjadi telah mengakibatkan keadaannya jauh berbeda dari sebelumnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dara sedang mengecek pesan masuk dari email yang ia khususkan untuk urusan pekerjaan Karin. Kedua mata Dara memindai satu persatu deretan pesan itu, berharap mendapat balasan berupa kabar baik. Namun harapan Dara seketika sirna kala membaca isi balasan itu. Beberapa brand mengajukan pembatalan kontrak untuk bekerja sama dengan Karin. Selain itu, sekitar lebih dari 30 puluh approaching brand untuk endorse yang sebelumnya telah diajukan, batal ketika sampai di tahap dealing.

Dara menghela napasnya sejenak sebelum mengambil ponselnya dan mendial nomor Karin. “Halo Rin,” ucap Dara begitu sambungannya telah terhubung dengan Karin.

Karin yang berada di lokasi yang berbeda dengan managernya itu, dapat langsung menebak kabar apa yang akan Dara sampaikan. Helaan napas berat Dara, seolah sudah dapat menjelaskan semuanya.

“Kita masih punya kesempatan buat approaching sama brand lain. Don't be worry, oke? Nanti malam gue apart lo. Lo lagi craving apa gitu kira-kira? Bilang aja, nanti sekalian gue bawain,” ucap Dara dengan nada ceria khasnya. Dara berusaha untuk membuat keadaan nampak baik-baik saja di mata Karin.

“Dar, gue minta maaf ya. Selama ini lo udah kerja keras untuk karir gue, tapi gue malah bikin semuanya berantakan.”

“Lo ngomong apa sih, Rin. Denger ya,” Dara menjauhkan ponselnya sejenak dari Karin, berusaha menahan isakan kecil yang hampir saja lolos dari bibirnya.

Tidak sampai lima detik berikutnya, Dara kembali berbicara dengan Karin, “Apa pun yang terjadi sama lo, gue akan selalu ada buat lo, Karin. Lo harus inget itu.”

***

Di tempatnya saat ini, Karin baru saja mengakhiri sambungan telfonnya dengan Dara. Karin lekas memasukkan barang-barangnya ke dalam tote bag miliknya. Hari ini Karin telah resmi kehilangan gelar mapres (Mahasiswi Berprestasi) miliknya setelah pihak kampus mengetahui fakta bahwa dirinya hamil di luar nikah. Namun di antara banyak hal berat yang datang kepadanya, Karin berusaha mensyukuri kebaikan yang masih terjadi padanya. Seperti sian ini misalnya, dosennya memberi tahu bahwa tidak ada kelas dan hanya memberikan tugas individu yang dikumpulkan 3 hari lagi. Jadi Karin bisa langsung pulang ke apartemennya dan beristirahat.

Semenjak dirinya mengandung, Karin merasa jadi lebih cepat lelah. Belum lagi mual-mual yang ia alami telah menganggu konsentrasinya selama berada di kelas.

Karin melangkahkan keluar dari lift dan sampai di lobi gedung. Matanya pun segera menangkap sosok Rey yang berjalan ke arahnya. Hari ini Karin dan Rey memang sudah berencana untuk pergi berdua.

“Rey, kita date-nya di apart aku aja ya. Nggak papa, kan?” tanya Karin.

It's oke. Dara ada rencana mau ke apart kamu nggak?”

“Tadi bilangnya sih mau ke apart, tapi agak maleman. Soalnya Dara masih ada kuliah sampai jam 6,” terang Karin.

Alright. Kira-kira malam ini Dara bisa nginep di apart kamu?”

“Masih ada beberapa kerjaan sih di studio. Mungkin Dara mau nginep. Kenapa kamu nyuruh Dara nginep?”

“Buat temenin kamu di apart.”

“Rey, kenapa kita ke parkiran mobil? Kamu biasanya ke kampus bawa motor,” ucap Karin saat baru sadar bahwa dirinya dan Rey tengah berjalan ke arah parkiran mobil.

“Iya, hari ini aku bawa mobil,” ujar Rey. Sesampainya mereka di depan sebuah Honda HRV berwarna putih, Rey segera membukakan pintu penumpang di samping supir dan mempersilakan Karin untuk masuk. Karin pun bergerak untuk masuk ke dalam mobil itu. Setelah Karin duduk di jok mobil, hatinya seketika membatin. Karin pun akhirnya mengerti apa yang sedang coba Rey lakukan untuknya.

***

Rey memperhatikan kedua mata Karin yang kini tampak sayu. “Kamu ngantuk ya?” tanya Rey. Setelah masak dan makan bersama, kegiatan kencan sederhana mereka hari ini dilanjut dengan menonton siaran netflix dari TV di ruang tamu apartemen Karin. Film yang berdurasi 2 jam itu baru saja berakhir dan Rey bergerak menekan tombol off pada remote control.

“Rey,” ujar Karin.

“Ya?”

Karin mengulaskan senyum kecilnya, “I just want to say that I love you.”

Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Karin, lekas membuat Rey memamerkan senyum lebarnya. Rey pun menggerakkan tangannya untuk mengusap kepala Karin. Ia menatap Karin dengan tatapan penuh afeksinya, lembut, dan terasa begitu teduh. Karin hanyut mendapatkan setiap perlakuan yang Rey tujukan padanya.

Karin mengambil tangan Rey, lalu mengenggamnya, “Everything happened and knowing that I still have you in my life after everything happened, made me feel so grateful, Rey.”

“Aku juga bahagia karena aku memiliki kamu, Karin,” balas Rey.

Setelah beberapa detik keduanya hanya saling bertatapan, Rey kini kembali berujar, “Karin, aku mau ngomong sesuatu yang penting sama kamu.”

“Kamu mau bilang apa?” Kini Karin menopang satu sisi wajahnya menggunakan tangan, menatap Rey dalam-dalam. Selama Karin masih menatapnya seperti itu, Rey tahu bahwa Karin sungguh mencintainya.

“Aku mau menikahi kamu,” ucap Rey dengan nada yakinnya.

Tiga detik berlalu dan perkataan Rey itu masih setia membuat Karin terdiam. Karin tidak tahu bagaimana harus menanggapi empat kata yang baru saja Rey ucapkan.

“Rey, kamu becanda—”

Sebelum Karin menyelesaikan ucapannya, Rey kembali berbicara, “Aku serius, Karin. Aku nggak ingin liat kamu hadapin semuanya sendiri. Aku mau ada di samping kamu.”

Rey pun menjelaskan walau ia bukan ayah biologis dari anak yang dikandung Karin, ia mencintai anak itu dan menganggap anak Karin sebagai bagian yang penting dari dirinya.

“Rey, kamu tau kalau orang tua kamu nggak setuju. Aku nggak ingin kamu melakukan sesuatu yang dilarang sama mereka. Mereka yang udah membesarkan kamu, Rey.” Karin berusaha untuk mengatakannya, meskipun secara bersamaan hatinya ikut terasa sakit.

Rey menggelengkan kepalanya, kemudian ia mengambil kedua tangan Karin. Rey menggenggam tangan Karin sembari menatap perempuan itu dengan tatapan sayangnya. “Karin, aku akan berjuang untuk dapatin restu dari orang tuaku. Aku mau tetap sama kamu dan selalu jagain kamu. Kamu mau kan, nunggu aku buat nikahin kamu?”

Karin menatap Rey sesaat, sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala. Namun tidak bisa dipungkiri oleh Karin bahwa pikirannya mengatakan hal lain yang berbanding terbalik dengan hatinya. Hati dan pikirannya kini terasa tidak sejalan. Kemungkinannya sangatlah kecil baginya dan Rey untuk bisa bersatu dengan kondisinya saat ini. Karin sungguh mencintai Rey dan ingin hidup bersamanya. Namun situasi yang terjadi telah mengakibatkan keadaannya jauh berbeda dari sebelumnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Koridor lantai 5 gedung perkuliahan itu terlihat ramai oleh lalu lalang orang. Di jam seperti ini, biasanya para mahasiswa dan mahasiswi menggunakan waktu istirahat mereka untuk makan siang. Sama halnya dengan yang akan dilakukan oleh Karin, perempuan itu berniat melangkahkan kakinya keluar kelas untuk mencari makan. Namun ketika sampai di depan kelas, langkahnya seketika terhenti. Karin menangkap sosok fameliar yang berjarak tidak jauh dari posisinya saat ini. Begitu mendapati keberadaan Karin, lelaki bertubuh jangkung itu segera berjalan menghampirinya.

Aryan Sakha

“Karin, tolong izinin aku buat bicara berdua sama kamu,” ucap Aryan ketika dirinya dan Karin telah berhadapan. Setelah kejadian di lapangan tempo hari, di mana akhirnya Aryan mengetahui fakta bahwa Karin tengah mengandung anak lelaki itu, Aryan baru menampakkan lagi batang hidungnya di hadapan Karin. Aryan pun mengatakan pada Karin bahwa kedatangannya karena bermaksud membicarakan soal apa yang saat ini terjadi di antara mereka.

“Oke.” Hanya itu yang terlontar dari bibir Karin setelah Aryan mengajaknya untuk keluar.

Karin pun mengikuti langkah Aryan, berjalan di sisinya. Saat Aryan dan Karin melewati beberapa orang, keduanya tidak dapat mencegah orang-orang untuk tidak melayangkan tatapan ingin tahu ke arah mereka. Fakta yang selama ini publik ketahui adalah Aryan kekasihnya Shakina, sementara Karin adalah kekasih dari Rey. Kini berkat kejadian kejadian di lapangan waktu itu, Aryan dan Karin pun dirumorkan memiliki hubungan di belakang pasangan mereka.

Aryan terlihat tidak peduli akan semua itu dan sama sekali tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun untuk membungkam mulut mereka yang membicarakan itu di balik punggungnya. Aryan berpikir bahwa terkadang kita hanya perlu membiarkan publik untuk menerka-nerka, karena sejatinya tidak semua perlu menjadi bahan konsumsi.

“Karin, kita ngobrolnya sambil makan siang. Kamu mau makan sesuatu?” tanya Aryan pada Karin. Otomatis Karin menghentikan langkahnya dan memberikan atensinya kepada Aryan.

Karin pun mengatakan bahwa ia ingin makan fast food yang berada di dekat gedung fakultas mereka.

“Oke. Kita ke sana,” putus Aryan.

***

Aryan memperhatikan Karin yang sedang menikmati makanannya dan tampak sangat lahap. Lima belas menit berlalu dan ternyata Karin selesai lebih dulu dibandingkan dengan Aryan. Jadi sekarang giliran Karin yang menonton Aryan menghabiskan makanannya.

Tidak lama berselang, Aryan akhirnya selesai dengan makanannya. Lelaki itu meneguk minumannya lebih dulu, lalu mengatakan pada Karin bahwa ia akan memulai pembicaraannya.

Karin merapikan piring bekas makannya sekaligus piring milik Aryan. Karin menggeser itu untuk menjauh, sebelum akhirnya Aryan membuka suaranya.

“Karin, kamu tau kalau ini nggak mudah buat kamu,” ucap Aryan sambil menatap ke arah iris legam Karin. “Aku ingin nawarin kamu solusi yang terbaik untuk kita berdua,” ujar Aryan lagi.

“Maksud kamu solusi apa?” tanya Karin yang belum dapat sepenuhnya memahami maksud Aryan.

“Kita masih terlalu muda untuk jadi orang tua, Karin. Kamu paham itu, kan?” tutur Aryan.

Karin akhirnya mengerti maksud dari kalimat yang Aryan lontarkan kepadanya. Karin menatap Aryan lekat, “Nggak papa kalau kamu nggak menginginkan anak ini, tapi aku nggak mau kehilangan dia.”

“Karin, tapi kamu nggak bisa rawat dia sendiri,” ujar Aryan.

“Aku bisa,” Karin kekeuh terhadap keputusannya.

Aryan pun berusaha menjelaskan pada Karin tentang situasi yang harus mereka hadapi. Keduanya tidak saling mencintai, bagaimana bisa dapat bersatu. Karin memiliki kekasih, begitupun dengan Aryan. Aryan memberikan solusi pada Karin untuk menggugurkan kandungannya, ia berpikir bahwa itu yang terbaik untuk masa depan Karin nantinya.

“Aryan, mungkin solusi itu yang terbaik buat kamu,” ujar Karin. Karin menatap Aryan lekat tepat di iris legamnya, “Satu hal yang perlu kamu tau, anak ini nggak salah apa-apa. Dia nggak pernah meminta untuk dihadirkan di dunia ini. Aku yang mengandung dia dan aku berhak untuk memperjuangkannya.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Koridor lantai 5 gedung perkuliahan jurusan Manajemen itu terlihat ramai oleh lalu lalang orang. Di jam seperti ini, biasanya para mahasiswa dan mahasiswi menggunakan waktu istirahat mereka untuk makan siang. Sama halnya dengan yang akan dilakukan oleh Karin, perempuan itu juga berniat melangkahkan kakinya keluar kelas untuk ke kantin. Namun ketika Karin sampai di depan kelas, langkahnya seketika terhenti ketika matanya menangkap sosok fameliar yang berjarak tidak jauh dari posisinya saat ini. Begitu mendapati keberadaan Karin, lelaki bertubuh jangkung itu segera berjalan menghampirinya.

“Karin, tolong izinin aku buat bicara berdua sama kamu,” ucap Aryan ketika dirinya dan Karin telah berhadapan. Setelah kejadian di lapangan tempo hari, di mana akhirnya Aryan mengetahui fakta bahwa Karin tengah mengandung anak lelaki itu, Aryan baru menampakkan lagi batang hidungnya di hadapan Karin. Aryan pun mengatakan pada Karin bahwa kedatangannya karena bermaksud membicarakan soal apa yang saat ini terjadi di antara mereka.

“Oke.” Hanya itu yang terlontar dari bibir Karin setelah Aryan mengajaknya untuk keluar.

Karin pun mengikuti langkah Aryan, berjalan di sisinya. Saat Aryan dan Karin melewati beberapa orang, keduanya tidak dapat mencegah orang-orang untuk tidak menatap ke arah mereka dengan tatapan ingin tahu. Selama ini fakta yang publik ketahui adalah Aryan kekasihnya Shakina, sementara Karin adalah kekasih dari Rey. Namun Aryan terlihat tidak peduli akan semua itu dan sama sekali tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun untuk membungkam mulut mereka yang membicarakan itu di balik punggungnya. Aryan berpikir bahwa terkadang kita hanya perlu membiarkan publik untuk menerka-nerka, karena sejatinya tidak semua perlu menjadi bahan konsumsi.

“Karin, kita ngobrolnya sambil makan siang. Kamu mau makan sesuatu?” tanya Aryan pada Karin. Otomatis Karin menghentikan langkahnya dan memberikan atensinya kepada Aryan.

Karin pun menjawab bahwa ia ingin makan fast food yang ada di dekat gedung fakultas mereka.

“Oke. Kita ke sana,” putus Aryan.

***

Aryan memerhatikan Karin yang sedang menikmati makanannya dan tampak sangat lahap. Lima belas menit waktu berlalu dan ternyata Karin selesai lebih dulu dibandingkan dengan Aryan. Jadi sekarang giliran Karin yang menonton Aryan menghabiskan makanannya.

Tidak lama berselang, Aryan akhirnya selesai dengan makanannya. Lelaki itu meneguk minumannya lebih dulu, lalu mengatakan pada Karin bahwa ia akan memulai pembicaraannya.

Karin merapikan piring bekas makannya sekaligus piring milik Aryan. Karin menggeser itu untuk menjauh, sebelum akhirnya Aryan membuka suaranya.

“Karin, kamu tau kalau ini nggak mudah buat kamu,” ucap Aryan sambil menatap ke arah iris legam Karin. “Aku ingin nawarin kamu solusi yang terbaik untuk kita berdua,” ujar Aryan lagi.

“Maksud kamu solusi apa?” tanya Karin yang belum sepenuhnya dapat memahami maksud perkataan Aryan.

“Kita masih terlalu muda untuk jadi orang tua, Karin. Kamu paham itu, kan?” tutur Aryan.

Karin akhirnya mengerti maksud dari kalimat yang Aryan lontarkan kepadanya. Tanpa berniat mengalihkan tatapannya dari Aryan, Karin pun berujar, “Nggak papa kalau kamu nggak menginginkan anak ini. Tapi aku nggak mau kehilangan dia.”

“Kamu nggak bisa rawat dia sendiri, Karin,” ujar Aryan.

“Aku bisa,” kekeuh Karin.

Aryan pun berusaha menjelaskan pada Karin tentang situasi yang tengah dihadapi oleh keduanya. Mereka tidak saling mencintai, bagaimana bisa dapat bersatu. Karin memiliki kekasih, begitupun dengan Aryan. Aryan telah memberi solusi pada Karin untuk menggugurkan kandungannya, pikirnya itu yang terbaik untuk karir Karin juga ke depannya.

“Aryan, mungkin solusi itu terbaik buat kamu,” ujar Karin. Karin menatap Aryan lekat tepat di iris legamnya, “Tapi satu hal yang perlu kamu tau, anak ini nggak salah apa-apa. Dia nggak pernah minta untuk dihadirkan di dunia ini. Aku yang mengandung dia dan aku berhak untuk memperjuangkannya.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dua minggu kemudian

Sebuah venue dengan dominan berwarna putih, menjadi tempat berlangsungnya pemberkatan pernikahan Aryan dan Karin. Setelah berjalan melewati para hadirin dan sampai di depan altar, kini Aryan meraih tangan Karin dan menggenggamnya.

Sesuai dengan tata cara pernikahan, Aryan akan terlebih dulu mengucapkan ikrar sucinya di hadapan pendeta dan beberapa tamu yang tengah hadir menjadi saksi. Sambil masih menggenggam tangannya, Aryan menatap Karin tepat di iris legamnya, “Saya, Aryan Sakha Brodjohujodyo, mengambil kamu Karina Titania Roland, untuk menjadi istri saya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya,” Aryan mengucapkannya dengan cukup lancar.

Setelah Aryan selesai, kini giliran Karin yang mengikrarkan janji itu. Karin mengucapkannya dengan lancar, hampir mirip dengan yang Aryan lakukan.

Semua aturan yang dibutuhkan untuk menyatukan kedua insan pun telah selesai dilakukan. Sekarang Aryan dan Karin telah resmi disebut sepasang kasih yang telah disatukan atas nama agama dan hukum yang sah. Acara dilanjutkan dengan memasangkan cincin secara bergantian di jari manis masing-masing.

Karin mendapati Aryan mengambil tangannya, mereka pun berbalik badan untuk menghadap para hadirin. Senyum bahagia terpancar di wajah para sanak keluarga dan teman dekat yang diundang.

Satu hal yang tidak dapat Aryan dan Karin hindari di atas altar adalah saat sesi pemberian ciuman yang umum dilakukan. Sesi itu juga yang begitu ditunggu-tunggu oleh para hadirin. Aryan mendapati wajah panik Karin begitu seruan itu semakin menjadi-jadi. Karin menggelengkan kepalanya sekilas, ia meminta Aryan untuk tidak melakukannya.

“Terus kita harus gimana?” tanya Aryan dengan nada tidak kalah paniknya, ia berbisik di dekat Karin.

“Aku yakin kamu nggak akan melakukannya. Liat ke arah jam 12. Kamu nggak tau kalau pacar kamu datang ke sini?” tanya Karin balas berbisik di dekat Aryan.

Aryan pun menjauhkan tubuhnya dari Karin, ia mengarahkan pandangannya ke titik yang diberitahu oleh Karin sebelumnya. Rupanya yang di katakan Karin benar. Shakina menghadiri pernikahannya tanpa sepengetahuan Aryan. Dari tempatnya saat ini, Aryan dapat melihat kekasihnya itu menatap lekat ke arahnya dan Karin.

Satu lengan Aryan yang sebelumnya memeluk pinggang ramping Karin pun perlahan-lahan menjauh dari sana. Aryan mengulaskan senyum palsunya di hadapan para tamu yang nampak kecewa karena tidak ada ciuman pasca pemberkatan. Aryan pun segera mengambil tangan Karin untuk ia genggam, lalu mereka berjalan melewati para tamu.

Aryan and Karin Wedding

Ketika melewati kursi di mana Shakina berada, Karin mendapati tatapan terluka dari kedua mata Shakina. Aryan rupanya juga melihat ke arah Shakina dan Karin memerhatikan kejadian itu. Dari tatapan matanya, Karin tahu bahwa Aryan begitu mencintai kekasihnya.

***

Aryan's Apartment

Beberapa hari sebelum acara pemberkatan, Karin sudah memindahkan barang-barangnya ke apartemen Aryan. Setelah mereka resmi menikah, Karin pun resmi untuk tinggal bersama Aryan.

Karin menyapukan pandangan pada apartemen yang bisa dibilang cukup luas itu. Ketika baru saja masuk, mata Karin langsung dihadapkan pada sebuah dapur beserta kitchen set dan meja makan untuk 4 orang. Berjalan lurus ke depan, akan ditemui sebuah ruang tamu dengan sofa berbentuk L serta TV berlayar datar yang cukup besar. Apartemen itu memiliki model bangunan mezzanine, yakni terdapat ruang ekstra tanpa perlu menambah lantai bangunan. Jadi yang tampak dari bawah adalah sebuah balkon yang melayang dan itu biasanya merupakan kamar tidur.

Saat Karin menoleh ke arah tangga, ia mendapati Aryan yang baru saja turun dari sana. Lelaki itu baru saja membawakan barang Karin yang tersisa dan meletakkannya di lantai atas. Aryan masih mengenakan stelan lengkap tuxedonya, sama dengan Karin yang masih mengenakan gaun putih pernikahannya.

“Sementara kamarnya cuma ada satu. Kamu bisa tidur di kamar atas, biar aku tidur di sofa,” terang Aryan sambil mengarahkan tatapannya pada sofa abu-abu di ruang tamu.

“Ini cuma sementara, kan?” tanya Karin.

“Iya. Nanti aku akan usahakan untuk bikin satu kamar lagi di atas.”

Karin pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Keduanya lekas memutuskan untuk membersihkan diri. Karin akan melakukannya lebih dulu di lantai atas sementara Aryan akan menunggu Karin selesai. Beberapa pakaian milik Aryan masih berada di lemari miliknya di atas, berdampingan dengan baju-baju Karin yang beberapa hari lalu sudah dipindahkan.

“Karin,” ujar Aryan sebelum Karin melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga pertama.

“Iya?” sahut Karin sembari menoleh pada Aryan.

“Kamu hati-hati naik dan turun tangganya.”

“Hmm,” Karin mengiyakan ucapan Aryan itu. Detik berikutnya, Karin bergegas naik ke atas untuk mengganti gaunnya menjadi pakaian rumahan.

***

Sudah hampir tiga puluh menit Karin berbaring di kasur dan berusaha memejamkan matanya, tapi usahanya tersebut tidak membuahkan hasil. Setelah mandi dan melakukan rutinitas lainnya, Karin sudah berniat untuk tidur lebih cepat malam ini.

Karin pun mengarahkan tangannya untuk memegangi perutnya. Sebuah bunyi pun terdengar pelan dari sana. Karin memang belum makan sore, karena ia kehilangan napsu makannya di waktu-waktu tertentu.

“Oke, kita akan cari makanan. Kamu sabar dulu yaa bayi kecil,” ucap Karin sambil mengusap pelan perutnya. Karin pun bergerak dari kasur dan mulai melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga.

Sesampainya Karin di lantai bawah, ia langsung menuju dapur tanpa menyalakan lampu. Ia melewati Aryan yang tengah tertidur di sofa membelakangi posisi Karin saat ini.

Pertama kali yang Karin lakukan adalah membuka kulkas untuk mencari bahan makanan yang kemungkinan bisa ia angatkan di microwave. Namun Karin tidak menemukan bahan makanan mentah ataupun makan cepat saji yang dapat ia masak. Hanya ada botol minuman soda dan air mineral di kulkas itu.

Karin masih memiliki harapan ketika matanya mengarah pada lemari kitchen set di mana biasanya makanan di simpan di sana. Saat Karin membuka lemari itu dan berusaha menjangkau sesuatu dengan tangannya, sebuah suara menghentikan aksinya.

“Kamu lagi cari makanan apa?” ujar suara yang terdengar sedikit serak itu. Karin pun menoleh ke belakangnya dan mendapati Aryan disana, dengan wajah menahan kantuknya.

Anything yang bisa dimakan. Aku ... laper,” cicit Karin beriringin dengan cengiran kecilnya.

“Kenapa malam-malam begini?” tanya Aryan.

Karin pun mengedikkan kedua bahunya. “Tadi sore belum pengen. Kayaknya di lemari ada mie instan, aku mau masak itu aja. Boleh, kan?” tanya Karin.

“Boleh, tapi jangan terlalu sering. Nanti aku minta tolong mbak buat belanja bahan makanan.”

“Oke. Makasih,” ucap Karin.

Begitu Karin mengambil bungkusan mie dari lemari dan hendak merebus air di panci, Aryan memintanya untuk duduk di meja makan. Lelaki itu mengatakan bahwa ia yang akan membuatkan mienya.

Karin pun menurut. Ia melenggang untuk duduk di meja makan, menunggu Aryan selesai memasak. Tidak butuh waktu lama rupanya bagi Aryan untuk membuat mie instan itu. Sekitar lima menit kemudian, semangkuk mie kuah pun tersaji di hadapan Karin.

Selagi Karin menyantap makanannya, Aryan mencuci peralatan masak yang sebelumnya ia gunakan. Ketika Aryan sudah selesai dengan kegiatannya, mie yang di makan Karin hampir habis sedikit lagi. Aryan memerhatikan Karin yang nampak lahap menikmati makanan itu.

“Kamu masih laper?” tanya Aryan.

Mendengar pertanyaan Aryan, Karin pun menghentikan aktivitasnya menyeruput kuah mie itu. Kemudian Karin beralih melihat Aryan, “Aku udah kenyang kok,” ujar Karin diiringi senyuman kecilnya. Lantas Karin membawa mangkuknya ke wastafel dan langsung mencuci bekas makanannya di sana.

Saat Karin selesai dengan kegiatannya tersebut, ia mendapati Aryan masih berada di sana. Karin berdeham sebelum mengarahkan tatapannya pada Aryan dan berujar, “Hmm ... makasih ya Kak buat makanannya,” ujar Karin.

Karin hendak berlalu dari hadapan Aryan setelah mengucapkannya, tapi Aryan menahannya.

“Kamu panggil aku apa barusan?” tanya Aryan.

Aryan dan Karin pun kini saling bertatapan. Karin tidak langsung menjawab pertayaan Aryan, ia terlihat bingung bagaimana harus menjelaskannya. “Kalau kamu nggak nyaman dengan itu, aku nggak akan melakukannya. Itu cuma bentuk rasa hormatku karena kamu adalah ayahnya anakku,” jelas Karin.

“Aku nggak bermaksud apa pun. Aku hanya menerapkan apa yang keluargaku ajarkan,” terang Karin lagi.

“Yaudah, aku naik ke kamar dulu ya,” ucap Karin sebelum melangkah melewati Aryan. Beberapa langkah Karin menjauhi Aryan, rupanya Aryan masih setia berdiri di tempatnya. Aryan memikirkan setiap kata yang baru saja Karin ungkapkan. Setelah dipikir, semua itu terasa benar bagi Aryan. Karin tetap menghormatinya bagaimana pun kondisi mereka saat ini. Aryan sedikit tidak menduga bahwa Karin akan menunjukkan sifat tersebut di hadapannya. Namun pada kenyataannya, Aryan memang belum mengenal sosok Karin sepenuhnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷