alyadara

Balroom hotel

Karin melangkahkan kaki jenjangnya memasuki ballroom hotel mewah dengan nuansa warna hijau emerald tersebut. Ia memberikan undangannya pada bagian penerima tamu. Setelah itu, seorang penanggung jawab acara membawa Karin menuju sebuah kursi dengan tulisan nama lengkapnya di sana. Di samping kanan dan kiri tempat duduknya, Karin bertemu dengan dua teman influencer yang dikenalnya. Mereka berbincang dan berfoto bersama sembari menunggu acara di mulai.

“Mana pacar lo Rin? Katanya doi mau ikut kemarin,” ujar Amanda.

“Nggak bisa ikut dia,” jawab Karin.

“Lho kenapa?” celetuk Tasya yang duduk di samping kiri Karin.

“Rey ada kerjaan photoshoot untuk wedding. Nah pas banget harinya bentrok sama project-nya Clairs,” terang Karin.

“Ohh gitu,” ujar Amanda diiringi anggukan.

Detik berikutnya seorang wanita dengan surai berwarna soft purple menaiki panggung dan membuka suaranya melalui microphone. “Hello everyone,” sapanya diiringi sebuah senyuman.

With me right here, Iona, master of ceremony of this event. First of all, thank you for coming to the Clairs Beauty party celebrtation. Clairs Beauty has to glad to make this huge project for support our campaign this year. For all Clairs Beauty team and our beloved beauty influencer that attend tonight, let's enjoy the party to celebrate our hard work together. Cheers all!” ujar sang MC sebagai penanda bahwa acara telah di mulai.

***

Gemerlap lampu dan live music dari atas panggung, membuat suasana pesta malam itu terasa sempurna. Waktu menunjukkan pukul 10 malam, tapi tidak ada satu pun di antara orang-orang yang hadir yang semangatnya surut. Berbeda dengan yang di rasakan oleh Karin saat ini. Tasya dan Amanda mengajaknya mendekati panggung musik untuk berdansa bersama, tapi Karin menahan tangan Tasya.

“Sya, lo yakin minuman tadi nggak ada alkoholnya?” tanya Karin pada Tasya.

“Minuman infuse orange yang tadi? Yaa nggak ada lah, Rin. Gue kan juga minum sama kayak lo, gue mana bisa mabuk,” ujar Tasya.

Tasya pun memerhatikan air muka Karin yang tampak berbeda. “Rin, lo kenapa deh? Lo mabuk?”

“Kayaknya gue salah minum deh Sya,” balas Karin dengan suaranya seraknya. Hembusan napas Karin terdengar berat dan pandangannya mulai mengabur. Karin pun berusaha menghubungi Dara tapi sampai 6 kali pun Karin mendial nomor managernya, tidak satu pun yang di jawab.

“Karin, are you okay? Gue anter lo ke kamar ya?” saran Tasya. Karin hanya menjawab Tasnya dengan anggukan dan membiarkan Tasya menuntunnya. Saat mereka melewati kerumunan orang-orang, seorang perempuan dengan stelan seragam Clairs Beauty menawarkan sesuatu pada Karin.

“Kak, kita punya ruangan yang diperuntukkan bagi para influencer beristirahat. Biar saya antar Kak, silakan,” ujar perempuan itu.

Sebelum pergi bersama perempuan itu, Karin menitipkan pesan pada Tasya untuk memberitahu Dara ketika managernya itu mencari keberadaannya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Balroom hotel

Karin melangkahkan kaki jenjangnya memasuki ballroom hotel mewah dengan nuansa warna hijau emerald tersebut. Ia memberikan undangannya pada bagian penerima tamu. Setelah itu, seorang penanggung jawab acara membawa Karin menuju sebuah kursi dengan tulisan nama lengkapnya di sana. Di samping kanan dan kiri tempat duduknya, Karin bertemu dengan dua teman influencer yang dikenalnya. Mereka berbincang dan berfoto bersama sembari menunggu acara di mulai.

“Mana pacar lo Rin? Katanya doi mau ikut kemarin,” ujar Amanda.

“Nggak bisa ikut dia,” jawab Karin.

“Lho kenapa?” celetuk Tasya yang duduk di samping kiri Karin.

“Rey ada kerjaan photoshoot untuk wedding. Nah pas banget harinya bentrok sama project-nya Clairs,” terang Karin.

“Ohh gitu,” ujar Amanda diiringi anggukan.

Detik berikutnya seorang wanita dengan surai berwarna soft purple menaiki panggung dan membuka suaranya melalui microphone. “Hello everyone,” sapanya diiringi sebuah senyuman.

With me right here, Iona, master of ceremony of this event. First of all, thank you for coming to the Clairs Beauty party celebrtation. Clairs Beauty has to glad to make this huge project for support our campaign this year. For all Clairs Beauty team and our beloved beauty influencer that attend tonight, let's enjoy the party to celebrate our hard work together. Cheers all!” ujar sang MC sebagai penanda bahwa acara telah di mulai.

***

Gemerlap lampu dan live music dari atas panggung, membuat suasana pesta malam itu terasa sempurna. Waktu menunjukkan pukul 10 malam, tapi tidak ada satu pun di antara orang-orang yang hadir yang semangatnya surut. Berbeda dengan yang di rasakan oleh Karin saat ini. Tasya dan Amanda mengajaknya mendekati panggung musik untuk berdansa bersama, tapi Karin menahan tangan Tasya.

“Sya, lo yakin minuman tadi nggak ada alkoholnya?” tanya Karin pada Tasya.

“Minuman infuse orange yang tadi? Yaa nggak ada lah, Rin. Gue kan juga minum sama kayak lo, gue mana bisa mabuk,” ujar Tasya.

Tasya pun memerhatikan air muka Karin yang tampak berbeda. “Rin, lo kenapa deh? Lo mabuk?”

“Kayaknya gue salah minum deh Sya,” balas Karin dengan suaranya seraknya. Hembusan napas Karin terdengar berat dan pandangannya mulai mengabur. Karin pun berusaha menghubungi Dara tapi sampai 6 kali pun Karin mendial nomor managernya, tidak satu pun yang di jawab.

“Karin, are you okay? Gue anter lo ke kamar ya?” saran Tasya. Karin hanya menjawab Tasnya dengan anggukan dan membiarkan Tasya menuntunnya. Saat mereka melewati kerumunan orang-orang, seorang perempuan dengan stelan seragam Clairs Beauty menawarkan sesuatu pada Karin.

“Kak, kita punya ruangan yang diperuntukkan bagi para influencer beristirahat. Biar saya antar Kak, silakan,” ujar perempuan itu.

Sebelum pergi bersama perempuan itu, Karin menitipkan pesan pada Tasya untuk memberitahu Dara ketika managernya itu mencari keberadaannya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Balroom hotel

Karin melangkahkan kaki jenjangnya memasuki ballroom hotel mewah dengan nuansa warna hijau emerald tersebut. Ia memberikan undangannya pada bagian penerima tamu. Setelah itu, seorang penanggung jawab acara membawa Karin menuju sebuah kursi dengan tulisan nama lengkapnya di sana. Di samping kanan dan kiri tempat duduknya, Karin bertemu dengan dua teman influencer yang dikenalnya. Mereka berbincang dan berfoto bersama sembari menunggu acara di mulai.

“Mana pacar lo Rin? Katanya doi mau ikut kemarin,” ujar Amanda.

“Nggak bisa ikut dia,” jawab Karin.

“Lho kenapa?” celetuk Tasya yang duduk di samping kiri Karin.

“Rey ada kerjaan photoshoot untuk wedding. Nah pas banget harinya bentrok sama project-nya Clairs,” terang Karin.

“Ohh gitu,” ujar Amanda diiringi anggukan.

Detik berikutnya seorang wanita dengan surai berwarna soft purple menaiki panggung dan membuka suaranya melalui microphone. “Hello everyone,” sapanya diiringi sebuah senyuman.

With me right here, Iona, master of ceremony of this event. First of all, thank you for coming to the Clairs Beauty party celebrtation. Clairs Beauty has to glad to make this huge project for support our campaign this year. For all Clairs Beauty team and our beloved beauty influencer that attend tonight, let's enjoy the party to celebrate our hard work together. Cheers all!” ujar sang MC sebagai penanda bahwa acara telah di mulai.

***

Gemerlap lampu dan live music dari atas panggung, membuat suasana pesta malam itu terasa sempurna. Waktu menunjukkan pukul 10 malam, tapi tidak ada satu pun di antara orang-orang yang hadir yang semangatnya surut. Berbeda dengan yang di rasakan oleh Karin saat ini. Tasya dan Amanda mengajaknya mendekati panggung musik untuk berdansa bersama, tapi Karin menahan tangan Tasya.

“Sya, lo yakin minuman tadi nggak ada alkoholnya?” tanya Karin pada Tasya.

“Minuman infuse orange yang tadi? Yaa nggak ada lah, Rin. Gue kan juga minum sama kayak lo, gue mana bisa mabuk,” ujar Tasya.

Tasya pun memerhatikan air muka Karin yang tampak berbeda. “Rin, lo kenapa deh? Lo mabuk?”

“Kayaknya gue salah minum deh Sya,” balas Karin dengan suaranya seraknya. Hembusan napas Karin terdengar berat dan pandangannya mulai mengabur. Karin pun berusaha menghubungi Dara tapi sampai 6 kali pun Karin mendial nomor managernya, tidak satu pun yang di jawab.

“Karin, are you okay? Gue anter lo ke kamar ya?” saran Tasya. Karin hanya menjawab Tasnya dengan anggukan dan membiarkan Tasya menuntunnya. Saat mereka melewati kerumunan orang-orang, seorang perempuan dengan stelan seragam Clairs Beauty menawarkan sesuatu pada Karin.

“Kak, kita punya ruangan yang diperuntukkan bagi para influencer beristirahat. Biar saya antar Kak, silakan,” ujar perempuan itu.

Sebelum pergi bersama perempuan itu, Karin menitipkan pesan pada Tasya untuk memberitahu Dara ketika managernya itu mencari keberadaannya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Supoort apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dari pantulan kaca full body di kamar hotel itu, nampak seorang perempuan yang sedang memerhatikan kembali penampilannya. Tubuh ramping dan semampainya dibalut sebuah dress hitam sepanjang lutut dengan model lengan mengembang seperti balon. Elegan namun tetap terkesan simpel dan tidak berlebihan, ciri khas yang sangat menggambarkan perempuan itu.

Puas mengecek gaun yang dikenakannya, perempuan itu mengambil sebuah lipstik berwarna merah ceri dari tas hitamnya. Kemudian ia berjalan menuju kaca di meja rias dan mulai memoleskan pewarna bibir itu di bibir tipisnya. Sedikit sentuhan lagi dan penampilannya kini telah sempurna.

Karina Titania Roland, nama perempuan itu. Tadi siang pekerjaannya untuk photo dan video shoot berjalan dengan sangat lancar. Malam ini ia berencana menghadiri after party bersama para influencer lain yang ikut dalam project untuk Clairs Beauty di Bali.

Di nakas samping tempat tidurnya, benda tipis berwarna putih berdering dan memutar lagi Every Summertime yang dinyanyikan oleh Niki. Karin segera mengamnil ponselnya dan mendapati ID call yang tertera di sana adalah Rey❤️. Senyum Karin seketika mengembang, ia pun menggeser layar ponselnya untuk mengangkat panggilan dari kekasihnya.

“Halo Karin,” terdengar suara husky Rey dari ujung sana.

“Halo Rey,” balas Karin detik berikutnya.

“Kamu jadi pergi ke after party malam ini?” tanya Rey.

“Jadi. Actually it's not my cup of tea. But yaa ... I should go. Teman-teman influencer yang lain datang semua,” jelas Karin.

It's sound nice, Babe. You should go and have fun. I wish I can be there to accompany you,” ujar Rey dengan nada jenakanya.

It's oke. Kamu harus ambil job wedding photoshoot itu. Keren banget pasti hasilnya buat di pajang di portofolio kamu,” ucap Karin.

“Aku jemput kamu di bandara nanti pas kamu pulang. Kamu flight besok kan ke Jakarta?”

“Iya, besok aku udah balik. Berarti aku bilang ke Dara nggak perlu siapin supir ya, kan udah di jemput kamu.”

Alright.”

“Rey, aku tutup dulu ya telfonnya. Aku mau siap-siap turun ke ballroom bawah, acaranya udah mulai.”

Well, oke. Have fun ya Sayang, see you tomorrow.”

See you, Rey.”

Sambungan telfon pun di akhiri. Sebelum memasukkan ponselnya ke dalam tas hitam yang akan di bawanya, Karin memerhatikan sebuah foto yang terpampang di lock screen ponselnya yang seketika membuat seulas senyum terukir di wajahnya.

Karin's Lock Screen Phone

Dua tahun yang lalu Karin mengenal sosok Rey melalui kepanitiaan yang ia ikuti di kampus. Rey begitu baik padanya dan lambat tapi pasti, perilaku Rey membuat Karin menyukainya. Rey menyatakan perasaannya dan mereka berpacaran sampai saat ini.

Karin tersadar dari kegiatannya memandangi foto Rey ketika satu notif pesan masuk ke ponselnya dan itu dari Dara. Managernya itu menanyakan keberadaannya karena belum menemukan batang hidungnya di ballroom hotel. Sebelum melangkah keluar dari kamarnya, Karin mengetikkan pesan pada Dara dan mengatakan bahwa ia akan segera menuju ke tempat dimana pestanya berlangsung.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Supoort apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dari pantulan kaca full body di kamar hotel itu, nampak seorang perempuan yang sedang memerhatikan kembali penampilannya. Tubuh ramping dan semampainya dibalut sebuah dress hitam sepanjang lutut dengan model lengan mengembang seperti balon. Elegan namun tetap terkesan simpel dan tidak berlebihan, ciri khas yang sangat menggambarkan perempuan itu.

Puas mengecek gaun yang dikenakannya, perempuan itu mengambil sebuah lipstik berwarna merah ceri dari tas hitamnya. Kemudian ia berjalan menuju kaca di meja rias dan mulai memoleskan pewarna bibir itu di bibir tipisnya. Sedikit sentuhan lagi dan penampilannya kini telah sempurna.

Karina Titania Roland, nama perempuan itu. Tadi siang pekerjaannya untuk photo dan video shoot berjalan dengan sangat lancar. Malam ini ia berencana menghadiri after party bersama para influencer lain yang ikut dalam project untuk Clairs Beauty di Bali.

Di nakas samping tempat tidurnya, benda tipis berwarna putih berdering dan memutar lagi Every Summertime yang dinyanyikan oleh Niki. Karin segera mengamnil ponselnya dan mendapati ID call yang tertera di sana adalah Rey❤️. Senyum Karin seketika mengembang, ia pun menggeser layar ponselnya untuk mengangkat panggilan dari kekasihnya.

“Halo Karin,” terdengar suara husky Rey dari ujung sana.

“Halo Rey,” balas Karin detik berikutnya.

“Kamu jadi pergi ke after party malam ini?” tanya Rey.

“Jadi. Actually it's not my cup of tea. But yaa ... I should go. Udah di undang, teman-teman influencer yang lain datang semua,” jelas Karin.

It's sound nice, Babe. You should go and have fun. I wish I can be there to accompany you,” ujar Rey dengan nada jenakanya.

It's oke. Kamu harus ambil job wedding photoshoot itu. Keren banget pasti hasilnya buat di pajang di portofolio kamu,” ucap Karin.

“Aku jemput kamu di bandara nanti pas kamu pulang. Kamu flight besok kan ke Jakarta?”

“Iya, besok aku udah balik. Berarti aku bilang ke Dara nggak perlu siapin supir ya, kan udah di jemput kamu.”

Alright.”

“Rey, aku tutup dulu ya telfonnya. Aku mau siap-siap turun ke ballroom bawah, acaraya udah mulai nih.”

Well, oke. Have fun ya Sayang, see you tomorrow.”

See you, Rey.”

Sambungan telfon pun di akhiri. Sebelum memasukkan ponselnya ke dalam tas hitam yang akan di bawanya, Karin memerhatikan sebuah foto yang terpampang di lock screen ponselnya yang seketika membuat seulas senyum terukir di wajahnya.

Karin's Lock Screen Phone

Dua tahun yang lalu Karin mengenal sosok Rey melalui kepanitiaan yang ia ikuti di kampus. Rey begitu baik padanya dan lambat tapi pasti, perilaku Rey membuat Karin menyukainya. Rey menyatakan perasaannya dan mereka berpacaran sampai saat ini.

Karin tersadar dari kegiatannya memandangi foto Rey ketika satu notif pesan masuk ke ponselnya dan itu dari Dara. Managernya itu menanyakan keberadaannya karena belum menemukan batang hidungnya di ballroom dimana acara pesta berlangsung. Sebelum melangkah keluar dari kamarnya, Karin mengetikkan pesan pada Dara dan mengatakan bahwa ia akan segera menuju ballroom.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Supoort apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dari pantulan kaca full body di kamar hotel itu, nampak seorang perempuan yang sedang memerhatikan kembali penampilannya. Tubuh ramping dan semampainya dibalut sebuah dress hitam sepanjang lutut dengan model lengan mengembang seperti balon. Elegan namun tetap terkesan simpel dan tidak berlebihan, ciri khas yang sangat menggambarkan perempuan itu.

Puas mengecek gaun yang dikenakannya, perempuan itu mengambil sebuah lipstik berwarna merah ceri dari tas hitamnya. Kemudian ia berjalan menuju kaca di meja rias dan mulai memoleskan pewarna bibir itu di bibir tipisnya. Sedikit sentuhan lagi dan penampilannya kini telah sempurna.

Karina Titania Roland, nama perempuan itu. Tadi siang pekerjaannya untuk photo dan video shoot berjalan dengan sangat lancar. Malam ini ia berencana menghadiri after party bersama para influencer lain yang ikut dalam project untuk Clairs Beauty di Bali.

Di nakas samping tempat tidurnya, benda tipis berwarna putih berdering dan memutar lagi Every Summertime yang dinyanyikan oleh Niki. Karin segera mengamnil ponselnya dan mendapati ID call yang tertera di sana adalah Rey❤️. Senyum Karin seketika mengembang, ia pun menggeser layar ponselnya untuk mengangkat panggilan dari kekasihnya.

“Halo Karin,” terdengar suara husky Rey dari ujung sana.

“Halo Rey,” balas Karin detik berikutnya.

“Kamu jadi pergi ke after party malam ini?” tanya Rey.

“Jadi. Actually it's not my cup of tea. But yaa ... I should go. Udah di undang, teman-teman influencer yang lain datang semua,” jelas Karin.

It's sound nice, Babe. You should go and have fun. I wish I can be there to accompany you,” ujar Rey dengan nada jenakanya.

It's oke. Kamu harus ambil job wedding photoshoot itu. Keren banget pasti hasilnya buat di pajang di portofolio kamu,” ucap Karin.

“Aku jemput kamu di bandara nanti pas kamu pulang. Kamu flight besok kan ke Jakarta?”

“Iya, besok aku udah balik. Berarti aku bilang ke Dara nggak perlu siapin supir ya, kan udah di jemput kamu.”

Alright.”

“Rey, aku tutup dulu ya telfonnya. Aku mau siap-siap turun ke ballroom bawah, acaraya udah mulai nih.”

Well, oke. Have fun ya Sayang, see you tomorrow.”

See you, Rey.”

Sambungan telfon pun di akhiri. Sebelum memasukkan ponselnya ke dalam tas hitam yang akan di bawanya, Karin memerhatikan sebuah foto yang terpampang di lock screen ponselnya yang seketika membuat seulas senyum terukir di wajahnya.

Karin's Lock Screen Phone

Dua tahun yang lalu Karin mengenal sosok Rey melalui kepanitiaan yang ia ikuti di kampus. Rey begitu baik padanya dan lambat tapi pasti, perilaku Rey membuat Karin menyukainya. Rey menyatakan perasaannya dan mereka berpacaran sampai saat ini.

Karin tersadar dari kegiatannya memandangi foto Rey ketika satu notif pesan masuk ke ponselnya dan itu dari Dara. Managernya itu menanyakan keberadaannya karena belum menemukan batang hidungnya di ballroom dimana acara pesta berlangsung. Sebelum melangkah keluar dari kamarnya, Karin mengetikkan pesan pada Dara dan mengatakan bahwa ia akan segera menuju ballroom.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 💄

Berikan dukungan untuk cerita ini supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Supoort apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan ini dan penulisnya

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Tiara POV

Aku baru saja membuka mataku dan mengerjapkannya beberapa kali. Setelah berusaha mengumpulkan kekuatan, aku melirik jam dinding yang berada di kamar. Oh, sudah hampir pukul 6 pagi. Hari ini merupakan hari spesial sekaligus menegangkan untukku. Aku akan menjalani ujian untuk penelitian tesis s2-ku. Jadi aku harus bangun dan segera bersiap-siap.

Saat menoleh ke samping, Aku hanya mendapati udara kosong. Kemana perginya suamiku? ucapku dalam hati.

“Sayang ...” panggilku dengan mata yang kembali terpejam. Rasanya aku ingin bangun dari kasur, tapi tubuhku terasa lemas dan tidak mau diajak berkompromi.

“Sayang,” panggilku lagi. 8 tahun hidup bersama Aryo, rasanya tiap bangun tidur nyawaku belum sepenuhnya terkumpul jika belum melihat suamiku itu.

Tidak lama kemudian, aku mendengar suara langkah kaki dan pergerakan seseorang yang terasa tidak jauh dariku. Harum mint pun memasuki indera penciumanku, membuatku seketika kembali membuka kelopak mata.

Aku langsung mengucap syukur kala mendapati indahnya ciptaan Tuhan yang kini berada di hadapanku. Aku memandang Aryo, memerhatikan penampilannya dan suamiku itu masih mengenakan bathrobe birunya. Wajah tampan yang sesejuk udara fajar, tubuh wangi, senyuman indah, suamiku benar-benar definisi paket lengkap.

Suamiku duduk di tepi ranjang, matanya tidak lepas memandangku, dan tangannya pun terangkat untuk mengusap surai panjangku. “Kenapa tadi manggil?” tanya Aryo dengan suara lembutnya.

“Aku nggak bisa bangun, kalau belum liat kamu,” ujarku. Aku pun menggunakan waktuku untuk mengamati rupa suamiku, lamat-lamat, hingga sebuah senyum merekah begitu saja di wajahku.

“Hari ini ujian tesis kamu jam 10, kan? Aku libur kerja. Aku anter kamu ke tempat ujiannya ya,” ujar Aryo.

Aku pun mengangguk sembari mengacungkan ibu jari di hadapannya. Kemudian aku mengatakan pada Aryo bahwa aku akan bangun dan mandi sekitar 10 menit lagi.

ku merebahkan kepala di pangkuan Aryo, tanganku merengkuh pinggangnya, dan membenamkan diriku di sana. Rasanya begitu nyaman, kalau bisa aku tidak ingin beranjak cepat-cepat. “Sayang, usapin,” ujarku.

“Istriku manja banget sih,” Aryo berucap sembari mulai mengarahkan tangannya untuk mengusap puncak kepalaku.

I think ... you will rub another one,” ucapku sambil mendongakkan kepala. Aku pun mendapati kedua ujung bibir Aryo saling tertarik untuk membentuk sebuah senyuman.

“Bisa lebih dari sepuluh menit nanti kalau usap yang lain, Sayang,” ujar Aryo sambil beralih mengusapi punggungku.

“Iya juga yaa.” Aku pun mengangguk setuju diiringi sebuah kekehan. Mataku kembali terpejam, aku menikmati setiap usapan yang Aryo berikan.

“Aryo, aku deg-deg-an nih mau ujian. Kalau nggak lulus gimana ya?” celetukku mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran.

“Aku yakin kamu bisa, Sayang. Banyak hal berat yang udah kamu lalui dan kamu berhasi melewatinya . Aku dan anak-anak tau, kamu adalah perempuan yang hebat,” tutur Aryo.

Aku pun membuka mata dan menatap Aryo, “Makasih ya, Sayang. Kamu selalu percaya kalau aku bisa, bahkan di saat aku ragu kalau aku mampu,” ucapku.

Aryo pun mengangguk, ia mengusap pipiku dan sedikit merapikan helaian rambutku yang menempel di kedua sisi wajahku.

“Kamu mau mandi sekarang atau nanti?” tanya Aryo.

Aku tidak menjawab, aku bangun dari posisiku dan bergerak mengambil sesuatu dari lemari yang terletak di samping meja rias.

“Kamu mau ngapain, Sayang? Mau pakai lotion sebelum mandi?” tanya Aryo dengan ada bingungnya. Suamiku itu memerhatikan setiap pergerakan yang aku lakukan. Aku pun sudah kembali ke hadapannya dengan sebuah botol lotion di tangan.

Before I do a shower, I will do a service for you,” ucapku.

Aku melihat kerutan di kening Aryo setelah mendengar ucapan yang aku lontarkan.

Service apa?” tanya Aryo.

Aku lantas membuka tutup botol lotion di tanganku, “You want me to help you to do your after shower routine?” tanyaku.

Aryo terlihat tidak dapat lagi menahan tawanya. Suamiku itu tergelak dan mengatakan bahwa ia akhirnya mengerti tentang apa yang aku maksud.

Sure, you can do it, Sweety,” ujar suamiku akhirnya setelah tawanya mulai reda.

Aryo memang rutin menggunakan lotion hampir ke seluruh badan setelah mandi, guna mencegah kulitnya menjadi kering. Namun Aryo selalu melakukan aktivitas itu sendiri, karena biasanya saat aku bangun tidur, suamiku itu telah selesai mandi.

Alright, Sir. I'm still learning by doing to give you my best love,” ujarku sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Aryo menatapku lekat cukup lama. Oke. Aku rasa jantungku sudah tidak normal akibat ditatap oleh Aryo seintens itu.

Aku pun segera menuangkan lotion cair itu di telapak tanganku, lalu mendekatkan diriku pada Aryo. Suamiku menghela lengan jubah mandinya supaya aku bisa mengaplikasikan lotion itu di lengannya.

You like it?” tanyaku sambil mengarahkan mataku untuk menatap Aryo, tapi tanganku tetap dengan telaten meratakan lotion di lengannya.

Aku mendapati rona merah di kulit wajah Aryo. Itu nampak sangat lucu dan menggemaskan.

I really like it,” ucap Aryo kemudian.

Aku melihat Aryo memejamkan matanya kala tanganku mulai bergerak ke bagian di atas lutut. Tidak membutuhkan waktu lama tanganku berada di sana untuk memoleskan lotion. Rupanya aku berhasil menyelesaikannya dengan cukup cepat di bagian paha.

Alright, it's done,” ucapku. Aku segera meletakkan botol lotion kembali ke lemari.

“Cepat juga Sayang,” celetuk Aryo.

“Yaa emangnya kamu mau selama apa? Nanti ada yang bangun lho kalau lama-lama,” ledekku diiringi sebuah senyuman jenaka.

Alright, fine,” ucap Aryo. Aku melihatnya mengedikkan kedua bahu dan menghela napasnya.

“Aku mandi dulu ya,” ucapku yang langsung diangguki oleh Aryo.

Sebelum melenggang ke kamar mandi, aku mendekatkan diriku lagi pada Aryo.

“Apa, Sayang?” tanya suamiku yang masih mendapatiku belum juga beranjak pergi.

Aku mencondongkan tubuhku, lalu detik berikutnya, kuberikan sebuah kecupan di pipi Aryo. “My battery is fully charged. I'll take a shower then,” ucapku dan segera melangkahkan kakiku berlalu dari sana.

Aku selalu ingin berusaha memberikan yang terbaik untuk Aryo, membuatnya bahagia, dan selalu bisa merasakan bahwa aku benar-benar mencintainya. Apapun yang aku lakukan untuknya, berdasarkan kata hatiku dan aku begitu rela melakukannya. Begitupun sebaliknya tentang pria itu. Eksistensi Aryo rasanya begitu sanggup membuat duniaku jungkir balik. Aku mencintainya dan rasanya aku benar-benar telah jatuh telak pada sosok Aryo Bimo Brodjohujodyo.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Sebenarnya ini part iseng aja, karena ternyata aku tidak bisa move on secepat ini pada couple Aryo Tiara. Meskipun aku juga tidak sabar mengeksekusi ide cerita selanjutnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya. Sampai di sini pertemuan kita di Emergency Married. Sampai bertemu di ceritaku yang selanjutnya.

Regards, Aya 🌷

Tiara POV

Aku baru saja membuka mataku dan mengerjapkannya beberapa kali. Setelah berusaha mengumpulkan kekuatan, aku melirik jam dinding yang berada di kamar. Oh, sudah hampir pukul 6 pagi. Hari ini merupakan hari spesial sekaligus menegangkan untukku. Aku akan menjalani ujian untuk penelitian tesis s2-ku. Jadi aku harus bangun dan segera bersiap-siap.

Saat menoleh ke samping, Aku hanya mendapati udara kosong. Kemana perginya suamiku? ucapku dalam hati.

“Sayang ...” panggilku dengan mata yang kembali terpejam. Rasanya aku ingin bangun dari kasur, tapi tubuhku terasa lemas dan tidak mau diajak berkompromi.

“Sayang,” panggilku lagi. 8 tahun hidup bersama Aryo, rasanya tiap bangun tidur nyawaku belum sepenuhnya terkumpul jika belum melihat suamiku itu.

Tidak lama kemudian, aku mendengar suara langkah kaki dan pergerakan seseorang yang terasa tidak jauh dariku. Harum mint pun memasuki indera penciumanku, membuatku seketika kembali membuka kelopak mata.

Aku langsung mengucap syukur kala mendapati indahnya ciptaan Tuhan yang kini berada di hadapanku. Aku memandang Aryo, memerhatikan penampilannya dan suamiku itu masih mengenakan bathrobe birunya. Wajah tampan yang sesejuk udara fajar, tubuh wangi, senyuman indah, suamiku benar-benar definisi paket lengkap.

Suamiku duduk di tepi ranjang, matanya tidak lepas memandangku, dan tangannya pun terangkat untuk mengusap surai panjangku. “Kenapa tadi manggil?” tanya Aryo dengan suara lembutnya.

“Aku nggak bisa bangun, kalau belum liat kamu,” ujarku. Aku pun menggunakan waktuku untuk mengamati rupa suamiku, lamat-lamat, hingga sebuah senyum merekah begitu saja di wajahku.

“Hari ini ujian tesis kamu jam 10, kan? Aku libur kerja. Aku anter kamu ke tempat ujiannya ya,” ujar Aryo.

Aku pun mengangguk sembari mengacungkan ibu jari di hadapannya. Kemudian aku mengatakan pada Aryo bahwa aku akan bangun dan mandi sekitar 10 menit lagi.

ku merebahkan kepala di pangkuan Aryo, tanganku merengkuh pinggangnya, dan membenamkan diriku di sana. Rasanya begitu nyaman, kalau bisa aku tidak ingin beranjak cepat-cepat. “Sayang, usapin,” ujarku.

“Istriku manja banget sih,” Aryo berucap sembari mulai mengarahkan tangannya untuk mengusap puncak kepalaku.

I think ... you will rub another one,” ucapku sambil mendongak. Aku pun mendapati kedua ujung bibir Aryo tertarik membentuk sebuah senyuman.

Aryo beralih mengusap punggungku, “Bisa lebih dari sepuluh menit nanti kalau usap yang lain, Sayang,” ujarnya.

“Iya juga yaa.” Aku pun mengangguk setuju diiringi sebuah tawa pelan. Mataku kembali terpejam, aku menikmati setiap usapan yang Aryo berikan.

“Aryo, aku deg-deg-an nih mau ujian. Kalau nggak lulus gimana ya?” celetukku mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran.

“Aku yakin kamu bisa, Sayang. Banyak hal berat yang udah kamu lalui, and you nailed it. Aku dan anak-anak tau, kamu adalah perempuan yang hebat,” tutur Aryo.

Aku pun membuka mata dan menatap Aryo, “Makasih ya, Sayang. Kamu selalu percaya kalau aku bisa, bahkan di saat aku ragu kalau aku mampu,” ucapku.

Aryo pun mengangguk, ia mengusap pipiku dan sedikit merapikan helaian rambutku yang menempel di kedua sisi wajahku.

“Kamu mau mandi sekarang atau nanti?” tanya Aryo.

Aku tidak menjawab, aku bangun dari posisiku dan bergerak mengambil sesuatu dari lemari yang terletak di samping meja rias.

“Kamu mau ngapain, Sayang? Mau pakai lotion sebelum mandi?” tanya Aryo dengan ada bingungnya. Suamiku itu memerhatikan setiap pergerakan yang aku lakukan. Aku pun sudah kembali ke hadapannya dengan sebuah botol lotion di tangan.

Before I do a shower, I will do a service for you,” ucapku.

Aku melihat kerutan di kening Aryo setelah mendengar ucapan yang aku lontarkan.

Service apa?” tanya Aryo.

Aku lantas membuka tutup botol lotion di tanganku, “You want me to help you to do your after shower routine?” tanyaku.

Aryo terlihat tidak dapat lagi menahan tawanya. Suamiku itu tergelak dan mengatakan bahwa ia akhirnya mengerti tentang apa yang aku maksud.

Sure, you can do it, Sweety,” ujar suamiku akhirnya setelah tawanya mulai reda.

Aryo memang rutin menggunakan lotion hampir ke seluruh badan setelah mandi, guna mencegah kulitnya menjadi kering. Namun Aryo selalu melakukan aktivitas itu sendiri, karena biasanya saat aku bangun tidur, suamiku itu telah selesai mandi.

Alright, Sir. I'm still learning by doing to give you my best love,” ujarku sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Aryo menatapku lekat cukup lama. Oke. Aku rasa jantungku sudah tidak normal akibat ditatap oleh Aryo seintens itu.

Aku pun segera menuangkan lotion cair itu di telapak tanganku, lalu mendekatkan diriku pada Aryo. Suamiku menghela lengan jubah mandinya supaya aku bisa mengaplikasikan lotion itu di lengannya.

You like it?” tanyaku sambil mengarahkan mataku untuk menatap Aryo, tapi tanganku tetap dengan telaten meratakan lotion di lengannya.

Aku mendapati rona merah di kulit wajah Aryo. Itu nampak sangat lucu dan menggemaskan.

I really like it,” ucap Aryo kemudian.

Aku melihat Aryo memejamkan matanya kala tanganku mulai bergerak ke bagian di atas lutut. Tidak membutuhkan waktu lama tanganku berada di sana untuk memoleskan lotion. Rupanya aku berhasil menyelesaikannya dengan cukup cepat di bagian paha.

Alright, it's done,” ucapku. Aku segera meletakkan botol lotion kembali ke lemari.

“Cepat juga Sayang,” celetuk Aryo.

“Yaa emangnya kamu mau selama apa? Nanti ada yang bangun lho kalau lama-lama,” ledekku diiringi sebuah senyuman jenaka.

Alright, fine,” ucap Aryo. Aku melihatnya mengedikkan kedua bahu dan menghela napasnya.

“Aku mandi dulu ya,” ucapku yang langsung diangguki oleh Aryo.

Sebelum melenggang ke kamar mandi, aku mendekatkan diriku lagi pada Aryo.

“Apa, Sayang?” tanya suamiku yang masih mendapatiku belum juga beranjak pergi.

Aku mencondongkan tubuhku, lalu detik berikutnya, kuberikan sebuah kecupan di pipi Aryo. “My battery is fully charged. I'll take a shower then,” ucapku dan segera melangkahkan kakiku berlalu dari sana.

Aku selalu ingin berusaha memberikan yang terbaik untuk Aryo, membuatnya bahagia, dan selalu bisa merasakan bahwa aku benar-benar mencintainya. Apapun yang aku lakukan untuknya, berdasarkan kata hatiku dan aku begitu rela melakukannya. Begitupun sebaliknya tentang pria itu. Eksistensi Aryo rasanya begitu sanggup membuat duniaku jungkir balik. Aku mencintainya dan rasanya aku benar-benar telah jatuh telak pada sosok Aryo Bimo Brodjohujodyo.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Sebenarnya ini part iseng aja, karena ternyata aku tidak bisa move on secepat ini pada couple Aryo Tiara. Meskipun aku juga tidak sabar mengeksekusi ide cerita selanjutnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya. Sampai di sini pertemuan kita di Emergency Married. Sampai bertemu di ceritaku yang selanjutnya.

Regards, Aya 🌷

Tiara POV

Aku baru saja membuka mataku dan mengerjapkannya beberapa kali.

Beberapa saat kemudian, lebih tepatnya setelah mengumpulkan kekuatan, aku melirik jam dinding yang berada di kamar. Oh, sudah hampir pukul 6 pagi. Hari ini merupakan hari spesial sekaligus menegangkan untukku. Aku akan menjalani ujian untuk penelitian tesis s2-ku.

Saat menoleh ke samping, Aku hanya mendapati udara kosong. Kemana perginya suamiku? ucapku dalam hati.

“Sayang ...” panggilku. Rasanya aku ingin bangun dari kasur, tapi tubuhku terasa lemas dan tidak mau diajak kompromi.

“Sayang,” panggilku lagi. 8 tahun hidup bersama Aryo, rasanya tiap bangun tidur nyawaku belum sepenuhnya terkumpul jika belum melihat suamiku itu.

Tidak lama kemudian, aku mendengar suara langkah kaki dan pergerakan seseorang yang terasa tidak jauh dariku. Harum mint pun memasuki indera penciumanku, membuatku sontak membuka kelopak mata.

Aku langsung mengucap syukur kala mendapati indahnya ciptaan Tuhan yang kini berada di hadapanku. Aku memandang Aryo yang masih mengenakan bathrobe birunya. Wajah tampan yang sesejuk udara fajar, tubuh wangi, senyuman indah, suamiku benar-benar definisi paket lengkap.

Aryo duduk di tepi ranjang, matanya tidak lepas memandangku, dan tangannya pun terangkat untuk mengusap surai panjangku. “Kenapa tadi manggil?” tanya Aryo dengan suara lembutnya.

“Aku nggak bisa bangun, kalau belum liat kamu,” ujarku. Aku pun menggunakan untuk mengamati rupa suamiku, lamat-lamat, hingga sebuah senyum merekah begitu saja di wajahku.

“Hari ini ujian tesis kamu jam 10, kan? Aku libur kerja. Aku anter kamu ke tempat ujiannya ya,” ujar Aryo.

Aku mengangguk sembari mengacungkan ibu jar di hadaannya. Aku pun mengatakan pada Aryo bahwa aku akan bangun dan mandi sekitar 10 menit lagi.

“Sayang, usapin,” pintaku. Aku pun merebahkan kepala di pangkuan Aryo, tanganku merengkuh pinggangnya, dan membenamkan diriku di sana. Rasanya begitu nyaman, kalau bisa aku tidak ingin beranjak cepat-cepat.

“Istriku manja banget sih,” Aryo berucap sembari mulai mengarahkan tangannya untuk mengusap puncak kepalaku.

I think ... you will rub another thing,” ucapku sambil mendongak. Aku mendapaapi ujung bibir Aryo tertarik membentuk sebuah senyuman.

Aryo beralih mengusap punggungku, “Bisa lebih dari sepuluh menit nanti kalau usap yang lain, Sayang,” ujarnya.

“Iya juga yaa.” Aku pun mengangguk setuju diiringi sebuah tawa pelan. Mataku kembali terpejam dan aku tersenyum. Aku menikmati setiap usapan yang Aryo berikan.

“Aryo, aku deg-deg-an nih mau ujian. Kalau nggak lulus gimana ya ... ?” celetukku mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran.

“Aku yakin kamu bisa, Sayang. Banyak hal berat yang udah kamu lalui, and you nailed it. Aku dan anak-anak tau, kamu adalah perempuan hebat,” tutur Aryo.

Aku pun membuka mata danmenatap Aryo, “Makasih ya, Sayang. Kamu selalu percaya kalau aku bisa, bahkan di saat aku ragu kalau aku mampu,” ucapku.

Aryo mengangguk, ia mengusap pipiku dan sedikit merapikan helaian rambutku yang menempel di kedua sisi wajahku.

“Kamu mau mandi sekarang atau nanti?” tanya Aryo.

Aku tidak menjawab, aku bangun dari posisiku dan bergerak mengambil sesuatu dari lemari yang terletak di samping meja rias.

“Kamu mau ngapain, Sayang? Mau pakai lotion sebelum mandi?” tanya Aryo. Suamiku itu memerhatian setiap pergerakan yang aku lakukan. Aku pun sudah kembali ke hadapannya dengan sebuah botol lotion di tangan.

Before I do a shower, I will do a service for you,” ucapku.

Kening Aryo pun berkerut setelah mendengar ucapan yang aku lontarkan, “Service apa?” tanya Aryo.

Aku lantas membuka tutup botol lotion di tanganku, “You want me to help you to do your after shower routine?” tanyaku.

Aryo terlihat tidak dapat lagi menahan tawanya. Suamiku itu tergelak dan mengatakan bahwa ia sudah paham apa yang aku maksud.

Sure, you can do it, Sweety,” ucap Aryo akhirnya setelah tawanya mulai reda.

Aryo memang rutin menggunakan lotion hampir ke seluruh badan setelah mandi, guna mencegah kulitnya menjadi kering. Namun Aryo selalu melakukan aktivitas itu sendiri karena biasanya saat aku bangun tidur, suamiku itu telah mandi.

Alright, Sir. I'm still learning by doing to give you my best love,” ujarku sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Aryo tampak memerhatikanku cukup lama. Oke. Aku rasa jantungku sudah tidak normal akibat ditatap oleh Aryo seintens itu.

Aku pun segera menuangkan lotion cair itu di telapak tanganku, lalu mendekatkan diriku pada Aryo. Aryo pun menghela lengan jubah mandinya supaya aku bisa mengaplikasikan lotion itu di lengannya.

You like it?” tanyaku sambil mengarahkan mataku untuk menatap Aryo, tapi tanganku tetap dengan telaten meratakan lotion di lengan suamiku.

Aku mendapati rona merah di kulit wajah Aryo. Itu nampak sanga lucu dan menggemaskan.

I really like it,” ungkap Aryo kemudian.

Aku melihat Aryo memejamkan matanya kala tanganku mulai bergerak ke bagian di atas lutut. Tidak membutuhkan waktu lama tanganku berada di sana untuk memoleskan lotion di sana. Rupanya aku berhasil menyelesaikannya dengan cukup cepat di bagian paha.

Alright, it's done,” ucapku. Ia meletakkan botol lotion kembali ke lemari.

“Cepat juga Sayang,” celetuk Aryo.

“Yaa emangnya kamu mau selama apa? Nanti ada yang bangun lho kalau lama-pama,” ledekku diiringi sebuah senyuman jenaka.

Alright, fine.” Aryo terlihat mengedikkan kedua bahunya dan menghela napasnya.

“Aku mandi dulu ya,” ucapku yang langsung diangguki oleh Aryo.

Sebelum melenggang ke kamar mandi, aku mendekatkan diriku lagi pada Aryo.

“Apa, Sayang?” tanya suamiku yang masih mendapatiku belum juga beranjak pergi.

Aku mencondongkan tubuhku, lalu detik berikutnya kuberikan sebuah kecupan di pipi Aryo. “My battery is fully charged. I'll take a shower then,” ucapku dan segera melangkahkann kakiku untuk berlalu.

Aku akan selalu ingin berusaha memberikan yang terbaik untuk Aryo, membuatnya bahagia, dan selalu bisa merasakan bahwa aku benar-benar mencintainya. Apapun yang aku lakukan unuk Aryo, berdasarka kata hatiku dan aku begitu rela melakukannya. Begitupun sebaliknya tentang pria itu. Eksistensi Aryo rasanya begitu sanggup membuat duniaku jungkir balik. Aku telah benar-benar jatuh telak pada sosok Aryo Bimo Brodjohujodyo.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Sebenarnya ini part iseng aja, karena ternyata aku tidak bisa move on secepat ini pada couple Aryo Tiara. Meskipun aku juga tidak sabar mengeksekusi ide cerita selanjutnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya. Sampai di sini pertemuan kita di Emergency Married. Sampai bertemu di ceritaku yang selanjutnya.

Regards, Aya 🌷

Tiara menyapukan pandangannya pada unit penthouse yang kini berada di hadapannya. Mewah. Satu kata itu rasanya sangat cukup untuk menggambarkan tempat ini.

“Aryan, penthouse ini dalam rangka apa?” tanya Tiara pada Aryan.

Aryan lantas menyusul langkah Tiara memasuki unit penthouse lebih jauh. Penthouse ini sudah diisi oleh berbagai furnitur dan fasilitas pelengkap lainnya, jadi siap untuk dihuni kapanpun mereka ingin.

“Papa kamu beli penthouse lagi?” tebak Tiara.

Aryan mengambil sesuatu dari saku celananya,“Iya, Mah. Papa beli penthouse ini untuk Mama. Sertifikat hak miliknya juga atas nama Mama. Sudah serah terima kunci, dan ini kuncinya,” Aryan menyerahkan sebuah kunci ke tangan Tiara.

“Aryan kamu nggak lagi becandain Mama, kan?” Tiara memicingkan matanya ke arah anaknya itu.

“Engga dong, Mamaku sayang. Papa sama Nayna sebentar lagi nyusul kita ke sini. Papa masih ada urusan di kantor dan Nayna lagi on the way dari sekolahnya,” terang Aryan diiringi sebuah senyum di wajahnya.

***

Happy anniversary yang ke dua puluh satu yaa, Sayang. I love you,” ucap Aryo. Di balkon luas penthouse itu, Aryo muncul di hadapan Tiara sambil membawa sebuket bunga mawar yang nampak ranum.

Tiara mengulaskan senyumnya, ia menerima buket bunga itu dan bergerak untuk membawa torso Aryo ke dekapannya.

“Terima kasih, Sayang,” ucap Tiara di dekat Aryo. Mata Tiara yang bertubrukan langsung dengan Aryan dan Nayna, mendapati kedua anaknya itu tersenyum bahagia menyaksikan orang tua mereka.

Tidak lama kemudian, Tiara mengurai pelukannya, “Jadi hadiah anniversary kita adalah penthouse ini?” tanya Tiara sambil menatap Aryo.

The Penthouse

Aryo pun melirik sekilas Aryan dan Nayna, lalu pria itu menatap Tiara lagi dan menganggukkan kepala.

“Hadiah ini atas ide Aryan dan Nayna juga, Sayang. Anak kita ingin Mama dan Papanya punya hunian masa tua yang cukup.”

“Aryo, tapi ini lebih dari cukup,” ujar Tiara.

So this is a good news, right?”

“Iya, penthouse ini bagus, tapi terlalu besar. Rumah kita udah cukup. Gimana Aryan? Nayna, menurut kamu gimana, Sayang?” Tiara menanyakan pendapat kedua anaknya.

Mom, this penthouse is definetely amazing. Unit ini punya akses lift sendiri dan area parkir pribadi untuk setiap pemilik. Lokasinya juga strategis, dekat pusat perbelanjaan,” itu pendapat Nayna. Sebenarnya Aryan dan Nayna tidak heran lagi dengan kebiasaan papanya membeli properti dan segala tetek bengeknya itu. Tiara pun juga begitu, ia sangat mengenal suaminya. Namun ia merasa ini semua terlalu berlebihan.

“Menurut Aryan, penthouse ini cocok banget untuk jadi tempat tinggal. Papa dan Mama bisa menikmatinya berdua. Aryan sama Nayna sudah memikirkan ini, kita hanya mau yang terbaik buat Mama dan Papa,” Aryan melirik Nayna dan langsung diangguki oleh adiknya itu.

Tiara nampak terdiam sesaat. Dua detik berikutnya, Tiara menatap Aryo dan bergantian pada Nayna lalu Aryan. “Aryan, Nayna, terima kasih karena sudah memikirkan semuanya dan menginginkan yang terbaik untuk Papa dan Mama. Mama menghargai yang kalian berikan. Tapi tempat sebesar ini akan terasa hampa tanpa hadirnya orang-orang yang kita sayang,” ungkap Tiara.

Dari ungkapan Tiara tersebut, Aryo, Aryan, dan Nayna pun menjadi paham. Tiara menghargai apa yang mereka usahakan, tapi semua itu akan sia-sia kalau kita justru merasa kesepian. Tiara ingin menikmati hari tuanya bersama anak, menantu dan cucu-cucunya kelak. Itu hal sederhana tapi justru paling tidak ternilai baginya.

“Sayang, aku ngerti apa yang kamu pikirkan. Kita akan tinggal sama-sama di sini, sama Aryan dan Nayna juga,” ucap Aryo.

“Mama, Nayna nggak kepikiran sama sekali soal itu. Maafin Nayna, Mah. Nayna nggak berniat bikin Mama kesepian atau ninggalin Mama dan Papa buat tinggal berdua,” Nayna menghampiri Tiara lalu segera memeluk mamanya. Aryan juga ikut melakukan hal yang sama dengan yang Nayna lakukan.

“Iya, Sayang. Nggak papa,” ucap Tiara sambil balas memeluk Nayna dan Aryan. Tiara pun mengurai pelukannya tidak lama kemudian, ia mengusap bergantian pipi Nayna dan Aryan.

“Aryan,” ujar Aryo.

Aryan pun menoleh pada papanya, “Iya Pah?”

“Kamu masih punya waktu untuk menentukan. Kalau kamu ingin meneruskan perusahaan, kemungkinannya kamu harus segera menikah. Kamu bisa menikah setelah kamu lulus kuliah,” ujar Aryo.

“Mah, Pah,” ujar Nayna yang lantas membuat Aryo dan Tiara menoleh padanya. “Koko tuh punya pacar, tapi nggak tau mau dikenalin ke Papa dan Mama kapan,” sambung Nayna diiringi senyum jenakanya.

Aryo menatap Aryan sembari memicingkan matanya, “Benar yang dibilang Nayna, Aryan?”

Tiara pun ikut menoleh ke Aryan, “Jadi perempuan yang waktu itu benar-benar pacar kamu?” tanya Tiara sambil mengulaskan senyum menggodanya kepada putra sulungnya itu.

Aryan pun akhirnya mengangguk pelan. Ia melirik sekilas ke arah adiknya dan melemparkan tatapan mematikannya. Nayna pun membalas Aryan dengan senyum santainya, seolah menunjukkan ia tidak takut ditatap seperti itu oleh Aryan.

“Koko sama pacarnya udah pernah stay cation bareng,” cicit Nayna pelan. Seketika Aryo dan Tiara menatap Aryan dengan tatapan memperingati.

Aryo menghela napasnya, “Aryan, dengar nasihat Papa. Jangan berani kamu melakukan apapun kalau kamu belum siap menanggungnya, oke? Papa percaya kamu udah mengerti soal itu dan tahu batasannya. Soal meneruskan perusahaan, keputusan itu tetap ada di tangan kamu, Aryan. Kalau kamu serius dan bertekad terhadap perusahaan dan pasangan kamu, kamu harus siap menikah dan memikul perusahaan di kedua pundak kamu,” tutur Aryo panjang lebar.

“Aryan, kamu pikirin ini matang-matang dulu. Bicarakan juga sama pacar kamu baik-baik,” ujar Tiara.

“Mama ingin Aryan cepet-cepet menikah? Nanti Aryan akan punya kehidupan sendiri dan mungkin nggak tinggal sama Papa dan Mama lagi” Gimana?” tanya Aryan.

“Nggak papa dong, Sayang. Asalkan kamu bahagia sama keluarga kecil kamu, Mama dan Papa akan bahagia juga. Kita kan bisa sering-sering main ke rumah kamu nanti, ya kan Pah?”

Aryo mengangguki, “Benar yang Mama bilang, kita pastinya bahagia kalau kamu bahagia. Oh iya, kamu mau mulai magang kapan di perusahan Papa? Biar Papa ajukan. Dari magang itu, nanti kamu bisa belajar punya tanggung jawab dan dapat penghasilan dari usaha kamu sendiri.”

“Kalau soal magang, secepatnya nanti Aryan infoin ke Papa. Aryan masih harus nunggu persyaratan dulu dari dosen,” jelas Aryan.

“Oke. Papa tunggu kabar dari kamu.”

“Udah Ko, nikah aja. Kata Oma, lo dapet warisan jalur VIP lho kalau nikah muda. Itung-itung magang dan dapat gaji itu buat lo latihan jadi calon kepala keluarga. Iya kan Pah, Mah?” ujar Nayna.

Aryo dan Tiara mengangguki ucapan Nayna dan tampak begitu setuju. Setelah itu Mama dan Papanya pamit untuk berlalu lebih dulu, meninggalkan Aryan yang masih ingin berada di balkon. Hembusan semilir angin menyapa halus kulit dan rambut bagian depan pria berparas oriental itu.

Nayna rupanya berbalik lagi setelah beberapa langkah mengikuti langkah papa dan mamanya. Nayna mengatakan, ia merasa empati dengan kakaknya itu. Cukup sulit rupanya menjadi anak sulung laki-laki karena memiliki tanggung jawab untuk meneruskan usaha milik keluarga.

“Lo sama kak Shakina kan udah pacaran lumayan lama juga. Gue tahu, sebucin apa lo dan kak Kina. Kalau lo lamar dia, kemungkinan besar dia akan terima lo. Kenapa nggak coba aja lo purpose,” ucap Nayna.

Aryan menoleh ke arah Nayna dan berujar, “Nggak semudah itu untuk menikah, Nay. Menikah itu menyatukan dua keluarga, gue harus mikirin tanggapan keluarganya Kina juga soal pernikahan. Kina punya cita-cita yang mungkin buat dia nggak mau menikah cepat.”

Nayna pun mengangguk, “Oke, gue paham. Tapi ini menurut gue aja ya, Ko. Kalau dia benar-benar serius dan mantap banget sama lo, dia nggak akan nolak lamaran lo. Dalam berhubungan, sekarang komitmen ke jenjang serius adalah hal yang lumayan penting,” ujar Nayna.

“Jadi menurut lo gue harus coba lamar Kina?” tanya Aryan.

Yes, you should try. Saran gue sebelum lo purpose, lo pastiin dulu sekali lagi. Yakinin hati lo kalau emang she's the one for you. Good luck Ko, gue masuk ke dalam dulu ya. Di sini dingin banget,” Nayna menepuk pundak Aryan sebelum gadis itu berlalu.

Aryan jelas sudah memikirkan tentang masa depannya. Papanya memang memberikan pilihan untuk tidak meneruskan perusahaan dan memutuskan jalan hidupnya sendiri. Namun ia memiliki tanggung jawab sebagai anak laki-laki pertama.

Aryan ingin papa dan mamanya dapat menikmati masa tua mereka tanpa memikirkan apapun. Poin tersebut sudah masuk ke dalam goals list teratas di hidupnya. Aryan akan mengusahakan itu, mempertimbangkan untuk melamar Shakina dan menikahi kekasihnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya. Sampai di sini pertemuan kita di Emergency Married. Sampai bertemu di ceritaku yang selanjutnya.

Regards, Aya 🌷