alyadara

Tiara menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Pemandangannya saat ini adalah sebuah unit penthouse yang begitu ... wow. Mewah, satu kata itu rasanya sangat cukup untuk menggambarkan tempat ini.

“Aryan, penthouse ini dalam rangka apa?” tanya Tiara pada putra sulungnya itu.

Aryan menyusul langkah mamanya memasuki unit penthouse tersebut lebih jauh. Penthouse ini sudah diisi oleh berbagai furnitur dan fasilitas pelengkap lainnya, jadi siap untuk dihuni kapanpun mereka ingin.

“Papa kamu beli penthouse lagi?” tebak Tiara.

Aryan menghela napasnya, lalu menghembuskannya. “Iya, Mah. Papa beli penthouse ini untuk Mama. Sertifikat hak miliknya juga atas nama Mama. Sudah serah terima kunci, and here's is it,” Aryan mengambil sesuatu dari saku celananya, lalu ia menyerahkan sebuah kunci ke tangan Tiara.

“Aryan kamu nggak lagi becandain Mama, kan?” Tiara memicingkan matanya ke arah Aryan.

“Engga dong, Mamaku sayang. Papasama Nayna sebentar lagi nyusul kita ke sini. Papa masih ada urusan di kantor dan Nayna lagi on the way dari sekolahnya,” terang Aryan.

***

Happy anniversary yang ke-23, Sayang. Aku sayang kamu,” ucap Aryo. Di balkon luas penthouse itu, Aryo muncul di hadapan Tiara sambil membawa sebuket bunga mawar yang nampak ranum.

Tiara mengulaskan senyumnya, ia menerima buket bunga itu dan bergerak untuk memeluk Aryo.

“Thank you Sayang,” ucap Tiara di dekat Aryo. Mata Tiara yang bertubrukan langsung dengan Aryan dan Nayna, mendapati dua anaknya tersenyum bahagia menyaksikan orang tua mereka.

Tiara lantas mengurai pelukannya. “Jadi hadiah anniversary kita adalah penthouse ini?” tanya Tiara.

The Penthouse

Aryo pun melirik sekilas Aryan dan Nayna, lalu pria itu mengangguk.

“Atas ide Aryan dan Nayna juga, Sayang. Anak kita ingin Mama dan Papanya punya hunian masa tua yang cukup.”

“Aryo, ini lebih dari cukup,” ujar Tiara.

So this is a good news, right?”

“Iya, penthouse ini bagus. Tapi terlalu besar. Rumah kita udah cukup, gimana Aryan? Nayna, menurut kamu gimana?” Tiara menanyakan pendapat kedua anaknya.

Mom, this penthouse is amazing. Unit ini punya akses lift sendiri dan area parkir pribadi buat setiap pemilik. Lokasinya juga strategis. Dekat pusat perbelanjaan dan tempat wisata,” itu pendapat Nayna. Sebenarnya Aryan dan Nayna tidak heran lagi dengan kebiasaan papanya membeli properti dan segala tetek bengeknya itu. Tiara pun juga begitu, ia sangat mengenak suaminya. Namun ia merasa ini semua berlebihan.

“Menurut Aryan, penthouse ini cocok banget untuk jadi tempat tinggal. Papa dan Mama bisa menikmatinya berdua. Aryan sama Nayna sudah memikirkan ini, kita mau yang terbaik buat Mama dan Papa,” Aryan melirik Nayna dan langsung diangguki oleh adiknya.

Tiara terdiam sesaat. Kemudian ia menatap Aryo dan bergantian pada Nayna lalu Aryan. “Aryan, Nayna, terima kasih karena sudah memikirkan semuanya dan menginginkan yang terbaik untuk Papa dan Mama. Mama menghargai yang kalian berikan. Tapi tempat sebesar ini akan terasa hampa tanpa hadirnya orang-orang yang kita sayang,” ungkap Tiara. Dari ungkapan itu, Aryo, Aryan dan Nayna pun menjadi paham. Tiara menghargai apa yang mereka usahakan, tapi semua itu akan sia-sia kalau kita justru merasa kesepian. Tiara ingin menikmati hari tuanya bersama anak, menantu dan cucu-cucunya kelak. Itu hal sederhana tapi justru paling tidak ternilai.

“Sayang, aku ngerti apa yang kamu pikirkan. Kita akan tinggal sama-sama di sini, sama Aryan dan Nayna juga,” ucap Aryo.

“Mama, Nayna nggak kepikiran sama sekali soal itu. Maafin Nayna. Nayna nggak berniat bikin Mama kesepian atau ninggalin Mama dan Papa buat tinggal berdua,” Nayna menghampiri Tiara lalu segera memeluk mamanya.

“Iya, Sayang. Nggak papa,” balas Tiara sambil balas memeluk Nayna dan juga Aryan, pria itu melakukan hal sama seperti yang dilakukan adiknya.

“Aryan,” ujar Aryo.

Aryan pun menoleh pada Aryo, “Iya Pah?”

“Kamu masih punya waktu untuk menentukan. Kalau kamu ingin meneruskan perusahaan, kemungkinannya kamu harus segera menikah. Kamu bisa menikah setelah kamu lulus kuliah,” ujar Aryo.

“Mah, Pah. Nayna tau kalau Koko tuh punya pacar, tapi belum tau mau dikenalin ke Papa dan Mama kapan,” celetuk Nayna.

Aryo menatap Aryan sembari memicingkan matanya, “Benar yang dibilang Nayna, Aryan?”

Aryan mengangguk pelan. Ia melirik sekilas ke arah adiknya lalu melemparkan tatapan mematikan. Nayna pun membalas Aryan dengan senyum santainya seolah ia tidak takut ditatap seperti itu oleh Aryan.

Aryo menghela napasnya, “Semua keputusan tetap ada di tangan kamu, Aryan. Kalau kamu serius dan bertekad terhadap perusahaan dan pasangan kamu, kamu harus siap menikah dan memikul perusahaan di kedua pundak kamu.”

“Aryan, pikirin ini matang-matang dulu. Kamu bicarakan sama pacar kamu,” tutur Tiaa.

“Mama ingin Aryan cepet-cepet menikah? Nanti Aryan punya kehidupan baru dan mungkin nggak tinggal sama Papa dan Mama lagi.”

“Nggak papa, Sayang. Asalkan kamu bahagia sama keluarga kecil kamu, Mama dan Papa akan merasa bahagia juga. Kita kan bisa sering-sering main ke rumah kamu, ya kan Pah?”

Aryo mengangguki, “Benar yang Mama bilang, kita pastinya bahahia kalau kamu bahagia. Oh iya, kamu mau mulai magang kapan di perusahan Papa? Biar Papa ajukan. Dari magang itu, nanti kamu bisa belajar punya tanggung jawab dan dapat penghasilan dari usaha kamu sendiri.”

“Kalau soal magang, secepatnya nanti Aryan infoin ke Papa. Aryan masih harus nunggu persyaratan dulu dari dosen,” jelas Aryan.

“Oke. Papa tunggu kabar dari kamu.”

“Udah Ko, nikah aja. Kata Oma, lo dapet warisan jalur VIP lho kalau nikah muda. Itung-itung lo magang dan dapat gaji itu buat latihan jadi calon kepala keluarga. Iya kan Pah, Mah?” ujar Nayna.

Aryo dan Tiara mengangguki ucapan Nayna dan tampak begitu setuju. Setelah itu Mama dan Papanya pamit untuk berlalu lebih dulu, meninggalkan Aryan yang masih ingin berada di balkon. Hembusan semilir angin menyapa halus kulit dan rambut bagian depan pria berparas oriental itu.

Nayna rupanya berbalik lagi setelah beberapa langkah mengikuti langkah papa dan mamanya. Nayna mengatakan, ia merasa empati dengan kakaknya itu. Cukup sulit rupanya menjadi anak sulung laki-laki karena memiliki tanggung jawab meneruskan usaha milik keluarga.

“Lo sama kak Shakina kan udah pacaran lumayan lama juga. Gue tahu, sebucin apa lo dan kak Kina. Kalau lo lamar dia, kemungkinan dia akan terima lo. Kenapa nggak coba aja lo purpose,” ucap Nayna.

“Nggak semudah itu untuk menikah, Nay. Menikah itu menyatukan dua keluarga, gue harus mikirin tanggapan keluarganya Kina juga soal pernikahan. Kina punya cita-cita yang mungkin buat dia nggak mau menikah cepat.”

“Oke, gue paham kalimat lo. Tapi ini menurut gue aja ya, Ko. Kalau dia benar-benar serius sama lo dan mantap banget, dia nggak akan nolak lamaran lo. Dalam berhubungan, sekarang komitmen ke jenjang serius adalah hal yang lumayan penting,” ujar Nayna.

“Jadi menurut lo gue harus coba lamar Kina?” tanya Aryan.

Yes, you should try. Saran gue sebelum lo purpose, lo pastiin dulu sekali lagi. Hati lo yakin nggak kalau emang she's the one for you. Good luck Ko, gue masuk ke dalam dulu ya. Di sini dingin banget,” Nayna menepuk pundak Aryan sebelum gadis itu berlalu.

Aryan jelas sudah memikirkan masa depannya. Papanya memang memberikan pilihan untuk tidak meneruskan perusahaan dan memutuskan jalan hidupnya sendiri. Namun ia memiliki tanggung jawab sebagai anak laki-laki pertama. Aryan ingin papa dan mamanya dapat menikmati masa tua mereka tanpa memikirkan apapun. Poin itu sudah masuk ke dalam goals list nomor satu di hidupnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo

Tiara

10 tahun. Waktu yang tidak sebentar untuk dilalui. Ada suka dan duka, tapi Aryo dan Tiara rela melaluinya. Ada perayaan yang cukup besar yang Aryo buat untuk merayakan 12 tahun pernikahannya dengan Tiara.

Semalam terasa begitu sekali. Set up dinner, lampu, bunga-bunga, dan kehadiran orang-orang terdekat sekaligus tersayang membuatnya semuanya terasa lengkap.

Dimana Aryo dan Tiara berada sekarang adalah jelas bukan tempat yang ada di rumah, yang ada dua anak mereka. Aryo mengatakan ia ingin menikmati waktunya berdua dengan Tiara. Jadilah Aryan dan Nayna dititipkan di rumah Oma dan Opa. Kedua anaknya juga sudah besar dan bisa diberi pengertian.

Habis bagaimana, Aryo stuck mencintai Tiara. Caranya mencintai sepertinya terlihat agak berlebihan atau orang-orang seringkali menyebutnya bucin, tapi Aryo sama sekali tidak peduli soal itu.

Seseorang yang tersenyum di sebelahnya saat pagi hari adalah masih orang yang sama. Seseorang yang masih memberikan ciuman manis di paginya, masihlah orang yang sama. Aryo memilih itu, hidup bersama Tiara selama ini. Selama sisa waktu yang ia miliki.

Aryo memilih wanita yang pemberani dan tangguh, maka ia harus menerima kalau wanita yang dicintainya itu kadang juga keras kepala dan punya pemikiran sendiri. Wanita tidak ada yang sempurna. Namun Tiara telah membuat hidupnya terasa sempurna dan berarti setiap detiknya. Gamblang, Aryo begitu mencintai Tiara.

Aryo menoleh ke sampingnya memerhatikan Tiara yang masih terlelap di dekapannya. Detik berikutnya, ia menyematkan satu ciuman di kening perempuan itu. Mereka satu selimut berdua, di pagi yang sejuk, dengan pemandangan gedung perkotaan dari dinding kaca besar di kamar hotel ini.

“Ra ... ” panggil Aryo manja. Ia mendapati Tiara telah membuka matanya.

“Apa?” Tiara masih dengan suara lesunya menjawab. Ia selalu heran, kenapa Aryo punya seribu kekuatan untuk langsung mengumpulkan nyawanya di pagi hari.

Walaupun sudah menjadi seorang ibu, Tiara tetaplah Tiara si perempuan yang doyan tidur. Ia tetap tidak bisa bangun terlalu pagi. Namun Aryo menerima kebiasaannya. Justru Aryo mengatakan itu dapat menjadi kesempatan untuk bermesraan di kasur sebelum memulai hari yang padat.

“Cuma mau bilang, kamu tau kan aku sayang kamu,” ucap Aryo.

“Hmm ... iya. Aku udah tau.” Tiara nampak memanyunkan bibirnya.

“Bosen ah gombalannya gitu mulu, nggak romantis” lanjut Tiara lagi.

“Yang romantis itu kayak gimana, Sayang?”

Tiara terlihat menyipitkan matanya. “Kamu ... beneran mau nurutin yang aku minta?”

“Mau. Asal jangan meminta yang itu,” ucap Aryo. Pipi Tiara seketika memerah ketika tahu maksud Aryo adalah soal rencana mereka punya anak lagi.

“Jangan bahas itu Sayang. Aku malu.” Tiara membalikkan badannya untuk memunggungi Aryo.

“Istri aku malu nih ceritanya? Sayang, dengerin aku ya. Aku emang masih sanggup kerja untuk menghidupi kamu dengan layak dan juga kedua anak kita. Bahkan sampai sepuluh anak.”

“Terus?” ucap Tiara masih membelakangi Aryo.

“Aku khawatir sama keadaan kamu, Ra,” terang Aryo.

“Kita udah ke dokter kan kemarin. Dokter Lilian juga dokter yang sangat berpengalaman di bidangnya, beliau bilang hasil pemeriksaannya baik-baik aja, Aryo.”

“Aku cuma khawatir, Ra. Kamu tau itu. Aku nggak bisa lihat kamu berjuang antara hidup dan mati. Waktu Nayna lahir, aku lega banget waktu tahu kamu masih di dunia ini. Satu keluarga khawatir banget dan kita hampir aja kehilangan kamu,” ujar Aryo panjang lebar.

Beberapa detik setelahnya, Aryo menyematkan kecupan di bahu Tiara, ia memeluk tubuh istrinya dengan posesif. Rasa takut itu sedikit kembali muncul membawa Aryo pada kenangan 9 tahun lalu.

Tiara tertegun. Dadanya terasa sesak mendengar kalimat Aryo barusan. Tiara pun berbalik, ia menatap Aryo dengan pandangan berkaca-kaca dan tatapan bersalahnya.

“Aryo maaf aku udah egois,” ujar Tiara.

Hey, no problem. Emang lucu kalau ada anak bayi lagi di rumah kita, Ra. Tapi kalau hamil lagi membahayakan kamu, aku nggak mau mengambil resiko itu,” ujar Aryo.

Tiara lantas mengangguk pelan. Ia akhirnya menyetujui keputusan Aryo. Suatu kondisi telah membuat kemungkinan untuk hamil lagi sulit dan cukup berat untuk dijalani oleh Tiara. Akibat infeksi yang terjadi di rahimnya setelah melahirkan Aryan, untuk hamil lagi akan beresiko tinggi bagi ibu maupun calon bayinya nanti.

“Kita tunggu Aryan menikah aja dan punya anak. Nanti akan ada bayi lucu lagi di rumah, kan? Gimana?”

“Itu masih lama, Aryo. Aryan kan masih kecil,” Tiara tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Di usia 20 tahun, kalau Aryan mau melanjutkan perusahaan, paling enggak dia harus sudah menikah. Keputusan itu ada di tangannya, dia bisa bebas memilih,” ujar Aryo.

“Oh iya, Aryan harus menikah dulu. Eh Sayang, tapi aku belum siap jadi grandma kalau Aryan punya anak nanti. Apa usia 20 itu nggak terlalu cepat? Aku masih cantik ngak kalau udah usia diatas 40 tahun? Gimana dong,” Tiara panik memikirkan banyak hal di kepalanya yang tiba-tiba saja terlintas, tapi Aryo malah tertawa enteng.

“Kamu kenapa ketawa?” celetuk Tiara.

“Kamu masih cantik, Sayang. Dimana tuanya? Masih kayak perawan gini.” Aryo menangkup wajah istrinya menggunakan kedua tangannya.

“Kalau masih perawan boleh dong, nyari perjaka?”

“Hmm ... berani kamu emangnya nyari perjaka?”

“Nggak jadi deh, habis pawangku galak. Takut,” ucap Tiara sambil memasang ekspresi pura-pura takutnya.

“Siapa emang pawangnya kamu?”

“Kamu kan pawang aku.”

“Sayang nggak sama pawangnya kamu?”

“Tiap hari minta bilang sayang mulu. Dua belas tahun nggak cukup nempel kamu terus, hmm?”

“Nggak cukup.” Aryo mendekap tubuh Tiara halus. Udara dingin yang sebelumya Tiara rasakan, kini telah berubah menjadi hangat. Tiara pun menyandarkan kepalanya di bahu Aryo dengan tangan yang balas mendekap torso suaminya.

Tiara melihat Aryo memejamkan matanya. “Aryo,” ujar Tiara pelan di dekat suaminya.

“Kenapa Sayang? Aku tidur lagi dulu ya?”

“Kamu masih nyimpen yang di kantong celana kamu nggak?”

“Apa yang di kantong?”

“Yang warna ungu, rasa blueberry.”

Seketika kedua mata Aryo kembali terbuka. Kini ia mendapati Tiara tersenyum jahil tapi sekaligus sangat manis di hadapannya.

“Masih ada kan, Sayang? Aku ambil ya?” ujar Tiara di dekat Aryo.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo

Tiara

10 tahun. Waktu yang tidak sebentar unuk diarungi. Ada suka dan duka, tapi mereka rela melaluinya. Ada perayaan yang cukup besar yang Aryo buat untuk merayakan 10 tahun pernikahannya dengan Tiara.

Semalam indah sekali. Set up dinner, lampu, bunga-bunga, dan kehadiran orang-orang terdekat sekaligus tersayang membuatnya semuanya terasa lengkap.

Dimana Aryo dan Tiara berada sekarang adalah jelas bukan tempat yang ada di rumah, yang ada dua anak mereka. Aryo mengatakan ia ingin menikmati waktunya berdua dengan Tiara. Jadilah Aryan dan Nayna dititipkan ke Oma dan Opa. Kedua anaknya juga sudah besar dan bisa diberi pengertian.

Habis bagaimana, Aryo stuck mencintai Tiara. Caranya mencintai sepertinya terlihat agak berlebihan atau orang-orang seringkali menyebutnya bucin, tapi Aryo sama sekali nggak peduli soal bucin atau apalah itu.

Seseorang yang tersenyum di sebelahnya saat pagi hari adalah masih orang yang sama. Seseorang yang masih memberikan ciuman manis di paginya masihlah orang yang sama. Aryo memilih itu, hidup bersama Tiara selama ini. Selama sisa hidup yang ia miliki.

Aryo memilih wanita yang pemberani dan tangguh, maka ia harus menerima kalau wanita yang dicintainya itu kadang juga keras kepala dan punya pemikiran sendiri. Wanita tidak ada yang sempurna. Namun Tiara telah membuat hidupnya merasa sempurna dan berarti setiap sedetiknya.

Gamblang, Aryo begitu mencintai wanita ini.

Aryo memerhatikan Tiara di sampingnya, lalu ia menyematkan satu ciuman di kening perempuan itu. Mereka satu selimut berdua, di pagi yang sejuk, dengan pemandangan gedung perkotaan dari dinding kaca besar di kamar hotel ini.

“Ra ... ” panggil Aryo manja.

“Apa?” Tiara masih dengan suara lesunya menjawab. Ia selalu heran, kenapa Aryo punya seribu kekuatan untuk langsung mengumpulkan nyawanya di pagi hari.

Walaupun sudah menjadi seorang ibu, Tiara tetaplah Tiara si perempuan yang doyan tidur, ia tetap tidak bisa bangun terlalu pagi. Namun Aryo menerima itu. Justru Aryo mengatakan itu adalah menjadi kesempatan untuk bermesraan di kasur sebelum memulai hari yang padat.

“Cuma mau bilang, kamu tau kan aku sayang kamu,” ucap Aryo.

“Hmm ... aku udah tau.” Tiara nampak memanyunkan bibirnya.

“Bosen ah gombalannya gitu mulu,” lanjut Tiara lagi.

“Siapa?”

“Kamu lah. Nggak romantis,” seru Tiaa.

“Kamu maunya kayak gimana emangnya?”

Tiara pun menyipitkan matanya. “Kamu ... bener mau nurutin yang aku minta?”

“Hmm, asal jangan meminta yang itu,” peringat Aryo. Pipi Tiara seketika memerah ketika thau maksud Aryo adalah soal rencana mereka punya anak lagi.

“Jangan bahas itu Sayang, ih ... aku malu.” Tiara membalikkan badannya untuk memunggungi Aryo.

“Istri aku malu nih ceritanya? Tiara, aku emang masih sanggup kerja untuk menghidupi kamu dengan layak dan juga kedua anak kita. Bahkan sepuluh anak.”

“Terus?” ucap Tiara masih membelakangi Aryo.

“Gimana ya. Aku khawatir sama keadaan kamu, Ra,” terang Aryo.

“Kata dokter semuanya udah baik-baik aja, Aryo. Kita udah ke dokter kan kemarin, Dokter Lilian juga dokter yang sangat berpengalaman di bidangnya.”

“Aku cuma khawatir, Ra. Kamu tau itu, aku nggak bisa lihat kamu memperjuangkan antara hidup dan mati. Waktu Nayna lahir, aku lega banget waktu tahu kamu masih di dunia ini. Kita semua hampir aja kehilangan kamu,” ujar Aryo panjang lebar.

Aryo lantas menyematkan kecupan di bahu Tiara, ia memeluk tubuh istrinya dengan posesif. Rasa takut itu sedikit kembali muncul membawa Aryo pada kenangan 7 tahun lalu.

Tiara tertegun. Dadanya terasa sesak mendengar kalimat Aryo barusan. Tiara pun berbalik, ia menatap Aryo dengan pandangan berkaca-kaca dan pandangan bersalah.

“Aryo maaf aku egois,” aku Tiara.

Hey, no problem. Emang lucu dan bahagia kalau ada anak bayi lagi di rumah kita, Ra. Tapi kalau hamil lagi membahayakan kamu, aku nggak mau mengambil resiko itu,” putus Aryo telak.

Tiara lantas mengangguk pelan. Ia akhirnya setuju akan keputusan Aryo itu. Karena suatu kondisi, untuk hamil lagi akan sulit dan cukup berat untuk dijalani oleh Tiara. Akibat infeksi yang terjadi di rahimnya setelah melahirkan Nayna, membaut Tiara sulit hamil lagi dan beresiko tinggi bagi ibu maupun calon bayinya nanti.

“Kita tunggu Aryan menikah aja dan punya anak. Nanti akan ada bayi lucu lagi di rumah ini, kan? Gimana?”

“Itu masih lama, Aryo. Aryan masih kecil, kamu nih,” Tiara tertawa sambil menggeleng-gelengkap kepalanya.

“Di usia 20 tahun, kalau Aryan mau melanjutkan perusahaan, paling enggak dia harus sudah menikah. Keputusan itu ada di tangannya, dia bisa bebas memilih,” ujar Aryo.

“Oh iya, Aryan harus menikah dulu. Eh Sayang, tapi aku belum siap jadi grandma kalau Aryan punya anak nanti. Apa usia 20 itu nggak terlalu cepat? Aku masih cantik gak kalau udah tua? Gimana dong,” Tiara panik memikirkan banyak hal di kepalanya yang tiba-tiba saja terlintas. Aryo malah tertawa.

“Kamu kenapa ketawa?” celetuk Tiara mendapati Aryo yang terbahak.

“Masih cantik kamu kok. Dimana tuanya? Masih kayak perawan gini.” Aryo menangkup wajah istrinya menggunakan kedua tangannya.

“Kalau masih perawan boleh dong, nyari perjaka?”

“Hmm ... berani kamu emangnya nyari perjaka?”

“Nggak jadi deh, habis pawangku galak. Takut.”

“Siapa pawang kamu?”

“Kamu kan pawang aku.”

“Sayang nggak sama pawangnya kamu?”

“Nanti terbang ah orangnya. Tiap hari minta bilang sayang mulu. Dua puluh tahun nggak cukup nempel kamu terus, hmm?”

“Nggak cukup.” Aryo mendekap tubuh Tiara halus. Tiara merasakan udara dingin yang sebelumnya ia rasakan kini telah berubah menjadi hangat. Tiara menyandarkan kepalanya di bahu Aryo dengan tangan yang membalas mendekap torso suaminya.

Tiara melihat Aryo memejamkan matanya.

“Aryo,” ujar Tiara pelan di dekat suaminya.

“Kenapa Sayang? Aku tidur lagi dulu ya?”

“Kamu masih nyimpen yang di kantong celana kamu nggak?”

“Apa yang di kantong?”

“Yang warna ungu, rasa blueberry.”

Seketika mata Aryo kembali terbuka. Ia mendapati Tiara tersenyum jahil tapi sekaligus sangat manis di hadapannya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara mendapati Aryo di ruang tengah dan suaminya itu tengah bermain bersama Aryan. Tiara menghampiri keduanya dan meminta Aryo untuk memakai bajunya karena suaminya itu shirtless.

“Aryan, kenapa Papa nggak pake baju? Coba kasih tau Mama,” tanya Tiara pada putranya.

Aryan mengalihkan atensinya pada Tiara, “Kata Papa, Papa gerah Mah. Tadi Aryan sama Papa habis main hide and seek,” jelas Aryan.

“Aryan udah beli mobilnya tadi sama Papa?” tanya Tiara lagi.

“Udah dong, Mama. Warna mobilnya biru, sesuai yang Aryan mau,” kini Aryo yang menjawab sambil memindahkan posisinya agar berada di samping Tiara di sofa. Aryo menyerahkan mainan robot milik Aryan kepada anaknya itu.

“Nayna masih tidur, Sayang?” tanya Aryo.

“Masih. Kamu pakai baju dong, nanti masuk angin,” titah Tiara.

“Panas Ra, cuacanya. Oh iya, hadiah buat aku mana? Yang tadi kamu bilang,” pinta Aryo pada Tiara.

“Hmm ... kamu temenin Aryan main dulu hari ini. Besok kan kamu kerja, anak kamu mau main sama Papanya. Aku tunggu kamu di kamar, oke?” ucap Tiara dan hendak beranjak dari posisinya, tapi Aryo menahannya lebih dulu.

Tiara menatap Aryo dengan tatapan bertanya. “Hadiahnya ada di kamar?” tanya Aryo.

“Iya, Papa,” ucap Tiara dengan nada lembutnya diiringi sebuah senyum menawan di wajahnya.

Sebelum benar-benar pergi dari sana, Tiara mendekat lagi kepada Aryo. Aryo yang shirtless membuat Tiara bisa menghirup aroma khas yang menguar dari tubuh kekar suaminya. Saat tatapan mereka bertemu, Tiara segera menyematkan kecupan di pipi Aryo. Tiara lekas pergi dari sana sebelum Aryo memberi balasan akan perbuatannya. Urusannya bisa panjang nanti dan Tiara sangat tahu itu.

***

Tiara menunggu Aryo di kamar. Beberapa kali matanya melirik ke arah pintu, tapi belum juga mendapati Aryo di sana.

Cklek!

“Sayang,” suara fameliar itu seketika membuat Tiara menoleh ke sumbernya. Ia mendapati Aryo di sana, suaminya itu masih shirtless. Aryo hanya mengenakan jeans lengkap dengan ikat pinggang kulitnya. Saat Tiara perhatikan lebih jelas lagi, nampak underwear hitam balenciaga yang mengintip kecil di antara jeans yang suaminya kenakan.

“Aku mandi dulu ya, panas banget cuacanya,” ujar Aryo hendak melenggang ke kamar mandi, tapi Tiara lebih dulu menahannya.

“Sebentar,” Tiara lantas mengalungkan lengannya di bahu Aryo, ia sedikit berjinjit untuk sepenuhnya memeluk tubuh suaminya.

“Lengket lho Sayang, aku keringetan gini,” ucap Aryo.

“Nggak papa, aku suka,” Tiara gamblang mengucapkannya. Di balik punggung Tiara, Aryo pun tersenyum.

Tidak lama setelah itu, Tiara mengurai pelukannya dan meminta Aryo untuk tidak mandi.

“Aryo, aku mau pakai one set hitam itu, sebagai hadiah buat kamu. Would you still love that one set?” tanya Tiara.

Aryo memicingkan matanya dan sebuah seringai terulas di wajah tampannya. “Selamanya aku suka itu, Sayang. I said to you thousand times, that damn one set really looks amazing on you. You're always beautiful with anything you wear, I adore you so much, and have to know about that,” ungkap Aryo.

Oke, then. I'll be right back. Just wait here,” ucap Tiara sebelum ia berlalu dari hadapan Aryo.

Aryo tidak pernah ingin kehilangan dunianya lagi. Maka ia akan mencintai Tiara sepenuhnya dan rela berjuang untuknya. Tiara adalah istri dan ibu dari anak-anaknya yang telah membuat Aryo menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuknya.

Memang terdengar mustahil sebuah kisah memiliki akhir yang bahagia. Namun kebahagiaan sendiri menurutnya adalah keseimbangan antara suka dan duka. Di antara dirinya dan Tiara, tidak pernah ada akhir yang bahagia yang ditulis seorang penulis di lembar terakhir novelnya. Karena bagi Aryo, kisahnya dan Tiara tidak akan lekang oleh waktu, tidak akan berakhir. Ia mencintai Tiara tanpa 'kenapa', hingga menginginkan hanya maut yang bisa memisahkan keduanya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

2 tahun berselang, Aryo dan Tiara kembali di beri kepercayaan oleh Tuhan. Tiara mengandung seorang bayi perempuan yang kehadirannya begitu di tunggu oleh seluruh keluarga.

Akhirnya di usianya yang ketiga, Aryan menjadi seorang kakak. Bocah lelaki itu sangat senang, bahkan seringkali mengajak adiknya untuk bermain koleksi mobil-mobilan miliknya. Meskipun bayi mungil itu baru bisa berceloteh-celoteh kecil, Aryan tetap senang mengajak mengobrol atau menjaga ketika adiknya sedang tertidur.

Nayna Harla Brodjohujodyo, bayi perempuan dengan mata indah berkelopak monolid itu begitu cantik. Ketika baru lahir, Nayna memiliki kulit yang begitu putih sampai rona kulitnya berwarna pink. Aryo gemas sendiri terhadap anaknya. Katanya, Nayna itu mirip boneka hidup.

“Aryo, jangan di gigit anaknya,” peringat Tiara ketika mendapati suaminya langsung menyerbu Nayna. Padahal Tiara baru saja meletakkan anaknya itu sebentar di ranjang.

“Habis gemes Ra. Jadi pengen gigit,” ucap Aryo.

“Yaa itu bayi, Aryo. Bukan boneka,” Tiara menatap Aryo dengan tatapan memperingati.

“Lucu banget tapi, Ra. Pipi sama bibirnya pink,” Aryo mengamati Nayna yang baru saja di dandani Tiara pagi ini. Anaknya itu baru selesai mandi dan istrinya suka sekali mendandani Nayna dengan baju-baju lucu dan juga aksesoris.

“Anak Papa cantik banget sih hari ini, wangi lagi,” cerocos Aryo sambil menciumi Nayna. Aryo sangat senang bermain dengan Nayna dan Aryan setiap ia ada waktu. Apalagi hari ini adalah hari libur, jadi ia akan menghabiskan waktunya untuk istri dan anak-anaknya.

Tiara yang telah selesai mandi dan menyisir rambutnya, lekas menghampiri Nayna untuk menyusui anaknya itu.

“Nayna, gantian sama Papa boleh nggak, Nak?” celetuk Aryo.

“Gantian apa—”

Tiara mendapati cengiran di wajah Aryo dan seketika itu ia membelalak “Aryo kamu nih ya,” Tiara lantas melayangkan tangannya di lengan Aryo, memukulnya pelan.

“Aku kan juga mau Sayang,” Aryo nampak mencebikkan bibirnya.

“Kalau Nayna kan masih kecil, belum ada giginya. Kamu mah suka gigit,” cetus Tiara. Setelah Nayna puas menyusu dan sudah tertidur, Tiara menimang-nimang Nayna di gendongannya supaya anaknya itu cepat pulas.

“Aku nggak gigit, Sayang. Beneran deh,” ucap Aryo.

“Eh Sayang, kamu kan udah janji sama Aryan, mau beliin dia hot wheels yang limited edition.”

“Aku beliin Aryan mobil aslinya aja, gimana Sayang?”

“Buat apa, Aryan mana ngerti. Itu mah maunya kamu,” Tiara tertawa meledek Aryo.

Di tengah situasi itu, Aryan melenggang masuk ke kamar orang tuanya setelah bocah 3 tahun itu mengetuk pintunya.

“Kak, Papa udah ketemu mobil hot wheels yang kakak mau tuh kemarin,” ucapan Tiara itu sukses membuat Aryan terlihat senang.

“Beneran, Pah?” tanya Aryan pada papanya.

“Beneran dong, Sayang. Nanti siang mobilnya di anterin sama om Rama ya,” ujar Aryo.

Saat Nayna sudah pulas, Tiara meletakkan anaknya itu ke dalam box bayi. Kemudian Tiara meminta Aryan mendekat padanya dan ia membisikkan sesuatu.

“Pah, Aryan maunya Papa yang ambil mobilnya sama Aryan. Nggak mau sama om Rama,” ujar Aryan pada Aryo usai mamanya mengatakan sesuatu padanya.

Tiara lantas mendekati Aryo dan mengusap lengan suaminya itu, “Tuh, anaknya mau quality time sama kamu. Temenin dulu, nanti pulangnya aku kasih kamu hadiah.”

“Hadiah apa Sayang?” tanya Aryo.

“Ada deh, rahasia. Tapi kayaknya kamu akan suka.”

“Oke, kalau gitu. Aku anterin Aryan beli mobil dulu ya Sayang,” Aryo kini beralih pada Aryan setelah ia mengambil kunci mobilnya.

Bro, let's go. Today is boys day out. Aryan nanti pilih aja mau yang mana ya mobilnya. Papa beliin yang Aryan mau.”

“Hot wheels Pah?” tanya Aryan.

“Bukan, Nak. Mobil beneran yang besar, yang bisa jalan. Aryan mau warna apa? Merah atau biru?”

“Wow keren banget, Pah. Aryan mau warna biru deh kalau gitu, boleh ya?” seru bocah itu nampak gembira dan antusias.

“Bener-bener mirip kamu, Sayang. Hobi kok beli mobil,” celetuk Tiara.

“Iya, dong. Aryan, kamu boleh koleksi mobil nanti kalau sudah besar, ya. Papa buatin garasi khusus buat kamu dan kamu bisa pilih mau diisi sama mobil apa aja.”

Setelah berpamitan dan menyalami tangan Tiara, Aryan kecil segera menyusul langkah papanya. Tiara memerhatikan punggung dua lelaki itu menjauh. Dua lelaki hebat yang selalu siap untuk melindunginya dan juga Nayna.

Aryo menjadi papa yang begitu penyayang dan meletakkan keluarganya di prioritas utamanya. Tiara selalu bangga terhadap pria itu. Sejak mereka memiliki anak, Aryo menjadi sosok yang lebih baik dan mau belajar banyak hal. Aryan, anaknya itu menjadi kakak dan lelaki yang pintar, penurut, dan selalu bersikap lembut terhadap mama dan adiknya. Terakhir Nayna, bayi perempun itu menjadi pelengkap yang begitu manis di hidup mereka.

Hidup Tiara kini terasa lebih cukup. Namun seperti yang pernah Aryo katakan padanya, pria itu tidak bisa selalu menjanjikan kebahagiaan pada Tiara. Kalau ada bahagia, maka akan ada sedih juga. Beberapa orang melihat kehidupannya seperti fairytale yang memiliki happy ending. Seorang putri yyang menemukan pangeran baik hati dan dikaruniai anak-anak yang pintar. Kenyataannya padahal tidak selalu begitu.

Tiara mengalihkan tatapannya pada foto pernikahan yang terpajang di bingkai besar di kamar. Pria yang berada di sampingnya di fotoitu bukanlah sosok yang sempurna. Namun Tiara sempurna karena bersamanya. Bersama Aryo, Tiara rela melewati hujan dan jalanan berlubang untuk menemukan pelangi di ujung jalan itu. Rasa cintanya kepada Aryo tanpa syarat. Saat Tiara tidak punya alasan lagi untuk mencintai Aryo, tapi ia memilih untuk terus mencintainya. Kira-kira seperti itu lah yang dapat Tiara gambarkan.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara ingin sekali membuka matanya, tapi itu terasa sulit di lakukan. Efek pasca operasi membuatnya merasa begitu mengantuk. Saat ini Tiara sudah dipindahkan ke ruang rawat, operasinya telah berjalan lancar, dan anak lelaki mereka lahir dengan sehat.

“Aryo ... ” gumam Tiara yang nampak setengah sadar.

“Ra, tidur aja dulu,” titah Aryo di sampingnya.

Perlahan Tiara membuka matanya, ia menatap Aryo samar-samar, “Mau liat baby,” ujarnya lirih.

“Iya, nanti ya Sayang,” Aryo mengusap kepala Tiara.

Tiara mengulaskan senyumnya, perempuan itu kembali memejamkam matanya, “Aryo, anak kita ganteng,” gumam Tiara. Detik itu juga Aryo tertawa pelan mendapati ucapan Tiara.

“Iya ganteng anak kita. Lebih mirip siapa ya Ra wajahnya?”

“Lebih mirip papanya deh. Baru liat sebentar tadi,” ucap Tiara.

“Matanya mirip kamu banget, nggak terlalu sipit kayak aku.”

“Ohiya ya,” Tiara tertawa pelan. “Adil dong, Sayang. Kayaknya fifthy fifthy deh.”

***

Bayi lelaki itu menjadi perhatian semua orang yang datang menjenguk satu persatu. Namanya Aryan Sakha Brodjohujodyo, anak pertama dan cucu pertama laki-laki di keluarga itu mendapat begitu banyak cinta dari orang-orang tersayangnya.

“Melebihi ekspektasi banget ini wajahnya, ganteng ya,” ujar Alifia kala pertama menggendong cucu pertamanya.

“Halo, koko kecil, anak ganteng. Ini matanya Tiara banget lho,” ucap Feli.

“Iya Mah, tapi bibirnya Aryo banget, kan? Liat deh,” celetuk Tiara.

Aryo lantas mendekati anaknya yang berada di gendongan Alifia, “Coba liat, semirip apa?” ujar Aryo.

Feli memerhatikan kedua lelaki beda generasi itu secara bergantian, “Mirip kamu banget ini bibirnya, Aryo.” ujarnya kemudian.

“Iya, ya. Aryan ini kayak Tiara versi laki-laki tapi kalau di perhatiin lagi, wajahnya juga Aryo banget,” komentar Alifia.

Keluarga terdekat yang menjenguk satu persatu pun akhirnya pulang. Mereka meninggalkan parcel buah serta beberapa kado untuk perlengkapan si baby. Kini bayi itu sudah tertidur di pelukan ibunya dengan senyuman kecil yang seolah sudah diatur. Entah senyum itu mirip siapa, tapi yang jelas senyumnya begitu menghangatkan hati siapapun yang melihatnya.

“Papanya mana?” tanya Feli pada Tira saat mama mertuanya itu kembali dari toilet.

Tiara lantas mengarahkan tatapannya pada Aryo yang tengah terlelap di sofa bed di pojok ruangan.

“Oalah anak itu udah jadi Bapak kok, malah tidur duluan. Harusnya kamu yang tidur, Aryo jagain bayinnya, gantian gitu lho,” ucap Feli.

“Nggak papa, Mah. Lagian Aryo nggak bisa ngasih susu nanti kalau bayinya bangun.” Tiara asik mengelus pipi anaknya dengan ibu jarinya dan sesekali mengusap rambut hitamnya.

“Iya sihh bener juga, tapi kasian kamu pasti capek ya, Sayang?”

Aryo terbangun karena mendengar obrolan Tiara dan Feli. Nampak beberapa garis bekas cetakan sofa di wajahnya dan rambutnya terlihat sedikit acak-acakan.

“Hai,” sapa Aryo diiringi cengiran tanpa dosanya.

Feli menatap Aryo dengan tatapan memperingati. Baiklah, Aryo mengerti. Namun masalahnya ia begitu mengantuk tadi dan berakhir ketiduran di sofa bed.

“Dedek bayi juga tidur, yaudah Aryo tidur. Melek mau ngapain?”

“Yaa, jagain anakmu dong. Gantian istrimu yang tidur. Kayak kamu yang melahirkan aja tadi pagi, jam segini kok udah tepar,” ujar Feli.

“Mau main sama Aryan tapi Aryannya tidur terus, Mah,” Aryo menoel noel pelan pipi tembam anaknya sambil nyengir tanpa dosa saat bayi mungil itu bergerak karena ulahnya.

“Baru tidur ini Sayang, nanti susah lagi nidurinnya,” Tiara pun memperingati tingkah suaminya itu.

“Masa sih? Kalau aku sama kamu langsung tidur nyenyak tuh. Aku kapan di keloninnya?” celetuk Aryo asal.

“Yaudah kamu pulang aja sama papa. Biar Mama di sini jagain menantu dan cucu Mama. Gimana?” tawar Feli.

“Mama nggak perlu repot, tenang aja, semuanya akan beres. Aryo minum kopi nanti langsung segar lagi kok. Sayang, aku jangan di suruh pulang, ya ... ?” Aryo memasang tampang memelas lalu ia bergerak memeluk kedua cinta dalam hidupnya itu, Tiara dan Aryan.

“Yaudah Mama pulang dulu deh kalau gitu. Nanti kalau ada apa-apa atau Tiara butuh bantuan, telfon Mama ya Sayang,” ucap Feli.

“Iya Mah, makasih ya. Mama hati-hati,” ujar Tiara.

“Iya Sayang, sama-sama. Anak ganteng, Oma pulang dulu ya, besok jenguk Aryan lagi,” setelah mencium cucunya itu, Feli pamit pulang dan Aryo mengantar mamanya sampai ke depan ruang rawat.

“Ra, coba tebak kenapa anak bayi tidur terus?” Aryo mengambik tempat di sisi ranjang Tiara.

Tiara tertawa mendengar pertanyaan suaminay yang terdengar agak aneh itu baginya, “Anak bayi kan masih kecil, Aryo. Ya, butuh tidur banyak dong,” ucap Tiara.

“Jawaban kamu salah,” balas Aryo dan saat itu juga kening Tiara berkerut.

“Terus yang bener jawabannya apa?” Tiara merasa seakrang ia ikutan konyol karena mengikuti permainan Aryo.

“Kamu jangan gampang nyerah dong, Ra. Kalau kamu gampang nyerah, gimana kamu mau mencintai aku?” Aryo mendekatkan wajanya pada Tiara.

“Alay kamu ah,” Tiara berusaha menjauhkan Aryo dari hadapannya dan melayangkan jarinya di legan Aryo.

“Aduh jangan cubit-cubit dong, mending cium-cium aja.” Aryo memeluk Tiara dari samping dan pria jangkung itu menjatuhkan kepalanya di pundak istrinya.

“Ra kapan dedek bayinya bangun sih?”

“Nggak tau, Aryo. Suka-suka dia mau bangun kapan.”

“Kamu pegel nggak? Sini gantian gendong,” tawar Aryo.

Tiara pun memberikan instruksi pada Aryo untuk memegang kepala dan punggung bayinya ketika akan menggendong. Akhirnya Aryo bisa menggendong anaknya dan ia merasa begitu senang. Sementara Tiara pergi ke kamar mandi Aryo menimang-nimang anaknya dalam dekapannya.

“Sayang, kamu bisa jalan ke kamar mandi sendiri? Perlu aku bantuin nggak?” tanya Aryo.

“Bisa, Sayang. Nggak papa kamu gendong Aryan aja,” Tiara menyahuti dari kamar mandi. Aryo pun mengangguki dan kini atensinya kembali pada Aryan yang berada di gendongannya.

“Bayi, kamu tidur terus ya. Papa kan mau main sama kamu. Hey Aryan, bangun dong,” Aryo berujar di depan wajah anaknya namun anaknya itu seolah mengejeknya dengan memalingkan muka dan memonyongkan bibir. Kedua mata Aryan masih terpejam tapi bibirnya itu tetap aktif.

“Kenapa kamu ketawa sendiri?” suara Tiara memecah interaksi antara Aryo dengan Aryan kecil.

“Anak kamu nih Sayang, kecil-kecil udah pinter,” ucap Aryo.

“Emangnya dia ngapain?”

“Nih liat. Dia udah bisa manyunin bibir di depan Papanya.”

Tiaa pun ikut tertawa, “Lucu banget. Aahh ... Aryo lucu banget. Liat deh, itu dia senyum,” Tiara justru mendapati Aryan yang tersenyum ketika ia melihat wajahnya.

“Astaga anak kita hebat banget Ra.”

“Hebat gimana?”

“Waktu kamu liatin, dia senyum. Waktu aku yang liat dia manyun. Dia bisa rubah ekspresinya dalam sekejap.”

“Iya, mungkin dia mau kembaran sama Papanya.”

“Kembaran apa?”

“Bibir kalian mirip banget. Kalau kamu tidur, aku perhatiin kamu suka manyun-manyun juga kayak Aryan gini, persis.”

“Masa sih? Oke kalau mirip, kamu lebih suka yang mana? Punya aku apa punya Aryan?”

Tiara lantas membulatkan kedua matanya. Suaminya ini benar-benar ajaib dan tiada duanya. Herannya lagi, ucapan Aryo itu selalu dapat langsung dipahami oleh Tiara.

“Punya Aryan lah. Dia lebih imut dari pada kamu.” Tiara beralih mencubit pelan pipi anaknya lalu menciumnya dengan gemas. Detik berikutnya Tiara merasakan cahaya di sekitarnya menggelap karena rupanya Aryo memangkas jarak antara mereka.

Mata Tiara dan mata Aryo bertemu. Seperti ada sengatan yang mengaliri sekujur tubuhnya, ketika Aryo menatapnya penuh afeksi seperti ini. Tiara masuk ke dalam lingkaran sempit dan hangat itu, lingkaran yang bernama keluarga. Detik berikutnya, dengan lembut Aryo menempelkan bibirnya di bibir Tiara. Benda kenyal itu selalu membuat Tiara candu, ia tidak tahan untuk tidak membalas dan bahkan sedikit memberikan gigitan di sana.

Sekitar 3 menit ciuman mereka, Aryo pun mengurai pagutannya. Kemudian Aryo mendekap dua hal yang menjadi miliknya itu. Tidak, bukan hanya dua menurutnya, tapi lebih dari itu. Baginya Tiara dan Aryan adalah seluruh hal yang diinginkannya di dunia ini.

“Aryo,” ujar Tiara.

“Iya?”

Jarak keduanya masih begitu intim, Aryo menatap bergantian Tiara dan Aryan. Anaknya itu tertidur pulas di tengah-tengah aktivitas cinta papa dan mamanya, membuat Aryo mengulaskan senyumnya.

“Aku pernah bilang mau punya anak yang matanya mirip kamu. Pasti lucu banget,” ungkap Tiara.

“Iya, aku ingat itu. Kamu mau kita punya anak berapa?”

“Tiga atau empat, gimana?”

“Hmm ... boleh,” Aryo mengangguk-angguk dan mengulaskan senyumnya. Tampak Eye smile Aryo yang selalu Tiara suka dan tidak pernah bosan untuk dipandang.

“Kalau anak kita perempuan dan matanya mirip kamu, dia pasti cantik banget karena punya eye smile mirip papanya.”

Introducing the new family

Daddy

Aryo

Mommy

Tiara

1st Son

Aryan

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sekitar satu tahun yang lalu, Aryo hanyalah pria biasa—tidak—tapi dia selalu merasa dirinya luar biasa. Ketampanan, harta, tahta, yang di dimilikinya menjadikannya pria arogan dan tidak menganggap bahwa komitmen dalam hubungan itu penting. Satu tahun yang lalu juga ia bertemu dengan perempuan bernama Mutiarani Ivanka Lubis. Pertemuan mereka yang tidak terlupakan itu, membawanya menikahi Tiara. Aryo merasa semuanya adalah takdir. Tuhan telah memberikan Tiara untuknya, memberikannya yang terbaik.

Usia kehamilan Tiara kini sudah menginjak usia 38 minggu. Mereka telah konsultasi dengan dokter dan memutuskan agar kelahiran anak mereka dilakukan dengan operasi. Tidak ada alasan khusus sebenarnya, Aryo dan Tiara ingin kelahiran anak pertama mereka well prepared. Selain itu jika mengambil jalan operasi, mereka bisa menentukan tanggal kelahiran anak mereka.

Malam ini Aryo dan Tiara berangkat ke rumah sakit dengan berbagai persiapan yang sudah dibawa. Jadwal operasi dilakukan besok pagi pukul 9. Tiara baru saja kembali ke ruang rawatnya setelah melakukan pemeriksaan yang dibutuhkan sebelum melakukan operasi besok.

Aryo mengambil tempat di samping Tiara yang berbaring di ranjang rawatnya. “Sayang,” ujarnya.

“Iya?”

“Kamu mau makan apa lagi sebelum puasa? Biar aku beliin,” ucap Aryo.

Tiara menoleh ke arah Aryo, “Kamu di sini aja. Minta tolong Egha yang beliin,” ujarnya sambil memegang lengan Aryo.

“Oke, nanti aku minta Egha beliin. Kamu kasih tau aja yaa,” putus Aryo diiringi senyumnya.

“Besok pagi mama sama bunda kesini, kan?” tanya Tiara.

“Iya, kita kan mau doa bersama sebelum kamu masuk ruangan operasi.”

Tiara pun mengangguk. Ia memerhatikan Aryo yang menghubungi Egha untuk membelikan makanan yang diinginkan Tiara. Sekarang menunjukkan pukul 8 malam, Tiara ingin tidur sebentar, tapi tidak bisa. Ia sedikit kepikiran soal operasi besok. Ia tidak sabar menunggu bayinya lahir agar bisa bertemu dan memeluknya langsung.

“Kenapa Sayang? Nggak bisa tidur ya?” tanya Aryo.

“Aku mau tidur sebentar aja, tapi nggak bisa, kepikiran operasi besok,” ungkap Tiara.

“Yaudah, nggak papa. Nanti habis makanannya dateng, kamu makan, baru coba tidur lagi ya,” tutur Aryo sambil membantu Tiara untuk merubah posisinya menjadi duduk. Aryo juga menyetel ranjang rawatnya dan menyesuaikan posisi Tiara agar istrinya itu nyaman. Tidak lama kemudian, terdengar sebuah ketukan di pintu ruangan. Aryo bergegas membukanya dan menerima makanan yang dibawakan oleh Egha.

“Sayang, ini makanannya,” Aryo meletakkan bungkusan bungkusan plastik di nakas samping ranjang. Ia mendapati istrinya itu baru selesai menyisir rambut lalau menggulungnya ke atas dan menjepitnya.

“Makasih, Sayang,” Tiara lantas mengambil makanan itu dan mulai menikmatinya. Kedua mata Tiara nampak berbinar ketika baru saja melakukan suapan pertama.

“Hmm ... enak banget nih, Sayang. Kamu mau? Sini aku suapin,” ujar Tiara. Aryo pun mendekat dan menerima suapan dari Tiara.

“Paling tau ya kamu jajanan enak,” celetuk Aryo.

“Iya dong,” balas Tiara sambil menampakkan cengirannya. Tiara sudah selesai dengan makanannya dan kini merasa begitu kenyang.

“Bayinya happy nih kamu kasih makan terus,” cetus Aryo sembari mengarahkan tangannya untuk mengusap perut besar Tiara. Aryo mengambil tempat di sisi ranjang istrinya itu, mereka duduk bersebelahan dan Aryo memeluk Tiara dari samping.

“Nggak nyangka besok aku jadi Papa yaa Ra,” ucap Aryo.

Tiara menyunggingkan senyumnya sekilas, “Cie ... yang mau jadi Papa. Seneng banget ya?” tanyanya sambil mengusapkan tangannya di sisi wajah Aryo. Aryo merebahkan kepalanya di bahu Tiara, tampak begitu nyaman di sana.

Aryo meraih satu tangan Tiara, membawanya mendekat pada wajahnya, laluia menyematkan kecupan di punggung tangan itu.

“Aryo, barusan anak kita nendang,” ucapan Tiara itu seketika membuat Aryo mengangkat kepalanya. Mereka menunggu lagi anak mereka melakukan hal yang sama. Ekspresi keduanya tampak begitu bersemangat menantikan momen itu.

Dua detik berikutnya, Tiara merasakan pergerakan di perutnya bahkan satu bagian di perutnya nampak menonjol akibat aksi bayi mereka. Keduanya menyaksikan hal itu bersama dan kala itu terjadi Aryo dan Tiara hanya takjub melihatnya. Jantung mereka rasanya meletup-letup karena bahagia.

“Hei, bayi. Kamu nggak sabar ya ketemu papa dan mama? Besok kita ketemu ya Jagoan,” Aryo mendekatkan dirinya di perut Tiara dan berbicara dengan anaknya itu.

“Aryo, tuhan itu hebat yaa,” ucap Tiara. Aryo pun mendongak dan mempertemukan pandangan mereka.

Aryo mengangguk setuju. “Tuhan ngasih lebih dari apa yang aku minta, Ra. Tuhan hebat dan baik banget sama umatnya,” ujar Aryo.

“Dulu aku pernah kecewa sama Tuhan. Aku salah menilai dan sudah meragukannya. Tapi aku sadar akhirnya, apa yang menyakiti kita hari itu adalah proses kita untuk sampai pada kebahagiaan, suatu hari. Tuhan akan menggantikannya dengan yang lebih baik,” Tiara bergerak memeluk Aryo dari samping.

“Ra,” ujar Aryo di dekat Tiara. “I want to live with you forever. I want to hug you and loving you, as much as I can,” tuturnya.

Beberapa detik berikutnya, Tiara mengangkat wajahnya untuk menatap Aryo, “Pantes tadi makanan aku kurang manis,” ujar Tiara.

“Masa sih? Perasaan manis kok Sayang,” Aryo nampak kebingungan. Ia tidak merasakan hal yang sama dengan yang Tiara ucapkan barusan.

“Iya, kurang manis tau. Orang manisnya diambil sama kamu semua,” detik itu juga Tiara menampakkan senyum jenakanya di depan Aryo.

Aryo menghela napasnya, ia lantas mendekap Tiara lebih erat lagi, “Gombal banget sih kamu. Nanti aku bales ya, liat aja.”

“Oke, aku iap menunggu balasan gombal dari Ayang. Harus lebih sweet ya, awas aja kalau enggak.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo

Tiara

10 tahun. Waktu yang tidak sebentar unuk diarungi. Ada suka dan duka, tapi mereka rela melaluinya. Ada perayaan yang cukup besar yang Aryo buat untuk merayakan 10 tahun pernikahannya dengan Tiara.

Semalam indah sekali. Set up dinner, lampu, bunga-bunga, dan kehadiran orang-orang terdekat sekaligus tersayang membuatnya semuanya terasa lengkap.

Dimana Aryo dan Tiara berada sekarang adalah jelas bukan tempat yang ada di rumah, yang ada dua anak mereka. Aryo mengatakan ia ingin menikmati waktunya berdua dengan Tiara. Jadilah Aryan dan Nayna dititipkan ke Oma dan Opa. Kedua anaknya juga sudah besar dan bisa diberi pengertian.

Habis bagaimana, Aryo stuck mencintai Tiara. Caranya mencintai sepertinya terlihat agak berlebihan atau orang-orang seringkali menyebutnya bucin, tapi Aryo sama sekali nggak peduli soal bucin atau apalah itu.

Seseorang yang tersenyum di sebelahnya saat pagi hari adalah masih orang yang sama. Seseorang yang masih memberikan ciuman manis di paginya masihlah orang yang sama. Aryo memilih itu, hidup bersama Tiara selama ini. Selama sisa hidup yang ia miliki.

Aryo memilih wanita yang pemberani dan tangguh, maka ia harus menerima kalau wanita yang dicintainya itu kadang juga keras kepala dan punya pemikiran sendiri. Wanita tidak ada yang sempurna. Namun Tiara telah membuat hidupnya merasa sempurna dan berarti setiap sedetiknya.

Gamblang, Aryo begitu mencintai wanita ini.

Aryo memerhatikan Tiara di sampingnya, lalu ia menyematkan satu ciuman di kening perempuan itu. Mereka satu selimut berdua, di pagi yang sejuk, dengan pemandangan gedung perkotaan dari dinding kaca besar di kamar hotel ini.

“Ra ... ” panggil Aryo manja.

“Apa?” Tiara masih dengan suara lesunya menjawab. Ia selalu heran, kenapa Aryo punya seribu kekuatan untuk langsung mengumpulkan nyawanya di pagi hari.

Walaupun sudah menjadi seorang ibu, Tiara tetaplah Tiara si perempuan yang doyan tidur, ia tetap tidak bisa bangun terlalu pagi. Namun Aryo menerima itu. Justru Aryo mengatakan itu adalah menjadi kesempatan untuk bermesraan di kasur sebelum memulai hari yang padat.

“Cuma mau bilang, kamu tau kan aku sayang kamu,” ucap Aryo.

“Hmm ... aku udah tau.” Tiara nampak memanyunkan bibirnya.

“Bosen ah gombalannya gitu mulu,” lanjut Tiara lagi.

“Siapa?”

“Kamu lah. Nggak romantis,” seru Tiaa.

“Kamu maunya kayak gimana emangnya?”

Tiara pun menyipitkan matanya. “Kamu ... bener mau nurutin yang aku minta?”

“Hmm, asal jangan meminta yang itu,” peringat Aryo. Pipi Tiara seketika memerah ketika thau maksud Aryo adalah soal rencana mereka punya anak lagi.

“Jangan bahas itu Sayang, ih ... aku malu.” Tiara membalikkan badannya untuk memunggungi Aryo.

“Istri aku malu nih ceritanya? Tiara, aku emang masih sanggup kerja untuk menghidupi kamu dengan layak dan juga kedua anak kita. Bahkan sepuluh anak.”

“Terus?” ucap Tiara masih membelakangi Aryo.

“Gimana ya. Aku khawatir sama keadaan kamu, Ra,” terang Aryo.

“Kata dokter semuanya udah baik-baik aja, Aryo. Kita udah ke dokter kan kemarin, Dokter Lilian juga dokter yang sangat berpengalaman di bidangnya.”

“Aku cuma khawatir, Ra. Kamu tau itu, aku nggak bisa lihat kamu memperjuangkan antara hidup dan mati. Waktu Nayna lahir, aku lega banget waktu tahu kamu masih di dunia ini. Kita semua hampir aja kehilangan kamu,” ujar Aryo panjang lebar.

Aryo lantas menyematkan kecupan di bahu Tiara, ia memeluk tubuh istrinya dengan posesif. Rasa takut itu sedikit kembali muncul membawa Aryo pada kenangan 7 tahun lalu.

Tiara tertegun. Dadanya terasa sesak mendengar kalimat Aryo barusan. Tiara pun berbalik, ia menatap Aryo dengan pandangan berkaca-kaca dan pandangan bersalah.

“Aryo maaf aku egois,” aku Tiara.

Hey, no problem. Emang lucu dan bahagia kalau ada anak bayi lagi di rumah kita, Ra. Tapi kalau hamil lagi membahayakan kamu, aku nggak mau mengambil resiko itu,” putus Aryo telak.

Tiara lantas mengangguk pelan. Ia akhirnya setuju akan keputusan Aryo itu. Karena suatu kondisi, untuk hamil lagi akan sulit dan cukup berat untuk dijalani oleh Tiara. Akibat infeksi yang terjadi di rahimnya setelah melahirkan Nayna, membaut Tiara sulit hamil lagi dan beresiko tinggi bagi ibu maupun calon bayinya nanti.

“Kita tunggu Aryan menikah aja dan punya anak. Nanti akan ada bayi lucu lagi di rumah ini, kan? Gimana?”

“Itu masih lama, Aryo. Aryan masih kecil, kamu nih,” Tiara tertawa sambil menggeleng-gelengkap kepalanya.

“Di usia 20 tahun, kalau Aryan mau melanjutkan perusahaan, paling enggak dia harus sudah menikah. Keputusan itu ada di tangannya, dia bisa bebas memilih,” ujar Aryo.

“Oh iya, Aryan harus menikah dulu. Eh Sayang, tapi aku belum siap jadi grandma kalau Aryan punya anak nanti. Apa usia 20 itu nggak terlalu cepat? Aku masih cantik gak kalau udah tua? Gimana dong,” Tiara panik memikirkan banyak hal di kepalanya yang tiba-tiba saja terlintas. Aryo malah tertawa.

“Kamu kenapa ketawa?” celetuk Tiara mendapati Aryo yang terbahak.

“Masih cantik kamu kok. Dimana tuanya? Masih kayak perawan gini.” Aryo menangkup wajah istrinya menggunakan kedua tangannya.

“Kalau masih perawan boleh dong, nyari perjaka?”

“Hmm ... berani kamu emangnya nyari perjaka?”

“Nggak jadi deh, habis pawangku galak. Takut.”

“Siapa pawang kamu?”

“Kamu kan pawang aku.”

“Sayang nggak sama pawangnya kamu?”

“Nanti terbang ah orangnya. Tiap hari minta bilang sayang mulu. Dua puluh tahun nggak cukup nempel kamu terus, hmm?”

“Nggak cukup.” Aryo mendekap tubuh Tiara halus. Tiara merasakan udara dingin yang sebelumnya ia rasakan kini telah berubah menjadi hangat. Tiara menyandarkan kepalanya di bahu Aryo dengan tangan yang membalas mendekap torso suaminya.

Tiara melihat Aryo memejamkan matanya.

“Aryo,” ujar Tiara pelan di dekat suaminya.

“Kenapa Sayang? Aku tidur lagi dulu ya?”

“Kamu masih nyimpen yang di kantong celana kamu nggak?”

“Apa yang di kantong?”

“Yang warna ungu, rasa blueberry.”

Seketika mata Aryo kembali terbuka. Ia mendapati Tiara tersenyum jahil tapi sekaligus sangat manis di hadapannya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara mendapati Aryo di ruang tamu tengah bermain bersama Aryan. Tiara menghampiri kedua lelaki itu dan meminta Aryo untuk memakai bajunya karena suaminya itu shirtless.

“Aryan, kenapa Papa nggak pake baju?” tanya Tiara pada putranya.

Aryan mengalihkan atensinya pada Tiara, “Kata Papa, Papa gerah Mah. Tadi Aryan habis main hide and seek sama Papa,” jelas Aryan.

“Aryan udah beli mobilnya tadi sama Papa?”

“Udah dong, Mama. Warna mobilnya biru, sesuai permintaan Aryan,” Aryo yang menjawab sambil memindahkan posisinya agar di samping Tiara di sofa. Aryo menyerahkan mainan robot milik Aryan kepada anaknya itu.

“Nayna masih tidur Ra?” tanya Aryo.

“Masih. Kamu pakai baju dong, nanti masuk angin,” titah Tiara.

“Panas Ra cuacanya. Oh iya hadiah buat aku mana? Yang tadi kamu bilang,” pinta Aryo pada Tiara.

“Hmm ... kamu temenin Aryan main dulu hari ini. Besok kan kamu kerja, anak kamu mau main sama Papanya. Aku tunggu kamu di kamar, oke?” ucap Tiara dan hendak beranjak dari posisinya, tapi Aryo menahannya sesaat.

Tiara menatap Aryo dengan tatapan bertanya. “Hadiahnya ada di kamar?” tanya Aryo.

“Iya, Papa,” ucap Tiara dengan nada lembutnya, tidak lupa sebuah senyum menawannya.

Sebelum benar-benar pergi dari sana, Tiara mendekat pada Aryo. Aryo yang shirtless membuat Tiara bia menghirup aroma khas dari tubuh kekar suaminya. Saat tatapan mereka bertemu, Tiara segera menyematkan kecupan di pipi Aryo. Tiara lekas pergi dari sana sebelum Aryo memberi balasan akan perbuatannya. Urusannya bisa panjang nanti dan Tiara sangat tahu itu.

***

Tiara menunggu Aryo di kamar dengan sabar. Tiara nampak menggigiti bibir bagian bawahnya. Beberapa kali matanya melirik ke arah pintu kamar, tapi belum juga mendapati Aryo di sana.

Cklek!

“Sayang,” suara fameliar itu seketika membuat Tiara menoleh ke sumbernya. Ia mendapati Aryo di sana, masih shirtless. Suaminya itu hanya mengenakan jeans lengkap dengan ikat pinggangnya kulitnya. Saat Tiara perhatikan lebih jelas lagi, nampak underwear hitam balenciaga yang menyalip tipis di antara jeans yang suaminya kenakan.

“Aku mandi dulu ya, panas banget cuacanya,” ujar Aryo hendak pergi ke kamar mandi, tapi Tiara lebih dulu menahannya.

“Sebentar,” Tiara lantas mengalungkan lengannya di bahu Aryo, ia sedikit berjinjit untuk sepenuhnya memeluk tubuh suaminya.

“Lengket lho Sayang, aku keringetan gini,” ucap Aryo.

“Nggak papa, aku suka,” Tiara gamblang mengucapkannya. Di balik punggung Tiara, Aryo tersenyum.

Tidak lama setelah itu, Tiara mengurai pelukannya dan meminta Aryo untuk tidak mandi.

“Aryo, aku mau pakai baju dinas aku yang hitam, itu hadiah buat kamu. Would you still like it that one set?”

Aryo memicingkan matanya dan sebuah seringai terulas di wajah tampannya. “Selamanya aku suka itu, Sayang. I said to you, thousand times that damn one set really looks amazing on you. You're always beautiful with anhything you wear, you have to know about that.”

Oke, then. I'll be right back, wait here,” ucap Tiara sebelum ia berlalu dari hadapan Aryo.

Aryo akan rela berjuang untuk Tiara dan setia menunggu perempuan itu kembali padanya, karena ia tidak pernah ingin kehilangan dunianya lagi. Tiara adalah istri dan ibu dari anak-anaknya itu yang telah membuat Aryo menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuknya.

Memang terdengar mustahil sebuah kisah memiliki akhir bahagia. Namun kebahagiaan menurutnya adalah keseimbangan antara senang dan sedih. Di antara dirinya dan Tiara, tidak pernah ada akhir yang bahagia yang ditulis seorang penulis di lembar terakhir novelnya. Tidak. Bagi Aryo kisahnya dan Tiara tidak akan lekang oleh waktu, ia mencintai Tiara tanpa 'kenapa', hingga menginginkan hanya maut yang bisa memisahkan dirinya dan Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara mendapati Aryo di ruang tamu tengah bermain bersama Aryan. Tiara menghampiri kedua lelaki itu dan meminta Aryo untuk memakai bajunya karena suaminya itu shirtless.

“Aryan, kenapa Papa nggak pake baju?” tanya Tiara pada putranya.

Aryan mengalihkan atensinya pada Tiara, “Kata Papa, Papa gerah Mah. Tadi Aryan habis main hide and seek sama Papa,” jelas Aryan.

“Aryan udah beli mobilnya tadi sama Papa?”

“Udah dong, Mama. Warna mobilnya biru, sesuai permintaan Aryan,” Aryo yang menjawab sambil memindahkan posisinya agar di samping Tiara di sofa. Aryo menyerahkan mainan robot milik Aryan kepada anaknya itu.

“Nayna masih tidur Ra?” tanya Aryo.

“Masih. Kamu pakai baju dong, nanti masuk angin,” titah Tiara.

“Panas Ra cuacanya. Oh iya hadiah buat aku mana? Yang tadi kamu bilang,” pinta Aryo pada Tiara.

“Hmm ... kamu temenin Aryan main dulu hari ini. Besok kan kamu kerja, anak kamu mau main sama Papanya. Aku tunggu kamu di kamar, oke?” ucap Tiara dan hendak beranjak dari posisinya, tapi Aryo menahannya sesaat.

Tiara menatap Aryo dengan tatapan bertanya. “Hadiahnya ada di kamar?” tanya Aryo.

“Iya, Papa,” ucap Tiara dengan nada lembutnya, tidak lupa sebuah senyum menawannya.

Sebelum benar-benar pergi dari sana, Tiara mendekat pada Aryo. Aryo yang shirtless membuat Tiara bia menghirup aroma khas dari tubuh kekar suaminya. Saat tatapan mereka bertemu, Tiara segera menyematkan kecupan di pipi Aryo. Tiara lekas pergi dari sana sebelum Aryo memberi balasan akan perbuatannya. Urusannya bisa panjang nanti dan Tiara sangat tahu itu.

***

Tiara menunggu Aryo di kamar dengan sabar. Tiara nampak menggigiti bibir bagian bawahnya. Beberapa kali matanya melirik ke arah pintu kamar, tapi belum juga mendapati Aryo di sana.

Cklek!

“Sayang,” suara fameliar itu seketika membuat Tiara menoleh ke sumbernya. Ia mendapati Aryo di sana, masih shirtless. Suaminya itu hanya mengenakan jeans lengkap dengan ikat pinggangnya kulitnya. Saat Tiara perhatikan lebih jelas lagi, nampak underwear hitam balenciaga yang menyalip tipis di antara jeans yang suaminya kenakan.

“Aku mandi dulu ya, panas banget cuacanya,” ujar Aryo hendak pergi ke kamar mandi, tapi Tiara lebih dulu menahannya.

“Sebentar,” Tiara lantas mengalungkan lengannya di bahu Aryo, ia sedikit berjinjit untuk sepenuhnya memeluk tubuh suaminya.

“Lengket lho Sayang, aku keringetan gini,” ucap Aryo.

“Nggak papa, aku suka,” Tiara gamblang mengucapkannya. Di balik punggung Tiara, Aryo tersenyum.

Tidak lama setelah itu, Tiara mengurai pelukannya dan meminta Aryo untuk tidak mandi.

“Aryo, aku mau pakai baju dinas aku yang hitam, itu hadiah buat kamu. Would you still like it that one set?”

Aryo memicingkan matanya dan sebuah seringai terulas di wajah tampannya. “Selamanya aku suka itu, Sayang. I said to you, thousand times that damn one set really looks amazing on you. You're always beautiful with anhything you wear, you have to know about that.”

Oke, then. I'll be right back. Just wait right here,” ucap Tiara sebelum ia berlalu dari hadapan Aryo. Aryo akan rela menunggu Tiara. Perempuan yang menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya itu, telah membuat Aryo menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuknya.

Memang terdengar mustahil sebuah kisah memiliki akhir bahagia. Namun kebahagiaan menurutnya adalah keseimbangan antara senang dan sedih. Di antara dirinya dan Tiara, tidak pernah ada akhir yang bahagia yang ditulis seorang penulis di lembar terakhir novelnya. Tidak. Bagi Aryo kisahnya dan Tiara tidak akan lekang oleh waktu, ia mencintai Tiara tanpa 'kenapa', hingga menginginkan hanya maut yang bisa memisahkan dirinya dan Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷