alyadara

Tiara mendapati Aryo di ruang tamu tengah bermain bersama Aryan. Tiara menghampiri kedua lelaki itu dan meminta Aryo untuk memakai bajunya karena suaminya itu shirtless.

“Aryan, kenapa Papa nggak pake baju?” tanya Tiara pada putranya.

Aryan mengalihkan atensinya pada Tiara, “Kata Papa, Papa gerah Mah. Tadi Aryan habis main hide and seek sama Papa,” jelas Aryan.

“Aryan udah beli mobilnya tadi sama Papa?”

“Udah dong, Mama. Warna mobilnya biru, sesuai permintaan Aryan,” Aryo yang menjawab sambil memindahkan posisinya agar di samping Tiara di sofa. Aryo menyerahkan mainan robot milik Aryan kepada anaknya itu.

“Nayna masih tidur Ra?” tanya Aryo.

“Masih. Kamu pakai baju dong, nanti masuk angin,” titah Tiara.

“Panas Ra cuacanya. Oh iya hadiah buat aku mana? Yang tadi kamu bilang,” pinta Aryo pada Tiara.

“Hmm ... kamu temenin Aryan main dulu hari ini. Besok kan kamu kerja, anak kamu mau main sama Papanya. Aku tunggu kamu di kamar, oke?” ucap Tiara dan hendak beranjak dari posisinya, tapi Aryo menahannya sesaat.

Tiara menatap Aryo dengan tatapan bertanya. “Hadiahnya ada di kamar?” tanya Aryo.

“Iya, Papa,” ucap Tiara dengan nada lembutnya, tidak lupa sebuah senyum menawannya.

Sebelum benar-benar pergi dari sana, Tiara mendekat pada Aryo. Aryo yang shirtless membuat Tiara bia menghirup aroma khas dari tubuh kekar suaminya. Saat tatapan mereka bertemu, Tiara segera menyematkan kecupan di pipi Aryo. Tiara lekas pergi dari sana sebelum Aryo memberi balasan akan perbuatannya. Urusannya bisa panjang nanti dan Tiara sangat tahu itu.

***

Tiara menunggu Aryo di kamar dengan sabar. Tiara nampak menggigiti bibir bagian bawahnya. Beberapa kali matanya melirik ke arah pintu kamar, tapi belum juga mendapati Aryo di sana.

Cklek!

“Sayang,” suara fameliar itu seketika membuat Tiara menoleh ke sumbernya. Ia mendapati Aryo di sana, masih shirtless. Suaminya itu hanya mengenakan jeans lengkap dengan ikat pinggangnya kulitnya. Saat Tiara perhatikan lebih jelas lagi, nampak underwear hitam balenciaga yang menyalip tipis di antara jeans yang suaminya kenakan.

“Aku mandi dulu ya, panas banget cuacanya,” ujar Aryo hendak pergi ke kamar mandi, tapi Tiara lebih dulu menahannya.

“Sebentar,” Tiara lantas mengalungkan lengannya di bahu Aryo, ia sedikit berjinjit untuk sepenuhnya memeluk tubuh suaminya.

“Lengket lho Sayang, aku keringetan gini,” ucap Aryo.

“Nggak papa, aku suka,” Tiara gamblang mengucapkannya. Di balik punggung Tiara, Aryo tersenyum.

Tidak lama setelah itu, Tiara mengurai pelukannya dan meminta Aryo untuk tidak mandi.

“Aryo, aku mau pakai baju dinas aku yang hitam, itu hadiah buat kamu. Would you still like it that one set?”

Aryo memicingkan matanya dan sebuah seringai terulas di wajah tampannya. “Selamanya aku suka itu, Sayang. I said to you, thousand times that damn one set really looks amazing on you. You're always beautiful with anhything you wear, you have to know about that.”

Oke, then. I'll be right back. Just wait right here,” ucap Tiara sebelum ia berlalu dari hadapan Aryo. Aryo akan rela menunggu Tiara. Perempuan yang menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya itu, telah membuat Aryo menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuknya.

Memang terdengar mustahil sebuah kisah memiliki akhir bahagia. Namun kebahagiaan menurutnya adalah keseimbangan antara senang dan sedih. Di antara dirinya dan Tiara, tidak pernah ada akhir yang bahagia yang ditulis seorang penulis di lembar terakhir novelnya. Tidak. Bagi Aryo kisahnya dan Tiara tidak akan lekang oleh waktu, ia mencintai Tiara tanpa 'kenapa', hingga menginginkan hanya maut yang bisa memisahkan dirinya dan Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara ingin sekali membuka matanya, tapi itu terasa sulit di lakukan. Efek pasca operasi membuatnya merasa begitu mengantuk. Saat ini Tiara sudah dipindahkan ke ruang rawat, operasinya telah berjalan lancar, dan anak lelaki mereka lahir dengan sehat.

“Aryo ...” gumam Tiara yang nampak setengah sadar.

“Ra, tidur aja dulu,” titah Aryo di sampingnya.

Perlahan Tiara membuka matanya, ia menatap Aryo samar-samar, “Mau liat baby,” ujarnya lirih.

“Iya, nanti ya Sayang,” Aryo mengusap kepala Tiara.

Tiara mengulaskan senyumnya, perempuan itu kembali memejamkam matanya, “Aryo, anak kita ganteng,” gumam Tiara. Detik itu juga Aryo tertawa pelan mendapati ucapan Tiara.

“Iya ganteng anak kita. Lebih mirip siapa ya Ra wajahnya?”

“Lebih mirip papanya deh. Baru liat sebentar tadi,” ucap Tiara.

“Matanya mirip kamu banget, nggak terlalu sipit kayak aku.”

“Ohiya ya,” Tiara tertawa pelan. “Adil dong, Sayang. Kayaknya fifthy fifthy deh.”

***

Bayi lelaki itu menjadi perhatian semua orang yang datang menjenguk satu persatu. Namanya Aryan Sakha Brodjohujodyo, anak pertama dan cucu pertama laki-laki di keluarga itu mendapat begitu banyak cinta dari orang tersayangnya.

“Melebihi ekspektasi banget ini wajahnya, ganteng pol,” ujar Alifia kala pertama kali menggendong cucu pertamanya.

“Halo, koko kecil, anak ganteng. Ini matanya Tiara banget lho,” ucap Feli.

“Iya Mah, tapi bibirnya Aryo banget, kan? Liat deh,” celetuk Tiara.

Aryo lantas mendekati anaknya yang berada di gendongan Alifia, “Coba liat, semirip apa?” ujar Aryo.

Feli memerhatikan kedua lelaki beda generasi itu secara bergantian, “Mirip kamu banget ini bibirnya, Aryo.” ujarnya kemudian.

“Iya, ya. Aryan ini kayak Tiara versi laki-laki tapi kalau di perhatiin lagi, wajahnya juga Aryo banget,” komentar Alifia.

Keluarga terdekat yang menjenguk satu persatu pun akhirnya pulang. Mereka meninggalkan parcel buah serta beberapa kado untuk perlengkapan si baby. Kini si kecil sudah tertidur di pelukan ibunya dengan senyuman kecil yang seolah sudah diatur. Entah senyum itu mirip siapa, tapi yang jelas bayi ini sudah ada bakat genit sejak ia lahir.

“Papanya mana?” tanya Feli ketika mama mertuanya itu kembali dari toilet.

Tiara lantas mengarahkan tatapannya pada Aryo yang tengah terlelap di sofa bed ruang rawatnya.

“Oalah anak itu udah jadi Bapak kok, malah tidur duluan. Harusnya kamu yang tidur, Aryo jagain baby, gantian gitu lho.”

“Nggak papa Mah, lagian kan Aryo nggak bisa ngasih susu nanti kalau bayinya nangis.” Tiara asik mengelus pipi anaknya dengan ibu jarinya lalu meniupi rambut hitam tebalnya. Lucu sekali rambutnya seperti topi dan semuanya terasa pas dengan pipi chubby ini.

“Iya sihh bener juga, tapi kasian kamu pasti capek ya Sayang?”

Aryo terbangun karena obrolan dua wanita yang di cintainya itu. Nampak beberapa garis bekas cetakan sofa di wajahnya dan rambutnya sedikit acak-acakan.

“Hai,” sapa Aryo diiringi cengiran tanpa dosanya.

Feli menatapnya dengan tatapan memperingati. Ya baiklah, Aryo mengerti. Namun masalahnya ia begitu mengantuk tadi dan berakhir ketiduran di sofa bed.

“Dedek bayi juga tidur, yaudah Aryo tidur. Melek mau ngapain?”

“Ya jagain anakmu dong, gantian istrimu yang tidur. Kayak kamu yang ngelahirin aja tadi pagi, jam segini kok udah tepar,” ujar Feli.

“Mau main sama Aryan tapi Aryannya tidur terus,” Aryo menoel noel pelan pipi tembam anaknya sambil nyengir tanpa dosa saat bayi mungil itu bergerak tidakk nyaman karena ulahnya.

“Baru tidur ini Sayang, nanti susah lagi nidurinnya,” Tiara pun memperingati tingkah suaminya itu.

“Masa sih? Kalau aku sama kamu langsung tidur tuh. Aku kapan di keloninnya?” celetuk Aryo asal.

“Yaudah kamu pulang aja sama papa. Biar Mama di sini jagain menantu dan cucu Mama,” balas Feli.

“Mama nggak perlu repot, tenang aja, semua beres. Aryo minum kopi nanti langsung melek kok. Sayang, aku jangan di suruh pulang, ya ... ?” Aryo memasang tampang memelas lalu ia bergerak memeluk kedua cinta dalam hidupnya itu, Tiara dan Aryan.

“Yaudah Mama pulang dulu ya kalau gitu. Nanti kalau ada apa-apa atau Tiara butuh bantuan, telfon Mama ya Sayang,”

“Iya Mah, makasih ya. Mama hati-hati,” ujar Tiara.

“Iya Sayang, sama-sama. Anak ganteng, Oma pulang dulu ya, besok jenguk Aryan lagi,” setelah mencium cucunya itu, Feli pamit pulang dan Aryo mengantar mamanya itu sampai ke depan ruang rawat.

“Ra ayo main tebak-tebakan kenapa anak bayi tidur terus?” Aryo kembali memaksa naik padahal ranjangnya sangat sempit, dasar nekat si Aryo ini.

Tiara tertawa mendengar pertanyaan aneh suaminya itu, “Aneh banget pertanyaan kamu. Dia kan masih kecil, Aryo. Ya, butuh tidur banyak lah,” ucap Tiara.

“Salah jawaban kamu,” balas Aryo yang seketika membuat kening Tiara berkerut.

“Terus yang bener jawabannya apa?” Tiara merasa ia ikutan konyol karena mengikuti permainan Aryo itu.

“Kamu jangan gampang nyerah dong, Ra. Kalau kamu gampang nyerah gimana kamu mau mencintai aku?” Aryo mendekatkan wajanya pada Tiara.

“Alay kamu ah,” Tiara berusaha menjauhkan Aryo dari hadapannya. Namun senyum di wajahnay tidak bisa disembunyikan.

“Aduhh kamu jangan cubit-cubit aku dong, mending cium-cium aja.” Aryo memeluk Tiara dari samping dan pria jangkung itu menjatuhkan kepalanya di pundak istrinya.

“Ra kapan dedek bayinya bangun sih?”

“Nggak tau, Aryo. Suka-suka dia mau bangun kapan.”

“Kamu pegel nggak? Sini gantian gendong,” tawar Aryo.

“Enggak kok.”

“Serius? Padahal udah dari tadi kamu gendong.”

“Yaudah nih kamu coba gendong. Gini caranya,” Tiara memberikan instruksi pada Aryo untuk memegang kepala dan punggung bayinya ketika akan menggendong. Akhirnya Aryo bisa menggedong anaknya dan ia merasa begitu senang. Sementara Tiara pergi ke kamar mandi Aryo menimang-nimang anaknya dalam dekapannya.

“Sayang, kamu bisa jalan ke kamar mandi sendiri? Perlu aku bantuin nggak?” tanya Aryo.

“Bisa kok Sayang. Nggak papa kamu gendong Aryan aja,” Tiara menyahuti dari kamar mandi. Aryo pun mengangguki dan kini atensinya kembali pada Aryan di gendongannya.

“Hei bayi. kamu tidur terus nih. Papa kan mau main sama kamu. Hey Aryan, bangun dong,” Aryo berujar di depan wajah anaknya namun anaknya itu seolah mengejeknya dengan memalingkan muka dan memonyongkan bibir kecilnya. Kedua mata Aryan masih terpejam tapi bibirnya tetap aktif. Mirip sekai dengannya dan itu membuatnya mau tidak mau terkekeh sendiri.

“Kenapa kamu etawa sendiri?” Suara Tiara memecah atmosfer perang antara Aryo dengan Aryan kecil.

“Anak kamu nih Sayang, kecil-kecil udah pinter.”

“Pinter? Emang dia ngapain?”

“Nih liat. Dia udah bisa manyunin bibir di depan Papanya.”

“Hahahaa lucu banget. Aahh...Aryo lucu banget. Liat deh, itu dia senyum,” Tiara justru mendapati Aryan yang tersenyum ketika ia melihat wajahnya.

“Astaga anak kita hebat banget Ra.”

“Hebat gimana?”

“Pas kamu liatin dia senyum, pas aku yang liat dia manyun. Dia bisa rubah ekspresinya secepat kedipan mata.”

“Iya, mungkin dia pengen kembaran sama Papanya.”

“Kembaran apa?”

“Bibir kalian mirip banget. Kalau kamu tidur, aku perhatiin kamu suka manyun-manyun juga kayak Aryan gini.”

“Mirip ya? Oke kalau mirip kamu lebih suka yang mana? Punya aku apa punya Aryan?”

Tiara lantas membulatkan kedua matanya. Suaminya ini benar-benar ajaib dan tiada duanya. Herannya lagi ucapan Aryo itu selalu langsung membuat Tiara paham.

“Punya Aryan lah. Dia lebih imut dari pada kamu.” Tiara mencubit pipi anaknya lalu menciumnya dengan gemas. Seketika cahaya di sekitar Tiara menggelap karena Aryo memangkas jarak antara mereka.

Matanya dan mata Aryo bertemu dan seperti ada sengatan yang mengaliri sekujur tubuhnya, ketika Aryo menatapnya penuh cinta seperti ini. Tiara masuk ke dalam lingkaran sempit namun hangat itu, yang bernama keluarga. Detik berikutnya Aryo menempelkan bibirnya lembut di bibir Tiara. Benda kenyal itu selalu membuat Tiara candu, tidak tahan untuk tidak membalas dan bahkan sedikit memberikan gigitan.

Sekitar 3 menit ciuman mereka, Aryo mengurai pagutannya. Keudian ia mendekap dua hal yang menjadi miliknya. Tidak bukan hanya dua menurutnya, tapi lebih dari itu. Baginya Tiara dan Aryan adalah seluruh hal yang di inginkannya di dunia ini.

“Aryo,” ujar Tiara.

“Iya?”

Jarak keduanya masih begitu intim, Aryo menatap bergantian Tiara dan Aryan yang berada di dekapan mamanya. Bayi lelaki itu tertidur pulas di tengah-tengah aktivitas cinta papa dan mamanya.

“Aku pernah bilang mau punya anak yang matanya mirip kamu. Pasti lucu banget,” ungkap Tiara.

“Iya, aku ingat Ra. Kamu mau punya anak berapa?”

“Tiga atau empat gimana?”

“Hmm ... boleh,” Aryo mengangguk-angguk dan mengulaskan senyumnya. Eye smile Aryo yang selalu Tiara suka dan tidak pernah bosan untuk di pandang.

“Kalau anak kita perempuan dan matanya mirip kamu, dia pasti cantik banget. Dia akan jadi anak perempuan yang cantik karena punya eye smile tercantik,”

Introducing the new family

Daddy

Aryo

Mommy

Tiara

1st Son

Aryan

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara ingin sekali membuka matanya, tapi itu terasa sulit di lakukan. Efek pasca operasi membuatnya merasa begitu mengantuk. Saat ini Tiara sudah dipindahkan ke ruang rawat, operasinya telah berjalan lancar, dan anak lelaki mereka lahir dengan sehat.

“Aryo ...” gumam Tiara yang setengah sadar itu.

“Ra, tidur aja dulu,” titah Aryo di sampingnya.

Perlahan Tiara membuka matanya, ia menatap Aryo samar-samar, “Mau liat baby,” ujarnya lirih.

“Iya, nanti ya Sayang,” Aryo mengusap kepala Tiara.

Tiara mengulaskan senyumnya, perempuan itu kembali memejamkam matanya, “Aryo, anak kita ganteng,” gumam Tiara. Detik itu juga Aryo tertawa pelan mendapati ucapan Tiara.

“Iya ganteng anak kita. Lebih mirip siapa ya Ra wajahnya?”

“Lebih mirip papanya deh. Baru liat sebentar tadi,” ucap Tiara.

“Matanya mirip kamu banget, nggak terlalu sipit kayak aku.”

“Ohiya ya,” Tiara tertawa pelan. “Adil dong, Sayang. Kayaknya fifthy fifthy deh.”

***

Bayi lelaki itu menjadi perhatian semua orang yang datang menjenguk satu persatu. Namanya Aryan Sakha Brodjohujodyo, anak pertama dan cucu pertama laki-laki di keluarga itu mendapat begitu banyak cinta dari orang tersayangnya.

“Melebihi ekspektasi banget ini wajahnya, ganteng pol,” ujar Alifia kala pertama kali menggendong cucu pertamanya.

“Halo, koko kecil, anak ganteng. Ini matanya Tiara banget lho,” ucap Feli.

“Iya Mah, tapi bibirnya Aryo banget, kan? Liat deh,” celetuk Tiara.

Aryo lantas mendekati anaknya yang berada di gendongan Alifia, “Coba liat, semirip apa?” ujar Aryo.

Feli memerhatikan kedua lelaki beda generasi itu secara bergantian, “Mirip kamu banget ini bibirnya, Aryo.” ujarnya kemudian.

“Iya, ya. Aryan ini kayak Tiara versi laki-laki tapi kalau di perhatiin lagi, wajahnya juga Aryo banget,” komentar Alifia.

Keluarga terdekat yang menjenguk satu persatu pun akhirnya pulang. Mereka meninggalkan parcel buah serta beberapa kado untuk perlengkapan si baby. Kini si kecil sudah tertidur di pelukan ibunya dengan senyuman kecil yang seolah sudah diatur. Entah senyum itu mirip siapa, tapi yang jelas bayi ini sudah ada bakat genit sejak ia lahir.

“Papanya mana?” tanya Feli ketika mama mertuanya itu kembali dari toilet.

Tiara lantas mengarahkan tatapannya pada Aryo yang tengah terlelap di sofa bed ruang rawatnya.

“Oalah anak itu udah jadi Bapak kok, malah tidur duluan. Harusnya kamu yang tidur, Aryo jagain baby, gantian gitu lho.”

“Nggak papa Mah, lagian kan Aryo nggak bisa ngasih susu nanti kalau bayinya nangis.” Tiara asik mengelus pipi anaknya dengan ibu jarinya lalu meniupi rambut hitam tebalnya. Lucu sekali rambutnya seperti topi dan semuanya terasa pas dengan pipi chubby ini.

“Iya sihh bener juga, tapi kasian kamu pasti capek ya Sayang?”

Aryo terbangun karena obrolan dua wanita yang di cintainya itu. Nampak beberapa garis bekas cetakan sofa di wajahnya dan rambutnya sedikit acak-acakan.

“Hai,” sapa Aryo diiringi cengiran tanpa dosanya.

Feli menatapnya dengan tatapan memperingati. Ya baiklah, Aryo mengerti. Namun masalahnya ia begitu mengantuk tadi dan berakhir ketiduran di sofa bed.

“Dedek bayi juga tidur, yaudah Aryo tidur. Melek mau ngapain?”

“Ya jagain anakmu dong, gantian istrimu yang tidur. Kayak kamu yang ngelahirin aja tadi pagi, jam segini kok udah tepar,” ujar Feli.

“Mau main sama Aryan tapi Aryannya tidur terus,” Aryo menoel noel pelan pipi tembam anaknya sambil nyengir tanpa dosa saat bayi mungil itu bergerak tidakk nyaman karena ulahnya.

“Baru tidur ini Sayang, nanti susah lagi nidurinnya,” Tiara pun memperingati tingkah suaminya itu.

“Masa sih? Kalau aku sama kamu langsung tidur tuh. Aku kapan di keloninnya?” celetuk Aryo asal.

“Yaudah kamu pulang aja sama papa. Biar Mama di sini jagain menantu dan cucu Mama,” balas Feli.

“Mama nggak perlu repot, tenang aja, semua beres. Aryo minum kopi nanti langsung melek kok. Sayang, aku jangan di suruh pulang, ya ... ?” Aryo memasang tampang memelas lalu ia bergerak memeluk kedua cinta dalam hidupnya itu, Tiara dan Aryan.

“Yaudah Mama pulang dulu ya kalau gitu. Nanti kalau ada apa-apa atau Tiara butuh bantuan, telfon Mama ya Sayang,”

“Iya Mah, makasih ya. Mama hati-hati,” ujar Tiara.

“Iya Sayang, sama-sama. Anak ganteng, Oma pulang dulu ya, besok jenguk Aryan lagi,” setelah mencium cucunya itu, Feli pamit pulang dan Aryo mengantar mamanya itu sampai ke depan ruang rawat.

“Ra ayo main tebak-tebakan kenapa anak bayi tidur terus?” Aryo kembali memaksa naik padahal ranjangnya sangat sempit, dasar nekat si Aryo ini.

Tiara tertawa mendengar pertanyaan aneh suaminya itu, “Aneh banget pertanyaan kamu. Dia kan masih kecil, Aryo. Ya, butuh tidur banyak lah,” ucap Tiara.

“Salah jawaban kamu,” balas Aryo yang seketika membuat kening Tiara berkerut.

“Terus yang bener jawabannya apa?” Tiara merasa ia ikutan konyol karena mengikuti permainan Aryo itu.

“Kamu jangan gampang nyerah dong, Ra. Kalau kamu gampang nyerah gimana kamu mau mencintai aku?” Aryo mendekatkan wajanya pada Tiara.

“Alay kamu ah,” Tiara berusaha menjauhkan Aryo dari hadapannya. Namun senyum di wajahnay tidak bisa disembunyikan.

“Aduhh kamu jangan cubit-cubit aku dong, mending cium-cium aja.” Aryo memeluk Tiara dari samping dan pria jangkung itu menjatuhkan kepalanya di pundak istrinya.

“Ra kapan dedek bayinya bangun sih?”

“Nggak tau, Aryo. Suka-suka dia mau bangun kapan.”

“Kamu pegel nggak? Sini gantian gendong,” tawar Aryo.

“Enggak kok.”

“Serius? Padahal udah dari tadi kamu gendong.”

“Yaudah nih kamu coba gendong. Gini caranya,” Tiara memberikan instruksi pada Aryo untuk memegang kepala dan punggung bayinya ketika akan menggendong. Akhirnya Aryo bisa menggedong anaknya dan ia merasa begitu senang . Sementara Tiara pergi ke kamar mandi Aryo menimang-nimang anaknya dalam dekapannya.

“Hei bayi. kamu tidur terus ya? Papa kan mau main sama kamu. Hey Aryan, bangun dong,” Aryo berujar di depan wajah anaknya namun anaknya itu seolah mengejeknya dengan memalingkan muka dan memonyongkan bibir kecilnya. Kedua mata Aryan masih terpejam tapi bibirnya tetap aktif. Mirip sekai dengannya dan itu membuatnya mau tidak mau terkekeh sendiri.

“Kenapa kamu etawa sendiri?” Suara Tiara memecah atmosfer perang antara Aryo dengan Aryan kecil.

“Anak kamu nih Sayang, kecil-kecil udah pinter.”

“Pinter? Emang dia ngapain?”

“Nih liat. Dia udah bisa manyunin bibir di depan Papanya.”

“Hahahaa lucu banget. Aahh...Aryo lucu banget. Liat deh, itu dia senyum,” Tiara justru mendapati Aryan yang tersenyum ketika ia melihat wajahnya.

“Astaga anak kita hebat banget Ra.”

“Hebat gimana?”

“Pas kamu liatin dia senyum, pas aku yang liat dia manyun. Dia bisa rubah ekspresinya secepat kedipan mata.”

“Iya, mungkin dia pengen kembaran sama Papanya.”

“Kembaran apa?”

“Bibir kalian mirip banget. Kalau kamu tidur, aku perhatiin kamu suka manyun-manyun juga kayak Aryan gini.”

“Mirip ya? Oke kalau mirip kamu lebih suka yang mana? Punya aku apa punya Aryan?”

Tiara lantas membulatkan kedua matanya. Suaminya ini benar-benar ajaib dan tiada duanya. Herannya lagi ucapan Aryo itu selalu langsung membuat Tiara paham.

“Punya Aryan lah. Dia lebih imut dari pada kamu.” Tiara mencubit pipi anaknya lalu menciumnya dengan gemas. Seketika cahaya di sekitar Tiara menggelap karena Aryo memangkas jarak antara mereka.

Matanya dan mata Aryo bertemu dan seperti ada sengatan yang mengaliri sekujur tubuhnya, ketika Aryo menatapnya penuh cinta seperti ini. Tiara masuk ke dalam lingkaran sempit namun hangat itu, yang bernama keluarga. Detik berikutnya Aryo menempelkan bibirnya lembut di bibir Tiara. Benda kenyal itu selalu membuat Tiara candu, tidak tahan untuk tidak membalas dan bahkan sedikit memberikan gigitan.

Sekitar 3 menit ciuman mereka, Aryo mengurai pagutannya. Keudian ia mendekap dua hal yang menjadi miliknya. Tidak bukan hanya dua menurutnya, tapi lebih dari itu. Baginya Tiara dan Aryan adalah seluruh hal yang di inginkannya di dunia ini.

“Aryo,” ujar Tiara.

“Iya?”

Jarak keduanya masih begitu intim, Aryo menatap bergantian Tiara dan Aryan yang berada di dekapan mamanya. Bayi lelaki itu tertidur pulas di tengah-tengah aktivitas cinta papa dan mamanya.

“Aku pernah bilang mau punya anak yang matanya mirip kamu. Pasti lucu banget,” ungkap Tiara.

“Iya, aku ingat Ra. Kamu mau punya anak berapa?”

“Tiga atau empat gimana?”

“Hmm ... boleh,” Aryo mengangguk-angguk dan mengulaskan senyumnya. Eye smile Aryo yang selalu Tiara suka dan tidak pernah bosan untuk di pandang.

“Kalau anak kita perempuan dan matanya mirip kamu, dia pasti cantik banget. Dia akan jadi anak perempuan yang cantik karena punya eye smile tercantik,”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sekitar satu tahun yang lalu, Aryo hanyalah pria biasa—tidak tapi luar biasa—ya dia selalu merasa dirinya luar biasa. Ketampanan, harta, tahta, yang di dimilikinya menjadikannya pria arogan dan tidak menganggap bahwa komitmen dalam hubungan itu penting. Satu tahun yang lalu juga ia bertemu dengan perempuan bernama Mutiarani Ivanka. Pertemuan mereka yang tidak terlupakan itu, membawanya menikahi Tiara. Aryo merasa semuanya adalah takdir dan Tuhan memberikan Tiara untuknya, memberikannya yang terbaik.

Usia kehamilan Tiara telah menginjak usia 38 minggu. Mereka telah konsultasi dengan dokter dan memutuskan agar kelahiran anak mereka dengan cara operasi. Tidak ada alasan khusus sebenarnya, Aryo dan Tiara hanya ingin kelahiran anak pertama mereka well prepared. Selain itu jika mengambil jalan operasi, mereka bisa menentukan tanggal kelahiran anak mereka.

Malam ini Aryo dan Tiara berangkat ke rumah sakit dengan berbagai persiapan yang sudah dibawa. Jadwal operasi dilakukan besok pagi pukul 9. Di ruang rawatnya, dokter dan suster yang akan membantu Tiara bersalin, baru saja melakukan pemeriksaan yang dibutuhkan sebelum melakukan operasi besok.

Aryo mengambil tempat di samping Tiara yang berbaring di ranjang rawatnya. “Sayang,” ujarnya.

“Iya?”

“Kamu mau makan apa lagi sebelum puasa? Biar aku beliin,” ucap Aryo.

“Kamu di sini aja. Minta tolong Egha yang beliin,” ujar Tiara sambil memegang lengan Aryo.

“Iya udah nanti aku minta Egha beliin. Kamu kasih tau aja yaa,” putus Aryo diiringi senyumnya.

“Besok pagi mama sama bunda kesini kan?” tanya Tiara.

“Iya, besok mama sama bunda kesini. Kita kan mau doa bersama sebelum kamu masuk ruangan operasi.”

Tiara mengangguk. Ia memerhatikan Aryo yang menghubungi Egha untuk membelikan makanan yang diinginkan Tiara. Sekarang menunjukkan pukul 8 malam, Tiara ingin tidur sebentar, tapi tidak bisa. Ia kepikiran operasi besok, tidak sabar menunggu bayinya lahir agar bis bertemu dan memeluknya langsung.

“Kenapa Sayang? Nggak bisa tidur ya?” tanya Aryo.

“Aku mau merem sebentar aja, tapi nggak bisa, kepikiran operasi besok,” aku Tiara.

“Yaudah nggak papa. Nanti habis makanannya dateng, kamu makan, baru coba tidur lagi ya,” tutur Aryo sambil membantu Tiara untuk merubah posisinya menjadi duduk. Aryo juga menyetel ranjang rawatnya dan menyesuaikan posisi Tiara agar istrinya itu nyaman. Setelah itu terdengar sebuah ketukan di pintu ruangan. Aryo bergegas membukanya dan menerima makanan yang dibawakan oleh Egha.

“Sayang, ini makanannya,” Aryo meletakkan bungkusan paper bag di nakas samping ranjang. Ia mendapati istrinya itu baru selesai menyisir rambutnya lalu menggulungnya ke atas dan menjepitnya.

“Makasih, Sayang,” ujar Tiara. Ia lantas mengambil makanan itu dan mulai menikmatinya. Kedua mata Tiara berbinar ketika baru saja melakukan suapan pertama.

“Enak banget nih Sayang. Kamu mau? Sini aku suapin,” ujar Tiara. Aryo pun mendekat dan menerima suapan dari Tiara.

“Paling tau ya kamu jajanan enak,” celetuk Aryo.

“Iya dong,” balas Tiara sambil menampakkan cengirannya. Tiara sudah selesai dengan makanannya dan merasa begitu kenyang.

“Bayinya happy nih kamu kasih makan terus,” cetus Aryo sembari mengarahkan tangannya untuk mengusap perut Tiara. Aryo mengambil tempat di sisi ranjang Tiara, mereka duduk bersebelahan dan Aryo memeluknya dari samping.

“Nggak nyangka besok aku jadi papa Ra,” ucap Aryo begitu saja.

Tiara menyunggingkan senyumnya sekilas, “Ciee yang mau jadi papa. Seneng banget ya?” tanyanya sambil mengusapkan tangannya di sisi wajah Aryo. Aryo merebahkan kepalanya di bahu Tiara, tampak begitu nyaman di sana.

Aryo meraih satu tangan Tiara, membawanya mendekat pada wajahnya, lalu menyematkan kecupan di punggung tangan wanitanya itu.

“Aryo, barusan anak kita nendang,” ucapan Tiara itu seketika membuat Aryo mengangkat kepalanya. Mereka menunggu lagi si baby melakukan hal yang sebelumnya, wajah keduanya begitu bersemangat menantikan momen itu.

Dua detik berikutnya, Tiara merasakan pergerakan di perutnya bahkan satu bagian di perutnya nampak menonjol akibat aksi bayi mereka. Keduanya menyaksikan hal itu bersama dan kala itu terjadi Aryo dan Tiara hanya takjub melihatnya, rasanya jantung mereka meletup-letup bahagia di dalam sana.

“Hei, bayi. Kamu nggak sabar ya ketemu papa dan mama? Besok kita ketemu ya jagoan,” Aryo mendekatkan dirinya di perut Tiara dan berbicara dengan anaknya itu.

“Aryo, tuhan itu hebat yaa,” ucap Tiara. Aryo lantas mendongak dan mempertemukan pandangan mereka.

Aryo mengangguk setuju. “Tuhan ngasih lebih dari apa yang aku minta, Ra. Tuhan hebat dan baik banget sama umatnya,” ujar Aryo.

“Dulu aku pernah kecewa sama Tuhan. Aku salah menilai dan sudah meragukannya. Tapi aku sadar akhirnya, apa yang menyakiti kita hari itu adalah proses kita untuk sampai pada kebahagiaan, suatu hari. Tuhan akan menggantikannya dengan yang lebih baik,” Tiara bergerak memeluk Aryo dari samping. Detik berikutnya. Aryo pun balas memeluk dunianya itu.

“Ra, I want to live with you forever. I want to hug you and loving you, as much as I can.”

Tiara mengangkat wajahnya untuk menatap Aryo, “Pantes tadi makanan pesanan aku kurang manis,” ujar Tiara.

“Masa sih? Perasaan manis Sayang,” Aryo nampak kebingungan. Iatidak merasakan hal yang sama dengan yang Tiara ucapkan barusan.

“Iya, kurang manis tau. Orang manisnya diambil sama kamu semua,” detik itu juga Tiara menampakkan senyum jenakanya.

Aryo menghela napasnya, ia lantas mendekap Tiara lebih erat lagi, “Gombal banget. Nanti aku bales ya, liat aja.”

“Siap menunggu balasan gombal dari Ayang. Harus lebih sweet ya, awas aja kalau enggak.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sekitar satu tahun yang lalu, Aryo hanyalah pria biasa—tidak tapi luar biasa—ya dia selalu merasa dirinya luar biasa. Ketampanan, harta, tahta, yang di dimilikinya menjadikannya pria arogan dan tidak menganggap bahwa komitmen dalam hubungan itu penting. Satu tahun yang lalu juga ia bertemu dengan perempuan bernama Mutiarani Ivanka. Pertemuan mereka yang tidak terlupakan itu, membawanya menikahi Tiara. Aryo merasa semuanya adalah takdir dan Tuhan memberikan Tiara untuknya, memberikannya yang terbaik.

Usia kehamilan Tiara telah menginjak usia 38 minggu. Mereka telah konsultasi dengan dokter dan memutuskan agar kelahiran anak mereka dengan cara operasi. Tidak ada alasan khusus sebenarnya, Aryo dan Tiara hanya ingin kelahiran anak pertama mereka well prepared. Selain itu jika mengambil jalan operasi, mereka bisa menentukan tanggal kelahiran anak mereka.

Malam ini Aryo dan Tiara berangkat ke rumah sakit dengan berbagai persiapan yang sudah dibawa. Jadwal operasi dilakukan besok pagi pukul 9. Di ruang rawatnya, dokter dan suster yang akan membantu Tiara bersalin, baru saja melakukan pemeriksaan yang dibutuhkan sebelum melakukan operasi besok.

Aryo mengambil tempat di samping Tiara yang berbaring di ranjang rawatnya. “Sayang,” ujarnya.

“Iya?”

“Kamu mau makan apa lagi sebelum puasa? Biar aku beliin,” ucap Aryo.

“Kamu di sini aja. Minta tolong Egha yang beliin,” ujar Tiara sambil memegang lengan Aryo.

“Iya udah nanti aku minta Egha beliin. Kamu kasih tau aja yaa,” putus Aryo diiringi senyumnya.

“Besok pagi mama sama bunda kesini kan?” tanya Tiara.

“Iya, besok mama sama bunda kesini. Kita kan mau doa bersama sebelum kamu masuk ruangan operasi.”

Tiara mengangguk. Ia memerhatikan Aryo yang menghubungi Egha untuk membelikan makanan yang diinginkan Tiara. Sekarang menunjukkan pukul 8 malam, Tiara ingin tidur sebentar, tapi tidak bisa. Ia kepikiran operasi besok, tidak sabar menunggu bayinya lahir agar bis bertemu dan memeluknya langsung.

“Kenapa Sayang? Nggak bisa tidur ya?” tanya Aryo.

“Aku mau merem sebentar aja, tapi nggak bisa, kepikiran operasi besok,” aku Tiara.

“Yaudah nggak papa. Nanti habis makanannya dateng, kamu makan, baru coba tidur lagi ya,” tutur Aryo sambil membantu Tiara untuk merubah posisinya menjadi duduk. Aryo juga menyetel ranjang rawatnya dan menyesuaikan posisi Tiara agar istrinya itu nyaman. Setelah itu terdengar sebuah ketukan di pintu ruangan. Aryo bergegas membukanya dan menerima makanan yang dibawakan oleh Egha.

“Sayang, ini makanannya,” Aryo meletakkan bungkusan paper bag di nakas samping ranjang. Ia mendapati istrinya itu baru selesai menyisir rambutnya lalu menggulungnya ke atas dan menjepitnya.

“Makasih, Sayang,” ujar Tiara. Ia lantas mengambil makanan itu dan mulai menikmatinya. Kedua mata Tiara berbinar ketika baru saja melakukan suapan pertama.

“Enak banget nih Sayang. Kamu mau? Sini aku suapin,” ujar Tiara. Aryo pun mendekat dan menerima suapan dari Tiara.

“Paling tau ya kamu jajanan enak,” celetuk Aryo.

“Iya dong,” balas Tiara sambil menampakkan cengirannya. Tiara sudah selesai dengan makanannya dan merasa begitu kenyang.

“Bayinya happy nih kamu kasih makan terus,” cetus Aryo sembari mengarahkan tangannya untuk mengusap perut Tiara. Aryo mengambil tempat di sisi ranjang Tiara, mereka duduk bersebelahan dan Aryo memeluknya dari samping.

“Nggak nyangka besok aku jadi papa Ra,” ucap Aryo begitu saja.

Tiara menyunggingkan senyumnya sekilas, “Ciee yang mau jadi papa. Seneng banget ya?” tanyanya sambil mengusapkan tangannya di sisi wajah Aryo. Aryo merebahkan kepalanya di bahu Tiara, tampak begitu nyaman di sana.

Aryo meraih satu tangan Tiara, membawanya mendekat pada wajahnya, lalu menyematkan kecupan di punggung tangan wanitanya itu.

“Aryo, barusan anak kita nendang,” ucapan Tiara itu seketika membuat Aryo mengangkat kepalanya. Mereka menunggu lagi si baby melakukan hal yang sebelumnya, wajah keduanya begitu bersemangat menantikan momen itu.

Dua detik berikutnya, Tiara merasakan pergerakan di perutnya bahkan satu bagian di perutnya nampak menonjol akibat aksi bayi mereka. Keduanya menyaksikan hal itu bersama dan kala itu terjadi Aryo dan Tiara hanya takjub melihatnya, rasanya jantung mereka meletup-letup bahagia di dalam sana.

“Hei, bayi. Kamu nggak sabar ya ketemu papa dan mama? Besok kita ketemu ya jagoan,” Aryo mendekatkan dirinya di perut Tiara dan berbicara dengan anaknya itu.

“Aryo, tuhan itu hebat yaa,” ucap Tiara. Aryo lantas mendongak dan mempertemukan pandangan mereka.

Aryo mengangguk setuju. “Tuhan ngasih lebih dari apa yang aku minta, Ra. Tuhan hebat dan baik banget sama umatnya,” ujar Aryo.

“Dulu aku pernah kecewa sama Tuhan. Aku salah menilai dan sudah meragukannya. Tapi aku sadar akhirnya, apa yang menyakiti kita hari itu adalah proses kita untuk sampai pada kebahagiaan, suatu hari. Tuhan akan menggantikannya dengan yang lebih baik,” Tiara bergerak memeluk Aryo dari samping. Detik berikutnya. Aryo pun balas memeluk dunianya itu.

“Ra, I want to live with you, forever. I want to hug you, loving you, and support you how much as I can.”

Tiara mengangkat wajahnya untuk menatap Aryo, “Pantes tadi makanan pesanan aku kurang manis,” ujar Tiara.

“Masa sih? Perasaan manis Sayang,” Aryo nampak kebingungan. Iatidak merasakan hal yang sama dengan yang Tiara ucapkan barusan.

“Iya, kurang manis tau. Orang manisnya diambil sama kamu semua,” detik itu juga Tiara menampakkan senyum jenakanya.

Aryo menghela napasnya, ia lantas mendekap Tiara lebih erat lagi, “Gombal banget. Nanti aku bales ya, liat aja.”

“Siap menunggu balasan gombal dari Ayang. Harus lebih sweet ya, awas aja kalau enggak.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Seisi rumah ikut merasa panik ketika mendapati perut Tiara tiba-tiba mengalami kram. Para ibu-ibu sedikit bereaksi berlebihan, maklum, mereka pernah merasakannya juga dulu.

Namun tidak di sangka-sangka, Aryo nampak tenang. Justru ialah yang menenangkan mamanya dan para tantenya yang tengah kepanikan.

Sebagai suami siaga, Aryo pun segera memapah Tiara menuju kamar dan membaringkannya perlahan di ranjang. Aryo mengambil bantal untuk di letakkan di balik punggung Tiara, berharap istrinya dapat merasa lebih baik.

Aryo lantas mengambil duduk di tepi ranjang. Tuxedo hitamnya sudah di tanggalkan, menyisakan kemeja putih membalut tubuh tegapnya.

“Masih kram, Sayang? atau udah mendingan?” tanya Aryo.

“Udah mendingan sih,” jawab Tiara.

“Aku kira kamu yang akan paling panik pas perut aku kram,” celetuk Tiara.

Aryo menautkan kedua alisnya, “Aku baca jurnal soal kehamilan. Kalau kramnya nggak terlalu lama dan cepat reda, kemungkinan nggak terjadi apa-apa. Itu gejala normal. Bisa karena tekanan darah di rahim karena kecapean,” ucap Aryo.

Tiara menatap suaminya itu dengan tatapan terpana. Rupanya Aryo benar-benar membaca buku maupun jurnal yang di berikan dokter dan beberapa ada yang mereka beli sendiri. Sampai di ruang kerja suaminya itu, ada rak khusus untuk menyimpan buku-buku tersebut.

“Sini, aku bantu usapin perut kamu,” Aryo mendekat pada Tiara. Tangan Tiara yang sebelumnya berada di atas perutnya, kini menjauh dari sana untuk membiarkan Aryo gantian melakukan usapan itu.

“Heyy bayi ... kamu anteng-anteng yaa di dalam sana. Satu rumah panik gara-gara kamu lho. Kamu gerak-gerak ya tadi di perut Mama, hmm ... ?” Dengan kedua tangannya, Aryo memberikan usapan lembut di perut bulat Tiara. Kemudian pria itu mencondongkan kepalanya dan menyematkan sebuah kecupan di sana.

“Sayang, kamu pasti pegel. Mau aku pijetin?” tawar Aryo.

“Hmm ... boleh deh,” jawab Tiara. Aryo kemudian memintanya untuk meluruskan kedua kaki.

Tiara memerhatikan dengan seksama, Aryo yang mulai memijat kakinya. Aryo kelihatan begitu sungguh-sungguh melakukannya. Ekspresi wajahnya itu jadi menggemaskan, batin Tiara.

“Enak nggak Sayang pijetan aku?” tanya Aryo.

“Enak. Tapi pelan banget, Sayang. Agak di tekan lagi nggak papa.”

“Emang terlalu pelan ya?”

“Iya. Kamu tenaganya kayak mijetin anak kecil. Aku kan orang dewasa, Sayang,” ujar Tiara dan otomatis perempuan itu tertawa.

“Aku takut terlalu kencang pijetnya. Oke, ini aku coba tambah tenaga dikit ya,” Aryo pun mencoba menambah tenaganya. Ia memijat dari betis sampai ke kaki dengan begitu telaten.

“Sayang, nah ini, enak banget pijetan kamu. Makasih yaa,” ucap Tiara diiringi dua buah eye smile yang muncul di wajahnya.

Kalimat sederhana yang diucapkan oleh Tiara itu, memiliki dampak yang begitu besar untuk Aryo. Tiara selalu menghargai hal kecil yang ia lakukan, hingga mengakibatkan jantung Aryo berdentam kencang di dalam rongga dadanya.

Are your feel better?” tanya Aryo.

Tiara mengangguk sebagai jawaban. Beberapa saat setelah Aryo memijatnya, rasa kantuk lantas menyerang Tiara. Ia pun meminta Aryo menyudahi pijatannya dan mengatakan bahwa dirinya ingin tidur.

Tiara tidak akan melupakan momen ini. Perasaan bahagia yang sederhana, diperhatikan, dan dimanja oleh orang yang ia cintai. Itu tidak ternilai harganya dan berarti sangat besar.

Tiara merasakan ranjangnya bergerak dan sebuah lengan besar tengah memeluknya dari belakang. Setelah berganti pakaian, keduanya pun memutuskan untuk tidur siang bersama.

“Ra, dedek bayi lahirnya 3 bulan lagi, kan?” tanya Aryo.

“Hmm ... yaa ... sekitar 3 bulan lebih lagi. Kalau berdasarkan perhitungan usia kandungan aku. You're look so excited about our baby,” ujar Tiara.

Yes, I did,” cetus Aryo. Pria berwajah oriental itu menampakkan senyum semringahnya, “I'm gonna be a dad and you're gonna be a mom. I think it will be wonderful.”

Did you know? I was thinked that I'll never married when I was twenty,” ujar Aryo lagi.

“Waktu itu kamu punya pacar?” Tiara meletakkan tangannya di lengan Aryo, ia memberi usapan lembut di sana.

I was. Aku selalu berpikir kalau aku bertemu orang yang tepat, tapi waktunya tidak pernah tepat,” ungkap Aryo.

“Kenapa kamu berpikir kayak gitu?” Tiara merubah posisi tubuhnya untuk menghadap Aryo. Dari sorot mata Aryo, Tiara dapat merasakan ada hal berat di masa lalu yang dialami pria itu.

“Aku terlalu takut kalau pernikahan nggak akan berarti dan nggak memberi apa-apa. Aku takut nggak bisa memberi kebahagiaan yang diinginkan oleh pasangan aku,” ujar Aryo. “Tapi aku salah besar dengan meyakini hal tersebut. A Marriage is different with a business. And I was being an asshole, Ra. Aku terlalu pengecut dan merasa hebat. Nyatanya aku tetap butuh seseorang buat dengerin ceritaku, buat berbagi sedih dan senang bersama. Aku nggak bisa menahan seseorang di sisiku tanpa memberinya komitmen. Itu bukan perbuatan yang gentle,” Aryo menjeda ucapannya. Pria itu menghela napasnya dan menghembuskannya.

“Saat skandal itu keluar, aku sempat ada pikiran untuk lari. Tapi kalau aku lakuin itu, aku akan jadi manusia paling pengecut. Mungkin aku akan kehilangan kamu dan terus kembali di lingkaran yang sama. Aku menjalin hubungan tanpa memikirkan jangka panjang dan komitmen yang harus aku berikan,” sambung Aryo.

At the end you deciced to commit. Whats make you sure to do it?”

Aryo terlihat berpikir sejenak sebelum mengutarakannya. “Aku nggak mau kehilangan seseorang yang aku sayang di dalam hidupku lagi. I got a lot of happiness in my life, but I lost a lot too.”

Tiara lantas mengulaskan senyumnya. “You did it well. Everyone have a fault in their past. Keputusan yang udah kamu ambil dan niat baik kamu untuk berubah, itu hal yang paling berarti,” tutur Tiara. “Are you happy with you life now?” Tiara menatap ke dalam iris legam Aryo.

Of course. I'm happy to be with you, Tiara. I loved to cuddle you at night, and wake up next to you. Aku senang setiap kali kamu nanyain kegiatan aku, apa yang aku rasain hari ini, dan hal kecil lainnya yang kamu lakuin untuk aku. Everything you did for me is really means a lot.” Aryo mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum simpul. Ia telah belajar banyak hal dan pernikahan-lah yang membawanya untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Tiara meresapi setiap kalimat yang Aryo utarakan. Melihat pria yang dicintainya mengungkapkan hal yang adanya di depannya, membuat Tiara merasa begitu bahagia.

Tiara lantas mendekatkan torsonya pada Aryo untuk merengkuh pria itu ke dalam dekapannya.

“Ra, aku kepikiran sesuatu,” celetuk Aryo.

“Apa?”

“Aku ingat satu kalimat ini, tapi aku lupa sumbernya. Sampai sekarang, kalimat itu masih membekas.”

“Ohya? Kalimat itu pasti memotivasi kamu, sampai kamu nggak bisa lupain.”

Yes, and I'm believed it. Ra, kita bukan bertemu dengan orang yang benar di waktu yang salah. Tapi, orang itu memang bukan orang yang tepat buat kita. Dan kita cuma belum bertemu dengan orang yang benar.”

Tiara menautkan alisnya, “Hmm ... kalau di pikir memang alimat itu benar.”

Yes. The truth is, you never meet the right people at the wrong time. Because the right people are timeless,” ucap Aryo.

“Tiara,” Aryo menatap Tiara dalam-dalam, “Right now i've met my right people. She's very kind, smart, and beautiful. I can't never be imagine to live without her. I want give her everything I can give and make her happy,” Aryo menghela Tiara mendekat lalu menyematkan sebuah kecupan di keningnya, “I love you, Tiara,” ujar Aryo dengan nada tulusnya.

Tiara balas menatap Aryo. Senyumnya melengkung ke dalam, tanda bahwa dirinya begitu bahagia, “I've met my right people too, and I love him so much,” Tiara menjeda ucapannya, “Aryo, aku percaya kalau kamu punya jutaan kebaikan di diri kamu. Aku bangga banget waktu ngenalin kamu ke teman-temanku sebagai suamiku. You're a good husband, son, and a good dad to be. I'm lucky to being with you, and I love you more, truly.”

Comfort Place

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Kamu masih marah sama aku?” tanya Aryo pada Tiara. Ia mengekori langkah Tiara sampai akhirnya mereka masuk ke kamar.

“Menurut kamu aja,” ucap Tiara. Aryo nampak keheranan dengan Tiara yang begitu cepat mengubah ekspresinya. Tadi saat di hadapan teman-temannya, Tiara begitu ceria dan bersikap manis. Namun saat hanya tinggal berdua dengannya, istrinya itu nampak seperti singa betina yang sedang merajuk.

To the point, Ra. Kamu maunya apa?” ujar Aryo lagi.

Tiara tidak menjawab. Aryo yang melihat diamnya Tiara pun semakin dibuat bingung.

“Kalau kamu kayak gini, gimana aku bisa tau. Aku udah jemput kamu ke rumah mama, tapi tiba-tiba kamu maunya nginep di sini. Kamu nggak mau pulang sama aku, kenapa?”

Tiara lantas balas menatap Aryo, “Emang aku minta kamu jemput aku? Kamu bilangnya malam ini aku nginep di rumah mama, karena kamu mau lembur. Tapi apa? Kamu yang tiba-tiba jemput.”

“Ra, please. Jangan kayak anak kecil gini dong. Aku bingung lho kamu maunya apa. Yang aku lakuin kayaknya salah terus menurut kamu,” ucap Aryo.

Usai kalimat itu terlontar dari bibir Aryo, sepasang mata Tiara yang menatapnya kini nampak berkilat. Kedua mata Tiara berkaca-kaca dan tidak sampai dua detik kemudian, air matanya luruh. Dengan gerakan buru-buru, Tiara mengusap air matanya.

“Ra, maaf,” ucap Aryo yang kini merasa bersalah. “Maksud aku bukan kayak gitu,” sambung Aryo, nada suaranya terdengar begitu menyesal.

Mereka hanya berhadapan dan saling menatap selama beberapa detik. Kemudian Tiara berbalik begitu saja dan melangkah pergi dari hadapannya. Aryo segera menyusul Tiara dan berakhir istrinya itu menemui Feli. Mamanya akhirnya meminta Aryo untuk menunggu, sementara beliau berbicara pada Tiara untuk menenangkan perasaannya.

Aryo pun menunggu Tiara di ruang tamu. Pria itu menghembuskan napasnya dan memijit pangkal hidungnya. Ia menyesal karena kelepasan melontarkan kalimat itu pada Tiara. Padahal kedatangannya yang tidak memberi tahu Tiara karena ingin membuat istrinya itu senang. Namun yang terjadi, justru dirinya kebawa emosi lebih dulu. Ia tidak bisa memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh Tiara.

Sekitar 10 menit kemudian, Aryo mendapati mamanya menghampirinya.

“Tiara nggak bener-bener marah sama kamu. Mama udah jelasin juga sama dia, kalian salah paham aja. Tiara berharapnya kamu ngelakuin A, tapi kamu ngelakuin B. Baiknya kalau terjadi kayak gini lagi, kamu dan Tiara cepat selesaikan. Kalian bicara baik-baik dengan kepala dingin,” tutur Feli.

Aryo mengangguk mengerti dan mengucapkan terimakasih pada mamanya. Feli pun pamit dari hadapannya dan tidak lama kemudian, Tiara menghampirinya di ruang tamu.

“Ra,” ujar Aryo lebih dulu.

“Maaf ya tadi aku kelepasan ngomong kayak gitu ke kamu. Aku nggak bermaksud Ra,” ucap Aryo. Perlahan Tiara mengangkat wajahnya dan Aryo mendapati mata istrinya yang sedikit sembap.

“Aryo, aku juga minta maaf. Nggak seharusnya aku bikin kamu bingung.” ucap Tiara, suaranya terdengar sedikit serak. “Aku sebenarnya nggak tau, aku maunya apa. Aku cuma mikir kalau kamu harus nurutin yang aku mau, tanpa aku harus bilang. Aku udah egois. Maafin aku ya,” tutur Tiara.

Karena sudah malam juga, akhirnya mereka memutuskan untuk menginap dan bergegas tidur di kamar. Aryo sudah selesai mandi dan Tiara tengah menunggunya di atas kasur.

“Sebenernya semalam aku mau tanyain kamu maunya apa, biar mood kamu lebih baik. Tapi waktu aku selesai mandi, kamunya udah tidur,” ujar Aryo.

“Kenapa nggak bangunin aku?” tanya Tiara.

“Kasian, kamu tidurnya keliatan nyenyak banget. Besok paginya, aku harus ke kantor jam 8. Kamu masih tidur, jadi aku kiss kamu di pipi aja, terus aku berangkat kerja deh,” jelas Aryo.

Tiara terdiam sejenak. Ia menyadari bahwa dirinya terlalu bertingkah kekanakan dan hanya memikirkan diri sendiri, tanpa memikirkan posisi Aryo.

“Kamu tuh kenapa sebenarnya, hmm ... ?” tanya Aryo. Mereka kini berbaring dan saling berhadapan. Aryo menaruh lengannya di pinggang Tiara dan sesekali memberikan usapan di puncak kepalanya.

“Kemarin itu aku nggak bisa tidur. Udah tiga kali deh kayanya. Mungkin juga, karena bawaan bayi. Aku nggak tau bener apa engga, tapi setiap kamu pulang diatas jam 10, aku selalu nggak bisa tidur. Sementara kamu emang harus pulang malam karena kerjaan di kantor. Aku jadi gampang bete dan sensitif sama hal sepele kayak gitu,” ungkap Tiara.

“Okee, aku udah ngerti sekarang,” Aryo menangkup wajah Tiara, ibu jarinya bergerak mengusap pipinya. “Lain kali, kalau ada kejadian kayak gini lagi, kita bicarain baik-baik ya. Kalau kamu mau sesuatu, kayak misalnya aku pulang lebih cepat, kamu bisa bilang. Aku akan usahain meskipun aku nggak bisa janji. Yaa, Sayang?” tutur Aryo lembut.

Tiara akhirnya mengangguk dan ia menyetujuinya. Untuk kebaikan hubungan keduanya, mereka sama-sama akan mengutamakan komunikasi dan lebih saling mengerti.

“Kamu kenapa tiba-tiba ke sini? Kamu bilang mau nginep di kantor, terus aku disuruh nginep di rumah mama,” ujar Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak, alis tebalnya pun bertaut. Sebelum menjawab, pria itu menaikkan bed cover sampai sebatas bahu Tiara. “Aku mau jemput kamu rencananya, mau ngasih tau kamu sesuatu. Ada kabar baik.”

“Kabar baik apa?” tanya Tiara terlihat antusias sekaligus penasaran.

“Soal perusahaan. Harga bangunan udah mulai naik, investor mau menyuntikkan dananya untuk pembangunan, dan pembelian sektor meningkat. Aku mau kamu tau. Itu terjadi juga karena kamu, karena kamu selalu support aku sampai aku bisa selesaiin masalahnya,” ungkap Aryo.

Tatapan Tiara seketika berubah. Ia tidak menyangka bahwa hal besar yang terjadi di hidup Aryo, pria itu ingin membagikannya langsung pada Tiara. Itu hal sederhana dalam sebuah hubungan, tapi artinya begitu dalam bagi Tiara.

“Aku nggak tau gimana jadinya, kalau aku nggak ketemu sama kamu. Mungkin aku bukan Aryo yang sekarang. Saat ini aku juga masih punya banyak kekurangan. Tadi aku bikin kamu nangis, dan aku nyesel banget, Ra,” ujar Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya. Dengan lembut, ia mengusap sisi wajah Aryo. Tatapan Tiara padanya begitu teduh seolah perempuan itu telah memberikan seluruh cinta dan kasih sayangnya untuk Aryo.

“Kamu udah ngelakuin yang terbaik, Aryo. Kekuranga yang justru bikin kamu terlihat sempurna. Kamu mau belajar dan mencoba untuk jadi lebih baik setiap harinya. Aku bangga sama kamu. Bangga banget,” tutur Tiara. Sedetik kemudian, Tiara mendekatkan dirinya dan lantas membawa torso Aryo ke pelukannya.

“Aku mau manja dulu sama kamu,” ucap Tiara yang masih betah memeluk Aryo. Padahal sudah hampir 10 menit posisi mereka tidak berubah.

“Ini kamu yang mau manja atau dedek bayinya yang manja?” tanya Aryo. Tidak lama kemudian, Tiara pun mengurai pelukan mereka.

“Dedek bayinya mau manja sama Papanya. Iya kan, Jagoan?” ujar Tiara sambil mengusap perutnya.

“Bilang aja mamanya yang mau,” ledek Aryo.

“Engga juga. Anak kamu nih, kangen sama kamu. Setiap kamu pulang, dia udah tidur.”

Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap perut Tiara, “Maaf ya, Jagoan.” Ia mendekatkan posisinya agar sejajar dengan perut Tiara. “Besok kalau Papa libur kerja, kita main ya, jalan-jalan juga. Oh iya Ra, aku baru inget sesuatu. Jadwal sidang skripsi kamu udah keluar?”

“Udah, tadi bimbingan skripsi yang terakhir. Dua minggu lagi aku sidang. Terus acara wisudanya minggu depannya lagi. Kenapa emangnya?”

“Aku mau ngajak kamu ke Switzerland habis kamu wisuda. Kamu bilang, kamu mau kita babymoon, kan? Aku udah cari tau dan tanya juga ke dokter, katanya usia kandungan kamu udah boleh flight,” terang Aryo.

Tiara lantas menyunggingkan senyumnya, “Kamu niat banget sih, astaga.”

“Iya, dong. Aku kan suami dan calon papa siaga. Kamu belum jawab pertanyaan aku Ra, kamu mau kan, kita ke Switzerland?”

“Iya, aku mau, Aryo.”

Aryo seketika tersenyum dengar jawaban itu. “Ra,” ujarnya lagi.

“Ya?”

“Aku nggak bisa janji, kamu akan selalu bahagia sama aku,” ujar Aryo. Pria itu menatap Tiara dalam-dalam, “Ada saatnya kamu marah dan kesal sama sifat aku, atau bahkan aku bikin kamu nangis.”

Kedua pipi Tiara di tangkup oleh Aryo dan pria itu menatapnya lekat. “Tapi aku mau selalu belajar dan berusaha untuk bikin kamu bahagia, bikin kamu nyaman, dan selalu merasa dicintai. Kamu nggak akan sendirian lagi saat rasa sakit dari masa lalu kamu datang. Aku mau jadi tempat kamu berkeluh kesah, nangis, sekalipun tempat kamu marah. I love you, Ra. I love you unconditionally,” ungkap Aryo panjang lebar.

Tiara terpaku sesaat. Bibirnya tersenyum melengkung ke dalam, tanda ia begitu terharu sekaligus bahagia.

“Aryo, aku nggak tau love language kamu yang lebih dominan apa. Kita semua punya lima love language, tapi ada yang lebih dominan. So I want to know what is your love language. Ini love language yang kamu inginkan dari pasangan kamu,” ujar Tiara.

“Hmm ... I think ... physical touch,” ujar Aryo.

Are you sure?” Mata Tiara sukses membola kala mendengar jawaban Aryo.

I'm very sure, Sweety,” jawab Aryo dengan nada yakinnya. Pria itu menganggukkan kepalanya dua kali, tanda ia sudah begitu yakin.

Oke. So I will learn and practice it day by day,” ucap Tiara.

“What do you mean? Why you want to learn it?

I want to give you the best love of me. So I need to learn it more, right?” ucap Tiara gamblang.

Setelah ucapan Tiara itu, keduanya bersamaan mengulaskan senyum. Tiara kembali mendekat pada Aryo, ia memerhatikan sesuatu di bawah mata kanan Aryo. “Lucu banget ini. Boleh aku kiss kiss?” ujar Tiara.

“Apa yang lucu?”

Your little mole at you under eye. Looks really cute and make you hansome at the same time.” Tanpa sungguhan menunggu izin dari Aryo, Tiara mendekatkan diri lalu memberi kecupan di tahi lalat kecil di bawah mata Aryo.

“Barusan itu bagian dari latihannya?” tanya Aryo.

Yes. But it's just a little bit of the whole part. Are you ... nervous tho?” ujar Tiara sambil menekankan setiap perkatannya. Perempuan itu sukses tertawa memerhatikan Aryo yang kini terlihat gugup.

Aryo lantas bergerak untuk memangkas jarak mereka. “I'm little bit nervous, but very excited at the same time,” Aryo menempelkan keningnya di kening Tiara, kemudian berujar pelan di dekatnya, “Can we ... practice it more, Sweety?”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Seisi rumah ikut merasa panik ketika mendapati perut Tiara tiba-tiba mengalami kram. Para ibu-ibu sedikit bereaksi berlebihan, maklum, mereka pernah merasakannya juga dulu.

Namun tidak di sangka-sangka, Aryo nampak tenang. Justru ialah yang menenangkan mamanya dan para tantenya yang tengah kepanikan.

Sebagai suami siaga, Aryo pun segera memapah Tiara menuju kamar dan membaringkannya perlahan di ranjang. Aryo mengambil bantal untuk di letakkan di balik punggung Tiara, berharap istrinya dapat merasa lebih baik.

Aryo lantas mengambil duduk di tepi ranjang. Tuxedo hitamnya sudah di tanggalkan, menyisakan kemeja putih membalut tubuh tegapnya.

“Masih kram, Sayang? atau udah mendingan?” tanya Aryo.

“Udah mendingan sih,” jawab Tiara.

“Aku kira kamu yang akan paling panik pas perut aku kram,” celetuk Tiara.

Aryo menautkan kedua alisnya, “Aku baca jurnal soal kehamilan. Kalau kramnya nggak terlalu lama dan cepat reda, kemungkinan nggak terjadi apa-apa. Itu gejala normal. Bisa karena tekanan darah di rahim karena kecapean,” ucap Aryo.

Tiara menatap suaminya itu dengan tatapan terpana. Rupanya Aryo benar-benar membaca buku maupun jurnal yang di berikan dokter dan beberapa ada yang mereka beli sendiri. Sampai di ruang kerja suaminya itu, ada rak khusus untuk menyimpan buku-buku tersebut.

“Sini, aku bantu usapin perut kamu,” Aryo mendekat pada Tiara. Tangan Tiara yang sebelumnya berada di atas perutnya, kini menjauh dari sana untuk membiarkan Aryo gantian melakukan usapan itu.

“Heyy bayi ... kamu anteng-anteng yaa di dalam sana. Satu rumah panik gara-gara kamu lho. Kamu gerak-gerak ya tadi di perut Mama, hmm ... ?” Dengan kedua tangannya, Aryo memberikan usapan lembut di perut bulat Tiara. Kemudian pria itu mencondongkan kepalanya dan menyematkan sebuah kecupan di sana.

“Sayang, kamu pasti pegel. Mau aku pijetin?” tawar Aryo.

“Hmm ... boleh deh,” jawab Tiara. Aryo kemudian memintanya untuk meluruskan kedua kaki.

Tiara memerhatikan dengan seksama, Aryo yang mulai memijat kakinya. Aryo kelihatan begitu sungguh-sungguh melakukannya. Ekspresi wajahnya itu jadi menggemaskan, batin Tiara.

“Enak nggak Sayang pijetan aku?” tanya Aryo.

“Enak. Tapi pelan banget, Sayang. Agak di tekan lagi nggak papa.”

“Emang terlalu pelan ya?”

“Iya. Kamu tenaganya kayak mijetin anak kecil. Aku kan orang dewasa, Sayang,” ujar Tiara dan otomatis perempuan itu tertawa.

“Aku takut terlalu kencang pijetnya. Oke, ini aku coba tambah tenaga dikit ya,” Aryo pun mencoba menambah tenaganya. Ia memijat dari betis sampai ke kaki dengan begitu telaten.

“Sayang, nah ini, enak banget pijetan kamu. Makasih yaa,” ucap Tiara diiringi dua buah eye smile yang muncul di wajahnya.

Kalimat sederhana yang diucapkan oleh Tiara itu, memiliki dampak yang begitu besar untuk Aryo. Tiara selalu menghargai hal kecil yang ia lakukan, hingga mengakibatkan jantung Aryo berdentam kencang di dalam rongga dadanya.

Are your feel better?” tanya Aryo.

Tiara mengangguk sebagai jawaban. Beberapa saat setelah Aryo memijatnya, rasa kantuk lantas menyerang Tiara. Ia pun meminta Aryo menyudahi pijatannya dan mengatakan bahwa dirinya ingin tidur.

Tiara tidak akan melupakan momen ini. Perasaan bahagia yang sederhana, diperhatikan, dan dimanja oleh orang yang ia cintai. Itu tidak ternilai harganya dan berarti sangat besar.

Tiara merasakan ranjangnya bergerak dan sebuah lengan besar tengah memeluknya dari belakang. Setelah berganti pakaian, keduanya pun memutuskan untuk tidur siang bersama.

“Ra, dedek bayi lahirnya 3 bulan lagi, kan?” tanya Aryo.

“Hmm ... yaa ... sekitar 3 bulan lebih lagi. Kalau berdasarkan perhitungan usia kandungan aku. You're look so excited about our baby,” ujar Tiara.

Yes, I did,” cetus Aryo. Pria berwajah oriental itu menampakkan senyum semringahnya, “I'm gonna be a dad and you're gonna be a mom. I think it will be wonderful.”

Did you know? I was thinked that I'll never married when I was twenty,” ujar Aryo lagi.

“Waktu itu kamu punya pacar?” Tiara meletakkan tangannya di lengan Aryo, ia memberi usapan lembut di sana.

I was. Aku selalu berpikir kalau aku bertemu orang yang tepat, tapi waktunya tidak pernah tepat,” ungkap Aryo.

“Kenapa kamu berpikir kayak gitu?” Tiara merubah posisi tubuhnya untuk menghadap Aryo. Dari sorot mata Aryo, Tiara dapat merasakan ada hal berat di masa lalu yang dialami pria itu.

“Aku terlalu takut kalau pernikahan nggak akan berarti dan nggak memberi apa-apa. Aku takut nggak bisa memberi kebahagiaan yang diinginkan oleh pasangan aku,” ujar Aryo. “Tapi aku salah besar dengan meyakini hal tersebut. A Marriage is different with a business. And I was being an asshole, Ra. Aku terlalu pengecut dan merasa hebat. Nyatanya aku tetap butuh seseorang buat dengerin ceritaku, buat berbagi sedih dan senang bersama. Aku nggak bisa menahan seseorang di sisiku tanpa memberinya komitmen. Itu bukan perbuatan yang gentle,” Aryo menjeda ucapannya. Pria itu menghela napasnya dan menghembuskannya.

“Saat skandal itu keluar, aku sempat ada pikiran untuk lari. Tapi kalau aku lakuin itu, aku akan jadi manusia paling pengecut. Mungkin aku akan kehilangan kamu dan terus kembali di lingkaran yang sama. Aku menjalin hubungan tanpa memikirkan jangka panjang dan komitmen yang harus aku berikan,” sambung Aryo.

At the end you deciced to commit. Whats make you sure to do it?”

Aryo terlihat berpikir sejenak sebelum mengutarakannya. “Aku nggak mau kehilangan seseorang yang aku sayang di dalam hidupku lagi. I got a lot of happiness in my life, but I lost a lot too.”

Tiara lantas mengulaskan senyumnya. “You did it well. Everyone have a fault in their past. Keputusan yang udah kamu ambil dan niat baik kamu untuk berubah, itu hal yang paling berarti,” tutur Tiara. “Are you happy with you life now?” Tiara menatap ke dalam iris legam Aryo.

Of course. I'm happy to be with you, Tiara. I loved to cuddle you at night, and wake up next to you. Aku senang setiap kali kamu nanyain kegiatan aku, apa yang aku rasain hari ini, dan hal kecil lainnya yang kamu lakuin untuk aku. Everything you did for me is really means a lot.” Aryo mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum simpul. Ia telah belajar banyak hal dan pernikahan-lah yang membawanya untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Tiara meresapi setiap kalimat yang Aryo utarakan. Melihat pria yang dicintainya mengungkapkan hal yang adanya di depannya, membuat Tiara merasa begitu bahagia.

Tiara lantas mendekatkan torsonya pada Aryo untuk merengkuh pria itu ke dalam dekapannya.

“Ra, aku kepikiran sesuatu,” celetuk Aryo.

“Apa?”

“Aku ingat satu kalimat ini, tapi aku lupa sumbernya. Sampai sekarang, kalimat itu masih membekas.”

“Ohya? Kalimat itu pasti memotivasi kamu, sampai kamu nggak bisa lupain.”

Yes, and I'm believed it. Ra, kita bukan bertemu dengan orang yang benar di waktu yang salah. Tapi, orang itu memang bukan orang yang tepat buat kita. Dan kita cuma belum bertemu dengan orang yang benar.”

Tiara menautkan alisnya, “Hmm ... kalau di pikir memang alimat itu benar.”

Yes. The truth is, you never meet the right people at the wrong time. Because the right people are timeless,” ucap Aryo.

“Tiara,” Aryo menatap Tiara dalam-dalam, “Right now i've met my right people. She's very kind, smart, and beautiful. I can't never be imagine to live without her. I want give her everything I can give and make her happy,” Aryo menghela Tiara mendekat lalu menyematkan sebuah kecupan di keningnya, “I love you, Tiara,” ujar Aryo dengan nada tulusnya.

Tiara balas menatap Aryo. Senyumnya melengkung ke dalam, tanda bahwa dirinya begitu bahagia, “I've met my right people too, and I love him so much,” Tiara menjeda ucapannya, “Aryo, aku percaya kalau kamu punya jutaan kebaikan di diri kamu. Aku bangga banget waktu ngenalin kamu ke teman-temanku sebagai suamiku. You're a good husband, son, and a good dad to be. I'm lucky to being with you, and I love you more, truly.”

Comfort Place

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Seisi rumah ikut merasa panik ketika mendapati perut Tiara tiba-tiba mengalami kram. Para ibu-ibu sedikit bereaksi berlebihan, maklum, mereka pernah merasakannya juga dulu.

Namun tidak di sangka-sangka, Aryo nampak tenang. Justru ialah yang menenangkan mamanya dan para tantenya yang tengah kepanikan.

Sebagai suami siaga, Aryo pun segera memapah Tiara menuju kamar dan membaringkannya perlahan di ranjang. Aryo mengambil bantal untuk di letakkan di balik punggung Tiara, berharap istrinya dapat merasa lebih baik.

Aryo lantas mengambil duduk di tepi ranjang. Tuxedo hitamnya sudah di tanggalkan, menyisakan kemeja putih membalut tubuh tegapnya.

“Masih kram, Sayang? atau udah mendingan?” tanya Aryo.

“Udah mendingan sih,” jawab Tiara.

“Aku kira kamu yang akan paling panik pas perut aku kram,” celetuk Tiara.

Aryo menautkan kedua alisnya, “Aku baca jurnal soal kehamilan. Kalau kramnya nggak terlalu lama dan cepat reda, kemungkinan nggak terjadi apa-apa. Itu gejala normal. Bisa karena tekanan darah di rahim karena kecapean,” ucap Aryo.

Tiara menatap suaminya itu dengan tatapan terpana. Rupanya Aryo benar-benar membaca buku maupun jurnal yang di berikan dokter dan beberapa ada yang mereka beli sendiri. Sampai di ruang kerja suaminya itu, ada rak khusus untuk menyimpan buku-buku tersebut.

“Sini, aku bantu usapin perut kamu,” Aryo mendekat pada Tiara. Tangan Tiara yang sebelumnya berada di atas perutnya, kini menjauh dari sana untuk membiarkan Aryo gantian melakukan usapan itu.

“Bayi ... kamu anteng-anteng yaa di dalam. Satu rumah panik gara-gara kamu lho. Kamu gerak-gerak ya tadi di perut Mama, hmm ... ?” Dengan kedua tangannya, Aryo memberikan usapan lembut di perut bulat Tiara. Kemudian pria itu mencondongkan kepalanya dan menyematkan sebuah kecupan di sana.

“Sayang, kamu pasti pegel. Mau aku pijetin?” tawar Aryo.

“Hmm ... boleh deh,” jawab Tiara. Aryo kemudian memintanya untuk meluruskan kedua kaki.

Tiara memerhatikan dengan seksama, Aryo yang mulai memijat kakinya. Aryo kelihatan begitu sungguh-sungguh melakukannya. Ekspresi wajahnya itu jadi menggemaskan, batin Tiara.

“Enak nggak Sayang pijetan aku?” tanya Aryo.

“Enak. Tapi pelan banget, Sayang. Agak di tekan lagi nggak papa.”

“Emang terlalu pelan ya?”

“Iya. Kamu tenaganya kayak mijetin anak kecil. Aku kan orang dewasa, Sayang,” ujar Tiara dan otomatis perempuan itu tertawa.

“Aku takut terlalu kencang pijetnya. Oke, ini aku coba tambah tenaga dikit ya,” Aryo pun mencoba menambah tenaganya. Ia memijat dari betis sampai ke kaki dengan begitu telaten.

“Sayang, nah ini, enak banget pijetan kamu. Makasih yaa,” ucap Tiara diiringi dua buah eye smile yang muncul di wajahnya.

Kalimat sederhana yang diucapkan oleh Tiara itu, memiliki dampak yang begitu besar untuk Aryo. Tiara selalu menghargai hal kecil yang ia lakukan, hingga mengakibatkan jantung Aryo berdentam kencang di dalam rongga dadanya.

Are your feel better?” tanya Aryo.

Tiara mengangguk sebagai jawaban. Beberapa saat setelah Aryo memijatnya, rasa kantuk lantas menyerang Tiara. Ia pun meminta Aryo menyudahi pijatannya dan mengatakan bahwa dirinya ingin tidur.

Tiara tidak akan melupakan momen ini. Perasaan bahagia yang sederhana, diperhatikan, dan dimanja oleh orang yang ia cintai. Itu tidak ternilai harganya dan berarti sangat besar.

Tiara merasakan ranjangnya bergerak dan sebuah lengan besar tengah memeluknya dari belakang. Setelah berganti pakaian, keduanya pun memutuskan untuk tidur siang bersama.

“Ra, dedek bayi lahirnya 3 bulan lagi, kan?” tanya Aryo.

“Hmm ... yaa ... sekitar 3 bulan lebih lagi. Kalau berdasarkan perhitungan usia kandungan aku. You're look so excited about our baby,” ujar Tiara.

Yes, I did,” cetus Aryo. Pria berwajah oriental itu menampakkan senyum semringahnya, “I'm gonna be a dad and you're gonna be a mom. I think it will be wonderful.”

Did you know? I was thinked that I'll never married when I was twenty,” ujar Aryo lagi.

“Waktu itu kamu punya pacar?” Tiara meletakkan tangannya di lengan Aryo, ia memberi usapan lembut di sana.

I was. Aku selalu berpikir kalau aku bertemu orang yang tepat, tapi waktunya tidak pernah tepat,” ungkap Aryo.

“Kenapa kamu berpikir kayak gitu?” Tiara merubah posisi tubuhnya untuk menghadap Aryo. Dari sorot mata Aryo, Tiara dapat merasakan ada hal berat di masa lalu yang dialami pria itu.

“Aku terlalu takut kalau pernikahan nggak akan berarti dan nggak memberi apa-apa. Aku takut nggak bisa memberi kebahagiaan yang diinginkan oleh pasangan aku,” ujar Aryo. “Tapi aku salah besar dengan meyakini hal tersebut. A Marriage is different with a business. And I was being an asshole, Ra. Aku terlalu pengecut dan merasa hebat. Nyatanya aku tetap butuh seseorang buat dengerin ceritaku, buat berbagi sedih dan senang bersama. Aku nggak bisa menahan seseorang di sisiku tanpa memberinya komitmen. Itu bukan perbuatan yang gentle,” Aryo menjeda ucapannya. Pria itu menghela napasnya dan menghembuskannya.

“Saat skandal itu keluar, aku sempat ada pikiran untuk lari. Tapi kalau aku lakuin itu, aku akan jadi manusia paling pengecut. Mungkin aku akan kehilangan kamu dan terus kembali di lingkaran yang sama. Aku menjalin hubungan tanpa memikirkan jangka panjang dan komitmen yang harus aku berikan,” sambung Aryo.

At the end you deciced to commit. Whats make you sure to do it?”

Aryo terlihat berpikir sejenak sebelum mengutarakannya. “Aku nggak mau kehilangan seseorang yang aku sayang di dalam hidupku lagi. I got a lot of happiness in my life, but I lost a lot too.”

Tiara lantas mengulaskan senyumnya. “You did it well. Everyone have a fault in their past. Keputusan yang udah kamu ambil dan niat baik kamu untuk berubah, itu hal yang paling berarti,” tutur Tiara. “Are you happy with you life now?” Tiara menatap ke dalam iris legam Aryo.

Of course. I'm happy to be with you, Tiara. I loved to cuddle you at night, and wake up next to you. Aku senang setiap kali kamu nanyain kegiatan aku, apa yang aku rasain hari ini, dan hal kecil lainnya yang kamu lakuin untuk aku. Everything you did for me is really means a lot.” Aryo mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum simpul. Ia telah belajar banyak hal dan pernikahan-lah yang membawanya untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Tiara meresapi setiap kalimat yang Aryo utarakan. Melihat pria yang dicintainya mengungkapkan hal yang adanya di depannya, membuat Tiara merasa begitu bahagia.

Tiara lantas mendekatkan torsonya pada Aryo untuk merengkuh pria itu ke dalam dekapannya.

“Ra, aku kepikiran sesuatu,” celetuk Aryo.

“Apa?”

“Aku ingat satu kalimat ini, tapi aku lupa sumbernya. Sampai sekarang, kalimat itu masih membekas.”

“Ohya? Kalimat itu pasti memotivasi kamu, sampai kamu nggak bisa lupain.”

Yes, and I'm believed it. Ra, kita bukan bertemu dengan orang yang benar di waktu yang salah. Tapi, orang itu memang bukan orang yang tepat buat kita. Dan kita cuma belum bertemu dengan orang yang benar.”

Tiara menautkan alisnya, “Hmm ... kalau di pikir memang alimat itu benar.”

Yes. The truth is, you never meet the right people at the wrong time. Because the right people are timeless,” tambah Aryo.

“Tiara,” Aryo menatap Tiara dalam-dalam, “Right now i've met my right people. She's very kind, smart, and beautiful. I can't never be imagine to live without her. I want give her everything I can give and make her happy,” Aryo menghela Tiara mendekat lalu menyematkan sebuah kecupan di keningnya, “I love you, Tiara,” ujar Aryo dengan nada tulusnya.

Tiara balas menatap Aryo. Senyumnya melengkung ke dalam, tanda bahwa dirinya begitu bahagia, “I've met my right people too, and I love him so much,” Tiara menjeda ucapannya, “Aryo, aku percaya kalau kamu punya jutaan kebaikan di diri kamu. Aku bangga banget waktu ngenalin kamu ke teman-temanku sebagai suamiku. You're a good husband, son, and a good dad to be. I'm lucky to being with you, and I love you more, truly.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Seisi rumah ikut merasa panik ketika mendapati perut Tiara tiba-tiba mengalami kram. Para ibu-ibu sedikit bereaksi berlebihan, maklum, mereka pernah merasakannya juga dulu.

Namun tidak di sangka-sangka, Aryo nampak tenang. Justru ialah yang menenangkan mamanya dan para tantenya yang tengah kepanikan.

Sebagai suami siaga, Aryo pun segera memapah Tiara menuju kamar dan membaringkannya perlahan di ranjang. Aryo mengambil bantal untuk di letakkan di balik punggung Tiara, berharap istrinya dapat merasa lebih baik.

Aryo lantas mengambil duduk di tepi ranjang. Tuxedo hitamnya sudah di tanggalkan, menyisakan kemeja putih membalut tubuh tegapnya.

“Masih kram, Sayang? atau udah mendingan?” tanya Aryo.

“Udah mendingan sih,” jawab Tiara.

“Aku kira kamu yang akan paling panik pas perut aku kram,” celetuk Tiara.

Aryo menautkan kedua alisnya, “Aku baca jurnal soal kehamilan. Kalau kramnya nggak terlalu lama dan cepat reda, kemungkinan nggak terjadi apa-apa. Itu gejala normal. Bisa karena tekanan darah di rahim karena kecapean,” ucap Aryo.

Tiara menatap suaminya itu dengan tatapan terpana. Rupanya Aryo benar-benar membaca buku maupun jurnal yang di berikan dokter dan beberapa ada yang mereka beli sendiri. Sampai di ruang kerja suaminya itu, ada rak khusus untuk menyimpan buku-buku tersebut.

“Sini, aku bantu usapin perut kamu,” Aryo mendekat pada Tiara. Tangan Tiara yang sebelumnya berada di atas perutnya, kini menjauh dari sana untuk membiarkan Aryo gantian melakukan usapan itu.

“Bayi ... kamu anteng-anteng yaa di dalam. Satu rumah panik gara-gara kamu lho. Kamu gerak-gerak ya tadi di perut Mama, hmm ... ?” Dengan kedua tangannya, Aryo memberikan usapan lembut di perut bulat Tiara. Kemudian pria itu mencondongkan kepalanya dan menyematkan sebuah kecupan di sana.

“Sayang, kamu pasti pegel. Mau aku pijetin?” tawar Aryo.

“Hmm ... boleh deh,” jawab Tiara. Aryo kemudian memintanya untuk meluruskan kedua kaki.

Tiara memerhatikan dengan seksama, Aryo yang mulai memijat kakinya. Aryo kelihatan begitu sungguh-sungguh melakukannya. Ekspresi wajahnya itu jadi menggemaskan, batin Tiara.

“Enak nggak Sayang pijetan aku?” tanya Aryo.

“Enak. Tapi pelan banget, Sayang. Agak di tekan lagi nggak papa.”

“Emang terlalu pelan ya?”

“Iya. Kamu tenaganya kayak mijetin anak kecil. Aku kan orang dewasa, Sayang,” ujar Tiara dan otomatis perempuan itu tertawa.

“Aku takut terlalu kencang pijetnya. Oke, ini aku coba tambah tenaga dikit ya,” Aryo pun mencoba menambah tenaganya. Ia memijat dari betis sampai ke kaki dengan begitu telaten.

“Sayang, nah ini, enak banget pijetan kamu. Makasih yaa,” ucap Tiara diiringi dua buah eye smile yang muncul di wajahnya.

Kalimat sederhana yang diucapkan oleh Tiara itu, memiliki dampak yang begitu besar untuk Aryo. Tiara selalu menghargai hal kecil yang ia lakukan, hingga mengakibatkan jantung Aryo berdentam kencang di dalam rongga dadanya.

Are your feel better?” tanya Aryo.

Tiara mengangguk sebagai jawaban. Beberapa saat setelah Aryo memijatnya, rasa kantuk lantas menyerang Tiara. Ia pun meminta Aryo menyudahi pijatannya dan mengatakan bahwa dirinya ingin tidur.

Tiara tidak akan melupakan momen ini. Perasaan bahagia yang sederhana, diperhatikan, dan dimanja oleh orang yang ia cintai. Itu tidak ternilai harganya dan berarti sangat besar.

Tiara merasakan ranjangnya bergerak dan sebuah lengan besar tengah memeluknya dari belakang. Setelah berganti pakaian, keduanya pun memutuskan untuk tidur siang bersama.

“Ra, dedek bayi lahirnya 3 bulan lagi, kan?” tanya Aryo.

“Hmm ... yaa ... sekitar 3 bulan lebih lagi. Kalau berdasarkan perhitungan usia kandungan aku. You're look so excited about our baby,” ujar Tiara.

Yes, I did,” cetus Aryo. Pria berwajah oriental itu menampakkan wajah semringahnya, “I'm gonna be a dad and you're gonna be a mom. I think it will be wonderful.”

Did you know? I was thinked that I'll never married when I was twenty,” ujar Aryo lagi.

“Waktu itu kamu punya pacar?” Tiara meletakkan tangannya di lengan Aryo, ia memberi usapan lembut di sana.

I was. Aku selalu berpikir kalau aku bertemu orang yang tepat, tapi waktunya tidak pernah tepat,” ungkap Aryo.

“Kenapa kamu berpikir kayak gitu?” Tiara merubah posisi tubuhnya untuk menghadap Aryo. Dari sorot mata Aryo, Tiara dapat merasakan ada hal berat di masa lalu yang dialami pria itu.

“Aku terlalu takut kalau pernikahan nggak akan berarti dan nggak memberi apa-apa. Aku takut nggak bisa memberi kebahagiaan yang diinginkan oleh pasangan aku,” ujar Aryo. “Tapi aku salah besar dengan meyakini hal tersebut. A Marriage is different with a business. And I was being an asshole, Ra. Aku terlalu pengecut dan merasa hebat. Nyatanya aku tetap butuh seseorang buat dengerin ceritaku, buat berbagi sedih dan senang bersama. Aku nggak bisa menahan seseorang di sisiku tanpa memberinya komitmen. Itu bukan perbuatan yang gentle,” Aryo menjeda ucapannya. Pria itu menghela napasnya dan menghembuskannya.

“Saat skandal itu keluar, aku sempat ada pikiran untuk lari. Tapi kalau aku lakuin itu, aku akan jadi manusia paling pengecut. Mungkin aku akan kehilangan kamu dan terus kembali di lingkaran yang sama. Aku menjalin hubungan tanpa memikirkan jangka panjang dan komitmen yang harus aku berikan,” sambung Aryo.

At the end you deciced to commit. Whats make you sure to do it?”

Aryo terlihat berpikir sejenak sebelum mengutarakannya. “Aku nggak mau kehilangan seseorang yang aku sayang di dalam hidupku lagi. I got a lot, but I lost a lot too*.”

Tiara mengulaskan senyumnya. “You did it well. Everyone have a fault in their past. Keputusan yang udah kamu ambil dan niat baik untuk berubah, itu hal yang paling berarti,” tutur Tiara. “Are you happy with you life now*?” Tiara menatap ke dalam iris legam Aryo.

Of course. I'm happy to be with you, Tiara. I loved to cuddle you at night, and ... wake up next to you. Aku senang setiap kali kamu nanyain kegiatan aku, apa yang aku rasain hari ini, dan hal kecil lainnya yang kamu lakuin untuk aku. Everything you did for me is really mean a lot.” Aryo mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum simpul. Ia telah belajar banyak hal dan pernikahan-lah yang membawanya untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Tiara meresapi setiap kalimat yang Aryo utarakan. Melihat pria yang dicintainya mengungkapkan hal yang adanya di depannya, membuat Tiara merasa begitu bahagia.

Tiara lantas mendekatkan torsonya pada Aryo untuk merengkuh pria itu ke dalam dekapannya.

“Ra, aku kepikiran sesuatu,” celetuk Aryo.

“Apa?”

“Aku ingat satu kalimat ini, tapi aku lupa sumbernya. Sampai sekarang, kalimat itu masih membekas.”

“Ohya? Kalimat itu pasti memotivasi kamu, sampai kamu nggak bisa lupain.”

Yes, and I'm believed it. Ra, kita bukan bertemu dengan orang yang benar di waktu yang salah. Tapi, orang itu memang bukan orang yang tepat buat kita. Dan kita cuma belum bertemu dengan orang yang benar.”

Tiara menautkan alisnya, “Hmm ... kalau di pikir memang alimat itu benar.”

Yes. The truth is, you never meet the right people at the wrong time. Because the right people are timeless,” tambah Aryo.

“Tiara,” Aryo menatap Tiara dalam-dalam, “Right now i've met my right people. She's very kind, smart and beautiful. I can't never be imagine to live without her. I want give her everything I can give,” Aryo lantas menyematkan sebuah kecupan di kening Tiara, “I love you, Tiara.”

Tiara balas menatap Aryo. Senyumnya melengkung ke dalam, tanda bahwa dirinya begitu bahagia, “I've met my right people too. He dont have any idea about how much I love him,” Tiara menjeda ucapannya, “Aryo, aku percaya kamu orang yang baik. Aku bangga banget waktu ngenalin kamu ke teman-temanku sebagai suamiku. You're a good husband, son, and a good dad to be. I'm lucky to being with you. I love you more, truly.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷