alyadara

Sebuah pesta telah dipersiapkan di kediaman kedua orang tuanya. Jadilah Aryo dan Tiara tidak langsung pulang ke rumah mereka selepas dari hotel. Ini hanya acara kecil-kecilan berupa makan siang bersama sebagai bentuk syukur atas kelulusan Tiara. Ayah dan bundanya juga datang bersama kedua adiknya. Pertemuan kedua keluarga tersebut begitu terasa hangat dan membahagiakan. Beberapa keluarga Aryo yang hadir memberikan ucapan selamat pada Tiara sekaligus doa untuk bayi di dalam kandungannya.

“Dedeknya ikut sekolah Mamanya yaa, ikutan pinter nih nanti kalau udah lahir,” ujar Namia, kakak dari mama mertuanya.

“Iyaa, dong. Calon jagoan Oma nih, anak ganteng dan pintar,” ucap Feli. Mertuanya itu lantas mengarahkan tangannya untuk mengusap perut Tiara dan senyum cerah tercetak di wajah anggunnya.

Tiara begitu senang, kehadirannya di tengah-tengah keluarga Aryo dapat menghadirkan senyuman di wajah mereka. Terkadang kebahagiaan hanya butuh tercipta dari hal yang begitu sederhana.

“Tiara ... Tiaraa,” seru seorang gadis kecil yang hadir di tengah-tengah Tiara, Namia dan Feli.

“Christie, panggilnya Kak Tiara dong. Atau panggil Cici juga boleh,” ujar Namia yang menasehati cucunya yang baru berusia 4 tahun itu.

“Cici Tiara ya, Oma?” tanya Christie yang langsung diangguki oleh Namia.

“Cici, Cici, liat nih. Christie di kasih angpao sama koko,” Christie memarkan lima lembar uang kertas merah muda yang ada di tangannya.

“Banyak banget, Sayang. Buat apa koko kasih Christie?” tanya Namia.

“Buat jemput Cici Tiara katanya. Ayo Ci, ikut sama Christie,” celoteh gadis kecil itu. Akhirnya Tiara mengikuti langkah gadis kecil itu. Mereka berjalan dan sampai di sebuah ruangan berisi billiard dan beberapa arena permainan lainnya. Di sana beberapa saudara laki-laki Aryo sedang bermain bersama suaminya itu. Ketika menyadari kehadiran Tiara di sana dan Christie nampak melambaikan tangan padanya, Aryo lekas menaruh stick billiard-nya dan berjalan menuju Tiara.

Aryo pamitan dengan saudara-saudaranya dan membawa Tiara keluar dari ruangan itu. Mereka menuju ruang keluarga dan mengambil tempat di salah satu sofa.

Aryo tengah menyemil kue yang diambilnya di meja dan wajahnya tampak senang begitu memakannya.

“Habisin dulu makanannya, jangan ngomong. Nanti kamu kesedak, Aryo,” nasehat Tiara ketika melihat Aryo ingin bicar padahal mulutnya masih penuh.

Tiara geleng-geleng kepala. Ia hapal betul akan kebiasaan suaminya itu. Kalau sudah bertemu makanan kesukaannya, Aryo akan memakan makanan itu dengan lahap. Mulutnya penuh, depan, belakang, kanan kiri, di pakai untuk mengunyah semua.

“Lucu banget sih kamu kalau lagi makan gini,” celetuk Tiara yang masih fokus memerhatikan cara makan Aryo. Pipi suaminya tampak seperti gelembung yang besar saat ini.

“Uhuk .. uhuk ...” tiba-tiba Aryo terbatuk dan terlihat kesulitan bernapas.

“Tuh kan, tuh kan,” ucap Tiara ketika Aryo tersedak camilannya. “Sebentar, aku ambilin minum dulu,” Tiara pun berlalu dari hadapan Aryo untuk mengambilkannya air.

Tidak lama kemudian, Tiara kembali dan mendapati wajah Aryo yang tengah memerah.Tiara pun membantu Aryo untuk meminum air putih dari gelas yang dibawanya.

“Lain kali pelan-pelan kalau makan,” titah Tiara sambil menepuk-nepuk punggung Aryo.

“Iya, Sayang. Makasih ya,” ucap Aryo ketika rasa sesak di dadanya berkurang dan ia dapat kembali bernapas dengan lebih mudah.

Aryo lantas meletakkan gelas yang sudah kosong di meja. Detik berikutnya. Aryo mendapati ekspresi tegang Tiara dan istrinya itu nampak menahan rasa sakit.

“Sayang, you're okay? What happened?” tanya Aryo yang ikut khawatir saat Tiara memegangi perutnya.

Tiara nampak meringis dan satu tangannya meraih lengan Aryo untuk jadi pegangannya, “Aryo, perut aku kram ... ” rintihnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sebuah pesta telah dipersiapkan di kediaman kedua orang tuanya. Jadilah Aryo dan Tiara tidak langsung pulang ke rumah mereka selepas dari hotel. Ini hanya acara kecil-kecilan berupa makan siang bersama sebagai bentuk syukur atas kelulusan Tiara. Ayah dan bundanya juga datang bersama kedua adiknya. Pertemuan kedua keluarga tersebut begitu terasa hangat dan membahagiakan. Beberapa keluarga Aryo yang hadir memberikan ucapan selamat pada Tiara sekaligus doa untuk bayi di dalam kandungannya.

“Dedeknya ikut sekolah Mamanya yaa, ikutan pinter nih nanti kalau udah lahir,” ujar Namia, kakak dari mama mertuanya.

“Iyaa, dong. Calon jagoan Oma nih, anak ganteng dan pintar,” ucap Feli. Mertuanya itu lantas mengarahkan tangannya untuk mengusap perut Tiara dan senyum cerah tercetak di wajah anggunnya.

Tiara begitu senang, kehadirannya di tengah-tengah keluarga Aryo dapat menghadirkan senyuman di wajah mereka. Terkadang kebahagiaan hanya butuh tercipta dari hal yang begitu sederhana.

“Tiara ... Tiaraa,” seru seorang gadis kecil yang hadir di tengah-tengah Tiara, Namia dan Feli.

“Christie, panggilnya Kak Tiara dong. Atau panggil Cici juga boleh,” ujar Namia yang menasehati cucunya yang baru berusia 4 tahun itu.

“Cici Tiara ya, Oma?” tanya Christie yang langsung diangguki oleh Namia.

“Cici, Cici, liat nih. Christie di kasih angpao sama koko,” Christie memarkan lima lembar uang kertas merah muda yang ada di tangannya.

“Banyak banget, Sayang. Buat apa koko kasih Christie?” tanya Namia.

“Buat jemput Cici Tiara katanya. Ayo Ci, ikut sama Christie,” celoteh gadis kecil itu. Akhirnya Tiara mengikuti langkah gadis kecil itu. Mereka berjalan dan sampai di sebuah ruangan berisi billiard dan beberapa arena permainan lainnya. Di sana beberapa saudara laki-laki Aryo sedang bermain bersama suaminya itu. Ketika menyadari kehadiran Tiara di sana dan Christie nampak melambaikan tangan padanya, Aryo lekas menaruh stick billiard-nya dan berjalan menuju Tiara.

Aryo pamitan dengan saudara-saudaranya dan membawa Tiara keluar dari ruangan itu. Mereka menuju ruang keluarga dan mengambil tempat di salah satu sofa.

Aryo tengah menyemil kue yang diambilnya di meja dan wajahnya tampak senang begitu memakannya.

“Habisin dulu makanannya, jangan ngomong. Nanti kamu kesedak, Aryo,” nasehat Tiara ketika melihat Aryo ingin bicar padahal mulutnya masih penuh.

Tiara geleng-geleng kepala. Ia hapal betul akan kebiasaan suaminya itu. Kalau sudah bertemu makanan kesukaannya, Aryo akan memakan makanan itu dengan lahap. Mulutnya penuh, depan, belakang, kanan kiri, di pakai untuk mengunyah semua.

“Lucu banget sih kamu kalau lagi makan gini,” celetuk Tiara yang masih fokus memerhatikan cara makan Aryo. Pipi suaminya tampak seperti gelembung yang besar saat ini.

“Uhuk .. uhukk ...” Aryo terbatuk dan terlihat kesulitan bernapas.

“Tuh kan, tuh kan,” ucap Tiara ketika Aryo tersedak camilannya. “Sebentar, aku ambilin minum dulu,” Tiara pun berlalu dari hadapan Aryo untuk mengambilkannya air.

Tidak lama kemudian, Tiara kembali dan mendapati wajah Aryo yang tengah memerah.Tiara pun membantu Aryo untuk meminum air putih dari gelas yang dibawanya.

“Lain kali pelan-pelan kalau makan,” titah Tiara sambil menepuk-nepuk punggung Aryo.

“Iya, Sayang. Makasih ya,” ucap Aryo ketika rasa sesak di dadanya berkurang dan ia dapat kembali bernapas dengan lebih mudah.

Aryo lantas meletakkan gelas yang sudah kosong di meja. Detik berikutnya. Aryo mendapati ekspresi tegang Tiara dan istrinya itu nampak menahan rasa sakit.

“Sayang, you're okay? What happened?” tanya Aryo yang ikut khawatir saat Tiara memegangi perutnya.

Tiara nampak meringis dan satu tangannya meraih lengan Aryo untuk jadi pegangannya, “Aryo, perut aku kram ... ” rintihnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sebuah ballroom hotel dengan nuansa putih dan krem itu kini di penuhi oleh ratusan wisudawan. Tiara menjadi salah satu di antaranya. Ia di dampingi oleh dua orang tersayangnya, yakni Aryo dan bunda.

Sebenarnya hari ini support system-nya hadir semua. Namun untuk acara inti, pendamping yang masuk ke ballroom jumlahnya memang dibatasi. Jadi ayahnya, adiknya, dan kedua mertuanya akan datang menyusul nanti untuk acara penutupan.

Tiara nampak cantik dengan balutan kebaya model A line berwarna ash grey dan rok batik coklat sebatas mata kaki. Sebuah topi toga menghiasi kepalanya dan rambut coklat legamnya di curly. Penampilan Tiara terlihat sederhana, tapi tetap aura kecantikannya tetap terpancar.

Tiara menoleh ke samping kanannya. Satu tangannya mengambik tangan Aryo yang berada di pangkuan dan menggenggamnya. Ia menatap suaminya sekilas dan sebuah senyum di terukir di wajahnya.

Di samping kirinya, Alifia tengah menatap putri sulungnya dengan tatapan terharu.

“Kak, Bunda bangga banget sama kamu,” ujar Alifia. Tiara balas menatap sosok yang begitu berarti baginya. Alifia yang telah merawatnya dan mengasihinya dengan tulus selama ini, meskipun dirinya tidak lahir dari rahim wanita itu.

“Bun, makasih untuk semua yang udah Bunda berikan buat Tiara. Nggak akan ada yang bisa menggantikan kasih sayang yang Bunda kasih selama ini,” ucap Tiara.

Sessat setelah itu, dari panggung besar di depan, nama lengkap Tiara di sebutkan. “Mutiarani Ivanka Lubis, gelar Sarjana Ilmu Komunikasi, meraih predikat cumlaude. Dipersilakan untuk menuju ke atas panggung,” suara pembawa acara terdengar memenuhi ballroom hotel itu.

Tiara beranjak dari kursi dan melangkahkan kakinya. Ia melewati para wisudawan lainnya hingga sampai dirinya di atas panggung. Rektor Fakultas Komunikasi memberinya sertifikat penghargaan kelulusan, mengalungkan medali wisuda, serta ucapan selamat. Setelah tali toga di sampirkan ke kanan dan sesi foto bersama dekan dan rektor, Tiara melangkahkan kakinya untuk turun dari panggung.

Sesampainya Tiara di kursinya, ia menatap Alifia dan Aryo secara bergantian, “I did it, Bun. Sayang, I did it,” ucapnya sembari menunjukkan sertifikat dan medali toganya.

Alifia lantas merengkuhnya ke pelukan, “Ayah dan bunda di sana pasti bangga sekali sama Michelle,” bisik Alifia pelan. Tiara mengangguk dan tersenyum. Meskipun Erlangga dan Clarissa tidak ada di sini, Tiara yakin orang tuanya ikut bahagia menyaksikan apa yang telah dicapainya.

Saat Alifia mengurai pelukannya, Tiara mendapati bundanya dan Aryo menatapnya dengan kedua mata yang nampak berkaca-kaca. Rasanya masih seperti mimpi bagi Tiara, dua orang tersayangnya kini menatapnya dengan tatapan bangga.

Aryo menggenggam tangannya, lalu pria itu mengusapkan ibu jarinya di sana, “You did it very well and I'm so proud of you. Selamat yaa, Sayang. Akhirnya kamu bisa mewujudkan impian kamu.”

***

Ada penampilan dari para bintang tamu di penghujung acara dan sesi foto bersama teman-teman sejawat. Selain mengundang beberapa penyanyi, band kampus juga turut membawakan dua buah lagu.

Tiara mengatakan pada Vania, Wilda dan Cici bahwa dirinya ingin mencari seseorang. Sedari tadi ia belum bertemu dengan orang itu karena hadirin yang cukup padat hari ini.

Di antara ratusan orang yang ada di sana, setelah Tiara berusaha mencari, akhirnya ia menemukan Akmal. Tiara menghampirinya dan lantas mengucapkan selamat pada lelaki itu.

“Mal, selamat ya atas kelulusan lo. Dengan segala kesibukan BEM, lo bisa tetap ngejar impian lo, lulus cumlaude. I'm a proud best friend,” ucap Tiara ketika tangannya berjabat dengan Akmal.

“Gue juga bangga sama lo, Ra. Selamat ya atas gelar dan semoga ilmu kita bermanfaat di kemudian hari,” ujar Akmal sambil mengulaskan senyumnya.

Tiara mengangguk “Eh, kita belum foto berdua. Lo nggak mau foto sama gue nih?”

“Beneran nggak papa gue foto sama lo?” tanya Akmal.

“Lho, emangnya kenapa? Gue udah foto sama Vania and the gang. Sama keluarga gue juga udah. Tinggal sama lo Mal. Masa kita nggak foto sih,” cerocos Tiara.

“Yaa ... gue takut aja nanti ada yang cemburu,” gurau Akmal.

Mendengar penuturan Akma, mau tidak mau Tiara tertawa. “Enggak, tenang aja,” ucap Tiara. Akhirnya Akmal setuju dan mereka pun mencari tempat yang cukup bagus untuk berfoto. Karena di dalam cukup ramai, mereka berjalan sedikit keluar dan menemukan spot yang bagus di koridor bangunan hotel ini.

Untuk mengambil fotonya, Cici bersedia menjadi fotografer mendadak untuk Tiara dan Akmal. Mereka pun mendapatkan jepretan berdua dengan beberapa gaya. Selesai berfoto, mereka kembali ke dalam ballroom. Tiara berjalan beberapa langkah di depan sementara Cici dan Akmal tertinggal di belakangnya.

“Cie foto berdua sama mantan crush,” celetuk Cici pelan di dekat Akmal.

Akmal melebarkan matanya dan menoleh menatap Cici. Ia menatap Cici dengan tatapan meminta penjelasan atas ucapan perempuan itu, “Lo tau dari mana?” tanya Akmal pada Cici.

“Udah rahasia umum kali Mal, lo crush in Tiara. Gila ya, primadona banget Tiara. Selain lo, si Rafael juga pernah crush-in Tiara. Bayangin, Rafael. Si cassanova dan playboy kampus.”

Di dalam ballroom mereka menemui Vania and the gang. Tiara memang berniat ingin pamit lebih dulu dari teman-temannya yang lain.

“Guys, thank you so much for today yaa,” ucap Tiara menyalami satu persatu temannya.

“Iya, Ra, sama-sama. Congrats juga ya buat lo,” Cici membalas pelukan Tiara. “Gue bakal kangen sama kalian, meet up ya kapan-kapan jangan lupa temen lo semua,” ujar Cici pada yang lainnya juga.

“Jangan lupa kita ada after party lho guys. Pada dateng ya, undangannya udah gue kirim di grup,” seru Wilda.

“Siap, pasti dateng lah,” sahut Farhan.

“Lo mah soal party aja, paling kenceng nyautnya,” celetuk Risya.

“Tiaraa ... lo udah mau pulang yaa Beb?” tanya Wilda yang menghampiri Tiara lebih dulu lalu memberikan pelukan hangat untuk sahabatnya itu.

“Kasian juga bumil kalau kelamaan acara, dedeknya nanti cape nih,” celetuk Vania yang ikutan nimbrung.

“Ohiya lupa, udah di tungguin sama pangerannya, Wil,” timpal Vania lagi. Beberapa saat kemudian, dari balik punggung dua sahabatnya, Tiara mendapati sosok Aryo yang tengah berjalan ke arahnya.

Bye guys, gue pulang duluan ya. Pangeran gue udah dateng tuh,” ucap Tiara. Sebelum Aryo sampai di hadapannya dan sahabatnya, Tiara menjulurkan lidahnya meledek Wilda dan Cici.

Seketika dua sahabatnya pun berbalik dan benar saja. Wilda dan Cici mendapati sosok tampan yang disebut Tiara sebagai pangerannya di tengah-tengah mereka. Kedua sahabatnya itu lantas melebarkan mata dan berusaha menahan senyum mereka.

Aryo sempat menyapa kedua sahabatnya sebelum akhirnya dirinya dan Tiara pamit dari sana. Wilda dan Cici menyaksikan bagaimana Aryo menggenggam tangan Tiara dan beberapa kali memerhatikan langkah perempuan itu ketika mereka berjalan.

“Wil, anjir lah. Gue jadi mau nikah Wil,” ucap Cici spontan begitu punggung Aryo dan Tiara sudah tidak nampak di pandangan mereka.

“Kerja dulu. Nikah nggak gampang kali, butuh biaya banyak,” ucap Wilda.

“Yaa, tau. Tapi kayak enak banget gitu lho nikah. Ada yang perhatian dan manjain lo. Rezeki nggak kemana Wil, bisa di cari juga seiring berjalannya waktu,” kilah Cici.

“Iya, rezeki emang bisa di cari. Tapi nggak semudah yang lo bayangin.”

“Ya iya sih. Tapi kalau udah kaya dari lahir nggak perlu susah-susah juga kali Wil. Hartanya aja bisa cukup 10 turunan itu deh gue rasa.”

“Lo cuma liat enaknya doang. Lo nggak pernah tau Ci di balik harta yang melimpah, apa yang seseorang harus lewatin. Udah ah, party aja dulu yuk. Mikirin nikah mah nanti. Kecuali dapet calon suami modelan konglomerat kayak Aryo sih, yaa gue nggak nolak.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sebuah ballroom hotel dengan nuansa putih dan krem itu kini di penuhi oleh ratusan wisudawan. Tiara menjadi salah satu di antaranya. Ia di dampingi oleh dua orang tersayangnya, yakni Aryo dan bunda.

Sebenarnya hari ini support system-nya hadir semua. Namun untuk acara inti, pendamping yang masuk ke ballroom jumlahnya memang dibatasi. Jadi ayahnya, adiknya, dan kedua mertuanya akan datang menyusul nanti untuk acara penutupan.

Tiara nampak cantik dalam balutan kebaya berwarna ash grey dan rok batik coklat sebatas mata kakinya. Sebuah topi toga menghiasi kepalanya dan rambut coklat legamnya di curly. Penampilan Tiara terlihat sederhana, tapi tetap aura kecantikannya tetap terpancar.

Tiara menoleh ke samping kanannya. Satu tangannya mengambik tangan Aryo yang berada di pangkuan dan menggenggamnya. Ia menatap suaminya sekilas dan sebuah senyum di terukir di wajahnya.

Di samping kirinya, Alifia tengah menatap putri sulungnya dengan tatapan terharu.

“Kak, Bunda bangga banget sama kamu,” ujar Alifia. Tiara balas menatap sosok yang begitu berarti baginya. Alifia yang telah merawatnya dan mengasihinya dengan tulus selama ini, meskipun dirinya tidak lahir dari rahim wanita itu.

“Bun, makasih untuk semua yang udah Bunda berikan buat Tiara. Nggak akan ada yang gantiin kasih sayang yang Bunda kasih selam ini,” ucap Tiara.

Sessat setelah itu, dari panggung besar di depan, nama lengkap Tiara di sebutkan. “Mutiarani Ivanka Lubis, gelar Sarjana Ilmu Komunikasi, meraih predikat cumlaude. Dipersilakan untuk menuju ke atas panggung,” suara pembawa acara terdengar memenuhi ballroom hotel itu.

Tiara beranjak dari kursi dan melangkahkan kakinya. Ia melewati para wisudawan lainnya hingga sampai dirinya di atas panggung. Rektor Fakultas Komunikasi memberinya sertifikat penghargaan kelulusan, mengalungkan medali wisuda, serta ucapan selamat. Setelah tali toga di sampirkan ke kanan dan sesi foto bersama dekan dan rektor, Tiara melangkahkan kakinya untuk turun dari panggung.

Sesampainya Tiara di kursinya, ia menatap Alifia dan Aryo secara bergantian, “I did it, Bun. Sayang, I did it,” ucapnya sembari menunjukkan sertifikat dan medali toganya.

Alifia lantas merengkuhnya ke pelukan, “Ayah dan bunda di sana pasti bangga sekali sama Michelle,” bisik Alifia pelan. Tiara mengangguk dan tersenyum. Meskipun Erlangga dan Clarissa tidak ada di sini, Tiara yakin orang tuanya ikut bahagia menyaksikan apa yang telah dicapainya.

Saat Alifia mengurai pelukannya, Tiara mendapati bundanya dan Aryo menatapnya dengan kedua mata yang nampak berkaca-kaca. Rasanya masih seperti mimpi bagi Tiara, dua orang tersayangnya kini menatapnya dengan tatapan bangga.

Aryo menggenggam tangannya, lalu pria itu mengusapkan ibu jarinya di sana, “You did it very well and I'm so proud of you. Selamat yaa, Sayang. Akhirnya kamu bisa mewujudkan impian kamu.”

***

Ada penampilan dari para bintang tamu di penghujung acara dan sesi foto bersama teman-teman sejawat. Selain mengundang beberapa penyanyi, band kampus juga turut membawakan dua buah lagu.

Tiara mengatakan pada Vania, Wilda dan Cici bahwa dirinya ingin mencari seseorang. Sedari tadi ia belum bertemu dengan orang itu karena hadirin yang cukup padat hari ini.

Di antara ratusan orang yang ada di sana, setelah Tiara berusaha mencari, akhirnya ia menemukan Akmal. Tiara menghampirinya dan lantas mengucapkan selamat pada lelaki itu.

“Mal, selamat ya atas kelulusan lo. Dengan segala kesibukan BEM, lo bisa tetap ngejar impian lo, lulus cumlaude. I'm a proud best friend,” ucap Tiara ketika tangannya berjabat dengan Akmal.

“Gue juga bangga sama lo, Ra. Selamat ya atas gelar dan semoga ilmu kita bermanfaat di kemudian hari,” ujar Akmal sambil mengulaskan senyumnya.

Tiara mengangguk “Eh, kita belum foto berdua. Lo nggak mau foto sama gue nih?”

“Beneran nggak papa gue foto sama lo?” tanya Akmal.

“Lho, emangnya kenapa? Gue udah foto sama Vania and the gang. Sama keluarga gue juga udah tadi. Tinggal sama lo Mal. Masa kita nggak foto sih,” cerocos Tiara.

“Yaa ... gue takut aja nanti ada yang cemburu,” gurau Akmal.

Mendengar penuturan Akma, mau tidak mau Tiara tertawa. “Enggak, tenang aja,” ucap Tiara. Akhirnya Akmal setuju dan mereka pun mencari tempat yang cukup bagus untuk berfoto. Karena di dalam cukup ramai, mereka berjalan sedikit keluar dan menemukan spot yang bagus di koridor bangunan hotel ini.

Untuk mengambil fotonya, Cici bersedia menjadi fotografer mendadak untuk Tiara dan Akmal. Mereka pun mendapatkan jepretan berdua dengan beberapa gaya. Selesai berfoto, mereka kembali ke dalam ballroom. Tiara berjalan beberapa langkah di depan sementara Cici dan Akmal tertinggal di belakangnya.

“Cie foto berdua sama mantan crush,” celetuk Cici pelan di dekat Akmal.

Akmal melebarkan matanya dan menoleh menatap Cici. Ia menatap Cici dengan tatapan meminta penjelasan atas ucapan perempuan itu, “Lo tau dari mana?” tanya Akmal pada Cici.

“Udah rahasia umum kali Mal, lo crush in Tiara. Gila ya, primadona banget Tiara. Selain lo, si Rafael juga pernah crush-in Tiara. Bayangin, Rafael. Si cassanova dan playboy kampus.”

Di dalam ballroom mereka menemui Vania and the gang. Tiara memang berniat ingin pamit lebih dulu dari teman-temannya yang lain.

“Guys, thank you so much for today yaa,” ucap Tiara menyalami satu persatu temannya.

“Iya, Ra, sama-sama. Congrats juga ya buat lo,” Cici membalas pelukan Tiara. “Gue bakal kangen sama kalian, meet up ya kapan-kapan jangan lupa temen lo semua,” ujar Cici pada yang lainnya juga.

“Jangan lupa kita ada after party lho guys. Pada dateng ya, undangannya udah gue kirim di grup,” seru Wilda.

“Siap, pasti dateng lah,” sahut Farhan.

“Lo mah soal party aja, paling kenceng nyautnya,” celetuk Risya.

“Tiaraa ... lo udah mau pulang yaa Beb?” tanya Wilda yang menghampiri Tiara lebih dulu lalu memberikan pelukan hangat untuk sahabatnya itu.

“Kasian juga bumil kalau kelamaan acara, dedeknya nanti cape nih,” celetuk Vania yang ikutan nimbrung.

“Ohiya lupa, udah di tungguin sama pangerannya, Wil,” timpal Vania lagi. Beberapa saat kemudian, dari balik punggung dua sahabatnya, Tiara mendapati sosok Aryo yang tengah berjalan ke arahnya.

Bye guys, gue pulang duluan ya. Pangeran gue udah dateng tuh,” ucap Tiara. Sebelum Aryo sampai di hadapannya dan sahabatnya, Tiara menjulurkan lidahnya meledek Wilda dan Cici.

Seketika dua sahabatnya pun berbalik dan benar saja. Wilda dan Cici mendapati sosok tampan yang disebut Tiara sebagai pangerannya di tengah-tengah mereka. Kedua sahabatnya itu lantas melebarkan mata dan berusaha menahan senyum mereka.

Aryo sempat menyapa kedua sahabatnya sebelum akhirnya dirinya dan Tiara pamit dari sana. Wilda dan Cici menyaksikan bagaimana Aryo menggenggam tangan Tiara dan beberapa kali memerhatikan langkah perempuan itu ketika mereka berjalan.

“Wil, anjir lah. Gue jadi mau nikah Wil,” ucap Cici spontan begitu punggung Aryo dan Tiara sudah tidak nampak di pandangan mereka.

“Kerja dulu. Nikah nggak gampang kali, butuh biaya banyak,” ucap Wilda.

“Yaa, tau. Tapi kayak enak banget gitu lho nikah. Ada yang perhatian dan manjain lo. Rezeki nggak kemana Wil, bisa di cari juga seiring berjalannya waktu,” kilah Cici.

“Iya, rezeki emang bisa di cari. Tapi nggak semudah yang lo bayangin.”

“Ya iya sih. Tapi kalau udah kaya dari lahir nggak perlu susah-susah juga kali Wil. Hartanya aja bisa cukup 10 turunan itu deh gue rasa.”

“Lo cuma liat enaknya doang. Lo nggak pernah tau Ci di balik harta yang melimpah, apa yang seseorang harus lewatin. Udah ah, party aja dulu yuk. Mikirin nikah mah nanti. Kecuali dapet calon suami modelan konglomerat kayak Aryo sih, yaa gue nggak nolak.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Saat ini waktu menunjukkan pukul 5 pagi di hari perayaan kelulusannya. Tiara sudah bangun dan duduk di hadapan kaca besar untuk di rias oleh makeup artist.

Hanna, makeup artist yang merias Tiara memerhatikan paras kliennya hari ini, “Bumil cantik banget, auranya beda ya,” ucapnya.

Tiara lantas mengulaskan senyumnya, ia menatap pantulan dirinya dari kaca. “Mbak, aku request lipstick-nya warna nude bisa kan?”

“Bisa, tenang aja,” sahut Mbak Hanna.

Di tengah-tengah kegiatan makeup tersebut, Tiara mendapati Aryo menghampirinya. Suaminya itu sudah mandi, tapi masih mengenakan kaus oblong hitam dan celana bahan panjang.

“Kamu ngapain liatin aku makeup?” ujar Tiara tanpa menoleh ke arah Aryo. Tangan Tiara yang ada di pangkuannya, di raih oleh Aryo dan digenggam ringan.

“Aryo?” ujar Tiara lagi ketika Aryo hanya diam saja. “Kamu masih ngantuk kan? Tidur aja dulu lagi. Acaranya kan masih jam 8,” sambungnya.

“Kamu makeup-nya masih lama?” tanya Aryo.

“Tanya nih sama Mbak Hanna, masih lama kan ya, Mbak? Baru aja pakai foundation,” jawab Tiara.

“Iyaa, masih lumayan lama. 2 jam lagi lah kira-kira,” ujar Mbak Hanna sambil mengulaskan senyumnya. Ia memerhatikan dua sejoli di hadapannya yang menurutnya lucu juga.

“Aku mau di sini aja nungguin kamu,” ucap Aryo kemudian.

“Mbak Hanna, sering nemuin klien yang kaya gini nggak Mbak?” gurau Tiara yang justru menghiraukan ucapan Aryo.

“Lumayan langka yaa, ditunguin makeup. Tapi Masnya nggak papa lho kalau mau nungguin istrinya,” sahut Mbak Hanna.

Setelah satu jam berselang, Tiara sungguhan meminta Aryo untuk kembali ke kamar. Selama tadi Aryo menungguinya, suaminya itu mengajaknya mengobrol terus dan sesekali mengeluarkan jokes-nya. Tiara aproved sebagian itu lucu dan membuatnya menahan tawa, karena takut-takut makeup-nya bisa hancur atau Mbak Hanna kesulitan merias wajahnya kalau ia banyak gerak.

Akhirnya Aryo menurut padanya setelah dibujuk. Tiara kadang masih merasa heran dengan perilaku suaminya. Memang lumayan ajaib dan suka semaunya kelakuan Aryo itu.

“Mbak, ini udah mau selesai ya?” tanya Tiara.

“Tinggal pakai lipstick nih cantik. Udah selesai kok,” jawab Mbak Hanna.

“Oke. Makeup-nya bagus banget Mbak hasilnya, makasih ya,” ucap Tiara yang menatap hasil riasannya di kaca.

“Sama-sama. Saya bingung lho dandanin bumil cantik, takut nggak pangling makeup-nya.”

“Iya, cantik banget ya Mbak istri saya,” celetuk sebuah suara dan Tiara tahu itu adalah suara suaminya. Tiara menoleh setelah Mbak Hanna mengaplikasikan lipstick di bibirnya. Benar saja, ia mendapati Aryo di sana telah rapi dengan stelan tuxedo hitamnya. Rambutnya di style model slicked back hair, sehingga memberikan kesan rapi dan formal yang segar. Penampilan Aryo yang seperti ini, membuat Tiara terpesona.

“Aduh, gantengnya,” celetuk Tiara spontan. Senyum pun tidak pudar dari bibir perempuan itu. Kemudian tangannya terangkat untuk merapikan sedikit kerah kemeja Aryo.

Aryo balas menatap Tiara, ia menaikkan sebelah alisnya dan sedikit menggigit bibir bawahnya.

“Udah ah. Aku ganti baju dulu ya,” putus Tiara dan mengalihkan tatapannya dari Aryo.

“Hmm,” gumam Aryo. “Kita bisa telat nanti Sayang, kalau kamu liatin aku terus gini. Oh iya, coba kasih rating penampilan aku hari ini. Berapa rating-nya kira-kira?” tanya Aryo.

Tiara nampak berpikir, matanya menyipit, “Hmm ... berapa ya ...? Aku kasih bintang satu deh.”

“Aku kira bintang lima lho Sayang. Aku udah ganteng gini,” ucap Aryo.

“Iyaa, ganteng sih. Tapi nggak ramah buat jantung aku, jadi aku kasih bintang satu deh.” Setelah mengatakannya, Tiara lantas menampakkan cengiran jenakanya. Ia bergerak menjauhi Aryo yang kini menatapnya dengan intens. Aryo mengira ada yang aneh dari penampilannya hari ini, tapi rupanya Tiara hanya sedang menggodanya saja.

Tiara buru-buru pergi dari sana sebelum Aryo mendekatinya dan membuat mereka telat pergi ke acara kelulusan. Tiara tahu betul, urusannya bisa panjang jika ia memutuskan untuk meladeni suaminya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Saat ini waktu menunjukkan pukul 5 pagi di hari perayaan kelulusan kuliahnya. Tiara sudah bangun dan duduk di hadapan kaca besar untuk di rias oleh makeup artist.

Hanna, makeup artist yang merias Tiara memerhatikan paras kliennya hari ini, “Bumil cantik banget, auranya beda ya,” ucapnya.

Tiara lantas mengulaskan senyumnya, ia menatap pantulan dirinya dari kaca. “Mbak, aku request lipstick-nya warna nude bisa kan?”

“Bisa, tenang aja,” sahut Mbak Hanna.

Di tengah-tengah kegiatan makeup tersebut, Tiara mendapati Aryo menghampirinya. Suaminya itu sudah mandi, tapi masih mengenakan kaus oblong hitam dan celana bahan panjang.

“Kamu ngapain liatin aku makeup?” ujar Tiara tanpa menoleh ke arah Aryo. Tangan Tiara yang ada di pangkuannya, di raih oleh Aryo dan digenggam ringan.

“Aryo?” ujar Tiara lagi ketika Aryo hanya diam saja. “Kamu masih ngantuk kan? Tidur aja dulu lagi. Acaranya kan masih jam 8,” sambungnya.

“Kamu makeup-nya masih lama?” tanya Aryo.

“Tanya nih sama Mbak Hanna, masih lama kan ya, Mbak? Baru aja pakai foundation,” jawab Tiara.

“Iyaa, masih lumayan lama. 2 jam lagi lah kira-kira,” ujar Mbak Hanna sambil mengulaskan senyumnya. Ia memerhatikan dua sejoli di hadapannya yang menurutnya lucu juga.

“Aku mau di sini aja nungguin kamu,” ucap Aryo kemudian.

“Mbak Hanna, sering nemuin klien yang kaya gini nggak Mbak?” gurau Tiara yang justru menghiraukan ucapan Aryo.

“Lumayan langka yaa, ditunguin makeup. Tapi Masnya nggak papa lho kalau mau nungguin istrinya,” sahut Mbak Hanna.

Setelah satu jam berselang, Tiara sungguhan meminta Aryo untuk kembali ke kamar. Selama tadi Aryo menungguinya, suaminya itu mengajaknya mengobrol terus dan sesekali mengeluarkan jokes-nya. Tiara aproved sebagian itu lucu dan membuatnya menahan tawa, karena takut-takut makeup-nya bisa hancur atau Mbak Hanna kesulitan merias wajahnya kalau ia banyak gerak.

Akhirnya Aryo menurut padanya setelah dibujuk. Tiara kadang masih merasa heran dengan perilaku suaminya. Memang lumayan ajaib dan suka semaunya kelakuan Aryo itu.

“Mbak, ini udah mau selesai ya?” tanya Tiara.

“Tinggal pakai lipstick nih cantik. Udah selesai kok,” jawab Mbak Hanna.

“Oke. Makeup-nya bagus banget Mbak hasilnya, makasih ya,” ucap Tiara yang menatap hasil riasannya di kaca.

“Sama-sama. Saya bingung lho dandanin bumil cantik, takut nggak pangling makeup-nya.”

“Iya, cantik banget ya Mbak istri saya,” celetuk sebuah suara dan Tiara tahu itu adalah suara suaminya. Tiara menoleh setelah Mbak Hanna mengaplikasikan lipstick di bibirnya. Benar saja, ia mendapati Aryo di sana telah rapi dengan stelan tuxedo hitamnya. Rambutnya di style model slicked back hair, sehingga memberikan kesan rapi dan formal yang segar. Penampilan Aryo yang seperti ini, membuat Tiara terpesona.

“Aduh, gantengnya,” celetuk Tiara spontan. Senyum pun tidak pudar dari bibir perempuan itu. Kemudian tangannya terangkat untuk merapikan sedikit kerah kemeja Aryo.

Aryo balas menatap Tiara, ia menaikkan sebelah alisnya dan sedikit menggigit bibir bawahnya.

“Udah ah. Aku ganti baju dulu ya,” putus Tiara dan mengalihkan tatapannya dari Aryo.

“Hmm,” gumam Aryo. “Kita bisa telat nanti Sayang, kalau kamu liatin aku terus gini. Oh iya, coba kasih rating penampilan aku hari ini. Berapa rating-nya kira-kira?” tanya Aryo.

Tiara nampak berpikir, matanya menyipit, “Hmm ... berapa ya ...? Aku kasih bintang satu deh.”

“Aku kira bintang lima lho Sayang. Aku udah ganteng gini,” ucap Aryo.

“Iya, ganteng. Tapi nggak ramah buat jantung aku, jadi aku kasih bintang satu deh.” Setelah mengatakannya, Tiara lantas melemparkan cengirannya dan bergerak menjauhi Aryo yang kini menatapnya intens. Aryo mengira ada yang aneh dari penampilannya hari ini, tapi ternyata Tiara hanya sedang menggodanya saja.

Tiara buru-buru pergi dari sana sebelum Aryo mendekatinya dan membuat mereka telat pergi ke acara kelulusan. Tiara tahu betul, urusannya bisa panjang jika ia memutuskan untuk meladeni suaminya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Saat ini waktu menunjukkan pukul 5 pagi di hari perayaan kelulusan kuliahnya. Tiara sudah bangun dan duduk di hadapan kaca besar untuk di rias oleh makeup artist.

Hanna, makeup artist yang merias Tiara memerhatikan paras kliennya hari ini, “Bumil cantik banget, auranya beda ya,” ucapnya.

Tiara lantas mengulaskan senyumnya, ia menatap pantulan dirinya dari kaca. “Mbak, aku request lipstick-nya warna nude bisa kan?”

“Bisa, tenang aja,” sahut Mbak Hanna.

Di tengah-tengah kegiatan makeup tersebut, Tiara mendapati Aryo menghampirinya. Suaminya itu sudah mandi, tapi masih mengenakan kaus oblong hitam dan celana bahan panjang.

“Kamu ngapain liatin aku makeup?” ujar Tiara tanpa menoleh ke arah Aryo. Tangan Tiara yang ada di pangkuannya, di raih oleh Aryo dan digenggam ringan.

“Aryo?” ujar Tiara lagi ketika Aryo hanya diam saja. “Kamu masih ngantuk kan? Tidur aja dulu lagi. Acaranya kan masih jam 8,” sambungnya.

“Kamu makeup-nya masih lama?” tanya Aryo.

“Tanya nih sama Mbak Hanna, masih lama kan ya, Mbak? Baru aja pakai foundation,” jawab Tiara.

“Iyaa, masih lumayan lama. 2 jam lagi lah kira-kira,” ujar Mbak Hanna sambil mengulaskan senyumnya. Ia memerhatikan dua sejoli di hadapannya yang menurutnya lucu juga.

“Aku mau di sini aja nungguin kamu,” ucap Aryo kemudian.

“Mbak Hanna, sering nemuin klien yang kaya gini nggak Mbak?” gurau Tiara yang justru menghiraukan ucapan Aryo.

“Lumayan langka yaa, ditunguin makeup. Tapi Masnya nggak papa lho kalau mau nungguin istrinya,” sahut Mbak Hanna.

Setelah satu jam berselang, Tiara sungguhan meminta Aryo untuk kembali ke kamar. Selama tadi Aryo menungguinya, suaminya itu mengajaknya mengobrol terus dan sesekali mengeluarkan jokes-nya. Tiara aproved sebagian itu lucu dan membuatnya menahan tawa, karena takut-takut makeup-nya bisa hancur atau Mbak Hanna kesulitan merias wajahnya kalau ia banyak gerak.

Akhirnya Aryo menurut padanya setelah dibujuk. Tiara kadang masih merasa heran dengan perilaku suaminya. Memang lumayan ajaib dan suka semaunya kelakuan Aryo itu.

“Mbak, ini udah mau selesai ya?” tanya Tiara.

“Tinggal pakai lipstick nih cantik. Udah selesai kok,” jawab Mbak Hanna.

“Oke. Makeup-nya bagus banget Mbak hasilnya, makasih ya,” ucap Tiara yang menatap hasil riasannya di kaca.

“Sama-sama. Saya bingung lho dandanin bumil cantik, takut nggak pangling makeup-nya.”

“Iya, cantik banget ya Mbak istri saya,” celetuk sebuah suara dan Tiara tahu itu adalah suara suaminya. Tiara menoleh setelah Mbak Hanna mengaplikasikan lipstick di bibirnya. Benar saja, ia mendapati Aryo di sana telah rapi dengan stelan tuxedo hitamnya. Rambutnya di style model slicked back hair, sehingga memberikan kesan rapi dan formal yang segar. Penampilan Aryo yang seperti ini, membuat Tiara terpesona.

“Aduh, gantengnya,” celetuk Tiara spontan. Senyum pun tidak pudar dari bibir perempuan itu. Kemudian tangannya terangkat untuk merapikan sedikit kerah kemeja Aryo.

Aryo balas menatap Tiara, ia menaikkan sebelah alisnya dan sedikit menggigit bibir bawahnya.

“Udah ah. Aku ganti baju dulu ya,” putus Tiara dan mengalihkan tatapannya dari Aryo.

“Hmm,” gumam Aryo. “Kita bisa telat nanti Sayang, kalau kamu liatin aku terus gini. Oh iya, coba kasih rating penampilan aku hari ini. Berapa rating-nya kira-kira?” tanya Aryo.

Tiara nampak berpikir, matanya menyipit, “Hmm ... berapa ya ...? Aku kasih bintang satu deh.”

“Aku kira bintang lima lho Sayang. Aku udah ganteng gini,” ucap Aryo.

“Iya, ganteng. Tapi nggak ramah buat jantung aku, jadi aku kasih bintang satu deh.” Setelah mengatakannya, Tiara lantas melemparkan cengirannya dan bergerak menjauhi Aryo yang kini menatapnya intens. Aryo mengira ada yang aneh dari penampilannya hari ini, tapi ternyata Tiara hanya sedang menggodanya saja.

Tiara buru-buru pergi dari sana sebelum Aryo mendekatinya dan membuat mereka telat pergi ke acara kelulusan. Tiara tahu betul, urusannya bisa panjang jika ia memutuskan untuk meladeni suaminya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sebuah Pajero hitam terparkir bersamaan dengan mobil lainnya di parkiran pemakaman. Langit sore yang terlihat dari kaca mobil nampak sedikit mendung, pertanda sebentar lagi mungkin hujan akan turun.

Aryo melirik bucket bunga lili putih yang berada di pangkuan Tiara. “Such a beautiful flower,” ujarnya.

Lily Flower

“Iya, cantik ya. Bunda suka banget sama bunga lili putih,” ucap Tiara.

“Mau turun sekarang?” tanya Aryo.

“Hmm. Ayo kita turun,” jawab Tiara.

Egha yang mendengar percakapan Aryo dan Tiara, lekas mematikan mesin mobilnya.

“Egha, saya minta tolong ya. Nanti kalau hujan, samperin saya dan Tiara sambil bawa payung,” ujar Aryo pada Egha sebelum dirinya dan Tiara turun dari mobil.

Aryo dan Tiara berjalan bersisian memasuki area pemakaman. Tiara menggenggam tangannya menggunakan satu tangan. Aryo yang baru pertama kali ke sini, mengikuti langkah Tiara menuju dimana pusara ayah dan bundanya berada.

Setelah melewati dua buah belokan, mereka pun sampai di dua buah makam dengan batu nisan granit berwarna hitam. Di sana dua sejoli telah disandingkan bersama di sebuah kehidupan yang baru.

Aryo memerhatikan nisan di hadapannya. Di bawah tanda salib dan kalimat Rest In Peace di batu itu, tertulis nama Erlangga Sinaga dan nisan di sebelahnya tertulis nama Clarissa Laura Manopo.

Dengan perlahan, Tiara menumpu tubuhnya menggunakan kedua lututnya di atas tanah berumput, begitupun Aryo, pria itu melakukan hal yang sama. Tiara lantas meletakkan bucket bunga yang dibawanya di antara kedua pusara itu.

“Ayah, bunda,” Tiara menjeda ucapannya. Ia mengarahkan tangannya untuk mengusap batu nisan Erlangga dan Clarissa secara bergantian. Sebelum tangannya menjauh dari sana, Aryo meletakkan tangannya di atas tangan Tiara, keduanya pun mengusap nisan itu bersamaan.

Tiara menoleh ke samping sejenak, ia menatap Aryo dan sebuah senyum tercetak di wajahnya, “Hari ini Michelle datang karena ingin mengenalkan seseorang sama ayah dan bunda.”

“Dia suami Michelle. Dia adalah partner hidup buat Michelle, namanya Aryo,” ucap Tiara. Dari nada suara Tiara, Aryo dapat merasakan perasaan sedih sekaligus bahagia yang bercampur menjadi satu.

“Halo, ayah, bunda,” ucap Aryo. “Maaf, baru tau soal ayah dan bunda beberapa waktu belakangan. Aryo tahu, kata maaf nggak akan bisa mengembalikan ayah dan bunda ke dunia ini. Maaf juga ... atas perbuatan yang dilakukan seseorang sebelas tahun yang lalu,” Aryo menundukkan kepalanya, ia menatap rumput pendek di bawahnya dan membiarkan air matanya tumpah begitu saja.

“Ayah punya bukti itu, tapi beliau memilih nggak melaporkannya. Karena ayah tau, itu bisa mengancam keselamatan aku,” ujar Tiara. Di dalam rekaman suara yakni bukti pertama, Erlangga mengatakan ia ingin berkorban dan memikirkan keselamatan orang-orang yang ia sayangi. Erlangga tidak sempat berpikir untuk mengungkap perbuatan yang dilakukan Reynaldi.

Tiara menoleh ke sampingnya, ia mendapati mata Aryo nampak memerah. Aryo menatap Tiara sambil berujar, “Ayah, Aryo udah dengar rekaman suara itu. Ayah mau ada seseorang yang melindungi Michelle dan membuatnya bahagia. Ayah nggak perlu khawatir lagi sekarang, Aryo akan melakukan semua tugas itu,” ungkap Aryo.

Sepasang mata Tiara tidak lepas sejak Aryo mengatakan kalimatnya hingga selesai. Rongga dadanya menghangat dan air mata pun luruh dari kedua pelupuk matanya.

“Dulu Ayah selalu penasaran sama seseorang yang akan jadi menantunya,” ucap Tiara. He said he will be selective. He always want the best for me. He want make sure every detail about someone who will marry his girl in future,” Tiara mengusap air matanya yang terus menerus mengalir. “Ayah, sekarang Tiara sudah menemukan orang itu. He's the best for me. He likes to spoil me and made me feel comfort at my worst time. Everyday I spent my times with him ... I feel so loved, truly,” ungkap Tiara.

Aryo telah melengkapi hidupnya dan mengajarkannya banyak hal tentang mencintai dan dicintai. Aryo adalah afeksi yang dikirim takdir untuk mengobati luka belasan tahun di hati Tiara, menjaganya, dan rela berjuang untuknya. Apapun itu, cinta akan rela melewatinya walaupun harus sakit dan berdarah. Aryo dan Tiara telah menemukan satu sama lain untuk saling melengkapi.

“Michelle rela sepenuhnya atas kepergian ayah dan bunda. Meskipun setiap hari, Michelle akan selalu kangen sama kalian. Ayah, bunda, nggak hanya Aryo yang sudah melengkapi hidup Michelle saat ini. Ada satu manusia kecil di perut Michelle yang semakin melengkapi kebahagiaan itu. Michelle sama Aryo. nggak sabar buat nunggu dia lahir. Oh iya, selamat yaa ayah, bunda ... kalian sebentar lagi akan menjadi seorang kakek dan nenek,” ujar Tiara. Detik berikutnya, ia merasakan Aryo memeluknya dari samping.

Aryo menghela napasnya lalu menghembuskannya, “Ayah, Bunda, terima kasih ya. Terima kasih karena kalian sudah melahirkan Michelle ke dunia ini. She's such a best give for me. She's turned me into a better person and ... I'm so lucky, to have her in my life,” ungkap Aryo dengan suaranya yang terdengar bergetar.

Gerimis perlahan mulai turun, menyapa permukaan kulit Aryo dan Tiara. Agar tidak kehujanan, keduanya akhirnya memutuskan untuk berpamitan pulang. Mereka mengatakan akan datang kembali di kemudian hari. Mungkin kedatangan selanjutnya, mereka tidak lagi berdua, tapi bertiga.

Hujan turun dengan lumayan cepat diluar perkiraan, membuat Aryo melepas jaket yang dikenakannya untuk melindungi Tiara dari air hujan. Sebelum mereka melangkah semakin jauh, Egha menghampiri keduanya dan memberikan satu payung di tangannya.

Di sore hari di bawah langit gelap dan rintikan hujan, Aryo menghela torso Tiara untuk mendekat padanya. Satu tangan Aryo memeluk Tiara dari samping dan satunya lagi memegang payung untuk melindungi mereka berdua.

“Aryo,” ujar Tiara, ia mendongak menatap Aryo dari samping. Mereka sudah sampai di mobil, tapi belum masuk ke dalam.

“Iya Ra?” Aryo mengeraskan suaranya di tengah suara deru rintik hujan.

“Kamu adalah seseorang yang ayah harapkan untuk menggantikan tugasnya di hidup aku. Ayah pasti bahagia banget punya kamu sebagai menantunya. Terima kasih udah mewujudkan harapan ayah,” ujar Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sebuah Pajero hitam terparkir bersamaan dengan mobil lainnya di parkiran pemakaman. Langit sore yang terlihat dari kaca mobil nampak sedikit mendung, mungkin sebentar lagi hujan akan turun.

Aryo melirik bucket bunga lili putih yang berada di pangkuan Tiara. “Such a beautiful flower,” ujarnya.

Lily Flower

“Bunda suka banget sama bunga lili putih. Tadi aku hampir aja lupa buat beli, untung kamu ingetin,” ucap Tiara.

“Mau turun sekarang?” tanya Aryo.

“Iya, aku kita turun,” ujar Tiara.

Egha yang mendengar percakapan Aryo dan Tiara, lekas mematikan mesin mobilnya.

“Egha, saya minta tolong ya. Nanti kalau hujan, samperin saya dan Tiara sambil bawa payung,” ujar Aryo pada Egha sebelum dirinya dan Tiara turun dari mobil.

Mereka berjalan bersisian memasuki area pemakaman. Tiara menggenggam tangan Aryo menggunakan satu tangannya. Aryo yang baru pertama kali kesini, hanya mengikuti langkah Tiara menuju pusara ayah dan bundanya.

Setelah melewati dua buah belokan, mereka pun sampai di dua makam dengan batu nisan granit berwarna hitam yang nampak kembar. Di sana dua sejoli disandingkan bersama pada sebuah kehidupan yang baru.

Aryo memerhatikan nisan di hadapannya. Di bawah tanda salib dan ukiran kata Rest In Peace di batu itu, tertulis nama Erlangga Sinaga dan nisan di sebelahnya tertulis nama Clarissa Laura Manopo.

Dengan perlahan, Tiara menumpu tubuhnya menggunakan kedua lututnya di atas tanah, begitupun Aryo, pria itu melakukan hal yang sama. Tiara lantas meletakkan bucket bunga yang dibawanya di antara kedua pusara itu.

“Ayah, bunda,” Tiara menjeda ucapannya. Ia mengarahkan tangannya untuk mengusap batu nisan Erlangga dan Clarissa bergantian. Sebelum tangannya menjauh dari sana, Aryo meletakkan tangannya di atas tangan Tiara, keduanya pun mengusap nisan itu bersamaan.

Tiara menoleh ke samping sejenak, ia menatap Aryo dan sebuah senyum tercetak di wajahnya, “Hari ini Michelle datang karena ingin mengenalkan seseorang sama ayah dan bunda.”

“Dia suami Michelle. Dia partner hidup buat Michelle, namanya Aryo,” ucap Tiara. Dari nada suara Tiara, Aryo dapat merasakan perasaan sedih sekaligus bahagia yang bercampur menjadi satu.

“Halo, ayah, dunda,” ucap Aryo. “Maaf, baru tau soal ayah dan dunda beberapa waktu belakangan. Aryo tahu, kata maaf mungkin nggak akan bisa mengembalikan ayah dan bunda ke dunia ini. Maaf juga, atas perbuatan yang dilakukan seseorang sebelas tahun yang lalu,” Aryo menundukkan kepalanya, ia menatap rumput pendek di bawahnya dan membiarkan air matanya tumpah begitu saja.

“Ayah punya bukti itu, tapi beliau memilih nggak melaporkannya. Karena ayah tau, itu bisa mengancam keselamatan aku,” ujar Tiara. Di dalam rekaman suara yakni bukti pertama, Erlangga mengatakan ia ingin berkorban dan hanya memikirkan keselamatan orang-orang yang ia sayangi. Sehingga Erlangga tidak sempat berpikir untuk mengungkap perbuatan Reynaldi.

Tiara menoleh ke sampingnya, ia mendapati mata Aryo nampak memerah. “Ayah, Aryo udah dengar rekaman suara itu. Ayah mau ada seseorang yang melindungi Michelle, menggantikan tugas Ayah. Ayah nggak perlu khawatir sekarang, Aryo akan melakukan semua tugas itu,” terang Aryo.

Sepasang mata Tiara tidak lepas sejak Aryo mengatakan kalimatnya hingga selesai. Air matanya pun luruh dari kedua pelupuk matanya.

“Dulu Ayah selalu penasaran sama seseorang yang akan jadi menantunya. He said he will be a selective. He always want the best for me. He want make sure every detail about someone who will marry his girl,” Tiara mengusap air matanya yang terus menerus meluncur. “Ayah, sekarang Tiara sudah menemukan orang itu. He's the best for me. He likes to spoil me and made me feel comfort. Everyday I spent my times with him, I feel so loved, truly,” ungkap Tiara.

Aryo telah melengkapi hidupnya dan mengajarkannya banyak hal tentang mencintai dan dicintai. Aryo adalah afeksi yang dikirim takdir untuk mengobati luka belasan tahun di hati Tiara, menjaganya, dan rela berjuang untuknya. Apapun itu, cinta akan rela melewatinya walaupun harus sakit dan berdarah. Aryo dan Tiara telah menemukan satu sama lain untuk saling melengkapi.

“Michelle rela sepenuhnya untuk ayah dan bunda. Meskipun setiap hari, Michelle akan selalu kangen sama kalian. Ayah, bunda, nggak hanya Aryo yang sudah melengkapi hidup Michelle. Ada satu manusia kecil di perut Michelle yang semakin melengkapi kebahagiaan itu. Michelle sama Aryo nggak sabar menunggu dia lahir. Ohiya, selamat yaa, kalian sebentar lagi akan menjadi seorang kakek dan nenek,” ujar Tiara. Detik berikutnya, ia merasakan Aryo memeluknya dari samping.

Aryo menghela napasnya lalu menghembuskannya. “Ayah, Bunda, terima kasih ya. Terima kasih karena kalian sudah melahirkan Michelle ke dunia ini. She's such a best give for me. She's turn me into a better person and I'm so lucky to have her in my life,” ungkap Aryo dengan suaranya yang terdengar bergetar.

Gerimis perlahan turun, menyapa permukaan kulit Aryo dan Tiara. Agar tidak kehujanan, keduanya akhirnya memutuskan untuk berpamitan pulang. Mereka mengatakan akan datang kembali di kemudian hari. Mungkin kedatangan selanjutnya, mereka tidak lagi berdua, tapi bertiga.

Hujan turun dengan lumayan cepat diluar perkiraan, membuat Aryo melepas jaket yang dikenakannya untuk melindungi Tiara dari air hujan. Sebelum mereka melangkah semakin jauh, Egha menghampiri keduanya dan menyerahkan satu payung di tangannya.

Di sore hari di bawah langit gelap dan rintikan hujan, Aryo menghela Tiara untuk mendekat padanya. Satu tangan Aryo memeluk Tiara dari samping dan satunya lagi memegang payung untuk melindungi mereka berdua.

“Aryo,” ujar Tiara, ia mendongak menatap Aryo dari samping. Mereka sudah sampai di mobil, tapi belum masuk ke dalam.

“Iya Ra?” Aryo mengeraskan suaranya di tengah suara deru rintik hujan.

“Kamu adalah seseorang yang ayah harapkan untuk menggantikan tugasnya di hidup aku. Ayah pasti bahagia punya kamu sebagai menantunya. Terima kasih udah mewujudkan harapan ayah,” ujar Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Kamu masih marah sama aku?” tanya Aryo pada Tiara. Ia mengekori langkah Tiara sampai akhirnya mereka masuk ke kamar.

“Menurut kamu aja,” ucap Tiara. Aryo nampak keheranan dengan Tiara yang begitu cepat mengubah ekspresinya. Tadi saat di hadapan teman-temannya, Tiara begitu ceria dan bersikap manis. Namun saat hanya tinggal berdua dengannya, istrinya itu nampak seperti singa betina yang sedang merajuk.

To the point, Ra. Kamu maunya apa?” ujar Aryo lagi.

Tiara tidak menjawab. Aryo yang melihat diamnya Tiara pun semakin dibuat bingung.

“Kalau kamu kayak gini, gimana aku bisa tau. Aku udah jemput kamu ke rumah mama, tapi tiba-tiba kamu maunya nginep di sini. Kamu nggak mau pulang sama aku, kenapa?”

Tiara lantas balas menatap Aryo, “Emang aku minta kamu jemput aku? Kamu bilangnya malam ini aku nginep di rumah mama, karena kamu mau lembur. Tapi apa? Kamu yang tiba-tiba jemput.”

“Ra, please. Jangan kayak anak kecil gini dong. Aku bingung lho kamu maunya apa. Yang aku lakuin kayaknya salah terus menurut kamu,” ucap Aryo.

Usai kalimat itu terlontar dari bibir Aryo, sepasang mata Tiara yang menatapnya kini nampak berkilat. Kedua mata Tiara berkaca-kaca dan tidak sampai dua detik kemudian, air matanya luruh. Dengan gerakan buru-buru, Tiara mengusap air matanya.

“Ra, maaf,” ucap Aryo yang kini merasa bersalah. “Maksud aku bukan kayak gitu,” sambung Aryo, nada suaranya terdengar begitu menyesal.

Mereka hanya berhadapan dan saling menatap selama beberapa detik. Kemudian Tiara berbalik begitu saja dan melangkah pergi dari hadapannya. Aryo segera menyusul Tiara dan berakhir istrinya itu menemui Feli. Mamanya akhirnya meminta Aryo untuk menunggu, sementara beliau berbicara pada Tiara untuk menenangkan perasaannya.

Aryo pun menunggu Tiara di ruang tamu. Pria itu menghembuskan napasnya dan memijit pangkal hidungnya. Ia menyesal karena kelepasan melontarkan kalimat itu pada Tiara. Padahal kedatangannya yang tidak memberi tahu Tiara karena ingin membuat istrinya itu senang. Namun yang terjadi, justru dirinya kebawa emosi lebih dulu. Ia tidak bisa memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh Tiara.

Sekitar 10 menit kemudian, Aryo mendapati mamanya menghampirinya.

“Tiara nggak bener-bener marah sama kamu. Mama udah jelasin juga sama dia, kalian salah paham aja. Tiara berharapnya kamu ngelakuin A, tapi kamu ngelakuin B. Baiknya kalau terjadi kayak gini lagi, kamu dan Tiara cepat selesaikan. Kalian bicara baik-baik dengan kepala dingin,” tutur Feli.

Aryo mengangguk mengerti dan mengucapkan terimakasih pada mamanya. Feli pun pamit dari hadapannya dan tidak lama kemudian, Tiara menghampirinya di ruang tamu.

“Ra,” ujar Aryo lebih dulu.

“Maaf ya tadi aku kelepasan ngomong kayak gitu ke kamu. Aku nggak bermaksud Ra,” ucap Aryo. Perlahan Tiara mengangkat wajahnya dan Aryo mendapati mata istrinya yang sedikit sembap.

“Aryo, aku juga minta maaf. Nggak seharusnya aku bikin kamu bingung.” ucap Tiara, suaranya terdengar sedikit serak. “Aku sebenarnya nggak tau, aku maunya apa. Aku cuma mikir kalau kamu harus nurutin yang aku mau, tanpa aku harus bilang. Aku udah egois. Maafin aku ya,” tutur Tiara.

Karena sudah malam juga, akhirnya mereka memutuskan untuk menginap dan bergegas tidur di kamar. Aryo sudah selesai mandi dan Tiara tengah menunggunya di atas kasur.

“Sebenernya semalam aku mau tanyain kamu maunya apa, biar mood kamu lebih baik. Tapi waktu aku selesai mandi, kamunya udah tidur,” ujar Aryo.

“Kenapa nggak bangunin aku?” tanya Tiara.

“Kasian, kamu tidurnya keliatan nyenyak banget. Besok paginya, aku harus ke kantor jam 8. Kamu masih tidur, jadi aku kiss kamu di pipi aja, terus aku berangkat kerja deh,” jelas Aryo.

Tiara terdiam sejenak. Ia menyadari bahwa dirinya terlalu bertingkah kekanakan dan hanya memikirkan diri sendiri, tanpa memikirkan posisi Aryo.

“Kamu tuh kenapa sebenarnya, hmm ... ?” tanya Aryo. Mereka kini berbaring dan saling berhadapan. Aryo menaruh lengannya di pinggang Tiara dan sesekali memberikan usapan di puncak kepalanya.

“Kemarin itu aku nggak bisa tidur. Udah tiga kali deh kayanya. Mungkin juga, karena bawaan bayi. Aku nggak tau bener apa engga, tapi setiap kamu pulang diatas jam 10, aku selalu nggak bisa tidur. Sementara kamu emang harus pulang malam karena kerjaan di kantor. Aku jadi gampang bete dan sensitif sama hal sepele kayak gitu,” ungkap Tiara.

“Okee, aku udah ngerti sekarang,” Aryo menangkup wajah Tiara, ibu jarinya bergerak mengusap pipinya. “Lain kali, kalau ada kejadian kayak gini lagi, kita bicarain baik-baik ya. Kalau kamu mau sesuatu, kayak misalnya aku pulang lebih cepat, kamu bisa bilang. Aku akan usahain meskipun aku nggak bisa janji. Yaa, Sayang?” tutur Aryo lembut.

Tiara akhirnya mengangguk dan ia menyetujuinya. Untuk kebaikan hubungan keduanya, mereka sama-sama akan mengutamakan komunikasi dan lebih saling mengerti.

“Kamu kenapa tiba-tiba ke sini? Kamu bilang mau nginep di kantor, terus aku disuruh nginep di rumah mama,” ujar Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak, alis tebalnya pun bertaut. Sebelum menjawab, pria itu menaikkan bed cover sampai sebatas bahu Tiara. “Aku mau jemput kamu rencananya, mau ngasih tau kamu sesuatu. Ada kabar baik.”

“Kabar baik apa?” tanya Tiara terlihat antusias sekaligus penasaran.

“Soal perusahaan. Harga bangunan udah mulai naik, investor mau menyuntikkan dananya untuk pembangunan, dan pembelian sektor meningkat. Aku mau kamu tau. Itu terjadi juga karena kamu, karena kamu selalu support aku sampai aku bisa selesaiin masalahnya,” ungkap Aryo.

Tatapan Tiara seketika berubah. Ia tidak menyangka bahwa hal besar yang terjadi di hidup Aryo, pria itu ingin membagikannya langsung pada Tiara. Itu hal sederhana dalam sebuah hubungan, tapi artinya begitu dalam bagi Tiara.

“Aku nggak tau gimana jadinya, kalau aku nggak ketemu sama kamu. Mungkin aku bukan Aryo yang sekarang. Saat ini aku juga masih punya banyak kekurangan. Tadi aku bikin kamu nangis, dan aku nyesel banget, Ra,” ujar Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya. Dengan lembut, ia mengusap sisi wajah Aryo. Tatapan Tiara padanya begitu teduh seolah perempuan itu telah memberikan seluruh cinta dan kasih sayangnya untuk Aryo.

“Kamu udah ngelakuin yang terbaik, Aryo. Kekuranga yang justru bikin kamu terlihat sempurna. Kamu mau belajar dan mencoba untuk jadi lebih baik setiap harinya. Aku bangga sama kamu. Bangga banget,” tutur Tiara. Sedetik kemudian, Tiara mendekatkan dirinya dan lantas membawa torso Aryo ke pelukannya.

“Aku mau manja dulu sama kamu,” ucap Tiara yang masih betah memeluk Aryo. Padahal sudah hampir 10 menit posisi mereka tidak berubah.

“Ini kamu yang mau manja atau dedek bayinya yang manja?” tanya Aryo. Tidak lama kemudian, Tiara pun mengurai pelukan mereka.

“Dedek bayinya mau manja sama Papanya. Iya kan, Jagoan?” ujar Tiara sambil mengusap perutnya.

“Bilang aja mamanya yang mau,” ledek Aryo.

“Engga juga. Anak kamu nih, kangen sama kamu. Setiap kamu pulang, dia udah tidur.”

Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap perut Tiara, “Maaf ya, Jagoan.” Ia mendekatkan posisinya agar sejajar dengan perut Tiara. “Besok kalau Papa libur kerja, kita main ya, jalan-jalan juga. Oh iya Ra, aku baru inget sesuatu. Jadwal sidang skripsi kamu udah keluar?”

“Udah, tadi bimbingan skripsi yang terakhir. Dua minggu lagi aku sidang. Terus acara wisudanya minggu depannya lagi. Kenapa emangnya?”

“Aku mau ngajak kamu ke Switzerland habis kamu wisuda. Kamu bilang, kamu mau kita babymoon, kan? Aku udah cari tau dan tanya juga ke dokter, katanya usia kandungan kamu udah boleh flight,” terang Aryo.

Tiara lantas menyunggingkan senyumnya, “Kamu niat banget sih, astaga.”

“Iya, dong. Aku kan suami dan calon papa siaga. Kamu belum jawab pertanyaan aku Ra, kamu mau kan, kita ke Switzerland?”

“Iya, aku mau, Aryo.”

Aryo seketika tersenyum dengar jawaban itu. “Ra,” ujarnya lagi.

“Ya?”

“Aku nggak bisa janji, kamu akan selalu bahagia sama aku,” ujar Aryo. Pria itu menatap Tiara dalam-dalam, “Ada saatnya kamu marah dan kesal sama sifat aku, atau bahkan aku bikin kamu nangis.”

Kedua pipi Tiara di tangkup oleh Aryo dan pria itu menatapnya lekat. “Tapi aku mau selalu belajar dan berusaha untuk bikin kamu bahagia, bikin kamu nyaman, dan selalu merasa dicintai. Kamu nggak akan sendirian lagi saat rasa sakit dari masa lalu kamu datang. Aku mau jadi tempat kamu berkeluh kesah, nangis, sekalipun tempat kamu marah. I love you, Ra. I love you unconditionally,” ungkap Aryo panjang lebar.

Tiara terpaku sesaat. Bibirnya tersenyum melengkung ke dalam, tanda ia begitu terharu sekaligus bahagia.

“Aryo, aku nggak tau love languange kamu yang lebih dominan apa. Kita semua punya lima love languange, tapi ada yang lebih dominan. So I want to know what is your love language. Ini love languange yang kamu inginkan dari pasangan kamu,” ujar Tiara.

“Hmm ... I think ... physical touch,” ujar Aryo.

Are you sure?” Mata Tiara sukses membola kala mendengar jawaban Aryo.

I'm very sure, Sweety,” jawab Aryo dengan nada yakinnya. Pria itu menganggukkan kepalanya dua kali, tanda ia sudah begitu yakin.

Oke. So I will learn and practice it day by day,” ucap Tiara.

“What do you mean? Why you want to learn it?

I want to give you the best love of me. So I need to learn it more, right?” ucap Tiara gamblang.

Setelah ucapan Tiara itu, keduanya bersamaan mengulaskan senyum. Tiara kembali mendekat pada Aryo, ia memerhatikan sesuatu di bawah mata kanan Aryo. “Lucu banget ini. Boleh aku kiss kiss?” ujar Tiara.

“Apa yang lucu?”

Your little mole at you under eye. Looks really cute and make you hansome at the same time.” Tanpa sungguhan menunggu izin dari Aryo, Tiara mendekatkan diri lalu memberi kecupan di tahi lalat kecil di bawah mata Aryo.

“Barusan itu bagian dari latihannya?” tanya Aryo.

Yes. But it's just a little bit of the whole part. Are you ... nervous tho?” ujar Tiara sambil menekankan setiap perkatannya. Perempuan itu sukses tertawa memerhatikan Aryo yang kini terlihat gugup.

Aryo lantas bergerak untuk memangkas jarak mereka. “I'm little bit nervous, but very excited at the same time,” Aryo menempelkan keningnya di kening Tiara, kemudian berujar pelan di dekatnya, “Can we ... practice it more, Sweety?”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷