alyadara

“Kamu masih marah sama aku?” tanya Aryo pada Tiara. Ia mengekori langkah Tiara sampai akhirnya mereka masuk ke kamar.

“Menurut kamu aja,” ucap Tiara. Aryo nampak keheranan dengan Tiara yang begitu cepat mengubah ekspresinya. Tadi saat di hadapan teman-temannya, Tiara begitu ceria dan bersikap manis. Namun saat hanya tinggal berdua dengannya, istrinya itu nampak seperti singa betina yang sedang merajuk.

To the point, Ra. Kamu maunya apa?” ujar Aryo lagi.

Tiara tidak menjawab. Aryo yang melihat diamnya Tiara pun semakin dibuat bingung.

“Kalau kamu kayak gini, gimana aku bisa tau. Aku udah jemput kamu ke rumah mama, tapi tiba-tiba kamu maunya nginep di sini. Kamu nggak mau pulang sama aku, kenapa?”

Tiara lantas balas menatap Aryo, “Emang aku minta kamu jemput aku? Kamu bilangnya malam ini aku nginep di rumah mama, karena kamu mau lembur. Tapi apa? Kamu yang tiba-tiba jemput.”

“Ra, please. Jangan kayak anak kecil gini dong. Aku bingung lho kamu maunya apa. Yang aku lakuin kayaknya salah terus menurut kamu,” ucap Aryo.

Usai kalimat itu terlontar dari bibir Aryo, sepasang mata Tiara yang menatapnya kini nampak berkilat. Kedua mata Tiara berkaca-kaca dan tidak sampai dua detik kemudian, air matanya luruh. Dengan gerakan buru-buru, Tiara mengusap air matanya.

“Ra, maaf,” ucap Aryo yang kini merasa bersalah. “Maksud aku bukan kayak gitu,” sambung Aryo, nada suaranya terdengar begitu menyesal.

Mereka hanya berhadapan dan saling menatap selama beberapa detik. Kemudian Tiara berbalik begitu saja dan melangkah pergi dari hadapannya. Aryo segera menyusul Tiara dan berakhir istrinya itu menemui Feli. Mamanya akhirnya meminta Aryo untuk menunggu, sementara beliau berbicara pada Tiara untuk menenangkan perasaannya.

Aryo pun menunggu Tiara di ruang tamu. Pria itu menghembuskan napasnya dan memijit pangkal hidungnya. Ia menyesal karena kelepasan melontarkan kalimat itu pada Tiara. Padahal kedatangannya yang tidak memberi tahu Tiara karena ingin membuat istrinya itu senang. Namun yang terjadi, justru dirinya kebawa emosi lebih dulu. Ia tidak bisa memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh Tiara.

Sekitar 10 menit kemudian, Aryo mendapati mamanya menghampirinya.

“Tiara nggak bener-bener marah sama kamu. Mama udah jelasin juga sama dia, kalian salah paham aja. Tiara berharapnya kamu ngelakuin A, tapi kamu ngelakuin B. Baiknya kalau terjadi kayak gini lagi, kamu dan Tiara cepat selesaikan. Kalian bicara baik-baik dengan kepala dingin,” tutur Feli.

Aryo mengangguk mengerti dan mengucapkan terimakasih pada mamanya. Feli pun pamit dari hadapannya dan tidak lama kemudian, Tiara menghampirinya di ruang tamu.

“Ra,” ujar Aryo lebih dulu.

“Maaf ya tadi aku kelepasan ngomong kayak gitu ke kamu. Aku nggak bermaksud Ra,” ucap Aryo. Perlahan Tiara mengangkat wajahnya dan Aryo mendapati mata istrinya yang sedikit sembap.

“Aryo, aku juga minta maaf. Nggak seharusnya aku bikin kamu bingung.” ucap Tiara, suaranya terdengar sedikit serak. “Aku sebenarnya nggak tau, aku maunya apa. Aku cuma mikir kalau kamu harus nurutin yang aku mau, tanpa aku harus bilang. Aku udah egois. Maafin aku ya,” tutur Tiara.

Karena sudah malam juga, akhirnya mereka memutuskan untuk menginap dan bergegas tidur di kamar. Aryo sudah selesai mandi dan Tiara tengah menunggunya di atas kasur.

“Sebenernya semalam aku mau tanyain kamu maunya apa, biar mood kamu lebih baik. Tapi waktu aku selesai mandi, kamunya udah tidur,” ujar Aryo.

“Kenapa nggak bangunin aku?” tanya Tiara.

“Kasian, kamu tidurnya keliatan nyenyak banget. Besok paginya, aku harus ke kantor jam 8. Kamu masih tidur, jadi aku kiss kamu di pipi aja, terus aku berangkat kerja deh,” jelas Aryo.

Tiara terdiam sejenak. Ia menyadari bahwa dirinya terlalu bertingkah kekanakan dan hanya memikirkan diri sendiri, tanpa memikirkan posisi Aryo.

“Kamu tuh kenapa sebenarnya, hmm ... ?” tanya Aryo. Mereka kini berbaring dan saling berhadapan. Aryo menaruh lengannya di pinggang Tiara dan sesekali memberikan usapan di puncak kepalanya.

“Kemarin itu aku nggak bisa tidur. Udah tiga kali deh kayanya. Mungkin juga, karena bawaan bayi. Aku nggak tau bener apa engga, tapi setiap kamu pulang diatas jam 10, aku selalu nggak bisa tidur. Sementara kamu emang harus pulang malam karena kerjaan di kantor. Aku jadi gampang bete dan sensitif sama hal sepele kayak gitu,” ungkap Tiara.

“Okee, aku udah ngerti sekarang,” Aryo menangkup wajah Tiara, ibu jarinya bergerak mengusap pipinya. “Lain kali, kalau ada kejadian kayak gini lagi, kita bicarain baik-baik ya. Kalau kamu mau sesuatu, kayak misalnya aku pulang lebih cepat, kamu bisa bilang. Aku akan usahain meskipun aku nggak bisa janji. Yaa, Sayang?” tutur Aryo lembut.

Tiara akhirnya mengangguk dan ia menyetujuinya. Untuk kebaikan hubungan keduanya, mereka sama-sama akan mengutamakan komunikasi dan lebih saling mengerti.

“Kamu kenapa tiba-tiba ke sini? Kamu bilang mau nginep di kantor, terus aku disuruh nginep di rumah mama,” ujar Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak, alis tebalnya pun bertaut. Sebelum menjawab, pria itu menaikkan bed cover sampai sebatas bahu Tiara. “Aku mau jemput kamu rencananya, mau ngasih tau kamu sesuatu. Ada kabar baik.”

“Kabar baik apa?” tanya Tiara terlihat antusias sekaligus penasaran.

“Soal perusahaan. Harga bangunan udah mulai naik, investor mau menyuntikkan dananya untuk pembangunan, dan pembelian sektor meningkat. Aku mau kamu tau. Itu terjadi juga karena kamu, karena kamu selalu support aku sampai aku bisa selesaiin masalahnya,” ungkap Aryo.

Tatapan Tiara seketika berubah. Ia tidak menyangka bahwa hal besar yang terjadi di hidup Aryo, pria itu ingin membagikannya langsung pada Tiara. Itu hal sederhana dalam sebuah hubungan, tapi artinya begitu dalam bagi Tiara.

“Aku nggak tau gimana jadinya, kalau aku nggak ketemu sama kamu. Mungkin aku bukan Aryo yang sekarang. Saat ini aku juga masih punya banyak kekurangan. Tadi aku bikin kamu nangis, dan aku nyesel banget, Ra,” ujar Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya. Dengan lembut, ia mengusap sisi wajah Aryo. Tatapan Tiara padanya begitu teduh seolah perempuan itu telah memberikan seluruh cinta dan kasih sayangnya untuk Aryo.

“Kamu udah ngelakuin yang terbaik, Aryo. Kekuranga yang justru bikin kamu terlihat sempurna. Kamu mau belajar dan mencoba untuk jadi lebih baik setiap harinya. Aku bangga sama kamu. Bangga banget,” tutur Tiara. Sedetik kemudian, Tiara mendekatkan dirinya dan lantas membawa torso Aryo ke pelukannya.

“Aku mau manja dulu sama kamu,” ucap Tiara yang masih betah memeluk Aryo. Padahal sudah hampir 10 menit posisi mereka tidak berubah.

“Ini kamu yang mau manja atau dedek bayinya yang manja?” tanya Aryo. Tidak lama kemudian, Tiara pun mengurai pelukan mereka.

“Dedek bayinya mau manja sama Papanya. Iya kan, Jagoan?” ujar Tiara sambil mengusap perutnya.

“Bilang aja mamanya yang mau,” ledek Aryo.

“Engga juga. Anak kamu nih, kangen sama kamu. Setiap kamu pulang, dia udah tidur.”

“Oh iya? Jagoan Papa udah bobo ya kalau Papa pulang? Maaf ya, Jagoan.” Aryo mendekatkan posisinya agar sejajar dengan perut Tiara. “Besok kalau Papa libur kerja, kita main ya, jalan-jalan juga. Oh iya Ra, aku baru inget sesuatu,” ujar Aryo ketika tiba-tiba ia teringat akan satu hal.

“Jadwal sidang skripsi kamu udah keluar?” tanya Aryo.

“Udah, tadi bimbingan skripsi yang terakhir. Dua minggu lagi aku sidang. Terus acara wisudanya minggu depannya lagi. Kenapa emangnya?”

“Aku mau ngajak kamu ke Switzerland habis kamu wisuda. Kamu bilang, kamu mau kita babymoon, kan? Aku udah cari tau dan tanya juga ke dokter, katanya usia kandungan kamu udah boleh flight.”

Tiara lantas menyunggingkan senyumannya, “Kamu niat banget sih, astaga.”

“Iya, dong. Aku kan suami dan calon papa siaga. Kamu belum jawab pertanyaan aku Ra, kamu mau kan, kita ke Switzerland?”

“Iya, aku mau, Aryo.”

Aryo seketika tersenyum dengar jawaban itu. “Ra.”

“Ya?”

“Aku nggak bisa selalu janji, kamu akan bahagia sama aku,” ujar Aryo. Pria itu menatap Tiara dalam-dalam, “Ada saatnya kamu marah dan kesal sama sifat aku, atau bahkan kamu nangis.”

Kedua pipi Tiara di tangkup oleh Aryo dan pria itu menatapnya lekat. “Tapi aku mau selalu belajar dan berusaha untuk bikin kamu bahagia, bikin kamu nyaman, dan selalu merasa dicintai. Kamu nggak akan sendirian lagi saat rasa sakit dari masa lalu kamu datang. Aku mau jadi tempat kamu berkeluh kesah, nangis, sekalipun tempat kamu marah. I love you, Ra. I love you unconditionally,” ungkap Aryo panjang lebar.

Tiara terpaku sesaat. Bibirnya tersenyum melengkung ke dalam, tanda ia begitu terharu sekaligus bahagia.

“Aryo, aku nggak tau love languange kamu yang lebih dominan apa. Kita semua punya 5 love languange, tapi ada yang lebih dominan. So I want to know what is your love language? Ini love languange yang kamu inginkan dari pasangan kamu,” ujar Tiara.

“Hmm ... I think ... physical touch?” ucap Aryo terdengar kurang yakin.

Are you sure?” Mata Tiara sukses membola dan tawanya pecah detik itu juga.

I'm sure,” jawab Aryo dengan nada yakinnya. Pria itu menganggukkan kepalanya dua kali, tanda ia sudah begitu yakin.

Oke. So I will learn more and practice it day by day,” ucap Tiara.

“What do you mean? Why you want to learn it?

I want to give you the best love of me, cause you are my best, and you must to know about that,” ucap Tiara gamblang.

Setelah ucapan Tiara itu, keduanya bersamaan mengulaskan senyum. Tiara kembali mendekat pada Aryo, ia memerhatikan sesuatu di bawah mata kanan pria itu. “Lucu banget ini. Boleh aku kiss kiss?” ujar Tiara.

“Apa yang lucu?”

Your little mole at you under eye. Looks so cute and make you hansome at the same time.” Tanpa sungguhan menunggu izin dari Aryo, Tiara mendekatkan diri lalu memberi kecupan di tahi lalat kecil di bawah mata Aryo.

“Barusan itu bagian dari latihannya?” tanya Aryo.

Yes. But it's just a little bit of the whole part. Are you ... nervous tho?” ujar Tiara sambil menekankan setiap perkatannya. Perempuan itu sukses tertawa memerhatikan Aryo yang kini terlihat gugup.

Aryo lantas bergerak untuk memangkas jarak mereka. “I'm little bit nervous, but very excited at the same time,” Aryo menempelkan keningnya di kening Tiara, kemudian berujar pelan di dekatnya, “Can we do it again, Sweety?”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Rafael mengulurkan tangan pada Feli yang langsung disambut ramah oleh mama mertuanya. “Halo Tante,” ucap Rafael sambil tersenyum ramah dan sopan.

“Tante cantik banget, mirip sama Tiara,” tambah Rafael saat menatap wanita paruh baya di hadapannya yang terlihat sangat cantik dan anggun.

Tiara menatap Rafael dan mama mertuanya secara bergantian. Feli hanya menanggapi ucapan Rafael dengan seulas senyum.

“Mah, Tiara sama Rafael mau ngerjain tugas kelompok. Sama Vania juga, nanti nyusul ke sini,” ujar Tiara.

“Iya, tadi Mama udah minta tolong sama Icha buat siapin ruang belajarnya. Kalian kerjain tugasnya di sana ya,” tutur Feli. Lantas Tiara berpamitan dengan Feli untuk berlalu dan Rafael mengekori langkahnya dari belakang.

***

Tiara melirik jam dinding yang terdapat di ruang belajar. Sekarang menunjukkan tepat pukul 9 malam.

“Akhirnya selesai juga,” ujar Vania. “Nih ya guys, udah beres power point kita. Proposalnya ada di Tiara, video di Rafael, tinggal lo edit sama tambahin subtitle ya jangan lupa,” tutur Vania.

“Proposalnya nanti sekalian gue print sama jilid cover tebel ya,” ujar Tiara dan dibalas anggukan oleh kedua temannya. Setelah membereskan barang dan memastikan tidak ada yang tertinggal, Tiara mengantar teman-temannya untuk turun ke lantai satu dan mereka berjalan ke area teras.

“Ra, lo balik apa nginep di sini?” tanya Vania.

“Gue nginep di sini. Soalnya suami gue mau nginep di kantornya,” ujar Tiara.

“Lho, kasian dong, nggak bisa ngebucin,” celetuk Vania sambil mengulaskan senyum menggodanya.

“Rumah ini bukan rumah lo Ra?” Seketika Rafael kebingungan.

“Ini rumah mertua gue, Raf,” jelas Tiara.

Ditengah-tengah suasana itu, terlihat sebuah BMW putih tengah memasuki pekarangan rumah. Tiara seketika mengernyit heran, karena ia tahu mobil yang baru saja terparkir sempurna itu adalah milik suaminya.

Benar saja ternyata itu suaminya. Mata Tiara tidak lepas dari sosok yang baru saja turun dari mobil itu. Aryo pun menghampirinya dan menyapa teman-temannya.

“Udah selesai kerja kelompoknya?” tanya Aryo sambil menatap Tiara dan teman-temannya bergantian.

“Baru aja selesai. Ini kita mau pulang. Raf, lo anterin gue pulang, kan?” celetuk Vania, gadis itu melirik Rafael dan menyenggol lengannya menggunakan sikut.

Rafael yang sedari tadi hanya melihat ke arah Tiara dan Aryo pun buyar karena tingkah Vania. “Oke,” hanya itu yang terucap dari bibir Rafael.

Sebelum pergi dari sana, Vania berpamitan dengan Tiara dan juga Aryo. Notabenenya Vania yang masih kaget karena ini pertama kali ia bertemu sosok suami sahabatnya, buru-buru menggeret Rafael pergi dari sana. Selama ini Vania hanya melihat sosok Aryo melalui foto di media berita dan instagram pribadi pria itu maupun instagram milik Tiara.

“Lo kenapa deh Van? Aneh banget,” celetuk Rafael ketika ia dan Vania berjalan ke tempat dimana mobilnya terparkir.

“Baru pertama kali gue liat langsung suaminya Tiara. Puji Tuhan, sahabat gue punya suami ganteng banget,” cerocos Vania dan Rafael memerhatikan temannya yang tersenyum agak aneh itu.

“Yaelah, lebay lo,” balas Rafael.

“Yee. Lo kenapa sih? Kok kayak bete gitu komuk lo,” ujar Vania.

Kini keduanya sudah berada di dalam mobil milik Rafael, tapi pria itu belum juga menyalakan mesinnya.

“Gue udah bilang sama Tiara kalau gue mutusin buat lupain perasaan gue ke dia,” aku Rafael.

Vania pun terdiam sesaat begitu mendengarnya. Perempuan itu nampak terkejut lalu ia berujar, “Lo selama ini crush-in Tiara?” Vania menahan tawanya untuk keluar, ia takut itu akan membuat perasaan Rafael semakin tidak karuan.

Rafael kemudian mengangguk pelan. “Tadi Tiara bilang kan, kalau dia mau nginep di rumah mertuanya karena suaminya pulang malem dan nggak bisa jemput.”

“Yaa ... terus?”

“Tapi tiba-tiba suaminya dateng dan mungkin mau jemput Tiara. Lo liat nggak tadi sebahagia apa ekspresi Tiara?”

Vania baru menyadarinya dan ia membenarkan perkataan Rafael. “Lo pinter banget deh, Raf. Nggak nyesel gue sekelompok sama lo.”

“Omongan lo ngalor ngidul ya, Van. Tiba-tiba bahas kelompok,” Rafael tertawa sekilas.

“Yaelah, niat gue baik kali. Biar lo nggak mellow mellow amat. Lagian nih ya, lo crush-in cewek yang jelas-jelas udah jadi bini orang. Lo nekat juga ya gue liat-liat,” ujar Vania dengan nada becandanya.

“Gue suka sama Tiara udah lama. Tapi kayaknya emang bukan jodoh. Gue akan relain perasaan gue buat Tiara. Dia udah bahagia sama suaminya. Gue sadar, kalau perasaan yang kita punya nggak selamanya harus berbalas dan berakhir memiliki orang itu,” ucap Rafael.

“Keren banget lo bisa ikhlas gini, Raf. Gue salut sama lo,” ujar Vania. Lantas Vania menepuk pundak Rafael, “Udah, lo nggak usah galau. Suatu saat, lo bakal nemuin cewek yang sayang sama lo. Kayak Tiara yang bucin banget ke suaminya. Masih banyak bidadari Raf, tenang aja,” tutur Vania.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Dari pantauan layar cctv lantai dua, Tiara melihat sebuah mobil memasuki tengah basement. Setahunya tadi Aryo berangkat ke kantor membawa sport porsche baru yang langsung jadi kesayangannya. Namun yang Tiara dapati adalah sebuah BMW putih yang baru saja terparkir di sana.

Jadi Tiara pikir itu bukan suaminya. Namun siapa juga yang bisa parkir di basement utama. Tempat parkir tersebut khusus untuk Aryo dan Tiara menebak, bahwa suaminya membawa mobil sesuai dengan mood-nya.

Sementara di lantai satu, Aryo menyalami tangan Feli dan Alifia begitu ia melenggang masuk. Tadi siang Aryo dapat kabar dari Feli kalau mamanya dan mertuanya ingin menginap malam ini. Katanya sih kangen anak dan calon cucu. Semenjak Tiara mengandung, Feli dan Alifia memang lumayan sering berkunjung ke rumah untuk sekedar menemani istrinya. Terlebih saat Aryo bekerja dan baru pulang pukul 9 atau 10 malam. Padahal Tiara mengatakan tidak masalah ia di rumah sendiri, toh Aryo sudah menambah tingkat keamanan di area rumah mereka.

Feli kerap mengingatkan Aryo agar ia tidak terlalu sibuk bekerja. Mamanya itu juga sesekali mengancam akan membawa Tiara menginap di rumahnya. Dengan ancaman begitu, biasanya Aryo akan pulang lebih cepat dari biasanya untuk memastikan mamanya tidak menculik istrinya.

“Tiara udah tidur Mah? Bun?” tanya Aryo.

“Belum kayaknya. Tadi katanya sih mau nungguin kamu pulang,” ujar Alifia.

Aryo tersenyum bahagia mendengarnya. Ya, dia senang sekali di tungguin pulang. Istrinya itu menggemaskan sekali, batinnya.

Tidak lama kemudian, topik yang menjadi perbincangan ketiga orang itu datang. Tiara muncul dengan piyama ungu pastelnya dan raut wajahnya yang terlihat mengantuk.

“Kata Bunda, kamu nungguin aku pulang? Maaf yaa, aku pulang malam lagi.” Aryo mengusap puncak kepala istrinya ketika Tiara menyalami tangannya dan mencium punggung tangannya.

“Kamu kalau udah ngantuk tidur duluan aja, nggak usah tungguin aku nggak papa,” ujar Aryo. Padahal di dalam hatinya, Aryo sedang berbunga-bunga karena hal sesederhana Tiara menunggunya pulang.

“Aku nggak bisa tidur, Aryo,” ucap Tiara.

“Kenapa? Bawaan adik bayi yaa?” tanya Aryo.

Tiara menggeleng. “Kayaknya bukan deh. Adik bayinya pengertian.”

“Terus karena apa?”

“Karena bapaknya,” ucap Tiara sembari mengedikkan kedua bahunya.

“Emang aku ada buat salah ya Ra?” pertanyaan Aryo itu tidak digubris oleh Tiara.

“Lho, aku lupa kalau buat salah, Sayang. Kasih tau aku dong, aku salah dimana.” Aryo masih memburu alasan kenapa dirinya yang menjadi andil Tiara tidak bisa tidur.

Demi tuhan dan seluruh koleksi mobil mewahnya, Aryo tidak ingat apapun.

“Kalau kamu mau makan, tinggal panasin lauk di meja pakai microwave. Aku tidur duluan yaa,” ucap Tiara sebelum ia berbalik dan melangkah pergi. Tiara meninggalkan Aryo setelah dirinya berpamitan untuk tidur lebih dulu pada bunda dan mama mertuanya.

“Mah, Bun. Aryo beneran nggak tau lho, salah Aryo apa. Tiara ngambek ya sama Aryo?” ujar Aryo dengan tampang bingungnya.

“Coba kamu tanyain baik-baik. Di bujuk, di manja-manja. Dulu pas Mama hamil juga gitu, lumayan sering mood swing. Reaksi kamu sama papamu sama lho. Kalian laki-laki emang kadang kurang peka ya,” ucap Feli panjang lebar.

“Oke. Kalau gitu Aryo susulin Tiara dulu ya Mah, Bun. Aryo naik ke lantai dua dulu,” ucap Aryo. Melihat kelakuan Aryo dan Tiara tersebut, Feli dan Alifia tidak lagi heran, justru membuat keduanya teringat akan masa muda mereka.

“Maklum yaa Jeng, anak muda. Dulu kita juga pernah gitu,” celetuk Alifia.

“Iya, sama persis. Sehari juga baikan nanti mereka. Keliatan nggak bisa saling jauh gitu ya Jeng,” ujar Feli sambil menyunggingkan senyumnya.

***

Mood Tiara menjadi tidak menentu semenjak ia hamil. Biasanya Aryo akan meluluhkan hatinya kalau Tiara sedang mood swing seperti saat ini. Namun kenyataannya, tidak ada yang terjadi. Pukul 8 pagi Aryo sudah berangkat ke kantor disaat Tiara masih tidur. Tiara bangun kesiangan karena tidurnya sangat nyenyak. Pola tidurnya juga sedikit tidak menentu. Kadang Tiara susah tidur, atau tiba-tiba jam tidurnya menjadi lebih lama dari jam normal.

Siang ini Tiara harus ke kampus karena ada jadwal bimbungan skripsi. Bimbingannya dimulai dari pukul 11 hingga pukul 3 sore. Tiara sedang menunggu gilirannya untuk bimbingan bersama miss Jessica. Ia harus segera membeli makanan di kantin sebelum giliran bimbingannya. Sekarang bukan hanya dirinya yang butuh makan, tapi bayinya juga. Jadi ayo cari makanan yang enak untuknya dan si jagoan. Rasanya perut Tiara sudah sangat keroncongan.

“Lo mau kemana Ra?” tanya Risya ketika melihat Tiara mengambil dompet dari dalam tasnya.

“Gue mau ke kantin, beli makanan,” ujar Tiara.

“Eh rame banget lho kantin. Tadinya gue juga mau kesana tapi mager.”

Jam makan siang ini tentunya kantin penuh sekali. Namun Tiara tetap harus makan dan kalau pesan makanan online kemungkinan akan lebih lama.

“Ohiya Ra, lo nggak bisa nunda makan ya. Jangan sampe anak lo kelaperan Ra, ayo deh gue temenin.” Akhirnya Risya memutuskan menemani Tiara ke kantin.

Saat keduanya keluar kelas, salah satu teman lelaki mereka, memberi tahu bahwa ada yang mencari Tiara.

“Tadi Akmal nyariin lo, tapi dia ada kelas. Jadinya nitip ini ke gue, katanya buat lo,” ujar Rafael sambil menyerahkan plastik makanan yang dibungkus styrofoam ke tangan Tiara.

“Makan yang kenyang ya, Tiara.” Rafael tersenyum padanya, lalu tangannya iseng mengusap kepala Tiara dan mengacak sekilas rambutnya. Rafael langsung melenggang pergi bersama teman-temannya yang lantas melihat ke arah Tiara sambil melemparkan senyum.

***

Tiara sudah selesai bimbingan sekitar pukul 2. Namun ia masih harus menunggu Risya dan Cici yang beberapa menit lagi untuk menyelesaikan bimbingan. Rencananya mereka bertiga mau mampir dulu ke coffe shop yang baru buka di fakultas ekonomi.

Tiara yang sedang menunggu di depan kelas, melihat Rafael di koridor lantai 4. Pria itu tengah berjalan dan terlihat menuju kearahnya.

“Tiara,” sapanya ketika sampai di depan Tiara.

“Kenapa Raf?” tanya Tiara.

“Gue anter balik, yuk. Ohiya, kita ada tugas kelompok untuk compelement tugas akhir, kan? Lo, gue, sama Vania. Sekalian aja, gimana?” ujar Rafael.

“Tapi gue mau pergi sama Risya Cici. Kerja kelompoknya besok aja, gimana? Deadline-nya masih dua minggu lagi,” ucap Tiara.

“Tiara, lo tahu kan gue suka sama lo,” ujar Rafael blak-blakan. Ucapan pria itu kemungkinan dapat di dengar oleh orang-orang yang berlalu lalang di hadapan mereka.

“Iya, gue tau,” balas Tiara.

Rafael kemudian terdiam dan hanya menatapnya.

“Rafael, gue udah nikah dan sebentar lagi gue punya anak,” lanjut Tiara. Kalimat Tiara itu rasanya bagai petir di siang bolong buat Rafael. Ya, Rafael tahu Tiara sudah menikah. Namun penolakan seperti ini langsung dari Tiara membuat matanya dibuka lebar-lebar.

“Rafael, maaf. Waktu itu lo pernah nembak gue, dan gue udah menolak lo baik-baik. Tapi lo sendiri yang bersikeras sampai sekarang,” sambung Tiara.

“Oke, Ra. Gue bakal mundur setelah ini,” ucap Rafael yang seketika membuat bibir Tiara sedikit terbuka. “Gue nggak akan ngejar-ngejar lo lagi, gue janji,” sambung Rafael.

“Lo akan ketemu sama cewek yang lebih baik dari gue, Raf,” tutur Tiara.

“Tapi gue nggak tau, gue bakal suka sama dia sesuka gue sama lo apa engga.” Rafael tertawa hambar.

Acara dengan Risya dan Cici pun menjadi batal. Tiara memutuskan pergi sama Rafael ke rumahnya dan Vania akan menyusul mereka untuk mengerjakan tugas kelompok.

“Kena mental pasti tuh anak. Lagian nekat, suka sama orang yang jelas-jelas udah ada pawangnya,” ujar Risya setelah Tiara pamit padanya dan Cici untuk pulang lebih dulu bersama Rafael.

“Namanya juga perasaan, Sya, mana bisa diatur. Manusia nggak bisa milih mau jatuh cinta sama siapa, kan?” ucap Cici yang kemudian diangguki oleh Risya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo meraih botol Russo Baltique Vodkanya, lalu dengan lihai ia membuka tutup emasnya. Kedua mata sipitnya tidak lepas memandang Tiara barang sedetikpun. Tiara yang dipandangi seperti itu, seketika merasa gugup. Bagaimana bisa, Aryo yang tengah membuka botol minuman kini terlihat begitu menggoda baginya.

Keadaannya seperti telah berbalik. Kini Tiara yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari Aryo. Ia merutuki dirinya sendiri yang 'mabuk' akan pesona Aryo.

Tanpa sadar, Tiara menelan salivanya begitu saja. Ia memerhatikan Aryo yang mulai meneguk minuman berakohol itu langsung dari botolnya. Mata Tiara turun menatap jakun menonjol Aryo yang bergerak keatas kebawah. Hal tersebut seketika mampu membangkitkan sesuatu dalam diri Tiara. Rasanya bergejolak, hangat, dan adrenalinnya seperti dipacu ke level tinggi.

“Aryo, kamu minumnya jangan banyak-banyak lho,” ucap Tiara ketika Aryo tengah menjeda aksi minumnya.

“Ini nggak banyak Sayang,” ujar Aryo.

“Botolnya besar dan kamu hampir habisin setengahnya.”

Aryo menggelengkan kepalanya dan mengacak rambutnya miliknya sekilas. “Say good bye to my beloved vodka,” Aryo menatap lekat botol di tangannya dan seolah berbicara pada benda itu, “I don't want you again, in my life. I will leave you forever,” cerocos Aryo dan sedetik kemudian kepalanya terkulai di atas meja.

“Aryo,” panggil Tiara. “Tuh kan kamu mabuk. Jangan tidur di sini, ayo ke ke kamar,” sambungnya.

“Aku nggak mabuk, Ra. Kamu ... kamu mau tau rasanya vodka, kan?” racau Aryo sembari berusaha membuka matanya. Pandangan pria itu kini terasa kabur dan sulit untuk mempertahankan matanya tetap terbuka.

“Kita tidur aja, yaa?” titah Tiara.

“Nggak mau tidur. Aku pengennya sama kamu.”

“Yaa ... kan tidurnya sama aku.”

“Oh iya, aku lupa. Tidurnya sama istriku yang paling cantik sedunia.” Aryo mengucapkannya sambil tersenyum lebar.

Beruntungnya Aryo masih bisa berjalan dengan kedua kakinya sendiri menuju kamar. Sesampainya di kamar mereka, Aryo langsung ambruk ke kasur.

“Tiara,” ujar Aryo yang kesadarannya masih tersisa setengah.

Tiara duduk di tepi kasur, ia mengusap kening Aryo dan menyilakan rambut pria itu ke belakang. “Kenapa?” tanyanya.

“Aku cuci muka dulu yaa.”

Tiara tertawa pelan, “Kamu mau ngapain cuci muka?”

Aryo mengangkat tangannya ke udara lalu mengarahkan telunjuknya ke arah Tiara, “Aku mau nepatin janji. Aku mau nunjukin ke kamu rasanya vodka tanpa kamu minum langsung.”

“Besok aja yaa? Ini udah malam, Aryo.”

Aryo menggeleng dan pria itu segera bergerak dari posisi baringannya. Tiara yang khawatir, cepat-cepat menyusul langkah Aryo ke dalam kamar mandi. Di depan wastafel, Aryo membilas wajahnya, lalu bergegas mengusap sisa air di sana dengan handuk kecil.

Setelah selesai dengan urusan mencuci wajahnya, Aryo berbalik dan mendapati Tiara di sana. “Ra, aku udah nggak mabuk,” ujarnya.

“Kamu bener-bener ya,” cetus Tiara yang dibalas cengiran kecil oleh Aryo.

Hangover kamu udah ilang?” tanya Tiara.

“Udah, Sayang. Emangnya kenapa kalau aku masih hangover?”

“Yaa ... aku nggak mau ngelakuinnya sama orang yang mabuk,” aku Tiara.

Aryo sudah lebih segar meskipun belum sepenuhnya pengaruh alkohol itu hilang dari tubuhnya. “You will not, Sweety,” ucap Aryo.

Pandangan mereka bertemu tepat di satu titik. Aryo pun memangkas jarak yang ada diantara ia dengan Tiara. Rambut depan Aryo yang jatuh dikeningnya nampak sedikit basah karena kegiatannya membilas muka. Tiara memerhatikannya dan itu nampak begitu seksi di matanya. Hal kecil, tapi Tiara rasa ia bisa gila dibuatnya.

“Aryo,” ucap Tiara spontan dan suaranya terdengar sedikit serak.

Yes, Sweety?”

Tiara mengarahkan satu tangannya untuk mengusap sisi wajah Aryo, “I want to kiss you so bad,” cetus Tiara.

You can do it, Sweety.” Kini Aryo membiarkan Tiara untuk melakukannya lebih dulu.

Aryo menghela tubuh Tiara untuk duduk di meja marmer di kamar mandi. Kemudian dengan perlahan dan halus, bibir hangat Tiara mulai mengecup belah bibir Aryo. Tiara melakukannya dengan sangat apik, gerakannya, sentuhannya di dada bidang Aryo, itu terasa sempurna.

Kini tangan Aryo yang bebas, menyilakan surai panjang Tiara yang menggelitik permukaan kulit wajahnya. Di tengah kegiatan yang indah itu, sebuah senyum tercetak di bibir Aryo. Namun tidak bertahan lama, senyumannya itu pudar karena Tiara kembali menekan bibirnya dan hal tersebut membuat Aryo lumayan kualahan.

Tiara melancarkan tangannya di antara surai legam Aryo, mengisyaratkan pria itu untuk melakukan lebih. Setelah sekitar 5 menit pergulatan yang cukup panas tersebut, mereka memutuskan untuk saling melepaskan.

Keduanya lalu sama-sama mengulaskan senyum. Tidak lama kemudian, Aryo menghela Tiara untuk ia gendong ala bridal style. Tiara mengalungkan lengannya di leher Aryo dan mendekatkan dirinya untuk kembali mengecup bibir Aryo.

Hey, easy Babe,” ucap Aryo diiringi kekehannya.

I'm drunk. The taste was incredible and perfect,” ucap Tiara. Ia mengusapkan tangannya sensual di sekitaran rahang Aryo, “I'm drunk over you. You look really fucking hot,” aku Tiara.

Indeed, Babe. You're drunk.” Aryo pun sukses tertawa. Sebelum membaringkan Tiara di ranjang, ia menyematkan kecupan dalam di dahi wanitanya.

Dari posisinya, Tiara memerhatikan Aryo yang tengah melepas rolex di pergelangan tangannya. Kebiasaan yang Tiara suka, Aryo selalu memerhatikan hal kecil untuk tujuan membuatnya nyaman ketika mereka akan melakukannya. Belum selesai dengan itu, Aryo mengambil parfumnya dan menyemprotkannya di pergelangan tangan dan tidak lupa di area tengkuknya. Pergerakan Aryo itu tidak sedetikpun lepas dari sepasang mata beriris legam milik Tiara.

Aryo kini tengah berbaring di ranjang bersama Tiara, mendekap torso wanitanya dengan dekapan hangat. Mereka saling menyentuh dan meraba satu sama lain untuk pemanasan.

Tidak lama kemudian, Aryo merubah posisinya untuk berada di atas Tiara. “You're the most prettiest person I've ever seen,” ucap Aryo.

Tiara mengulaskan senyumnya. Kemudian ia mengarahkan tangannya untuk melepas satu persatu kancing kemeja Aryo. Selesai dengan itu, Tiara menjalarkan jemarinya untuk menyentuh otot di lengan Aryo dan perlahan bergerak ke dada bidangnya, lalu usapannya berakhir di perut six pack keras dan liat milik suaminya.

Saat tangan Tiara akan menjauh dari sana, Aryo menahannya agar Tiara terus melakukan sentuhan itu. Selama Tiara kembali melakukannya, Aryo bergerak mencium bibir Tiara, melumatnya lembut dengan ritme yang sedang. Keduanya bersamaan hanyut di dalam ikatan indah yang mereka ciptakan.

Begitu sesuatu tidak bertulang itu mendesak masuk ke mulut Tiara dan mulai menari dengan lihai di dalam sana, Tiara melengkungkan punggungnya ke atas dan meremas rambut Aryo sebagai pelampiasan. Sebuah pelampiasan akan sebuah rasa nikmat yang tiada tandingannya.

“Aryo,” ucap Tiara ketika mereka beristirahat. Aryo masih berada di atasnya, menahan bobot tubuhnya agar sebisa mungkin tidak mengenai baby bump Tiara yang sudah nampak lumayan besar.

“Kamu lupa lepas kalung kamu,” ujar Tiara diiringi senyum kecilnya.

Oh my god I forgot it. Aku lepas dulu kalau gitu Sayang—” ucapan Aryo tertahan karena Tiara lebih dulu menariknya mendekat untuk kembali mengecup bibirnya.

Hot 2

Mereka kembali bergelut dan merasakan keindahan yang selalu keduanya dambakan. Tiara sudah cukup basah di bawah sana dan milik Aryo sudah menegang.

“Ra, kalau terlalu sakit nanti kamu bilang ya,” ujar Aryo dan Tiara mengangguk. Aryo telah melepaskan rok diatas lutut yang di kenakan oleh Tiara sekaligus underwear merah mudanya.

Hot

Aryo mendekatkan dirinya untuk mencium surga miliknya. Itu sudah basah, Aryo melakukannya dengan begitu apik. Kemudian desahan seksi Tiara lolos saat Aryo mulai melesakkan juniornya di bawah sana. Tiara menggigit bibir bawahnya ketika Aryo mempercepat tempo penyatuan mereka. Keduanya saling bertatapan saat itu terjadi dan Tiara mendapati Aryo berkali lipat lebih mempesona, ketika dengan lincahnya pria itu bergerak di atasnya.

“Ra, sejak kamu hamil dan kita melakukannya, It's feels really amazing,” ucap Aryo, napasnya kini terdengar tidak beraturan.

You're always great when we are doing it,” balas Tiara.

Aryo kembali menghentak Tiara di surganya dan keduanya sama-sama meraih pelepasan sekitar 15 menit melakukannya. Tiara sedikit tidak menyangka, bahwa lumayan cepat waktu yang mereka butuhkan untuk pelepasan itu.

“Udah, Sayang?” tanya Aryo.

Tiara mengangguk lemah. Aryo lantas melepaskan miliknya dari bawah sana dan bergerak ke samping Tiara. Aryo menatap Tiara lekat-lekat, lalu menghujani Tiara ciuman hangat di pelipis dan pipinya.

“Ra, aku nggak bisa nyusun kata-kata indah buat diucapin ke kamu. Nilai bahasa Indonesia aku biasa aja, nggak bagus bagus banget. Mungkin aku nggak romantis dan ku belum bisa luangin banyak waktu buat quality time sama kamu,” ucap Aryo panjang lebar.

Tiara memosisikan tubuhnya untuk menghadap Aryo. Ia meraih lengan lelaki itu untuk melingkar di bahunya, “Hei, kata siapa aku butuh kata-kata romantis. Setiap orang punya love languange dominannya masing-masing. Kamu romantis dengan cara kamu sendiri,” Tiara menjeda ucapannya. Ia lantas memberikan kecupan manis di ujung hidung mancung Aryo, “Kamu peduli sama setiap detail untuk bikin aku nyaman saat sama kamu, dan itu berarti banget buat aku. Aku berterima kasih untuk semua yang udah kamu lakuin, dari hari pertama kita ketemu sampai saat ini.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo meraih botol Russo Baltique Vodkanya, lalu dengan lihai ia membuka tutup emasnya. Kedua mata sipitnya tidak lepas memandang Tiara barang sedetikpun. Tiara yang dipandangi seperti itu, seketika merasa gugup. Bagaimana bisa, Aryo yang tengah membuka botol minuman kini terlihat begitu menggoda baginya.

Keadaannya seperti telah berbalik. Kini Tiara yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari Aryo. Ia merutuki dirinya sendiri yang 'mabuk' akan pesona Aryo.

Tanpa sadar, Tiara menelan salivanya begitu saja. Ia memerhatikan Aryo yang mulai meneguk minuman berakohol itu langsung dari botolnya. Mata Tiara turun menatap jakun menonjol Aryo yang bergerak keatas kebawah. Hal tersebut seketika mampu membangkitkan sesuatu dalam diri Tiara. Rasanya bergejolak, hangat, dan adrenalinnya seperti dipacu ke level tinggi.

“Aryo, kamu minumnya jangan banyak-banyak lho,” ucap Tiara ketika Aryo tengah menjeda aksi minumnya.

“Ini nggak banyak Sayang,” ujar Aryo.

“Botolnya besar dan kamu hampir habisin setengahnya.”

Aryo menggelengkan kepalanya dan mengacak rambutnya miliknya sekilas. “Say good bye to my beloved vodka,” Aryo menatap lekat botol di tangannya dan seolah berbicara pada benda itu, “I don't want you again, in my life. I will leave you forever,” cerocos Aryo dan sedetik kemudian kepalanya terkulai di atas meja.

“Aryo,” panggil Tiara. “Tuh kan kamu mabuk. Jangan tidur di sini, ayo ke ke kamar,” sambungnya.

“Aku nggak mabuk, Ra. Kamu ... kamu mau tau rasanya vodka, kan?” racau Aryo sembari berusaha membuka matanya. Pandangan pria itu kini terasa kabur dan sulit untuk mempertahankan matanya tetap terbuka.

“Kita tidur aja, yaa?” titah Tiara.

“Nggak mau tidur. Aku pengennya sama kamu.”

“Yaa ... kan tidurnya sama aku.”

“Oh iya, aku lupa. Tidurnya sama istriku yang cantik banget. Paling cantik sedunia.” Aryo mengucapkannya sambil tersenyum lebar.

Beruntungnya Aryo masih bisa berjalan dengan kedua kakinya sendiri menuju kamar. Sesampainya di kamar mereka, Aryo langsung ambruk ke kasur.

“Tiara,” ujar Aryo yang kesadarannya masih tersisa setengah.

Tiara duduk di tepi kasur, ia mengusap kening Aryo dan menyilakan rambut pria itu ke belakang. “Kenapa?” tanyanya.

“Aku cuci muka dulu yaa.”

Tiara tertawa pelan, “Kamu mau ngapain cuci muka?”

Aryo mengangkat tangannya ke udara lalu mengarahkan telunjuknya ke arah Tiara, “Aku mau nepatin janji. Aku mau nunjukin ke kamu rasanya vodka tanpa kamu minum langsung.”

“Besok aja yaa? Ini udah malam, Aryo.”

Aryo menggeleng dan pria itu segera bergerak dari posisi baringannya. Tiara yang khawatir, cepat-cepat menyusul langkah Aryo ke dalam kamar mandi. Di depan wastafel, Aryo membilas wajahnya, lalu bergegas mengusap sisa air di sana dengan handuk kecil.

Setelah selesai dengan urusan mencuci wajahnya, Aryo berbalik dan mendapati Tiara di sana. “Ra, aku udah nggak mabuk,” ujarnya.

“Kamu bener-bener ya,” cetus Tiara yang dibalas cengiran kecil oleh Aryo.

Hangover kamu udah ilang?” tanya Tiara.

“Udah, Sayang. Emangnya kenapa kalau aku masih hangover?”

“Yaa ... aku nggak mau ngelakuinnya sama orang yang mabuk,” aku Tiara.

Aryo sudah lebih segar meskipun belum sepenuhnya pengaruh alkohol itu hilang dari tubuhnya. “You will not, Sweety,” ucap Aryo.

Pandangan mereka bertemu tepat di satu titik. Aryo pun memangkas jarak yang ada diantara ia dengan Tiara. Rambut depan Aryo yang jatuh dikeningnya nampak sedikit basah karena kegiatannya membilas muka. Tiara memerhatikannya dan itu nampak begitu seksi di matanya. Hal kecil, tapi Tiara rasa ia bisa gila dibuatnya.

“Aryo,” ucap Tiara spontan dan suaranya terdengar sedikit serak.

Yes, Sweety?”

Tiara mengarahkan satu tangannya untuk mengusap sisi wajah Aryo, “I want to kiss you so bad,” cetus Tiara.

You can do it, Sweety.” Kini Aryo membiarkan Tiara untuk melakukannya lebih dulu.

Aryo menghela tubuh Tiara untuk duduk di meja marmer di kamar mandi. Kemudian dengan perlahan dan halus, bibir hangat Tiara mulai mengecup belah bibir Aryo. Tiara melakukannya dengan sangat apik, gerakannya, sentuhannya di dada bidang Aryo, itu terasa sempurna.

Kini tangan Aryo yang bebas, menyilakan surai panjang Tiara yang menggelitik permukaan kulit wajahnya. Di tengah kegiatan yang indah itu, sebuah senyum tercetak di bibir Aryo. Namun tidak bertahan lama, senyumannya itu pudar karena Tiara kembali menekan bibirnya dan hal tersebut membuat Aryo lumayan kualahan.

Tiara melancarkan tangannya di antara surai legam Aryo, mengisyaratkan pria itu untuk melakukan lebih. Setelah sekitar 5 menit pergulatan yang cukup panas tersebut, mereka memutuskan untuk saling melepaskan.

Keduanya lalu sama-sama mengulaskan senyum. Tidak lama kemudian, Aryo menghela Tiara untuk ia gendong ala bridal style. Tiara mengalungkan lengannya di leher Aryo dan mendekatkan dirinya untuk kembali mengecup bibir Aryo.

Hey, easy Babe,” ucap Aryo diiringi kekehannya.

I'm drunk. The taste was incredible and perfect,” ucap Tiara. Ia mengusapkan tangannya sensual di sekitaran rahang Aryo, “I'm drunk over you. You look really fucking hot,” aku Tiara.

Indeed, Babe. You're drunk.” Aryo pun sukses tertawa. Sebelum membaringkan Tiara di ranjang, ia menyematkan kecupan dalam di dahi wanitanya.

Dari posisinya, Tiara memerhatikan Aryo yang tengah melepas rolex di pergelangan tangannya. Kebiasaan yang Tiara suka, Aryo selalu memerhatikan hal kecil untuk tujuan membuatnya nyaman ketika mereka akan melakukannya. Belum selesai dengan itu, Aryo mengambil parfumnya dan menyemprotkannya di pergelangan tangan dan tidak lupa di area tengkuknya. Pergerakan Aryo itu tidak sedetikpun lepas dari sepasang mata beriris legam milik Tiara.

Aryo kini tengah berbaring di ranjang bersama Tiara, mendekap torso wanitanya dengan dekapan hangat. Mereka saling menyentuh dan meraba satu sama lain untuk pemanasan.

Tidak lama kemudian, Aryo merubah posisinya untuk berada di atas Tiara. “You're the most prettiest person I've ever seen,” ucap Aryo.

Tiara mengulaskan senyumnya. Kemudian ia mengarahkan tangannya untuk melepas satu persatu kancing kemeja Aryo. Selesai dengan itu, Tiara menjalarkan jemarinya untuk menyentuh otot di lengan Aryo dan perlahan bergerak ke dada bidangnya, lalu usapannya berakhir di perut six pack keras dan liat milik suaminya.

Saat tangan Tiara akan menjauh dari sana, Aryo menahannya agar Tiara terus melakukan sentuhan itu. Selama Tiara kembali melakukannya, Aryo bergerak mencium bibir Tiara, melumatnya lembut dengan ritme yang sedang. Keduanya bersamaan hanyut di dalam ikatan indah yang mereka ciptakan.

Begitu sesuatu tidak bertulang itu mendesak masuk ke mulut Tiara dan mulai menari dengan lihai di dalam sana, Tiara melengkungkan punggungnya ke atas dan meremas rambut Aryo sebagai pelampiasan. Sebuah pelampiasan akan sebuah rasa nikmat yang tiada tandingannya.

“Aryo,” ucap Tiara ketika mereka beristirahat. Aryo masih berada di atasnya, menahan bobot tubuhnya agar sebisa mungkin tidak mengenai baby bump Tiara yang sudah nampak lumayan besar.

“Kamu lupa lepas kalung kamu,” ujar Tiara diiringi senyum kecilnya.

Oh my god I forgot it. Aku lepas dulu kalau gitu Sayang—” ucapan Aryo tertahan karena Tiara lebih dulu menariknya mendekat untuk kembali mengecup bibirnya.

Hot 2

Mereka kembali bergelut dan merasakan keindahan yang selalu keduanya dambakan. Tiara sudah cukup basah di bawah sana dan milik Aryo sudah menegang.

“Ra, kalau terlalu sakit nanti kamu bilang ya,” ujar Aryo dan Tiara mengangguk. Aryo telah melepaskan rok diatas lutut yang di kenakan oleh Tiara sekaligus underwear merah mudanya.

Hot

Aryo mendekatkan dirinya untuk mencium surga miliknya. Itu sudah basah, Aryo melakukannya dengan begitu apik. Kemudian desahan seksi Tiara lolos saat Aryo mulai melesakkan juniornya di bawah sana. Tiara menggigit bibir bawahnya ketika Aryo mempercepat tempo penyatuan mereka. Keduanya saling bertatapan saat itu terjadi dan Tiara mendapati Aryo berkali lipat lebih mempesona, ketika dengan lincahnya pria itu bergerak di atasnya.

“Ra, sejak kamu hamil dan kita melakukannya, It's feels really amazing,” ucap Aryo, napasnya kini terdengar tidak beraturan.

You're always great when we are doing it,” balas Tiara.

Aryo kembali menghentak Tiara di surganya dan keduanya sama-sama meraih pelepasan sekitar 15 menit melakukannya. Tiara sedikit tidak menyangka, bahwa lumayan cepat waktu yang mereka butuhkan untuk pelepasan itu.

“Udah, Sayang?” tanya Aryo.

Tiara mengangguk lemah. Aryo lantas melepaskan miliknya dari bawah sana dan bergerak ke samping Tiara. Aryo menatap Tiara lekat-lekat, lalu menghujani Tiara ciuman hangat di pelipis dan pipinya.

“Ra, aku nggak bisa nyusun kata-kata indah buat diucapin ke kamu. Nilai bahasa Indonesia aku biasa aja, nggak bagus bagus banget. Mungkin aku nggak romantis dan ku belum bisa luangin banyak waktu buat quality time sama kamu,” ucap Aryo panjang lebar.

Tiara memosisikan tubuhnya untuk menghadap Aryo. Ia meraih lengan lelaki itu untuk melingkar di bahunya, “Hei, kata siapa aku butuh kata-kata romantis. Setiap orang punya love languange dominannya masing-masing. Kamu romantis dengan cara kamu sendiri,” Tiara menjeda ucapannya. Ia lantas memberikan kecupan manis di ujung hidung mancung Aryo, “Kamu peduli sama setiap detail untuk bikin aku nyaman saat sama kamu, dan itu berarti banget buat aku. Aku berterima kasih untuk semua yang udah kamu lakuin, dari hari pertama kita ketemu sampai saat ini.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo meraih botol Russo Baltique Vodkanya, lalu dengan lihai ia membuka tutup emasnya. Kedua mata sipitnya tidak lepas memandang Tiara barang sedetikpun. Tiara yang dipandangi seperti itu, seketika merasa gugup. Bagaimana bisa, Aryo yang tengah membuka botol minuman kini terlihat begitu menggoda baginya.

Keadaannya seperti telah berbalik. Kini Tiara yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari Aryo. Ia merutuki dirinya sendiri yang 'mabuk' akan pesona Aryo.

Tanpa sadar, Tiara menelan salivanya begitu saja. Ia memerhatikan Aryo yang mulai meneguk minuman berakohol itu langsung dari botolnya. Mata Tiara turun menatap jakun menonjol Aryo yang bergerak keatas kebawah. Hal tersebut seketika mampu membangkitkan sesuatu dalam diri Tiara. Rasanya bergejolak, hangat, dan adrenalinnya seperti dipacu ke level tinggi.

“Aryo, kamu minumnya jangan banyak-banyak lho,” ucap Tiara ketika Aryo tengah menjeda aksi minumnya.

“Ini nggak banyak Sayang,” ujar Aryo.

“Botolnya besar dan kamu hampir habisin setengahnya.”

Aryo menggelengkan kepalanya dan mengacak rambutnya miliknya sekilas. “Say good bye to my beloved vodka,” Aryo menatap lekat botol di tangannya dan seolah berbicara pada benda itu, “I don't want you again, in my life. I will leave you forever*,” cerocos Aryo dan sedetik kemudian kepalanya terkulai di atas meja.

“Aryo,” panggil Tiara. “Tuh kan kamu mabuk. Jangan tidur di sini, ayo ke ke kamar,” sambungnya.

“Aku nggak mabuk, Ra. Kamu ... kamu mau tau rasanya vodka, kan?” racau Aryo sembari berusaha membuka matanya. Pandangan pria itu kini terasa kabur dan sulit untuk mempertahankan matanya tetap terbuka.

“Kita tidur aja, yaa?” titah Tiara.

“Nggak mau tidur. Aku pengennya sama kamu.”

“Yaa ... kan tidurnya sama aku.”

“Oh iya, aku lupa. Tidurnya sama istriku yang cantik banget. Paling cantik sedunia.” Aryo mengucapkannya sambil tersenyum lebar.

Beruntungnya Aryo masih bisa berjalan dengan kedua kakinya sendiri menuju kamar. Sesampainya di kamar mereka, Aryo langsung ambruk ke kasur.

“Tiara,” ujar Aryo yang kesadarannya masih tersisa setengah.

Tiara duduk di tepi kasur, ia mengusap kening Aryo dan menyilakan rambut pria itu ke belakang. “Kenapa?” tanyanya.

“Aku cuci muka dulu yaa.”

Tiara tertawa pelan, “Kamu mau ngapain cuci muka?”

Aryo mengangkat tangannya ke udara lalu mengarahkan telunjuknya ke arah Tiara, “Aku mau nepatin janji. Aku mau nunjukin ke kamu rasanya vodka tanpa kamu minum langsung.”

“Besok aja yaa? Ini udah malam, Aryo.”

Aryo menggeleng dan pria itu segera bergerak dari posisi baringannya. Tiara yang khawatir, cepat-cepat menyusul langkah Aryo ke dalam kamar mandi. Di depan wastafel, Aryo membilas wajahnya, lalu bergegas mengusap sisa air di sana dengan handuk kecil.

Setelah selesai dengan urusan mencuci wajahnya, Aryo berbalik dan mendapati Tiara di sana. “Ra, aku udah nggak mabuk,” ujarnya.

“Kamu bener-bener ya,” cetus Tiara yang dibalas cengiran kecil oleh Aryo.

“Beneran hangover kamu udah ilang?” tanya Tiara.

“Beneran, Sayang. Emangnya kenapa kalau aku masih hangover?”

“Yaa ... aku nggak mau ngelakuinnya sama orang yang mabuk,” aku Tiara.

Aryo sudah lebih segar meskipun belum sepenuhnya pengaruh alkohol itu hilang dari tubuhnya. “You will not, Sweety,” ucap Aryo.

Pandangan mereka bertemu tepat di satu titik. Aryo pun memangkas jarak yang ada diantara ia dengan Tiara. Rambut depan Aryo yang jatuh dikeningnya nampak sedikit basah karena kegiatannya membilas muka. Tiara memerhatikannya dan itu nampak begitu seksi di matanya. Hal kecil, tapi Tiara rasa ia bisa gila dibuatnya.

“Aryo,” ucap Tiara spontan dan suaranya terdengar sedikit serak.

Yes, Sweety?”

Tiara mengarahkan satu tangannya untuk mengusap sisi wajah Aryo, “I want to kiss you so bad,” cetus Tiara.

You can do it, Sweety.” Kini Aryo membiarkan Tiara untuk melakukannya lebih dulu.

Aryo menghela tubuh Tiara untuk duduk di meja marmer di kamar mandi. Kemudian dengan perlahan dan halus, bibir hangat Tiara mulai mengecup belah bibir Aryo. Tiara melakukannya dengan sangat apik, gerakannya, sentuhannya di dada bidang Aryo, itu terasa sempurna.

Kini tangan Aryo yang bebas, menyilakan surai panjang Tiara yang menggelitik permukaan kulit wajahnya. Di tengah kegiatan yang indah itu, sebuah senyum tercetak di bibir Aryo. Namun tidak bertahan lama, senyumannya itu pudar karena Tiara kembali menekan bibirnya dan hal tersebut membuat Aryo lumayan kualahan.

Tiara melancarkan tangannya di antara surai legam Aryo, mengisyaratkan pria itu untuk melakukan lebih. Setelah sekitar 5 menit pergulatan yang cukup panas tersebut, mereka memutuskan untuk saling melepaskan.

Keduanya lalu sama-sama mengulaskan senyum. Tidak lama kemudian, Aryo menghela Tiara untuk ia gendong ala bridal style. Tiara mengalungkan lengannya di leher Aryo dan mendekatkan dirinya untuk kembali mengecup bibir Aryo.

Hey, easy Babe,” ucap Aryo diiringi kekehannya.

I'm drunk. The taste was incredible and perfect,” ucap Tiara. Ia mengusapkan tangannya sensual di sekitaran rahang Aryo, “I'm drunk over you. You look really fucking hot,” aku Tiara.

Indeed, Babe. You're drunk.” Aryo pun sukses tertawa. Sebelum membaringkan Tiara di ranjang, ia menyematkan kecupan dalam di dahi wanitanya.

Dari posisinya, Tiara memerhatikan Aryo yang tengah melepas rolex di pergelangan tangannya. Kebiasaan yang Tiara suka, Aryo selalu memerhatikan hal kecil untuk tujuan membuatnya nyaman ketika mereka akan melakukannya. Belum selesai dengan itu, Aryo mengambil parfumnya dan menyemprotkannya di pergelangan tangan dan tidak lupa di area tengkuknya. Pergerakan Aryo itu tidak sedetikpun lepas dari sepasang mata beriris legam milik Tiara.

Aryo kini tengah berbaring di ranjang bersama Tiara, mendekap torso wanitanya dengan dekapan hangat. Mereka saling menyentuh dan meraba satu sama lain untuk pemanasan.

Tidak lama kemudian, Aryo merubah posisinya untuk berada di atas Tiara. “You're the most prettiest person I've ever seen,” ucap Aryo.

Tiara mengulaskan senyumnya. Kemudian ia mengarahkan tangannya untuk melepas satu persatu kancing kemeja Aryo. Selesai dengan itu, Tiara menjalarkan jemarinya untuk menyentuh otot di lengan Aryo dan perlahan bergerak ke dada bidangnya, lalu usapannya berakhir di perut six pack keras dan liat milik suaminya.

Saat tangan Tiara akan menjauh dari sana, Aryo menahannya agar Tiara terus melakukan sentuhan itu. Selama Tiara kembali melakukannya, Aryo bergerak mencium bibir Tiara, melumatnya lembut dengan ritme yang sedang. Keduanya bersamaan hanyut di dalam ikatan indah yang mereka ciptakan.

Begitu sesuatu tidak bertulang itu mendesak masuk ke mulut Tiara dan mulai menari dengan lihai di dalam sana, Tiara melengkungkan punggungnya ke atas dan meremas rambut Aryo sebagai pelampiasan. Sebuah pelampiasan akan sebuah rasa nikmat yang tiada tandingannya.

“Aryo,” ucap Tiara ketika mereka beristirahat. Aryo masih berada di atasnya, menahan bobot tubuhnya agar sebisa mungkin tidak mengenai baby bump Tiara yang sudah nampak lumayan besar.

“Kamu lupa lepas kalung kamu,” ujar Tiara diiringi senyum kecilnya.

Oh my god I forgot it. Aku lepas dulu kalau gitu Sayang—” ucapan Aryo tertahan karena Tiara lebih dulu menariknya mendekat untuk kembali mengecup bibirnya.

Hot 2

Mereka kembali bergelut dan merasakan keindahan yang selalu keduanya dambakan. Tiara sudah cukup basah di bawah sana dan milik Aryo sudah menegang.

“Ra, kalau terlalu sakit nanti kamu bilang ya,” ujar Aryo dan Tiara mengangguk. Aryo telah melepaskan rok diatas lutut yang di kenakan oleh Tiara sekaligus underwear merah mudanya.

Hot

Aryo mendekatkan dirinya untuk mencium surga miliknya. Itu sudah basah, Aryo melakukannya dengan begitu apik. Kemudian desahan seksi Tiara lolos saat Aryo mulai melesakkan juniornya di bawah sana. Tiara menggigit bibir bawahnya ketika Aryo mempercepat tempo penyatuan mereka. Keduanya saling bertatapan saat itu terjadi dan Tiara mendapati Aryo berkali lipat lebih mempesona, ketika dengan lincahnya pria itu bergerak di atasnya.

“Ra, sejak kamu hamil dan kita melakukannya, It's feels really amazing,” ucap Aryo, napasnya kini terdengar tidak beraturan.

You're always great when we are doing it,” balas Tiara.

Aryo kembali menghentak Tiara di surganya dan keduanya sama-sama meraih pelepasan sekitar 15 menit melakukannya. Tiara sedikit tidak menyangka, bahwa lumayan cepat waktu yang mereka butuhkan untuk pelepasan itu.

“Udah, Sayang?” tanya Aryo.

Tiara mengangguk lemah. Aryo lantas melepaskan miliknya dari bawah sana dan bergerak ke samping Tiara. Aryo menatap Tiara lekat-lekat, lalu menghujani Tiara ciuman hangat di pelipis dan pipinya.

“Ra, aku nggak bisa nyusun kata-kata indah buat diucapin ke kamu. Nilai bahasa Indonesia aku biasa aja, nggak bagus bagus banget. Mungkin aku nggak romantis dan ku belum bisa luangin banyak waktu buat quality time sama kamu,” ucap Aryo panjang lebar.

Tiara memosisikan tubuhnya untuk menghadap Aryo. Ia meraih lengan lelaki itu untuk melingkar di bahunya, “Hei, kata siapa aku butuh kata-kata romantis. Setiap orang punya love languange dominannya masing-masing. Kamu romantis dengan cara kamu sendiri,” Tiara menjeda ucapannya. Ia lantas memberikan kecupan manis di ujung hidung mancung Aryo, “Kamu peduli dengan setiap detail untuk bikin aku nyaman saat sama kamu, dan itu berarti banget buat aku. Aku berterima kasih untuk semua yang udah kamu lakuin, dari hari pertama kita ketemu sampai saat ini.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo merasa dirinya begitu brengsek karena pernah tiba-tiba mencium Tiara. Tiba-tiba jatuh cinta padanya dan akhirnya mengajaknya menikah, padahal mereka baru mengenal. Setelah menjalani kehidupan bersama Tiara, perempuan itu yang membuatnya ingin meninggalkan benda-benda dari masa lalunya. Namun malam ini, justru Tiara lah yang membiarkannya untuk kembali.

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan itu sudah cukup lama. Hari itu adalah hari dimana ia bertemu lagi dengan Tiara, perempuan yang akhirnya membuat Aryo percaya pada cinta pandangan pertama. Selama hidupnya, Aryo menganggap bahwa love at first sight adalah bullshit. Namun Tuhan telah membuktikan padanya dan membuatnya justru begitu tergila-gila pada Tiara. Aryo pikir, setiap lelaki akhirnya akan takluk pada satu wanita dan menemukan pelabuhan terakhirnya.

Aryo melangkahkan kakinya menuju satu ruangan yang cukup besar di basement rumahnya. Ketiba tiba di sana, ia segera membuka pintunya dengan menekan 4 buah kode angka.

Aryo memasuki ruangan itu dan matanya langsung di suguhkan oleh pemandangan botol-botol minuman yang disusun apik di dalam lemari bersekat. Ada juga yang diletakkan di dalam laci yang memiliki kunci tersendiri. Benda-benda itu ia simpan rapi layaknya koleksi-koleksi berharga yang memang dulu sangat ia gemari.

Ruang Penyimpanan Minuman Aryo

Aryo menyapukan pandangannya dan ketika matanya menangkap salah satu minuman yang ia ingat memiliki harga fantastis, ia segera mengambilnya. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang dikemas dengan botol berwarna keemasan yang berukuran cukup besar. Bahkan tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo lantas membawa minuman senilai 14 milyar itu menuju meja bar. Di sana ia mendapati Tiara yang sudah mengambilkan sebuah gelas sloki untuknya.

“Mau aku tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure,” ujar Aryo mempersilakan Tiara. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya di lemari yang tidak jauh dari meja bar.

“Ra, aku nggak mau ngevape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo yang langsung diangguki oleh Tiara.

Tiara pun menarik kursi di hadapan Aryo dan duduk di sana. Gelas sloki yang telah diisinya dengan minuman berwarna kuning bening itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo.

Bar Table

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku, lalu mengambil gelas sloki di hadapannya. Aryo menatap Tiara sejenak, sebelum akhirnya ia meneguk vodkanya. Aryo hanya meneguk satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik dan tidak ada tanda-tanda Aryo akan meneguk lagi minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo bertopang di atas meja, lalu ia menjauhkan gelas sloki itu dari hadapannya. Dengan jemarinya, Aryo meremas rambutnya hingga helaian surai itu kini nampak sedikit berantakan.

Tidak lama kemudian, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke kursinya.

“Kadang aku masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua itu cuma keinginan sesaat.” Aryo menatap Tiara, “Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun,” ujar Aryo. Tiara balas menatapnya dengan tatapan bahagia bercampur terharu, di matanya terlihat kilatan air mata yang siap untuk tumpah.

“Aku menolak itu dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Itu nggak baik untuk kesehatanku sendiri, buat kamu, dan calon anak kita. Tapi sembilan puluh persennya, ada campur tangan kamu. Aku mau bisa terus ada di samping kamu dan selalu bisa melindungi kamu. Jadi aku nggak boleh kembali ke hal-hal itu. Ra, aku mau berusaha buat jadi yang lebih baik untuk keluarga kecil kita,” tutur Aryo.

Aryo mengatakan bahwa dirinya pernah memiliki trust issue. Ia jadi sulit terbuka pada orang lain dan selalu bersikap waspada. Lahir di keluarga pebisnis, membuatnya memiliki banyak saingan dan juga musuh. Sejak Aryo kecil, ia dididik dan mendapat tuntutan untuk selalu menjadi nomor satu. Untuk menjadi penerus bisnis keluarganya, banyak rintangan yang harus Aryo lalui. Harta melimpah yang ia dapatkan, sebanding dengan duka yang ia hadapi, dan Aryo sudah jatuh berkali-kali.

Apa yang orang lihat di luar, adalah Aryo yang hebat, karirnya sukses, dan segala tentang dirinya dikagumi oleh banyak wanita. Namun yang kebanyakan orang tidak tahu, di dalamnya Aryo juga memiliki sisi terapuhnya.

Beberapa hari belakangan, Aryo kembali merasa begitu jatuh, tapi ia memang tidak menunjukkannya di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, Aryo dapat menunjukkan sisi tergelapnya. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Aryo memerhatikan Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berhadapan dengannya. Tiara menatap Aryo dengan tatapan lembutnya. “Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Mereka dipilih karena mereka pantas. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan menjadi lebih baik. Sebagai istri kamu, aku juga punya cara dan ternyata itu lumayan berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham maksud kalimat terakhir Tiara.

“Aku mau biarin kamu coba benda-benda ini lagi. Aku yakin, kamu akan tahu batasannya. Kenyataannya kamu yang memutuskan sendiri, kalau kamu udah nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya dan sedetik kemudian ia tertawa.

“Kamu punya berjuta-juta ide di dalam pikiran kamu ya,” ujar Aryo.

“Iya, dong. Itu salah satu tugas seorang istri, Aryo,” ucap Tiara yang seketika Aryo membuat Aryo menyunggingkan senyum tipisnya. Kini Tiara yang justru dibuat sedikit panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakan bahwa Aryo menatapnya agak berbeda.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Yaa?”

“Kok kamu keliatan gugup gitu?” tanya Aryo yang tidak bisa menahan senyumannya.

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu sih,” protes Tiara.

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo sambil dalam-dalam menatap Tiara diiringi seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Kemudian Aryo meletakkan kedua lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, hingga Tiara tidak punya ruang untuk lolos.

Lantas Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sesaat. Tiara tidak terpikirkan apa yang akan Aryo lakukan dengan memintanya menunggu. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi lebih gugup. Tidak lama kemudian, Tiara mendapati Aryo kembali dan menatapnya dengan tatapan yang sedikit sayu.

Aryo menghela pinggang Tiara agar mendekat padanya. Kemudian dengan lembut, Aryo mengusap area sekitar leher Tiara di bagian belakang.

Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau, Tiara menyemburkan tawa kecilnya ketika paham maksud Aryo. Tiara lalu mengangguk diiringi sebuah senyum kecil yang terbit di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai mengecup bibir Tiara.

Tangan Aryo masih setia mengusap lehernya, mengisyaratkan Tiara untuk tetap berada di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat, hingga tidak ada lagi jarak diantara mereka, dan keduanya begitu leluasa untuk saling menyecap bibir satu sama lain.

Aryo and Tiara Kissing

Napas mereka saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah keduanya. Saat bibir Aryo dan Tiara menjauh sesaat, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata mint,” bisik Tiara sensual di dekat Aryo.

Aryo sedikit tertawa, “I already cleaned it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka.”

“Tapi aku penasaran deh sama rasanya,” ujar Tiara sambil menyipitkan matanya.

“Dokter bilang kamu nggak boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil,” ucap Aryo.

Well, oke. That's not a big problem,” ucap Tiara.

How about ... I show you how to get the taste without you actually drink it?” tanya Aryo sambil menaikkan sebelah alisnya.

Tiara tidak tahu kini sudah semerah apa wajahnya ketika ia memahami maksud perkataan Aryo. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala dan seluruh permukaan kulitnya terasa menghangat.

Setelah mengalihkan tatapannya dari Aryo untuk menghalau perasaan gugupnya, kini Tiara kembali menatap lelaki yang dicintanya itu, “I'm pretty curious about that. You can show me then.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo merasa dirinya begitu brengsek karena pernah tiba-tiba mencium Tiara. Tiba-tiba jatuh cinta padanya dan akhirnya mengajaknya menikah, padahal mereka baru mengenal. Setelah menjalani kehidupan bersama Tiara, perempuan itu yang membuatnya ingin meninggalkan benda-benda dari masa lalunya. Namun malam ini, justru Tiara lah yang membiarkannya untuk kembali.

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan itu sudah cukup lama. Hari itu adalah hari dimana ia bertemu lagi dengan Tiara, perempuan yang akhirnya membuat Aryo percaya pada cinta pandangan pertama. Selama hidupnya, Aryo menganggap bahwa love at first sight adalah bullshit. Namun Tuhan telah membuktikan padanya dan membuatnya justru begitu tergila-gila pada Tiara. Aryo pikir, setiap lelaki akhirnya akan takluk pada satu wanita dan menemukan pelabuhan terakhirnya.

Aryo melangkahkan kakinya menuju satu ruangan yang cukup besar di basement rumahnya. Ketiba tiba di sana, ia segera membuka pintunya dengan menekan 4 buah kode angka.

Aryo memasuki ruangan itu dan matanya langsung di suguhkan oleh pemandangan botol-botol minuman yang disusun apik di dalam lemari bersekat. Ada juga yang diletakkan di dalam laci yang memiliki kunci tersendiri. Benda-benda itu ia simpan rapi layaknya koleksi-koleksi berharga yang memang dulu sangat ia gemari.

Ruang Penyimpanan Minuman Aryo

Aryo menyapukan pandangannya dan ketika matanya menangkap salah satu minuman yang ia ingat memiliki harga fantastis, ia segera mengambilnya. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang dikemas dengan botol berwarna keemasan yang berukuran cukup besar. Bahkan tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo lantas membawa minuman senilai 14 milyar itu menuju meja bar. Di sana ia mendapati Tiara yang sudah mengambilkan sebuah gelas sloki untuknya.

“Mau aku tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure,” ujar Aryo mempersilakan Tiara. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya di lemari yang tidak jauh dari meja bar.

“Ra, aku nggak mau ngevape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo yang langsung diangguki oleh Tiara.

Tiara pun menarik kursi di hadapan Aryo dan duduk di sana. Gelas sloki yang telah diisinya dengan minuman berwarna kuning bening itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo.

Bar Table

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku, lalu mengambil gelas sloki di hadapannya. Aryo menatap Tiara sejenak, sebelum akhirnya ia meneguk vodkanya. Aryo hanya meneguk satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik dan tidak ada tanda-tanda Aryo akan meneguk lagi minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo bertopang di atas meja, lalu ia menjauhkan gelas sloki itu dari hadapannya. Dengan jemarinya, Aryo meremas rambutnya hingga helaian surai itu kini nampak sedikit berantakan.

Tidak lama kemudian, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke kursinya.

“Kadang aku masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua itu cuma keinginan sesaat.” Aryo menatap Tiara, “Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun,” ujar Aryo. Tiara balas menatapnya dengan tatapan bahagia bercampur terharu, di matanya terlihat kilatan air mata yang siap untuk tumpah.

“Aku menolak itu dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Itu nggak baik untuk kesehatanku sendiri, buat kamu, dan calon anak kita. Tapi sembilan puluh persennya, ada campur tangan kamu. Aku mau bisa terus ada di samping kamu dan selalu bisa melindungi kamu. Jadi aku nggak boleh kembali ke hal-hal itu. Ra, aku mau berusaha buat jadi yang lebih baik untuk keluarga kecil kita,” tutur Aryo.

Aryo mengatakan bahwa dirinya pernah memiliki trust issue. Ia jadi sulit terbuka pada orang lain dan selalu bersikap waspada. Lahir di keluarga pebisnis, membuatnya memiliki banyak saingan dan juga musuh. Sejak Aryo kecil, ia dididik dan mendapat tuntutan untuk selalu menjadi nomor satu. Untuk menjadi penerus bisnis keluarganya, banyak rintangan yang harus Aryo lalui. Harta melimpah yang ia dapatkan, sebanding dengan duka yang ia hadapi, dan Aryo sudah jatuh berkali-kali.

Apa yang orang lihat di luar, adalah Aryo yang hebat, karirnya sukses, dan segala tentang dirinya dikagumi oleh banyak wanita. Namun yang kebanyakan orang tidak tahu, di dalamnya Aryo juga memiliki sisi terapuhnya.

Beberapa hari belakangan, Aryo kembali merasa begitu jatuh, tapi ia memang tidak menunjukkannya di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, Aryo dapat menunjukkan sisi tergelapnya. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Aryo memerhatikan Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berhadapan dengannya. Tiara menatap Aryo dengan tatapan lembutnya. “Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Mereka dipilih karena mereka pantas. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan menjadi lebih baik. Sebagai istri kamu, aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham maksud kalimat terakhir Tiara.

“Aku mau biarin kamu coba benda-benda ini lagi. Aku yakin, kamu akan tahu batasannya. Kenyataannya kamu yang memutuskan sendiri, kalau kamu udah nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya dan sedetik kemudian ia tertawa.

“Kamu punya berjuta-juta ide di dalam pikiran kamu ya,” ujar Aryo.

“Iya, dong. Itu salah satu tugas seorang istri, Aryo,” ucap Tiara yang seketika Aryo membuat Aryo menyunggingkan senyum tipisnya. Kini Tiara yang justru dibuat sedikit panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakan bahwa Aryo menatapnya agak berbeda.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Yaa?”

“Kok kamu keliatan gugup gitu?” tanya Aryo yang tidak bisa menahan senyumannya.

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu sih,” protes Tiara.

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo sambil dalam-dalam menatap Tiara diiringi seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Kemudian Aryo meletakkan kedua lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, hingga Tiara tidak punya ruang untuk lolos.

Lantas Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sesaat. Tiara tidak terpikirkan apa yang akan Aryo lakukan dengan memintanya menunggu. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi lebih gugup. Tidak lama kemudian, Tiara mendapati Aryo kembali dan menatapnya dengan tatapan yang sedikit sayu.

Aryo menghela pinggang Tiara agar mendekat padanya. Kemudian dengan lembut, Aryo mengusap area sekitar leher Tiara di bagian belakang.

Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau, Tiara menyemburkan tawa kecilnya ketika paham maksud Aryo. Tiara lalu mengangguk diiringi sebuah senyum kecil yang terbit di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai mengecup bibir Tiara.

Tangan Aryo masih setia mengusap lehernya, mengisyaratkan Tiara untuk tetap berada di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat, hingga tidak ada lagi jarak diantara mereka, dan keduanya begitu leluasa untuk saling menyecap bibir satu sama lain.

Aryo and Tiara Kissing

Napas mereka saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah keduanya. Saat bibir Aryo dan Tiara menjauh sesaat, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata rasa mint,” bisik Tiara sensual di dekat Aryo.

Aryo sedikit tertawa, “I already cleaned it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Tapi aku penasaran deh sama rasanya,” ujar Tiara sambil menyipitkan matanya.

“Dokter bilang kamu nggak boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil,” ucap Aryo.

Well, oke. That's not a big problem,” ucap Tiara.

How about ... I show you how to get the taste without you actually drink it?” tanya Aryo sambil menaikkan sebelah alisnya.

Tiara tidak tahu kini sudah semerah apa wajahnya ketika ia memahami maksud perkataan Aryo. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala dan seluruh permukaan kulitnya terasa menghangat.

Setelah mengalihkan tatapannya dari Aryo untuk menghalau perasaan gugupnya, kini Tiara kembali menatap lelaki yang dicintanya itu, “I'm pretty curious about that. You can show me then.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Halo, Sayang. Iya ... hari ini ini aku nggak bisa jemput kamu. Lagi lumayan padat di kantor,” ujar Aryo di telfonnya.

It's oke. Aku bisa minta tolong jemput Egha,” balas Tiara.

Aryo mempersilakan seseorang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk. Kemudian matanya mendapati Rama memasuki ruangannya.

“Oke. Oh iya, kamu udah makan siang?” ujar Aryo lagi. Rama memberikan isyarat pada Aryo bahwa tujuan kedatangannya adalah ingin menyerahkan berkas pekerjaan. Aryo lantas memintanya untuk menunggu ia selesai menelfon.

“Udah kok barusan,” jawab Tiara.

“Kira-kira kamu selesai bimbingan jam berapa?” tanya Aryo.

“Jam 5-an deh kayaknya. Ini lagi nunggu giliran bimbingan.”

“Yaudah, Sayang, aku tutup dulu ya telfonnya. Kamu hati-hati, semangat bimbingannya.”

“Aryo,” ujar Tiara yang membuat Aryo urung mematikan telfonnya.

“Iya?”

I love you.” ucap Tiara. Aryo pun yang mendengar itu seketika terdiam. Rama lantas memerhatikan ekspresi atasannya yang mendadak berubah menjadi secerah matahari di musim panas.

Suddenly?” tanya Aryo beberapa detik setelah ia membeku layaknya sebuah patung.

“Yaa, aku mau bilang aja. Biar kamu inget terus.”

“Hmm ... ya ... ” Aryo bergumam tidak jelas, tapi telfonnya belum juga dimatikan. “I love you more, Sayang. Bye. Aku tutup yaa telfonnya,” ujar Aryo akhirnya.

Okey, bye.”

Sambungan telfon pun diakhiri. Aryo meletakkan ponselnya di atas meja dan beralih pada Rama yang kini menatapnya dengan tatapan heran.

“Di depan istri aja, lo waras. Di kantor kerja udah kayak nggak ada hari esok,” ujar Rama. Setelah mengatakannya, pria itu meletakkan beberapa berkas yang dibawanya di atas meja Aryo.

Aryo lantas mengambil berkas itu. Tatapan matanya begitu serius membaca laporan tentang penjualan sektor pembangunan perumahan. Selain itu terdapat laporan mengenai investasi yang berperan sebagai indikator utama proyek baru yang akan perusahaannya jalankan.

“Sesuai laporan yang lo baca, investasi properti di bulan lalu menyusut sampai 14 persen. Pasar saham dan obligasi menurun minggu lalu, karena investor melihat berita perlambatan properti yang lebih dalam. Lalu untuk proyek baru pengembang kita, anjlok sebanyak 33% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya,” jelas Rama.

“Gimana dari segi pembelian tanah?” tanya Aryo. Ia menutup satu file di tangannya dan membuka file lainnya. Matanya memindai lapora tersebut tapi bersamaan mencerna penjelasan Rama.

“Pembelian tanah kita menyusut dari bulan September. Proyek yang diselesaikan oleh pengembang kita menyusut sebesar 21%. Ini disebabkan karena penurunan harga yang menghalangi pembeli rumah yang khawatir soal nilai aset mereka. Jadi, posisi kita sebagai pengembang, sulit untuk menjual properti dan mendapatkan uang tunai yang sangat kita butuhkan untuk membiayai utang,” terang Rama panjang lebar.

Aryo menutup berkas-berkas itu dan bergerak dari kursinya.

“Lo mau kemana?” tanya Rama yang matanya tidak lepas mengekori pergerakan atasannya itu.

“Gue mau mencoba cara lain. Masih ada cara yang bisa kita lakukan untuk menaikkan penjualan dan membayar utang yang kita punya,” ujar Aryo.

“Gimana caranya?” tanya Rama yang belum dapat membaca isi pikiran Aryo.

Aryo sempat terdiam selama beberapa detik. Kemudian ia mengambil berkas dari dalam lemari. “Kita akan coba untuk memprioritaskan pekerja kita dan mengoptimalkan kesempatan yang ada. Selain sektor perumahan, masih ada sektor lainnya yang bisa kita perjuangkan. Ram, saat ini gue bertanggung jawab untuk perusahaan dan juga keluarga kecil gue. Gue akan mencoba cara apa pun, selama kesempatannya masih ada,” ujar Aryo.

Rama mengangguk dan mengulaskan senyumnya. “Istri lo dan perusahaan ini beruntung banget punya lo, Bro,” ujar Rama sebelum akhirnya mengikuti langkah Aryo keluar dari ruangan.

***

Selesai mengikuti bimbingan untuk skripsinya sekitar pukul 5 sore, Tiara memutuskan untuk tidak langsung pulang. Tiara menguatkan hatinya untuk datang ke kantor suaminya. Di tempat ini, Harapan Jaya Group membangun bisnisnya dari nol sampai sebesar sekarang. Terkadang bayang-bayang masa lalu itu masih kerap menghampirinya dan membuatnya teringat akan orang tua kandungnya.

Sesampainya Tiara lobi, orang-orang yang berpapasan dengannya sontak melihat ke arahnya sekitar 3 detik, lalu mereka berbisik-bisik dan langsung membuang muka.

Tiara mengabaikan hal tersebut dan terus melangkahkan kakinya. Ia menaiki lift menuju lantai 20, dimana tujuan utamanya berada.

“Tiara,” panggil seseorang ketika ia sampai di lantai 20. Tiara mendapati orang yang memanggilnya adalah pria jangkung berstelan jas abu-abu yang merupakan sekretaris suaminya.

“Mau ketemu pak Bos, ya? Ayo gue anterin ke ruangannya,” ujar Rama sambil mengulaskan senyum sopannya.

Tiara mengiyakan dan langsung mengikuti langkah Rama. Sesampainya mereka di depan ruangan dengan pintu berpelitur coklat keemasan itu, Rama mengatakan supaya Tiara menunggu lebih dulu, karena di ruangan Aryo sedang ada tamu. Akhirnya keduanya duduk di sofa yang tidak jauh dari sana.

“Pak Bos mah warasnya di depan lo doang. Di belakang lo nih ya, dia kerja udah kayak orang gila,” ujar Rama.

Tiara yang penasaran pun meminta Rama menceritakan soal Aryo selama suaminya berada di kantor. Apa yang ia dengar dari sekretaris suaminya, membuat Tiara sedikit terkejut. Rama mengatakan kalau Aryo tidak pernah menunjukkan kelemahannya di hadapan siapa pun, bahkan di depan papa dan mamanya. Padahal Rama tahu Aryo sedang sangat kalut karena masalah perusahaan.

Tidak lama kemudian, terlihat dua wanita keluar dari ruangan Aryo dan melewati mereka. Tiara mau tidak mau mendengar pembicaraan keduanya.

“Kayaknya itu istrinya pak Presdir,” ujar seorang perempuan pada temannya.

“Udah baca beritanya? Kasus itu yang buat perusahaan anjlok,” ujar perempuan satunya.

Setelah dua orang itu berlalu, Rama berujar pada Tiara, “Nggak usah di pikirin omongan orang-orang. Pikirin aja, Bos pasti seneng banget tau lo datang ke sini, ayo kita ke ruangannya,” ucap Rama sambil beranjak dari duduknya. Tiara beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti langkah Rama menuju ruang kerja suaminya.

***

Tiara mendapati ekspresi cerah di wajah Aryo ketika ia sampai di ruangannya. Aryo nampak sedikit terkejut dengan kedatangan Tiara yang tiba-tiba ke kantornya tanpa sepengetahuannya.

“Ram, tolong tutup pintunya,” ujar Aryo pada Rama yang hendak berbalik pergi dari sana.

Rama mengacungkan jempolnya sebelum menutup pintu dan berlalu. Sepeninggalan Rama, Tiara meletakkan totebag Gucci-nya di sofa, lalu ia menghampiri Aryo di balik meja kerjanya.

“Kok kamu nggak bilang kalau mau ke sini?” tanya Aryo sambil meraih satu tangan Tiara dan menggenggamnya.

Tiara mengusapkan ibu jarinya di tangan Aryo, “Aku mau ngajak kamu pulang. Liat tuh, mata kamu udah kayak panda. Ada kantung matanya,” tutur Tiara.

“Masa sih? Emang keliatan banget ya?” Aryo mengarahkan satu tangannya yang bebas untuk mengambil kaca dari laci meja. Namun Tiara lebih dulu menahan aksinya. Tiara mengusapkan ibu jarinya di area bawah mata Aryo. Secara otomatis, Aryo memejamkan matanya dan menikmati usapan lembut Tiara yang selalu berhasil membuatnya merasa nyaman.

Detik berikutnya, Aryo membuka matanya perlahan dan sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap Tiara. Tatapannya seolah mengadu pada Tiara, bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

“Ra, aku belum bisa membuat keadaan perusahaan membaik. Kayaknya semua cara udah aku coba, tapi nggak ada yang berhasil,” ucap Aryo, nada suaranya terdengar putus asa.

Selama beberapa detik, Tiara hanya menatap Aryo. Pandangannya begitu teduh. Tiara tidak menatapnya dengan tatapan kasihan yang membuat Aryo semakin merasa kecil. Justru Aryo merasa kalau Tiara begitu menyayanginya, dari cara perempuan itu menatap dan memperlakukannya.

“Aryo, kamu udah ngelakuin yang terbaik. Setiap manusia punya batas kemampuannya, kamu tau itu. Kalau kamu belum berhasil, bukan berarti masalahnya ada di kamu,” tutur Tiara.

Mereka saling bertatapan dan Aryo menghela Tiara untuk duduk di pangkuannya. Aryo memeluk pinggangnya dan meletakkan dagunya di bahu wanitanya.

“Sekarang kamu lagi dikasih kesempatan untuk mencoba cara lain. Ada banyak cara yang masih nunggu kamu buat kamu temukan,” Tiara mengarahkan tangannya untuk mengusap sisi wajah Aryo, “Tuhan tau, seberapa kemampuan umatnya dan nggak akan memberi cobaan di luar kemampuan yang kamu punya. Kamu harus yakini itu, yaa ... ?” ucap Tiara sambil mengusap lengan Aryo yang melingkar di perutnya.

“Ra, kita kayak gini 5 menit aja,” ucap Aryo dan langsung dibalas anggukan oleh Tiara.

“Kamu pegal nggak? Aku berat lho,” ujar Tiara.

“Mau kamu seberat apapun, aku akan jadi kuat buat kamu,” ucap Aryo sambil melesakkan kepalanya di ceruk leher Tiara dan memberikan sebuah kecupan manis di sana. Sentuhan Aryo di permukaan kulitnya selalu terasa sama, lembut dan sehalus kapas. Setiap Aryo melakukannya, jantung Tiara rasanya seperti dihujam oleh ribuan bintang.

“Kamu wangi banget sih, aku suka,” celetuk Aryo.

Sekitar berapa menit setelah posisi mereka tidak berubah, Tiara berujar, “Aryo.”

“Iya, Ra?” Aryo membuka matanya yang tadinya terpejam.

“Kamu boleh ngelakuin sesuatu yang kamu mau,” ungkap Tiara

Aryo tidak terlalu mengerti maksud perkataan Tiara. Bahkan ia tidak kepikiran tentang apa yang sedang ingin ia lakukan. “Maksud kamu ngelakuin apa?” tanya Aryo.

“Mungkin kamu kangen sama benda-benda masa lalu kamu. Kamu boleh, kalau mau melampiaskan perasaan itu lewat apa yang kamu suka. Gimana?” Tiara bergerak dari posisinya, ia memiringkan tubuhnya sedikit agar bisa menghadap Aryo. “Ruang penyimpanan minuman di basement rumah kita, kamu mau ke sana?”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Halo, Sayang. Iya ... hari ini ini aku nggak bisa jemput kamu. Lagi lumayan padat di kantor,” ujar Aryo di telfonnya.

It's oke. Aku bisa minta tolong jemput Egha,” balas Tiara.

Aryo mempersilakan seseorang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk. Kemudian matanya mendapati Rama memasuki ruangannya.

“Oke. Oh iya, kamu udah makan siang?” ujar Aryo lagi. Rama memberikan isyarat pada Aryo bahwa tujuan kedatangannya adalah ingin menyerahkan berkas pekerjaan. Aryo lantas memintanya untuk menunggu ia selesai menelfon.

“Udah kok barusan,” jawab Tiara.

“Kira-kira kamu selesai bimbingan jam berapa?” tanya Aryo.

“Jam 5-an deh kayaknya. Ini lagi nunggu giliran bimbingan.”

“Yaudah, Sayang, aku tutup dulu ya telfonnya. Kamu hati-hati, semangat bimbingannya.”

“Aryo,” ujar Tiara yang membuat Aryo urung mematikan telfonnya.

“Iya?”

I love you.” ucap Tiara. Aryo pun yang mendengar itu seketika terdiam. Rama lantas memerhatikan ekspresi atasannya yang mendadak berubah menjadi secerah matahari di musim panas.

Suddenly?” tanya Aryo beberapa detik setelah ia membeku layaknya sebuah patung.

“Yaa, aku mau bilang aja. Biar kamu inget terus.”

“Hmm ... ya ... ” Aryo bergumam tidak jelas, tapi telfonnya belum juga dimatikan. “I love you more, Sayang. Bye. Aku tutup yaa telfonnya,” ujar Aryo akhirnya.

Okey, bye.”

Sambungan telfon pun diakhiri. Aryo meletakkan ponselnya di atas meja dan beralih pada Rama yang kini menatapnya dengan tatapan heran.

“Di depan istri aja, lo waras. Di kantor kerja udah kayak nggak ada hari esok,” ujar Rama. Setelah mengatakannya, pria itu meletakkan beberapa berkas yang dibawanya di atas meja Aryo.

Aryo lantas mengambil berkas itu. Tatapan matanya begitu serius membaca laporan tentang penjualan sektor pembangunan perumahan. Selain itu terdapat laporan mengenai investasi yang berperan sebagai indikator utama proyek baru yang akan perusahaannya jalankan.

“Sesuai laporan yang lo baca, investasi properti di bulan lalu menyusut sampai 14 persen. Pasar saham dan obligasi menurun minggu lalu, karena investor melihat berita perlambatan properti yang lebih dalam. Lalu untuk proyek baru pengembang kita, anjlok sebanyak 33% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya,” jelas Rama.

“Gimana dari segi pembelian tanah?” tanya Aryo. Ia menutup satu file di tangannya dan membuka file lainnya. Matanya memindai lapora tersebut tapi bersamaan mencerna penjelasan Rama.

“Pembelian tanah kita menyusut dari bulan September. Proyek yang diselesaikan oleh pengembang kita menyusut sebesar 21%. Ini disebabkan karena penurunan harga yang menghalangi pembeli rumah yang khawatir soal nilai aset mereka. Jadi, posisi kita sebagai pengembang, sulit untuk menjual properti dan mendapatkan uang tunai yang sangat kita butuhkan untuk membiayai utang,” terang Rama panjang lebar.

Aryo menutup berkas-berkas itu dan bergerak dari kursinya.

“Lo mau kemana?” tanya Rama yang matanya tidak lepas mengekori pergerakan atasannya itu.

“Gue mau mencoba cara lain. Masih ada cara yang bisa kita lakukan untuk menaikkan penjualan dan membayar utang yang kita punya,” ujar Aryo.

“Gimana caranya?” tanya Rama yang belum dapat membaca isi pikiran Aryo.

Aryo sempat terdiam selama beberapa detik. Kemudian ia mengambil berkas dari dalam lemari. “Kita akan coba untuk memprioritaskan pekerja kita dan mengoptimalkan kesempatan yang ada. Selain sektor perumahan, masih ada sektor lainnya yang bisa kita perjuangkan. Ram, saat ini gue bertanggung jawab untuk perusahaan dan juga keluarga kecil gue. Gue akan mencoba cara apa pun, selama kesempatannya masih ada,” ujar Aryo.

Rama mengangguk dan mengulaskan senyumnya. “Istri lo dan perusahaan ini beruntung banget punya lo, Bro,” ujar Rama sebelum akhirnya mengikuti langkah Aryo keluar dari ruangan.

***

Selesai mengikuti bimbingan untuk skripsinya sekitar pukul 5 sore, Tiara memutuskan untuk tidak langsung pulang. Tiara menguatkan hatinya untuk datang ke kantor suaminya. Di tempat ini, Harapan Jaya Group membangun bisnisnya dari nol sampai sebesar sekarang. Terkadang bayang-bayang masa lalu itu masih kerap menghampirinya dan membuatnya teringat akan orang tua kandungnya.

Sesampainya Tiara lobi, orang-orang yang berpapasan dengannya sontak melihat ke arahnya sekitar 3 detik, lalu mereka berbisik-bisik dan langsung membuang muka.

Tiara mengabaikan hal tersebut dan terus melangkahkan kakinya. Ia menaiki lift menuju lantai 20, dimana tujuan utamanya berada.

“Tiara,” panggil seseorang ketika ia sampai di lantai 20. Tiara mendapati orang yang memanggilnya adalah pria jangkung berstelan jas abu-abu yang merupakan sekretaris suaminya.

“Mau ketemu pak Bos, ya? Ayo gue anterin ke ruangannya,” ujar Rama sambil mengulaskan senyum sopannya.

Tiara mengiyakan dan langsung mengikuti langkah Rama. Sesampainya mereka di depan ruangan dengan pintu berpelitur coklat keemasan itu, Rama mengatakan supaya Tiara menunggu lebih dulu, karena di ruangan Aryo sedang ada tamu. Akhirnya keduanya duduk di sofa yang tidak jauh dari sana.

“Pak Bos mah warasnya di depan lo doang. Di belakang lo nih ya, dia kerja udah kayak orang gila,” ujar Rama.

Tiara yang penasaran pun meminta Rama menceritakan soal Aryo selama suaminya berada di kantor. Apa yang ia dengar dari sekretaris suaminya, membuat Tiara sedikit terkejut. Rama mengatakan kalau Aryo tidak pernah menunjukkan kelemahannya di hadapan siapa pun, bahkan di depan papa dan mamanya. Padahal Rama tahu Aryo sedang sangat kalut karena masalah perusahaan.

Tidak lama kemudian, terlihat dua wanita keluar dari ruangan Aryo dan melewati mereka. Tiara mau tidak mau mendengar pembicaraan keduanya.

“Kayaknya itu istrinya pak Presdir,” ujar seorang perempuan pada temannya.

“Udah baca beritanya? Kasus itu yang buat perusahaan anjlok,” ujar perempuan satunya.

Setelah dua orang itu berlalu, Rama berujar pada Tiara, “Nggak usah di pikirin omongan orang-orang. Pikirin aja, Bos pasti seneng banget tau lo datang ke sini, ayo kita ke ruangannya,” ucap Rama sambil beranjak dari duduknya. Tiara beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti langkah Rama menuju ruang kerja suaminya.

***

Tiara mendapati ekspresi cerah di wajah Aryo ketika ia sampai di ruangannya. Aryo nampak sedikit terkejut dengan kedatangan Tiara yang tiba-tiba ke kantornya tanpa sepengetahuannya.

“Ram, tolong tutup pintunya,” ujar Aryo pada Rama yang hendak berbalik pergi dari sana.

Rama mengacungkan jempolnya sebelum menutup pintu dan berlalu. Sepeninggalan Rama, Tiara meletakkan totebag Gucci-nya di sofa, lalu ia menghampiri Aryo di balik meja kerjanya.

“Kok kamu nggak bilang kalau mau ke sini?” tanya Aryo sambil meraih satu tangan Tiara dan menggenggamnya.

Tiara mengusapkan ibu jarinya di tangan Aryo, “Aku mau ngajak kamu pulang. Liat tuh, mata kamu udah kayak panda. Ada kantung matanya,” tutur Tiara.

“Masa sih? Emang keliatan banget ya?” Aryo mengarahkan satu tangannya yang bebas untuk mengambil kaca dari laci meja. Namun Tiara lebih dulu menahan aksinya. Tiara mengusapkan ibu jarinya di area bawah mata Aryo. Secara otomatis, Aryo memejamkan matanya dan menikmati usapan lembut Tiara yang selalu berhasil membuatnya merasa nyaman.

Detik berikutnya, Aryo membuka matanya perlahan dan sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap Tiara. Tatapannya seolah mengadu pada Tiara, bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

“Ra, aku belum bisa membuat keadaan perusahaan membaik. Kayaknya semua cara udah aku coba, tapi nggak ada yang berhasil,” ucap Aryo, nada suaranya terdengar putus asa.

Selama beberapa detik, Tiara hanya menatap Aryo. Pandangannya begitu teduh. Tiara tidak menatapnya dengan tatapan kasihan yang membuat Aryo semakin merasa kecil. Justru Aryo merasa kalau Tiara begitu menyayanginya, dari cara perempuan itu menatap dan memperlakukannya.

“Aryo, kamu udah ngelakuin yang terbaik. Setiap manusia punya batas kemampuannya, kamu tau itu. Kalau kamu belum berhasil, bukan berarti masalahnya ada di kamu,” tutur Tiara.

Mereka saling bertatapan dan Aryo menghela Tiara untuk duduk di pangkuannya. Lengan Aryo memeluk pinggangnya dan pria itu meletakkan dagunya di bahu wanitanya.

“Sekarang kamu lagi dikasih kesempatan untuk mencoba cara lain. Ada banyak cara yang masih nunggu kamu buat kamu temukan,” Tiara mengarahkan tangannya untuk mengusap sisi wajah Aryo, “Tuhan tau, seberapa kemampuan umatnya dan nggak akan memberi cobaan di luar kemampuan yang kamu punya. Kamu harus yakini itu, yaa ... ?” ucap Tiara sambil mengusap lengan Aryo yang melingkar di perutnya.

“Ra, kita kayak gini 5 menit dulu, oke?” ucap Aryo dan langsung dibalas anggukan oleh Tiara.

“Emang kamu nggak pegel kayak gini terus? Aku kan berat,” ujar Tiara.

“Mau kamu seberat apapun, aku akan jadi kuat buat kamu,” ucap Aryo sambil melesakkan kepalanya di ceruk leher Tiara, lalu ia memberikan sebuah kecupan manis di sana. Sentuhan Aryo di permukaan kulitnya selalu sama, terasa lembut dan sehalus kapas. Setiap Aryo melakukannya, jantung Tiara rasanya seperti dihujam oleh ribuan bintang.

“Kamu wangi banget sih, aku suka,” celetuk Aryo.

Sekitar berapa menit setelah posisi mereka tidak berubah, Tiara berujar, “Aryo.”

“Iya, Ra?” Aryo membuka matanya yang tadinya menutup.

“Kamu boleh ngelakuin sesuatu yang kamu mau,” ungkap Tiara

Aryo tidak terlalu mengerti maksud perkataan Tiara. Bahkan ia tidak kepikiran tentang apa yang sedang ingin ia lakukan. “Maksud kamu ngelakuin apa?” tanya Aryo.

“Mungkin kamu kangen sama benda-benda masa lalu kamu. Kamu boleh, kalau mau melampiaskan perasaan itu lewat apa yang kamu suka. Gimana?” Tiara bergerak dari posisinya, ia memiringkan tubuhnya sedikit agar bisa menghadap Aryo. “Ruang penyimpanan minuman di basement rumah kita, kamu mau ke sana?”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷