alyadara

“Halo Tante,” ucap Rafael sambil tersenyum ramah dan sopan. Lelaki itu mengulurkan tangan pada Feli yang langsung disambut ramah oleh mama mertuanya.

“Tante cantik banget, mirip sama Tiara,” tambah Rafael saat menatap wanita paruh baya di hadapannya yang sangat cantik dan anggun itu.

Tiara bergantian menatap Rafael kemudian menatap mertuanya. Feli hanya menanggapi ucapan temannya dengan senyuman manis.

“Mah, Tiara sama Rafael mau ngerjain tugas kelompok. Sama Vania juga, nanti nyusul ke sini,” ujar Tiara.

“Iya, tadi Mama udah minta tolong sama Icha buat siapin ruang belajarnya. Kalian kerjain tugasnya di sana ya,” tutur Feli. Lantas Tiara berpamitan dengan Feli untuk berlalu dan Rafael mengekori langkahnya di belakang.

***

Tiara melirik jam di ruang belajar. Sekarang menunjukkan pukul 9 tepat.

“Akhirnya selesai, oh my god. Lelah banget gue,” celetuk Vania. “Nih ya guys, udah selesai power point kita. Proposalnya ada di Tiara, video di lo Rafael, tinggal lo edit sama tambahin subtitle jangan lupa,” ujar Vania.

“Proposalnya nanti sekalian gue yang print sama jilid cover tebel ya,” ujar Tiara dan teman-temannya mengangguki.

“Ra, lo balik apa nginep di sini?” tanya Vania sembari memasukkan laptopnya ke tas.

“Gue nginep di sini. Soalnya suami gue mau nginep di kantornya,” ujar Tiara.

“Lho, kasian dong, nggak bisa bucin,” ujar Vania sambil senyum-senyum malu.

“Rumah ini bukan rumah lo Ra?” Seketika Rafael kebingungan.

“Ini rumah mertua gue, Ra,” ujar Tiara.

“Jadi ibu cantik tadi bukan nyokap lo?”

“Bukan, beliau mama mertua gue.  Lo pada mau balik sekarang? Kalau iya, ayo gue anter ke bawah,” ucap Tiara sembari mematikan laptop miliknya.

Mereka pun turun ke lantai satu dan Tiara mengantar teman-temannya sampai ke area teras.

“Suami lo nggak nyariin lo emang Ra? Tumben banget nggak ngebucin,” ucap Vania dengan nada bercanda.

“Suami gue lembur, jadi gue emang disuruh ke rumah mertua gue pulang bimbingan tadi,” terang Tiara dan teman perempuannya itu cuma ngangguk-ngangguk.

Ditengah-tengah suasana itu, terlihat sebuah BMW putih memasuki pekarangan rumah. Tiara seketika mengernyit heran, karena ia tahu mobil uang baru sana terparkir sempurna itu adalah milik suaminya.

Benar saja itu suaminya. Mata Tiara menangkap Aryo yang baru saja turun dari mobil. Aryo menghampirinya lalu menyapa Vania dan juga Rafael. Begitu tangan Aryo menjabat Rafael, Tiara memerhatikan suaminya itu menahan tangannya tiga detik baru melepaskannya.

“Udah selesai kerja kelompoknya?” tanya Aryo sambil natap Tiara dan teman-temannya bergantian.

“Baru aja selesai. Ini kita mau pulang. Raf, lo anterin gue pulang, kan?” ucap Vania lalu ia melirik Rafael.

Rafael yang tadi melihat Tiara dan Aryo pun buyar karena ucapan Vania. “Oke,” hanya itu yang terucap dari bibir Rafael.

Sebelum pergi dari sana, Vania pamitan sama Tiara dan juga Aryo. Notabenenya Vania yang masih sedikit kaget karena ini pertama kali ia bertemu sosok suami sahabatnya, buru-buru menggeret Rafael pergi dari sana.

“Lo kenapa deh Van? Aneh banget,” celetuk Rafael ketika ia dan Vania berjalan ke tempat dimana mobilnya terparkir.

“Baru pertama kali gue liat suaminya Tiara. Puji Tuhan, sahabat gue punya suami ganteng banget,” cerocos Vania dan Rafael perhatiin temannya itu senyum-senyum nggak jelas.

“Yaelah, lebay lo,” balas Rafael.

“Yee. Lagian lo kenapa sih? Lo kayak bete gitu.”

Kini keduanya sudah berada di dalam mobil milik Rafael, tapi pria itu belum juga menyalakan Xpander hitamnya.

“Gue udah bilang sama Tiara, gue mutusin buat mundur ngejar dia,” aku Rafael.

Vania pun terdiam sesaat begitu mendengarnya. Perempuan itu nampak terkejut lalu ia berujar, “Lo selama ini crush-in Tiara?” Vania menahan tawanya keluar, takut membuat perasaan Rafael tambah tak karuan.

Rafael kemudian mengangguk pelan. “Tadi Tiara bilang kan, kalau dia mau nginep di rumah mertuanya karena suaminya pulang malem dan nggak bisa jemput.”

“Yaa ... terus?”

“Tapi tiba-tiba suaminya dateng dan mungkin mau jemput Tiara. Dan lo liat tadi sebahagia apa ekspresi Tiara?”

Vania menyadarinya. Itu benar juga sih. “Lo pinter banget dah Raf. Nggak nyesel gue sekelompok sama lo.”

“Omongan lo ngalor ngidul ya, Van. Tiba-tiba bahas kelompok,” Rafael tertawa sekilas.

“Yaelah, niat gue baik kali. Biar lo nggak mellow mellow amat. Lagian nih ya, lo crush-in cewek yang jelas-jelas udah jadi bini orang. Lo ada-ada aja sih,” ujar Vania dengan nada becandanya.

“Gue suka sama Tiara udah lama. Tapi kayaknya emang bukan jodoh. Gue akan relain perasaan gue buat Tiara, dia udah bahagia sama suaminya. Gue sadar, kalau perasaan yang kita punya nggak selamanya harus berbalas dan memiliki,” ucap Rafael.

“Keren banget lo bisa ikhlas gini, Raf. Gue salut sih,” ujar Vania. Lantas Vania menepuk pundak Rafael sekilas, “Udah, lo nggak usah galau. Suatu hari lo bakal nemuin cewek yang sayang sama lo kok. Kayak Tiara yang bucin banget ke suaminya. Lo tenang aja, ada saatnya kok nanti buat lo,” tutur Vania.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Halo Tante,” ucap Rafael sambil tersenyum ramah dan sopan. Lelaki itu mengulurkan tangan pada Feli yang langsung disambut ramah oleh mama mertuanya.

“Tante cantik banget, mirip sama Tiara,” tambah Rafael saat menatap wanita paruh baya di hadapannya yang sangat cantik dan anggun itu.

Tiara bergantian menatap Rafael kemudian menatap mertuanya. Feli hanya menanggapi ucapan temannya dengan senyuman manis.

“Mah, Tiara sama Rafael mau ngerjain tugas kelompok. Sama Vania juga, nanti nyusul ke sini,” ujar Tiara.

“Iya, tadi Mama udah minta tolong sama Icha buat siapin ruang belajarnya. Kalian kerjain tugasnya di sana ya,” tutur Feli. Lantas Tiara berpamitan dengan Feli untuk berlalu dan Rafael mengekori langkahnya di belakang.

***

Tiara melirik jam di ruang belajar. Sekarang menunjukkan pukul 9 tepat.

“Akhirnya selesai, oh my god. Lelah banget gue,” celetuk Vania. “Nih ya guys, udah selesai power point kita. Proposalnya ada di Tiara, video di lo Rafael, tinggal lo edit sama tambahin subtitle jangan lupa,” ujar Vania.

“Proposalnya nanti sekalian gue yang print sama jilid cover tebel ya,” ujar Tiara dan teman-temannya mengangguki.

“Ra, lo balik apa nginep di sini?” tanya Vania sembari memasukkan laptopnya ke tas.

“Gue nginep di sini. Soalnya suami gue mau nginep di kantornya,” ujar Tiara.

“Lho, kasian dong, nggak bisa bucin,” ujar Vania sambil senyum-senyum malu.

“Rumah ini bukan rumah lo Ra?” Seketika Rafael kebingungan.

“Ini rumah mertua gue, Ra,” ujar Tiara.

“Jadi ibu cantik tadi bukan nyokap lo?”

“Bukan, beliau mama mertua gue.  Lo pada mau balik sekarang? Kalau iya, ayo gue anter ke bawah,” ucap Tiara sembari mematikan laptop miliknya.

Mereka pun turun ke lantai satu dan Tiara mengantar teman-temannya sampai ke area teras.

“Suami lo nggak nyariin lo emang Ra? Tumben banget nggak ngebucin,” ucap Vania dengan nada bercanda.

“Suami gue lembur, jadi gue emang disuruh ke rumah mertua gue pulang bimbingan tadi,” terang Tiara dan teman perempuannya itu cuma ngangguk-ngangguk.

Ditengah-tengah suasana itu, terlihat sebuah BMW putih memasuki pekarangan rumah. Tiara seketika mengernyit heran, karena ia tahu mobil uang baru sana terparkir sempurna itu adalah milik suaminya.

Benar saja itu suaminya. Mata Tiara menangkap Aryo yang baru saja turun dari mobil. Aryo menghampirinya lalu menyapa Vania dan juga Rafael. Begitu tangan Aryo menjabat Rafael, Tiara memerhatikan suaminya itu menahan tangannya tiga detik baru melepaskannya.

“Udah selesai kerja kelompoknya?” tanya Aryo sambil natap Tiara dan teman-temannya bergantian.

“Baru aja selesai. Ini kita mau pulang. Raf, lo anterin gue pulang, kan?” ucap Vania lalu ia melirik Rafael.

Rafael yang tadi melihat Tiara dan Aryo pun buyar karena ucapan Vania. “Oke,” hanya itu yang terucap dari bibir Rafael.

Sebelum pergi dari sana, Vania pamitan sama Tiara dan juga Aryo. Notabenenya Vania yang masih sedikit kaget karena ini pertama kali ia bertemu sosok suami sahabatnya, buru-buru menggeret Rafael pergi dari sana.

“Lo kenapa deh Van? Aneh banget,” celetuk Rafael ketika ia dan Vania berjalan ke tempat dimana mobilnya terparkir.

“Baru pertama kali gue liat suaminya Tiara. Puji Tuhan, sahabat gue punya suami ganteng banget,” cerocos Vania dan Rafael perhatiin temannya itu senyum-senyum nggak jelas.

“Yaelah, lebay lo,” balas Rafael.

“Yee. Lagian lo kenapa sih? Lo kayak bete gitu.”

Kini keduanya sudah berada di dalam mobil milik Rafael, tapi pria itu belum juga menyalakan X-pander hitamnya.

“Gue udah bilang sama Tiara, gue mutusin buat mundur ngejar dia,” aku Rafael.

Vania pun terdiam sesaat begitu mendengarnya. Perempuan itu nampak terkejut lalu ia berujar, “Lo selama ini crush-in Tiara?” Vania menahan tawanya keluar, takut membuat perasaan Rafael tambah tak karuan.

Rafael kemudian mengangguk pelan. “Tadi Tiara bilang kan, kalau dia mau nginep di rumah mertuanya karena suaminya pulang malem dan nggak bisa jemput.”

“Yaa ... terus?”

“Tapi tiba-tiba suaminya dateng dan mungkin mau jemput Tiara. Dan lo liat tadi sebahagia apa ekspresi Tiara?”

Vania menyadarinya. Itu benar juga sih. “Lo pinter banget dah Raf. Nggak nyesel gue sekelompok sama lo.”

“Omongan lo ngalor ngidul ya, Van. Tiba-tiba bahas kelompok,” Rafael tertawa sekilas.

“Yaelah, niat gue baik kali. Biar lo nggak mellow mellow amat. Lagian nih ya, lo crush-in cewek yang jelas-jelas udah jadi bini orang. Lo ada-ada aja sih,” ujar Vania dengan nada becandanya.

“Gue suka sama Tiara udah lama. Tapi kayaknya emang bukan jodoh. Gue akan relain perasaan gue buat Tiara, dia udah bahagia sama suaminya. Gue sadar, kalau perasaan yang kita punya nggak selamanya harus berbalas dan harus memiliki,” ucap Rafael.

“Keren banget lo bisa ikhlas gini, Raf. Gue salut sih,” ujar Vania. Lantas Vania menepuk pundak Rafael sekilas, “Udah, lo nggak usah galau. Suatu hari lo bakal nemuin cewek yang sayang sama lo kok. Kayak Tiara yang bucin banget sama suaminya. Tenang Brodi, ada saatnya kok nanti buat lo,” tutur Vania panjang lebar.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Semenjak Tiara hamil, Feli dan Alifia jadi sering berkunjung ke rumah untuk sekedar menemani Tiara. Terlebih saat Aryo bekerja dan baru pulang jam 9 atau 10 malam. Padahal Tiara mengatakan tidak masalah ia di rumah sendiri, toh Aryo jg sudah menambah tingkat keamanan di area rumah mereka.

Feli kerap mengingatkan putra sematawayangnya agar tidak terlalu sibuk bekerja. Mertuanya itu mengancam akan membawa Tiara menginap dirumahnya agar ia bisa menjaga dan memantau kondisi Tiara, karena kondisi kandungannya cukup rentan. Dengan ancaman begitu, biasanya Aryo akan pulang lebih cpt dari biasanya untuk memastikan mamanya tidak menculik istrinya.

Dari pantauan layar cctv lantai dua, Tiara melihat sebuah mobil memasuki basement. Setahu Tiara, tadi Aryo berangkat ke kantor membawa sport porsche baru yg langsung jadi kesayangannya. Namun yang Tiara dapati adalah sebuah BMW putih yang baru saja terparkir di sana.

Jadi Tiara pikir itu bukan suaminya. Tapi siapa juga yang bisa parkir di basement utama. Tempat parkir itu khusus untuk Aryo dan Tiara menebak, bahwa suaminya itu membawa mobil sesuai dengan moodnya.

Sementara di lantai satu, Aryo menyalami tangan Feli dan Alifia 1 begitu ia melenggang masuk. Tadi siang Aryo dapat kabar dari Feli  kalau mamanya dan mertuanya ingin menginap. Katanya sih kangen anak dan calon cucu.

“Tiara udah tidur Bun?” tanya Aryo pada Alifia.

“Belum kayaknya. Katanya mau nungguin kamu pulang,” ucap Alifia.

Aryo tersenyum bahagia. Ya dia senang di tungguin pulang. Istrinya itu menggemaskan sekali, batinnya.

Tidak lama kemudian, topik yang jadi perbincangan ketiga orang itu muncul. Tiara dengan piyama ungu pastelnya dan raut wajahnya yang sudah mengantuk itu menghampiri Aryo dan kedua orang tuanya.

“Mama sama Bunda ngira kamu udah tidur. Maaf yaa, aku malam lagi pulangnya.” Aryo mengusap puncak kepala istrinya ketika tiara menyalami tangannya dan mencium punggung tangannya.

“Kamu kalau udah ngantuk tidur aja duluan, nggak usah tungguin aku nggak papa,” ujar Aryo. Padahal mah dia lagi berbunga-bunga karena hal sesepele Tiara menunggunya pulang.

“Aku nggak bisa tidur, Aryo,” ucap Tiara.

“Kenapa? Bawaan adik bayi yaa?” tanya Aryo sambil mengusap kepala Tiara.

Tiara menggeleng. “Kayaknya bukan. Aku juga udah nggak morning sickness lagi sejak kemarin. Adik bayinya pengertian.”

“Terus karena apa?”

“Karena bapaknya,” ucap Tiara sembaru mengedikkam kedua bahunya.

“Emang aku buat salah ya, Sayang?”

“Lho, aku lupa kalau buat salah, Sayang. Kasih tau aku salah dimana.” Aryo masih memburu alasan kenapa ia yang jadi andil Tiara tidak bisa tidur.

Aryo tidak ingat apapun. Demi tuhan dan seluruh koleksi mobil mewahnya.

“Kalau kamu mau makan tinggal angetin lauk di meja pakai microwave. Aku tidur duluan ya,” ucap Tiara sebelum ia melangkah berlalu. Tiara meninggalkan Aryo di sana setelah ia berpamifan untuk ke kamar pada Feli dan Alifia.

“Mama, Bunda. Aryo beneran nggak tau salah Aryo apa. Tiara ngambek ya sama Aryo?” ujar Aryo dengan tampang bingungnya.

“Kamu tanyain baik-baik. Di bujuk, di manja-manja coba. Dulu pas Mama hamil juga gitu, lumayan sering mood swing. Reaksi kamu sama papamu sama lho. Kalian laki-laki emang kadang kurang peka ya,” ujar Feli panjang lebar.

“Oke. Kalau gitu Aryo susulin Tiara dulu deh, Mah, Bunda. Aryo naik ke lantai dua dulu ya,” ucap Aryo pada mama dan bunda. Melihat kelakuan Aryo dan Tiara membuat Feli dan Alifia seketika maklum dan ingat masa muda mereka.

“Maklum yaa Jeng, anak muda. Dulu kita juga pernah gitu,” celetuk Alifia.

“Iya, sama persis. Sehari juga baikan nanti mereka, keliatan nggak bisa saling jauh gitu ya Jeng,” ujar Feli sambil menyunggingkan senyumnya.

***

Mood Tiara menjadi tidak menentu semenjak hamil. Itu yang ia rasakan. Biasanya Aryo akan meluluhkan hatinya kalau Tiara sedang mood swing seperti sekarang. Tapi ternyata tidak ada yang terjadi. Semalam ketika Aryo selesai mandi dan menyusulnya ke ranjang, Tiara sudah tertidur pilas. Paginya Aryo sudah berangkat ke kantor disaat Tiara masih tidur. Tiara bangun kesiangan karena tidurnya nyenyak sekali. Pola tidurnya juga berubah sejak ia hamil. Kadang Tiara susah tidur, atau tiba-tiba jam tidurnya menjadi lebih lama dari ukuran normal.

Siang ini Tiara harus ke kampus karena ada jadwal bimbungan skripsi. Dimulai dari jam 11 sampai jam 3 sore. Tiara sedang menunggu gilirannya untuk bimbingan bersama miss Jessica. Kebetulan sekali ia belum makan siang dan ia harus segera membeli makanan di kantin, sebelum giliran bimbingannya. Sekarang bukan hanya dirinya yang butuh makan, tapi bayinya juga. Jadi ayoo cari makanan yang enak, huhh perutnya sudah keroncongan sekali rasanya.

“Ra lo mau kemana?” tanya Risya ketika melihat Tiara mengambil dompet di tasnya.

“Gue mau ke kantin, beli makanan,” ujar Tiara.

“Eh rame banget lho kantin.Tadinya gue juga mau kesana tapi mager banget.”

Jam makan siang ini tentunya kantin rame sekali. Namun Tiara tetap hadus makan dan kalau pesan gofood kelamaan pasti.

“Ohiyaa Ra lo harus makan ya. Lo mau gue temenin ke kantin? Jangan sampe anak lo kelaperan Ra.” Risya sudah tau soal kehamilannya. Akhirnya temannya itu memutuskan menemani Tiara ke kantin.

Waktu mereka sampi di kangin, salah satu teman lelaki yang sekelasnya, memberi tahu bahwa beberapa saat lalu ada yang mencari Tiara.

“Tadi Akmal nitip ini ke gue, katanga buat lo,” ujar Rafael sambil menyerahkan plastik makanan yanh dibungkus styrofoam ke tangan Tiara.

“Makan yang kenyang ya, Tiara.” Rafael tersenyum padanya kemudian iseng mengusap kepala Tiara dan mengacak ngacak rambutnya. Setelah itu Rafael langsung ngacir pergi bersama teman-temannya dari kls lain yang kemudian juga melihat ke arah Tiara sambil tersenyum.

***

Tiara sudah selesai bimbingan sekitar jam 2. Namun ia masih harus menunggu Risya dan Cici yang sedang konsul tugas sama Miss Jessica. Rencananya mereka mau beli kopi dulu di coffe shop yang baru buka di fakultas ekonomi.

Tiara melihat Rafael di koridor lantai 4. Pria itu tengah berjalan dan terlihat menuju kearahnya.

“Tiara,” sapanya ketika sampai di depan Tiara.

“Kenapa?”

“Gue anter balik yuk. Ohiya kita ada tugas kelompok yang buat tugas akhir itu, kan? Lo, gue, sama Vania. Sekalian aja gimana?” ujar Rafael.

“Tapi gue mau pergi sama Risya Cici. Nggak papa Raf, gausah. Kerja kelompoknya kan bisa besok, masih lama kok di kumpulinnya,” ucap Tiara.

“Tiara, lo tahu kan gue suka sama lo,” ujar Rafael blak-blakan.

“Iya, gue tau,” balas Tiara. Dia memang tahu kok Rafael menyukainya. Perlakuan Rafael padanya menunjukkan bahwa cowok itu memang mengincar Tiara menjadi pacarnya.

“Rafael, gue udah nikah dan sebentar lagi gue punya anak,” ucap Tiara. Kalimat Tiara itu rasanya bagai petir di siang bolong buat Rafael. Ya, Rafael tahu Tiara sudah menikah. Namun penolakan seperti ini langsung dari Tiara membuat matanya dibuka lebar-lebar.

“Rafael, maaf. Waktu lo pernah nembak gue, gue udah menolak lo secara halus. Tapi lo sendiri yang bersikeras sampai sekarang,” sambung Tiara.

“Oke. Gue akan mundur Ra,” ucap Rafael yang seketika membuat Tiara membelalak. “Gue nggak akan ngejar-ngejar lo lagi.”

“Lo bakal ketemu cewek yang lebih baik dari gue, Raf,” tutur Tiara.

“Tapi gue nggak tau, gue bakal suka sama dia sesuka gue sama lo apa engga.” Rafael tertawa hambar.

Acara dengan Risya dan Cici pun jadi batal. Tiara memutuskan pergi sama Rafael ke rumahnya dan Vania akan menyusul mereka untuk mengerjakan tugas kelompok.

“Kena mental pasti tuh anak. Lagian kenapa nekat suka sama orang yang jelas-jelas udah ada pawangnya sih,” ujar Risya setelah Tiara pamit padanya dan Cici untuk pulang lebih dulu bersama Rafael.

“Namanya juga perasaan, Sya, mana bisa diatur. Manusia nggak bisa milih mau jatuh cinta sama siapa, kan?” ucap Cici.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan itu sudah cukup lama. Itu adalah saat dirinya bertemu lagi dengan Tiara. Malam ini, justru Tiara lah yang membiarkannya menyentuh kembali benda-benda yang pernah dari masa lalunya.

Di basement rumahnya, Aryo menuju ke salah satu ruangan yang cukup besar. Ia membuka pintunya dengan menekan 4 buah kode angka.

Aryo memasuki ruangan itu dan matanya langsung di suguhkan pemandangan botol-botol minuman yang disusun apik di dalam lemari bersekat. Benda-benda yang ia simpan apik layaknya koleksi dan dulu begitu ia gemari.

Ruang Penyimpanan Minuman Aryo

Aryo menyapukan pandangannya dan ketika menangkap salah satu minuman yang ia ingat memiliki harga fantastis itu, ia segera mengambilnya. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang dikemas dengan botol keemasan yang berukuran cukup besar. Bahkan tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo membawa minuman senilai 14M itu menuju meja bar yang terletak di sudut area basement. Di sana Tiara sudah mengambilkan sebuah gelas sloki untuknya.

“Mau aku tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure,” ujar Aryo mempersilakan Tiara. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya.

“Ra, aku nggak mau ngevape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo.

Tiara pun mengangguk setuju. Gelas sloki yang telah ia isi dengan minuman berwarna kuning itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo. Mereka duduk berhadapan di batasi sebuah meja bar melingkar.

Bar Table

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku lalu ia mengambil gelas sloki di hadapannya. Ini kali pertama ia minum di hadapan Tiara, padahal ia telah berjanji pada dirinya untuk meninggalkan masa lalu yang kurang baik.

Aryo menatap Tiara sejenak sebelum akhirnya meneguk vodkanya. Aryo hanya meneguk satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik tidak ada tanda-tanda Aryo kembali meneguk minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo bertopang di atas meja, lalu ia menjauhkan gelas sloki itu dari hadapannya.

Tidak lama kemudian, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke kursinya.

“Kadang aku masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua itu cuma keinginan sesaat. Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun,” ujar Aryo sambil menatap Tiara. Tiara balas menatapnya dengan tatapan bahagia bercampur terharu, dimatanya nampak kilatan air mata yang siap tumpah.

“Aku menolak itu dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Tapi delapan puluh persennya, ada campur tangan kamu. Aku mau bisa terus ada di samping kamu dan selalu bisa ngelindungin kamu. Jadi aku nggak boleh turn back ke hal-hal itu. Itu nggak sehat buat kesehatanku sendiri, buat kamu, dan calon anak kita. Ra, aku mau berusaha buat jadi yang lebih baik untuk keluarga kecil kita,” tutur Aryo.

Aryo mengatakan bahwa dirinya pernah memiliki trust issue. Apa yang orang lihat di lur adalah Aryo yang hebat, karirnya sukses, dan dikagumi wanita. Namun yang kebanyakan orang tidak tahu, di dalamnya Aryo juga memiliki sisi terapuhnya. Sejak kecil ia dididik dan mendapat tuntutan untuk selalu jadi nomor satu, karena dirinya dibesarkan di keluarga pebisnis. Untuk menjadi pewaris, banyak rintangan yang harus Aryo lalui. Dukanya banyak, dan ia sudah jatuh berkali-kali.

Beberapa hari belakangan, Aryo kembali merasa begitu jatuh, tapi ia memang tidak menunjukkan itu di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, ketika perempuan itu datang padanya, Aryo dapat menunjukkan sisi tergelapnya. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berhadapan dengan Aryo. Ia menatap sosok pria yang dicintainya itu dengan tatapan lembutnya.

“Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan jadi lebih baik. Sebagai istri kamu, aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham maksud kalimat terakhir Tiara.

“Aku mau biarin kamu untuk coba benda-benda ini lagi. Aku yakin kamu akan tahu sampai mana batasnya. Kenyataannya kamu yang memutuskan sendiri, kalau kamu nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya lalu ia tertawa. Detik berikutnya, Aryo menyunggingkan senyum tipisnya dan kini Tiara yang justru menjadi sedikit panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakannya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Apa?”

“Kok kamu keliatan gugup gitu?” Aryo menyipitkan matanya dan menatap Tiara intens.

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu.”

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo dengan seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Kemudian Aryo meletakkan kedua lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, hingga Tiara tidak punya ruang untuk lolos.

Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sebentar. Tiara tidak kepikiran apa yang akan Aryo lakukan, katanya sih cuma sebentar. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi gugup. Saat Aryo kembali, Tiara menangkap sepasang mata sayu Aryo tengah menatapnya.

Aryo menghela pinggangnya agar Tiara mendekat padanya. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo mengusap lembut di area sekitar leher Tiara. Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau Tiara menyemburkan tawanya yang terdengar agak tertahan itu.

Tiara pun mengangguk dan senyum kecil terbit di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai menyesap bibir Tiara. Tangan Aryo masih setia di lehernya, mengisyaratkan pada Tiara untuk tetap berada di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat hingga tidak ada lagi jarak diantara keduanya.

Aryo dan Tiara Kissing

Napas keduanya saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah mereka. Saat bibir Aryo dan Tiara menjauh sesaat, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata mint,” bisik Tiara di dekat Aryo.

I already cleaned it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Tapi aku penasaran deh sama rasanya,” ujar Tiara sambil menyipitkan matanya.

Should I bring vodka to you?” tanya Aryo.

What do you mean?”

“Kamu mau rasain vodka, right? Tapi dokter bilang kamu nggak boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil. How about I show you to get the taste without you actually drinking it?”

Tiara tidak tahu kini sudah semerah apa wajahnya saat ia memahami maksud perkataan Aryo. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala dan seluruh permukaan kulitnya terasa menghangat. Setelah mengalihkan tatapannya dari Aryo karena perasaan gugupnya, kini Tiara kembali menatap lelakinya. “I'm pretty curious about that. You can show me how then.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan itu sudah cukup lama. Itu adalah saat dirinya bertemu kembali dengan Tiara. Malam ini Tiara lah yang justru membiarkannya menyentuh lagi benda-benda dari masa lalunya. Padahal Aryo telah mencoba untuk tidak kembali, demi dirinya dan keluarga kecilnya.

Di basement rumahnya, Aryo menuju ke salah satu ruangan yang cukup besar. Ia membuka pintunya dengan menekan 4 buah kode angka.

Aryo memasuki ruangan itu dan matanya langsung di suguhkan pemandangan botol-botol minuman yang disusun apik di dalam lemari bersekat. Benda-benda yang ia simpan apik layaknya koleksi dan dulu begitu ia gemari.

Ruang Penyimpanan Minuman Aryo

Aryo menyapukan pandangannya dan ketika menangkap salah satu minuman yang ia ingat memiliki harga fantastis itu, ia segera mengambilnya. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang dikemas dengan botol keemasan yang berukuran cukup besar. Bahkan tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo membawa minuman senilai 14M itu menuju meja bar yang terletak di sudut area basement. Di sana Tiara sudah mengambilkan sebuah gelas sloki untuknya.

“Mau aku tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure,” ujar Aryo mempersilakan Tiara. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya.

“Ra, aku nggak mau ngevape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo.

Tiara pun mengangguk setuju. Gelas sloki yang telah ia isi dengan minuman berwarna kuning itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo. Mereka duduk berhadapan di batasi sebuah meja bar melingkar.

Bar Table

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku lalu ia mengambil gelas sloki di hadapannya. Ini kali pertama ia minum di hadapan Tiara, padahal ia telah berjanji pada dirinya untuk meninggalkan masa lalu yang kurang baik.

Aryo menatap Tiara sejenak sebelum akhirnya meneguk vodkanya. Aryo hanya meneguk satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik tidak ada tanda-tanda Aryo kembali meneguk minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo bertopang di atas meja, lalu ia menjauhkan gelas sloki itu dari hadapannya.

Tidak lama kemudian, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke kursinya.

“Kadang aku masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua ini cuma keinginan sesaat. Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun. Aku nahan itu dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Tapi delapan puluh persennya ada campur tangan kamu. Aku mau jadi lebih baik untuk kamu, dan juga calon anak kita,” ujar Aryo sambil menatap Tiara. Tiara balas menatapnya dengan tatapan bahagia bercampur terharu, dimatanya nampak kilatan air mata yang siap tumpah.

Aryo mengatakan bahwa dirinya sempat merasa begitu jatuh, tapi ia memang tidak menunjukkan itu di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, ketika perempuan itu datang padanya, Aryo dapat menunjukkan sisi tergelapnya. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berhadapan dengan Aryo. Ia menatap lembut sosok pria yang dicintainya itu.

“Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan jadi lebih baik. Sebagai istri kamu, aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham maksud kalimat terakhir Tiara.

“Aku mau biarin kamu untuk coba benda-benda ini lagi. Aku yakin kamu akan tahu sampai mana batasnya. Kenyataannya kamu yang memutuskan sendiri, kalau kamu nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya lalu ia tertawa. Detik berikutnya, Aryo menyunggingkan senyum tipisnya dan kini Tiara yang justru menjadi sedikit panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakannya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Apa?”

“Kok kamu keliatan gugup gitu?” Aryo menyipitkan matanya dan menatap Tiara intens.

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu.”

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo dengan seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Kemudian Aryo meletakkan kedua lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, hingga Tiara tidak punya ruang untuk lolos.

Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sebentar. Tiara tidak kepikiran apa yang akan Aryo lakukan, katanya sih cuma sebentar. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi gugup. Saat Aryo kembali, Tiara menangkap sepasang mata sayu Aryo tengah menatapnya.

Aryo menghela pinggangnya agar Tiara mendekat padanya. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo mengusap lembut di area sekitar leher Tiara. Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau Tiara menyemburkan tawanya yang terdengar agak tertahan itu.

Tiara pun mengangguk dan senyum kecil terbit di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai menyesap bibir Tiara. Tangan Aryo masih setia di lehernya, mengisyaratkan pada Tiara untuk tetap berada di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat hingga tidak ada lagi jarak diantara keduanya.

Aryo dan Tiara Kissing

Napas keduanya saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah mereka. Saat bibir Aryo dan Tiara menjauh sesaat, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata mint,” bisik Tiara di dekat Aryo.

I already cleaned it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Tapi aku penasaran deh sama rasanya,” ujar Tiara sambil menyipitkan matanya.

Should I bring vodka to you?” tanya Aryo.

What do you mean?”

“Kamu mau rasain vodka, right? Tapi kata dokter kamu nggak boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil. How about I show you to get the taste without you actually drinking it?”

Tiara tidak tahu kini sudah semerah apa wajahnya saat ia memahami maksud perkataan Aryo. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala dan seluruh permukaan kulitnya terasa menghangat. Setelah mengalihkan tatapannya dari Aryo karena perasaan gugupnya, kini Tiara kembali menatap lelakinya. “I'm pretty curious about that. You can show me how then.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan itu sudah cukup lama. Malam itu adalah malam dimana ia bertemu kembali dengan Tiara. Hubungannya dan Aurorae telah berakhir beberapa hari sebelumnya. Aryo merasa dirinya begitu brengsek dengan tiba-tiba mencium Tiara, tiba-tiba jatuh cinta, dan berakhir mengajak Tiara menikah, padahal mereka baru saja mengenal.

Malam ini Tiara mengambil keputusan yang tidak Aryo sangka. Tidak pernah terbesit di pikiran Aryo, bahwa Tiara lah yang justru membiarkannya menyentuh kembali benda-benda dari masa lalunya. Padahal Aryo telah mencoba untuk tidak kembali, demi dirinya dan keluarga kecilnya.

Di basement rumahnya, Aryo menuju ke salah satu ruangan yang cukup besar. Ia membuka pintunya dengan 4 buah kode angka.

Aryo memasuki ruangan itu dan matanya langsung di suguhkan pemandangan botol-botol minuman yang disusun apik di dalam lemari bersekat. Benda-benda yang ia simpan apik layaknya koleksi dan dulu begitu ia gemari.

Ruang Penyimpanan Minuman Aryo

Aryo menyapukan pandangannya dan ketika menangkap salah satu minuman yang ia ingat memiliki harga fantastis itu, ia segera mengambilnya. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang dikemas dengan botol keemasan yang berukuran cukup besar. Bahkan tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo membawa minuman senilai 14M itu menuju meja bar yang terletak di sudut area basement. Di sana Tiara sudah mengambilkan sebuah gelas sloki untuknya.

“Mau aku tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure,” ujar Aryo mempersilakan Tiara. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya.

“Ra, aku nggak mau ngevape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo.

Tiara pun mengangguk setuju. Gelas sloki yang telah ia isi dengan minuman berwarna kuning itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo. Mereka duduk berhadapan di batasi sebuah meja bar melingkar.

Bar Table

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku lalu ia mengambil gelas sloki di hadapannya. Ini kali pertama ia minum di hadapan Tiara, padahal ia telah berjanji pada dirinya untuk meninggalkan masa lalu yang kurang baik.

Aryo menatap Tiara sejenak sebelum akhirnya meneguk vodkanya. Aryo hanya meneguk satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik tidak ada tanda-tanda Aryo kembali meneguk minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo bertopang di atas meja, lalu ia menjauhkan gelas sloki itu dari hadapannya.

Tidak lama kemudian, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke kursinya.

“Kadang aku masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua ini cuma keinginan sesaat. Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun. Aku nahan itu dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Tapi delapan puluh persennya ada campur tangan kamu. Aku mau jadi lebih baik untuk kamu, dan juga calon anak kita,” ujar Aryo sambil menatap Tiara. Tiara balas menatapnya dengan tatapan bahagia bercampur terharu, dimatanya nampak kilatan air mata yang siap tumpah.

Aryo mengatakan bahwa dirinya sempat merasa begitu jatuh, tapi ia memang tidak menunjukkan itu di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, ketika perempuan itu datang padanya, Aryo dapat menunjukkan sisi tergelapnya. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berhadapan dengan Aryo. Ia menatap lembut sosok pria yang dicintainya itu.

“Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan jadi lebih baik. Sebagai istri kamu, aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham maksud kalimat terakhir Tiara.

“Aku mau biarin kamu untuk coba benda-benda ini lagi. Aku yakin kamu akan tahu sampai mana batasnya. Kenyataannya kamu yang memutuskan sendiri, kalau kamu nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya lalu ia tertawa. Detik berikutnya, Aryo menyunggingkan senyum tipisnya dan kini Tiara yang justru menjadi sedikit panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakannya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Apa?”

“Kok kamu keliatan gugup gitu?” Aryo menyipitkan matanya dan menatap Tiara intens.

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu.”

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo dengan seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Kemudian Aryo meletakkan kedua lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, hingga Tiara tidak punya ruang untuk lolos.

Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sebentar. Tiara tidak kepikiran apa yang akan Aryo lakukan, katanya sih cuma sebentar. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi gugup. Saat Aryo kembali, Tiara menangkap sepasang mata sayu Aryo tengah menatapnya.

Aryo menghela pinggangnya agar Tiara mendekat padanya. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo mengusap lembut di area sekitar leher Tiara. Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau Tiara menyemburkan tawanya yang terdengar agak tertahan itu.

Tiara pun mengangguk dan senyum kecil terbit di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai menyesap bibir Tiara. Tangan Aryo masih setia di lehernya, mengisyaratkan pada Tiara untuk tetap berada di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat hingga tidak ada lagi jarak diantara keduanya.

Aryo dan Tiara Kissing

Napas keduanya saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah mereka. Saat bibir Aryo dan Tiara menjauh sesaat, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata mint,” bisik Tiara di dekat Aryo.

I already cleaned it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Tapi aku penasaran deh sama rasanya,” ujar Tiara sambil menyipitkan matanya.

Should I bring vodka to you?” tanya Aryo.

What do you mean?”

“Kamu mau rasain vodka, right? Tapi kata dokter kamu nggak boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil. How about I show you to get the taste without you actually drinking it?”

Tiara tidak tahu kini sudah semerah apa wajahnya saat ia memahami maksud perkataan Aryo. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala dan seluruh permukaan kulitnya terasa menghangat. Setelah mengalihkan tatapannya dari Aryo karena perasaan gugupnya, kini Tiara kembali menatap lelakinya. “I'm pretty curious about that. You can show me how then.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan itu sudah cukup lama. Malam itu adalah malam dimana ia bertemu kembali dengan Tiara. Hubungannya dan Aurorae telah berakhir beberapa hari sebelumnya. Aryo merasa dirinya begitu brengsek dengan tiba-tiba mencium Tiara, tiba-tiba jatuh cinta, dan berakhir mengajak Tiara menikah, padahal mereka baru saja mengenal.

Malam ini Tiara mengambil keputusan yang tidak Aryo sangka. Tidak pernah terbesit di pikiran Aryo, bahwa Tiara lah yang justru membiarkannya menyentuh kembali benda-benda dari masa lalunya. Padahal Aryo telah mencoba untuk tidak kembali, demi dirinya dan keluarga kecilnya.

Di basement rumahnya, Aryo menuju ke salah satu ruangan yang cukup besar. Ia membuka pintunya dengan 4 buah kode angka.

Aryo memasuki ruangan itu dan matanya langsung di suguhkan pemandangan botol-botol minuman yang disusun apik di dalam lemari bersekat. Benda-benda yang ia simpan apik layaknya koleksi dan dulu begitu ia gemari.

Ruang Penyimpanan Minuman Aryo

Aryo menyapukan pandangannya dan ketika menangkap salah satu minuman yang ia ingat memiliki harga fantastis itu, ia segera mengambilnya. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang dikemas dengan botol keemasan yang berukuran cukup besar. Bahkan tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo membawa minuman senilai 14M itu menuju meja bar yang terletak di sudut area basement. Di sana Tiara sudah mengambilkan sebuah gelas sloki untuknya.

“Mau aku tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure,” ujar Aryo mempersilakan Tiara. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya.

“Ra, aku nggak mau ngevape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo.

Tiara pun mengangguk setuju. Gelas sloki yang telah ia isi dengan minuman berwarna kuning itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo. Mereka duduk berhadapan di batasi sebuah meja bar melingkar.

Bar Table

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku lalu ia mengambil gelas sloki di hadapannya. Ini kali pertama ia minum di hadapan Tiara, padahal ia telah berjanji pada dirinya untuk meninggalkan masa lalu yang kurang baik.

Aryo menatap Tiara sejenak sebelum akhirnya meneguk vodkanya. Aryo hanya meneguk satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik tidak ada tanda-tanda Aryo kembali meneguk minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo bertopang di atas meja, lalu ia menjauhkan gelas sloki itu dari hadapannya.

Tidak lama kemudian, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke kursinya.

“Kadang aku masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua ini cuma keinginan sesaat. Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun. Aku nahan itu dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Tapi delapan puluh persennya ada campur tangan kamu. Aku mau jadi lebih baik untuk kamu, dan juga calon anak kita,” ujar Aryo sambil menatap Tiara. Tiara balas menatapnya dengan tatapan bahagia bercampur terharu, dimatanya nampak kilatan air mata yang siap tumpah.

Aryo mengatakan bahwa dirinya sempat merasa begitu jatuh, tapi ia memang tidak menunjukkan itu di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, ketika perempuan itu datang padanya, Aryo dapat menunjukkan sisi tergelapnya. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berhadapan dengan Aryo. Ia menatap lembut sosok pria yang dicintainya itu.

“Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan jadi lebih baik. Sebagai istri kamu, aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham maksud kalimat terakhir Tiara.

“Aku mau biarin kamu untuk coba benda-benda ini lagi. Aku yakin kamu akan tahu sampai mana batasnya. Kenyataannya kamu yang memutuskan sendiri, kalau kamu nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya lalu ia tertawa. Detik berikutnya, Aryo menyunggingkan senyum tipisnya dan kini Tiara yang justru menjadi sedikit panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakannya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Apa?”

“Kok kamu keliatan gugup gitu?” Aryo menyipitkan matanya dan menatap Tiara intens.

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu.”

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo dengan seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Kemudian Aryo meletakkan kedua lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, hingga Tiara tidak punya ruang untuk lolos.

Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sebentar. Tiara tidak kepikiran apa yang akan Aryo lakukan, katanya sih cuma sebentar. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi gugup. Saat Aryo kembali, Tiara menangkap sepasang mata sayu Aryo tengah menatapnya.

Aryo menghela pinggangnya agar Tiara mendekat padanya. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo mengusap lembut di area sekitar leher Tiara. Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau Tiara menyemburkan tawanya yang terdengar agak tertahan itu.

Tiara pun mengangguk dan senyum kecil terbit di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai menyesap bibir Tiara. Tangan Aryo masih setia di lehernya, mengisyaratkan pada Tiara untuk tetap berada di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat hingga tidak ada lagi jarak diantara keduanya.

Aryo dan Tiara Kissing

Napas keduanya saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah mereka. Saat bibir Aryo dan Tiara menjauh sesaat, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata mint,” bisik Tiara di dekat Aryo.

I already cleaned it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Yaa, aku kan nggak bisa rasain vodka langsung. Aku penasaran deh sama rasanya,” ujar Tiara sambil mencebikkan sedikit bibirnya.

Should I bring vodka to you?

What do you mean?

“Kamu mau rasain vodka, right? Tapi kata dokter kamu nggak boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil. So I'm going to show you, how you get the taste without you actually drinking it.

Tiara tidak tahu kini sudah semerah apa wajahnya. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala dan seluruh permukaan kulitnya terasa menghangat. Setelah mengalihkan tatapannya dari Aryo karena perasaan gugupnya, kini Tiara kembali menatap lelakinya. “I'm pretty curious about that. You can show me how then.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan itu sudah cukup lama. Malam itu adalah malam dimana ia bertemu kembali dengan Tiara. Hubungannya dan Aurorae telah berakhir beberapa hari sebelumnya. Aryo merasa dirinya begitu brengsek dengan tiba-tiba mencium Tiara, tiba-tiba jatuh cinta, dan berakhir mengajak Tiara menikah, padahal mereka baru saja mengenal.

Malam ini Tiara mengambil keputusan yang tidak Aryo sangka. Tidak pernah terbesit di pikiran Aryo, bahwa Tiara lah yang justru membiarkannya menyentuh kembali benda-benda dari masa lalunya. Padahal Aryo telah mencoba untuk tidak kembali, demi dirinya dan keluarga kecilnya.

Di basement rumahnya, Aryo menuju ke salah satu ruangan yang cukup besar. Ia membuka pintunya dengan 4 buah kode angka.

Aryo memasuki ruangan itu dan matanya langsung di suguhkan pemandangan botol-botol minuman yang disusun apik di dalam lemari bersekat. Benda-benda yang ia simpan apik layaknya koleksi dan dulu begitu ia gemari.

Ruang Penyimpanan Minuman Aryo

Aryo menyapukan pandangannya dan ketika menangkap salah satu minuman yang ia ingat memiliki harga fantastis itu, ia segera mengambilnya. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang dikemas dengan botol keemasan yang berukuran cukup besar. Bahkan tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo membawa minuman senilai 14M itu menuju meja bar yang terletak di sudut area basement. Di sana Tiara sudah mengambilkan sebuah gelas sloki untuknya.

“Mau aku tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure,” ujar Aryo mempersilakan Tiara. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya.

“Ra, aku nggak mau ngevape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo.

Tiara pun mengangguk setuju. Gelas sloki yang telah ia isi dengan minuman berwarna kuning itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo. Mereka duduk berhadapan di batasi sebuah meja bar melingkar.

Bar Table

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku lalu ia mengambil gelas sloki di hadapannya. Ini kali pertama ia minum di hadapan Tiara, padahal ia telah berjanji pada dirinya untuk meninggalkan masa lalu yang kurang baik.

Aryo menatap Tiara sejenak sebelum akhirnya meneguk vodkanya. Aryo hanya meneguk satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik tidak ada tanda-tanda Aryo kembali meneguk minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo bertopang di atas meja, lalu ia menjauhkan gelas sloki itu dari hadapannya.

Tidak lama kemudian, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke kursinya.

“Kadang aku masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua ini cuma keinginan sesaat. Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun. Aku nahan itu dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Tapi delapan puluh persennya ada campur tangan kamu. Aku mau jadi lebih baik untuk kamu, dan juga calon anak kita,” ujar Aryo sambil menatap Tiara. Tiara balas menatapnya dengan tatapan bahagia bercampur terharu, dimatanya nampak kilatan air mata yang siap tumpah.

Aryo mengatakan bahwa dirinya sempat merasa begitu jatuh, tapi ia memang tidak menunjukkan itu di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, ketika perempuan itu datang padanya, Aryo dapat menunjukkan sisi tergelapnya. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berhadapan dengan Aryo. Ia menatap lembut sosok pria yang dicintainya itu.

“Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan jadi lebih baik. Sebagai istri kamu, aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham maksud kalimat terakhir Tiara.

“Aku mau biarin kamu untuk coba benda-benda ini lagi. Aku yakin kamu akan tahu sampai mana batasnya. Kenyataannya kamu yang memutuskan sendiri, kalau kamu nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya lalu ia tertawa. Detik berikutnya, Aryo menyunggingkan senyum tipisnya dan kini Tiara yang justru menjadi sedikit panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakannya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Apa?”

“Kok kamu keliatan gugup gitu?” Aryo menyipitkan matanya dan menatap Tiara intens.

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu.”

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo dengan seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Kemudian Aryo meletakkan kedua lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, hingga Tiara tidak punya ruang untuk lolos.

Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sebentar. Tiara tidak kepikiran apa yang akan Aryo lakukan, katanya sih cuma sebentar. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi gugup. Saat Aryo kembali, Tiara menangkap sepasang mata sayu Aryo tengah menatapnya.

Aryo menghela pinggangnya agar Tiara mendekat padanya. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo mengusap lembut di area sekitar leher Tiara. Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau Tiara menyemburkan tawanya yang terdengar agak tertahan itu.

Tiara pun mengangguk dan senyum kecil terbit di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai menyesap bibir Tiara. Tangan Aryo masih setia di lehernya, mengisyaratkan pada Tiara untuk tetap berada di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat hingga tidak ada lagi jarak diantara keduanya.

Aryo dan Tiara Kissing

Napas keduanya saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah mereka. Saat bibir Aryo dan Tiara menjauh sesaat, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata mint,” bisik Tiara di dekat Aryo.

I already cleaned it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Yaa, aku kan nggak bisa rasain vodka langsung. Aku penasaran deh sama rasanya,” ujar Tiara sambil mencebikkan sedikit bibirnya.

Should I bring vodka to you?

What do you mean?

“Kamu mau rasain vodka, right? Tapi kata dokter kamu nggak boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil. So I'm going to show you, how you get the taste without you actually drinking it.

Tiara tidak tahu kini sudah semerah apa wajahnya. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala dan seluruh permukaan kulitnya terasa menghangat. Setelah mengalihkan tatapannya dari Aryo karena perasaan gugupnya, kini Tiara kembali menatap lelakinya. “I'm pretty curious about that. You can show me how then.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan itu sudah cukup lama. Malam itu adalah malam dimana ia bertemu kembali dengan Tiara. Hubungannya dan Aurorae telah berakhir beberapa hari sebelumnya. Aryo merasa dirinya begitu brengsek dengan tiba-tiba mencium Tiara, tiba-tiba jatuh cinta, dan berakhir mengajak Tiara menikah, padahal mereka baru saja mengenal.

Malam ini Tiara mengambil keputusan yang tidak Aryo sangka. Tidak pernah terbesit di pikiran Aryo, bahwa Tiara lah yang justru membiarkannya menyentuh kembali benda-benda dari masa lalunya. Padahal Aryo telah mencoba untuk tidak kembali, demi dirinya dan keluarga kecilnya.

Di basement rumahnya, Aryo menuju ke salah satu ruangan yang cukup besar. Ia membuka pintunya dengan 4 buah kode angka.

Aryo memasuki ruangan itu dan matanya langsung di suguhkan pemandangan botol-botol minuman yang disusun apik di dalam lemari bersekat. Benda-benda yang ia simpan apik layaknya koleksi dan dulu begitu ia gemari.

Ruang Penyimpanan Minuman Aryo

Aryo menyapukan pandangannya dan ketika menangkap salah satu minuman yang ia ingat memiliki harga fantastis itu, ia segera mengambilnya. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang dikemas dengan botol keemasan yang berukuran cukup besar. Bahkan tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo membawa minuman senilai 14M itu menuju meja bar yang terletak di sudut area basement. Di sana Tiara sudah mengambilkan sebuah gelas sloki untuknya.

“Mau aku tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure,” ujar Aryo mempersilakan Tiara. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya.

“Ra, aku nggak mau ngevape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo.

Tiara pun mengangguk setuju. Gelas sloki yang telah ia isi dengan minuman berwarna kuning itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo. Mereka duduk berhadapan di batasi sebuah meja bar melingkar.

Bar Table

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku lalu ia mengambil gelas sloki di hadapannya. Ini kali pertama ia minum di hadapan Tiara, padahal ia telah berjanji pada dirinya untuk meninggalkan masa lalu yang kurang baik.

Aryo menatap Tiara sejenak sebelum akhirnya meneguk vodkanya. Aryo hanya meneguk satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik tidak ada tanda-tanda Aryo kembali meneguk minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo bertopang di atas meja, lalu ia menjauhkan gelas sloki itu dari hadapannya.

Tidak lama kemudian, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke kursinya.

“Kadang aku masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua ini cuma keinginan sesaat. Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun. Aku nahan itu dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Tapi delapan puluh persennya ada campur tangan kamu. Aku mau jadi lebih baik untuk kamu, dan juga calon anak kita,” ujar Aryo sambil menatap Tiara. Tiara balas menatapnya dengan tatapan bahagia bercampur terharu, dimatanya nampak kilatan air mata yang siap tumpah.

Aryo mengatakan bahwa dirinya sempat merasa begitu jatuh, tapi ia memang tidak menunjukkan itu di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, ketika perempuan itu datang padanya, Aryo dapat menunjukkan sisi tergelapnya. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berhadapan dengan Aryo. Ia menatap lembut sosok pria yang dicintainya itu.

“Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan jadi lebih baik. Sebagai istri kamu, aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham maksud kalimat terakhir Tiara.

“Aku mau biarin kamu untuk coba benda-benda ini lagi. Aku yakin kamu akan tahu sampai mana batasnya. Kenyataannya kamu yang memutuskan sendiri, kalau kamu nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya lalu ia tertawa. Detik berikutnya, Aryo menyunggingkan senyum tipisnya dan kini Tiara yang justru menjadi sedikit panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakannya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Apa?”

“Kok kamu keliatan gugup gitu?” Aryo menyipitkan matanya dan menatap Tiara intens.

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu.”

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo dengan seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Kemudian Aryo meletakkan kedua lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, hingga Tiara tidak punya ruang untuk lolos.

Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sebentar. Tiara tidak kepikiran apa yang akan Aryo lakukan, katanya sih cuma sebentar. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi gugup. Saat Aryo kembali, Tiara menangkap sepasang mata sayu Aryo tengah menatapnya.

Aryo menghela pinggangnya agar Tiara mendekat padanya. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo mengusap lembut di area sekitar leher Tiara. Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau Tiara menyemburkan tawanya yang terdengar agak tertahan itu.

Tiara pun mengangguk dan senyum kecil terbit di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai menyesap bibir Tiara. Tangan Aryo masih setia di lehernya, mengisyaratkan pada Tiara untuk tetap berada di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat hingga tidak ada lagi jarak diantara keduanya.

Aryo dan Tiara Kissing

Napas keduanya saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah mereka. Saat bibir Aryo dan Tiara menjauh sesaat, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata mint,” bisik Tiara di dekat Aryo.

I already cleaned it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Yaa, aku kan nggak bisa rasain vodka langsung. Aku penasaran deh sama rasanya,” ujar Tiara sambil mencebikkan sedikit bibirnya.

Should I bring vodka to you?

What do you mean?

“Kamu mau rasain vodka, right? Tapi kata dokter kamu nggak boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil. So I'll show you how you can get the taste without actually drink it. How?

Tiara tidak tahu kini sudah semerah apa wajahnya. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala dan seluruh permukaan kulitnya terasa menghangat. Setelah mengalihkan tatapannya dari Aryo karena perasaan gugupnya, kini Tiara kembali menatap lelakinya. “I'm pretty curious about that. Can you show me how?

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan itu sudah cukup lama. Malam itu adalah malam dimana ia bertemu kembali dengan Tiara. Hubungannya dan Aurorae telah berakhir beberapa hari sebelumnya. Aryo merasa dirinya begitu brengsek dengan tiba-tiba mencium Tiara, tiba-tiba jatuh cinta, dan berakhir mengajak Tiara menikah, padahal mereka baru saja mengenal.

Malam ini Tiara mengambil keputusan yang tidak Aryo sangka. Tidak pernah terbesit di pikiran Aryo, bahwa Tiara lah yang justru membiarkannya menyentuh kembali benda-benda dari masa lalunya. Padahal Aryo telah mencoba untuk tidak kembali, demi dirinya dan keluarga kecilnya.

Di basement rumahnya, Aryo menuju ke salah satu ruangan yang cukup besar. Ia membuka pintunya dengan 4 buah kode angka.

Aryo memasuki ruangan itu dan matanya langsung di suguhkan pemandangan botol-botol minuman yang disusun apik di dalam lemari bersekat. Benda-benda yang ia simpan apik layaknya koleksi dan dulu begitu ia gemari.

Ruang Penyimpanan Minuman Aryo

Aryo menyapukan pandangannya dan ketika menangkap salah satu minuman yang ia ingat memiliki harga fantastis itu, ia segera mengambilnya. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang dikemas dengan botol keemasan yang berukuran cukup besar. Bahkan tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo membawa minuman senilai 14M itu menuju meja bar yang terletak di sudut area basement. Di sana Tiara sudah mengambilkan sebuah gelas sloki untuknya.

“Mau aku tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure,” ujar Aryo mempersilakan Tiara. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya.

“Ra, aku nggak mau ngevape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo.

Tiara pun mengangguk setuju. Gelas sloki yang telah ia isi dengan minuman berwarna kuning itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo. Mereka duduk berhadapan di batasi sebuah meja bar melingkar.

Bar Table

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku lalu ia mengambil gelas sloki di hadapannya. Ini kali pertama ia minum di hadapan Tiara, padahal ia telah berjanji pada dirinya untuk meninggalkan masa lalu yang kurang baik.

Aryo menatap Tiara sejenak sebelum akhirnya meneguk vodkanya. Aryo hanya meneguk satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik tidak ada tanda-tanda Aryo kembali meneguk minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo bertopang di atas meja, lalu ia menjauhkan gelas sloki itu dari hadapannya.

Tidak lama kemudian, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke kursinya.

“Kadang aku masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua ini cuma keinginan sesaat. Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun. Aku nahan itu dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Tapi delapan puluh persennya ada campur tangan kamu. Aku mau jadi lebih baik untuk kamu, dan juga calon anak kita,” ujar Aryo sambil menatap Tiara. Tiara balas menatapnya dengan tatapan bahagia bercampur terharu, dimatanya nampak kilatan air mata yang siap tumpah.

Aryo mengatakan bahwa dirinya sempat merasa begitu jatuh, tapi ia memang tidak menunjukkan itu di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, ketika perempuan itu datang padanya, Aryo dapat menunjukkan sisi tergelapnya. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berhadapan dengan Aryo. Ia menatap lembut sosok pria yang dicintainya itu.

“Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan jadi lebih baik. Sebagai istri kamu, aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham maksud kalimat terakhir Tiara.

“Aku mau biarin kamu untuk coba benda-benda ini lagi. Aku yakin kamu akan tahu sampai mana batasnya. Kenyataannya kamu yang memutuskan sendiri, kalau kamu nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya lalu ia tertawa. Detik berikutnya, Aryo menyunggingkan senyum tipisnya dan kini Tiara yang justru menjadi sedikit panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakannya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Apa?”

“Kok kamu keliatan gugup gitu?” Aryo menyipitkan matanya dan menatap Tiara intens.

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu.”

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo dengan seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Kemudian Aryo meletakkan kedua lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, hingga Tiara tidak punya ruang untuk lolos.

Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sebentar. Tiara tidak kepikiran apa yang akan Aryo lakukan, katanya sih cuma sebentar. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi gugup. Saat Aryo kembali, Tiara menangkap sepasang mata sayu Aryo tengah menatapnya.

Aryo menghela pinggangnya agar Tiara mendekat padanya. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo mengusap lembut di area sekitar leher Tiara. Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau Tiara menyemburkan tawanya yang terdengar agak tertahan itu.

Tiara pun mengangguk dan senyum kecil terbit di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai menyesap bibir Tiara. Tangan Aryo masih setia di lehernya, mengisyaratkan pada Tiara untuk tetap berada di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat hingga tidak ada lagi jarak diantara keduanya.

Aryo dan Tiara Kissing

Napas keduanya saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah mereka. Saat bibir Aryo dan Tiara menjauh sesaat, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata mint,” bisik Tiara di dekat Aryo.

I already cleaned it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Yaa, aku kan nggak bisa rasain vodka langsung. Aku penasaran deh sama rasanya,” ujar Tiara sambil mencebikkan sedikit bibirnya.

Should I bring vodka to you?

What do you mean?

“Kamu mau rasain vodka, right? Tapi kata dokter kamu nggak boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil. So I'll show you how you can get the taste without actually drink it. How?

Tiara tidak tahu kini sudah semerah apa wajahnya. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala dan seluruh permukaan kulitnya terasa menghangat. Setelah mengalihkan tatapannya dari Aryo karena perasaan gugupnya, kini Tiara kembali menatap lelakinya. “I'm pretty curious about that. Can you show me how?

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷