alyadara

Rafael mengulurkan tangan pada Feli yang langsung disambut ramah oleh mama mertuanya. “Halo Tante,” ucap Rafael sambil tersenyum ramah dan sopan.

“Tante cantik banget, mirip sama Tiara,” tambah Rafael saat menatap wanita paruh baya di hadapannya yang terlihat sangat cantik dan anggun.

Tiara menatap Rafael dan mertuanya secara bergantian. Feli hanya menanggapi ucapan Rafael dengan seulas senyum manis.

“Mah, Tiara sama Rafael mau ngerjain tugas kelompok. Sama Vania juga, nanti nyusul ke sini,” ujar Tiara.

“Iya, tadi Mama udah minta tolong sama Icha buat siapin ruang belajarnya. Kalian kerjain tugasnya di sana ya,” tutur Feli. Lantas Tiara berpamitan dengan Feli untuk berlalu dan Rafael mengekori langkahnya dari belakang.

***

Tiara melirik jam yang terdapat di ruang belajar. Sekarang menunjukkan tepat pukul 9 malam.

“Akhirnya selesai juga,” ujar Vania. “Nih ya guys, udah beres power point kita. Proposalnya ada di Tiara, video di lo Rafael, tinggal lo edit sama tambahin subtitle ya jangan lupa,” tutur Vania.

“Proposalnya nanti sekalian gue print sama jilid cover tebel ya,” ujar Tiara dan teman-temannya mengangguki. Setelah membereskan barang dan memastikan tidak ada yang tertinggal, Tiara mengantar teman-temannya turun ke lantai satu dan mereka berjalan ke area teras.

“Ra, lo balik apa nginep di sini?” tanya Vania.

“Gue nginep di sini. Soalnya suami gue mau nginep di kantornya,” ujar Tiara.

“Lho, kasian dong, nggak bisa bucin,” celetuk Vania sambil mengulaskan senyum menggodanya.

“Rumah ini bukan rumah lo Ra?” Seketika Rafael kebingungan.

“Ini rumah mertua gue, Raf,” jelas Tiara.

Ditengah-tengah suasana itu, terlihat sebuah BMW putih tengah memasuki pekarangan rumah. Tiara seketika mengernyit heran, karena ia tahu mobil yang baru saja terparkir sempurna itu adalah milik suaminya.

Benar saja ternyata itu suaminya. Mata Tiara tidak lepas dar sosok yang baru saja turun dari mobil. Aryo pun menghampirinya dan menyapa teman-temannya.

“Udah selesai kerja kelompoknya?” tanya Aryo sambil menatap Tiara dan teman-temannya bergantian.

“Baru aja selesai. Ini kita mau pulang. Raf, lo anterin gue pulang, kan?” celetuk Vania lalu gadis itu melirik Rafael dan menyenggol lengannya menggunakan sikut.

Rafael yang sedari tadi melihat Tiara dan Aryo pun buyar karena tingkah Vania. “Oke,” hanya itu yang terucap dari bibir Rafael.

Sebelum pergi dari sana, Vania berpamitan dengan Tiara dan juga Aryo. Notabenenya Vania yang masih sedikit kaget karena ini pertama kali ia bertemu sosok suami sahabatnya, buru-buru menggeret Rafael pergi dari sana. Selama ini Vania hanya melihat sosok Aryo melalui foto di internet dan instagram pribadi pria itu maupun instagram milik Tiara.

“Lo kenapa deh Van? Aneh banget,” celetuk Rafael ketika ia dan Vania berjalan ke tempat dimana mobilnya terparkir.

“Baru pertama kali gue liat langsung suaminya Tiara. Puji Tuhan, sahabat gue punya suami ganteng banget,” cerocos Vania dan Rafael memerhatikan temannya yang tersenyum agak aneh itu.

“Yaelah, lebay lo,” balas Rafael.

“Yee. Lo kenapa sih? Kok kayak bete gitu,” ujar Vania.

Kini keduanya sudah berada di dalam mobil milik Rafael, tapi pria itu belum juga menyalakan Xpander hitamnya.

“Gue udah bilang sama Tiara, gue mutusin buat lupain perasaan gue buat dia,” aku Rafael.

Vania pun terdiam sesaat begitu mendengarnya. Perempuan itu nampak terkejut lalu ia berujar, “Lo selama ini crush-in Tiara?” Vania menahan tawanya keluar, ia takut membuat perasaan Rafael semakin tidak karuan.

Rafael kemudian mengangguk pelan. “Tadi Tiara bilang kan, kalau dia mau nginep di rumah mertuanya karena suaminya pulang malem dan nggak bisa jemput.”

“Yaa ... terus?”

“Tapi tiba-tiba suaminya dateng dan mungkin mau jemput Tiara. Dan lo liat nggak tadi sebahagia apa ekspresi Tiara?”

Vania baru menyadarinya dan ia membenarkan perkataan Rafael. “Lo pinter banget deh, Raf. Nggak nyesel gue sekelompok sama lo.”

“Omongan lo ngalor ngidul ya, Van. Tiba-tiba bahas kelompok,” Rafael tertawa sekilas.

“Yaelah, niat gue baik kali. Biar lo nggak mellow mellow amat. Lagian nih ya, lo crush-in cewek yang jelas-jelas udah jadi bini orang. Lo nekat juga ya gue liat-liat,” ujar Vania dengan nada becandanya.

“Gue suka sama Tiara udah lama. Tapi kayaknya emang bukan jodoh. Gue akan relain perasaan gue buat Tiara. Dia udah bahagia sama suaminya. Gue sadar akhirnya, kalau perasaan yang kita punya nggak selamanya harus berbalas dan berakhir memiliki orang itu,” ucap Rafael.

“Keren banget lo bisa ikhlas gini, Raf. Gue salut sama lo,” ujar Vania. Lantas Vania menepuk pundak Rafael, “Udah, lo nggak usah galau. Suatu saat, lo bakal nemuin cewek yang sayang sama lo. Kayak Tiara yang bucin banget ke suaminya. Masih banyak bidadari Raf, tenang aja,” tutur Vania.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Rafael mengulurkan tangan pada Feli yang langsung disambut ramah oleh mama mertuanya. “Halo Tante,” ucap Rafael sambil tersenyum ramah dan sopan.

“Tante cantik banget, mirip sama Tiara,” tambah Rafael saat menatap wanita paruh baya di hadapannya yang terlihat sangat cantik dan anggun.

Tiara menatap Rafael dan mertuanya secara bergantian. Feli hanya menanggapi ucapan Rafael dengan seulas senyum manis.

“Mah, Tiara sama Rafael mau ngerjain tugas kelompok. Sama Vania juga, nanti nyusul ke sini,” ujar Tiara.

“Iya, tadi Mama udah minta tolong sama Icha buat siapin ruang belajarnya. Kalian kerjain tugasnya di sana ya,” tutur Feli. Lantas Tiara berpamitan dengan Feli untuk berlalu dan Rafael mengekori langkahnya dari belakang.

***

Tiara melirik jam yang terdapat di ruang belajar. Sekarang menunjukkan tepat pukul 9 malam.

“Akhirnya selesai juga,” ujar Vania. “Nih ya guys, udah selesai power point kita. Proposalnya ada di Tiara, video di lo Rafael, tinggal lo edit sama tambahin subtitle ya jangan lupa,” tutur Vania.

“Proposalnya nanti sekalian gue print sama jilid cover tebel ya,” ujar Tiara dan teman-temannya mengangguki. Setelah membereskan barang dan memastikan tidak ada yang tertinggal, Tiara mengantar teman-temannya turun ke lantai satu dan mereka berjalan ke area teras.

“Ra, lo balik apa nginep di sini?” tanya Vania.

“Gue nginep di sini. Soalnya suami gue mau nginep di kantornya,” ujar Tiara.

“Lho, kasian dong, nggak bisa bucin,” celetuk Vania sambil mengulaskan senyum menggodanya.

“Rumah ini bukan rumah lo Ra?” Seketika Rafael kebingungan.

“Ini rumah mertua gue, Raf,” jelas Tiara.

Ditengah-tengah suasana itu, terlihat sebuah BMW putih tengah memasuki pekarangan rumah. Tiara seketika mengernyit heran, karena ia tahu mobil yang baru saja terparkir sempurna itu adalah milik suaminya.

Benar saja ternyata itu suaminya. Mata Tiara tidak lepas dar sosok yang baru saja turun dari mobil. Aryo pun menghampirinya dan menyapa teman-temannya.

“Udah selesai kerja kelompoknya?” tanya Aryo sambil menatap Tiara dan teman-temannya bergantian.

“Baru aja selesai. Ini kita mau pulang. Raf, lo anterin gue pulang, kan?” celetuk Vania lalu gadis itu melirik Rafael dan menyenggol lengannya menggunakan sikut.

Rafael yang sedari tadi melihat Tiara dan Aryo pun buyar karena tingkah Vania. “Oke,” hanya itu yang terucap dari bibir Rafael.

Sebelum pergi dari sana, Vania berpamitan dengan Tiara dan juga Aryo. Notabenenya Vania yang masih sedikit kaget karena ini pertama kali ia bertemu sosok suami sahabatnya, buru-buru menggeret Rafael pergi dari sana. Selama ini Vania hanya melihat sosok Aryo melalui foto di internet dan instagram pribadi pria itu maupun instagram milik Tiara.

“Lo kenapa deh Van? Aneh banget,” celetuk Rafael ketika ia dan Vania berjalan ke tempat dimana mobilnya terparkir.

“Baru pertama kali gue liat langsung suaminya Tiara. Puji Tuhan, sahabat gue punya suami ganteng banget,” cerocos Vania dan Rafael memerhatikan temannya yang tersenyum agak aneh itu.

“Yaelah, lebay lo,” balas Rafael.

“Yee. Lo kenapa sih? Kok kayak bete gitu,” ujar Vania.

Kini keduanya sudah berada di dalam mobil milik Rafael, tapi pria itu belum juga menyalakan Xpander hitamnya.

“Gue udah bilang sama Tiara, gue mutusin buat lupain perasaan gue buat dia,” aku Rafael.

Vania pun terdiam sesaat begitu mendengarnya. Perempuan itu nampak terkejut lalu ia berujar, “Lo selama ini crush-in Tiara?” Vania menahan tawanya keluar, ia takut membuat perasaan Rafael semakin tidak karuan.

Rafael kemudian mengangguk pelan. “Tadi Tiara bilang kan, kalau dia mau nginep di rumah mertuanya karena suaminya pulang malem dan nggak bisa jemput.”

“Yaa ... terus?”

“Tapi tiba-tiba suaminya dateng dan mungkin mau jemput Tiara. Dan lo liat nggak tadi sebahagia apa ekspresi Tiara?”

Vania baru menyadarinya dan ia membenarkan perkataan Rafael. “Lo pinter banget deh, Raf. Nggak nyesel gue sekelompok sama lo.”

“Omongan lo ngalor ngidul ya, Van. Tiba-tiba bahas kelompok,” Rafael tertawa sekilas.

“Yaelah, niat gue baik kali. Biar lo nggak mellow mellow amat. Lagian nih ya, lo crush-in cewek yang jelas-jelas udah jadi bini orang. Lo nekat juga ya gue liat-liat,” ujar Vania dengan nada becandanya.

“Gue suka sama Tiara udah lama. Tapi kayaknya emang bukan jodoh. Gue akan relain perasaan gue buat Tiara. Dia udah bahagia sama suaminya. Gue sadar akhirnya, kalau perasaan yang kita punya nggak selamanya harus berbalas dan berakhir memiliki orang itu,” ucap Rafael.

“Keren banget lo bisa ikhlas gini, Raf. Gue salut sama lo,” ujar Vania. Lantas Vania menepuk pundak Rafael sekilas, “Udah, lo nggak usah galau. Suatu hari, lo bakal nemuin cewek yang sayang sama lo. Kayak Tiara yang bucin banget ke suaminya. Lo tenang aja, ada saatnya kok nanti buat lo,” tutur Vania.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Dari pantauan layar cctv lantai dua, Tiara melihat sebuah mobil memasuki basement. Setahu Tiara, tadi Aryo berangkat ke kantor membawa sport porsche baru yg langsung jadi kesayangannya. Namun yang Tiara dapati adalah sebuah BMW putih yang baru saja terparkir di sana.

Jadi Tiara pikir itu bukan suaminya. Tapi siapa juga yang bisa parkir di basement utama. Tempat parkir itu khusus untuk Aryo dan Tiara menebak, bahwa suaminya itu membawa mobil sesuai dengan moodnya.

Sementara di lantai satu, Aryo menyalami tangan Feli dan Alifia begitu ia melenggang masuk. Tadi siang Aryo dapat kabar dari Feli kalau mamanya dan mertuanya ingin menginap. Katanya sih kangen anak dan calon cucu. Semenjak Tiara mengandung, Feli dan Alifia memang lumayan sering berkunjung ke rumah untuk sekedar menemani istrinya. Terlebih saat Aryo bekerja dan baru pulang jam 9 atau 10 malam. Padahal Tiara mengatakan tidak masalah ia di rumah sendiri, toh Aryo sudah menambah tingkat keamanan di area rumah mereka.

Feli kerap mengingatkan Aryo agar ia tidak terlalu sibuk bekerja. Mamanya itu mengancam akan membawa Tiara menginap dirumahnya. Dengan ancaman begitu, biasanya Aryo akan pulang lebih cepat dari biasanya untuk memastikan mamanya tidak menculik istrinya.

“Tiara udah tidur Mah? Bun?”

“Belum kayaknya. Katanya mau nungguin kamu pulang,” ujar Alifia.

Aryo tersenyum bahagia. Ya, dia senang banget di tungguin pulang. Istrinya itu menggemaskan sekali, batinnya.

Tidak lama kemudian, topik yang jadi perbincangan ketiga orang itu datamg. Tiara muncul dengan piyama ungu pastelnya dan raut wajahnya yang sudah mengantuk itu.

“Mama sama Bunda ngira kamu udah tidur. Maaf yaa, aku pulang malam lagi.” Aryo mengusap puncak kepala istrinya ketika Tiara menyalami tangannya dan mencium punggung tangannya.

“Kamu kalau udah ngantuk tidurduluan aja, nggak usah tungguin aku nggak papa,” ujar Aryo. Padahal di dalam hatinya, Aryo sedang berbunga-bunga karena hal sesederhana Tiara menunggunya pulang.

“Aku nggak bisa tidur, Aryo,” ucap Tiara.

“Kenapa? Bawaan adik bayi yaa?” tanya Aryo.

Tiara menggeleng. “Kayaknya bukan deh. Adik bayinya pengertian.”

“Terus karena apa?”

“Karena bapaknya,” ucap Tiara sembaru mengedikkan kedua bahunya.

“Emang aku buat salah ya Ra?” pertanyaan Aryo itu tidak digubris oleh Tiara.

“Lho, aku lupa kalau buat salah, Sayang. Kasih tau aku, aku salah dimana.” Aryo masih memburu alasan kenapa dirinya yang menjadi andil Tiara tidak bisa tidur.

Demi tuhan dan seluruh koleksi mobil mewahnya, Aryo tidak ingat apapun.

“Kalau kamu mau makan, tinggal angetin lauk di meja pakai microwave. Aku tidur duluan ya,” ucap Tiara sebelum ia berbalik dan melangkah pergi. Tiara meninggalkan Aryo setelah dirinya berpamitan untuk tidurc lebih dulu pada bunda dan mama mertuanya.

“Mah, Bunda. Aryo beneran nggak tau, salah Aryo apa. Tiara ngambek ya sama Aryo?” ujar Aryo dengan tampang bingungnya.

“Coba kamu tanyain baik-baik. Di bujuk, di manja-manja. Dulu pas Mama hamil juga gitu, lumayan sering mood swing. Reaksi kamu sama papamu sama lho. Kalian laki-laki emang kadang kurang peka ya,” ucap Feli panjang lebar.

“Oke. Kalau gitu Aryo susulin Tiara dulu deh, Mah, Bunda. Aryo naik ke lantai dua dulu ya,” ucap Aryo pada mama dan bunda. Melihat kelakuan Aryo dan Tiara tersebut, Feli dan Alifia tidak lagi heran, justru membuat keduanya teringat akan masa muda mereka.

“Maklum yaa Jeng, anak muda. Dulu kita juga pernah gitu,” celetuk Alifia.

“Iya, sama persis. Sehari juga baikan nanti mereka, keliatan nggak bisa saling jauh gitu ya Jeng,” ujar Feli sambil menyunggingkan senyumnya.

***

Mood Tiara menjadi tidak menentu semenjak ia hamil. Itu yang ia rasakan. Biasanya Aryo akan meluluhkan hatinya kalau Tiara sedang mood swing seperti saat ini. Namun kenyataannya, tidak ada yang terjadi. Pagi hari Aryo sudah berangkat ke kantor disaat Tiara masih tidur. Tiara bangun kesiangan karena tidurnya begitu nyenyak. Pola tidurnya juga sedikit tidak menentu. Kadang Tiara susah tidur, atau tiba-tiba jam tidurnya menjadi lebih lama dari jam normal.

Siang ini Tiara harus ke kampus karena ada jadwal bimbungan skripsi. Bimbingannya dimulai dari pukul 11 hingga pukul 3 sore. Tiara sedang menunggu gilirannya untuk bimbingan bersama miss Jessica. Ia belum harus segera membeli makanan di kantin, sebelum giliran bimbingannya. Sekarang bukan hanya dirinya yang butuh makan, tapi bayinya juga. Jadi ayo cari makanan yang enak untuknya dan si jagoan. Rasanya perut Tiara sudah keroncongan sekali.

“Ra lo mau kemana?” tanya Risya ketika melihat Tiara mengambil dompet di tasnya.

“Gue mau ke kantin, beli makanan,” ujar Tiara.

“Eh rame banget lho kantin. Tadinya gue juga mau kesana tapi mager banget.”

Jam makan siang ini tentunya kantin rame sekali. Namun Tiara tetap harus makan dan kalau pesan gofood pasi akan lebih lama.

“Ohiya Ra, lo nggak bisa nund makan ya. Jangan sampe anak lo kelaperan Ra, ayo deh gue temenin.” Akhirnya sahabatnya itu memutuskan menemani Tiara ke kantin.

Waktu keduanya keluar kelas, salah satu teman lelaki mereka, memberi tahu bahwa beberapa saat lalu ada yang mencari Tiara.

“Tadi Akmal nyarrin lo, tapi dia ada kelas. Jadinya nitip ini ke gue, katanya buat lo,” ujar Rafael sambil menyerahkan plastik makanan yang dibungkus styrofoam ke tangan Tiara.

“Makan yang kenyang ya, Tiara.” Rafael tersenyum padanya lalu tangannya iseng mengusap kepala Tiara dan mengacak sekilas rambutnya. Setelah itu, Rafael langsung melenggang pergi bersama teman-temannya dari kelas lain yang kemudian juga melihat ke arah Tiara sambil melemparkan senyum.

***

Tiara sudah selesai bimbingan sekitar pukul 2. Namun ia masih harus menunggu Risya dan Cici yang sebentar lagi selesai bimbingan. Rencananya mereka bertiga mau mampir dulu ke coffe shop yang baru buka di fakultas ekonomi.

Tiara yang sedang menunggu di depan kelas, melihat Rafael di koridor lantai 4. Pria itu tengah berjalan dan terlihat menuju kearahnya.

“Tiara,” sapanya ketika sampai di depan Tiara.

“Kenapa Raf?” tanya Tiara.

“Gue anter balik, yuk. Ohiya, kita ada tugas kelompok untuk compelement tugas akhir, kan? Lo, gue, sama Vania. Sekalian aja gimana?” ujar Rafael.

“Tapi gue mau pergi sama Risya Cici. Kerja kelompoknya besok aja, gimana? Deadline-nya masih dua minggu lagi,” ucap Tiara.

“Tiara, lo tahu kan gue suka sama lo,” ujar Rafael blak-blakan dan ucapan pria itu kemungkinan dapat di dengar orang-orang yang lalu lalang di hadapan mereka.

“Iya, gue tau,” balas Tiara.

Rafael terdiam dan hanya menatapnya.

“Rafael, gue udah nikah dan sebentar lagi gue punya anak,” lanjut Tiara. Kalimat Tiara itu rasanya bagai petir di siang bolong buat Rafael. Ya, Rafael tahu Tiara sudah menikah. Namun penolakan seperti ini langsung dari Tiara membuat matanya dibuka lebar-lebar.

“Rafael, maaf. Waktu itu lo pernah nembak gue, dan gue udah menolak lo baik-baik. Tapi lo sendiri yang bersikeras sampai sekarang,” sambung Tiara.

“Oke, Ra. Gue bakal mundur,” ucap Rafael yang seketika membuat bibir Tiara terbuka sedikit. “Gue nggak akan ngejar-ngejar lo lagi,” sambung Rafael.

“Lo bakal ketemu cewek yang lebih baik dari gue, Raf,” tutur Tiara.

“Tapi gue nggak tau, gue bakal suka sama dia sesuka gue sama lo apa engga.” Rafael tertawa hambar.

Acara dengan Risya dan Cici pun menjadi batal. Tiara memutuskan pergi sama Rafael ke rumahnya dan Vania akan menyusul mereka untuk mengerjakan tugas kelompok.

“Kena mental pasti tuh anak. Lagian kenapa nekat sih, suka sama orang yang jelas-jelas udah ada pawangnya,” ujar Risya setelah Tiara pamit padanya dan Cici untuk pulang lebih dulu bersama Rafael.

“Namanya juga perasaan, Sya, mana bisa diatur. Manusia nggak bisa milih mau jatuh cinta sama siapa, kan?” ucap Cici yang diangguki oleh Risya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo merasa dirinya begitu brengsek karena pernah tiba-tiba mencium Tiara, tiba-tiba jatuh cinta, dan akhirnya mengajaknya menikah, padahal mereka baru mengenal. Setelah menjalani kehidupan bersama Tiara, perempuan itu yang membuatnya ingin meninggalkan benda-benda dari masa lalunya. Namun malam ini, justru Tiara lah yang membiarkannya kembali menyentuh benda-benda yang pernah dari masa lalunya.

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan itu sudah cukup lama. Hari itu adalah hari dimana ia bertemu lagi dengan Tiara, perempuan yang membuatnya percaya pada cinta pandangan pertama. Selama hidupnya, Aryo mempercayai bahwa love at first sight adalah bullshit. Namun Tuhan telah membuktikan padanya dan membuatnya justru tergila-gila pada Tiara. Aryo pikir, setiap lelaki akhirnya akan takluk pada satu wanita dan menemukan pelabuhan terakhirnya.

Aryo melangkahkan kakinya menuju satu ruangan yang cukup besar di basement rumahnya. Ketiba tiba di sana, ia lantas membuka pintunya dengan menekan 4 buah kode angka.

Aryo memasuki ruangan itu dan matanya langsung di suguhkan pemandangan botol-botol minuman yang disusun apik di dalam lemari bersekat. Ada juga yang disimpan di dalam laci yang memiliki kunci tersendiri. Benda-benda itu ia simpan rapi layaknya koleksi koleksi berharga yang memang dulu ia kagumi.

Ruang Penyimpanan Minuman Aryo

Aryo menyapukan pandangannya dan ketika matanya menangkap salah satu minuman yang ia ingat memiliki harga fantastis, ia segera mengambilnya. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang dikemas dengan botol keemasan yang berukuran cukup besar. Bahkan tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo membawa minuman senilai 14 milyar itu menuju meja bar yang terletak di sudut area basement. Di sana ia mendapati Tiara yang sudah mengambilkan sebuah gelas sloki untuknya.

“Mau aku tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure,” ujar Aryo mempersilakan Tiara. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya di lemari yang tidak jauh dari meja bar.

“Ra, aku nggak mau ngevape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo yang langsung diangguki Tiara.

Tiara pun menarik kursi di hadapan Aryo dan duduk di sana. Gelas sloki yang telah diisinya dengan minuman berwarna kuning bening itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo.

Bar Table

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku, lalu ia mengambil gelas sloki di hadapannya. Ini kali pertama ia minum di hadapan Tiara, padahal ia telah berjanji pada dirinya untuk meninggalkan masa lalunya yang kurang baik.

Aryo menatap Tiara sejenak, sebelum akhirnya ia meneguk vodkanya. Aryo hanya meneguk satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik dan tidak ada tanda-tanda Aryo akan meneguk lagi minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo bertopang di atas meja, lalu ia menjauhkan gelas sloki itu dari hadapannya. Dengan jemarinya, Aryo meremas rambutnya hingga helaian surai itu kini nampak sedikit berantakan.

Tidak lama kemudian, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke kursinya.

“Kadang aku masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua itu cuma keinginan sesaat.” Aryo menatap Tiara, “Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun,” tukas Aryo. Tiara balas menatapnya dengan tatapan bahagia bercampur terharu, di matanya terlihat kilatan air mata yang siap untuk tumpah.

“Aku menolak itu dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Tapi delapan puluh persennya, ada campur tangan kamu. Aku mau bisa terus ada di samping kamu dan selalu bisa ngelindungin kamu. Jadi aku nggak boleh kembali ke hal-hal itu. Itu nggak sehat untuk kesehatanku sendiri, buat kamu, dan calon anak kita. Ra, aku mau berusaha buat jadi yang lebih baik untuk keluarga kecil kita,” tutur Aryo.

Aryo mengatakan bahwa dirinya pernah memiliki trust issue. Ia jadi sulit terbuka pada orang lain dan selalu bersikap waspada. Lahir di keluarga pebisnis, membuatnya memiliki banyak saingan dan juga musuh. Sejak Aryo kecil, ia dididik dan mendapat tuntutan untuk selalu menjadi nomor satu. Untuk menjadi penerus bisnis keluarganya, banyak rintangan yang harus Aryo lalui. Harta melimpah yang ia dapatkan, sebanding dengan dukanya, dan Aryo sudah jatuh berkali-kali.

Apa yang orang lihat di luar, adalah Aryo yang hebat, karirnya sukses, dan segala tentang dirinya dikagumi oleh banyak wanita. Namun yang kebanyakan orang tidak tahu, di dalamnya Aryo juga memiliki sisi terapuhnya.

Beberapa hari belakangan, Aryo kembali merasa begitu jatuh, tapi ia memang tidak menunjukkan itu di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, Aryo dapat menunjukkan sisi tergelapnya. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Aryo memerhatikan Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berhadapan dengannya. Tiara menatap Aryo dengan tatapan lembutnya. “Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan jadi lebih baik. Sebagai istri kamu, aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham maksud kalimat terakhir Tiara.

“Aku mau biarin kamu untuk coba benda-benda ini lagi. Aku yakin, kamu akan tahu batasannya. Kenyataannya kamu yang memutuskan sendiri, kalau kamu nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya lalu sedetik kemudian ia tertawa.

“Kamu punya berjuta-juta ide di dalam pikiran kamu ya,” ujar Aryo.

“Iya, dong. Itu tugas seorang istri, Aryo,” ucap Tiara yang seketika Aryo membuat Aryo menyunggingkan senyum tipisnya. Kini Tiara yang justru dibuat sedikit panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakan bahwa Aryo menatapnya agak berbeda.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Apa?”

“Kok kamu keliatan gugup gitu?” tanya Aryo yang kemudian tidak bisa menahan tawanya lagi.

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu,” protes Tiara.

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo sambil dalam-dalam menatap Tiara diiringi seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Kemudian Aryo meletakkan kedua lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, hingga Tiara tidak punya ruang untuk lolos.

Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sesaat. Tiara tidak terpikirkan apa yang akan Aryo lakukan dengan memintanya menunggu. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi gugup. Saat Aryo kembali, Tiara mendapati Aryo menatapnya dengan tatapan sedikit sayu.

Aryo menghela pinggang Tiara agar mendekat padanya. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo mengusap lembut area di sekitar leher Tiara bagian belakang.

Kemudian Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau, Tiara menyemburkan tawa kecilnya ketika paham maksud Aryo. Tiara lalu mengangguk dan sebuah senyum kecil terbit di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai mengecup bibir Tiara. Tangan Aryo masih setia berada di lehernya, mengisyaratkan Tiara untuk tetap di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat hingga tidak ada lagi jarak diantara keduanya.

Aryo dan Tiara Kissing

Napas keduanya saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah mereka. Saat bibir Aryo dan Tiara menjauh sesaat, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata rasa mint,” bisik Tiara sensual di dekat Aryo.

Aryo sedikit tertawa, “I already cleaned it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Tapi aku penasaran deh sama rasanya,” ujar Tiara sambil menyipitkan matanya.

Should I bring vodka to you?” usul Aryo.

Tiara tertawa sekilas dan menaikkan sebelah alisnya, “What do you mean?”

“Kamu mau rasain vodka, right? Tapi dokter bilang kamu nggak boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil,” terang Aryo.

It's oke. That's not a big problem,” ucap Tiara.

How about ... I show you how to get the taste without you actually drinking it?” tanya Aryo dan muncul kerutan di dahinya.

Tiara tidak tahu kini sudah semerah apa wajahnya saat ia memahami maksud perkataan Aryo tersebut. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala dan seluruh permukaan kulitnya terasa menghangat. Setelah mengalihkan tatapannya dari Aryo karena perasaan gugupnya, kini Tiara kembali menatap lelaki yang dicintanya itu, “I'm pretty curious about that. You can show me how, then.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo merasa dirinya begitu brengsek karena pernah tiba-tiba mencium Tiara, tiba-tiba jatuh cinta, dan akhirnya mengajaknya menikah, padahal mereka baru mengenal. Setelah menjalani kehidupan bersama Tiara, perempuan itu yang membuatnya ingin meninggalkan benda-benda dari masa lalunya. Namun malam ini, justru Tiara lah yang membiarkannya kembali menyentuh benda-benda yang pernah dari masa lalunya.

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan itu sudah cukup lama. Hari itu adalah hari dimana ia bertemu lagi dengan Tiara, perempuan yang membuatnya percaya pada cinta pandangan pertama. Selama hidupnya, Aryo mempercayai bahwa love at first sight adalah bullshit. Namun Tuhan telah membuktikan padanya dan membuatnya justru tergila-gila pada Tiara. Aryo pikir, setiap lelaki akhirnya akan takluk pada satu wanita dan menemukan pelabuhan terakhirnya.

Aryo melangkahkan kakinya menuju satu ruangan yang cukup besar di basement rumahnya. Ketiba tiba di sana, ia lantas membuka pintunya dengan menekan 4 buah kode angka.

Aryo memasuki ruangan itu dan matanya langsung di suguhkan pemandangan botol-botol minuman yang disusun apik di dalam lemari bersekat. Ada juga yang disimpan di dalam laci yang memiliki kunci tersendiri. Benda-benda itu ia simpan rapih layaknya koleksi berharga dan memang dulu begitu ia gemari.

Ruang Penyimpanan Minuman Aryo

Aryo menyapukan pandangannya dan ketika matanya menangkap salah satu minuman yang ia ingat memiliki harga fantastis, ia segera mengambilnya. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang dikemas dengan botol keemasan yang berukuran cukup besar. Bahkan tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo membawa minuman senilai 14 milyar itu menuju meja bar yang terletak di sudut area basement. Di sana ia mendapati Tiara yang sudah mengambilkan sebuah gelas sloki untuknya.

“Mau aku tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure,” ujar Aryo mempersilakan Tiara. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya di lemari yang tidak jauh dari meja bar.

“Ra, aku nggak mau ngevape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo.

Tiara pun mengangguk setuju. Gelas sloki yang telah diisinya dengan minuman berwarna kuning bening itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo. Mereka pun duduk berhadapan di batasi meja bar yanng berbentuk melingkar.

Bar Table

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku, lalu ia mengambil gelas sloki di hadapannya. Ini kali pertama ia minum di hadapan Tiara, padahal ia telah berjanji pada dirinya untuk meninggalkan masa lalunya yang kurang baik.

Aryo menatap Tiara sejenak, sebelum akhirnya ia meneguk vodkanya. Aryo hanya meneguk satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik dan tidak ada tanda-tanda Aryo akan meneguk lagi minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo bertopang di atas meja, lalu ia menjauhkan gelas sloki itu dari hadapannya. Dengan jemarinya, Aryo meremas rambutnya hingga helaian surai itu kini nampak sedikit berantakan.

Tidak lama kemudian, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke kursinya.

“Kadang aku masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua itu cuma keinginan sesaat.” Aryo menatap Tiara, “Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun,” tukas Aryo. Tiara balas menatapnya dengan tatapan bahagia bercampur terharu, di matanya terlihat kilatan air mata yang siap untuk tumpah.

“Aku menolak itu dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Tapi delapan puluh persennya, ada campur tangan kamu. Aku mau bisa terus ada di samping kamu dan selalu bisa ngelindungin kamu. Jadi aku nggak boleh kembali ke hal-hal itu. Itu nggak sehat untuk kesehatanku sendiri, buat kamu, dan calon anak kita. Ra, aku mau berusaha buat jadi yang lebih baik untuk keluarga kecil kita,” tutur Aryo.

Aryo mengatakan bahwa dirinya pernah memiliki trust issue. Ia jadi sulit terbuka pada orang lain dan selalu bersikap waspada. Lahir di keluarga pebisnis, membuatnya memiliki banyak saingan dan juga musuh. Sejak Aryo kecil, ia dididik dan mendapat tuntutan untuk selalu menjadi nomor satu. Untuk menjadi penerus bisnis keluarganya, banyak rintangan yang harus Aryo lalui. Harta melimpah yang ia dapatkan, sebanding dengan dukanya, dan Aryo sudah jatuh berkali-kali.

Apa yang orang lihat di luar, adalah Aryo yang hebat, karirnya sukses, dan segala tentang dirinya dikagumi oleh banyak wanita. Namun yang kebanyakan orang tidak tahu, di dalamnya Aryo juga memiliki sisi terapuhnya.

Beberapa hari belakangan, Aryo kembali merasa begitu jatuh, tapi ia memang tidak menunjukkan itu di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, Aryo dapat menunjukkan sisi tergelapnya. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Aryo memerhatikan Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berhadapan dengannya. Tiara menatap Aryo dengan tatapan lembutnya. “Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan jadi lebih baik. Sebagai istri kamu, aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham maksud kalimat terakhir Tiara.

“Aku mau biarin kamu untuk coba benda-benda ini lagi. Aku yakin, kamu akan tahu batasannya. Kenyataannya kamu yang memutuskan sendiri, kalau kamu nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya lalu sedetik kemudian ia tertawa.

“Kamu punya berjuta-juta ide di dalam pikiran kamu ya,” ujar Aryo.

“Iya, dong. Itu tugas seorang istri, Aryo,” ucap Tiara yang seketika Aryo membuat Aryo menyunggingkan senyum tipisnya. Kini Tiara yang justru dibuat sedikit panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakan bahwa Aryo menatapnya agak berbeda.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Apa?”

“Kok kamu keliatan gugup gitu?” tanya Aryo yang kemudian tidak bisa menahan tawanya lagi.

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu,” protes Tiara.

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo sambil dalam-dalam menatap Tiara diiringi seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Kemudian Aryo meletakkan kedua lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, hingga Tiara tidak punya ruang untuk lolos.

Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sesaat. Tiara tidak terpikirkan apa yang akan Aryo lakukan dengan memintanya menunggu. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi gugup. Saat Aryo kembali, Tiara mendapati Aryo menatapnya dengan tatapan sedikit sayu.

Aryo menghela pinggang Tiara agar mendekat padanya. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo mengusap lembut area di sekitar leher Tiara bagian belakang.

Kemudian Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau, Tiara menyemburkan tawa kecilnya ketika paham maksud Aryo. Tiara lalu mengangguk dan sebuah senyum kecil terbit di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai mengecup bibir Tiara. Tangan Aryo masih setia berada di lehernya, mengisyaratkan Tiara untuk tetap di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat hingga tidak ada lagi jarak diantara keduanya.

Aryo dan Tiara Kissing

Napas keduanya saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah mereka. Saat bibir Aryo dan Tiara menjauh sesaat, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata mint,” bisik Tiara sensual di dekat Aryo.

Aryo sedikit tertawa, “I already cleaned it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Tapi aku penasaran deh sama rasanya,” ujar Tiara sambil menyipitkan matanya.

Should I bring vodka to you?” tanya Aryo.

What do you mean?”

“Kamu mau rasain vodka, right? Tapi dokter bilang kamu nggak boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil,” ujar Aryo.

“Ohiya ya. It's oke, not a big problem,” ucap Tiara.

How about ... I show you to get the taste without you actually drinking it?” tanya Aryo dan muncul kerutan di dahinya.

Tiara tidak tahu kini sudah semerah apa wajahnya saat ia memahami maksud perkataan Aryo tersebut. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala dan seluruh permukaan kulitnya terasa menghangat. Setelah mengalihkan tatapannya dari Aryo karena perasaan gugupnya, kini Tiara kembali menatap lelaki yang dicintanya itu, “I'm pretty curious about that. You can show me how, then.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan itu sudah cukup lama. Hari itu adalah hari dimana bertemu lagi dengan Tiara. Aryo merasa dirinya begitu brengsek dengan tiba-tiba mencium Tiara, tiba-tiba jatuh cinta, dan akhirnya mengajaknya menikah, padahal mereka baru mengenal. Setelah menikah dan menjalani kehidupan pernikahan, Tiara yang membuatnya ingin meninggalkan benda dari masa lalunya. Namun malam ini, justru Tiara lah yang membiarkannya kembali menyentuh benda-benda yang pernah dari masa lalunya.

Aryo menuju ke salah satu ruangan yang cukup besar di basement rumahnya. Ketiba tiba di sana, ia lantas membuka pintunya dengan menekan 4 buah kode angka.

Aryo memasuki ruangan itu dan matanya langsung di suguhkan pemandangan botol-botol minuman yang disusun apik di dalam lemari bersekat. Ada juga yang disimpan di dalam laci yang memiliki kunci tersendiri. Benda-benda itu ia simpan rapih layaknya koleksi berharga dan memang dulu begitu ia gemari.

Ruang Penyimpanan Minuman Aryo

Aryo menyapukan pandangannya dan ketika matanya menangkap salah satu minuman yang ia ingat memiliki harga fantastis, ia segera mengambilnya. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang dikemas dengan botol keemasan yang berukuran cukup besar. Bahkan tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo membawa minuman senilai 14 milyar itu menuju meja bar yang terletak di sudut area basement. Di sana ia mendapati Tiara yang sudah mengambilkan sebuah gelas sloki untuknya.

“Mau aku tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure,” ujar Aryo mempersilakan Tiara. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya di lemari yang tidak jauh dari meja bar.

“Ra, aku nggak mau ngevape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo.

Tiara pun mengangguk setuju. Gelas sloki yang telah diisinya dengan minuman berwarna kuning bening itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo. Mereka pun duduk berhadapan di batasi meja bar yanng berbentuk melingkar.

Bar Table

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku, lalu ia mengambil gelas sloki di hadapannya. Ini kali pertama ia minum di hadapan Tiara, padahal ia telah berjanji pada dirinya untuk meninggalkan masa lalunya yang kurang baik.

Aryo menatap Tiara sejenak, sebelum akhirnya ia meneguk vodkanya. Aryo hanya meneguk satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik dan tidak ada tanda-tanda Aryo akan meneguk lagi minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo bertopang di atas meja, lalu ia menjauhkan gelas sloki itu dari hadapannya. Dengan jemarinya, Aryo meremas rambutnya hingga helaian surai itu kini nampak sedikit berantakan.

Tidak lama kemudian, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke kursinya.

“Kadang aku masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua itu cuma keinginan sesaat.” Aryo menatap Tiara, “Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun,” tukas Aryo. Tiara balas menatapnya dengan tatapan bahagia bercampur terharu, di matanya terlihat kilatan air mata yang siap untuk tumpah.

“Aku menolak itu dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Tapi delapan puluh persennya, ada campur tangan kamu. Aku mau bisa terus ada di samping kamu dan selalu bisa ngelindungin kamu. Jadi aku nggak boleh kembali ke hal-hal itu. Itu nggak sehat untuk kesehatanku sendiri, buat kamu, dan calon anak kita. Ra, aku mau berusaha buat jadi yang lebih baik untuk keluarga kecil kita,” tutur Aryo.

Aryo mengatakan bahwa dirinya pernah memiliki trust issue. Ia jadi sulit terbuka pada orang lain dan selalu bersikap waspada. Lahir di keluarga pebisnis, membuatnya memiliki banyak saingan dan juga musuh. Sejak Aryo kecil, ia dididik dan mendapat tuntutan untuk selalu menjadi nomor satu. Untuk menjadi penerus bisnis keluarganya, banyak rintangan yang harus Aryo lalui. Harta melimpah yang ia dapatkan, sebanding dengan dukanya, dan Aryo sudah jatuh berkali-kali.

Apa yang orang lihat di luar, adalah Aryo yang hebat, karirnya sukses, dan segala tentang dirinya dikagumi oleh banyak wanita. Namun yang kebanyakan orang tidak tahu, di dalamnya Aryo juga memiliki sisi terapuhnya.

Beberapa hari belakangan, Aryo kembali merasa begitu jatuh, tapi ia memang tidak menunjukkan itu di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, Aryo dapat menunjukkan sisi tergelapnya. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Aryo memerhatikan Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berhadapan dengannya. Tiara menatap Aryo dengan tatapan lembutnya. “Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan jadi lebih baik. Sebagai istri kamu, aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham maksud kalimat terakhir Tiara.

“Aku mau biarin kamu untuk coba benda-benda ini lagi. Aku yakin, kamu akan tahu batasannya. Kenyataannya kamu yang memutuskan sendiri, kalau kamu nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya lalu sedetik kemudian ia tertawa.

“Kamu punya berjuta-juta ide di dalam pikiran kamu ya,” ujar Aryo.

“Iya, dong. Itu tugas seorang istri, Aryo,” ucap Tiara yang seketika Aryo membuat Aryo menyunggingkan senyum tipisnya. Kini Tiara yang justru dibuat sedikit panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakan bahwa Aryo menatapnya agak berbeda.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Apa?”

“Kok kamu keliatan gugup gitu?” tanya Aryo yang kemudian tidak bisa menahan tawanya lagi.

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu,” protes Tiara.

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo sambil dalam-dalam menatap Tiara diiringi seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Kemudian Aryo meletakkan kedua lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, hingga Tiara tidak punya ruang untuk lolos.

Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sesaat. Tiara tidak terpikirkan apa yang akan Aryo lakukan dengan memintanya menunggu. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi gugup. Saat Aryo kembali, Tiara mendapati Aryo menatapnya dengan tatapan sedikit sayu.

Aryo menghela pinggang Tiara agar mendekat padanya. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo mengusap lembut area di sekitar leher Tiara bagian belakang.

Kemudian Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau, Tiara menyemburkan tawa kecilnya ketika paham maksud Aryo. Tiara lalu mengangguk dan sebuah senyum kecil terbit di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai mengecup bibir Tiara. Tangan Aryo masih setia berada di lehernya, mengisyaratkan Tiara untuk tetap di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat hingga tidak ada lagi jarak diantara keduanya.

Aryo dan Tiara Kissing

Napas keduanya saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah mereka. Saat bibir Aryo dan Tiara menjauh sesaat, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata mint,” bisik Tiara sensual di dekat Aryo.

Aryo sedikit tertawa, “I already cleaned it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Tapi aku penasaran deh sama rasanya,” ujar Tiara sambil menyipitkan matanya.

Should I bring vodka to you?” tanya Aryo.

What do you mean?”

“Kamu mau rasain vodka, right? Tapi dokter bilang kamu nggak boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil,” ujar Aryo.

“Ohiya ya. It's oke, not a big problem,” ucap Tiara.

How about ... I show you to get the taste without you actually drinking it?” tanya Aryo dan muncul kerutan di dahinya.

Tiara tidak tahu kini sudah semerah apa wajahnya saat ia memahami maksud perkataan Aryo tersebut. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala dan seluruh permukaan kulitnya terasa menghangat. Setelah mengalihkan tatapannya dari Aryo karena perasaan gugupnya, kini Tiara kembali menatap lelaki yang dicintanya itu, “I'm pretty curious about that. You can show me how, then.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan itu sudah cukup lama. Hari itu adalah hari dimana bertemu lagi dengan Tiara. Aryo merasa dirinya begitu brengsek dengan tiba-tiba mencium Tiara, tiba-tiba jatuh cinta, dan akhirnya mengajaknya menikah, padahal mereka baru mengenal. Setelah menikah dan menjalani kehidupan pernikahan, Tiara yang membuatnya ingin meninggalkan benda dari masa lalunya. Namun malam ini, justru Tiara lah yang membiarkannya kembali menyentuh benda-benda yang pernah dari masa lalunya.

Aryo menuju ke salah satu ruangan yang cukup besar di basement rumahnya. Ketiba tiba di sana, ia lantas membuka pintunya dengan menekan 4 buah kode angka.

Aryo memasuki ruangan itu dan matanya langsung di suguhkan pemandangan botol-botol minuman yang disusun apik di dalam lemari bersekat. Ada juga yang disimpan di dalam laci yang memiliki kunci tersendiri. Benda-benda itu ia simpan rapih layaknya koleksi berharga dan memang dulu begitu ia gemari.

Ruang Penyimpanan Minuman Aryo

Aryo menyapukan pandangannya dan ketika matanya menangkap salah satu minuman yang ia ingat memiliki harga fantastis, ia segera mengambilnya. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang dikemas dengan botol keemasan yang berukuran cukup besar. Bahkan tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo membawa minuman senilai 14 milyar itu menuju meja bar yang terletak di sudut area basement. Di sana ia mendapati Tiara yang sudah mengambilkan sebuah gelas sloki untuknya.

“Mau aku tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure,” ujar Aryo mempersilakan Tiara. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya di lemari yang tidak jauh dari meja bar.

“Ra, aku nggak mau ngevape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo.

Tiara pun mengangguk setuju. Gelas sloki yang telah diisinya dengan minuman berwarna kuning bening itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo. Mereka pun duduk berhadapan di batasi meja bar yanng berbentuk melingkar.

Bar Table

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku, lalu ia mengambil gelas sloki di hadapannya. Ini kali pertama ia minum di hadapan Tiara, padahal ia telah berjanji pada dirinya untuk meninggalkan masa lalunya yang kurang baik.

Aryo menatap Tiara sejenak, sebelum akhirnya ia meneguk vodkanya. Aryo hanya meneguk satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik dan tidak ada tanda-tanda Aryo akan meneguk lagi minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo bertopang di atas meja, lalu ia menjauhkan gelas sloki itu dari hadapannya. Dengan jemarinya, Aryo meremas rambutnya hingga helaian surai itu kini nampak sedikit berantakan.

Tidak lama kemudian, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke kursinya.

“Kadang aku masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua itu cuma keinginan sesaat.” Aryo menatap Tiara, “Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun,” tukas Aryo. Tiara balas menatapnya dengan tatapan bahagia bercampur terharu, di matanya terlihat kilatan air mata yang siap untuk tumpah.

“Aku menolak itu dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Tapi delapan puluh persennya, ada campur tangan kamu. Aku mau bisa terus ada di samping kamu dan selalu bisa ngelindungin kamu. Jadi aku nggak boleh kembali ke hal-hal itu. Itu nggak sehat untuk kesehatanku sendiri, buat kamu, dan calon anak kita. Ra, aku mau berusaha buat jadi yang lebih baik untuk keluarga kecil kita,” tutur Aryo.

Aryo mengatakan bahwa dirinya pernah memiliki trust issue. Ia jadi sulit terbuka pada orang lain dan selalu bersikap waspada. Lahir di keluarga pebisnis, membuatnya memiliki banyak saingan dan juga musuh. Sejak Aryo kecil, ia dididik dan mendapat tuntutan untuk selalu menjadi nomor satu. Untuk menjadi penerus bisnis keluarganya, banyak rintangan yang harus Aryo lalui. Harta melimpah yang ia dapatkan, sebanding dengan dukanya, dan Aryo sudah jatuh berkali-kali.

Apa yang orang lihat di luar, adalah Aryo yang hebat, karirnya sukses, dan segala tentang dirinya dikagumi oleh banyak wanita. Namun yang kebanyakan orang tidak tahu, di dalamnya Aryo juga memiliki sisi terapuhnya.

Beberapa hari belakangan, Aryo kembali merasa begitu jatuh, tapi ia memang tidak menunjukkan itu di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, Aryo dapat menunjukkan sisi tergelapnya. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Aryo memerhatikan Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berhadapan dengannya. Tiara menatap Aryo dengan tatapan lembutnya. “Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan jadi lebih baik. Sebagai istri kamu, aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham maksud kalimat terakhir Tiara.

“Aku mau biarin kamu untuk coba benda-benda ini lagi. Aku yakin, kamu akan tahu batasannya. Kenyataannya kamu yang memutuskan sendiri, kalau kamu nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya lalu sedetik kemudian ia tertawa.

“Kamu punya berjuta-juta ide di dalam pikiran kamu ya,” ujar Aryo.

“Iya, dong. Itu tugas seorang istri, Aryo,” ucap Tiara yang seketika Aryo membuat Aryo menyunggingkan senyum tipisnya. Kini Tiara yang justru dibuat sedikit panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakan bahwa Aryo menatapnya agak berbeda.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Apa?”

“Kok kamu keliatan gugup gitu?” tanya Aryo yang kemudian tidak bisa menahan tawanya lagi.

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu,” protes Tiara.

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo sambil dalam-dalam menatap Tiara diiringi seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Kemudian Aryo meletakkan kedua lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, hingga Tiara tidak punya ruang untuk lolos.

Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sesaat. Tiara tidak terpikirkan apa yang akan Aryo lakukan dengan memintanya menunggu. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi gugup. Saat Aryo kembali, Tiara mendapati Aryo menatapnya dengan tatapan sedikit sayu.

Aryo menghela pinggangnya agar Tiara mendekat padanya. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo mengusap lembut area di sekitar leher Tiara. Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau Tiara menyemburkan tawanya yang terdengar agak tertahan itu. Tiara lantas mengangguk dan senyum kecil terbit di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai mengecup bibir Tiara. Tangan Aryo masih setia berada di lehernya, mengisyaratkan pada Tiara untuk tetap di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat hingga tidak ada lagi jarak diantara keduanya.

Aryo dan Tiara Kissing

Napas keduanya saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah mereka. Saat bibir Aryo dan Tiara menjauh sesaat, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata mint,” bisik Tiara di dekat Aryo.

I already cleaned it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Tapi aku penasaran deh sama rasanya,” ujar Tiara sambil menyipitkan matanya.

Should I bring vodka to you?” tanya Aryo.

What do you mean?”

“Kamu mau rasain vodka, right? Tapi dokter bilang kamu nggak boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil,” ujar Aryo.

“Ohiya ya. It's oke, not a big problem,” ucap Tiara.

How about ... I show you to get the taste without you actually drinking it?” tanya Aryo dan muncul kerutan di dahinya.

Tiara tidak tahu kini sudah semerah apa wajahnya saat ia memahami maksud perkataan Aryo tersebut. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala dan seluruh permukaan kulitnya terasa menghangat. Setelah mengalihkan tatapannya dari Aryo karena perasaan gugupnya, kini Tiara kembali menatap lelaki yang dicintanya itu, “I'm pretty curious about that. You can show me how, then.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Halo, Sayang. Iya, hari ini ini aku nggak bisa jemput kamu. Lagi lumayan padat di kantor,” ujar Aryo di telfonnya.

It's oke. Aku biaminta tolong jemput Egha,” balas Tiara.

Aryo yang masih terhubung dengan Tiara, mempersilakan seseorang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk. Kemudian matanya menangkap Rama tengah memasuki ruangannya.

“Oke. Ohya, kamu udah makan siang?” ujar Aryo lagi. Rama memberikan isyarat pada Aryo bahwa tujuan kedatangannya adalah ingin menyerahkan berkas pekerjaan. Aryo lantas memintanya untuk menunggu ia selesai menelfon.

“Udah kok barusan,” jawab Tiara.

“Kira-kira kamu selesai bimbingan jam berapa?”

“Jam 5 an deh kayaknya. Ini lagi nunggu giliran bimbingan.”

“Yaudah, Sayang, aku tutup dulu ya telfonnya. Kamu hati-hati, semangat bimbingannya.”

“Aryo,” ujar Tiara yang membuat Aryo urung mematikan telfonnya.

“Iya?”

I love you.” ucap Tiara. Aryo pun yang mendengar itu terdiam seketika. Rama memerhatikan ekspresi atasannya yang mendadak berubah menjadi secerah matahari di musim panas.

Suddenly?” tanya Aryo setelah beberapa detik ia membeku layaknya sebuah patung.

“Yaa, aku mau bilang aja. Biar kamu inget terus.”

“Hmm ... ya ...” Aryo bergumam tidak jelas, tapi telfonnya belum juga dimatikan. “I love you more. Bye, Sayang. Aku tutup ya telfonnya,” ujar Aryo akhirnya.

Oke, bye.”

Sambungan telfon pun diakhiri. Aryo meletakkan ponselnya di atas meja dan beralih pada Rama yang kini menatapnya dengan tatapan heran.

“Di depan istri aja, lo waras. Di kantor kerja udah kayak orang gila, seolah nggak ada hari esok aja gitu,” ujar Rama. Setelah mengatakannya, pria itu meletakkan beberapa berkas yang dibawanya di meja Aryo.

Aryo lantas mengambil berkas itu. Tatapan matanya begitu serius membaca laporan tentang penjualan sektor pembangunan perumahan dan investasi yang berperan sebagai indikator utama proyek baru perusahaan.

“Sesuai laporan yang lo baca, investasi properti di bulan lalu menyusut sampai 14 persen. Pasar saham dan obligasi menurun minggu lalu, karena investor mencerna berita perlambatan properti yang lebih dalam. Lalu untuk proyek baru pengembang kita, anjlok sebanyak 33% dibandingin dengan periode yang sama di tahun sebelumnya,” jelas Rama.

“Gimana dari segi pembelian tanah?” tanya Aryo. Ia menutup satu file di tangannya dan membuka file lainnya. Matanya memindai lapora tersebut tapi bersamaan mencerna penjelasan Rama.

“Pembelian tanah kita menyusut 24% dari September. Proyek yang diselesaikan oleh pengembang kita juga menyusut 21%. Ini disebabin karena penurunan harga yang ngehalangin pembeli rumah yang khawatir soal nilai aset mereka. Jadi posisi kita sebagai pengembang, sulit untuk menjual properti dan mendapatkan uang tunai yang sangat kita butuhkan untuk membiayai utang,” terang Rama panjang lebar.

Aryo menutup berkas-berkas itu dan bergerak dari kursinya. “

“Lo mau kemana?” tanya Rama yang matanya tidak lepas mengekori gerakan atasannya itu.

“Gue mau mencoba cara lain. Masih ada cara yang bisa kita lakuin untuk menaikkan penjualan dan membayar utang yang kita punya,” ujar Aryo.

“Gimana caranya?” tanya Rama yang belum dapat membaca isi pikiran Aryo.

Aryo sempat terdiam beberapa detik. Kemudian ia mengambil berkas dari dalam lemari di ruangannya untuk dibawa. “Kita akan coba memprioritaskan pekerja kita tidak sampai berhenti dan optimalkan kesempatan yang ada. Selain sektor perumahan, masih ada sektor lainnya yang bisa diperjuangkan. Ram, saat ini gue bertanggung jawab untuk perusahaan dan juga keluarga kecil gue. Gue akan mencoba cara apa pun, selama kesempatan itu masih ada,” ujar Aryo.

Rama mengangguk dan mengulaskan senyumnya. “Istri lo dan perusahaan ini beruntung banget punya lo, Bro,” ujar Rama sebelum akhirnya mengikuti langkah Aryo keluar dari ruangan.

***

Selesai mengikuti bimbingan untuk skripsinya sekitar pukul 5 sore, Tiara memutuskan untuk tidak langsung pulang. Tiara menguatkan hatinya untuk datang ke tempat ini, kantor suaminya. Dimana Harapan Jaya Group membangun bisnisnya dari nol sampai sebesar sekarang.

Sesampainya Tiara di sana, orang-orang yang berpapasan dengannya sontak melihat ke arahnya sekitar 3 detik, lalu berbisik-bisik dan langsung membuang muka.

Tiara mengabaikan hal tersebut dan terus melangkahkan kakinya. Ia menaiki lift menuju lantai 20, dimana tujuan utamanya berada.

“Tiara,” panggil seseorang ketika perempuan sampai di lantai 20. Tiara mendapati orang yang memanggilnya adalah pria jangkung berstelan jas abu-abu yang merupakan sekretaris suaminya.

“Mau ketemu pak Bos ya? Ayo gue anterin ke ruangannya,” ujar Rama sambil mengulaskan senyum sopannya.

Tiara mengiyakan dan langsung mengikuti langkah Rama. Sesampainya mereka di depan ruangan dengan pintu berpelitur coklat keemasan itu, Rama mengatakan supaya Tiara menunggu lebih dulu karena di ruangan Aryo sedang ada tamu. Akhirnya keduanya duduk di sofa yang tidak jauh dari sana.

“Pak Bos mah warasnya di depan lo doang. Di belakang lo nih ya, dia kerja udah kayak orang gila,” ucap Rama.

Tiara yang penasaran pun meminta Rama menceritakan soal Aryo selama suaminya berada di kantor. Apa yang ia dengar dari sekretaris suaminya lantas membuat Tiara sedikit terkejut. Rama mengatakan kalau Aryo tidak pernah menunjukkan kelemahannya di hadapan siapa pun, bahkan di depan Edi dan Feli. Padahal Rama tahu Aryo sedang sangat kalut karena masalah perusahaan.

Tidak lama kemudian, terlihat dua wanita keluar dari ruangan Aryo dan melewati mereka. Tiara mau tidak mau mendengar pembicaraan keduanya.

“Kayaknya itu istrinya pak Presdir,” ujar seorang perempuan pada temannya.

“Udah baca beritanya? Kasus itu yang buat perusahaan anjlok,” ujar perempuan satunya.

Setelah dua orang itu berlalu, Rama berujar pada Tiara, “Nggak usah di dengerin omongan orang-orang. Pikirin aja, Bos pasti seneng banget tau lo datang ke sini, ayo kita ke ruangannya,” ucap Rama sambil beranjak dari duduknya. Tiara pun segera mengikuti langkah pria itu menuju ruangan kerja suaminya.

***

Tiara mendapati wajah semringah Aryo ketika ia sampai di ruangannya. Aryo nampak sedikit terkejut dengan kedatangan Tiara yang tiba-tiba ke kantornya tanpa sepengetahuannya.

“Ram, tutup pintunya,” ujar Aryo pada Rama yang hendak berbalik pergi dari sana.

Rama mengacungkan jempolnya sebelum menutup pintu dan menghilang di sana. Sepeninggalan Rama, Tiara meletakkan totebag Gucci-nya di sofa lalu menghampiri Aryo di balik meja kerjanya.

“Kok kamu nggak bilang kalau mau ke sini?” tanya Aryo sambil meraih satu tangan Tiara lalu ia menggenggamnya.

Tiara mengusapkan ibu jarinya di tangan Aryo yang masih menggenggam tangannya itu. “Aku mau ngajak kamu pulang. Liat tuh, mata kamu udah kayak panda. Ada kantung matanya,” tutur Tiara.

“Masa sih? Emang keliatan banget ya?” Aryo mengarahkan satu tangannya yang bebas untuk mengambil kaca di laci meja. Namun Tiara lebih dulu menahannya. Tiara mengusapkan ibu jarinya di area bawah mata Aryo. Secara otomatis, Aryo memejamkan matanya dan menikmati usapan halus Tiara yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman.

Detik berikutnya, Aryo membuka matanya perlahan dan sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap Tiara. Tatapannya seolah mengadu pada Tiara bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

“Ra, aku belum bisa membuat keadaan perusahaan membaik. Kayaknya semua cara udah aku coba, tapi nggak ada yang berhasil,” ucap Aryo, nada suaranya terdengar putus asa.

Selama beberapa detik, Tiara hanya menatap Aryo. Pandangannya begitu teduh dan dalam, Tiara tidak menatapnya dengan tatapan kasihan yang membuat Aryo semakin merasa kecil. Justru Aryo merasa kalau Tiara begitu menyayanginya, dari cara perempuan itu menatap dan memperlakukannya.

“Aryo, kamu udah ngelakuin yang terbaik. Setiap manusia punya batas kemampuannya, kamu tau itu. Kalau kamu belum berhasil, bukan berarti masalahnya ada di kamu.” Mereka saling bertatapan dan Aryo menghela Tiara untuk duduk di pangkuan pria itu. Lengan Aryo memeluk pinggangnya dan pria itu meletakkan dagunya di bahu Tiara.

“Sekarang kamu lagi dikasih kesempatan untuk mencoba cara lain. Ada banyak cara yang masih nunggu kamu buat kamu temukan,” Tiara mengarahkan tangannya untuk mengusap sisi wajah Aryo, “Tuhan tau, seberapa kemampuan umatnya dan nggak akan ngasih cobaan di luar kemampuan yang kamu punya. Kamu harus yakini itu, yaa ... ?” ucap Tiara sambil mengusap lengan Aryo yang melingkar di perutnya.

“Ra, kita kayak gini 5 menit dulu ya,” ucap Aryo dan langsung dibalas anggukan oleh Tiara.

“Emang kamu nggak pegel kayak gini terus? Aku kan berat,” ujar Tiara.

“Mau kamu seberat apapun, aku akan jadi kuat buat kamu,” ucap Aryo sambil melesakkan kepalanya di ceruk leher Tiara dan memberikan sebuah kecupan di sana. Sentuhan Aryo di permukaan kulitnya selalu sama, lembut, dan sehalus kapas. Setiap Aryo melakukannya, jantung Tiara rasanya seperti dihujam oleh ribuan bintang. “Kamu wangi banget sih, aku suka,” sambung Aryo.

Sekitar berapa menit setelah posisi mereka tidak berubah, Tiara berujar, “Aryo.”

“Iya, Ra?” Aryo membuka matanya yang tadi menutup.

“Kamu boleh ngelakuin sesuatu yang kamu mau,” ungkap Tiara

Aryo tidak mengerti maksud Tiara, bahkan ia tidak kepikiran apa yang sedang ingin dilakukannya. “Maksud kamu ngelakuin apa?” tanya Aryo kemudian.

“Mungkin kamu kangen sama benda-benda masa lalu kamu. Kamu boleh, kalau mau melampiaskan perasaan itu lewat apa yang kamu suka. Gimana?” Tiara bergerak dari posisinya, ia memiringkan tubuhnya sedikit agar bisa menghadap Aryo. “Ruang penyimpanan minuman di basement rumah kita, kamu mau ke sana?” sambung Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Halo, Sayang. Iya, hari ini ini aku nggak bisa jemput kamu. Lagi lumayan padat di kantor,” ujar Aryo di telfonnya.

It's oke. Aku biaminta tolong jemput Egha,” balas Tiara.

Aryo yang masih terhubung dengan Tiara, mempersilakan seseorang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk. Kemudian matanya menangkap Rama tengah memasuki ruangannya.

“Oke. Ohya, kamu udah makan siang?” ujar Aryo lagi. Rama memberikan isyarat pada Aryo bahwa tujuan kedatangannya adalah ingin menyerahkan berkas pekerjaan. Aryo lantas memintanya untuk menunggu ia selesai menelfon.

“Udah kok barusan,” jawab Tiara.

“Kira-kira kamu selesai bimbingan jam berapa?”

“Jam 5 an deh kayaknya. Ini lagi nunggu giliran bimbingan.”

“Yaudah, Sayang, aku tutup dulu ya telfonnya. Kamu hati-hati, semangat bimbingannya.”

“Aryo,” ujar Tiara yang membuat Aryo urung mematikan telfonnya.

“Iya?”

I love you.” ucap Tiara. Aryo pun yang mendengar itu terdiam seketika. Rama memerhatikan ekspresi atasannya yang mendadak berubah menjadi secerah matahari di musim panas.

Suddenly?” tanya Aryo setelah beberapa detik ia membeku layaknya sebuah patung.

“Yaa, aku mau bilang aja. Biar kamu inget terus.”

“Hmm ... ya ...” Aryo bergumam tidak jelas, tapi telfonnya belum juga dimatikan. “I love you more. Bye, Sayang. Aku tutup ya telfonnya,” ujar Aryo akhirnya.

Oke, bye.”

Sambungan telfon pun diakhiri. Aryo meletakkan ponselnya di atas meja dan beralih pada Rama yang kini menatapnya dengan tatapan heran.

“Di depan istri aja, lo waras. Di kantor kerja udah kayak orang gila, seolah nggak ada hari esok aja gitu,” ujar Rama. Setelah mengatakannya, pria itu meletakkan beberapa berkas yang dibawanya di meja Aryo.

Aryo lantas mengambil berkas itu. Tatapan matanya begitu serius membaca laporan tentang penjualan sektor pembangunan perumahan dan investasi yang berperan sebagai indikator utama proyek baru perusahaan.

“Sesuai laporan yang lo baca, investasi properti di bulan lalu menyusut sampai 14 persen. Pasar saham dan obligasi menurun minggu lalu, karena investor mencerna berita perlambatan properti yang lebih dalam. Lalu untuk proyek baru pengembang kita, anjlok sebanyak 33% dibandingin dengan periode yang sama di tahun sebelumnya,” jelas Rama.

“Gimana dari segi pembelian tanah?” tanya Aryo. Ia menutup satu file di tangannya dan membuka file lainnya. Matanya memindai lapora tersebut tapi bersamaan mencerna penjelasan Rama.

“Pembelian tanah kita menyusut 24% dari September. Proyek yang diselesaikan oleh pengembang kita juga menyusut 21%. Ini disebabin karena penurunan harga yang ngehalangin pembeli rumah yang khawatir soal nilai aset mereka. Jadi posisi kita sebagai pengembang, sulit untuk menjual properti dan mendapatkan uang tunai yang sangat kita butuhkan untuk membiayai utang,” terang Rama panjang lebar.

Aryo menutup berkas-berkas itu dan bergerak dari kursinya. “

“Lo mau kemana?” tanya Rama yang matanya tidak lepas mengekori gerakan atasannya itu.

“Gue mau mencoba cara lain. Masih ada cara yang bisa kita lakuin untuk menaikkan penjualan dan membayar utang yang kita punya,” ujar Aryo.

“Gimana caranya?” tanya Rama yang belum dapat membaca isi pikiran Aryo.

Aryo sempat terdiam beberapa detik. Kemudian ia mengambil berkas dari dalam lemari di ruangannya untuk dibawa. “Kita akan coba memprioritaskan pekerja kita tidak sampai berhenti dan optimalkan kesempatan yang ada. Selain sektor perumahan, masih ada sektor lainnya yang bisa diperjuangkan. Ram, saat ini gue bertanggung jawab untuk perusahaan dan juga keluarga kecil gue. Gue akan mencoba cara apa pun, selama kesempatan itu masih ada,” ujar Aryo.

Rama mengangguk dan mengulaskan senyumnya. “Istri lo dan perusahaan ini beruntung banget punya lo, Bro,” ujar Rama sebelum akhirnya mengikuti langkah Aryo keluar dari ruangan.

***

Selesai mengikuti bimbingan untuk skripsinya sekitar pukul 5 sore, Tiara memutuskan untuk tidak langsung pulang. Tiara menguatkan hatinya untuk datang ke tempat ini, kantor suaminya. Dimana Harapan Jaya Group membangun bisnisnya dari nol sampai sebesar sekarang.

Sesampainya Tiara di sana, orang-orang yang berpapasan dengannya sontak melihat ke arahnya sekitar 3 detik, lalu berbisik-bisik dan langsung membuang muka.

Tiara mengabaikan hal tersebut dan terus melangkahkan kakinya. Ia menaiki lift menuju lantai 20, dimana tujuan utamanya berada.

“Tiara,” panggil seseorang ketika perempuan sampai di lantai 20. Tiara mendapati orang yang memanggilnya adalah pria jangkung berstelan jas abu-abu yang merupakan sekretaris suaminya.

“Mau ketemu pak Bos ya? Ayo gue anterin ke ruangannya,” ujar Rama sambil mengulaskan senyum sopannya.

Tiara mengiyakan dan langsung mengikuti langkah Rama. Sesampainya mereka di depan ruangan dengan pintu berpelitur coklat keemasan itu, Rama mengatakan supaya Tiara menunggu lebih dulu karena di ruangan Aryo sedang ada tamu. Akhirnya keduanya duduk di sofa yang tidak jauh dari sana.

“Pak Bos mah warasnya di depan lo doang. Di belakang lo nih ya, dia kerja udah kayak orang gila,” ucap Rama.

Tiara yang penasaran pun meminta Rama menceritakan soal Aryo selama suaminya berada di kantor. Apa yang ia dengar dari sekretaris suaminya lantas membuat Tiara sedikit terkejut. Rama mengatakan kalau Aryo tidak pernah menunjukkan kelemahannya di hadapan siapa pun, bahkan di depan Edi dan Feli. Padahal Rama tahu Aryo sedang sangat kalut karena masalah perusahaan.

Tidak lama kemudian, terlihat dua wanita keluar dari ruangan Aryo dan melewati mereka. Tiara mau tidak mau mendengar pembicaraan keduanya.

“Kayaknya itu istrinya pak Presdir,” ujar seorang perempuan pada temannya.

“Udah baca beritanya? Kasus itu yang buat perusahaan anjlok,” ujar perempuan satunya.

Setelah dua orang itu berlalu, Rama berujar pada Tiara, “Nggak usah di dengerin omongan orang-orang. Pikirin aja, Bos pasti seneng banget tau lo datang ke sini, ayo kita ke ruangannya,” ucap Rama sambil beranjak dari duduknya. Tiara pun segera mengikuti langkah pria itu menuju ruangan kerja suaminya.

***

Tiara mendapati wajah semringah Aryo ketika ia sampai di ruangannya. Aryo nampak sedikit terkejut dengan kedatangan Tiara yang tiba-tiba ke kantornya tanpa sepengetahuannya.

“Ram, tutup pintunya,” ujar Aryo pada Rama yang hendak berbalik pergi dari sana.

Rama mengacungkan jempolnya sebelum menutup pintu dan menghilang di sana. Sepeninggalan Rama, Tiara meletakkan totebag Gucci-nya di sofa lalu menghampiri Aryo di balik meja kerjanya.

“Kok kamu nggak bilang kalau mau ke sini?” tanya Aryo sambil meraih satu tangan Tiara lalu ia menggenggamnya.

Tiara mengusapkan ibu jarinya di tangan Aryo yang masih menggenggam tangannya itu. “Aku mau ngajak kamu pulang. Liat tuh, mata kamu udah kayak panda. Ada kantung matanya,” tutur Tiara.

“Masa sih? Emang keliatan banget ya?” Aryo mengarahkan satu tangannya yang bebas untuk mengambil kaca di laci meja. Namun Tiara lebih dulu menahannya. Tiara mengusapkan ibu jarinya di area bawah mata Aryo. Secara otomatis, Aryo memejamkan matanya dan menikmati usapan halus Tiara yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman.

Detik berikutnya, Aryo membuka matanya perlahan dan sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap Tiara. Tatapannya seolah mengadu pada Tiara bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

“Ra, aku belum bisa membuat keadaan perusahaan membaik. Kayaknya semua cara udah aku coba, tapi nggak ada yang berhasil,” ucap Aryo, nada suaranya terdengar putus asa.

Selama beberapa detik, Tiara hanya menatap Aryo. Pandangannya begitu teduh dan dalam, Tiara tidak menatapnya dengan tatapan kasihan yang membuat Aryo semakin merasa kecil. Justru Aryo merasa kalau Tiara begitu menyayanginya, dari cara perempuan itu menatap dan memperlakukannya.

“Aryo, kamu udah ngelakuin yang terbaik. Setiap manusia punya batas kemampuannya, kamu tau itu. Kalau kamu belum berhasil, bukan berarti masalahnya ada di kamu.” Mereka saling bertatapan dan Aryo menghela Tiara untuk duduk di pangkuan pria itu. Lengan Aryo memeluk pinggangnya dan pria itu meletakkan dagunya di bahu Tiara.

“Sekarang kamu lagi dikasih kesempatan untuk mencoba cara lain. Ada banyak cara yang masih nunggu kamu buat kamu temukan,” Tiara mengarahkan tangannya untuk mengusap sisi wajah Aryo, “Tuhan tau, seberapa kemampuan umatnya dan nggak akan ngasih cobaan di luar kemampuan yang kamu punya. Kamu harus yakini itu, yaa ... ?” ucap Tiara sambil mengusap lengan Aryo yang melingkar di perutnya.

“Ra, kita kayak gini 5 menit dulu ya,” ucap Aryo dan langsung dibalas anggukan oleh Tiara.

“Emang kamu nggak pegel kayak gini terus? Aku kan berat,” ujar Tiara.

“Mau kamu seberat apapun, aku akan jadi kuat buat kamu,” ucap Aryo sambil melesakkan kepalanya di ceruk leher Tiara dan memberikan sebuah kecupan di sana. Sentuhan Aryo di permukaan kulitnya selalu sama, lembut, dan sehalus kapas. Setiap Aryo melakukannya, jantung Tiara rasanya seperti dihujam oleh ribuan bintang. “Kamu wangi banget sih, aku suka,” sambung Aryo.

“Aryo,” ujar Tiara setelah beberapa menit posisi mereka tidak berubah.

“Iya, Ra?”

“Kamu boleh ngelakuin sesuatu yang kamu mau,” ungkap Tiara

Aryo tidak mengerti maksud Tiara, bahkan ia tidak kepikiran apa yang sedang ingin dilakukannya. “Maksud kamu?” tanya Aryo kemudian.

“Mungkin kamu kangen sama benda-benda masa lalu kamu. Kamu boleh, kalau mau melampiaskan perasaan itu lewat apa yang kamu suka. Gimana?” Tiara bergerak dari posisinya, ia memiringkan tubuhnya sedikit agar bisa menghadap Aryo. “Ruang penyimpanan minuman di basement rumah kita, kamu mau ke sana?” sambung Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Kamu masih marah sama aku?” tanya Aryo pada Tiara. Ia mengekori langkah Tiara sampai akhirnya mereka masuk ke kamar.

“Menurut kamu aja,” ucap Tiara.

“To the point, Ra. Kamu maunya apa ?” ujar Aryo lagi.

Tiara tidak menjawab. Aryo yang melihat diamnya Tiara pun semakin dibuat bingung.

“Kalau kamu kayak gini, gimana aku bisa tau. Aku udah jemput kamu ke rumah mama, tapi tiba-tiba kamu maunya nginep di sini. Kamu nggak mau pulang sama aku, kenapa?”

Tiara balas menatap Aryo, “Emang aku minta kamu jemput aku? Kamu bilangnya nyuruh aku nginep di rumah mama, karena kamu lembur. Tapi apa? Kamu yang tiba-tiba jemput.”

“Ra, please. Jangan kayak anak kecil gini dong. Aku nggak tau lho kamu maunya apa,” ucap Aryo.

Usai kalimat itu keluar dari bibir Aryo, sepasang mata Tiara yang menatapnya kini berkilat. Matanya berkaca-kaca dan tidak sampai dua detik kemudian, air matanya luruh. Dengan gerakan buru-buru, Tiara mengusap air matanya.

“Ra, maaf,” ucap Aryo yang merasa bersalah. “Maksud aku bukan kayak gitu,” sambung Aryo, nada suaranya terdengar begitu menyesal.

Mereka hanya saling berhadapan dan menatap selama beberapa detik. Kemudian Tiara berbalik begitu saja dan melangkah pergi dari hadapan Aryo. Aryo segera menyusul langkah Tiara dan berakhir ternyata istrinya itu menemui Feli. Mamanya akhirnya meminta Aryo untuk menunggu, sementara Feli berbicara pada Tiara untuk menenangkan perasaannya.

Aryo pun menunggu Tiara di ruang tamu. Pria itu menghembuskan napasnya dan memijit ujung hidungnya. Ia menyesal karena kelepasan melontarkan kalimat itu pada Tiara. Padahal kedatangannya yang tiba-tiba karena ingin menyenangkan Tiara. Namun yang terjadi justru dirinya kebawa emosi lebih dulu, karena ia tidak memahami apa yang diinginkan oleh Tiara.

Sekitar 10 menit kemudian, Aryo mendapati mamanya menghampirinya.

“Tiara nggak bener-bener mau marah sama kamu. Mama udah jelasin juga sama dia. Kalian salah paham aja. Tiara berharapnya kamu ngelakuin A, tapi kamu ngelakuin B. Baiknya, kalau terjadi kayak gini lagi, kamu dan Tiara cepat selesaikan, bicarakan baik-baik dengan kepala dingin,” tutur Feli.

Aryo mengangguk mengerti. Feli lantas pamit dari hadapannya dan tidak lama Tiara menghampirinya di ruang tamu.

“Ra,” ujar Aryo lebih dulu.

“Maaf tadi aku kelepasan ngomong kayak gitu ke kamu. Aku nggak bermaksud Ra,” sambung Aryo. Perlahan Tiara mengangkat wajahnya dan Aryo mendapati mata istrinya yang sembap.

“Aryo, aku juga minta maaf,” ucap Tiara, suaranya terdengar sedikit serak. “Nggak seharusnya aku bikin kamu bingung. Aku sebenernya nggak tau mau aku apa. Aku cuma mikir kalau kamu harus nurutin apa maunya aku, tanpa aku bilang. Aku udah egois. Maafin aku ya,” tutur Tiara.

Karena sudah malam juga, akhirnya mereka memutuskan untuk menginap dan bergegas tidur. Aryo sudah selesai mandi dan Tiara tengah menunggunya di kasur.

“Sebenernya semalem, aku mau tanyain kamu maunya apa, biar mood kamu lebih baik. Tapi pas aku selesai mandi, kamu udah tidur,” ucap Aryo.

“Kenapa nggak bangunin aku?” tanya Tiara.

“Kasian kamu tidurnya nyenyak banget. Besok paginya, aku harus ke kantor jam 7. Kamu masih tidur, jadi aku kiss kamu di pipi aja, terus aku berangkat kerja deh,” jelas Aryo.

Tiara terdiam sejenak. Ia menyadari bahwa dirinya terlalu bertingkah kekanakan dan hanya memikirkan diri sendiri, tanpa memikirkan posisi Aryo.

“Kamu tuh kenapa sebenarnya, hmm ...?” tanya Aryo. Mereka kini posisi rebahan dan saling berhadapan. Aryo menaruh lengannya di pinggang Tiara dan sesekali memberi usapan di puncak kepala istrinya.

“Kemarin itu aku nggak bisa tidur. Udah tiga kali deh kayanya. Mungkin juga bisa bawaan bayi. Aku nggak tau bener apa engga, tapi setiap kamu pulang lebih dari jam 10, aku nggak bisa tidur. Sementara kamu emang harus pulang malem karena kerjaan di kantor. Aku jadi gampang bete dan sensitif sama hal sepele kayak gitu,” ungkap Tiara.

“Okee, aku ngerti. Lain kali, kalau ada kejadian kayak gini lagi, kita bicarain baik-baik ya. Kalau kamu mau sesuatu, kayak misalnya aku pulang lebih cepet, kamu bisa bilang. Aku akan usahain meskipun aku nggak bisa janji. Yaa ... ?” ucap Aryo.

Tiara akhirnya mengangguk dan ia setuju. Untuk kebaikan hubungn keduanya, mereka sama-sama akan mengutaman komunikasi dan lebih saling mengerti.

“Kamu kenapa tiba-tiba ke sini? Kamu bilang mau nginep di kantor, terus aku disuruh nginep di rumah mama,” ujar Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak, alis tebalnya pun bertaut. Sebelum menjawab, pria itu menaikkan bed cover sampai setinggi bahu Tiara. “Aku mau jemput kamu rencananya, mau ngasih tau sesuatu. Ada kabar baik,” ucap Aryo.

“Kabar baik apa?” tanya Tiara terlihat antusias sekaligus penasaran.

“Soal perusahaan. Harga saham udah mulai naik, profit meningkat, dan respon masyarakat lumayan bagus. Aku pengen kamu tau. Itu terjadi juga karena kamu, karena kamu selalu support aku.”

Tatapan Tiara seketika berubah. Ia tidak menyangka bahwa hal besar yang terjadi di hidup Aryo, pria itu ingin membagikannya pada Tiara. Itu hal sederhana dalam sebuah hubungan, tapi artinya begitu dalam bagi Tiara.

“Aku nggak tau gimana jadinya, kalau aku nggak ketemu kamu. Mungkin aku bukan Aryo yang sekarang. Saat ini aku juga masih punya banyak kekurangan. Tadi aku bikin kamu nangis, dan aku nyesel banget Ra.”

Tiara menggelengkan kepalanya. Dengan lembut, ia mengusap sisi wajah Aryo. Tatapan Tiara padanya begitu teduh seolah perempuan itu telah memberikan seluruh cinta dan kasih sayangnya untuk Aryo.

“Kamu udah ngelakuin yang terbaik. Kekurangan kamu yang justru bikin kamu sempurna, Aryo. Kamu mau belajar dan mencoba untuk jadi lebih baik setiap harinya. Aku bangga sama kamu. Bangga banget,” ungkap Tiara. Sedetik kemudian, Tiara mendekatkan dirinya dan lantas membawa torso Aryo ke pelukannya. Ia memberikan usapan di punggung Aryo dengan gerakan searah.

“Aku mau manja dulu sama kamu,” ucap Tiara yang masih betah memeluk Aryo. Padahal sudah hampir 10 menit posisi mereka statis seperti ini.

“Ini kamu yang mau manja atau dedek bayinya yang manja?” tanya Aryo. Sesaat kemudian Tiara pun mengurai pelukan mereka.

“Dedek bayinya mau manja sama Papanya. Iya kan, Jagoan?” ujar Tiara sambil mengusap perutnya dengan satu tangannya.

“Bilang aja mamanya yang mau,” ledek Aryo.

“Engga juga. Anak kamu nih, kangen sama kamu. Setiap kamu pulang, dia udah tidur.”

“Oh iya? Jagoan Papa udah bobo ya kalau Papa pulang? Maaf ya, Jagoan.” Aryo mendekatkan posisinya agar sejajar dengan perut Tiara. “Besok kalau Papa libur kerja, kita main ya, jalan-jalan juga. Oh iya Ra, aku baru inget sesuatu,” ujar Aryo ketika tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikirannya.

“Jadwal sidang skripsi kamu udah keluar?” tanya Aryo.

“Udah. Minggu depan aku sidang. Terus acara wisudanya minggu depannya lagi. Kenapa emangnya?”

“Aku mau ngajak kamu ke Switzerland habis kamu wisuda. Kamu bilang, kamu mau babymoon, kan? Aku udah cari tau dan usia kandungan kamu udah boleh naik pesawat.”

“Kamu niat banget sih, astaga.” Tiara menyunggingkan senyum manisnya.

“Iya, dong. Aku kan suami dan calon papa siaga. Kamu belum jawab pertanyaan aku Ra, kamu mau kan kita ke Switzerland?”

“Iya, aku mau, Aryo.”

Aryo seketika tersenyum dengar jawaban itu. “Ra.”

“Iya?”

“Aku nggak bisa selalu janji, kamu akan bahagia sama aku. Ada saatnya kamu marah dan kesal sama sifat aku. Atau bahkan kamu nangis,” ucap Aryo. Kedua pipi Tiara di tangkup oleh Aryo dan pria itu menatapnya lekat. “Tapi aku akan selalu belajar dan berusaha untuk bikin kamu bahagia, aman, dan selalu merasa dicintai. Kamu harus tau, kamu nggak akan sendirian lagi, saat rasa sakit dari masa lalu kamu datang. Aku mau jadi tempat kamu berkeluh kesah, nangis, sekalipun tempat kamu marah. I love you, Tiara. I love you unconditionally,” ungkap Aryo panjang lebar.

Tiara terpaku sesaat. Bibirnya tersenyum ke dalam, tanda ia begitu terharu sekaligus bahagia, menjadi satu.

“Aryo, aku nggak tau love languange kamu yang lebih dominan apa. Kita semua punya love 5 love languange, tapi ada yang lebih dominan. So I want to know what is your love language? Ini love languange yang kamu butuhin dari pasangan kamu, bukan yang kamu kasih ya,” ujar Tiara.

Are you really curious about that?” tanya Aryo.

Tiara mengangguk cepat.

“Hmm ... * I think ... physical touch*?” ucap Aryo terdengar kurang yakin.

Are you sure?” Mata Tiara sukses membalalak dan tawanya pecah detik itu juga kala mendengar jawaban Aryo

“*I'm sure,” jawab Aryo dengan nada yakinnya. Pria itu menganggukkan kepalanya dua kali, tanda ia begitu sudah yakin.

Oke. So I need to learn more about your love languange.

“What do you mean? Why you want to learn it?

Because I want to give you the best love of me, cause you are my best, and you must to know about that fact.”

Setelah ucapan Tiara itu, keduanya bersamaan mengulaskan senyum. Tiara kembali mendekat pada Aryo, ia memerhatikan sesuatu di bawah mata kanan Aryo. “Lucu banget ini. Aku boleh kiss kiss?” ujar Tiara.

“Apa yang lucu?”

“Your little mole at you under eye. Looks so cute and make you hansome at the same time,” ucap Tiara. Tanpa sungguhan menunggu izin dari Aryo, Tiara mencondongkan diri lalu memberi kecupan di tahi lalat kecil di bawah mata Aryo itu.

“Barusan itu bagian dari physical touch?” tanya Aryo.

Yes. But it's just a little bit of the whole part. Are you ... nervous tho?” Tiara sukses tertawa memerhatikan Aryo yang kini terlihat gugup.

Aryo lantas memangkas habis jarak mereka. Ia menempelkan keningnya di kening Tiara, kemudian berujar pelan di dekatnya, “I'm little bit nervous, but very excited at the same time, when you do it for me. Should we do it again?”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷