alyadara

“Halo, Sayang. Iya, hari ini ini aku nggak bisa jemput kamu. Lagi lumayan padat di kantor,” ujar Aryo di telfonnya.

It's oke. Aku minta tolong jemput Egha aja ya,” balas Tiara.

Aryo yang masih terhubung dengan Tiara, mempersilakan seseorang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk. Kemudian matanya menangkap Rama tengah memasuki ruangannya.

“Oke. Ohya, kamu udah makan siang?” ujar Aryo lagi. Rama memberikan isyarat pada Aryo bahwa tujuan kedatangannya adalah ingin menyerahkan berkas pekerjaan. Aryo lantas memintanya untuk menunggu ia selesai menelfon.

“Udah kok barusan,” jawab Tiara.

“Kira-kira kamu selesai bimbingan jam berapa?”

“Jam 5 an deg kayaknya. Ini lagi nunggu giliran bimbingan.”

“Yaudah, Sayang. Kalau gitu aku tutup dulu ya telfonnya. Kamu hati-hati, semangat bimbingannya.”

“Aryo,” ujar Tiara yang membuat Aryo urung mematikan telfonnya.

“Iya?”

I love you.” ucap Tiara cepat. Aryo pun yang mendengar itu terdiam seketika. Rama memerhatikan ekspresi atasannya yang mendadak berubah menjadi secerah matahari di musim panas.

Suddenly?” tanya Aryo setelah beberapa detik ia membeku layaknya sebuah patung.

“Yaa, aku mau bilang aja. Biar kamu inget terus.”

“Hmm ... ya ...” Aryo bergumam tidak jelas, tapi telfonnya belum juga dimatikan. “I love you too. Bye, Sayang. Aku tutup ya telfonnya,” ujar Aryo akhirnya.

Oke, bye.”

Sambungan telfon pun diakhiri. Aryo meletakkan ponselnya di atas meja dan beralih pada Rama yang kini menatapnya dengan tatapan heran.

“Di depan istri aja, lo waras. Di kantor kerja udah kayak orang gila, seolah nggak ada hari esok aja gitu,” ujar Rama. Setelah mengatakannya, pria itu meletakkan beberapa berkas yang dibawanya di meja Aryo.

Aryo lantas mengambil berkas itu. Tatapan matanya begitu serius membaca balasan dari approaching perusahaannya kepada para produsen dan distributor yang selama ini telah loyal terhadap Harapan Jaya Group.

“Sebagian produsen dan distributor loyal menolak untuk kerja dengan kita. Tapi ada dua dari mereka yang ngasih kesempatan. Mereka minta untuk diyakini lagi dan mengajukan syarat,” ujar Rama menjelaskan. Aryo pun menatapnya dengan alis menyatu. “Syaratnya adalah kalau sampai produk kita nggak sesuai harapan dan tanggapan masyarakat masih aja jelek, mereka angkat tangan. Kemungkinan mereka akan memutus hubungan dengan kita karena nggak mau namanya ikut tercemar,” jelas Rama panjang lebar.

Aryo menutup berkas-berkas itu dan bergerak dari kursinya.

“Lo mau kemana?” tanya Rama yang matanya tidak lepas mengekori gerakan atasannya itu.

“Gue mau meyakini mereka dan mewujudkan 1% kesempatan yang dibahas di rapat direksi kemarin. Mungkin ini kesempatan terakhir yang kita punya,” ujar Aryo.

“Lo yakin?”

Aryo sempat terdiam beberapa detik. Kemudian ia mengambil berkas dari dalam lemari di ruangannya untuk dibawa. “Setiap kesempatan yang ada, gue akan coba. Saat ini gue bertanggung jawab untuk perusahaan dan juga keluarga kecil gue, Ram,” ujar Aryo.

Rama mengangguk dan mengulaskan senyumnya. “Istri lo dan perusahaan ini beruntung banget punya lo, Bro,” ujar Rama sebelum mengikuti langkah Aryo keluar ruangan.

***

Selesai mengikuti bimbingan untuk skripsinya sekitar jam 5, Tiara memutuskan untuk tidak langsung pulang. Tiara menguatkan hatinya untuk datang ke tempat ini, kantor suaminya, gedung dimana Harapan Jaya Group membangun bisnisnya dari nol sampai sebesar sekarang.

Sesampainya Tiara di sana, orang-orang yang berpapasan dengannya sontak melihat ke arahnya selama 3 detik, kemudian berbisik-bisik dan langsung membuang muka.

Tiara mengabaikan hal tersebut dan terus melangkahkan kakinya. Ia menaiki lift menuju lantai 20, dimana tujuan utamanya berada.

“Tiara,” panggil seseorang ketika perempuan itu sampai di lantai 20. Tiara mendapati pria jangkung berstelan jas abu-abu yang merupakan sekretaris suaminya.

“Mau ketemu pak Bos ya? Ayo gue anterin ke ruangannya,” ujar Rama.

Tiara mengiyakan dan langsung mengikuti langkah Rama. Sesampainya mereka di depan ruangan dengan pintu berpelitur coklat keemasan itu, Rama mengatakan supaya Tiara menunggu lebih dulu karena sedang ada tamu di ruangan Aryo. Akhirnya keduanya duduk di sofa yang tidak jauh dari sana.

“Pak Bos mah warasnya di depan lo doang. Di belakang lo nih ya, dia kerja udah kayak orang gila,” ucap Rama.

Tiara yang penasaran pun meminta Rama menceritakan soal Aryo selama suaminya berada di kantor. Apa yang ia dengar dari sekretaris suaminya itu membuat Tiara sedikit terkejut. Rama mengatakan kalau Aryo tidak pernah menunjukkan kelemahannya di hadapan siapa pun, bahkan di depan Edi dan Feli. Padahal Rama tahu Aryo sedang sangat kalut karena masalah perusahaan.

Tidak lama terlihat dua orang wanita keluar dari ruangan Aryo dan melewati mereka. Tiara mau tidak mau mendengar pembicaraan keduanya.

“Kayaknya itu istrinya pak Presdir,” ujar seorang perempuan pada temannya.

“Udah baca beritanya? Itu rumornya bener?” ujar perempuan satunya.

Setelah dua orang itu berlalu, Rama berujar pada Tiara, “Nggak usah di dengerin omongan orang-orang. Pikirin aja, Bos pasti seneng banget tau lo datang ke sini, ayo,” ucap Rama sambil beranjak dari duduknya. Tiara pun segera mengikuti langkah pria itu menuju ruangan Aryo.

***

Tiara mendapati wajah semringah Aryo ketika ia sampai di ruangannya. Aryo nampak sedikit terkejut dengan kedatangan Tiara yang tiba-tiba ke kantornya tanpa sepengetahuannya.

“Ram, tutup pintunya,” ujar Aryo pada Rama yang akan berbalik pergi dari sana.

Rama mengacungkan jempolnya sebelum menutup pintu dan menghilang di sana. Sepeninggalan Rama, Tiara meletakkan totebag Gucci-nya di sofa lalu menghampiri Aryo di balik meja kerjanya.

“Kok kamu nggak bilang mau ke sini?” tanya Aryo sambil meraih satu tangan Tiara lalu menggenggamnya.

Tiara mengusapkan ibu jarinya di tangan Aryo yang masih menggenggam tangannya. “Aku mau ngajak kamu pulang. Liat tuh mata kamu udah kayak panda, ada kantung matanya,” tutur Tiara.

“Masa sih aku punya kantung mata?” Aryo mengarahkan satu tangannya yang bebas untuk mengambil kaca di laci meja. Namun Tiara lebih dulu menahannya. Tiara mengusapkan ibu jarinya di area bawah mata Aryo. Aryo memejamkan matanya dan menikmati usapan halus Tiara yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman.

Detik berikutnya Aryo membuka matanya perlahan dan sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap Tiara. Tatapannya seolah mengadu pada Tiara bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

“Ra, aku belum bisa membuat keadaan perusahaan membaik. Kayaknya semua cara udah aku coba, tapi nggak ada yang berhasil,” ucap Aryo, nada suaranya terdengar putus asa.

Selama beberapa detik, Tiara hanya menatap Aryo lembut. Tiara tidak menatapnya dengan tatapan kasihan yang membuatnya semakin merasa kecil. Justru Aryo merasa kalau Tiara begitu menyayanginya dari cara perempuan itu menatap dan memperlakukannya.

“Aryo, kamu udah ngelakuin yang terbaik. Setiap manusia punya batas kemampuannya, kamu tau itu. Kalau kamu belum berhasil, bukan berarti masalahnya ada di diri kamu.” Mereka saling bertatapan dan Aryo menghelanya untuk duduk di pangkuan pria itu. Lengan Aryo memeluk pinggangnya dan pria itu meletakkan dagunya di bahu Tiara.

“Sekarang kamu lagi dikasih kesempatan untuk mencoba cara lain. Ada banyak cara yang menunggu kamu buat ditemukan,” Tiara mengarahkan tangannya untuk mengusap sekilas sisi wajah Aryo, “Tuhan tau seberapa kemampuan umatnya dan nggak akan ngasih cobaan di luar kemampuan yang kamu punya. Kamu harus yakini itu, yaa ... ?” ucap Tiara sambil mengusap lengan Aryo yang melingkar di perutnya.

“Ra, kita kayak gini 5 menit dulu ya,” ucap Aryo dan langsung dibalas anggukan oleh Tiara.

“Emang kamu nggak pegel kayak gini terus?” tanya Tiara.

“Engga. Kamu wangi banget sih. Aku suka,” ucap Aryo sambil melesakkan kepalanya di ceruk leher Tiara dan memberikan sebuah kecupan di sana. Sentuhan Aryo di permukaan kulitnya selalu sama, lembut, dan sehalus kapas. Setiap Aryo melakukannya, jantung Tiara rasanya seperti dihujam oleh ribuan bintang.

“Aryo,” ujar Tiara.

“Iya, Ra?”

“Kamu boleh ngelakuin sesuatu yang kamu mau.”

“Maksud kamu?”

“Mungkin kamu kangen sama benda-benda masa lalu kamu. Kamu boleh, kalau mau melampiaskan perasaan itu lewat apa yang kamu suka. Gimana?” Tiara bergerak dari posisinya, ia memiringkan tubuhnya sedikit agar bisa menatap Aryo. “Ruang penyimpanan minuman di basement rumah kita, kamu mau ke sana?” sambung Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Halo, Sayang. Iya, hari ini ini aku nggak bisa jemput kamu. Lagi lumayan padat di kantor,” ujar Aryo di telfonnya.

It's oke. Aku minta tolong jemput Egha aja ya,” balas Tiara di ujung telfon.

Aryo yang masih terhubung dengan Tiara, mempersilakan seseorang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk. Kemudian matanya menangkap Rama yang tengah memasuki ruangannya.

“Oke. Ohya, kamu udah makan siang?” ujar Aryo lagi. Rama lantas memberi isyarat bahwa tujuannya kedatangannya ke ruangan Aryo karena ingin menyerahkan berkas. Aryo meminta sekretarisnya untuk menunggu ia selesai menelfon.

“Udah kok barusan,” jawab Tiara di telfon.

“Kira-kira kamu selesai bimbingan jam berapa?”

“Jam 5 an deg kayaknya. Ini lagi nunggu giliran bimbingan.”

“Yaudah, Sayang. Kalau gitu aku tutup dulu ya telfonnya. Kamu hati-hati, semangat bimbingannya.”

“Aryo,” ujar Tiara yang membuat Aryo urung mematikan telfonnya.

“Iya?”

I love you.” celetuk Tiara cepat. Aryo pun yang mendengar itu terdiam seketika. Rama memerhatikan ekspresi atasannya yang mendadak berubah menjadi secerah matahari di musim panas.

Suddenly?” tanya Aryo setelah beberapa detik ia membeku layaknya sebuah patung.

“Yaa, aku mau bilang aja. Biar kamu inget terus.”

“Hmm ... ya ... I love you too. Bye, Sayang. Aku tutup ya telfonnya.”

Oke, bye.”

Sambungan telfon pun diakhiri. Aryo meletakkan ponselnya di atas meja dan beralih pada Rama yang kini menatapnya sedikit aneh. Rama sedikit meringis karena baru saja mendengar percakapan manis antara atasan dengan istrinya.

“Di depan istri doang lo waras. Di kantor kerja udah kayak orang gila, seolah-olah nggak ada hari esok aja gitu,” sembur Rama. Setelah mengatakannya, pria itu meletakkan beberapa berkas yang dibawanya di meja Aryo.

Aryo mengambil berkas itu. Tatapan matanya begitu serius membaca balasan approaching perusahaannya kepada para produsen dan distributor yang selama ini telah loyal dengan perusahaan mereka.

“Sebagian produsen dan distributor loyal menolak untuk kerja dengan kita. Tapi ada dua dari mereka yang ngasih kesempatan, mereka minta untuk diyakini lagi dan mengajukan syarat. Syaratnya adalah kalau sampai produk kita nggak sesuai harapan dan tanggapan masyarakat masih aja jelek, mereka angkat tangan. Kemungkinan mereka akan memutus hubungan dengan kita karena nggak mau namanya ikut tercemar,” jelas Rama panjang lebar.

Aryo menutup berkas-berkas itu dan bergerak dari kursinya.

“Lo mau kemana?” tanya Rama yang matanya tidak lepas mengekori gerakan atasannya itu.

“Gue mau meyakini mereka dan mewujudkan 1% kesempatan yang dibahas di rapat direksi kemarin. Mungkin ini kesempatan terakhir yang kita punya,” ujar Aryo.

“Lo yakin?”

Aryo sempat terdiam beberapa detik. Kemudian ia mengambil berkas dari dalam lemari di ruangannya untuk dibawa. “Setiap kesempatan yang ada gue akan coba. Saat ini gue bertanggung jawab untuk perusahaan dan juga keluarga kecil gue, Ram,” ujar Aryp.

Rama mengangguk dan mengulaskan senyumnya. “Istri lo dan perusahaan ini beruntung banget punya lo, Bro,” ujar Rama sebelum mengikuti langkah Aryo keluar ruangan.

***

Tiara menguatkan hatinya dan memberanikan diri untuk datang ke tempat ini, kantor suaminya, gedung dimana Harapan Jaya Group membangun nama dan bisnisnya. Sesampainya Tiara di sana, orang-orang yang berpapasan dengannya sontak melihat ke arahnya selama 3 detik, kemudian berbisik-bisik dan langsung membuang muka.

Tiara mengabaikan hal tersebut dan terus melangkahkan kakinya. Ia menaiki lift menuju lantai 20, dimana tujuan utamanya berada.

“Tiara,” panggil seseorang ketika perempuan itu sampai di lantai 20. Tiara mendapati pria jangkung berstelan jas abu-abu yang merupakan sekretaris suaminya, Rama.

“Mau ketemu pak Bos ya? Ayo gue anterin ke ruangannya,” ujar Rama.

Tiara mengiyakan dan langsung mengikuti langkah Rama. Sesampainya mereka di depan ruangan dengan pintu berpelitur coklat keemasan itu, Rama mengatakan supaya Tiara menunggu dahulu karena sedang ada tamu di ruangan Aryo. Akhirnya keduanya duduk di sofa yang tidak jauh dari sana.

“Pak Bos mah warasnya di depan lo doang. Di belakang lo nih ya, dia kerja kayak orang gila,” celetuk Rama.

Tiara yang penasaran lantas meminta Rama menceritakan soal Aryo selama suaminya di kantor. Apa yang ia dengar dari sekretaris suaminya itu pun membuat Tiara sedikit terkejut.

Tidak lama terlihat dua orang wanita keluar dari ruangan Aryo dan melewati mereka. Tiara mau tidak mau mendengar pembicaraan keduanya.

“Kayaknya itu istrinya pak Presdir,” ujar perempuan satunya pada temannya.

“Udah baca beritanya kan? Itu rumornya bener?” ujar perempuan di sampingnya.

Setelah dua orang itu berlalu, Rama berujar pada Tiara, “Nggak usah di dengerin omongan orang-orang. Pikirin aja, Bos pasti seneng banget tau lo datang ke sini, ayo,” ucap Rama. Tiara segera mengikuti langkah pria itu menuju ruangan Aryo.

***

Tiara mendapati wajah semringah Aryo ketika ia sampai di ruangannya. Aryo nampak sedikit terkejut dengan kedatangan Tiara yang tiba-tiba ke kantornya tanpa sepengetahuannya.

“Ram, tutup pintunya,” ujar Aryo pada Rama yang akan berbalik pergi dari sana.

Rama mengacungkan jempolnya sebelum menutup pintu dan menghilang di sana. Sepeninggalan Rama dari sana, Tiara meletakkan totebag Gucci-nya di sofa lalu menghampiri Aryo di balik meja kerjanya.

“Kok kamu nggak bilang mau ke sini?” tanya Aryo sambil meraih satu tangan Tiara dan menggenggamnya.

A kind of surprise...?” Tiara mengusapkan ibu jarinya di tangan Aryo yang masih menggenggam tangannya.

“Aku mau ngajak kamu pulang. Liat tuh mata kamu udah kayak panda, ada kantung matanya,” tutur Tiara.

“Masa sih aku punya kantung mata?” Aryo mengarahkan satu tangannya yang bebas untuk mengambil kaca di laci meja. Namun Tiara lebih dulu menahannya. Kemudian Tiara mengusapkan ibu jarinya di area bawah mata Aryo. Aryo memejamkan matanya dan menikmati usapan halus Tiara yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman.

Detik berikutnya Aryo membuka matanya perlahan dan sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap Tiara. Tatapannya seolah mengadu pada Tiara bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

“Ra, aku belum bisa membuat keadaan perusahaan membaik. Rasanya semua cara udah aku coba, tapi nggak ada yang berhasil,” ujar Aryo, nada suaranya terdengar putus asa.

Selama beberapa detik, Tiara hanya menatapnya lembut. Tiara tidak menatapnya dengan tatapan kasihan yang membuatnya semakin merasa kecil. Justru Aryo merasa kalau Tiara begitu mencintainya dari cara perempuan itu menatap dan memperlakukannya.

“Aryo, kamu udah ngelakuin yang terbaik. Setiap manusia punya batas kemampuannya, kamu tau itu. Kalau kamu belum berhasil, bukan berarti masalahnya ada di diri kamu,” Tiara menjeda ucapannya. Mereka saling bertatapan dan Aryo menghelanya untuk duduk di pangkuan pria itu. Lengan Aryo memeluk pinggangnya dan pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Tiara.

“Sekarang kamu lagi dikasih kesempatan untuk mencoba cara lain. Ada banyak cara yang menunggu kamu buat ditemukan. Tuhan tau seberapa kemampuan umatnya dan nggak akan ngasih kamu cobaan di luar kemampuan yang kamu punya. Kamu harus yakini itu, yaa ... ?” ucap Tiara sembari mengusap lengan Aryo yang melingkari perutnya.

“Ra, kita kayak gini 5 menit dulu ya,” ucap Aryo dan langsung dibalas anggukan kecil oleh Tiara.

“Emang kamu nggak pegel kayak gini terus?” tanya Tiara.

“Engga. Kamu wangi banget sih. Aku suka,” ucap Aryo sambil melesakkan kepalanya di ceruk leher Tiara dan memberikan sebuah kecupan di sana. Sentuhan Aryo di permukaan kulitnya selalu sama, lembut, dan sehalus kapas. Setiap Aryo melakukannya, jantung Tiara rasanya seperti dihujam oleh ribuan bintang.

“Aryo,” ujar Tiara.

“Iya, Ra?”

“Kamu boleh ngelakuin sesuatu yang kamu mau.”

“Maksud kamu?”

“Mungkin kamu kangen sama benda-benda itu masa lalu kamu. Kamu boleh kalau mau melampiaskan perasaan lewat apa yang kamu suka. Gimana?” Tiara bergerak dari posisinya, ia memiringkan tubuhnya sedikit agar bisa menatap Aryo. “Ruang penyimpanan minuman di basement rumah kita, kamu mau ke sana?” sambung Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Halo, Sayang. Iya, hari ini ini aku nggak bisa jemput kamu. Lagi lumayan padat di kantor,” ujar Aryo di telfonnya.

It's oke. Aku minta tolong jemput Egha aja ya,” balas Tiara di ujung telfon.

Aryo yang masih terhubung dengan Tiara, mempersilakan seseorang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk. Kemudian matanya menangkap Rama yang tengah memasuki ruangannya.

“Oke. Ohya, kamu udah makan siang?” ujar Aryo lagi. Rama lantas memberi isyarat bahwa tujuannya kedatangannya ke ruangan Aryo karena ingin menyerahkan berkas. Aryo meminta sekretarisnya untuk menunggu ia selesai menelfon.

“Udah kok barusan,” jawab Tiara di telfon.

“Kira-kira kamu selesai bimbingan jam berapa?”

“Jam 5 an deg kayaknya. Ini lagi nunggu giliran bimbingan.”

“Yaudah, Sayang. Kalau gitu aku tutup dulu ya telfonnya. Kamu hati-hati, semangat bimbingannya.”

“Aryo,” ujar Tiara yang membuat Aryo urung mematikan telfonnya.

“Iya?”

I love you.” celetuk Tiara cepat. Aryo pun yang mendengar itu terdiam seketika. Rama memerhatikan ekspresi atasannya yang mendadak berubah menjadi secerah matahari di musim panas.

Suddenly?” tanya Aryo setelah beberapa detik ia membeku layaknya sebuah patung.

“Yaa, aku mau bilang aja. Biar kamu inget terus.”

“Hmm ... ya ... I love you too. Bye, Sayang. Aku tutup ya telfonnya.”

Oke, bye.”

Sambungan telfon pun diakhiri. Aryo meletakkan ponselnya di atas meja dan beralih pada Rama yang kini menatapnya sedikit aneh. Rama sedikit meringis karena baru saja mendengar percakapan manis antara atasan dengan istrinya.

“Di depan istri doang lo waras. Di kantor kerja udah kayak orang gila, seolah-olah nggak ada hari esok aja gitu,” sembur Rama. Setelah mengatakannya, pria itu meletakkan beberapa berkas yang dibawanya di meja Aryo.

Aryo mengambil berkas itu. Tatapan matanya begitu serius membaca balasan approaching perusahaannya kepada para produsen dan distributor yang selama ini telah loyal dengan perusahaan mereka.

“Sebagian produsen dan distributor loyal menolak untuk kerja dengan kita. Tapi ada dua dari mereka yang ngasih kesempatan, mereka minta untuk diyakini lagi dan mengajukan syarat. Syaratnya adalah kalau sampai produk kita nggak sesuai harapan dan tanggapan masyarakat masih aja jelek, mereka angkat tangan. Kemungkinan mereka akan memutus hubungan dengan kita karena nggak mau namanya ikut tercemar,” jelas Rama panjang lebar.

Aryo menutup berkas-berkas itu dan bergerak dari kursinya.

“Lo mau kemana?” tanya Rama yang matanya tidak lepas mengekori gerakan atasannya itu.

“Gue mau meyakini mereka dan mewujudkan 1% kesempatan yang dibahas di rapat direksi kemarin. Mungkin ini kesempatan terakhir yang kita punya,” ujar Aryo.

“Lo yakin?”

Aryo sempat terdiam beberapa detik. Kemudian ia mengambil berkas dari dalam lemari di ruangannya untuk dibawa. “Setiap kesempatan yang ada gue akan coba. Saat ini gue bertanggung jawab untuk perusahaan dan juga keluarga kecil gue, Ram,” ujar Aryp.

Rama mengangguk dan mengulaskan senyumnya. “Istri lo dan perusahaan ini beruntung banget punya lo, Bro,” ujar Rama sebelum mengikuti langkah Aryo keluar ruangan.

***

Tiara menguatkan hatinya dan memberanikan diri untuk datang ke tempat ini, kantor suaminya, gedung dimana Harapan Jaya Group membangun nama dan bisnisnya. Sesampainya Tiara di sana, orang-orang yang berpapasan dengannya sontak melihat ke arahnya selama 3 detik, kemudian berbisik-bisik dan langsung membuang muka.

Tiara mengabaikan hal tersebut dan terus melangkahkan kakinya. Ia menaiki lift menuju lantai 20, dimana tujuan utamanya berada.

“Tiara,” panggil seseorang ketika perempuan itu sampai di lantai 20. Tiara mendapati pria jangkung berstelan jas abu-abu yang merupakan sekretaris suaminya, Rama.

“Mau ketemu pak Bos ya? Ayo gue anterin ke ruangannya,” ujar Rama.

Tiara mengiyakan dan langsung mengikuti langkah Rama. Sesampainya mereka di depan ruangan dengan pintu berpelitur coklat keemasan itu, Rama mengatakan supaya Tiara menunggu dahulu karena sedang ada tamu di ruangan Aryo. Akhirnya keduanya duduk di sofa yang tidak jauh dari sana.

“Pak Bos mah warasnya di depan lo doang. Di belakang lo nih ya, dia kerja kayak orang gila,” celetuk Rama.

Tiara yang penasaran lantas meminta Rama menceritakan soal Aryo selama suaminya di kantor. Apa yang ia dengar dari sekretaris suaminya itu pun membuat Tiara sedikit terkejut.

Tidak lama terlihat dua orang wanita keluar dari ruangan Aryo dan melewati mereka. Tiara mau tidak mau mendengar pembicaraan keduanya.

“Kayaknya itu istrinya pak Presdir,” ujar perempuan satunya pada temannya.

“Udah baca beritanya kan? Itu rumornya bener?” ujar perempuan di sampingnya.

Setelah dua orang itu berlalu, Rama berujar pada Tiara, “Nggak usah di dengerin omongan orang-orang. Pikirin aja, Bos pasti seneng banget tau lo datang ke sini, ayo,” ucap Rama. Tiara segera mengikuti langkah pria itu menuju ruangan Aryo.

***

Tiara mendapati wajah semringah Aryo ketika ia sampai di ruangannya. Aryo nampak sedikit terkejut dengan kedatangan Tiara yang tiba-tiba ke kantornya tanpa sepengetahuannya.

“Ram, tutup pintunya,” ujar Aryo pada Rama yang akan berbalik pergi dari sana.

Rama mengacungkan jempolnya sebelum menutup pintu dan menghilang di sana. Sepeninggalan Rama dari sana, Tiara meletakkan totebag Gucci-nya di sofa lalu menghampiri Aryo di balik meja kerjanya.

“Kok kamu nggak bilang mau ke sini?” tanya Aryo sambil meraih satu tangan Tiara dan menggenggamnya.

A kind of surprise...?” Tiara mengusapkan ibu jarinya di tangan Aryo yang masih menggenggam tangannya.

“Aku mau ngajak kamu pulang. Liat tuh mata kamu udah kayak panda, ada kantung matanya,” tutur Tiara.

“Masa sih aku punya kantung mata?” Aryo mengarahkan satu tangannya yang bebas untuk mengambil kaca di laci meja. Namun Tiara lebih dulu menahannya. Kemudian Tiara mengusapkan ibu jarinya di area bawah mata Aryo. Aryo memejamkan matanya dan menikmati usapan halus Tiara yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman.

Detik berikutnya Aryo membuka matanya perlahan dan sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap Tiara. Tatapannya seolah mengadu pada Tiara bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

“Ra, aku belum bisa membuat keadaan perusahaan membaik. Rasanya semua cara udah aku coba, tapi nggak ada yang berhasil,” ujar Aryo, nada suaranya terdengar putus asa.

Selama beberapa detik, Tiara hanya menatapnya lembut. Tiara tidak menatapnya dengan tatapan kasihan yang membuatnya semakin merasa kecil. Justru Aryo merasa kalau Tiara begitu mencintainya dari cara perempuan itu menatapnya.

“Aryo, kamu udah ngelakuin yang terbaik. Setiap manusia punya batas kemampuannya, kamu tau itu. Kalau kamu belum berhasil, bukan berarti masalahnya ada di diri kamu,” Tiara menjeda ucapannya. Mereka saling bertatapan dan Aryo menghelanya untuk duduk di pangkuan pria itu. Lengan Aryo memeluk pinggangnya dan pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Tiara.

“Sekarang kamu lagi dikasih kesempatan untuk mencoba cara lain. Ada banyak cara yang menunggu kamu buat ditemukan. Tuhan tau seberapa kemampuan umatnya dan nggak akan ngasih kamu cobaan di luar kemampuan yang kamu punya. Kamu harus yakini itu, yaa ... ?” ucap Tiara sembari mengusap lengan Aryo yang melingkari perutnya.

“Ra, kayak gini 5 menit dulu ya,” ucap Aryo yang langsung dibalas anggukan kecil oleh Tiara.

“Emang kamu nggak pegel kayak gini terus?” tanya Tiara.

“Engga. Kamu wangi banget sih. Aku suka,” ucap Aryo sambil melesakkan kepalanya di ceruk leher Tiara dan memberikan sebuah kecupan di sana. Sentuhan Aryo di permukaan kulitnya selalu sama, lembut, dan sehalus kapas. Setiap Aryo melakukannya, jantung Tiara rasanya seperti dihujam oleh ribuan bintang.

“Aryo,” ujar Tiara.

“Iya, Ra?”

“Kamu boleh ngelakuin sesuatu yang kamu mau.”

“Maksud kamu?”

“Mungkin kamu kangen sama benda-benda itu masa lalu kamu. Kamu boleh kalau mau melampiaskan perasaan lewat apa yang kamu suka. Gimana?” Tiara bergerak dari posisinya, ia memiringkan tubuhnya sedikit agar bisa menatap Aryo. “Ruang penyimpanan minuman di basement rumah kita. Kamu mau ke sana?” sambung Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan sudah cukup lama. Malam itu adalah malam dimana ia bertemu kembali dengan Tiara. Malam dimana hubungannya dan Aurorae telah berakhir beberapa hari sebelumnya. Aryo merasa dirinya begitu brengsek dengan tiba-tiba mencium Tiara, tiba-tiba jatuh cinta, dan beberapa hari setelahnya mengajak perempuan itu menikah, padahal mereka baru mengenal.

Malam ini secara mendadak Tiara menunjukkan sesuatu yang berbeda. Tentu tidak pernah terbesit dalam pikiran Aryo bahwa Tiara lah yang justru membiarkannya menyentuh kembali benda-benda dari masa lalunya. Padahal Aryo telah mencoba menahannya untuk tidak kembali, demi dirinya dan keluarga kecilnya sendiri.

Di ruangan penyimpanan itu, Aryo menuju ke satu lemari kaca yang paling besar. Ia membuka kuncinya dengan 4 buah kode angka. Jejeran botol-botol minuman mahal terpampang di hadapannya dan Aryo mengambil satu botol berwarna keemasan yang berukuran cukup besar. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo membawa botol itu menuju meja bar di salah satu sudut ruangan. Di sana Tiara sudah membawakan sebuah gelas sloki untuknya.

“Aku boleh tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure. For the very first time,” ujar Aryo mempersilakan Tiara menuangkan minumannya. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya.

“Ra, aku nggak mau nge-vape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo.

Tiara pun mengangguk. Gelas sloki yang telah ia tuang dengan minuman berwarna kuning itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo. Mereka duduk berhadapan di batasi sebuah meja bar melingkar.

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku lalu ia mengambil gelas sloki itu. Ini kali pertama ia minum di hadapan Tiara, padahal ia telah berjanji pada dirinya untuk meninggalkan masa lalu yang kurang baik.

Aryo menatap Tiara sejenak sebelum akhirnya ia meneguk vodkanya. Hanya satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya, tapi Aryo meletakkan gelas itu ke meja.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik tidak ada tanda-tanda Aryo kembali meneguk minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo menopang di atas meja kemudian satu tangannya menjauhkan gelas sloki tersebut.

Tidak lama setelah itu, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke hadapannya.

“Kadang aku emang masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua ini cuma keinginan sesaat. Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun. Aku menahannya dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Tapi delapan puluh persennya ada campur tangan kamu. Aku mau jadi lebih baik untuk kamu, dan juga calon anak kita,” ujar Aryo sambil menatap Tiara. Tiara balas menatapnya dengan tatapan tidak percaya bercampur terharu, dimatanya nampak kilatan air mata yang siap tumpah.

Aryo mengatakan bahwa dirinya sempat merasa begitu jatuh, tapi ia tidak menunjukkan itu di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, ketika perempuan itu datang padanya, Aryo dapat menunjukkan sisi itu. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berada di hadapan Aryo. Ia menatap lekat sosok pria yang dicintainya itu.

“Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan jadi lebih baik. Sebagai istri kamu aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham.

“Aku emang mau biarin kamu untuk coba benda-benda ini lagi. Aku yakin kamu akan tahu sampai mana batasannya. Kenyataannya kamu yang memilih sendiri untuk bilang kamu nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya lalu ia tertawa. Detik berikutnya pria itu menyunggingkan senyum tipisnya dan Tiara yang justru jadi panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakannya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Kenapa?”

“Kok kamu gugup gitu?”

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu.”

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo dengan seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Lantas Aryo menopang lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, di atas meja.

Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sebentar. Tiara tidak kepikiran apa yang akan Aryo lakukan, katanya sih cuma sebentar. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi gugup saat menangkap mata sayu suaminya yang menatapnya itu.

Aryo menghela pinggangnya agar Tiara mendekat padanya. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo mengusap lembut di sekitar leher Tiara. Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau Tiara menyemburkan tawanya yang terdengar agak tertahan itu.

Tiara pun mengangguk dan senyum kecil terbti di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai menyesap bibir Tiara. Tangan Aryo masih setia di lehernya, menahan Tiara untuk tetap berada di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat hingga tidak ada jarak diantara mereka.

Aryo dan Tiara Kissing

Napas keduanya saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah mereka. Saat bibir Aryo dan Tiara mulai menjauh sebentar, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata mint,” bisik Tiara di dekat telinga Aryo.

I already clean it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Yaa, aku kan nggak bisa rasain vodka langsung. Aku penasaran sama rasanya,” ujar Tiara sambil mencebikkan sedikit bibirnya.

Should I bring it vodka to you?

What you mean?

“Kamu mau rasain vodka, right? Tapi kata dokter nggak boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil. So I'll show you how you can get the taste without actually drink it. Gimana?”

Tiara tidak tahu sudah semerah apa wajahnya kini. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala, seluruh permukaan kulitnya terasa menghangat. Setelah mengalihkan tatapannya dari Aryo karena perasaan gugupnya, kini Tiara kembali menatap lelakinya. “I'm pretty curious about that. Can you show me how?

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan sudah cukup lama. Malam itu adalah malam dimana ia bertemu kembali dengan Tiara. Malam dimana hubungannya dan Aurorae telah berakhir beberapa hari sebelumnya. Aryo merasa dirinya begitu brengsek dengan tiba-tiba mencium Tiara, tiba-tiba jatuh cinta, dan beberapa hari setelahnya mengajak perempuan itu menikah, padahal mereka baru mengenal.

Malam ini secara mendadak Tiara menunjukkan sesuatu yang berbeda. Tentu tidak pernah terbesit dalam pikiran Aryo bahwa Tiara lah yang justru membiarkannya menyentuh kembali benda-benda dari masa lalunya. Padahal Aryo telah mencoba menahannya untuk tidak kembali, demi dirinya dan keluarga kecilnya sendiri.

Di ruangan penyimpanan itu, Aryo menuju ke satu lemari kaca yang paling besar. Ia membuka kuncinya dengan 4 buah kode angka. Jejeran botol-botol minuman mahal terpampang di hadapannya dan Aryo mengambil satu botol berwarna keemasan yang berukuran cukup besar. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo membawa botol itu menuju meja bar di salah satu sudut ruangan. Di sana Tiara sudah membawakan sebuah gelas sloki untuknya.

“Aku boleh tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure. For the very first time,” ujar Aryo mempersilakan Tiara menuangkan minumannya. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya.

“Ra, aku nggak mau nge-vape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo.

Tiara pun mengangguk. Gelas sloki yang telah ia tuang dengan minuman berwarna kuning itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo. Mereka duduk berhadapan di batasi sebuah meja bar melingkar.

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku lalu ia mengambil gelas sloki itu. Ini kali pertama ia minum di hadapan Tiara, padahal ia telah berjanji pada dirinya untuk meninggalkan masa lalu yang kurang baik.

Aryo menatap Tiara sejenak sebelum akhirnya ia meneguk vodkanya. Hanya satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya, tapi Aryo meletakkan gelas itu ke meja.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik tidak ada tanda-tanda Aryo kembali meneguk minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo menopang di atas meja kemudian satu tangannya menjauhkan gelas sloki tersebut.

Tidak lama setelah itu, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke hadapannya.

“Kadang aku emang masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua ini cuma keinginan sesaat. Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun. Aku menahannya dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Tapi delapan puluh persennya ada campur tangan kamu. Aku mau jadi lebih baik untuk kamu, dan juga calon anak kita,” ujar Aryo sambil menatap Tiara. Tiara balas menatapnya dengan tatapan tidak percaya bercampur terharu, dimatanya nampak kilatan air mata yang siap tumpah.

Aryo mengatakan bahwa dirinya sempat merasa begitu jatuh, tapi ia tidak menunjukkan itu di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, ketika perempuan itu datang padanya, Aryo dapat menunjukkan sisi itu. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berada di hadapan Aryo. Ia menatap lekat sosok pria yang dicintainya itu.

“Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan jadi lebih baik. Sebagai istri kamu aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham.

“Aku emang mau biarin kamu untuk coba benda-benda ini lagi. Aku yakin kamu akan tahu sampai mana batasannya. Kenyataannya kamu yang memilih sendiri untuk bilang kamu nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya lalu ia tertawa. Detik berikutnya pria itu menyunggingkan senyum tipisnya dan Tiara yang justru jadi panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakannya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Kenapa?”

“Kok kamu gugup gitu?”

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu.”

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo dengan seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Lantas Aryo menopang lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, di atas meja.

Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sebentar. Tiara tidak kepikiran apa yang akan Aryo lakukan, katanya sih cuma sebentar. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi gugup saat menangkap mata sayu suaminya yang menatapnya itu.

Aryo menghela pinggangnya agar Tiara mendekat padanya. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo mengusap lembut di sekitar leher Tiara. Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau Tiara menyemburkan tawanya yang terdengar agak tertahan itu.

Tiara pun mengangguk dan senyum kecil terbti di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai menyesap bibir Tiara. Tangan Aryo masih setia di lehernya, menahan Tiara untuk tetap berada di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat hingga tidak ada jarak diantara mereka.

Aryo dan Tiara Kissing

Napas keduanya saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah mereka. Saat bibir Aryo dan Tiara mulai menjauh sebentar, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata mint,” bisik Tiara di dekat telinga Aryo.

I already clean it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Yaa, aku kan nggak bisa rasain vodka langsung. Aku penasaran sama rasanya,” ujar Tiara sambil mencebikkan sedikit bibirnya.

Should I bring it vodka to you?

What you mean?

“Kamu mau rasain vodka, right? Tapi kata dokter nggak boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil. So I'll show you how you can get the taste without actually drink it. Gimana?”

Tiara tidak tahu sudah semerah apa wajahnya kini. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala. Setelah mengalihkan tatapannya dari Aryo karena perasaan gugupnya, kini Tiara kembali menatap lelakinya. “I'm pretty curious about that. Can you show me how?

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan sudah cukup lama. Malam itu adalah malam dimana ia bertemu kembali dengan Tiara. Malam dimana hubungannya dan Aurorae telah berakhir beberapa hari sebelumnya. Aryo merasa dirinya begitu brengsek dengan tiba-tiba mencium Tiara, tiba-tiba jatuh cinta, dan beberapa hari setelahnya mengajak perempuan itu menikah, padahal mereka baru saling mengenal.

Malam ini secara mendadak Tiara menunjukkan sesuatu yang berbeda. Tentu tidak pernah terbesit dalam pikiran Aryo bahwa Tiara-lah yang justru membiarkannya menyentuh kembali benda-benda dari masa lalunya. Padahal Aryo telah mencoba menahannya untuk tidak kembali, demi dirinya dan keluarga kecilnya sendiri.

Di ruangan penyimpanan itu, Aryo menuju ke satu lemari kaca yang paling besar. Ia membuka kuncinya dengan 4 buah kode angka. Jejeran botol-botol minuman mahal terpampang di hadapannya dan Aryo mengambil satu botol berwarna keemasan yang berukuran cukup besar. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo membawa botol itu menuju meja bar di salah satu sudut ruangan. Di sana Tiara sudah membawakan sebuah gelas sloki untuknya.

“Aku boleh tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure. For the very first time,” ujar Aryo mempersilakan Tiara menuangkan minumannya. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya.

“Ra, aku nggak mau nge-vape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo.

Tiara pun mengangguk. Gelas sloki yang telah ia tuang dengan minuman berwarna kuning itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo. Mereka duduk berhadapan di batasi sebuah meja bar melingkar.

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku lalu ia mengambil gelas sloki itu. Ini kali pertama ia minum di hadapan Tiara, padahal ia telah berjanji pada dirinya untuk melupakan masa lalu yang kurang baik.

Aryo menatap Tiara sejenak sebelum akhirnya ia meneguk vodkanya. Hanya satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya, tapi Aryo meletakkan gelas itu ke meja.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik tidak ada tanda-tanda Aryo kembali meneguk minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo menopang di atas meja kemudian satu tangannya menjauhkan gelas sloki tersebut.

Tidak lama setelah itu, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke hadapannya.

“Kadang aku emang masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua ini cuma keinginan sesaat. Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun. Aku menahannya dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Tapi delapan puluh persennya ada campur tangan kamu. Aku mau jadi lebih baik untuk kamu, dan juga calon anak kita,” ujar Aryo sambil menatap Tiara. Tiara balas menatapnya dengan tatapan tidak percaya bercampur terharu, dimatanya nampak kilatan air mata yang siap tumpah.

Aryo mengatakan bahwa dirinya sempat merasa begitu jatuh, tapi ia tidak menunjukkan itu di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, ketika perempuan itu datang padanya, Aryo dapat menunjukkan sisi itu. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berada di hadapan Aryo. Ia menatap lekat sosok pria yang dicintainya itu.

“Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan jadi lebih baik. Sebagai istri kamu aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham.

“Aku emang mau biarin kamu untuk coba benda-benda ini lagi. Aku yakin kamu akan tahu sampai mana batasannya. Kenyataannya kamu yang memilih sendiri untuk bilang kamu nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya lalu ia tertawa. Detik berikutnya pria itu menyunggingkan senyum tipisnya dan Tiara yang justru jadi panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakannya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Kenapa?”

“Kok kamu kayak gugup gitu?”

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu.”

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo dengan seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Lantas Aryo menopang lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, di atas meja.

Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sebentar. Tiara tidak kepikiran apa yang akan Aryo lakukan, katanya sih cuma sebentar. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi gugup saat menangkap mata sayu suaminya yang menatapnya itu.

Aryo menghela pinggangnya agar Tiara mendekat padanya. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo mengusap lembut di sekitar leher Tiara. Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau Tiara menyemburkan tawanya yang terdengar agak tertahan itu.

Tiara pun mengangguk dan senyum kecil terbit di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai menyesap bibir Tiara. Sesuai dengan 9 list yang Aryo tulis, pria itu menciumnya ala french kiss. Cara Aryo melakukan setiap stepnya, membuat Tiara ingin terbang ke udara.

Tangan Aryo pun masih setia di lehernya, menahan Tiara untuk tetap berada di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat hingga tidak ada jarak diantara mereka.

Aryo and Tiara Kissing

Napas keduanya saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah mereka. Saat bibir Aryo dan Tiara mulai menjauh sebentar, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata mint,” bisik Tiara di dekat telinga Aryo.

I already clean it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Yaa, aku kan nggak bisa rasain vodka langsung. Aku penasaran sama rasanya,” ujar Tiara sambil mencebikkan sedikit bibirnya.

Should I bring it vodka to you?

What you mean?

“Kamu mau rasain vodka kan? Tapi mana boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil. I'll show you how you can get the taste without actually drink it. How?

Tiara berhasil menahan senyumnya, tapi ia tidak tahu sudah semerah apa wajahnya kini. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala. “I'm pretty curious about that. You can show me how?

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan sudah cukup lama. Malam itu adalah malam dimana ia bertemu kembali dengan Tiara. Malam dimana hubungannya dan Aurorae telah berakhir beberapa hari sebelumnya. Aryo merasa dirinya begitu brengsek dengan tiba-tiba mencium Tiara, tiba-tiba jatuh cinta, dan beberapa hari setelahnya mengajak perempuan itu menikah, padahal mereka baru mengenal.

Malam ini secara mendadak Tiara.menunjukkan sesuatu yang berbeda. Tentu tidak pernah terbesit dalam pikiran Aryo bahwa Tiara lah yang justru membiarkannya menyentuh kembali benda-benda dari masa lalunya. Padahal Aryo telah mencoba menahannya untuk tidak kembali, demi dirinya dan keluarga kecilnya sendiri.

Di ruangan penyimpanan itu, Aryo menuju ke satu lemari kaca yang paling besar. Ia membuka kuncinya dengan 4 buah kode angka. Jejeran botol-botol minuman mahal terpampang di hadapannya dan Aryo mengambil satu botol berwarna keemasan yang berukuran cukup besar. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo membawa botol itu menuju meja bar di salah satu sudut ruangan. Di sana Tiara sudah membawakan sebuah gelas sloki untuknya.

“Aku boleh tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure. For the very first time,” ujar Aryo mempersilakan Tiara menuangkan minumannya. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya.

“Ra, aku nggak mau nge-vape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo.

Tiara pun mengangguk. Gelas sloki yang telah ia tuang dengan minuman berwarna kuning itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo. Mereka duduk berhadapan di batasi sebuah meja bar melingkar.

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku lalu ia mengambil gelas sloki itu. Ini kali pertama ia minum di hadapan Tiara, padahal ia telah berjanji pada dirinya untuk melupakan masa lalu yang kurang baik.

Aryo menatap Tiara sejenak sebelum akhirnya ia meneguk vodkanya. Hanya satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya, tapi Aryo meletakkan gelas itu ke meja.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik tidak ada tanda-tanda Aryo kembali meneguk minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo menopang di atas meja kemudian satu tangannya menjauhkan gelas sloki tersebut.

Tidak lama setelah itu, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke hadapannya.

“Kadang aku emang masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua ini cuma keinginan sesaat. Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun. Aku menahannya dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Tapi delapan puluh persennya ada campur tangan kamu. Aku mau jadi lebih baik untuk kamu, dan juga calon anak kita,” ujar Aryo sambil menatap Tiara. Tiara balas menatapnya dengan tatapan tidak percaya bercampur terharu, dimatanya nampak kilatan air mata yang siap tumpah.

Aryo mengatakan bahwa dirinya sempat merasa begitu jatuh, tapi ia tidak menunjukkan itu di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, ketika perempuan itu datang padanya, Aryo dapat menunjukkan sisi itu. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berada di hadapan Aryo. Ia menatap lekat sosok pria yang dicintainya itu.

“Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan jadi lebih baik. Sebagai istri kamu aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham.

“Aku emang mau biarin kamu untuk coba benda-benda ini lagi. Aku yakin kamu akan tahu sampai mana batasannya. Kenyataannya kamu yang memilih sendiri untuk bilang kamu nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya lalu ia tertawa. Detik berikutnya pria itu menyunggingkan senyum tipisnya dan Tiara yang justru jadi panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakannya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Kenapa?”

“Kok kamu kayak gugup gitu?”

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu.”

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo dengan seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Lantas Aryo menopang lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, di atas meja.

Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sebentar. Tiara tidak kepikiran apa yang akan Aryo lakukan, katanya sih cuma sebentar. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi gugup saat menangkap mata sayu suaminya yang menatapnya itu.

Aryo menghela pinggangnya agar Tiara mendekat padanya. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo mengusap lembut di sekitar leher Tiara. Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau Tiara menyemburkan tawanya yang terdengar agak tertahan itu.

Tiara pun mengangguk dan senyum kecil terbti di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai menyesap bibir Tiara. Tangan Aryo masih setia di lehernya, menahan Tiara untuk tetap berada di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat hingga tidak ada jarak diantara mereka.

Aryo and Tiara Kissing

Napas keduanya saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah mereka. Saat bibir Aryo dan Tiara mulai menjauh sebentar, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata mint,” bisik Tiara di dekat telinga Aryo.

I already clean it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Yaa, aku kan nggak bisa rasain vodka langsung. Aku penasaran sama rasanya,” ujar Tiara sambil mencebikkan sedikit bibirnya.

Should I bring it vodka to you?

What you mean?

“Kamu mau rasain vodka kan? Tapi mana boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil. I'll show you how you can get the taste without actually drink it. How?

Tiara berhasil menahan senyumnya, tapi ia tidak tahu sudah semerah apa wajahnya kini. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala. “I'm pretty curious about that. You can show me how?

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Halo, Sayang. Hari ini aku nggak bisa jemput kamu. Lagi lumayan padat di kantor,” ujar Aryo di telfonnya.

“It's oke. Nanti aku minta tolong jemput Egha aja.” balas Tiara di ujung telfon.

Aryo yang masih bicara di telfon, lantas menangkap Rama yang memasuki ruangannya setelah terdenagr ketukan pintu.

“Oke. Ohya, kamu udah makan siang?” ujar Aryo lagi di telfon. Rama lantas memberi isyarat bahwa kedatangannya ingin menyerahkan berkas.

“Udah kok barusan.”

“Kira-kira kamu selesai bimbingan jam berapa?”

“Jam 5 an kayaknya. Ini lagi nunggu giliran bimbingan.”

“Yaudah, Sayang, hmm ... aku tutup dulu ya telfonnya. Kamu hati-hati. Semangat bimbingannya.”

“Aryo.”

“Iya?”

“I love you.” celetuk Tiara cepat. Aryo yang mendengar itu terdiam seketika. Rama memerhatikan ekspresi atasannya itu yang mendadak secerah matahari di musim panas.

Suddenly?” ujar Aryo setelah beberapa detik ia membeku layaknya sebuah patung.

“Mau bilang aja. Biar kamu inget terus.”

Hmm.. ya love you too, Sayang. Bye ... aku tutup ya.”

“Oke, bye.”

Sambungan telfon pun diakhiri. Aryo meletakkan ponselnya di atas meja dan beralih pada Rama yang kini menatapnya sedikit aneh. Sekretarisnya itu sedikit meringis karena baru saja mendengar pembicaraan manis antara ia dan istrinya.

“Di depan istri aja, lo waras. Di kantor kerja udah kayak orang gila, kayak udah nggak ada hari esok aja gitu,” sembur Rama. Pria itu lantas meletakkan beberapa berkas yang dibawanya di meja Aryo.

Aryo mengambil file itu. Tatapan matanya begitu serius membaca hasil approach dari perusahaannya kepada para produsen dan distributor yang selama ini loyal dengan perusahaan mereka.

“Sebagian produsen dan distributor besar, menolak untuk kerja dengan kita. Tapi ada dua dari mereka yang ngasih kesempatan, mereka minta untuk diyakini lagi dan mengajukan syarat. Syaratnya adalah kalau sampai produk kita nggak sesuai harapan dan tanggapan masyarakat masih aja jelek, mereka angkat tangan. Kemungkinan mereka akan memutus hubungan dengan kita karena nggak mau terseret,” jelas Rama panjang lebar.

Aryo menutup berkas-berkas itu dan bergerak dari kursinya.

“Lo mau kemana?” tanya Rama yang matanya lepas mengekori gerakan atasannya.

“Gue mau meyakini mereka dan mewujudkan 1% kesempatan yang dibahas di rapat direksi kemarin. Mungkin ini kesempatan terakhir yang kita punya,” ujar Aryo.

“Lo yakin?”

“Setiap kesempatan yang ada gue akan coba. Gue bertanggung jawab untuk perusahaan ini dan juga keluarga kecil gue, Ram.”

Rama mengangguk dan mengulaskan senyumnya. “Istri lo dan perusahaan ini beruntung banget punya lo, Bro,” ujarnya sebelum mengikuti langkah Aryo keluar ruangan.

***

Tiara menguatkan hatinya dan memberanikan diri untuk datang ke tempat ini, kantor suaminya, gedung dimana Harapan Jaya Group membangun bisnisnya. Sesampainya Tiara di sana, orang-orang yang berpapasan dengannya sontak melihat ke arahnya selama .3 detik lalu berbisik-bisik dan lantas membuang muka.

Tiara mengabaikan hal tersebut dan terus melangkahkan kakinya. Ia menaiki lift menuju lantai 20, dimana tujuan utamanya berada.

“Tiara,” panggil seseorang ketika perempuan itu sampai di lantai 20. Tiara mendapati pria jangkung berstelan jas abu-abu yang merupakan sekretaris suaminya, Rama.

“Mau ketemu pak Bos ya? Ayo gue anterin ke ruangannya,” ujar Rama.

Tiara mengiyakan dan lantas mengikuti langkah Rama. Sesampainya mereka di depan ruangan dengan pintu jati berpelitur coklat keemasan itu, Rama mengatakan agar Tiara menunggu karena sedang ada tamu di ruangan Aryo. Akhirnya mereka duduk di sofa yang tidak jauh dari ruangan itu.

“Pak Bos mah warasnya di depan lo doang. Di belakang lo dia kerja kayak orang gila,” celetuk Rama.

Tiara yang penasaran pun meminta Rama menceritakan soal Aryo selama di kantor. Apa yang ia dengar dari sekretaris suaminya itu pun membuat Tiara sedikit terkejut.

Tidak lama terlihat dua orang wanita keluar dari ruangan Aryo dan melewati mereka. Tiara mau tidak mau mendengar pembicaraan keduanya..

“Kayaknya itu istrinya pak Presdir,” ujar perempuan satunya pada temannya.

“Udah baca beritanya kan? Itu rumornya bener?”

Setelah dua orang itu berlalu, Rama berujar di sampingnya, “Nggak usah di dengerin omongan orang-orang. Pikirin aja kalau Bos pasti seneng banget tau lo datang ke sini, ayo,” ucap Rama. Tiara lantas mengikuti langkah pria itu menuju ruangan Aryo.

***

Tiara mendapati wajah semringah Aryo ketika ia sampai di ruangannya. Aryo nampak sedikit terkejut tiba-tiba Tiara ke kantornya tanpa mengatakan apapun padanya.

“Ram, tutup pintunya,” ujar Aryo pada Rama yang akan berbalik pergi dari sana.

Rama mengacungkan jempolnya sebelum menutup pintu dan menghilang di sana. Sepeninggalan asisten suaminya, Tiara meletakkan totebag Gucci-nya di sofa lalu menghampiri Aryo di kursinya.

“Kok kamu nggak bilang mau ke sini?” tanya Aryo sambil meraih satu tangan Tiara dan menggenggamnya.

A kind of surprise...” Tiara mengusapkan ibu jarinya di tangan Aryo yang masih menggenggam tangannya.

“Aku mau ngajak kamu pulang. Liat tuh mata kamu udah kayak panda, ada kantung matanya,” tutur Tiara.

“Masa sih aku punya kantung mata?” Aryo mengarahkan satu tangannya yang bebas untuk mengambil kaca di laci meja. Namun Tiara lebih dulu menahannya dan mengusapkan ibu jarinya di area bawah mata Aryo. Aryo memejamkan matanya dan menikmati usapan halus Tiara yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman.

Detik berikutnya Aryo membuka matanya perlahan dan sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap Tiara. Tatapannya seolah mengadu pada Tiara bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

“Ra, aku belum bisa membuat keadaan perusahaan membaik. Rasanya semua cara udah aku coba, tapi nggak ada yang berhasil.”

“Hey, kamu udah ngelakuin yang terbaik. Setiap manusia punya batas kemampuannya, oke? Kalau belum berhasil, bukan berarti masalahnya ada di kamu,” Tiara menjeda ucapannya. Mereka saling bertatapan dan Aryo menghelanya untuk duduk di pangkuan pria itu. Lengan Aryo memeluk pinggangnya dan pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Tiara.

“Artinya, kamu dikasih kesempatan buat mencoba cara lain. Ada banyak cara yang lagi nunggu kamu buat ditemukan. Tuhan tau seberapa kemampuan umatnya dan nggak akan ngasih kamu cobaan di luar kemampuan yang kamu punya. Kamu harus yakini itu, yaa ... ?” ucap Tiara sembari mengusap lengan Aryo yang melingkari perutnya.

“Ra, kayak gini 5 menit aja dulu ya,” ucap Aryo yang lantas dibalas anggukan kecil Tiara.

“Emang kamu nggak pegel kayak gini terus?”

“Engga. Kamu wangi banget sih,” ucap Aryo sambil melesakkan kepalanya di ceruk leher Tiara dan memberikan sebuah kecupan di sana. Sentuhan Aryo di permukaan kulitnya selalu sama, lembut, dan seringan kapas. Setiap pria itu melakukannya, jantung Tiara terasa dihujam oleh ribuan bintang.

“Aryo,” ujar Tiara.

“Iya, Ra?”

“Kamu boleh ngelakuin sesuatu yang kamu mau.”

“Maksud kamu?”

“Ya mungkin kamu kangen sama benda-benda itu. Kamu boleh kalau mau melampiaskan perasaan lewat yang kamu suka. Gimana?” Tiara bergerak dari posisinya, ia memiringkan tubuhnya sedikit agar bisa berhadapan dengan Aryo.

“Ruang penyimpanan minuman di basement rumah kita. Kamu mau ke sana?” jelas Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Halo, Sayang. Hari ini aku nggak bisa jemput kamu. Lagi lumayan padat di kantor,” ujar Aryo di telfonnya.

“It's oke. Nanti aku minta tolong jemput Egha aja.” balas Tiara di ujung telfon.

Aryo yang masih bicara di telfon, lantas menangkap Rama yang memasuki ruangannya setelah terdenagr ketukan pintu.

“Oke. Ohya, kamu udah makan siang?” ujar Aryo lagi di telfon. Rama lantas memberi isyarat bahwa kedatangannya ingin menyerahkan berkas.

“Udah kok barusan.”

“Kira-kira kamu selesai bimbingan jam berapa?”

“Jam 5 an kayaknya. Ini lagi nunggu giliran bimbingan.”

“Yaudah, Sayang, hmm ... aku tutup dulu ya telfonnya. Kamu hati-hati. Semangat bimbingannya.”

“Aryo.”

“Iya?”

“I love you.” celetuk Tiara cepat. Aryo yang mendengar itu terdiam seketika. Rama memerhatikan ekspresi atasannya itu yang mendadak secerah matahari di musim panas.

Suddenly?” ujar Aryo setelah beberapa detik ia membeku layaknya sebuah patung.

“Mau bilang aja. Biar kamu inget terus.”

Hmm.. ya love you too, Sayang. Bye ... aku tutup ya.”

“Oke, bye.”

Sambungan telfon pun diakhiri. Aryo meletakkan ponselnya di atas meja dan beralih pada Rama yang kini menatapnya sedikit aneh. Sekretarisnya itu sedikit meringis karena baru saja mendengar pembicaraan manis antara ia dan istrinya.

“Di depan istri aja, lo waras. Di kantor kerja udah kayak orang gila, kayak udah nggak ada hari esok aja gitu,” sembur Rama. Pria itu lantas meletakkan beberapa berkas yang dibawanya di meja Aryo.

Aryo mengambil file itu. Tatapan matanya begitu serius membaca hasil approach dari perusahaannya kepada para produsen dan distributor yang selama ini loyal dengan perusahaan mereka.

“Sebagian produsen dan distributor besar, menolak untuk kerja dengan kita. Tapi ada dua dari mereka yang ngasih kesempatan, mereka minta untuk diyakini lagi dan mengajukan syarat. Syaratnya adalah kalau sampai produk kita nggak sesuai harapan dan tanggapan masyarakat masih aja jelek, mereka angkat tangan. Kemungkinan mereka akan memutus hubungan dengan kita karena nggak mau terseret,” jelas Rama panjang lebar.

Aryo menutup berkas-berkas itu dan bergerak dari kursinya.

“Lo mau kemana?” tanya Rama yang matanya lepas mengekori gerakan atasannya.

“Gue mau meyakini mereka dan mewujudkan 1% kesempatan yang dibahas di rapat direksi kemarin. Mungkin ini kesempatan terakhir yang kita punya,” ujar Aryo.

“Lo yakin?”

“Setiap kesempatan yang ada gue akan coba. Gue bertanggung jawab untuk perusahaan ini dan juga keluarga kecil gue, Ram.”

Rama mengangguk dan mengulaskan senyumnya. “Istri lo dan perusahaan ini beruntung banget punya lo, Bro,” ujarnya sebelum mengikuti langkah Aryo keluar ruangan.

***

Tiara menguatkan hatinya dan memberanikan diri untuk datang ke tempat ini, kantor suaminya, gedung dimana Harapan Jaya Group membangun bisnisnya. Sesampainya Tiara di sana, orang-orang yang berpapasan dengannya sontak melihat ke arahnya selama .3 detik lalu berbisik-bisik dan lantas membuang muka.

Tiara mengabaikan hal tersebut dan terus melangkahkan kakinya. Ia menaiki lift menuju lantai 20, dimana tujuan utamanya berada.

“Tiara,” panggil seseorang ketika perempuan itu sampai di lantai 20. Tiara mendapati pria jangkung berstelan jas abu-abu yang merupakan sekretaris suaminya, Rama.

“Mau ketemu pak Bos ya? Ayo gue anterin ke ruangannya,” ujar Rama.

Tiara mengiyakan dan lantas mengikuti langkah Rama. Sesampainya mereka di depan ruangan dengan pintu jati berpelitur coklat keemasan itu, Rama mengatakan agar Tiara menunggu karena sedang ada tamu di ruangan Aryo. Akhirnya mereka duduk di sofa yang tidak jauh dari ruangan itu.

“Pak Bos mah warasnya di depan lo doang. Di belakang lo dia kerja kayak orang gila,” celetuk Rama.

Tiara yang penasaran pun meminta Rama menceritakan soal Aryo selama di kantor. Apa yang ia dengar dari sekretaris suaminya itu pun membuat Tiara sedikit terkejut.

Tidak lama terlihat dua orang wanita keluar dari ruangan Aryo dan melewati mereka. Tiara mau tidak mau mendengar pembicaraan keduanya..

“Kayaknya itu istrinya pak Presdir,” ujar perempuan satunya pada temannya.

“Udah baca beritanya kan? Itu rumornya bener?”

Setelah dua orang itu berlalu, Rama berujar di sampingnya, “Nggak usah di dengerin omongan orang-orang. Pikirin aja kalau Bos pasti seneng banget tau lo datang ke sini, ayo,” ucap Rama. Tiara lantas mengikuti langkah pria itu menuju ruangan Aryo.

***

Tiara mendapati wajah semringah Aryo ketika ia sampai di ruangannya. Aryo nampak sedikit terkejut tiba-tiba Tiara ke kantornya tanpa mengatakan apapun padanya.

“Ram, tutup pintunya,” ujar Aryo pada Rama yang akan berbalik pergi dari sana.

Rama mengacungkan jempolnya sebelum menutup pintu dan menghilang di sana. Sepeninggalan asisten suaminya, Tiara meletakkan totebag Gucci-nya di sofa lalu menghampiri Aryo di kursinya.

“Kok kamu nggak bilang mau ke sini?” tanya Aryo sambil meraih satu tangan Tiara dan menggenggamnya.

“*A kind of surprise ... *” Tiara mengusapkan ibu jarinya di tangan Aryo yang masih menggenggam tangannya.

“Aku mau ngajak kamu pulang. Liat tuh mata kamu udah kayak panda, ada kantung matanya,” tutur Tiara.

“Masa sih aku punya kantung mata?” Aryo mengarahkan satu tangannya yang bebas untuk mengambil kaca di laci meja. Namun Tiara lebih dulu menahannya dan mengusapkan ibu jarinya di area bawah mata Aryo. Aryo memejamkan matanya dan menikmati usapan halus Tiara yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman.

Detik berikutnya Aryo membuka matanya perlahan dan sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap Tiara. Tatapannya seolah mengadu pada Tiara bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

“Ra, aku belum bisa membuat keadaan perusahaan membaik. Rasanya aku udah coba semua cara, tapi nggak ada yang berhasil.”

“Hey, kamu udah ngelakuin yang terbaik. Setiap manusia punya batas kemampuannya, oke? Kalau belum berhasil, bukan berarti masalahnya ada di kamu,” Tiara menjeda ucapannya. Mereka saling bertatapan dan Aryo menghelanya untuk duduk di pangkuan pria itu. Lengan Aryo memeluk pinggangnya dan pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Tiara.

“Kamu lagi dikasih kesempatan buat mencoba cara lain, ada banyak cara yang nunggu kamu buat ditemukan. Tuhan tau seberapa kemampuan kamu dan nggak akan ngasih kamu cobaan di luar kemampuan yang kamu punya. Kamu harus yakini itu, yaa ...?” ucap Tiara sembari mengusap lengan Aryo yang melingkari perutnya.

“Ra, kayak gini 5 menit aja dulu ya,” ucap Aryo yang lantas dibalas anggukan kecil Tiara.

“Emang kamu nggak pegel kayak gini terus?”

“Engga. Kamu wangi banget sih,” ucap Aryo sambil melesakkan kepalanya di ceruk leher Tiara dan memberikan sebuah kecupan di sana. Sentuhan Aryo di permukaan kulitnya selalu sama, lembut, dan seringan kapas. Setiap pria itu melakukannya, jantung Tiara terasa dihujam oleh ribuan bintang.

“Aryo,” ujar Tiara.

“Iya, Ra?”

“Kamu boleh ngelakuin sesuatu yang kamu mau.”

“Maksud kamu?”

“Ya mungkin kamu kangen sama benda-benda itu. Kamu boleh kalau mau melampiaskan perasaan lewat yang kamu suka. Gimana?” Tiara bergerak dari posisinya, ia memiringkan tubuhnya sedikit agar bisa berhadapan dengan Aryo.

“Ruang penyimpanan minuman di basement rumah kita. Kamu mau ke sana?” jelas Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Pandangan Aryo sedari tadi tidak lepas dari pintu ruangan UGD di hadapannnya. Ia tidak dapat berpikir jernih. Di dalam kepalanya, kini berkecamuk segala macam kemungkinan yang dapat terjadi pada Tiara dan bayinya.

Beberapa bodyguard yang bersamanya sedari tadi, urung untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Baru kali ini para pria bertubuh kekar itu melihat atasan mereka dalam kondisi yang bisa dibilang sejatuh-jatuhnya. Aryo terlihat kacau. Pria itu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Ada yang menyadap nomor handphone-nya dan mengirim pesan untuk memanipulasi Tiara. Sehingga istrinya itu datang ke rumah tepat di hari pertemuan antara kedua kubu.

Dari jarak beberapa meter, Rama menatap ke arah Aryo. Setelah menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit, ia akan mencoba untuk menenangkan atasan sekaligus sahabatnya itu.

Rama mendapati kedua mata Aryo memerah. Tatapan pria itu memancarkan kesedihan sekaligus amarah secara bersamaan. “Ram, ini semua salah gue. Tiara kayak gini gara-gara gue,” ujar Aryo.

“Bos, lo jangan mikir kayak gitu. Di dalam sana, istri sama anak lo lagi berjuan, dan lo adalah kekuatan untuk mereka. Lo harus yakin semuanya bakal baik-baik aja,” ucap Rama.

Di tengah-tengah kekalutan Aryo tersebut, pria itu mendapati papa dan mamanya berada di sana.

“Mama sama Papa udah tau semuanya. Kenapa kamu sama Tiara nggak pernah cerita,” ujar Felicia.

“Mah, ma-maafin Aryo,” ujar Aryo yang mendapati tatapan kecewa dari kedua mata Felicia. “Aryo sama Tiara nggak mau buat Mama dan Papa khawatir. Kita berniat ngasih tau semuanya saat keadaannya udah membaik,” lanjut Aryo.

“Mah, sudah ya. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Aryo dan Tiara,” ujar Edi berusaha menenangkan istrinya.

“Dengan Bapak Aryo Bimo?” ujar sebuah suara yang seketika membuat semua orang menoleh.

Aryo lantas berdiri dari duduknya, “Saya sendiri Dok,” ujarnya pada dokter yang menangangi istrinya.

“Baik, Bapak. Boleh minta waktunya sebentar untuk bicara?” lanjut dokter di hadapannya. Dokter itu mengatakan bahwa penanganan telah selesai di lakukan. Pihak keluarga akan diberi penjelasan oleh dokter terkait kondisi pasien saat ini.

***

Aryo menemui Tiara di ruang rawatnya, setelah beberapa saat lalu ia berbicara dengan dokter mengenai kondisi istri dan bayinya. Tiara masih belum bangun dari tidurnya karena pengaruh obat yang diberikan untuk meredakan rasa sakit yang dialaminya.

Aryo mengarahkan tangannya untuk mengambil tangan Tiara dan menggenggamnya. Ia melayangkan tatapannya pada wajah terlelap Tiara. Wajah yang menjadi pusat hidupnya, yang beberapa jam lalu telah membuatnya merasa luluh lantak.

“Tiara,” ujar Aryo dengan nada suaranya yang bergetar. “Aku hampir aja kehilangan duniaku. Semua yang aku punya, akan percuma kalau tanpa kamu, Ra,” lanjut Aryo sembari menundukkan kepalanya. Ia menciumi punggung tangan Tiara dan merasakan air mata merembas membasahi wajahnya.

“Aryo,” ujar sebuah suara yang terdengar lirih. Aryo mengangkat kepalanya dan mendapati Tiara telah membuka matanya. Sebuah air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata Tiara, wanitanya terisak pilu dan Aryo berusaha untuk menenangkannya.

“Ra, kamu tenang dulu ya,” ujar Aryo ketika Tiara meronta-ronta dan berteriak di dalam dekapannya.

“Aryo ... gimana bayi kita? Dia baik-baik aja kan?” racau Tiara diiiringi suaranya yang terdnegar parau.

Aryo mengurai pelukannya pada torso Tiara. Kemudian dengan telaten tangannya mengusap peluh dan air mata di wajah istrinya sebelum berujar. “Bayi kita baik-baik aja, Ra. Dia kuat dan hebat banget, kayak mamanya,” tutur Aryo.

Mata Tiara berkaca-kaca mendengar penuturan Aryo. Perlahan-lahan kedua sudut bibirnya saling tertarik untuk membentuk sebuah senyuman.

“Ra, mama dan papa udah tau semuanya,” ujar Aryo.

“Gimana reaksi mama dan papa?” tanya Tiara. Apa yang baru saja terungkap dan terjadi pasti memiliki dampak terutama di keluarga mereka.

“Mama sempat marah karena kita nggak ngasih tau apapun sama beliau. Papa lumayan shock waktu tau apa aja yang udah dilakuin oleh kakak kandungnya sendiri selama bertahun-tahun,” jelas Aryo.

“Aryo,” ujar Tiara.

“Iya, Sayang?'”

“Mama dimana? Aku mau ketemu sama mama,” ujar Tiara.

***

Felicia menatap menantunya dengan tatapan hangat dan menggenggam tangan Tiara dengan satu tangannya. Ketika pandangannya beralih pada Aryo di sofa ruang rawat, tatapannya berubah kurang bersahabat.

“Aryo, tugas kamu sekarang jagain istri dan anak kamu yang bener. Mama nggak metoleransi apapun lagi yang bisa membahayakan menantu Mama,” ujar Felicia.

“Iyaa Mamahku, Sayang. Mama tenang aja ya,” ujar Aryo sambil berjalan ke arah dua perempuan yang dicintainya itu.

“Kalau perlu, tambah bodyguard buat jaga di depan ruangan,” ucap Felicia.

“Masalahnya pihak rumah sakit nggak membolehkan itu, Mah. Tapi Mama tenang aja. Aryo di sini akan jagain Tiara dua puluh empat jam per tujuh,” ucap Aryo sambil menampakkan senyum lebarnya.

Tiara yang memerhatikan tingkah Aryo di hadapan Felicia tersebut lantas mengulaskan senyumnya. Bisa-bisanya Aryo bersikap seperti bukan pria berusia 24 tahun di hadapannya dan mamanya.

“Ra, liat nih. Masa dari tadi Mama marahin aku terus, padahal aku udah minta maaf,” adu Aryo pada Tiara dengan nada manjanya. Pria jangkung itu menyandarkan kepalanya di bahu Tiara, meminta istrinya untuk mengusapnya.

“Tiara, pokoknya kalau ada apa-apa, atau Aryo pergi-pergi lagi ninggalin kamu. Kamu bilang aja ke Mama ya, Sayang.”

Tiara mengangguk, “Iya Mah, makasih ya,” ujarnya.

Anytime, Sayang. Yaudah, Mama pamit dulu ya. Kamu istirahat, besok Mama ke sini lagi sama bunda kamu,” ucap Felicia.

“Oke deh, makasih ya Mamaku Sayang. Kalau nanti Mama sama bunda kesini, Aryo bisa tidur dulu untuk sementara. Aryo nggak khawatir lagi deh, Tiara ada yang jagain,” ucap Aryo sembari menampakkan cengirannya.

“Tiara, kamu tau nggak. Tadi dia nangis kayak anak kecil di depan ruang UGD. Di depan bodyguardnya-nya coba,” cerocos Felicia yang langsung membuat Aryo membelalakkan matanya.

“Mah, jangan bocorin ke Tiara dong,” protes Aryo.

“Yaa, biar istrimu tau kamu kayak gimana. Tiara, dia luarnya keliatan kuat, padahal dalamnya hello kitty,” jelas Felicia yang sudah tau luar dalam putra sematawayangnya itu.

Tiara yang memerhatikan kejadian tersebut tidak kuasa untuk menahan tawanya. Tiara justru meminta di lain waktu agar Felicia bisa membagi cerita tentang Aryo lebih banyak lagi kepadanya.

***

Aryo mengantar mama dan papanya sampai ke depan ruangan rawat Tiara. Jam berkunjung hampir habis dan Tiara juga dianjurkan untuk banyak beristirahat. Istrinya itu telah tidur beberapa menit yang lalu dan orang tuanya memutuskan untuk pamit pulang.

“Kamu sama Tiara nggak akan berpisah kan, Aryo?” tanya Felicia.

“Aryo dan Tiara nggak akan pisah, Mah, Pah,” ujar Aryo. “Kita udah bicara dan coba selesaikan permasalahannya. Awalnya Tiara memang meminta pisah sama Aryo. Ini hal yang berat buat Tiara, bayang-bayang masa lalu itu akan selalu ada di ingatannya,” sambungnya.

Edi menatap putra sematawayangnya, lalu ia menepuk pundaknya. “Aryo, kamu harus tau. Apa yang kamu lakukan telah sangat berarti buat Tiara. Istri kamu melalui banyak perjuangan untuk berada di sisi kamu. Begitu seharusnya yang dilakukan dua orang yang saling mencintai,” tutur Edi.

Aryo mengangguk, “Pah, mungkin semuanya nggak akan sama lagi. Soal perusahaan dan keluarga kita,” ujar Aryo. Edi menangkap ada kekhawatiran dari tatapan mata putranya itu.

“Kamu nggak perlu khawatir. Sekarang kamu dan Tiara fokus dulu aja ke calon anak kalian. Soal kasus itu dan perusahaan, Papa akan membantu kamu,” ucap Edi.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷