alyadara

Pandangan Aryo sedari tadi tidak lepas dari pintu ruangan UGD di hadapannnya. Ia tidak dapat berpikir jernih. Di dalam kepalanya, kini berkecamuk segala macam kemungkinan yang dapat terjadi pada Tiara dan bayinya.

Beberapa bodyguard yang bersamanya sedari tadi, urung untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Baru kali ini para pria bertubuh kekar itu melihat atasan mereka dalam kondisi yang bisa dibilang sejatuh-jatuhnya. Aryo terlihat kacau. Pria itu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Ada yang menyadap nomor handphone-nya dan mengirim pesan untuk memanipulasi Tiara. Sehingga istrinya itu datang ke rumah tepat di hari pertemuan antara kedua kubu.

Dari jarak beberapa meter, Rama menatap ke arah Aryo. Setelah menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit, ia akan mencoba untuk menenangkan atasan sekaligus sahabatnya itu.

Rama mendapati kedua mata Aryo memerah. Tatapan pria itu memancarkan kesedihan sekaligus amarah secara bersamaan. “Ram, ini semua salah gue. Tiara kayak gini gara-gara gue,” ujar Aryo.

“Bos, lo jangan mikir kayak gitu. Di dalam sana, istri sama anak lo lagi berjuan, dan lo adalah kekuatan untuk mereka. Lo harus yakin semuanya bakal baik-baik aja,” ucap Rama.

Di tengah-tengah kekalutan Aryo tersebut, pria itu mendapati papa dan mamanya berada di sana.

“Mama sama Papa udah tau semuanya. Kenapa kamu sama Tiara nggak pernah cerita,” ujar Felicia.

“Mah, ma-maafin Aryo,” ujar Aryo yang mendapati tatapan kecewa dari kedua mata Felicia. “Aryo sama Tiara nggak mau buat Mama dan Papa khawatir. Kita berniat ngasih tau semuanya saat keadaannya udah membaik,” lanjut Aryo.

“Mah, sudah ya. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Aryo dan Tiara,” ujar Edi berusaha menenangkan istrinya.

“Dengan Bapak Aryo Bimo?” ujar sebuah suara yang seketika membuat semua orang menoleh.

Aryo lantas berdiri dari duduknya, “Saya sendiri Dok,” ujarnya pada dokter yang menangangi istrinya.

“Baik, Bapak. Boleh minta waktunya sebentar untuk bicara?” lanjut dokter di hadapannya. Dokter itu mengatakan bahwa penanganan telah selesai di lakukan. Pihak keluarga akan diberi penjelasan oleh dokter terkait kondisi pasien saat ini.

***

Aryo menemui Tiara di ruang rawatnya, setelah beberapa saat lalu ia berbicara dengan dokter mengenai kondisi istri dan bayinya. Tiara masih belum bangun dari tidurnya karena pengaruh obat yang diberikan untuk meredakan rasa sakit yang dialaminya.

Aryo mengarahkan tangannya untuk mengambil tangan Tiara dan menggenggamnya. Ia melayangkan tatapannya pada wajah terlelap Tiara. Wajah yang menjadi pusat hidupnya, yang beberapa jam lalu telah membuatnya merasa luluh lantak.

“Tiara,” ujar Aryo dengan nada suaranya yang bergetar. “Aku hampir aja kehilangan duniaku. Semua yang aku punya, akan percuma kalau tanpa kamu, Ra,” lanjut Aryo sembari menundukkan kepalanya. Ia menciumi punggung tangan Tiara dan merasakan air mata merembas membasahi wajahnya.

“Aryo,” ujar sebuah suara yang terdengar lirih. Aryo mengangkat kepalanya dan mendapati Tiara telah membuka matanya. Sebuah air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata Tiara, wanitanya terisak pilu dan Aryo berusaha untuk menenangkannya.

“Ra, kamu tenang dulu ya,” ujar Aryo ketika Tiara meronta-ronta dan berteriak di dalam dekapannya.

“Aryo ... gimana bayi kita? Dia baik-baik aja kan?” racau Tiara diiiringi suaranya yang terdnegar parau.

Aryo mengurai pelukannya pada torso Tiara. Kemudian dengan telaten tangannya mengusap peluh dan air mata di wajah istrinya sebelum berujar. “Bayi kita baik-baik aja, Ra. Dia kuat dan hebat banget, kayak mamanya,” tutur Aryo.

Mata Tiara berkaca-kaca mendengar penuturan Aryo. Perlahan-lahan kedua sudut bibirnya saling tertarik untuk membentuk sebuah senyuman.

“Ra, mama dan papa udah tau semuanya,” ujar Aryo.

“Gimana reaksi mama dan papa?” tanya Tiara. Apa yang baru saja terungkap dan terjadi pasti memiliki dampak terutama di keluarga mereka.

“Mama sempat marah karena kita nggak ngasih tau apapun sama beliau. Papa lumayan shock waktu tau apa aja yang udah dilakuin oleh kakak kandungnya sendiri selama bertahun-tahun,” jelas Aryo.

“Aryo,” ujar Tiara.

“Iya, Sayang?'”

“Mama dimana? Aku mau ketemu sama mama,” ujar Tiara.

***

Felicia menatap menantunya dengan tatapan hangat dan menggenggam tangan Tiara dengan satu tangannya. Ketika pandangannya beralih pada Aryo di sofa ruang rawat, tatapannya berubah kurang bersahabat.

“Aryo, tugas kamu sekarang jagain istri dan anak kamu yang bener. Mama nggak metoleransi apapun lagi yang bisa membahayakan menantu Mama,” ujar Felicia.

“Iyaa Mamahku, Sayang. Mama tenang aja ya,” ujar Aryo sambil berjalan ke arah dua perempuan yang dicintainya itu.

“Kalau perlu, tambah bodyguard buat jaga di depan ruangan,” ucap Felicia.

“Masalahnya pihak rumah sakit nggak membolehkan itu, Mah. Tapi Mama tenang aja. Aryo di sini akan jagain Tiara dua puluh empat jam per tujuh,” ucap Aryo sambil menampakkan senyum lebarnya.

Tiara yang memerhatikan tingkah Aryo di hadapan Felicia tersebut lantas mengulaskan senyumnya. Bisa-bisanya Aryo bersikap seperti bukan pria berusia 24 tahun di hadapannya dan mamanya.

“Ra, liat nih. Masa dari tadi Mama marahin aku terus, padahal aku udah minta maaf,” adu Aryo pada Tiara dengan nada manjanya. Pria jangkung itu menyandarkan kepalanya di bahu Tiara, meminta istrinya untuk mengusapnya.

“Tiara, pokoknya kalau ada apa-apa, atau Aryo pergi-pergi lagi ninggalin kamu. Kamu bilang aja ke Mama ya, Sayang.”

Tiara mengangguk, “Iya Mah, makasih ya,” ujarnya.

Anytime, Sayang. Yaudah, Mama pamit dulu ya. Kamu istirahat, besok Mama ke sini lagi sama bunda kamu,” ucap Felicia.

“Oke deh, makasih ya Mamaku Sayang. Kalau nanti Mama sama bunda kesini, Aryo bisa tidur dulu untuk sementara. Aryo nggak khawatir lagi deh, Tiara ada yang jagain,” ucap Aryo sembari menampakkan cengirannya.

“Tiara, kamu tau nggak. Tadi dia nangis kayak anak kecil di depan ruang UGD. Di depan bodyguardnya-nya coba,” cerocos Felicia yang langsung membuat Aryo membelalakkan matanya.

“Mah, jangan bocorin ke Tiara dong,” protes Aryo.

“Yaa, biar istrimu tau kamu kayak gimana. Tiara, dia luarnya keliatan kuat, padahal dalamnya hello kitty,” jelas Felicia yang sudah tau luar dalam putra sematawayangnya itu.

Tiara yang memerhatikan kejadian tersebut tidak kuasa untuk menahan tawanya. Tiara justru meminta di lain waktu agar Felicia bisa membagi cerita tentang Aryo lebih banyak lagi kepadanya.

***

Aryo mengantar mama dan papanya sampai ke depan ruangan rawat Tiara. Jam berkunjung hampir habis dan Tiara juga dianjurkan untuk banyak beristirahat. Istrinya itu telah tidur beberapa menit yang lalu dan orang tuanya memutuskan untuk pamit pulang.

“Kamu sama Tiara nggak akan berpisah kan, Aryo?” tanya Felicia.

“Aryo dan Tiara nggak akan pisah, Mah, Pah,” ujar Aryo. “Kita udah bicara dan coba selesaikan permasalahannya. Awalnya Tiara memang meminta pisah sama Aryo. Ini hal yang berat buat Tiara, bayang-bayang masa lalu itu akan selalu ada di ingatannya,” sambungnya.

Edi menatap putra sematawayangnya, lalu ia menepuk pundaknya. “Aryo, kamu harus tau. Apa yang kamu lakukan telah sangat berarti untuk Tiara. Tiara juga melalui banyak perjuangan untuk tetap berada di sisi kamu. Begitu seharusnya yang dilakukan dua orang yang saling mencintai,” tutur Edi.

Aryo mengangguk, “Pah, mungkin semuanya nggak akan sama lagi. Soal perusahaan dan keluarga kita,” ujar Aryo. Edi menangkap ada kekhawatiran dari tatapan mata putranya itu.

“Kamu nggak perlu khawatir. Sekarang kamu dan Tiara fokus dulu aja ke calon anak kalian. Soal kasus itu dan perusahaan, Papa akan membantu kamu,” ucap Edi.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Reynaldi menatap satu persatu orang-orang yang telah bekerja lama untuknya. Sesaat kemudian, menggunakan satu tangannya, pria itu memasukkan sebuah rudal ke loading peluru. Jemarinya hampir saja menarik pelatuk pistol dan mengarahkannya pada deretan botol-botol kaca berisi minuman mahal di ruangannya. Namun pria itu mengurungkan niatnya, ia menjauhkan kembali jarinya dan meletakkan senjatanya di atas meja.

Sebuah senyum picik tercetak di wajah Reynaldi, “Saya mau apa pun caranya, bukti itu sampai ke tangan saya,” ujarnya.

Sang kepala bodyguard memutuskan angkat bicara ketika tidak ada satu orang pun yang berani membuka mulut. “Tapi Bos, bagaimana caranya? Bukti itu sudah ada di tangan Rudi,” ujar pria berusia kisaran 30 tahun itu.

“Seorang petarung tidak akan mundur, bahkan sebelum perang dimulai,” ujar Reynaldi. “Siapkan semua senjata terbaik yang kita punya di markas. Kita perlu menyusun rencana,” tukas Reynaldi.

***

Markas Polisi

“Reynaldi udah sepakat untuk bertemu. 3 hari lagi, ini lokasi pertemuannya,” ujar Rudi sambil menunjukkan sebuah lokasi melalui layar laptopnya.

Di samping Rudi, Bagas membuka sebuah gulungan karton tebal di atas meja panjang di hadapan mereka. “Ini mind mapping untuk rencana kita,” ujar Bagas. “Akan ada tiga tim. Langkah yang pertama, dua kubu akan bertemu dan pasukan kita bergerak untuk menahan pasukan Reynaldi, supaya dia nggak punya back up untuk melawan atau kabur. Setelah itu, tim kita yang lain akan kasih salinan buktinya dan tepat saat itu, pasukan polisi siap mengeksekusi target,” ujar Bagas menjelaskan rencana yang akan mereka lakukan.

“Sesuai rencana awal kita, Reynaldi berhasil terhasut dan masuk ke perangkap,” ujar Akmal yang diangguki oleh semua orang yang ada di sana.

Tiara yang berada di samping kanan Aryo menoleh dan menatap suaminya. Tiara memerhatikan Aryo yang nampak tidak setuju dengan ucapan Akmal barusan. Pria itu menghela napas pelan sembelum berujar, “Gue pikir Reynaldi emang udah terhasut. Tapi gue curiga dia nyiapin back up plan. Nggak mungkin Reynaldi menyerah cuma-cuma dan datang ke tempat pertemuan tanpa persiapan apapun,” ujar Aryo.

Semua pasang mata mengarahkan tatapan mereka ke arah Aryo. Risa dan Aurorae pun mengangguk setuju atas ucapan pria itu. “Yang Aryo bilang ada benarnya. Gue tau Reynaldi orang yang seperti apa. Dari dulu, dia udah berambisi untuk menguasai perusahaan. Karena dia nggak punya keturunan dari pernikahannya, dia bertekad membuat perusahaan ada di genggaman tangannya,” jelas Risa.

“Jadi apa yang harus kita lakuin untuk mengantisipasi ini?” tanya Bagas.

“Kita harus tau lebih dulu. Kira-kira apa kelemahan tim kita yang bisa dijadiin sasaran empuk Reynaldi untuk nyerang kita balik,” ujar Risa.

Rudi setuju dengan perkataan Risa. “Sekarang Reynaldi menjadikan kita sebagai musuh besarnya. Tapi dia nggak mungkin menyerang satu persatu dari kita, itu cuma akan membuang waktunya. Pasti dia punya satu yang akan dia jadikan target,” ucap Rudi. Semua yang ada di sana seketika berpikir keras akan kemungkinan yang bisa dilakukan oleh Reynaldi untuk melempar serangan balik.

Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di dalam benak Tiara. Ia mengambil tangan Aryo di sampingnya dan mengenggamnya. “Aryo,” ujar Tiara dengan nada suaranya yang seperti tertahan di tenggorokan. Aryo mendapati Tiara menatapnya dengan tatapan getir.

“Ra, kenapa?” tanya Aryo dan pikirannya pun mulai terasa kacau. Di dalam kepalanya, seperti ada sebuah sirine pengingat akan sebuah bom waktu, yang kapan saja bisa meledak dan menghancurkan semua recana yang telah tim mereka susun sejauh ini.

Tiara mengatakan pada tim bahwa ada kemungkinan Reynaldi mencari keberadaan Michelle untuk dijadikan senjata. Mendengar perkataan Tiara tersebut, seketika membuka lebar jalan pikiran semua orang yang ada di ruangan itu. Satu minggu lalu, tim mereka berhasil menemukan bahwa Reynaldi sengaja memanpulasi para pemegang saham Harapan Jaya untuk menarik saham mereka. Reynaldi sudah mengetahui bahwa bukti kematian Michelle Taninka Sinaga adalah pernyataan palsu dan Aryo berada di balik semua itu. Penjahat kelas kakap sekelas Reynaldi tidak mungkin berpikiran dangkal dan melepaskan targetnya dengan begitu mudah.

Pupil mata Aryo yang menatap Tiara, bergerak ke kanan dan kiri, menandakan bahwa pria itu kini sedang gelisah. Genggaman tangannya di tangan Tiara pun mengerat. Aryo berusaha menampik pemikiran buruk yang baru saja terlintas di benaknya. Sebuah pemikiran bahwa Reynaldi bisa saja menargetkan Tiara untuk mengancam titik terlemah tim mereka. Kemungkinan terburuknya adalah Reynaldi menemukan fakta bahwa Tiara adalah Michelle Taninka Sinaga. Kalau sampai hal tersebut terjadi, maka mereka harus siap menerima boomerang yang akan dilemparkan oleh Reynaldi.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo dan Tiara sudah memberi tahu kedua keluarga mengenai jenis kelamin anak mereka. Mama dan bunda yang terlihat paling antusias, keduanya sudah mempersiapkan berbagai hal untuk menyambut kelahiran cucu pertama mereka.

Tiara merasakan berbagai perubahan pada dirinya. Mulai dari bentuk fisiknya yang tidak seramping dulu dan sebagian pakaian tidak lagi lolos di tubuhnya. Memasuki usia 5 bulan kehamilannya, mual yang dirasakan Tiara sudah jauh berkurang. Kini justru napsu makannya yang meningkat cukup drastis. Tiara dapat menghabiskan 3 ayam goreng sekaligus, mengalahkan porsi makan Aryo.

Aryo sering mendapati istrinya itu mulai gampang lelah kalau berjalan terlalu lama. Aryo bilang kalau Tiara kecapean, Aryo sangat mampu untuk menggendongnya. Namun Tiara masih waras dengan menolak tawaran Aryo yang satu itu. Memangnya mereka mau mengundang perhatian orang-orang di toko perlengkapan bayi ini? Itu tidak akan mungkin terjadi.

“Ra, aku bisa gendong kamu. Beneran,” ujar Aryo masih kekeuh.

“Nggak di sini juga, Aryo.”

“Terus di mana?”

Tiara mengarahkan tangannya untuk menjepit kedua pipi Aryo, hingga kini bibir Aryo menyatu di tengah dan pria itu menjadi kesulitan bicara.

“Aku ngidam ngunyel-ngunyel kamu tau,” ujar Tiara setelah beberapa detik dan ia telah melepas jepitan tangannya di pipi Aryo.

“Boleh nggak aku gituin kamu?” tanya Tiara dan Aryo mengekori langkahnya menuju section lain di toko perlengkapan bayi itu.

“Boleh sih. Tapi kalau cium lebih bagus kayaknya deh, Ra,” bisik Aryo di dekat Tiara.

“Kenapa bisa gitu? Itu mah maunya kamu,” protes Tiara.

“Si bayi pasti happy kalau mamanya sayang-sayang papanya,” ujar Aryo sambil menampilkan senyum kotak khasnya.

“Aku dua puluh empat jam per tujuh sama kamu lho, masih kurang?” gurau Tiara.

“Oh iya Ra, ini udah lewat dari dua bulan ya?” ujar Aryo terdengar begitu yakin.

“Dua bulan apa?” tanya Tiara. Fokusnya tidak sepenuhnya ke Aryo, ia masih asik memilih baju bayi di hadapannya.

“Puasa yang dua bulan itu, Ra. Udah selesai kan puasanya?” jelas Aryo dengan menekankan kata 'dua bulan'. Tiara yang seketika paham langsung menoleh ke arah Aryo dan tatapan mereka bertemu, saling mengunci. Tiara pun tidak dapat menahan sebuah senyum terbit di wajahnya, begitu juga dengan Aryo. Kini ekspresi pria itu seperti baru saja memenangkan sebuah hadiah lotre.

***

Beberapa jam yang lalu, Aryo rela mengantre untuk membeli makanan yang diinginkan oleh Tiara. Sebenarnya mereka sudah makan, tapi Tiara mau nambah 1 burger lagi dan kentang goreng. Dijadikan prioritas seperti itu membuat Tiara terharu. Ada seseorang yang memerhatikannya lebih dari ia peduli terhadap dirinya sendiri. Bagi Tiara, kini tidak ada yang lebih berarti dari pada itu.

Aryo sedang mengambil stroller bayi yang tadi mereka beli. Sementara Tiara, sesampainya di lantai 2, ia langsung menuju kamar yang di persiapkan untuk anak mereka nanti. Ruangan itu sudah didekor. Mungkin mereka akan melengkapi beberapa perintilan lagi yang sekiranya akan dibutuhkan oleh si bayi.

Tiara menuju bagian walk in closet mini di kamar itu. Ia membawa paper bag yang berisi baju-baju bayi ukuran new born yang tadi ia dan Aryo beli. Sebagian section di lemari itu sudah terisi, dari mulai baju harian, celana, dan baju yang berjenis satu pasang. Sebenarnya semua isi kamar hampir lengkap, tapi waktu melihat sepasang kaus kaki dan sepatu bayi yang begitu lucu, Tiara memutuskan untuk membelinya. Aryo juga setuju, suaminya itu mengatakan ia bisa membelikan satu toko jika Tiara menginginkannya.

Baby Room

“Tiara ...” terdengar sebuah tidak begitu jauh dari posisi Tiara. Ia meletakkan paper bag-nya di lantai dan melenggang keluar kamar. Tiara lantas mendapati Aryo di ruang tamu lantai dua.

“Kamu mau ngapain?” tanya Tiara pada Aryo yang sibuk dengan stroller bayi mereka.

“Ini cara bukanya gimana ya, Ra? Kayaknya tadi tinggal pencet tombol di sini, tapi aku coba kok nggak bisa ya,” ujar Aryo tampak kebingungan.

“Ya ampun kamu nih,” Tiara menggelengkan kepalanya dan menghampiri Aryo. Ia mengambil tempat di sofa dan Aryo duduk bersila di atas lantai.

“Kayak gini lho, Sayang,” Tiara mengambil alih stroller bayi dari tangan Aryo dan voila! Kini benda itu berhasil terbuka sempurna. Padahal hanya tinggal menarik tuas kecil di sisi kirinya dan stroller lipat itu bisa langsung digunakan.

Aryo menatap Tiara dengan takjub. “Tuh kan, kamu udah cocok banget jadi mama, Sayang.”

“Iya, kamu juga harus belajar dong. Nanti kalau anak kamu nangis, kamu harus bisa bikin dia tenang lho,” ujar Tiara.

“Iya, aku mau belajar,” ucap Aryo diiringi senyum lebarnya. Sosok pria yang beberapa bulan lalu Tiara kenal dan ia anggap arogan, egois, serta sombong. Namun penilaiannya telah sedikit keliru. Seperti kata pepatah, kalau tidak kenal maka tidak sayang. Sebenarnya Aryo adalah sosok yang penyayang, hatinya lembut, dan begitu peduli terhadap orang-orang di sekitarnya.

“Sayang, kamar baby A kayaknya udah beres deh. Aku cek tadi semuanya udah lengkap. Kurang apa lagi ya? Kamu ada saran nggak?” tanya Tiara.

Tiara memerhatikan Aryo yang menyipitkan matanya dan alis pria itu mengernyit. “Hmm.. kayaknya emang udah lengkap deh, Sayang. Tapi kamu bilang kemarin mau ganti warna temboknya, kan?”

“Iyaa, sih. Aku mau warna krem atau nude gitu. Biar kesannya lebih adem. Bagus nggak menurut kamu?” Tiara selalu menanyakan pendapatnya pada Aryo, untuk urusan apa pun itu. Menurut Tiara, begitulah sebuah hubungan harmonis dan itu yang ia dambakan dari dulu.

“Menurut aku bagus, Sayang. Besok kan aku libur kerja, aku yang cat kamar baby A, gimana?” ujar Aryo.

“Kamu bisa nge cat emang?”

“Kamu meragukan suami kamu?” Aryo menghela satu lengan Tiara untuk diletakkan di atas pundaknya. Ia memandangi wajah Tiara dengan jarak yang minim.

“Nggak gitu, Sayang,” Tiara pun terkekeh. “Kasian kamu, nanti capek lagi. Tapi sih kalau kamu emang mau, yaudah deh nggak papa.” Tangan Tiara yang masih berada di pundak Aryo lantas mengusapnya dengan sebuah usapan lembut.

“Oke. Nanti aku minta tolong Erza buat beli catnya. Kamu kasih tau aja sample warnanya kayak gimana,” tutur Aryo dan Tiara segera mengangguk setuju.

“Kamu kenapa, kok liatin aku kayak gitu?” Aryo keliatan salah tingkah ketika Tiara menatapnya tanpa mengucapkan apapun.

“Soal yang dua bulan itu lho,” ujar Tiara pelan.

“Iya, puasa yang dua bulan, kan? Kenapa Sayang?”

“Kamu mau kita ngelakuin itu? Kan puasanya udah selesai,” Tiara menjeda ucapannya dan ia tersenyum malu. Ia berusaha mengalihkan tatapannya kemana pun yang penting tidak ke mata Aryo.

“Kalau kamu mau, kita bisa. I mean, kata dokter udah nggak papa,” cicit Tiara.

“Liat sini dong,” ujar Aryo menggoda Tiara.

“Yaa, aku kan malu bilangnya,” aku Tiara.

Aryo pun sukses tergelak. “Yaudah, ayo. Kamu nggak usah malu, Sayang.”

Detik berikutnya Tiara mendapati tubuhnya berada di gendongan Aryo. Pria itu menggendongnya ala bridal style dan mendekatkan wajahnya pada Tiara, sehingga membuat kening mereka bertubrukan.

“Aku berat nggak?” tanya Tiara saat mereka berjalan menuju kamar. Tiara mengalungkan kedua lengannya di leher Aryo dan memberikan kecupan lembut di pipinya.

“Engga, Sayang. Buktinya aku kuat gendong kamu.”

“Iya, kamu kan emang kuat. Kata dokter boleh ngelakuin itu tapi pelan aja. Soalnya nanti takut mancing kontraksi,” ujar Tiara.

“Oh gitu? Oke as the rules said.”

And the request too,” tambah Tiara.

Mereka tertawa bersama. “Cie ada yang seneng nih. Gimana Sayang rasanya puasa dua bulan?” ledek Tiara.

“Nggak enak rasanya, Ra,” ucap Aryo ketika mereka sudah sampai di kamar. “I miss you really bad,” aku Aryo.

I miss you too,” ucap Tiara. Detik berikutnya Tiara membuat gerakan lebih dulu, ia menarik tengkuk Aryo dan mencium lembut bibir lelakinya. Ciuman itu terasa sangat mendamba dan ada rasa rindu yang begitu besar di sana. Tiara sedikit memiringkan kepalanya untuk memudahkan Aryo mencumbunya lebih dalam sekaligus melesakkan lidahnya ke dalam mulut Tiara.

Aryo and Tiara Kissing

Napas keduanya sama-sama memburu, mereka meluapkan perasaan rindu yang kian tidak terbendung. Dress fit body sebatas lutut yang dikenakan Tiara memudahkan Aryo untuk mengusap setiap jengkal tubuh Tiara. Kulit halus Tiara yang bersentuhan dengan permukaan kulitnya, membuat api cinta di diri Aryo membara dengan sempurna.

Damn it. You're so beautiful, Ra,” ujar Aryo dengan nada lirihnya. Ia sudah sepenuhnya luluh lantak di hadapan Tiara. Warna kulit wajah Aryo pun berubah memerah dan itu tampak begitu menggemaskan bagi Tiara.

We will do it till the dawn? Like the title of our favorite song?” goda Tiara dan sebuah senyum manis terukir di wajahnya.

“Kamu yakin? Aku sih kuat aja, Sayang,” ujar Aryo. Tubuh keduanya yang telah polos membuat udara dingin terasa begitu menggelitik di sekujur kulit mereka.

“Kamu meragukan istri kamu? Kita buktiin aja kalau gitu, gimana?”

Aryo mengamati setiap detail wajah Tiara. Kemudian tatapannya turun dan menyaksikan pemandangan tubuh Tiara yang justru semakin seksi saat istrinya hamil. “Okey, let's proof it then,” ujar Aryo sebelum kembali mencumbu Tiara. Ciuman Aryo terasa begitu lembut dan memabukkan. Selalu seperti itu. Kurang dari lima menit kemudian, dengan perlahan, Aryo mengurai pagutan bibir mereka. Kesempatan itu ia gunakan untuk mengambil napas, hal yang sama juga dilakukan oleh Tiara.

Tiara melesakkan tangannya untuk memberikan sentuhan-sentuhan di area sensitif Aryo. Tindakannya itu seketika membangkitkan gairah Aryo dan sesuatu dalam dirinya seperti bangun. Aryo mengulaskan senyumnya, lalu kembali memagut bibir Tiara.

Tiara yang mendapat seranga mendadak itu, berusaha menjauhkan sedikit bibir mereka dan berujar, “Oh my god, you're really a good kisser.”

Aryo terkekeh sambil mengusapkan ibu jarinya secara bergantian di kedua belah bibir Tiara, “You're lips are too good, Sweety. This lips are mine.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo mengendarai mobilnya dan sampai di kantor pagi ini. Di gedung pencakar langit berlantai 65 tersebut, cerita keluarganya belasan tahun yang lalu telah di mulai. Mereka membangun bersama sebuah perusahaan keluarga yang kini dikenal dan memiliki nama yang besar. Nama awal perusahaan itu adalah Prawira Group, yang kemudian diubah menjadi Harapan Jaya Group. Perubahan tersebut terjadi berkat usaha Reynaldi untuk menutupi semua perbuatannya di masa lalu.

Aryo bertemu Rama di lobi dan mereka menaiki lift bersama ke lantai 20.

Di dalam lift, beberapa karyawan dan petinggi perusahaan yang merupakan keluarganya, menatap Aryo dengan tatapan yang sedikit berbeda.

“Sudah lihat berita di media?” ujar seseroang.

“Sudah, Direktur.”

“Berita itu akan memberi dampak besar ke perusahaan. Saya nggak habis pikir,” ujar yang lainnya.

“Benar, harga saham kita bisa turun kalau begini terus. Presdir yang melakukan tuntutan itu. Harusnya perusahaan jadi prioritasnya.”

“Rumornya korban kecelakaan itu adalah ayah kandung istrinya Presdir. Mungkin itu alasannya.”

Aryo maupun Rama mau tidak mau mendengar percakapan orang-orang orang itu di lift. Aryo mengarahkan tatapannya pada Rama di sampingnya, mengisyaratkan lelaki itu untuk tidak melakukan apapun.

Saat sampai di lantai 20, Aryo melangkah keluar lift diikuti oleh Rama.

“Kesel banget gue. Mereka jelas-jelas ngomongin lo kayak gitu, tapi lo diem aja,” serbu Rama ketika keduanya sampai di ruangan Aryo.

“Nggak ada yang salah dari omongan mereka, Ram. Apa yang mereka bilang memang benar,” ujar Aryo.

Rama menghela napasnya kasar. “Kalau bukan orang tua, udah gue kasih pelajaran tuh orang,” ujar Rama yang masih terlihat kesal.

“Gimana?” tanya Aryo.

“Apanya?” Rama terlihat bingung atas pertanyaan yang dilontarkan oleh atasannya itu.

“Dampak berita itu ke perusahaan. Apa udah muncul?” tanya Aryo.

Mendengar penuturan Aryo tersebut, Rama lantas membuka laptopnya dan memperlihatkan laporan yang telah ia buat kepada Aryo.

“Harga saham kita udah turun lumayan drastis,” Rama menunjuk grafik saham yang mengalami penurunan di layar laptopnya. “Nama perusahaan jadi trending topic dimana-mana, di media offline maupun online. Ada rumor beredar kalau Erlangga adalah ayah kandungnya Tiara, padahal kasus dan persidangan dilakukan secara tertutup. Nggak habis pikir gue, info gampang banget bocor,” sambung Rama.

“Ada lagi?” tanya Aryo.

“Sebagian distributor besar kita ngajuin penarikan produk dari display store mereka. Brand impression kita menurun, ada pembatalan pesanan produk dan kerjasama antar brand,” papar Rama. Pria itu menutup layar laptopnya dan berusaha mengendalikan emosi serta perasaan kalut di dalam dirinya.

Aryo terdiam beberapa saat. Ia belum terpikirkan apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki semua ini.

“Masyarakat nggak akan percaya kalau kita bicara soal kebaikan perusahaan. Lo tau piring yang pecah nggak akan bisa balik lagi utuh, kan?” ujar Aryo.

Rama mengangguk. “Gue paham. Terus apa yang bakal lo lakuin untuk perbaiki semua ini?”

“Gue nggak akan berusaha untuk mengembalikan citra baik perusahaan. Tapi gue akan berusaha untuk membuka lembaran yang baru,” ucap Aryo.

***

Usaha bertahun-tahun yang selama ini sering dilakukan oleh keluarganya guna menutupi yang buruk demi citra yang baik, semua itu kini terasa sia-sia.

Eyang putri dan eyang kakung siang ini datang ke kantor dan menemui Aryo di ruangannya. Eyang putri menatap cucunya sekilas, lalu beliau menghembuskan napasnya pelan.

“Kamu rela melawan keluargamu sendiri dan menaruh posisi perusahaan di dalam bahaya, hanya untuk mengungkap kasus ini,” ujar Nurmala.

“Eyang putri kecewa sama kamu,” tutur Nurmala dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Kini giliran eyang kakung yang menatapnya, “Aryo, ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Prawira.

“Ada, Eyang. Ada dua hal yang akan Aryo sampaikan,” ucap Aryo.

“Silakan kalau begitu,” ujar Prawira.

Aryo berdeham lalu menatap Nurmala dan Prawira secara bergantian. “Eyang Putri, Eyang Kakung, apa yang sudah terjadi tidak bisa ditutupi. Sekalipun kita menghabiskan seluruh uang atau aset yang kita punya,” Aryo menjeda ucapannya.

Kalimat pertama yang Aryo lontarkan terasa seperti tamparan keras untuk Prawira dan Nurmala.

“Posisi Aryo adalah presdir Harapan Jaya dan Aryo punya tanggung jawab atas kesejahteraan usaha ini. Aryo akan berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan di lembaran yang baru,” Aryo menjadi ucapannya.

“Yang kedua, Aryo melakukan semua ini bukan semata karena memikirkan keluarga Aryo sendiri. Pilihan yang Aryo ambil adalah pilihan yang Aryo yakini benar. Akan ada yang pro dan kontra terhadap apapun yang kita lakukan, Eyang. Tapi berada di jalan yang benar, akan selalu jadi pilihan untuk Aryo,” tuturnya.

Prawira yang semula menundukkan kepalanya, kini mendongak dan menatap Aryo dengan tatapan terharunya.

“Aryo,” ujar Prawira.

“Iya, Eyang?”

“Eyang mungkin belum sanggup mendidik anak-anak Eyang dengan baik,” ujar Prawira. Lelaki paruh baya itu menatap Aryo sebelum melanjutkan perkataannya, “Tapi Edi dan Feli sudah begitu berhasil mendidik kamu.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo dan Tiara sudah memberi tahu kedua keluarga mengenai jenis kelamin anak mereka. Mama dan bunda yang terlihat paling antusias, keduanya sudah mempersiapkan berbagai hal untuk menyambut kelahiran cucu pertama mereka.

Tiara merasakan berbagai perubahan pada dirinya. Mulai dari bentuk fisiknya yang tidak seramping dulu dan sebagian pakaian tidak lagi lolos di tubuhnya. Memasuki usia 5 bulan kehamilannya, mual yang dirasakan Tiara sudah jauh berkurang. Kini justru napsu makannya yang meningkat cukup drastis. Tiara dapat menghabiskan 3 ayam goreng sekaligus, mengalahkan porsi makan Aryo.

Aryo sering mendapati istrinya itu mulai gampang lelah kalau berjalan terlalu lama. Aryo bilang kalau Tiara kecapean, Aryo sangat mampu untuk menggendongnya. Namun Tiara masih waras dengan menolak tawaran Aryo yang satu itu. Memangnya mereka mau mengundang perhatian orang-orang di toko perlengkapan bayi ini? Itu tidak akan mungkin terjadi.

“Ra, aku bisa gendong kamu. Beneran,” ujar Aryo masih kekeuh.

“Nggak di sini juga, Aryo.”

“Terus di mana?”

Tiara mengarahkan tangannya untuk menjepit kedua pipi Aryo, hingga kini bibir Aryo menyatu di tengah dan pria itu menjadi kesulitan bicara.

“Aku ngidam ngunyel-ngunyel kamu tau,” ujar Tiara setelah beberapa detik dan ia telah melepas jepitan tangannya di pipi Aryo.

“Boleh nggak aku gituin kamu?” tanya Tiara dan Aryo mengekori langkahnya menuju section lain di toko perlengkapan bayi itu.

“Boleh sih. Tapi kalau cium lebih bagus kayaknya deh, Ra,” bisik Aryo di dekat Tiara.

“Kenapa bisa gitu? Itu mah maunya kamu,” protes Tiara.

“Si bayi pasti happy kalau mamanya sayang-sayang papanya,” ujar Aryo sambil menampilkan senyum kotak khasnya.

“Aku dua puluh empat jam per tujuh sama kamu lho, masih kurang?” gurau Tiara.

“Oh iya Ra, ini udah lewat dari dua bulan ya?” ujar Aryo terdengar begitu yakin.

“Dua bulan apa?” tanya Tiara. Fokusnya tidak sepenuhnya ke Aryo, ia masih asik memilih baju bayi di hadapannya.

“Puasa yang dua bulan itu, Ra. Udah selesai kan puasanya?” jelas Aryo dengan menekankan kata 'dua bulan'. Tiara yang seketika paham langsung menoleh ke arah Aryo dan tatapan mereka bertemu, saling mengunci. Tiara pun tidak dapat menahan sebuah senyum terbit di wajahnya, begitu juga dengan Aryo. Kini ekspresi pria itu seperti baru saja memenangkan sebuah hadiah lotre.

***

Beberapa jam yang lalu, Aryo rela mengantre untuk membeli makanan yang diinginkan oleh Tiara. Sebenarnya mereka sudah makan, tapi Tiara mau nambah 1 burger lagi dan kentang goreng. Dijadikan prioritas seperti itu membuat Tiara terharu. Ada seseorang yang memerhatikannya lebih dari ia peduli terhadap dirinya sendiri. Bagi Tiara, kini tidak ada yang lebih berarti dari pada itu.

Aryo sedang mengambil stroller bayi yang tadi mereka beli. Sementara Tiara, sesampainya di lantai 2, ia langsung menuju kamar yang di persiapkan untuk anak mereka nanti. Ruangan itu sudah didekor. Mungkin mereka akan melengkapi beberapa perintilan lagi yang sekiranya akan dibutuhkan oleh si bayi.

Tiara menuju bagian walk in closet mini di kamar itu. Ia membawa paper bag yang berisi baju-baju bayi ukuran new born yang tadi ia dan Aryo beli. Sebagian section di lemari itu sudah terisi, dari mulai baju harian, celana, dan baju yang berjenis satu pasang. Sebenarnya semua isi kamar hampir lengkap, tapi waktu melihat sepasang kaus kaki dan sepatu bayi yang begitu lucu, Tiara memutuskan untuk membelinya. Aryo juga setuju, suaminya itu mengatakan ia bisa membelikan satu toko jika Tiara menginginkannya.

Baby Room

“Tiara ...” terdengar sebuah tidak begitu jauh dari posisi Tiara. Ia meletakkan paper bag-nya di lantai dan melenggang keluar kamar. Tiara lantas mendapati Aryo di ruang tamu lantai dua.

“Kamu mau ngapain?” tanya Tiara pada Aryo yang sibuk dengan stroller bayi mereka.

“Ini cara bukanya gimana ya, Ra? Kayaknya tadi tinggal pencet tombol di sini, tapi aku coba kok nggak bisa ya,” ujar Aryo tampak kebingungan.

“Ya ampun kamu nih,” Tiara menggelengkan kepalanya dan menghampiri Aryo. Ia mengambil tempat di sofa dan Aryo duduk bersila di atas lantai.

“Kayak gini lho, Sayang,” Tiara mengambil alih stroller bayi dari tangan Aryo dan voila! Kini benda itu berhasil terbuka sempurna. Padahal hanya tinggal menarik tuas kecil di sisi kirinya dan stroller lipat itu bisa langsung digunakan.

Aryo menatap Tiara dengan takjub. “Tuh kan, kamu udah cocok banget jadi mama, Sayang.”

“Iya, kamu juga harus belajar dong. Nanti kalau anak kamu nangis, kamu harus bisa bikin dia tenang lho,” ujar Tiara.

“Iya, aku mau belajar,” ucap Aryo diiringi senyum lebarnya. Sosok pria yang beberapa bulan lalu Tiara kenal dan ia anggap arogan, egois, serta sombong. Namun penilaiannya telah sedikit keliru. Seperti kata pepatah, kalau tidak kenal maka tidak sayang. Sebenarnya Aryo adalah sosok yang penyayang, hatinya lembut, dan begitu peduli terhadap orang-orang di sekitarnya.

“Sayang, kamar baby A kayaknya udah beres deh. Aku cek tadi semuanya udah lengkap. Kurang apa lagi ya? Kamu ada saran nggak?” tanya Tiara.

Tiara memerhatikan Aryo yang menyipitkan matanya dan alis pria itu mengernyit. “Hmm.. kayaknya emang udah lengkap deh, Sayang. Tapi kamu bilang kemarin mau ganti warna temboknya, kan?”

“Iyaa, sih. Aku mau warna krem atau nude gitu. Biar kesannya lebih adem. Bagus nggak menurut kamu?” Tiara selalu menanyakan pendapatnya pada Aryo, untuk urusan apa pun itu. Menurut Tiara, begitulah sebuah hubungan harmonis dan itu yang ia dambakan dari dulu.

“Menurut aku bagus, Sayang. Besok kan aku libur kerja, aku yang cat kamar baby A, gimana?” ujar Aryo.

“Kamu bisa nge cat emang?”

“Kamu meragukan suami kamu?” Aryo menghela satu lengan Tiara untuk diletakkan di atas pundaknya. Ia memandangi wajah Tiara dengan jarak yang minim.

“Nggak gitu, Sayang,” Tiara pun terkekeh. “Kasian kamu, nanti capek lagi. Tapi sih kalau kamu emang mau, yaudah deh nggak papa.” Tangan Tiara yang masih berada di pundak Aryo lantas mengusapnya dengan sebuah usapan lembut.

“Oke. Nanti aku minta tolong Erza buat beli catnya. Kamu kasih tau aja sample warnanya kayak gimana,” tutur Aryo dan Tiara segera mengangguk setuju.

“Kamu kenapa, kok liatin aku kayak gitu?” Aryo keliatan salah tingkah ketika Tiara menatapnya tanpa mengucapkan apapun.

“Soal yang dua bulan itu lho,” ujar Tiara pelan.

“Iya, puasa yang dua bulan, kan? Kenapa Sayang?”

“Kamu mau kita ngelakuin itu? Kan puasanya udah selesai,” Tiara menjeda ucapannya dan ia tersenyum malu. Ia berusaha mengalihkan tatapannya kemana pun yang penting tidak ke mata Aryo.

“Kalau kamu mau, kita bisa. I mean, kata dokter udah nggak papa,” cicit Tiara.

“Liat sini dong,” ujar Aryo menggoda Tiara.

“Yaa, aku kan malu bilangnya,” aku Tiara.

Aryo pun sukses tergelak. “Yaudah, ayo. Nggak usah malu, Sayang.”

Detik berikutnya Tiara mendapati tubuhnya berada di gendongan Aryo. Pria itu menggendongnya ala bridal style dan mendekatkan wajahnya pada Tiara, sehingga membuat kening mereka bertubrukan.

“Sayang, aku berat nggak?” tanya Tiara saat mereka berjalan menuju kamar. Tiara mengalungkan kedua lengannya di leher Aryo dan memberikan kecupan lembut di pipinya.

“Engga, Sayang. Buktinya aku kuat gendong kamu.”

“Iya, kamu kan emang kuat. Kata dokter boleh ngelakuin itu tapi pelan aja. Soalnya nanti takut mancing kontraksi,” ujar Tiara.

“Oh gitu? Oke as the rules said.”

And the request too,” tambah Tiara.

Mereka tertawa bersama. “Cie ada yang seneng nih. Gimana Sayang rasanya puasa dua bulan?” ledek Tiara.

“Nggak enak rasanya, Ra,” ucap Aryo ketika mereka sudah sampai di kamar.

You know, I miss you really bad,” ungkap Aryo.

I miss you too,” ucap Tiara. Detik berikutnya Tiara membuat gerakan lebih dulu, ia menarik tengkuk Aryo dan mencium lembut bibir lelakinya. Ciuman itu terasa sangat mendamba dan ada rasa rindu yang begitu besar di sana. Tiara sedikit memiringkan kepalanya untuk memudahkan Aryo mencumbunya lebih dalam sekaligus melesakkan lidahnya ke dalam mulut Tiara.

Aryo and Tiara Kissing

Napas keduanya sama-sama memburu, mereka meluapkan perasaan rindu yang kian tidak terbendung. Dress fit body sebatas lutut yang dikenakan Tiara memudahkan Aryo untuk mengusap setiap jengkal tubuh Tiara. Kulit halus Tiara yang bersentuhan dengan permukaan kulitnya, membuat api cinta di diri Aryo membara dengan sempurna.

Damn it. You're so beautiful, Ra,” ujar Aryo dengan nada lirihnya. Ia sudah sepenuhnya luluh lantak di hadapan Tiara. Warna kulit wajah Aryo pun berubah memerah dan itu tampak begitu menggemaskan bagi Tiara.

We will do it till the dawn? Like the title of our favorite song?” goda Tiara dan sebuah senyum manis terukir di wajahnya.

“Kamu yakin? Aku sih kuat aja, Sayang,” ujar Aryo. Tubuh keduanya yang telah polos membuat udara dingin terasa begitu menggelitik di sekujur kulit mereka.

“Kamu meragukan istri kamu? Kita buktiin aja kalau gitu, gimana?”

Aryo mengamati setiap detail wajah Tiara. Kemudian tatapannya turun dan menyaksikan pemandangan tubuh Tiara yang justru semakin seksi saat istrinya hamil. “Okey, let's proof it then,” ujar Aryo sebelum kembali mencumbu Tiara. Ciuman Aryo terasa begitu lembut dan memabukkan. Selalu seperti itu. Kurang dari lima menit kemudian, dengan perlahan, Aryo mengurai pagutan bibir mereka. Kesempatan itu ia gunakan untuk mengambil napas, hal yang sama juga dilakukan oleh Tiara.

Tiara melesakkan tangannya untuk memberikan sentuhan-sentuhan di area sensitif Aryo. Tindakannya itu seketika membangkitkan gairah Aryo dan sesuatu dalam dirinya seperti bangun. Aryo mengulaskan senyumnya, lalu kembali memagut bibir Tiara.

Tiara yang mendapat seranga mendadak itu, berusaha menjauhkan sedikit bibir mereka dan berujar, “Oh my god, you're really a good kisser.”

Aryo terkekeh sambil mengusapkan ibu jarinya secara bergantian di kedua belah bibir Tiara, “You're lips are too good, Sweety. This lips are mine.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo dan Tiara sudah memberi tahu kedua keluarga mengenai jenis kelamin anak mereka. Mama dan bunda yang terlihat paling antusias, keduanya sudah mempersiapkan berbagai hal untuk menyambut kelahiran cucu pertama mereka.

Tiara merasakan berbagai perubahan pada dirinya. Mulai dari bentuk fisiknya yang tidak seramping dulu dan sebagian pakaian tidak lagi lolos di tubuhnya. Memasuki usia 5 bulan kehamilannya, mual yang dirasakan Tiara sudah jauh berkurang. Kini justru napsu makannya yang meningkat cukup drastis. Tiara dapat menghabiskan 3 ayam goreng sekaligus, mengalahkan porsi makan Aryo.

Aryo sering mendapati istrinya itu mulai gampang lelah kalau berjalan terlalu lama. Aryo bilang kalau Tiara kecapean, Aryo sangat mampu untuk menggendongnya. Namun Tiara masih waras dengan menolak tawaran Aryo yang satu itu. Memangnya mereka mau mengundang perhatian orang-orang di toko perlengkapan bayi ini? Itu tidak akan mungkin terjadi.

“Ra, aku bisa gendong kamu. Beneran,” ujar Aryo masih kekeuh.

“Nggak di sini juga, Aryo.”

“Terus di mana?”

Tiara mengarahkan tangannya untuk menjepit kedua pipi Aryo, hingga kini bibir Aryo menyatu di tengah dan pria itu menjadi kesulitan bicara.

“Aku ngidam ngunyel-ngunyel kamu tau,” ujar Tiara setelah beberapa detik dan ia telah melepas jepitan tangannya di pipi Aryo.

“Boleh nggak aku gituin kamu?” tanya Tiara dan Aryo mengekori langkahnya menuju section lain di toko perlengkapan bayi itu.

“Boleh sih. Tapi kalau cium lebih bagus kayaknya deh, Ra,” bisik Aryo di dekat Tiara.

“Kenapa bisa gitu? Itu mah maunya kamu,” protes Tiara.

“Si bayi pasti happy kalau mamanya sayang-sayang papanya,” ujar Aryo sambil menampilkan senyum kotak khasnya.

“Aku dua puluh empat jam per tujuh sama kamu lho, masih kurang?” gurau Tiara.

“Oh iya Ra, ini udah lewat dari dua bulan ya?” ujar Aryo terdengar begitu yakin.

“Dua bulan apa?” tanya Tiara. Fokusnya tidak sepenuhnya ke Aryo, ia masih asik memilih baju bayi di hadapannya.

“Puasa yang dua bulan itu, Ra. Udah selesai kan puasanya?” jelas Aryo dengan menekankan kata 'dua bulan'. Tiara yang seketika paham langsung menoleh ke arah Aryo dan tatapan mereka bertemu, saling mengunci. Tiara pun tidak dapat menahan sebuah senyum terbit di wajahnya, begitu juga dengan Aryo. Kini ekspresi pria itu seperti baru saja memenangkan sebuah hadiah lotre.

***

Beberapa jam yang lalu, Aryo rela mengantre untuk membeli makanan yang diinginkan oleh Tiara. Sebenarnya mereka sudah makan, tapi Tiara mau nambah 1 burger lagi dan kentang goreng. Dijadikan prioritas seperti itu membuat Tiara terharu. Ada seseorang yang memerhatikannya lebih dari ia peduli terhadap dirinya sendiri. Bagi Tiara, kini tidak ada yang lebih berarti dari pada itu.

Aryo sedang mengambil stroller bayi yang tadi mereka beli. Sementara Tiara, sesampainya di lantai 2, ia langsung menuju kamar yang di persiapkan untuk anak mereka nanti. Ruangan itu sudah didekor. Mungkin mereka akan melengkapi beberapa perintilan lagi yang sekiranya akan dibutuhkan oleh si bayi.

Tiara menuju bagian walk in closet mini di kamar itu. Ia membawa paper bag yang berisi baju-baju bayi ukuran new born yang tadi ia dan Aryo beli. Sebagian section di lemari itu sudah terisi, dari mulai baju harian, celana, dan baju yang berjenis satu pasang. Sebenarnya semua isi kamar hampir lengkap, tapi waktu melihat sepasang kaus kaki dan sepatu bayi yang begitu lucu, Tiara memutuskan untuk membelinya. Aryo juga setuju, suaminya itu mengatakan ia bisa membelikan satu toko jika Tiara menginginkannya.

Baby Room

“Tiara ...” terdengar sebuah tidak begitu jauh dari posisi Tiara. Ia meletakkan paper bag-nya di lantai dan melenggang keluar kamar. Tiara lantas mendapati Aryo di ruang tamu lantai dua.

“Kamu mau ngapain?” tanya Tiara pada Aryo yang sibuk dengan stroller bayi mereka.

“Ini cara bukanya gimana ya, Ra? Kayaknya tadi tinggal pencet tombol di sini, tapi aku coba kok nggak bisa ya,” ujar Aryo tampak kebingungan.

“Ya ampun kamu nih,” Tiara menggelengkan kepalanya dan menghampiri Aryo. Ia mengambil tempat di sofa dan Aryo duduk bersila di atas lantai.

“Kayak gini lho, Sayang,” Tiara mengambil alih stroller bayi dari tangan Aryo dan voila! Kini benda itu berhasil terbuka sempurna. Padahal hanya tinggal menarik tuas kecil di sisi kirinya dan stroller lipat itu bisa langsung digunakan.

Aryo menatap Tiara dengan takjub. “Tuh kan, kamu udah cocok banget jadi mama, Sayang.”

“Iya, kamu juga harus belajar dong. Nanti kalau anak kamu nangis, kamu harus bisa bikin dia tenang lho,” ujar Tiara.

“Iya, aku mau belajar,” ucap Aryo diiringi senyum lebarnya. Sosok pria yang beberapa bulan lalu Tiara kenal dan ia anggap arogan, egois, serta sombong. Namun penilaiannya telah sedikit keliru. Seperti kata pepatah, kalau tidak kenal maka tidak sayang. Sebenarnya Aryo adalah sosok yang penyayang, hatinya lembut, dan begitu peduli terhadap orang-orang di sekitarnya.

“Sayang, kamar baby A kayaknya udah beres deh. Aku cek tadi semuanya udah lengkap. Kurang apa lagi ya? Kamu ada saran nggak?” tanya Tiara.

Tiara memerhatikan Aryo yang menyipitkan matanya dan alis pria itu mengernyit. “Hmm.. kayaknya emang udah lengkap deh, Sayang. Tapi kamu bilang kemarin mau ganti warna temboknya, kan?”

“Iyaa, sih. Aku mau warna krem atau nude gitu. Biar kesannya lebih adem. Bagus nggak menurut kamu?” Tiara selalu menanyakan pendapatnya pada Aryo, untuk urusan apa pun itu. Menurut Tiara, begitulah sebuah hubungan harmonis dan itu yang ia dambakan dari dulu.

“Menurut aku bagus, Sayang. Besok kan aku libur kerja, aku yang cat kamar baby A, gimana?” ujar Aryo.

“Kamu bisa nge cat emang?”

“Kamu meragukan suami kamu?” Aryo menghela satu lengan Tiara untuk diletakkan di atas pundaknya. Ia memandangi wajah Tiara dengan jarak yang minim.

“Nggak gitu, Sayang,” Tiara pun terkekeh. “Kasian kamu, nanti capek lagi. Tapi sih kalau kamu emang mau, yaudah deh nggak papa.” Tangan Tiara yang masih berada di pundak Aryo lantas mengusapnya dengan sebuah usapan lembut.

“Oke. Nanti aku minta tolong Erza buat beli catnya. Kamu kasih tau aja sample warnanya kayak gimana,” tutur Aryo dan Tiara segera mengangguk setuju.

“Kamu kenapa, kok liatin aku kayak gitu?” Aryo keliatan salah tingkah ketika Tiara menatapnya tanpa mengucapkan apapun.

“Soal yang dua bulan itu lho,” ujar Tiara pelan.

“Iya, puasa yang dua bulan, kan? Kenapa Sayang?”

“Kamu mau kita ngelakuin itu? Kan puasanya udah selesai,” Tiara menjeda ucapannya dan ia tersenyum malu. Ia berusaha mengalihkan tatapannya kemana pun yang penting tidak ke mata Aryo.

“Kalau kamu mau, kita bisa. I mean, kata dokter udah nggak papa,” cicit Tiara.

“Liat sini dong,” ujar Aryo menggoda Tiara.

“Yaa, aku kan malu bilangnya,” aku Tiara.

Aryo pun sukses tergelak. “Yaudah, ayo. Nggak usah malu, Sayang.”

Detik berikutnya Tiara mendapati tubuhnya berada di gendongan Aryo. Pria itu menggendongnya ala bridal style dan mendekatkan wajahnya pada Tiara, sehingga membuat kening mereka bertubrukan.

“Sayang, aku berat nggak?” tanya Tiara saat mereka berjalan menuju kamar. Tiara mengalungkan kedua lengannya di leher Aryo dan memberikan kecupan lembut di pipinya.

“Engga, Sayang. Buktinya aku kuat gendong kamu.”

“Iya, kamu kan emang kuat. Kata dokter boleh ngelakuin itu tapi pelan aja. Soalnya nanti takut mancing kontraksi,” ujar Tiara.

“Oh gitu? Oke as the rules said.”

And the request too,” tambah Tiara.

Mereka tertawa bersama. “Cie ada yang seneng nih. Gimana Sayang rasanya puasa dua bulan?” ledek Tiara.

“Nggak enak rasanya, Ra,” ucap Aryo ketika mereka sudah sampai di kamar.

You know, I miss you really bad,” ungkap Aryo.

I miss you too,” ucap Tiara. Detik berikutnya Tiara membuat gerakan lebih dulu, ia menarik tengkuk Aryo dan mencium lembut bibir lelakinya. Ciuman itu terasa sangat mendamba dan ada rasa rindu yang begitu besar di sana. Tiara sedikit memiringkan kepalanya untuk memudahkan Aryo mencumbunya lebih dalam sekaligus melesakkan lidahnya ke dalam mulut Tiara.

Aryo and Tiara Kissing

Napas keduanya sama-sama memburu, mereka meluapkan perasaan rindu yang kian tidak terbendung. Dress fit body sebatas lutut yang dikenakan Tiara memudahkan Aryo untuk mengusap setiap jengkal tubuh Tiara. Kulit halus Tiara yang bersentuhan dengan permukaan kulitnya, membuat api cinta di diri Aryo membara dengan sempurna.

Damn it. You're so beautiful, Ra,” ujar Aryo dengan nada lirihnya. Ia sudah sepenuhnya luluh lantak di hadapan Tiara. Warna kulit wajah Aryo pun berubah memerah dan itu tampak begitu menggemaskan bagi Tiara.

We will do it till the dawn? Like the title of our favorite song?” goda Tiara dan sebuah senyum manis terukir di wajahnya.

Aryo and Tiara Doing It

“Kamu yakin? Aku sih kuat aja, Sayang,” ujar Aryo. Tubuh keduanya yang telah polos membuat udara dingin terasa begitu menggelitik di sekujur kulit mereka.

“Kamu meragukan istri kamu? Kita buktiin aja kalau gitu, gimana?”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Satu minggu yang lalu, Aryo dan Tiara sudah kembali ke tempat tinggal awal mereka. Aryo telah meminta seluruh bodyguard-nya untuk memastikan bahwa keadaan rumahnya aman. Semua yang telah terjadi belakangan, kini membuat Aryo lebih waspada. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang dapat membahayakan Tiara maupun calon anak di kandungannya.

Aryo menghampiri Tiara di ruang belajarnya. Ia membawakan segelas susu hangat rasa vanilla yang sudah menjadi kesukaan Tiara.

“Makasih, Sayang,” ujar Tiara pada Aryo. Ia menggeser sedikit laptopnya dan mulai meneguk susu di gelas.

“Manisnya pas nih, kamu udah jago bikinin susu buat aku sama dedek bayi,” cetus Tiara seusai ia meminum dua tegukan dan meletakkan gelasnya di nakas samping meja belajar.

“Masih mau lanjut ngerjain skripsi?” tanya Aryo.

“Iya ini tanggung bab 4-nya, dikit lagi selesai,” jawab Tiara.

“Aku temenin kamu begadang ya malam ini?” Aryo mengarahkan tangannya lalu mengusap dan menepuk pelan puncak kepala Tiara.

Beberapa kali Aryo memang ingin melakukannya, tapi Tiara melarang hal tersebut. Ia tidak ingin suaminya dua kali lipat merasa lelah. Sudah capai di kantor dan di tambah lagi capai di rumah.

Aryo mengambil kursi dan meletakkannya di samping Tiara. Ia ikut melihat ke layar laptop dan membaca isi skripsi yang ditulis oleh istrinya.

“Kayaknya skripsi aku malah nggak kelar deh kalau ada kamu di sini,” celetuk Tiara.

“Emangnya aku ngapain?” tanya Aryo terlihat bingung. Tiara begitu suka ketika suaminya itu sedang terlihat polos seperti ini.

“Kamu bikin aku nggak fokus,” aku Tiara.

“Yaudah aku nggak liat nih,” Aryo memejamkan kedua matanya. Tiara yang memerhatikan itu justru semakin merasa pertahanannya telah hancur. Kacau. Suaminya itu justru semakin terlihat menggemaskan dengan kedua mata tertutup dan bibir yang menahan senyum.

“Nggak bisa. Kamu balik ke kamar aja deh, nanti aku nyusul,” ujar Tiara pasrah.

Aryo lantas membuka matanya. “Yaudah aku balik ke kamar deh. Biar kamu fokus ngerjain skripsinya. Susunya jangan lupa kamu habisin ya,” tutur Aryo.

Sebelum beranjak dari kursinya, Aryo mendekatkan wajahnya dan menunjuk pipi kirinya.

“Apa?” tanya Tiara yang bingung akan tingkah Aryo itu.

“Ini dulu,” ucap Aryo.

Tiara yang baru paham akhirnya langsung mendekatkan dirinya dan memberi kecupan manis di pipi Aryo.

“Aku tungguin kamu di sofa aja, gimana? Jadi kamu bisa tetap fokus dan aku bisa temenin kamu,” saran Aryo sambil menunjuk sofa di sudut ruang belajar.

“Yaudah, oke. Sekali ini aja tapi ya.”

“Iya, Sayang. Kalau kamu butuh bantuan aku, kamu bilang aja. Mungkin aja aku bisa sedikit bantu skripsi kamu.”

Tiara lantas mengacungkan ibu jarinya dan Aryo pun beranjak ke sofa. Tiara memerhatikan Aryo merebahkan tubuhnya di sana dan pria itu mulai memejamkan matanya.

Tiara lantas kembali pada layar laptopnya dan jemarinya mulai fokus menari di atas keyboard. Hampir dua jam berselang, Tiara memutuskan menyudahi kegiatannya. Ia menyimpan file skripsinya dan mematikan laptopnya.

Tiara berjalan menghampiri Aryo dan duduk bersila di tepi sofa. Dengan sehalus mungkin, Tiara menyisir rambut Aryo menggunakan jemarinya. Tidak lama kemudian, Aryo bergerak dalam tidurnya dan perlahan membuka matanya.

“Udah selesai Ra?” tanya Aryo.

“Udah. Tadi aku mau minta tolong sama kamu, tapi kamu tidur. Kalau aku ke kirim ke email kamu aja, gimana? Aku udah catet poin yang aku kurang paham dan kebetulan topiknya soal marketing komunikasi,” ujar Tiara.

“Oke. Kamu kirim ke email aku aja. Nanti aku coba bantu,” ujar Aryo. Pria itu seketika mengambil tangan Tiara dan menggenggamnya. “Ra, bukan cuma aku yang bangga sama kamu. Ayah dan bunda, mama dan papa, mereka bangga banget sama kamu. Kamu berusaha lulus kuliah dengan predikat cumlaude, bahkan disaat kamu lagi hamil. Aku tau itu nggak mudah.”

Mendengar penuturan Aryo membuat hati Tiara menghangat. Rasanya tidak ada yang lebih berarti dari pada bisa membuat orang yang ia sayangi menatapnya dengan tatapan bangga.

“Kenapa kamu milih buat lulus lebih cepat? Padahal nggak papa juga kalau kamu mau nyusun skripsinya semester depan,” ujar Aryo.

“Iya, sebenernya bisa aja. Tapi aku mikirin sesuatu. Kamu, ayah dan bunda, mama dan papa. Kalian udah ngelakuin banyak hal untuk aku. Jadi izinin aku buat ngasih sesuatu ke kalian yang bisa bikin bangga.”

“Kok kamu ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Tiara ketika Aryo hanya memandangnya. Ia tidak dapt mengartikan tatapan Aryo padanya. Seperti ada rasa sedih, haru, dan bahagia secara bersamaan.

Aryo lantas bangun dari posisinya dan duduk bersandar di sofa. Ia meminta Tiara untuk mendekat dan satu lengannya memeluk pinggang perempuan itu dari samping.

“Aku bangga banget sama kamu. Makasih karena kamu udah berniat melakukan yang terbaik. Oh iya Ra, dedek bayi kapan lahirnya sih?” tanya Aryo.

“Masih lumayan lama, 5 bulan lagi. Kamu nggak sabar banget kayaknya.”

“Lama banget ya anak bayi lahirnya.”

“Iya dong, kan 9 bulan. Kamu pikir kayak bikin kue yang 1 jam juga jadi.” Tiara mau tidak mau tertawa keheranan.

“Habis rasanya lama banget sih Ra.”

“Kamunya yang nggak sabar, Aryo. Emang kalau bayinya lahir mau kamu apain sih?”

“Mau aku ajak main sama unyel-unyel. Pasti gemes.”

Tiara merasakan usapan lembut di perutnya yang sudah tidak rata lagi. Tatapannya pun turun dan mendapati tangan Aryo berada di sana. Suaminya itu tersenyum selayaknya anak kecil yang takjub akan sesuatu.

“Bayi, kamu cepet lahir dong. Biar kita bisa main bareng,” ucap Aryo sambil mensejajarkan kepalanya dengan perut Tiara, seolah berbicara langsung dengan anak mereka.

“Mau kamu ajak main apa emangnya?” tanya Tiara.

“Main motor sama bola. Oh iya, sama skateboard juga,” seru Aryo antusias. Keduanya sudah mengetahui bahwa anak mereka laki-laki dan Aryo begitu senang mengetahui fakta tersebut.

“Ra, kalau besok kita belanja perlengkapan buat si bayi, gimana?” usul Aryo.

Tiara nampak berpikir sejenak dan tidak lama ia menyetujuinya. “Boleh. Aku juga udah bikin buying list untuk keperluan si bayi.”

“Yang happy malah kamu ya,” sambung Tiara yang memerhatikan ekspresi gembira di wajah Aryo.

“Kamu mau tau alasan lain aku mau lulus kuliah lebih cepat?” tanya Tiara.

“Apa alasannya?”

“Aku mau waktu anak kita lahir, aku udah lulus. Biar aku bisa fokus buat ngasih dia kasih sayang yang utuh.”

“Kamu akan jadi Mama yang hebat buat si bayi, Ra,” ujar Aryo sembari menyematkan kecupan di pipi Tiara.

“Kamu juga akan jadi Papa yang luar biasa buat dia. Ngajak dia main, nemenin dia ngelakuin hobinya, dan dukung buat eksplor apapun yang dia suka. Dia akan dapat kasih sayang yang penuh dari orang tuanya.” Tiara mengusap perutnya, merasakan kehadiran buah hatinya di sana. Sekecil apa pun tentang anaknya, selalu berhasil membuat hati Tiara menghangat.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Satu minggu yang lalu, Aryo dan Tiara sudah kembali ke tempat tinggal awal mereka. Aryo telah meminta seluruh bodyguard-nya untuk memastikan bahwa keadaan rumahnya aman. Semua yang telah terjadi belakangan, kini membuat Aryo lebih waspada. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang dapat membahayakan Tiara maupun calon anak di kandungannya.

Aryo menghampiri Tiara di ruang belajarnya. Ia membawakan segelas susu hangat rasa vanilla yang sudah menjadi kesukaan Tiara.

“Makasih, Sayang,” ujar Tiara ketika mendapati Aryo di sana. Ia menggeser sedikit laptopnya dan mulai meneguk susu di gelas.

“Manisnya pas nih, kamu udah jago bikinin susu buat aku sama dedek bayi,” cetus Tiara seusai ia meminum dua tegukan dan meletakkan gelasnya di nakas samping meja belajar.

“Masih mau lanjut ngerjain skripsi?” tanya Aryo.

“Iya ini tanggung bab 4-nya, dikit lagi selesai,” jawab Tiara.

“Aku temenin kamu begadang ya malam ini?” Aryo mengarahkan tangannya lalu mengusap dan menepuk pelan puncak kepala Tiara.

Beberapa kali Aryo memang ingin melakukannya, tapi Tiara melarang hal tersebut. Ia tidak ingin suaminya dua kali lipat merasa lelah. Sudah capai di kantor dan di tambah lagi capai di rumah.

Aryo mengambil kursi dan meletakkannya di samping Tiara. Ia ikut melihat ke layar laptop dan membaca isi skripsi yang ditulis oleh istrinya.

“Kayaknya skripsi aku malah nggak kelar deh kalau ada kamu di sini,” celetuk Tiara.

“Emangnya aku ngapain?” tanya Aryo terlihat bingung. Tiara begitu suka ketika suaminya itu sedang terlihat polos seperti ini.

“Kamu bikin aku nggak fokus,” aku Tiara.

“Yaudah aku nggak liat nih,” Aryo memejamkan kedua matanya. Tiara yang memerhatikan itu justru semakin merasa pertahanannya telah hancur. Kacau. Suaminya itu justru semakin terlihat menggemaskan dengan kedua mata tertutup dan bibir yang menahan senyum.

“Nggak bisa. Kamu balik ke kamar aja deh, nanti aku nyusul,” ujar Tiara pasrah.

Aryo lantas membuka matanya. “Yaudah aku balik ke kamar deh. Biar kamu fokus ngerjain skripsinya. Susunya jangan lupa kamu habisin ya,” tutur Aryo.

Sebelum beranjak dari kursinya, Aryo mendekatkan wajahnya dan menunjuk pipi kirinya.

“Apa?” tanya Tiara yang bingung akan tingkah Aryo itu.

“Ini dulu,” ucap Aryo.

Tiara yang baru paham akhirnya langsung mendekatkan dirinya dan memberi kecupan manis di pipi Aryo.

“Aku tungguin kamu di sofa aja, gimana? Jadi kamu bisa tetap fokus dan aku bisa temenin kamu,” saran Aryo sambil menunjuk sofa di sudut ruang belajar.

“Yaudah, oke. Sekali ini aja tapi ya.”

“Iya, Sayang. Kalau kamu butuh bantuan aku, kamu bilang aja. Mungkin aja aku bisa sedikit bantu skripsi kamu.”

Tiara lantas mengacungkan ibu jarinya dan Aryo pun beranjak ke sofa. Tiara memerhatikan Aryo merebahkan tubuhnya di sana dan pria itu mulai memejamkan matanya.

Tiara lantas kembali pada layar laptopnya dan jemarinya mulai fokus menari di atas keyboard. Hampir dua jam berselang, Tiara memutuskan menyudahi kegiatannya. Ia menyimpan file skripsinya dan mematikan laptopnya.

Tiara berjalan menghampiri Aryo dan duduk bersila di tepi sofa. Dengan sehalus mungkin, Tiara menyisir rambut Aryo menggunakan jemarinya. Tidak lama kemudian, Aryo bergerak dalam tidurnya dan perlahan membuka matanya.

“Udah selesai Ra?” tanya Aryo.

“Udah. Tadi aku mau minta tolong sama kamu, tapi kamu tidur. Kalau aku ke kirim ke email kamu aja, gimana? Aku udah catet poin yang aku kurang paham dan kebetulan topiknya soal marketing komunikasi,” ujar Tiara.

“Oke. Kamu kirim ke email aku aja. Nanti aku coba bantu,” ujar Aryo. Pria itu seketika mengambil tangan Tiara dan menggenggamnya. “Ra, bukan cuma aku yang bangga sama kamu. Ayah dan bunda, mama dan papa, mereka bangga banget sama kamu. Kamu berusaha lulus kuliah dengan predikat cumlaude, bahkan disaat kamu lagi hamil. Aku tau itu nggak mudah.”

Mendengar penuturan Aryo membuat hati Tiara menghangat. Rasanya tidak ada yang lebih berarti dari pada bisa membuat orang yang ia sayangi menatapnya dengan tatapan bangga.

“Kenapa kamu milih buat lulus lebih cepat? Padahal nggak papa juga kalau kamu mau nyusun skripsinya semester depan,” ujar Aryo.

“Iya, sebenernya bisa aja. Tapi aku mikirin sesuatu. Kamu, ayah dan bunda, mama dan papa. Kalian udah ngelakuin banyak hal untuk aku. Jadi izinin aku buat ngasih sesuatu ke kalian yang bisa bikin bangga.”

“Kok kamu ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Tiara ketika Aryo hanya memandangnya. Ia tidak dapt mengartikan tatapan Aryo padanya. Seperti ada rasa sedih, haru, dan bahagia secara bersamaan.

Aryo lantas bangun dari posisinya dan duduk bersandar di sofa. Ia meminta Tiara untuk mendekat dan satu lengannya memeluk pinggang perempuan itu dari samping.

“Aku bangga banget sama kamu. Makasih karena kamu udah berniat melakukan yang terbaik. Oh iya Ra, dedek bayi kapan lahirnya sih?” tanya Aryo.

“Masih lumayan lama, 5 bulan lagi. Kamu nggak sabar banget kayaknya.”

“Lama banget ya anak bayi lahirnya.”

“Iya dong, kan 9 bulan. Kamu pikir kayak bikin kue yang 1 jam juga jadi.” Tiara mau tidak mau tertawa keheranan.

“Habis rasanya lama banget sih Ra.”

“Kamunya yang nggak sabar, Aryo. Emang kalau bayinya lahir mau kamu apain sih?”

“Mau aku ajak main sama unyel-unyel. Pasti gemes.”

Tiara merasakan usapan lembut di perutnya yang sudah tidak rata lagi. Tatapannya pun turun dan mendapati tangan Aryo berada di sana. Suaminya itu tersenyum selayaknya anak kecil yang takjub akan sesuatu.

“Bayi, kamu cepet lahir dong. Biar kita bisa main bareng,” ucap Aryo sambil mensejajarkan kepalanya dengan perut Tiara, seolah berbicara langsung dengan anak mereka.

“Mau kamu ajak main apa emangnya?” tanya Tiara.

“Main motor sama bola. Oh iya, sama skateboard juga,” seru Aryo antusias. Keduanya sudah mengetahui bahwa anak mereka laki-laki dan Aryo begitu senang mengetahui fakta tersebut.

“Ra, kalau besok kita belanja perlengkapan buat si bayi, gimana?” usul Aryo.

Tiara nampak berpikir sejenak dan tidak lama ia menyetujuinya. “Boleh. Aku juga udah bikin buying list untuk keperluan si bayi.”

“Yang happy malah kamu ya,” sambung Tiara yang memerhatikan ekspresi gembira di wajah Aryo.

“Kamu mau tau alasan lain aku mau lulus kuliah lebih cepat?” tanya Tiara.

“Apa alasannya?”

“Aku mau waktu anak kita lahir, aku udah lulus. Biar aku bisa fokus buat ngasih dia kasih sayang yang utuh.”

“Kamu akan jadi Mama yang hebat buat si bayi, Ra,” ujar Aryo sembari menyematkan kecupan di pipi Tiara.

“Kamu juga akan jadi Papa yang luar biasa buat dia. Ngajak dia main, nemenin dia ngelakuin hobinya, dan dukung buat eksplor apapun yang dia suka. Dia akan dapat kasih sayang yang penuh dari orang tuanya.” Tiara mengusap perutnya, merasakan kehadiran buah hatinya di sana. Sekecil apa pun tentang anaknya, selalu berhasil membuat hati Tiara menghangat dengan sempurna.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Satu minggu yang lalu, Aryo dan Tiara sudah kembali ke tempat tinggal awal mereka. Aryo telah meminta seluruh bodyguard-nya untuk memastikan bahwa keadaan rumahnya aman. Semua yang telah terjadi belakangan, kini membuat Aryo lebih waspada. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang dapat membahayakan Tiara maupun calon anak di kandungannya.

Aryo menghampiri Tiara di ruang belajarnya. Ia membawakan segelas susu hangat rasa vanilla yang sudah menjadi kesukaan Tiara.

“Makasih, Sayang,” ujar Tiara ketika mendapati Aryo di sana. Ia menggeser sedikit laptopnya dan mulai meneguk susu di gelas.

“Manisnya pas nih, kamu udah jago bikinin susu buat aku sama dedek bayi,” cetus Tiara seusai ia meminum dua tegukan dan meletakkan gelasnya di nakas samping meja belajar.

“Masih mau lanjut ngerjain skripsi?” tanya Aryo.

“Iya ini tanggung bab 4-nya, dikit lagi selesai,” jawab Tiara.

“Aku temenin kamu begadang ya malam ini?” Aryo mengarahkan tangannya lalu mengusap dan menepuk pelan puncak kepala Tiara.

Beberapa kali Aryo memang ingin melakukannya, tapi Tiara melarang hal tersebut. Ia tidak ingin suaminya dua kali lipat merasa lelah. Sudah capai di kantor dan di tambah lagi capai di rumah.

Aryo mengambil kursi dan meletakkannya di samping Tiara. Ia ikut melihat ke layar laptop dan membaca isi skripsi yang ditulis oleh istrinya.

“Kayaknya skripsi aku malah nggak kelar deh kalau ada kamu di sini,” celetuk Tiara.

“Emangnya aku ngapain?” tanya Aryo terlihat bingung. Tiara begitu suka ketika suaminya itu sedang terlihat polos seperti ini.

“Kamu bikin aku nggak fokus,” aku Tiara.

“Yaudah aku nggak liat nih,” Aryo memejamkan kedua matanya. Tiara yang memerhatikan itu justru semakin merasa pertahanannya telah hancur. Kacau. Suaminya itu justru semakin terlihat menggemaskan dengan kedua mata tertutup dan bibir yang menahan senyum.

“Nggak bisa. Kamu balik ke kamar aja deh, nanti aku nyusul,” ujar Tiara pasrah.

Aryo lantas membuka matanya. “Yaudah aku balik ke kamar deh. Biar kamu fokus ngerjain skripsinya. Susunya jangan lupa kamu habisin ya,” tutur Aryo.

Sebelum beranjak dari kursinya, Aryo mendekatkan wajahnya dan menunjuk pipi kirinya.

“Apa?” tanya Tiara yang bingung akan tingkah Aryo itu.

“Ini dulu,” ucap Aryo.

Tiara yang baru paham akhirnya langsung mendekatkan dirinya dan memberi kecupan manis di pipi Aryo.

“Aku tungguin kamu di sofa aja, gimana? Jadi kamu bisa tetap fokus dan aku bisa temenin kamu,” saran Aryo sambil menunjuk sofa di sudut ruang belajar.

“Yaudah, oke. Sekali ini aja tapi ya.”

“Iya, Sayang. Kalau kamu butuh bantuan aku, kamu bilang aja. Mungkin aja aku bisa sedikit bantu skripsi kamu.”

Tiara lantas mengacungkan ibu jarinya dan Aryo pun beranjak ke sofa. Tiara memerhatikan Aryo merebahkan tubuhnya di sana dan pria itu mulai memejamkan matanya.

Tiara lantas kembali pada layar laptopnya dan jemarinya mulai fokus menari di atas keyboard. Hampir dua jam berselang, Tiara memutuskan menyudahi kegiatannya. Ia menyimpan file skripsinya dan mematikan laptopnya.

Tiara berjalan menghampiri Aryo dan duduk bersila di tepi sofa. Dengan sehalus mungkin, Tiara menyisir rambut Aryo menggunakan jemarinya. Tidak lama kemudian, Aryo bergerak dalam tidurnya dan perlahan membuka matanya.

“Udah selesai Ra?” tanya Aryo.

“Udah. Tadi aku mau minta tolong sama kamu, tapi kamu tidur. Kalau aku ke kirim ke email kamu aja, gimana? Aku udah catet poin yang aku kurang paham dan kebetulan topiknya soal marketing komunikasi,” ujar Tiara.

“Oke. Kamu kirim ke email aku aja. Nanti aku coba bantu,” ujar Aryo. Pria itu seketika mengambil tangan Tiara dan menggenggamnya. “Ra, bukan cuma aku yang bangga sama kamu. Ayah dan bunda, mama dan papa, mereka bangga banget sama kamu. Kamu berusaha lulus kuliah dengan predikat cumlaude, bahkan disaat kamu lagi hamil. Aku tau itu nggak mudah.”

Mendengar penuturan Aryo membuat hati Tiara menghangat. Rasanya tidak ada yang lebih berarti dari pada bisa membuat orang yang ia sayangi menatapnya dengan tatapan bangga.

“Kenapa kamu milih buat lulus lebih cepat? Padahal nggak papa juga kalau kamu mau nyusun skripsinya semester depan,” ujar Aryo.

“Iya, sebenernya bisa aja. Tapi aku mikirin sesuatu. Kamu, ayah dan bunda, mama dan papa. Kalian udah ngelakuin banyak hal untuk aku. Jadi izinin aku buat ngasih sesuatu ke kalian yang bisa bikin bangga.”

“Kok kamu ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Tiara ketika Aryo hanya memandangnya. Ia tidak dapt mengartikan tatapan Aryo padanya. Seperti ada rasa sedih, haru, dan bahagia secara bersamaan.

Aryo lantas bangun dari posisinya dan duduk bersandar di sofa. Ia meminta Tiara untuk mendekat dan satu lengannya memeluk pinggang perempuan itu dari samping.

“Aku bangga banget sama kamu. Makasih karena kamu udah berniat melakukan yang terbaik. Oh iya Ra, dedek bayi kapan lahirnya sih?” tanya Aryo.

“Masih lumayan lama, 5 bulan lagi. Kamu nggak sabar banget kayaknya.”

“Lama banget ya anak bayi lahirnya.”

“Iya dong, kan 9 bulan. Kamu pikir kayak bikin kue yang 1 jam juga jadi.” Tiara mau tidak mau tertawa keheranan.

“Habis rasanya lama banget sih Ra.”

“Kamunya yang nggak sabar, Aryo. Emang kalau bayinya lahir mau kamu apain sih?”

“Mau aku ajak main sama unyel-unyel. Pasti gemes.”

Tiara merasakan usapan lembut di perutnya yang sudah tidak rata lagi. Tatapannya pun turun dan mendapati tangan Aryo berada di sana. Suaminya itu tersenyum selayaknya anak kecil yang takjub akan sesuatu.

“Bayi, kamu cepet lahir dong. Biar kita bisa main bareng,” ucap Aryo sambil mensejajarkan kepalanya dengan perut Tiara, seolah berbicara langsung dengan anak mereka.

“Mau kamu ajak main apa emangnya?” tanya Tiara.

“Main motor sama bola. Oh iya, sama skateboard juga,” seru Aryo antusias. Keduanya sudah mengetahui bahwa anak mereka laki-laki dan Aryo begitu senang mengetahui fakta tersebut.

“Ra, kalau besok kita belanja perlengkapan buat si bayi, gimana?” usul Aryo.

Tiara nampak berpikir sejenak dan tidak lama ia menyetujuinya. “Boleh. Aku juga udah bikin buying list untuk keperluan si bayi.”

“Yang happy malah kamu ya,” sambung Tiara yang memerhatikan ekspresi gembira di wajah Aryo.

“Kamu mau tau alasan lain aku mau lulus kuliah lebih cepat?” tanya Tiara.

“Apa alasannya?”

“Aku mau waktu anak kita lahir, aku udah lulus. Biar aku bisa fokus buat ngasih dia kasih sayang yang utuh.”

“Kamu akan jadi Mama yang hebat buat si bayi, Ra,” ujar Aryo sembari menyematkan kecupan di pipi Tiara.

“Kamu juga akan jadi Papa yang luar biasa buat dia. Ngajak dia main, nemenin dia ngelakuin hobinya, dan dukung buat eksplor apapun yang dia suka. Dia akan dapat kasih sayang yang full dari orang tuanya.” Tiara mengusap perutnya, merasakan kehadiran buah hatinya di sana. Sekecil apa pun tentang anaknya, selalu berhasil membuat hati Tiara menghangat dengan sempurna.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Say 'Hai' lagi sama Pajero hitam yang sudah nangkring di parkiran gedung fakultas komunikasi. Ketika melihat mobil yang fameliar dengan plat nomor 4 R Y O itu, Tiara segera berjalan menghampiri. Dari beberapa koleksi mobil yang dimiliki suaminya, kini Tiara tahu bahwa si Pajero hitam tetap jadi yang nomor satu bagi Aryo.

“Hai,” sapa Tiara begitu ia memasuki mobil.

“Hai,” balas Aryo.

Tiara meletakkan totebag Guccinya di jok belakang, “Kamu nunggu berapa jam tadi?” tanyanya.

Aryo melirik rolex di pergelangan tangan kirinya. “1 jam an lah kira-kira,” ujarnya.

“Ya ampun, lama juga. Kasian banget sih suami aku.” Dengan spontan Tiara mencondongkan tubuhnya mendekat pada Aryo dan menyematkam kecupan di pipi kirinya.

“Kita mau kemana? Katanya kamu nggak mau langsung pulang, kan?” tanya Tiara.

“Kemana aja, yang penting sama kamu,” jawab Aryo sambil menatap Tiara.

“Oke. Kita cari makan malam dulu kalau gitu.”

***

Sebuah warung kaki lima di dekat taman kota menjadi tujuan Aryo dan Tiara untuk mengisi amunisi. Warung itu menjual ayam geprek sambal hijau yang sudah terkenal cita rasanya dan Tiara merekomendasikannya. Aryo harus mencobanya, begitu kata Tiara.

Mereka perlu antre sekitar 20 menit untuk mendapat tempat duduk. Untungnya tidak lama setelah itu, pesanan mereka datang.

Sebelum menyantap makanan miliknya, Tiara lebih dulu memerhatikan Aryo. Ia ingin melihat reaksi pria itu mencoba makanan yang ia rekomendasikan.

“Gimana? Enak?” tanya Tiara seusai Aryo mencoba suapan pertamanya.

“Enak banget, Ra,” tiga kata singkat yang keluar dari bibir Aryo dan ekspresi bahagianya, sudah cukup membuat Tiara ikut senang.

“Kamu kasih rating berapa?” tanya Tiara lagi.

“10 per 10.”

“Oke.” Tiara pun tersenyum dan mulai menyantap makanan miliknya.

Aryo telah selesai makan lebih dulu dan Tiara bertanya padanya, “Mau nambah lagi nggak?”

“Mau,” jawab Aryo cepat. Tiara yang memerhatikan wajah Aryo dibanjiri oleh keringat karena kepedasan, mengambil tisu di meja dan memberikannya pada suaminya.

“Mas, nambah satu lagi ya ayam gepreknya,” ujar Tiara kepada penjualnya. Lalu ia beralih lagi pada Aryo, “Level berapa Sayang?” tanyanya.

“Level dua aja.”

“Ohh, level 2 aja Mas,” ujar Tiara dan langsung diiyakan oleh mas penjualnya.

“Aku lupa kamu nggak terlalu suka pedes, yang pertama tadi aku pesenin level 3,” ucap Tiara pada Aryo.

“Nggak papa, masih tetep enak kok,” ujar Aryo.

“Ra, kapan-kapan kita makan di kaki lima lagi, ya?” cetus Aryo setelah ia menyeruput es jeruknya.

“Iya. Kamu mau makanan apa emangnya?”

“Apa aja, yang penting rekomendasi dari kamu.”

Tiara tertawa pelan, “Okey, apapun rekomendasi aku ya.”

***

Tiara yang punya sejuta ide di dalam kepalanya itu, mengajak Aryo melewati jalan tol di malam hari. Mereka sengaja memperjauh perjalanan untuk sampai ke rumah. Jalanan tol yang lebar dan lempeng, lampu kota di malam hari, serta pemandangan gedung-gedung, terasa sempurna untuk menenangkan pikiran sekaligus memanjakan mata.

Mereka menyetel musik dari pemutar audio di mobil dan mengeraskan volume-nya. Setelah playlist milik Tiara selesai di putar, kini giliran playlist milik Aryo.

Lagu milik Khalid yang berjudul Young Dumb and Broke mulai mengalun dan memenuhi mobil.

So you're still thinking of me ... Just like I know you should I can not give you everything, you know I wish I could ... I'm so high at the moment I'm so caught up in this Yeah, we're just young, dumb and broke But we still got love to give ...

Aryo dan Tiara menyanyikan lagu itu bersamaan. Keduanya pun hapal lirik lagunya di luar kepala. Lagu yang menggambarkan masa muda yang penuh rintangan tersebut terasa begitu relate untuk mereka. Oh, mungkin juga bagi anak muda lainnya di luar sana.

Mereka sudah melewati dua jalan tol dan akhirnya memutuskan untuk pulang.

What's your favorite song from your playlist?” tanya Tiara.

“Lagu habis ini, lagu yang terakhir,” ujar Aryo.

Tiara pun mendengarkan dengan seksama lagu yang mulai terputar dan memasuki bagian intro. Suara yang femeliar lantas memasuki indera pendengaran Tiara. Suara husky penyanyi laki-laki dengan aksen british berpadu aksen khas timur tengah itu begitu sopan memasuki telinganya.

Cause I wanna touch you baby ... And I wanna feel you too I wanna see the sunrise On your sins just me and you ...

Oh my god Zayn Malik, aku suka banget sama dia. Suaranya itu lho,” cerocos Tiara dengan antusias. Lagu Zayn Malik ft Sia berjudul Dusk Till Dawn menjadi lagu terakhir di playlist Aryo—yang katanya menjadi lagu favoritnya juga di antara lagu yang lain.

“Kenapa kamu suka Zayn Malik?” tanya Aryo.

“Suara dia tuh khas banget, husky-husky enak gitu. Ganteng juga lagi, kurang apa coba Zayn Malik,” cerocos Tiara.

But you'll never be alone I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby, I am right here I'll hold you when things go wrong I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby, I am right here

“Ra, kalau menurut kamu, aku kurangnya apa?” tanya Aryo tiba-tiba.

“Kurangnya kamu? Aku nggak kepikiran sih,” jawab Tiara.

“Kamu bilang Zayn Malik nggak ada kurangnya. Kalau aku kira-kira kurangnya apa?”

Kedua alis Tiara menyatu, perempuan itu nampak berpikir sejenak. “Kayaknya kamu nggak ada kurangnya deh. Ganteng, iya. Hmm ... uang, punya. Puji Tuhan, banyak lagi uang kamu.”

Tanpa alasan yang jelas, gelak tawa mereka menggelegar bersamaan. Padahal Tiara asal nyerocos aja. Suasana di dalam mobil pun menjadi agak sunyi karena lagu Dusk Till Dawn telah selesai diputar.

“Terus kamu perhatian banget sama aku, jemput aku pulang kuliah. Nurutin aku night ride di tol. Padahal kamu juga capek habis pulang kerja,” ujar Tiara.

Aryo pun tertawa pelan sembari mematikan penyetel audio di mobilnya. “Ra, thank you buat malam ini,” ucap Aryo sembari menatap Tiara dengan tatapan lembutnya. Mereka masih berada di dalam mobil, mesin sudah mati dan si Pajero telah terparkir sempurna.

Doing simple things like this night, just made me feel alive, Ra,” ungkap Aryo. “Ngelakuin hal yang agak beda, tapi dengan orang yang sama, dan perasaan yang sama,” sambungnya.

Tiara tersenyum. “Aku tau kamu lagi kalut di kantor dan kondisi perusahaan lagi kurang baik,” ujar Tiara. Kini Aryo memiliki beban yang cukup berat dan nasib ribuan orang bergantung di kedua pundaknya.

“Kamu tau? Kenapa baru bilang pas kita udah pulang?” tanya Aryo.

“Ya, nggak papa. Aku kan mau ngehibur kamu, mau buat kamu seneng.”

Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala Tiara. Kemudian seulas senyum terbit di wajahnya, “Makasih ya. Aku seneng banget malam ini.”

Tiara balas mengulaskan senyumnya. “Aku juga seneng, kalau kamu happy kayak gini.”

“Oh iya Ra, dua bulan lagi ulang tahun kamu, kan?” tanya Aryo.

“Iya.”

“Hmm ... kira-kira kamu mau hadiah apa dari aku?” tanya Aryo sambil mendekatkan wajahnya pada Tiara, ia menatap wanitanya dengan seksama.

“Apa ya? Aku nggak tau. Apa aja deh terserah kamu,” ujar Tiara. Tidak terpikirkan apapun di benaknya soal hadiah ulang tahun yang ia inginkan.

“Kalau mobil gimana? Mau?” tanya Aryo.

“Koleksi mobil kamu di rumah udah banyak. Mama bilang udah nggak muat lagi garasinya.”

“Muat, Ra. Yang buat kamu mobilnya spesial.”

Tiara tertawa. “Spesial gimana maksud kamu?”

Aryo mengulaskan senyumnya, “Rahasia dong. Nanti kamu bakal tau di hari ulang tahun kamu.”

“Dua bulan itu lumayan lama, Aryo. Kamu buat aku penasarannya dari sekarang. Kasih aku satu clue dong. Warna mobilnya aja deh,” pinta Tiara.

“Itu juga rahasia, Sayang. Nanti nggak surprise lagi dong kalau gitu,” ujar Aryo. “Semoga kamu suka sama hadiahnya,” lanjutnya.

“Yaudah deh. Tapi apapun itu, aku bakal suka, karena itu pemberian dari kamu.” Tiara tersenyum simpul, “That will be my first birthday gift from you and it really mean a lot for me.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷