Test


Aryo sampai di penthouse dan langsung menuju kamar. Aryo membuka pintu kamar dan langsung melenggang masuk. Setelah meletakkan kunci mobilnya di atas meja dan melonggarkan dasi di kerah kemejanya, ia bergerak menghampiri Tiara di atas kasur.
“Hey ... ” sapa Aryo sembari menyematkan sebuah kecupan di pucuk kepala Tiara.
Beberapa detik kemudian setelah mereka berpelukan ringan, Tiara membalikkan tubuhnya untuk menghadap Aryo.
“Maaf aku nggak bisa nemenin kamu datang ke sidang final hari ini,” ujar Tiara dengan suara pelannya. Hari ini Tiara merasa kurang enak badan dan Aryo pun memintanya tidak ikut ke persidangan.
“Nggak papa, Sayang. Oh iya, kamu nggak ingin tau hasil putusan Majelis Hakim?”
Tiara terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Aryo itu. Aryo yang melihatnya menjadi sedikit khawatir. “Aryo, ak-aku ....” Tiara berucap terbata dan matanya kini tampak berkaca-kaca.
Air mata Tiara sukses mengalir dari kedua pelupuk matanya dan napasnya terdengar tidak beraturan. Aryo pun berusaha menenangkan Tiara dan membawa tubuhnya ke dalam dekapannya.

Selama kurang lebih dua puluh menit, Aryo hanya membiarkan Tiara menangis sesenggukkan di pelukannya. Tiara menumpahkan semua rasa sakit yang telah ia pendam selama sebelas tahun. Saat tangis Tiara mulai reda, Aryo memberikan kata-kata penenang dan mengusap punggungnya dengan gerakan vertikal, berharap Tiara dapat merasa lebih baik.
“Nggak papa kalau kamu mau nangis,” ujar Aryo pelan di dekat Tiara.
Mata Tiara nampak sembap ketika mereka mengurai pelukan dan kini keduanya hanya saling menatap.
“Aryo, aku yang udah menyebabkan retaknya keluarga kamu. Aku masih marah atas kepergian ayah dan bunda. Maafin aku,” ucap Tiara.
Aryo menangkup kedua sisi wajah Tiara, “Kamu nggak boleh ngomong gitu, yaa?” titah Aryo. Ia mengatakan kalau Tiara tidak pantas berpikir bahwa ia penyebab terpecah belahnya keluarga. Semua yang terjadi memiliki sebab dan akibatnya, dan Reynaldi pantas mendapat akibat dari semua perbuatannya di masa lalu.
Selama sebelas tahun, Tiara mencoba menyembunyikan semua rasa marah dan dendam tersebut. Namun pada akhirnya, semua itu meluap ke permukaan. Setelah cukup lama dirinya terlihat baik-baik saja di luar, tanpa orang lain tahu, Tiara begitu terluka di dalam.
Tiara mengatakan pada Aryo bahwa setelah kepergian kedua orang tuanya, ia tetap mendapat kasih sayang dan afeksi yang penuh dari Andi dan Alifia. Mereka merawat dan menyayanginya selayaknya anak sendiri. Namun Tiara belum menemukan sosok yang dapat mengisi afeksi yang berbeda. Sebuah afeksi eksternal dari seseorang yang mencintainya sebagai seorang perempuan. Ketika menikah dengan Aryo, Tiara merasa afeksti tersebut terpenuhi dan bersedia membagi rasa sedihnya di hadapan Aryo.
Tiara mengulaskan senyumnya saat dirinya sudah merasa lebih baik. Mendapati Aryo menatapnya dengan jarak sedekat ini, membuat Tiara malu. Apalagi matanya terasa sulit di buka sehabis menangis dan mungkin wajahnya terlihat bengkak.
“Mukaku bengkak ya?” tanya Tiara.
“Engga, Sayang.” Aryo tersenyum sembari menyelipkan helaian rambut Tiara ke belakang telinga.
“Udahan nangisnya? Kamu udah ngerasa lebih baik?” tanya Aryo.
Tiara mengangguk. “Udah,” ujar Tiara sambil mengusap kedua matanya.
Selama beberapa detik, keduanya hanya saling menatap satu sama lain. Tiara berusaha menenangkan pikirannya. Mendapati Aryo berada di sisinya, mendekapnya, itu sudah lebih dari cukup bagi Tiara untuk merasa lebih baik.
“Ra,” ujar Aryo.
“Hmm?”
“Aku nggak akan pernah bisa menghapus kenangan itu dari memori kamu. Itu akan tetap ada dan mungkin sesekali kamu akan teringat. Kalau kamu ingin meluapkannya lagi kayak tadi, kamu boleh melakukannya.”
Tiara mengangguk, “Kamu bener, aku nggak akan bisa ngelupain itu. Tapi aku belajar banyak hal dari kejadian ini.”
“Ohya? Apa itu?”
“Aku harus menerima dan memaafkan, walaupun kadang aku masih mikir, dia nggak pantas dapat pengampunan itu. Luka itu nggak akan hilang, tapi rasa sakitnya nggak akan mengontrol aku lagi. Aku udah maafin dia,” ungkap Tiara.
Detik berikutnya, Aryo mendapati senyum cantik yang selalu di tunggunya ketika menatap paras Tiara. Senyum yang Aryo tahu adalah tanda bahwa wanitanya benar-benar sudah lebih baik. “You are so amazing, Ra,” ujar Aryo.
Tiara meletakkan tangannya di sisi wajah Aryo lalu ibu jarinya memberikan usapan lembut di sana.
“Kamu perempuan hebat dan kuat. Aku bangga banget sama kamu. Makasih Ra, kamu udah bertahan di sisi aku,” tutur Aryo.
“Aku mau tanya sama kamu, boleh?” tanya Tiara.
“Sure.”
“Emang kamu beneran nangis kemarin di depan bodyguard kamu?”
Aryo menghela napasnya, “Mama cerita apa lagi ke kamu soal aku?”
“Mama cerita banyak lah pokoknya. Tapi bener sih yang mama bilang. Kamu badannya doang L-men, hatinya mah bebelac.”
“Kamu udah bisa ketawa? Barusan aja nangis sampai sesenggukkan gitu,” ledek Aryo.
Tiara mencebikkan bibirnya, “Kan kalau nangis jadi jelek. Masa kamu mau liat istrinya jelek sih? Aneh.”
“Mana jelek? Masih cantik gini.” Aryo mengarahkan tangannya untuk mengunyel-nguyel pipi gembil Tiara.
“Aryo ... pipi aku tambah gede ya kayaknya?” tanya Tiara.
“Iya nih. Kamu jadi chubby.”
“Serius? Aku nimbang sih kemarin udah naik tiga kilo. Kata dokter bisa naik lebih dari sepuluh kilo sampai sembilan bulan nanti.”
“Ya nggak papa.”
“Yakin? Bukannya kamu suka liatin cewek-cewek yang langsing di Instagram,” ujar Tiara.
“Mana ada, Sayang,” balas Aryo dan ia memerhatikan raut wajah Tiara yang berubah bete. “Aku nggak liat lagi, deh,” imbuh Aryo.
“Berarti kamu liat kan?”
“Itu muncul di explore, Sayang. Kamu mau log in Instagram aku?”
“Buat apa?”
“Kalau kamu nggak suka, kamu boleh block atau unfollow. Beres, kan?”
Tiara menyipitkan matanya dan sedetik kemudian senyum semringah muncul di wajahnya. “Aryo, aku nggak pernah nangis kayak tadi. I don't know, I'm just felt so emotional today.”
“It’s oke.” Aryo mengusap sisa peluh di wajah Tiara menggunakan kedua tangannya.
Tiara mendekatkan dirinya pada Aryo, “Peluk lagi,” ujarnya.
“Iyaa, sini,” balas Aryo sambil menyunggingkan senyumnya.
“Cium,” cetus Tiara pelan.
“Cium apa?”
“Cium pipi.”
“Cium ini enggak?” tanya Aryo sambil menunjuk bibir Tiara menggunakan jari telunjuknya.
“Enggak,” jawaban Tiara membuat Aryo mengernyitkan alisnya. “Enggak nolak maksudnya,” sambung Tiara.
“Mau berapa kali?” tanya Aryo.
“Bebas. Terserah pak Bos aja.”
“Oke, akan dilaksanakan. Sesuai permintaan Nyonya Besar.”
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷
Tepat dua minggu yang lalu, surat dakwaan kasus Reynaldi dibuat oleh penuntut umum, setelah menerima berkas perkara dan hasil penyidikan yang lengkap dari penyidik. Surat dakwaan dibuat setelah Jaksa berpendapat bahwa dari hasil penyidikan sudah cukup dan dapat dilakukan penuntutan.
Hari ini diadakanpelaksanaan sidang dakwaan yang merupakan tahap pertama dari persidangan kasus pidana. Beberapa anggota keluarga Brodjohujodyo ikut hadir di sana. Edi dan Felicia beserta Aryo dan Tiara tentunya turut datang ke sidang itu.
Berdasarkan surat dakwaan, terdakwa dinyatakan terkena pasal khusus yakni Pasal 340 KUHP mengenai Pembunuhan Berencana. Sidang yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam tersebut menghasilkan sebuah keputusan oleh Jaksa Penuntut Umum. Jaksa Penuntut Umum mengeluarkan putusan bahwa terdakwa akan dihukum seumur hidup, yakni hukuman berlangsung sampai seumur hidup terdakwa hidup di dunia.
Persidangan telah selesai dan satu persatu hadirin mulai berhamburan keluar dari ruangan. Aryo dan Tiara bertemu dengan Irene ketika mereka hendak keluar. Irene, istri Reynaldi yang menghadiri persidangan itu, melayangkan tatapan tidak sukanya kepada Tiara.
“Kamu pembawa sial dalam keluarga Brodjohujodyo. Apa kamu nggak malu? Sekarang keluarga kita jadi hancur dan terpecah belah,” ucap Irene.
“Tante Irene, cukup. Tante nggak berhak berbicara seperti itu,” ujar Aryo.
“Apa pun yang kalian lakukan, selamanya nggak akan mengembalikan Erlangga dan Clarissa ke dunia ini,” ujar Irene lagi tanpa rasa bersalahnya.
“Ohiya, satu lagi. Kamu ini istri macam apa, Tiara? Mana ada istri yang tega membuat keluarga dan perusahaan suaminya sendiri hancur. Kamu perempuan yang egois, Tiara.” Setelah mengatakan hal tersebut, Irene berlalu pergi dari hadapan Aryo dan Tiara.
Aryo menghadap Tiara dan mengatakan bahwa istrinya itu tidak perlu memikirkan kata-kata Irene. “Tiara, kamu nggak perlu pikirin kata-kata tante Irene, oke?”
Tiara balas menatap Aryo. “Kita harus gimana kalau yang dibilang tante Irene bener-bener terjadi?”
“Maksud kamu?”
“Sekarang perusahaan ada di bawah pimpinan kamu. Kasus ini pasti akan berdampak juga ke reputasi perusahaan, kan?”
***
Pada hakikatnya, seseorang tidak bisa mengatur reaksi orang lain terhadap apa yang terjadi. Kita tidak bisa mengontrol apa yang akan dilontarkan dari mulut orang-orang untuk menanggapi sesuatu.
Berbagai tanggapan pun berdatangan dari keluarganya selama masa persidangan. Sebagian ada yang mendukungnya, sebagian kecewa terhadap apa yang terjadi. Mereka menyalahkan keputusan Aryo untuk menuntut Reynaldi, tanpa melihat dari sisi yang berbeda, bahwa selamanya yang bersalah akan tetap salah dan pantas mendapat hukuman.
“Silakan, Pak.” Sebuah suara menginterupsi pemikiran monolog Aryo. Pria itu mendongak dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan di depannya.
Aryo duduk di hadapan sebuah pembatas besi yang memiliki sebuah jendela kecil di sana. Dari lubang kecil itu, Aryo melihat sosok Omnya yang kini resmi di tahan, setelah sidang putusan final hari ini. Majelis hakim telah memberikan keputusan final bahwa Reynaldi di kenai pasal 340 KUHP dan mendapat hukuman seumur hidup penjara.
“Aryo ke sini ingin menyampaikan sesuatu sama Om,” ucap Aryo membuka pembicaraan.
Reynaldi hanya balas menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Aryo mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke jendela kecil itu. “Nggak ada satu pun anggota keluarga yang ingin melihat anggota keluarganya sendiri hancur. Tapi Om perlu tau, semua perbuatan memiliki tanggung jawabnya.”
“Kamu melakukan ini demi perempuan itu. Perempuan yang baru kamu kenal dan kamu nikahi,” ujar Reynaldi.
“Om benar. Aryo memang melakukannya untuk Tiara. Ketika melihat seseorang yang Om cintai harus menerima rasa sakit selama bertahun-tahun, apa yang akan Om lakukan?” Aryo menjeda ucapannya, pria itu menghela napas dan menghembuskannya perlahan.
“Aryo pikir Om udah tau jawaban dari pertanyaan itu. Aryo nggak membenci Om sama sekali. Tapi perbuatan Om lah yang menyebabkan Aryo kehilangan rasa hormat itu,” ujar Aryo.
“Aryo sudah menyampaikan semua yang ingin disampaikan. Aryo pamit Om.” Aryo menatap Reynaldi sekali, sebelum kakinya melangkah berbalik dari sana.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷
Tepat dua minggu yang lalu, surat dakwaan kasus Reynaldi dibuat oleh penuntut umum, setelah menerima berkas perkara dan hasil penyidikan yang lengkap dari penyidik. Surat dakwaan dibuat setelah Jaksa berpendapat bahwa dari hasil penyidikan sudah cukup dan dapat dilakukan penuntutan.
Hari ini diadakanpelaksanaan sidang dakwaan yang merupakan tahap pertama dari persidangan kasus pidana. Beberapa anggota keluarga Brodjohujodyo ikut hadir di sana. Edi dan Felicia beserta Aryo dan Tiara tentunya turut datang ke sidang itu.
Berdasarkan surat dakwaan, terdakwa dinyatakan terkena pasal khusus yakni Pasal 340 KUHP mengenai Pembunuhan Berencana. Sidang yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam tersebut menghasilkan sebuah keputusan oleh Jaksa Penuntut Umum. Jaksa Penuntut Umum mengeluarkan putusan bahwa terdakwa akan dihukum seumur hidup, yakni hukuman berlangsung sampai seumur hidup terdakwa hidup di dunia.
Persidangan telah selesai dan satu persatu hadirin mulai berhamburan keluar dari ruangan. Aryo dan Tiara bertemu dengan Irene ketika mereka hendak keluar. Irene, istri Reynaldi yang menghadiri persidangan itu, melayangkan tatapan tidak sukanya kepada Tiara.
“Kamu pembawa sial dalam keluarga Brodjohujodyo. Apa kamu nggak malu? Sekarang keluarga kita jadi hancur dan terpecah belah,” ucap Irene.
“Tante Irene, cukup. Tante nggak berhak berbicara seperti itu,” ujar Aryo.
“Apa pun yang kalian lakukan, selamanya nggak akan mengembalikan Erlangga dan Clarissa ke dunia ini,” ujar Irene lagi tanpa rasa bersalahnya.
“Ohiya, satu lagi. Kamu ini istri macam apa, Tiara? Mana ada istri yang tega membuat keluarga dan perusahaan suaminya sendiri hancur. Kamu perempuan yang egois, Tiara.” Setelah mengatakan hal tersebut, Irene berlalu pergi dari hadapan Aryo dan Tiara.
Aryo menghadap Tiara dan mengatakan bahwa istrinya itu tidak perlu memikirkan kata-kata Irene. “Tiara, kamu nggak perlu pikirin kata-kata tante Irene, oke?”
Tiara balas menatap Aryo. “Kita harus gimana kalau yang dibilang tante Irene bener-bener terjadi?”
“Maksud kamu?”
“Sekarang perusahaan ada di bawah pimpinan kamu. Kasus ini pasti akan berdampak juga ke reputasi perusahaan, kan?”
***
Pada hakikatnya, seseorang tidak bisa mengatur reaksi orang lain terhadap apa yang terjadi. Kita tidak bisa mengontrol apa yang akan dilontarkan dari mulut orang-orang untuk menanggapi sesuatu.
Berbagai tanggapan pun berdatangan dari keluarganya selama masa persidangan. Sebagian ada yang mendukungnya, sebagian kecewa terhadap apa yang terjadi. Mereka menyalahkan keputusan Aryo untuk menuntut Reynaldi, tanpa melihat dari sisi yang berbeda, bahwa selamanya yang bersalah akan tetap salah dan pantas mendapat hukuman.
“Silakan, Pak.” Sebuah suara menginterupsi pemikiran monolog Aryo. Pria itu mendongak dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan di depannya.
Aryo duduk di hadapan sebuah pembatas besi yang memiliki jendela kecil di sana. Dari lubang kecil itu, Aryo melihat sosok Om nya yang kini resmi di tahan, setelah sidang putusan final hari ini. Majelis hakim telah memberikan keputusan final bahwa Reynaldi di kenai pasal 340 KUHP dan mendapat hukuman seumur hidup penjara.
“Aryo kesini ingin menyampaikan sesuatu sama Om,” ucap Aryo membuka pembicaraan.
Reynaldi hanya balas menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Aryo mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke jendela kecil itu. “Nggak ada satu pun anggota keluarga yang ingin melihat anggota keluarganya sendiri hancur. Tapi Om perlu tau, semua perbuatan memiliki tanggung jawabnya.”
“Kamu melakukan ini demi perempuan itu. Perempuan yang baru kamu kenal dan kamu nikahi,” ujar Reynaldi.
“Om benar. Aryo memang melakukannya untuk Tiara. Ketika melihat seseorang yang Om cintai harus menerima rasa sakit selama bertahun-tahun, apa yang akan Om lakukan?” Aryo menjeda ucapannya, pria itu menghela napas dan menghembuskannya perlahan.
“Aryo pikir Om udah tau jawaban dari pertanyaan itu. Aryo nggak membenci Om sama sekali. Tapi perbuatan Om lah yang menyebabkan Aryo kehilangan rasa hormat itu,” ujar Aryo.
“Aryo sudah menyampaikan semua yang ingin disampaikan. Aryo pamit Om.” Aryo menatap Reynaldi sekali, sebelum kakinya melangkah berbalik dari sana.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷
Tepat dua minggu yang lalu, Penuntut Umum atas nama Aryo Bimo Brodjohujodyo membuat surat dakwaan dan melakukan penuntutan. Hari ini di laksanakan sidang dakwaan yang merupakan tahap pertama persidangan kasus pidana. Beberapa anggota keluarga Brodjohujodyo ikut hadir di sana. Edi dan Felicia beserta Aryo dan Tiara tentunya turut datang ke sidang itu.
Berdasarkan surat dakwaan, terdakwa dinyatakan terkena pasal khusus yakni Pasal 340 KUHP mengenai Pembunuhan Berencana. Sidang yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam tersebut menghasilkan sebuah keputusan oleh Jaksa Penuntut Umum. Jaksa Penuntut Umum mengeluarkan putusan bahwa terdakwa akan dihukum seumur hidup, yakni hukuman berlangsung sampai seumur hidup terdakwa hidup di dunia.
Persidangan telah selesai dan satu persatu hadirin mulai berhamburan keluar dari ruangan. Aryo dan Tiara bertemu dengan Irene ketika mereka hendak keluar. Irene, istri Reynaldi yang menghadiri persidangan itu, melayangkan tatapan tidak sukanya kepada Tiara.
“Kamu pembawa sial dalam keluarga Brodjohujodyo. Apa kamu nggak malu? Sekarang keluarga kami menjadi hancur dan terpecah belah,” ucap Irene.
“Tante Irene, cukup. Tante nggak berhak berbicara seperti itu,” ujar Aryo.
“Apa pun yang kalian lakukan, selamanya nggak akan mengembalikan Erlangga dan Clarissa ke dunia ini,” ujar Irene lagi tanpa rasa bersalahnya.
“Ohiya, satu lagi. Kamu ini istri macam apa, Tiara? Mana ada istri yang tega membuat keluarga dan perusahaan suaminya sendiri hancur. Kamu perempuan yang egois, Tiara.” Setelah mengatakan hal tersebut, Irene berlalu pergi dari hadapan Aryo dan Tiara.
Aryo menghadap Tiara dan mengatakan bahwa istrinya itu tidak perlu memikirkan kata-kata Irene. “Tiara, kamu nggak perlu pikirin kata-kata tante Irene, ya ... ?”
Tiara balas menatap Aryo. “Kita harus gimana kalau yang dibilang tante Irene bener-bener terjadi?”
“Maksud kamu?”
“Sekarang perusahaan ada di bawah kepimpinan kamu. Kasus ini pasti akan berdampak juga ke reputasi perusahaan, kan?”
***
Pada hakikatnya kita tidak bisa mengatur reaksi orang lain terhadap apa yang terjadi. Kita tidak bisa menentukan apa yang akan dilontarkan dari mulut mereka untuk menanggapi sesuatu. Berbagai tanggapan berdatangan dari keluarganya. Sebagian ada yang mendukungnya dan sisanya yang lain, mereka kecewa terhadap semua ini. Mereka menyalahkan apa yang terjadi, tanpa melihat dari sisi yang berbeda, bahwa selamanya yang salah akan tetap salah dan pantas mendapat hukuman.
“Silakan, Pak.” Sebuah suara menginterupsi pemikiran monolog Aryo. Pria itu mendongak dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan di depannya.
Aryo duduk di hadapan sebuah pembatas besi yang memiliki jendela kecil di sana. Dari lubang kecil itu, Aryo melihat sosok Om nya yang kini resmi di tahan, setelah sidang putusan final hari ini. Majelis hakim telah memberikan keputusan final bahwa Reynaldi di kenai pasal 340 KUHP dan mendapat hukuman seumur hidup penjara.
“Aryo kesini ingin mengatakan sesuatu sama Om,” ucap Aryo membuka pembicaraan.
Reynaldi hanya balas menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Aryo mencondongkan dirinya sedikit lebih dekat ke jendela kecil itu. “Nggak ada satu pun anggota keluarga yang ingin melihat anggota keluarganya sendiri hancur. Tapi Om perlu tau, semua perbuatan memiliki tanggung jawabnya.”
“Kamu melakukan ini demi perempuan itu. Perempuan yang baru kamu kenal dan kamu nikahi,” ujar Reynaldi.
“Om benar. Aryo memang melakukannya untuk Tiara. Ketika melihat seseorang yang Om cintai harus menerima rasa sakit yang sama selama bertahun-tahun, apa yang Om lakukan?” Aryo menjeda ucapannya, pria itu menghela napas dan menghembuskannya.
“Aryo pikir Om udah tau jawaban dari pertanyaan Aryo. Aryo tidak membenci Om sama sekali. Tapi perbuatan Om yang menyebabkan Aryo kehilangan rasa hormat itu,” ujar Aryo.
“Aryo sudah menyampaikan semua yang ingin disampaikan. Aryo pamit Om.” Aryo sekali lagi menatap Reynaldi sebelum melangkahkan kakinya pergi dari sana.
***
Aryo sampai di penthouse dan langsung menuju kamar. Aryo membuka pintu putih di depannya, ia melenggang masuk. Setelah meletakkan kunci mobilnya di atas meja dan melonggarkan dasi di kerah kemejanya, ia bergerak menghampiri Tiara di atas kasur.
“Hey ... ” sapa Aryo sembari menyematkan sebuah kecupan di pucuk kepala Tiara.
Beberapa detik kemudian setelah mereka berpelukan ringan, Tiara membalikkan tubuhnya untuk menghadap Aryo.
“Maaf aku nggak bisa nemenin kamu datang ke sidang final hari ini,” ujar Tiara dengan suara pelannya.
“Nggak papa, Sayang. Ohiya, kamu nggak ingin tau hasil putusan Majelis Hakim?”
Tiara hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Aryo itu. Aryo yang melihatnya menjadi sedikit khawatir. “Aryo, ak-aku ....” Tiara berucap terbata dan matanya kini tampak berkaca-kaca.
Air mata Tiara sukses mengalir dari kedua pelupuk matanya dan napasnya terdengar tidak beraturan. Aryo pun berusaha menenangkan Tiara dan membawanya torso wanitanya ke dalam dekapannya.
Selama kurang lebih dua puluh menit, Aryo hanya membiarkan Tiara menangis sesenggukkan di pelukannya. Tiara menumpahkan semua rasa sakit yang ia pendam selama sebelas tahun. Saat tangis Tiara mulai reda, Aryo memberikan kata-kata penenang dan mengusap punggungnya dengan gerakan vertikal, berharap Tiara dapat merasa lebih baik.
“Nggak papa kalau kamu mau nangis,” ujar Aryo pelan di dekat Tiara.
Mata Tiara nampak sembap ketika mereka mengurai pelukannya dan kini keduanya hanya saling menatap.
“Aryo, aku yang menyebabkan retaknya keluarga kamu. Aku masih marah atas kepergian ayah dan bunda. Maafin aku,” ucap Tiara.
Aryo menangkup kedua sisi wajah Tiara, “Kamu nggak boleh ngomong gitu, yaa?” titah Aryo. Ia mengatakan kalau Tiara tidak pantas berpikir bahwa ia penyebab terpecah belahnya keluarga. Semua yang terjadi memiliki sebab dan akibatnya, dan Reynaldi pantas mendapat akibat dari semua perbuatannya di masa lalu.
Selama sebelas tahun Tiara mencoba menyembunyikan semua rasa marah dan dendam itu. Namun pada akhirnya, kini semuanya meluap ke permukaan. Setelah cukup lama dirinya terlihat baik-baik saja di luar, tanpa orang lain tahu, Tiara begitu terluka di dalam.
Tiara mengatakan pada Aryo bahwa setelah kepergian kedua orang tuanya, ia tetap mendapat kasih sayang dan afeksi yang penuh dari Andi dan Alifia. Mereka merawat dan menyayanginya selayaknya anak sendiri. Namun Tiara belum menemukan sosok yang dapat mengisi afeksi yang berbeda. Sebuah afeksi eksternal dari seseorang yang mencintainya sebagai seorang perempuan. Ketika menikah dengan Aryo, Tiara merasa mendapatkan afeksi tersebut dan bersedia membagi rasa sedihnya di hadapan Aryo.
Tiara mengulaskan senyumnya saat ia sudah merasa lebih baik. Mendapati Aryo menatapnya dengan jarak sedekat ini, membuat Tiara malu. Apalagi matanya terasa sulit di buka karena sehabis menangis dan mungkin wajahnya terlihat bengkak.
“Mukaku bengkak ya?” tanya Tiara.
“Engga, Sayang.” Aryo tersenyum sembari menyelipkan helaian rambut Tiara ke belakang telinga.
“Udahan nangisnya? Are you feel better?” tanya Aryo.
Tiara mengangguk. “Udah,” ujar Tiara sambil mengusap kedua matanya. “Aku nggak mau nangis lagi, cape.”
“Okey.”
Selama beberapa detik, keduanya hanya saling memandang. Tiara menenangkan pikirannya dan dengan mendapati Aryo berada di sisinya, mendekapnya, itu sudah lebih dari cukup bagi Tiara untuk merasa lebih baik.
“Ra,” ujar Aryo.
“Hmm?”
“Aku nggak akan pernah bisa menghapus kenangan itu dari memori kamu. Itu akan tetap ada dan mungkin sesekali kamu akan teringat. Mungkin kamu ingin meluapkannya lagi kayak tadi, kamu boleh melakukannya.”
Tiara mengangguk, “Kamu benar, aku nggak bisa melupakan itu. Tapi aku belajar banyak hal dari kejadian ini.”
“Apa itu?”
“Aku harus menerima dan memaafkan itu semua walaupun kadang aku masih mikir, dia nggak pantas dapat pengampunan itu. Rasa sakit itu nggak akan hilang, tapi rasa sakit itu nggak akan mengontrol aku lagi. Aku udah maafin dia,” ungkap Tiara.
Detik berikutnya, Aryo mendapati senyum cantik yang selalu di tunggunya ketika menatap paras Tiara. Sebuah senyum yang Aryo tahu adalah tanda bahwa wanitanya benar-benar sudah lebih baik. “You are so amazing, Ra,” ujar Aryo.
Tiara meletakkan tangannya di sisi wajah Aryo, lalu ibu jarinya memberikan usapan lembut di sana.
“Kamu perempuan hebat dan kuat. Aku bangga banget sama kamu. Makasih Ra, kamu udah bertahan di sisi aku,” tutur Aryo.
“Aku mau tanya sama kamu, boleh?” tanya Tiara.
“Sure.”
“Emang kamu beneran nangis kemarin di depan semua bodyguard kamu?”
Aryo menghela napasnya, “Mama cerita apa lagi ke kamu soal aku?”
“Mama cerita banyak lah pokoknya. Bener sih yang mama bilang. Kamu badannya doang L-men, hatinya mah bebelac.”
“Kamu udah bisa ketawa? Barusan aja nangis sampai sesenggukkan gitu,” ledek Aryo.
Tiara mencebikkan bibirnya, “Kan kalau nangis jadi jelek. Masa kamu mau liat istrinya jelek sih? Aneh.”
“Mana jelek? Masih cantik gini.” Aryo mengarahkan tangannya untuk mengunyel-nguyel pipi gembil Tiara.
“Pipi aku tambah gede ya kayaknya?” tanya Tiara.
“Iya nih. Kamu jadi chubby.”
“Serius? Aku nimbang sih kemarin udah naik 3 kilo. Kata dokter bisa naik sampai sepuluh kilo sampai sembilan bulan nanti.”
“Ya nggak papa.”
“Yakin? Bukannya kamu suka liatin cewek-cewek yang langsing di Instagram,” ujar Tiara.
“Mana ada, Sayang,” balas Aryo dan ia memerhatikan raut wajah Tiara berubah bete. “Aku nggak liat lagi, deh.”
“Berarti kamu liat kan?”
“Itu muncul di explore, Sayang. Kamu mau log in Instagram aku?”
“Buat apa?”
“Kalau kamu nggak suka, kamu boleh block atau unfollow. Beres, kan?”
Tiara menyipitkan matanya dan sedetik kemudian senyum semringahnya muncul. “Aryo, aku nggak pernah nangis kayak tadi. I don't know, I'm just felt so emotional today.”
“It’s oke.” Aryo mengusapi peluh yang tersisa di wajah Tiara menggunakan kedua tangannya.
Tiara mendekatkan dirinya pada Aryo, “Peluk lagi,” ujarnya.
“Iyaa, sini,” balas Aryo sambil menyunggingkan senyumnya.
“Cium,” celetuk Tiara pelan.
“Cium apa?”
“Cium pipi,”
“Cium ini enggak?” tanya Aryo sambil menunjuk bibir Tiara menggunakan jari telunjuknya.
“Enggak,” jawaban Tiara membuat Aryo mengernyit. “Enggak nolak maksudnya,” sambung Tiara.
“Berapa kali?” tanya Aryo.
“Bebas. Terserah pak Bos aja.”
“Oke, akan dilaksanakan, sesuai permintaan Nyonya Besar.”
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷
Tepat dua minggu yang lalu, Penuntut Umum atas nama Aryo Bimo Brodjohujodyo membuat surat dakwaan dan melakukan penuntutan. Hari ini di laksanakan sidang dakwaan yang merupakan tahap pertama persidangan kasus pidana. Beberapa anggota keluarga Brodjohujodyo ikut hadir di sana. Edi dan Felicia beserta Aryo dan Tiara tentunya turut datang ke sidang itu.
Berdasarkan surat dakwaan, terdakwa dinyatakan terkena pasal khusus yakni Pasal 340 KUHP mengenai Pembunuhan Berencana. Sidang yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam tersebut menghasilkan sebuah keputusan oleh Jaksa Penuntut Umum. Jaksa Penuntut Umum mengeluarkan putusan bahwa terdakwa akan dihukum seumur hidup, yakni hukuman berlangsung sampai seumur hidup terdakwa hidup di dunia.
Persidangan telah selesai dan satu persatu hadirin mulai berhamburan keluar dari ruangan. Aryo dan Tiara bertemu dengan Irene ketika mereka hendak keluar. Irene, istri Reynaldi yang menghadiri persidangan itu, melayangkan tatapan tidak sukanya kepada Tiara.
“Kamu pembawa sial dalam keluarga Brodjohujodyo. Apa kamu nggak malu? Sekarang keluarga kami menjadi hancur dan terpecah belah,” ucap Irene.
“Tante Irene, cukup. Tante nggak berhak berbicara seperti itu,” ujar Aryo.
“Apa pun yang kalian lakukan, selamanya nggak akan mengembalikan Erlangga dan Clarissa ke dunia ini,” ujar Irene lagi tanpa rasa bersalahnya.
“Ohiya, satu lagi. Kamu ini istri macam apa, Tiara? Mana ada istri yang tega membuat keluarga dan perusahaan suaminya sendiri hancur. Kamu perempuan yang egois, Tiara.” Setelah mengatakan hal tersebut, Irene berlalu pergi dari hadapan Aryo dan Tiara.
Aryo menghadap Tiara dan mengatakan bahwa istrinya itu tidak perlu memikirkan kata-kata Irene. “Tiara, kamu nggak perlu pikirin kata-kata tante Irene, ya ... ?”
Tiara balas menatap Aryo. “Kita harus gimana kalau yang dibilang tante Irene bener-bener terjadi?”
“Maksud kamu?”
“Sekarang perusahaan ada di bawah kepimpinan kamu. Kasus ini pasti akan berdampak juga ke reputasi perusahaan, kan?”
***
Pada hakikatnya kita tidak bisa mengatur reaksi orang lain terhadap apa yang terjadi. Kita tidak bisa menentukan apa yang akan dilontarkan dari mulut mereka untuk menanggapi sesuatu. Berbagai tanggapan berdatangan dari keluarganya. Sebagian ada yang mendukungnya dan sisanya yang lain, mereka kecewa terhadap semua ini. Mereka menyalahkan apa yang terjadi, tanpa melihat dari sisi yang berbeda, bahwa selamanya yang salah akan tetap salah dan pantas mendapat hukuman.
“Silakan, Pak.” Sebuah suara menginterupsi pemikiran monolog Aryo. Pria itu mendongak dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan di depannya.
Aryo duduk di hadapan sebuah pembatas besi yang memiliki jendela kecil di sana. Dari lubang kecil itu, Aryo melihat sosok Om nya yang kini resmi di tahan, setelah sidang putusan final hari ini. Majelis hakim telah memberikan keputusan final bahwa Reynaldi di kenai pasal 340 KUHP dan mendapat hukuman seumur hidup penjara.
“Aryo kesini ingin mengatakan sesuatu sama Om,” ucap Aryo membuka pembicaraan.
Reynaldi hanya balas menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Aryo mencondongkan dirinya sedikit lebih dekat ke jendela kecil itu. “Nggak ada satu pun anggota keluarga yang ingin melihat anggota keluarganya sendiri hancur. Tapi Om perlu tau, semua perbuatan memiliki tanggung jawabnya.”
“Kamu melakukan ini demi perempuan itu. Perempuan yang baru kamu kenal dan kamu nikahi,” ujar Reynaldi.
“Om benar. Aryo memang melakukannya untuk Tiara. Ketika melihat seseorang yang Om cintai harus menerima rasa sakit yang sama selama bertahun-tahun, apa yang Om lakukan?” Aryo menjeda ucapannya, pria itu menghela napas dan menghembuskannya.
“Aryo pikir Om udah tau jawaban dari pertanyaan Aryo. Aryo tidak membenci Om sama sekali. Tapi perbuatan Om yang menyebabkan Aryo kehilangan rasa hormat itu,” ujar Aryo.
“Aryo sudah menyampaikan semua yang ingin disampaikan. Aryo pamit Om.” Aryo sekali lagi menatap Reynaldi sebelum melangkahkan kakinya pergi dari sana.
***
Aryo sampai di penthouse dan langsung menuju kamar. Aryo membuka pintu putih di depannya, ia melenggang masuk. Setelah meletakkan kunci mobilnya di atas meja dan melonggarkan dasi di kerah kemejanya, ia bergerak menghampiri Tiara di atas kasur.
“Hey ... ” sapa Aryo sembari menyematkan sebuah kecupan di pucuk kepala Tiara.
Beberapa detik kemudian setelah mereka berpelukan ringan, Tiara membalikkan tubuhnya untuk menghadap Aryo.
“Maaf aku nggak bisa nemenin kamu datang ke sidang final hari ini,” ujar Tiara dengan suara pelannya.
“Nggak papa, Sayang. Ohiya, kamu nggak ingin tau hasil putusan Majelis Hakim?”
Tiara hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Aryo itu. Aryo yang melihatnya menjadi sedikit khawatir. “Aryo, ak-aku ....” Tiara berucap terbata dan matanya kini tampak berkaca-kaca.
Air mata Tiara sukses mengalir dari kedua pelupuk matanya dan napasnya terdengar tidak beraturan. Aryo pun berusaha menenangkan Tiara dan membawanya torso wanitanya ke dalam dekapannya.
Selama kurang lebih dua puluh menit, Aryo hanya membiarkan Tiara menangis sesenggukkan di pelukannya. Tiara menumpahkan semua rasa sakit yang ia pendam selama sebelas tahun. Saat tangis Tiara mulai reda, Aryo memberikan kata-kata penenang dan mengusap punggungnya dengan gerakan vertikal, berharap Tiara dapat merasa lebih baik.
“Nggak papa kalau kamu mau nangis,” ujar Aryo pelan di dekat Tiara.
Mata Tiara nampak sembap ketika mereka mengurai pelukannya dan kini keduanya hanya saling menatap.
“Aryo, aku yang menyebabkan retaknya keluarga kamu. Aku masih marah atas kepergian ayah dan bunda. Maafin aku,” ucap Tiara.
Aryo menangkup kedua sisi wajah Tiara, “Kamu nggak boleh ngomong gitu, yaa?” titah Aryo. Ia mengatakan kalau Tiara tidak pantas berpikir bahwa ia penyebab terpecah belahnya keluarga. Semua yang terjadi memiliki sebab dan akibatnya, dan Reynaldi pantas mendapat akibat dari semua perbuatannya di masa lalu.
Selama sebelas tahun Tiara mencoba menyembunyikan semua rasa marah dan dendam itu. Namun pada akhirnya, kini semuanya meluap ke permukaan. Setelah cukup lama dirinya terlihat baik-baik saja di luar, tanpa orang lain tahu, Tiara begitu terluka di dalam.
Tiara mengatakan pada Aryo bahwa setelah kepergian kedua orang tuanya, ia tetap mendapat kasih sayang dan afeksi yang penuh dari Andi dan Alifia. Mereka merawat dan menyayanginya selayaknya anak sendiri. Namun Tiara belum menemukan sosok yang dapat mengisi afeksi yang berbeda. Sebuah afeksi eksternal dari seseorang yang mencintainya sebagai seorang perempuan. Ketika menikah dengan Aryo, Tiara merasa mendapatkan afeksi tersebut dan bersedia membagi rasa sedihnya di hadapan Aryo.
Tiara mengulaskan senyumnya saat ia sudah merasa lebih baik. Mendapati Aryo menatapnya dengan jarak sedekat ini, membuat Tiara malu. Apalagi matanya terasa sulit di buka karena sehabis menangis dan mungkin wajahnya terlihat bengkak.
“Mukaku bengkak ya?” tanya Tiara.
“Engga, Sayang.” Aryo tersenyum sembari menyelipkan helaian rambut Tiara ke belakang telinga.
“Udahan nangisnya? Are you feel better?” tanya Aryo.
Tiara mengangguk. “Udah,” ujar Tiara sambil mengusap kedua matanya. “Aku nggak mau nangis lagi, cape.”
“Okey.”
Selama beberapa detik, keduanya hanya saling memandang. Tiara menenangkan pikirannya dan dengan mendapati Aryo berada di sisinya, mendekapnya, itu sudah lebih dari cukup bagi Tiara untuk merasa lebih baik.
“Ra,” ujar Aryo.
“Hmm?”
“Aku nggak akan pernah bisa menghapus kenangan itu dari memori kamu. Itu akan tetap ada dan mungkin sesekali kamu akan teringat. Mungkin kamu ingin meluapkannya lagi kayak tadi, kamu boleh melakukannya.”
Tiara mengangguk, “Kamu benar, aku nggak bisa melupakan itu. Tapi aku belajar banyak hal dari kejadian ini.”
“Apa itu?”
“Aku harus menerima dan memaafkan itu semua walaupun kadang aku masih mikir, dia nggak pantas dapat pengampunan itu. Rasa sakit itu nggak akan hilang, tapi rasa sakit itu nggak akan mengontrol aku lagi. Aku udah maafin dia,” ungkap Tiara.
Detik berikutnya, Aryo mendapati senyum cantik yang selalu di tunggunya ketika menatap paras Tiara. Sebuah senyum yang Aryo tahu adalah tanda bahwa wanitanya benar-benar sudah lebih baik. “You are so amazing, Ra,” ujar Aryo.
Tiara meletakkan tangannya di sisi wajah Aryo, lalu ibu jarinya memberikan usapan lembut di sana.
“Kamu perempuan hebat dan kuat. Aku bangga banget sama kamu. Makasih Ra, kamu udah bertahan di sisi aku,” tutur Aryo.
“Aku mau tanya sama kamu, boleh?” tanya Tiara.
“Sure.”
“Emang kamu beneran nangis kemarin di depan semua bodyguard kamu?”
Aryo menghela napasnya, “Mama cerita apa lagi ke kamu soal aku?”
“Mama cerita banyak lah pokoknya. Bener sih yang mama bilang. Kamu badannya doang L-men, hatinya mah bebelac.”
“Kamu udah bisa ketawa? Barusan aja nangis sampai sesenggukkan gitu,” ledek Aryo.
Tiara mencebikkan bibirnya, “Kan kalau nangis jadi jelek. Masa kamu mau liat istrinya jelek sih? Aneh.”
“Mana jelek? Masih cantik gini.” Aryo mengarahkan tangannya untuk mengunyel-nguyel pipi gembil Tiara.
“Pipi aku tambah gede ya kayaknya?” tanya Tiara.
“Iya nih. Kamu jadi chubby.”
“Serius? Aku nimbang sih kemarin udah naik 3 kilo. Kata dokter bisa naik sampai sepuluh kilo sampai sembilan bulan nanti.”
“Ya nggak papa.”
“Yakin? Bukannya kamu suka liatin cewek-cewek yang langsing di Instagram,” ujar Tiara.
“Mana ada, Sayang,” balas Aryo dan ia memerhatikan raut wajah Tiara berubah bete. “Aku nggak liat lagi, deh.”
“Berarti kamu liat kan?”
“Itu muncul di explore, Sayang. Kamu mau log in Instagram aku?”
“Buat apa?”
“Kalau kamu nggak suka, kamu boleh block atau unfollow. Beres, kan?”
Tiara menyipitkan matanya dan sedetik kemudian senyum semringahnya muncul. “Aryo, aku nggak pernah nangis kayak tadi. I don't know, I'm just felt so emotional today.”
“It’s oke.” Aryo mengusapi peluh yang tersisa di wajah Tiara menggunakan kedua tangannya.
Tiara mendekatkan dirinya pada Aryo, “Peluk lagi,” ujarnya.
“Iyaa, sini,” balas Aryo sambil menyunggingkan senyumnya.
“Cium,” celetuk Tiara pelan.
“Cium apa?”
“Cium pipi,”
“Cium ini enggak?” tanya Aryo sambil menunjuk bibir Tiara menggunakan jari telunjuknya.
“Enggak,” jawaban Tiara membuat Aryo mengernyit. “Enggak nolak maksudnya,” sambung Tiara.
“Berapa kali?” tanya Aryo.
“Bebas. Terserah pak Bos aja.”
“Oke, akan dilaksanakan, sesuai permintaan Nyonya Besar.”
***
*Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷
Pandangan Aryo sedari tadi tidak lepas dari pintu UGD di hadapannnya. Ia tidak dapat berpikir jernih. Di dalam kepalanya kini berkecamuk segala macam kemungkinan yang dapat terjadi pada Tiara dan bayinya.
Beberapa bodyguard yang bersamanya sedari tadi, urung mengeluarkan sepatah kata pun. Baru kali ini para pria bertubuh kekar itu melihat atasan mereka dalam kondisi yang bisa dibilang sejatuh-jatuhnya. Aryo terlihat kacau. Pria itu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi, setelah ia mengetahui penyebab Tiara datang ke rumah. Ada yang menyadap nomor handphone-nya dan mengirim pesan untuk memanipulasi Tiara. Sehingga istrinya itu datang ke rumah tepat di hari pertemuan antara kedua kubu.
Dari jarak beberapa meter, Rama berdiri mematung sambil menatap ke arah Aryo. Setelah menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit, Rama akan mencoba untuk menenangkan atasan sekaligus sahabatnya itu.
Rama mendapati kedua mata Aryo memerah. Tatapan pria itu memancarkan kesedihan sekaligus amarah secara bersamaan. “Ram, ini semua salah gue. Tiara kayak gini gara-gara gue,” ujar Aryo dengan nada lirihnya.
“Bos, lo jangan mikir kayak gitu. Di dalam sana, istri sama anak lo lagi berjuang dan lo adalah kekuatan mereka. Lo harus yakin semuanya bakal baik-baik aja,” ucap Rama.
Di tengah-tengah kekalutan Aryo tersebut, pria itu mendapati papa dan mamanya berada di sana.
“Mama sama Papa udah tau semuanya. Ke-kenapa kamu sama Tiara nggak pernah cerita ...” ujar Felicia dengan nada suara getirnya.
“Mah, ma-maafin Aryo,” ujar Aryo yang mendapati tatapan kecewa dari kedua mata Felicia. “Aryo sama Tiara nggak ingin membuat Mama dan Papa khawatir. Kita berniat ngasih tau semuanya saat keadaannya udah membaik,” lanjut Aryo.
“Mah, sudah ya. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Aryo dan Tiara,” ujar Edi berusaha menenangkan istrinya.
“Dengan Bapak Aryo Bimo?” ujar sebuah suara yang seketika membuat semua orang di sana menoleh.
Aryo lantas berdiri dari duduknya, “Saya sendiri Dok,” ujarnya pada dokter yang menangangi istrinya.
“Baik, Bapak. Boleh minta waktunya sebentar untuk bicara?” lanjut dokter di hadapannya. Dokter itu mengatakan bahwa penanganan telah selesai di lakukan. Pihak keluarga akan diberi penjelasan oleh dokter terkait kondisi pasien.
***
Aryo menemui Tiara di ruang rawatnya, setelah beberapa saat lalu ia berbicara dengan dokter mengenai kondisi istri dan bayinya. Tiara masih belum bangun dari tidurnya karena pengaruh obat yang diberikan untuk meredakan rasa sakit yang dialaminya.
Aryo mengarahkan tangannya untuk mengambil tangan Tiara dan menggenggamnya. Ia melayangkan tatapannya pada paras terlelap Tiara. Paras yang menjadi pusat hidupnya, yang beberapa jam lalu telah membuatnya luluh lantak.
“Tiara,” ujar Aryo dengan nada suaranya yang bergetar. “Aku hampir aja kehilangan duniaku. Semua yang aku punya di hidupku, akan percuma kalau tanpa kamu,” lanjut Aryo sembari menundukkan kepalanya. Kemudian ia menciumi punggung tangan Tiara dan merasakan air mata merembas membasahi wajahnya.
“Aryo,” ujar sebuah suara yang terdengar lirih. Aryo mengangkat kepalanya dan mendapati Tiara telah membuka matanya. Sebuah air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata Tiara, wanitanya terisak pilu dan Aryo berusaha untuk menenangkannya.
“Ra, kamu tenang dulu ya,” ujar Aryo ketika Tiara meronta-ronta dan berteriak di dalam dekapannya.
“Aryo ... gimana bayi kita? Dia baik-baik aja kan ...?” racau Tiara diiiringi ekspresi khawatir dan takut di wajahnya.
Aryo mengurai pelukannya pada torso Tiara, tangannya dengan telaten mengusap peluh dan air mata di wajah istrinya sebelum berujar. “Bayi kita baik-baik aja, Ra. Dia kuat dan hebat banget, kayak mamanya,” tutur Aryo.
Mata Tiara berkaca-kaca mendengar penuturan Aryo. Perlahan-lahan kedua sudut bibirnya saling tertarik untuk membentuk sebuah senyuman haru.
“Mama sama papa udah tau semuanya,” ujar Aryo.
“Gimana reaksi mama dan papa?” tanya Tiara. Apa yang terungkap dan terjadi pasti memiliki dampak terutama di keluarga mereka
“Mama sempat marah karena kita nggak ngasih tau apa pun. Papa lumayan shock waktu tau apa aja yang udah dilakuin oleh kakak kandungnya sendiri selama bertahun-tahun,” jelas Aryo.
“Aryo,” ujar Tiara.
“Iya, Sayang?'”
“Mama dimana? Aku mau ketemu sama mama,” ujar Tiara.
***
Felicia menatap menantunya dengan tatapan hangat dan menggenggam tangannya satu tangannya. Ketika pandangannya beralih pada Aryo di sofa ruang rawat, tatapannya berubah tidak bersahabat.
“Aryo, tugas kamu sekarang jagain istri dan anak kamu yang bener. Mama nggakmetoleransi apapun lagi yang bisa membahayakan menantu Mama,” ujar Felicia.
“Iyaa Mamahku, Sayang,” ujar Aryo yang lantas menurunkan kakinya dan berjalan ke arah dua perempuan yang dicintainya itu.
“Kalau perlu, tambah bodyguard buat jaga di depan ruangan,” tambah Felicia.
“Masalahnya pihak rumah sakit nggak membolehkan itu, Mah. Tapi Mama tenang aja, oke? Aryo di sini akan jagain Tiara dua puluh empat jam per tujuh,” ucap Aryo sambil menampakkan senyum lebarnya.
Tiara yang memerhatikan tingkah Aryo di hadapan Felicia tersebut lantas mengulaskan senyumnya. Bisa-bisanya Aryo itu bersikap seperti bukan seorang pria berusia 24 tahun di hadapannya dan mamanya.
“Ra, liat nih. Masa dari tadi Mama marahin aku terus, padahal aku udah minta maaf,” adu Aryo pada Tiara dengan nada manjanya. Pria jangkung itu menyandarkan kepalanya di bahu Tiara, meminta istrinya itu untuk mengusapnya halus di sana.
“Tiara, pokoknya kalau ada apa-apa, atau Aryo pergi-pergi lagi ninggalin kamu. Kamu bilang aja ke Mama ya, Sayang.”
Tiara mengangguk, “Iya Mah, makasih ya.”
“Anytime, Sayang. Yaudah, Mama pamit dulu ya. Kamu istirahat, besok Mama ke sini lagi sama bunda kamu,” ucap Felicia.
“Oke deh, makasih ya Mamaku Sayang. Kalau nanti Mama sama bunda kesini, Aryo bisa tidur dulu untuk sementara. Aryo nggak khawatir lagi deh, Tiara ada yang jagain,” ucap Aryo sembari menampakkan cengirannya.
“Tiara, kamu tau nggak. Tadi dia nangis kayak anak kecil di depan ruang UGD. Di depan bodyguardnya-nya coba,” cerocos Felicia yang langsung membuat Aryo membelalakkan matanya.
“Mah, jangan bocorin ke Tiara dong,” protes Aryo.
“Ya biar istrimu tau kamu kayak gimana. Tiara, dia luarnya keliatan kuat, padahal dalamnya hello kitty,” jelas Felicia yang sudah tau luar dan dalam putra sematawayangnya itu.
Tiara yang memerhatikan kejadian tersebut tidak kuasa untuk menahan tawanya. Tiara justru meminta di lain waktu agar Felicia bisa membagikan cerita tentang Aryo lebih banyak lagi kepadanya.
***
Aryo mengantar mama dan papanya sampai ke depan ruangan rawat Tiara. Jam berkunjung hampir habis dan Tiara juga dianjurkan untuk banyak beristirahat. Istrinya itu telah tidur beberapa menit yang lalu dan orang tuanya memutuskan untuk pamit pulang.
“Kamu sama Tiara nggak akan cerai kan, Aryo?” tanya Felicia.
“Aryo dan Tiara nggak akan bercerai, Mah, Pah. Kita udah bicara dan coba selesaikan permasalahannya. Awalnya Tiara memang meminta pisah sama Aryo. Ini hal yang sangat berat buat Tiara, bayang-bayang masa lalu itu akan selalu ada di ingatannya,” ujar Aryo.
Edi menatap putra sematawayangnya, lalu ia menepuk pundaknya. “Aryo, kamu harus tau. Apa yang kamu lakukan telah sangat berarti untuk Tiara. Tiara juga melalui banyak perjuangan untuk tetap berada di sisi kamu. Begitu seharusnya yang dilakukan dua orang yang saling mencintai,” tutur Edi.
Aryo mengangguk, “Pah, mungkin semuanya nggak akan sama lagi. Soal perusahaan dan keluarga kita,” ujar Aryo. Edi menangkap ada kekhawatiran dari tatapan mata putranya itu.
“Kamu nggak perlu khawatir. Sekarang kamu dan Tiara fokus dulu aja ke calon anak kalian. Soal kasus itu dan perusahaan, Papa akan bantu pastikan semuanya baik-baik aja,” ucap Edi.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷
Pandangan Aryo sedari tadi tidak lepas dari pintu UGD di hadapannnya. Ia tidak dapat berpikir jernih. Di dalam kepalanya kini berkecamuk segala macam kemungkinan yang dapat terjadi pada Tiara dan bayinya.
Beberapa bodyguard yang bersamanya sedari tadi, urung mengeluarkan sepatah kata pun. Baru kali ini para pria bertubuh kekar itu melihat atasan mereka dalam kondisi yang bisa dibilang sejatuh-jatuhnya. Aryo terlihat kacau. Pria itu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi, setelah ia mengetahui penyebab Tiara datang ke rumah. Ada yang menyadap nomor handphone-nya dan mengirim pesan untuk memanipulasi Tiara. Sehingga istrinya itu datang ke rumah tepat di hari pertemuan antara kedua kubu.
Dari jarak beberapa meter, Rama berdiri mematung sambil menatap ke arah Aryo. Setelah menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit, Rama akan mencoba untuk menenangkan atasan sekaligus sahabatnya itu.
Rama mendapati kedua mata Aryo memerah. Tatapan pria itu memancarkan kesedihan sekaligus amarah secara bersamaan. “Ram, ini semua salah gue. Tiara kayak gini gara-gara gue,” ujar Aryo dengan nada lirihnya.
“Bos, lo jangan mikir kayak gitu. Di dalam sana, istri sama anak lo lagi berjuang dan lo adalah kekuatan mereka. Lo harus yakin semuanya bakal baik-baik aja,” ucap Rama.
Di tengah-tengah kekalutan Aryo tersebut, pria itu mendapati papa dan mamanya berada di sana.
“Mama sama Papa udah tau semuanya. Ke-kenapa kamu nggak pernah cerita ...” ujar Felicia dengan nada suara getirnya.
“Mah, ma-maafin Aryo,” ujar Aryo yang mendapati tatapan kecewa dari kedua mata Felicia. “Aryo sama Tiara nggak ingin membuat Mama dan Papa khawatir. Kita berniat ngasih tau semuanya saat keadaannya udah membaik,” lanjut Aryo.
“Mah, sudah ya. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Aryo dan Tiara,” ujar Edi berusaha menenangkan istrinya.
“Dengan Bapak Aryo Bimo?” ujar sebuah suara yang seketika membuat semua orang di sana menoleh.
Aryo lantas berdiri dari duduknya, “Saya sendiri Dok,” ujarnya pada dokter yang menangangi istrinya.
“Baik, Bapak. Boleh minta waktunya sebentar untuk bicara?” lanjut dokter di hadapannya. Dokter itu mengatakan bahwa penanganan telah selesai di lakukan. Pihak keluarga akan diberi penjelasan oleh dokter terkait kondisi pasien.
***
Aryo menemui Tiara di ruang rawatnya, setelah beberapa saat lalu ia berbicara dengan dokter mengenai kondisi istri dan bayinya. Tiara masih belum bangun dari tidurnya karena pengaruh obat yang diberikan untuk meredakan rasa sakit yang dialaminya.
Aryo mengarahkan tangannya untuk mengambil tangan Tiara dan menggenggamnya. Ia melayangkan tatapannya pada paras terlelap Tiara. Paras yang menjadi pusat hidupnya, yang beberapa jam lalu telah membuatnya luluh lantak.
“Tiara,” ujar Aryo dengan nada suaranya yang bergetar. “Aku hampir aja kehilangan duniaku. Semua yang aku punya di hidupku, akan percuma kalau tanpa kamu,” lanjut Aryo sembari menundukkan kepalanya. Kemudian ia menciumi punggung tangan Tiara dan merasakan air mata merembas membasahi wajahnya.
“Aryo,” ujar sebuah suara yang terdengar lirih. Aryo mengangkat kepalanya dan mendapati Tiara telah membuka matanya. Sebuah air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata Tiara, wanitanya terisak pilu dan Aryo berusaha untuk menenangkannya.
“Ra, kamu tenang dulu ya,” ujar Aryo ketika Tiara meronta-ronta dan berteriak di dalam dekapannya.
“Aryo ... gimana bayi kita? Dia baik-baik aja kan ...?” racau Tiara diiiringi ekspresi khawatir dan takut di wajahnya.
Aryo mengurai pelukannya pada torso Tiara, tangannya dengan telaten mengusap peluh dan air mata di wajah istrinya sebelum berujar. “Bayi kita baik-baik aja, Ra. Dia kuat dan hebat banget, kayak mamanya,” tutur Aryo.
Mata Tiara berkaca-kaca mendengar penuturan Aryo. Perlahan-lahan kedua sudut bibirnya saling tertarik untuk membentuk sebuah senyuman haru.
“Mama sama papa tadi datang dan mereka udah tau semuanya,” ujar Aryo.
“Gimana reaksi mama dan papa?” tanya Tiara. Apa yang terungkap dan terjadi pasti memiliki dampak terutama di keluarga mereka
“Mama sempat marah karena kita nggak ngasih tau semuanya. Papa lumayan shock waktu tau apa aja yang udah dilakuin oleh kakak kandungnya sendiri selama bertahun-tahun,” jelas Aryo.
“Aryo,” ujar Tiara.
“Iya, Sayang?'”
“Mama dimana? Aku mau ketemu sama mama,” ujar Tiara.
***
Felicia menatap menantunya dengan tatapan hangat dan menggenggam tangannya satu tangannya. Ketika pandangannya beralih pada Aryo di sofa ruang rawat, tatapannya berubah tidak bersahabat.
“Aryo, tugas kamu sekarang jagain istri dan anak kamu yang bener. Mama nggakmetoleransi apapun lagi yang bisa membahayakan menantu Mama,” ujar Felicia.
“Iyaa Mamahku, Sayang,” ujar Aryo yang lantas menurunkan kakinya dan berjalan ke arah dua perempuan yang dicintainya itu.
“Kalau perlu, tambah bodyguard buat jaga di depan ruangan,” tambah Felicia.
“Masalahnya pihak rumah sakit nggak membolehkan itu, Mah. Tapi Mama tenang aja, oke? Aryo di sini jagain Tiara dua puluh empat jam per tujuh,” ucap Aryo sambil menampakkan senyum lebarnya.
Tiara yang memerhatikan tingkah Aryo di hadapan Felicia tersebut lantas mengulaskan senyumnya. Bisa-bisanya Aryo itu bersikap seperti bukan seorang pria berusia 24 tahun di hadapannya dan mamanya.
“Ra, liat nih. Masa dari tadi Mama marahin aku terus, padahal aku udah minta maaf,” adu Aryo pada Tiara dengan nada manjanya. Pria jangkung itu menyandarkan kepalanya di bahu Tiara, meminta istrinya itu untuk mengusapnya halus di sana.
“Tiara, pokoknya kalau ada apa-apa, atau Aryo pergi-pergi lagi ninggalin kamu. Kamu bilang aja ke Mama ya, Sayang.”
Tiara mengangguk, “Iya Mah, makasih ya.”
“Anytime, Sayang. Yaudah, Mama pamit dulu ya. Kamu istirahat, besok Mama ke sini lagi sama bunda kamu,” ucap Felicia.
“Oke deh, makasih ya Mamaku Sayang. Kalau nanti Mama sama bunda kesini, Aryo bisa tidur dulu untuk sementara. Aryo nggak khawatir lagi deh, Tiara ada yang jagain,” ucap Aryo sembari menampakkan cengirannya.
“Tiara, kamu tau nggak. Tadi dia nangis kayak anak kecil di depan ruang UGD. Di depan bodyguardnya-nya coba,” cerocos Felicia yang langsung membuat Aryo membelalakkan matanya.
“Mah, jangan bocorin ke Tiara dong,” protes Aryo.
“Ya biar istrimu tau kamu kayak gimana. Tiara, dia luarnya sok kuat padahal dalamnya hello kitty,” jelas Felicia yang sudah tau luar dan dalam putra sematawayangnya itu.
Tiara yang memerhatikan kejadian tersebut tidak kuasa untuk menahan tawanya. Tiara justru meminta di lain waktu agar Felicia bisa membagikan cerita tentang Aryo lebih banyak lagi kepadanya.
***
Aryo mengantar mama dan papanya sampai di depan ruangan rawat Tiara. Jam berkunjung hampir habis dan Tiara juga dianjurkan untuk banyak beristirahat. Istrinya itu telah tidur beberapa menit yang lalu dan orang tuanya memutuskan untuk pamit pulang.
“Kamu sama Tiara nggak akan cerai kan, Aryo?” tanya Felicia.
“Aryo dan Tiara nggak akan bercerai, Mah, Pah. Kita udah bicara dan coba selesaikan permasalahannya. Awalnya Tiara memang meminta pisah sama Aryo. Ini hal yang sangat berat buat Tiara, bayang-bayang masa lalu itu akan selalu ada di ingatannya,” ujar Aryo.
Edi menatap putra sematawayangnya, lalu ia menepuk pundaknya. “Aryo, kamu harus tau. Apa yang kamu lakukan telah sangat berarti untuk Tiara. Begitu seharusnya yang dilakukan dua orang yang saling mencintai,” tutur Edi.
Aryo mengangguk, “Pah, mungkin semuanya nggak akan sama lagi. Soal perusahaan dan keluarga kita,” ujar Aryo. Edi menangkap ada tatapan kekhawatiran di mata putranya itu.
“Kamu nggak perlu khawatir. Sekarang kamu dan Tiara fokus dulu aja ke calon anak kalian. Soal kasus itu dan perusahaan, Papa pastikan Reynaldi akan dapat balasan sepadan atas semua perbuatannya,” ucap Edi.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷
Pandangan Aryo sedari tadi tidak lepas dari pintu UGD di hadapannnya. Ia tidak dapat berpikir jernih. Di dalam kepalanya kini berkecamuk segala macam kemungkinan yang dapat terjadi pada Tiara dan bayinya.
Beberapa bodyguard yang bersamanya sedari tadi, urung mengeluarkan sepatah kata pun. Baru kali ini para pria bertubuh kekar itu melihat atasan mereka dalam kondisi yang bisa dibilang sejatuh-jatuhnya. Aryo terlihat kacau. Pria itu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi, setelah ia mengetahui penyebab Tiara datang ke rumah. Ada yang menyadap nomor handphone-nya dan mengirim pesan untuk memanipulasi Tiara. Sehingga istrinya itu datang ke rumah tepat di hari pertemuan antara kedua kubu.
Dari jarak beberapa meter, Rama berdiri mematung sambil menatap ke arah Aryo. Setelah menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit, Rama akan mencoba untuk menenangkan atasan sekaligus sahabatnya itu.
Rama mendapati kedua mata Aryo memerah. Tatapan pria itu memancarkan kesedihan sekaligus amarah secara bersamaan. “Ram, ini semua salah gue. Tiara kayak gini gara-gara gue,” ujar Aryo dengan nada lirihnya.
“Bos, lo jangan mikir kayak gitu. Di dalam sana, istri sama anak lo lagi berjuang dan lo adalah kekuatan mereka. Lo harus yakin semuanya bakal baik-baik aja,” ucap Rama.
Di tengah-tengah kekalutan Aryo tersebut, pria itu mendapati papa dan mamanya berada di sana.
“Mama sama Papa udah tau semuanya. Ke-kenapa kamu nggak pernah cerita ...” ujar Felicia dengan nada suara getirnya.
“Mah, ma-maafin Aryo,” ujar Aryo yang mendapati tatapan kecewa dari kedua mata Felicia. “Aryo sama Tiara nggak ingin membuat Mama dan Papa khawatir. Kita berniat ngasih tau semuanya saat keadaannya udah membaik,” lanjut Aryo.
“Mah, sudah ya. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Aryo dan Tiara,” ujar Edi berusaha menenangkan istrinya.
“Dengan Bapak Aryo Bimo?” ujar sebuah suara yang seketika membuat semua orang di sana menoleh.
Aryo lantas berdiri dari duduknya, “Saya sendiri Dok,” ujarnya pada dokter yang menangangi istrinya.
“Baik, Bapak. Boleh minta waktunya sebentar untuk bicara?” lanjut dokter di hadapannya. Dokter itu mengatakan bahwa penanganan telah selesai di lakukan. Pihak keluarga akan diberi penjelasan oleh dokter terkait kondisi pasien.
***
Aryo menemui Tiara di ruang rawatnya, setelah beberapa saat lalu ia berbicara dengan dokter mengenai kondisi istri dan bayinya. Tiara masih belum bangun dari tidurnya karena pengaruh obat yang diberikan untuk meredakan rasa sakit yang dialaminya.
Aryo mengarahkan tangannya untuk mengambil tangan Tiara dan menggenggamnya. Ia melayangkan tatapannya pada paras terlelap Tiara. Paras yang menjadi pusat hidupnya, yang beberapa jam lalu telah membuatnya luluh lantak.
“Tiara,” ujar Aryo dengan nada suaranya yang bergetar. “Aku hampir aja kehilangan duniaku. Semua yang aku punya di hidupku, akan percuma kalau tanpa kamu,” lanjut Aryo sembari menundukkan kepalanya. Kemudian ia menciumi punggung tangan Tiara dan merasakan air mata merembas membasahi wajahnya.
“Aryo,” ujar sebuah suara yang terdengar lirih. Aryo mengangkat kepalanya dan mendapati Tiara telah membuka matanya. Sebuah air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata Tiara, wanitanya terisak pilu dan Aryo berusaha untuk menenangkannya.
“Ra, kamu tenang dulu ya,” ujar Aryo ketika Tiara meronta-ronta dan berteriak di dalam dekapannya.
“Aryo ... gimana bayi kita? Dia baik-baik aja kan ...?” racau Tiara diiiringi ekspresi khawatir dan takut di wajahnya.
Aryo mengurai pelukannya pada torso Tiara, tangannya dengan telaten mengusap peluh dan air mata di wajah istrinya sebelum berujar. “Bayi kita baik-baik aja, Ra. Dia kuat dan hebat banget, kayak mamanya,” tutur Aryo.
Mata Tiara berkaca-kaca mendengar penuturan Aryo. Perlahan-lahan kedua sudut bibirnya saling tertarik untuk membentuk sebuah senyuman haru.
“Mama sama papa tadi datang dan mereka udah tau semuanya,” ujar Aryo.
“Gimana reaksi mama dan papa?” tanya Tiara. Apa yang terungkap dan terjadi pasti memiliki dampak terutama di keluarga mereka
“Mama sempat marahin aku karena nggak ngasih tau keberadaan cucu pertamanya. Papa lumayan shock waktu tau apa aja yang udah dilakuin oleh kakak kandungnya sendiri selama bertahun-tahun,” jelas Aryo.
“Aryo,” ujar Tiara.
“Iya, Sayang?'”
“Mama dimana? Aku mau ketemu sama mama,” ujar Tiara.
***
Felicia menatap menantunya dengan tatapan hangat dan menggenggam tangannya satu tangannya. Ketika pandangannya beralih pada Aryo di sofa ruang rawat, tatapannya berubah tidak bersahabat.
“Aryo, tugas kamu sekarang jagain istri dan anak kamu yang bener. Mama nggakmetoleransi apapun lagi yang bisa membahayakan menantu Mama,” ujar Felicia.
“Iyaa Mamahku, Sayang,” ujar Aryo yang lantas menurunkan kakinya dan berjalan ke arah dua perempuan yang dicintainya itu.
“Kalau perlu, tambah bodyguard buat jaga di depan ruangan,” tambah Felicia.
“Masalahnya pihak rumah sakit nggak membolehkan itu, Mah. Tapi Mama tenang aja, oke? Aryo di sini jagain Tiara dua puluh empat jam per tujuh,” ucap Aryo sambil menampakkan senyum lebarnya.
Tiara yang memerhatikan tingkah Aryo di hadapan Felicia tersebut lantas mengulaskan senyumnya. Bisa-bisanya Aryo itu bersikap seperti bukan seorang pria berusia 24 tahun di hadapannya dan mamanya.
“Ra, liat nih. Masa dari tadi Mama marahin aku terus, padahal aku udah minta maaf,” adu Aryo pada Tiara dengan nada manjanya. Pria jangkung itu menyandarkan kepalanya di bahu Tiara, meminta istrinya itu untuk mengusapnya halus di sana.
“Tiara, pokoknya kalau ada apa-apa, atau Aryo pergi-pergi lagi ninggalin kamu. Kamu bilang aja ke Mama ya, Sayang.”
Tiara mengangguk, “Iya Mah, makasih ya.”
“Anytime, Sayang. Yaudah, Mama pamit dulu ya. Kamu istirahat, besok Mama ke sini lagi sama bunda kamu,” ucap Felicia.
“Oke deh, makasih ya Mamaku Sayang. Kalau nanti Mama sama bunda kesini, Aryo bisa tidur dulu untuk sementara. Aryo nggak khawatir lagi deh, Tiara ada yang jagain,” ucap Aryo sembari menampakkan cengirannya.
“Tiara, kamu tau nggak. Tadi dia nangis kayak anak kecil di depan ruang UGD. Di depan bodyguardnya-nya coba,” cerocos Felicia yang langsung membuat Aryo membelalakkan matanya.
“Mah, jangan bocorin ke Tiara dong,” protes Aryo.
“Ya biar istrimu tau kamu kayak gimana. Tiara, dia luarnya sok kuat padahal dalamnya hello kitty,” jelas Felicia yang sudah tau luar dan dalam putra sematawayangnya itu.
Tiara yang memerhatikan kejadian tersebut tidak kuasa untuk menahan tawanya. Tiara justru meminta di lain waktu agar Felicia dapat membagikan cerita tentang Aryo lebih banyak lagi kepadanya.
***
Aryo mengantar mama dan papanya sampai di depan ruangan rawat Tiara. Jam berkunjung hampir habis dan Tiara juga dianjurkan untuk banyak beristirahat. Istrinya itu telah tidur beberapa menit yang lalu dan orang tuanya memutuskan untuk pamit pulang.
“Kamu sama Tiara nggak akan cerai kan, Aryo?” tanya Felicia.
“Aryo dan Tiara nggak akan bercerai, Mah, Pah. Kita udah bicara dan coba selesaikan permasalahannya. Awalnya Tiara memang meminta pisah sama Aryo. Ini hal yang sangat berat buat Tiara, bayang-bayang masa lalu itu akan selalu ada di ingatannya,” ujar Aryo.
Edi menatap putra sematawayangnya, lalu ia menepuk pundaknya. “Aryo, kamu harus tau. Apa yang kamu lakukan telah sangat berarti untuk Tiara. Begitu seharusnya yang dilakukan dua orang yang saling mencintai,” tutur Edi.
Aryo mengangguk, “Pah, mungkin semuanya nggak akan sama lagi. Soal perusahaan dan keluarga kita,” ujar Aryo. Edi menangkap ada tatapan kekhawatiran di mata putranya itu.
“Kamu nggak perlu khawatir. Sekarang kamu dan Tiara fokus dulu aja ke calon anak kalian. Soal kasus itu dan perusahaan, Papa pastikan Reynaldi akan dapat balasan sepadan atas semua perbuatannya,” ucap Edi.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷
Pandangan Aryo sedari tadi tidak lepas dari pintu UGD di hadapannnya. Ia tidak dapat berpikir jernih. Di dalam kepalanya kini berkecamuk segala macam kemungkinan yang dapat terjadi pada Tiara dan bayinya.
Beberapa bodyguard yang bersamanya sedari tadi, urung mengeluarkan sepatah kata pun. Baru kali ini para pria bertubuh kekar itu melihat atasan mereka dalam kondisi yang bisa dibilang sejatuh-jatuhnya. Aryo terlihat kacau. Pria itu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi, setelah ia mengetahui penyebab Tiara datang ke rumah. Ada yang menyadap nomor handphone-nya dan mengirim pesan untuk memanipulasi Tiara. Sehingga istrinya itu datang ke rumah tepat di hari pertemuan antara kedua kubu.
Dari jarak beberapa meter, Rama berdiri mematung sambil menatap ke arah Aryo. Setelah menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit, Rama akan mencoba untuk menenangkan atasan sekaligus sahabatnya itu.
Rama mendapati kedua mata Aryo memerah. Tatapan pria itu memancarkan kesedihan sekaligus amarah secara bersamaan. “Ram, ini semua salah gue. Tiara kayak gini gara-gara gue,” ujar Aryo dengan nada lirihnya.
“Bos, lo jangan mikir kayak gitu. Di dalam sana, istri sama anak lo lagi berjuang dan lo adalah kekuatan mereka. Lo harus yakin semuanya bakal baik-baik aja,” ucap Rama.
Di tengah-tengah kekalutan Aryo tersebut, pria itu mendapati papa dan mamanya berada di sana.
“Mama sama Papa udah tau semuanya. Ke-kenapa kamu nggak pernah cerita ...” ujar Felicia dengan nada suara getirnya.
“Mah, ma-maafin Aryo,” ujar Aryo yang mendapati tatapan kecewa dari kedua mata Felicia. “Aryo sama Tiara nggak ingin membuat Mama dan Papa khawatir. Kita berniat ngasih tau semuanya saat keadaannya udah membaik,” lanjut Aryo.
“Mah, sudah ya. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Aryo dan Tiara,” ujar Edi berusaha menenangkan istrinya.
“Dengan Bapak Aryo Bimo?” ujar sebuah suara yang seketika membuat semua orang di sana menoleh.
Aryo lantas berdiri dari duduknya, “Saya sendiri Dok,” ujarnya pada dokter yang menangangi istrinya.
“Baik, Bapak. Boleh minta waktunya sebentar untuk bicara?” lanjut dokter di hadapannya. Dokter itu mengatakan bahwa penanganan telah selesai di lakukan. Pihak keluarga akan diberi penjelasan oleh dokter terkait kondisi pasien.
***
Aryo menemui Tiara di ruang rawatnya, setelah beberapa saat lalu ia berbicara dengan dokter mengenai kondisi istri dan bayinya. Tiara masih belum bangun dari tidurnya karena pengaruh obat yang diberikan untuk meredakan rasa sakit yang dialaminya.
Aryo mengarahkan tangannya untuk mengambil tangan Tiara dan menggenggamnya. Ia melayangkan tatapannya pada paras terlelap Tiara. Paras yang menjadi pusat hidupnya, yang beberapa jam lalu telah membuatnya luluh lantak.
“Tiara,” ujar Aryo dengan nada suaranya yang bergetar. “Aku hampir aja kehilangan duniaku. Semua yang aku punya di hidupku, akan percuma kalau tanpa kamu,” lanjut Aryo sembari menundukkan kepalanya. Kemudian ia menciumi punggung tangan Tiara dan merasakan air mata merembas membasahi wajahnya.
“Aryo,” sapa sebuah suara yang terdengar lirih. Aryo mengangkat kepalanya dan mendapati Tiara telah membuka matanya. Sebuah air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata Tiara, wanitanya terisak pilu dan Aryo berusaha untuk menenangkannya.
“Ra, kamu tenang dulu ya,” ujar Aryo ketika Tiara meronta-ronta dan berteriak di dalam dekapannya.
“Aryo ... gimana bayi kita? Dia baik-baik aja kan ...?” racau Tiara diiiringi ekspresi khawatir dan takut di wajahnya.
Aryo mengurai pelukannya pada torso Tiara, tangannya dengan telaten mengusap peluh dan air mata di wajah istrinya sebelum berujar. “Bayi kita baik-baik aja, Ra. Dia kuat dan hebat banget, kayak mamanya,” tutur Aryo.
Mata Tiara berkaca-kaca mendengar penuturan Aryo. Perlahan-lahan kedua sudut bibirnya saling tertarik untuk membentuk sebuah senyuman haru.
“Mama sama papa tadi datang dan mereka udah tau semuanya,” ujar Aryo.
“Gimana reaksi mama dan papa?” tanya Tiara. Apa yang terungkap dan terjadi pasti memiliki dampak terutama di keluarga mereka
“Mama sempat marahin aku karena nggak ngasih tau keberadaan cucu pertamanya. Papa lumayan shock waktu tau apa aja yang udah dilakuin oleh kakak kandungnya sendiri selama bertahun-tahun,” jelas Aryo.
“Aryo,” ujar Tiara.
“Iya, Sayang?'”
“Mama dimana? Aku mau ketemu sama mama,” ujar Tiara.
***
Felicia menatap menantunya dengan tatapan hangat dan menggenggam tangannya satu tangannya. Ketika pandangannya beralih pada Aryo di sofa ruang rawat, tatapannya berubah tidak bersahabat.
“Aryo, tugas kamu sekarang jagain istri dan anak kamu yang bener. Mama nggakmetoleransi apapun lagi yang bisa membahayakan menantu Mama,” ujar Felicia.
“Iyaa Mamahku, Sayang,” ujar Aryo yang lantas menurunkan kakinya dan berjalan ke arah dua perempuan yang dicintainya itu.
“Kalau perlu, tambah bodyguard buat jaga di depan ruangan,” tambah Felicia.
“Masalahnya pihak rumah sakit nggak membolehkan itu, Mah. Tapi Mama tenang aja, oke? Aryo di sini jagain Tiara dua puluh empat jam per tujuh,” ucap Aryo sambil menampakkan senyum lebarnya.
Tiara yang memerhatikan tingkah Aryo di hadapan Felicia tersebut lantas mengulaskan senyumnya. Bisa-bisanya Aryo itu bersikap seperti bukan seorang pria berusia 24 tahun di hadapannya dan mamanya.
“Ra, liat nih. Masa dari tadi Mama marahin aku terus, padahal aku udah minta maaf,” adu Aryo pada Tiara dengan nada manjanya. Pria jangkung itu menyandarkan kepalanya di bahu Tiara, meminta istrinya itu untuk mengusapnya halus di sana.
“Tiara, pokoknya kalau ada apa-apa, atau Aryo pergi-pergi lagi ninggalin kamu. Kamu bilang aja ke Mama ya, Sayang.”
Tiara mengangguk, “Iya Mah, makasih ya.”
“Anytime, Sayang. Yaudah, Mama pamit dulu ya. Kamu istirahat, besok Mama ke sini lagi sama bunda kamu,” ucap Felicia.
“Oke deh, makasih ya Mamaku Sayang. Kalau nanti Mama sama bunda kesini, Aryo bisa tidur dulu untuk sementara. Aryo nggak khawatir lagi deh, Tiara ada yang jagain,” ucap Aryo sembari menampakkan cengirannya.
“Tiara, kamu tau nggak. Tadi dia nangis kayak anak kecil di depan ruang UGD. Di depan bodyguardnya-nya coba,” cerocos Felicia yang langsung membuat Aryo membelalakkan matanya.
“Mah, jangan bocorin ke Tiara dong,” protes Aryo.
“Ya biar istrimu tau kamu kayak gimana. Tiara, dia luarnya sok kuat padahal dalamnya hello kitty,” jelas Felicia yang sudah tau luar dan dalam putra sematawayangnya itu.
Tiara yang memerhatikan kejadian tersebut tidak kuasa untuk menahan tawanya. Tiara justru meminta di lain waktu agar Felicia dapat membagikan cerita tentang Aryo lebih banyak lagi kepadanya.
***
Aryo mengantar mama dan papanya sampai di depan ruangan rawat Tiara. Jam berkunjung hampir habis dan Tiara juga dianjurkan untuk banyak beristirahat. Istrinya itu telah tidur beberapa menit yang lalu dan orang tuanya memutuskan untuk pamit pulang.
“Kamu sama Tiara nggak akan cerai kan, Aryo?” tanya Felicia.
“Aryo dan Tiara nggak akan bercerai, Mah, Pah. Kita udah bicara dan coba selesaikan permasalahannya. Awalnya Tiara memang meminta pisah sama Aryo. Ini hal yang sangat berat buat Tiara, bayang-bayang masa lalu itu akan selalu ada di ingatannya,” ujar Aryo.
Edi menatap putra sematawayangnya, lalu ia menepuk pundaknya. “Aryo, kamu harus tau. Apa yang kamu lakukan telah sangat berarti untuk Tiara. Begitu seharusnya yang dilakukan dua orang yang saling mencintai,” tutur Edi.
Aryo mengangguk, “Pah, mungkin semuanya nggak akan sama lagi. Soal perusahaan dan keluarga kita,” ujar Aryo. Edi menangkap ada tatapan kekhawatiran dari mata Aryo.
“Kamu tenang aja untuk itu. Sekarang kamu dan Tiara fokus dulu ke calon anak kalian. Soal kasus tersebut dan perusahaan, Papa pastikan Reynaldi akan dapat balasan sepadan atas semua perbuatannya,” ucap Edi.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷