alyadara

Tepat dua minggu yang lalu, setelah menerima berkas perkara dan hasil penyidikan yang lengkap dari penyidik, surat dakwaan kasus Reynaldi dibuat oleh penuntut umum. Surat dakwaan dibuat setelah Jaksa berpendapat bahwa dari hasil penyidikan sudah cukup dan dapat dilakukan penuntutan.

Hari ini diadakan pelaksanaan sidang dakwaan yang merupakan tahap pertama dari persidangan kasus pidana. Beberapa anggota keluarga Brodjohujodyo ikut hadir di sana. Edi dan Felicia beserta Aryo dan Tiara tentunya turut datang ke sidang itu.

Berdasarkan surat dakwaan, terdakwa dinyatakan terkena pasal khusus yakni Pasal 340 KUHP mengenai Pembunuhan Berencana. Sidang yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam tersebut menghasilkan sebuah keputusan oleh Jaksa Penuntut Umum. Jaksa Penuntut Umum mengeluarkan putusan bahwa terdakwa akan dihukum seumur hidup, yakni hukuman berlangsung sampai selama hidupnya terdakwa hidup di dunia.

Persidangan telah selesai dan satu persatu hadirin mulai berhamburan keluar dari ruangan. Aryo dan Tiara bertemu dengan Irene ketika mereka hendak keluar. Irene, istri Reynaldi yang menghadiri persidangan itu, melayangkan tatapan tidak sukanya kepada Tiara.

“Kamu itu pembawa sial dalam keluarga Brodjohujodyo. Apa kamu nggak malu? Sekarang keluarga kita jadi hancur dan terpecah belah,” ucap Irene.

“Tante Irene, cukup. Tante nggak berhak berbicara seperti itu,” ujar Aryo.

“Apa pun yang kalian lakukan, selamanya nggak akan mengembalikan Erlangga dan Clarissa ke dunia ini,” ujar Irene lagi tanpa rasa bersalahnya. “Kamu udah puas sekarang? Kamu ini istri macam apa, Tiara? Mana ada istri yang tega membuat keluarga dan perusahaan suaminya sendiri hancur. Kamu perempuan egois.” Setelah berujar seperti itu, Irene berlalu pergi dari hadapan Aryo dan Tiara.

Aryo menatap Tiara dan mengatakan bahwa istrinya itu tidak perlu memikirkan kata-kata Irene. “Tiara, kamu nggak perlu pikirin kata-kata tante Irene, oke?”

Tiara balas menatap Aryo. “Kita harus gimana kalau yang dibilang tante Irene benar terjadi?”

“Maksud kamu?”

“Sekarang perusahaan ada di bawah pimpinan kamu. Kasus ini akan berdampak juga ke reputasi perusahaan, kan?”

***

Pada hakikatnya, seseorang tidak bisa mengatur reaksi orang lain terhadap apa yang terjadi. Kita tidak bisa mengontrol apa yang akan dilontarkan dari mulut orang-orang untuk menanggapi sesuatu.

Berbagai tanggapan pun berdatangan dari keluarganya selama masa persidangan sampai keputusan final. Sebagian ada yang mendukungnya, sebagian kecewa terhadap apa yang terjadi. Mereka menyalahkan keputusan Aryo untuk menuntut Reynaldi, tanpa melihat dari sisi yang berbeda, bahwa selamanya yang bersalah akan tetap salah dan pantas mendapat hukuman.

“Silakan, Pak.” Sebuah suara menginterupsi pemikiran monolog Aryo. Pria itu mendongak dan segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan di depannya.

Aryo duduk di hadapan sebuah pembatas kaca yang memiliki sebuah jendela kecil di sana. Dari lubang kecil itu, Aryo melihat sosok Omnya yang kini resmi di tahan, setelah sidang putusan final hari ini. Majelis hakim telah memberikan keputusan final bahwa Reynaldi dikenai pasal 340 KUHP dan mendapat hukuman seumur hidup penjara.

“Aryo ke sini karena ingin menyampaikan sesuatu sama Om,” ucap Aryo membuka pembicaraan.

Reynaldi hanya balas menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Aryo mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke jendela kecil itu. “Nggak ada satu pun anggota keluarga yang ingin melihat anggota keluarganya sendiri hancur. Tapi Om perlu tau, semua perbuatan memiliki tanggung jawabnya.”

“Kamu melakukan ini demi perempuan itu. Perempuan yang baru kamu kenal dan kamu nikahi. Apa yang ada di pikiran kamu Aryo?” ujar Reynaldi.

“Om benar. Aryo memang melakukannya untuk Tiara. Ketika melihat seseorang yang Om cintai harus menerima rasa sakit selama bertahun-tahun, apa yang akan Om lakukan?” Aryo menjeda ucapannya, pria itu menghela napas dan menghembuskannya perlahan.

“Kayaknya Om sudah tau jawaban dari pertanyaan itu. Aryo nggak membenci Om sama sekali. Tapi perbuatan Om lah yang menyebabkan Aryo kehilangan rasa hormat itu,” ujar Aryo.

“Aryo sudah menyampaikan semua yang ingin disampaikan. Aryo pamit Om.” Aryo menatap Reynaldi sekali lagi, sebelum kakinya melangkah untuk pergi dari sana.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo sampai di penthouse dan langsung menuju kamarnya. Pria itu membuka pintu kamar dan langsung melenggang untuk masuk. Setelah meletakkan kunci mobilnya dan melonggarkan dasi di kerah kemejanya, ia bergerak menghampiri Tiara di atas kasur.

“Hey ... ” sapa Aryo sembari menyematkan sebuah kecupan di pucuk kepala Tiara.

Beberapa detik kemudian setelah mereka berpelukan ringan, Tiara membalikkan tubuhnya untuk menghadap Aryo.

“Maaf, aku nggak bisa nemenin kamu datang ke sidang final hari ini,” ujar Tiara dengan suara pelannya. Hari ini Tiara merasa kurang enak badan dan Aryo pun memintanya untuk tidak ikut ke persidangan.

“Nggak papa, Sayang. Oh iya, kamu nggak ingin tau hasil putusan Majelis Hakim?”

Tiara terdiam dan tidak langsung menjawab pertanyaan Aryo. Aryo yang melihat itu menjadi sedikit khawatir. “Aryo, ak-aku ....” Tiara berucap terbata dan matanya kini nampak berkaca-kaca.

Air mata sukses mengalir dari kedua pelupuk mata Tiara dan napasnya terdengar tidak beraturan. Aryo pun berusaha menenangkannya dan membawa torso Tiara ke dalam dekapannya.

Aryo and Tiara Hugging

Selama kurang lebih sepuluh menit, Aryo hanya membiarkan Tiara menangis sesenggukkan di pelukannya. Tiara menumpahkan semua rasa sakit yang telah ia pendam selama ini. Saat tangis Tiara mulai reda, Aryo memberikan kata-kata penenang dan mengusap punggungnya dengan gerakan vertikal, berharap Tiara dapat merasa lebih baik.

“Nggak papa kalau kamu mau nangis,” ujar Aryo pelan di dekat Tiara.

Mereka mengurai pelukannya, Aryo mendapati mata Tiara nampak dan keduanya kini hanya saling menatap.

“Aryo, aku yang udah menyebabkan retaknya keluarga kamu. Aku masih marah atas kepergian ayah dan bunda. Maafin aku,” ucap Tiara.

Aryo menangkup kedua sisi wajah Tiara, “Kamu nggak boleh ngomong gitu, yaa?” titah Aryo. Ia mengatakan kalau Tiara tidak pantas berpikir bahwa ia penyebab terpecah belahnya keluarga. Semua yang terjadi memiliki sebab akibatnya, dan Reynaldi pantas mendapat akibat dari semua perbuatannya di masa lalu.

Selama sebelas tahun, Tiara mencoba menyembunyikan semua rasa marah dan dendam tersebut. Namun pada akhirnya, semua itu meluap ke permukaan. Setelah cukup lama dirinya terlihat baik-baik saja di luar, tanpa orang lain tahu, Tiara begitu terluka di dalam. Tiara tidak dapat mencurahkan seluruh emosinya bahkan di hadapan Andi maupun Alifia. Ketika ia menikah dengan Aryo, Tiara merasa afeksinya terpenuhi dan ia bersedia membagi rasa sedihnya di hadapan pria itu.

Tiara mengulaskan senyumnya saat dirinya sudah merasa lebih baik. Mendapati Aryo menatapnya dengan jarak sedekat ini, membuat Tiara malu. Apalagi matanya terasa sulit untuk dibuka sehabis menangis dan mungkin wajahnya terlihat bengkak.

“Mukaku bengkak ya?” tanya Tiara.

“Engga, Sayang.” Aryo tersenyum sembari menyelipkan helaian rambut Tiara ke belakang telinga.

“Udahan nangisnya? Kamu udah ngerasa lebih baik?” tanya Aryo.

Tiara mengangguk. “Udah,” ujar Tiara sambil mengusap kedua matanya.

Selama beberapa detik, keduanya hanya saling menatap satu sama lain. Tiara berusaha menenangkan pikirannya. Ia mendapati Aryo berada di sisinya, mendekapnya, dan itu sudah lebih dari cukup bagi Tiara untuk merasa lebih baik.

“Ra,” ujar Aryo.

“Hmm?”

“Aku nggak akan pernah bisa menghapus kenangan itu dari memori kamu. Itu akan tetap ada dan mungkin sesekali kamu akan teringat. Kalau kamu ingin meluapkannya lagi kayak tadi, kamu boleh melakukannya,” tutur Aryo.

Tiara mengangguk, “Kamu bener, aku nggak akan bisa ngelupain itu. Tapi bedanya, sekarang aku punya kamu. Kehadiran kamu yang buat aku berdamai sama ego dan rasa sakit itu. Aku juga belajar banyak hal dari kejadian ini,” ungkapnya.

“Ohya? Apa yang kamu pelajari?”

“Aku harus menerima dan memaafkan, walaupun kadang aku masih mikir, dia nggak pantas dapat pengampunan itu. Luka itu nggak akan hilang, tapi rasa sakitnya nggak akan mengontrol aku lagi. Aku udah maafin dia,” ungkap Tiara.

Detik berikutnya, Aryo mendapati senyum cantik Tiara yang selalu di tunggunya ketika menatap paras itu. Senyum yang Aryo tahu adalah tanda bahwa wanitanya benar-benar sudah merasa lebih baik. “You are so amazing, Ra,” ujar Aryo.

Tiara meletakkan tangannya di sisi wajah Aryo lalu ibu jarinya memberikan usapan lembut berulang di sana.

“Kamu perempuan hebat dan kuat. Aku bangga banget sama kamu. Makasih ya Ra, kamu udah bertahan di sisi aku,” tutur Aryo.

“Aku mau tanya sesuatu sama kamu, boleh?” tanya Tiara.

Sure.”

“Kemarin kamu beneran nangis di depan bodyguard kamu?” tanya Tiara yang kini berusaha menahan senyumannya.

Aryo menghela napasnya, “Mama cerita lagi sama kamu?” tanyanya.

“Mama cerita banyak lah pokoknya. Tapi bener sih yang mama bilang. Kamu badannya doang L-men, hatinya mah bebelac.” Akhirnya tawa Tiara menyembur juga.

“Kamu udah bisa ketawa? Barusan aja nangis sampai sesenggukkan gitu,” ledek Aryo.

Tiara mencebikkan bibirnya, “Kan kalau nangis jadi jelek. Masa kamu mau liat istrinya jelek sih? Aneh.”

“Mana jelek? Masih cantik gini.” Aryo mengarahkan tangannya untuk mengunyel-nguyel pipi gembil Tiara.

“Aryo ... pipi aku tambah gede ya kayaknya?” tanya Tiara.

“Iya nih. Kamu jadi chubby.”

“Serius? Aku nimbang sih kemarin udah naik tiga kilo. Kata dokter bisa naik lebih dari sepuluh kilo sampai sembilan bulan nanti.”

“Ya nggak papa dong.”

“Yakin? Bukannya kamu suka liatin cewek-cewek yang langsing di Instagram,” ujar Tiara.

“Mana ada, Sayang,” balas Aryo dan ia memerhatikan raut wajah Tiara yang berubah sedikit murung. “Aku nggak liat lagi, deh. Janji,” imbuh Aryo.

“Berarti kamu emang liat kan?”

“Itu muncul di explore, Sayang. Kamu mau log in Instagram aku?”

“Buat apa?”

“Kalau kamu nggak suka, kamu boleh block atau unfollow. Beres, kan?”

Tiara menyipitkan matanya dan sedetik kemudian senyum semringah muncul di wajahnya. “Aryo, aku nggak pernah nangis kayak tadi. I don't know, I'm just felt so emotional today.”

It’s oke.” Aryo mengusap sisa peluh di wajah Tiara menggunakan kedua tangannya.

Tiara mendekatkan dirinya pada Aryo, “Peluk lagi,” ujarnya.

“Iyaa, sini,” balas Aryo sambil menyunggingkan senyumnya.

“Cium,” cicit Tiara ketika Aryo sudah mendekapnya.

“Cium apa?”

“Cium pipi.”

“Cium ini enggak?” tanya Aryo sambil menunjuk bibir Tiara menggunakan jari telunjuknya.

“Enggak,” jawaban Tiara membuat Aryo mengernyitkan alisnya. “Enggak nolak maksud aku,” sambung Tiara.

“Mau berapa kali?” tanya Aryo.

“Bebas. Terserah pak Bos aja.”

“Oke, akan dilaksanakan. Sesuai permintaan Nyonya Besar.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tepat dua minggu yang lalu, setelah menerima berkas perkara dan hasil penyidikan yang lengkap dari penyidik, surat dakwaan kasus Reynaldi dibuat oleh penuntut umum. Surat dakwaan dibuat setelah Jaksa berpendapat bahwa dari hasil penyidikan sudah cukup dan dapat dilakukan penuntutan.

Hari ini diadakan pelaksanaan sidang dakwaan yang merupakan tahap pertama dari persidangan kasus pidana. Beberapa anggota keluarga Brodjohujodyo ikut hadir di sana. Edi dan Felicia beserta Aryo dan Tiara tentunya turut datang ke sidang itu.

Berdasarkan surat dakwaan, terdakwa dinyatakan terkena pasal khusus yakni Pasal 340 KUHP mengenai Pembunuhan Berencana. Sidang yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam tersebut menghasilkan sebuah keputusan oleh Jaksa Penuntut Umum. Jaksa Penuntut Umum mengeluarkan putusan bahwa terdakwa akan dihukum seumur hidup, yakni hukuman berlangsung sampai selama hidupnya terdakwa hidup di dunia.

Persidangan telah selesai dan satu persatu hadirin mulai berhamburan keluar dari ruangan. Aryo dan Tiara bertemu dengan Irene ketika mereka hendak keluar. Irene, istri Reynaldi yang menghadiri persidangan itu, melayangkan tatapan tidak sukanya kepada Tiara.

“Kamu itu pembawa sial dalam keluarga Brodjohujodyo. Apa kamu nggak malu? Sekarang keluarga kita jadi hancur dan terpecah belah,” ucap Irene.

“Tante Irene, cukup. Tante nggak berhak berbicara seperti itu,” ujar Aryo.

“Apa pun yang kalian lakukan, selamanya nggak akan mengembalikan Erlangga dan Clarissa ke dunia ini,” ujar Irene lagi tanpa rasa bersalahnya. “Kamu udah puas sekarang? Kamu ini istri macam apa, Tiara? Mana ada istri yang tega membuat keluarga dan perusahaan suaminya sendiri hancur. Kamu perempuan egois.” Setelah berujar seperti itu, Irene berlalu pergi dari hadapan Aryo dan Tiara.

Aryo menatap Tiara dan mengatakan bahwa istrinya itu tidak perlu memikirkan kata-kata Irene. “Tiara, kamu nggak perlu pikirin kata-kata tante Irene, oke?”

Tiara balas menatap Aryo. “Kita harus gimana kalau yang dibilang tante Irene benar terjadi?”

“Maksud kamu?”

“Sekarang perusahaan ada di bawah pimpinan kamu. Kasus ini akan berdampak juga ke reputasi perusahaan, kan?”

***

Pada hakikatnya, seseorang tidak bisa mengatur reaksi orang lain terhadap apa yang terjadi. Kita tidak bisa mengontrol apa yang akan dilontarkan dari mulut orang-orang untuk menanggapi sesuatu.

Berbagai tanggapan pun berdatangan dari keluarganya selama masa persidangan sampai keputusan final. Sebagian ada yang mendukungnya, sebagian kecewa terhadap apa yang terjadi. Mereka menyalahkan keputusan Aryo untuk menuntut Reynaldi, tanpa melihat dari sisi yang berbeda, bahwa selamanya yang bersalah akan tetap salah dan pantas mendapat hukuman.

“Silakan, Pak.” Sebuah suara menginterupsi pemikiran monolog Aryo. Pria itu mendongak dan segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan di depannya.

Aryo duduk di hadapan sebuah pembatas kaca yang memiliki sebuah jendela kecil di sana. Dari lubang kecil itu, Aryo melihat sosok Omnya yang kini resmi di tahan, setelah sidang putusan final hari ini. Majelis hakim telah memberikan keputusan final bahwa Reynaldi dikenai pasal 340 KUHP dan mendapat hukuman seumur hidup penjara.

“Aryo ke sini karena ingin menyampaikan sesuatu sama Om,” ucap Aryo membuka pembicaraan.

Reynaldi hanya balas menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Aryo mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke jendela kecil itu. “Nggak ada satu pun anggota keluarga yang ingin melihat anggota keluarganya sendiri hancur. Tapi Om perlu tau, semua perbuatan memiliki tanggung jawabnya.”

“Kamu melakukan ini demi perempuan itu. Perempuan yang baru kamu kenal dan kamu nikahi. Apa yang ada di pikiran kamu Aryo?” ujar Reynaldi.

“Om benar. Aryo memang melakukannya untuk Tiara. Ketika melihat seseorang yang Om cintai harus menerima rasa sakit selama bertahun-tahun, apa yang akan Om lakukan?” Aryo menjeda ucapannya, pria itu menghela napas dan menghembuskannya perlahan.

“Aryo pikir Om sudah tau jawaban dari pertanyaan itu. Aryo nggak membenci Om sama sekali. Tapi perbuatan Om lah yang menyebabkan Aryo kehilangan rasa hormat itu,” ujar Aryo.

“Aryo sudah menyampaikan semua yang ingin disampaikan. Aryo pamit Om.” Aryo menatap Reynaldi sekali lagi, sebelum kakinya melangkah untuk pergi dari sana.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Pandangan Aryo sedari tadi tidak lepas dari pintu ruangan UGD di hadapannnya. Ia tidak dapat berpikir jernih. Di dalam kepalanya, kini berkecamuk segala macam kemungkinan yang dapat terjadi pada Tiara dan bayinya.

Beberapa bodyguard yang bersamanya sedari tadi, urung untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Baru kali ini para pria bertubuh kekar itu melihat atasan mereka dalam kondisi yang bisa dibilang sejatuh-jatuhnya. Aryo terlihat kacau. Pria itu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Ada yang menyadap nomor handphone-nya dan mengirim pesan untuk memanipulasi Tiara. Sehingga istrinya itu datang ke rumah tepat di hari pertemuan antara kedua kubu.

Dari jarak beberapa meter, Rama menatap ke arah Aryo. Setelah menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit, ia akan mencoba untuk menenangkan atasan sekaligus sahabatnya itu.

Rama mendapati kedua mata Aryo memerah. Tatapan pria itu memancarkan kesedihan sekaligus amarah secara bersamaan. “Ram, ini semua salah gue. Tiara kayak gini gara-gara gue,” ujar Aryo.

“Bos, lo jangan mikir kayak gitu. Di dalam sana, istri sama anak lo lagi berjuan, dan lo adalah kekuatan untuk mereka. Lo harus yakin semuanya bakal baik-baik aja,” ucap Rama.

Di tengah-tengah kekalutan Aryo tersebut, pria itu mendapati papa dan mamanya berada di sana.

“Mama sama Papa udah tau semuanya. Kenapa kamu sama Tiara nggak pernah cerita,” ujar Felicia.

“Mah, ma-maafin Aryo,” ujar Aryo yang mendapati tatapan kecewa dari kedua mata Felicia. “Aryo sama Tiara nggak mau buat Mama dan Papa khawatir. Kita berniat ngasih tau semuanya saat keadaannya udah membaik,” lanjut Aryo.

“Mah, sudah ya. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Aryo dan Tiara,” ujar Edi berusaha menenangkan istrinya.

“Dengan Bapak Aryo Bimo?” ujar sebuah suara yang seketika membuat semua orang menoleh.

Aryo lantas berdiri dari duduknya, “Saya sendiri Dok,” ujarnya pada dokter yang menangangi istrinya.

“Baik, Bapak. Boleh minta waktunya sebentar untuk bicara?” lanjut dokter di hadapannya. Dokter itu mengatakan bahwa penanganan telah selesai di lakukan. Pihak keluarga akan diberi penjelasan oleh dokter terkait kondisi pasien saat ini.

***

Aryo menemui Tiara di ruang rawatnya, setelah beberapa saat lalu ia berbicara dengan dokter mengenai kondisi istri dan bayinya. Tiara masih belum bangun dari tidurnya karena pengaruh obat yang diberikan untuk meredakan rasa sakit yang dialaminya.

Aryo mengarahkan tangannya untuk mengambil tangan Tiara dan menggenggamnya. Ia melayangkan tatapannya pada wajah terlelap Tiara. Wajah yang menjadi pusat hidupnya, yang beberapa jam lalu telah membuatnya merasa luluh lantak.

“Tiara,” ujar Aryo dengan nada suaranya yang bergetar. “Aku hampir aja kehilangan duniaku. Semua yang aku punya, akan percuma kalau tanpa kamu, Ra,” lanjut Aryo sembari menundukkan kepalanya. Ia menciumi punggung tangan Tiara dan merasakan air mata merembas membasahi wajahnya.

“Aryo,” ujar sebuah suara yang terdengar lirih. Aryo mengangkat kepalanya dan mendapati Tiara telah membuka matanya. Sebuah air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata Tiara, wanitanya terisak pilu dan Aryo berusaha untuk menenangkannya.

“Ra, kamu tenang dulu ya,” ujar Aryo ketika Tiara meronta-ronta dan berteriak di dalam dekapannya.

“Aryo ... gimana bayi kita? Dia baik-baik aja kan?” racau Tiara diiiringi suaranya yang terdnegar parau.

Aryo mengurai pelukannya pada torso Tiara. Kemudian dengan telaten tangannya mengusap peluh dan air mata di wajah istrinya sebelum berujar. “Bayi kita baik-baik aja, Ra. Dia kuat dan hebat banget, kayak mamanya,” tutur Aryo.

Mata Tiara berkaca-kaca mendengar penuturan Aryo. Perlahan-lahan kedua sudut bibirnya saling tertarik untuk membentuk sebuah senyuman.

“Ra, mama dan papa udah tau semuanya,” ujar Aryo.

“Gimana reaksi mama dan papa?” tanya Tiara. Apa yang baru saja terungkap dan terjadi pasti memiliki dampak terutama di keluarga mereka.

“Mama sempat marah karena kita nggak ngasih tau apapun sama beliau. Papa lumayan shock waktu tau apa aja yang udah dilakuin oleh kakak kandungnya sendiri selama bertahun-tahun,” jelas Aryo.

“Aryo,” ujar Tiara.

“Iya, Sayang?'”

“Mama dimana? Aku mau ketemu sama mama,” ujar Tiara.

***

Felicia menatap menantunya dengan tatapan hangat dan menggenggam tangan Tiara dengan satu tangannya. Ketika pandangannya beralih pada Aryo di sofa ruang rawat, tatapannya berubah kurang bersahabat.

“Aryo, tugas kamu sekarang jagain istri dan anak kamu yang bener. Mama nggak metoleransi apapun lagi yang bisa membahayakan menantu Mama,” ujar Felicia.

“Iyaa Mamahku, Sayang. Mama tenang aja ya,” ujar Aryo sambil berjalan ke arah dua perempuan yang dicintainya itu.

“Kalau perlu, tambah bodyguard buat jaga di depan ruangan,” ucap Felicia.

“Masalahnya pihak rumah sakit nggak membolehkan itu, Mah. Tapi Mama tenang aja. Aryo di sini akan jagain Tiara dua puluh empat jam per tujuh,” ucap Aryo sambil menampakkan senyum lebarnya.

Tiara yang memerhatikan tingkah Aryo di hadapan Felicia tersebut lantas mengulaskan senyumnya. Bisa-bisanya Aryo bersikap seperti bukan pria berusia 24 tahun di hadapannya dan mamanya.

“Ra, liat nih. Masa dari tadi Mama marahin aku terus, padahal aku udah minta maaf,” adu Aryo pada Tiara dengan nada manjanya. Pria jangkung itu menyandarkan kepalanya di bahu Tiara, meminta istrinya untuk mengusapnya.

“Tiara, pokoknya kalau ada apa-apa, atau Aryo pergi-pergi lagi ninggalin kamu. Kamu bilang aja ke Mama ya, Sayang.”

Tiara mengangguk, “Iya Mah, makasih ya,” ujarnya.

Anytime, Sayang. Yaudah, Mama pamit dulu ya. Kamu istirahat, besok Mama ke sini lagi sama bunda kamu,” ucap Felicia.

“Oke deh, makasih ya Mamaku Sayang. Kalau nanti Mama sama bunda kesini, Aryo bisa tidur dulu untuk sementara. Aryo nggak khawatir lagi deh, Tiara ada yang jagain,” ucap Aryo sembari menampakkan cengirannya.

“Tiara, kamu tau nggak. Tadi dia nangis kayak anak kecil di depan ruang UGD. Di depan bodyguardnya-nya coba,” cerocos Felicia yang langsung membuat Aryo membelalakkan matanya.

“Mah, jangan bocorin ke Tiara dong,” protes Aryo.

“Yaa, biar istrimu tau kamu kayak gimana. Tiara, dia luarnya keliatan kuat, padahal dalamnya hello kitty,” jelas Felicia yang sudah tau luar dalam putra sematawayangnya itu.

Tiara yang memerhatikan kejadian tersebut tidak kuasa untuk menahan tawanya. Tiara justru meminta di lain waktu agar Felicia bisa membagi cerita tentang Aryo lebih banyak lagi kepadanya.

***

Aryo mengantar mama dan papanya sampai ke depan ruangan rawat Tiara. Jam berkunjung hampir habis dan Tiara juga dianjurkan untuk banyak beristirahat. Istrinya itu telah tidur beberapa menit yang lalu dan orang tuanya memutuskan untuk pamit pulang.

“Kamu sama Tiara nggak akan berpisah kan, Aryo?” tanya Felicia.

“Aryo dan Tiara nggak akan pisah, Mah, Pah,” ujar Aryo. “Kita udah bicara dan coba selesaikan permasalahannya. Awalnya Tiara memang meminta pisah sama Aryo. Ini hal yang berat buat Tiara, bayang-bayang masa lalu itu akan selalu ada di ingatannya,” sambungnya.

Edi menatap putra sematawayangnya, lalu ia menepuk pundaknya. “Aryo, kamu harus tau. Apa yang kamu lakukan telah sangat berarti untuk Tiara. Tiara juga melalui banyak perjuangan untuk tetap berada di sisi kamu. Begitu seharusnya yang dilakukan dua orang yang saling mencintai,” tutur Edi.

Aryo mengangguk, “Pah, mungkin semuanya nggak akan sama lagi. Soal perusahaan dan keluarga kita,” ujar Aryo. Edi menangkap ada kekhawatiran dari tatapan mata putranya itu.

“Kamu nggak perlu khawatir. Sekarang kamu dan Tiara fokus dulu aja ke calon anak kalian. Soal kasus itu dan perusahaan, Papa akan membantu kamu,” ucap Edi.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sesuai perkataannya, dalam waktu 10 menit Aryo sudah tiba di rumahnya. Ia melewati jalur tersembunyi yang memang dimiliki oleh rumahnya, setelah Egha memberi tahu titik keberadaan Tiara. Aryo mempersiapkan senjata yang dibawanya, ia memasukkan peluru berkekuatan besar ke dalam loading peluru.

Gun 1

Sesampainya Aryo di lantai 3, ia tidak bisa langsung menemui Tiara dan melawan Reynaldi begitu saja. Saat ini keselamatan Tiara menjadi taruhannya. Aryo bersumpah dalam hatinya bahwa ia tidak akan membiarkan Reynaldi menyentuh Tiara seujung kukunya sekalipun.

Aryo mengamati keadaan sekitar dari posisinya saat ini. Keberadaannya tidak boleh diketahui oleh Reynaldi sebelum dirinya berhasil sampai di dekat Tiara.

“Kamu lihat, kan? Perasaan cinta cuma akan membuat kamu lemah. Dan smua usaha kalian akan sia-sia hari ini,” ujar Reynaldi di hadapan Tiara. Di belakangnya, Elnino menyusul Omnya dan menyerahkan sebuah pistol ke tangannya.

Tiara menatap Reynaldi dengan tatapan nyalangnya. Rasa amarah belasan tahun yang singgah di dalam hatinya, kini telah menghancurkan semua rasa takut yang sebelumnya ia miliki. Reynaldi Brodjohujodyo, kini berdiri di depannya dan Tiara bukanlah gadis kecil yang hanya bisa menangis seperti sebelas tahun lalu.

Tiara menatap Reynaldi tepat di manik matanya. Tatapan itu seperti mata pisau tajam yang siap menghunus siapa pun yang melihatnya. “Anda salah besar, Reynaldi Brodjohujodyo. Bagaimana Anda bisa bicara soal cinta. Kalau perasaan setulus dan sesuci itu tidak pernah Anda rasakan, di dalam hati Anda sendiri,” ujar Tiara sambil pandangannya tidak lepas dari Reynaldi.

Sebagian dari dalam diri Reynaldi membenarkan perkataan yang dilontarkan oleh Tiara. Itu telah membuat ego yang menempati posisi paling tinggi di hatinya tersentil.

“Hati-hati dengan apa yang kamu katakan, Tiara. Oh, tidak, Michelle.” Reynaldi menatap Tiara sambil tersenyum tipis, “Saya pastikan kamu akan menyesal karena telah membuat Aryo melawan Omnya sendiri.”

Drop your gun now,” ujar Egha ketika melihat Reynaldi mengangkat pistolnya dan bersiap untuk menarik pelatuknya.

I said, drop your gun now,” lanjut Egha sambil matanya tidak lepas mengawasi situasi di sekitarnya. Anak buah di belakangnya ia perintahkan untuk tidak menyerang dahulu, karena kapan saja Reynaldi bisa menarik pelatuknya dan itu akan beresiko tinggi bagi Tiara.

“Om mau membuat Aryo menyesal, benar begitu? Then do it by yourself, right know,” ujar sebuah suara bariton yang seketika membuat Reynaldi meoleh ke arah sosok itu. Tiara, Egha, dan beberapa orang yang ada di sana terkejut kala mendapati keberadaan Aryo di antara mereka, terlebih pria itu datang dengan kedua tangan kosong.

“Kamu memilih menghancurkan keluarga kamu sendiri hanya untuk dia? Seharusnya orang tua kamu malu, Aryo. Kamu nggak pernah jadi kebanggaan di keluarga kita,” ujar Reynaldi.

Aryo mengernyitkan alisnya diiringi tawa rendahnya, seolah ucapan Reynaldi tidak berarti baginya. “You don't even deserve to said about our family with that mouth,” ujar Aryo dengan penekanan di setiap kata-katanya, tapi nadanya tetap terdengar tenang dan ekspresi wajahnya sedamai air di danau.

“Aryo akan pastikan Om mendapat balasan dari semua perbuatan yang telah Om lakukan,” sambung Aryo. Ia mengetahui satu kelemahan dari Reynaldi, yakni fakta bahwa Omnya itu terlalu mudah untuk disentil egonya.

Reynaldi lantas mengarahkan pistolnya ke arah Tiara, ia membidik Tiara sebagai sasaran tembaknya. Namun tepat sebelum itu terjadi, Aryo bergerak cepat untuk melindungi Tiara. Egha dan anak buahnya serempak mengarahkan senjata mereka pada pasukan Reynaldi.

Suara tembakan dari pistol Reynaldi terdengar sangat kencang dan menggelegar di seluruh penjuru lantai 3. Tiara yang berada di dekapan Aryo tidak merasakan rasa sakit sedikitpun. Mata Tiara melebar dan menatap Aryo di hadapannya dengan pandangan terkejut bercampur khawatir.

Tiara terisak di dalam dekapan Aryo “What's on your mind? Are you crazy?” tangis Tiara pecah saat itu juga membayangkan hal terburuk yang terjadi. Aryo tidak mengatakan apapun, ia hanya mengeratkan pelukannya di torso Tiara, menggunakan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi Tiara. Satu tangan Aryo yang bebas mengambil pistol dari saku jaketnya, ia menarik pelatuknya dan langsung mengarahkannya pada Reynaldi.

Gun 2

Tiara menutup matanya dalam dekapan Aryo, ia hanya mendengar pria itu menembak berkali-kali. Hingga beberapa saat kemudian, Tiara menangkap suara pecahan guci dan dinding kaca besar yang terdapat di lantai tiga.

Terjadi pertempuran yang sengit antara tim Aryo dan Reynaldi dengan durasi yang cukup lama. Tepat ketika Reynaldi hendak melarikan diri, tim polisi sampai di sana dan melumpuhkan langkah Reynaldi dengan menembak tepat di kaki kiri pria itu. Reynaldi terjatuh dan merintih kesakitan saat tangannya harus bersentuhan dengan pecahan kaca di lantai.

“Letakkan senjata Anda sekarang,” perintah salah satu polisi yang ada di sana. Mereka langsung bergerak untuk menangkap Reynaldi dan juga beberapa anak buahnya. Selain itu Elnino juga ditahan karena membantu tersangka melakukan percobaan pembunuhan terhadap Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo.

Rudi menghampiri Aryo dan Tiara. Pria itu mengatakan semua bukti telah di serahkan ke pihak berwenang dan kasus akan langsung di proses menggunakan jalur hukum.

“Om, terima kasih banyak untuk semuanya. Tanpa Om mungkin kita nggak bisa mengungkap kasus ini,” ujar Aryo kepada Rudi.

“Sama-sama. Kamu juga udah berjuang sampai sejauh ini,” balas Rudi sambil menepuk pundak Aryo.

“Ra, I'm oke. Aku nggak kena pelurunya,” ujar Aryo memberitahu Tiara. Aryo sudah mengantisipasi dengan menggunakan jaket anti peluru di dalam kemejanya.

“Kenapa kamu nggak bilang? Kamu bikin aku panik tau nggak,” ujar Tiara diiringi helaan napas panjang yang lolos dari bibirnya.

“Tiara, ka-kamu berdarah ... ?” ujar Aryo sambil memerhatikan sebuah cairan berwarna merah yang mengalir di betis Tiara hingga ke pergelangan kakinya.

Tiara tidak menyadari rasa sakit yang mungkin saja sudah sedari tadi menyerangnya. Kini saat sebuah darah mengalir membanjiri kakinya, Tiara baru merasakan bagian perutnya terasa keram dan seketika sekujur tubuhnya menegang. Rasa sakit tersebut begitu luar biasa sampai Tiara tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata dari bibirnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Selama 3 hari sebelum pertemuan kedua belah pihak, tim Aryo melakukan berbagai persiapan. Dari mulai persenjataan, latihan antar tim, serta berbagai persiapan lainnya agar rencana mereka aman dan berjalan sempurna.

Malam ini merupakan persiapan terakhir untuk pertempuran besok. Aryo mengabari Tiara bahwa ia tidak bisa pulang dan akan menginap di tempat latihan, bersama anggota tim yang lainnya. Jadi Tiara memutuskan untuk menginap di rumah ayah dan bundanya malam ini.

Terdengar ketukan di pintu kamarnya dan Tiara mendapati bundanya berada di depan kamarnya. Alifia menatap putri sulungnya dengan tatapan lembut keibuannya. Alifia seolah dapat merasakan apa yang kini sedang dialami Tiara. Rasa cemas dan takut, persis seperti sebelas tahun lalu, ketika Michelle kecil harus kehilangan ayah dan bundanya.

“Bun, you know me so well,” ujar Tiara. Mereka berhadapan, duduk di tepi kasur di kamar Tiara. Alifia membawa anak perempuannya itu ke dalam pelukan hangatnya dan mengusap punggungnya lembut.

“Bunda tahu, Sayang. Rasanya pasti seperti de javu buat kamu.” Alifia mengusap surai Tiara, lalu pelukan keduanya terurai.

“Bun, Tiara kayaknya nggak bisa, kalau misalnya sampai Tiara harus kehilangan Aryo.” Dari tatapan Tiara, Alifia menangkap begitu banyak luka di sana.

“Tuhan mendengar doa kaumnya, Nak. Apa yang sedang kamu dan Aryo perjuangkan saat ini adalah hal yang benar. Tuhan akan membantu, kamu harus meyakini itu, ya, Sayang?” tutur Alifia. Setelah Tiara merasa lebih tenang, Alifia pamit untuk meninggalkan kamarnya. Tidak lupa bundanya itu mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur berwarna kuning temaram, kebiasaan yang selalu ia lakukan untuk membuat Tiara merasa lebih rileks.

Ketika Alifia menutup pintu kamarnya dan menghilang di sana, Tiara mendapat sebuah notifikasi pesan dari ponselnya. Kedua alisnya menyatu saat membaca pesan yang di kirimkan Aryo padanya. Tiara mencoba untuk menelfon Aryo, tapi tidak di angkat. Akhirnya Tiara memutuskan untuk menghubungi Egha. Ia merasa harus menanyakan hal tersebut pada kepala bodyguard yang Aryo tugaskan untuk menjaga keselamatannya.

“Halo, Egha. Gue barusan forward ke lo chat yang Aryo kirim ke gue. Lo udah baca?” ujar Tiara di telfon.

“Saya udah baca yang Non Tiara kirim,” jawab Egha di seberang sana.

“Oke. Gue mau tanya, menurut lo apa ada yang aneh dari pesan itu?”

***

Aryo in Suit to Fight

Sebuah area dengan lapangan berumput luas dan dua buah gedung bertingkat yang tinggi menjulang, di sana lah kedua kubu telah sepakat untuk melakukan pertemuan.

Mereka telah dibagi menjadi 3 tim. Tim 1 akan bertugas melumpuhkan pasukan lawan, tim 2 berperan sebagai garda yang siap menangkap musuh di TKP, dan tim 3 bertugas memancing target dengan membawa bukti ke hadapannya.

Aryo berada di tim 3 bersama Erza dan Bagas. Mereka menunggu instruksi dari tim 1 sebelum memulai eksekusi. Bagas mendekatkan walky talky-nya ketika sebuah suara masuk di sana.

“Team three get in now,” perintah suara dari walky talky. Bagas pun lebih dulu keluar dari tempat persembunyian mereka. Erza menyusulnya dan yang terakhir Aryo. Bagas sudah lebih dulu masuk melalui lorong yang mengarah ke basement.

“Za, nanti gue nyusul,” ujar Aryo.

“Kenapa Bos?” Erza menoleh pada Aryo dan melihat atasannya itu sedang menerima telfon dari seseorang. Aryo hanya mengatakan satu kalimat sebelum pria itu mengakhiri sambungan telfonnya.

“Tim yang jaga di rumah gue ngabarin kalau Tiara sekarang ada di sana.”

“Bukannya Non Tiara di rumah orang tuanya Bos?”

Tatapan mata Aryo berkilat dan berubah menjadi tajam, “Bajingan itu nyadap nomor hp gue dan ngirim sebagian pasukannya ke rumah. Gue harus ke sana sekarang.”

***

Egha memerintahkan anak buahnya untuk menahan orang suruhan Reynaldi yang dikirim pria itu ke rumah. Egha telah menghubungi Aryo dan menjelaskan situasi yang terjadi. Aryo mengatakan bahwa dalam 10 menit, dirinya akan sampai di rumah untuk menghabisi pasukan Reynaldi dengan tangannya sendiri.

Di lantai tiga rumah, Egha dan beberapa anggotanya telah mempersiapkan diri untuk melindungi Tiara. Mereka telah membawa senjata untuk berjaga-jaga untuk kemungkinan buruk yang bisa terjadi.

“Non Tiara, saya sudah menghubungi tuan dan beliau bilang akan kesini dalam 10 menit. Ada kemungkinan kalau Reynaldi sudah menyadap nomor hp tuan untuk memanipulasi keadaan,” jelas Egha pada Tiara.

“Egha, ini semua salah gue. Harusnya gue nggak keras kepala dengan minta minta lo anter gue ke rumah,” ucap Tiara dengan nada menyesalnya.

Egha menatap majikannya itu. “Non Tiara, ini bukan sepenuhnya kesalahan Anda,” Egha menjeda ucapannya. “Kita masih punya kesempatan untuk melawan mereka. Non Tiara percayakan pada saya dan tim yang lainnya, oke?” tutur Egha.

Beberapa detik setelahnya, tepat dari arah belakang mereka, terdengar langkah kaki dan sebuah dehaman dari suara bariton. Tiara mengarahkan tatapannya dan mendapati sosok yang begitu femeliar di penglihatannya. Kini sosok itu benar-benar ada di hadapannya.

“Halo, Michelle Taninka,” sapa Reynaldi diiringi senyum sarkas di wajahnya. “Apa kabar? Kamu nggak mungkin lupa sama saya, kan?”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Selama 3 hari sebelum pertemuan kedua belah pihak, tim Aryo melakukan berbagai persiapan. Dari mulai persenjataan, latihan antar tim, serta berbagai persiapan lainnya agar rencana mereka aman dan berjalan sempurna.

Malam ini merupakan persiapan terakhir untuk pertempuran besok. Aryo mengabari Tiara bahwa ia tidak bisa pulang dan akan menginap di tempat latihan, bersama anggota tim yang lainnya. Jadi Tiara memutuskan untuk menginap di rumah ayah dan bundanya malam ini.

Terdengar ketukan di pintu kamarnya dan Tiara mendapati bundanya berada di depan kamarnya. Alifia menatap putri sulungnya dengan tatapan lembut keibuannya. Alifia seolah dapat merasakan apa yang kini sedang dialami Tiara. Rasa cemas dan takut, persis seperti sebelas tahun lalu, ketika Michelle kecil harus kehilangan ayah dan bundanya.

“Bun, you know me so well,” ujar Tiara. Mereka berhadapan, duduk di tepi kasur di kamar Tiara. Alifia membawa anak perempuannya itu ke dalam pelukan hangatnya dan mengusap punggungnya lembut.

“Bunda tahu, Sayang. Rasanya pasti seperti de javu buat kamu.” Alifia mengusap surai Tiara, lalu pelukan keduanya terurai.

“Bun, Tiara kayaknya nggak bisa, kalau misalnya sampai Tiara harus kehilangan Aryo.” Dari tatapan Tiara, Alifia menangkap begitu banyak luka di sana.

“Tuhan mendengar doa kaumnya, Nak. Apa yang sedang kamu dan Aryo perjuangkan saat ini adalah hal yang benar. Tuhan akan membantu, kamu harus meyakini itu, ya, Sayang?” tutur Alifia. Setelah Tiara merasa lebih tenang, Alifia pamit untuk meninggalkan kamarnya. Tidak lupa bundanya itu mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur berwarna kuning temaram, kebiasaan yang selalu ia lakukan untuk membuat Tiara merasa lebih rileks.

Ketika Alifia menutup pintu kamarnya dan menghilang di sana, Tiara mendapat sebuah notifikasi pesan dari ponselnya. Kedua alisnya menyatu saat membaca pesan yang di kirimkan Aryo padanya. Tiara mencoba untuk menelfon Aryo, tapi tidak di angkat. Akhirnya Tiara memutuskan untuk menghubungi Egha. Ia merasa harus menanyakan hal tersebut pada kepala bodyguard yang Aryo tugaskan untuk menjaga keselamatannya.

“Halo, Egha. Gue barusan forward ke lo chat yang Aryo kirim ke gue. Lo udah baca?” ujar Tiara di telfon.

“Saya udah baca yang Non Tiara kirim,” jawab Egha di seberang sana.

“Oke. Gue mau tanya, menurut lo apa ada yang aneh dari pesan itu?”

***

Aryo in Suit to Fight

Sebuah area dengan lapangan berumput luas dan dua buah gedung bertingkat yang tinggi menjulang, di sana lah kedua kubu telah sepakat untuk melakukan pertemuan.

Mereka telah dibagi menjadi 3 tim. Tim 1 akan bertugas melumpuhkan pasukan lawan, tim 2 berperan sebagai garda yang siap menangkap musuh di TKP, dan tim 3 bertugas memancing target dengan membawa bukti ke hadapannya.

Aryo berada di tim 3 bersama Erza dan Bagas. Mereka menunggu instruksi dari tim 1 sebelum memulai eksekusi. Bagas mendekatkan walky talky-nya ketika sebuah suara masuk di sana.

“Team three get in now,” perintah suara dari walky talky. Bagas pun lebih dulu keluar dari tempat persembunyian mereka. Erza menyusulnya dan yang terakhir Aryo. Bagas sudah lebih dulu masuk melalui lorong yang mengarah ke basement.

“Za, nanti gue nyusul,” ujar Aryo.

“Kenapa Bos?” Erza menoleh pada Aryo dan melihat atasannya itu sedang menerima telfon dari seseorang. Aryo hanya mengatakan satu kalimat sebelum pria itu mengakhiri sambungan telfonnya.

“Tim yang jaga di rumah gue ngabarin kalau Tiara sekarang ada di sana.”

“Bukannya Non Tiara di rumah orang tuanya Bos?”

Tatapan mata Aryo berkilat dan berubah menjadi tajam, “Bajingan itu nyadap nomor hp gue dan ngirim sebagian pasukannya ke rumah. Gue harus ke sana sekarang.”

***

Egha memerintahkan anak buahnya untuk menahan orang suruhan Reynaldi yang dikirim pria itu ke rumah. Egha telah menghubungi Aryo dan menjelaskan situasi yang terjadi. Aryo mengatakan bahwa dalam 10 menit, dirinya akan sampai di rumah untuk menghabisi pasukan Reynaldi dengan tangannya sendiri.

Di lantai tiga rumah, Egha dan beberapa anggotanya telah mempersiapkan diri untuk melindungi Tiara.

“Non Tiara, saya sudah menghubungi tuan dan beliau bilang akan kesini dalam 10 menit. Ada kemungkinan kalau Reynaldi sudah menyadap nomor hp tuan untuk memanipulasi keadaan,” jelas Egha pada Tiara.

“Egha, ini semua salah gue. Harusnya gue nggak keras kepala dengan minta minta lo anter gue ke rumah,” ucap Tiara dengan nada menyesalnya.

Egha menatap majikannya itu. “Non Tiara, ini bukan sepenuhnya kesalahan Anda,” Egha menjeda ucapannya. “Kita masih punya kesempatan untuk melawan mereka. Non Tiara percayakan pada saya dan tim yang lainnya, oke?” tutur Egha.

Beberapa detik setelahnya, tepat dari arah belakang mereka, terdengar langkah kaki dan sebuah dehaman dari suara bariton. Tiara mengarahkan tatapannya dan mendapati sosok yang begitu femeliar di penglihatannya. Kini sosok itu benar-benar ada di hadapannya.

“Halo, Michelle Taninka,” sapa Reynaldi diiringi senyum sarkas di wajahnya. “Apa kabar? Nggak mungkin kamu lupa sama saya, kan?”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Reynaldi menatap satu persatu orang-orang yang telah bekerja lama untuknya. Sesaat kemudian, menggunakan satu tangannya, ia memasukkan sebuah rudal ke loading peluru. Jemarinya hampir saja menarik pelatuk pistol dan mengarahkannya pada deretan botol-botol kaca berisi minuman mahal di ruangannya. Namun pria itu mengurungkan niatnya, ia menjauhkan kembali jarinya dan meletakkan senjatanya di atas meja.

Sebuah senyum picik tercetak di wajah Reynaldi, “Saya mau apa pun caranya, bukti itu sampai ke tangan saya,” ujarnya.

Sang kepala bodyguard memutuskan angkat bicara ketika tidak ada satu orang pun yang berani membuka mulut. “Tapi Bos, bagaimana caranya? Bukti itu sudah ada di tangan Rudi,” ujar pria berusia kisaran 30 tahun itu.

“Seorang petarung tidak akan mundur, bahkan sebelum perang dimulai,” ujar Reynaldi. “Siapkan semua senjata terbaik yang kita punya di markas. Kita perlu menyusun rencana,” tukas Reynaldi.

***

Markas Polisi

“Reynaldi udah sepakat untuk bertemu. 3 hari lagi, ini lokasi pertemuannya,” ujar Rudi sambil menunjukkan sebuah lokasi melalui layar laptopnya.

Di samping Rudi, Bagas membuka sebuah gulungan karton tebal di atas meja panjang di hadapan mereka. “Ini mind mapping untuk rencana kita,” ujar Bagas. “Akan ada tiga tim. Langkah yang pertama, dua kubu akan bertemu dan pasukan kita bergerak untuk menahan pasukan Reynaldi, supaya dia nggak punya back up untuk melawan atau kabur. Setelah itu, tim kita yang lain akan kasih salinan buktinya dan tepat saat itu, pasukan polisi siap mengeksekusi target,” ujar Bagas menjelaskan rencana yang akan mereka lakukan.

“Sesuai rencana awal kita, Reynaldi berhasil terhasut dan masuk ke perangkap,” ujar Akmal yang diangguki oleh semua orang yang ada di sana.

Tiara yang berada di samping kanan Aryo menoleh dan menatap suaminya. Tiara memerhatikan Aryo yang nampak tidak setuju dengan ucapan Akmal barusan. Pria itu menghela napas pelan sembelum berujar, “Gue pikir Reynaldi emang udah terhasut. Tapi gue curiga dia nyiapin back up plan. Nggak mungkin Reynaldi menyerah cuma-cuma dan datang ke tempat pertemuan tanpa persiapan apapun,” ujar Aryo.

Semua pasang mata mengarahkan tatapan mereka ke arah Aryo. Risa dan Aurorae pun mengangguk setuju atas ucapan pria itu. “Yang Aryo bilang ada benarnya. Gue tau Reynaldi orang yang seperti apa. Dari dulu, dia udah berambisi untuk menguasai perusahaan. Karena dia nggak punya keturunan dari pernikahannya, dia bertekad membuat perusahaan ada di genggaman tangannya,” jelas Risa.

“Jadi apa yang harus kita lakuin untuk mengantisipasi ini?” tanya Bagas.

“Kita harus tau lebih dulu. Kira-kira apa kelemahan tim kita yang bisa dijadiin sasaran empuk Reynaldi untuk nyerang kita balik,” ujar Risa.

Rudi setuju dengan perkataan Risa. “Sekarang Reynaldi menjadikan kita sebagai musuh besarnya. Tapi dia nggak mungkin menyerang satu persatu dari kita, itu cuma akan membuang waktunya. Pasti dia punya satu yang akan dia jadikan target,” ucap Rudi. Semua yang ada di sana seketika berpikir keras akan kemungkinan yang bisa dilakukan oleh Reynaldi untuk melempar serangan balik.

Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di dalam benak Tiara. Ia mengambil tangan Aryo di sampingnya dan mengenggamnya. “Aryo,” ujar Tiara dengan nada suaranya yang seperti tertahan di tenggorokan. Aryo mendapati Tiara menatapnya dengan tatapan getir.

“Ra, kenapa?” tanya Aryo dan pikirannya pun mulai terasa kacau. Di dalam kepalanya, seperti ada sebuah sirine pengingat akan sebuah bom waktu, yang kapan saja bisa meledak dan menghancurkan semua recana yang telah tim mereka susun sejauh ini.

Tiara mengatakan pada tim bahwa ada kemungkinan Reynaldi mencari keberadaan Michelle untuk dijadikan senjata. Mendengar perkataan Tiara tersebut, seketika membuka lebar jalan pikiran semua orang yang ada di ruangan itu. Satu minggu lalu, tim mereka berhasil menemukan bahwa Reynaldi sengaja memanpulasi para pemegang saham Harapan Jaya untuk menarik saham mereka. Reynaldi sudah mengetahui bahwa bukti kematian Michelle Taninka Sinaga adalah pernyataan palsu dan Aryo berada di balik semua itu. Penjahat kelas kakap sekelas Reynaldi tidak mungkin berpikiran dangkal dan melepaskan targetnya dengan begitu mudah.

Pupil mata Aryo yang menatap Tiara, bergerak ke kanan dan kiri, menandakan bahwa pria itu kini sedang gelisah. Genggaman tangannya di tangan Tiara pun mengerat. Aryo berusaha menampik pemikiran buruk yang baru saja terlintas di benaknya. Sebuah pemikiran bahwa Reynaldi bisa saja menargetkan Tiara untuk mengancam titik terlemah tim mereka. Kemungkinan terburuknya adalah Reynaldi menemukan fakta bahwa Tiara adalah Michelle Taninka Sinaga. Kalau sampai hal tersebut terjadi, maka mereka harus siap menerima boomerang yang akan dilemparkan oleh Reynaldi.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Reynaldi menatap satu persatu orang-orang yang telah bekerja lama untuknya. Sesaat kemudian, menggunakan satu tangannya, ia memasukkan sebuah rudal ke loading peluru. Jemarinya hampir saja menarik pelatuk pistol dan mengarahkannya pada deretan botol-botol kaca berisi minuman mahal di ruangannya. Namun pria itu mengurungkan niatnya, ia menjauhkan kembali jarinya dan meletakkan senjatanya di atas meja.

Sebuah senyum picik tercetak di wajah Reynaldi, “Saya mau apa pun caranya, bukti itu sampai ke tangan saya,” ujarnya.

Sang kepala bodyguard memutuskan angkat bicara ketika tidak ada satu orang pun yang berani membuka mulut. “Tapi Bos, bagaimana caranya? Bukti itu sudah ada di tangan Rudi,” ujar pria berusia kisaran 30 tahun itu.

“Seorang petarung tidak akan mundur, bahkan sebelum perang dimulai,” ujar Reynaldi. “Siapkan semua senjata terbaik yang kita punya di markas. Kita perlu menyusun rencana,” tukas Reynaldi.

***

Markas Polisi

“Reynaldi udah sepakat untuk bertemu. 3 hari lagi, ini lokasi pertemuannya,” ujar Rudi sambil menunjukkan sebuah lokasi melalui layar laptopnya.

Di samping Rudi, Bagas membuka sebuah gulungan karton tebal di atas meja panjang di hadapan mereka. “Ini mind mapping untuk rencana kita,” ujar Bagas. “Akan ada tiga tim. Langkah yang pertama, dua kubu akan bertemu dan pasukan kita bergerak untuk menahan pasukan Reynaldi, supaya dia nggak punya back up untuk melawan atau kabur. Setelah itu, tim kita yang lain akan kasih salinan buktinya dan tepat saat itu, pasukan polisi siap mengeksekusi target,” ujar Bagas menjelaskan rencana yang akan mereka lakukan.

“Sesuai rencana awal kita, Reynaldi berhasil terhasut dan masuk ke perangkap,” ujar Akmal yang diangguki oleh semua orang yang ada di sana.

Tiara yang berada di samping kanan Aryo menoleh dan menatap suaminya. Tiara memerhatikan Aryo yang nampak tidak setuju dengan ucapan Akmal barusan. Pria itu menghela napas pelan sembelum berujar, “Gue pikir Reynaldi emang udah terhasut. Tapi gue curiga dia nyiapin back up plan. Nggak mungkin Reynaldi menyerah cuma-cuma dan datang ke tempat pertemuan tanpa persiapan apapun,” ujar Aryo.

Semua pasang mata mengarahkan tatapan mereka ke arah Aryo. Risa dan Aurorae pun mengangguk setuju atas ucapan pria itu. “Yang Aryo bilang ada benarnya. Gue tau Reynaldi orang yang seperti apa. Dari dulu, dia udah berambisi untuk menguasai perusahaan. Karena dia nggak punya keturunan dari pernikahannya, dia bertekad membuat perusahaan ada di genggaman tangannya,” jelas Risa.

“Jadi apa yang harus kita lakuin untuk mengantisipasi ini?” tanya Bagas.

“Kita harus tau lebih dulu. Kira-kira apa kelemahan tim kita yang bisa dijadiin sasaran empuk Reynaldi untuk nyerang kita balik,” ujar Risa.

Rudi setuju dengan perkataan Risa. “Sekarang Reynaldi menjadikan kita sebagai musuh besarnya. Tapi dia nggak mungkin menyerang satu persatu dari kita, itu cuma akan membuang waktunya. Pasti dia punya satu yang akan dia jadikan target,” ucap Rudi. Semua yang ada di sana seketika berpikir keras akan kemungkinan yang bisa dilakukan oleh Reynaldi untuk melempar serangan balik.

Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di dalam benak Tiara. Ia mengambil tangan Aryo di sampingnya dan mengenggamnya. “Aryo,” ujar Tiara dengan nada suaranya yang seperti tertahan di tenggorokan. Aryo mendapati Tiara menatapnya dengan tatapan getir.

“Ra, kenapa?” tanya Aryo dan pikirannya pun mulai terasa kacau. Di dalam kepalanya, seperti ada sebuah sirine pengingat akan sebuah bom waktu, yang kapan saja bisa meledak dan menghancurkan semua recana yang telah tim mereka susun sejauh ini.

Tiara mengatakan pada tim bahwa ada kemungkinan Reynaldi mencari keberadaan Michelle untuk dijadikan senjata. Mendengar perkataan Tiara tersebut, seketika membuka lebar jalan pikiran semua orang yang ada di ruangan itu. Satu minggu lalu, tim mereka berhasil menemukan bahwa Reynaldi sengaja memanpulasi para pemegang saham Harapan Jaya untuk menarik saham mereka. Reynaldi sudah mengetahui bahwa bukti kematian Michelle Taninka Sinaga adalah pernyataan palsu dan Aryo berada di balik semua itu. Penjahat kelas kakap sekelas Reynaldi tidak mungkin berpikiran dangkal dan melepaskan targetnya dengan begitu mudah.

Pupil mata Aryo yang menatap Tiara, bergerak ke kanan dan kiri, menandakan bahwa pria itu kini sedang gelisah. Genggaman tangannya di tangan Tiara pun mengerat. Aryo berusaha menampik pemikiran buruk yang baru saja terlintas di benaknya. Sebuah pemikiran bahwa Reynaldi bisa saja menargetkan Tiara untuk mengancam titik terlemah dari tim mereka. Kemungkinan terburuknya adalah Reynaldi menemukan fakta bahwa Tiara adalah Michelle Taninka Sinaga. Kalau sampai hal tersebut terjadi, maka mereka harus siap menerima boomerang yang akan dilemparkan oleh Reynaldi.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo Tiara Kissing