alyadara

Pandangan Aryo sedari tadi hanya tertuju pada pintu UGD di hadapannnya. Ia tidak dapat berpikir jernih untuk saat ini. Di dalam kepalanya berkecamuk segala macam kemungkinan yang dapat terjadi pada Tiara dan bayinya.

Beberapa bodyguard yang sedang bersamanya sedari tadi, urung mengatakan sepatah kata pun. Baru kali ini mereka melihat atasan mereka dalam kondisi seperti sekarang. Aryo nampak kacau, pria itu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi setelah mengetahui penyebab Tiara datang ke rumah. Ada yang menyadap nomor handphone-nya dan mengirim pesan pesan untuk memanipulasi Tiara datang ke rumah, tepat di hari pertemuan kedua kubu.

Dari jarak beberapa meter, Rama berdiri mematung sambil menatap ke arah Aryo. Setelah menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit, Rama akan mencoba untuk menenangkan atasan sekaligus sahabatnya itu.

“Ram, ini semua salah gue. Tiara kayak gini gara-gara gue,” ujar Aryo dengan nada lirihnya. Kedua mata Aryo memerah, tatapannya memancarkan amarah dan kesedihan secara bersamaan.

“Yo, lo jangan mikir kayak gitu. Di dalam istri sama anak lo lagi berjuang, dan lo adalah kekuatan mereka. Lo harus yakin semuanya bakal baik-baik aja,” ucap Rama.

Di tengah-tengah kekalutan Aryo, pria itu mendapati papa dan mamanya berada di sana.

“Mama sama papa udah tau semuanya. Ke-kenapa kamu nggak cerita ...” ujar Felicia dengan nada suara getirnya.

“Mah, ma-maafin Aryo,” ujar Aryo yang mendapati tatapan kecewa dari tatapan Felicia. “Aryo sama Tiara nggak ingin buat Mama dan Papa khawatir. Kita berniat ngasih tau semuanya saat keadaannya membaik,” lanjut Aryo.

“Mah, sudah ya. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Aryo dan Tiara,” ujar Edi berusaha menenangkan istrinya.

“Dengan Bapak Aryo Bimo?” ujar sebuah suara yang seketika membuat semua orang di sana menoleh.

Aryo lantas berdiri dari duduknya, “Saya sendiri Dok,” ujarnya.

“Baik, Bapak. Boleh minta waktunya untuk bicara?” lanjut dokter di hadapannya. Dokter yang menangani Tiara itu mengatakan bahwa penanganan telah selesai di lakukan. Pihak keluarga yang merupakan suami dari pasien akan diberi penjelasan oleh dokter.

***

Aryo menemui Tiara di ruang rawatnya, setelah beberapa saat lalu ia berbicara dengan dokter mengenai kondisi istri dan bayinya. Tiara masih belum bangun dari tidurnya karena pengaruh obat yang diberikan untuk meredakan rasa sakit yang dialaminya.

Aryo mengarahkan tangannya untuk mengambil tangan Tiara dan menggenggamnya. Ia melayangkan tatapannya pada paras terlelap yang menjadi pusat hidupnya, yang beberapa jam lalu telah membuatnya luluh lantak.

“Tiara,” ujar Aryo dengan nada suaranya yang bergetar. “Aku hampir aja kehilangan duniaku. Semua yang aku punya di hidupku, akan percuma kalau tanpa kehadiran kamu,” lanjut Aryo sembari menundukkan kepalanya, lalu ia menciumi punggung tangan Tiara dan merasakan air mata mengalir membasahi wajahnya.

“Aryo,” sapa sebuah suara yang terdengar lirih. Aryo mengangkat kepalanya dan mendapati Tiara telah membuka matanya. Sebuah air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata Tiara, wanitanya terisak pilu dan Aryo berusaha menenangkannya.

“Ra, kamu tenang dulu ya,” ujar Aryo ketika Tiara meronta-ronta dan berteriak di dalam dekapannya.

“Aryo ... gimana bayi kita? Dia baik-baik aja kan ...?” racau Tiara diiiringi ekspresi khawatir dan takut di wajahnya.

Aryo menghela pelukannya pada torso Tiara, tangannya dengan telaten mengusap peluh dan air mata di wajah istrinya sebelum berujar. “Bayi kita baik-baik aja, Ra. Dia kuat dan hebat banget, kayak mamanya,” ujar Aryo.

“Mama sama papa tadi datang dan mereka udah tau semuanya.”

“Gimana reaksi mama dan papa?”

“Mama sempat marahin aku karena nggak ngasih tau keberadaan cucu pertamanya. Papa lumayan shock waktu tau apa aja yang udah dilakuin oleh kakak kandungnya sendiri.”

“Aryo,” ujar Tiara.

“Iya, Sayang?'”

“Mama dimana? Aku mau ketemu sama mama,” ujar Tiara.

***

Felicia menatap menantunya dengan tatapan hangat dan mengenggam tangannya. Ketika pandangannya beralih pada Aryo di sofa ruang rawat, tatapannya berubah jutek.

“Aryo, tugas kamu sekarang jagain istri dan anak kamu yang bener. Mama nggak toleransi apapun lagi yang bisa membahayakan menantu Mama ya,” ujar Felicia.

“Iya Mamahku, Sayang,” ujar Aryo yang lantas menurunkan kakinya dan berjalan ke arah dua perempuan yang dicintainya itu.

“Kalau perlu, tambah bodyguard buat jaga di depan ruangan,” tambah Felicia.

“Masalahnya pihak rumah sakit nggak bolehin itu, Mah. Tapi Mama tenang aja, oke? Aryo di sini jagain Tiara dua puluh empat jam per tujuh,” ucap Aryo.

Tiara yang memerhatikan tingkah Aryo di hadapan Felicia itu lantas tersenyum kecil.

“Ra, liat nih. Masa dari tadi Mama marahin aku, padahal aku udah minta maaf,” adu Aryo pada Tiara dengan nada manjanya. Pria jangkung itu menyandarkan kepalanya di bahu Tiara, meminta istrinya untuk mengusapnya halus di sana.

“Tiara, pokoknya kalau ada apa-apa, atau Aryo pergi-pergi lagi ninggalin kamu. Kamu bilang ke Mama ya, Sayang.”

Tiara mengangguk, “Mah, makasih ya.”

Anything, Sayang. Besok Mama ke sini lagi sama bunda kamu.”

“Terima kasih Mamaku Sayang. Kalau Mama kesini, Aryo bisa tidur dulu. Aku nggak khawatir lagi, kamu nggak ada yang jagain,” ucap Aryo sembari menampakkan cengirannya.

***

Aryo mengantar mama dan papanya pulang sampai di depan ruangan rawat Tiara. Jam berkunjung sudah habis sehingga mengharuskan pengunjung untuk pulang. Tiara telah tidur beberapa menit yang lalu dan orang tuanya memutukskan untuk pamit.

“Kamu sama Tiara nggak akan cerai kan, Aryo?” tanya Felicia.

“Aryo dan Tiara nggak akan bercerai, Mah, Pah. Awalnya Tiara memang meminta pisah sama Aryo. Ini hal yang sangat berat buat Tiara, bayang-bayang masa lalu itu akan selalu ada di memorinya,” ujar Aryo.

Edi menatap putra sematawayangnya, lalu menepuk pundaknya. “Aryo, kamu harus tau. Apa yang kamu lakukan telah sangat berarti bagi Tiara. Begitu seharusnya yang dilakukan dua orang yang saling mencintai,” tutur Edi.

Aryo mengangguk, “Pah, mungkin semuanya nggak akan sama lagi. Soal perusahaan dan keluarga kita,” ujar Aryo.

“Kamu tenang aja. Sekarang kamu dan Tiara fokus dulu ke calon anak kalian. Soal kasus itu dan perusahaan, Papa akan pastikan Reynaldi mendapat balasan sepadan perbuatannya,” ucap Edi.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sesuai perkataannya, dalam waktu 10 menit Aryo sudah tiba di rumahnya. Aryo melewati jalur tersembunyi yang memang dimiliki oleh rumahnya, setelah Egha memberi tahu titik keberadaan Tiara. Aryo mempersiapkan senjata yang dibawanya, ia memasukkan peluru berkuatan besar ke loading peluru.

Gun 1

Sesampainya Aryo di lantai 3, ia tidak bisa langsung menemui Tiara dan melawan Reynaldi begitu saja, karena saat ini keselamatan Tiara adalah taruhannya. Aryo bersumpah tidak akan membiarkan Reynaldi menyentuh istrinya seujung kukunya sekalipun.

Aryo mengamati keadaan sekitar dari posisinya saat ini. Keberadaannya tidak boleh diketahui oleh Reynaldi sebelum dirinya berhasil sampai di dekat Tiara.

“Kamu lihat kan? Perasaan cinta cuma akan buat kamu lemah. Semua usaha kalian akan sia-sia hari ini,” ujar Reynaldi di hadapan Tiara. Di belakangnya, Elnino menyusul Omnya itu dan menyerahkan sebuah pistol ke tangannya.

Tiara menatap Reynaldi dengan tatapan nyalangnya. Rasa amarah belasan tahun yang singgah di dalam hatinya, kini telah menghancurkan semua rasa takut yang ia sebelumnya ia miliki. Reynaldi Brodjohujodyo, kini berdiri di depannya dan Tiara bukanlah gadis kecil yang hanya bisa menangis seperti sebelas tahun lalu.

Tiara menatap Reynaldi tepat di manik matanya. Tatapan itu seperti mata pisau tajam yang siap menghunus siapa pun yang melihatnya. “Anda salah besar, Reynaldi Brodjohujodyo. Bagaimana Anda bisa bicara soal cinta. Kalau perasaan setulus dan sesuci itu tidak pernah Anda rasakan, di dalam hati Anda sendiri,” ujar Tiara sambil pandangannya tidak lepas dari Reynaldi.

Sebagian dari dalam diri Reynaldi membenarkan perkataan yang dilontarkan oleh Tiara, membuat ego yang menempati posisi paling tinggi miliknya tersentil.

“Hati-hati dengan apa yang kamu katakan, Tiara. Oh, tidak, Michelle.” Reynaldi menatap Tiara sambil tersenyum tipis, “Saya pastikan kamu akan menyesal karena telah membuat Aryo melawan Om nya sendiri.”

Drop your gun now,” ujar Egha ketika melihat Reynaldi mengangkat pistolnya dan bersiap untuk menarik pelatuknya.

I said drop your gun now,” lanjut Egha sambil matanya tidak lepas mengawasi situasi di sekitarnya. Anak buah di belakangnya ia perintahkan untuk tidak menyerang dahulu karena kapan saja Reynaldi bisa menarik pelatuknya dan itu akan beresiko tinggi bagi Tiara.

“Om berniat membuat Aryo menyesal, benar? Then do it by yourself, right know,” ujar sebuah suara bariton yang seketika membuat Reynaldi melihat ke arah sosok itu. Tiara, Egha dan beberapa orang yang ada di sana terkejut kala mendapati keberadaan Aryo di antara mereka, terlebih pria itu datang dengan tangan kosong.

“Kamu memilih menghancurkan keluarga kamu sendiri hanya untuk dia? Seharusnya orang tua kamu malu. Kamu nggak pernah jadi kebanggaan di keluarga kita,” ujar Reynaldi pada Aryo.

Aryo mengernyitkan alisnya diiringi tawa rendahnya. “You don't even deserve to said about family with that mouth,” ujar Aryo dengan penekanan di setiap kata-katanya, tapi nadanya tetap terdengar tenang dan ekspresi wajahnya sedamai air di danau.

“Aryo akan pastikan Om mendapat balasan dari semua perbuatan yang telah Om lakukan,” sambung Aryo. Aryo mengetahui satu kelemahan dari Reynaldi, yakni fakta bahwa Om nya itu begitu mudah untuk disentil egonya.

Reynaldi lantas mengarahkan pistolnya ke arah Tiara, ia membidik Tiara sebagai sasaran tembaknya. Namun tepat sebelum itu terjadi, Aryo bergerak cepat untuk melindungi Tiara. Egha dan anak buahnya serempak mengarahkan senjata mereka pada pasukan Reynaldi.

Suara tembakan dari pistol Reynaldi terdengar begitu kencang menggelegar di seluruh penjuru lantai 3. Tiara yang berada di dekapan Aryo tidak merasakan rasa sakit sedikit pun. Mata Tiara melebar dan menatap Aryo di hadapannya dengan pandangan nanar bercampur khawatir.

Tiara terisak di dalam dekapan Aryo “What's on your mind? Are you crazy?” tangis Tiara pecah saat itu juga membayangkan hal terburuk yang terjadi. Aryo tidak mengatakan apapun, ia hanya mengeratkan pelukannya di torso Tiara. Satu tangan Aryo yang bebas mengambil pistol dari saku jaketnya, menarik pelatuknya dan langsung mengarahkannya pada Reynaldi.

Gun 2

Tiara menutup matanya dalam dekapan Aryo, ia hanya mendengar pria itu menembak berkali-kali. Hingga beberapa saat kemudian Tiara menangkap suara pecahan guci dan dinding kaca besar yang terdapat di lantai tiga.

Terjadi pertempuran yang sengit antara tim Aryo dan Reynaldi dengan durasi yang cukup lama. Tepat ketika Reynaldi hendak melarikan diri, tim polisi sampai di sana dan melumpuhkan langkah Reynaldi dengan menembak tepat di kaki kiri pria itu. Reynaldi terjatuh dan merintih kesakitan saat tangannya harus bersentuhan dengan pecahan kaca di lantai.

“Letakkan senjata Anda sekarang,” perintah salah satu polisi yang ada di sana. Mereka langsung bergerak untuk menangkap Reynaldi dan juga beberapa anak buahnya. Selain itu Elnino juga ditahan karena mendapat dugaan membantu tersangka melakukan percobaan pembunuhan terhadap Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo.

Rudi menghampiri Aryo dan Tiara. Pria itu mengatakan semua bukti telah di serahkan ke pihak berwenang dan kasus akan langsung di proses menggunakan jalur hukum.

“Om, terima kasih banyak untuk semuanya. Tanpa Om mungkin kita nggak bisa mengungkap kasus ini,” ujar Aryo kepada Rudi.

“Sama-sama. Kamu juga udah berjuang sampai sejauh ini,” balas Rudi sambil menepuk pundak Aryo.

“Ra, I'm oke. Aku nggak kena pelurunya,” ujar Aryo memberitahu Tiara. Aryo sudah mengantisipasi dengan menggunakan jaket anti peluru di dalam kemejanya.

“Kenapa kamu nggak bilang? Kamu bikin aku panik tau nggak,” ujar Tiara diiringi helaan napas panjang yang lolos dari bibirnya.

“Tiara, ka-kamu berdarah ... ?” ujar Aryo sambil memerhatikan sebuah cairan berwarna merah yang mengalir di betis polos Tiara sampai ke pergelangan kakinya.

Tiara tidak menyadari rasa sakit yang mungkin saja sudah sedari tadi menyerangnya. Kini saat sebuah darah mengalir membanjiri kakinya, Tiara baru merasakan bagian perutnya keram dan seketika sekujur tubuhnya menegang. Rasa sakit tersebut begitu luar biasa sampai Tiara tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata dari bibirnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sesuai perkataannya, dalam waktu 10 menit Aryo sudah tiba di rumahnya. Aryo melewati jalur tersembunyi yang memang dimiliki oleh rumahnya, setelah Egha memberi tahu titik keberadaan Tiara. Aryo mempersiapkan senjata yang dibawanya, ia memasukkan peluru berkuatan besar ke loading peluru.

Gun 1

Sesampainya Aryo di lantai 3, ia tidak bisa langsung menemui Tiara dan melawan Reynaldi begitu saja, karena saat ini keselamatan Tiara adalah taruhannya. Aryo bersumpah tidak akan membiarkan Reynaldi menyentuh istrinya seujung kukunya sekalipun.

Aryo mengamati keadaan sekitar dari posisinya saat ini. Keberadaannya tidak boleh diketahui oleh Reynaldi sebelum dirinya berhasil sampai di dekat Tiara.

“Kamu lihat kan? Perasaan cinta cuma akan buat kamu lemah. Semua usaha kalian akan sia-sia hari ini,” ujar Reynaldi di hadapan Tiara. Di belakangnya, Elnino menyusul Omnya itu dan menyerahkan sebuah pistol ke tangannya.

Tiara menatap Reynaldi dengan tatapan nyalangnya. Rasa amarah belasan tahun yang singgah di dalam hatinya, kini telah menghancurkan semua rasa takut yang ia sebelumnya ia miliki. Reynaldi Brodjohujodyo, kini berdiri di depannya dan Tiara bukanlah gadis kecil yang hanya bisa menangis seperti sebelas tahun lalu.

Tiara menatap Reynaldi tepat di manik matanya. Tatapan itu seperti mata pisau tajam yang siap menghunus siapa pun yang melihatnya. “Anda salah besar, Reynaldi Brodjohujodyo. Bagaimana Anda bisa bicara soal cinta. Kalau perasaan setulus dan sesuci itu tidak pernah Anda rasakan, di dalam hati Anda sendiri,” ujar Tiara sambil pandangannya tidak lepas dari Reynaldi.

Sebagian dari dalam diri Reynaldi membenarkan perkataan yang dilontarkan oleh Tiara, membuat ego yang menempati posisi paling tinggi miliknya tersentil.

“Hati-hati dengan apa yang kamu katakan, Tiara. Oh, tidak, Michelle.” Reynaldi menatap Tiara sambil tersenyum tipis, “Saya pastikan kamu akan menyesal karena telah membuat Aryo melawan Om nya sendiri.”

Drop your gun now,” ujar Egha ketika melihat Reynaldi mengangkat pistolnya dan bersiap untuk menarik pelatuknya.

I said drop your gun now,” lanjut Egha sambil matanya tidak lepas mengawasi situasi di sekitarnya. Anak buah di belakangnya ia perintahkan untuk tidak menyerang dahulu karena kapan saja Reynaldi bisa menarik pelatuknya dan itu akan beresiko tinggi bagi Tiara.

“Om berniat membuat Aryo menyesal, benar? Then do it by yourself, right know,” ujar sebuah suara bariton yang seketika membuat Reynaldi melihat ke arah sosok itu. Tiara, Egha dan beberapa orang yang ada di sana terkejut kala mendapati keberadaan Aryo di antara mereka, terlebih pria itu datang dengan tangan kosong.

“Kamu memilih menghancurkan keluarga kamu sendiri hanya untuk dia? Seharusnya orang tua kamu malu. Kamu nggak pernah jadi kebanggaan di keluarga kita,” ujar Reynaldi pada Aryo.

Aryo mengernyitkan alisnya diiringi tawa rendahnya. “You don't even deserve to said about family with that mouth,” ujar Aryo dengan penekanan di setiap kata-katanya, tapi nadanya tetap terdengar tenang dan ekspresi wajahnya sedamai air di danau.

“Aryo akan pastikan Om mendapat balasan dari semua perbuatan yang telah Om lakukan,” sambung Aryo. Aryo mengetahui satu kelemahan dari Reynaldi, yakni fakta bahwa Om nya itu begitu mudah untuk disentil egonya.

Reynaldi lantas mengarahkan pistolnya ke arah Tiara, ia membidik Tiara sebagai sasaran tembaknya. Namun tepat sebelum itu terjadi, Aryo bergerak cepat untuk melindungi Tiara. Egha dan anak buahnya serempak mengarahkan senjata mereka pada pasukan Reynaldi.

Suara tembakan dari pistol Reynaldi terdengar begitu kencang menggelegar di seluruh penjuru lantai 3. Tiara yang berada di dekapan Aryo tidak merasakan rasa sakit sedikit pun. Mata Tiara melebar dan menatap Aryo di hadapannya dengan pandangan nanar bercampur khawatir.

Tiara terisak di dalam dekapan Aryo “What's on your mind? Are you crazy?” tangis Tiara pecah saat itu juga membayangkan hal terburuk yang terjadi. Aryo tidak mengatakan apapun, ia hanya mengeratkan pelukannya di torso Tiara. Satu tangan Aryo yang bebas mengambil pistol dari saku jaketnya, menarik pelatuknya dan langsung mengarahkannya pada Reynaldi.

Gun 2

Tiara menutup matanya dalam dekapan Aryo, ia hanya mendengar pria itu menembak berkali-kali. Hingga beberapa saat kemudian Tiara menangkap suara pecahan guci dan dinding kaca besar yang terdapat di lantai tiga.

Terjadi pertempuran yang sengit antara tim Aryo dan Reynaldi dengan durasi yang cukup lama. Tepat ketika Reynaldi hendak melarikan diri, tim polisi sampai di sana dan melumpuhkan langkah Reynaldi dengan menembak tepat di kaki kiri pria itu. Reynaldi terjatuh dan merintih kesakitan saat tangannya harus bersentuhan dengan pecahan kaca di lantai.

“Letakkan senjata Anda sekarang,” perintah salah satu polisi yang ada di sana. Mereka langsung bergerak untuk menangkap Reynaldi dan juga beberapa anak buahnya. Selain itu Elnino juga ditahan karena mendapat dugaan membantu tersangka melakukan percobaan pembunuhan terhadap Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo.

Rudi menghampiri Aryo dan Tiara. Pria itu mengatakan semua bukti telah di serahkan ke pihak berwenang dan kasus akan langsung di proses menggunakan jalur hukum.

“Om, terima kasih banyak untuk semuanya. Tanpa Om mungkin kita nggak bisa mengungkap kasus ini,” ujar Aryo kepada Rudi.

“Sama-sama. Kamu juga udah berjuang sampai sejauh ini,” balas Rudi sambil menepuk pundak Aryo.

“Ra, I'm oke. Aku nggak kena pelurunya,” ujar Aryo memberitahu Tiara. Aryo sudah mengantisipasi dengan menggunakan jaket anti peluru di dalam kemejanya.

“Kenapa kamu nggak bilang? Kamu bikin aku panik tau nggak,” ujar Tiara diiringi helaan napas panjang yang lolos dari bibirnya.

“Tiara, ka-kamu berdarah ... ?” ujar Aryo sambil memerhatikan sebuah cairan berwarna merah yang mengalir di betis polos Tiara sampai ke pergelangan kakinya.

Tiara tidak menyadari rasa sakit yang mungkin saja sudah sedari tadi menyerangnya. Kini saat sebuah darah mengalir membanjiri kakinya, Tiara baru merasakan bagian perutnya keram dan seketika sekujur tubuhnya menegang. Rasa sakit tersebut begitu luar biasa sampai Tiara tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata dari bibirnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sesuai perkataan Aryo, dalam waktu 10 menit ia sudah tiba di rumahnya untuk menyelamatkan Tiara. Aryo melewati jalur tersembunyi yang memang dimiliki oleh rumahnya, setelah Egha memberi tahu titik keberadaan Tiara. Aryo mempersiapkan senjata yang dibawanya, ia memasukkan peluru berkuatan besar ke loading peluru.

Gun 1

Sesampainya Aryo di lantai 3, ia tidak bisa langsung menemui Tiara dan melawan Reynaldi begitu saja, karena aruhannya saat ini adalah keselamatan Tiara. Aryo bersumpah tidak akan membiarkan Reynaldi menyentuh istrinya seujung kukunya sekalipun.

Aryo mengamati keadaan sekitar dari posisinya saat ini. Keberadaannya tidak boleh diketahui oleh Reynaldi sampai ia berhasil sampai di dekat Tiara.

“Kamu lihat kan? Perasaan cinta cuma akan buat kamu lemah. Usaha kalian, semuanya akan sia-sia hari ini,” ujar Erlangga di hadapan Tiara. Di belakangnya, Elnino menyusul Omnya dan menyerahkan sebuah pistol ke tangannya.

Tiara menatap Reynaldi dengan tatapan nyalangnya. Rasa amarah belasan tahun yang singgah di dalam hatinya kini telah menghancurkan semua rasa takut yang ia sebelumnya ia miliki. Reynaldi Brodjohujodyo, kini berdiri di hadapannya dan Tiara bukanlah gadis kecil yang cuma bisa menangis seperti kala itu.

Tiara menatap Reynaldi tepat di manik matanya, tatapan it uterasa menghunus siapa pun yang melihatnya. “Anda salah besar, Reynaldi Brodjohujodyo. Gimana bisa Anda bicara soal cinta. kalau perasaan setulus dan sesuci itu nggak pernah Anda rasakan, di dalam hati Anda sendiri,” ujar Tiara sambil pandangannya tidak lepas dari Reynaldi.

Mendengar perkataan yang dilontarkan Tiara, seketika membuat ego paling dalam milik Reynaldi tersentil.

“Hati-hati dengan apa yang kamu katakan, Tiara. Oh, tidak, Michelle.” Reynaldi menatap Tiara sambil tersenyum tipis, “Saya pastikan kamu akan menyesal karena telah membuat suami kamu melawan Om nya sendiri.”

Drop your gun now,” ujar Egha ketika melihat Reynaldi mengangkat pistolnya dan bersiap menarik pelatuknya.

I said drop your gun now,” lanjut Egha sambil matanya tidak lepas mengawasi situasi. Anak buah di belakangnya ia perintahkan untuk tidak menyerang dahulu karena kapan saja Reynaldi bisa menarik pelatuknya dan itu akan beresiko bagi Tiara.

“Om berniat membuat Aryo menyesal, benar? Then do it by yourself, right know,” sapa suara bariton yang membuat Reynaldi seketika melihat ke arah sosok yang berjalan ke arahnya. Tiara, Egha dan beberapa orang yang ada di sana terkejut kala mendapati keberadaan Aryo di sana terlebih dengan tangan kosong.

“Kamu memilih menghancurkan keluarga kamu sendiri demi dia? Seharusnya orang tua kamu malu. Kamu nggak pernah jadi kebanggaan di keluarga kita,” ujar Reynaldi pada Aryo.

Aryo mengernyitkan alisnya diiringi tawa rendahnya dan dua detik setelahnya pria itu kembali ke ekspresi datarnya. “You don't even deserve to said about family with that mouth,” ujar Aryo dengan penekanan di setiap kata-katanya.

“Aryo akan pastikan Om dapatin balasan dari semua perbuatan yang telah Om lakukan,” sambung Aryo. Aryo tahu satu kelemahan dari Reynaldi, yakni sebuah fakta bahwa Om nya itu mudah disentil egonya.

Reynaldi lantas mengarahkan pistolnya ke arah Tiara, ia membidik Tiara sebagai sasaran tembaknya. Namun tepat sebelum itu terjadi, Aryo bergerak cepat untuk melindungi Tiara. Egha dan anak buahnya serempak mengarahkan senjata mereka pada pasukan Reynaldi.

Suara tembakan dari pistol Reynaldi yang begitu kencang menggelegar di seluruh penjuru lantai 3. Tiara yang berada di dekapan Aryo tidak merasakan sakit sedikit pun. Matanya melebar dan menatap Aryo di hadapannya dengan pandangan nanar bercampur khawatir.

Tiara terisak di dalam dekapan Aryo “What's on your mind? Are you crazy?” tangis Tiara pecah saat itu juga. Aryo tidak mengatakan apapun, ia mengeratkan pelukannya di torso Tiara. Satu tangan Aryo yang bebas mengambil pistol dari saku jaketnya, menarik pelatuknya dan langsung mengarahkannya pada Reynaldi.

Gun 2

Tiara menutup matanya dalam dekapan Aryo, ia hanya mendengar pria itu menembak berkali-kali sampai beberapa saat kemudian Tiara menangkap suara pecahan guci dan dinding kaca besar di lantai tiga.

Terjadi pertempuran yang engit antara tim Aryo dan Reynaldi. Tepat saat Reynaldi akan melarikan diri, tim polisi sampa di sana dan melumpuhkan langkah Reynaldi dengan menembak tepat di kaki kiri pria itu. Reynaldi terjatuh dan merintih kesakitan saat tangannya yang harus bersentuhan dengan pecahan kaca di lantai.

“Letakkan senjata Anda sekarang,” perintah salah satu polisi yang ada di sana. Mereka langsung bergerak untuk menangkap Reynaldi dan juga beberapa anak buahnya. Selain itu Elnino juga ditahan karena mendapat dugaan dalam hal membantu tersangka melakukan percobaan pembunuhan terhadap Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo.

Rudi menemui Aryo dan Tiara. Pria itu mengatakan semua bukti telah di serahkan ke badan RESKRIM dan kasus langsung di proses menggunakan jalur hukum.

“Om, terima kasih banyak. Tanpa Om mungkin kita nggak bisa mengungkap kasus ini,” ujar Aryo pada Rudi.

“Sama-sama. Kamu juga udah berjuang sampai sejauh ini,” balas Rudi.

“Ra, i'm okey. Aku nggak kena pelurunya, aku pakai jaket anti peluru,” ujar Aryo memberitahu Tiara.

“Kenapa kamu nggak bilang? Kamu bikin aku panik tau nggak,” ujar Tiara dan seketika helaan napas panjang lolos dari bibirnya.

“Ra, ka-kamu berdarah ... ?” ujar Aryo sambil memerhatikan sebuah cairan berwarna merah mengalir di betis polos Tiara sampai ke pergelangan kakinya.

Tiara tidak menyadari rasa sakit yang mungkin saja sudah dari tadi menyerangnya. Kini saat sebuah darah mengalir membanjiri kakinya, Tiara merasakan perutnya keram dan seketika sekujur tubuhnya menegang dan merasakan sakit yang luar biasa.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sesuai perkataan Aryo, dalam waktu 10 menit ia sudah tiba di rumahnya untuk menyelamatkan Tiara. Aryo melewati jalur tersembunyi yang memang dimiliki oleh rumahnya, setelah Egha memberi tahu titik keberadaan Tiara. Aryo mempersiapkan senjata yang dibawanya, ia memasukkan peluru berkuatan besar ke loading peluru.

Gun 1

Sesampainya Aryo di lantai 3, ia tidak bisa langsung menemui Tiara dan melawan Reynaldi begitu saja, karena aruhannya saat ini adalah keselamatan Tiara. Aryo bersumpah tidak akan membiarkan Reynaldi menyentuh istrinya seujung kukunya sekalipun.

Aryo mengamati keadaan sekitar dari posisinya saat ini. Keberadaannya tidak boleh diketahui oleh Reynaldi sampai ia berhasil sampai di dekat Tiara.

“Kamu lihat kan? Perasaan cinta cuma akan buat kamu lemah. Usaha kalian, semuanya akan sia-sia hari ini,” ujar Erlangga di hadapan Tiara. Di belakangnya, Elnino menyusul Omnya dan menyerahkan sebuah pistol ke tangannya.

Tiara menatap Reynaldi dengan tatapan nyalangnya. Rasa amarah di dalam hatinya kini telah menghancurkan segala rasa takut yang ia pikir akan menyergapnya ketika bertemu dengan Reynaldi.

“Anda salah besar. Gimana bisa Anda bicara soal cinta kalau perasaan setulus dan sesuci itu nggak pernah Anda rasakan, di dalam hati Anda,” ujar Tiara sambil pandangannya tidak lepas dari Reynaldi.

Mendengar perkataan yang dilontarkan Tiara, seketika membuat ego paling dalam milik Reynaldi tersentil.

“Hati-hati dengan apa yang kamu katakan, Tiara. Oh, tidak, Michelle.” Reynaldi menatap Tiara sambil tersenyum tipis, “Saya pastikan kamu akan menyesal karena telah membuat suami kamu melawan Om nya sendiri.”

Drop your gun now,” ujar Egha ketika melihat Reynaldi mengangkat pistolnya dan bersiap menarik pelatuknya.

I said drop your gun now,” lanjut Egha sambil matanya tidak lepas mengawasi situasi. Anak buah di belakangnya ia perintahkan untuk tidak menyerang dahulu karena kapan saja Reynaldi bisa menarik pelatuknya dan itu akan beresiko bagi Tiara.

“Om berniat membuat Aryo menyesal kan? Then do it by yourself, right know,” sapa suara bariton yang membuat Reynaldi seketika melihat ke arah sosok yang berjalan ke arahnya. Tiara, Egha dan beberapa orang yang ada di sana terkejut kala mendapati keberadaan Aryo di sana terlebih dengan tangan kosong.

“Kamu memilih menghancurkan keluarga kamu sendiri demi dia? Seharusnya orang tua kamu malu. Kamu nggak pernah jadi kebanggaan di keluarga kita,” ujar Reynaldi pada Aryo.

Aryo mengernyitkan alisnya diiringi tawa rendahnya dan dua detik setelahnya pria itu kembali ke ekspresi datarnya. “You don't even deserve to said about family with that mouth,” ujar Aryo dengan penekanan di setiap kata-katanya.

“Aryo akan pastikan Om dapatin balasan dari semua perbuatan yang telah Om lakukan,” sambung Aryo. Aryo tahu satu kelemahan dari Reynaldi, yakni sebuah fakta bahwa Om nya itu mudah disentil egonya.

Reynaldi lantas mengarahkan pistolnya ke arah Tiara, ia membidik Tiara sebagai sasaran tembaknya. Namun tepat sebelum itu terjadi, Aryo bergerak cepat untuk melindungi Tiara. Egha dan anak buahnya serempak mengarahkan senjata mereka pada pasukan Reynaldi.

Suara tembakan dari pistol Reynaldi yang begitu kencang menggelegar di seluruh penjuru lantai 3. Tiara yang berada di dekapan Aryo tidak merasakan sakit sedikit pun. Matanya melebar dan menatap Aryo di hadapannya dengan pandangan nanar bercampur khawatir.

Tiara terisak di dalam dekapan Aryo “What's on your mind? Are you crazy?” tangis Tiara pecah saat itu juga. Aryo tidak mengatakan apapun, ia mengeratkan pelukannya di torso Tiara. Satu tangan Aryo yang bebas mengambil pistol dari saku jaketnya, menarik pelatuknya dan langsung mengarahkannya pada Reynaldi.

Gun 2

Tiara menutup matanya dalam dekapan Aryo, ia hanya mendengar pria itu menembak berkali-kali sampai beberapa saat kemudian Tiara menangkap suara pecahan guci dan dinding kaca besar di lantai tiga.

Terjadi pertempuran yang engit antara tim Aryo dan Reynaldi. Tepat saat Reynaldi akan melarikan diri, tim polisi sampa di sana dan melumpuhkan langkah Reynaldi dengan menembak tepat di kaki kiri pria itu. Reynaldi terjatuh dan merintih kesakitan saat tangannya yang harus bersentuhan dengan pecahan kaca di lantai.

“Letakkan senjata Anda sekarang,” perintah salah satu polisi yang ada di sana. Mereka langsung bergerak untuk menangkap Reynaldi dan juga beberapa anak buahnya. Selain itu Elnino juga ditahan karena mendapat dugaan dalam hal membantu tersangka melakukan percobaan pembunuhan terhadap Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo.

Rudi menemui Aryo dan Tiara. Pria itu mengatakan semua bukti telah di serahkan ke badan RESKRIM dan kasus langsung di proses menggunakan jalur hukum.

“Om, terima kasih banyak. Tanpa Om mungkin kita nggak bisa mengungkap kasus ini,” ujar Aryo pada Rudi.

“Sama-sama. Kamu juga udah berjuang sampai sejauh ini,” balas Rudi.

“Ra, i'm okey. Aku nggak kena pelurunya, aku pakai jaket anti peluru,” ujar Aryo memberitahu Tiara.

“Kenapa kamu nggak bilang? Kamu bikin aku panik tau nggak,” ujar Tiara dan seketika helaan napas panjang lolos dari bibirnya.

“Ra, ka-kamu berdarah ... ?” ujar Aryo sambil memerhatikan sebuah cairan berwarna merah mengalir di betis polos Tiara sampai ke pergelangan kakinya.

Tiara tidak menyadari rasa sakit yang mungkin saja sudah dari tadi menyerangnya. Kini saat sebuah darah mengalir membanjiri kakinya, Tiara merasakan perutnya keram dan seketika sekujur tubuhnya menegang dan merasakan sakit yang luar biasa.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sesuai perkataan Aryo, dalam waktu 10 menit ia sudah tiba di rumahnya untuk menyelamatkan Tiara. Aryo melewati jalur tersembunyi yang memang dimiliki oleh rumahnya, setelah Egha memberi tahu titik keberadaan Tiara. Aryo mempersiapkan senjata yang dibawanya, ia memasukkan peluru berkuatan besar ke loading peluru.

Gun 1

Sesampainya Aryo di lantai 3, ia tidak bisa langsung menemui Tiara dan melawan Reynaldi begitu saja, karena aruhannya saat ini adalah keselamatan Tiara. Aryo bersumpah tidak akan membiarkan Reynaldi menyentuh istrinya seujung kukunya sekalipun.

Aryo mengamati keadaan sekitar dari posisinya saat ini. Keberadaannya tidak boleh diketahui oleh Reynaldi sampai ia berhasil sampai di dekat Tiara.

“Kamu lihat kan? Perasaan cinta cuma akan buat kamu lemah. Usaha kalian, semuanya akan sia-sia hari ini,” ujar Erlangga di hadapan Tiara. Di belakangnya, Elnino menyusul Omnya dan menyerahkan sebuah pistol ke tangannya.

Tiara menatap Reynaldi dengan tatapan nyalangnya. Rasa amarah di dalam hatinya kini telah menghancurkan segala rasa takut yang ia pikir akan menyergapnya ketika bertemu dengan Reynaldi.

“Anda salah besar. Gimana bisa Anda bicara soal cinta kalau perasaan setulus dan sesuci itu nggak pernah Anda rasakan, di dalam hati Anda,” ujar Tiara sambil pandangannya tidak lepas dari Reynaldi.

Mendengar perkataan yang dilontarkan Tiara, seketika membuat ego paling dalam milik Reynaldi tersentil.

“Hati-hati dengan apa yang kamu katakan, Tiara. Oh, tidak, Michelle. Saya pastikan kamu akan menyesal karena telah membuat suami kamu melawan Om nya sendiri.”

Drop your gun now,” ujar Egha ketika melihat Reynaldi mengangkat pistolnya dan bersiap menarik pelatuknya.

I said drop your gun now,” lanjut Egha sambil matanya tidak lepas mengawasi situasi. Anak buah di belakangnya ia perintahkan untuk tidak menyerang dahulu karena kapan saja Reynaldi bisa menarik pelatuknya dan itu akan beresiko bagi Tiara.

“Om berniat membuat Aryo menyesal kan? Then do it by yourself, right know,” sapa suara bariton yang membuat Reynaldi seketika melihat ke arah sosok yang berjalan ke arahnya. Tiara, Egha dan beberapa orang yang ada di sana terkejut kala mendapati keberadaan Aryo di sana terlebih dengan tangan kosong.

“Kamu memilih menghancurkan keluarga kamu sendiri demi dia? Seharusnya orang tua kamu malu. Kamu nggak pernah jadi kebanggaan di keluarga kita,” ujar Reynaldi pada Aryo.

Aryo mengernyitkan alisnya diiringi tawa rendahnya dan dua detik setelahnya pria itu kembali ke ekspresi datarnya. “You don't even deserve to said about family with that mouth,” ujar Aryo dengan penekanan di setiap kata-katanya.

“Aryo akan pastikan Om dapatin balasan dari semua perbuatan yang telah Om lakukan,” sambung Aryo. Aryo tahu satu kelemahan dari Reynaldi, yakni sebuah fakta bahwa Om nya itu mudah disentil egonya.

Reynaldi lantas mengarahkan pistolnya ke arah Tiara, ia membidik Tiara sebagai sasaran tembaknya. Namun tepat sebelum itu terjadi, Aryo bergerak cepat untuk melindungi Tiara. Egha dan anak buahnya serempak mengarahkan senjata mereka pada pasukan Reynaldi.

Suara tembakan dari pistol Reynaldi yang begitu kencang menggelegar di seluruh penjuru lantai 3. Tiara yang berada di dekapan Aryo tidak merasakan sakit sedikit pun. Matanya melebar dan menatap Aryo di hadapannya dengan pandangan nanar bercampur khawatir.

Tiara terisak di dalam dekapan Aryo “What's on your mind? Are you crazy?” tangis Tiara pecah saat itu juga. Aryo tidak mengatakan apapun, ia mengeratkan pelukannya di torso Tiara. Satu tangan Aryo yang bebas mengambil pistol dari saku jaketnya, menarik pelatuknya dan langsung mengarahkannya pada Reynaldi.

Gun 2

Tiara menutup matanya dalam dekapan Aryo, ia hanya mendengar pria itu menembak berkali-kali sampai beberapa saat kemudian Tiara menangkap suara pecahan guci dan dinding kaca besar di lantai tiga.

Terjadi pertempuran yang engit antara tim Aryo dan Reynaldi. Tepat saat Reynaldi akan melarikan diri, tim polisi sampa di sana dan melumpuhkan langkah Reynaldi dengan menembak tepat di kaki kiri pria itu. Reynaldi terjatuh dan merintih kesakitan saat tangannya yang harus bersentuhan dengan pecahan kaca di lantai.

“Letakkan senjata Anda sekarang,” perintah salah satu polisi yang ada di sana. Mereka langsung bergerak untuk menangkap Reynaldi dan juga beberapa anak buahnya, termasuk Elnino yang mendapat dugaan telah membantu tersangka dalam perencanaan percobaan pembunuhan terhadap Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo.

Rudi menemui Aryo dan Tiara. Pria itu mengatakan semua bukti telah di serahkan ke badan RESKRIM dan kasus langsung di proses menggunakan jalur hukum.

“Om, terima kasih banyak. Tanpa Om mungkin kita nggak bisa mengungkap kasus ini,” ujar Aryo pada Rudi.

“Sama-sama. Kamu juga udah berjuang sampai sejauh ini,” balas Rudi.

“Ra, i'm okey. Aku nggak kena pelurunya, aku pakai jaket anti peluru,” ujar Aryo memberitahu Tiara.

“Kenapa kamu nggak bilang? Kamu bikin aku panik tau nggak,” ujar Tiara dan seketika helaan napas panjang lolos dari bibirnya.

“Ra, are you bleeding ... ?” ujar Aryo sambil memerhatikan sebuah cairan berwarna merah mengalir di betis polos Tiara sampai ke pergelangan kakinya.

Tiara tidak menyadari rasa sakit yang mungkin saja sudah dari tadi menyerangnya. Kini saat sebuah darah mengalir membanjiri kakinya, Tiara merasakan perutnya keram dan seketika sekujur tubuhnya menegang dan merasakan sakit yang luar biasa.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Selama 3 hari sebelum pertemuan kedua belah pihak, tim Aryo melakukan berbagai persiapan. Dari mulai persenjataan, latihan antar tim satu dengan yang lainnya, serta berbagai persiapan lainnya agar rencana mereka aman dan berjalan sempurna.

Malam ini merupakan persiapan terakhir untuk pertempuran besok. Aryo mengabari Tiara bahwa ia tidak bisa pulang dan akan menginap di tempat latihan bersama anggota tim yang lainnya. Jadi Tiara memutuskan untuk menginap di rumah ayah dan bundanya malam ini.

Terdengar ketukan di pintu kamarnya dan Tiara mendapati bundanya berada di depan kamarnya. Alifia menatap putri sulungnya dengan tatapan lembut keibuannya. Alifia seolah dapat merasakan apa yang kini sedang dialami Tiara. Rasa cemas dan takut, persis seperti sebelas tahun lalu, ketika Michelle kecil di tinggalkan ayahnya.

“Bun, you know me so well,” ujar Tiara. Mereka berhadapan, duduk di tepi kasur di kamar Tiara. Alifia membawa anak perempuannya itu ke pelukan hangatnya, mengusap punggungnya lembut.

“Bunda tahu, Sayang. Rasanya pasti seperti de javu buat kamu.” Alifia mengusap surai Tiara dan setelah itu pelukan keduanya terurai.

“Bun, Tiara nggak tau lagi kalau misalnya sampai harus kehilangan Aryo.” Dari tatapan Tiara, Alifia menangkap begitu banyak luka di sana.

“Tuhan mendengar doa hambanya, Nak. Apa yang sedang kamu dan Aryo perjuangkan saat ini adalah hal yang benar. Tuhan akan membantu, kamu meyakini itu, ya. Sayang?” tutur Alifia. Setelah Tiara merasa lebih tenang, Alifia pamit untuk meninggalkan kamarnya. Tidak lupa bundanya itu mematikan lampu utama dan menyalakan lamput tidur berwarna kuning temaram, kebiasaan yang selalu perempuan itu lakukan untuk membuat Tiara merasa lebih rileks.

Ketika Alifia menutup pintu kamarnya dan menghilang di sana, Tiara mendapat sebuah notifikasi pesan dari ponselnya. Kedua alisnya pun menyatu membaca pesan yang di kirimkan Aryo padanya. Tiara mencoba untuk menelfon Aryo, tapi tidak di angkat. Akhirnya Tiara memutuskan untuk menghubungi Egha karena ia merasa harus menanyakan hal tersebut pada kepala bodyguard yang Aryo tugaskan untuk menjaga keselamatannya, khususnya selama Aryo tidak berada di sisinya.

“Halo, Egha. Gue barusan forward ke lo pesan yang Aryo kirim ke gue. Lo udah baca?” ujar Tiara di telfon.

“Saya udah baca pesan yang Non Tiara kirim,” jawab Egha di seberang sana.

“Oke. Gue mau tanya, menurut lo apa ada yang aneh dari pesan itu?”

***

Aryo in Suit to Fight

Di sebuah area dengan lapangan berumput luas dan dua buah gedung bertingkat yang tinggi menjulang, di sana kedua kubu telah sepakat untuk melakukan pertemuan.

Mereka telah dibagi menjadi 3 tim. Tim 1 akan bertugas melumpuhkan pasukan lawan, tim 2 berperan sebagai garda yang siap menangkap musuh di TKP, dan tim 3 bertugas memancing target dengan membawa bukti ke hadapannya.

Aryo berada di tim 3 bersama Erza dan Bagas. Mereka menunggu instruksi dari tim 1 sebelum memulai eksekusi. Bagas mendekatkan walky talky nya ketika sebuah suara masuk di sana.

“Team three get in now,” perintah suara dari walky talky. Bagas pun lebih dulu keluar dari tempat persembunyian mereka. Erza menyusulnya dan yang terakhir Aryo. Bagas sudah lebih dulu masuk melalui lorong yang mengarah ke basement.

“Za, nanti gue nyusul lo sama Bagas.”

“Kenapa Bos?” Erza menoleh pada Aryo dan melihat atasannya itu sedang menerima telfon dari seseorang. Aryo hanya mengatakan satu kalimat sebelum pria itu mengakhiri sambungan telfonnya.

“Tim yang jaga di rumah gue ngabarin kalau Tiara ada di sana.”

“Bukannya Non Tiara di rumah orang tuanya Bos?”

Tatapan mata Aryo berkilat dan berubah menjadi tajam, “Bajingan itu ngirim sebagian pasukannya ke rumah. Barusan Egha yang ngasih tau gue.”

***

Egha memerintah anak buahnya untuk menahan orang suruhan Reynaldi yang di kirim pria itu ke rumah. Egha telah menghubungi Aryo dan menjelaskan situasi yang terjadi. Aryo mengatakan bahwa dalam 10 menit dirinya akan sampai di rumah untuk menghabisi pasukan Reynaldi dengan tangannya sendiri.

Di lantai 3 Egha dan beberapa anggotanya telah mempersiapkan diri untuk melindungi Tiara.

“Non Tiara, saya sudah menghubungi tuan dan beliau bilang akan kesini dalam 10 menit. Ada kemungkinan pihak Reynaldi sudah menyadap nomor hp tuan untuk memanipulasi keadaan,” jelas Egha pada Tiara.

“Egha, ini semua salah gue. Harusnya gue keras kepala dengan minta minta lo anter gue ke rumah,” ucap Tiara dengan nada menyesalnya.

Egha menatap majikannya itu. “Non Tiara, ini bukan sepenuhnya kesalahan Anda,” Egha menjeda ucapannya. “Kita masih punya kesempatan untuk melawan mereka. Non Tiara percayakan pada saya dan tim yang lainnya, oke?” tutur Egha.

Beberapa detik setelahnya, tepat dari arah belakang mereka, terdengar langkah kaki dan sebuah dehaman dari suara bariton. Tiara lantas mengarahkan tatapannya pada sosok yang begitu femeliar di penglihatannya. Kini sosok itu nyata ada di hadapannya.

“Halo, Michelle Taninka,” sapa Reynaldi diiringi senyum sarkas di wajahnya. “Apa kabar? Nggak mungkin kamu lupa sama saya, kan?”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Selama 3 hari sebelum pertemuan kedua belah pihak, tim Aryo melakukan berbagai persiapan. Dari mulai persenjataan, latihan antar tim satu dengan yang lainnya, serta berbagai persiapan lainnya agar rencana mereka aman dan berjalan sempurna.

Malam ini merupakan persiapan terakhir untuk pertempuran besok. Aryo mengabari Tiara bahwa ia tidak bisa pulang dan akan menginap di tempat latihan bersama anggota tim yang lainnya. Jadi Tiara memutuskan untuk menginap di rumah ayah dan bundanya malam ini.

Terdengar ketukan di pintu kamarnya dan Tiara mendapati bundanya berada di depan kamarnya. Alifia menatap putri sulungnya dengan tatapan lembut keibuannya. Alifia seolah dapat merasakan apa yang kini sedang dialami Tiara. Rasa cemas dan takut, persis seperti sebelas tahun lalu, ketika Michelle kecil di tinggalkan ayahnya.

“Bun, you know me so well,” ujar Tiara. Mereka berhadapan, duduk di tepi kasur di kamar Tiara. Alifia membawa anak perempuannya itu ke pelukan hangatnya, mengusap punggungnya lembut.

“Bunda tahu, Sayang. Rasanya pasti seperti de javu buat kamu.” Alifia mengusap surai Tiara dan setelah itu pelukan keduanya terurai.

“Bun, Tiara nggak tau lagi kalau misalnya sampai harus kehilangan Aryo.” Dari tatapan Tiara, Alifia menangkap begitu banyak luka di sana.

“Tuhan mendengar doa hambanya, Nak. Apa yang sedang kamu dan Aryo perjuangkan saat ini adalah hal yang benar. Tuhan akan membantu, kamu meyakini itu, ya. Sayang?” tutur Alifia. Setelah Tiara merasa lebih tenang, Alifia pamit untuk meninggalkan kamarnya. Tidak lupa bundanya itu mematikan lampu utama dan menyalakan lamput tidur berwarna kuning temaram, kebiasaan yang selalu perempuan itu lakukan untuk membuat Tiara merasa lebih rileks.

Ketika Alifia menutup pintu kamarnya dan menghilang di sana, Tiara mendapat sebuah notifikasi pesan dari ponselnya. Kedua alisnya pun menyatu membaca pesan yang di kirimkan Aryo padanya. Tiara mencoba untuk menelfon Aryo, tapi tidak di angkat. Akhirnya Tiara memutuskan untuk menghubungi Egha karena ia merasa harus menanyakan hal tersebut pada kepala bodyguard yang Aryo tugaskan untuk menjaga keselamatannya, khususnya selama Aryo tidak berada di sisinya.

“Halo, Egha. Gue barusan forward ke lo pesan yang Aryo kirim ke gue. Lo udah baca?” ujar Tiara di telfon.

“Saya udah baca pesan yang Non Tiara kirim,” jawab Egha di seberang sana.

“Oke. Gue mau tanya, menurut lo apa ada yang aneh dari pesan itu?”

***

Aryo in Suit to Fight

Di sebuah area dengan lapangan berumput luas dan dua buah gedung bertingkat yang tinggi menjulang, di sana kedua kubu telah sepakat untuk melakukan pertemuan.

Mereka telah dibagi menjadi 3 tim. Tim 1 akan bertugas melumpuhkan pasukan lawan, tim 2 berperan sebagai garda yang siap menangkap musuh di TKP, dan tim 3 bertugas memancing target dengan membawa bukti ke hadapannya.

Aryo berada di tim 3 bersama Erza dan Bagas. Mereka menunggu instruksi dari tim 1 sebelum memulai eksekusi. Bagas mendekatkan walky talky nya ketika sebuah suara masuk di sana.

“Team three get in now,” perintah suara dari walky talky. Bagas pun lebih dulu keluar dari tempat persembunyian mereka. Erza menyusulnya dan yang terakhir Aryo. Bagas sudah lebih dulu masuk melalui lorong yang mengarah ke basement.

“Za, nanti gue nyusul lo sama Bagas.”

“Kenapa Bos?” Erza menoleh pada Aryo dan melihat atasannya itu sedang menerima telfon dari seseorang. Aryo hanya mengatakan satu kalimat sebelum pria itu mengakhiri sambungan telfonnya.

“Tim yang jaga di rumah gue ngabarin kalau Tiara ada di sana.”

“Bukannya Non Tiara di rumah orang tuanya Bos?”

Tatapan mata Aryo berkilat dan berubah menjadi tajam, “Bajingan itu ngirim sebagian pasukannya ke rumah. Barusan Egha yang ngasih tau gue.”

***

Egha memerintah anak buahnya untuk menahan orang suruhan Reynaldi yang di kirim pria itu ke rumah. Egha telah menghubungi Aryo dan menjelaskan situasi yang terjadi. Aryo mengatakan bahwa dalam 10 menit dirinya akan sampai di rumah untuk menghabisi pasukan Reynaldi dengan tangannya sendiri.

Di lantai 3 Egha dan beberapa anggotanya telah mempersiapkan diri untuk melindungi Tiara.

“Non Tiara, saya sudah menghubungi tuan dan beliau bilang akan kesini dalam 10 menit. Ada kemungkinan pihak Reynaldi sudah menyadap nomor hp tuan untuk memanipulasi keadaan,” jelas Egha pada Tiara.

“Egha, ini semua salah gue. Harusnya gue keras kepala dengan minta minta lo anter gue ke rumah,” ucap Tiara dengan nada menyesalnya.

Egha menatap majikannya itu. “Non Tiara, ini bukan sepenuhnya kesalahan Anda,” Egha menjeda ucapannya. “Kita masih punya kesempatan untuk melawan mereka. Non Tiara percayakan pada saya dan tim yang lainnya, oke?” tutur Egha.

Beberapa detik setelahnya, tepat dari arah belakang mereka, terdengar langkah kaki dan sebuah dehaman dari suara bariton. Tiara lantas mengarahkan tatapannya pada sosok yang begitu femeliar di penglihatannya. Kini sosok itu nyata ada di hadapannya.

“Hai, Michelle Taninka,” sapa Reynaldi diiringi senyum sarkas di wajahnya. “Apa kabar? Nggak mungkin kamu lupa sama saya, kan?”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Reynaldi menatap satu persatu orang-orang yang telah lama bekerja untuknya. Sesaat kemudian, menggunakan satu tangannya, ia memasukkan sebuah rudal ke loading peluru. Jemarinya hampir saja menarik pelatuk pistol dan mengarahkannya ke deretan botol-botol kaca berisi minuman mahal di ruangannya. Namun pria itu mengurungkan niatnya, ia menjauhkan kembali jarinya dan meletakkan pistol apinya di atas meja.

Sebuah senyum picik tercetak di wajah Reynaldi, “Saya mau apa pun caranya, bukti itu sampai ke tangan saya,” ujarnya.

Sang kepala bodyguard memutuskan untuk angkat bicara ketika tidak ada satu orang pun yang berani membuka mulut. “Tapi Bos, gimana caranya? Bukti itu sudah ada di tangan Rudi,” ujar pria berusia kisaran 30 tahun itu.

“Seorang petarung tidak akan mundur, bahkan sebelum dirinya berperang,” ujar Reynaldi. “Siapkan semua senjata terbaik yang kita punya di markas. Kita perlu menyusun rencana,” tukas Reynaldi.

***

Markas Polisi

“Reynaldi sepakat untuk bertemu. 3 hari lagi, ini lokasi pertemuannya,” ujar Rudi sambil menunjukkan sebuah lokasi melalui layar laptopnya.

Di samping Rudi, Bagas membuka sebuah gulungan karton tebal di atas meja panjang di hadapan mereka. “Ini mind mapping untuk rencana kita. Dua kubu akan bertemu, lalu pasukan kita bergerak untuk menahan pasukan Reynaldi, supaya dia nggak punya back up untuk melawan atau kabur. Selanjutnya bagian tim kita yang lain akan kasih salinan buktinya dan tepat saat itu, pasukan polisi siap mengeksekusi target,” ujar Bagas menjelaskan rencana yang akan mereka lakukan.

“Sesuai rencana awal kita, Reynaldi berhasil terhasut dan masuk ke perangkap,” ujar Akmal yang diangguki oleh semua orang yang ada di sana.

Tiara yang berada di samping kanan Aryo menoleh dan menatap suaminya. Tiara memerhatikan Aryo yang nampak tidak setuju dengan ucapan Akmal barusan. Suaminya itu menghembuskan napas pelan sembelum berujar, “Gue pikir Reynaldi emang udah terhasut. Tapi gue curiga dia nyiapin back up plan. Nggak mungkin Reynaldi menyerah cuma-cuma dan datang ke tempat pertemuan tanpa persiapan apapun,” ujar Aryo.

Semua pasang mata mengarahkan tatapan mereka ke arah Aryo. Risa dan Aurorae pun mengangguk setuju. “Yang Aryo bilang ada benarnya. Gue tau Reynaldi orang yang seperti apa. Dari dulu, dia udah berambisi untuk menguasai perusahaan. Karena dia nggak punya keturunan dari pernikahannya, jadi dia bertekad membuat perusahaan berada di dalam genggaman tangannya,” jelas Risa.

“Jadi apa yang harus kita lakuin untuk mengantisipasi ini?” tanya Bagas.

“Kita harus tau lebih dulu. Kira-kira apa kelemahan dari tim kita yang bisa dijadiin sasaran empuk Reynaldi untuk nyerang kita balik,” ujar Risa.

Rudi setuju dengan perkataan Risa. “Sekarang Reynaldi menjadikan kita sebagai musuh besarnya. Tapi dia nggak mungkin menyerang satu persatu dari kita, itu cuma akan membuang waktunya. Pasti dia punya satu yang dijadikan target,” ungkap Rudi. Semua yang ada di sana seketika berpikir keras akan kemungkinan yang bisa dilakukan oleh Reynaldi untuk melempar serangan balik.

Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di dalam benak Tiara. Ia mengambil tangan Aryo di sampingnya dan mengenggamnya. “Aryo,” ujar Tiara dengan nada suaranya yang seperti tertahan di tenggorokan. Aryo mendapati Tiara menatapnya dengan tatapan getir.

“Ra, kenapa?” tanya Aryo dan pikirannya pun mulai terasa kacau. Di dalam kepalanya, seperti ada sebuah sirine pengingat akan sebuah bom waktu, yang kapan saja bisa meledak dan menghancurkan semua recana yang telah tim mereka susun sejauh ini.

Tiara mengatakan bahwa ada kemungkinan Reynaldi mencari keberadaan Michelle untuk di jadikan senjata. Mendengar perkataan Tiara tersebut, seketika membuka lebar jalan pikiran semua orang yang ada di ruangan itu. Satu minggu lalu, tim mereka berhasil menemukan bahwa Reynaldi sengaja memanpulasi para pemegang saham Harapan Jaya untuk menarik saham mereka. Reynaldi sudah mengetahui bahwa bukti kematian Michelle Taninka Sinaga adalah pernyataan palsu. Penjahat kelas kakap sekelas Reynaldi tidak mungkin berpikiran dangkal dan melepaskan targetnya dengan begitu mudah.

Pupil mata Aryo yang menatap Tiara, bergerak ke kanan dan kiri, menandakan bahwa pria itu kini sedang gelisah. Genggaman tangannya di tangan Tiara pun mengerat, pria itu berusaha menampik pemikiran buruk yang baru saja terlintas di benaknya. Sebuah pemikiran bahwa Reynaldi bisa saja menargetkan Tiara untuk mengancam titik terlemah dari tim mereka. Kemungkinan terburuknya adalah Reynaldi menemukan fakta bahwa Tiara adalah Michelle Taninka. Kalau sampai hal tersebut terjadi, maka mereka harus siap untuk menerima boomerang yang akan dilemparkan oleh Reynaldi.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Reynaldi menatap satu persatu orang-orang yang telah lama bekerja untuknya. Sesaat kemudian, menggunakan satu tangannya, ia memasukkan sebuah rudal ke loading peluru. Jemarinya hampir saja menarik pelatuk pistol dan mengarahkannya ke deretan botol-botol kaca berisi minuman mahal di ruangannya. Namun pria itu mengurungkan niatnya, ia menjauhkan kembali jarinya dan meletakkan pistol apinya di atas meja.

Sebuah senyum picik tercetak di wajah Reynaldi, “Saya mau apa pun caranya, bukti itu sampai ke tangan saya,” ujarnya.

Sang kepala bodyguard memutuskan untuk angkat bicara ketika tidak ada satu orang pun yang berani membuka mulut. “Tapi Bos, gimana caranya? Bukti itu sudah ada di tangan Rudi,” ujar pria berusia kisaran 30 tahun itu.

“Seorang petarung tidak akan mundur, bahkan sebelum dirinya berperang,” ujar Reynaldi. “Siapkan semua senjata terbaik yang kita punya di markas. Kita perlu menyusun rencana,” tukas Reynaldi.

***

Markas Polisi

“Reynaldi sepakat untuk bertemu. 3 hari lagi, ini lokasi pertemuannya,” ujar Rudi sambil menunjukkan sebuah lokasi melalui layar laptopnya.

Di samping Rudi, Bagas membuka sebuah gulungan karton tebal di atas meja panjang di hadapan mereka. “Ini mind mapping untuk rencana kita. Dua kubu akan bertemu, lalu pasukan kita bergerak untuk menahan pasukan Reynaldi, supaya dia nggak punya back up untuk melawan atau kabur. Selanjutnya bagian tim kita yang lain akan kasih salinan buktinya dan tepat saat itu, pasukan polisi siap mengeksekusi target,” ujar Bagas menjelaskan rencana yang akan mereka lakukan.

“Sesuai rencana awal kita, Reynaldi berhasil terhasut dan masuk ke perangkap,” ujar Akmal yang diangguki oleh semua orang yang ada di sana.

Tiara yang berada di samping kanan Aryo menoleh dan menatap suaminya. Tiara memerhatikan Aryo yang nampak tidak setuju dengan ucapan Akmal barusan. Suaminya itu menghembuskan napas pelan sembelum berujar, “Gue pikir Reynaldi emang udah terhasut. Tapi gue curiga dia nyiapin back up plan. Nggak mungkin Reynaldi menyerah cuma-cuma dan datang ke tempat pertemuan tanpa persiapan apapun,” ujar Aryo.

Semua pasang mata mengarahkan tatapan mereka ke arah Aryo. Risa dan Aurorae pun mengangguk setuju. “Yang Aryo bilang ada benarnya. Gue tau Reynaldi orang yang seperti apa. Dari dulu, dia udah berambisi untuk menguasai perusahaan. Karena dia nggak punya keturunan dari pernikahannya, jadi dia bertekad membuat perusahaan berada di dalam genggaman tangannya,” jelas Risa.

“Jadi apa yang harus kita lakuin untuk mengantisipasi ini?” tanya Bagas.

“Kita harus tau lebih dulu. Kira-kira apa kelemahan dari tim kita yang bisa dijadiin sasaran empuk Reynaldi untuk nyerang kita balik,” ujar Risa.

Rudi setuju dengan perkataan Risa. “Sekarang Reynaldi menjadikan kita sebagai musuh besarnya. Tapi dia nggak mungkin menyerang satu persatu dari kita, itu cuma akan membuang waktunya. Pasti dia punya satu yang dijadikan target,” ungkap Rudi. Semua yang ada di sana seketika berpikir keras akan kemungkinan yang bisa dilakukan oleh Reynaldi untuk melempar serangan balik.

Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di dalam benak Tiara. Ia mengambil tangan Aryo di sampingnya dan mengenggamnya. “Aryo,” ujar Tiara dengan nada suaranya yang seperti tertahan di tenggorokan. Aryo mendapati Tiara menatapnya dengan tatapan getir.

“Ra, kenapa?” tanya Aryo dan pikirannya pun mulai terasa kacau. Di dalam kepalanya, seperti ada sebuah sirine pengingat akan sebuah bom waktu, yang kapan saja bisa meledak dan menghancurkan semua recana yang telah tim mereka susun sejauh ini.

Tiara mengatakan bahwa ada kemungkinan Reynaldi mencari keberadaan Michelle untuk di jadikan senjata. Mendengar perkataan Tiara tersebut, seketika membuka lebar jalan pikiran semua orang yang ada di ruangan itu. Satu minggu lalu, tim mereka berhasil menemukan bahwa Reynaldi sengaja memanpulasi para pemegang saham Harapan Jaya untuk menarik saham mereka. Reynaldi sudah mengetahui bahwa bukti kematian Michelle Taninka Sinaga adalah pernyataan palsu. Penjahat kelas kakap sekelas Reynaldi tidak mungkin berpikiran dangkal dan melepaskan targetnya dengan begitu mudah.

Pupil mata Aryo yang menatap Tiara, bergerak ke kanan dan kiri, menandakan bahwa pria itu kini sedang gelisah.

Genggaman tangan Aryo di tangan Tiara pun mengerat, pria itu berusaha menampik sebuah pemikiran buruk yang baru saja terlintas di benaknya. Sebuah pemikiran bahwa Reynaldi bisa saja menargetkan Tiara untuk mengancam titik terlemah dari tim mereka. Kemungkinan terburuknya adalah Reynaldi menemukan fakta bahwa Tiara adalah Michelle Taninka. Kalau sampai hal tersebut terjadi, maka mereka harus siap untuk menerima boomerang yang akan dilemparkan oleh Reynaldi.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷