alyadara

Surat Keterangan Kematian Nama : Michelle Taninka Sinaga Lahir : 24 Mei 2000 Meninggal : 12 April 2014

Kedua mata Reynaldi memicing ketika membaca dokumen yang kini berada di tangannya. Pria itu lantas meminta bodyguard-nya untuk berbicara dengan oknum pemerintahan yang berada di hadapannya, mereka di batasi oleh sebuah meja panjang.

Satu bodyguard-nya yang lain mengeluarkan secarik kertas kecil bertuliskan nominal yang cukup besar. Lawan bicara mereka itu nampak melebarkan matanya, sebelum akhirnya Reynaldi angkat bicara. “Berikan bukti fisik kematian Michelle Taninka. Saya bisa kasih lebih dari jumlah yang ada di kertas itu,” tukas Reynaldi sebelum keluar dari sana.

Di dalam mobilnya, Reynaldi memerintahkan orangnya untuk mengurus semuanya, agar ia bisa mendapatkan bukti konkret kematian Michelle Taninka Sinaga.

“Saya ingin secepatnya bukti itu sampai ke tangan saya. Pastikan tidak ada kesalahan apapun, semuanya harus bersih,” titah Reynaldi.

“Baik, Tuan. Anda akan mendapatkan bukti fisik kematian Michelle Taninka,” ujar orang suruhannya.

***

Dua hari lalu, Bagas mendapat kabar dari Risa bahwa pernyataan kematian palsu Michelle Taninka telah sampai ke tangan Reynaldi dengan mulus. Risa telah meminta orang dalamnya untuk membuat Reynaldi lengah untuk mengurus pernyataan kematian Michelle.

Selain itu Bagas juga mendapat informasi bahwa Aryo sudah menemukan lokasi dimana Reynaldi menyandera Rudi. Berdasarkan informasi dari tim suruhan Aryo, mereka bisa melakukan eksekusi tengah malam nanti. Sebagian bodyguard Aryo akan membantu Bagas mengamankan beberapa titik di area target mereka nanti malam.

Bagas mengadakan rapat dengan tim kepolisian yang berada di divisinya untuk briefing akhir sebelum nanti malam mereka menjalankan rencananya.

Semua pasang mata yang ada di ruangan itu memerhatikan mind maping yang dibuat oleh Bagas di sebuah whiteboard besar di depan. Mereka akan merencanakan penyelamatan secara sembunyi-sembunyi di malam hari. Bagas telah menyusun rencananya dan mempersiapkan peralatan senjata yang sekiranya akan dibutuhkan.

“Ingat. Kita harus lebih berhati-hati kali ini. Hafalkan jalur yang akan digunakan untuk sampai ke sana, kita ambil jalan belakang,” jelas Bagas.

“Baik, Pak.”

“Oke kalau gitu. Apa ada pertanyaan lagi sebelum gue akhiri?”

Salah satu anak buahnya angkat bicara, “Tidak ada, Pak.”

Alright. Rapat kita selesai sampai di sini. Gue minta kalian persiapkan diri sebaik mungkin untuk eksukusi nanti malam.”

***

Bagas Rescue Action

Markas yang akan Bagas dan timnya bobol memiliki peta bangunan yang cukup rumit, sehingga untuk eksekusi ini mereka harus memutar otak dan membagi orang ke dalam beberapa tim.

Tim dua akan mengalihkan perhatian penjaga agar Bagas dan tim satu bisa mendapat akses masuk.

“Siap. Tim satu masuk.” Bagas mendengarkan instruksi melalui wireless earpods sebelum mengarahkan timnya untuk naik ke lantai 5.

Bagas dan tim satu memindai lantai 5 untuk mencari lokasi penyanderaan Rudi.

“Lapor. Target ada di ruangan arah barat, dekat tangga darurat dan balkon.” Bagas mendapat laporan suara lagi dan segera menuju lokasi yang disebutkan.

Bagas bertemu dua orang dari timnya di depan ruangan yang jadi tujuan mereka, bertepatan dengan lima orang yang merupakan penjaga markas. Mereka sama-sama membawa alat senjata. Bagas menyiapkan kuda-kudanya, satu tangannya memasukkan peluru dari sakunya ke loading peluru, tempat presisi dimana peluru dimasukkan sebelum di luncurkan.

Don't think you can win against us,” desis salah satu penjaga markas sebelum menyerang Bagas dan timnya.

Salah satu anggota dari tim satu yang bersembunyi yang mendapati kejadian tersebut, segera meminta bala bantuan untuk melawan balik. Di sisi lain di luar markas, Rama, kepala bodyguard Aryo, mendapat laporan yang langsung didistribusikan ke seluruh tim itu.

“Gue mau turun,” ujar Rama pada Egha yang berada di sampingnya.

“Serius lo Ram?”

“Lo tetap jaga di luar. Gue dapat kabar di dalam chaos. 10 sampai 20 menit lagi, gue minta tolong jemput gue dan yang lainnya pakai helly,” ujar Rama.

“Oke siap,” balas Egha sebelum Rama melenggang dari sana.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Tante Risa?” kalimat itu yang pertama kali keluar ketika Aryo menangkap sosok perempuan yang begitu dikenalnya berada di hadapannya. Risa Brodjohujodyo, putri dari Rianna, istri kedua Prawira Brodjohujodyo. Setelah bertemu tantenya itu, Aryo dan Risa diberi waktu untuk berbicara berdua di ruangan lain.

Risa memberi sedikit penjelasan kepada Aryo mengenai alasannya bersedia membantu Tiara dan masuk ke dalam tim.

“Tante tau, Tante nggak akan bisa melawan Reynaldi dengan tangan Tante sendiri,” jelas Risa. Perempuan itu mengatakan, ia menyimpan dendam terhadap Reynaldi karena mendapatkan perlakuan tidak adil di keluarga. Ibu kandungnya yang merupakan istri kedua Prawira, nyatanya tidak pernah benar-benar di terima di keluarga mereka.

“Sejak kapan Tan?” tanya Aryo mengenai penjelasan Risa soal perlakuan Reynaldi terhadapnya dan Rianna.

“Sejak Reynaldi selalu berhasil mendoktrin eyang kakung dan berambisi menguasai seluruh kepemilikan perusahaan. Tante kenal sama Erlangga, ayah kandungnya Tiara. Erlangga awalnya bekerja untuk Reynadi, tapi sejak ambisi Reynaldi semakin kuat, Erlangga mutusin buat berhenti. Dulu Erlangga sering bantu mama dan tante setiap kali Reynaldi memperlakukan kami dengan tidak adil. Setelah Erlangga kecelakaan, Rudi menemui Tante dan meminta bantuan, akhirnya kita bekerja sama,” papar Risa.

Pada saat itu Aryo masih berusia dua belas tahun, saat eyang kakung menikah lagi dan membawa istri keduanya ke rumah keluarga besar. Aryo belum terlalu mengerti situasi di usianya yang masih remaja. Satu hal yang hanya dapat ia pahami, beberapa waktu setelah itu, eyang kakung memiliki dua rumah. Rumah pertama untuk eyang putri, rumah kedua untuk Rianna, istri keduanya.

Setelah Aryo dan Risa bicara berdua, mereka kembali ke ruangan dimana ada Tiara, Akmal, dan Bagas. Tiara sudah mengatakan sebelumnya bahwa Aryo telah mengetahui semuanya dan berniat membantu mengungkap kasus kecelakaan Erlangga, jadi saat ini mereka berada di dalam kapal yang sama.

“Selama ini Reynaldi berusaha mencari tau keberadaan Michelle Taninka,” ujar Tiara membuka pembicaraan. Mereka memutuskan melakukan rapat tim untuk merencanakan langkah yang harus di ambil selanjutnya.

Tiara menatap bergantian empat orang di meja panjang itu. Ia memaparkan percakapan antara Reynaldi dan El yang di dengarnya tempo hari.

“Reynaldi bekerja sama dengan El untuk mencari Michelle untuk membawanya ke hadapannya, hidup ataupun mati. Situasi ini bisa kita manfaatkan untuk mengecoh Reynaldi dengan ngasih dia pancingan,” ujar Aryo menyampaikan pemikirannya yang sebelumnya ide tersebut sudah ia katakan pada Tiara.

“Keterangan kematian palsu atas nama Michelle Taninka Sinaga, kemungkinan bisa jadi pancingan untuk buat Reynaldi lengah. Dia udah dapetin om Rudi di tangannya, tapi kabar baiknya adalah Reynaldi belum tau kalau om Rudi nggak sendiri untuk melawan dia,” jelas Tiara.

Dari semua orang yang ada di ruangan itu, akhirnya Bagas yang pertama mengutarakan pendapatnya menanggapi ide Aryo dan Tiara. “Ide itu kemungkinan bisa berhasil, bisa juga tidak. Kita harus siap tanggung resikonya kalau sampai ada kecacatan saat eksekusi.”

“Rekayasa keterangan kematian gue rasa nggak bisa cuma dengan pernyataan tertulis aja,” ujar Risa.

“Tante Risa benar,” cetus Akmal. Lantas semua pasang mata yang ada di ruangan itu menatap ke arah Akmal.

“Lawan kita bukan orang biasa,” Akmal pun mengeluarkan selembar kertas yang berisi biografi singkat Reynaldi Brodjohujodyo yang telah di buat oleh ayahnya. Di sana tertulis riwayat hidupnya, ssiapa saja yang pernah bekerja untuknya, aset senjata yang di miliknya, serta trek rekor mantan dan bodyguard-nya saat ini. Memang Reynaldi bukanlah sembarang orang. Seperti yang di katakan oleh Akmal, mereka harus benar-benar mematangkan rencana yang akan mereka jalankan.

“Selain pernyataan kematian tertulis yang resmi, kita perlu merekayasa bukti fisik kematian. Rekayasa abu hasil kremasi, apa kira-kira itu memungkinkan?” cetus Bagas.

“Eksekusinya mungkin akan sedikit sulit. Kita harus mengurus beberapa hal dan tentunya punya koneksi orang dalam untuk memudahkan eksekusinya,” ujar Risa.

“Gimana kalau kita bagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing? Tujuannya agar kita bisa tetap fokus dan memastikan setiap aspeknya berjalan baik,” saran Aryo.

Atas usulan tersebut, akhirnya mereka membagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing di bidangnya. Risa dan Aryo akan mengurus masalah dokumen kematian yang membutuhkan akses hukum. Risa merupakan seorang pengacara dan Aryo akan membantu tantenya itu untuk urusan koneksi orang dalam yang di milikinya, serta akses lainnya yang nanti akan dibutuhkan. Sementara Bagas akan mengurus bukti kematian berupa bukti fisik, pria itu memiliki koneksi yang berhubungan dengan urusan tersebut.

***

“Aryo.”

“Ya?”

“Aku sama Akmal nggak dapat tugas?” tanya Tiara begitu mereka memasuki penthouse.

Tiara mendongakkan kepalanya untuk menatap Aryo yang merangkul bahunya.

“Aku kasih Akmal tugas kok. Kalau kamu tugasnya duduk manis di rumah aja.” Aryo masih merangkul Tiara hingga mereka memasuki kamar.

“Mau ngapain kita ke kamar?” tanya Tiara yang baru tersadar bahwa mereka kini sudah berada di dalam kamar.

“Tidur siang. Kelonin ya?” pinta Aryo. Tiara pun melemparkan senyum khasnya kalau Aryo sudah manja-manja seperti ini terhadapnya.

“Akmal kamu kasih tugas apa?” tanya Tiara yang mengikuti langkah Aryo ke walk in closet. Tiara mendapati suaminya itu sudah menanggalkan kemeja putih dari tubuhnya, membuat netra Tiara menyaksikan pemandangan tubuh shirtless Aryo.

“Tugas dia jagain kamu aja. Ra, aku akan lebih sibuk dari biasanya. Pekerjaan di kantor dan juga aku harus mempersiapkan semuanya untuk rencana kita. Kalau kamu kesepian di rumah, kamu boleh ajak teman-teman kamu ke sini buat temenin kamu. Gimana?”

Tiara melebarkan matanya dan alisnya mengernyit. Ia mengatakan bahwa dirinya sedikit tidak percaya atas ucapan Aryo barusan. “Padahal dulu kamu nggak bolehin temen-temen aku main,” celetuk Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak sebelum ia menjawab, “Iya, sekarang boleh.”

“Oke. Terima kasih, Sayang,” balas Tiara diiringi cengiran kecilnya.

“Sama-sama, Sayang.”

***

“Aryo ... pake bajunya nggak. Astaga, kamu yaa,” omel Tiara sambil berjalan mundur perlahan untuk menjauhi Aryo. Aryo segera menyusulnya, mudah baginya untuk menangkap Tiara dan menahan punggung perempuan itu dengan lengannya, hingga torso keduanya kini hampir saling menempel.

“Kamu mau kemana?” tanya Aryo dengan suara lembutnya di dekat Tiara.

“Nggak ada kelon ya, kalau kamu belum pakai baju,” peringat Tiara yang langsung membuat Aryo mencebikkan bibirnya.

“Tapi gerah Ra, enakan nggak pake baju gini,” kilah Aryo.

“Nanti kamu masuk angin lho, shirtless begitu. Kalau kamu sakit, yang repot siapa coba? Aku juga kan.”

Namun bukan Aryo namanya jika tidak keras kepala dan mempunyai seribu akal di dalam kepalanya. Aryo menatap Tiara lekat, kemudian mengarahkan tangan perempuan itu untuk bertengger di pundak polosnya. Dengan jarak keduanya yang begitu intim, netra Tiara dapat dengan jelas menatap pahatan sempurna otot lengan dan perut Aryo yang nampak liat dan keras itu. Sempurna, indah, dan menawan, entah kata apa lagi yang harus Tiara gunakan untuk mendeskripsikan pemandangan di hadapannya saat ini.

Aryo menorehkan senyumnya, “Kamu ... mau pegang ini?” tanya pria itu ketika menangkap basah Tiara tengah memandang abs-nya.

Tiara terkejut karena ia tertangkap jelas-jelas memandangi perut six pack milik Aryo. Tatapan mereka bertemu dan Aryo lekas mengunci pandangan Tiara. Atas perintah pikirannya, Tiara pun perlahan mengangguk. Rasa penasaran yang kuat mendorong Tiara untuk menyentuh otot-otot itu, meskipun ia sudah pernah melakukannya. Hei, setan apa yang sedang merasuki dirimu Tiara, ayolah sadar! batinnya.

It's all yours, Tiara.” Aryo meraih tangan Tiara, membawanya untuk menyentuh otot-otot perutnya. Ketika meletakkan tangannya di sana, Tiara dapat merasakan, itu sungguh keras dan besar. Sesuai penampilannya, perasaan ketika menyentuhnya, sungguh melebihi dari ekspektasi Tiara. Itu sungguh luar biasa.

“Jadi aku pakai baju aja atau shirtless gini?” tanya Aryo diiringi senyum menggoda di wajah tampannya.

Tiara menatap paras Aryo, ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan di dalam sana. Kini kedua lengan Tiara berpindah untuk melingkar di seputaran leher Aryo.

Can I touch them ... again?” tanya Tiara mengikuti perintah otak dan hatinya yang kali ini benar-benar sejalan.

Aryo mengulaskan senyum lembutnya, ia menatap lekattepat di iris mata legam Tiara, “Yes, you can touch them, Honey. Everytime you want to.”

***

I love you, Michelle,” gumam Aryo ketika ia telah sepenuhnya membuka mata.

Mereka berakhir tidur siang bersama dengan Aryo yang shirtless dan tidak melepaskan Tiara dari dekapannya sedikitpun. Sudah sekitar 3 jam mereka terlelap dan ketika terbangun, Tiara dapat merasakan aroma parfum Jo Malone favorit Aryo yang maskulin dan sedikit manis—kini menempel di seluruh tubuhnya.

“Siapa kamu bilang? Michelle??” tanya Tiara dengan kerutan yang muncul di keningnya.

“Michelle Taninka kan kamu, Sayang,” ujar Aryo.

“Ohiya ya. Aku kira kamu selingkuh sama cewek namanya Michelle.”

“Mana ada aku selingkuh. Kamu lucu banget yaa, posesif gini.”

Tiara menampakkan cengirannya sembari tangannya bergerak untuk mengusap-usap halus pipi Aryo, “Berani nggak kamu selingkuh?” tanya Tiara.

“Aku udah ketemu pawangnya Ra, mana galak lagi. Gimana berani aku selingkuh?”

“Okee, bagus bagus.” Tiar pun tergelak. “Aku galak ya emang?” tanya Tiara dan Aryo langsung menjawabnya dengan mengangukkan kepalanya sebanyak dua kali.

“Kalau nggak galak, artinya nggak sayang,” ujar Tiara.

“Gitu ya?” Aryo memandangi paras cantik Tiara yang sukses membuat perempuan itu salah tingkah. Cara Aryo menatapnya, tersenyum kepadanya, selalu berhasil menciptakan percikan api cinta di hati Tiara.

Tiara tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Itu adalah sebuah kilas balik ketika Andi dan Alifia merubah marga mereka menjadi Lubis dan juga mengubah namanya. “Kalau di pikir-pikir, Michelle Taninka nggak akan di kenal sama banyak orang. Tapi Mutiarani Ivanka nggak akan pernah di kenal sama ayah dan bunda,” ungkap Tiara.

“Iya juga ya. Kalau di minta untuk milih, kamu lebih suka jadi Michelle atau Tiara?” tanya Aryo.

Tiara berpikir sejenak, bibirnya mengulum ke dalam, “Aku suka jadi dua-duanya. Michelle akan selalu di kenang dan disayang sama ayah dan bunda. Mungkin luka itu akan tetap ada di salah satu ruang di hati Michelle. Tapi Tiara, dia udah coba untuk berdamai dengan luka itu. Kalau kamu lebih suka Michelle atau Tiara?” Tiara memerhatikan raut wajah Aryo, ia menunggu jawaban dari pria itu.

“Aku suka dua-duanya. Tapi Ra, menurut aku, nama itu cuma sebuah identitas. Michelle ataupun Tiara, adalah dua perempuan yang sama-sama hebat.”

“Aryo.”

“Ya?”

Tiara merubah posisinya agar dirinya dan Aryo saling berhadapan. “Aku mau kenalin kamu ke ayah dan bunda.”

Kedua mata Aryo nampak berbinar mendengar ucapan Tiara. “Really?” tanyanya.

Tiara mengulaskan senyum hangatnya, “Sure. Aku mau cerita banyak soal kamu, kita, dan si bayi,” tutur Tiara.

“Apa yang akan kamu ceritain ke ayah dan bunda?”

“Rahasia dong, kepo nih kamu.” Tiara menjulurkan lidahnya meledek Aryo.

Aryo pun tergelak mendapati tingkah istrinya yang menurutnya sangat ajaib. “Oh my godness. Okey, that's fine, itu rahasia kamu. Tapi jangan lupa untuk bilang ini,” ujar Aryo sambil meletakkan telunjuknya di ujung hidung Tiara.

“Bilang apa?”

“Ayah sama bunda pasti ingin tau apa kamu bahagia sekarang, apa yang kamu rasakan. They must be miss you so much. So tell them what you feels and about your life right now,” ujar Aryo.

Sure. I will tell them about what's make me happy. About the person around me and the life I live now.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Tante Risa?” kalimat itu yang keluar pertama kali ketika Aryo menangkap sosok perempuan yang begitu dikenalnya, kini berada di hadapannya. Risa Brodjohujodyo, putri dari Rianna, istri kedua Prawira Brodjohujodyo. Setelah bertemu tantenya itu, Aryo dan Risa diberi waktu untuk berbicara berdua di ruangan lain.

Risa memberi sedikit penjelasan kepada Aryo mengenai alasannya bersedia membantu Tiara dan masuk ke dalam tim.

“Tante tau, Tante nggak akan bisa melawan Reynaldi dengan tangan Tante sendiri,” jelas Risa. Perempuan itu mengatakan, ia menyimpan dendam terhadap Reynaldi karena mendapatkan perlakuan tidak adil di keluarga. Ibu kandungnya yang merupakan istri kedua Prawira, nyatanya tidak pernah benar-benar di terima di keluarga mereka.

“Sejak kapan Tan?” tanya Aryo.

“Sejak Reynaldi selalu berhasil mendoktrin eyang kakung dan berambisi menguasai seluruh kepemilikan perusahaan. Tante kenal sama Erlangga, ayah kandungnya Tiara. Erlangga awalnya bekerja untuk Reynadi, tapi sejak penawaran kerja sama itu, Erlangga mutusin buat nolak tawarannya Dulu Erlangga sering bantu mama dan tante setiap kali Reynaldi memperlakukan kami dengan tidak adil. Setelah Erlangga kecelakaan, Rudi menemui Tante dan meminta bantuan, akhirnya kita bekerja sama,” papar Risa.

Pada saat itu Aryo masih berusia dua belas tahun, saat eyang kakung menikah lagi dan membawa istri keduanya ke rumah keluarga besar. Aryo belum terlalu mengerti situasi di usianya yang masih remaja. Satu hal yang hanya dapat ia pahami, beberapa waktu setelah itu, eyang kakung memiliki dua rumah. Rumah pertama untuk eyang putri, rumah kedua untuk Rianna, istri keduanya.

Setelah Aryo dan Risa bicara berdua, mereka kembali ke ruangan dimana ada Tiara, Akmal, dan Bagas. Tiara sudah mengatakan sebelumnya bahwa Aryo telah mengetahui semuanya dan berniat membantu mengungkap kasus kecelakaan Erlangga, jadi saat ini mereka berada di dalam kapal yang sama.

“Selama ini Reynaldi berusaha mencari tau keberadaan Michelle Taninka,” ujar Tiara membuka pembicaraan. Mereka memutuskan melakukan rapat tim untuk merencanakan langkah yang harus di ambil selanjutnya.

Tiara menatap bergantian empat orang di meja panjang itu. Ia memaparkan percakapan antara Reynaldi dan El yang di dengarnya tempo hari.

“Reynaldi bekerja sama dengan El untuk mencari Michelle untuk membawanya ke hadapannya, hidup ataupun mati. Situasi ini bisa kita manfaatkan untuk mengecoh Reynaldi dengan ngasih dia pancingan,” ujar Aryo menyampaikan pemikirannya yang sebelumnya ide tersebut sudah ia katakan pada Tiara.

“Keterangan kematian palsu atas nama Michelle Taninka Sinaga, kemungkinan bisa jadi pancingan untuk buat Reynaldi lengah. Dia udah dapetin om Rudi di tangannya, tapi kabar baiknya adalah Reynaldi belum tau kalau om Rudi nggak sendiri untuk melawan dia,” jelas Tiara.

Dari semua orang yang ada di ruangan itu, akhirnya Bagas yang pertama mengutarakan pendapatnya menanggapi ide Aryo dan Tiara. “Ide itu kemungkinan bisa berhasil, bisa juga tidak. Kita harus siap tanggung resikonya kalau sampai ada kecacatan saat eksekusi.”

“Rekayasa keterangan kematian gue rasa nggak bisa cuma dengan pernyataan tertulis aja,” ujar Risa.

“Tante Risa benar,” cetus Akmal. Lantas semua pasang mata yang ada di ruangan itu menatap ke arah Akmal.

“Lawan kita bukan orang biasa,” Akmal pun mengeluarkan selembar kertas yang berisi biografi singkat Reynaldi Brodjohujodyo yang telah di buat oleh ayahnya. Di sana tertulis riwayat hidupnya, ssiapa saja yang pernah bekerja untuknya, aset senjata yang di miliknya, serta trek rekor mantan dan bodyguard-nya saat ini. Memang Reynaldi bukanlah sembarang orang. Seperti yang di katakan oleh Akmal, mereka harus benar-benar mematangkan rencana yang akan mereka jalankan.

“Selain pernyataan kematian tertulis yang resmi, kita perlu merekayasa bukti fisik kematian. Rekayasa abu hasil kremasi, apa kira-kira itu memungkinkan?” cetus Bagas.

“Eksekusinya mungkin akan sedikit sulit. Kita harus mengurus beberapa hal dan tentunya punya koneksi orang dalam untuk memudahkan eksekusinya,” ujar Risa.

“Gimana kalau kita bagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing? Tujuannya agar kita bisa tetap fokus dan memastikan setiap aspeknya berjalan baik,” saran Aryo.

Atas usulan tersebut, akhirnya mereka membagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing di bidangnya. Risa dan Aryo akan mengurus masalah dokumen kematian yang membutuhkan akses hukum. Risa merupakan seorang pengacara dan Aryo akan membantu tantenya itu untuk urusan koneksi orang dalam yang di milikinya, serta akses lainnya yang nanti akan dibutuhkan. Sementara Bagas akan mengurus bukti kematian berupa bukti fisik, pria itu memiliki koneksi yang berhubungan dengan urusan tersebut.

***

“Aryo.”

“Ya?”

“Aku sama Akmal nggak dapat tugas?” tanya Tiara begitu mereka memasuki penthouse.

Tiara mendongakkan kepalanya untuk menatap Aryo yang merangkul bahunya.

“Aku kasih Akmal tugas kok. Kalau kamu tugasnya duduk manis di rumah aja.” Aryo masih merangkul Tiara hingga mereka memasuki kamar.

“Mau ngapain kita ke kamar?” tanya Tiara yang baru tersadar bahwa mereka kini sudah berada di dalam kamar.

“Tidur siang. Kelonin ya?” pinta Aryo. Tiara pun melemparkan senyum khasnya kalau Aryo sudah manja-manja seperti ini terhadapnya.

“Akmal kamu kasih tugas apa?” tanya Tiara yang mengikuti langkah Aryo ke walk in closet. Tiara mendapati suaminya itu sudah menanggalkan kemeja putih dari tubuhnya, membuat netra Tiara menyaksikan pemandangan tubuh shirtless Aryo.

“Tugas dia jagain kamu aja. Ra, aku akan lebih sibuk dari biasanya. Pekerjaan di kantor dan juga aku harus mempersiapkan semuanya untuk rencana kita. Kalau kamu kesepian di rumah, kamu boleh ajak teman-teman kamu ke sini buat temenin kamu. Gimana?”

Tiara melebarkan matanya dan alisnya mengernyit. Ia mengatakan bahwa dirinya sedikit tidak percaya atas ucapan Aryo barusan. “Padahal dulu kamu nggak bolehin temen-temen aku main,” celetuk Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak sebelum ia menjawab, “Iya, sekarang boleh.”

“Oke. Terima kasih, Sayang,” balas Tiara diiringi cengiran kecilnya.

“Sama-sama, Sayang.”

***

“Aryo ... pake bajunya nggak. Astaga, kamu yaa,” omel Tiara sambil berjalan mundur perlahan untuk menjauhi Aryo. Aryo segera menyusulnya, mudah baginya untuk menangkap Tiara dan menahan punggung perempuan itu dengan lengannya, hingga torso keduanya kini hampir saling menempel.

“Kamu mau kemana?” tanya Aryo dengan suara lembutnya di dekat Tiara.

“Nggak ada kelon ya, kalau kamu belum pakai baju,” peringat Tiara yang langsung membuat Aryo mencebikkan bibirnya.

“Tapi gerah Ra, enakan nggak pake baju gini,” kilah Aryo.

“Nanti kamu masuk angin lho, shirtless begitu. Kalau kamu sakit, yang repot siapa coba? Aku juga kan.”

Namun bukan Aryo namanya jika tidak keras kepala dan mempunyai seribu akal di dalam kepalanya. Aryo menatap Tiara lekat, kemudian mengarahkan tangan perempuan itu untuk bertengger di pundak polosnya. Dengan jarak keduanya yang begitu intim, netra Tiara dapat dengan jelas menatap pahatan sempurna otot lengan dan perut Aryo yang nampak liat dan keras itu. Sempurna, indah, dan menawan, entah kata apa lagi yang harus Tiara gunakan untuk mendeskripsikan pemandangan di hadapannya saat ini.

Aryo menorehkan senyumnya, “Kamu ... mau pegang ini?” tanya pria itu ketika menangkap basah Tiara tengah memandang abs-nya.

Tiara terkejut karena ia tertangkap jelas-jelas memandangi perut six pack milik Aryo. Tatapan mereka bertemu dan Aryo lekas mengunci pandangan Tiara. Atas perintah pikirannya, Tiara pun perlahan mengangguk. Rasa penasaran yang kuat mendorong Tiara untuk menyentuh otot-otot itu, meskipun ia sudah pernah melakukannya. Hei, setan apa yang sedang merasuki dirimu Tiara, ayolah sadar! batinnya.

It's all yours, Tiara.” Aryo meraih tangan Tiara, membawanya untuk menyentuh otot-otot perutnya. Ketika meletakkan tangannya di sana, Tiara dapat merasakan, itu sungguh keras dan besar. Sesuai penampilannya, perasaan ketika menyentuhnya, sungguh melebihi dari ekspektasi Tiara. Itu sungguh luar biasa.

“Jadi aku pakai baju aja atau shirtless gini?” tanya Aryo diiringi senyum menggoda di wajah tampannya.

Tiara menatap paras Aryo, ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan di dalam sana. Kini kedua lengan Tiara berpindah untuk melingkar di seputaran leher Aryo.

Can I touch them ... again?” tanya Tiara mengikuti perintah otak dan hatinya yang kali ini benar-benar sejalan.

Aryo mengulaskan senyum lembutnya, ia menatap lekattepat di iris mata legam Tiara, “Yes, you can touch them, Honey. Everytime you want to.”

***

I love you, Michelle,” gumam Aryo ketika ia telah sepenuhnya membuka mata.

Mereka berakhir tidur siang bersama dengan Aryo yang shirtless dan tidak melepaskan Tiara dari dekapannya sedikitpun. Sudah sekitar 3 jam mereka terlelap dan ketika terbangun, Tiara dapat merasakan aroma parfum Jo Malone favorit Aryo yang maskulin dan sedikit manis—kini menempel di seluruh tubuhnya.

“Siapa kamu bilang? Michelle??” tanya Tiara dengan kerutan yang muncul di keningnya.

“Michelle Taninka kan kamu, Sayang,” ujar Aryo.

“Ohiya ya. Aku kira kamu selingkuh sama cewek namanya Michelle.”

“Mana ada aku selingkuh. Kamu lucu banget yaa, posesif gini.”

Tiara menampakkan cengirannya sembari tangannya bergerak untuk mengusap-usap halus pipi Aryo, “Berani nggak kamu selingkuh?” tanya Tiara.

“Aku udah ketemu pawangnya Ra, mana galak lagi. Gimana berani aku selingkuh?”

“Okee, bagus bagus.” Tiar pun tergelak. “Aku galak ya emang?” tanya Tiara dan Aryo langsung menjawabnya dengan mengangukkan kepalanya sebanyak dua kali.

“Kalau nggak galak, artinya nggak sayang,” ujar Tiara.

“Gitu ya?” Aryo memandangi paras cantik Tiara yang sukses membuat perempuan itu salah tingkah. Cara Aryo menatapnya, tersenyum kepadanya, selalu berhasil menciptakan percikan api cinta di hati Tiara.

Tiara tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Itu adalah sebuah kilas balik ketika Andi dan Alifia merubah marga mereka menjadi Lubis dan juga mengubah namanya. “Kalau di pikir-pikir, Michelle Taninka nggak akan di kenal sama banyak orang. Tapi Mutiarani Ivanka nggak akan pernah di kenal sama ayah dan bunda,” ungkap Tiara.

“Iya juga ya. Kalau di minta untuk milih, kamu lebih suka jadi Michelle atau Tiara?” tanya Aryo.

Tiara berpikir sejenak, bibirnya mengulum ke dalam, “Aku suka jadi dua-duanya. Michelle akan selalu di kenang dan disayang sama ayah dan bunda. Mungkin luka itu akan tetap ada di salah satu ruang di hati Michelle. Tapi Tiara, dia udah coba untuk berdamai dengan luka itu. Kalau kamu lebih suka Michelle atau Tiara?” Tiara memerhatikan raut wajah Aryo, ia menunggu jawaban dari pria itu.

“Aku suka dua-duanya. Tapi Ra, menurut aku, nama itu cuma sebuah identitas. Michelle ataupun Tiara, adalah dua perempuan yang sama-sama hebat.”

“Aryo.”

“Ya?”

Tiara merubah posisinya agar dirinya dan Aryo saling berhadapan. “Aku mau kenalin kamu ke ayah dan bunda.”

Kedua mata Aryo nampak berbinar mendengar ucapan Tiara. “Really?” tanyanya.

Tiara mengulaskan senyum hangatnya, “Sure. Aku mau cerita banyak soal kamu, kita, dan si bayi,” tutur Tiara.

“Apa yang akan kamu ceritain ke ayah dan bunda?”

“Rahasia dong, kepo nih kamu.” Tiara menjulurkan lidahnya meledek Aryo.

Aryo pun tergelak mendapati tingkah istrinya yang menurutnya sangat ajaib. “Oh my godness. Okey, that's fine, itu rahasia kamu. Tapi jangan lupa untuk bilang ini,” ujar Aryo sambil meletakkan telunjuknya di ujung hidung Tiara.

“Bilang apa?”

“Ayah sama bunda pasti ingin tau apa kamu bahagia sekarang, apa yang kamu rasakan. They must be miss you so much. So tell them what you feels and about your life right now,” ujar Aryo.

Sure. I will tell them about what's make me happy. About the person around me and the life I live now.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Semua pasang mata di ruangan itu menatap seorang perempuan yang kini di bawa oleh Aryo ke markas. Sebelumnya Aryo telah menyampaikan pemikirannya, bahwa mereka membutuhkan satu komponen lagi untuk menjalankan rencana baru. Komponen tersebut adalah satu hal yang mereka belum miliki, jadi meminta bantuan kepada ahlinya adalah salah satu alternatif yang dapat di lakukan.

“Aurorae Hartanto,” perempuan bersurai hitam legam itu memperkenalkan dirinya.

“Rudi Abimana, senang bisa bertemu dengan Anda lagi,” ucap Aurorae ketika pandangannya bertemu dengan Rudi. Dari semua yang hadir di ruangan itu, hanya Rudi yang sudah mengenal Aurorae. Seperti yang Aurorae katakan, siapa pebisnis yang tidak mengenal Rudi Abimana. Ini merupakan pertemuannya dengan Rudi yang ketiga kalinya.

Setelah perkenalan singkat tersebut, Aurorae menjelaskan lebih dulu alasannya berada di sini dan apa yang dapat ia berikan sebagai bantuan.

Rudi mengeluarkan sebuah foto di atas meja. Aurorae memerhatikan foto tersebut, tangannya lantas terulur untuk mengambilnya. “Reynaldi Brodjohujodyo. Are you guys ... want to against him?” Aurorae menatap Rudi, Bagas, dan Rama secara bergantian. Kemudian perempuan cantik itu mengarahkan tatapannya ke arah Aryo.

Aryo pun mengangguk. “Reynaldi diduga adalah dalang dari kecelakaan Erlangga Sinaga sebelas tahun yang lalu. Pembunuhan berencana, suap, dan pembelian properti ilegal,” jelas Aryo.

It's not that easy to beat him. But we still have a chance. Berapa bukti yang udah berhasil di temukan? Oh wait, who is Erlangga Sinaga?”

Rudi dan Bagas menjelaskan lebih detail kepada Aurorae. Setelah mendengar semuanya, perempuan itu membuat sebuah coret-coretan di whiteboard besar di hadapan mereka. Menggunakan spidol merah, Aurorae membuat sebuah kesimpulan agar mereka dapat menentukan langkah selanjutnya.

“Jadi maksud lo kita harus masuk ke sarang musuh untuk mendapatkan bukti kuatnya?” tanya Rama selesai ia membaca mind miping yang dibuat oleh Aurorae.

Aurorae tersenyum tipis, ia meletakkan spidol merahnya. “Correct. Satu-satunya cara menangkap musuh kali ini adalah dengan mendapatkan bukti yang kuat.”

“Gimana kalau kita nggak dapat apa-apa dan justru eksekusi itu membuat kita terperangkap di sarang musuh?” ujar Bagas menyuarakan pemikirannya.

We will never know if we never try, right? Dalam dunia hukum, kejahatan kayak gini memerlukan bukti yang kuat. Benar begitu, Om Rudi?” ujar Aurorae sambil mengarahkan tatapannya pada Rudi.

Rudi mengangguk. “Yang di bilang Aurorae benar. Kita akan terus stuck kalau nggak punya bukti kuat untuk mengungkap perbuatan Reynaldi.”

Okey, let say kitamasuk ke sarang musuh. Tapi gimana caranya kita ke sana tanpa tercium?”

“Gue kepikiran satu cara. Kita cuma perlu teknologi yang canggih untuk masuk ke sana tanpa meninggalkan bau apapun. Untuk persoalan itu, gue akan coba bantu.”

“Setelah kita dapat buktinya, apa kita bisa langsung buat laporan kasus ini ke polisi?” tanya Rama.

“Nggak semudah itu untuk membuat laporan tuntutan. Reynaldi pasti sudah mempersiapkan semuanya untuk mencuci tangannya. Dilihat dari trek rekornya, dia beberapa kali lolos dari kasus suap dan penggelapan dana,” ungkap Aryo.

Rudi berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan, pria itu membuat sebuah catatan di papan tulis, “Setelah kita dapat buktinya, kita pancing musuh untuk masuk ke perangkap,” Rudi menarik sebuh garis yang dihubungkan ke garis yang lainnya. “Tepat saat itu, kita akan siapkan pasukan di belakang untuk menangkap musuh di tempat kejadian,” pungkasnya.

***

Tim mereka berhasil melakukan sabotase dan sadap suara pada target. Atas kerja sama tim, orang dalam, dan kemampuan bernegosiasi, mereka membobol markas Reynaldi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Dari hasil rekaman suara yang di dapat, Reynaldi mengatakan bahwa ada sebuah brankas yang selama ini dicari olehnya. Sampai saat ini Reynaldi belum dapat menemukan dimana Erlangga menyimpan brankas tersebut.

“Sekarang kita udah tau kalau buktinya ada di brankas itu. Tapi tim kepolisian Om Rudi belum bisa nemuin dimana Ayah kamu nyimpan brankasnya,” ujar Aryo.

“Aryo.”

“Ya?” Aryo menghentikan usapan tangannya di surai Tiara.

“Ayah punya notaris, tapi jauh sebelum Om Rudi berniat buka lagi kasusnya, kita sempat cari keberadaan beliau dan belum ketemu. Kita nggak tau beliau dimana, tapi ada kemungkinan beliau tau sesuatu soal brankas itu,” ucap Tiara.

Mendengar perkataan Tiara, membuat Aryo memikirkannya. “Ayah kamu nggak mungkin nyimpan brankas itu di sembarang tempat.” Aryo beranjak dari posisi tidurannya, ia menghubungi seseorang melalui ponselnya.

“Kamu mau cari notarisnya ayah?”

Aryo mengangguk, “Semoga segera ada titik terang untuk ini.” Aryo memerhatikan paras Tiara, jelas ada kekhawatiran yang bergelayut di sana.

“Hei, kamu mikirin apa?” tanya Aryo.

“Aku cuma khawatir.”

It's oke.” Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap pipi Tiara.

“Aryo, aku laper. Mau makan lagi.”

“Lho, tadi kan kita baru aja makan, Ra.”

“Yaa mana aku tau. Si bayi laper lagi kali,” ujar Tiara.

Aryo lantas tergelak mendengarnya. “Oke, kita cari makanan. Kamu mau makan apa?”

“Aku mau roti maryam yang khas Aceh itu.”

“Kamu serius?” tanya Aryo sambil bangun dari posisi rebahannya. Ia tidak terpikirkan bahwa Tiara akan meminta sesuatu yang cukup sulit didapat malam-malam seperti ini.

Tiara yang melihat wajah kantuk Aryo, menjadi tidak tega. “Yaudah deh nggak usah kalau kamu ngantuk. Besok-besok aja.”

“Aku nggak ngantuk, Sayang. Kita keluar cari roti maryamnya, oke?” tutur Aryo sambil tersenyum. Sebelum mengambil kunci mobilnya, pria itu memerintahkan ajudannya untuk mencarikan makanan yang diinginkan Tiara. Asistennya haruslah serba bisa, pikir Aryo. Mencari roti maryam jam 11 malam begini, itu tidak sulit jika dibandingkan dengan mengintai musuh dan menembak target, bukan?

***

Fredy Siregar, notaris Erlangga yang tim mereka cari akhirnya berhasil ditemukan. Fredy memberitahu bahwa brankas itu disimpan menggunakan jasa safe deposit box di sebuah bank. Selama sebelas tahun, Fredy membayar rutin biaya penyimpanannya. Pria itu telah lama memutuskan pindah ke luar kota demi melindungi diri dari Reynaldi.

“Percuma kalian mengambil brankas itu dari bank. Kunci untuk membuka brankasnya hanya Erlangga yang mengetahuinya.” Fredy juga menambahkan bahwa brankas itu memiliki kekuatan tahan api dan bantingan kuat, sehingga hanya bisa dibuka menggunakan kunci yang telah dibuat khusus.

Siang ini tim mereka kembali mengadakan rapat. Tiara mengeluarkan sebuah kotak beludru di atas meja. Kemudian ia membuka kotak tersebut untuk memperlihatkan isi di dalamnya.

Liontin Tiara

“Benda ini satu-satunya yang ayah kasih ke gue, sebelum beliau pergi. Bentuknya mirip kunci, apa ada kemungkinan kuncinya bisa cocok sama brankas itu?” pertanyaan Tiara itu terdengar seperti sebuah pernyataan baginya dan semua orang yang ada di sana.

Rudi menatap benda tersebut yang seketika membuat sebuah senyum tercetak di wajahnya. “Kita akan coba buktikan. Erlangga nggak mungkin pergi tanpa ninggalin petunjuk apapun,” ucap Rudi.

***

Aurorae bertemu dengan Aryo dan Tiara ketika mereka akan mengambil mobil. Setelah rapat yang panjang dan menguras pikiran, satu persatu mereka memutuskan untuk pulang ketika hari sudah beranjak sore.

“Aurorae.” Tiara menutup kembali pintu mobilnya dan berjalan menghampiri Aurorae. Aryo yang melihat itu memerhatikan sejenak sebelum akhirnya ia bergegas menyusul Tiara.

Tiara mengulurkan tangannya di hadapan Aurorae, tatapan perempuan itu tidak seperti saat mereka bertemu di resepsi dan stasiun kereta waktu itu.

“Gue mau bilang terima kasih sama lo. Lo udah sangat banyak membantu kita,” ujar Tiaa. “I think about it. For what happened in past, about you and Aryo, it's just a past. Lo dan Aryo berhak memiliki itu dan yaa I'm not gonna jealous for that.

Aurorae mengulaskan senyumnya, detik berikutnya ia membalas jabatan tangan Tiara. “Well, gue juga berterima kasih sama lo. You the reason for him to be a better person. Selamat juga atas kehadiran anak kalian, gue ikut senang.”

Di tengah-tengah perbincangan itu, Aryo pun menghampiri keduanya. “Kalian ngomongin apa?”

I must to go. Kalau kamu ingin tau, silakan tanya ke istri kamu,” ujar Aurorae bergantian menatap Aryo dan Tiara. “Ohya, jangan lupa imbalan untuk aku kalau kita berhasil,” ujar Aurorae sebelum perempuan itu memasuki lamborghini merahnya.

Sepeninggalan Aurorae, Tiara mengalihkan tatapannya pada Aryo. “Imbalan apa yang dimaksud Aurorae?” tanya Tiara.

“Dia boleh minta apa aja kalau kita berhasil menangin kasusnya.”

What? Are you serious about that?” Bola mata Tiara sukses melebar kala mendengarnya

“Lho, kenapa emangnya Sayang?”

“Emang kamu tau apa yang akan dia minta? Kalau dia minta yang macem-macem gimana?”

You said that you will not get jealous, Ra. Aku tau apa yang ada di pikiran kamu, Sayang. Let me say, aku udah kasih syarat soal permintaan yang nggak bisa dia minta. Semuanya tetap punya limit-nya,” terang Aryo.

I'm not jealous. Oke well, tell me about the limit.”

Aryo menatap Tiara, detik berikutnya ia mengulaskan seringai jenakanya dan menaikkan sebelah alisnya, “She can ask for anything. But she can't never ask me to comeback with her. She's already moved on from me. I'm already yours, truly, one and only, Sweety. So are we deal with that?

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Semua pasang mata di ruangan itu menatap seorang perempuan yang kini di bawa oleh Aryo ke markas. Sebelumnya Aryo telah menyampaikan pemikirannya, bahwa mereka membutuhkan satu komponen lagi untuk menjalankan rencana baru. Komponen tersebut adalah satu hal yang mereka belum miliki, jadi meminta bantuan kepada ahlinya adalah salah satu alternatif yang dapat di lakukan.

“Aurorae Hartanto,” perempuan bersurai hitam legam itu memperkenalkan dirinya.

“Rudi Abimana, senang bisa bertemu dengan Anda lagi,” ucap Aurorae ketika pandangannya bertemu dengan Rudi. Dari semua yang hadir di ruangan itu, hanya Rudi yang sudah mengenal Aurorae. Seperti yang Aurorae katakan, siapa pebisnis yang tidak mengenal Rudi Abimana. Ini merupakan pertemuannya dengan Rudi yang ketiga kalinya.

Setelah perkenalan singkat tersebut, Aurorae menjelaskan lebih dulu alasannya berada di sini dan apa yang dapat ia berikan sebagai bantuan.

Rudi mengeluarkan sebuah foto di atas meja. Aurorae memerhatikan foto tersebut, tangannya lantas terulur untuk mengambilnya. “Reynaldi Brodjohujodyo. Are you guys ... want to against him?” Aurorae menatap Rudi, Bagas, dan Rama secara bergantian. Kemudian perempuan cantik itu mengarahkan tatapannya ke arah Aryo.

Aryo pun mengangguk. “Reynaldi diduga adalah dalang dari kecelakaan Erlangga Sinaga sebelas tahun yang lalu. Pembunuhan berencana, suap, dan pembelian properti ilegal,” jelas Aryo.

It's not that easy to beat him. But we still have a chance. Berapa bukti yang udah berhasil di temukan? Oh wait, who is Erlangga Sinaga?”

Rudi dan Bagas menjelaskan lebih detail kepada Aurorae. Setelah mendengar semuanya, perempuan itu membuat sebuah coret-coretan di whiteboard besar di hadapan mereka. Menggunakan spidol merah, Aurorae membuat sebuah kesimpulan agar mereka dapat menentukan langkah selanjutnya.

“Jadi maksud lo kita harus masuk ke sarang musuh untuk mendapatkan bukti kuatnya?” tanya Rama selesai ia membaca mind miping yang dibuat oleh Aurorae.

Aurorae tersenyum tipis, ia meletakkan spidol merahnya. “Correct. Satu-satunya cara menangkap musuh kali ini adalah dengan mendapatkan bukti yang kuat.”

“Gimana kalau kita nggak dapat apa-apa dan justru eksekusi itu membuat kita terperangkap di sarang musuh?” ujar Bagas menyuarakan pemikirannya.

We will never know if we never try, right? Dalam dunia hukum, kejahatan kayak gini memerlukan bukti yang kuat. Benar begitu, Om Rudi?” ujar Aurorae sambil mengarahkan tatapannya pada Rudi.

Rudi mengangguk. “Yang di bilang Aurorae benar. Kita akan terus stuck kalau nggak punya bukti kuat untuk mengungkap perbuatan Reynaldi.”

Okey, let say kitamasuk ke sarang musuh. Tapi gimana caranya kita ke sana tanpa tercium?”

“Gue kepikiran satu cara. Kita cuma perlu teknologi yang canggih untuk masuk ke sana tanpa meninggalkan bau apapun. Untuk persoalan itu, gue akan coba bantu.”

“Setelah kita dapat buktinya, apa kita bisa langsung buat laporan kasus ini ke polisi?” tanya Rama.

“Nggak semudah itu untuk membuat laporan tuntutan. Reynaldi pasti sudah mempersiapkan semuanya untuk mencuci tangannya. Dilihat dari trek rekornya, dia beberapa kali lolos dari kasus suap dan penggelapan dana,” ungkap Aryo.

Rudi berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan, pria itu membuat sebuah catatan di papan tulis, “Setelah kita dapat buktinya, kita pancing musuh untuk masuk ke perangkap,” Rudi menarik sebuh garis yang dihubungkan ke garis yang lainnya. “Tepat saat itu, kita akan siapkan pasukan di belakang untuk menangkap musuh di tempat kejadian,” pungkasnya.

***

Tim mereka berhasil melakukan sabotase dan sadap suara pada target. Atas kerja sama tim, orang dalam, dan kemampuan bernegosiasi, mereka membobol markas Reynaldi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Dari hasil rekaman suara yang di dapat, Reynaldi mengatakan bahwa ada sebuah brankas yang selama ini dicari olehnya. Sampai saat ini Reynaldi belum dapat menemukan dimana Erlangga menyimpan brankas tersebut.

“Sekarang kita udah tau kalau buktinya ada di brankas itu. Tapi tim kepolisian Om Rudi belum bisa nemuin dimana Ayah kamu nyimpan brankasnya,” ujar Aryo.

“Aryo.”

“Ya?” Aryo menghentikan usapan tangannya di surai Tiara.

“Ayah punya notaris, tapi jauh sebelum Om Rudi berniat buka lagi kasusnya, kita sempat cari keberadaan beliau dan belum ketemu. Kita nggak tau beliau dimana, tapi ada kemungkinan beliau tau sesuatu soal brankas itu,” ucap Tiara.

Mendengar perkataan Tiara, membuat Aryo memikirkannya. “Ayah kamu nggak mungkin nyimpan brankas itu di sembarang tempat.” Aryo beranjak dari posisi tidurannya, ia menghubungi seseorang melalui ponselnya.

“Kamu mau cari notarisnya ayah?”

Aryo mengangguk, “Semoga segera ada titik terang untuk ini.” Aryo memerhatikan paras Tiara, jelas ada kekhawatiran yang bergelayut di sana.

“Hei, kamu mikirin apa?” tanya Aryo.

“Aku cuma khawatir.”

It's oke.” Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap pipi Tiara.

“Aryo, aku laper. Mau makan lagi.”

“Lho, tadi kan kita baru aja makan, Ra.”

“Yaa mana aku tau. Si bayi laper lagi kali,” ujar Tiara.

Aryo lantas tergelak mendengarnya. “Oke, kita cari makanan. Kamu mau makan apa?”

“Aku mau roti maryam yang khas Aceh itu.”

“Kamu serius?” tanya Aryo sambil bangun dari posisi rebahannya. Ia tidak terpikirkan bahwa Tiara akan meminta sesuatu yang cukup sulit didapat malam-malam seperti ini.

Tiara yang melihat wajah kantuk Aryo, menjadi tidak tega. “Yaudah deh nggak usah kalau kamu ngantuk. Besok-besok aja.”

“Aku nggak ngantuk, Sayang. Kita keluar cari roti maryamnya, oke?” tutur Aryo sambil tersenyum. Sebelum mengambil kunci mobilnya, pria itu memerintahkan ajudannya untuk mencarikan makanan yang diinginkan Tiara. Asistennya haruslah serba bisa, pikir Aryo. Mencari roti maryam jam 11 malam begini, itu tidak sulit jika dibandingkan dengan mengintai musuh dan menembak target, bukan?

***

Fredy Siregar, notaris Erlangga yang tim mereka cari akhirnya berhasil ditemukan. Fredy memberitahu bahwa brankas itu disimpan menggunakan jasa safe deposit box di sebuah bank. Selama sebelas tahun, Fredy membayar rutin biaya penyimpanannya. Pria itu telah lama memutuskan pindah ke luar kota demi melindungi diri dari Reynaldi.

“Percuma kalian mengambil brankas itu dari bank. Kunci untuk membuka brankasnya hanya Erlangga yang mengetahuinya.” Fredy juga menambahkan bahwa brankas itu memiliki kekuatan tahan api dan bantingan kuat, sehingga hanya bisa dibuka menggunakan kunci yang telah dibuat khusus.

Siang ini tim mereka kembali mengadakan rapat. Tiara mengeluarkan sebuah kotak beludru di atas meja. Kemudian ia membuka kotak tersebut untuk memperlihatkan isi di dalamnya.

Liontin Tiara

“Benda ini satu-satunya yang ayah tinggalin ke gue. Bentuknya mirip kunci, apa ada kemungkinan kuncinya bisa cocok sama brankas itu?” pertanyaan Tiara itu terdengar seperti sebuah pernyataan baginya dan semua orang yang ada di sana.

Rudi menatap benda tersebut yang seketika membuat sebuah senyum tercetak di wajahnya. “Kita akan coba buktikan. Erlangga nggak mungkin pergi tanpa ninggalin petunjuk apapun,” ucap Rudi.

***

Aurorae bertemu dengan Aryo dan Tiara ketika mereka akan mengambil mobil. Setelah rapat yang panjang dan menguras pikiran, satu persatu mereka memutuskan untuk pulang ketika hari sudah beranjak sore.

“Aurorae.” Tiara menutup kembali pintu mobilnya dan berjalan menghampiri Aurorae. Aryo yang melihat itu memerhatikan sejenak sebelum akhirnya ia bergegas menyusul Tiara.

Tiara mengulurkan tangannya di hadapan Aurorae, tatapan perempuan itu tidak seperti saat mereka bertemu di resepsi dan stasiun kereta waktu itu.

“Gue mau bilang terima kasih sama lo. Lo udah sangat banyak membantu kita,” ujar Tiaa. “I think about it. For what happened in past, about you and Aryo, it's just a past. Lo dan Aryo berhak memiliki itu dan yaa I'm not gonna jealous for that.

Aurorae mengulaskan senyumnya, detik berikutnya ia membalas jabatan tangan Tiara. “Well, gue juga berterima kasih sama lo. You the reason for him to be a better person. Selamat juga atas kehadiran anak kalian, gue ikut senang.”

Di tengah-tengah perbincangan itu, Aryo pun menghampiri keduanya. “Kalian ngomongin apa?”

I must to go. Kalau kamu ingin tau, silakan tanya ke istri kamu,” ujar Aurorae bergantian menatap Aryo dan Tiara. “Ohya, jangan lupa imbalan untuk aku kalau kita berhasil,” ujar Aurorae sebelum perempuan itu memasuki lamborghini merahnya.

Sepeninggalan Aurorae, Tiara mengalihkan tatapannya pada Aryo. “Imbalan apa yang dimaksud Aurorae?” tanya Tiara.

“Dia boleh minta apa aja kalau kita berhasil menangin kasusnya.”

What? Are you serious about that?” Bola mata Tiara sukses melebar kala mendengarnya

“Lho, kenapa emangnya Sayang?”

“Emang kamu tau apa yang akan dia minta? Kalau dia minta yang macem-macem gimana?”

You said that you will not get jealous, Ra. Aku tau apa yang ada di pikiran kamu, Sayang. Let me say, aku udah kasih syarat soal permintaan yang nggak bisa dia minta. Semuanya tetap punya limit-nya,” terang Aryo.

I'm not jealous. Oke well, tell me about the limit.

Aryo menatap Tiara, detik berikutnya ia mengulaskan seringai jenakanya dan menaikkan sebelah alisnya, “She can ask for anything. But she can't never ask me to comeback with her. She's already moved on from me. I'm already yours, truly, one and only, Sweety. So are we deal with that?

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Semua pasang mata di ruangan itu menatap seorang perempuan yang kini di bawa oleh Aryo ke markas. Sebelumnya Aryo telah menyampaikan pemikirannya, bahwa mereka membutuhkan satu komponen lagi untuk menjalankan rencana baru. Komponen tersebut adalah satu hal yang mereka belum miliki, jadi meminta bantuan kepada ahlinya adalah salah satu alternatif yang dapat di lakukan.

“Aurorae Hartanto,” perempuan bersurai hitam legam itu memperkenalkan dirinya.

“Rudi Abimana, senang bisa bertemu dengan Anda lagi,” ucap Aurorae ketika pandangannya bertemu dengan Rudi. Dari semua yang hadir di ruangan itu, hanya Rudi yang sudah mengenal Aurorae. Seperti yang Aurorae katakan, siapa pebisnis yang tidak mengenal Rudi Abimana. Ini merupakan pertemuannya dengan Rudi yang ketiga kalinya.

Setelah perkenalan singkat tersebut, Aurorae menjelaskan lebih dulu alasannya berada di sini dan apa yang dapat ia berikan sebagai bantuan.

Rudi mengeluarkan sebuah foto di atas meja. Aurorae memerhatikan foto tersebut, tangannya lantas terulur untuk mengambilnya. “Reynaldi Brodjohujodyo. Are you guys ... want to against him?” Aurorae menatap Rudi, Bagas, dan Rama secara bergantian. Kemudian perempuan cantik itu mengarahkan tatapannya ke arah Aryo.

Aryo pun mengangguk. “Reynaldi diduga adalah dalang dari kecelakaan Erlangga Sinaga sebelas tahun yang lalu. Pembunuhan berencana, suap, dan pembelian properti ilegal,” jelas Aryo.

It's not that easy to beat him. But we still have a chance. Berapa bukti yang udah berhasil di temukan? Oh wait, who is Erlangga Sinaga?”

Rudi dan Bagas menjelaskan lebih detail kepada Aurorae. Setelah mendengar semuanya, perempuan itu membuat sebuah coret-coretan di whiteboard besar di hadapan mereka. Menggunakan spidol merah, Aurorae membuat sebuah kesimpulan agar mereka dapat menentukan langkah selanjutnya.

“Jadi maksud lo kita harus masuk ke sarang musuh untuk mendapatkan bukti kuatnya?” tanya Rama selesai ia membaca mind miping yang dibuat oleh Aurorae.

Aurorae tersenyum tipis, ia meletakkan spidol merahnya. “Correct. Satu-satunya cara menangkap musuh kali ini adalah dengan mendapatkan bukti yang kuat.”

“Gimana kalau kita nggak dapat apa-apa dan justru eksekusi itu membuat kita terperangkap di sarang musuh?” ujar Bagas menyuarakan pemikirannya.

We will never know if we never try, right? Dalam dunia hukum, kejahatan kayak gini memerlukan bukti yang kuat. Benar begitu, Om Rudi?” ujar Aurorae sambil mengarahkan tatapannya pada Rudi.

Rudi mengangguk. “Yang di bilang Aurorae benar. Kita akan terus stuck kalau nggak punya bukti kuat untuk mengungkap perbuatan Reynaldi.”

Okey, let say kitamasuk ke sarang musuh. Tapi gimana caranya kita ke sana tanpa tercium?”

“Gue kepikiran satu cara. Kita cuma perlu teknologi yang canggih untuk masuk ke sana tanpa meninggalkan bau apapun. Untuk persoalan itu, gue akan coba bantu.”

“Setelah kita dapat buktinya, apa kita bisa langsung buat laporan kasus ini ke polisi?” tanya Rama.

“Nggak semudah itu untuk membuat laporan tuntutan. Reynaldi pasti sudah mempersiapkan semuanya untuk mencuci tangannya. Dilihat dari trek rekornya, dia beberapa kali lolos dari kasus suap dan penggelapan dana,” ungkap Aryo.

Rudi berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan, pria itu membuat sebuah catatan di papan tulis, “Setelah kita dapat buktinya, kita pancing musuh untuk masuk ke perangkap,” Rudi menarik sebuh garis yang dihubungkan ke garis yang lainnya. “Tepat saat itu, kita akan siapkan pasukan di belakang untuk menangkap musuh di tempat kejadian,” pungkasnya.

***

Tim mereka berhasil melakukan sabotase dan sadap suara pada target. Atas kerja sama tim, orang dalam, dan kemampuan bernegosiasi, mereka membobol markas Reynaldi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Dari hasil rekaman suara yang di dapat, Reynaldi mengatakan bahwa ada sebuah brankas yang selama ini dicari olehnya. Sampai saat ini Reynaldi belum dapat menemukan dimana Erlangga menyimpan brankas tersebut.

“Sekarang kita udah tau kalau buktinya ada di brankas itu. Tapi tim kepolisian Om Rudi belum bisa nemuin dimana Ayah kamu nyimpan brankasnya,” ujar Aryo.

“Aryo.”

“Ya?” Aryo menghentikan usapan tangannya di surai Tiara.

“Ayah punya notaris, tapi jauh sebelum Om Rudi berniat buka lagi kasusnya, kita sempat cari keberadaan beliau dan belum ketemu. Kita nggak tau beliau dimana, tapi ada kemungkinan beliau tau sesuatu soal brankas itu,” ucap Tiara.

Mendengar perkataan Tiara, membuat Aryo memikirkannya. “Ayah kamu nggak mungkin nyimpan brankas itu di sembarang tempat.” Aryo beranjak dari posisi tidurannya, ia menghubungi seseorang melalui ponselnya.

“Kamu mau cari notarisnya ayah?”

Aryo mengangguk, “Semoga segera ada titik terang untuk ini.” Aryo memerhatikan paras Tiara, jelas ada kekhawatiran yang bergelayut di sana.

“Hei, kamu mikirin apa?” tanya Aryo.

“Aku cuma khawatir.”

It's oke.” Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap pipi Tiara.

“Aryo, aku laper. Mau makan lagi.”

“Lho, tadi kan kita baru aja makan, Ra.”

“Yaa mana aku tau. Si bayi laper lagi kali,” ujar Tiara.

Aryo lantas tergelak mendengarnya. “Oke, kita cari makanan. Kamu mau makan apa?”

“Aku mau roti maryam yang khas Aceh itu.”

“Kamu serius?” tanya Aryo sambil bangun dari posisi rebahannya. Ia tidak terpikirkan bahwa Tiara akan meminta sesuatu yang cukup sulit didapat malam-malam seperti ini.

Tiara yang melihat wajah kantuk Aryo, menjadi tidak tega. “Yaudah deh nggak usah kalau kamu ngantuk. Besok-besok aja.”

“Aku nggak ngantuk, Sayang. Kita keluar cari roti maryamnya, oke?” tutur Aryo sambil tersenyum. Sebelum mengambil kunci mobilnya, pria itu memerintahkan ajudannya untuk mencarikan makanan yang diinginkan Tiara. Asistennya haruslah serba bisa, pikir Aryo. Mencari roti maryam jam 11 malam begini, itu tidak sulit jika dibandingkan dengan mengintai musuh dan menembak target, bukan?

***

Fredy Siregar, notaris Erlangga yang tim mereka cari akhirnya berhasil ditemukan. Fredy memberitahu bahwa brankas itu disimpan menggunakan jasa safe deposit box di sebuah bank. Selama sebelas tahun, Fredy membayar rutin biaya penyimpanannya. Pria itu telah lama memutuskan pindah ke luar kota demi melindungi diri dari Reynaldi.

“Percuma kalian mengambil brankas itu dari bank. Kunci untuk membuka brankasnya hanya Erlangga yang mengetahuinya.” Fredy juga menambahkan bahwa brankas itu memiliki kekuatan tahan api dan bantingan kuat, sehingga hanya bisa dibuka menggunakan kunci yang telah dibuat khusus.

Siang ini tim mereka kembali mengadakan rapat. Tiara mengeluarkan sebuah kotak beludru di atas meja. Kemudian ia membuka kotak tersebut untuk memperlihatkan isi di dalamnya.

Liontin Tiara

“Benda ini satu-satunya yang ayah tinggalin ke gue. Bentuknya mirip kunci, apa ada kemungkinan kuncinya bisa cocok sama brankas itu?” pertanyaan Tiara itu terdengar seperti sebuah pernyataan baginya dan semua orang yang ada di sana.

Rudi menatap benda tersebut yang seketika membuat sebuah senyum tercetak di wajahnya. “Kita akan coba buktikan. Erlangga nggak mungkin pergi tanpa ninggalin petunjuk apapun,” ucap Rudi.

***

Aurorae bertemu dengan Aryo dan Tiara ketika mereka akan mengambil mobil. Setelah rapat yang panjang dan menguras pikiran, satu persatu mereka memutuskan untuk pulang ketika hari sudah beranjak sore.

“Aurorae.” Tiara menutup kembali pintu mobilnya dan berjalan menghampiri Aurorae. Aryo yang melihat itu memerhatikan sejenak sebelum akhirnya ia bergegas menyusul Tiara.

Tiara mengulurkan tangannya di hadapan Aurorae, tatapan perempuan itu tidak seperti saat mereka bertemu di resepsi dan stasiun kereta waktu itu.

“Gue mau bilang terima kasih sama lo. Lo udah sangat banyak membantu kita,” ujar Tiaa. “I think about it. For what happened in past, about you and Aryo, it's just a past. Lo dan Aryo berhak memiliki itu dan yaa I'm not gonna jealous for that.

Aurorae mengulaskan senyumnya, detik berikutnya ia membalas jabatan tangan Tiara. “Well, gue juga berterima kasih sama lo. You the reason for him to be a better person. Selamat juga atas kehadiran anak kalian, gue ikut senang.”

Di tengah-tengah perbincangan itu, Aryo pun menghampiri keduanya. “Kalian ngomongin apa?”

I must to go. Kalau kamu ingin tau, silakan tanya ke istri kamu,” ujar Aurorae bergantian menatap Aryo dan Tiara. “Ohya, jangan lupa imbalan untuk aku kalau kita berhasil,” ujar Aurorae sebelum perempuan itu memasuki lamborghini merahnya.

Sepeninggalan Aurorae, Tiara mengalihkan tatapannya pada Aryo. “Imbalan apa yang dimaksud Aurorae?” tanya Tiara.

“Dia boleh minta apa aja kalau kita berhasil menangin kasusnya.”

What? Are you serious about that?” Bola mata Tiara sukses melebar kala mendengarnya

“Lho, kenapa emangnya Sayang?”

“Emang kamu tau apa yang akan dia minta? Kalau dia minta yang macem-macem gimana?”

You said that you will not get jealous, Ra. Aku tau apa yang ada di pikiran kamu, Sayang. Let me say, aku udah kasih syarat soal permintaan yang nggak bisa dia minta. Semuanya tetap punya limit-nya,” terang Aryo.

I'm not jealous. Oke well, tell me about the limit.

Aryo menatap Tiara, detik berikutnya ia mengulaskan seringai jenakanya dan menaikkan sebelah alisnya, “She can ask for anything. But she can't never ask me to comeback with her. She's already moved on from me. Right now, I'm already yours, one and only, Sweety. So are we deal about it?

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Masih dengan mata terpejam, Aryo meraba-raba kasur di sampingnya. Dahinya mengkerut ketika hanya udara yang menyapa tangannya. Pria itu lekas membuka netranya dan benar saja, ia tidak melihat keberadaan istrinya di sampingnya.

Aryo berjalan keluar kamar dan menuruni tangga, ia pun menemui Felicia di dapur. Setelah mengambil segelas air putih, pria bertubuh jangkung itu bertanya pada Felicia tentang keberadaan Tiara.

“Tadi pagi papamu mau jogging, terus Tiara mau ikut katanya, mau nemenin. Yaudah pergi berdua deh mereka.” Penjelasan Felicia sukses membuat Aryo membelalak dan hampir saja gelas di tangannya meluncur begitu saja. Bagaimana bisa Tiara berpikiran untuk jogging padahal perempuan itu sedang mengandung.

“Kamu kenapa? Kok ekspresimu begitu?” tanya Felicia sambil memerhatikan putranya.

“Nggak papa. Aryo mau susul Tiara dulu deh Mah,” Aryo hendak pergi dari sana dan mengambil kunci mobilnya, tapi aksinya itu tertahan ketika melihat papanya dan Tiara sudah kembali. Kedua orang itu membawa satu bungkus plastik yang ternyata isinya adalah nasi uduk.

“Tadi pulang jogging Tiara sama Papa beli nasi uduk, Tiara pengen katanya. Sekalian aja deh beliin buat kamu dan Mama juga,” tutur Edi.

Aryo melempar tatapan meminta penjelasan pada Tiara yang hanya di balas dengan cengiran kecilnya. Aryo mengehela napasnya, lalu ia menarik kursi meja makan di samping Tiara. Mereka berempat pun memutuskan sarapan bersama di meja makan. Felicia dan Tiara mengambilkan piring untuk Edi dan Aryo.

“Tadi joggingnya lama nggak Pah?” tanya Aryo di sela-sela suapannya.

“Enggak lama kok,” sahut Tiara sebelum Edi sempat menjawab pertanyaan Aryo.

“Iya, nggak lama kok. Emang kenapa?” tanya Edi.

“Tiara nggak boleh jogging Pah, dia kan lagi—”

“Aku udah sembuh, Aryo. Itu Pah, Mah, kemarin Tiara agak nggak enak badan aja,” sela Tiara sebelum Aryo hampir saja mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung.

“Ohhh gitu. Mama kirain Tiara hamil lho tadi. Bikin kaget aja kamu, Aryo,” sahut Felicia yang seketika membuat Tiara dan Aryo saling melempar pandangan.

***

Edi mendapati putranya mengetuk pintu ruang kerjanya dan mengatakan ingin berbicara soal hal yang lumayan penting.

“Ada apa Aryo? Apa yang mau kamu bicarain soal perusahaan?” tembak Edi tepat sasaran.

“Iya Pah, ini soal perusahaan.”

Edi mengulaskan senyum lembut khasnya. “Kamu bisa bicarakan apapun itu.”

“Mama ada bilang sesuatu ke Papa?”

Edi mengangguk. “Mama ke rumah kamu beberapa hari yang lalu. Beliau bilang Tiara nggak ada di sana. Kamu sama Tiara udah baik-baik aja?”

Aryo mengangguk. “Yes. We fine after we fixed our problem. Day by day, about me and her it's just getting better.

“Papa senang dengarnya, kamu sama Tiara bisa menjalani pernikahan kalian dengan baik. Kamu tau, permasalahan dalam pernikahan akan selalu ada, tapi bisa selsai kamu ingin menyelsaikannya. Oke, jadi apa yang mau kamu tanyakan soal perusahaan ke Papa?”

“Soal penarikan saham yang jumlahnya cukup besar oleh pemagang saham, Pah. Saat ini masalah itu cukup membaut kondisi perusahaan chaos. Aryo ingin meminta bantuan Papa dan mama,” ungkap Aryo.

Edi menatap putranya sesaat sebelum menorehkan senyum bangganya, “Papa akan dengan senang hati membantu kamu. Papa melihat usaha kamu selama ini, kamu telah belajar banyak dan menerapkannya dengan sangat baik.”

“Makasih Pah,” ujar Aryo diiringi senyumnya.

Sebelum pamit pergi dari ruangan Edi, Aryo menyampaikan sesuatu pada papanya. “Pah, ada hal lumayan besar yang lagi Aryo kerjakan saat ini. Aryo melakukannya sebagai pemimpin perusahaan dan sebagai suami Tiara. Saat ini Aryo nggak bisa kasih tau ke ke Papa dan mama, tapi suatu saat Aryo akan sampaikan. Aryo harap Papa dan mama mendukung yang Aryo lakukan. Seperti yang Papa ajarkan, Aryo akan selalu ada di pihak yang benar, Pah.”

***

Seseorang menekan tombol di samping elevator sehingga pintunya kembali terbuka. Pandangan keduanya pun bertemu dan hanya ada mereka berdua di dalam sana.

“Lantai berapa?” tanya Aryo pada Aurorae. Ya, perempuan yang satu lift dengannya itu adalah Aurorae.

“Lantai 10. Aku ada urusan dengan salah satu pemegang saham di sini,” jelas Aurorae seolah dapat membaca pikiran Aryo.

“Okey.” Aryo menekan tombol angka sepuluh sesuai yang dikatakan Aurorae.

“Aku tau soal penarikan saham itu,” ujar Aurorae sebelum perempuan itu keluar dari lift.

Aryo pun ikut turun di lantai 10 dan mengikuti langkah Aurorae.

Sure. Berita itu pasti kesebar dengan cepat,” ujar Aryo.

“Kamu lupa, Kakek aku juga salah satu pemegang saham di Harapan Jaya.”

“Beliau ingin menarik sahamnya juga? Maksud aku, salah satu yan gsudah menarik sahamnya punya hubungan bisnis dengan perusahaan beliau,” terang Aryo.

“Kakek masih mikirin buat narik atau enggak. Aku minta kakek untuk pertimbangkan karena aku rasa ada yang aneh dari semuanya.”

“Maksud kamu apanya yang aneh?”

Project pertama kamu sebagai presiden direktur berjalan baik dan profitnya sangat memuaskan. I don't know, but aku ngerasa ada permainan di balik pemegang saham yang mau narik saham mereka tiba-tiba. Apalagi alasannya cuma karena kebijakan baru yang kamu ajakan. Mereka yang mau narik sahamnya, adalah mereka yang selama ini loyal kepada Harapan Jaya. I smell something wrong in here.

“Aku udah sempat mikirin itu, Aurorae. Tapi saat ini fokusku adalah membujuk para pemegang agar tidak menarik sahamnya. I still have a chance.”

“Yes, kamu harus dapatkan kesempatan itu.”

“Aurorae, aku mau meminta bantuan kamu. Selain soal pemegang saham, aku sedang mengerjakan satu hal yang cukup besar. Kalau kamu bersedia, aku akan kasih tau kamu soal project ini.”

You ask me to help you?” tanya Aurorae yang langsung diangguki oleh Aryo.

“Ketika kamu meminta bantuan, kamu akan selalu memintanya sama orang yang tepat dan kamu percaya orang itu bisa. Apa ini bisnis? Apa yang aku dapatkan kalau aku berhasil?” ujar Aurorae.

“Apapun yang kamu mau. Tapi satu hal yang nggak bisa, jangan minta balikan sama aku.”

“Satu hal yang kamu perlu tau, Aryo. Awalnya itu emang susah, tapi aku berhasil move on dari kamu. Kamu jadi lebih baik sama dia, aku bsia lihat itu dan aku ikut senang.” Aurorae mengulaskan senyum tulusnya.

Oke. So we are deal for the project?” Aryo mengulurkan tangannya di hadapan Aurorae.

Aurorae tersenyum tipis sambil mengedikkan kedua bahunya. Perempuan itu lantas menerima uluran tangan Aryo, ia menjabatnya, “Alright. We're deal.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Masih dengan mata terpejam, Aryo meraba-raba kasur di sampingnya. Dahinya mengkerut ketika hanya udara yang menyapa tangannya. Pria itu lekas membuka netranya dan benar saja, ia tidak melihat keberadaan istrinya di sampingnya.

Aryo berjalan keluar kamar dan menuruni tangga, ia pun menemui Felicia di dapur. Setelah mengambil segelas air putih, pria bertubuh jangkung itu bertanya pada Felicia tentang keberadaan Tiara.

“Tadi pagi papamu mau jogging, terus Tiara mau ikut katanya, mau nemenin. Yaudah pergi berdua deh mereka.” Penjelasan Felicia sukses membuat Aryo membelalak dan hampir saja gelas di tangannya meluncur begitu saja. Bagaimana bisa Tiara berpikiran untuk jogging padahal perempuan itu sedang mengandung.

“Kamu kenapa? Kok ekspresimu begitu?” tanya Felicia sambil memerhatikan putranya.

“Nggak papa. Aryo mau susul Tiara dulu deh Mah,” Aryo hendak pergi dari sana dan mengambil kunci mobilnya, tapi aksinya itu tertahan ketika melihat papanya dan Tiara sudah kembali. Kedua orang itu membawa satu bungkus plastik yang ternyata isinya adalah nasi uduk.

“Tadi pulang jogging Tiara sama Papa beli nasi uduk, Tiara pengen katanya. Sekalian aja deh beliin buat kamu dan Mama juga,” tutur Edi.

Aryo melempar tatapan meminta penjelasan pada Tiara yang hanya di balas dengan cengiran kecilnya. Aryo mengehela napasnya, lalu ia menarik kursi meja makan di samping Tiara. Mereka berempat pun memutuskan sarapan bersama di meja makan. Felicia dan Tiara mengambilkan piring untuk Edi dan Aryo.

“Tadi joggingnya lama nggak Pah?” tanya Aryo di sela-sela suapannya.

“Enggak lama kok,” sahut Tiara sebelum Edi sempat menjawab pertanyaan Aryo.

“Iya, nggak lama kok. Emang kenapa?” tanya Edi.

“Tiara nggak boleh jogging Pah, dia kan lagi—”

“Aku udah sembuh, Aryo. Itu Pah, Mah, kemarin Tiara agak nggak enak badan aja,” sela Tiara sebelum Aryo hampir saja mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung.

“Ohhh gitu. Mama kirain Tiara hamil lho tadi. Bikin kaget aja kamu, Aryo,” sahut Felicia yang seketika membuat Tiara dan Aryo saling melempar pandangan.

***

Edi mendapati putranya mengetuk pintu ruang kerjanya dan mengatakan ingin berbicara soal hal yang lumayan penting.

“Ada apa Aryo? Apa yang mau kamu bicarain soal perusahaan?” tembak Edi tepat sasaran.

“Iya Pah, ini soal perusahaan.”

Edi mengulaskan senyum lembut khasnya. “Kamu bisa bicarakan apapun itu.”

“Mama ada bilang sesuatu ke Papa?”

Edi mengangguk. “Mama ke rumah kamu beberapa hari yang lalu. Beliau bilang Tiara nggak ada di sana. Kamu sama Tiara udah baik-baik aja?”

Aryo mengangguk. “Yes. We fine after we fixed our problem. Day by day, about me and her it's just getting better.

“Papa senang dengarnya, kamu sama Tiara bisa menjalani pernikahan kalian dengan baik. Kamu tau, permasalahan dalam pernikahan akan selalu ada, tapi bisa selsai kamu ingin menyelsaikannya. Oke, jadi apa yang mau kamu tanyakan soal perusahaan ke Papa?”

“Soal penarikan saham yang jumlahnya cukup besar oleh pemagang saham, Pah. Saat ini masalah itu cukup membaut kondisi perusahaan chaos. Aryo ingin meminta bantuan Papa dan mama,” ungkap Aryo.

Edi menatap putranya sesaat sebelum menorehkan senyum bangganya, “Papa akan dengan senang hati membantu kamu. Papa melihat usaha kamu selama ini, kamu telah belajar banyak dan menerapkannya dengan sangat baik.”

“Makasih Pah,” ujar Aryo diiringi senyumnya.

Sebelum pamit pergi dari ruangan Edi, Aryo menyampaikan sesuatu pada papanya. “Pah, ada hal lumayan besar yang lagi Aryo kerjakan saat ini. Aryo melakukannya sebagai pemimpin perusahaan dan sebagai suami Tiara. Saat ini Aryo nggak bisa kasih tau ke ke Papa dan mama, tapi suatu saat Aryo akan sampaikan. Aryo harap Papa dan mama mendukung yang Aryo lakukan. Seperti yang Papa ajarkan, Aryo akan selalu ada di pihak yang benar, Pah.”

***

Seseorang menekan tombol di samping elevator sehingga pintunya kembali terbuka. Pandangan keduanya pun bertemu dan hanya ada mereka berdua di dalam sana.

“Lantai berapa?” tanya Aryo pada Aurorae. Ya, perempuan yang satu lift dengannya itu adalah Aurorae.

“Lantai 10. Aku ada urusan dengan salah satu pemegang saham di sini,” jelas Aurorae seolah dapat membaca pikiran Aryo.

“Okey.” Aryo menekan tombol angka sepuluh sesuai yang dikatakan Aurorae.

“Aku tau soal penarikan saham itu,” ujar Aurorae sebelum perempuan itu keluar dari lift.

Aryo pun ikut turun di lantai 10 dan mengikuti langkah Aurorae.

Sure. Berita itu pasti kesebar dengan cepat,” ujar Aryo.

“Kamu lupa, Kakek aku juga salah satu pemegang saham di Harapan Jaya.”

“Beliau ingin menarik sahamnya juga? Maksud aku, salah satu yan gsudah menarik sahamnya punya hubungan bisnis dengan perusahaan beliau,” terang Aryo.

“Kakek masih mikirin buat narik atau enggak. Aku minta kakek untuk pertimbangkan karena aku rasa ada yang aneh dari semuanya.”

“Maksud kamu apanya yang aneh?”

Project pertama kamu sebagai presiden direktur berjalan baik dan profitnya sangat memuaskan. I don't know, but aku ngerasa ada permainan di balik pemegang saham yang mau narik saham mereka tiba-tiba. Apalagi alasannya cuma karena kebijakan baru yang kamu ajakan. Mereka yang mau narik sahamnya, adalah mereka yang selama ini loyal kepada Harapan Jaya. I smell something wrong in here.

“Aku udah sempat mikirin itu, Aurorae. Tapi saat ini fokusku adalah membujuk para pemegang agar tidak menarik sahamnya. I still have a chance.”

“Yes, kamu harus dapatkan kesempatan itu.”

“Aurorae, aku mau meminta bantuan kamu. Selain soal pemegang saham, aku sedang mengerjakan satu hal yang cukup besar. Kalau kamu bersedia, aku akan kasih tau kamu soal project ini.”

You ask me to help you?” tanya Aurorae yang langsung diangguki oleh Aryo.

“Ketika kamu meminta bantuan, kamu akan selalu memintanya sama orang yang tepat dan kamu percaya orang itu bisa. Apa ini bisnis? Apa yang aku dapatkan kalau aku berhasil?” ujar Aurorae.

“Apapun yang kamu mau. Tapi satu hal yang nggak bisa, jangan minta balikan sama aku.”

“Satu hal yang kamu perlu tau, Aryo. Awalnya itu emang susah, tapi aku berhasil move on dari kamu. Kamu jadi lebih baik sama dia, aku bsia lihat itu dan aku ikut senang.” Aurorae mengulaskan senyum tulusnya.

Oke. So we are deal for the project?” Aryo mengulurkan tangannya di hadapan Aurorae.

Aurorae tersenyum tipis sambil mengedikkan kedua bahunya. Perempuan itu lantas menerima uluran tangan Aryo, ia menjabatnya, “Alright. We're deal.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Siang ini di adakan rapat para pemegang saham Harapan Jaya Grup. Semua pasang mata mengarahkan tatapan mereka pada sosok yang baru saja memasuki ruangan, sosok presiden direktur mereka, Aryo Bimo.

“Pak, apa rapatnya bisa kita mulai sekarang?” tanya seorang sekretaris perusahaan yang akan menjadi pembawa acara hari ini.

“Kita bisa mulai sekarang,” ujar Aryo lalu ia berjalan menuju kursinya.

“Baik, para pemegang saham yang kami hormati, terima kasih sebelumnya saya ucapkan atas kehadiran Anda semua. Kami akan memulai rapat pengajuan penarikan saham Harapan Jaya Grup,” ujar Tio yang berdiri tepat di samping Aryo.

***

“Bos, gue curiga tentang satu hal,” ujar Rama ketika rapat selesai dan semua orang sudah keluar dari ruangan.

Aryo memicingkan matanya, lalu beralih menatap Rama di hadapannya, “Maksud lo?” tanyanya. Pria itu melepas kacamata yang bertengger di batang hidungnya.

“Ini janggal banget. Semuanya baik-baik aja sampai tiba-tiba para pemegang saham mau naik sahamnya. Semakin aneh saat mereka ynag narik sahamnya adalah yang punya saham besar,” ujar Rama sembari berdiri dari kursinya.

“Ada yang sengaja mau nempatin lo di posisi yang sulit ini,” lanjut Rama.

Aryo nampak berpikir sejenak, lalu pria itu hendak beranjak dari posisinya. Namun Rama terlebih dulu menahannya.

“Lo mau kemana? Please, jangan gegabah. Kita bahas ini sama Rudi, Bagas dan yang lainnya. Kita bahas ini bareng-bareng, inget lo nggak sendiri, Bos. Lo punya kita,” ujar Rama.

“Apa ini ada hubungannya dengan pemegang saham yang mau narik saham mereka?” pertanyaan Aryo itu terasa seperti sebuah pernyataan untuk dirinya sendiri.

“Bisa jadi. Kalau itu benar, kemungkinan terburuknya adalah Reynaldi udah mencium aksi kita dan mengibarkan bendera perangnya untuk lo.”

***

Siang ini Tiara dan teman-temannya mengerjakan tugas kelompok di penthouse. Valdo, Sandi, dan Adrian tampak begitu senang mengunjungi tempat tinggalnya, mereka takjub akan tempat mewah yang punya beberapa fasilitas menawan. Ada balkon yang menyajikan pemandangan perkotaan, sebuah jacuzzi indoor, ruangan fitness pribadi, serta infinity pool eksklusif karena menara ini hanya memiliki 2 unit penthouse.

Mereka membagi-bagi tugas. Akmal yang selalu berkesempatakan menjadi ketua kelompok, punya pekerjaan paling banyak. Di tambah teman-teman lelakinya itu malah asyik berendam di jacuzzi. Jadilah hanya Tiara dan Akmal mengerjakan tugas di ruang tamu agar pekerjaan mereka cepat selesai. Di tengah-tengah kegiatan mereka, terdengar suara bel pintu yang menandakan seseorang telah datang.

“Mal, gue bukain pintu dulu ya. Kayaknya Aryo udah pulang,” ujar Tiara. Setelah Akmal mengiyakan, perempuan itu segera beranjak membukakan pintu.

Tiara memastikan seseorang di depan pintu melalui layar kecil di dinding. Ketika melihat sosok Aryo yang berada di sana, Tiara segera membuka pintunya.

Seketika pintunya terbuka, Aryo langsung memeluk tubuhnya, membenamkan kepalanya di bahu Tiara.

Hey, what happen? Everything is oke?

“Ada sesuatu yang terjadi di kantor. There is a bad news but I will fix it as soon as possible,” ujar Aryo.

Alis Tiara bertaut mendengarnya, tapi ia memilih tidak membahas itu lebih jauh untuk sekarang. Ia berpikir bahwa Aryo hanya butuh di dengar.

“Masih ada temen-temen aku lho, nggak mau dilepas dulu ini?” bisik Tiara di dekat Aryo ketika mereka masih berpelukan di depan pintu. Aryo yang matanya menangkap bahwa empat orang teman istrinya tengah melihat mereka, perlahan-lahan melepaskan dekapannya pada Tiara.

Teman-teman Tiara nampak tersenyum kikuk, rambut mereka masih setengah basah karena baru saja membilas diri setelah berendam di jacuzzi. Akmal yang duduk di sofa, mengalihkan tatapannya dari Aryo dan Tiara pada layar laptop di hadapannya.

Aryo menyunggingkan senyum tipisnya dan menyapa teman Tiara satu persatu sebelum ia pamit untuk ke kamar dan berbersih diri. Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Tiara sekilas, “Aku ke kamar dulu ya. Kamu lanjut kerja kelompok aja lagi,” ujarnya sebelum melenggang pergi.

***

Tiara menuju kamar untuk menemui Aryo. Pekerjaan kelompoknya telah selesai pukul 5 sore dan Tiara baru saja mengantar teman-temannya pulang sampai pintu.

Ketika mendapati Tiara di sana, Aryo merentangkan lengannya ke arah perempuan itu. Tiara memerhatikan raut wajah Aryo yang tidak secerah biasanya, ada kesedihan yang ia tangkap di sana.

“Apa nih maksudnya?” tanya Tiara pura-pura nggak paham apa yang diinginkan Aryo, padahal ia sangat paham. Sepertinya ia akan mencoba bermain-main untuk menghibur suaminya itu lebih dulu sebelum menenangkan perasaannya.

I need you here with me.

“Gemesnya suami aku kalau manja gini. Sini, sini aku peluk.” Tiara mendekatkan dirinya lantas membawa Aryo ke pelukannya.

Aryo and Tiara Hugging

Beberapa detik keduanya hanya saling mendekap tanpa mengucapkan apapun. Tiara mengusapkan tangannya di punggung lebar Aryo dengan gerakan vertikal, berusaha menenangkan perasaan kalut yang sedang di rasakan suaminya.

“Gimana tadi kerja kelompoknya? Udah selesai atau besok harus di kerjain lagi?” tanya Aryo membuka percakapan ketika pelukan mereka terurai.

“Udah selesai. Temen-temen aku happy banget tadi, mereka berendam di jacuzzi.”

“Ohya? That's good. Kamu seneng juga?”

“Iya, seneng. Aku jadi nggak kesepian lagi di rumah. Pas kamu pulang, aku tambah happy, karena ada kamu.”

“Glad to hear that.”

“Can I tell you something?” tanya Tiara.

Sure. You can tell me. Ini soal apa?”

“Jadi tadi temen-temen aku nanya ke aku, lucu banget deh,” Tiara menahan senyumannya ketika mengingat obrolannya tadi bersama teman-temannya.

Aryo yang memerhatikan ekspresi tersebut menjadi gemas dan perasaannya jauh lebih tenang hanya dengan itu.

“Mereka nanya apa?” tanya Aryo antusias dan ia siap mendengar cerita Tiara.

“Mereka nanya gini, Ra suami lo bau duit nggak sih? Gitu masa,” ujar Tiara kemudian ia tertawa geli.

Really? Oh my godness,” Aryo pun ikutan tertawa. Pertanyaan macam apa itu, pikirnya. Namun setelah di pikir-pikir itu lucu juga.

“Terus kamu jawab apa?” tanya Aryo setelah tawa mereka agak mereda.

“Aku jawab nggak lah, mana ada bau duit.”

“Lho kok gitu,” dahi Aryo menekuk mendengar penuturan Tiara.

“Yaa kan kamu nggak bau duit. Kamu wangi parfume Jo Malone.”

“Kamu suka banget kayaknya wangi parfum itu.”

“Iya, kamu jangan ganti parfum ya. Itu aja parfumnya,” ujar Tiara sembari mengulaskan senyum manisnya.

“Besok aku beli 5 botol Jo Malone.”

“Kurang, Sayang.”

“Terus berapa?”

“10 gimana?”

“Oke,” putus Tiara sambil pandangannya tidak lepas sama sekali dari Aryo. Kemudian ia kembali merengkuh Aryo ke pelukannya dan sedikit di goyangkan gemas.

“Ra, life is suck. But at least I have you. I'm grateful for that,” ujar Aryo pelan sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Tiara.

You have me, to be your home. Always remember that thing, oke?” balas Tiara dan Aryo menangguk di balik punggungnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Siang ini di adakan rapat para pemegang saham Harapan Jaya Grup. Semua pasang mata mengarahkan tatapan mereka pada sosok yang baru saja memasuki ruangan, sosok presiden direktur mereka, Aryo Bimo.

“Pak, apa rapatnya bisa kita mulai sekarang?” tanya seorang sekretaris perusahaan yang akan menjadi pembawa acara hari ini.

“Kita bisa mulai sekarang,” ujar Aryo lalu ia berjalan menuju kursinya.

“Baik, para pemegang saham yang kami hormati, terima kasih sebelumnya saya ucapkan atas kehadiran Anda semua. Kami akan memulai rapat pengajuan penarikan saham Harapan Jaya Grup,” ujar Tio yang berdiri tepat di samping Aryo.

***

“Bos, gue curiga tentang satu hal,” ujar Rama ketika rapat selesai dan semua orang sudah keluar dari ruangan.

Aryo memicingkan matanya, lalu beralih menatap Rama di hadapannya, “Maksud lo?” tanyanya. Pria itu melepas kacamata yang bertengger di batang hidungnya.

“Ini janggal banget. Semuanya baik-baik aja sampai tiba-tiba para pemegang saham mau naik sahamnya. Semakin aneh saat mereka ynag narik sahamnya adalah yang punya saham besar,” ujar Rama sembari berdiri dari kursinya.

“Ada yang sengaja mau nempatin lo di posisi yang sulit ini,” lanjut Rama.

Aryo nampak berpikir sejenak, lalu pria itu hendak beranjak dari posisinya. Namun Rama terlebih dulu menahannya.

“Lo mau kemana? Please, jangan gegabah. Kita bahas ini sama Rudi, Bagas dan yang lainnya. Kita bahas ini bareng-bareng, inget lo nggak sendiri, Bos. Lo punya kita,” ujar Rama.

“Apa ini ada hubungannya dengan pemegang saham yang mau narik saham mereka?” pertanyaan Aryo itu terasa seperti sebuah pernyataan untuk dirinya sendiri.

“Bisa jadi. Kalau itu benar, kemungkinan terburuknya adalah Reynaldi udah mencium aksi kita dan mengibarkan bendera perangnya untuk lo.”

***

Siang ini Tiara dan teman-temannya mengerjakan tugas kelompok di penthouse. Valdo, Sandi, dan Adrian tampak begitu senang mengunjungi tempat tinggalnya, mereka takjub akan tempat mewah yang punya beberapa fasilitas menawan. Ada balkon yang menyajikan pemandangan perkotaan, sebuah jacuzzi indoor, ruangan fitness pribadi, serta infinity pool eksklusif karena menara ini hanya memiliki 2 unit penthouse.

Mereka membagi-bagi tugas. Akmal yang selalu berkesempatakan menjadi ketua kelompok, punya pekerjaan paling banyak. Di tambah teman-teman lelakinya itu malah asyik berendam di jacuzzi. Jadilah hanya Tiara dan Akmal mengerjakan tugas di ruang tamu agar pekerjaan mereka cepat selesai. Di tengah-tengah kegiatan mereka, terdengar suara bel pintu yang menandakan seseorang telah datang.

“Mal, gue bukain pintu dulu ya. Kayaknya Aryo udah pulang,” ujar Tiara. Setelah Akmal mengiyakan, perempuan itu segera beranjak membukakan pintu.

Tiara memastikan seseorang di depan pintu melalui layar kecil di dinding. Ketika melihat sosok Aryo yang berada di sana, Tiara segera membuka pintunya.

Seketika pintunya terbuka, Aryo langsung memeluk tubuhnya, membenamkan kepalanya di bahu Tiara.

Hey, what happen? Everything is oke?

“Ada sesuatu yang terjadi di kantor. There is a bad news but I will fix it as soon as possible,” ujar Aryo.

Alis Tiara bertaut mendengarnya, tapi ia memilih tidak membahas itu lebih jauh untuk sekarang. Ia berpikir bahwa Aryo hanya butuh di dengar.

“Masih ada temen-temen aku lho, nggak mau dilepas dulu ini?” bisik Tiara di dekat Aryo ketika mereka masih berpelukan di depan pintu. Aryo yang matanya menangkap bahwa empat orang teman istrinya tengah melihat mereka, perlahan-lahan melepaskan dekapannya pada Tiara.

Teman-teman Tiara nampak tersenyum kikuk, rambut mereka masih setengah basah karena baru saja membilas diri setelah berendam di jacuzzi. Akmal yang duduk di sofa, mengalihkan tatapannya dari Aryo dan Tiara pada layar laptop di hadapannya.

Aryo menyunggingkan senyum tipisnya dan menyapa teman Tiara satu persatu sebelum ia pamit untuk ke kamar dan berbersih diri. Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Tiara sekilas, “Aku ke kamar dulu ya. Kamu lanjut kerja kelompok aja lagi,” ujarnya sebelum melenggang pergi.

***

Tiara menuju kamar untuk menemui Aryo. Pekerjaan kelompoknya telah selesai pukul 5 sore dan Tiara baru saja mengantar teman-temannya pulang sampai pintu.

Ketika mendapati Tiara di sana, Aryo merentangkan lengannya ke arah perempuan itu. Tiara memerhatikan raut wajah Aryo yang tidak secerah biasanya, ada kesedihan yang ia tangkap di sana.

“Apa nih maksudnya?” tanya Tiara pura-pura nggak paham apa yang diinginkan Aryo, padahal ia sangat paham. Sepertinya ia akan mencoba bermain-main untuk menghibur suaminya itu lebih dulu sebelum menenangkan perasaannya.

I need you to be right here with me.

“Gemesnya suami aku kalau manja gini. Sini, sini aku peluk.” Tiara mendekatkan dirinya lantas membawa Aryo ke pelukannya.

Beberapa detik keduanya hanya saling mendekap tanpa mengucapkan apapun. Tiara mengusapkan tangannya di punggung lebar Aryo dengan gerakan vertikal, berusaha menenangkan perasaan kalut yang sedang di rasakan suaminya.

“Gimana tadi kerja kelompoknya? Udah selesai atau besok harus di kerjain lagi?” tanya Aryo membuka percakapan ketika pelukan mereka terurai.

“Udah selesai. Temen-temen aku happy banget tadi, mereka berendam di jacuzzi.”

“Ohya? That's good. Kamu seneng juga?”

“Iya, seneng. Aku jadi nggak kesepian lagi di rumah. Pas kamu pulang, aku tambah happy, karena ada kamu.”

“Glad to hear that.”

“Can I tell you something?” tanya Tiara.

Sure. You can tell me. Ini soal apa?”

“Jadi tadi temen-temen aku nanya ke aku, lucu banget deh,” Tiara menahan senyumannya ketika mengingat obrolannya tadi bersama teman-temannya.

Aryo yang memerhatikan ekspresi tersebut menjadi gemas dan perasaannya jauh lebih tenang hanya dengan itu.

“Mereka nanya apa?” tanya Aryo antusias dan ia siap mendengar cerita Tiara.

“Mereka nanya gini, Ra suami lo bau duit nggak sih? Gitu masa,” ujar Tiara kemudian ia tertawa geli.

Really? Oh my godness,” Aryo pun ikutan tertawa. Pertanyaan macam apa itu, pikirnya. Namun setelah di pikir-pikir itu lucu juga.

“Terus kamu jawab apa?” tanya Aryo setelah tawa mereka agak mereda.

“Aku jawab nggak lah, mana ada bau duit.”

“Lho kok gitu,” dahi Aryo menekuk mendengar penuturan Tiara.

“Yaa kan kamu nggak bau duit. Kamu wangi parfume Jo Malone.”

“Kamu suka banget kayaknya wangi parfum itu.”

“Iya, kamu jangan ganti parfum ya. Itu aja parfumnya,” ujar Tiara sembari mengulaskan senyum manisnya.

“Besok aku beli 5 botol Jo Malone.”

“Kurang, Sayang.”

“Terus berapa?”

“10 gimana?”

“Oke,” putus Tiara sambil pandangannya tidak lepas sama sekali dari Aryo. Kemudian ia kembali merengkuh Aryo ke pelukannya dan sedikit di goyangkan gemas.

“Ra, life is suck. But at least I have you. I'm grateful for that,” ujar Aryo pelan sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Tiara.

You have me, to be your home. Always remember that thing, oke?” balas Tiara dan Aryo menangguk di balik punggungnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷