alyadara

Rama in Bodyguard Suit

Di balik penutup wajahnya, Rama menorehkan senyum smirk-nya sebelum menarik pelatuh pistolnya dan mengarahkannya satu kali ke dinding kaca di lantai dua. Suara tembakan yang begitu keras membuat semua orang di sana mencari ke sumber suara, termasuk Bagas dan timnya.

You guys is not lucky today,” sapa Rama dengan suara lantangnya sambil melangkahkan kakinya. Salah satu penjaga markas menatap pria jangking itu dengan tatapan remeh, apalagi Rama hanya berdiri sendiri tanpa apapun di belakangnya.

Rama mengarahkan tangannya untuk menepuk pundak si satu yang berbadan paling besar. Detik selanjutnya, ia melakukan aksi melumpuhkan lawannya dalam hitungan dua detik. Kesempatan tersebut lantas dimanfaatkan Bagas dan timnya untuk membuka pintu ruangan dengan menembakinya menggunakan senapan serbu kaliber berkekuatan besar.

How? You guy like it? Cause I love it too, to do my job” ujar Rama diiringi tatapan tajam mata elangnya. Ia telah berhasil mengalahkan 4 orang sekaligus. Pria itu kembali mengisi pistol apinya dengan peluru dan menembakkannya hingga dinding kaca di lantai 5 hamp[ir separuhnya hancur.

Bagas dan tim satu berhasil menyelamatkan Rudi dan mereka bergegas untuk pergi dari sana. Sebuah helikopter yang diperintahkan Rama datang untuk menjemputnya dan tim Bagas yang tersisa.

“Lapor, Bos. Sandera kita di bawa kabur. Mereka sangat terlatih dan jumlah mereka banyak,” ujar seorang penjaga markas melalui walky talky di tangannya.

“Rupanya mereka sudah tau berhadapan dengan siapa. Sayangnya, mereka belum benar-benar mengenal siapa lawan mereka,” balas suara bariton di ujung sana.

***

Reynaldi marah besar dan mengarahkan para ajudannya untuk mencari tau siapa kepala yang ada di balik penyelamatan Rudi Abimana.

Seseorang telah mengibarkan bendera perang kepadanya. Pria berusia 50 tahunan itu duduk santai di kusi kebesarannya sembari menghembuskan uap dari vape yang ada di tangannya.

Reynaldi

Dua orang ajudannya menemui Reynaldi di ruangannya dan memberikan file berupa hasil pencarian mereka. Reynaldi menemukan bahwa Aryo ada di balik penyelamatan Rudi Abimana. Artinya keponakannya sendiri lah yang telah berani melawannya.

Reynaldi berusaha memutar otak dan menarik benang merah. Ia segera memerintahkan ajudannya untuk mencari tau hubungan Aryo dan Rudi, sehingga mereka bisa berada di kapal yang sama.

Reynaldi meletakkan vape dari tangannya ke meja, “It just the beginning. I will make sure he will regret decided to against me.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Rama in Bodyguard Suit

Di balik penutup wajahnya, Rama menorehkan senyum smirk-nya sebelum menarik pelatuh pistolnya dan mengarahkannya satu kali ke dinding kaca di lantai dua. Suara tembakan yang begitu keras membuat semua orang di sana mencari ke sumber suara, termasuk Bagas dan timnya.

You guys is not lucky today,” sapa Rama dengan suara lantangnya sambil melangkahkan kakinya. Salah satu penjaga markas menatap pria jangking itu dengan tatapan remeh, apalagi Rama hanya berdiri sendiri tanpa apapun di belakangnya.

Rama mengarahkan tangannya untuk menepuk pundak si satu yang berbadan paling besar. Detik selanjutnya, ia melakukan aksi melumpuhkan lawannya dalam hitungan dua detik. Kesempatan tersebut lantas dimanfaatkan Bagas dan timnya untuk membuka pintu ruangan dengan menembakinya menggunakan senapan serbu kaliber berkekuatan besar.

How? You guy like it? Cause I love it too, to do my job” ujar Rama diiringi tatapan tajam mata elangnya. Ia telah berhasil mengalahkan 4 orang sekaligus. Pria itu kembali mengisi pistol apinya dengan peluru dan menembakkannya hingga dinding kaca di lantai 5 hamp[ir separuhnya hancur.

Bagas dan tim satu berhasil menyelamatkan Rudi dan mereka bergegas untuk pergi dari sana. Sebuah helikopter yang diperintahkan Rama datang untuk menjemputnya dan tim Bagas yang tersisa.

“Lapor, Bos. Sandera kita di bawa kabur. Mereka sangat terlatih dan jumlah mereka banyak,” ujar seorang penjaga markas melalui walky talky di tangannya.

“Rupanya mereka sudah tau berhadapan dengan siapa. Sayangnya, mereka belum benar-benar mengenal siapa lawan mereka,” balas suara bariton di ujung sana.

***

Reynaldi marah besar dan mengarahkan para ajudannya untuk mencari tau siapa kepala yang ada di balik penyelamatan Rudi Abimana.

Seseorang telah mengibarkan bendera perang kepadanya. Pria berusia 50 tahunan itu duduk santai di kusi kebesarannya sembari menghembuskan uap dari vape yang ada di tangannya.

Reynaldi

Dua orang ajudannya menemui Reynaldi di ruangannya dan memberikan file berupa hasil pencarian mereka. Reynaldi menemukan bahwa Aryo ada di balik penyelamatan Rudi Abimana. Artinya keponakannya sendiri lah yang telah berani melawannya.

Reynaldi berusaha memutar otak dan menarik benang merah. Ia segera memerintahkan ajudannya untuk mencari tau hubungan Aryo dan Rudi, sehingga mereka bisa berada di kapal yang sama.

Reynaldi meletakkan vape dari tangannya ke meja, “It just a beginning. I will make sure you will regret decided to against me.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Surat Keterangan Kematian Nama : Michelle Taninka Sinaga Lahir : 24 Mei 2000 Meninggal : 12 April 2014

Kedua mata Reynaldi memicing ketika membaca dokumen yang kini sampai di tangannya. Pria itu lantas meminta bodyguard-nya untuk berbicara dengan oknum pemerintahan yang berada di seberangnya, mereka di batasi oleh sebuah meja panjang.

Satu bodyguard-nya yang lain mengeluarkan secarik kertas kecil bertuliskan nominal yang cukup besar. Lawan bicara mereka itu nampak melebarkan matanya, sebelum akhirnya Reynaldi angkat bicara. “Berikan bukti fisik kematian Michelle Taninka. Saya bisa kasih lebih dari jumlah di kertas itu. Lebih banyak,” tukas Reynaldi sebelum keluar dari ruangan itu.

Di dalam mobilnya, Reynaldi memerintahkan orangnya untuk mengurus semuanya, agar ia bisa mendapatkan bukti konkret kematian Michelle Taninka Sinaga.

“Saya ingin secepatnya bukti itu sampai ke tangan saya. Pastikan tidak ada kesalahan apapun, semuanya harus bersih,” titah Reynaldi.

“Baik, Tuan. Anda akan mendapatkannya. Bukti fisik kematian Michelle akan sampai ke tangan Anda,” ujar orang suruhannya.

***

Dua hari lalu, Bagas mendapatkan kabar dari Risa bahwa pernyataan kematian palsu Michelle Taninka telah sampai ke tangan Reynaldi dengan mulus. Risa telah meminta orang dalamnya untuk membuat Reynaldi lengah karena urusan pernyataan kematian Michelle.

Selain itu Bagas juga mendapat informasi bahwa Aryo sudah menemukan lokasi dimana Reynaldi menyandera Rudi. Berdasarkan infromasi dari tim suruhan Aryo, mereka bisa melakukan eksekusi tengah malam nanti. Sebagian bodyguard Aryo akan membantu Bagas mengamankan beberapa titik di area target mereka nanti malam.

Bagas mengadakan rapat dengan tim kepolisian yang berada di dalam divisinya untuk briefing akhir sebelum nanti malam menjalankan rencananya.

Semua pasang mata yang ada di ruangan itu memerhatikan mind maping yang dibuat oleh Bagas di sebuah whiteboard besar di depan. Mereka akan merencanakan penyelamatan secara sembunyi-sembunyi di malam hari. Bagas telah menyusun rencananya dan mempersiapkan peralatan senjata yang sekiranya akan dibutuhkan.

“Ingat. Kita harus lebih berhati-hati kali ini. Hafalkan jalur yang akan gunakan untuk bisa menjangkau ke sana, kita ambil jalan belakang,” jelas Bagas.

“Baik, Pak.”

“Oke kalau gitu. Apa ada pertanyaan lagi sebelum gue akhiri?”

Salah satu anak buahnya angkat bicara, “Tidak ada, Pak.”

Alright. Rapat kita selesai sampai di sini. Gue minta kalian persiapkan diri sebaik mungkin untuk eksukusi nanti malam.”

***

Bagas Rescue Action

Markas yang akan Bagas dan timnya bobol memiliki peta bangunan yang cukup rumit, sehingga untuk eksekusi ini mereka harus memutar otak dan membagi ke beberapa tim.

Tim dua akan mengalihkan perhatian penjaga agar Bagas dan tim satu mendapat akses untuk masuk.

“Siap. Tim satu masuk.” Bagas mendengarkan instruksi melalui wireless earpods sebelum mengarahkan timnya untuk naik ke lantai 5. x

Bagas dan tim satu memindai lantai 5 untuk mencari lokasi penyanderaan Rudi.

“Lapor. Target ada di ruangan arah barat, dekat tangga darurat dan balkon.” Bagas mendapat laporan suara lagi dan segera menuju lokasi yang disebutkan.

Bagas bertemu dua orang dari timnya di depan ruangan yang jadi tujuan mereka, bertepatan dengan lima orang yang merupakan penjaga markas. Mereka sama-sama membawa alat senjata. Bagas menyiapkan kuda-kudanya, satu tangannya memasukkan peluru dari sakunya ke loading peluru, tempat presisi dimana peluru dimasukkan sebelum di luncurkan.

Don't think you can win against us,” desis salah satu penjaga markas sebelum menyerang Bagas dan timnya.

Salah satu tim satu yang bersembunyi yang mendapati kejadian tersebut segera meminta bala bantuan untuk melawan balik. Di sisi lain di luar markas, Rama, kepala bodyguard Aryo, mendapat laporan tersebut yang langsung didistribusikan ke seluruh tim.

“Gue mau turun,” ujar Rama pada Egha.

“Serius lo Ram?”

“Lo tetap jaga di luar. Gue dapat kabar di dalam chaos. 10 sampai 20 menit lagi, gue minta tolong jemput gue dan yang lainnya pakai helly,” ujar Rama.

“Siap Bos,” balas Egha sebelum Rama melenggang dari sana.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Nama : Michelle Taninka Sinaga Lahir : 24 Mei 2000 Meninggal : 12 April 2014

Kedua mata Reynaldi memicing ketika membaca dokumen yang kini sampai di tangannya. Pria itu lantas meminta bodyguard-nya untuk berbicara dengan oknum pemerintahan yang berada di seberangnya, mereka di batasi oleh sebuah meja panjang.

Satu bodyguard-nya yang lain mengeluarkan secarik kertas kecil bertuliskan nominal yang cukup besar. Lawan bicara mereka itu nampak melebarkan matanya, sebelum akhirnya Reynaldi angkat bicara. “Berikan bukti fisik kematian Michelle Taninka. Saya bisa kasih lebih dari jumlah di kertas itu. Lebih banyak,” tukas Reynaldi sebelum keluar dari ruangan itu.

Di dalam mobilnya, Reynaldi memerintahkan orangnya untuk mengurus semuanya, agar ia bisa mendapatkan bukti konkret kematian Michelle Taninka Sinaga.

“Saya ingin secepatnya bukti itu sampai ke tangan saya. Pastikan tidak ada kesalahan apapun, semuanya harus bersih,” titah Reynaldi.

“Baik, Tuan. Anda akan mendapatkannya. Bukti fisik kematian Michelle akan sampai ke tangan Anda,” ujar orang suruhannya.

***

Dua hari lalu, Bagas mendapatkan kabar dari Risa bahwa pernyataan kematian palsu Michelle Taninka telah sampai ke tangan Reynaldi dengan mulus. Risa telah meminta orang dalamnya untuk membuat Reynaldi lengah karena urusan pernyataan kematian Michelle.

Selain itu Bagas juga mendapat informasi bahwa Aryo sudah menemukan lokasi dimana Reynaldi menyandera Rudi. Berdasarkan infromasi dari tim suruhan Aryo, mereka bisa melakukan eksekusi tengah malam nanti. Sebagian bodyguard Aryo akan membantu Bagas mengamankan beberapa titik di area target mereka nanti malam.

Bagas mengadakan rapat dengan tim kepolisian yang berada di dalam divisinya untuk briefing akhir sebelum nanti malam menjalankan rencananya.

Semua pasang mata yang ada di ruangan itu memerhatikan mind maping yang dibuat oleh Bagas di sebuah whiteboard besar di depan. Mereka akan merencanakan penyelamatan secara sembunyi-sembunyi di malam hari. Bagas telah menyusun rencananya dan mempersiapkan peralatan senjata yang sekiranya akan dibutuhkan.

“Ingat. Kita harus lebih berhati-hati kali ini. Hafalkan jalur yang akan gunakan untuk bisa menjangkau ke sana, kita ambil jalan belakang,” jelas Bagas.

“Baik, Pak.”

“Oke kalau gitu. Apa ada pertanyaan lagi sebelum gue akhiri?”

Salah satu anak buahnya angkat bicara, “Tidak ada, Pak.”

Alright. Rapat kita selesai sampai di sini. Gue minta kalian persiapkan diri sebaik mungkin untuk eksukusi nanti malam.”

***

Bagas Rescue Action

Markas yang akan Bagas dan timnya bobol memiliki peta bangunan yang cukup rumit, sehingga untuk eksekusi ini mereka harus memutar otak dan membagi ke beberapa tim.

Tim dua akan mengalihkan perhatian penjaga agar Bagas dan tim satu mendapat akses untuk masuk.

“Siap. Tim satu masuk.” Bagas mendengarkan instruksi melalui wireless earpods sebelum mengarahkan timnya untuk naik ke lantai 5. x

Bagas dan tim satu memindai lantai 5 untuk mencari lokasi penyanderaan Rudi.

“Lapor. Target ada di ruangan arah barat, dekat tangga darurat dan balkon.” Bagas mendapat laporan suara lagi dan segera menuju lokasi yang disebutkan.

Bagas bertemu dua orang dari timnya di depan ruangan yang jadi tujuan mereka, bertepatan dengan lima orang yang merupakan penjaga markas. Mereka sama-sama membawa alat senjata. Bagas menyiapkan kuda-kudanya, satu tangannya memasukkan peluru dari sakunya ke loading peluru, tempat presisi dimana peluru dimasukkan sebelum di luncurkan.

Don't think you can win against us,” desis salah satu penjaga markas sebelum menyerang Bagas dan timnya.

Salah satu tim satu yang bersembunyi yang mendapati kejadian tersebut segera meminta bala bantuan untuk melawan balik. Di sisi lain di luar markas, Rama, kepala bodyguard Aryo, mendapat laporan tersebut yang langsung didistribusikan ke seluruh tim.

“Gue mau turun,” ujar Rama pada Egha.

“Serius lo Ram?”

“Lo tetap jaga di luar. Gue dapat kabar di dalam chaos. 10 sampai 20 menit lagi, gue minta tolong jemput gue dan yang lainnya pakai helly,” ujar Rama.

“Siap Bos,” balas Egha sebelum Rama melenggang dari sana.

***

Rama in Bodyguard Suit

Di balik penutup wajahnya, Rama menorehkan senyum smirk-nya sebelum menarik pelatuh pistolnya dan mengarahkannya satu kali ke dinding kaca di lantai dua. Suara tembakan yang sungguh keras itu membuat semua orang di sana mencari sumber suaranya, termasuk Bagas dan timnya.

You guys is not lucky today,” sapa Rama dengan suara lantangnya sambil melangkahkan kakinya. Salah satu penjaga markas menatapnya remeh, apalagi Rama hanya berdiri sendiri tanpa apapun di belakangnya.

Rama mengarahkan tangannya untuk menepuk pundak si satu yang berbadan paling besar. Detik berikutnya ia melakukan aksi melumpuhkan lawannya dalam hitungan dua detik. Kesempatan tersebut lantas dimanfaatkan Bagas dan timnya untuk membuka pintu ruangan dengan menembakinya dengan senapan serbu kaliber berkekuatan besar.

Gimana? Kalian suka ini, bukan? I love it too, to do my job” ujar Rama diiringi tatapan tajam mata elangnya. Ia telah berhasil mengalahkan 4 orang sekaligus. Pria itu kembali mengisi pistol apinya dengan peluru dan menembakkannya hingga dinding kaca di lantai 5 separuhnya hancur ke lantai.

Bagas dan tim satu berhasil menyelamatkan Rudi dan mereka bergegas untuk pergi dari sana. Sebuah helikopter yang diperintahkan Rama datang untuk menjemputnya dan tim Bagas yang tersisa.

“Lapor Bos. Sandera di bawa kabur. Mereka sangat terlatih dan jumlah mereka banyak,” ujar seorang penjaga markas melalui walky talky di tangannya.

“Rupanya mereka sudah tau berhadapan dengan siapa. Sayangnya, mereka belum benar-benar mengenal siapa lawan mereka,” balas suara bariton di ujung sana.

***

Reynaldi marah besar dan mencari tau siapa kepala yang ada di balik penyelamatan Rudi Abimana.

Seseorang telah mengibarkan bendera perang kepadanya. Pria berusia 50 tahunan itu duduk santai di kusi kebesarannya sembari menghembuskan uap dari vape di tangannya.

Akhirnya Reynaldi menemukan bahwa Aryo ada di balik penyelamatan Rudi. Artinya keponakannya sendiri lah yang melawannya. Reynaldi berusaha memutar otak dan menarik benang merah. Reynaldi mencari tau, hubungan antara Aryo dan Rudi sampai mereka ada di kapal yang sama.

Nama : Michelle Taninka Sinaga Lahir : 24 Mei 2000 Meninggal : 12 April 2014

Kedua mata Reynaldi memicing ketika membaca dokumen yang kini sampai di tangannya. Pria itu lantas meminta bodyguard-nya untuk berbicara dengan oknum pemerintahan yang berada di seberangnya, mereka di batasi oleh sebuah meja panjang.

Satu bodyguard-nya yang lain mengeluarkan secarik kertas kecil bertuliskan nominal yang cukup besar. Lawan bicara mereka itu nampak melebarkan matanya, sebelum akhirnya Reynaldi angkat bicara. “Berikan bukti fisik kematian Michelle Taninka. Saya bisa kasih lebih dari jumlah di kertas itu. Lebih banyak,” tukas Reynaldi sebelum keluar dari ruangan itu.

Di dalam mobilnya, Reynaldi memerintahkan orangnya untuk mengurus semuanya, agar ia bisa mendapatkan bukti konkret kematian Michelle Taninka Sinaga.

“Saya ingin secepatnya bukti itu sampai ke tangan saya. Pastikan tidak ada kesalahan apapun, semuanya harus bersih,” titah Reynaldi.

“Baik, Tuan. Anda akan mendapatkannya. Bukti fisik kematian Michelle akan sampai ke tangan Anda,” ujar orang suruhannya.

***

Dua hari lalu, Bagas mendapatkan kabar dari Risa bahwa pernyataan kematian palsu Michelle Taninka telah sampai ke tangan Reynaldi dengan mulus. Risa telah meminta orang dalamnya untuk membuat Reynaldi lengah karena urusan pernyataan kematian Michelle.

Selain itu Bagas juga mendapat informasi bahwa Aryo sudah menemukan lokasi dimana Reynaldi menyandera Rudi. Berdasarkan infromasi dari tim suruhan Aryo, mereka bisa melakukan eksekusi tengah malam nanti. Sebagian bodyguard Aryo akan membantu Bagas mengamankan beberapa titik di area target mereka nanti malam.

Bagas mengadakan rapat dengan tim kepolisian yang berada di dalam divisinya untuk briefing akhir sebelum nanti malam menjalankan rencananya.

Semua pasang mata yang ada di ruangan itu memerhatikan mind maping yang dibuat oleh Bagas di sebuah whiteboard besar di depan. Mereka akan merencanakan penyelamatan secara sembunyi-sembunyi di malam hari. Bagas telah menyusun rencananya dan mempersiapkan peralatan senjata yang sekiranya akan dibutuhkan.

“Ingat. Kita harus lebih berhati-hati kali ini. Hafalkan jalur yang akan gunakan untuk bisa menjangkau ke sana, kita ambil jalan belakang,” jelas Bagas.

“Baik, Pak.”

“Oke kalau gitu. Apa ada pertanyaan lagi sebelum gue akhiri?”

Salah satu anak buahnya angkat bicara, “Tidak ada, Pak.”

Alright. Rapat kita selesai sampai di sini. Gue minta kalian persiapkan diri sebaik mungkin untuk eksukusi nanti malam.”

***

Bagas Rescue Action

Markas yang akan Bagas dan timnya bobol memiliki peta bangunan yang cukup rumit, sehingga untuk eksekusi ini mereka harus memutar otak dan membagi ke beberapa tim.

Tim dua akan mengalihkan perhatian penjaga agar Bagas dan tim satu mendapat akses untuk masuk.

“Siap. Tim satu masuk.” Bagas mendengarkan instruksi melalui wireless earpods sebelum mengarahkan timnya untuk naik ke lantai 2.

Bagas dan tim satu memindai lantai 2 untuk mencari lokasi penyanderaan Rudi.

“Lapor. Target ada di ruangan arah barat, dekat tangga darurat dan balkon.” Bagas mendapat laporan suara lagi dan segera menuju lokasi yang disebutkan.

Bagas bertemu dua orang dari timnya di depan ruangan yang jadi tujuan mereka, bertepatan dengan lima orang yang merupakan penjaga markas. Mereka sama-sama membawa alat senjata. Bagas menyiapkan kuda-kudanya, satu tangannya memasukkan peluru dari sakunya ke loading peluru, tempat presisi dimana peluru dimasukkan sebelum di luncurkan.

Don't think you can win against us,” desis salah satu penjaga markas sebelum menyerang Bagas dan timnya.

Salah satu tim satu yang bersembunyi yang mendapati kejadian tersebut segera meminta bala bantuan untuk melawan balik. Di sisi lain di luar markas, Rama, kepala bodyguard Aryo, mendapat laporan tersebut yang langsung didistribusikan ke seluruh tim.

“Gue mau turun,” ujar Rama pada Egha.

“Serius lo Ram?”

“Lo tetap jaga di luar. Gue dapat kabar di dalam chaos.”

***

Rama in Bodyguard Suit

Di balik penutup wajahnya, Rama menorehkan senyum smirk-nya sebelum menarik pelatuh pistolnya dan mengarahkannya satu kali ke dinding kaca di lantai dua. Suara tembakan yang sungguh keras itu membuat semua orang di sana mencari sumber suaranya, termasuk Bagas dan timnya.

You guys is not lucky today,” sapa Rama dengan suara lantangnya sambil melangkahkan kakinya. Salah satu penjaga markas menatapnya remeh, apalagi Rama hanya berdiri sendiri tanpa apapun di belakangnya.

Rama mengarahkan tangannya untuk menepuk pundak si satu yang berbadan paling besar. Detik berikutnya ia melakukan aksi melumpuhkan lawannya dalam hitungan dua detik. Kesempatan tersebut lantas dimanfaatkan Bagas dan timnya untuk membuka pintu ruangan dengan menembakinya dengan senapan serbu kaliber berkekuatan besar.

Gimana? Kalian suka ini, bukan?” ujar Rama diiringi tatapan tajam mata elangnya. Ia telah berhasil mengalahkan 4 orang sekaligus. Pria itu kembali mengisi pistol apinya dengan peluru dan menembakkannya hingga dinding kaca di lantai 2 separuhnya hancur ke lantai.

Bagas dan tim satu berhasil menyelamatkan Rudi dan merek segera pergi dari sana.

***

“Tante Risa?” kalimat singkat itu yang keluar dari bibir Aryo ketika matanya menangkap sosok perempuan yang begitu dikenalnya berada di hadapannya. Risa Brodjohujodyo, putri dari Rianna, istri kedua Prawira Brodjohujodyo. Setelah bertemu tantenya itu, Aryo dan Risa diberi waktu untuk berbicara berdua di ruangan lain.

Risa memberi sedikit penjelasan kepada Aryo mengenai alasannya bersedia membantu Tiara dan masuk ke dalam tim.

“Tante tau, Tante nggak akan bisa melawan Reynaldi sendiri,” jelas Risa. Perempuan itu mengatakan, ia menyimpan dendam terhadap Reynaldi karena mendapat perlakuan tidak adil di keluarga. Ibu kandungnya yang merupakan istri kedua Prawira, nyatanya tidak pernah benar-benar di terima di keluarga mereka.

“Sejak kapan Tan?” tanya Aryo.

“Sejak Reynaldi selalu berhasil mendoktrin eyang kakung dan berambisi menguasai seluruh kepemilikan perusahaan. Tante kenal sama Erlangga, ayah kandungnya Tiara. Dulu Erlangga sering bantu mama dan tante setiap kali Reynaldi memperlakukan kami dengan tidak adil. Setelah Erlangga kecelakaan, Rudi menemui Tante dan meminta bantuan, akhirnya kita bekerja sama,” papar Risa.

Pada saat itu Aryo masih berusia dua belas tahun, saat eyang kakung menikah lagi dan membawa istri keduanya ke rumah keluarga. Aryo belum terlalu mengerti situasi di usianya yang masih remaja. Satu hal yang hanya dapat ia pahami, beberapa waktu setelah itu, eyang kakung memiliki dua rumah. Rumah pertama untuk eyang putri, rumah kedua untuk Rianna, istri keduanya.

Setelah Aryo dan Risa bicara berdua, mereka kembali ke ruangan dimana ada Tiara, Akmal, dan Bagas. Tiara sudah mengatakan sebelumnya bahwa Aryo telah mengetahui semuanya dan berniat membantu mengungkap kasus itu, jadi saat ini mereka berada di kapal yang sama.

“Selama ini Reynaldi mencari keberadaan Michelle Taninka,” ujar Tiara membuka pembicaraan. Mereka memutuskan melakukan rapat tim untuk merencanakan langkah yang harus di ambil selanjutnya.

Tiara menatap bergantian empat orang di meja panjang itu. Ia memaparkan percakapan antara Reynaldi dan El yang di dengarnya tempo hari.

“Reynaldi bekerja sama dengan El untuk mencari Michelle dan membawanya ke hadapannya, hidup ataupun mati. Situasi tersebut bisa kita manfaatkan untuk mengecoh Reynaldi dengan ngasih dia pancingan,” ujar Aryo menyampaikan pemikirannya yang sebelumnya ide tersebut sudah ia katakan pada Tiara.

“Keterangan kematian palsu atas nama Michelle Taninka Sinaga, kemungkinan bisa jadi pancingan untuk buat Reynaldi lengah. Dia udah dapetin om Rudi di tangannya, tapi kabar baiknya adalah Reynaldi belum tau kalau om Rudi nggak sendiri untuk melawan dia,” jelas Tiara.

Dari semua orang yang ada di ruangan itu, akhirnya Bagas yang lebih dulu mengutarakan pendapatnya menanggapi ide Aryo dan Tiara. “Ide itu kemungkinan bisa berjasil, bisa juga tidak. Kita harus siap tanggung resikonya kalau sampai ada kecacatan di eksekusinya.”

“Rekayasa keterangan kematian gue rasa nggak bisa cuma dengan pernyataan tertulis aja,” ujar Risa.

“Tante Risa benar,” cetus Akmal. Lantas semua pasang mata yang ada di ruangan itu menatap ke arah Akmal.

“Lawan kita bukan orang biasa,” Akmal pun mengeluarkan selembar kertas yang berisi biografi singkat Reynaldi Brodjohujodyo yang telah di buat oleh ayahnya. Di sana tertulis riwayat hidupnya, seperti siapa saja yang pernah bekerja untuknya, aset senjata yang di miliknya, serta trek rekor mantan dan bodyguard-nya saat ini. Memang Reynaldi bukanlah sembarang orang, seperti yang di katakan oleh Akmal, mereka harus benar-benar mematangkan rencana yang akan mereka jalankan.

“Selain pernyataan kematian tertulis yang resmi, kita perlu merekayasa bukti fisik kematian. Rekayasa abu hasil kremasi, apa kira-kira itu memungkinkan?” cetus Bagas.

“Eksekusinya mungkin akan sedikit sulit. Kita harus mengurus beberapa hal dan tentunya punya koneksi orang dalam untuk memudahkan eksekusinya,” ujar Risa.

“Gimana kalau kita bagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing? Tujuannya supaya kita bisa tetap fokus dan memastikan setiap aspeknya berjalan baik,” saran Aryo.

Atas usulan tersebut, akhirnya mereka membagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing di bidangnya. Risa dan Aryo akan mengurus masalah dokumen kematian yang membutuhkan akses hukum. Risa merupakan seorang pengacara dan Aryo akan membantu tantenya itu untuk urusan koneksi orang dalam yang di milikinya, serta akses lainnya yang nanti akan dibutuhkan. Sementara Bagas akan mengurus bukti kematian berupa bukti fisik, pria itu memiliki koneksi yang berhubungan dengan urusan tersebut.

***

“Aryo.”

“Ya?”

“Aku sama Akmal nggak dapat tugas?” tanya Tiara begitu mereka memasuki penthouse.

Tiara mendongakkan kepalanya untuk menatap Aryo yang merangkul bahunya, karena tingginya hanya sebatas bahu pria itu.

“Aku kasih Akmal tugas kok. Kalau kamu tugasnya duduk manis di rumah aja.” Aryo masih merangkul Tiara hingga mereka memasuki kamar. Pria itu menutup pintu dan lekas menguncinya.

“Mau ngapain kita ke kamar?” tanya Tiara yang baru tersadar bahwa mereka kini sudah berada di dalam kamar.

“Tidur siang. Kelonin ya?” pinta Aryo. Tiara pun melemparkan senyum khasnya kalau Aryo sudah manja-manja seperti ini terhadapnya.

“Akmal kamu kasih tugas apa?” tanya Tiara yang mengikuti langkah Aryo ke walk in closet. Tiara mendapati suaminya itu sudah menanggalkan kemeja putih dari tubuhnya, membuat netra Tiara menyaksikan pemandangan tubuh shirtless Aryo.

“Tugas dia jagain kamu aja. Ra, aku akan lebih sibuk dari biasanya, pekerjaan di kantor dan juga aku mempersiapkan semuanya untuk rencana kita. Kalau kamu kesepian di rumah, kamu boleh ajak teman-teman kamu ke sini buat temenin kamu. Gimana?”

Tiara melebarkan matanya dan alisnya mengernyit. Ia mengatakan bahwa dirinya sedikit tidak percaya atas ucapan Aryo barusan. “Padahal dulu kamu nggak bolehin temen-temen aku main,” celetuk Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak sebelum ia menjawab, “Iya, sekarang boleh.”

“Oke. Terima kasih, Sayang,” balas Tiara diiringi senyum semringah dan cengiran kecilnya.

“Sama-sama, Sayang.”

***

“Aryo ... pake bajunya nggak. Astaga, kamu yaa,” omel Tiara sambil berjalan mundur perlahan menjauhi Aryo. Aryo segera menyusulnya, mudah baginya untuk menangkap Tiara dan menahan punggung perempuan itu dengan lengannya, hingga torso keduanya hampir saling menempel.

“Kamu mau kemana?” tanya Aryo dengan suara lembutnya di dekat Tiara.

“Nggak ada kelon ya, kalau kamu belum pakai baju,” peringat Tiara yang langsung membuat Aryo mencebikkan bibirnya.

“Tapi gerah Ra, enakan nggak pake baju gini,” ujar Aryo.

“Nanti kamu masuk angin lho, shirtless begitu. Kalau kamu sakit, yang repot siapa coba? Aku juga kan.”

Namun bukan Aryo namanya jika tidak keras kepala dan mempunyai seribu akal di dalam kepalanya. Aryo menatap Tiara lekat, kemudian mengarahkan tangan perempuan itu untuk bertengger di pundak polosnya. Dengan jarak keduanya yang begitu intim, netra Tiara dapat menatap dengan jelas pahatan sempurna otot lengan dan perut Aryo yang besar serta nampak liat dan keras itu. Sempurna, indah, dan menawan, entah kata apa lagi yang harus Tiara gunakan untuk mendeskripsikan pemandangan di hadapannya saat ini.

Aryo menorehkan senyumnya, “Kamu ... mau pegang ini?” tanya pria itu ketika menangkap basah Tiara tengah memandang abs-nya.

Tiara terkejut karena ia tertangkap jelas-jelas memandangi perut six pack milik Aryo. Tatapan mereka pun bertemu dan Aryo lekas mengunci pandangan Tiara. Atas perintah pikirannya, Tiara pun perlahan mengangguk. Rasa penasaran yang kuat mendorong Tiara untuk menyentuh otot-otot itu, meskipun ia sudah pernah melakukannya. Hei, setan apa yang sedang merasuki dirimu Tiara, ayolah sadar! batinnya.

It's all yours, Tiara.” Aryo meraih tangan Tiara untuk membawanya menyentuh otot-otot perutnya. Ketika meletakkan tangannya di sana, Tiara dapat merasakan, itu sungguh keras dan besar. Sesuai penampilannya, perasaan ketika menyentuhnya, sungguh melebihi dari ekspektasi Tiara. Itu sungguh luar biasa.

“Jadi aku pake baju aja atau shirtless gini?” tanya Aryo diiringi senyum menggoda di wajah tampannya.

Tiara menatap paras Aryo, ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan di dalam sana. Kini kedua lengan Tiara berpindah untuk melingkar di seputaran leher Aryo.

Can I touch them ... again?” tanya Tiara mengikuti perintah otak dan hatinya yang kali ini benar-benar sinkron.

Aryo mengulaskan senyum lembutnya, “Yes, you can touch them, Honey. Everytime you want to.”

***

I love you, Michelle,” gumam Aryo ketika pria itu telah sepenuhnya membuka mata.

Mereka berakhir tidur siang bersama dengan Aryo yang shirtless dan tidak melepaskan Tiara dari dekapannya sama sekali. Sudah sekitar 3 jam mereka terlelap dan ketika terbangun, hingga Tiara dapat merasakan aroma parfum Jo Malone favorit Aryo yang maskulin dan sedikit manis—kini menempel di seluruh tubuhnya.

“Siapa kamu bilang? Michelle??” tanya Tiara dengan kerutan yang muncul di keningnya.

“Michelle Taninka kan kamu, Sayang,” jelas Aryo.

“Ohiya ya. Aku kira kamu selingkuh sama cewek namanya Michelle.”

“Mana ada aku selingkuh. Kamu lucu banget yaa, posesif gini.”

Tiara menampakkan cengirannya sembari tangannya bergerak untuk mengusap-usap halus pipi Aryo, “Berani nggak kamu selingkuh?” tanya Tiara.

“Aku udah ketemu pawangnya Ra, mana galak lagi. Gimana berani aku selingkuh?”

“Okee, bagus bagus.” Tiar pun tergelak. “Aku galak ya emang?” tanya Tiara dan Aryo lantas menjawabnya dengan mengangukkan kepalanya sebanyak dua kali.

“Kalau nggak galak, artinya nggak sayang,” ujar Tiara.

“Gitu ya?” Aryo memandangi paras cantik Tiara yang sukses membuat perempuan itu salah tingkah. Cara Aryo menatapnya, tersenyum padanya, selalu berhasil menciptakan percikan cinta di hatinya.

Tiara tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Itu adalah sebuah kilas balik ketika Andi dan Alifia merubah marga mereka menjadi Lubis dan juga mengubah namanya. “Kalau di pikir-pikir, Michelle Taninka nggak akan di kenal sama banyak orang. Tapi Mutiarani Ivanka nggak akan pernah di kenal sama ayah dan bunda,” ungkap Tiara.

“Iya juga ya. Kalau di minta untuk milih, lebih suka jadi Michelle atau Tiara?” tanya Aryo.

“Aku suka jadi dua-duanya. Michelle akan selalu di kenang dan disayang sama ayah dan bunda. Mungkin luka itu akan tetap ada di salah satu ruang di hati Michelle. Tapi Tiara, dia udah coba untuk berdamai dengan luka itu. Kalau kamu lebih suka yang mana?” Tiara memerhatikan raut wajah Aryo, ia menunggu jawaban dari pria itu.

“Aku suka dua-duanya. Tapi Ra, menurut aku, nama itu cuma sebuah identitas. Michelle maupun Tiara, adalah dua perempuan yang sama-sama hebat.”

“Aryo.”

“Ya?”

Tiara merubah posisinya agar dirinya dan Aryo saling berhadapan. “Aku mau kenalin kamu ke ayah dan bunda.”

Really?” Kedua mata Aryo nampak berbinar mendengar ucapan Tiara.

Tiara mengulaskan senyum hangatnya, “Sure. Aku mau cerita banyak soal kamu dan kita,” tutur Tiara.

“Apa yang akan kamu ceritain ke ayah dan bunda?”

“Rahasia dong, kepo nih kamu.” Tiara menjulurkan lidahnya meledek Aryo.

Aryo pun tergelak mendapati tingkah Tiara. “Oh my godness. Okey, that's fine, itu rahasia kamu. Tapi jangan lupa untuk bilang ini,” ujar Aryo sambil meletakkan telunjuknya di ujung hidung Tiara.

“Bilang apa?”

“Ayah sama bunda pasti ingin tau apa kamu bahagia sekarang. They must be miss you so much. So tell them what you feels and about your life right now,” terang Aryo.

Sure. I will tell them about what's make me happy, the person around me, and the life I live now.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Tante Risa?” kalimat singkat itu yang keluar dari bibir Aryo ketika matanya menangkap sosok perempuan yang begitu dikenalnya berada di hadapannya. Risa Brodjohujodyo, putri dari Rianna, istri kedua Prawira Brodjohujodyo. Setelah bertemu tantenya itu, Aryo dan Risa diberi waktu untuk berbicara berdua di ruangan lain.

Risa memberi sedikit penjelasan kepada Aryo mengenai alasannya bersedia membantu Tiara dan masuk ke dalam tim.

“Tante tau, Tante nggak akan bisa melawan Reynaldi sendiri,” jelas Risa. Perempuan itu mengatakan, ia menyimpan dendam terhadap Reynaldi karena mendapat perlakuan tidak adil di keluarga. Ibu kandungnya yang merupakan istri kedua Prawira, nyatanya tidak pernah benar-benar di terima di keluarga mereka.

“Sejak kapan Tan?” tanya Aryo.

“Sejak Reynaldi selalu berhasil mendoktrin eyang kakung dan berambisi menguasai seluruh kepemilikan perusahaan. Tante kenal sama Erlangga, ayah kandungnya Tiara. Dulu Erlangga sering bantu mama dan tante setiap kali Reynaldi memperlakukan kami dengan tidak adil. Setelah Erlangga kecelakaan, Rudi menemui Tante dan meminta bantuan, akhirnya kita bekerja sama,” papar Risa.

Pada saat itu Aryo masih berusia dua belas tahun, saat eyang kakung menikah lagi dan membawa istri keduanya ke rumah keluarga. Aryo belum terlalu mengerti situasi di usianya yang masih remaja. Satu hal yang hanya dapat ia pahami, beberapa waktu setelah itu, eyang kakung memiliki dua rumah. Rumah pertama untuk eyang putri, rumah kedua untuk Rianna, istri keduanya.

Setelah Aryo dan Risa bicara berdua, mereka kembali ke ruangan dimana ada Tiara, Akmal, dan Bagas. Tiara sudah mengatakan sebelumnya bahwa Aryo telah mengetahui semuanya dan berniat membantu mengungkap kasus itu, jadi saat ini mereka berada di kapal yang sama.

“Selama ini Reynaldi mencari keberadaan Michelle Taninka,” ujar Tiara membuka pembicaraan. Mereka memutuskan melakukan rapat tim untuk merencanakan langkah yang harus di ambil selanjutnya.

Tiara menatap bergantian empat orang di meja panjang itu. Ia memaparkan percakapan antara Reynaldi dan El yang di dengarnya tempo hari.

“Reynaldi bekerja sama dengan El untuk mencari Michelle dan membawanya ke hadapannya, hidup ataupun mati. Situasi tersebut bisa kita manfaatkan untuk mengecoh Reynaldi dengan ngasih dia pancingan,” ujar Aryo menyampaikan pemikirannya yang sebelumnya ide tersebut sudah ia katakan pada Tiara.

“Keterangan kematian palsu atas nama Michelle Taninka Sinaga, kemungkinan bisa jadi pancingan untuk buat Reynaldi lengah. Dia udah dapetin om Rudi di tangannya, tapi kabar baiknya adalah Reynaldi belum tau kalau om Rudi nggak sendiri untuk melawan dia,” jelas Tiara.

Dari semua orang yang ada di ruangan itu, akhirnya Bagas yang lebih dulu mengutarakan pendapatnya menanggapi ide Aryo dan Tiara. “Ide itu kemungkinan bisa berjasil, bisa juga tidak. Kita harus siap tanggung resikonya kalau sampai ada kecacatan di eksekusinya.”

“Rekayasa keterangan kematian gue rasa nggak bisa cuma dengan pernyataan tertulis aja,” ujar Risa.

“Tante Risa benar,” cetus Akmal. Lantas semua pasang mata yang ada di ruangan itu menatap ke arah Akmal.

“Lawan kita bukan orang biasa,” Akmal pun mengeluarkan selembar kertas yang berisi biografi singkat Reynaldi Brodjohujodyo yang telah di buat oleh ayahnya. Di sana tertulis riwayat hidupnya, seperti siapa saja yang pernah bekerja untuknya, aset senjata yang di miliknya, serta trek rekor mantan dan bodyguard-nya saat ini. Memang Reynaldi bukanlah sembarang orang, seperti yang di katakan oleh Akmal, mereka harus benar-benar mematangkan rencana yang akan mereka jalankan.

“Selain pernyataan kematian tertulis yang resmi, kita perlu merekayasa bukti fisik kematian. Rekayasa abu hasil kremasi, apa kira-kira itu memungkinkan?” cetus Bagas.

“Eksekusinya mungkin akan sedikit sulit. Kita harus mengurus beberapa hal dan tentunya punya koneksi orang dalam untuk memudahkan eksekusinya,” ujar Risa.

“Gimana kalau kita bagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing? Tujuannya supaya kita bisa tetap fokus dan memastikan setiap aspeknya berjalan baik,” saran Aryo.

Atas usulan tersebut, akhirnya mereka membagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing di bidangnya. Risa dan Aryo akan mengurus masalah dokumen kematian yang membutuhkan akses hukum. Risa merupakan seorang pengacara dan Aryo akan membantu tantenya itu untuk urusan koneksi orang dalam yang di milikinya, serta akses lainnya yang nanti akan dibutuhkan. Sementara Bagas akan mengurus bukti kematian berupa bukti fisik, pria itu memiliki koneksi yang berhubungan dengan urusan tersebut.

***

“Aryo.”

“Ya?”

“Aku sama Akmal nggak dapat tugas?” tanya Tiara begitu mereka memasuki penthouse.

Tiara mendongakkan kepalanya untuk menatap Aryo yang merangkul bahunya, karena tingginya hanya sebatas bahu pria itu.

“Aku kasih Akmal tugas kok. Kalau kamu tugasnya duduk manis di rumah aja.” Aryo masih merangkul Tiara hingga mereka memasuki kamar. Pria itu menutup pintu dan lekas menguncinya.

“Mau ngapain kita ke kamar?” tanya Tiara yang baru tersadar bahwa mereka kini sudah berada di dalam kamar.

“Tidur siang. Kelonin ya?” pinta Aryo. Tiara pun melemparkan senyum khasnya kalau Aryo sudah manja-manja seperti ini terhadapnya.

“Akmal kamu kasih tugas apa?” tanya Tiara yang mengikuti langkah Aryo ke walk in closet. Tiara mendapati suaminya itu sudah menanggalkan kemeja putih dari tubuhnya, membuat netra Tiara menyaksikan pemandangan tubuh shirtless Aryo.

“Tugas dia jagain kamu aja. Ra, aku akan lebih sibuk dari biasanya, pekerjaan di kantor dan juga aku mempersiapkan semuanya untuk rencana kita. Kalau kamu kesepian di rumah, kamu boleh ajak teman-teman kamu ke sini buat temenin kamu. Gimana?”

Tiara melebarkan matanya dan alisnya mengernyit. Ia mengatakan bahwa dirinya sedikit tidak percaya atas ucapan Aryo barusan. “Padahal dulu kamu nggak bolehin temen-temen aku main,” celetuk Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak sebelum ia menjawab, “Iya, sekarang boleh.”

“Oke. Terima kasih, Sayang,” balas Tiara diiringi senyum semringah dan cengiran kecilnya.

“Sama-sama, Sayang.”

***

“Aryo ... pake bajunya nggak. Astaga, kamu yaa,” omel Tiara sambil berjalan mundur perlahan menjauhi Aryo. Aryo segera menyusulnya, mudah baginya untuk menangkap Tiara dan menahan punggung perempuan itu dengan lengannya, hingga torso keduanya hampir saling menempel.

“Kamu mau kemana?” tanya Aryo dengan suara lembutnya di dekat Tiara.

“Nggak ada kelon ya, kalau kamu belum pakai baju,” peringat Tiara yang langsung membuat Aryo mencebikkan bibirnya.

“Tapi gerah Ra, enakan nggak pake baju gini,” ujar Aryo.

“Nanti kamu masuk angin lho, shirtless begitu. Kalau kamu sakit, yang repot siapa coba? Aku juga kan.”

Namun bukan Aryo namanya jika tidak keras kepala dan mempunyai seribu akal di dalam kepalanya. Aryo menatap Tiara lekat, kemudian mengarahkan tangan perempuan itu untuk bertengger di pundak polosnya. Dengan jarak keduanya yang begitu intim, netra Tiara dapat menatap dengan jelas pahatan sempurna otot lengan dan perut Aryo yang besar serta nampak liat dan keras itu. Sempurna, indah, dan menawan, entah kata apa lagi yang harus Tiara gunakan untuk mendeskripsikan pemandangan di hadapannya saat ini.

Aryo menorehkan senyumnya, “Kamu ... mau pegang ini?” tanya pria itu ketika menangkap basah Tiara tengah memandang abs-nya.

Tiara terkejut karena ia tertangkap jelas-jelas memandangi perut six pack milik Aryo. Tatapan mereka pun bertemu dan Aryo lekas mengunci pandangan Tiara. Atas perintah pikirannya, Tiara pun perlahan mengangguk. Rasa penasaran yang kuat mendorong Tiara untuk menyentuh otot-otot itu, meskipun ia sudah pernah melakukannya. Hei, setan apa yang sedang merasuki dirimu Tiara, ayolah sadar! batinnya.

It's all yours, Tiara.” Aryo meraih tangan Tiara untuk membawanya menyentuh otot-otot perutnya. Ketika meletakkan tangannya di sana, Tiara dapat merasakan, itu sungguh keras dan besar. Sesuai penampilannya, perasaan ketika menyentuhnya, sungguh melebihi dari ekspektasi Tiara. Itu sungguh luar biasa.

“Jadi aku pake baju aja atau shirtless gini?” tanya Aryo diiringi senyum menggoda di wajah tampannya.

Tiara menatap paras Aryo, ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan di dalam sana. Kini kedua lengan Tiara berpindah untuk melingkar di seputaran leher Aryo.

I can touch them ... again?” tanya Tiara mengikuti perintah otak dan hatinya yang kali ini benar-benar sinkron.

Aryo mengulaskan senyum lembutnya, “Yes, you can touch them, Honey. Everytime you want to.”

***

I love you, Michelle,” gumam Aryo ketika pria itu telah sepenuhnya membuka mata.

Mereka berakhir tidur siang bersama dengan Aryo yang shirtless dan tidak melepaskan Tiara dari dekapannya sama sekali. Sudah sekitar 3 jam mereka terlelap dan ketika terbangun, hingga Tiara dapat merasakan aroma parfum Jo Malone favorit Aryo yang maskulin dan sedikit manis—kini menempel di seluruh tubuhnya.

“Siapa kamu bilang? Michelle??” tanya Tiara dengan kerutan yang muncul di keningnya.

“Michelle Taninka kan kamu, Sayang,” jelas Aryo.

“Ohiya ya. Aku kira kamu selingkuh sama cewek namanya Michelle.”

“Mana ada aku selingkuh. Kamu lucu banget yaa, posesif gini.”

Tiara menampakkan cengirannya sembari tangannya bergerak untuk mengusap-usap halus pipi Aryo, “Berani nggak kamu selingkuh?” tanya Tiara.

“Aku udah ketemu pawangnya Ra, mana galak lagi. Gimana berani aku selingkuh?”

“Okee, bagus bagus.” Tiar pun tergelak. “Aku galak ya emang?” tanya Tiara dan Aryo lantas menjawabnya dengan mengangukkan kepalanya sebanyak dua kali.

“Kalau nggak galak, artinya nggak sayang,” ujar Tiara.

“Gitu ya?” Aryo memandangi paras cantik Tiara yang sukses membuat perempuan itu salah tingkah. Cara Aryo menatapnya, tersenyum padanya, selalu berhasil menciptakan percikan cinta di hatinya.

Tiara tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Itu adalah sebuah kilas balik ketika Andi dan Alifia merubah marga mereka menjadi Lubis dan juga mengubah namanya. “Kalau di pikir-pikir, Michelle Taninka nggak akan di kenal sama banyak orang. Tapi Mutiarani Ivanka nggak akan pernah di kenal sama ayah dan bunda,” ungkap Tiara.

“Iya juga ya. Kalau di minta untuk milih, lebih suka jadi Michelle atau Tiara?” tanya Aryo.

“Aku suka jadi dua-duanya. Michelle akan selalu di kenang dan disayang sama ayah dan bunda. Mungkin luka itu akan tetap ada di salah satu ruang di hati Michelle. Tapi Tiara, dia udah coba untuk berdamai dengan luka itu. Kalau kamu lebih suka yang mana?” Tiara memerhatikan raut wajah Aryo, ia menunggu jawaban dari pria itu.

“Aku suka dua-duanya. Tapi Ra, menurut aku, nama itu cuma sebuah identitas. Michelle maupun Tiara, adalah dua perempuan yang sama-sama hebat.”

“Aryo.”

“Ya?”

Tiara merubah posisinya agar dirinya dan Aryo saling berhadapan. “Aku mau kenalin kamu ke ayah dan bunda.”

Really?” Kedua mata Aryo nampak berbinar mendengar ucapan Tiara.

Tiara mengulaskan senyum hangatnya, “Sure. Aku mau cerita banyak soal kamu dan kita,” tutur Tiara.

“Apa yang akan kamu ceritain ke ayah dan bunda?”

“Rahasia dong, kepo nih kamu.” Tiara menjulurkan lidahnya meledek Aryo.

Aryo pun tergelak mendapati tingkah Tiara. “Oh my godness. Okey, that's fine, itu rahasia kamu. Tapi jangan lupa untuk bilang ini,” ujar Aryo sambil meletakkan telunjuknya di ujung hidung Tiara.

“Bilang apa?”

“Ayah sama bunda pasti ingin tau apa kamu bahagia sekarang. They must be miss you so much. So tell them what you feels and about your life right now,” terang Aryo.

Sure. I will tell them about what's make me happy, the person around me, and the life I live now.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Tante Risa?” kalimat singkat itu yang keluar dari bibir Aryo ketika matanya menangkap sosok perempuan yang begitu dikenalnya berada di hadapannya. Risa Brodjohujodyo, putri dari Rianna, istri kedua Prawira Brodjohujodyo. Setelah bertemu tantenya itu, Aryo dan Risa diberi waktu untuk berbicara berdua di ruangan lain.

Risa memberi sedikit penjelasan kepada Aryo mengenai alasannya bersedia membantu Tiara dan masuk ke dalam tim.

“Tante tau, Tante nggak akan bisa melawan Reynaldi sendiri,” jelas Risa. Perempuan itu mengatakan, ia menyimpan dendam terhadap Reynaldi karena mendapat perlakuan tidak adil di keluarga. Ibu kandungnya yang merupakan istri kedua Prawira, nyatanya tidak pernah benar-benar di terima di keluarga mereka.

“Sejak kapan Tan?” tanya Aryo.

“Sejak Reynaldi selalu berhasil mendoktrin eyang kakung dan berambisi menguasai seluruh kepemilikan perusahaan. Tante kenal sama Erlangga, ayah kandungnya Tiara. Dulu Erlangga sering bantu mama dan tante setiap kali Reynaldi memperlakukan kami dengan tidak adil. Setelah Erlangga kecelakaan, Rudi menemui Tante dan meminta bantuan, akhirnya kita bekerja sama,” papar Risa.

Pada saat itu Aryo masih berusia dua belas tahun, saat eyang kakung menikah lagi dan membawa istri keduanya ke rumah keluarga. Aryo belum terlalu mengerti situasi di usianya yang masih remaja. Satu hal yang hanya dapat ia pahami, beberapa waktu setelah itu, eyang kakung memiliki dua rumah. Rumah pertama untuk eyang putri, rumah kedua untuk Rianna, istri keduanya.

Setelah Aryo dan Risa bicara berdua, mereka kembali ke ruangan dimana ada Tiara, Akmal, dan Bagas. Tiara sudah mengatakan sebelumnya bahwa Aryo telah mengetahui semuanya dan berniat membantu mengungkap kasus itu, jadi saat ini mereka berada di kapal yang sama.

“Selama ini Reynaldi mencari keberadaan Michelle Taninka,” ujar Tiara membuka pembicaraan. Mereka memutuskan melakukan rapat tim untuk merencanakan langkah yang harus di ambil selanjutnya.

Tiara menatap bergantian empat orang di meja panjang itu. Ia memaparkan percakapan antara Reynaldi dan El yang di dengarnya tempo hari.

“Reynaldi bekerja sama dengan El untuk mencari Michelle dan membawanya ke hadapannya, hidup ataupun mati. Situasi tersebut bisa kita manfaatkan untuk mengecoh Reynaldi dengan ngasih dia pancingan,” ujar Aryo menyampaikan pemikirannya yang sebelumnya ide tersebut sudah ia katakan pada Tiara.

“Keterangan kematian palsu atas nama Michelle Taninka Sinaga, kemungkinan bisa jadi pancingan untuk buat Reynaldi lengah. Dia udah dapetin om Rudi di tangannya, tapi kabar baiknya adalah Reynaldi belum tau kalau om Rudi nggak sendiri untuk melawan dia,” jelas Tiara.

Dari semua orang yang ada di ruangan itu, akhirnya Bagas yang lebih dulu mengutarakan pendapatnya menanggapi ide Aryo dan Tiara. “Ide itu kemungkinan bisa berjasil, bisa juga tidak. Kita harus siap tanggung resikonya kalau sampai ada kecacatan di eksekusinya.”

“Rekayasa keterangan kematian gue rasa nggak bisa cuma dengan pernyataan tertulis aja,” ujar Risa.

“Tante Risa benar,” cetus Akmal. Lantas semua pasang mata yang ada di ruangan itu menatap ke arah Akmal.

“Lawan kita bukan orang biasa,” Akmal pun mengeluarkan selembar kertas yang berisi biografi singkat Reynaldi Brodjohujodyo yang telah di buat oleh ayahnya. Di sana tertulis riwayat hidupnya, seperti siapa saja yang pernah bekerja untuknya, aset senjata yang di miliknya, serta trek rekor mantan dan bodyguard-nya saat ini. Memang Reynaldi bukanlah sembarang orang, seperti yang di katakan oleh Akmal, mereka harus benar-benar mematangkan rencana yang akan mereka jalankan.

“Selain pernyataan kematian tertulis yang resmi, kita perlu merekayasa bukti fisik kematian. Rekayasa abu hasil kremasi, apa kira-kira itu memungkinkan?” cetus Bagas.

“Eksekusinya mungkin akan sedikit sulit. Kita harus mengurus beberapa hal dan tentunya punya koneksi orang dalam untuk memudahkan eksekusinya,” ujar Risa.

“Gimana kalau kita bagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing? Tujuannya supaya kita bisa tetap fokus dan memastikan setiap aspeknya berjalan baik,” saran Aryo.

Atas usulan tersebut, akhirnya mereka membagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing di bidangnya. Risa dan Aryo akan mengurus masalah dokumen kematian yang membutuhkan akses hukum. Risa merupakan seorang pengacara dan Aryo akan membantu tantenya itu untuk urusan koneksi orang dalam yang di milikinya, serta akses lainnya yang nanti akan dibutuhkan. Sementara Bagas akan mengurus bukti kematian berupa bukti fisik, pria itu memiliki koneksi yang berhubungan dengan urusan tersebut.

***

“Aryo.”

“Ya?”

“Aku sama Akmal nggak dapat tugas?” tanya Tiara begitu mereka memasuki penthouse.

Tiara mendongakkan kepalanya untuk menatap Aryo yang merangkul bahunya, karena tingginya hanya sebatas bahu pria itu.

“Aku kasih Akmal tugas kok. Kalau kamu tugasnya duduk manis di rumah aja.” Aryo masih merangkul Tiara hingga mereka memasuki kamar. Pria itu menutup pintu dan lekas menguncinya.

“Mau ngapain kita ke kamar?” tanya Tiara yang baru tersadar bahwa mereka kini sudah berada di dalam kamar.

“Tidur siang. Kelonin ya?” pinta Aryo. Tiara pun melemparkan senyum khasnya kalau Aryo sudah manja-manja seperti ini terhadapnya.

“Akmal kamu kasih tugas apa?” tanya Tiara yang mengikuti langkah Aryo ke walk in closet. Tiara mendapati suaminya itu sudah menanggalkan kemeja putih dari tubuhnya, membuat netra Tiara menyaksikan pemandangan tubuh shirtless Aryo.

“Tugas dia jagain kamu aja. Ra, aku akan lebih sibuk dari biasanya, pekerjaan di kantor dan juga aku mempersiapkan semuanya untuk rencana kita. Kalau kamu kesepian di rumah, kamu boleh ajak teman-teman kamu ke sini buat temenin kamu. Gimana?”

Tiara melebarkan matanya dan alisnya mengernyit. Ia mengatakan bahwa dirinya sedikit tidak percaya atas ucapan Aryo barusan. “Padahal dulu kamu nggak bolehin temen-temen aku main,” celetuk Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak sebelum ia menjawab, “Iya, sekarang boleh.”

“Oke. Terima kasih, Sayang,” balas Tiara diiringi senyum semringah dan cengiran kecilnya.

“Sama-sama, Sayang.”

***

“Aryo ... pake bajunya nggak. Astaga, kamu yaa,” omel Tiara sambil berjalan mundur perlahan menjauhi Aryo. Aryo segera menyusulnya, mudah baginya untuk menangkap Tiara dan menahan punggung perempuan itu dengan lengannya, hingga torso keduanya hampir saling menempel.

“Kamu mau kemana?” tanya Aryo dengan suara lembutnya di dekat Tiara.

“Nggak ada kelon ya, kalau kamu belum pakai baju,” peringat Tiara yang langsung membuat Aryo mencebikkan bibirnya.

“Tapi gerah Ra, enakan nggak pake baju gini,” ujar Aryo.

“Nanti kamu masuk angin lho, shirtless begitu. Kalau kamu sakit, yang repot siapa coba? Aku juga kan.”

Namun bukan Aryo namanya jika tidak keras kepala dan mempunyai seribu akal di dalam kepalanya. Aryo menatap Tiara lekat, kemudian mengarahkan tangan perempuan itu untuk bertengger di pundak polosnya. Dengan jarak keduanya yang begitu intim, netra Tiara dapat menatap dengan jelas pahatan sempurna otot lengan dan perut Aryo yang besar serta nampak liat dan keras itu. Sempurna, indah, dan menawan, entah kata apa lagi yang harus Tiara gunakan untuk mendeskripsikan pemandangan di hadapannya saat ini.

Aryo menorehkan senyumnya, “Kamu ... mau pegang ini?” tanya pria itu ketika menangkap basah Tiara tengah memandang abs-nya.

Tiara terkejut karena ia tertangkap jelas-jelas memandangi perut six pack milik Aryo. Tatapan mereka pun bertemu dan Aryo lekas mengunci pandangan Tiara. Atas perintah pikirannya, Tiara pun perlahan mengangguk. Rasa penasaran yang kuat mendorong Tiara untuk menyentuh otot-otot itu, meskipun ia sudah pernah melakukannya. Hei, setan apa yang sedang merasuki dirimu Tiara, ayolah sadar! batinnya.

It's all yours, Tiara.” Aryo meraih tangan Tiara untuk membawanya menyentuh otot-otot perutnya. Ketika meletakkan tangannya di sana, Tiara dapat merasakan, itu sungguh keras dan besar. Sesuai penampilannya, perasaan ketika menyentuhnya, sungguh melebihi dari ekspektasi Tiara. Itu sungguh luar biasa.

“Jadi aku pake baju aja atau shirtless gini?” tanya Aryo diiringi senyum menggoda di wajah tampannya.

Tiara menatap paras Aryo, ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan di dalam sana. Kini kedua lengan Tiara berpindah untuk melingkar di seputaran leher Aryo.

I can touch them ... again?” tanya Tiara mengikuti perintah otak dan hatinya yang kali ini benar-benar sinkron.

Aryo mengulaskan senyum lembutnya, “Yes, you can touch them, Honey. Everytime you want to.”

***

I love you, Michelle,” gumam Aryo ketika pria itu telah sepenuhnya membuka mata.

Mereka berakhir tidur siang bersama dengan Aryo yang shirtless dan tidak melepaskan Tiara dari dekapannya sama sekali. Sudah sekitar 3 jam mereka terlelap dan ketika terbangun, hingga Tiara dapat merasakan aroma parfum Jo Malone favorit Aryo yang maskulin dan sedikit manis—kini menempel di seluruh tubuhnya.

“Siapa kamu bilang? Michelle??” tanya Tiara dengan kerutan yang muncul di keningnya.

“Michelle Taninka kan kamu, Sayang,” jelas Aryo.

“Ohiya ya. Aku kira kamu selingkuh sama cewek namanya Michelle.”

“Mana ada aku selingkuh. Kamu lucu banget yaa, posesif gini.”

Tiara menampakkan cengirannya sembari tangannya bergerak untuk mengusap-usap halus pipi Aryo, “Berani nggak kamu selingkuh?” tanya Tiara.

“Aku udah ketemu pawangnya Ra, mana galak lagi. Gimana berani aku selingkuh?”

“Okee, bagus bagus.” Tiar pun tergelak. “Aku galak ya emang?” tanya Tiara dan Aryo lantas menjawabnya dengan mengangukkan kepalanya sebanyak dua kali.

“Kalau nggak galak, artinya nggak sayang,” ujar Tiara.

“Gitu ya?” Aryo memandangi paras cantik Tiara yang sukses membuat perempuan itu salah tingkah. Cara Aryo menatapnya, tersenyum padanya, selalu berhasil menciptakan percikan cinta di hatinya.

Tiara tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Itu adalah sebuah kilas balik ketika Andi dan Alifia merubah marga mereka menjadi Lubis dan juga mengubah namanya. “Kalau di pikir-pikir, Michelle Taninka nggak akan di kenal sama banyak orang. Tapi Mutiarani Ivanka nggak akan pernah di kenal sama ayah dan bunda,” ungkap Tiara.

“Iya juga ya. Kalau di minta untuk milih, lebih suka jadi Michelle atau Tiara?” tanya Aryo.

“Aku suka jadi dua-duanya. Michelle akan selalu di kenang dan disayang sama ayah dan bunda. Mungkin luka itu akan tetap ada di salah satu ruang di hati Michelle. Tapi Tiara, dia udah coba untuk berdamai dengan luka itu. Kalau kamu lebih suka yang mana?” Tiara memerhatikan raut wajah Aryo, menunggu jawaban dari pria itu.

“Aku suka dua-duanya. Tapi Ra, menurut aku, nama itu cuma sebuah identitas. Michelle maupun Tiara, adalah dua perempuan yang sama-sama hebat.”

“Aryo.”

“Ya?”

Tiara merubah posisinya agar dirinya dan Aryo saling berhadapan. “Aku mau kenalin kamu ke ayah dan bunda.”

Really?” Kedua mata Aryo nampak berbinar mendengar ucapan Tiara.

Tiara mengulaskan senyum hangatnya, “Sure. Aku mau cerita banyak soal kamu dan kita,” tutur Tiara.

“Apa yang akan kamu ceritain ke ayah dan bunda?”

“Rahasia dong, kepo nih kamu.” Tiara menjulurkan lidahnya meledek Aryo.

Aryo pun tergelak mendapati tingkah Tiara. “Oh my godness. Okey, that's fine, itu rahasia kamu. Tapi jangan lupa untuk bilang ini,” ujar Aryo.

“Bilang apa?”

“Ayah sama bunda pasti ingin tau apa kamu bahagia sekarang. They must be miss you so much. So tell them what you feels and about your life right now,” terang Aryo.

Sure. I will tell them about what's make me happy, the person around me, and the life I live now.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Tante Risa?” kalimat pendek itu yang keluar dari bibirnya Aryo ketika netranya menangkap sosok perempuan yang sangat dikenalnya, kini berada di hadapannya. Risa Brodjohujodyo, putri dari Rianna, istri kedua Prawira Brodjohujodyo. Setelah bertemu tantenya itu, Aryo dan Risa diberi waktu untuk berbicara berdua di ruangan lain.

Risa memberi sedikit penjelasan kepada Aryo mengenai alasannya bersedia membantu Tiara dan masuk ke dalam tim.

“Tante tau, Tante nggak akan bisa melawan Reynaldi sendiri,” jelas Risa. Perempuan itu mengatakan, ia menyimpan dendam terhadap Reynaldi karena mendapat perlakuan tidak adil di keluarga. Ibu kandungnya yang merupakan istri kedua Prawira, nyatanya tidak pernah benar-benar di terima di keluarga mereka.

“Sejak kapan Tan?” tanya Aryo.

“Sejak Reynaldi selalu berhasil mendoktrin eyang kakung dan berambisi menguasai seluruh kepemilikan perusahaan. Tante kenal sama Erlangga, ayah kandungnya Tiara. Dulu Erlangga sering bantu mama dan tante setiap kali Reynaldi membuat keluarga memperlakukan kami dengan tidak adil. Setelah Erlangga kecelakaan, Rudi menemui Tante dan meminta bantuan, akhirnya kita bekerja sama,” jelas Risa.

Pada saat itu Aryo masih berusia dua belas tahun, saat eyang kakung menikah lagi dan membawa istri keduanya ke rumah keluarga. Aryo belum terlalu mengerti situasi di usianya yang masih remaja. Satu hal yang hanya dapat ia pahami, beberapa waktu setelah itu, eyang kakung memiliki dua rumah. Rumah pertama untuk eyang putri, rumah kedua untuk Rianna, istri keduanya.

Setelah Aryo dan Risa bicara berdua, mereka kembali ke ruangan dimana ada Tiara, Akmal, dan Bagas. Tiara sudah mengatakan sebelumnya bahwa Aryo telah mengetahui semuanya dan berniat membantu mengungkap kasus itu, jadi saat ini mereka berada di kapal yang sama.

“Selama ini Reynaldi mencari keberadaan Michelle Taninka,” ujar Tiara membuka pembicaraan. Mereka memutuskan melakukan rapat tim untuk merencanakan langkah yang harus di ambil selanjutnya.

Tiara menatap bergantian empat orang di meja panjang itu. Ia memaparkan percakapan antara Reynaldi dan El yan gdi dengarnya tempo hari.

“Reynaldi kerja sama dengan El untuk mencari Michelle dan membawanya ke hadapannya, hidup ataupun mati. Situasi ini bisa kita manfaatkan untuk mengecoh Reynaldi dengan ngasih dia pancingan,” ujar Aryo menyampaikan pemikirannya yang sebelumnya ide tersebut sudah ia katakan pada Tiara.

“Keterangan kematian palsu atas nama Michelle Taninka Sinaga, kemungkinan bisa jadi pancingan untuk buat Reynaldi lengah. Dia udah dapetin om Rudi di tangannya, tapi kabar baiknya adalah Reynaldi belum tau kalau om Rudi nggak sendiri untuk melawan dia,” jelas Tiara.

Dari semua yang ada di ruangan itu, akhirnya Bagas yang lebih dulu mengutarakan pendapatnya mengenai ide Aryo dan Tiara. “Ide itu kemungkinan berhasilnya sekitar 60 persen. Kita harus siap tanggung resikonya kalau sampai di eksekusinya ada kecacatan.”

“Rekayasa keterangan kematian gue rasa nggak bisa cuma dengan pernyataan tertulis aj,” ujar Risa.

“Tante Risa benar,” cetus Akmal. Lantas semua pasang mata yang ada di ruangan itu menatap ke arah Akmal.

“Lawan kita bukan orang biasa,” Akmal pun mengeluarkan selembar kertas yang berisi biografi singkat Reynaldi Brodjohujodyo yang telah di buat oleh ayahnya. Di sana tertulis riwayat hidupnya, seperti siapa saja yang pernah bekerja untuknya, aset senjata yang di miliknya, serta trek rekor mantan dan bodyguard-nya saat ini. Memang Reynaldi bukanlah sembarang orang, seperti yang di katakan Akmal, mereka harus benar-benar mematangkan rencana yang akan mereka jalankan.

“Selain pernyataan kematian tertulis yang resmi, kita perlu merekayasa bukti fisik kematian. Rekayasa abu hasil kremasi, apa kira-kira itu memungkinkan?” cetus Bagas.

“Eksekusinya mungkin akan sedikit sulit. Kita harus mengurus beberapa hal dan tentunya punya koneksi orang dalam untuk memudahkan eksekusi,” ujar Risa.

“Kita bisa bagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tujuannya supaya kita bisa tetap fokus dan pastiin semuanya aspeknya berjalan baik,” saran Aryo.

Atas usulan tersebut, akhirnya mereka membagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing di bidangnya. Risa dan Aryo akan mengurus masalah dokumen kematian yang membutuhkan akses hukum. Risa merupakan seorang pengacara dan Aryo akan membantu tantenya itu untuk urusan koneksi orang dalam yang di milikinya, serta akses lainnya yang nanti akan dibutuhkan. Sementara Bagas akan mengurus bukti kematian berupa bukti fisik, pria itu memiliki koneksi yang berhubungan dengan urusan tersebut.

***

“Aryo.”

“Ya?”

“Aku sama Akmal nggak dapat tugas?” tanya Tiara begitu mereka memasuki penthouse.

Tiara mendongakkan kepalanya untuk menatap Aryo yang merangkul bahunya, karena tingginya hanya sebatas bahu pria itu, Tiara jadi nampak mungil kalau di samping Aryo.

“Aku kasih Akmal tugas kok. Kalau kamu tugasnya cuma duduk manis di rumah.” Aryo masih merangkul Tiara hingga mereka memasuki kamar. Pria itu menutup pintu dan lekas menguncinya.

“Mau ngapain kita ke kamar?” tanya Tiara yang baru tersadar bahwa mereka kini sudah berada di dalam kamar.

“Tidur siang. Kelonin ya?” pinta Aryo. Tiara pun melemparkan senyum khasnya kalau Aryo sudah manja-manja seperti ini terhadapnya.

“Akmal kamu kasih tugas apa?” tanya Tiara yang mengikuti langkah Aryo ke walk in closet. Tiara mendapati suaminya itu sudah menanggalkan kemeja putih dari tubuhnya, membuat netra Tiara menyaksikan pemandangan tubuh shirtless Aryo.

“Tugas dia jagain kamu aja. Aku akan lebih sibuk dari biasanya, pekerjaan di kantor dan aku mempersiapkan semuanya untuk rencana kita. Kalau kamu kesepian di rumah, kamu boleh ajak teman-teman kamu ke sini buat temenin kamu. Gimana?”

Tiara melebarkan matanya, ia mengatakan bahwa dirinya sedikit tidak percaya atas ucapan Aryo barusan. “Padahal dulu kamu nggak bolehin,” celetuk Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak sebelum ia menjawab, “Iya, sekarang boleh.”

“Oke. Terima kasih, Sayang,” balas Tiara diiringi senyum semringah dan cengiran kecilnya.

“Sama-sama, Sayang.”

***

“Aryo ... pake bajunya nggak. Astaga, kamu yaa,” omel Tiara sambil berjaan mundur perlahan menjauhi Aryo. Aryo segera menyusulnya, mudah baginya untuk menangkap Tiara dan menahan punggung perempuan itu dengan lengannya. Torso keduanya hampir saja saling menempel.

“Kamu mau kemana?” tanya Aryo dengan suara lembutnya di dekat Tiara.

“Nggak ada kelon ya, kalau kamu belum pakai baju,” titah Tiara yang langsung membuat Aryo mencebikkan bibirnya.

“Tapi gerah Ra, enakan nggak pake baju gini,” ujar Aryo.

“Nanti kamu masuk angin lho, shirtless begitu. Kalau kamu sakit, yang repot siapa coba? Aku juga kan.”

Namun bukan Aryo namanya jika tidak keras kepala dan mempunyai seribu akal di dalam kepalanya. Aryo menatap Tiara lekat, kemudian mengarahkan tangan perempuan itu untuk bertengger di pundaknya. Dengan jarak keduanya yang begitu intim, netra Tiara dapat menatap dengan jelas pahatan sempurna otot lengan dan perut Aryo yang nampak liat dan keras itu. Sempurna, indah, dan menawan, entah kata apa lagi yang harus Tiara gunakan untuk mendeskripsikan pemandangan di hadapannya saat ini.

Aryo menorehkan senyumnya, “Kamu ... mau pegang ini?” tanya pria itu ketika menangkap basah Tiara tengah memandang abs-nya.

Tiara terkejut karena ia tertangkap jelas memandangi perut six pack milik Aryo. Tatapan mereka pun bertemu dan Aryo lekas mengunci pandangan Tiara. Atas perintah pikirannya, Tiara pun perlahan mengangguk. Rasa penasaran yang kuat mendorong Tiara untuk menyentuh otot-otot itu, meskipun ia sudah pernah melakukannya. Hei, setan apa yang sedang merasuki dirimu Tiara, ayolah sadar! batinnya.

It's all yours, Tiara.” Aryo meraih tangan Tiara untuk membawanya menyentuh otot-otot perut milik Aryo. Ketika meletakkan tangannya di sana, Tiara dapat merasakan, itu sungguh keras. Sesuai penampilannya, perasaan ketika menyentuhnya, sungguh melebihi ekspektasi Tiara.

“Jadi aku pake baju aja atau shirtless gini?” tanya Aryo diiringi senyum menggodanya di wajah tampannya.

Tiara menatap paras Aryo, ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan di dalam sana. Kini kedua lengan Tiara berpindah untuk melingkar di seputaran leher Aryo.

I can touch them ... again?” tanya Tiara mengikuti perintah otak dan hatinya yang kali ini benar-benar sinkron.

Aryo mengulaskan senyum lembutnya, “Yes, you can touch them, Honey. Everytime you want to.”

***

I love you, Michelle,” gumam Aryo ketika pria itu sepenuhnya membuka mata. Mereka berakhir tidur siang bersama dengan Aryo yang shirtless dan tidak melepaskan Tiara dari dekapannya sama sekali. Sudah sekitar 3 jam mereka terlelap dan ketika terbangun, rasa lelah yang sebelumnya hinggap kini menghilang entah kemana.

“Siapa kamu bilang? Michelle??” tanya Tiara dengan kerutan di keningnya.

“Michelle Taninka kan kamu, Sayang,” jelas Aryo.

“Ohiya ya. Aku kira kamu selingkuh sama cewek namanya Michelle.”

“Mana ada aku selingkuh. Kamu lucu banget yaa, posesif gini.”

Tiara menampakkan cengirannya, lalu tangannya bergerak untuk mengusap-usap halus pipi Aryo, “Berani nggak kamu selingkuh?” tanya Tiara.

“Aku udah ketemu pawangnya Ra, mana galak lagi. Gimana berani aku selingkuh?”

“Okee, bagus bagus.” Tiar pun tergelak. “Aku galak ya emang?” tanya Tiara dan Aryo lantas menjawabnya dengan anggukan berkali-kali.

“Kalau nggak galak, artinya nggak sayang,” ujar Tiara.

“Gitu ya?” Aryo memandangi paras cantik Tiara yang sukses membuat perempuan itu salah tingkah.

Tiara nampak memikirkan sesuatu. Itu adalah sebuah kilas balik ketika Andi dan Alifia merubah marga mereka menjadi Lubis dan juga mengubah namanya. “Kalau di pikir-pikir, Michelle Taninka nggak akan di kenal sama banyak orang. Tapi Mutiarani Ivanka nggak akan pernah di kenal sama ayah dan bunda,” ungkap Tiara.

“Iya juga ya. Kalau di minta untuk milih, lebih suka jadi Michelle atau Tiara?” tanya Aryo.

“Aku suka jadi dua-duanya. Michelle akan selalu di kenang dan disayang sama ayah dan bunda. Mungkin luka itu akan tetap ada di salah satu ruang di hati Michelle. Tapi Tiara, dia udah coba untuk berdamai dengan luka itu. Kalau kamu lebih suka yang mana?”

“Aku suka dua-duanya. Tapi Ra, menurut aku, nama itu cuma sebuah identitas. Michelle maupun Tiara, adalah dua perempuan yang hebat.”

“Aryo.”

“Ya?”

Tiara merubah posisinya agar dirinya dan Aryo saling berhadapan. “Aku mau kenalin kamu ke ayah dan bunda.”

Really?” Kedua mata Aryo nampak berbinar mendengar ucapan Tiara.

Tiara mengulaskan senyum hangatnya, “Sure. Aku mau cerita banyak soal kamu dan kita,” tutur Tiara.

“Apa yang akan kamu ceritain ke ayah dan bunda?”

“Rahasia dong, kepo nih kamu.” Tiara menjulurkan lidahnya meledek Aryo.

Aryo pun tergelak mendapati tingkah Tiara. “Oh my godness. Okey, that's fine, itu rahasia kamu. Tapi jangan lupa untuk bilang ini,” ujar Aryo.

“Bilang apa?”

“Ayah sama bunda pasti ingin tau apa kamu bahagia sekarang. Tell them what you feels and about your life right now.

Sure. I will tell them about what's make me happy, the person, and the life I live now.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Tante Risa?” kalimat pendek itu yang keluar dari bibirnya Aryo ketika netranya menangkap sosok perempuan yang sangat dikenalnya, kini berada di hadapannya. Risa Brodjohujodyo, putri dari Rianna, istri kedua Prawira Brodjohujodyo. Setelah bertemu tantenya itu, Aryo dan Risa diberi waktu untuk berbicara berdua di ruangan lain.

Risa memberi sedikit penjelasan kepada Aryo mengenai alasannya bersedia membantu Tiara dan masuk ke dalam tim.

“Tante tau, Tante nggak akan bisa melawan Reynaldi sendiri,” jelas Risa. Perempuan itu mengatakan, ia menyimpan dendam terhadap Reynaldi karena mendapat perlakuan tidak adil di keluarga. Ibu kandungnya yang merupakan istri kedua Prawira, nyatanya tidak pernah benar-benar di terima di keluarga mereka.

“Sejak kapan Tan?” tanya Aryo.

“Sejak Reynaldi selalu berhasil mendoktrin eyang kakung dan berambisi menguasai seluruh kepemilikan perusahaan. Tante kenal sama Erlangga, ayah kandungnya Tiara. Dulu Erlangga sering bantu mama dan tante setiap kali Reynaldi membuat keluarga memperlakukan kami dengan tidak adil. Setelah Erlangga kecelakaan, Rudi menemui Tante dan meminta bantuan, akhirnya kita bekerja sama,” jelas Risa.

Pada saat itu Aryo masih berusia dua belas tahun, saat eyang kakung menikah lagi dan membawa istri keduanya ke rumah keluarga. Aryo belum terlalu mengerti situasi di usianya yang masih remaja. Satu hal yang hanya dapat ia pahami, beberapa waktu setelah itu, eyang kakung memiliki dua rumah. Rumah pertama untuk eyang putri, rumah kedua untuk Rianna, istri keduanya.

Setelah Aryo dan Risa bicara berdua, mereka kembali ke ruangan dimana ada Tiara, Akmal, dan Bagas. Tiara sudah mengatakan sebelumnya bahwa Aryo telah mengetahui semuanya dan berniat membantu mengungkap kasus itu, jadi saat ini mereka berada di kapal yang sama.

“Selama ini Reynaldi mencari keberadaan Michelle Taninka,” ujar Tiara membuka pembicaraan. Mereka memutuskan melakukan rapat tim untuk merencanakan langkah yang harus di ambil selanjutnya.

Tiara menatap bergantian empat orang di meja panjang itu. Ia memaparkan percakapan antara Reynaldi dan El yan gdi dengarnya tempo hari.

“Reynaldi kerja sama dengan El untuk mencari Michelle dan membawanya ke hadapannya, hidup ataupun mati. Situasi ini bisa kita manfaatkan untuk mengecoh Reynaldi dengan ngasih dia pancingan,” ujar Aryo menyampaikan pemikirannya yang sebelumnya ide tersebut sudah ia katakan pada Tiara.

“Keterangan kematian palsu atas nama Michelle Taninka Sinaga, kemungkinan bisa jadi pancingan untuk buat Reynaldi lengah. Dia udah dapetin om Rudi di tangannya, tapi kabar baiknya adalah Reynaldi belum tau kalau om Rudi nggak sendiri untuk melawan dia,” jelas Tiara.

Dari semua yang ada di ruangan itu, akhirnya Bagas yang lebih dulu mengutarakan pendapatnya mengenai ide Aryo dan Tiara. “Ide itu kemungkinan berhasilnya sekitar 60 persen. Kita harus siap tanggung resikonya kalau sampai di eksekusinya ada kecacatan.”

“Rekayasa keterangan kematian gue rasa nggak bisa cuma dengan pernyataan tertulis aj,” ujar Risa.

“Tante Risa benar,” cetus Akmal. Lantas semua pasang mata yang ada di ruangan itu menatap ke arah Akmal.

“Lawan kita bukan orang biasa,” Akmal pun mengeluarkan selembar kertas yang berisi biografi singkat Reynaldi Brodjohujodyo yang telah di buat oleh ayahnya. Di sana tertulis riwayat hidupnya, seperti siapa saja yang pernah bekerja untuknya, aset senjata yang di miliknya, serta trek rekor mantan dan bodyguard-nya saat ini. Memang Reynaldi bukanlah sembarang orang, seperti yang di katakan Akmal, mereka harus benar-benar mematangkan rencana yang akan mereka jalankan.

“Selain pernyataan kematian tertulis yang resmi, kita perlu merekayasa bukti fisik kematian. Rekayasa abu hasil kremasi, apa kira-kira itu memungkinkan?” cetus Bagas.

“Eksekusinya mungkin akan sedikit sulit. Kita harus mengurus beberapa hal dan tentunya punya koneksi orang dalam untuk memudahkan eksekusi,” ujar Risa.

“Kita bisa bagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tujuannya supaya kita bisa tetap fokus dan pastiin semuanya aspeknya berjalan baik,” saran Aryo.

Atas usulan tersebut, akhirnya mereka membagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing di bidangnya. Risa dan Aryo akan mengurus masalah dokumen kematian yang membutuhkan akses hukum. Risa merupakan seorang pengacara dan Aryo akan membantu tantenya itu untuk urusan koneksi orang dalam yang di milikinya, serta akses lainnya yang nanti akan dibutuhkan. Sementara Bagas akan mengurus bukti kematian berupa bukti fisik, pria itu memiliki koneksi yang berhubungan dengan urusan tersebut.

***

“Aryo.”

“Ya?”

“Aku sama Akmal nggak dapat tugas?” tanya Tiara begitu mereka memasuki penthouse.

Tiara mendongakkan kepalanya untuk menatap Aryo yang merangkul bahunya, karena tingginya hanya sebatas bahu pria itu, Tiara jadi nampak mungil kalau di samping Aryo.

“Aku kasih Akmal tugas kok. Kalau kamu tugasnya cuma duduk manis di rumah.” Aryo masih merangkul Tiara hingga mereka memasuki kamar. Pria itu menutup pintu dan lekas menguncinya.

“Mau ngapain kita ke kamar?” tanya Tiara yang baru tersadar bahwa mereka kini sudah berada di dalam kamar.

“Tidur siang. Kelonin ya?” pinta Aryo. Tiara pun melemparkan senyum khasnya kalau Aryo sudah manja-manja seperti ini terhadapnya.

“Akmal kamu kasih tugas apa?” tanya Tiara yang mengikuti langkah Aryo ke walk in closet. Tiara mendapati suaminya itu sudah menanggalkan kemeja putih dari tubuhnya, membuat netra Tiara menyaksikan pemandangan tubuh shirtless Aryo.

“Tugas dia jagain kamu aja. Aku akan lebih sibuk dari biasanya, pekerjaan di kantor dan aku mempersiapkan semuanya untuk rencana kita. Kalau kamu kesepian di rumah, kamu boleh ajak teman-teman kamu ke sini buat temenin kamu. Gimana?”

Tiara melebarkan matanya, ia mengatakan bahwa dirinya sedikit tidak percaya atas ucapan Aryo barusan. “Padahal dulu kamu nggak bolehin,” celetuk Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak sebelum ia menjawab, “Iya, sekarang boleh.”

“Oke. Terima kasih, Sayang,” balas Tiara diiringi senyum semringah dan cengiran kecilnya.

“Sama-sama, Sayang.”

***

“Aryo ... pake bajunya nggak. Astaga, kamu yaa,” omel Tiara sambil berjaan mundur perlahan menjauhi Aryo. Aryo segera menyusulnya, mudah baginya untuk menangkap Tiara dan menahan punggung perempuan itu dengan lengannya. Torso keduanya hampir saja saling menempel.

“Kamu mau kemana?” tanya Aryo dengan suara lembutnya di dekat Tiara.

“Nggak ada kelon ya, kalau kamu belum pakai baju,” titah Tiara yang langsung membuat Aryo mencebikkan bibirnya.

“Tapi gerah Ra, enakan nggak pake baju gini,” ujar Aryo.

“Nanti kamu masuk angin lho, shirtless begitu. Kalau kamu sakit, yang repot siapa coba? Aku juga kan.”

Namun bukan Aryo namanya jika tidak keras kepala dan mempunyai seribu akal di dalam kepalanya. Aryo menatap Tiara lekat, kemudian mengarahkan tangan perempuan itu untuk bertengger di pundaknya. Dengan jarak keduanya yang begitu intim, netra Tiara dapat menatap dengan jelas pahatan sempurna otot lengan dan perut Aryo yang nampak liat dan keras itu. Sempurna, indah, dan menawan, entah kata apa lagi yang harus Tiara gunakan untuk mendeskripsikan pemandangan di hadapannya saat ini.

Aryo menorehkan senyumnya, “Kamu ... mau pegang ini?” tanya pria itu ketika menangkap basah Tiara tengah memandang abs-nya.

Tiara terkejut karena ia tertangkap jelas memandangi perut six pack milik Aryo. Tatapan mereka pun bertemu dan Aryo lekas mengunci pandangan Tiara. Atas perintah pikirannya, Tiara pun perlahan mengangguk. Rasa penasaran yang kuat mendorong Tiara untuk menyentuh otot-otot itu, meskipun ia sudah pernah melakukannya. Hei, setan apa yang sedang merasuki dirimu Tiara, ayolah sadar! batinnya.

It's all yours, Tiara.” Aryo meraih tangan Tiara untuk membawanya menyentuh otot-otot perut milik Aryo. Ketika meletakkan tangannya di sana, Tiara dapat merasakan, itu sungguh keras. Sesuai penampilannya, perasaan ketika menyentuhnya, sungguh melebihi ekspektasi Tiara.

“Jadi aku pake baju aja atau shirtless gini?” tanya Aryo diiringi senyum menggodanya di wajah tampannya.

Tiara menatap paras Aryo, ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan di dalam sana. Kini kedua lengan Tiara berpindah untuk melingkar di seputaran leher Aryo.

I can touch them ... again?” tanya Tiara mengikuti perintah otak dan hatinya yang kali ini benar-benar sinkron.

Aryo mengulaskan senyum lembutnya, “Yes, you can touch them, Honey. Everytime you want to.”

***

I love you, Michelle,” gumam Aryo ketika pria itu sepenuhnya membuka mata. Mereka berakhir tidur siang bersama dengan Aryo yang shirtless dan tidak melepaskan Tiara dari dekapannya sama sekali. Sudah sekitar 3 jam mereka terlelap dan ketika terbangun, rasa lelah yang sebelumnya hinggap kini menghilang entah kemana.

“Siapa kamu bilang? Michelle??” tanya Tiara dengan kerutan di keningnya.

“Michelle Taninka kan kamu, Sayang,” jelas Aryo.

“Ohiya ya. Aku kira kamu selingkuh sama cewek namanya Michelle.”

“Mana ada aku selingkuh. Kamu lucu banget yaa, posesif gini.”

Tiara menampakkan cengirannya, lalu tangannya bergerak untuk mengusap-usap halus pipi Aryo, “Berani nggak kamu selingkuh?” tanya Tiara.

“Aku udah ketemu pawangnya Ra, mana galak lagi. Gimana berani aku selingkuh?”

“Okee, bagus bagus.” Tiar pun tergelak. “Aku galak ya emang?” tanya Tiara dan Aryo lantas menjawabnya dengan anggukan berkali-kali.

“Kalau nggak galak, artinya nggak sayang,” ujar Tiara.

“Gitu ya?” Aryo memandangi paras cantik Tiara yang sukses membuat perempuan itu salah tingkah.

Tiara nampak memikirkan sesuatu. Itu adalah sebuah kilas balik ketika Andi dan Alifia merubah marga mereka menjadi Lubis dan juga mengubah namanya. “Kalau di pikir-pikir, Michelle Taninka nggak akan di kenal sama banyak orang. Tapi Mutiarani Ivanka nggak akan pernah di kenal sama ayah dan bunda,” ungkap Tiara.

“Iya juga ya. Kalau di minta untuk milih, lebih suka jadi Michelle atau Tiara?” tanya Aryo.

“Aku suka jadi dua-duanya. Michelle akan selalu di kenang dan disayang sama ayah dan bunda. Mungkin luka itu akan tetap ada di salah satu ruang di hati Michelle. Tapi Tiara, dia udah coba untuk berdamai dengan luka itu. Kalau kamu lebih suka yang mana?”

“Aku suka dua-duanya. Tapi Ra, menurut aku, nama itu cuma sebuah identitas. Michelle maupun Tiara, adalah dua perempuan yang hebat.”

“Aryo.”

“Ya?”

Tiara merubah posisinya agar dirinya dan Aryo saling berhadapan. “Aku mau kenalin kamu ke ayah dan bunda.”

Really?” Kedua mata Aryo nampak berbinar.

Tiara mengulaskan senyum hangatnya, “Sure. Aku mau cerita banyak soal kamu dan kita,” tutur Tiara.

“Apa yang akan kamu ceritain ke ayah dan bunda?”

“Rahasia dong, kepo nih kamu.” Tiara menjulurkan lidahnya meledek Aryo.

Aryo pun tergelak mendapati tingkah Tiara. “Oh my godness. Okey, that's fine, itu rahasia kamu. Tapi jangan lupa untuk bilang ini,” ujar Aryo.

“Bilang apa?”

“Ayah sama bunda pasti ingin tau apa kamu bahagia sekarang. Tell them what you feels and about your life right now.

Sure. I will tell them about what's make me happy, the person, and the life I live now.

***

*Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷